• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. PERANCANGAN BANGUNAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "3. PERANCANGAN BANGUNAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

3.1. Program Ruang

Penerapan mixed-use building dalam kawasan akan memberikan ketertariakan tersendiri serta warna yang berbeda dengan fungsi-fungsi bangunan sekitar. Oleh karena itu operational fungsi bangunan mal mulai pukul 9.00 hingga 2.00 dini hari. Untuk zona food court,café dan restoran akan beroperasional 24jam. Demikian juga dengan operasional jam apartemen yaitu 24jam.

Berikut pembagian Zoning pada tapak ini :

Gambar 3.1. Zoning Horizontal

Gambar 3.2. Zoning Vertikal

(2)

Gambar 3.3. Roof Garden and Out Door Mall

Untuk melihat ruang – ruang yang ada dan besaran ruang untuk mal dapat dilihat lampiran 1, untuk apartemen lampiran 2, dan utuntuk office lihat lampiran 3.

3.2. Pendekatan Perancangan

Diagram 3.1. Hubungan Masalah, Pendekatan, dan Pendalaman

Dalam proyek superblock ini, pendekatan urban menjadi pilihan guna menemukan titik temu kekurangan dan permasalahan – permasalahan kota Surabaya yang kompleks ini sehingga mempermudah dalam mendisain.

Pola penataan massa dan bentuk massa berdasarkan pendekatan urban dan berdasarkan teori - teori yang ada seperti yang telah dijelaskan pada bab perancangan tapak.

Namun dalam mendisain, ada sedikit unsur pendekatan paradoks yang digunakan dan tampak dalam disain seperti contohnya adalah bangunan cagar budaya dan bangunan moderen, alam dengan teknologi tinggi. Sehingga akan tampak pada

(3)

tampilan bangunan mana yang bernuansa alam dan mana yang berteknologi tinggi, maupun antara bangunan moderen dengan bangunan cagar budaya.

3.3. Konsep Perancangan

Gambar 3.4. Perspektif Bird Eye View Grand Tunjungan

Proyek ini pada dasarnya didisain untuk melengkapi lingkungan yang ada dan menunjang program - program pemkot tentang revitalisasi kawasan Tunjungan, Surabaya Grean & clean dan sparkling Surabaya.

(4)

Gambar 3.6. Perspektif Bird Eye View Grand Tunjungan

Kawasan Tunjungan memiliki identitas kawasan dalam penataan tampak bangunannya, oleh sebab itu bangunan cagar budaya di tapak ini tetap dipertahankan facadenya

Proyek didisain menyatu dengan sekitarnya dengan cara saling melengkapi baik secara fungsi maupun bentuk.

Banyak bentuk disain yang berasal dari transformasi bentuk-bentuk sekitar site, karakteristik dan elemen-elemen sekitar dan juga ciri khas Surabaya timbul dalam wujud transformasi bentuk.

Gambar 3.7. Perspektif Human Eye View Grand Tunjungan

(5)

Proyek ini memiliki konsep urban “Garden City” karena selama ini umumnya bangunan-bangunan kurang memperhatikan wajah kota dan lebih memikirkan bangunan sendiri dari pada sumbangsih kepada warga kota berupa ruang terbuka hijau ( RTH ) dan publik space yang mana dapat kita lihat

jarang adanya di tengah kota terutama di Surabaya.

Gambar 3.8. Perspektif Human Eye View Outdoor Activity

Dapat dilihat bahwa dibutuhkannya suatu wadah dimana orang dapat menikmati outdoor activity maupun indoor activity secara bersamaan, dimana orang dapat berkumpul atau merenung sambil beristirahat maupun beraktifitas.

Hal ini masih sangat minim ada di Surabaya.

Kejenuhan akan suasana dalam ruangan menimbulkan kesan seolah – olah terkurung akan hilang begitu memasuki kawasan “Grand Tunjungan” ini. Hal ini dikarenakan jalur sirkulasi yang saling terhubung dengan baik dan memiliki banyak enterance untuk keluar masuk bangunan sehingga pengunjung bebas memilih mau kemana dia beraktifitas. Hal ini ditunjang dengan banyaknya public space

Sistem keamanan dilengkapi dengan kamera di setiap sudut bangunan baik indoor maupun outdoor. Yang terhubung secara langsung ke ruang security .

(6)

Gambar 3.9. Perspektif Human Eye View Enterance Mall and Outdoor Activity

Proyek ini juga memicu manusia untuk beraktivitas kembali melibatkan alam.

Tidak seperti sekarang ini dimana banyak manusia beraktivitas di dalam ruangan bahkan di dunia virtual.

Konsep ini juga mendukung upaya untuk ramah lingkungan, hemat energi dan mengurangi polusi di tengah kota karena konsep ini secara tidak langsung akan menambah hutan kota.Surabaya.

Gambar 3.10. Perspektif Human Eye dari Jalan Tunjungan

(7)

Implementasi terhadap disain:

- Pemanfaatan Green rofe sebagai publik space dan out door activity - Penataan zooning yang mempertimbangkan ruang-ruang publik di depan.

- Memberi Open space dan taman yang cukup rindang di tengah kota.

Gambar 3.11. Perspektif Human Eye View Garden, Plaza, & Apartement

Selain konsep urban, proyek ini juga memiliki konsep disain, yaitu Life style.

Karakteristik suatu kota dapat dilihat dari gaya hidup masyarakat kota tersebut.

Hal ini akan tercermin dalam lingkungan kota

.Konsep ini menggambarkan gaya hidup masyarakat Surabaya, dimana gaya hidup selalu up to date,tidak pernah berhenti berinovasi dan bergerak secara dinamis dari waktu ke waktu.

Dalam suatu periode, pasti ada positif dan negatifnya dari gaya hidup masyarakat Surabaya khususnya. Sisi positif akan diambil dan diterapkan terhadap disain sehingga memacu perilaku orang untuk memunculkan kembali karekteristik – karakteristik yang baik.

Tabel berikut ini memperlihatkan karakteristik masyarakat Surabaya dari waktu kewaktu .

(8)

Tabel 3.1. Karakteristik Masyarakat Surabaya

Adapun beberapa persamaan dari jaman ke jaman, yaitu kebutuhan Sandang, pangan, dan papan.

Namun dalam hal ini ada beberapa yang dapat mempengaruhi disain yaitu sama- sama butuh akan makanan,belanja ( dibagi menjadi 3 yaitu kebutuhan mendesak, tidak terlalu penting dan tidak penting ), butuh akan rekreasi dan hiburan, butuh akan komunikasi dan interaksi dengan sesama.

Beberapa hal inilah yang akan memberikan ekspresi dan daya tarik tersendiri bagi proyek ini.

3.4. Pola Penataan Massa Bangunan

Gambar 3.12. Tampak depan

Gambar 3.13. Tampak samping kiri

(9)

Gambar 3.14. Tampak samping kanan

Gambar 3.15.Tampak belakang

Pola penataan bangunan ini berdasarkan aksis jalan utama yang ada dan arah matahari. Unsur façade juga mempengaruhi pola penataan bangunan mengingat bangunan utama terletak di belakang bangunan cagar budaya.

Gambar 3.16. Dasar Orientasi Bangunan Keterangan :

Kuning = garis aksis jalan

Biru = arah matahari timur ( bawah ) – barat ( sisi atas )

(10)

Gambar 3.17. Siteplan

Konsep Garden city disini terletak pada lantai dasar dan atap bangunan ( green rofe ) yang bukan sekedar atap hijau saja, melainkan memiliki fungsi

penghijauan dan paru-paru kota, adanya aktivitas manusia di taman ini ( lantai 1 maupun atap bangunan ) membuat disain dirasakan seperti bukit berundak-undak yang hijau dan bernuansa alami ( ciri khas yang hilang di tengah kota karena kurangnya taman )

Pada taman ( baik lantai dasar / green roof ) akan ada aktifitas masyarakat berkumpul dan tempat berjualan secara non permanen, sehingga suasana outdoor yang bernuansa taman hiburan yang rindang dan sejuk kerap terasa.

Landscape taman akan diatur sedemikian rupa hingga dapat memberikan kesan

yang berbeda dan memanjakan para pejalan kaki.

Elemen – elemen dan pelengkap disain seperti fountain, papan petunjuk ,dll ( jelasnya lihat lampiran 8 ) diatur sedemkian rupa hingga dapat menaikan nilai kawasan ini.

Sistem parkir sepenuhnya diletakan di basement agar lantai dasar yang memiliki keterbatasan jumlah lantai dapat optimal digunakan sebagai publik space dan komersial area. ( lihat gambar berikut )

(11)

Gambar 3.18. Perspekip Kawasan

Dapat dilihat pada gambar diatas posisi bangunan parkir tidak terlihat sehingga lanati dasar ke atas digunakan maksimal untuk komersial, hunian dan taman publik.

Pola penataan tower apartemen dan office berdasarkan view yang terbaik dan view buatan, selain itu tower ini digunakan juga sebagai elemen penangkap dari arah jalan Tunjungan.

Tower apartemen dan tower office diharapkan dapat menjadi ikon yang kuat

namun berbeda dengan image” Hhotel Majapahit” yang kental nilai sejarah.

Proyek ini diharapkan diakui masyarakat sehingga dapat diakui dengan sendirinya oleh masyarakat sebagai Landmark kawasan Tunjungan dan dapat memberikan image baru bagi Surabaya.

(12)

Gambar 3.19. View Bangunan

Keterangan: Garis kuning menunjukan arah view tower apartemen dan office.

Sistem sirkulasi juga menjadi pertimbangan penting dalam penerapan pola massa superblok ini, jalur masuk kendaraan dibuat masuk ke dalam site agar tidak mengganggu arus lalu lintas diluar site sehingga diharapkan tidak menimbulkan kemacetan.

Gambar 3.20. Titik Masuk dan Keluar Kendaraan

Keterangan : Gambar Layout plan lantai dasar ( hijau = input kendaraan, merah = output kendaraan )

(13)

Penataan massa bangunan ini pada dasarnya memanfaatkan lahan secara 100% yaitu dengan meletakan 2 lantai full basement sebagai zona parkir dan memanfaatkan lahan diatas lantai dasar secara maximal sesuai dengan peraturan yang ada.

Pada titik tengah site dan pusat site dibuat plaza untuk pejalan kaki dan merangsang orang untuk melakukan aktivitas diluar ( didalam plaza ini ada aktifitas masa untuk berkumpul dan ada kios - kios non permanent untuk jualan ) Pusat plaza ini juga berfungsi sebagai void tapak dan kawasan yang berfungsi sebagai public space

Gambar 3.21. Zoning Open Space

Keterangan:

kuning = open space yang berfungsi sebagai void tapak

Biru = open space yang berfungsi sebagai void kawasan namun juga berfungsi sebagai public space.

Massa penghubung bersifat linier di lantai 2 yang berfungsi sebagai commercial area dan atapnya berfungsi untuk penghubung outdoor yang rindang.

Hal itu dijelaskan pada gambar dibawah ini yang juga menunjukan hubungan antar massa bangunan yang saling menyambung ( tidak terputus )

Jadi orang dapat mengelilingi superblock ini dari dalam bangunan maupun dari roof garden ( difungsikan sebagai taman outdor mal & basar )

(14)

Gambar 3.22. Hubungan Antar Massa Bangunan

Keterangan : Garis merah merupakan bangunan yang berfungsu sebagai massa penghubung antar massa

3.5. Bentuk dan Penampilan Bangunan

Bentuk dan penampilan bangunan sebagai landmark baru bagi kawasan ini harus disesuaikan dengan lingkungan sekitar, jadi meskipun ada perbedaan tetapi tetap ada kesan menyatu.

Tampilan bangunan-bangunan bersejarah di area sekitar tapak mempunyai pengaruh dan kenangan yang kuat bagi masyarakat Surabaya dan image yang kuat sebagai karakteristik kawasan Tunjungan.

Bangunan superblock ini dalam pengambilan bentukan menggunakan transformasi dari elemen sekitar site & icon- icon kota Surabaya.

Seperti dapat dilihat dari beberapa contoh gambar dibawah ini :

(15)

Gambar 3.23. Elemen dan Gaya Bangunan Sekitar Terhadap Disain

Bentukan-bentukan diatas merupakan salah satu contoh dari elemen- elemen / icon kota Surabaya yang ditransformasi ke dalam perwujudan disain bangunan.

Sehingga diharapkan ekspresi yang ditimbulkan adalah, Harmonis, serasi, dan skalanya sesuai dengan proporsi dengan lingkungan sekitar.

Penerapan public space yang begitu banyak yang ebrfungsi sebagai Ruang terbuka Hijau ( RTH ) dapat dilihat dan dibandingkan dengan kesuksesan taman bungkul dan taman - taman lainnya yang telah direvitalisasi pemkot Surabaya Sistem sirkulasi disini memanjakan para pejalan kaki dengan hadirnya pepohonan dan taman yang rindang serta pedestrian yang cukup lebar dan tertata rapih.

3.6. Sistem Struktur

Sistem struktur yang digunakan adalah sistem struktur rangka, kolom, balok, share wall dan core.

Sistem ini dipilih karena terkait dengan konsep bangunan dan keperluan ekspresi.

Ekspresi yang dimaksud adalah kemudahan dalam mengolah bentuk ke elemen bidang / garis.

(16)

Bahan yang digunakan disini adalah beton komposit dimana baja IWF untuk kolom dan balok ,dibungkus dengan beton.

Pemilihan menggunakan beton komposit adalah untuk menjaga ketinggian bangunan ( antar lantai ) sehingga menghemat ruang yang ada ( alasan lain karena peraturan ketinggian yang berlaku di wilayah ini )

Penggunaan baja akan menimbulkan kesan yang kokoh dan high technology, dimana detail - detail dapat mudah ditampilkan.

Beton dapat membungkus baja sehingga menjadi lebih kuat dan lebih tahan terhadap karat dan api. Hal ini untuk menunjang atap yang berfungsi green roof.

Gambar 3.24. Aksonometri Struktur Bangunan

3.7. Sistem Utilitas

Utilitas pada proyek ini diletakan pada basement dan setiap mal memiliki Ruang mechanical sendiri-sendiri ( ada 3 ) sehingga tidak terlalu banyak pipa yang berbelok-belok ke satu titik dan jika ada kerusakan disalah satu ruang yang lain masih dapat digunakan.

Untuk system AC dan Listrik diletakan di luar bangunan guna mempermudah proses perbaikan jika terjadi kerusakan.

Dengan peletakan ruang mesin AC dan kelistrikan diluar maka basement dapat menggunakan ketinggian lantai cukup yaitu 2,5m fix

3.7.1. Sistem Air Bersih

(17)

Sistem air bersih dari Pam diolah melalui WTP kemudian disimpan di Tandon dan kemudian baru didistribsikan dengan system Down feet ( tandon terletak pada basement ) menggunakan pompa,

3.7.2. Sistem Air Kotor dan Kotoran

Mengingat bangunan ini adalah massa banyak dan bangunan tinggi, maka air kotor dan kotoran dibuang ke STP setelah itu ke sumur resapan.

3.7.3. Sistem Pemadam Kebakaran

Sistem pemadam kebakaran menggunakan Hydrant pada luar bangunan berjarak 50m. Tandon air bagi pemadam kebakaran diletakan di tengah massa ( bawah plasa ) dan tandon - tandon lain yang digunakan oleh bangunan ( ada 3 tandon di basement )

Didalam bangunan menggunakan springkler untuk memadamkan api didalam bangunan.

Tangga kebakaran diletakan di ujung tiap-tiap massa , sehingga memudahkan pengunjung untuk keluar dari banguan bila terjadi kebakaran.

Gambar 3.25. Jalur Mobil Pemadam Kebakaran

3.7.4. Sistem Pembuangan Air Hujan

Air hujan dialirkan melalui talang kemudian ke bak control selanjutnya

(18)

3.7.5. Sistem Pembuangan Sampah

Sampah di bangunan tinggi ini mempunyai shaft yang menerus hingga basement. Untuk Podium ( mal ) sampah dikumpulkan dengan gerobak sampah dan dikirim ke basement ( tempat penampungan sementara ) melalui shaft sampah.

Dibasement kemudian akan diambil menggunakan truk sampah setelah sampah- sampah terkumpul banyak.

3.8. PENDALAMAN DISAIN

Dibawah ini adalah beberapa gambar penjelasan mengenai taman :

Gambar 3.26. Definisi Taman

definisi TAMAN

Taman adalah ruang dengan penggunaan terbatas dan bentuk fleksibel, dibuat dengan sedikit konstruksi, dan banyak material natural untuk tempat beristirahat, melihat-lihat, merenung / meditasi, tidur, bersosialisasi, dan bermain.

merupakan suatu area yang didesain sebagai tempat untuk berkumpul dan beraktifitas.

“Suatu ruang dengan kegunaan terbatas dan bentuk yang fleksibel, dibangun dengan konstruksi yang minimum dan penggunaan secara maksimal material – material yang tidak diproses untuk kegiatan umum seperti menikmati pemandangan dengan santai, kontemplasi, meditasi, tidur, bermimpi, bersosialisasi dengan orang lain secara tenang dan bermain bebas.”

John Ormsbee Simonds

definisi TAMAN

(19)

Fungsi Taman sebagai tempat untuk berekreasi, paru-paru kota, preservation, sebagai ruang terbuka hijau bagi urban planning, dan bisa juga

sebagai sarana yang bersifat edukatif.

Taman kota adalah taman yang berada ditengah kota yang terdiri dari hamparan hijau yang cukup luas.

Fungsi taman kota sebagai penghijauan dalam kota, penampung kegiatan masyarakat, dan sebagai area rekreasi umum dalam kota,

Gambar 3.27. View dari Pedestrian Tunjungan

Pendalaman disain yang diterapkan dalam proyek ini adalaah karakter ruang luar yang menonjolkan kesan outdoor dan public space bagi masyarakat Surabaya khususnya.

(20)

Gambar 3.27. Outdoor Mal

Diatas adalah gambar outdor mal, dimana terlihat orang dapat beraktifitas diluar bangunan, inilah yang hilang dari pusat - pusat perbelanjaan sekarang ini.

Sepanjang lorong ini adalah perpaduan dari ruko cagar budaya dan bangunan baru dimana keduanya difungsikan sebagai city walk dan merupakan pusat makanan dari kawasan ini.

Gambar 3.28. Pedestrian dan Taman Publik

(21)

Gambar diatas merupakan pedestrian yang merupakan entrance ke kawasan “ Grand Tunjungan “, disini disediakan public space yang nyaman dan sejuk bagi para pejalan kaki dan juga bagi pengguna kendaraan.

Gambar 3.29. Kegiatan Luar Ruangan

Gambar ini menunjukan suasana jalur menuju ke zona makanan. Dimana para pekerja dari kantor berjalan-jalan di alam terbuka untuk refreshing, istirahat dan Berinteraksi dengan sesame secara santai.

Tentunya hal ini akan membantu secara psikologis dari kejenuhan kantor yang setiap hari dan setiap jam hanya duduk dan bekerja.

Interaksi dan komunikasi menjadi kunci sukses proyek ini, karena manusia hidup pasti butuh berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama sehingga orang tidak akan jenuh pergi ke “ Grand Tunjungan ” karena memang disini didisain untuk melengkapi apa yang kurang dari sebuah kota besar seperti Surabaya yang padat akan hutan beton.

(22)

Gambar 3.30. Plaza Pusat Site

Central Plaza terletak di tengah-tengah mal, office dan apartemen.Tampak

suasana sore pada gambar diatas dimana plaza ini tempat untuk menampung orang beraktifitas / bersantai.

Plaza ini menjadi salah satu dari bagian entertainment karena plaza central ini

didisain dapat menjadi panggung non permanent dan dapat menampung cukup banyak pengunjung.

Contoh : untuk kegiatan konser / kampanye.

Gambar 3.31. Penerapan Green Roof

(23)

Dapat dilihat pada perspektif kawasan diatas, disain bangunan berundak dan dominan taman mengunakan green roof sebagai dasarnyanya dan difungsikan menjadi taman komersial.

Adapun pemilihan warna dominan putih, biru. silver, hitam, abu-abu, coklat adalah untu memberikan kesan yang bersih, lapang dan semi formal.

Beberapa jenis tanaman yang dominan digunakan dalam proyek ini dapat dilihat pada lampiran

Berikut adalah gambar aksonometri Tanaman yang ditanam di atas green roof dengan beberapa lapisan - lapisan dari pabrik Hydrotek.

Gambar 3.32. Lapisan Green Roof

Gambar

Gambar 3.1. Zoning Horizontal
Diagram 3.1. Hubungan Masalah, Pendekatan, dan Pendalaman
Gambar 3.4. Perspektif Bird Eye View Grand Tunjungan
Gambar 3.6. Perspektif Bird Eye View Grand Tunjungan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ” Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap

Industri batik Sembung mampu memproduksi rata-rata 100 lembar kain batik per harinya, dengan banyaknya produksi yang dilakukan menghasilkan limbah cair yang

Tapi ada beberapa kemajuan dalam perubahan sikap dan sosialnya”7 Melihat fenomena yang ada di lapangan bahwa di dalam pendidikan inklusi terdapat beberapa siswa anak berkebutuhan

Pada variable komposisi bahan 75% serbuk kayu; 10% starch; 5% oksidator; 10% akar wangi lebih baik daripada komposisi bahan 70% serbuk kayu; 10% starch; 5% oksidator; 15%

Pada sub sektor perdagangan eceran nilai tukar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

Dalam rangka privatisasi yang ditargetkan dalam tahun 2002 dapat berhasil lebih baik, penulis merekomendasikan beberapa hal, pertama untuk menarik investor agar bersedia

[r]

Tingkat penerapan petani tentang Tri Hita Karana di Subak Mungkagan untuk menunjang pertanian tanaman pangan berkelanjutan, di Desa Sembung, Kecamatan Mengwi,