LAPORAN AKHIR RISBINKES
Gambaran Kasus Frambusia Setelah Pengobatan Massal Di Kota Jayapura
Tim Pelaksana:
dr.Yuli Arisanti Semuel Sandy, M.Sc.
Irawati Wike, S.Si
BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BIOMEDIS PAPUA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2017
1. JUDUL PENELITIAN
Gambaran Kasus Frambusia Setelah Pengobatan Massal Di Kota Jayapura
Tim Peneliti:
dr.Yuli Arisanti Semuel Sandy, M.Sc.
Irawati Wike, S.Si.
BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BIOMEDIS PAPUA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2017
2. SUSUNAN TIM PENELITI
No. Nama Kesarjanaan Kedudukan Dalam Tim
Uraian Tugas
1. dr. Yuli Arisanti Kedokteran umum
Ketua Pelaksana Bertanggungjawab terhadap
penyusunan proposal sampai selesainya penelitian 2. Semuel Sandi, M.Sc. Master Sains Anggota penelitian Bertanggung
jawab pada proses pengerjaan
biomolekuler 3. Irawati Wike, S.Si Sarjana Sains Anggota penelitian Bertanggungjawab
pada proses pemeriksaan rdt, mikroskopis dan penyimpanan sampel
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
, P BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560 Kotak Pos 1226 Telepon (021) 4261088 faksimile (021) 4243933
Larnan : www.litbang.depkes.go.id Surat Elektronik :[email protected] GERMAS
KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN NOMOR HK.02.03/I/2951/2017
TENTANG
TIM PELAKSANA RISET PEMBINAAN KESEHATAN TAHUN 2017
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan Riset Pembinaan Kesehatan Tahun 2017 perlu ditetapkan tim pelaksana penelitian sesuai dengan protokol yang telah disetujui;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan tentang Tim Pelaksana Riset Pembina an Kesehatan Tahun 2017;
Mengingat 1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219);
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3609);
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560 Kotak Pos 1226 Telepon (021) 4261088 faksimile (021) 4243933
Leman : www.litbang.depkes.go.id Surat Elektronik :sesbangitbang.depkes.go.id GERMAS
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 791/Menkes/SK/VII/1999 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan;
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1179A/ Menkes/ SK/ X/ 1999 tentang Kebijakan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan;
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1508);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN TENTANG TIM PELAKSANA RISET PEMBINAAN KESEHATAN TAHUN 2017.
KESATU : Susunan Tim Pelaksana Riset Pembinaan Kesehatan Tahun 2017 yang selanjutnya disebut Tim Pelaksana Risbinkes, tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini.
KEDUA : Tim Pelaksana Risbinkes mempunyai tugas sebagai berikut:
a. melaksanakan kegiatan Risbinkes sesuai dengan bidang fokus, jenis insentif judui penelitian pelaksanaan penelitian/perekayaan, dan jumlah dana yang dialokasikan;
b. menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan Risbinkes dalam bentuk hardcopy dan softcopy yang terdiri dari:
1. laporan kemajuan berkala kegiatan penelitian;
2. laporan realisasi penyerapan anggaran;
3. laporan akhir penelitian;
4. data hasil penelitian (raw data) dan karakteristiknya, log book (definisi operasional dan struktur data);
5. draft naskah rancangan publikasi ilmiah penelitian;
6.
op
pKEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560 Kotak Pos 1226
1 Laman : www.litb
6
Teen! egp do en p(k0e2s1g) 0421d61s0u8re8t faL ikes kmtroilenik( 0:2s e1)s b4e2n4©3911
3tb3ang.depkes.go.id
-3-
7. berkoordinasi dengan Tim Pengelola Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan Tahun 2017 dalam menyelesaikan dan menyerahkan seluruh bentuk pertanggungjawaban keuangan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
KETI GA : Tim Pelaksana Risbinkes bertanggung jawab dan wajib menyampaikan laporan secara berkala kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan melalui Tim Pengelola Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kesehatan Tahun 2017 dengan berkoordinasi dengan Kepala satuan kerja yang membidangi tugas dan ungsi terkait.
KEEMPAT : Pendanaan pelaksanaan tugas Tim Pelaksana Risbinkes dibebankan pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Tahun Anggaran 2017.
KEENAM : Keputusan ini berlaku untuk Tahun Anggaran 2017.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 30 Maret 2017
KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGSTR3 • GAN KESEHATAN.
4
LAMPIRAN
KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
NOMOR HK.02.03/I/2951/2017
TENTANG TIM PELAKSANA RISET PEMBINAAN KESEHATAN TAHUN 2017
TIM PELAKSANA RISET PEMBINAAN KESEHATAN TAHUN 2017
.
- .
. - -
Persentase Polimorfisme Gen ADRB3 ,-,:-,
. .
Puslitbang Biomedis
.--. -
.
Rp 60.000.0 . Tati Febrianti, S.Si
_ Ketua pada Derajat Obesitas Penderita
Diabetes Melitus Studi Kohort Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular
Tahun 2016
dan Teknologi Dasar Kesehatan
Pelaksana 2. Dwi Febriyana, S.Si Calon Peneliti 3. Daryanto, ST Teknisi
2 Kepatuhan dalam Penggunaan Ramuan Jamu pada Pasien Hipertensi atau Hiperglikemia
Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan
Rp 49.600.000 1. Aris Yulianto, S.Si Ketua Pelaksana 2. Sundari Wirasmi, S.Si Peneliti 3. Tofan Aries Mana,
S.Farm, Apt
Peneliti
3 Analisis Rujukan Puskesmas
Berdasarkan Kemampuan Pelayanan Puskesmas di Kota Depok
Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan
Rp 60.000.000 1. Iin Nurlinawati, SKM, MKM
Ketua Pelaksana 2. Rosita, SKM, MPH Peneliti 3. dr. Sefrina Werni Peneliti
-5
01,
7-
___...
...__________
--
Of .4"‘
tTene
-
-
'yit: -
-.'
44 . , i
---1 .. E41: 41_
MPI qk
---
g 61, T.. 'S=
{i 1
I r - ays
; agtatal: IZ le 4 Studi Kasus Risiko Pajanan Benzena
pada Pekerja di Industri Kecil Pembuatan Sepatu di Bogor
Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat
Rp ' 59.817.000 1. Eva Laeiasari, S.Si, MKKK
Ketua Pelaksana 2. dr. Dewi Kristanti Peneliti 3. Basuki Rachmat, ST Peneliti 5 Studi Eksplorasi Promosi Kesehatan
Reproduksi pada Anak Jalanan di Rumah Singgah DKI Jakarta
Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat
Rp 60.000.000 1. dr. Faika Rachmawati Ketua Pelaksana 2. Hendriek Edison, S.Si Peneliti 3. Lilian Susanti Nova,
SKM
Peneliti 6 Peran Keluarga dalam mendukung
keteraturan minum obat Penderita Tuberkulosis Sebagai Salah Satu Indikator Keluarga Sehat
Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat
Rp 59.960.000 1. Oster Suriani S, SKM, MKM
Ketua Pelaksana 2. Nikson Sitorus, SKM,
M.Epid
Peneliti 3. Kartika Handayani,
S.Psi, MS
Peneliti 7 Pengembangan model menu buah
dan sayur nusantara untuk anak usia 10-12 tahun guna
meningkatkan konsumsi pangan
Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat
Rp 60.000.000 1. Rika Rachmalina, SP, M.Gizi
Ketua Pelaksana 2. Nur Handayani
Utami, SP, M.Gizi
Peneliti
6
.-
a C. Q -
,
- Sa k . r-:
. ._
-, o:
_ p.:t, I :11.,4: .. .r1., .
.:.• iit: t 8 Gambaran Pelaksanaan Program
Buku Rapor Kesehatanku di DIU Jakarta Tahun 2017
Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat
Rp 59.308.000 1. Siti Masitoh,' SKM Ketua Pelaksana 2. Anissa Rizkianti,
SKM, MIPH
Peneliti 3. Janu Arinda Dewi,
A.Md.AK
Peneliti
9 Perhitungan Biaya I'apitasi
Puskesmas di Kabupaten Malang
Puslitbang Humaniora dan Manajemen
Kesehatan
Rp 60.000.000 1. Galih Arianto, SE, MPH
Ketua Pelaksana 2. Zainul Khaqiqi N, S.Si Peneliti 3. Agustin Ambarwati Administrasi
10 Karakteristik Penderita Depresi Pasca Persalinan Di Kota Malang Tahun 2017
Puslitbang Humaniora dan Manajemen
Kesehatan
Rp 60.000.000 1. Miftakhun Nafisah Yannis Putri, S.Si
Ketua Pelaksana 2. Zulfa Auliyati
Agustina, SKM
Peneliti 3. Alun Winarni Administrasi 11 Analisis Dampak Sistem Pembayaran
Satu Keluarga (Kolektif) terhadap Kepesertaan dan Kepatuhan Pembayaran iuran BPJS di Kabupaten Malang
Puslitbang Humaniora dan Manajemen
Kesehatan
Rp 51.190.000 1. Zulfa Auliyati Agustina, SKM
Ketua Pelaksana 2. Nailul Izza, SKM Peneliti 3. Miftakhun Nafisah
Yannis Putri, S.Si
Peneliti
7
J
otp iPSi
e A ,--.. _
', -....- ---'
--- .
Loka Penelitian dan Pengembangan Biomedis Aceh
—7' ,•• W-: • a •
.
'_...1)--.4
: 21 5- ••,- ..- •••`-`,1"-= -4 r- - —, -
_ .o,
ki .ii;•.45-'
12 Uji toksisitas akut dan LD 50 ekstrak daun kuda-kuda (lannea grandis Engl) terhadap tikus Wistar
Rp 59.955.000 1. drh. Bayakmiko Yunsa
Ketua Pelaksana 2. Nona Rahmaida
Puetri, S.Si
Peneliti
3. Marlinda, Amd.Ak Teknisi 13
_
Cluster of Differentiation 4 (CD4) dan Kepatuhan Pengobatan Antiretroviral (ARV) pada Orang Dengan. HIV/AIDS (ODHA)di Kota Jayapura, Papua
Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua
Rp 52.790.000 1. Setyo Adiningsih, S.Si Ketua Pelaksana 2. Evi Iriani Natalia, S.Si Teknisi 3. Tri Wahyuni, Amd Teknisi 14 Gambaran Kasus Frambusia setelah
Pengobatan Massal di Kota Jayapura
Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua
Rp 60.000.000 1. dr. Yuli Arisanti Ketua Pelaksana 2. Semuel Sandi, M.Sc Peneliti 3. Irawati Wike, S.Si Teknisi 15 Analisis Mutasi terkait Resistensi
Rifampisin pada Gen rpoB Mycobacterium leprae di Kota Jayapura
Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua
Rp 60.000.000 1. Yustinus Maladan, S.Si
Ketua Pelaksana 2. Ratna Tanjung, Amd Litkayasa 3. Vatim Dwi Cahyani,
Amd.Ak
Teknisi
- 8 - ..._
Ur 4 —
— ,..
_.1.—
. .
',-- 14:`, 4 _
' r'•/-;-1'' • t13 V -A: • ,r;1-6-
_
''.--t•
..1..z....' ,.:...:!: — .`
Ketua 16 Autentikasi Centelia asiatica (L.) Urb. Balai Besar Penelitian Rp 59.891.750 1. Anshary Maruzy, S.Si
(Pegagan) dan Adulterannya
berdasarkan Karakter Makroskopis, Mikroskopis dan Profil Kimia
dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT)
Pelaksana 2. Mery Budiarti, M.Si Peneliti 3. Nunik Dian
Merdekawati
Teknisi
17 Faktor-faktor yang mempengaruhi Keberhasilan Pengobatan Diabetes Mellitus di Klinik Rumah Riset Jamu
"Hortus Medicus" Tawangmangu Jawa Tengah
I Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT)
Rp 27.355.000 1. dr. David Abiyoso Ketua Pelaksana 2. Topan Aries Mana,
S.Farm. Apt
Peneliti 3. Rochmiatun, Amd.AK Teknisi 18 Pengaruh Zat Pengatur Turnbuh dan
Media Dasar Kultur Jaringan terhadap Pertumbuhan Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.)
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT)
Rp 60.000.000 1. Nur Rahmawati Wijaya, S.Si
Ketua Pelaksana 2. Tyas Friska Dewi,
S.Farm, Apt
Peneliti 3. Didik Suharto, A.Md Teknisi 19 Faktor-Faktor yang berhubungan
dengan Pemilihan Obat Tradisional pada Pasien Hiperkolesterolemia yang Berkunjung Ke Rumah Riset
"lrt Ili ID OT1rITC\/1T1 JanuFousvedcus
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional
yl_..a.G.a. 4 A i_li.., "
Rp 33.780.000 1. Tyas Friska Dewi, S.Farm, Apt
Ketua Pelaksana 2. Tofan Aries Maria,
Apt.
Peneliti
3. Enggar Wijayanti, S.Gz
Peneliti
9
. ,
, - .
_ -
. . 'i
11,4, e - .„,„
e 4
' - an
X ,.,4 .,_ , *t,
tir-' oe rmw sanay C'Ill'ir E V
,, _ _ ,_,
1. drh. Aryo Ardanto 20 Uji Serologis Dengue Pada Bahan
Biologi Tersimpan Serum Chiroptera Di Provinsi Sulawesi Tenggara
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP Salatiga)
Rp 60.000.000 Ketua
Pelaksana 2. drh. Ayu Pradipta
Pratiwi
Calon Peneliti
3. Restu Khoirul Saban Teknisi 21 Kandungan senyawa metabolit
sekunder fraksi aktif buah Cerbera Maghas L terhadap larva Ae. aegypti
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP Salatiga)
Rp 59.164 500 1. Dwi Susilo, S. Si Ketua Pelaksana 2. Revi Rosavika
Kinansi, S.Si
Peneliti
3. Arif Suryo Prasetyo Telmisi 22 Analisis Geometri Morfometri Sayap
Nyamuk Culex tritaeniorhynchus Giles dari Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tenggara
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP Salatiga)
Rp 60.000.000 1. Sidiq Setyo Nugroho, S. Si
Ketua Pelaksana 2. Siti Alfiah, SKM,
M.Sc
Peneliti 3. Mujiyono Peneliti 23 Uji Efektivitas Formulasi Tablet
Bacillus Thuringiensis H-14
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Rp 59.969.500 1. Arum Triyas Wardani, S.Farm
Ketua Pelaksana
- 10 -
24 Fungsi Tiroid dan Kognitif Anak Usia Balai Penelitian dan Rp 60.000.000 . Slarnet Riyanto, S.Gz Ketua
Sekolah Dasar dengan Stunted di Pengembangan Pelaksana
Daerah Replete GAKI Gangguan Akibat 2. Diah Yunitawati Peneliti
Kekurangan Iodium
3. Nafisah Nur'aini Teknisi (BP2GAKI)
25 Pemanfaatan Temephos terhadap Balai Litbang P2B2 Rp 59.460.000 1. Ade Kurniawan, SKM Ketua
Penurunan Kepadatan Jentik Donggala Pelaksana
Nyamuk Aedes Sp di Kota Palu 2. Made Agus Nurjana,
SKM, M.Epid
Peneliti
3. Yuyun Srikandi. SKM Teknisi dan Administrasi
KEPALA BADAN PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN,
4. KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan Riset Pembinaan Kesehatan (RISBINKES) 2017 yang berjudul “Gambaran kasus frambusia setelah pengobatan massal di Kota Jayapura” dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Kami sangat berharap laporan ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai frambusia. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan laporan yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Jayapura, 28 November 2017
Penulis
5. RINGKASAN EKSEKUTIF
Frambusia merupakan salah satu penyakit kulit tropis yang terabaikan (Neglected Tropical Disease) yang disebabkan oleh salah satu subspesies dari bakteri Treponema pallidum subspecies pertenue (T.p pertenue). Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan pada stadium laten dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan tulang, bahkan hingga menyebabkan kecacatan. Berbeda dengan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri spesies Treponema pallidum yang ditularkan melalui hubungan/kontak secara seksual (sexually transmitted), Frambusia ditularkan melalui kontak langsung atau melalui barang-barang yang digunakan oleh penderita.
Ditinjau dari segi genetik tingkat kemiripan strain-strain pada genus Treponema bisa mencapai 99.8% (T.p pertenue dengan T.p pallidum) sehingga hampir mustahil membedakan strain-strain ini baik secara morfologik ataupun secara fisiologik. Sisi pembeda kedua subspesies tersebut terletak 6 titik (region) pada set genomnya, dan selama ini uji serologiklah yang menjadi tumpuan dalam membedakan kedua strain yang berkerabat dekat secara molekuler ini. Menurut data kasus frambusia tahun 2014 dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua, 53% kasus frambusia di Provinsi Papua terjadi di Kota Jayapura sehingga pada tahun 2015 dilaksanakan survei frambusia oleh Balai Litbang Biomedis Papua di daerah kantong frambusia. Berdasarkan hasil tersebut, maka pada bulan Februari 2016, salah satu Puskesmas kota Jayapura yakni Puskesmas Hamadi melakukan pengobatan massal terhadap penderita dan kontak serumah frambusia.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran kasus frambusia pasca kegiatan pengobatan massal frambusia di kota Jayapura. Sampel yang akan digunakan dalam penelitian adalah pasien yang sudah pernah didiagnosis frambusia dan tercatat telah mendapatkan pengobatan dan kontak yang tinggal serumah selama minimal 1 tahun sebanyak 1 orang. Faktor resiko yang diamati pada penelitian ini antara lain adalah usia, jenis kelamin, riwayat penyakit, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Keberadaan lesi beserta tingkat keparahannya (severity level) diamati dan diperiksa oleh tenaga kesehatan yang berpengalaman dalam mendiagnosis dan menangani frambusia. Apusan (swab) dari lesi yang ditemukan pada subyek frambusia dikoleksi dan dilarutkan dalam 500 uL larutan buffer fosfat salin (Cl2H3K2Na3O8P2). Tahapan selanjutnya adalah mengamati mikroorganisme dari apusan lesi di bawah mikroskop cahaya, dengan pewarnaan Gram. Hasil pengamatan di bawah mikroskop cahaya akan
menentukan tahapan pengamatan selanjutnya baik untuk hasil positif ataupun hasil yang negatif. Jika hasil pengamatan positif teramati mikroorganisme maka akan dilakukan kultur mikroorganisme pada media pemeliharaan. Sebaliknya ketika hasil pengamatan di bawah mikroskop cahaya menunjukkan hasil yang negatif, akan dilanjutkan dengan pengamatan metode darkfield microscopy (mikroskop lapangan gelap). Hasil dari tahapan ini akan menentukan apakah uji molekuler dibutuhkan (PCR).
Hasil menunjukkan bahwa kasus frambusia mengalami penurunan angka kasus setelah pengobatan massal dengan azitromisin sejak tahun 2016. Lesi primer dan kasus aktif frambusia tidak diketemukan, namun pengambilan apusan lesi tetap dilakukan pada luka yang mengarah pada ciri frambusia. Pewarnaan gram dilakukan sebelum pemeriksaan mikroskopis dengan menggunakan mikroskop cahaya dan mikroskop medan gelap. Hasil pewarnaan gram menunjukkan karakter hasil pewarnaan untuk bakteri gram negatif.
pemeriksaan mikroskopis sediaan apusan (swab) dengan menggunakan mikroskop cahaya dan mikroskop medan gelap menunjukkan hasil yang negatif. Pengujian menggunakan RDT juga menunjukkan sebagian besar responden menunjukkan hasil yang negatif meskipun ada sebagian kecil menunjukkan hasil yang positif tanpa memiliki gejala frambusia. Perilaku hidup bersih dan sehat yang sudah diterapkan oleh sebagian besar responden memberikan kontribusi yang besar terhadap penurunan angka kasus frambusia di Kota Jayapura. Namun dengan adanya sebagian kecil responden yang menunjukkan hasil positif pada uji RDT evaluasi dan monitoring pasca pengobatan masih harus dilakukan.
6. ABSTRAK
Latar Belakang: Penyakit frambusia masih menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di Kota Jayapura, masih terdapat daerah kantong frambusia di Kota Jayapura.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan angka kasus frambusia setelah pengobatan massal, mengetahui data sanitasi terkait penyakit frambusia, mendapatkan status serologik frambusia dan mendapatkan data mikroskopis T.pallidum ssp pertenue.
Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif dengan desain potong lintang (cross sectional).
Metode yang digunakan pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan mikroskop lapangan gelap, mikroskop cahaya biasa (pewarnaan gram) dan RDT.
Hasil: Ditemukan 90 kasus frambusia setelah pengobatan masal dengan Azitromisin di Kota Jayapura di empat wilayah kerja Puskesmas yang memiliki kantong frambusia. Keadaan sanitasi (isi hasil)
Kesimpulan: Berdasarkan hal-hal tersebut maka kasus frambusia yang masih ditemukan berhubungan dengan perilaku hidup sehat (PHBS) Keadaan sanitasi kurang baik dengan masih ditemukannya subyek yang masih mandi dengan tidak menggunakan sabun, memakai handuk secara bergantian dan tidak memakai alas kaki ketika keluar rumah. Hasil uji dengan menggunakan RDT menunjukkan masih ada 5 kasus positif dari total 90 kasus yang ditemukan
7. DAFTAR ISI
1. JUDUL PENELITIAN 2. SUSUNAN TIM PENELITI
3. SURAT KEPUTUSAN PENELITIAN
4. KATA PENGANTAR……….i
5. RINGKASAN EKSEKUTIF……….ii
6. ABSTRAK………..iv
7. DAFTAR ISI………...v
8. DAFTAR TABEL………..vi
9. DAFTAR GAMBAR……….…vii
10. DAFTAR LAMPIRAN………..……….viii
11. ISI LAPORAN PENELITIAN a. Pendahuluan 1. Latar Belakang………..1
2. Permasalahan……….3
b. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Umum………3
2. Tujuan Khusus………3
3. Manfaat Penelitian………..3
c. Metode 1. Kerangka Teori………...4
2. Kerangka Konsep………...4
3. Desain dan Jenis Penelitian………...……….5
4. Tempat dan Waktu……….5
5. Populasi dan Sampel………..5
6. Variabel Penelitian……….6
7. Definisi Operasional………...6
8. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data………7
9. Bahan dan Prosedur Kerja………..8
10. Manajemen dan Analisis Data………..12
d. Hasil………..12
e. Pembahasan………..………15
f. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan……….…….18
2. Saran………18
g. Ucapan Terima Kasih………..…19
h. Daftar Kepustakaan………..20
8. DAFTAR TABEL
Tabel 1. Definisi operasional penelitian………6 Tabel 2. Distribusi karakteristik frekuensi seluruh responden……….12 Tabel 3. Distribusi karakteristik frekuensi kasus………..13
9. DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Teori………...………4 Gambar 2. Kerangka Konsep ... 4 Grafik 1. Hasil uji RDT ... 16
10. DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Lembar Persetujuan Atasan……….22
Lampiran 2. Persetujuan Etik Penelitian……….23
Lampiran 3. Naskah Inform Consent……….24
Lampiran 4. Lembar Persetujuan setelah Penjelasan………...26
Lampiran 5. Lembar Kuisioner………27
Lampiran 6. Jadwal Kegiatan………..29
Lampiran 7. Dokumentasi………30
Lampiran 8. Ijin Penelitian dari Kesbanglinmas Provinsi Papua………33
11. ISI LAPORAN PENELITIAN a. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Frambusia adalah penyakit infeksi non-venereal yang umumnya terdapat pada anak-anak usia sekolah yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum subspecies pertenue (T.p.pertenue). Transmisi utama bakteri ini adalah melalui kontak kulit langsung dengan penderita bersamaan dengan adanya luka. Penyakit ini telah menjadi perhatian dunia sejak tahun 1950 hingga 1960, dan merupakan penyakit pertama yang mendapatkan prioritas pengobatan masal (dengan penisilin) yang didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Eradikasi berhasil dicapai di Afrika dan bagian barat Pasifik setelah 20 tahun kampanye tersebut dilaksanakan, namun Indonesia dan Papua Nugini masih mengalami kasus yang signifikan. Penyakit ini umumnya terjadi pada populasi di daerah miskin, terpencil, dan sulit dijangkau oleh tenaga kesehatan. Tingkat kerapatan penduduk yang tinggi, ketersediaan air yang kurang mencukupi, ketiadaan sanitasi dan perilaku hidup bersih memperbesar faktor resiko tertular oleh penyakit ini. 1,2.
Diagnosis frambusia dilakukan dengan mengamati lesi pada permukaan kulit penderita. Lesi tersebut dibagi kedalam empat stadium yaitu: stadium satu, lesi primer atau disebut juga induk frambusia terbentuk pada situs inokulasi setelah masa inkubasi 9 hingga 90 hari. Lesi primer ini sering terlihat pada bagian kulit yang baru mengalami gigitan serangga atau luka sebelum inokulasi terjadi. Lesi frambusia awalnya adalah papul yang membesar menjadi papilloma yang sembuh secara spontan setelah 3-6 bulan.
Stadium dua adalah lesi sekunder yang terbentuk di dekat lesi primer atau di bagian tubuh yang lain, dan terjadi selama 6 bulan. Lesi sekunder tampak seperti kumpulan makula, papul, nodul dan lesi hyperkeratotic juga dapat terjadi di telapak tangan dan kaki. Lesi sekunder juga dapat sembuh secara spontan. Stadium tiga adalah lesi yang kambuh saat masa laten. Lesi tersebut terlihat paling lama 5 tahun setelah infeksi, namun hampir semua penderita frambusia memiliki lesi tidak menular seumur hidup mereka. Stadium empat terjadi pada 10% penderita frambusia. Deformitas pada tulang disebabkan oleh
Metode standar yang biasa dilakukan untuk pemeriksaan frambusia adalah pemeriksaan mikroskopis lapangan gelap dan uji Treponema pallidum haemagglutination (TPHA).5,6 Pada pemeriksaan mikroskopis, kasus positif ditandai dengan adanya penampakan massa berbentuk spiral, sesuai dengan morfologi T.p pallidum dan T.p.
pertenue. Pemeriksaan dengan TPHA pada kasus positif ditandai dengan terbentuknya gumpalan karena reaksi antibody Treponema pallidum. Kedua jenis Treponema ini memiliki karakter antibodi yang sama sehingga uji ini tidak dapat membedakan subspesies Treponema pallidum. Uji TPHA memiliki sensitifitas 94,3%, dan spesifitas 82,5%.7 Menurut WHO, untuk menambah signifikansi diagnosis infeksi yang disebabkan oleh Trepanoma pallidum subspecies pertenue dapat dilakukan secara molekular, yaitu dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).3
Pada tahun 2014, Indonesia telah membentuk suatu Komite Ahli Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan No.
HK.02.02/MENKES/ 417/2014 dengan menimbang bahwa penyakit kusta dan frambusia masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia sehingga perlu eliminasi kusta dan eradikasi frambusia.8 Angka kejadian frambusia di Provinsi Papua selama tahun 2012 adalah 729 kasus dengan 26,7% kasus terjadi di Kota Jayapura. Penurunan kasus terlihat pada data tahun 2013 dimana kasus yang tercatat adalah 714 kasus, namun persentase kasus frambusia di kota Jayapura meningkat menjadi 31%. Pada tahun 2014, kasus frambusia di Provinsi Papua menurun drastis di angka 237 kasus, namun kasus di Kota Jayapura tercatat 53%.9 Penelitian mengenai faktor-faktor resiko frambusia perlu dilakukan untuk mempercepat eradikasi frambusia di Provinsi Papua, terutama di Kota Jayapura. Pengobatan massal frambusia di Kota Jayapura dengan menggunakan single dose azitromisin. Pengobatan massal yang dilakukan oleh Puskesmas Hamadi pada tahun 2016 terhadap penderita dan kontak serumah berdasarkan temuan survey dan berdasarkan daftar semua kasus yang pernah berobat. Rumah tangga yang tidak terkena sampling dikarenakan tidak bersedia mengikuti pengobatan massal.
Kelurahan Hamadi terletak di Jayapura Selatan gambaran geografis terdiri dari daerah pantai, rawa dan gunung. Jumlah penduduk di Kelurahan Hamadi berkisar 46.443 jiwa. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas yang menurut Dinas Kesehatan Provinsi Papua yang memiliki daerah kantong frambusia yaitu Puskesmas Hamadi, Puskesmas Elly Uyo, Puskesmas Koya barat dan Puskesmas Skouw. Menurut WHO, suatu daerah dikatakan telah mendapat status eradikasi frambusia bila tidak ditemukan kasus baru
frambusia selama 3 tahun dan tidak ditemukan bukti transmisi penyakit frambusia pada anak umur 1-5 tahun yang diukur dari survei serologi.10 Bila kedua keadaan tersebut masih ditemukan maka masih perlu diadakan pengobatan massal yang diberi obat adalah sumber penularan dan kontak serumahnya.
2. Permasalahan
Frambusia masih menjadi masalah kesehatan di Papua dan belum bisa dieradikasi secara total meskipun telah dilakukan pengobatan rutin terhadap kasus, dimana akhirnya dilakukan pengobatan secara massal. Untuk itu perlu dilakukan suatu penelitian pasca pengobatan massal.
Pertanyaan yang perlu dijawab:
a. Masih adakah kasus frambusia setelah pengobatan massal dengan menggunakan single dose azitromisin pada tahun 2016?
b. Bagaimana gambaran lesi frambusia setelah pengobatan massal?
c. Bagaimana hasil uji dengan RDT setelah pengobatan massal? b. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan Umum
Mendapat gambaran kasus frambusia setelah pengobatan massal frambusia pada penderita dan kontak serumah.
2. Tujuan Khusus
1. Mendapatkan informasi jumlah kasus frambusia setelah pengobatan massal 2. Mendapatkan data tentang sanitasi penduduk terkait frambusia
3. Mendapatkan data status serologik frambusia.
4. Mendapatkan data mikroskopis T.pallidum ssp pertenue
3. Manfaat Penelitian
1) Program Kesehatan Masyarakat
Hasil penelitian dapat digunakan program sebagai informasi tentang tingkat keberhasilan pengobatan massal frambusia dan bermanfaat untuk dijadikan referensi dalam penentuan kebijakan dalam rangka eradikasi frambusia tahun 2020.
lingkungan
Agen Patogen T.pallidum subsp. pertenue
Frambusia
PHBS
Kontak kasus
Usia dan kelamin c. Metode
1. Kerangka Teori
.
2. Kerangka Konsep
Lesi (+)
Lokasi lesi Kasus pasca
pengobatan frambusia
Perilaku Hidup bersih dan sehat
Usia dan jenis kelamin
Pathogen T.p. pertenue
Lama keluhan > 2 minggu
RDT
Mikroskopis cahaya (pewarnaan gram +/-)
Lesi (-)
Kontak serumah
Mikroskopis lapangan gelap
PCR
Hasil Positif
Apusan lesi Sampel darah
2. Jenis dan desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu observasional dengan rancangan potong lintang.
3. Tempat dan Waktu
Pengambilan sampel dilakukan Puskesmas di Kota jayapura yang memiliki kantong frambusia dan melaksnakan program pengobatan massal frambusia dengan menggunakan azitromisin sejak tahun 2016 yang antara lain adalah Puskesmas Hamadi, Puskesmas Elly Uyo, Puskesmas Koya Barat dan Puskesmas Skouw pada April sampai November 2017.
Pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua. Waktu penelitian yaitu 8 bulan efektif.
4. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah pasien – pasien yang sudah terdiagnosis frambusia dan sudah mendapat pengobatan Azitromisin secara massal sejak tahun 2016 dan kontak serumah. Sedangkan sampel penelitian adalah pasien yang sudah mendapatkan pengobatan dengan azitromisin sejak tahun 2016, bisa ditemui saat pengumpulan data di lapangan, dan menandatangani formulir persetujuan (inform consent) setelah memahami naskah penjelasan.
Besar sampel yang seharusnya diambil yaitu 97.
Besar sampel untuk penelitian dihitung menggunakan rumus :
n Z21/ 2P(1 P) d2 Keterangan:
n = besar sampel minimum
1- = 95 (tingkat kepercayaan/konfidensi 95%) P = proporsi populasi
Kriteria Inklusi penelitian sebagai berikut:
1. Populasi penelitian ini adalah pasien – pasien yang sudah terdiagnosis frambusia dan sudah mendapat pengobatan Azitromisin secara massal sejak tahun 2016 dan kontak serumah.
2. Subyek berusia di 2 sampai 15 tahun Kriteria Eksklusi penelitian sebagai berikut:
1. Subyek tidak bersedia menandatangani inform consent dan tidak mau diambil sampel darah atau apusan lesi
2. Subyek sebagai penderita penyakit berat lainnya 5. Variabel Penelitian
Variabel independen (bebas) penelitian yaitu: faktor individu yang antara lain meliputi usia dan jenis kelamin, faktor sanitasi yang antara lain meliputi frekuensi mandi dengan menggunakan sabun, mengganti baju setelah mandi, kebiasaan menggunakan handuk (sendiri/bergantian) dan lingkungan (ketersediaan air bersih). Variabel dependen (terikat) penelitian yaitu jumlah kasus frambusia.
6. Definisi Operasional
Tabel 1. Definisi operasional penelitian
No Variabel Definisi Alat ukur Hasil ukur Skala ukur
1. Kasus frambusia
Orang yang telah didiagnosis sebagai frambusia oleh tenaga kesehatan yang menangani program frambusia melalui pemeriksaan fisik, dan telah mendapatkan pengobatan, orang tersebut harus yang terdaftar dalam data puskesmas.
Kuesioner + frambusia - frambusia
Nominal
3. Usia Dihitung pada ulang tahun yang terakhir
Kuesioner 1. 2 - 14 2. 15 - 24
skala
4. Jenis kelamin Berdasarkan cirri-ciri fisik Kuesioner 1. Laki-laki Nominal
dinyatakan sebagai laki-laki atau perempuan
2. Perempuan 6. Apusan lesi Pus/cairan serosa yang
diambil dari apusan di lesi
Cotton swab
Bakteri +, 7. Pemeriksaan
RDT
Pengambilan darah kapiler dari jari tangan
Blood lancet
Rdt + atau rdt -
Ordinal 8. Kontak Orang yang tinggal serumah
dengan penderita yang telah mendapatkan pengobatan massal
- - -
9. Lesi primer Papul berbentuk nodul kecil berwarna kemerahan, tidak nyeri, berkembang menjadi papiloma yang basah
(getah), mudah berdarah dan berbenjol-benjol kecil seperti bunga kol atau rashberry. Sering disebut mother yaws.
Penggaris Lokasi lesi, ukuran lesi dalam cm
7. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data
Instrumen dalam penelitian ini mencakup alat untuk analisa sampel di laboratorium dan reagen. Alat yang digunakan yaitu: wing needle untuk pengambilan darah, alat RDT untuk uji serologik. Reagen atau bahan yang digunakan meliputi reagen untuk proses pengambilan darah yaitu alkohol swab dan plester luka, reagen RDT yang digunakan untuk uji serologik infeksi treponemal.
Pengumpulan data dilakukan dalam dua tahapan yakni pengumpulan data di lapangan berupa pengumpulan data kuesioner, pengambilan swab lesi dan pengujian RDT, serta pengamatan sampel di laboratorium yang meliputi pewarnaan gram, pemeriksaan di bawah mikroskop cahaya, mikroskop medan gelap dan PCR. Subyek yang diambil datanya melalui kuesioner adalah pasien frambusia yang ada di lokasi saat pengumpulan data berlangsung dan beberapa pasien mendapatkan kunjungan rumah.
Pasien diberi penjelasan terkait tujuan dan manfaat yang didapatkan dari penelitian.
Kemudian wawancara kepada pasien dimulai dengan menanyakan satu persatu butir pertanyaan yang ada di dalam kuesioner kasus frambusia. Kuisioner yang telah diisi selanjutnya diproses untuk dianalisa oleh tim penelitian. Kuisioner disimpan dalam penyimpanan data Balai Litbang Biomedis Papua dan hanya dapat diakses terbatas serta bersifat rahasia. Selanjutnya sampel seperti swab lesi dibawa ke laboratorium mikrobiologi Balai Litbang Biomedis Papua untuk dilakukan pengujian mikrobiologik.
8. Bahan dan Prosedur Kerja
Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu darah dan apusan (swab) lesi pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan diambil setelah pasien bersangkutan mengisi data kuisioner.
Pengumpulan Data
a. Pengumpulan data di lapangan 1) Pengambilan Sampel Apusan Lesi
Diagnosis lesi primer dilakukan oleh dokter puskesmas yang berpengalaman berdasarkan panduan booklet WHO dan Atlas frambusia.Apusan lesi dikumpulkan dengan mendatangi subyek ke rumahnya didampingi oleh petugas puskesmas dengan meminta persetujuan setelah subyek diberikan penjelasan dan menandatangani naskah persetujuan setelah penjelasan, apusan lesi subyek diambil oleh petugas puskesmas yang berpengalaman. Apusan lesi diambil dengan cotton swab dan disimpan dalam PBS.
Pengumpulan apusan lesi dilakukan oleh petugas laboratorium klinis yang berpengalaman:
- Bagian lesi yang diambil dibersihkan terlebih dahulu dari salep.
- Apusan diambil terutama pada lesi dengan pus yang masih ada menggunakan cotton swab dan ose plastik dengan gerakan searah.
Cotton swab disimpan ke dalam cryotube yang berisi PBS steril dan dari ose di oleskan ke objek kaca
2) Pengambilan darah kapiler Subyek Penelitian
Spesimen darah dikumpulkan dengan mendatangi subyek ke rumahnya dan meminta persetujuan setelah subyek diberi penjelasan dan menandatangani naskah
persetujuan. Spesimen darah subyek diambil oleh anggota tim penelitian yang ahli dan berpengalaman. Spesimen darah langsung di ujikan pada RDT
Pengumpulan darah kapiler akan dilakukan oleh petugas laboratorium klinis yang berpengalaman 11
1. Merbersihkan bagian yang ditusuk dengan alkohol 70% dan biarkan sampai kering lagi.
2. Memegang bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
3. Menusuk dengan cepat memakai lanset steril. Pada jari ditusuk dengan arah tegak lurus pada garis-garis sidik kulit jari, jangan sejajar dengan itu. Tusukan harus cukup dalam supaya darah mudah keluar, jangan menekan-nekan jari untuk mendapat cukup darah. Darah yang diperas keluar semacam itu telah bercampur dengan cairan jaringan sehingga menjadi encer dan menyebabkan kesalahan dalam pemeriksaan.
Buanglah tetes darah yang pertama keluar dengan memakai segumpal kapas kering, tetes darah berikutnya boleh dipakai untuk pemeriksaan.
3) Pengambilan data RDT
- Meneteskan darah langsung pada test cassette (pack RDT - Memberikan reagen dalam kit RDT tersebut
- Menunggu 10 – 15 menit - Membaca hasil
Interpretasi Hasil :
Hasil Negatif: didefinisikan terdapat sel yang tidak teraglutinasi, dengan keluarnya tanda garis hanya satu buah.
Hasil Tidak dapat ditentukan: bila garis tidak keluar sama sekali
Hasil Positif: sebagian atau total sel teraglutinasi, dengan tanda garis yang mucul dua buah.
b. Pengumpulan data di laboratorium 1) Pewarnaan Gram
c) Mulai meneteskan Kristal violet secukupnya pada smear hingga semua tertutup oleh Kristal violet dan menunggu selama 20 detik.
d) Selanjutmya membilas perlahan Kristal violet dengan menggunakan air mengalir hingga warna ungu tidak lagi muncul pada air bilasan. Pewarna kedua yakni Iodine, melakukan hal yang sama pada langkah kedua hingga bilasan tidak lagi terlihat berwarna kecoklatan.
e) Langkah ketiga adalah dengan menggunakan alkohol. Tahap ini sangat krusial karena jika terlalu lama terpapar alkohol maka sel bakteri pun bisa rusak (ruptured), sehinnga durasi pewarnaan hanya 10 detik dengan diakhiri dengan pembilasan hingga tidak ada lagi sisa alkohol.
f) Tahapan terakhir adalah dengan memberikan pewarna safranin. Berbeda dari durasi pewarnaan sebelumnya, safranin membutuhkan waktu kurang lebih 25 detik. Selanjutnya diakhiri dengan pembilasan hingga tidak muncul warna merah pada air bilasan. Selanjutnya sampel dikering anginkan kurang lebih selama 5 menit.
2) Pengamatan sampel di bawah mikroskop cahaya a) Mempersiapkan sediaan hasil pewarnaan gram
b) Mempersiapkan mikroskop cahaya dengan magnifikasi maksimal 1000x c) Mempersiapkan minyak imersi
d) Meletakkan preparat pada meja benda mkikroskop cahaya
e) Mengatur diafragma dan mengatur perbesaran lensa obyektif mulai dari perbesaran yang paling rendah (40x)
f) Secara perlahan mengganti magnifikasi lensa ke tingkat yang lebih tinggi dan ketika mencapai perbesaran 400x, minyak imersi mulai dipergunakan untuk meminimalisir gesekan langsung antara object glass dengan lensa mikroskop.
Hasil positif untuk pewarnaan gram adalah koloni bakteri akan terlihat biru- keunguan dan hasil negatif ditunjukkan dengan warna kemerahan.
3) Pengamatan sampel di bawah mikroskop medan gelap a) Mempersiapkan mikroskop cahaya
b) Membuat beberapa lapisan dari kertas film negatif yang akan dipergubaka sebagai layer untuk menggantikan fungsi light condenser
c) Membuka set diafragma pada mikroskop cahaya dan memasang layer dari kertas film negatif hingga terposisi diantara lampu mikroskop dan lensa benda.
d) Mengatur pencahayaan hingga semburat serupa dengan gerhana matahari cincin terbentuk pada bidang pandang
e) Meletakkan preparat apusan pada meja benda mikroskop, mengatur perbesaran (menggunakan minyak imersi untuk perbesaran lebih dari 400x). Hasil positif akan menampilkan obyek dalam pendaran cahaya (fluorocence) keperakan.
*penggunaan mikroskop medan gelap ini langsung dilakukan di lapangan mengingat masa viabilitas bakteri T.p pertenue yang relatif singkat.
4) PCR (polymerase chain reaction)
a) Mempersiapkan sampel yang berasal dari cairan PBS pada cryotube
b) Mempersiapkan peralatan seperti mikro pipet, couloumb, reagen KIT qiagen, vortex hingga standing centrifuge.
c) Melakukan ekstraksi DNA dari sampel larutan PBS dengan menggunakan metode couloumb hingga sampel DNA didapatkan.
d) Mempersiapkan perlatan dan bahan untuk melakukan amplifikasi DNA dengan menggunakan metode polymerase chain reaction yang meliputi alat thermal cycler, mikropipet, tip pipet ukuran 10 µL, 20 µL, dan 100µL tabung PCR, rak tabung PCR, pinset, glove karet, primer forward dan primer reverse sebagai cetakan (template) DNA, enzim tahan panas (heat resistant enzyme) dalam bentuk PCR-Mix, air bebas nuklease (Nuclease free water), dan sampel DNA yang akan diamplifikasi.
e) Melakukan preparasi dan pencampuran antara Mix-taq, primer, air bebas nuklease dan sampel DNA hingga mencapai volume 25 µL untuk setiap tabung PCR.
f) Menempatkan tabung PCR pada alat thermal cycler yang terlebih dahulu sudah diatur sesuai dengan temperatur-temperatur yang tepat untuk melakukan amplifikasi DNA frambusia.
g) Menunggu hingga proses amplifikasi selesai untuk 40x reaksi (± 120 menit).
h) Setelah proses amplifikasi selesai maka sampel dalam tabung PCR diuji dengan menggunakan metode eleftroforesis. Pada proses ini sampel DNA yang sudah diamplifikasi akan ditempatkan pada suatu media agar yang terendam
berdasarkan muatannya dan proses ini bisa ditelusuri dengan menempatkan penanda (marker) bersama-sama dengan sampel DNA yang telah diamplifikasi.Setelah waktu elektroforesis sudah selesai maka hasil bisa diperiksa di bawah sinar Ultra Violet dengan menggunakan alat DNA visualizer. Hasil positif akan memberikan pita yang berpendar ungu terang.
Kuisioner kepatuhan berisi pertanyaan tentang sosio-demografi pasien dan faktor sanitasi individu yang meliputi perilaku hidup bersih dan sehat. Pasien sebelum bersedia menjawab kuisioner harus memahami naskah penjelasan penelitian dan menandatangani persetujuan setelah penjelasan (informed consent).
9. Manajemen dan Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil laboratorium dianalisis dengan uji statistik (SPSS 21).
Data dari hasil analisa sampel di laboratorium, data kuisioner dan rekam medis sampel dijaga kerahasiaan identitasnya. Data disimpan dengan baik dalam database Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua. Data berupa hasil pemeriksaan jumlah CD4, jumlah hemoglobin, data sosio-demografi dan rekam medis dianalisis secara statistik menggunakan perangkat pengolah data (IDM SPSS 21). Analisis statistik yang digunakan yaitu, analisis univariate untuk mengetahui distribusi frekuensi dalam bentuk nilai absolut dan proporsi dari setiap variabel independen.
d. Hasil
1. Karakteristik Frekuensi Seluruh Responden Tabel 1. Distribusi karakteristik frekuensi seluruh responden
Karakter N=90 Jumlah Persentase
Jenis Kelamin
Laki – laki 103 45,0%
Perempuan 106 55.00%
Umur
< 8 tahun 105 45.90%
≥8 tahun 124 54,1%
Pernah Sakit frambusia
Ya 90 39,3%
Tidak 139 60,7%
ART pernah sakit frambusia
Ya 63 27.50%
Tidak 166 72.50%
Lama tinggal di Jayapura*
<3 tahun 6 2.60%
>3 tahun/sejak lahir 223 97.40%
Frekuensi mandi
<2 kali sehari 65 28.40%
>2 kali sehari 164 71.60%
Mandi pakai sabun
Iya 181 79.00%
Tidak 48 21.00%
Pemakaian handuk mandi
Sendiri 99 43.20%
Bergantian 130 56.80%
Ganti Baju
Iya 197 86.00%
Tidak 32 14.00%
Ketersediaan air bersih
Iya 195 85.20%
Tidak 34 14.80%
Penentuan umur dibagi berdasarkan rerata dari usia temuan pada kasus dan kontak dimana usia paling rendah adalah 2 tahun dan paling tinggi 15 tahun sehingga dipergunakan 8 tahun dari mean/rerata sebagai tolak ukur penentuan variabel usia.
Berdasarkan pada data yang didapatkan maka sebagian besar responden sudah memiliki perilaku hidup bersih dan sehat yang cukup baik dilihat dari tingginya persentase frekuensi mandi, pelaksanaan mandi memakai sabun, mengganti baju setelah mandi dan ketersediaan air bersih.
2. Karakteristik frekuensi kasus
Tabel 2. Distribusi karakteristik frekuensi kasus
Karakter N=90 Jumlah Persentase
Jenis Kelamin
Laki – laki 41 45.60%
Gejala Frambusia*
Luka bernanah 17 18.90%
Luka 9 10.00%
Benjolan kecil 4 4.40%
Benjolan berbatas tegas 3 3.30%
Tidak ditemukan gejala 57 63.30%
ART pernah sakit frambusia
Ya 31 34.40%
Tidak 59 65.60%
Lama tinggal di Jayapura
<3 tahun 4 4.40%
>3 tahun/sejak lahir 86 95.60%
Frekuensi mandi
<2 kali sehari 31 34.40%
>2 kali sehari 59 65.60%
Mandi pakai sabun
Iya 70 77.80%
Tidak 20 22.20%
Pemakaian handuk mandi
Sendiri 51 56.70%
Bergantian 39 43.30%
Ganti Baju
Iya 72 80.00%
Tidak 18 20.00%
Ketersediaan air bersih
Iya 72 80.00%
Tidak 18 20.00%
Hasil RDT*
Positif 5 5.60%
Negatif 85 94.40%
Berdasarkan data sebaran frekuensi dari kasus maka sebagian besar kasus sudah memiliki perilaku hidup bersih dan sehat yang cukup baik, yang ditunjukkan oleh tingginya persentase frekuensi mandi, mandi dengan sabun, menggunakan handuk sendiri serta menggunakan baju ganti miliki sendiri. Untuk variabel gejala frambusia ditunjukkan jumlah 57 responden (63.3%) untuk kasus tanpa gejala, namun ditemukan keluhan misal nyeri pada anggota badan seperti kaki dan tanngan, dan responden masih merupakan daftar pasien frambusia yang mendapatkan pengobatan massal azitromisin sejak tahun 2016.
e. Pembahasan
1. Gambaran kasus frambusia setelah pengobatan massal di Kota Jayapura Kasus frambusia merupakan kasus penyakit pertama yang mendapatkan persetujuan WHO untuk penerapan program eradikasi massal, namun hingga sampai saat ini program eradikasi belum bisa dicapai secara total (program eradikasi massal tahun 2020). Menurut WHO penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum ssp pertenue ini merupakan dari salah satu tiga infeksi treponemal nonvenereal endemik di region yang lembab dan basah termasuk di dalammya Asia Pasifik dan Asia Tenggara.
Papua, khususnya Kota Jayapura sudah melakukan program pengobatan massal sejak tahun 2006 hingga 2015 dengan benzatin penisilin.
Menurut data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Papua, kasus frambusia sudah turun drastis pada tahun 2013, namun kasus masih ditemukan sampai dengan pada tahun 2014. Hingga pada tahun 2016 pencanangan program eradikasi total frambusia dimulai dengan menggunakan antibiotik azitromisin, dan pemeriksaan selanjutnya dengan RDT terbatas pada pasien yang sudah mendapatkan pengobatan dengan azitromisin.
Berdasarkan hasil temuan saat pengumpulan data, tidak lagi ditemukan lesi primer frambusia pada pasien yang sudah mendapatkan pengobatan massal azitromisin. Hal serupa juga ditemukan pada kontak serumah dimana lesi primer tidak ditemukan meskipun kontak serumah memiliki riwayat menderita frambusia.
2. Gambaran lesi frambusia setelah pengobatan massal
Selama pengumpulan data tidak ditemukan lesi primer dari frambusia meskipun beberapa kasus memiliki luka yang masih aktif. Pemeriksaan sudah dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopik menggunakan mikroskop cahaya dan mikroskop medan gelap, namun tidak ditemukan mikroorganisme penyebab frambusia Treponema pallidum ssp pertenue. Hal yang menarik adalah sediaan sampel yang diperiksa berasal dari luka yang masih terbuka.
(<10 menit) ketika di luar jaringan hidup, sehingga kemungkinan jeda pemeriksaan memberikan dampak negatif yakni kematian bakteri sehingga tidak lagi bisa teramati.
Selain itu, seringkali terjadi ko-infeksi bakterial pada infeksi pada frambusia yang biasanya adalah pathogen Haeophyllus ducreyi ataupun juga infeksi fungal yang memberikan gejala klinis infeksi yang mirip dengan frambusia.
Diluar faktor dari organisme pathogen, perilaku hidup bersih dan sehat juga memberikan kontribusi yang besar terhadap eradikasi frambusia. Informasi pada tabel 1 dan 2 menunjukkan tingginya persentase penerapan PHBS oleh responden. Penggunaan sabun saat mandi dimungkinkan sangat fatal bagi keberlangsungan bakteri. Jadi selain keberhasilan azitromisin dalam menekan kasus frambusia, PHBS merupakan salah satu komponen penting dalam menekan faktor resiko untuk terjangkit frambusia.
3. Gambaran hasil uji RDT setalah pengobatan massal
Grafik 1. Hasil uji RDT
Penggunaan uji RDT hanya diterapkan pada responden yang sudah mendapatkan pengobatan dengan azitromisin pada tahun 2016 dan menunjukkan sebagian besar dari responden kasus memiliki hasil yang negatif (85 rsponden dari total 90 responden). Hal ini senada dengan tidak diketemukannya lesi primer (mother of yaws) pada responden kasus, sehingga bisa dimungkinkan bahwa azitromisin mampu menekan laju pertumbuhan bakteri Treponema pallidum ssp pertenue. Namun dari total 90 responden didapatkan bahwa 5
responden memberikan hasil yang positif RDT dan responden positif pun tidak memiliki gejala frambusia ataupun luka serta keluhan lain untuk frambusia. Hal ini bisa jadi merupakan infeksi yang baru dimana manifestasi gejala belum muncul atau memang mengacu pada perbedaan respon antigen-antibodi pada pada masing-masing pasien yang menjadi responden. Selain itu studi yang dilakukan oleh pihak London School of Hygiene and Tropical Medicine menyatakan bahwa rasio pasien yang memasuki masa laten dan pasien yang memiliki gejala klinis adalah 6-10 : 1, berdasarkan penelitian observasi penyakit frambusia yang mereka lakukan di Vanuatu dan Papua Nugini pada tahun 2014.
Berdasarkan hal ini secara umum kasus yang terlaporkan sebagai kasus frambusia sudah masuk dalam masa laten dan pada masa laten ini RDT tidak akan banyak membantu.
f. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan
1) Angka kasus frambusia di Kota Jayapura cenderung turun setelah pengobatan massal dengan menggunakan azitromisin, yang ditunjukan dari mayoritas responden yang tidak memiliki gejala frambusia berupa lesi primer.
2) Mayoritas responden sudah menerapkan kebiasaan pola hidup bersih dan sehat seperti mandi lebih dari 2 kali sehari, mandi dengan menggunakan sabun, menggunakan handuk sendiri, dan berganti pakaian setelah mandi dan tersedianya suplai air bersih untuk kebutuhan hygiene pribadi sehari-hari.
3) Hasil uji RDT menunjukkan sebagian besar responden memberikan hasil yang negatif terinfeksi frambusia. Berangkat dari sensitivitas RDT yang rendah dan fakta bahwa sebagian besar kasus yang ada merupakan kasus yang laten.
4) Bakteri Treponema pallidum ssp pertenue tidak ditemukan saat pemeriksaan mikroskopik. Hal ini bisa dikarenakan oleh lesi yang diambil swabnya bukan lagi lesi primer dan mungkin sudah terjadi ko-infeksi dengan mikroorganisme lain yang memiliki gejala klinis infeksi yang mirip dengan frambusia, sehingga pada pengamatan mikroskopik.
2. Saran
1) Disarankan untuk dilakukan evaluasi terhadap responden yang positif uji RDT namun tidak menunjukan gejala frambusia.
2) Monitoring pasca pengobatan minimal 3-6 bulan (atau bahkan hingga 12 bulan).
3) Mapping kasus untuk strategi pengobatan yang lebih efektif.
4) Deteksi molekuler dan serologi dengan metode yang lebih akurat, dengan ukuran populasi yang lebih besar.
5) Deteksi kemungkinan terjadinya mutasi yang mengarah pada resistensi azitromisin (similaritas genetic yang besar dengan Treponema pallidum ssp pallidum)
g. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada dr. Masri Sembiring dan drh. Wien Winarno sebagai pembimbing Risbinkes 2017. Juga kepada Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua, Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Puskesmas Hamadi, Puskesmas Elly Uyo, Pukesmas Koya Barat dan Puskesmas Skouw serta semua pihak yang telah membantu berjalannya penelitian ini.
h. Daftar Kepustakaan
1. Amin, Robed. Basher, Ariful. Zaman FFM. Global Eradication of Yaws: Neglected Disease with Research Priority. J Medicine. 2009;10:109–14.
2. Backhouse JL, Hudson BJ, Hamilton PA, Nesteroff SI. Failure of Penicillin Treatment of Yaws on Karkar Island, Papua New Guinea. Am K Trop MedHyg,.
1998;59(3):388–92.
3. Mitjà O, Asiedu K, Mabey D. Yaws. 2013;6736(12):1–11.
4. Ghinai R, El-duah P, Chi K, Pillay A, Solomon AW, Bailey RL, et al. A Cross- Sectional Study of “ Yaws ” in Districts of Ghana Which Have Previously
Undertaken Azithromycin Mass Drug Administration for Trachoma Control. PLOS.
2015;DOI:10.137(journal.pntd.0003496):1–9.
5. Marks M, Katz S, Chi K-H, Vahi V, Sun Y, Mabey DC, et al. Failure of PCR to Detect Treponema pallidum ssp. pertenue DNA in Blood in Latent Yaws. PLOS Neglected Tropical Diseases [Internet]. 2015;9(6):e0003905. Tersedia pada:
http://dx.plos.org/10.1371/journal.pntd.0003905
6. Giacani L, Lukehart SA. The Endemic Treponematoses. Clinical Microbiology Reviews. 2014;27(1):89–115.
7. Garner MF, Backhouse JL, Daskalopoulos G, Walsh JL. Treponema pallidum haemagglutination test for yaws. Comparison with the TPI and FTA-ABS tests. The British journal of venereal diseases. 1972;48(6):479–82.
8. Kemenkes. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Komite Ahli Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia. Igarss 2014. 2014. hal. 1–5.
9. Jayapura DKP. data kasus frambusia di kota jayapura.pdf. 2015.
10. WHO | Yaws. WHO [Internet]. 2017 [dikutip 31 Maret 2017]; Tersedia pada:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs316/en/
11. Kemenkes.RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.43 Tahun 2013.
2013.
12. Kazadi WM, Asiedu KB, Agana N, Mitjà O. Epidemiology of yaws : an update.
Clinical Epidemiology. 2014;119–28.
13. Rog G, Rogam M, Rog G. Weekly epidemiological record Relevé épidémiologique hebdomadaire. 2015;(16):161–8.
i. Lampiran
Lampiran 1. Lembar Persetujuan Atasan
LEMBAR PERSETUJUAN
Jayapura, Desember 2017
Ketua Pelaksana Kepala Balai Litbang Biomedis Papua
(dr. Yuli Arisanti) (dr. Antonius Oktavian)
NIP. 19850708 201503 2 002 NIP.197410302001121001
Ketua Panitia Pembina Ilmiah Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan
(Dra. Sarwo Handayani, M.Sc) (Pretty Multihartina, Ph.D)
NIP. 196606251991032001 NIP. 196309271989012001
Lampiran 2. Persetujuan Etik Penelitian
Lampiran 3. Naskah Penjelasan
BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BIOMEDIS PAPUA Jl. Kesehatan no 10 Dok II Jayapura 99112. Telp 0967-534389
NASKAH PENJELASAN
Gambaran Kasus Frambusia Setelah Pengobatan Massal di Kota Jayapura
Selamat (pagi, siang, sore) adik – adik/saudara/i, kami hendak memberitahukan bahwa frambusia merupakan masalah kesehatan serius di Indonesia termasuk di Papua dan penyakit ini dapat menimbulkan berbagai gejala, dari ringan, berat hingga menyebabkan kecacatan. Kami dari Balai Litbang Biomedis Papua, Kementerian Kesehatan R.I mulai bulan Februari s/d November 2017 melakukan penelitian yang bertujuan melihat gambaran kasus frambusia setelah pengobatan missal di tahun lalu di Kota Jayapura.
Dalam penelitian ini akan dilakukan pemeriksaan terhadap responden yang telah terdaftar namanya dalam data penerima obat frambusia dan pernah menderita infeksi frambusia serta salah satu kontak yang memiliki lesi. Kami mengharapkan keikutsertaan adik – adik/saudara/i dalam penelitian ini secara sukarela dengan menjawab pertanyaan mengenai diri adik – adik/saudara/i. Jumlah yang akan kami ambil sebanyak 291 subyek, dengan kriteria berumur 2‐24 tahun, memiliki koreng/luka yang tidak sembuh lebih dari 2 minggu maupun yang tidak memiliki koreng/luka. Kami juga akan meminta kesediaan adik‐adik/saudara/i untuk diperiksa kulit punggungnya secara keseluruhan tanpa busana bagian atas atau dengan kata lain telanjang dada. Pemeriksaan kulit punggung akan didampingi oleh anggota keluarga adik/saudara/i. Pemeriksaan akan dilakukan di dalam ruangan tertutup dan diperiksa oleh petugas puskesmas yang mana untuk responden laki‐laki diperiksa oleh petugas laki‐laki dan yang perempuan diperiksa oleh petugas perempuan.
Selain itu kami meminta kesediaan adik – adik/Saudara/i untuk dilakukan pengambilan apusan luka dan pengambilan sampel darah. Untuk sampel apusan luka, pengambilan dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman. Sampel apusan luka akan diperiksa di laboratorium.
Kemudian kami akan melihat keadaan rumah responden, bila diijinkan, bila tidak diijinkan tidak akan dikenakan sanki apapun.
Untuk pemeriksaan darah, langsung diperiksa ditempat pengambilan, darah diambil dari
25
Adik/ saudara/i akan merasakan sedikit nyeri saat pengambilan darah. Adik – adik/saudara/i berhak untuk mengetahui hasil laboratorium dan hasil wawancara. Setiap informasi yang diberikan selama wawancara akan dirahasiakan oleh tim peneliti, dan akan digunakan hanya untuk penelitian ini. Sebagai pengganti waktu yang hilang kami akan memberikan kompensasi berupa bahan kontak.
Bila adik – adik/saudara/i memutuskan untuk tidak mengikuti penelitian, pengobatan dan pelayanan kesehatan tidak akan berpengaruh apapun.
Keikutsertaan adik – adik/saudara/i bermanfaat untuk program peningkatan penanganan kasus frambusia.
Bila adik – adik/saudara/i memerlukan penjelasan lebih lanjut mengenai penelitian ini, dapat menghubungi:
dr. Antonius Oktavian, M.Kes Balai Litbang Biomedis Papua Jl.Kesehatan no 10 Jayapura
dr. Yuli Arisanti
Balai Litbang Biomedis Papua Jl.Kesehatan no 10 Jayapura
St. Vera Yoku Puskesmas Hamadi 081344756826
Sebagai ucapan terima kasih, adek – adik/saudara/i akan mendapatkan bahan kontak berupa sabun dan handuk
Terima kasih atas waktu yang adik – adik/saudara/i berikan untuk membaca/ mendengarkan lembar informasi ini.
Peneliti
dr. Yuli Arisanti
Lampiran 4. Lembar Persetujuan setelah Penjelasan
PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN
Setelah mendengar dan atau membaca naskah penjelasan serta memahami maksud tujuan penelitian yang berjudul: Gambaran kasus frambusia setelah pengobatan massal di kota Jayapura maka dengan ini saya menyatakan setuju berpartisipasi dalam penelitian tersebut. Bila sewaktu-waktu berubah pikiran, saya dapat membatalkan keikutsertaan dalam penelitian ini.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani serta tanpa ada paksaan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Jayapura...2017
Peserta Nama: Tanda Tangan:
Saksi Nama: Tanda Tangan:
Tim Penelitian
Nama: Tanda Tangan: