i
Laporan Penelitian
Cluster Pembinaan /Kapasitas
PENINGKATAN FASILITAS SANITASI SEBAGAI SARANA PENUNJANG PEMUKIMAN SEHAT DALAM
PENGEMBANGAN KHASANAH PESANTREN (Studi Kasus: Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare)
Disusun Oleh:
Rahmiani Rahim, ST., MT.
DIREKTORAT PENDIDIKAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM KEMENTRIAN AGAMA RI
2021
ii
DAFTAR ISI
Isi Halaman
HALAMAN SAMPUL
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
KATA PENGANTAR ...vii
ABSTRAK ... viii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
BAB II ... 3
KAJIAN PUSTAKA ... 3
2.1. Konsep Pemukiman Sehat ... 3
2.2. Standar Sanitasi pada Lingkungan Sehat ... 3
2.3. Sistem Sanitasi Pesantren di Indonesia ... 6
Pondok Pesantren di Kota Makassar ... 6
Pondok Pesantren di luar Kota Makassar ... 7
BAB III ... 8
METODE PENELITIAN ... 8
3.1. Teknik Pengumpulan Data ... 8
3.2. Rencana Pembahasan ... 8
3.3. Jadwal Penelitian ... 9
3.4. Rencana Anggaran Penelitian ... 10
3.5. Organisasi Pelaksana Penelitian ... 10
iii
BAB IV ... 11
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 11
4.1. Fasilitas Sanitasi Eksisting Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare ... 11
Toilet/ WC Eksisting ... 12
Saluran Drainase Eksisting ... 15
Sumber Air Bersih Eksisting ... 15
Peta perletakan Sumber Air Bersih dan Saptictank Eksisting ... 17
4.2. Analisis kesesuaian standar Pemukiman sehat dengan sanitasi eksisting... 19
Analisis Kesesuaian Standar Ratio Toilet/WC .. 19
Analisis Saluran Drainase ... 23
Analisis Perletakan Sumber Air Bersih ... 23
4.3. Rekomendasi desain penataan sanitasi ... 24
Rekomendasi Perletakan Toilet/WC ... 24
Rekomendasi Desain Penutup Atas Saluran Drainase ... 28
Rekomendasi Perletakan Sumber Air Bersih .... 30
BAB V ... 32
KESIMPULAN ... 32
DAFTAR PUSTAKA ... 33
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perbandingan Unit Toilet dengan Jumlah Santri ...5
Tabel 2. Ukuran Septictank berdasarkan pedoman panduan pembangunan perumahan dan permukiman pedesaan ...6
Tabel 3. Studi Komparasi Kondisi Sanitasi Pesantren...6
Tabel 4. Jadwal Penelitian ...9
Tabel 5. Rencana Anggaran Penelitian ... 10
Tabel 6. Jumlah Toilet/WC di Asrama ... 14
Tabel 7. Rasio Pengguna dan Ketersediaan Toilet ... 20
Tabel 8.Usulan Penambahan Toilet/WC berdasarkan syarat
standar pemukiman sehat ... 22
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Batas lokasi Pondok Pesantren DDI Ujung Lare
Parepare ... 11
Gambar 2. Wawancara dengan Pimpinan dan Para Pembina
Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare ... 12
Gambar 3.Wawancara Santri terkait ketersediaan dan
kecukupan Kamar Mandi dan WC/Toilet di lingkungan
Pondok Pesantren ... 12
Gambar 4. Fasilitas Sanitasi Kamar Mandi dan WC/Toilet
di lingkungan Pondok Pesantren ... 13
Gambar 5.Titik perletakan septictank di lingkungan
Pondok Pesantren ... 14
Gambar 6.Sebaran titik sumber Air Bersih di lingkungan
Pondok Pesantren ... 16
Gambar 7.Sumber Air Bersih di lingkungan Pondok
Pesantren ... 17
Gambar 8. Peta Perletakan Sumber Air Bersih dan
Septicktank di lingkungan Pondok Pesantren ... 18
Gambar 9. Hasil analisis penggunaan sumber air sesuai
standar pemukiman sehat di lingkungan Pondok Pesantren
... 24
Gambar 10.Survey Perletakan rencana Toilet/ WC
didampingi Pengurus Pondok Pesantren ... 25
Gambar 11.Rekomendasi Perletakan Toilet/WC di
Kawasan Pondok Pesantren ... 26
Gambar 12.Rekomendasi Desain Toilet/WC di Kawasan
Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare ... 27
Gambar 13. Referensi Alternatif 1 penutup atas saluran
drainase ... 28
Gambar 14. Referensi Alternatif 2 penutup atas saluran
drainase ... 29
Gambar 15. Referensi Alternatif 3 penutup atas saluran
drainase ... 29
vi
Gambar 16. Referensi Alternatif penyaring kotoran pada
saluran drainase ... 30
Gambar 17. Rekomendasi Perletakan Sumber Air Bersih
... 31
vii
KATA PENGANTAR
Alhamdullilah wassyukurillah, Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian berjudul Peningkatan Fasilitas Sanitasi Sebagai Sarana Penunjang Pemukiman Sehat Dalam Pengembangan Khasanah Pesantren (Studi Kasus: Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare) dengan tepat waktu.
Tujuan Penelitian ini adalah mengidentifikasi kesesuaian fasilitas sanitasi di lingkungan Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare dan memberi rekomendasi desain penataan sanitasi sesuai dengan standar pemukiman sehat. Laporan yang penulis buat ini berdasarkan data-data yang valid yang telah dikumpulkan dari hasil wawancara dari berbagai narasumber.
Ucapan terima kasih tak terhingga dari penulis kepada semua pihak yang ikut mendukung proses pembuatan laporan ini hingga selesai, terimakasih kepada:
1. Bapak AG. Prof. DR. Rahim Arsyad, MA. selaku Pimpinan Pondok Pesantren yang telah mengizinkan penulis melaksanakan penelitian di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare.
2. Ibu Rahmatiah Rahim selaku narasumber atas kesediaannya memberi informasi yang detail kepada penulis.
3. Bapak Ketua LP2M beserta jajarannya yang telah memberi kesempatan untuk penulis ikut serta dalam kegiatan penelitian ini.
Penulis menyadari atas ketidaksempurnaan penyusunan laporan ini, namun penulis tetap berharap laporan ini akan memberikan manfaat bagi para pembaca terkhusu memberi manfaat kepada Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare.
Demi kemajuan penulis, penulis juga mengharapkan adanya masukan berupa kritik atau saran yang berguna. Terima kasih.
Makassar, 29 September 2021
Rahmiani Rahim, ST., MT.
viii
ABSTRAK
Pondok pesantren merupakan wadah pendidikan agama Islam yang rahmatan lil ’alamin berlandaskan nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan. Eksistensi pondok pesantren tidak terlepas dari prestasi santri yang dibina secara formal dan non formal.
Lingkungan yang ramah dan sehat berperan penting dalam pengembangan pendidikan dan khasanah pesantren yang dapat melahirkan santri berprestasi. Guna mewujudkan lingkungan yang ramah tersebut, perhatian terhadap fasilitas umum yang ada di pondok pesantren seperti ketersediaan air bersih, sarana pembuangan air limbah, kamar mandi, jamban, dapur dan tempat sampah seharusnya menjadi penting untuk disediakan sesuai standar kesehatan. Unit bilik toilet yang ada di Pondok pesantren DDI Ujung Lare Parepare sebanyak 39 unit, sehingga ratio penggunaan bilik toilet dengan jumlah pengguna adalah 1: 17, saluran air limbah yang terbuka dan tidak kedap air berpotensi mencemari lingkungan sekitar dan belum ada sistem pengelolahan limbah domestik di lingkungan pondok pesantren.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesesuaian fasilitas sanitasi di lingkungan Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare dengan standar pemukiman sehat dan membuat rekomendasi desain penataan sanitasi sesuai standar pemukiman sehat dengan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan intrepretatif.
Jarak sumber air dengan saptictank di beberapa titik dan ratio ketersediaan toilet dengan pengguna tidak sesuai dengan persyaratan yang telah diatur oleh Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Pemukiman dan pedoman penentuan Standar Pelayanan Minimal (SPM) (Lampiran Kepmen Kimpraswil No.534/KPTS/M/2001).
Dengan demikian fasilitas sanitasi di Pondok Pesantren
DDI ujung Lare Parepare tidak memenuhi standar sanitasi
pemukiman sehat, serta membutuhkan rekomendasi penataan pada
kawasan yang telah sesuai standar pemukiman sehat.
1
BAB I
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Pondok pesantren merupakan wadah pendidikan agama Islam yang rahmatan lil ’alamin berlandaskan nilai ketuhanan dan nilai kemanusiaan. Eksistensi pondok pesantren tidak terlepas dari prestasi santri yang dibina secara formal dan non formal. Santri merupakan generasi muda yang diharapkan dapat memajukan bangsa dimasa mendatang dan menjalankan tugas ke-khalifa-an yakni menjaga, merawat dan memakmurkan bumi pertiwi dengan bekal fisik, psikis, mental sosial dan nilai moral agama Islam yang didapatkan di lingkungan pondok pesantren.
Lingkungan yang ramah dan sehat berperan penting dalam pengembangan pendidikan dan khasanah pesantren yang dapat melahirkan santri berprestasi. Guna mewujudkan lingkungan yang ramah tersebut, perhatian terhadap fasilitas umum yang ada di pondok pesantren seperti ketersediaan air bersih, sarana pembuangan air limbah, kamar mandi, jamban, dapur dan tempat sampah seharusnya menjadi penting untuk disediakan sesuai standar kesehatan.
Permasalahan umum yang ada di pondok pesantren dari berbagai wilayah di Indonesia adalah belum memiliki sanitasi yang memenuhi standar kesehatan (Fahham, 2019) dan Pondok pesantren DDI Ujung Lare Parepare termasuk salah satu diantaranya yang mempunyai permasalahan sanitasi tersebut khususnya di ketersediaan unit bilik toilet dan pengolahan limbah domestik.
Pondok pesantren DDI Ujung Lare Parepare yang didirikan oleh AG. KH. Abd. Rahman Ambo Dalle dan saat ini dipimpin oleh AG. Prof. DR. H. Abd. Rahim Arsyad, M.A. dengan jumlah santri wanita dan pengasuh yang tinggal di asrama pada tahun 2020/2021 sebanyak 449 orang, dan jumlah santri dan pengasuh yang tidak bermukim sebanyak 208. Unit bilik toilet yang ada di Pondok pesantren DDI Ujung Lare Parepare sebanyak 39 unit, sehingga ratio penggunaan bilik toilet dengan jumlah pengguna adalah 1:
17, saluran air limbah yang terbuka dan tidak kedap air
berpotensi mencemari lingkungan sekitar dan belum ada
2
sistem pengelolahan limbah domestik di lingkungan pondok pesantren.
1.2. Perumusan Masalah
1. Perlunya fasilitas sanitasi yang memadai sesuai standar pemukiman sehat di lingkungan Pesantren DDI Ujung Lare Parepare.
2. Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare membutuhkan redesain penataan sanitasi yang baik dan sesuai standar pemukiman sehat.
1.3. Tujuan Penelitian
1. Mengidentifikasi kesesuaian fasilitas sanitasi di lingkungan Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare dengan standar pemukiman sehat
2. Membuat rekomendasi desain penataan sanitasi sesuai
standar pemukiman sehat.
3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Konsep Pemukiman Sehat
Menurut Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Pemukiman, pemukiman merupakan bagian dari lingkungan hunian dimana lingkungan tersebut terdiri dari dua atau lebih satuan perumahan yang memiliki sarana, prasarana, utilitas umum, serta penunjang kegiatan fungsi lain di suatu kawasan baik kawasan perkotaan maupun kawasan perdesaan.
Pemukiman sehat adalah suatu kawasan untuk bermukim yang memiliki prasarana seperti jaringan jalan, pengolahan air limbah dan sampah, saluran air bersih, jaringan listrik, jaringan telepon, dan sebagainya dan sarana lingkungan seperti fasilitas pusat perbelanjaan, pelayanan umum, pendiikan, kesehatan, tempat peribadatan dan sebagainya, yang berfungsi secara optimal dan dapat meningkatkan standar kesehatan fisik, mental dan sosial (Suparto, 2015).
Syarat hunian sehat yaitu memiliki toilet/ jamban sehat, saluran pembuangan air limbah, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sirkulasi udara yang baik, material lantai rumah menutupi permukaan tanah dan kesesuaian jumlah hunian terhadap lingkungan (Malendra, 2018).
2.2. Standar Sanitasi pada Lingkungan Sehat
Sanitasi merupakan salah satu tantangan paling
signifikan di Indonesia yang berpengaruh terhadap
kesehatan masyarakat. Kurangnya pengelolaan sanitasi
memiliki konsekwensi rendahnya tingkat kesehatan
masyarakat pada pembangunan lingkungan yang
berkelanjutan. Sanitasi dapat dikatakan baik, apabila
kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi, tidak adanya
timbunan sampah, tidak ada pencemaran dari limbah,
saluran air yang lancar dan tersedianya ruang terbuka hijau.
4
Menurut pedoman penentuan Standar Pelayanan Minimal (SPM) (Lampiran Kepmen Kimpraswil No.534/KPTS/M/2001) bahwa dalam pengelolaan prasarana sanitasi lingkungan pemukiman harus memperhatikan cakupan pelayanan minimal dapat melayani 50 s/d 70% dari jumlah penduduk di pemukiman tersebut, apabila kepadatan penduduknya >300 jiwa/Ha cakupan pelayanan minimal 80 s/d 90% dari jumlah penduduk dan untuk sarana sanitasi individual dan komunal minimal dalam bentuk MCK dan septictank yang disesuaikan oleh masyarakat.
Prinsip lingkungan sehat berdasarkan panduan pembangunan perumahan dan permukiman pedesaan, antara lain: Luas bangunan minimal 40% dari luas lahan, ketersediaan sumber air bersih, saluran air terbuka untuk buangan air hujan, saluran air bekas mandi dan cuci ke saluran ligkungan dengan kemiringan 2%, saluran buangan air kotor yang tertutup dari toilet/ jamban menuju septictank untuk kemudian cairannya dialirkan ke sumur peresapan atau penyaringan yang selanjutnya dapat dibuang ke badan air yang ada, penanganan/ pengolahan sampah yang benar serta memanfaatkan pekarangan dengan menanam jenis tanaman bermanfaat seperti tanaman obat, sayuran dan lain-lain (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017)
Menurut Fahham (2019) menjelaskan syarat untuk sarana pembuangan air limbah sesuai pedoman kesehatan lingkungan, bangunan dan fasilitas harus dilengkapi dengan sistem pengolahan air limbah, mengalir dengan lancar, dibuat dengan sistem tertutup dan kedap air.
Sedangkan untuk toilet /kamar mandi /urinoir harus
memiliki penampungan kotoran dengan jarak minimal 10
m dari sumber air, toilet/ kamar mandi/urinoir bersih dan
tidak berbau, letaknya tidak berhubungan langsung dengan
dapur, kamar tidur, dan ruang tamu. Idealnya, setiap
penambahan 10 orang ditambah 1 kamar mandi dan
jamban.
5
Tabel 1. Perbandingan Unit Toilet dengan Jumlah Santri
Jumlah Unit Toilet Jumlah Santri
1 1 - 9
2 10 - 19
3 20 - 29
4 30 - 39
5 40 - 49
6 50 - 60
Sumber: (Fahham, 2019)
Limbah merupakan buangan/bekas yang berbentuk cair, gas dan padat. Dalam air limbah terdapat bahan kimia sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut yang kemudian menjadi tempat bersarangnya kuman penyebab penyakit. Untuk itu air limbah harus diolah untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan tidak membahayakan kesehatan. Limbah domestik atau sering juga disebut limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, bekar air cuci, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia.
Berdasarkan pedoman panduan pembangunan perumahan dan permukiman pedesaan pengelolaan air limbah dapat dilakukan dengan membuat saluran air kotor dan bak peresapan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut:
a. Jarak minimal 10 - 15 meter antara sumber air dengan bak peresapan agar tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah sekitarnya baik air dipermukaan tanah maupun air dibawah permukaan tanah.
b. Tidak mengotori permukaan tanah.
c. Menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.
d. Mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lain.
e. Tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
f. Konstruksi agar dibuat secara sederhana dengan bahan
yang mudah didapat dan murah.
6
Tabel 2. Ukuran Septictank berdasarkan pedoman panduan
pembangunan perumahan dan permukiman pedesaan
Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (2017)
2.3. Sistem Sanitasi Pesantren di Indonesia Pondok Pesantren di Kota Makassar
Hasil penelitian Sudirman (2018) yang dilaksanakan di 3 Pondok Pesantren di Makassar, menyimpulkan kondisi sanitasi lingkungan Pondok Pesantren di Kota Makassar dari 6 variabel yang digunakan antara lain: penyediaan air bersih, dapur, sarana pembuangan sampah, saluran pembuangan air limbah, kepadatan hunian dan toilet atas pemenuhan standar kesehatan untuk Pesantren IMMIM Makassar 75%, Pesantren Darul Aman 71%, Pesantren Ummul Mukminin 83%, lebih detail dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Studi Komparasi Kondisi Sanitasi Pesantren IMMIM Darul
Aman
Ummul Mukminin
Penyediaan air bersih 80% 80% 90%
Dapur 66% 86% 73%
Sarana pembuangan sampah 80% 30% 90%
Saluran Pembuangan Limbah 70% 60% 60%
Kepadatan Hunian (kamar tidur) 73% 73% 80%
Toilet 80% 86% 86%
Rata-Rata Nilai 75% 71% 83%
Variabel
Nama Pesantren
7
Sumber: (Sudirman, 2018)
Hasil penelitian Mahdiyah (2018) berbeda dengan hasil penelitian diatas, Mahdiyah menyimpulkan kondisi sanitasi jamban/WC pada Pesantren tersebut dinyatakan tidak memenuhi persyaratan standar kesehatan. Observasi dilakukan pada ke 4 Pesantren modern termasuk diantaranya Pesantren IMMIM, Darul Aman dan Ummul Mukminin. Dari hasil observasi disimpulkan bahwa dari setiap toilet yang ada di lokasi kondisi toilet tidak selalu dalam keadaan yang bersih. Hal ini terjadi karna kurangnya kesadaran santri/santriwati yang tidak memperhatikan kebersihan pada saat dan setelah menggunakan toilet, tidak terdapat ventilasi yang cukup sehingga sirkulasi udara dalam toilet tidak bertukar dengan baik sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. (Mahdiyah, 2018) Pondok Pesantren di luar Kota Makassar
Penelitian yang dilakukan oleh (Rusmaya et al., 2019) menyimpulkan beberapa hal terkait sanitasi yang ada di Pondok Pesantren Madrasah Tsanawiyah Tahfidz Al Quran Assalam Bandung sebagai berikut:
1. Sarana penyediaan air bersih dan pengolahan air limbah belum memenuhi standar kesehatan lingkungan
2. Pengolahan sampah sudah optimal dengan menggunakan biogas
3. Lubang biopori perlu dibuat untuk antisipasi curah hujan yang berarti system saluran drainase masih membutuhkan perbaikan.
Sistem sanitasi yang ada di beberapa pesantren
berdasarkan studi literatur di atas menunjukkan bahwa
sebagian besar pesantren belum memiliki sarana
pengolahan air limbah sesuai standar kesehatan lingkungan
yang berdampak pada kesehatan santri dan tentunya
mempengaruhi aktifitas atau proses pendidikan yang ada di
lingkungan pondok pesantren.
8
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini direncanakan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan intrepretatif untuk mengkaji standar sanitasi pada lingkungan ramah. Penelitian deskriptif merupakan kegiatan mendekripsikan suatu gejala, peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian untuk kemudian digambarkan berdasarkan satu pendekatan tertentu (Rose 2001). Dalam penelitian ini terdapat tahapan-tahapan yang dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian yaitu survey dan pengumpulan data, kompilasi data, menganalisis data dan kemudian menyusun kesimpulan dan rekomendasi.
3.1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara, observasi lapangan, dan studi literatur. Data mengenai fasilitas sanitasi yang sudah ada dalam lingkungan pondok pesantren DDI Ujung Lare Parepare dianalisis secara deskriptif kualitatif. Teknik analisis data ini dilakukan dengan mengelompokan informasi dari data kualitatif yang berupa data lapangan dan data standar. Hasil analisis ini kemudian digunakan untuk merevisi produk yang dikembangkan
3.2. Rencana Pembahasan
Penelitian ini diawali dengan mengidentifikasi
(identify) kesesuaian prasarana dan sarana sanitasi di
lingkungan Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare
dengan standar pemukiman sehat. Pembahasan penelitian
yang digunakan dengan mengikuti tahap analisis (analyze),
yakni menganalisis pemenuhan standar sanitasi yang ada di
lokasi penelitian dari aspek kesehatan lingkungan, fasilitas
sanitasi dan sarana pembuangan air limbah. Pada tahapan
perancangan (design), menyusun rekomendasi desain
9
fasilitas sanitasi sebagai sarana penunjang lingkungan sehat dan pengembangan khasanah pesantren.
3.3. Jadwal Penelitian
Penelitian ini direncanakan dikerjakan dalam jadwal penelitian sebagai berikut :
Tabel 4. Jadwal Penelitian
No Kegiatan
Bulan
Mei Juni Juli Agust Sept Okto
1 Persiapan Penelitian
2 Field Study
3 Pengumpulan Data dan Informasi
4 Analisis Data
5 Monitoring Evaluasi
Kegiatan
6 Penyusunan Draft
Laporan Penelitian
7 Seminar Laporan Penelitian
8
Penyusunan Naskah Artikel Publikasi Penelitian
9
Publikasi Naskah Artikel Ke Jurnal Nasional Bereputasi
10
3.4. Rencana Anggaran Penelitian
Penelitian ini direncanakan dikerjakan dalam rencana pembiayaan penelitian sebagai berikut :
Tabel 5. Rencana Anggaran Penelitian
3.5. Organisasi Pelaksana Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan susunan pelaksana penelitian yang akan terlibat adalah sebagai berikut:
1. Nama Lengkap : Rahmiani Rahim, ST., MT.
2. NIP : 198405232019032011
3. NIDN : 2023058402
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Tempat/Tanggal Lahir : Parepare/ 23 Mei 1984 6. Asal Perguruan Tinggi : UIN Alauddin Makassar
7. Fakultas : Fakultas Sains Dan
Teknologi
8. Program Studi : Teknik Arsitektur
9. Bidang Keilmuan : Studio Perancangan Arsitektur
10. Posisi dalam Penelitian : Ketua Peneliti
11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Fasilitas Sanitasi Eksisting Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare
Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare berbatasan dengan area permukiman penduduk (Gambar 1) memiliki luas area 10.476 m2 yang didalamnya terbagi beberapa zona, antara lain zona Pendidikan, Asrama, dan Rumah Pembina/ Guru dengan fasilitas sanitasi yang ada pada masing-masing zona. Fasilitas sanitasi di lingkungan Pondok Pesantren merupakan fasilitas sanitasi dasar meliputi kamar mandi dan WC/Toilet, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, dan penyediaan air bersih.
Berdasarkan hasil wawancara bersama Pimpinan Pondok Pesantren, Pembina dan Para Santri (Gambar 2 dan Gambar 3) zona asrama menjadi perhatian utama karena dampak langsung dari fasilitas sanitasi yang ada dalam lokasi pesantren DDI Ujung Lare Parepare dapat dirasakan oleh penghuni asrama dalam hal ini adalah para santriwati sebagai penduduk mayoritas di Pondok Pesantren.
Gambar 1. Batas lokasi Pondok Pesantren DDI Ujung Lare
Parepare
12
Gambar 2. Wawancara dengan Pimpinan dan Para Pembina Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare
(Dokumentasi Penulis, 2021)
Gambar 3.Wawancara Santri terkait ketersediaan dan kecukupan Kamar Mandi dan WC/Toilet di lingkungan
Pondok Pesantren (Dokumentasi Penulis, 2021)
Toilet/ WC Eksisting
Rangkaian kegiatan pondok pesantren mengharuskan aktifitas santriwati diawali dipagi hari dengan mengantri menggunakan kamar mandi dan toilet yang ada di masing-masing asrama untuk bersiap mengikuti setiap jadwal kegiatan pondok pesantren.
Ketersediaan sarana toilet yang ada saat ini masih dianggap
kurang memadai, berdasarkan hasil wawancara bersama
santriwati antrian penggunaan toilet menjadi kendala
13
dalam melaksanakan persiapan mengikuti kegiatan pondok pesantren di pagi dan sore hari. Kebersihan dan kerapihan kamar mandi dan toilet juga masih perlu diperhatikan dan ditingkatkan oleh santriwati guna untuk menciptakan lingkungan yang sehat di kawasan Pondok Pesantren.
Bangunan untuk asrama yang ada di dalam Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare sebanyak 7 bangunan, masing-masing bangunan terdiri dari beberapa kamar dan bangunan tersebut diberi nama asrama Ummu Kalsum, asrama Maemunah, asrama Hafsah, asrama Aminah, asrama Khadijah, asrama Aisyah dan asrama Fatimah.
Masing-masing asrama memiliki fasilitas sanitasi kamar mandi dan WC/Toilet dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Fasilitas Sanitasi Kamar Mandi dan WC/Toilet di lingkungan Pondok Pesantren
(Dokumentasi Penulis, 2021)
14
Ketersediaan fasilitas toilet/wc pada masing- masing asrama dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 6. Jumlah Toilet/WC di Asrama
NO. NAMA
ASRAMA
JUMLAH KAMAR
JUMLAH SANTRI
JUMLAH TOILET/WC 1 Asrama Ummi
Kalsum 3 58 2
2 Asrama
Maemunah 3 44 4
3 Asrama Hafsah 3 43 4
4 Asrama Aminah 3 39 2
5 Asrama Khadijah 3 67 3
6 Asrama Aisyah 3 34 3
7 Asrama Fatimah 4 71 4
(Sumber: Hasil survey dan wawancara penulis, 2021) Pembuangan limbah padat dari toilet disalurkan ke septictank yang diletakkan dibagian belakang atau bagian depan toilet. Adapun titik perletakan saptictank dapat dilihat pada gambar 5 dibawah ini:
Gambar 5.Titik perletakan septictank di lingkungan Pondok Pesantren
Saptictank Keterangan:
15
Saluran Drainase Eksisting
Saluran drainase/ saluran pembuangan air limbah di dalam kawasan Pondok Pesantren DDI Ujung Lare merupakan saluran terbuka tanpa penutup saluran di atasnya dan permukaan dasar saluran tidak kedap air sehingga berpotensi untuk pencemaran lingkungan dari bau dan resapan kedalam tanah. Saluran ini menampung air dari bekas aktifitas memasak, mencuci, mandi dan air hujan.
Saluran yang terbuka juga berpotensi menjadi sasaran/
tempat buangan sampah. Meskipun sarana pembuangan sampah sudah tersedia akan tetapi pola kebiasan membuang sampah sembarangan masih membudaya dan perlu pencegahan selain melalui edukasi tentang kebersihan lingkungan, juga melalui penyediaan sarana pendukung salah satunya dapat dicegah dengan saluran drainase yang tertutup dan seluruh permukaan yang kedap air sehingga aliran air dapat mengalir lancar.
Gambar 6. Saluran Drainase di lingkungan Pondok Pesantren (Dokumentasi Penulis, 2021)
Sumber Air Bersih Eksisting
Air bersih merupakan kebutuhan pokok dan menjadi salah satu jenis sumber daya berbasis air yang seharusnya bermutu baik untuk dimanfaatkan dan dikonsumsi sebagai penunjang kegiatan sehari-hari.
Sumber air bersih yang ada pada Pondok Pesantren DDI
16
Ujung Lare berupa sumur bor/sumur pompa dan sumur galian tersebar di beberapa titik (Gambar 7).
Gambar 6.Sebaran titik sumber Air Bersih di lingkungan Pondok Pesantren
Terdapat 11 titik sumber air bersih di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare. Air bersih dialirkan menggunakan mesin pompa air ke asrama, ke rumah Pembina dan ke Toilet yang ada di zona Pendidikan. Di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare air tersebut lebih banyak digunakan untuk aktifitas mandi dan mencuci.
Sedangkan aktifitas memasak dan konsumsi air minum menggunakan air mineral galon isi ulang. Keluhan terhadap penggunaan air bersih yang ada di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare oleh santriwati baru adalah sering berdampak pada gatal-gatal di kulit. Meskipun masih perlu penelitian lebih dalam, hal tersebut bisa disebabkan karena jarak sumber air dan saptictank tidak memenuhi jarak minimal yang dipersyaratkan untuk lingkungan sehat yang akan diuraikan pada sub bab selanjutnya.
Sumber air bersih Keterangan:
17
Gambar 7.Sumber Air Bersih di lingkungan Pondok Pesantren
(Dokumentasi Penulis, 2021)
Peta perletakan Sumber Air Bersih dan Saptictank Eksisting
Penataan lingkungan yang baik dan bersih akan berdampak pada kesehatan masyarakat yang ada dilingkungan sekitar. Penataan sanitasi di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare diakui tidak mempunyai pedoman acuan baik berupa gambar rencana masterplan, rekomendasi penataan bangunannya dan tidak mengacu pada syarat-syarat permukiman sehat, sehingga perletakan sarana dan prasarana yang ada di kawasan Pondok Pesantren tidak teratur dengan baik, termasuk perletakan sumber air bersih dan septictank yang ditempatkan diberbagai titik terlihat asal dan sekedar memanfaatkan lahan kosong, seperti pada Gambar 9.
Jarak sumber air dan septictank di beberapa titik,
tidak memenuhi persyaratan jarak minimal yang telah
diatur oleh Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang
Perumahan dan Pemukiman dan pedoman penentuan
Standar Pelayanan Minimal (SPM) (Lampiran Kepmen
Kimpraswil No.534/KPTS/M/2001).
18
Gambar 8. Peta Perletakan Sumber Air Bersih dan
Septicktank di lingkungan Pondok Pesantren (Dokumentasi Penulis, 2021)
Pada gambar di atas, sumber air di titik nomor 1, 2
dan 5 merupakan sumber air sumur galian dan yang lain
merupakan sumber air sumur bor/ sumur pompa. Jarak
antara sumber air dan septictank yang tidak memenuhi
syarat standar pemukiman sehat berada di titik nomor 2, 4,
6, 8, 9, 10 dan 11. Titik nomor 2 dan nomor 10 berjarak 2
meter dari saptictank terdekatnya. Titik nomor 4 berjarak
9,6 meter dari saptictank terdekatnya, titik nomor 6
berjarak 4,1 meter dari saptictank terdekatnya, titik 8
berjarak 8,9 meter dari saptictank terdekatnya, titik 9
berjarak 5,7 meter dari saptictank terdekatnya dan titik 11
berjarak 7,8 meter dari saptictank terdekatnya. Titik 1, 3, 5
dan 7 jarak dari saptictank terdekatnya memenuhi syarat
standar pemukiman sehat yaitu lebih dari 10 meter.
19
4.2. Analisis kesesuaian standar Pemukiman sehat dengan
sanitasi eksisting
Analisis Kesesuaian Standar Ratio Toilet/WC
Data hasil survey dan wawancara, diketahui jumlah
santri dalam satu bangunan asrama antara lain: Asrama
Ummi Kalsum berjumlah 58 santri dari 3 kamar dan
memiliki 2 toilet/wc, Asrama Maemunah berjumlah 44
santri dari 3 kamar dan memiliki 4 toilet/wc, Asrama
Hafsah berjumlah 43 santri dari 3 kamar dan memiliki 4
toilet/wc, Asrama Aminah berjumlah 39 santri dari 3 kamar
dan memiliki 2 toilet/wc, Asrama Khadijah berjumlah 67
santri dari 3 kamar dan memiliki 3 toilet/wc, Asrama
Aisyah berjumlah 34 santri dari 3 kamar dan memiliki 3
toilet/wc, Asrama Fatimah berjumlah 71 santri dari 4 kamar
dan memiliki 4 toilet/wc, sehingga ratio pengguna dan
ketersediaan fasilitas toilet/wc yang ada dapat dilihat pada
tabel 7.
20
Tabel 7. Rasio Pengguna dan Ketersediaan Toilet
NO. NAMA ASRAMA JUMLAH
KAMAR
JUMLAH SANTRI
JUMLAH TOILET/
WC
RATIO
KETERANGAN MEMENUHI
STANDAR
TIDAK MEMENUHI 1 Asrama Ummi
Kalsum 3 58 2 1:29 tidak
2 Asrama Maemunah 3 44 4 1:11 tidak
3 Asrama Hafsah 3 43 4 1:10 tidak
4 Asrama Aminah 3 39 2 1:19 tidak
5 Asrama Khadijah 3 67 3 1:22 tidak
6 Asrama Aisyah 3 34 3 1:11 tidak
7 Asrama Fatimah 4 71 4 1:17 tidak
21
Tabel diatas menunjukkan bahwa setiap asrama dengan jumlah penghuni masing-masing tidak memenuhi standar ratio atau perbandingan pengguna dan jumlah fasilitas toilet/wc yang ada pada Pondok Pesantren DDI Ujung Lare. Hal tersebut menyebabkan antrian panjang untuk para santriwati bersiap diri mengikuti kegiatan yang ada di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare.
Standar ratio penggunaan Toilet/WC yang telah
diatur oleh Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang
Perumahan dan Pemukiman dan pedoman penentuan
Standar Pelayanan Minimal (SPM) (Lampiran Kepmen
Kimpraswil No.534/KPTS/M/2001) adalah 1:9, 1 toilet/wc
digunakan oleh maksimal 9 orang santriwati. Diketahui
jumlah santri dalam asrama Ummi Kalsum berjumlah 58
orang dari 3 kamar dan seharusnya memiliki 7 toilet/wc,
untuk asrama Maemunah jumlah santri 44 orang dari 3
kamar seharusnya memiliki 5 toilet/wc, Asrama Hafsah
jumlah santri 43 orang dari 3 kamar seharusnya memiliki 5
toilet/wc, Asrama Aminah jumlah santri 39 orang dari 3
kamar seharusnya memiliki 4 toilet/wc, asrama Khadijah
jumlah santri 67 orang dari 3 kamar dan memiliki 8
toilet/wc, asrama Aisyah jumlah santri 34 orang dari 3
kamar seharusnya memiliki 4 toilet/wc, asrama Fatimah
berjumlah 71 santri dari 4 kamar seharusnya memiliki 8
toilet/wc, sehingga jumlah penambahan fasilitas toilet/wc
agar dapat memenuhi standar pemukiman sehat dapat
dilihat pada tabel 7.
22
Tabel 8.Usulan Penambahan Toilet/WC berdasarkan syarat standar pemukiman sehat
NO. NAMA ASRAMA JUMLAH
KAMAR
JUMLAH SANTRI
JUMLAH TOILET/WC
yang seharusnya
RATIO Penggunaan
Jumlah usulan penambahan
Toilet
1 Asrama Ummi Kalsum 3 58 7 1:8 4
2 Asrama Maemunah 3 44 5 1:9 1
3 Asrama Hafsah 3 43 5 1:9 2
4 Asrama Aminah 3 39 4 1:9 2
5 Asrama Khadijah 3 67 8 1:8 5
6 Asrama Aisyah 3 34 4 1:8 1
7 Asrama Fatimah 4 71 8 1:9 4
23
Analisis Saluran Drainase
Saluran drainase pada Pondok Pesantren DDI Ujung Lare merupakan saluran terbuka seperti saluran saluran kawasan permukiman pada umumnya dan berfungsi mengalirkan air bekas mandi, cuci serta air limbah dapur selain itu juga berfungsi sebagai saluran air hujan. Ada 2 jenis drainase berdasarkan konstruksinya, yaitu drainase saluran terbuka dan drainase saluran tertutup. Drainase saluran terbuka umumnya dibuat untuk menampung dan mengalirkan air hujan. Di Kawasan perkotaan, drainase saluran terbuka ini diberi lining beton, pasangan bata maupun pasangan batu juga lapisan kedap air pada bagian alas saluran. Tetapi di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare, drainase saluran terbuka tidak diberi lapisan pelindung kedap air tersebut sehingga berpotensi penyerapan air ke tanah. Sedangkan drainase saluran tertutup yang seharusnya merupakan drainase yang dibuat untuk saluran air kotor seperti air limbah dapur yang berpotensi mengganggu kesehatan lingkungan tidak terdapat di Kawasan Pondok Pesantren.
Saluran terbuka yang ada di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare berfungsi ganda sebagai saluran air besih (air hujan) dan air limbah dapur, sehingga dapat dijadikan saluran tertutup dengan syarat air hujan tetap dapat mengalir di saluran tersebut.
Analisis Perletakan Sumber Air Bersih
Dari data lapangan terkait dengan sumber air bersih
yang ada di Pondok Pesantren DDI Ujung Lare, terdapat
ketidak sesuaian standar jarak yang telah ditentukan
sebagai syarat pemukiman sehat, sehingga beberapa titik
dari sumber air yang ada tidak dapat digunakan untuk
menghindari dampak kesehatan bagi para santriwati. Titik
sumber air yang tidak memenuhi syarat jarak standar
sebagaimana yang telah di ulas pada sub bab sebelumnya
24
adalah titik nomor 2, nomor 4, nomor 6, nomor 8, nomor 9, nomor 10 dan nomor 11
Gambar 9. Hasil analisis penggunaan sumber air sesuai standar pemukiman sehat di lingkungan Pondok Pesantren
(Dokumentasi Penulis, 2021)
4.3. Rekomendasi desain penataan sanitasi Rekomendasi Perletakan Toilet/WC
Pada kawasan pondok pesantren DDI Ujung Lare
Parepare masih terdapat lahan yang memungkinkan untuk
penataan atau penempatan toilet tambahan berdasarkan
survey bersama pengurus Pondok Pesantren (Gambar 11)
untuk menyesuaikan standar pemukiman sehat. Pada
bagian belakang asrama Khadijah dan di bagian samping
toilet/wc eksisting masih dapat digunakan untuk lokasi
toilet tambahan (Gambar 12).
25
Gambar 10.Survey Perletakan rencana Toilet/ WC didampingi Pengurus Pondok Pesantren
(Dokumentasi Penulis, 2021)
26
Gambar 11.Rekomendasi Perletakan Toilet/WC di Kawasan Pondok Pesantren
27
Ukuran toilet disesuaikan standar pengguna dan merujuk pada desain toilet dari kementerian PUPR. Tahun 2021 Pondok Pesantren DDI Ujung Lare mendapatkan bantuan pembangunan MCK dari kementerian PUPR, sehingga rekomendasi penataan atau perletakan MCK/ toilet tersebut langsung diaplikasikan oleh Pembina Pondok Pesantren DDI Ujung Lare. Terdapat beberapa penyesuaian terhadap desain prototype dari Kementerian PUPR untuk memenuhi kebutuhan standar pemukiman sehat termasuk penataan loker sabun untuk santri agar Toilet/ WC dapat terlihat bersih dan rapi (Gambar 13).
Gambar 12.Rekomendasi Desain Toilet/WC di Kawasan
Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare
28
Rekomendasi Desain Penutup Atas Saluran Drainase
Saluran terbuka yang berfungsi ganda sebagai saluran air bersih (air hujan) dan air limbah dapur, sebaiknya dijadikan saluran tertutup saja dengan syarat air hujan tetap dapat mengalir di saluran tersebut. Agar air hujan dapat tetap mengalir di saluran tertutup maka rekomendasi terkait penutup atas dapat dilihat dari beberapa referensi yang cocok digunakan di saluran tertutup pada Kawasan Pondok Pesantren DDI Ujung Lare Parepare. Alternatif untuk penutup atas saluran dapat dilihat pada referensi berikut (lihat Gambar 14, 15 dan 16).
Apabila ada bagian dari jalur drainase yang tidak memungkinkan untuk ditutup bagian atasnya maka pada bagian ujung saluran juga dapat ditambahkan jaring seperti pada Gambar 17 guna menghindari tumpukan sampah yang dapat menyumbat saluran.
Gambar 13. Referensi Alternatif 1 penutup atas saluran drainase
Sumber Pict by JawaraCorp
https://property145.com/artikel/tips-agar-rumah-aman-
dari-banjir di akses 22 09 21 online
29
Gambar 14. Referensi Alternatif 2 penutup atas saluran
drainase
Sumber Gambar By Wahyu Purwakusuma
https://idea.grid.id/read/092200779/bukan-limbah-rumah- tangga-air-hujan-pun-harus-dikelola-untuk-cegah-banjir-
ini-caranya?page=all di akses 22 09 21 online
Gambar 15. Referensi Alternatif 3 penutup atas saluran drainase
Beton Berpori Permeable Topmix Sumber
https://properti.kompas.com/read/2015/12/29/141100821/Beton.P enyerap.Air.Solusi.Penumpas.Banjir?page=all diakses 22 09 21
Online
30
Gambar 16. Referensi Alternatif penyaring kotoran pada
saluran drainase
Sumber https://makassar.terkini.id/australia-temukan- cara-simpel-bersihkan-sungai-sampah-plastik/ diakses 22
09 21 Online
Rekomendasi Perletakan Sumber Air Bersih
Sumber air bersih yang direkomendasikan untuk
tidak digunakan ada 7 titik, sehingga pemenuhan
kebutuhan air bersih akan berpengaruh. Sumber air bersih
yang akan dibuat untuk memenuhi kebutuhan air bersih di
lingkungan Pondok Pesantren DDI Ujung Lare dapat di
tempatkan pada bagian sisi lapangan/ bagian depan asrama
Fatimah dengan memperhatikan jarak dari saptictank
terdekat. Sumur bor yang ditempatkan di titik “N” pada
Gambar 18, merupakan usulan untuk pusat sumber air
bersih. Agar tidak mengganggu estetika dari area lapangan,
pada bagian titik sumber air dapat bangun sebuah panggung
dengan level ketinggian disesuaikan ketinggian pipa sumur
bor yang menonjol ke permukaan tanah. Panggung upacara
31
tersebut digunakan oleh pembina upacara di kegiatan upacara gabungan seluruh santriwati.
Gambar 17. Rekomendasi Perletakan Sumber Air Bersih
32
BAB V
KESIMPULAN
Fasilitas Sanitasi di Pondok Pesantren Putri DDI Ujung Lare Parepare, tidak memenuhi standar pemukimukiman sehat. Jarak sumber air dengan saptictank di beberapa titik dan ratio ketersediaan toilet dengan pengguna tidak sesuai dengan persyaratan yang telah diatur oleh Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Pemukiman dan pedoman penentuan Standar Pelayanan Minimal (SPM) (Lampiran Kepmen Kimpraswil No.534/KPTS/M/2001).
Dengan demikian rekomendasi penataan pada kawasan
Pondok Pesantren DDI ujung Lare Parepare merujuk pada standar
pemukiman sehat dengan memperhatikan kebutuhan santriwati
serta pengurus Pondok Pesantren DDI ujung Lare Parepare, selain
itu ketersediaan lahan juga perlu untuk diperhatikan dan
dimaksimalkan.
33