• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PERDAGANGAN BERAS ANTAR PULAU. (Kasus Perdagangan Beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur) AKBAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PERDAGANGAN BERAS ANTAR PULAU. (Kasus Perdagangan Beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur) AKBAR"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PERDAGANGAN

BERAS ANTAR PULAU

(Kasus Perdagangan Beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur)

AKBAR

Nomor Stambuk : 10564 01178 11

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PERDAGANGAN

BERAS ANTAR PULAU

(Kasus Perdagangan Beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur)

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diajukan Oleh

AKBAR

Nomor Stambuk : 10564 01178 11

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

AKBAR. 2015. Peran Pemerintah Daerah Dalam Perdagangan Beras Antar Pulau “Kasus Perdagangan Beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur” dibawah bimbingan oleh (Mappamiring dan Rudi Hardi).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran pemerintah daerah dalam perdagangan beras antar pulau dan apa saja faktor pendukung dan penghambat perdagangan beras pada kasus perdagangan beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur. Dari segi akademik diharapkan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pemerintahan.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan yang memberikan gambaran mengenai peran pemerintah dalam perdagangan beras antar pulau dengan melihat kebijakan perdagangan, mekanisme kerja aparat, pajak dan tarif angkutan serta sarana dan prasarana penunjang perdagangan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik obeservasi, interview atau wawancara, dengan memilih informan yang berperan dan terlibat secara teknis maupun fungsional dalam kegiatan perdagangan beras antar pulau. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kualitatif.

Hasil penelitian menggambarkan bahwa peran pemerintah sebagai regulator tentang perdagangan beras antar pulau belum begitu terlihat, baik

(7)

menyangkut tentang kepastian hukum, keamanan, kemanan. Sedangkan peran pemerintah sebagai dinamisator dalam perdagangan beras terlihat jelas dengan melaksanakan pembinaan dibidang pelayaran dan perkapalan, selain itu juga pemerintah melaksanakan kegiatan seperti pengolahan dan pengendalian usaha dibidang perdagangan, melaksanakan pelayanan dalam pembinaan dan pengembangan usaha, melaksanakan koordinasi dalam pembinaan dan pengembangan usaha. Peran pemerintah sebagai fasilitaor dapat terlihat dari fasilitas Sarana dan prasarana yang telah disediakan dan tentu itu merupakan salah satu penunjang berjalannya perdagangan beras antar pulau seperti halnya pelayanan administrasi, dan juga pendukung perdagangan seperti pelabuhan, gudang, kapal dan sarana penunjang lainnya telah mencukupi namun masih ada kekurangan sarana yang perlu diperhatikan oleh pemerintah.

Faktor pendorong dalam penelitian ini adalah tersedianya sumber daya alam yang memadai, tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang perdagangan. Sedangkan faktor penghambatnya adalah segala kegiatan yang mampu berpengaruh menghambat perdagangan beras antar pulau yang mengakibatkan aktifitas perdagangan jadi tidak lancar, seperti faktor cuaca buruk, harga beras, pungutan liar dan kurangnya alat keselamatan kapal.

Kata kunci: Peran Pemerintah, Perdagangan Beras Antar Pulau.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi “Peran Pemerintah Daerah dalam Perdagangan Beras Antar Pulau (Kasus Perdagangan Beras dari Bone ke Nusa Tenggar Timur)”.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Ayahanda H. Appa dan Ibunda Hj. Fatimah dan segenap keluarga yang senantiasa memberikan semangat dan bantuan, baik moral maupun materil semoga mendapat balasan dari Allah SWT.

2. Bapak Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. H. Irwan Akib, M.Pd.

3. Bapak Dr. H. Mappamiring, M.si selaku Pembimbing I dan Bapak Rudi Hardi, S.Sos, M.Si selaku Pembimbing II yang senantiasa meluangkan

(9)

waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Bapak Dr. H. Muhlis Madani, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Bapak Andi Luhur, S.Ip, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik khususnya Jurusan Ilmu Pemerintahan yang telah memberi bekal ilmu dan pengetahuan kepada Penulis.

7. Seluruh teman kelas A Ilmu pemerintah Angkatan 2011 yang selama ini telah menjadi teman dan sahabat selama ini.

8. Seluruh Informan yang telah menuangkan waktunya untuk memberikan informasi kepada penulis.

9. Kepada semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan, semoga segala bentuk bantuannya mendapat balasan dari Allah SWT.

Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 18 Mei 2015

Akbar

(10)

DAFTAR ISI

Halaman Pengajuan Skripsi...i

Halaman Penerimaan Tim………..ii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah...iii

Abstrak...iv Kata Pengantar...vi Daftar Isi...viii Daftar Tabel...x BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1 B. Rumusan Masalah...6 C. Tujuan Penelitian...6 D. Manfaat Penelitian...7

BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Peran Pemerintah...8

B. Konsep Perdagangan Beras...10

C. Kebijakan Pemerintah dalam Perberasan...16

D. Peran Pemerintah dalam Perdagangan Beras...19

E. Sarana dan Prasaran Pendukung Perdagangan...21

F. Kerangka Pikir...22

G. Fokus Penelitian...23

H. Defenisi Fokus Penelitian...24

BAB III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian...25

B. Jenis dan Tipe Penelitian...25

C. Sumber Data Penelitian...25

D. Informan Penelitian...26

E. Teknik Pengumpulan Data...26

F. Teknik Analisis Data...27

G. Keabsahan Data...28

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakeristik Objek Penelitian...29

1. Letak Geografis dan Potensi Wilayah Kabupaten Bone...29

2. Profil Dinas Perindag Kabupaten Bone...30

a. Visi dan Misi...30 viii

(11)

b. Struktur Organisasi...32

c. Data Perdagangan Beras Antar Pulau...34

B. Peran Pemerintah dalam Perdagangan Beras Antar Pulau...34

1. Peran Pemerintah Sebagai Regulator...35

2. Peran Pemerintah Sebagai Dinamisator...38

3. Peran Pemerintah Sebagai Fasilitator...40

C. Faktor Pendorong dan Penghambat dalam Perdagangan Beras Antar Pulau...44

1. Faktor Pendorong...44

a. Sumber Daya Alam...45

b. Sarana dan Prasarana...46

2. Faktor Penghambat...48

a. Cuaca Buruk...48

b. Harga Beras...50

c. Pungutan Liar...53

d. Kurangnya Alat Keselamatan Kapal...54

BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan...57

B. Saran...59

DAFTAR PUSTAKA...60

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Daftar Informan...26 Tabel 2. Data Perdagangan Beras Antar Pulau...34

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara berkewajiban untuk mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman bermutu, dan bergizi seimbang, baik tingkat nasional maupun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan dan budaya lokal. Beras merupakan komoditi strategis sebagai bahan pangan bagi masyarakat Indonesia, sehingga kegiatan produksi, penyediaan, pengadaan dan distribusi beras menjadi sangat penting dalam rangka ketahanan pangan, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani beras, kepentingan konsumen serta menciptakan stabilitas kepentingan ekonomi nasional. Untuk mencapai ketahanan pangan, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani beras, serta menciptakan stabilitas ekonomi nasional tersebut perlu dukungan kebijakan yang lebih efektif dan memadai, khususnya kebijakan di bidang impor dan ekspor beras.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dunia dengan lebih dari 17000 pulau sehingga transportasi laut memainkan peranan yang sangat penting untuk menghubungkan dan memutar roda perekonomian antar pulau. Kapal merupakan salah satu sarana perhubungan yang dibuat untuk dapat mengangkut muatan barang dan penumpang, melintasi perairan secara aman, cepat dan ekonomis. Selama berabad-abad nenek moyang bangsa Indonesia telah

(14)

menggunakan laut sebagai sarana perniagaan dan sumber penghidupan, bahkan menjadi sumber kejayaan dari beberapa kerajaan di Nusantara.

Beras memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia dipandang dari aspek ekonomi, tenaga kerja, lingkungan hidup, sosial, budaya dan politik. Masalah beras bukan hal yang sederhana dan sangat sensitif sehingga penanganannya harus dilakukan secara hati-hati. Kesalahan yang dilakukan dalam kebijaksanaan perberasan akan berdampak tidak saja pada kondisi perberasan nasional tetapi juga pada berbagai bidang lain yang terkait.

Pemenuhan pangan yang cukup merupakan salah satu hak bagi manusia yang paling azasi dan juga salah satu faktor penentu bagi perwujudan ketahanan nasional. Sehubungan dengan kekurangan yang terjadi secara meluas disuatu negara akan menyebabkan kerawanan ekonomi, sosial dan politik yang dapat menggoyahkan stabilitas suatu negara. Bagi Indonesia, beras merupakan pangan pokok yang sangat dominan. Pengalaman menunjukan bahwa kelangkaan benyediaan beras yang menyebabkan melonjaknya harga beras pada tahun 1966 dan 1988, secara langsung maupun tidak langsung memperparah krisis ekonomi, sosial dan politik pada saat itu, yang berujung pada pergantian pemerintahan.

Pentingnya keberadaan beras membuat pemerintah memberi perhatian khusus. Pemerintah mengatur ketersediaan beras agar kebutuhan seluruh penduduk tercukupi melalui Bulog. Selain Bulog, pihak swasta juga memiliki peranan yang cukup besar dalam ketersediaan beras di Indonesia.

Perbedaan kuantitas beras disetiap daerah berbeda yang merupakan makanan pokok penduduk, maka terjadilah arus perdagangan antar daerah dan

(15)

antar pulau dalam rangka menutupi kekurangan beras yang dibutuhkan oleh daerah-daerah defisit. Hubungan perdagangan antar daerah adalah bagian dari mekanisme sistem pasar yang akan membawa ke arah keseimbnagan permintaan dan penawaran pada tingat nasional.

Pemenuhan kebutuhan beras memerlukan proses tataniaga dari daerah surplus ke daerah defisit beras. Menurut penelitian Natawidjaja (2000), ada dua hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan harga beras sehingga mendorong beras untuk ditransportasikan dari suatu daerah ke daerah lain yaitu karena adanya:

1. Perbedaan jumlah ketersediaan beras, sehingga beras dikirim daerah daerah surplus ke daerah yang membutuhkan/defisit beras (daerah konsumen) 2. Perbedaan preferensi dan daya beli masyarakat, sehingga beras yang

berkualitas bagus dikirim ke daerah konsumen dengan daya beli dan selera lebih tinggi untuk ditukar tambah dengan beras yang berkualitas lebih rendah dan lebih murah.

Pergerakan kuantitas beras antar daerah menyebabkan terbentuknya suatu integrasi (keterikatan) antar pasar daerah yang mengirim dengan pasar yang dikirim. Apabila semua pasar daerah terhubung dalam suatu sistem perdagangan, kemudian meningkat kepada hubungan dagang antar pulau, maka harga-harga pada semua pasar-pasar tersebut akan bergerak secara bersama-sama membentuk suatu pasar yang terintegrasi. Kerena itulah integrasi pasar sering dipakai untuk menilai efesiensi, sebab apabila tidak ada hambatan maka harga-harga pasar akan menunjukan pergerakan yang hampir bersamaan. Dan karena tidak terintegrasinya

(16)

suatu pasar dengan pasar lainnya bisa disebabkan karena adanya hambatan trnsportasi pengiriman barang atau karena adanya kekuatan yang mampu mempengaruhi keadaan harga pada pasar tersebut. Pada kasus di kota-kota dan daerah di Nusa Tenggara Timur sebagai tempat yang memiliki status keadaan beras yang defisit, seharusnya banyak mendatangkan beras dari daerah-daerah lain termasuk dari sulawesi selatan terkhusus dari kabupaten Bone, sehingga mau tidak mau akan terintegrasi dengan pasar pengirimannya.

Campur tangan pemerintah dapat berubah setiap saat karena perubahan peranan unsur-unsur di atas. Namun melepaskan sama sekali campur tangan pemerintah dalam perberasan nasional belum pernah dilakukan karena resikonya sangat besar. Secara partial berbagai perubahan instrumen kebijakan pernah dilakukan pemerintah. Akan tetapi pemerintah belum pernah merubah secara mendasar tujuan kebijakan perberasan nasional yang dilakukan selama ini yang masih tetap berkisar pada menjaga kelangsungan produksi beras domestik, melindungi petani padi serta menjamin kecukupan beras bagi masyarakat agar mereka mendapatkan akses yang mudah secara ekonomi maupun fisik secara berkelanjutan.

Sistem tataniaga beras yang efisien sangat diperlukan karena pentingnya ketersediaan beras bagi penduduk. Sistem tataniaga yang tidak efisien akan memberikan dampak buruk, antara lain sulitnya konsumen mendapatkan beras, perbedaan yang besar antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani sebagai produsen

(17)

Namun pada kenyataan peran pemerintah belum begitu terlihat baik menyangkut regulasi, dinamisatori, maupun fasilitator. Sistem tataniaga beras yang efisien sangat diperlukan karena pentingnya ketersediaan beras bagi penduduk. Sistem tataniaga yang tidak efisien akan memberikan dampak buruk, antara lain sulitnya konsumen mendapatkan beras, akibatnya terjadi kenaikan harga yang tinggi untuk daerah produsen dikarenakan juga produksi beras berkurang.

Perbedaan harga inilah yang menjadikan salah satu alasan pendistribusian beras berhenti dan juga kapal rakyat sebagai alat transportasipun ikut terhenti akibatnya pendapatan masyarakat menurun padahal itu merupakan mata pencaharian masyarakat itu sendiri, karenanya pemerintah harus mengawasi perubahan harga yang beredar di pasar dengan menentukan kebijakan atau aturan agar harga beras tidak terus menerus naik dalam waktu yang singkat, dan juga pihak swasta (pelaku usaha) tidak seenaknya menaikan harga dan menampung beras demi kepentingan pribadi, agar pendistribusian beras tetap lancar dan tidak ada hambatan, juga kapal rakyat sebagai alat transportasi beras antar pulau juga ikut beroperasi demi kemaslahatan bersama.

Hal ini menjadikan alasan bahwa analisis sistem tataniaga beras perlu diteliti, bagaimana proses tataniaga terbentuk dan kebijakan pemerintah dalam pembentukan harga beras di pasar, agar konsumen bisa mendapatkan beras dengan harga yang tidak terlalu membebani masarakat dan juga pendistribusian beras antar pulau tetap jalan sehingga pendapatan masyarakat sebagai pedagang beras, buruh, anak buah kapal dengan jalur pelayaran rakyat tetap jalan tanpa

(18)

hambatan. Oleh karena itu diperlukan berbagai upaya yang dapat menjamin kontinuitas akses terhadap kecukupan pangan (beras) dan kestabilan harganya bagi masyarakat. Dengan kata lain, diperlukan peran pemerintah dalam menangani masalah perdagangan beras antar pulau.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana peran pemerintah daerah dalam perdagangan beras antar pulau (kasus perdagangan beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur)

2. Apa faktor pendukung dan penghambat peran pemerintah dalam perdagangan beras antar pulau (kasus perdagangan beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana peran pemerintah daerah dalam perdagangan beras antar pulau (kasus perdagangan beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur)

2. Untuk mengetahui apa faktor pendukung dan penghambat peran pemerintah dalam perdagangan beras antar pulau (kasus perdagangan beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur)

(19)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu menambah dan meningkatkan wawasan serta pengetahuan konsep yang lebih mendalam tentang bagaimana peran pemerintah daerah dalam perdagangan antar pulau.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan tentang bagaimana peran pemerintah daerah dalam hal pengaturan dan evektifitas dalam perdagangan beras antar pulau.

(20)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Peran Pemerintah

Fungsi pemerintah dalam kaitannya dengan pemberdayaan yakni mengarahkan masyarakatnya pada kemandirian dan pembangunan demi terciptanya kemakmuran didalam kehidupan masyarakat.

Siagian (2012 hal 142), peranan pemerintah terlihat dalam lima wujud utama yaitu sebagai berikut :

1. Selaku modernisator, bahwa pemerintah bertindak untuk mengantarkan masyarakat yang sedang membangun menuju modernisasi dan meninggalkan cara dan gaya hidup tradisional yang sudah tidak sesuai lagi dengan tata kehidupan modern.

2. Selaku katalisator, bahwa pemerintah harus dapat memperhitungkan seluruh faktor yang berpengaruh dalam pembangunan nasional, mengendalikan faktor negatif yang cenderung menjadi penghalang sehingga dampaknya dapat diminimalisir dan dapat mengenali faktor-faktor yang sifatnya mendorong laju pembangunan nasional sehingga mampu menarik manfaat yang sebesar-besarnya.

3. Selaku dinamisator, bahwa peran pemerintah bertindak sebagai pemberi bimbingan dan pengarahan kepada masyarakat yang ditujukan dengan sikap, tindak-tanduk, perilaku dan cara bekerja yang baik yang dapat dijadikan panutan bagi masyarakat dalam melakukan pembangunan.

(21)

4. Selaku stabilisator, bahwa peran pemerintah adalah stabilisator yang menjaga kestabilan nasional agar tetap mantap dan terkendali sehingga kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan akan dapat dilaksanakan dengan baik dan rencana-rencana, program-program dan kegiatan-kegiatan operasional akan berjalan dengan lancar.

5. Selaku pelopor, bahwa pemerintah tidak hanya menjalankan fungsi selaku perumus kebijakan dan penyusun rencana pembangunan saja, tetapi juga sebagai pelaksana pembangunan yang inovatif yang mampu memecahkan berbagai tantangan dan keterbatasan yang ada.

Menurut Kartasasmita (1996), dalam era otonomi daerah dan keterbukaan seperti saat ini, peran pemerintah di masa kini dan masa mendatang dalam pembangunan guna mewujudkan kesejahteraannya adalah berfungsi sebagai regulator, modernisator, katalisator/fasilitator, dinamisator, stabilisator dan pelopor/stimulator, yang menekankan pada upaya kemandirian dalam pemberdayaan masyarakat. Sebagai regulator, pemerintah memberikan acuan dasar yang selanjutnya diterjemahkan oleh masyarakat sebagai instrumen untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dalam koridor persatuan Indonesia. Sebagai modernisator pemerintah berkewajiban membawa perubahan-perubahan ke arah pembaharuan masyarakat. Sebagai katalisator/fasilitator, pemerintah berusaha menciptakan atau memfasilitasi suasana yang tertib, nyaman dan aman, termasuk menfasilitasi tersedianya sarana dan prasarana pembangunan. Sebagai pelopor atau stimulator, pemerintah harus mampu menunjukkan contoh-contoh nyata dan mendorong masyarakat untuk mengikuti contoh tersebut melalui tindakan nyata

(22)

jika memang contoh tersebut bermanfaat. Dari berbagai peranan pemerintah dalam pembangunan di atas ditetapkan satu tujuan yaitu untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakat.

B. Konsep Perdagangan Beras 1. Konsep Perdagangan

Perdagangan merupakan faktor yang penting untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan. Perdagangan merupakan “jembatan” antara sesama individu yang saling membutuhkan antara satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan, dan juga merupakan jembatan antara dunia penelitian dengan praktek perdagangan yang dilaksanakan.

Perdagangan nasional Indonesia sebagai penggerak utama perekonomian tidak hanya terbatas pada aktivitas perekonomian yang berkaitan dengan transaksi barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh pelaku usaha, baik di dalam negeri maupun melampaui batas wilayah negara, tetapi aktivitas perekonomian yang harus dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia yang diselaraskan dengan konsepsi pengaturan di bidang Perdagangan sesuai dengan cita-cita pembentukan negara Indonesia, yaitu masyarakat adil dan makmur sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam setiap kegiatan perdagangan tentu tidak terlepas dari asas yang dijadikan pedoman dan aturan kebijakan sebagaimana yang tercantum pada Pasal 2 Undang-Undang No. 7 tahun 2014 tentang Perdagangan adalah sebagai berikut:

(23)

b. Kepastian hukum; c. Adil dan sehat; d. Keamanan berusaha; e. Akuntabel dan transparan; f. Kemandirian; g. Kemitraan; h. Kemanfaatan; i. Kesederhanaan; j. Kebersamaan; k. Berwawasan lingkungan.

2. Pengaturan Tata Niaga Beras di Indonesia

Beras merupakan komoditi yang diatur tata niaganya. Barang yang diatur tata niaganya yaitu barang yang diakui dan disetujui Menteri Perdagangan atau Pejabat yang ditunjuk untuk dapat mengizinkan impor. Kebijakan impor merupakan bagian dari kebijakan perdagangan yang memagari kepentingan nasional dari berbagai pengaruh masuknya barang impor dari negara lain. Dalam pelaksanaannya akan mengacu kepada Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1994 Tentang Pengesahan Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia

(World Trade Organization) yang memuat rambu-rambu yang wajib di patuhi

oleh setiap negara anggota WTO dalam merumuskan dan menerapkan kebijakan perdagangan internasional, termasuk kebijakan impor. Selain rambu-rambu tersebut, WTO juga memberikan peluang-peluang yang sifatnya terbatas yang dapat dimanfaatkan oleh setiap negara anggota untuk kepentingan nasional

(24)

masing-masing. Peluang-peluang ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Indonesia untuk memagari kepentingan nasional negara Indonesia, terutama di sektor pertanian dan yang paling riskan adalah komoditi beras. Dengan melakukan pengelolaan sendiri, menerapkan peraturan mengenai tata niaga beras. (Rais, 2010).

Operasionalisasi dari ketentuan-ketentuan WTO dilakukan melalui berbagai perangkat hukum berupa Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden maupun Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan yang pada dasarnya di tunjuk untuk menunjang terciptanya iklim usaha yang mendorong peningkatan efisiensi dan perdagangan nasional, perlindungann keselamatan dan kesehatan manusia, meningkatkan efisiensi impor melalui harmonisasi tarif dan tata niaga impor, menerbitkan dan meningkatkan peranan sarana serta lembaga-lembaga penunjang impor, dan secara umum memenuhi ketentuan WTO. Dalam perdagangan barang dikenal dua jenis katup yaitu katup tarif (tariff barrier) dan katup non tarif (non-tariff barrier). Katup non-tarif meliputi kebijakan tata niaga impor, kebijakan pengendalian mutu (baik mutu barang pertanian maupun non pertanian) serta kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan non perdagangan (misalnya moral bangsa, kebudayaan serta keamanan nasional). Dalam pelaksanaanRegulasi mengenai tata niaga beras yang di keluarkan oleh Pemerintah adalah Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 Tentang Ketentuan Impor Dan Ekspor Beras. (Direktorat Jendral Perdagangan Luar Negeri Depatermen Perdagangan).

(25)

3.

Alasan Perlu Diaturnya Tata Niaga Beras di Indonesia

Sejak awal lahirnya ilmu ekonomi klasik para pakarnya memperjuangkan perdagangan bebas. Alasan pertama dan terpenting perlu diaturnya tata niaga adalah untuk adanya proteksi, berpangkal dari pertimbangan kepentingan nasional yang dinilai lebih penting dari pada “output maksimal”. Diantaranya alasan ketahanan negara yang dalam beberapa hal dipandang tidak boleh tergantung dari luar negeri dan kesejahteraan masyarakat. Juga adanya defisit dalam neraca pembayaran yang memaksa untuk membatasi impor. Alasan lain yang penting adalah alasan diversifikasi ekonomi, supaya ekspor suatu negara tidak seluruhnya tergantung dari hanya satu atau dua komoditi saja. Ditambah dengan resiko yang berkaitan dengan fluktuasi harga di pasar dunia, yang sering terjadi dengan komoditi primer. Belum bicara tentang kemungkinan perubahan dalam permintaan akan bahan-bahan dasar hasil produksi negara-negara berkembang. Dan alasan yang paling terkenal adalah “infant industry” untuk melindungi industri yang baru mulai dikembangkan terhadap saingan dari luar negeri. Sekali industri yang bersangkutan sudah besar dan kuat, ia akan dapat berproduksi dengan biaya yang rendah dan dapat bersaing dipasar internasional. Langsung berkaitan dengan ini adalah alasan hendak menjaga kesempatan kerja dan menghindari pengangguran dalam negeri. (Rais, 2010:42).

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin dalam Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.

(26)

Negara berkewajiban untuk mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman bermutu, dan bergizi seimbang, baik tingkat nasional maupun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan dan budaya lokal. Beras merupakan komoditi strategis sebagai bahan pangan bagi masyarakat Indonesia, sehingga kegiatan produksi, penyediaan, pengadaan dan distribusi beras menjadi sangat penting dalam rangka ketahanan pangan, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani beras, kepentingan konsumen serta menciptakan stabilitas kepentingan ekonomi nasional. Untuk mencapai ketahanan pangan, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani beras, serta menciptakan stabilitas ekonomi nasional tersebut perlu dukungan kebijakan yang lebih efektif dan memadai, khususnya kebijakan di bidang impor dan ekspor beras. (Rais, 2010:43).

4. Aturan perdagangan Antar Pulau

Pemerintah mengatur perdagangan antar pulau untuk integrasi pasar dalam negeri, sebagaimana yang diatur dalam pasal 23 Undang-undang nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan sebagai berikut:

a. Menjaga keseimbangan antardaerah yang surplus dan daerah yang minus b. Memperkecil kesenjangan harga antardaerah

c. Mengamankan distribusi barang yang dibatasi perdagangannya d. Mengembangkan pemasaran produk unggulan setiap daerah e. Menyediakan sarana dan prasarana perdagangan antarpulau

(27)

g. Mencegah penyelundupan barang ke luar negeri h. Meniadakan hambatan perdagangan antarpulau

5. Struktur Tataniaga Beras di Indonesia

Di Indonesia, gabah merupakan salah satu komoditi penting. Mubyarto (1986) menjelaskan bahwa tataniaga gabah di Indonesia secara umum dapat dibedakan menjadi dua saluran, yang pertama melalui swasta dan yang kedua melalui pemerintah.

Saluran tataniaga swasta, petani menjual gabah kepada tengkulak atau pedagang kecil yang ada di desa atau yang khusus datang dari kota. Pedagang kecil tersebut kemudian menggilingkan gabah kepada huller-huller kecil di desa setempat atau menjualnya langsung kepada penggilingan padi besar. Bila penggilingan dilakukan sendiri oleh pedagang kecil, maka beras kemudian dijual pada pedagang besar di kota yang kemudian menjual ke pedagang pengecer.

Pemerintah melalui lembaga Bulog memantau, menjaga dan menstabilkan harga dan pasokan beras di pasar. Saluran tataniaga pemerintah pada tingkat terbawah masih melalui pedagang-pedagang swasta. Bulog hanya mengadakan kontrak pembelian minimum 5 ton dengan pedagang-pedagang beras kecil atau pengglingan-penggilingan padi di ibukota kabupaten atau provinsi. Setelah beras disetor pada gudang Bulog maka beras akan disimpan sebagai stok pemerintah, yang sebagian menjadi buffer stock nasional baik untuk keperluan injeksi maupun untuk keperluan lain-lainnya. Dalam injeksi ini Bulog menggunakan pedagang-pedagang besar tertentu untuk menjual beras dengan harga yang telah ditentukan

(28)

oleh Bulog dan pedagang-pedagang besar ini kemudian menyalurkannya pada

pedagang-pedagang kecil sebagai penyalur terakhir agar beras sampai ke konsumen.

C. Kebijakan Pemerintah dalam Perberasan

Beras merupakan komoditas strategis, sehingga kebijakan perberasan menjadi penentu kebijakan pangan nasional dalam pemenuhan hak pangan dan kelangsungan hidup rakyat. Kebijakan perberasan juga merupakan bagian penting kebudayaan serta penentu stabilitas ekonomi dan politik Indonesia. Hampir semua pemerintah di dunia, baik di negara berkembang maupun negara maju, selalu melakukan kontrol dan intervensi terhadap komoditas pangan strategis seperti beras untuk ketahanan pangan dan stabilitas politik. Adapun kebijakan perberasan di Indonesia terdiri dari:

1. Kebijakan Peningkatan Produksi Padi/Beras

Untuk memenuhi kebutuhan akan beras maka pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi padi dalam negeri. Upaya meningkatkan produksi padi telah dilakukan sejak awal kemerdekaan Indonesia. (Pratiwi 2008)

2. Kebijakan Harga Beras

Kebijakan harga beras di Indonesia pertama kali diajukan secara komprehensif dan operasional oleh Mears dan Afiff. Falsafah dasar kebijakan tersebut berisikan beberapa komponen sebagai berikut : (1) menjaga harga dasar yang cukup tinggi untuk merangsang produksi, (2) perlindungan harga maksimum yang menjamin harga yang layak bagi konsumen, (3) perbedaan yang layak antara

(29)

harga dasar dan harga maksimum untuk memberikan keuntungan yang wajar bagi swasta untuk penyimpanan beras, dan (4) hubungan harga yang wajar antara daerah maupun terhadap harga internasional (Amang, B dan Sawit, M.H. 1999).

Untuk memberikan jaminan pada para petani bahwa hasil produksinya akan dibeli pada harga yang ditetapkan pemerintah atau perusahaan yang telah ditunjuk, pemerintah mengeluarkan kebijakan harga dasar gabah dan beras (floorprice). Kebijakan ini juga berfungsi sebagai insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi.

Penetapan harga dasar gabah, sudah dilakukan sejak 1969. Pemerintah menunjukan perhatian yang besar untuk dapat merangsang produksi. Dampak positif ini terlihat bahwa kenaikan produksi beras selama tiga pelita dicapai karena peran insentif harga dasar dan harga pupuk serta pestisida sebesar 40%. Sedangkan faktor-faktor yang lain seperti benih unggul, irigasi dan pengetahuan dari petani secara bersama-sama menyumbang sebesar 60% bagi kenaikan produksi padi (Amang dan Sawit, 1999).

Melalui Impres No.9 Tahun 2002, pemerintah dengan sangat halus merubah istilah Harga Dasar Gabah (HDG) menjadi Harga Dasar Gabah Pembelian Pemerintah (HDPG) atau lebih dikenal dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Perubahan ini sekilas tidak terlalu berbeda, akan tetapi sebenarnya sangat mendasar. Dengan kebijakan HPP pemerintah hanya menjamin harga gabah pada tingkat tertentu dilokasi yang telah ditetapkan, tidak lagi menjamin harga gabah minimum di tingkat petani. HPP berlaku di gudang Bulog, bukan di tingkat petani sebagaimana kebijakan HDG, sehingga tidak lagi

(30)

memberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi padi (Pratiwi, 2008).

Untuk melindungi konsumen, pemerintah (Bulog) menetapkan harga eceran tertinggi lokal. Untuk memenuhi permintaan pada suatu saat dan pada suatu tempat, Bulog melakukan penyebaran persediaan di seluruh Indonesia. Orientasi Bulog dalam distribusi pangan adalah harga, sesuai dengan tugas pokok Bulog untuk menstabilkan harga. Penyediaan persediaan pangan oleh Bulog memiliki tujuan yaitu menjaga variasi harga antar musim dan antar tempat (Amang dan Sawit, 1999).

3. Kebijakan Impor

Kebijakan tarif impor telah berdampak terhadap distribusi pendapatan di antara pelaku pasar. Berkurangnya surplus konsumen, meningkatnya surplus produsen, serta adanya kerugian sosial (akibat terjadinya inefisiensi produksi dan inefisiensi ekonomi) seiring dengan besarnya tingkat tarif yang diberlakukan. (Kariyasa, 2003)

Menurut pengakuan pemerintah dalam hal beras, untuk mencukupi kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia yang jumlahnya mencapai lebih dari 200 juta jiwa, setiap tahunnya Indonesia harus mengimpor beras lebih dari 2 juta ton. Argumen yang sering digunakan oleh pemerintah untuk membenarkan kebijakan impornya adalah bahwa impor beras merupakan suatu kewajiban pemerintah yang tidak bisa dihindari, karena ini bukan semata-mata hanya menyangkut pemberian makanan bagi penduduk, tetapi juga menyangkut stabilitas nasional secara ekonomi, sosial, dan politik (Tambunan, 2003).

(31)

4. Kebijakan Distribusi

Kebijakan distribusi bertujuan untuk menjamin ketersediaan pangan sepanjang tahun secara merata dan terjangkau di seluruh lapisan masyarakat. Distribusi beras mutlak diperlukan dalam menjaga ketahanan pangan karena beras memiliki ciri membutuhkan waktu dalam penyediaannya. Penyediaan beras terjadi karena produksi padi sangat tergantung musim tanam. Karena itu pada bulan-bulan tertentu, terutama pada musim panen raya (Februari-Mei), pasokan beras melimpah. Sedangkan pada musim paceklik (Agustus-September) pasokan beras cenderung berkurang, bahkan sering terjadi kerawanan pangan pada daerahdaerah tertentu. Persediaan beras antar daerah tidak merata karena kemampuan produksi antar wilayah tidak sama. Sehingga pengaturan distribusi pangan yang baik sangat diperlukan.

Proses distribusi beras di Indonesia dilakukan dengan dua cara yaitu melalui Bulog dan mekanisme pasar. Bulog hanya menguasai sekitar 10% market

share beras, sedangkan sisanya melalui mekanisme pasar. Bulog hanya berperan

sebagai stabilisator harga untuk pengadaan beras dalam negeri, bukan sebagai penentu harga pasar beras secara keseluruhan. Pembelian gabah secara nasional bertujuan memberikan harga yang wajar pada petani terutama pada saat panen raya melalui HPP, sebagai sumber pengadaan dalam negeri. (Amang dan Sawit 1999).

D. Peran Pemerintah dalam Perdagangan Beras

Pemerintah melalui lembaga Bulog memantau, menjaga dan menstabilkan harga dan pasokan beras di pasar. Saluran tataniaga pemerintah pada tingkat

(32)

terbawah masih melalui pedagang-pedagang swasta. Bulog hanya mengadakan kontrak pembelian minimum 5 ton dengan pedagang-pedagang beras kecil atau pengglingan-penggilingan padi di ibukota kabupaten atau propinsi. Setelah beras disetor pada gudang Bulog maka beras akan disimpan sebagai stok pemerintah, yang sebagian menjadi buffer stock nasional baik untuk keperluan injeksi maupun untuk keperluan lain-lainnya. Dalam injeksi ini Bulog menggunakan pedagang-pedagang besar tertentu untuk menjual beras dengan harga yang telah ditentukan oleh Bulog dan pedagang-pedagang besar ini kemudian menyalurkannya pada pedagang-pedagang kecil sebagai penyalur terakhir agar beras sampai ke konsumen. (Mubyarto, 1986).

Dalam hal perdagangan tentu tidak terlepas dari campur tangan pemerintah seperti yang tercamtum pada Pasal 93 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan adalah sebagai berikut:

Tugas Pemerintah di bidang Perdagangan mencakup:

a. Merumuskan dan menetapkan kebijakan di bidang Perdagangan; b. Merumuskan Standar nasional;

c. Merumuskan dan menetapkan norma, Standar, prosedur, dan kriteria di bidang Perdagangan;

d. Menetapkan sistem perizinan di bidang Perdagangan;

e. Mengendalikan ketersediaan, stabilisasi harga, dan Distribusi Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting;

f. Melaksanakan Kerja sama Perdagangan Internasional; g. Mengelola informasi di bidang Perdagangan;

(33)

h. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan di bidang Perdagangan;

i. Mendorong pengembangan Ekspor nasional; j. Menciptakan iklim usaha yang kondusif; k. Mengembangkan logistik nasional; dan

l. Tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

E. Sarana dan Prasarana Pendukung Perdagangan

Dalam hal perdagangan beras tentu diperlukan sarana dan prasarana penunjang demi kelancaran pendistribusian beras antar pulau (Sunaryo, 2010) yang meliputi:

1. Pelabuhan

Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar berlabuh, naik turun penumpang maupun bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

2. Kapal/Perahu

Kapal pelayaran rakyat terbuat dari kayu dan berukuran relatif kecil (kecuali yang mempunyai tenaga penggerak dengan layar ada juga yang berukuran besar). Untuk perspektif kualitas, kondisi bahan dan ukuran kapal ini merupakan kekuatan bagi pelayaran-rakyat untuk bersaing dengan angkutan laut jenis yang lain. Dengan terbuat dari kayu, maka kapal pelayaran-rakyat tidak

(34)

mudah terbalik. Keunggulan lainnya adalah mampu mencapai daerah terpencil yang sulit dicapai oleh kapal-kapal konvensional, terlebih yang berukuran besar. Namun demikian, ada hal yang lain yang menjadi kendala. Meski memberikan nilai positif bagi kualitas pelayanan, kapal dari bahan kayu membutuhkan biaya perawatan dan peremajaan yang relatif mahal, terlebih lagi saat ini sulit memperoleh kayu sebagai bahan baku kapal.

3. Gudang

Gudang adalah suatu ruangan tidak bergerak yang tertutup dan/atau terbuka dengan tujuan tidak untuk dikunjungi oleh umum, tetapi untuk dipakai khusus sebagai tempat penyimpanan barang yang dapat diperdagangkan dan tidak untuk kebutuhan sendiri.

F. Kerangka Pikir

Peran pemerintah dalam perdagangan beras antar pulau tentu tidak terlepas baik itu menyangkut pemerintah dalam membuat regulasi atau aturan-aturan yang berkaitan dengan perdagangan beras, selain itu pemerintah juga memberikan bimbingan dan arahan kepada pelaku usaha untuk mengembangkan usaha perdagangan yang lebih baik, dan juga peran pemerintah untuk menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang perdagangan beras antar pulau untuk efektifitas perdagangan beras itu. Dan tentu perdagangan beras antar pulau itu memiliki dua faktor yang berpengaruh yakni faktor pendorong dan penghambat.

Pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan peran pemerintah sebagai regulator, dinamisator, dan fasilitator mempunyai dua faktor yang mempengaruhi

(35)

yakni faktor pendorong dan penghambat dalam efektifitas perdagangan beras antar pulau pada kasus perdagangan beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur. Berikut skema kerangka pikir yang dimaksud:

G. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah peran pemerintah dalam hal regulator, fasilitator, dan dinamisator pada kasus perdagangan beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur dan apa faktor pendukung dan penghambat peran pemerintah dalam perdagangan beras antar pulau dari Bone ke Nusa Tenggara Timur.

Peran Pemerintah dalam Perdagangan Beras Antar Pulau

Peran Pemerintah 1. Regulator 2. Dinamisator 3. Fasilitator

Fakor Pendorong 1. Sumber Daya Alam 2. Sarana dan Prasarana

Faktor Penghambat 1. Cuaca Buruk 2. Harga Beras 3. Pungutan Liar 4. Kurang Alat Keselamatan Kapal

Efektivitas Peran Pemerintah Dalam Perdagangan Beras Antar Pulau

(36)

H. Defenisi Fokus Penelitian

Skema kerangka pikir diatas mempunyai penjelasan bahwa bagaimana peran pemerintah dalam perdagangan beras antar pulau pada kasus perdagangan beras dari Bone ke Nusa Tenggara Timur.

1. Regulator yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana aturan tentang perdagangan beras antar pulau

2. Fasilitator yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana sarana dan prasarana yang disiapkan oleh pemerintah dalam menunjang perdagangan beras antar pulau.

3. Dinamisator yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bagaimana peran pemerintah bertindak sebagai pemberi bimbingan dan pengarahan kepada masyarakat yang ditujukan dengan sikap, tindak-tanduk, perilaku dan cara bekerja yang baik yang dapat dijadikan panutan bagi masyarakat dalam melakukan pembangunan.

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bone. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling, dimana lokasi yang dipilih adalah daerah yang merupakan salah satu tempat pendistribusian beras yaitu sekitar pelabuhan rakyat Tuju-Tuju, Kantor kecematan Kajuara, kantor Instansi Perindag Kabupaten Bone, serta Kantor Dinas Perhubungan (Syahbandar) di Pelabuhan Tuju-Tuju. Adapun waktu penelitian dilakukan selama kurang lebih 3 minggu.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

1. Jenis penelitian ini adalah penelitian kasus terhadap bagaimana peran pemerintah dalam perdagangan beras antar pulau

2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar belakang alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.

C. Sumber Data Penelitian

Dalam penelitian ini data-data yang diperoleh berdasarkan sumbernya digolongkan menjadi:

1. Data primer, data yang diperoleh dari informan dengan pengamatan dan wawancara secara langsung.

(38)

2. Data sekunder, data yang bersumber dari dokumen-dokumen atau arsip resmi yang berhubungan dengan penelitian.

D. Informan Penelitian

Narasumber atau informan adalah orang yang bisa memberikan informasi-informasi utama yang dibutuhkan dalam penelitian ini dan jumlah informan yang akan dijadikan sumber informasi berjumlah 7 (tujuh) orang dengan daftar sebagai berikut:

Tabel 3.1 daftar Informan

No Jabatan Inisial Jumlah

1. Kepala Dinas Perindag Kabupaten Bone

SS 1 orang

2. Kabid Usaha dan Perdagangan MK 1 orang 3. Seksi Perencanaan Perindag

Kab. Bone

ID 1 orang

4. Camat Kajuara NH 1 orang

5. Staff Syahbandar Tuju-Tuju MY 1 orang

6. Pelaku Usaha AM 1 orang

7. Pelaku Usaha MA 1 orang

Jumlah 7 orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam suatu penelitian, data memiliki peranan penting. Karena dengan adanya Data maka pertanyaan penelitian dapat dijawab. Oleh karena itu, cara atau teknik pengumpulan data harus dipilih yang sesuai dengan penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian sebagai berikut:

(39)

2. Wawancara, dibuat pedoman yang dijadikan acuan dan instrumen wawancara yang dilakukan bersifat terbuka, terstruktur dengan pedoman. 3. Dokumentasi, terutama mengenai akurasi sumber dokumen, bermanfaat

bagi bukti penelitian, dan dengan sesuai standar kualitatif, tidak reaktif.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data pada prinsipnya merupakan proses pengumpulan data agar data tersebut dapat ditafsirkan. Adapun teknik analisis data sebagai berikut: 1. Reduksi Data

Reduksi data dilakukan untuk menelaah secara keseluruhan data yang dihimpun dari lapangan, sehingga akan menghasilkan hal-hal pokok yang berkaitan dengan fokus penelitian.

2. Display/Penyajian Data

Tahap ini merupakan proses penyusunan data agar lebih mudah untuk dibaca dan ditarik kesimpulan.

3. Menarik Kesimpulan/Verifikasi

Pada tahap penarikan kesimpulan/verifikasi ini terdapat tiga proses yang harus dilalui. Pertama, menguraikan subkategori tema dalam tabel kategorisasi dan pengodean disertai dengan quote verbatim wawancaranya. Kedua, menjelaskan hasil temuan penelitian dengan menjawab pertanyaan penelitian berdasarkan aspek/komponen/faktor/dimensi dari central phenomenon penelitian. Ketiga, membuat kesimpulan dari temuan tersebut dengan memberikan penjelasan dari jawaban pertanyaan penelitian yang diajukan.

(40)

G. Keabsahan Data

Dalam penelitian dilakukan pengecekan keabsahan data melalui sebagai berikut:

1. Kepercayaan (kreadibility)

Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya.

2. Kebergantungan (depandibility).

Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

3. Kepastian (konfermability).

Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit.

(41)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Objek Penelitian

1. Letak Geografis dan Potensi Wilayah Kabupaten Bone

Kabupaten Bone merupakan salah satu kabupaten yang terletak di pesisir timur Provinsi Sulawesi Selatan dan berjarak sekitar 174 km dari kota Makassar. Luas wilayahnya sekitar 4.559 km2 atau 9,78 persen dari luas Provinsi Sulawesi Selatan. Wilayah yang besar ini terbagi menjadi 27 kecamatan dan 372 desa/kelurahan. Ibukota Kabupaten Bone adalah Watampone.

Secara geografis Kabupaten Bone berbatasan dengan wilayah-wilayah berikut:

Utara : Kabupaten Wajo dan Soppeng Timur : Teluk Bone

Selatan : Kabupaten Sinjai dan Gowa Barat : Kabupaten Maros, Pangkep, Barru

Secara astronomis Kabupaten Bone terletak pada posisi 4°13‟- 5°6‟ Lintang Selatan dan antara 119°42‟- 120°30‟ Bujur Timur. Letaknya yang dekat dengan garis khatulistiwa menjadikan Kabupaten Bone beriklim tropis. Sepanjang tahun 2013, kelembaban udara berkisar antara 68 – 90 pesen dengan suhu rata-rata 26°C-31,1°C. (Badan Pusat Statistik Kab. Bone 2014).

Kabupaten Bone termasuk daerah tiga demensi yaitu ; Pantai, Daratan dan Pegunungan, luas sawah sebagai lahan pertanian adalah 455.600 Ha, sehingga

(42)

Kabupaten Bone ditetapkan sebagai daerah penyangga beras untuk Propinsi Sulawesi Selatan yang biasa dikenal dengan istilah BOSOWA SIPILU singkatan dari Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu, begitu pula daerah pantainya sangat panjang membujur dari Utara ke Selatan yang menyusuri Teluk Bone dari 27 Kecamatan yang ada di Kabupaten Bone, 9 diantaranya adalah masuk daerah pantai seperti Kecamatan Cenrana, Tellu SiantingE, Awangpone, Tanette Riattang Timur, SibuluE, Mare, Tonra, Salomekko dan Kajuara, dengan demikian sumber mata pencaharian penduduk Kabupaten Bone sebagaian besar adalah Petani dan Nelayan. (Badan Pusat Statistik Kab. Bone 2014)

2. Profil Dinas Perindag Kabupaten Bone a. Visi dan Misi

Adapun visi dari dinas perindustrian dan perdagangan Kabupaten Bone yaitu: „‟Terwujudnya Ekonomi Kerakyatan Berbasis Perindustrian dan Perdagangan Sebagai Pendukung Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bone‟‟.

Uraian penjelasan terhadap visi tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut:

1) Kabupaten Bone yang terletak dipesisir Timur Sulawesi Selatan dan merupakan Pusat Pengembangan wilayah V, diharapkan dimasa yang akan datang menjadi pusat perdagangan.

2) Pertumbuhan adalah suatu tingkat kemajuan yang dicapai dari tahun ketahun merupakan parameter tingkat keberhasilan dalam pengembangan industri dan perdagangan.

3) Industri merupakan aktivitas ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku dan bahan setengah jadi menjadi barang jadi dengan nilai

(43)

ekonomi yang lebih tinggi termasuk kegiatan perancangan dan perekayasaan industri.

4) Perdagangan adalah suatu bidang kegiatan yang dilakukan dengan alat-alat atau cara-cara yang teratur untuk mecari kentungan degan memindahkan suatu barang atau jasa yang dilakukan oleh pelaku usaha.

5) Terwujudya adalah suatu hasil kinerja yang dilakukan secara nyata dan kongkrit serta menunjukkan peningkatan dan perbaikan dari tahun ketahun dalam pencapaian target kinerja yang direncanakan.

6) Ekonomi adalah suatu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahtraan masyarakat.

Dalam rangka mewujudkan Visi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bone, maka perlu perumusan misi dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang akan diwujudkan dengan memperhatikan Misi Kabupaten Bone yang tertuang dalam Rancangan Pembangunan Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2013-2018 dan kondisi objektif pembangunan industri dan perdagangan yang telah dicapai dan prospek pengembangan industri dan perdagangan yang berbasis masyarakat.

Adapun Misi Pembangunan Industri dan Perdagangan Kabupaten Bone sebagai berikut:

1) Mengoptimalkan peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bone berdasarkan kewenangan dengan dukungan aparatur dengan partisipasi masyarakat.

(44)

2) Mendorong penumbuhan dan persebaran UDKM dan IKM di pedesaan yang berbasis sumber daya alam.

3) Mengembangkan kewirausahaan di pedesaan dalam kegiatan Argobisnis dan Argo Industri yang berbasis Sumber Daya.

4) Meningkatkan produksi dan nilai tambah, serta pemanfaatan hasil potensi IKM yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

5) Meningkatkan Tertib Usaha dan Perlindungan Konsumen.

b. Struktur Organisasi

Berdasarkan peraturan pemerintah nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antar pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah/kota, dalam bagian kedua pasal 6 ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa urusan pemerintah yang menjadi kewenangan pemerintah daerah dibagi menjadi dua urusan tersendiri dari urusan wajib dan urusan pilihan.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bone untuk urusan pilihan mengenai urusan industri dan perdagangan. Hal ini sesuai dengan peraturan daerah Kabupaten Bone nomor 3 tahun 2008 tentang pembentukan dinas-dinas di lingkungan Kabupaten Bone dan peraturan daerah Kabupaten Bone Nomor 49 tahun 2008 Tentang Tugas, Fungsi, Tata Kerja Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bone.

Dalam Perda Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Dinas Kabupaten Bone susunan organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan terdiri atas sebagai berikut:

(45)

KEPALA DINAS

H.A. Sumardi Sulaiman, S.Sos, M.Si

BIDANG USAHA PERDAGANGAN SEKSI PENGAWASAN, PENGENDALIAN & PERLINDUNGAN KONSUMEN Syamsu Ramlan, S.E

SEKSI DISTRIBUSI H. muh. Yusuf BIDANG PEMBINAAN & PENGEMBANGAN USAHA H. Samad SEKSI PENGEMBANGAN PRODUKSI Hj, Sitti Sanimbar, S.Sos

SEKSI PENDAFTARAN PERUSAHAAN BIDANG PERINDUSTRIAN Muksim, S.Sos,.M.M BIDANG BINA PROGRAM

SEKSI INDUSTRI LOGAM MESIN, ELEKTRONIK &

ANEKA INDUSTRI Muh. Yamin S, SH

SEKSI PERENCANAAN Irma Damayanti, S.Ag,

SEKSI INVENTARISASI & PEMANFAATAN LAHAN

Bahtiar Muhammad

SEKSI EVALUASI DAN PELAPORAN Dra. Hj. Andi Halidjah, M.Si KELOMPOK JABATAN

FUNGSIONAL Mulyani S.T

SEKERTARIAT Drs. Muhammad Alwi

SUB BAGIAN UMUM Samsiar

SEKSI BIMBINGAN & PERLUASAN USAHA INDUSTRI

(46)

c. Data Perdagangan Beras Antar Pulau

Jumlah beras yang diperdagangankan antar pulau berdasarkan data dari data yang didapatkan dari Dinas Perindag Kabupaten Bone terlihat fluktuatif seperti tabel dibawah ini:

Tabel 2

Perdagangan beras pertahun 2014/2015

No Bulan Komoditi Sat

Volume Barang Keluar

Keterangan

1. Januari Beras Ton 4.459

2 Februari Beras Ton 3.910

3. Maret Beras Ton 4.661

4. April Beras Ton 4.775

5. Mei Beras Ton 3.503

6. Juni Beras Ton 3.547

7. Juli Beras Ton 3.200

8. Agustus Beras Ton 3.942

9. September Beras Ton 5.388

10. Oktober Beras Ton 4.504

11. November Beras Ton 3.937

12. Desember Beras Ton 4.139

13. Januari Beras Ton 3.112

14. Februari Beras Ton 2.585

Sumber: Disperindag Data perdagangan Beras pertahun 2014/2015

B. Peran Pemerintah dalam Perdagangan Beras Antar Pulau

Pemerintah adalah badan yang mengatur urusan sehari-hari yang untuk kepentingan bersama seperti halnya dengan pemerintah mengatur perdagangan antar pulau untuk integrasi dalam negeri sebagaimana yang diatur dalam pasal 23 Undang-undang nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan sebagai berikut:

(47)

2. Memperkecil kesenjangan harga antardaerah.

3. Mengamankan distribusi barang yang dibatasi Perdagangannya. 4. Mengembangkan pemasaran produk unggulan setiap daerah. 5. Menyediakan sarana dan prasarana perdagangan antarpulau.

6. Mencegah masuk dan beredarnya barang selundupan di dalam negeri. 7. Mencegah penyelundupan barang ke luar negeri.

8. Meniadakan hambatan perdagangan antarpulau.

1. Peran Pemerintah Sebagai Regulator

Sebagai regulator, pemerintah memberikan acuan dasar yang selanjutnya diterjemahkan oleh masyarakat sebagai instrumen untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dalam koridor persatuan Indonesia. Berikut adalah hasil wawancara yang dilakukan dengan kepala Dinas Perindag Kabupaten Bone:

“Pemerintah pada dasarnya mempunyai wewenang untuk membuat kebijakan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, seperti halnya dalam perdagangan beras antar pulau tentu kami selaku dinas berupaya agar peraturan itu tetap jalan dengan melakukan pengawasan akan harga beras yang beredar di lapangan seperti melakukan operasi pasar dan lain sebagainya yang dianggap perlu sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dinas yang diberikan, namun saya melihat sejauh ini aturan tetap jalan tanpa adanya hambatan yang begitu berpengaruh terhadap lancarnya perdagangan beras antar pulau”. (wawancara dengan SS tanggal 24 April 2015).

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pemerintah selaku regulator membuat kebijakan untuk mengatur kehidupan masyarakat, dalam hal perdagangan beras antar puau peran pmerintah (Dinas Perindag) dapat terlihat dari beberapa tindakan yang dilakukan dalam menjalankan aturan tersebut seperti dilakukannya operasi pasar untuk menekan harga beras dilapangan.

(48)

Lanjut Kepala Bidang Usaha dan Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bone menambahkan bahwa:

“Jalannya aktifitas perdagangan tentu tidak lepas dari campur tangan pemerintah dalam hal ini adalah aturan, pemerintah mengatur kebijakan dan pengendalian, kebijakan yang dimaksud seperti peningkatan efesiensi dan efektivitas distribusi, peningkatan iklim usaha dan kepastian berusaha, meningkatkan akses pasar dan perlindungan konsumen. Selain itu pemerintah melakukan pengendalian perdagangan berupa perizinan, standar, pembatasan dan pelarangan”. (wawancara dengan MK tanggal 24 April 2015).

Kemudian pemaparan dari Kepala Seksi Perencanaan Perindag Kabupaten Bone bahwa:

“Peran pemerintah menyangkut perdagangan beras tentu tidak terlepas dari aturan yang telah menjadi payung hukum dalam kegiatan aktifitas perdagangan. Seperti bagaimana pemerintah berupaya melakukan penegendalian harga beras dalam hal ini adalah Bulog, Bulog mempunyai tugas untuk mengendalikan harga beras dan juga tentu kami selaku Dinas berupaya menerapkan aturan yang memang sudah menjadi tanggung jawab kami, karena pada dasarnya kami yang memang mempunyai tugas untuk mengurus aktifitas perdagangan.” (wawancara dengan ID tanggal 25 April 2015).

Berdasarkan dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa aktifitas perdagangan tidak terlepas dari ikut campur pemerintah baik berupa aturan dan pengendalian guna memperlancar aktifitas perdagangan, dan aturan perdagangan menjadikan payung hukum pelaku usaha dalam melancarkan aktifitas perdagangan yang lebih efektif dan efesien.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam memperlancar aktifitas perdagangan antar pulau terkadang mengalalami hambatan dikarenakan masyarakat atau pelaku usaha tidak paham betul akan aturan yang dibuat. seperti yang diuangkapkan oleh pelaku usaha sebagai berikut:

(49)

“Sejauh ini jika memang ada aturan yang dibuat tentang perdagangan beras antar pulau saya pribadi tidak tahu juga yang jelasnya kami pelaku usaha melaksanakan perdagangan berdasarkan apa yang semestinya dilakukan asal tidak melanggar aturan atau hukum”. (wawancara dengan AM tanggal 28 April 2015).

Lanjut pelaku usaha menambahkan bahwa:

“Menurut pemahaman kami perdagangan beras antar pulau itu tidak diatur alasannya sampai sejauh ini tidak ada larangan baik itu menyangkut pembatasan beras yang diperdagangankan. Cuma memang persoalan perdagangan yang diluar dari beras itu memang ada, sperti adanya larangan memperdagangkan satwa yang dilindungi. (wawancara dengan MA Tanggal 29 April 2015).

Berdasarkan hasil wawancara diatas dari para pelaku usaha disimpulkan bahwa adanya ketidaktahuan para pelaku usaha dari aturan perdagangan beras antar pulau yang dibuat oleh pemerintah yang menyangkut tentang adanya pembatasan beras yang diperdagangankan.

Perdagangan beras antar pulau tentu tidak terlepas dari peran Syahbandar dalam memberikan persetujuan berlayar karena Syahbandar merupakan badan yang mengurus administrasi kepelabuhanan sebelum kapal berlayar dan memberikan aturan-aturan yang harus dipenuhi oleh para pemilik kapal atau pelaku usaha. Seperti pemaparan dari Staff Syahbandar Pelabuhan Tuju-Tuju sebagai berikut:

“Memang kami selaku pihak yang menangani persoalan administrasi kepelabuhanan tentu memberikan pelayanan kepada pemilik kapal untuk mengurus segala administrasi sebelum berlayar seperti halnya memberikan surat persetujuan berlayar tentu diberikannya izin berlayar harus memenuhi persyaratan kelengkapan berkas. Tentu hal ini kami lakukan karena sudah menjadi aturan yang diberikan oleh pemerintah”. (wawancara dengan MY tanggal 29 Mei 2015).

Berdasarkan darihasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa perdagangan beras antar pulau melibatkan Syahbandar selaku badan yang

(50)

mengurus administrasi kepelabuhanan seperti halnya pihak Syahbandar memberikan surat persetujuan berlayar dan dalam pemebrikan izin berlayar tersebut, pemilik kapal harus memenuhi aturan yang ada yakni melengkapi berkas-berkas yang dianggap perlu sebelum kapal berlayar.

2. Peran Pemerintah Sebagai Dinamisator

Pemerintah melakukan pembinaan di bidang perkapalan dan pelayaran seperti pengaturan dibidang angkutan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan dan perlindungan maritim. Seperti yang diungkapkan Kepala Dinas Perindag Kabupaen Bone sebagai berikut:

“Bahwa pemerintah melakukan pembinaan di bidang perkapalan dan pelayaran meliputi: (1) Pengaturan untuk bidang angkutan di perairan memuat prinsip pelaksanaan asas cabotage dengan cara pemberdayaan angkutan laut nasional yang memberikan iklim kondusif guna memajukan industri angkutan di perairan, antara lain adanya kemudahan di bidang perpajakan, dan permodalan dalam pengadaan kapal serta adanya kontrak jangka panjang untuk angkutan. (2) Pengaturan untuk bidang kepelabuhanan memuat ketentuan mengenai penghapusan monopoli dalam penyelenggaraan pelabuhan, pemisahan antara fungsi regulator dan operator serta memberikan peran serta pemerintah daerah dan swasta secara proposional di dalam penyelenggaraan kepelabuhanan. (3) Pengaturan untuk bidang keselamatan dan keamanan pelayaran memuat ketentuan yang mengantisipasi kemajuan teknologi dengan mengacu pada konvensi internasional yang cenderung menggunakan peralatan mutakhir pada sarana dan prasarana keselamatan pelayaran. (4) Pengaturan untuk bidang perlindungan lingkungan maritim memuat ketentuan mengenai pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan laut yang bersumber dari pengoperasian kapal dan sarana sejenisnya”. (wawancara dengan SS tanggal 24 April 2015).

Berdasarkan wawancara diatas disimpulkan bahwa pemerintah melakukan pembinaan di bidang perkapalan dan pelabuhan, yang meliputi pengaturan angkutan, kepelabuhanan, perlindungan maritim, keselamatan dan keamanan.

(51)

Demi kelancaran perdagangan beras antar pulau tentu tidak terlepas dari peran Syahbandar dalam memberikan izin pelayaran dan hal-hal teknis yang mendukung perdagangan. Berikut adalah wawancara yang dilakukan dengan staff syahbandar:

“Bahwasanya pembinaan yang kami lakukan kepada pelaku usaha ataupun pemilik kapal seperti pemberian petunjuk akan kelaiklautan kapal, keselamatan, keamanan dan ketertiban di pelabuhan guna mengecilkan resiko kecelakaan baik dipelabuhan maupun ditengah laut saat kapal sedang berlayar”. (wawancara dengan MY Tanggal 29 April 2015).

Lanjut pemaparan singkat yang dari pelaku usaha atau pemilik kapal sebagai berikut:

”Memang pihak syahbandar memberikan arahan dan petunjuk seperti bagaimana melakukan pertolongan pertama jika sedang ada kecelakaan ditengah laut, selain itu mereka mengarahkan untuk mempersiapkan peralatan keselamatan seperti pelampung renang, tabung pemadam api, lampu suar dan alat keselamatan lainnya.dan tentu hal demikian kami dukung karena semua itu demi keselamatan para awak kapal”. (wawancara dengan MA tanggal 1 mei 2015).

Berdasarkan hasil wawancara diatas bahwa pada dasarnya pihak Syahbandar merupakan instansi yang memberikan pembinaan kepada pelaku usaha atau pemilik kapal dalam aktifitas perdagangan beras antar pulau berupa pembinaan dalam akan kelaiklautan kapal, keselamatan, keamanan dan ketertiban di pelabuhan guna melancarkan aktifitas perdagangan agar tetap lestari.

Dan selain itu perdagangan beras antar pulau tentu juga tidak terlepas dari peran Disperidag dalam memberikan pembinaan atau arahan kepada pelaku usaha. Berikut adalah hasil wawancara yang dilakukan dengan Seksi Perencanaan Dinas Perindag Kabupaten Bone adalah:

(52)

“Kami selaku dinas yang menangani perdagangan tentu mempunyai wewenang agar terwujudnya kemandirian masyarakat tentu salah satu yang dilakukan adalah melaksanakan pembinaan terhadap peningkatan dan pengembangan kemampuan dan keterampilan bagi pengusaha kecil menengah dalam melaksanakan kegiatan perdagangan, selain itu melaksanakan bimbingan, pengarahan teknis dalam rangka meningkatkan pengembangan potensi di wilayah”. (wawancara dengan ID tanggal 25 April 2015).

Kemudian tambahan pemaparan dari Kabid Usaha dan perdagangan sebagai berikut:

“Pembinaan yang dilakukan dalam pengembangan usaha perdagangan biasaya yang dilakukan adalah melakukan penyuluhan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kepada para pengusaha kecil menengah delam memperlancar aktifitas perdagangan. Selain itu juga dilakukan pemantauan dan pengawasan dalam pencegahan tindakan yang tidak diinginkan”. (wawancara dengan MK tanggal 24 April 2015). Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan mempunyai tugas melakukan pembinaan berupa pembinaan terhadap peningkatan dan pengembangan kemampuan dan keterampilan bagi pengusaha kecil menengah dalam melaksanakan kegiatan perdagangan, selain itu melaksanakan bimbingan, pengarahan teknis dalam rangka meningkatkan pengembangan potensi di wilayah.

3. Peran Pemerintah sebagai Fasilitator

Pemerintah Kabupaten Bone melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan melakukan penegelolaan gudang dengan sistem resi gudang. Gudang ini ditujukan untuk menyimpan hasil dari petani disaat panen raya supaya petani tidak menjual gabah dengan harga murah. Adapun beberapa keuntungan yang diperoleh petani adalah sebagai berikut:

(53)

2. Fasilitas peminjaman uang dengan bunga rendah (6%/tahun).

Gudang merupakan sarana yang disiapkan oleh pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bone sebagai tempat penyimpanan barang. Berikut hasil wawancara dengan Kepala Seksi Perencanaan: ”Sampai saat ini pemerintah kabupaten Bone Melalui Perindag memiliki gudang 2 unit yang memiliki kapasitas tampung 2.000 ton dan dilengkapi dengan alat pengering sebanyak 2 unit yang memiliki kapasitas 16 ton perhari serta sarana penunjang pergudangan lainnya sudah tersedia sesuai dengan standar pergudangan, namun sampai saat ini sarana pergudangan ini belum berfungsi sebagai Resi Gudang karena baru dimohonkan untuk mendapatkan persetujuan sebagai gudang dalam sistem resi gudang dan diharapkan dalam kurung waktu yang tidak terlalu lama dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, kelompok tani dan koperasi”. (wawancara dengan ID tanggal 25 April 2015).

Lanjut tambahan informasi yang dipaparkan oleh kepala Bidang Usaha dan Perdagangan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah sebagai berikut:

”Untuk memeperlancar aktivitas perdagangan baik itu antar pulau maupun antar daerah tentu pihak dinas menyiapkan sarana dan prasarana baik itu perlengkapan teknis seperti pengurusan administratif seperti pemberian izin perusahaan dan lain sebagainya, namun memang ada beberapa usaha yang tidak diketahui oleh dinas seperti usaha-usaha kecil yang dilakukan juga oleh masyarakat kecil. Bagaimanapun kami selalu berupaya menjadikan kabupaten bone sebagai kabupaten yang mandiri sesuai dengan visi misi kita”. (wawancara dengan MK tanggal 24 April 2015)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa demi memperlancar aktivitas perdagangan maka dibutuhkan sarana dan prasarana yang menjadi penunjang untuk efesiensi perdagangan baik itu perdagangan antar pulau maupun antar daerah. Selain itu peneliti juga sempat berdiskusi dengan salah satu staf Syahbandar berikut ini adalah hasil wawancara dengan beliau adalah sebagai berikut:

Gambar

Tabel 1. Daftar Informan......................................................................................26  Tabel 2
Tabel 3.1 daftar Informan

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Sistem pakar yang dirancang dengan metode JST Backpropagation dapat digunakan untuk melakukan pendeteksian suatu jenis penyakit, gangguan, maupun kasus yang memiliki

Setiap pasien baru di terima di loket pendaftaran, dan akan diwawancarai oleh petugas guna mendapatkan informasi mengenai data identitas sosial pasien yang

Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ada indikasi peningkatan respon stres (kadar kortikosteron plasma) pada pendedahan fotoperiode 0T dan 24T yang diiringi

Namun disamping segi negatif juga terdapat segi negatifnya, yakni ada pula beberapa peserta didik yang lebih mengutamakan bekerja dari pada menekuni belajarnya, karena dengan

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah yang menjadi pokok penelitian ini yaitu bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran pencapaian

Namun kenyataan di lapangan terdapat perbedaan antara sekolah satu dengan yang lain tentang kepemilikan dan kemampuan dalam pengadaan media pembelajaran khususnya

Saya mengerti bahwa saya menjadi bagian dari penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan dan kepercayaan pasien.

Secara prinsip, berbagai penelitian lebih lanjut mengenai kriteria pemilihan jenis tumbuhan sebagai pengisi dari arboretum, konservasi biodiversitas, perencanaan