• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 4

ANALISIS DAN BAHASAN

4.1 Pembahasan Penelitian

Dalam penelitian ini,penulis akan menganalisis dan menilai kewajaran harga saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk, dengan menggunakan metode keuangan dan non keuangan. Evaluasi bisnis secara keuangan dilakukan dengan menggunakan pendekatan Free Operating Cash Flow to Firm (FCFF), Price Earning Ratio (PER) . Price to Book Value Ratio (PBV) serta Price Sales Ratio (PSR).

Alasan menggunakan keempat metode ini karena metode ini pada umumnya digunakan oleh praktisi dan analis untuk membuat keputusan. Model Penilaian berdasarkan arus kas dapat dibagi menjadi dua ,yaitu free cash flow to equity dan free operating cash flow to firm. Model penilaian FCFE digunakan apabila perusahaan memiliki komposisi utang yang stabil, sementara model FCFF digunakan untuk perusahaan yang memiliki komposisi utang yang tidak stabil.

Selama periode 2009 – 2012 ,PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk tidak pernah membagikan deviden. Hal ini disebabkan perusahaan memiliki komposisi utang yang kurang stabil dan fluktuasi antara 21,99% hingga 172,91%.

Faktor yang mempengaruhi komposisi utang antara lain,meningkatnya utang bank

,utang lembaga keuangan dan obligasi yang digunakan untuk pembelian aset tetap

sebagai langkah ekspansi perseroan. Karena alasan-alasan tersebut, maka penulis

menggunakan metode FCFF. Selain itu, dengan keempat metode dapat merefleksikan

nilai intrinsik perusahaan pelayaran tersebut.

(2)

Sebaliknya evaluasi bisnis secara non keuangan dilakukan dengan analisis SWOT yang sering digunakan untuk memprediksi kelangsungan hidup PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk. Analisis SWOT digunakan untuk memprediksi prospek perusahaan dengan cara mendeskripsikan kekuatan, kelemahan , kesempatan dan ancaman. Selain mendeskripsikan SWOT juga berfungsi untuk memberikan strategi – strategi yang dapat digunakan perusahaan dengan menggunakan diagram SWOT.

4.2 Valuasi Bisnis dengan Menggunakan Metode Keuangan

Dalam melakukan estimasi terhadap harga wajar saham perusahaan yang tergolong dalam sektor transportasi pelayaran akan menggunakan dua pendekatan ,yakni pendekatan discounted cash-flow techniques dan relative valuation techniques.

4.2.1 Pendekatan Discounted Cash Flow Techniques.

Seperti yang sudah dijelaskan pada bab 2 discounted cash-flow techniques adalah teknik menilai cash flow yang diterima di masa yang akan datang menjadi nilai sekarang dengan tingkat bunga yang diharapkan oleh investor. Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metode Free Cash Flow to Firm (FCFF).

A. Analisis FCFF

Berikut langkah-langkah melakukan analisis FCFF pada perusahaan

PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya ,tbk:

(3)

3) Menghitung Cost of debt (Kd) 4) Menghitung pajak (tax),

5) Menghitung proporsi hutang (Wd) dan modal (Ws) 6) Menghitung WACC

7) Mengestimasikan pendapatan dan komponen FCFF tahun 2013 dengan cara forecasting

8) Menghitung FCFF 9) Menghitung value of firm 10) Menghitung total equity

11) Menghitung nilai kewajaran harga saham BBRM dan membandingkan dengan harga saat IPO

A.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Dalam penelitian ini , penulis mengasumsikan estimasi harga wajar

saham berada di dalam pertumbuhan yang stabil (stable growth) . Stable

growth adalah keadaan dimana tidak ada pertumbuhan tinggi atau perusahaan

sudah dalam pertumbuhan stabil. Stable growth umumnya digunakan apabila

tingkat pertumbuhan perusahaan lebih kecil atau sama dengan tingkat

pertumbuhan ekonomi. Penulis menggunakan asumsi stable growth karena

banyak pesaing yang bergerak dalam bidang yang sama, bermain di pasar

dengan kompetisi yang kuat, sehingga tidak mungkin bagi perusahaan untuk

mencapai tingkat pertumbuhan tinggi yang tahan lama, sehingga digunakan

tingkat pertumbuhan yang lebih kecil atau sama dengan tingkat pertumbuhan

ekonomi. Berdasarkan data BPS ,mengenai perkembangan industri pelayaran

nasional bahwa jumlah penumpang pelayaran dalam negeri maret 2013

(4)

mencapai 579,1 ribu orang atau naik 3,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 5,29 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2012.

Selain itu, jumlah barang yang diangkut pelayaran dalam negeri pada bulan maret 2013 mencapai 17,2 juta ton atau naik 6,09 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Namun turun 8,96 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2012.

Disamping itu, terdapat pula pernyataan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Stastik (BPS) bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan-I tahun 2013 yaitu sebesar 6,02 persen. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang tumbuh 9,98 persen .Sejalan dengan itu, PDB triwulan 1 – 2013 meningkat sebesar 1,41 persen dibandingkan triwulan IV – 2012 .Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya PDB sektor pertanian , peternakan ,kehutanan dan perikanan sebesar 23,06 persen, sektor keuangan ,real estate dan jasa perusahaan sebesar 2,96 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 1,57 persen, dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,02 persen. Oleh karena itu, penulis akan menggunakan tingkat economic growth Indonesia untuk mendukung penelitian ini. Adapun data pertumbuhan ekonomi Indonesia penulis sajikan di halaman lampiran 1-2.

A.2 Biaya Ekuitas ( Cost of Equity)

Dalam penelitian ini, perhitungan cost of equity menggunakan Metode

(5)

membiayai ekuisitas seperti deviden dan biaya untuk saham preferen.

Komponen yang diperlukan untuk melakukan menghitung biaya ekuitas yaitu risk free rate ( BI rate) , return market (IHSG) dan beta. Beta yang digunakan dalam penelitan ini diasumsikan sama dengan rata-rata industri pelayaran.

perusahaan tersebut antara lain PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS), serta PT Trada Maritime Tbk (TRAM).

Dimensi penelitian dari tahun 2009 sampai tahun 2012.

Demikian halnya penetapan BI rate yang masih konsisten pada level 5,75% hingga saat ini ,berikut keterangan yang diperoleh dari data BI ,yaitu:

Tabel 4.1 BI Rate

Tanggal BI Rate

1 Jan 2013 5,75%

1 Jan 2012 6,00%

1 Jan 2011 6,50%

1 Jan 2010 6,50%

1 Jan 2009 8,75%

Sumber : www.bi.go.id

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha dengan

diturunkannya BI rate diharapkan dapat memberikan dorongan bagi

pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah menurunnya kinerja eknonomi

global, dengan tetap mengutamakan pencapaian sasaran inflasi dan stabilitas

nilai tukar rupiah. Dengan demikian perekonomian akan bertumbuh lebih

baik , sedangkan pertumbuhan IHSG mengalami peningkatan. Hal ini

dibuktikan dengan data Index Harga Saham Gabungan yang menunjukkan

peningkatan harga dari bulan desember 2012 hingga mei 2013 yang dari

(6)

Tabel 4.2 Indeks Harga Saham Gabungan

Date Open High Low Close

5/1/2013 5020,2 5251,3 4907,6 5085.14

4/1/2013 4927,12 5034,07 4864,86 5034,07

3/1/2013 4798,49 4940,99 4721,32 4940,99

2/1/2013 4458,6 4795,79 4457,45 4795,79

1/2/2013 4322,58 4472,11 4298,61 4453,7

12/3/2012 4277,19 4340,26 4222,13 4316.69

11/1/2012 4331,75 4381,75 4255,27 4276.14

10/1/2012 4249,69 4366,86 4214,52 4350,29

Sumber : http://finance.yahoo.com/q?s=%5EJKSE

Berdasarkan peningkatan IHSG yang cukup baik pada lima bulan pertama diawal tahun 2013, diperkirakan IHSG akan terus menguat. Hal ini merupakan sinyal yang bagus bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.

Langkah pertama ,penulis melakukan perhitungan tingkat

pengembalian harga saham (R

i

), dan tingkat pengembalian pasar (R

M

) dari

masing – masing tiga perusahaan seindustri yang telah dipaparkan diatas

secara mingguan. Tingkat pengembalian harga saham (R

i

) masing-masing

tiga perusahaan tersebut dihitung menggunakan fungsi (LN) dalam Microsoft

Excel. Berikut perhitungan tingkat pengembalian tersebut ialah:

(7)

- Tingkat pengembalian harga saham SMDR 5 Januari 2009

= LN (2825/2575) = 9,27%

- Tingkat pengembalian harga saham RIGS 5 Januari 2009 = LN (500/480) = 4,08%

- Tingkat pengembalian harga saham TRAM 5 Januari 2009

= LN (510/600) = 0,00%

- Tingkat pengembalian harga saham IHSG 5 Januari 2009

= LN (1363.88/1416.67) = -3,80%

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa terjadi kenaikan harga saham SMDR dan RIGS pada tanggal 12 Januari 2009 dibandingkan dengan minggu sebelumnya yaitu tanggal 5 januari 2008 yang menyebabkan tingkat pengembalian bernilai positif yaitu masing-masing sebesar 9,27% dan 4,08%.

Kenaikan harga saham dipicu oleh permintaan yang meningkat.

Faktor yang menyebabkan permintaan meningkat salah satunya adalah kinerja perusahaan yang baik .

Untuk tingkat pengembalian saham TRAM tidak mengalami perubahan yakni sebesar 0,00% ,karena saham dari minggu pertama hingga minggu kedua januari 2009 harga saham bernilai 50 . Sedangkan untuk IHSG ,tingkat pengembalian pasar (IHSG) menurun sebesar 3.80% yang artinya pasar saham secara keseluruhan sedang menurun /kurang baik. Untuk selanjutnya dilakukan perhitungan yang sama dengan contoh diatas, dan dilakukan sampai dengan 31 desember 2012.

Langkah berikutnya adalah menghitung perhitungan beta rata-rata (β)

. Beta tersebut ditentukan berdasarkan tingkat pengembalian harga saham

(8)

masing-masing tiga perusahan seindustri dan IHSG . Beta dapat dihitung dengan menggunakan fungsi slope dalam Microsoft Excel. Berikut hasil perhitungan beta rata – rata (β) ,ialah :

Tabel 4.3 Beta Rata- rata

Sumber: Hasil olahan data

Beta rata – rata yang dihasilkan yaitu sebesar 0.8765988 yang artinya ukuran sensifitas saham dari risiko pasar yang mengukur tingkat pengembalian saham tidak bergerak terhadap saham.

Beta yang diperoleh kurang dari 1 maka harga saham tersebut akan tidak bergerak / sensitive mengikuti pasar. Dengan kata lain, semakin besar nilai beta, semakin besar pula risiko saham tersebut.

Langkah ketiga , setelah menghitung tingkat pengembalian pasar (R

M

) dan Beta rata-rata (β) maka selanjutnya menghitung tingkat pengembalian hasil bebas risiko (BI rate) yang disimbolkan dengan RFR.

BI rate digunakan sebagai tingkat pengembalian harga saham karena BI rate mencerminkan keadaan ekonomi Indonesia. Dimensi rate yang digunakan dari tahun 2009 sampai dengan 2012 dibagi dengan 52 minggu (1

Beta (β) = SLOPE ( Ri, RM)

SMDR 0,623305

RIGS 0,898943

TRAM 1,1077672

Rata-rata 0,8765988

(9)

KS = RFR + (RM-RFR) x B

Ks = 6,49% + (27,85% - 6,49%) x 0,876599 = 25,22%

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka tingkat pengembalian hasil bebas risiko (RFR) adalah sebesar 6,49%. Hasil perhitungan ini akan digunakan untuk menghitung biaya ekuitas. Data-data harga saham , BI rate , dan perhitungan R

i

, R

M

dapat dilihat pada halaman lampiran L3 - L20 .

Setelah diperoleh hasil dari perhitungan ketiga komponen biaya ekuitas, yaitu tingkat pengembalian pasar (R

M

), beta rata-rata (β) dan BI Rate (RFR) , maka kita dapat menghitung biaya ekuitas (K

S

) dengan menggunakan CAPM. Perhitungan biaya ekuitas dengan pendekatan CAPM sebagai berikut.

Perhitungan biaya ekuitas (K

S

) beserta komponen-komponennya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4 Biaya ekuitas (Ks)

Mingguan Tahunan

RM 0,54% 27,85%

B 0,876599

RFR 0,125% 6,49%

KS 25,22%

RFR= Average (0.168%;0.111%)*52 minggu

=0,125 %* 52 =6,49%

(10)

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa selama periode 2009–2012 tingkat pengembalian saham pasar atau IHSG sebesar 0,54% per minggu atau 27,85% per tahun. Sedangkan koefisien beta sebesar 0,876 yang artinya sensitivitas harga saham tersebut lebih rendah dari IHSG, yang mana tingkat fluktuasi saham tersebut adalah 12,4 persen dari IHSG. Jika IHSG turun sebesar dua persen maka harga saham tersebut akan terkoreksi sebesar 1,75 persen ( 0,876 dikali dua persen ). Untuk BI rate atau tingkat pengembalian bebas risiko nilainya 6,49% per tahun .

Biaya ekuitas (K

S

) yang diperoleh dengan menggunakan metode perhitungan CAPM untuk tahun 2013 diperoleh hasil 25,22%. Biaya ekuitas sebesar 25,22% menunjukkan besarnya biaya yang perlu dibayarkan kepada investor seperti deviden.Nilai K

S

inilah yang akan dijadikan dasar untuk menghitung WACC.

A.3 Biaya Hutang ( Cost of Debt )

Biaya hutang (K

d

) merupakan biaya yang harus dibayar perusahaan

akibat meminjam dana dalam bentuk hutang. Pada umumnya biaya tersebut

dibayar dalam bentuk bunga (interest) yang besarnya tergantung dari tingkat

suku bunga yang diminta oleh kreditur.Besar tingkat suku bunga yang

dikenakan ada perusahaan biasanya mempertimbangkan dua faktor utama,

yaitu tingkat suku bunga yang berlaku dipasar dan risiko gagal bayar (default

risk) perusahaan.

(11)

Kd = RFR + Default Spread Country + Default Spread Firm Kd = 6,49% + 3,00% + 6,50% =15,99%

Dalam penelitian ini, biaya hutang dihitung dengan menggunakan Damodaran Spreadsheet. Dalam Damodaran Spreadsheet, dilihat default spread for country dan interest rate of bond berdasarkan bond rating Indonesia pada tahun 2012 yang dinilai oleh Standar & Poor’s .

Tabel 4.5 Tabel Bond Rating

Sumber: Damodaran Spreadsheet.

Dalam perhitungan biaya hutang (K

d

) Bina Buana Raya, penulis mengasumsikan bond rating Bina Buana Raya sesuai dengan peringkat obligasi yang dinilai oleh Standar & Poor’s untuk Indonesia pada 2012 yaitu BB+. Hal ini menunjukkan default spread sebesar 3,00% dan tingkat suku bunga yang berlaku dipasar sebesar 6,50%. Terdapat pula data pendukung peringkat obligasi Indonesai pada halaman lampiran L21. Berikut perhitungan biaya hutang (K

d

) tersebut adalah sebagai berikut:

Bond Rating Default Spread Interest Rate on Debt

AAA 0,50% 4,00%

AA 0,65% 4,15%

A+ 0,85% 4,35%

BBB 1,60% 5,10%

BB+ 3,00% 6,50%

BB 3,35% 6,85%

(12)

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, diperoleh biaya hutang sebesar 15,99% yang artinya tingkat suku bunga yang harus dibayarkan atas utang kepada lembaga pembiayaan yaitu 15,99%.

A.4 Pajak ( Tax )

Biaya modal berhubungan dengan beberapa faktor, antara lain yang berada diluar kendali perusahaan dan yang dipengaruhi oleh keputusan keuangan dan investasi. Salah satu faktor eksternal ialah tarif pajak.

Tarif pajak merupakan komponen untuk menghitung biaya hutang.

Biaya hutang setelah pajak akan menimbulkan biaya bunga yang menyebabkan penurunan biaya penghasilan. Penulis akan menghitung tarif pajak dengan menggunakan rata-rata keseluruhan pajak yang dibayarkan perusahaan.

Berikut ialah tabel tarif pajak selama periode 2009 – 2012 Tabel 4.6 Tarif Pajak

Sumber: hasil olahan data

Rata-rata pajak dari tahun 2009 sampai dengan 2012 adalah 7,9%.

Rata-rata pajak sebesar 7.9% akan digunakan dalam perhitungan WACC.

2009 2010 2011 2012

Pajak 5,0% 11,7% 7,45% 7,45%

Rata-rata Pajak 7.9%

(13)

A.5 Menghitung proporsi hutang (Wd) dan modal (Ws)

Biaya modal merupakan kombinasi yang berasal dari hutang jangka panjang dan laba ditahan atau ekuitas. Data yang diperlukan dalam menghitung proporsi struktur modal perusahaan ialah laporan keuangan perusahaan dalam bentuk laporan posisi keuangan selama periode 2009 – 2012. Hasil dari komponen modal tersebut merupakan total keseluruhan sumber pendanaan yang dimiliki PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk. Berikut ialah proporsi struktur modal perusahaan dalam bentuk hutang dan ekuitas.

Tabel 4.7 Proporsi Struktur Modal

Sumber: hasil olahan data

2009 2010 2011 2012

Jumlah Hutang

Jangka Panjang 35.095.135.000 223.136.902.737 644.258.022.696 461.732.849.340 Jumlah Ekuitas 5.413.507.000 (8.988.905.097) 205.485.051.280 548.406.229.410

Total 40.508,642,000 214.147.997.640 849.743.073.976 1.010.139.078.750

Bobot hutang

(Wd) 86,64% 104,20% 75,82% 45,71%

Bobot ekuitas

(Ws) 13,36% -4,20% 24,18% 54,29%

Total 100% 100% 100% 100%

Rata-rata

Proporsi

Wd 78,09%

Ws 21,91%

Total 100,00%

(14)

Dalam hasil perhitungan tahun 2009 diperoleh proporsi struktur modal perusahaan terdiri dari 86,64% hutang dan 13,36% ekuitas. Hal ini menunjukkan bahwa PT Bina Buana Raya memiliki banyak hutang dibandingkan dengan proporsi ekuitasnya. Faktor yang menyebabkannya adalah perusahaan sedang melakukan ekspansi yang mana perusahaan menambah jumlah armada kapal dengan menambah obligasi, meminjam dana dari bank dan lembaga keuangan lainnya.

Sedangkan pada tahun 2012 ,proporsi struktur modal mengalami perubahan yang mana nilai ekuitas lebih besar dibandingkan dengan hutang.

Hal ini disebabkan laba dari operasi perusahaan selama tiga tahun berekspansi mampu menutupi hutang jangka panjang. Penulis mengambil rata-rata struktur permodalan perusahaan,yaitu 78.09% hutang dan 21.91%

ekuitas selama periode 2009 – 2012 untuk menghitung WACC tahun 2013.

A.6 Menghitung Weighted Average Cost of Capital (WACC)

Biaya modal merupakan kombinasi yang berasal dari hutang jangka

panjang dan laba ditahan atau ekuitas. Setelah menentukan semua komponen

WACC,yaitu rata-rata komponen biaya utang setelah pajak, biaya laba

ditahan, dan proporsi struktur modal perusahaan, maka akan dapat

menghitung WACC . Perhitungan WACC PT Pelayaran Nasional Bina Buana

Raya Tbk ,dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

(15)

Berikut Perhitungan WACC:

Tabel 4.8 Weighted Average Cost of Capital

BBRM

WACC

2013 KETERANGAN

Cost of debt (Kd) 15,99% a

cost of equity (Ks) 25,22% b

1-tax 92,10% c

Bobot hutang (Wd) 78,09% d

Bobot ekuitas (Ws) 21,91% e

WACC 17,026% ((d x (a x c))+(e x b))

Sumber: hasil olahan data

Demikian hasil perhitungan WACC adalah 17,026% artinya tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor maupun kreditor atas biaya modal yang ditanamkan mereka yaitu sebesar 17,026%. Berikutnya hasil perhitungan WACC tersebut akan digunakan untuk periode estimasi tahun 2013 (forecasting).

A.7 Mengestimasikan Pendapatan dan komponen FCFF tahun 2013 dengan cara forecasting

Peramalan Pendapatan PT Pelayaran Bina Buana Raya Tahun 2013 Pendapatan PT Pelayaran Bina Buana Raya dapat dihitung dengan mengasumsi rata-rata tingkat inflasi dibawah 10% .Data ini diperoleh dari penetapan inflasi Bank Indonesia . Selanjutnya ,tingkat inflasi akan dikalikan dengan data pendapatan yang disajikan dalam laporan keuangan tahun 2012.

Prediksi pendapatan PT Pelayaran Bina Buana Raya ini, akan digunakan

(16)

dalam memprediksikan Free Cash Flow to Firm pada tahun 2013 dan selanjutnya dapat dibandingkan harga IPO harga saham Bina Buana Raya.

Prediksi pendapatan PT Pelayaran Bina Buana Raya pada tahun 2013 adalah sebagai berikut:

Berdasarkan perhitungan diatas, diperkirakan nilai estimasi pendapatan tahun 2013 sebesar Rp365.001.794.135,00, artinya estimasi pendapatan 2013 terjadi peningkatan sekitar 10% dari tahun 2012 yakni sebesar Rp331.819.812.850,00. Hal ini disebabkan estimasi perhitungan menggunakan tingkat inflasi sebagai faktor yang mempengaruhi pendapatan.

Perkiraan komponen FCFF 2013

Dalam memperkirakan FCFF tahun 2013, maka penulis juga melakukan peramalan untuk masing – masing komponen FCFF, yaitu EBIT (1-Tax Rate). Depreciation and amortization expense, capital expenditures (CAPEX), dan change in working capital.

Setiap komponen dihitung dengan cara percentage of sales method.

Berikut ini adalah contoh perhitungan PSM EBIT (1-T) , PSM depreciation and amortization , dan PSM Capital Expenditure , tahun 2012 yakni:

Estimasi Pendapatan 2013 = Rp331.819.812.850 x 110/100 = Rp365.001.794.135,00

(17)

Komponen (a) Pendapatan (b) PSM Rate (a / b)*100%

EBIT(1-T) = 112.726.502.575 Rp331.819.812.850 33.97%

Depresiasi = 75.005.577.410 Rp331.819.812.850 22,60%

Capital Ex = 299.873.768.770 Rp331.819.812.850 90,4%

∆Working Cap = (98.259.581.854) Rp331.819.812.850 -29,61%

Berdasarkan perhitungan diatas, pada tahun 2012 PSM EBIT (1-T) sebesar 33,97% , PSM Depresiasi sebesar 22,60% ,PSM CAPEX sebesar 90,4% serta PSM delta WC sebesar -29,61%. Khusus untuk working capital, dalam FCFF digunakan perubahannya ( , maka dapat

diketahui dengan cara mengurangkan WC tahun 2012 dan 2011. Working Capital yang digunakan dalam perhitungan FCFF yaitu non-cash working capital yang komponennya terdiri dari piutang usaha, persediaan dan hutang usaha.

Hasil masing-masing persentase PSM 2012 yang diperoleh kemudian dihitung dengan menggunakan asumsi tingkat inflasi yang dikalikan dengan PSM masing- masing komponen 2012.

PSM EBIT (1 –T) =33.97% x 110/100 = 37,37%

PSM Dep 2013 =22,60% x 110/100 = 24,86%

PSM CAPEX 2013 =90,4% x 110/100 = 99,4%

PSM =-29,61% x 110/100 = -32,57%

(18)

Berdasarkan perhitungan diatas, maka diperoleh perkiraan PSM EBIT (1-T) 2013 adalah 37,37% , PSM Depresiasi sebesar 24,86% , PSM Capex sebesar 99,4%, serta delta working capital sebesar -32,57%.Setelah diperoleh percentage of sales method masing-masing komponen, dapat dihitung estimasi komponen EBIT (1-T) , depreciation and amortization, capital expenditure, dan change in working capital untuk tahun 2013 dengan perkiraan pendapatan yang telah dihitung sebelumnya. Berikut perhitungan estimasi masing-masing komponen tahun 2013

Estimasi Pendapatan Estimasi PSM Hasil

EBIT (1-T) 2013 Rp365.001.794.135,00 37,37% Rp135.735.863.570,06 Dep 2013 Rp365.001.794.135,00 24,86% Rp90.756.748.666,10 CAPEX 2013 Rp365.001.794.135,00 99,4% Rp362.847.260.211,70

∆ WC 2013 Rp365.001.794.135,00 -32,57% (Rp118.894.094.043,34)

Berdasarkan perhitungan diatas, hasil yang diperoleh tahun 2013

adalah untuk komponen EBIT (1-T) sebesar Rp135.735.863.570,06 atau

peningkatan 21 persen dari tahun 2012, komponen depresiasi sebesar

Rp90.756.748.666,10 atau peningkatan 21 persen dari tahun 2012, komponen

CAPEX sebesar Rp362.847.260.211,70 atau peningkatan 21 persen untuk

mendukung kegiatan ekspansi perusahaan, dan komponen perubahan working

capital sebesar (Rp118.894.094.043,34) atau peningkatan 21 persen.

(19)

A.8 Melakukan Perhitungan FCFF

Tujuan dari penggunaan FCFF yaitu untuk menentukan nilai suatu ekuitas perusahaan setelah mengurangi jumlah dari nilai kewajiban perusahaan.Berdasarkan estimasi masing – masing komponen FCFF yang telah dilakukan maka estimasi FCFF untuk tahun 2013 sebesar (Rp254.585.537.474)

Dengan perhitungan estimasi FCFF adalah sebagai berikut:

Estimasi arus kas bernilai negatif tidak selalu berarti buruk . Hal ini tergantung pada sebab arus kas bebas tersebut bernilai negative. Banyak perusahaan yang pesat pertumbuhannya memiliki angka EBIT (1-t) positif tetapi FCFF negatif karena investasi pada aktiva operasi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhannya .PT Pelayaran Bina Buana Raya melakukan pembelian kapal untuk melakukan ekspansi , hal ini yang menyebabkan pembelanjaan modal tinggi sehingga hasil FCFF bernilai negatif atau minus.

A.9 Estimasi Nilai Intrinsik Saham

Estimasi harga wajar saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk pada tahun 2013 dapat dihitung dengan mengurangi nilai perusahaan dengan nilai hutang sehingga menghasilkan nilai ekuitas. Nilai tersebut dihitung dengan cara FCFF tahun 2013 dibagi dengan pengurangan WACC dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tingkat pertumbuhan

FCFF = Rp136.399.068.115 + Rp90.756.748.666 - Rp362.847.260.211,70 – ( Rp118.894.094.043,34) = ( Rp254.585.537.474)

(20)

ekonomi Indonesia yang digunakan adalah sebesar 6,02%. Kemudian, nilai ekuitas tersebut dibagi dengan jumlah saham yang beredar dan hasil perhitungan tersebut merupakan nilai wajar saham Pelayaran Nasional Bina Buana Raya pada akhir tahun 2013 yang akan dibandingkan dengan harga saham IPO . Berikut perhitungan nilai perusahaan tersebut ialah:

Berdasarkan perhitungan tersebut, nilai perusahaan sebesar (Rp2.313.197.011.896) . Hal yang menyebabkan nilai perusahaan negatif adalah hasil prediksi FCFF 2013 bernilai negatif.

A.10 Menghitung Ekuitas

Setelah menghitung nilai dari perusahaan tersebut, selanjutnya yaitu menghitung nilai ekuitas. Nilai ekuitas tersebut dihitung dengan cara nilai perusahan dikurangi dengan rata-rata dari total hutang jangka panjang yaitu:

Berdasarkan perhitungan tersebut , maka diperoleh nilai ekuitas sebesar (Rp2.651.984.661.744) yang berarti nilai ekuitas perusahaan mengalami defisiensi modal yang disebabkan oleh hasil perhitungan FCFF yang bernilai negatif.

Value of Firm = FCFF / ( WACC – g ) = (Rp254.585.537.474)/ (17,03%-6.02%)

= (2.313.197.011.896)

Total Equity = (Rp2.313.197.011.896) - Rp338.787.649.848 = (2.651.984.661.744)

(21)

A.11 Menghitung nilai kewajaran harga saham BBRM dan membandingkan dengan harga saat IPO

Dengan mengetahui total ekuitas dengan perhitungan yang disajikan diatas,maka nilai estimasi harga wajar saham (intrinsic value) perusahaan sudah dapat dihitung. Nilai harga saham terebut diperoleh dengan membagi nilai ekuitas dengan jumlah saham yang beredar. Berikut hasil perhitungannya

Berdasarkan perhitungan diatas, estimasi harga wajar saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya pada tahun 2013 adalah sebesar Rp - 985,00 . Dari hasil estimasi harga wajar saham tersebut dibandingkan dengan harga pasar untuk dinilai apakah harga saham IPO BBRM dinilai undervalued atau overvalued. Berdasarkan data yang telah dipublikasikan harga saham BBRM ketika IPO yaitu Rp230,00.

Dari perbandingan nilai intrinsik dengan nilai pasar saham yang diketahui, dapat dilihat bahwa penilaian harga saham BBRM pada saat IPO dinilai overvalued yaitu nilai intrinsik sebesar – Rp985 kurang dari harga pasar. Hal ini disebabkan perusahaan sedang melakukan ekspansi yakni tampak dari jumlah pembelanjaan modal yang cukup signifikan meningkat.

4.2.2 Relative valuation techniques

Pendekatan Relative Valuations digunakan untuk memperkirakan nilai saham dengan membandingkan harga suatu saham yang memiliki karakteristik usaha yang hampir sama seperti memperhatikan pendapatan,

Nilai Intrinsik = (Rp2.651.984.661.744)/ 2.691.014.209 = (Rp985)

(22)

nilai buku atau pernjualannya. Untuk menilai harga/nilai wajar saham perusahaan pelayaran tersebut akan menggunakan metode Price to Book Value ratio (PBV) ,Price Earning ratio (PER), Price Sales Ratio (PSR) .Untuk membandingkan PBV dan PER suatu saham,sebaiknya menggunakan saham dari perusahaan sejenis di industri yang sama.

4.2.2.1 Valuasi harga saham BBRM dengan menggunakan Price

Earning Ratio (PER)

Dalam melakukan valuasi saham BBRM ,penulis menggunakan metode PER yang telah banyak dipergunakan oleh para analisis pasar saham.

Dalam menghitung PER atau P/E rasio, komponen yang digunakan dalam metode ini adalah harga saham setiap perusahaan dibagi dengan total saham dilusian yang beredar. Penulis menggunakan metode PER untuk menghitung harga saham dan membandingkan harga saham dengan harga pasar. Harga saham diperoleh dengan mengambil PER masing-masing perusahaan pembanding (TRAM, SMDR dan RIGS) melalui website resmi reuter.Selanjutnya, menghitung rata-rata PER dari perusahaan pembanding.

Kemudian rata-rata PER tersebut dikalikan dengan EPS Diluted BBRM.

Hasil perhitungan tersebut dibandingkan harga IPO saham BBRM. Berikut

gambaran dan hasil perhitungan PER:

(23)

Tabel 4.9

PER rata-rata Industri tahun 2012

PER

TRAM 178,08

SMDR 8,92

RIGS 4,28

rata-rata PER 63,76

Sumber: Hasil olahan data

Berdasarkan keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai PER

yang tertinggi adalah TRAM yakni sebesar 178.08 ,artinya, harga pasar

saham tersebut 178,08 kali lipat terhadap EPSnya.Semakin besar price

earning ratio suatu saham maka harga saham tersebut akan semakin mahal

terhadap pendapatan bersih per sahamnya.Sebaliknya nilai PER terendah

adalah RIGS yakni sebesar 4,28 kali. Perusahaan dengan tingkat

pertumbuhan yang rendah cenderung mempunya price earning ratio yang

rendah pula. Semakin rendah price earning ratio suatu saham maka semakin

baik atau murah harganya untuk diinvestasikan. Price earning ratio menjadi

rendah nilainya bisa karena harga saham cenderung semakin turun atau

karena meningkatnya laba bersih perusahaan. Jadi semakin kecil nilai price

earning ratio maka semakin murah harga saham tersebut untuk dibeli dan

semakin baik pula kinerja per lembar saham dalam menghasilkan laba bagi

perusahaan. Hasil perhitungan PER rata- rata yang telah disajikan diatas

adalah sebesar 63,76 kali yang berarti harga pasar saham tersebut 63,76 kali

(24)

Setelah menghitung PER rata-rata langkah selanjutnya adalah menghitung EPS BBRM dengan membagi total laba komprensif dengan saham dilusian yang beredar . EPS merupakan gambaran mengenai sejumlah rupiah yang akan didapat oleh investor dari setiap jumlah saham yang dimilikinya. Oleh karena itu, dengan mengetahui EPS suatu perusahaan maka investor dapat menilai potensi pendapatan yang akan diterimanya.Berikut perhitungannya:

Menghitung EPS BBRM

Total Laba Komprehensif (a) 67.758.115.480 Saham dilusian yang beredar(b) 2.691.014.209 EPS(a/b) 25,18

Berdasarkan perhitungan EPS maka diperoleh EPS BBRM sebesar 25,18 , yang berarti menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam menghasil laba untuk tiap lembar sahamnya sebesar 25,18 . Selanjutnya, penulis dapat menghitung harga saham dengan memasukan komponen EPS BBRM dan PER rata – rata dalam rumus Price Earning Ratio.

Berdasarkan hasil perhitungan Price Earning Ratio , maka diperoleh

Price = PER x EPS

Price = 63.76 x 25.18 = Rp1.605,48

(25)

industri pembanding memiliki nilai yang cukup tinggi sehingga harga intrinsik akan terpengaruh juga.

4.2.2.2 Valuasi harga saham BBRM dengan menggunakan Price to Book

Value Ratio (PBV)

Dalam menilai harga/nilai wajar saham perusahaan tersebut ,penulis menggunakan metode Price to Book Value ratio (PBV). Untuk membandingkan PBV suatu saham, sebaiknya menggunakan BV saham dari perusahaan sejenis di industri yang sama. Rasio atas harga pasar saham terhadap nilai bukunya (price to book value ratio / PBV ratio ) memberikan indikasi yang lain tentang bagaimana investor memandang perusahaan.

Perusahaan dengan tingkat pengembalian ekuitas yang relatif tinggi biasanya menjual dengan perkalian nilai buku yang lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan yang pengembaliannya rendah. Jika sebuah perusahaan memiliki tingkat pengembaliaan yang rendah atas aktivanya, maka rasio PBV-nya juga akan relative rendah terhadap rata-rata perusahaan. Rasio nilai pasar terhadap nilai buku telah dipaparkan sebelumnya di bab 2 yaitu:

Nilai buku per lembar saham dihitung dengan membagi nilai bersih (net worth) atau nilai ekuitas perusahaan dengan jumlah saham yang beredar.

PBV = Harga pasar per lembar saham Nilai buku per lembar saham

Price = Price Book Value x BVS

(26)

Dalam penelitian ini,penulis akan menghitung nilai buku BBRM , dan rata- rata PBV industri.

Langkah pertama menghitung book values share dengan membagi total asset atau net worth BBRM terhadap jumlah saham yang beredar.

BV BBRM (a-b)/ c 199.79 Total Aset 2012 ( a ) 1,326,869,081,640 Total Debt 2012 ( b ) 789,238,155,600 Outstanding Share ( c ) 2,691,014,209

Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh book value per shares BBRM sebesar 199,79 yang akan digunakan untuk menghitung price dengan menggunakan rumus PBV. Langkah berikutnya ialah menghitung rata-rata PBV industri pembanding yaitu RIGS, SMDR dan TRAM. Berikut perhitungan PBV setiap perusahaan pembanding:

Tabel.4.10

Price Book Value rata -rata

Menghitung PBV rata - rata Industri

SMDR TRAM RIGS

Market Closed Price (31

desember 2012) 4.025,00 1.160,00 455,00

Total Ekuitas 2.746.515.522.520 1.306.460.785.760 967.556.315.100 Jumlah saham beredar 90.760.100 9.298.253.030 611.770.707

Book Values 30.261,27 140,51 1.581,57

PBV 0,133008315 8,255872379 0,287689375

(27)

Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh PBV SMDR sebesar 0.133 kali, PBV TRAM sebesar 8,25 kali serta PBV RIGS sebesar 0,28 . Dalam hal ini nilai PBV yang memiliki PBV ratio terendah adalah SMDR , sedangkan PBV ratio tertinggi adalah PBV TRAM yakni sebesar 8,25 kali yang berarti semakin tinggi nilai PBV, maka semakin mahal harga sahamnya.

Langkah selanjutnya adalah menghitung price BBRM dengan mengalikan book value per share dengan PBV rata- rata . PBV rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan fungsi average dalam Microsoft Excel.

Berikut penyajiannya:

Perhitungan PBV BBRM

PBV rata- rata Industri (a) 2,892190023

BV BBRM(b) 199,79

Price (a x b) 577,82

Berdasarkan perhitungan diatas, dapat diperoleh nilai intrinsic BBRM adalah sebesar Rp 577,82 . Hasil perhitungan ini akan digunakan untuk membandingkan dengan harga pasat saat ini. Jika dibandingkan maka nilai intrinsik lebih besar dari pada harga pada saat IPO sehingga dinilai undervalued.

PBV rata-rata = Average (0,133;5,25;0,28) =2,892

(28)

4.2.2.3 Valuasi harga saham dengan menggunakan Price to Sales Ratio (PSR)

Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan metode Price sales ratio untuk menghitung harga saham. PSR digunakan untuk menilai suatu perusahaan yang masih baru atau belum mendapatkan keuntungan. PSR diperoleh dari harga saham dibagi dengan penjualan per lembar saham.Rasio ini digunakan karena angka penjualan dianggap relative dapat diandalkan.

Komponen yang akan digunakan dalam metode ini adalah PSR dari masing- masing perusahaan pembanding yakni, SMDR , RIGS, dan TRAM. PSR masing-masing perusahaan kemudian diratakan . sedangkan komponen berikutnya ialah penjualan per lembar saham diperoleh dengan menghitung penjualan BBRM dibagi dengan saham yang beredar. Berikut hasil perhitungannya:

Tabel 4.11

Price Sales Ratio rata-rata

SMDR RIGS TRAM

Stock Price 4.025,00 455,00 1.160.00 Revenue 5.937.679.760.330 869.448.614.520 526.177.703.710 Shares 90.760.100 611.770.707 9.298.253.030 Revenue per shares 65.421,70 1421,20014 56,58887772 P/S 0,061523931 0,32 20,50

Rata-rata P/S 6,960134556

(29)

Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang memiliki PSR terendah adalah SMDR , sebaliknya PSR tertinggi dipegang oleh TRAM dengan nilai sebesr 20,50. Bertolak belakang dengan PER, jika PSR semakin rendah maka menunjukan semakin bagus. Dari masing-masing PSR tersebut,kemudian dirata-ratakan dengan menggunakan rumus average dalam Microsoft excel sehingga diperoleh nilai PSR rata-rata sebesar 6.96.

Selanjutnya, penulis akan menghitung penjualan per lembar saham milik PT Pelayaran Nasional Bina Buana raya. Berikut perhitungannya.

Setelah diperoleh penjualan per lembar saham BBRM, langkah berikutnya adalah menghitung Price dengan mengalikan penjualan per lembar saham BBRM dengan hasil perhitungan rata- rata PSR. Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh nilai intrinsic sebesar Rp858,23

BBRM

P/S rata-rata 6,96010

Revenue 331.819.812.850

Shares 2.691.014.209,00

Revenue per shares BBRM 123,31

Price = P/S x Penjualan per lembar saham Price = 6,96 x 123,31 = Rp858,23

(30)

4.3 Perbandingan Nilai Intrinsik dan Nilai Pasar Saham PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk

Bagian terakhir dari bab pembahasan dimaksudkan penulis memberikan perbandingan metode perhitungan nilai intrinsik manakah yang paling terbaik dengan cara membandingkan hasil valuasi berdasarkan keempat metode yang telah penulis uraikan pada paragraph sebelumnya, yakni FCFF, PER, PBV serta PSR dengan harga actual tahun 2012. Sebagaimana perhitungan fundamental saham Pelayaran Bina Buana Raya didasarkan kepada laporan keuangan tahun 2009 hingga 2012 , maka penulis membandingkan dengan harga saham aktual di akhir tahun 2012.Tabel perbandingan disajikan dibawah ini:

Tabel 4.12

Tabel Perbandingan Nilai Intrinsik

Sumber: hasil perhitungan penulis diolah kembali

Secara garis besar, metode valuasi berbasiskan price multiple yakni PER,PBV, dan PSR memberikan hasil bahwa harga pasar dan nilai intrinsik saham BBRM tidak mereflesikan nilai wajar saham perusahaan tersebut. Dari hasil olahan tersebut, nilai intrinsik lebih besar dari pada harga pasarnya, sehingga menunjukkan saham BBRM dinilai undervalued. Berdasarkan hasil penelitian maka metode

FCFF PER PBV PSR

Valuasi BBRM.JK

-985 1605.47 577.82 858,23

Actual Price 230 230 230 230

overvalued Undervalued Undervalued undervalued

(31)

sejenis usaha dan skala bisnisnya dalam industri sejenis pada studi ini adalah pelayaran.

Hasil yang diperoleh dengan metode Free Cash Flow to Firm sebagaimana diakui banyak praktisi keuangan maupun akademis (Damodaran 1996; Stowe et 2002, Stowe et al 2007) menganggap metode valuasi ini dapat diterapkan pada banyak perusahaan tanpa terlalu fokus kepada kebijakan dividen dan atau struktur modal perusahaan tersebut. Free Cash Flow juga sangat bermanfaat bagi pemilik saham minortas dimana pemegang saham tersebut dapat memperoleh nilai pasar saham yang sama dengan nilai pemegang saham pengendali.Berdasarkan perhitungan dengan metode FCFF hasil yang diperoleh adalah overvalued, yang mana nilai intrinsik lebih kecil dibandingkan harga pasarnya.

4.4 Valuasi Bisnis dengan Menggunakan Metode Non Keuangan 4.4.1 Analisis SWOT

Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan yang ada serta pemahaman akan

ancaman dan peluang merupakan hal yang penting dilakukan dalam menjabarkan

strategi perusahaan. Hal ini terutama dimaksudkan untuk lebih mengetahui secara

lebih detail terhadap lingkungan usaha masing – masing secara lebih spesifik. Dalam

memahami karakteristik lingkungan usahanya, diharapkan setiap bisnis unit dengan

core competencies yang dimilikinya, mampu memanfaatkan setiap peluang yang

timbul dan dapat mengantisipasi setiap kemungkinan buruk yang akan dihadapi oleh

perusahaan. Setelah diuraikan mengenai kondisi lingkungan industri pelayaran ,

maka dapat disimpulkan hal – hal yang menjadi kekuatan , kelemahan , peluang dan

ancaman bagi perusahaan saat ini. Selanjutnya ,penulis dapat merumuskan strategi –

strategi yang tepat dengan menggunakan diagram SWOT.

(32)

Hasil dari analisis diagram SWOT akan menggambarkan dan menjabarkan strategi – strategi yang tepat bagi PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya ,Tbk dalam mengatasi dan mengelola kelemahan serta ancaman dari pihak eksternal perusahaan dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang yang ada untuk mengambil keuntungan.

A. Kekuatan ( Strenght )

Kekuatan adalah keadaan positif di dalam internal perusahaan yang dapat membantu meningkatkan daya saing perusahaan. Beberapa kekuatan yang dimiliki oleh PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk yang dapat diidentifikasi diantaranya:

1) Armada yang baru dan berkembang

Armada yang masih baru ( rata – rata usia kapal kurang dari lima tahun)

mengurangi biaya pemeliharaan dan asuransi. Selain itu, armada juga

melayani beragam industri ketergantungan pada tertentu. Perseroan memiliki

kapal dengan ukuran yang bervariasi dari 240 feet jumbo , 250 feet jumbo

,300 feet jumbo dan 310 feet , sehingga dapat memberikan pelayanan untuk

cakupan daerah luas. Kapal Perseroan dengan ukuran 240 feet jumbo juga

dilengkapi dengan pintu pendarat (rampdoor) yang memungkinkan perseroan

untuk tetap dapat melakukan bongkar muat di daerah-daerah yang belum

memilki pelabuhan yang permanen.

(33)

memonitor kecepatan kapal setiap saat dan memastikan bahwa jadwal waktu kedatangan kapal dapat ditepati. Sistem tersebut juga memungkinkan Perseroan untuk mengoptimalkan tingkat utilisasi kapal dan memenuhi kebutuhan pelanggan secara fleksibel dan tepat waktu, yang pada gilirannya mampu memberikan kepastian akan kelanjutan hubungan jangka panjang perseroan dengan para pelanggan.Sistem pengawasan tersebut juga memampukan perseroan untuk mengetahui lokasi kapal dalam hal terjadi kasus pembajakan dan dapat mencegah setiap serangan potensial terhadap kapal perseroan, selain itu juga mengontrol pencurian bahan bakar dari kapal perseroan.

3) Manajemen Inti yang berkomimen dan berpengalaman

Dipelopori oleh tim manajemen yang kompeten dan berpengalaman, dan ketajaman pengelolaan bisnis yang kuat dan hubungan jaringan kerja yang luas di Indonesia, hal ini berperan penting dalam pertumbuhan strategis dan pengembangan bisnis BBR.

4) Sinergi dengan anak perusahaan afiliasi ( Grup MPM )

Dengan adanya dukungan dari Grup MPM , perseroan dapat memperoleh

armada kapal yang berkualitas dengan pengiriman yang tepat

waktu.Perseroan juga dapat mengawasi pelaksanaan perbaikan dan

pemeliharaan atas armadanya, dan selanjutnya mengontrol biaya – biaya

perbaikan dan pemeliharaan dengan lebih baik. Selain itu, perseroan dapat

mengatur pertumbuhan jumlah armadanya dan mengoptimumkan

penggunaan sumberdaya Grup MPM yang tersediam yaitu dalam hal fasilitas

(34)

, peralatan dam tenaga kerja.Dengan demikian .BBR mampu menyediakan jasa penyewaan kapal dan layanan pengiriman yang terintegrasi yang menghasilkan fleksibilitas operasional dan efisien untuk klien.

5) Membentuk catatan pengiriman

Dengan lebih dari 13 tahun pengalaman dan keahlian, BBR telah membentuk hubungan jaringan kerja yang luas dengan klien kami. Catatan pengiriman yang dibuat dengan klien dan rekan kami adalah bukti dari layanan kualitas dan respon terhadap kebutuhan klien.

6) PT Pelayaran Bina Buana Raya memiliki reputasi yang cukup dikenal di provinsi Riau

Dengan memiliki reputasi yang baik diprovinsi Riau ,maka perseroan memiliki kekuatan lebih dominan dikenal oleh pelanggan.

7) Armada yang cukup untuk menunjang kegiatan usaha perseroan

Perseroan memiliki armada berbendera Indoneisa sebanyak 35 kapal tunda,

32 tongkang, 1 SPB dan 3 kapal AHTS. Selain armada di atas, perseroan juga

sedang melakukan pembangunan dan pengikatan atas pembangunan 4 kapal

tunda, 5 tongkang dan 4 kapal AHTS tambahan.

(35)

B. Kelemahan (Weakness)

Kelemahan adalah kekurangan atau hal-hal yang negatif yang terdapat di dalam perusahaan yang dapat mengancam menurunnya daya saing perusahaan.Kelemahan yang dimiliki PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk, diantaranya:

1) Dana pengembangan terbatas

Dana yang terbatas akan menghambat dalam melakukan ekspansi,maka perseroan melakukan penawaran umum untuk mendapat sejumlah dana dalam mendukung aktivitas pengembangan

2) Biaya operasional tinggi

Biaya operasional yang tinggi disebabkan seiring dengan bertambahnya aset tetap perseroan berupa pembelian kapal maka terjadi peningkatan biaya diesel dan grease untuk operasi dan aktivitas pengangkutan dan penyewaan kapal ,biaya gaji dan upah awak kapal, biaya gaji dan tunjangan seiring bertambahnya karyawan untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan.

3) Tingginya tingkat hutang yang masih harus dibayar

Tingginya hutang yang masih harus dibayar disebabkan karena perseroan

melakukan ekspansi dengan menambah jumlah armada kapal perseroan

dengan menambah obligasi sebesar USD20.000.000 serta peminjaman

melalui bank dan lembaga keuangan lainnya.

(36)

4) Tingginya risiko kredit pelanggan, karena keterlambatan pembayaran atau gagal bayar pelanggannya. Tidak ada kepastian bahwa perseroan akan dapat menagih piutang tersebut pada waktunya atau seluruhnya.

5) Kurangnya sumber daya manusia yang profesional

Dengan bertambahnya armada kapal ,maka perusahaan wajib menambah sumber daya manusia. Jika ketersediaan jumlah sumber daya manusia berkurang maka dapat mengganggu bisnis operasional perusahaan.

6) Tidak memiliki asuransi yang cukup

Dalam hal ini perusahaan harus memiliki asuransi yang memadai .Mengingat risiko perusahaan yang sangat rentan terjadi yakni risiko tenggelam, kecelakaan, polusi lingkungan, bencana laut, kerusakan muatan dan properti, pemogokkan awak kapal, serta cuaca buruk.

C. Peluang

Peluang adalah kondisi – kondisi eksternal perusahaan yang dapat membantu perusahaan mencapai daya saing strategiknya. Peluang – peluang yang dapat diperoleh PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk, diantaranya adalah:

1) Regulasi pemerintah dengan diberlakukan asas cabotage Undang undang

No.17 tahun 2008 , dimana pengangkutan barang melalui laut wajib

menggunakan kapal berbendera Indonesia , terutama untuk sektor penunjang

(37)

Selain itu, pembatasan ini bertujuan untuk mendukung pelayaran nasional agar dapat berkembang ,serta merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi devisa yang keluar akibat pembayaran sewa kepada kapal berbendera asing.

2) Regulasi pemerintah dengan diberlakukan Perpres No.36 tahun 2010 tentang daftar negatif investasi membatasi kepemilikan modal asing pada bidang usaha angkutan laut dalam negeri dan luar negeri Indonesia sampai dengan 49%. Dengan peraturan tersebut berdampak positif pada prospek pertumbuhan bisnis perseroan karena tingkat kompetisi dapat diminimalkan khususnya dari pihak asing.

3) Potensi pasar di dalam negeri yang mana kondisi geografi Indonesia sangat

mendukung industri jasa pelayaran angkutan barang – barang curah antara

lain batu bara, nikel dan batu split, serta jasa minyak dan gas bumi lepas

pantai.Indonesia sebagai Negara kepulauan dengan sekitar 13.000 pulau

memiliki garis pantai sepanjang sekitar 104.000 km, yang menjadikannya

sebagai Negara maritime . Luas laut di Indonesia mencapai 2,54 jta km

2

,

yang terdiri atas 0,28 juta km

2

perairan teritiorial , 0,28 juta km

2

perairan

pedalaman dan kepulauan, serta 2,98 juta km

2

zona ekonomi ekslusif

(Sumber: Perkembangan beberapa indicator utama sosial – ekonomi

Indonesia , Biro Pusat Statistik, Agustus 2012) . Jumlah pulau tersebut

berdasarkan hasil survey dan verifikasi yang dilakukan oleh kementerian

Kelautan dan Perikanan dan Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal

Perhubungan Laut.Sebagai Negara maritime yang mempunyai wilayah

(38)

perairan yang cukup luas,Indonesia memerlukan sarana transportasi kapal untuk menjangkau pulau – pulau dan menghubungkan daratan yang satu ke daratan lainnya. Oleh karena itu, peran kapal sangat dibutuhkan tidak hanya sebagai sarana transportasi tetapi juga untuk sistem pertahanan di wilayah Indonesia.

4) Semakin berkembangnya teknologi akan membantu perusahaan ,yakni dengan adanya teknologi baru atau kapal – kapal cepat yang baru akan memperoleh kemudahan dan membantu lebih cepat dalam menjalankan aktivitas perusahaan tersebut.

D. Ancaman

Ancaman adalah suatu kondisi eksternal perusahaan yang dapat mengganggu perusahaan dalam meningkatkan daya saing.Ancaman yang dihadapi oleh PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya diantaranya adalah:

1) Perseroan bergerak dalam industri yang kompetitif

Industri penyewaan kapal merupakan industri yang terfragmentasi

dengan banyak penyedia jasa , pemilik dan operator kapal skala besar

maupun kecil. Para pesaing perseroan maupun pendatang baru dapat

memiliki biaya operasional yang lebih rendah dan akses keuangan , teknologi

dan sumber daya lain yang lebih baik dari perseroan. Pesaing lain yang

memiliki sumber daya dan kemampuan dibawah perseroan dapat

(39)

harga yang lebih rendah dan atau waktu persiapan yang lebih pendek , perseroan mungkin harus menurunkan harga sewanya untuk mendapatkan kontrak, yang akan berakibat pada marjin keuntungan yang lebih rendah.

Selain itu, perseroan dapat kehilangan kontrak yang sedang diprospeknya.

2) Kondisi kurs mata uang yang fluktuasi

Sebagian besar dari pendapatan perseroan diterima dalam USD dan sisa dalam Rupiah dan SGD, sementara sebagian besar biaya operasional adalah mata uang rupiah. Di samping itu, terdapat pinjaman perseroan adalah dalam mata uang SGD dan selain dari pinjaman perseroan yang sebagian besar dalam mata uang USD. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap USD dan SGD secara signifikan dapat mempengaruhi posisi dan kinerja keuangan perseroan secara negatif.

3) Harga bahan bakar yang fluktuasi

Harga dan pasokan bahan bakar tidak dapat diprediksi dan

berfluktuasi diluar kendali perseroan.Kenaikan harga bahan bakar akan

mempengaruhi kegiatan usaha perseroan,terutama pada kontrak sewa

pengangkutan (voyage charter) dimana perseroan menanggung seluruh biaya

operasional kapal termasuk bahan bakar. Jika perseroan tidak dapat

membebankan kenaikan harga bahan bakar kepada pelanggan, tingkat

keuntungan yang diterima akan berkurang dan karenanya kinerja keuangan

perseroan akan dipengaruhi secara negatif.

(40)

4) Adanya bencana alam seperti kebakaran , ledakan , tenggelamnya kapal, tabrakan, atau bencana laut lainnya, polusi lingkungan, kerugian atau kerusakan muatan dan properti dan gangguan terhadap kegiatan operasional karena gangguan mekanis ,kesalahan manusia ,aksi politis ,pemogokan awak kapal ,kondisi cuaca buruk dan hal lain. Situasi tersebut akan menimbulkan akibat yang negatif terhadap citra perusahaan dan kinerja keuangan.

4.4.2 Diagram SWOT

Berdasarkan penjelasan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman tersebut maka dapat diambil kesimpulan untuk menghadapi ancaman dan kelemahan dengan menggunakan kekuatan dan peluang yang dimiliki , PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk , melakukan strategi – strategi bisnis dalam menciptakan keunggulan kompetitifnya,

Tabel 4.13

Diagram SWOT PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk

Internal Factors (IFAS)

STRENGHT:

- Armada yang baru dan berkembang - Memiliki Sistem

Pengawasan Satelit

WEAKNESS:

- Dana pengembangan terbatas

- Biaya operasional

tinggi

(41)

Berpengalaman - Sinergi dengan anak

perusahaan afiliasi - PT Pelayaran Bina

Buana Raya memiliki brand yang cukup dikenal di provinsi Riau

- Kurangnya sumber daya manusia yang professional - Tidak memiliki

asuransi yang cukup untuk menjamin biaya yang mungkin terjadi

OPPORTUNITIES - Regulasi

pemerintah dengan diberlakukan asas

cabotage - Potensi pasar

di dalam negeri -

Semakin

berkembangn ya teknologi

1) Fokus dalam penyewaan kapal tunda dan tokang kepada perusahaan yang bergerak dalam industri pertambangan ,pelayaran,

konstruksi,infrastruktu r dan reklamasi pantai.

Hal ini bertujuan agar basis pelanggan perseroan lebih luas dan terdiversifikasi . 2) Mencari pelanggan

baru di bagian Indonesia timur melalui intensifikasi

1) Meningkatkan efisiensi biaya perseroan dengan mempertahankan utilisasi kapal yang tinggi,pemeliharaan armada dan perawatan harian atas armada kapal

2) Modernisasi dan penambahan kapal – kapal baru dengan teknologi yang diperlukan dalam industri minyak dan gas bumi lepas pantai.

3) Fokus pengembangan

usahanya pada sektor

(42)

upaya penjualan dan pemasaran seperti Sulawesi, kepulauan Maluku .

3) Mengangsuransikan armada perseroan dengan nilai

pertanggungan yang cukup dan memadai 4) Inspeksi dan

pemeliharaan rutin armada

5) Menerapkan sistem IT untuk menghindari kecurian barang serta membantu dalam sistem yang lebih akurat

6) Menerapkan sistem GPS agar dapat mengontrol kinerja operasional

jasa offshore oil and gas, melalui

penambahan dan diversifikasi jenis OSV yang lebih baru sesuai dengan kebutuhan para pelanggan.

4) Merekrut karyawan yang kompeten dan professional serta memberikan pelatihan dan pengembangan kepada karyawan.

5) Dikembangkannya konsep “Human Capital Management System”

yang memandang

seluruh karyawan

sebagai asset yang

memiliki daya saing

tinggi yang dilakukan

mulai dari tahap

(43)

punishment yang telah meningkatkan

motivasi dan produktivitas karyawan;

8) Memberikan pelatihan dan pengembangan kepada karyawan sehingga mereka dapat terus berkembang dan memberikan

kemampuan terbaiknya bagi organisasi.

prosedur,serta pengolahan karier;

6) Mengangsuransikan armada perseroan dengan nilai

pertanggungan yang cukup dan memadai.

7) Menerapkan program ESA , yakni pemberian alokasi saham kepada karyawan.

THREATS - Perseroan

bergerak dalam

industri yang kompetitif - Kondisi kurs

mata uang yang

fluktuasi - Harga bahan

1) Fokus dalam penyewaan kapal tunda dan tokang kepada perusahaan yang bergerak dalam industri pertambangan ,pelayaran,

konstruksi,infrastruktu r dan reklamasi pantai.

Hal ini bertujuan agar basis pelanggan

1) Menyelesaikan restrukturisasi hutang dengan seluruh kreditur

2) Untuk kontrak kerja

sama yang dilakukan

dengan sistem voyage

charter,perseroan harus

mencantumkan bunker

clause dalam setiap

kontrak sehingga

(44)

bakar yang fluktuasi - Adanya

bencana alam

perseroan lebih luas dan terdiversifikasi 2) Memberikan kualitas

pelayanan sesuai dengan spesifikasi dan jadwal waktu yang disesuaikan dengan pelanggan serta layanan yang berkualitas,harga kompetitif dan ketepatan waktu 3) Mengangsuransikan

armada perseroan dengan nilai

pertanggungan yang cukup dan memadai 4) Meminimalkan tingkat

suku bunga ,mata uang, dan risiko pasar untuk semua jenis transaksi

apabila terjadi

kenaikan bahan bakar yang melebihi

persentase yang ditentukan dalam kontrak ,maka akan dilakukan penyesuaian freight mengikuti kenaikan harga bahan bakar tersebut.

3) Mengangsuransikan armada perseroan dengan nilai

pertanggungan yang

cukup dan memadai

Referensi

Dokumen terkait

Limbah merupakan produk samping industri yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu yang tidak diinginkan karena tidak mempunyai nilai ekonomi.Limbah

Piranti yang terdiri dari layar dan keyboard yang biasa digunakan oleh pemakai untuk berinteraksi dengan sistem2.

Konteks Pemilukada Trenggalek perilaku pemilih “gumunan” berarti masyarakat cenderung mudah terkesan pada janji kampanye serta penampilan luar kandidat namun tidak

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa laba berasal dari semua transaksi atau kejadian yang terjadi pada badan usaha dan akan mempengaruhi kegiatan

Misalnya, jika bisnis tersebut mempunyai jenis usaha jasa cuci mobil, maka bisnis tersebut akan lebih sukses apabila bisnis tersebut mempunyai lokasi yang mempunyai sumber air

Selain itu istighfar juga dapat memberikan kebahagiaan, menjadi perisai dari gangguan setan, menjadi penangkal dari siksaan atau adzab Allah, menghilangkan rasa susah dan sedih,

[r]

Proses diagram dimulai pada saat pengguna memilih menu user list lalu pilih add new user, sistem akan langsung memunculkan tampilan pembuatan pembuatan user