BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Landasan Teori 2.1.1 Earning Quality
Laba merupakan hasil akhir dari proses pencatatan terhadap semua kejadian yang terjadi dalam perusahaan dengan mempertimbangkan adanya kebijakan manajerial pada setiap prosesnya. Sebuah informasi laba merupakan informasi yang penting yang ada dalam laporan keuangan (Lev,1989). . Informasi laba sebagaimana dinyatakan dalam Statement of Financial Accounting (SFAC) nomor 2 merupakan unsur utama dalam laporan keuangan dan sangat penting bagi pihak- pihak yang menggunakannya karena memiliki nilai prediktif (FASB, 1980). Bagi investor, laporan laba dianggap mempunyai informasi untuk menganalisis saham yang diterbitkan oleh emitmen dimana laba menjadi pusat perhatian pihak pemakai. Laba yang dipulikasikan dapat memberi respon yang bervariasi, yang menunjukkan adanya reaksi pasar terhadap informasi laba. Reaksi yang diberikan tergantung dari kualitas laba yang dihasilkan oleh perusahaan (Gideon, 2005).
Informasi laba tersebut biasa digunakan oleh para analisis dengan menggunakan berbagai rasio analisis untuk menentukan kemampuan perusahaan sebelumnya, saat ini dan masa depan dalam meningkatkan kekayaan shareholders dan digunakan oleh investor untuk mengambil keputusan dalam menginvestasikan dananya.
Kualitas laba memiliki beragam definisi dalam literaturnya, dan tidak ada consensus diatasnya (Khajavi dan Nazemi, 2005). Definisi kualitas laba dalam akuntansi dapat dilihat dari dua perspektif yaitu decision usefulness dan economic based perspective. Dilihat dari economic based perspective, Shipper dan Vincent (2003) menunjukkan tingkat kedekatan laba yang dilaporkan dengan Hicksian income (laba ekonomi) yaitu jumlah yang dapat dikonsumsi dalam satu periode dengan menjaga agar kemampuan perusahaan pada awal dan akhir periode tetap sama. Arti atau maksud dari definisi tersebut adalah bahwa kualitas laba akuntansi ditunjukkan oleh “kedekatan atau korelasi antara laba akuntansi dan laba ekonomi”.
Dalam perspektif decision usefulness, kualitas laba dikatakan tinggi apabila angka pendapatan dapat berguna untuk pengambilan keputusan.
Berdasarkan sudut pandang ini, kualitas laba didefinisikan secara berbeda oleh pengguna yang berbeda dari laporan keuangan. Misalnya, Dechow dan Schrand (2004) analisia cenderung melihat dari kinerja yang merupakan indikator yang baik dari kinerja operasi masa depan dan summary measure yang baik untuk menilai nilai perusahaan. Kualitas laba yang dinyatakan berkualitas tinggi adalah
“pendapatan berkelanjutan” seperti yang sering disebut dalam analisis keuangan (Penman dan Zhang, 2002). Ketika terdapat tindakan akuntansi yang menghasilkan laba tidak berkelanjutan, maka hal tersebut menunjukkan bahwa angka laba berkualitas rendah atau buruk. Untuk mendukung penelitian ini, earnings quality akan dilihat berdasarkan decision usefulness.
Bellovary et al (2005) mendefinisikan kualitas laba sebagai kemampuan laba dalam merefleksikan kebenaran laba perusahaan dan membantu memprediksi laba mendatang dengan mempertimbangkan stabilitas dan persistensi laba.
Kemampuan prediksi menunjukkan kapasitas laba dalam memprediksi butir informasi tertentu, misalnya laba di masa datang. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang kondisi ekonomis perusahaan dapat diragukan kualitasnya sehingga dapat menyesatkan pihak pengguna laporan.
Bernard dan Stober (1998) beranggapan bahwa laba yang berkualitas tinggi adalah laba yang memiliki kemampuan tinggi dalam memprediksi laba di masa yang akan datang. Sehingga earnings atau laba yang berkualitas tinggi dapat digunakan oleh para pengguna untuk membuat keputusan yang terbaik, dan dapat digunakan untuk menjelaskan atau memprediksi harga dan return saham.
2.1.1.1 Pengukuran Earning Quality
Pengukuran earnings quality dapat digunakan dengan beberapa metode yaitu, time series properties of earnings (persistence), variability (smoothness dan conservativeness), dan earnings cash flow and accruals (Katsuo,2008). Dalam penelitian ini untuk mengukur earnings quality atau kualitas laba akan menggunakan pengukuran variability yaitu pengukuran smoothness. Smoothness didefinisikan sebagai pengurangan kandungan informasi laba yang konten dan
persembunyian kinerja perusahaan yang sesungguhnya (Ewert dan Wagenhofer,2009). Penelitian ini menggunakan pengukuran smoothness dikarenakan suatu laba yang berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai variabilitas relative rendah atau laba yang smooth agar laba yang dilaporkan dapat mengurangi resiko pasar atas saham perusahaan, yang akhirnya dapat meningkatkan harga saham perusahaan (Ewert dan Wagenhofer,2009).
Schipper dan Vincent (2003) berpendapat bahwa perataan laba memiliki kegigihan dan kemampuan prediksi yang tinggi, sehingga smoothness dapat meningkatkan kualitas laba. Smoothness memiliki hasil yang lebih konsisten dalam beberapa studi yang dilakukan diberbagai negara, dimana hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa smoothness mewakili tindakan manajemen laba (Dechow, Ge, dan Schrand, 2009). Karena manajemen laba dianggap tidak diinginkan, maka hasil dari smoothness akan cenderung lebih rendah. Namun ada juga pandangan bahwa manajer telah merapikan laba karena manajer percaya bahwa pendapatan variabel yang lebih rendah lebih disukai oleh investor (Levitt, 1998).
Pengukuran smoothness akan menggunakan rasio standar deviasi laba dan standar deviasi dari arus kas operasi yang dirumuskan sebagai berikut.
!"##$ℎ!"## = ! !"#" !"#$%&'!(%)
! !"#$ !"# !"#$%&'!(%)
Hasil rasio smoothness yang lebih rendah menunjukkan bahwa laba tersebut lebih smoothing dari aliran laba yang relative terhadap arus kas (Jika hasil smoothness menunjukkan korelasi yang negative antara perubahan akrual akuntansi dan perubahan arus kas operasi maka smoothness sebuah laba semakin kuat. (Ewert dan Wagenhofer, 2009). Hasil penelitian dari Leuz, Nanda dan Wysocki juga mengatakan bahwa semakin lebar jarak angka yang dihasilkan dari perhitungan tersebut dari angka 1, maka laba yang diinformasikan semakin tidak berkualitas.
Dalam penelitian ini, untuk menghindari ketidak validan suatu data maka hasil dari perhitungan smoothness diproporsikan dengan penilaian berikut:
1. Sangat Tidak Baik (STS) memiliki nilai 1
2. Tidak Baik (TS) memiliki nilai 2 3. Cukup Baik (CB) memiliki nilai 3 4. Baik (B) memiliki nilai 4
5. Sangat Baik (SB) memiliki nilai 5
Menurut Umar (2011) hasil jawaban yang diukur dengan skala likert dikelompokkan menggunakan interval kelas. Interval kelas dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut:
RS =! − !
! Keterangan :
RS : Rentang Skor M : Skor Tertinggi N : Skor Terendah B : Jumlah Kelas
2.1.2 Financial Performance
Kinerja dalam kamus istilah akuntansi adalah kuantifikasi dari keefektifan dalam pengoperasian bisnis selama periode tertentu. Kinerja menunjukkan sesuatu yang berhubungan dengan kekuatan serta kelemahan suatu perusahaan. Dalam konsep kinerja perusahaan perlu dibedakan dari konstruk yang lebih luas yaitu dari efektivitas organisasi. Hal ini tergantung bagaimana seseorang mendefinisikan kinerja perusahaan. Ventkatraman dan Ramanujan (1986) memberikan tiga lingkaran yang tumpang tindih yang menunjukkan efektivitas organisasi terbesar. Domain yang luas dari efektivitas organisasi ini mewakili kinerja bisnis yang mencakup lingkaran yaitu dapat dilihat dari kinerja keuangan.
Kinerja operasional yang terbaik dapat dilihat dari kinerja keuangan (Combs et al,2005).
Bitici, Carrie dan McDevitt (1997) menggambarkan manajemen kinerja sebagai proses dimana organisasi mengelola kinerjanya untuk mencocokkan strategi perusahaan, fungsional dan tujuannya. Dalam manajemen bisnis saat ini, kinerja keuangan dianggap memiliki peranan yang lebih penting dibanding kuantifikasi dan akuntansi (Koufopolous, Zoumbos & Argyropoulou, 2008).
Barlian (2003) menyatakan pentingnya kinerja keuangan sebagai informasi yang diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi, yang mungkin dikendalikan di masa depan dan untuk memprediksi kapasitas produksi dari sumber daya yang ada. Hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan secara optimal untuk meghadapi perubahan lingkungan.
Kinerja keuangan didefinisikan sebagai ukuran seberapa baik perusahaan dapat memanfaatkan asset dari kegiatan utama dari bisnis dan menghasilkan keuntungan bagi investor, hal itu merupakan ukuran dari efektivitas perusahaan (Stanwick dan Stanwick,2010). Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja keuangan merupakan suatu gambaran yang menyajikan kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis menggunakan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui baik buruknya kondisi keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. Baik atau buruknya suatu kinerja keuangan perusahaan dilihat melalui laporan keuangan perusahaan tersebut. Laporan keuangan berisi informasi tentang prestasi perusahaan di masa lampau dan dapat memberikan petunjuk untuk penetapan kebijakan di masa yang akan datang (Weston dan Copeland, 1995). Informasi tersebut berupa pengumpulan dan pengolahan data keuangan yang akan memberikan gambaran tentang posisi keuangan perusahaan dan perkembangan usaha suatu perusahaan pada periode tertentu.
Pada dasarnya kinerja keuangan diperlukan sebagai alat untuk mengukur kesehatan perusahaan. Dalam arti yang lebih luas, kinerja keuangan mengacu pada sejauh mana tujuan keuangan sedang atau telah dicapai. Hal ini adalah proses mengukur hasil kebijakan dan operasi perusahaan dalam hal moneter dan digunakan untuk mengukur keseluruhan kesehatan keuangan perusahaan selama periode waktu tertentu dan juga dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan sejenis di industri yang sama atau untuk membandingkan industri di sector agregasi (Conceptual Framework).
Saat ini banyak pemimpin melihat kinerja suatu perusahaan berdasarkan kinerja keuangan. Perusahaan yang bisa memiliki kinerja keuangan yang baik dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut sukses. Wet & Hall (2004)
menyatakan bahwa tujuan keberhasilan keuangan oleh perusahaan dilihat dari bagaimana perusahaan mampu memaksimalkan kekayaan shareholder.
2.1.2.1 Pengukuran Financial Performance
Pengukuran kinerja keuangan dapat membantu perusahaan untuk mengalami perbaikan atas kegiatan operasionalnya agar perusahaan tersebut mampu bersaing dengan perusahaan lain. Adapun pengukuran kinerja keuangan perusahaan dapat dibedakan menjadi dua yaitu, berbasis akuntansi (accounting based) dan berbasis pasar (market based) (McGuire, Sundgren, & Schneeweis, 1988; Velde, Vermeir, & Corten, 2005). Namun pada penelitian ini, kinerja keuangan akan diukur menggunakan pengukuran berbasis akuntansi (accounting based).
Berdasarkan pengukuran kinerja keuangan berbasis akuntansi, kinerja perusahaan dapat diukur menjadi lima jenis menurut ruang lingkupnya yaitu, rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas dan rasio pasar (Robert Ang, 1997). Dari kelima rasio tersebut, yang digunakan untuk mengukur kinerja operasi perusahaan biasanya menggunakan rasio profitabilitas.
Rasio profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih dari kegiatan yang dilakukan dalam suatu periode akuntansi.
Profitabilitas juga dapat mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuangan pada tingkat penjualan asset dan modal saham tertentu. Rasio yang sering digunakan adalah ROA. Gombola dan Ketz (1983), Ho dan Wu (2006) meneliti faktor-faktor penentu kinerja perusahaan diukur dengan Return On Asset (ROA).
Return On Assets (ROA) merupakan kemampuan perusahaan dengan seluruh modal yang bekerja didalamnya untuk menghasilkan laba operasi perusahaan. Rasio ini sering digunakan untuk mengukur profitabilitas perusahaan dan sering digunakan para peneliti untuk memprediksi kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu perusahaan, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan tersebut dan semakin baik pula posisi perusahaan tersebut dari segi penggunaan asset. Hasil perhitungan
ROA yang tinggi juga menunjukkan bahwa penggunanan asset bagi keuntungan pemegang saham semakin efektif (Haniffa dan Huduib,2006).
Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
!"# =!"# !"#$%&
!"#$% !""#$
Net income : jumlah dari hasil keuntungan suatu bisnis.
Total asset : jumlah aktiva tetap suatu perusahaan.
Dengan pengukuran kinerja keuangan menggunakan Return On Asset (ROA) berbasis akuntansi Klapper dan Love (2002) dapat mengukur operasi dan kinerja keuangan suatu perusahaan.
2.1.3 Firm Value
Tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan perusahaan atau nilai perusahaan (Putu et al, 2014). Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting bagi suatu perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti kemakmuran pemegang saham juga tercapai. Namun memaksimalkan nilai perusahaan tidak hanya sekedar memaksimalkan laba perusahaan. Pernyataan tersebut atas dasar beberapa alasan yaitu (Weston dan Copeland, 1995):
a) Memaksimalkan nilai berarti mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap nilai uang. Dana yang diterima pada tahun ini bernilai lebih tinggi dari pada dana yang diterima sepuluh tahun yang akan datang.
b) Memaksimalkan nilai berarti mempertimbangkan berbagai resiko terhadap arus pendapatan perusahaan.
c) Mutu dari arus kas dana diharapkan diterima di masa datang mungkin beragam.
Nilai perusahaan adalah persepsi investor terhadap perusahaan yang selalu dikaitkan dengan harga saham (Brigham et al, 2006). Sehingga nilai perusahaan
merupakan nilai pasar atas surat berharga hutang dan ekuitas perusahaan yang beredar. Harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli diartikan sebagai harga pasar atas perusahaan tersebut (Keown, et al, 2007). Dengan adanya harga saham yang tinggi maka akan membuat perusahaan menjadi dihargai dan juga dapat mempengaruhi kepercayaan pasar terhadap kinerja perusahaan saat ini dan prospek masa depan (Putu et al, 2014). Nilai harga saham yang tinggi juga akan diminati oleh investor sehingga dengan meningkatnya permintaan saham akan menyebabkan nilai perusahaan tersebut menjadi lebih tinggi dari nilai sebelumnya. Nilai perusahaan dalam penelitian ini didefinisikan sebagai nilai pasar, karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat. Semakin tinggi harga saham maka semakin tinggi kemakmuran pemegang saham.
2.1.3.1 Pengukuran Firm Value
Pengukuran nilai perusahaan dapat diperoleh melalui 1) Tobin’s Q oleh James Tobin (1967), Copeland (2000), Lindenberg dan Ross (2006), dan peneliti lain, 2) Price Book Value (PBV) yang merupakan nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham, 1999), 3) Enterprise Value = market value + debt – cash, 4) Present Value dari cash flow, 5) Free Cash Flow to the firm = after tax operating income – reinvestment needs. Salah satu cara atau alternative untuk mengukur nilai suatu perusahaan dapat menggunakan rasio Tobin’s Q dimana rasio tersebut dicetuskan oleh pemenang hadiah nobel ekonomi Profesor James Tobin (1967) dengan membuat hipotesis bahwa keseluruhan nilai pasar perusahaan pada harga pasar saham akan serupa dengan penempatan aset tersebut. Rasio ini dapat membantu investor untuk mengetahui nilai pasar perusahaan. King dan Santor (2008) mendefinisikan Tobin’s Q sebagai ukuran yang mencerminkan penilaian pasar terhadap asset perusahaan terhadap nilai buku, dan seringkali digunakan sebagai proksi untuk melihat peluang pertumbuhan perusahaan di masa datang.
Nilai Tobin’s Q didapatkan dari penjumlahan nilai pasar saham (market value of all outstanding stock) dan nilai pasar hutang (market value of all debt)
dibandingkan dengan nilai seluruh modal yang ditempatkan dalam aktiva produksi. Berikut ini adalah rumus untuk menghitung nilai Tobin’s Q
Q = (!"# + !)
!"
Q : nilai perusahaan
MVS : market value of all outstanding shares (closing price*jumlah saham) D : nilai buku dari total hutang.
TA : nilai buku dari total aktiva.
MVS diperoleh dari hasil perkalian harga saham penutupan akhir tahun dengan jumlah saham yang beredar pada akhir tahun.
D = AVCL − AVCA + !"#!"
Dimana :
AVCL : Accounting value of the firm’s current liabilities.
AVCL : short term debt + taxes payable
AVLTD : accounting value of the firm’s long term debt AVCA :accounting value of the firm’s current assets.
AVCA :cash + account receivable + inventories.
Rasio Q merupakan ukuran yang lebih teliti tentang seberapa efektif manajemen dapat memanfaatkan sumber-sumber daya ekonomis dalam kekuasaannya. Rasio Tobin’s Q menggambarkan suatu kondisi peluang investasi yang dimiliki perusahaan (Lang, et al 1989) atau potensi pertumbuhan perusahaan (Tobin dan Brainard, 1968; Tobin, 1969).
Jika rasio Q menunjukkan angka diatas satu maka investasi aktiva dalam perusahaan tersebut akan menghasilkan laba dengan nilai lebih tinggi daripada pengeluaran investasi. Jika pasar memberikan nilai lebih terhadap suatu perusahaan, maka pasar menganggap bahwa perusahaan tersebut memiliki prospek yang baik. Sebaliknya jika rasio Q dibawah angka satu menunjukkan
bahwa investasi aktiva menghasilkan laba dengan nilai yang lebih rendah daripada pengeluaran investasi (Putu et al, 2014).
Tingginya nilai dari hasil Tobin’s Q menunjukkan bahwa pasar modal mengharapkan perusahaan memiliki perspektif pertumbuhan yang baik (Conqvist dan Nilsson, 2003). Karena dengan nilai perusahaan yang tinggi maka pasar tidak hanya percaya pada kinerja perusahaan saat ini namun pasar juga percaya pada prospek perusahaan di masa yang akan datang.
Teori Tobin’s Q secara umum telah diterima sebagai alat yang dapat diandalkan untuk mengevaluasi tingkat pasar suatu perusahaan. Para ahli ekonomi percaya bahwa teori tersebut merupakan teori yang terbaik yang digunakan untuk mengevaluasi tindakan masa depan, dan membantu pemilik dan manajemen dalam merencanakan tindakan masa depan perusahaan. Oleh karena itu, nilai dari Tobin;s Q adalah faktor yang akan menentukan nilai perusahaan melalui harga saham.
2.2 Hipotesis
Di bagian ini akan dijelaskan mengenai beberapa rumusan hipotesis beserta argumentasinya. Masing-masing rumusan hipotesis tersebut diuraikan sebagai berikut:
2.2.1 Pengaruh Earning Quality terhadap Financial Performance.
Kualitas laba dianggap penting untuk pengguna informasi keuangan serta praktisi, regulator dan peneliti akuntansi karena laba secara luas diyakini sebagai informasi utama yang tersedia dalam laporan keuangan (Lev,1989). Lipe (1986) menyelidiki adanya hubungan komponen laba akuntansi dengan kinerja perusahaan yang menemukan bahwa kinerja perusahaan secara positif terkait dengan persistensi komponen laba. Perusahaan dengan pendapatan yang berkualitas tinggi menghasilkan kualitas kinerja yang tinggi (Sloan, 1996).
Dengan adanya kualitas laba yang tinggi akan memberikan informasi yang lebih lanjut mengenai fitur kinerja keuangan suatu perusahaan yang relevan dengan keputusan tertentu yang dibuat oleh pembuat keputusan (Dechow, 2010). Karena kualitas laba yang tinggi dapat mencerminkan kinerja perusahaan saat ini dan
indikator yang baik dari kinerja perusahaan masa depan. Hal tersebut juga akan berguna untuk mengukur nilai perusahaan (Dechow and Schrand, 2004).
Penelitian antara hubungan earnings quality dan financial performance telah banyak dilakukan di berbagai negara (Lipe, 1986; Collins dan Kothari, 1989;
Imhoff, 1992; Sloan, 1996; Penman dan Zhang, 2002; Chan, Chan, Jegadeesh dan Lakonishok, 2006; Huang , Zhang, Deis, dan Moffit, 2009). Penelitian tersebut menemukan bahwa financial performance memiliki hubungan positif terhadap cara pengukuran komponen laba. Semakin tinggi earning quality yang dihasilkan oleh suatu perusahaan maka hal tersebut juga akan meningkatkan kinerja perusahaan. Studi dari Mahmud, Ibrahim dan Pok (2009) menunjukkan bahwa kualitas laba memiliki hubungan positif dengan kinerja perusahaan yang terdaftar di Malaysia, dimana informasi laba dapat digunakan untuk pengguna informasi karena secara tidak langsung kualitas laba digunakan untuk mengukur kualitas pelaporan keuangan.
Chen et al. (2006) mengemukakan bahwa ada hubungan positif antara kualitas laba dengan kinerja perusahaan di masa depan. Huang et al. (2009) juga mengatakan bahwa kinerja perusahaan akan menurun jika kualitas laba rendah.
Dari beberapa penelitian diatas dapat disimpulkan hipotesis pertama yaitu;
H1: Earning Quality secara positif berhubungan dengan Financial Performance.
Koefisien negative dari kualitas laba akan menunjukkan bahwa pendapatan dengan kualitas yang lebih tinggi akan menyebabkan kinerja keuangan lebih tinggi (Ibrahim, 2009).
2.2.2 Pengaruh Earning Quality terhadap Firm Value
Informasi laba merupakan bagian dari laporan keuangan yang dapat dijadikan pertimbangan utama untuk membantu investor dalam mengambil keputusan. Apabila informasi laba tidak menunjukkan yang sebenarnya maka hal tersebut dapat menyesatkan investor atau pengguna laporan. Sehingga investor harus bisa mempertimbangkan laba yang memiliki kualitas tinggi.
Earnings dapat dikatakan berkualitas tinggi apabila earning yang dilaporkan dapat digunakan oleh para pengguna untuk membuat keputusan yang terbaik dan dapat digunakan untuk menjelaskan atau memprediksi harga dan return saham (Bernard dan Stober, 1998). Laba yang dipublikasikan dapat memberikan respon yang bervariasi, yang menunjukkan adanya reaksi pasar terhadap informasi laba (Cho dan Jung, 1991). Reaksi yang diberikan tergantung dari kualitas laba yang dihasilkan oleh perusahaan, semakin tinggi kualitas laba maka diharapkan nilai perusahaan semakin tinggi. Kualitas laba yang tinggi harus mencerminkan operasi kinerja perusahaan saat ini dan operasi kinerja di masa depan. Hal tersebut juga harus berguna untuk menilai nilai perusahaan yang dapat dilihat dari respon investor terhadap perusahaan setelah perusahaan mengeluarkan laporan keuangan yang menyajikan laporan laba (Dechow and Schrand, 2004).
Jika laba yang dilaporkan adalah laba yang berkualitas maka investor akan memberikan sinyal positif melalui kesediaannya membayar premium atas saham perusahaan.
Siallagan dan Machfoedz (2006) yang menguji apakah terdapat pengaruh kualitas laba terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ periode 2000-2004. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan hasil yang positif dimana kualitas laba yang rendah dapat membuat investor melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan sehingga nilai perusahaan menjadi menurun.
Chen et al (2001) dan Chia Wu (2012) menguji apakah return saham yang akan datang akan merefleksikan informasi mengenai kualitas laba saat ini. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan yang positif antara kualitas laba dengan nilai perusahaan. Dengan adanya beberapa penelitian diatas yang menunjukkan hasil yang positif maka disimpulkan hipotesis yang kedua yaitu:
H2: Earning Quality secara positif berhubungan dengan Firm Value.
2.2.3 Pengaruh Financial Performance terhadap Firm Value
Kinerja perusahaan sebagai ukuran keberhasilan perusahaan akan dilihat sebagai patokan dari investor untuk menginvestasikan dananya. Investor tidak akan mengetahui apakah harga sebuah saham undervalued atau overvalued tanpa melakukan analisis terhadap kinerja perusahaan dengan menggunakan rasio keuangan dari laporan keuangan.
Dengan adanya kinerja perusahaan yang tinggi akan mendorong kenaikan harga pasar saham perusahaan, karena investor akan merespon positif sebagai sinyal untuk menginvestasikan dana (Sudiyanto et al, 2012). Nilai perusahaan dapat menggambarkan seberapa baik atau buruk manajemen mengelola kekayaannya, hal ini bisa dilihat dari pengukuran kinerja keuangan. Perusahaan dengan kinerja keuangan yang baik mampu mempertahankan nilai perusahaan.
Dalam penelitian Carlson dan Bathala (1997) menemukan bahwa ROA (kinerja keuangan) berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa ROA merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada nilai perusahaan. Namun penelitian. (Kaaro, 2002) menemukan bahwa ROA berpengaruh negative terhadap nilai perusahaan. Ghasempour et al (2013) menginvestigasi hubungan antara kinerja keuangan menggunakan rasio profitabilitas dengan firm stock dengan sample Theran Stock Exchange period 2000-2008. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan hubungan yang positif antara Return On Assets ratio dengan firm stock.
Berdasarkan teori dari penelitian tersebut, maka hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
H3: Financial Performance secara positif berhubungan dengan Firm Value.
Nilai profitabilitas dari kinerja keuangan yang tinggi dapat meningkatkan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan, sehingga akan mempengaruhi nilai perusahaan. Perusahaan dengan keuntungan yang tinggi akan memberikan indikasi yang baik yang dapat menyebabkan investor untuk meningkatkan permintaannya terhadap saham. Kemudian peningkatan permintaan dapat meningkatkan nilai saham perusahaan.