• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA. 10 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA. 10 Universitas Kristen Petra"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

10 Universitas Kristen Petra 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Komunikasi Interpersonal

Joseph A. Devito mendefinisikan komunikasi antar pribadi atau komunikasi interpersonal sebagai proses pengiriman dan penerimaan diantara dua orang atau diantara sekelompok kecil atau orang dengan beberapa efek dan berupa umpan balik seketika (Effendy, 2003, p. 59-60). Dalam teori komunikasi interpersonal, dikenal hubungan atau relasi interpersonal yang simetrikal (symmetrical) dan komplementer (complementary). Yang dimaksud dengan hubungan interpersonal simetris adalah hubungan yang sama dan serupa.

Misalnya saja bila dalam suatu komunikasi salah satu pihak mengatakan ya, dan kemudian pihak yang lain mengatakan ya juga, berarti relasi interpersonal yang terjadi adalah relasi simetris. Hubungan ini bersifat setara atau sebanding satu sama lain. Dalam hubungan yang simetrikal ini, masing-masing pihak yang berkomunikasi akan menegaskan kesetaraan atau keunggulannya dibanding yang lain (Lederer dan Jackson, 1986). Hubungan simetris ini bersifat kompetitif.

Masing-masing pihak berusaha mempertahankan keunggulannya dari yang lain.

Seperti dapat dengan mudah dipahami, tuntutan pengakuan akan kesetaraan (atau keunggulan) seringkali menimbulkan pertengkaran (DeVito, 2011, p. 252).

Sementara itu, yang dimaksud dengan hubungan komplementer adalah suatu proses komunikasi yang terjadi antara dua pihak dimana kedua pihak tersebut memiliki perilaku yang saling memperlengkapi, atau complementary.

Salah satu pihak yang berkomunikasi berfungsi sebagai stimulus atau pemicu dari sikap komplementer dari pihak lain. Dalam hubungan ini, perbedaan antara kedua pihak semakin dipertajam, misalnya salah satu menegaskan posisinya sebagai atasan sementara pihak lain berfungsi komplementer sebagai bawahan, atau salah satu pihak bersikap kuat dan pihak yang lain bersifat lemah. Menurut Lederer dan Jackson (1968), hubungan komplementer umumnya bersifat produktif dimana perilaku salah satu pihak akan melengkapi atau menguatkan perilaku yang lain.

Hubungan komplementer ini bisa terjadi dalam komunikasi antara antara mantan pecandu narkoba yang menderita kepribadian bipolar dengan ibunya karena

(2)

11 Universitas Kristen Petra keduanya secara psikologis dan fisik mempunyai perbedaan yang bisa saling komplementer.

Menurut DeVito (2007) komunikasi memiliki berbagai jenis dan salah satu jenisnya yaitu komunikasi antar pribadi. Komunikasi antar pribadi merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika. Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang terjadi antara dua orang yang telah menjalin hubungan, orang yang dengan suatu cara “terhubung”.

Komunikasi muncul saat komunikator mengirim atau menerima pesan dan menanggapi pesan tersebut. Komunikasi interpersonal selalu dihambat oleh Noise, muncul dengan konteks dan mengakibatkan kesempatan untuk memberikan feedback.

Komunikasi interpersonal memiliki bentuk khusus, yaitu hubungan diadik.

Yang dimaksud dengan hubungan diadik yaitu bahwa komunikasi interpersonal sebagai komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas (DeVito, 2007).

Gambar 2.2. Proses Komunikasi Interpersonal Sumber: DeVito (2007, p. 24)

(3)

12 Universitas Kristen Petra Menurut De Vito (2007, p. 26- 29), elemen komunikasi interpersonal ada 9 hal dan elemen-elemen tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain. Elemen- elemen tersebut adalah:

1. Source-Receiver

Komunikasi antar pribadi melibatkan sedikitnya dua orang. Setiap orang menjalankan sender dan receiver masing-masing. Istilah source-receiver menekankan bahwa kedua fungsi dilakukan oleh setiap individu dalam komunikasi antar pribadi, sering disebut juga pengirim (sender), penyandi (encoder), komunikator, pembicara (speaker). Source merupakan orang yang membuat dan mengirimkan pesan, sedangkan receiver orang yang menerima pesan, penerima sering juga disebut sasaran/tujuan (destination), komunikate (communicatee), penyandi-balik (decoder) atau khalayak (audience), pendengar (listener), atau penafsir (interpreter).

2. Pesan

Pesan adalah apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima.

Pesan merupakan seperangkat simbol verbal maupun nonverbal yang berisi ide, sikap dan nilai komunikator. Pesan mempunyai tiga komponen yaitu 1) makna, 2) simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna, dan 3) bentuk atau organisasi pesan.

3. Feedback

Feedback adalah reaksi dan respons pendengar atas komunikasi yang komunikator lakukan. Feedback bisa dalam bentuk komentar langsung atau tertulis, surat, atau public opinin polling. Feedback juga berperan sebagai pengatur (regulator). Feedback mengontrol atau mengatur aksi komunikasi kita. Feedback negatif misalnya berupa kritikan, atau penolakan. Contohnya, ”Bisakah Anda diam?”. Feedback positif misalnya berupa pujian.

4. Feedforward

Dalam melakukan umpan balik atau feedback, ada juga proses yang dinamakan feedforward. Feedforward berisikan informasi akan pesan sebelum atau yang sedang akan disampaikan. Pesan ini mengisyaratkan kepada pendegar akan pesan yang akan segera disampaikan.

(4)

13 Universitas Kristen Petra 5. Saluran

Saluran adalah alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. Saluran merupakan media untuk menyampaikan sebuah pesan, jembatan penghubung antara source dan receiver. Contoh dari saluran: tatapan mata, suara, penciuman, peraba, dan lainnya.

6. Hambatan

Dalam sebuah komunikasi, pasti seringkali menghadapi hambatan- hambatan yang membuat komunikasi tidak berjalan dengan baik.

Hambatan adalah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan pemaknaan pesan yang komunikator sampaikan kepada penerima.

Hambatan ini bisa berasal dari pesan, saluran, dan pendengar. Beberapa buku menggunakan istilah noise untuk menyebut elemen pengganggu, yang diartikan sebagai gangguan (disturbance/ interference) dalam proses komunikasi. External noise meliputi latar belakang pembicaraan, lingkungan, dan teknis saluran. Sedangkan internal noise meliputi aspek psikologi peserta komunikasi maupun aspek semantik. Misalnya sebuah kata yang mengandung arti ambiguitas. Sebuah hambatan tidak dapat dihilangkan, namun dapat dikurangi sedikit demi sedikit.

7. Konteks

Komunikasi selalu bergantung dalam sebuah konteks atau lingkungan komunikasi, yakni sebuah lingkungan yang mempengaruhi bentuk dan isi dari kegiatan komunikasi yang ada. Lingkungan komunikasi terdiri dari 4 dimensi, yakni: Dimensi fisik, dimensi sosial-psikologis, dimensi budaya, dan dimensi temporal.

8. Etika Komunikasi

Karena komunikasi memiliki konsekuensi, maka komunikasi interpersonal membutuhkan etika. Setiap komunikasi memiliki dimensi moral dan kebenaran. Pemilihan komunikasi membutuhkan pedoman etika sebaik- baiknya untuk mencapai keefektifan dan kepuasan dalam berkomunikasi.

Dalam berkomunikasi setiap pelaku komunikasi harusnya memiliki etika.

9. Kompetensi interpersonal

(5)

14 Universitas Kristen Petra Kompetensi komunikasi merupakan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif yang mempengaruhi kandungan pesan dan bentuk komunikasi.

2.3.Model Komunikasi Antarpribadi

DeVito menjelaskan bahwa ada 3 tiga model dalam komunikasi antar pribadi. Ketiga model komunikasi antar pribadi tersebut adalah:

1. Model komunikasi bentuk Linear

Pada model awal komunikasi, proses komunikasi dilihat sebagai bentuk linear. Sesuai dengan bentuk komunikasi linear, komunikator berbicara dan komunikan mendengarkan. Komunikasi berjalan dalam suatu garis yang relatif lurus. Berbicara dan mendengarkan terjadi pada waktu yang berbeda, ketika anda berbicara, maka anda tidak mendengarkan, dan ketika anda mendengarkan, maka anda tidak berbicara.

Gambar 2.3.1. Model komunikasi linear Sumber: DeVito (2007, p. 5)

2. Bentuk komunikasi bentuk Interactional

Model linear digantikan dengan model interactional dimana komunikator dan komunikan secara bergantian dalam berbicara dan mendengar. Sebagai contoh, A berbicara sementara B mendengarkan, lalu B berbicara sebagai respon sementara A mendengarkan. Model interactional masih memandang berbicara dan mendengarkan sebagai kegiatan yang berbeda yang tidak tumpang tndih dan tidak terjadi pada waktu yang sama oleh orang yang sama.

Gambar 1.3.2. Model komunikasi interactional Sumber: DeVito (2007, p. 5)

Speaker Listener

Speaker Listener

Speaker Listener

(6)

15 Universitas Kristen Petra 3. Bentuk komunikasi bentuk Transactional

Pandangan yang lebih memuaskan yang digunakan saat ini yaitu memandang komunikasi sebagai proses transactional dimana setiap orang secara simultan berperan sebagai pembicara dan pendengar. Pada saat yang bersamaan anda mengirim pesan dan juga menerima pesan dari omunikasi anda sendiri dan bentuk reaks dari orang lain. Proses transactional juga memandang elemen- elemen dalam komunikasi saling tergantung satu dengan yang lain.

Gambar 2.3.3. Model komunikasi Transactional Sumber: DeVito (2007, p. 5)

2.4.Hambatan Komunikasi (Noise)

Dalam setiap terjadinya proses komunikasi, bisa terjadi hambatan- hambatan atau gangguan-gangguan yang bisa mempengaruhi kelancaran proses perpindahan pesan. Gangguan komunikasi ini banyak ragamnya yang dalam ilmu komunikasi seringkali diistilahkan dengan noise.

Devito (2007) merangkum noise itu dalam lima kategori penting yang bisa menjelaskan dan menggambarkan hambatan yang mungkin bisa terjadi dalam komunikasi interpersonal. Hambatan-hambatan tersebut adalah:

1. Hambatan fisik, misalnya berupa gangguan cuaca, gangguan alat komunikasi, kebisingan, dll.

2. Hambatan semantik, yaitu gangguan komunikasi dalam penggunaan kata-kata dalam komunikasi yang kadang mempunyai arti mendua, berbeda, tidak jelas atau berbelit sehingga mengganggu komunikasi.

3. Hambatan psikologis, misalnya adanya ketidaksamaan kepercayaan atau nilai-nilai serta harapan antara pihak-pihak yang berkomunikasi.

4. Hambatan fisiologis, yaitu rintangan dari kelemahan fisik salah satu atau kedua pihak yang sedang melakukan komunikasi.

Speaker/

Listener

Speaker/

Listener

(7)

16 Universitas Kristen Petra 5. Hambatan intelektual, adalah hambatan yang terjadi karena kelamahan

pemahaman akan suatu pesan.

Hambatan komunikasi memiliki pengertian bahwa segala sesuatu yang menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Hambatan komunikasi dalam sebuah sistem komunikasi kemudian membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima. Menurut Effendy (2002) Hambatan-hambatan tersebut memiliki beberapa bentuk, antara lain:

- Hambatan fisik (Physical Barriers), meliputi segala aktifitas eksternal yang mengganggu penyampaian pesan di antara komunikator dan komunikan. Hambatan fisik secara eksternal ini dapat berupa bunyi klakson, hujan deras, gangguan alat komunikasi, dan sebagainya.

- Hambatan psikologis (Physiological Barriers) merupakan hambatan dalam sebuah komunikasi yang berasal dari fisik individu itu sendiri. Hambatan psikologisnya dapat berupa gangguan mental, orang buta, orang yang menggunakan alat pendengaran, dan sebagainya.

- Hambatan fisiologis (Psycological Barriers) merupakan hambatan dalam sebuah komunikasi yang terjadi secara kognitif atau kognitif. Hambatan ini mengakibatkan sikap defensif. Sikap defensif cenderung akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam berkomunikasi, dari pada memahami pesan orang lain.

- Hambatan semantis (Semantic) merupakan bentuk hambatan yang terjadi karena kesalahan pemaknaan antara pemberi pesan dan penerima pesan.

Hambatan ini dapat berupa perbedaan bahasa, perbedaan makna. Untuk segala kelancaran dalam berkomunikasi seorang komunikator harus benar- benar memperhatikan hambatan semantis ini, karena salah pengucapan dan salah menulis akan menimbulkan konflik.

- Hambatan intelektual adalah hambatan yang terjadi karena kelemahan pemahaman akan suatu pesan, misalnya tingkat kepintaran, pengetahuan, maupun kecerdasan.

(8)

17 Universitas Kristen Petra - Hambatan kepentingan. Orang akan hanya memperhatikan perangsang

yang ada hubungannya dengan kepentingannya.

- Hambatan motivasi terpendam. Motivasi akan mendorong seseorang berbuat sesuatu yang sesuai benar dengan keinginan, kebutuhan dan kekurangannya.

- Hambatan prasangka. Prasangka merupakan hambatan berat bagi suatu kegiatan komunikasi, karena orang yang mempunyai prasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang hendak melancarkan komunikasi.

Dalam penelitian ini, semua teori tersebut akan digunakan untuk menganalisa proses komunikasi yang terjadi antara antara mantan pecandu narkoba yang menderita kepribadian bipolar dengan ibunya. Dengan lengkapnya teori-teori yang digunakan untuk membahas tema penelitian ini, diharapkan pemahaman atas proses komunikasi interpersonal antara kedua pihak yang berbeda secara fisiologis ini bisa lebih tuntas dan mendalam.

2.5.Motivasi Komunikasi Interpersonal

Menurut Gamble dan Gamble dalam bukunya yang berjudul Contacts, Interpersonal Communication in Theory, Practice, and Context, komunikasi interpersonal dapat membantu untuk mengetahui siapa diri kita sebenarnya, memenuhi kebutuhan untuk melakukan kontak personal, dan menyebabkan perubahan-perubahan pada sikap dan perilaku kita dan orang lain. Berdasarkan itu, bisa dikatakan bahwa komunikasi interpersonal memenuhi fungsi psikologi, sosial, informasi dan pengaruh (2005, p. 17).

Secara psikologis, komunikasi interpersonal memenuhi fungsi utama untuk membangun pemahaman diri dan orang lain. Bahkan Gamble dan Gamble juga mengatakan bahwa kita tergantung pada komunikasi interpersonal untuk mengembangkan kesadaran diri (self-awareness) dan menjaga kedirian (sense of self) (2005, p. 18). Dengan kata lain, untuk memahami diri sendirikita perlu dipahami oleh orang lain dan untuk bisa dipahami oleh orang lain kita perlu memahami orang lain. Sebagai misal adalah bahwa dalam komunikasi

(9)

18 Universitas Kristen Petra interpersonal kita akan mengetahui siapa orang yang menyukai atau tidak menyukai kita atau orang yang mempercayai atau tidak mempercayai kita, dan kita akan mengetahui alasan-alasannya sehingga kita akan memahami tentang diri kita sendiri dari pandangan-pandangan orang lain tentang kita tersebut.

Komunikasi interpersonal juga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan kita secara sosial. Bila kita terisolasi atau terputus kontak dengan orang lain, kita akan menderita. Paling tidak, bila memiliki suatu hubungan yang baik dengan orang lain, secara fisik dan mental kita akan menjadi lebih baik. Bahkan Gamble dan Gamble mengatakan bahwa sama seperti kita mebutuhkan air, makanan dan tempat tinggal, kita juga membutuhkan orang-orang (2005, p. 18). Melalui komunikasi interpersonal kita menjaga hubungan dengan orang lain. Komunikasi interpersonal ini juga memberikan kesempatan untuk berbagi realitas hidup dengan orang lain dan jugamemenuhi kebutuhan manusia untuk berteman dengan orang lain dan untuk memiliki rasa dibutuhkan secara sosial. Dengan melakukan komunikasi interpersonal kita bisa menghindarkan diri dari perasaan terisolasi, memenuhi kebutuhan kita untuk bersama dengan orang-orang, memberikan kesempatan untuk merasa dicintai, diinginkan dan memberikan kepuasan.

Komunikasi interpersonal juga terjadi karena adanya fungsi informasi yang menjadi motivasi untuk melakukannya. Menurut Gamble dan Gamble, selama kontak interpersonal, kita memiliki kesempatan untuk berbagi informasi dan mengurangi sejumlah ketidakpastian dalam hidup kita karena kebutuhan untuk mendapatkan pengetahuan terpenuhi. Ketika kita berhubungan secara interpersonal, kita memberi dan sekaligus menerima informasi (2005, p. 19).

Fungsi terakhir dari komunikasi interpersonal menurut Gamble dan Gamble adalah fungsi pengaruh. Selama kontak interpersonal, ada kesempatan untuk saling mempengaruhi baik secara terang-terangan maupun secara tidak sadar. Pada saat kita melakukan upaya untuk mempengaruhi, kebutuhan untuk dipatuhi terpenuhi. Namun saat kita melakukan komunikasi interpersonal, terkadang kita menjadi pihak yang mempengaruhi dan terkadang menjadi target dari persuasi (2005, p.19).

(10)

19 Universitas Kristen Petra 2.6.Kepribadian Bipolar

Menurut Nurmiati Amir, seorang ahli kedokteran jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, gangguan bipolar merupakan penyakit multidimensi yang ditandai dengan adanya disfungsi kognitif, terganggunya ritmik sirkadian, dan terjadinya komorbiditas dengan berbagai kondisi fisik dan psikiatrik. Gangguan ini tidak hanya menyebabkan disabilitas dan gangguan fungsi tetapi juga dikaitkan dengan tingginya angka kematian dini akibat bunuh diri atau penyakit fisik semisal penyakit paru-paru dan kardiovaskular. Gangguan bipolar merupakan penyakit yang dapat berlangsung selama hidup (Amir, 2010, p.

5).

Seperti digambarkan dalam situs www.healthyminds.org/bun yang dikutip oleh situs www.bee-health.com, kepribadian ganda/bipolar merupakan gangguan otak yang menyebabkan pergeseran dalam suasana hati, energi, dan kemampuan seseorang untuk berfungsi. Gejala gangguan bipolar dapat menghasilkan hubungan yang merusak, kesulitan dalam bekerja dan bahkan bunuh diri. Perasaan senang dan sedih muncul secara tidak menentu dan berlangsung tiba-tiba termasuk dalam kategori gangguan penyakit jiwa bipolar. Bipolar itu sendiri adalah gangguan afektif bipolar. Mood atau keadaan emosi internal merupakan penyebab utama dari gangguan ini.

Mereka yang mengalami gangguan bipolar ini beralih dari perasaan sangat senang dan gembira ke perasaan sangat sedih atau sebaliknya. Dua kutub mood tinggi dan rendah, saling bergantian. Di antara episode peralihan mood ini bisa saja orang mengalami mood yang normal. Bisa dikatakan bahwa insiden gangguan bipolar tidak tinggi antara 0,3-1,5 persen. Tapi angka tersebut belum termasuk yang misdiagnosis. Risiko kematian terus membayangi penderita bipolar dan itu lebih karena mereka mengambil jalan pintas (www.healthyminds.org/bun).

Penyebab gangguan ini tidak diketahui secara pasti. Para peneliti pun mengatakan bahwa terjadi disregulasi heterogen dari neurotransmitter atau zat kimia di otak. Faktor genetika dinilai melalui suatu mekanisme gen yang kompleks, sedangkan peristiwa-peristiwa kehidupan dan stres lingkungan merupakan faktor psikososial yang sering mendahului episode pertama dari gangguan bipolar tersebut. Episode pertama bisa timbul mulai dari mata kanak-

(11)

20 Universitas Kristen Petra kanak sampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita bipolar, risiko penyakit akan lebih berat, berkepanjangan, bahkan sering kambuh. Sementara anak-anak berpotensi mengalami perkembangan gangguan ini ke dalam bentuk yang lebih parah dan sering bersamaan dengan gangguan hiperaktif karena kurangnya perhatian.

Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap penyakit bipolar. Gejala biasanya ditandai dengan perasaan gembira yang berlebihan, seperti perubahan mendadak dari perasaan gembira menjadi tiba-tiba marah, keresahan, tutur kata cepat dan konsentrasi kurang, energi yang meningkat dan keinginan tidur kurang, dorongan seksualitas tinggi, cenderung membuat rencana besar dan sulit dicapai, cenderung kurang dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu, penyalahgunaan obat dan alkohol, dan impulsivitas meningkat.

Sebelum melakukan penanganan terhadap gangguan bipolar, biasanya terlebih dahulu dilakukan diagnosa dengan memperhatikan secara seksama gejala, tingkat ketakutan, angka waktu, dan frekuensi. Dan gejala yang paling mudah untuk dikenali adalah gejala peralihan mood yang tinggi (dari yang tinggi ke rendah) yang tidak berpola.Gangguan bipolar ini merupakan gangguan jangka panjang yang membutuhkan penanganan komprehensif. Mereka yang memiliki empat atau lebih perubahan mood dalam setahun lebih sulit untuk ditangani.

Seorang pasien yang mengalami gangguan bipolar bisa sembuh. Dalam empat fase itu pasien bisa menjalankan terapi. Tapi jika tak berhasil atau membahayakan, diperlukan penanganan khusus di rumah sakit khusus atau tempat rehabilitasi mental. Biasanya psikoterapi berupa terapi perilaku-kognitif menjadi pilihan. Perhatian ekstra harus dilakukan bila hendak merencanakan pemberian antipsikotik jangka panjang terutama generasi pertama atau golongan tipikal karena dapat menimbulkan beberapa efek samping. Bila sudah terkena gangguan bipolar ini, kontrol secara teratur, minum obat secara teratur, dan kemampuan mengenali gejala-gejala merupakan kunci utama pencegahannya.

(12)

21 Universitas Kristen Petra 2.7 Studi Kasus

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yaitu metode riset yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi, atau peristiwa secara sistematis. Penelaah berbagai sumber data ini membutuhkan berbagai macam instrumen pengumpulan data. Karena itu, periset dapat menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipasi, dokumentasi-dokumentasi, kuesioner (hasil survey), rekaman, bukti-bukti fisik, dan lainnya (Kriyantono, 2006, p.65).

Salah satu metode penelitian ilmu-ilmu sosial, secara umum studi umum merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertahanan suatu penelitian berkenaan dengan how atau why, bula peneliti hanya mempunyai sedikit peluang untuk mengkontrol peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fiokus penelitianya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata (Yin, 2009, p. 1)

Menurut Bungin (2001), sifat khusus dari studi kasus adalah pendekatan yang bertujuan untuk mempertahankan keutuhan (wholeness) dari objek penelitian, dalam arti objek dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi (p. 30). Sebagai sebuah metode, studi kasus memiliki keunikan atau keungulan tersendiri dalam kancah penelitian sosial, yaitu (Bungin, 2003, p. 22 -23):

- Studi kasus dapat memberikan informasi penting mengenai hubungan antara variabel serta proses-proses yang memerlukan penjelasan dan pemahaman yang lebih luas;

- Studi kasus memberikan kesempatan untuk memperoileh wawasan mengenai konsep-konsep dasar perilaku manusia. Melalui penelitian intensif, peneliti dapat menemukan karakteristik dan hubungan-hubungan yang (mungkin) tidak diharapkan atau tidak diduga sebelumnya;

- Studi kasus dapat menyajikan data-data dan temuan-temuan yang sangat berguna sebagai dasaruntuk membangun latar belakang permasaahan bagi perencanaan penelitian yang lebih besardan mendalam dalam rangka pengembangan ilmu-ilmu sosial.

(13)

22 Universitas Kristen Petra Bungin juga menyebutkan bahwa terdapat enam tipologi studi kasus yang bisa dilakukan (2003, p. 26). Enam tipologi tersebut adalah sebagai berikut:

- Studi kasus kesejarahan sebuah organisasi - Studi kasus observasi

- Studi kasus life history

- Studi kasus komunikas sosial atau kemasyarakatan - Studi kasus analisa situasional.

- Studi kasus mikroetnografi.

2.7.Nisbah Antar Konsep

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia tentu saja melakukan kontak dengan orang lain karena memang manusia berkarakter sebagai makhluk sosial yang bersifat selalu berhubungan dengan orang lain. Dalam melakukan kontak atau hubungan dengan orang lain ini, tentu saja terjadi komunikasi baik itu berupa komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Seperti yang disampaikan oleh John R. Wenburg dan William W. Wilmot, komunikasi sebagai tindakan satu-arah adalah komunikasi yang mengisyaratkan peyampaian pesan searah dari seseorang kepada seseorang baik secara langsung maupun melalui media seperti surat kabar, majalah, radio. Komunikasi juga merupakan suatu bentuk interaksi, yang dalam arti sempit berarti saling mempengaruhi (mutual influence). Pandangan komunikasi sebagai interaksi menyetarakan komunikasi dengan proses sebab-akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian. Sedangkan komunikasi sebagai transaksi menunjukkan bahwa komunikasi adalah proses personal karena makna atau pemahaman yang kita peroleh pada dasarnya bersifat pribadi. Komunikasi dianggap telah berlangsung bila seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain, baik perilaku verbal maupun nonverbal. Pemahaman ini mirip dengan “definisi berorientasi-penerima” seperti yang telah dikemukakan Burgoon, yang menekankan variable-variabel yang berbeda, yakni penerima dan makna pesan bagi penerima, hanya saja penerimaan pesan itu juga berlangsung dua-arah, bukan satu-arah (Deddy, 2002, p. 71).

Komunikasi tersebut memiliki elemen-elemen yaitu lingkungan komunikasi, sumber-penerima, enkoding-dekoding, kompetensi komunikasi,

(14)

23 Universitas Kristen Petra pesan dan saluran, umpan balik dan umpan maju, gangguan, efek komunikasi dan etik dan kekebasan memilih (DeVito, 2011, p. 24 – 28). Elemen-elemen ini muncul dalam setiap jenis komunikasi, termasuk komunikasi antarpribadi atau komunikasi interersonal seperti dalam fenomena komunikasi yang diteliti dalam penelitian ini. Yang dimaksud dengan komunikasi interpersonal dalam penelitian iniadalah komunikasi yang terjadi antara seorang anak perempuan penderita gangguan bipolar dengan ibunya. Komunikasi yang terjadi antar keduanya ini termasuk kategori komunikasi interpersonal sesuai dengan definisi komunikasi interpersonal. Menurut Joseph A. Devito, komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan diantara dua orang atau diantara sekelompok kecil atau orang dengan beberapa efek dan berupa umpan balik seketika (Effendy, 2003, p. 59 – 60).

(15)

24 Universitas Kristen Petra 2.8.Kerangka Pemikiran

Bagan 2.8. Kerangka Pemikiran Sumber: Olahan Peneliti, 2011

Komunikasi interpersonal antara anak perempuan penderita kepribadian bipolar dengan ibunya

9 Elemen Komunikasi 1. Source-Receiver 2. Pesan

3. Feedback 4. Feedforward 5. Saluran 6. Hambatan 7. Konteks

8. Etika Komunikasi

9. Kompetensi interpersonal (DeVito, 2011, p. 24 – 30)

Analisa Fenomena Komunikasi Interpersonal dengan studi kasus

Proses Komunikasi Interpersonal antara Anak Perempuan Penderita Kepribadian Bipolar dengan Ibunya

Referensi

Dokumen terkait

pendugaan umur simpan cookies kaya serat yang diperoleh dengan metode ASLT model pendekatan kadar air kritis untuk kemasan polietilen, metalizing, dan alumunium foil

Infeksi pada manusia dapat terjadi melalui penetrasi kulit oleh larva filariorm yang ada di tanah. Cacing betina mempunyai panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8

Hipotesis penelitian ini adalah (1) Pemanfaatan Sungai Ci Karo untuk memenuhi kebutuhan air domestik masyarakat di Desa Kawungsari Kecamatan Cibeureum Kabupaten

Berkat rahmat Allah SWT penulis telah berhasil menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi dengan judul “Pengaruh Penggunaan Lahan Terhadap Debit Aliran Sungai

Pada tahap pasca operasi kegiatan yang diprakirakan dapat menimbulkan dampak potensial terhadap komponen lingkungan adalah sebagai berikut: Revegetasi lahan dapat menimbul-

akan memberitahukan Pihak yang Menyampaikan Keluhan dan melanjutkan dengan menyusun Rencana Aksi (lihat bagian i dan seterusnya). iii) Jika Komite Keluhan menilai bahwa

Manajer perusahaan yang going public melakukan earnings management untuk memperoleh harga yang lebih tinggi atas sahamnya dengan harapan mendapatkan respon pasar yang