SKRIPSI
Oleh:
DIAN RAHMAH SARI DAMANIK 150306022
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
ANALISIS PEMASARAN TERNAK DOMBA DI PASAR HEWAN TRADISIONAL SENDANG REJO KOTA BINJAI
SKRIPSI
Oleh:
DIAN RAHMAH SARI DAMANIK 150306022
Skripsi merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
ABSTRAK
DIAN RAHMAH SARI DAMANIK, 2019. “Analisis Efesiensi Pemasaran Ternak Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang RejoKota Binjai” Dibimbing oleh ISKANDAR SEMBIRING dan ARMYN HAKIM DAULAY.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik lembaga – lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran ternak domba, mengetahui bentuk saluran dan fungsi pemasaran ternak domba, mengetahui perilaku, struktur dan keragaanpasar,serta menganalisis efisiesi pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo kota binjai.
Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Hewan Tradisional Sendang RejoKota Binjai, Provinsi Sumatera Utara.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2019.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan responden pelaku pemasaran ternak domba yaitu seluruh pedagang ternak domba dan pemasok ternak domba di PasarHewanTradisional Sendang Rejo.
Hasil penelitian yaitu lembaga pemasaran yang terlibat meliputi peternak, pedagang pengumpul Serta Pembeli. Saluran pemasaran tedapat dua yaitu saluran pertama: peternak – konsumen dan saluran kedua: peternak – pedagang pengumpul – konsumen. Fungsi pemasaran yang dilakukan lembaga pemasaran yaitu fungsi pertukaran, fisik dan fasilitas. Struktur pasar yaitu oligopoli dan oligopsoni. Perilaku pasar yaitu tidak terdapat ketidakjujuran dalam penentuan harga, biaya pemasaran yang belum seragam dan tidak adanya intervesi pemerintah. Keragaan pasar yaitu tidak terdapat kemajuan teknologi dan tidak adanya perbaikan kualitas produk dan tidak adanya perbaikan kualitas produk dan maksimasi jasa. Margin pemasaran pada saluran I adalah Rp. 10.000dan saluran II adalah Rp. 121.428Farmer’s sharepada saluran I adalah 99,30%dan saluran II adalah 90,37%. Rasio keuntungan terhadap biaya pada saluran I adalah Rp.
142,33 dan saluran II Rp. 9.21. Kesimpulan dari penelian ini yaitu pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Sendang Rejo Kota Binjai sudah efisien.
Kata kunci: Ternak Domba, Pasar Tradisional, Efisiensi Pemasaran.
ABSTRACT
DIAN RAHMAH SARI DAMANIK, 2019. "Analysis of the Efficiency of Marketing of Sheep Cattle in the Traditional Animal Market of Sendang Rejo City of Binjai"
Supervised by ISKANDAR SEMBIRING and ARMYN HAKIM DAULAY.
The study aims to determine the characteristics of marketing institutions involved in sheep marketing, determine the form of channels and marketing functions of sheep, determine the behavior, structure and market performance, and analyze the efficiency of sheep marketing at Sendang Rejo Traditional Animal Market in Binjai City.
This research was conducted at Sendang Rejo Traditional Animal Market, Binjai City, North Sumatra Province. This research was conducted from April to May 2019. The method used in this study was a survey method with respondents of sheep marketing agents, namely all sheep traders and sheep suppliers at Sendang Rejo Traditional Animal Market.
The results of the research are marketing institutions involved including breeders, traders and buyers. There are two marketing channels: the first channel: breeder - consumer and the second channel: breeder - collector trader - consumer.The marketing functions performed by marketing institutions are the exchange, physical and facility functions. The market structure is oligopoly and oligopsony. Market behavior is that there is no dishonesty in pricing, marketing costs are not uniform and there is no government intervention. Market performance is that there is no technological progress and no improvement in product quality and no improvement in product quality and service maximization.
Marketing margin on channel I is Rp. 10,000 and channels II is Rp. 121,428 Farmer's share in channel I is 99.30% and channel II is 90.37%. The profit to cost ratio in channel I is Rp. 142.33 and channel II Rp. 9.21. The conclusion of this study is that the marketing of sheep at the Sendang Rejo Animal Market in Binjai City has been efficient.
Keywords: Sheep Livestock, Traditional Markets, Marketing Efficiency.
RIWAYAT HIDUP
Dian Rahmah Sari Damanik dilahirkan di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara padat anggal 01Maret 1998 anak dari Bapak Akhiruddin Damanik dan Ibu Rena M. Panjaitan Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara.
Penulis lulus dari SD N 064988 Medan pada tahun 2009, lulus dari SMP N 22 Medan pada tahun 2012 dan lulus diSMA N 13Medan pada tahun 2015 dan di tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian Program Studi Peternakan Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif mengikuti berbagai organisasi kampus seperti aktif sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Peternakan (IMAPET), sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan (HIMMIP).
Penulis melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) di Peternakan Rakyat yang berada di Kota Binjai, Kecamatan Cengkeh Turi, Kota Binjai dari tanggal 18 Juli 2018 sampai 3 September 2018. Penulis melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Paya rengas di Kabupaten Langkat dari tanggal 1 April 2019 sampai 3 Mei 2019.
Penulis melakukan penelitian di pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo yang berada di Kota Binjai, Kecamatan Sendang Rejo, Kota Binjai dari bulan Juli 2019 sampai agustus 2019.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul
“Analisis Pemasaran Ternak Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Iskandar Sembiring selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Armyn Hakim Daulay selaku anggota komisi pembimbing yang telah
memberikan arahan kepada penulis, juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua atas doa, semangat dan pengorbanan materil maupun moril yang telah diberikan selama ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Civitas Akademika Program Studi Peternakan dan rekan mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis, dalam menyelesaikan Skripsi ini sehingga dapat terlaksana dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan skripsi ini, akhir kata penulis ucapkan terima kasih, semoga skripsi ini bermanfaat untuk semua pembaca.
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN LatarBelakang ... 1
Rumusan Masalah ... 3
TujuanPenelitian ... 3
Manfaat Penelitian ... 4
KerangkaPemikiran ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Letak Geografis Kota Binjai ... 5
Pemasaran ... 6
Bauran Pemasaran ... 7
SaluranPemasaran ... 9
FungsiPemasaran... 10
StrukturPasar ... 11
Perilaku Pasar ... 12
KeragaanPasar ... 13
Biaya Pemasaran ... 14
Margin Pemasaran ... 15
EfesiensiPemasaran ... 16
PasarHewanTradisional Sendang Rejo ... 17
GambaranUmumTernakDomba ... 18
BAHAN DAN METODE PENELITIAN WaktudanTempat Penelitian ... 20
Metode Penelitian... 20
Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 20
Penentuan Sampel ... 21
Metode Pengumpulan Data ... 21
Metode Analisis Data ... 21
Defenisi dan Batasan Opeasional ... 25
Defenisi ... 25
Batasan Operasional ... 26
HASIL DAN PEMBAHASAN Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai ... 27
Karakteristik Lembaga-Lembaga Pemasaran ... 27
Karakteristik Pedagang Pengumpul ... 27
Karakteristik Peternak ... 30
Lembaga Pemasaran... 32
Saluran Pemasaran ... 33
Fungsi Pemasaran... 34
Struktur Pasar ... 36
Perilaku Pasar ... 38
Keragaan Pasar ... 40
Margin Pemasaran ... 41
Farmer’s Share ... 42
Rasio Keuntungan Terhadap Biaya ... 43
Efisiensi Pemasaran ... 44
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpuulan ... 45
Saran ... 45
DAFTAR PUSTAKA ... 46
LAMPIRAN ... 49
DAFTAR TABEL
No. Hal.
1. Luas Wilayah Kota Binjai Menurut Kecamatan 2017 ... 5
2. Populasi Ternak di Kota Binjai ... 6
3. Umur Pedagang Pengumpul Ternak Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai ... 28
4. Tingkat Pendidikan Pedagang Pengumpul Ternak Domba ... 29
5. Lama Usaha Peternak Domba ... 29
6. Jenis Umur Peternak Domba ... 30
7. Tingkat Pendidikan Peternak ... 31
8. Lama Beternak ... 31
9. Fungsi Lembaga Pemasaran Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai ... 34
10. Jumlah Lembaga Pemasaran Ternak Domba Yang Terlibat di Pasar HewanTradisional Sendang Rejo Kota Binjai ... 36
11. Analisis Margin Pemasaran Ternak Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai ... 41
12. Analisis Farmer’s Share Pada Pemasaran Ternak Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai... 42
13. Analisis Rasio Keuntungan Terhadap Biaya Pemasaran Ternak Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai ... 43
14. Efesiensi Pemasaran Ternak Domba Pada Setiap Saluran Pemasaran dan Lembaga Pemasaran ... 44
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal.
1. Profil Pedagang Pengumpul Ternak Domba di Pasar Hewan ... 50 2. Profil Petenak Ternak Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang
Rejo Kota Binjai ... 51 3. Data Peternak Domba di Pasar Hewan Tradisional
Sendang Rejo Kota Binjai ... 52 4. Data Pedagang Pengumpul Ternak Domba di Pasar Hewan
Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai ... 52 5. Dokumentasi Penelitian ... 53
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan peternakan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi dan pendapatan peternak tetapi diperluas hingga mencakup pengembangan agribisnis secara terpadu. Peternak sebagai subyek pembangunan didorong ke arah pemahaman peternakan menjadi sumber pendapatan. Pembangunan usaha peternakan dilakukan secara sinergis, mulai dari hulu sampai hilir dan tidak berhenti hanya di tingkat produksi, tetapi juga sebagai pelaku paskapanen seperti pengolahan dan pemasaran.
Pemasaran adalah salah satu kegiatan yang diperlukan sebagai cara untuk menjual domba kepada para konsumen. Sistem pemasaran yang baik akan memudahkan penyaluran domba dari peternak hingga domba bisa sampai ke tangan konsumen dengan kondisi yang baik. Dalam alur pemasaran akan ada pelaku pemasaran yang terlibat didalamnya. Semakin banyak pelaku pemasaran yang terlibat dalam kegiatan ini semakin banyak pula biaya yang dikeluarkan dalam proses kegiatan pemasaran. Biaya yang dikeluarkan oleh para pelaku pemasaran akan berpengaruh terhadap selisih harga yang diterima oleh peternak terhadap harga yang dikeluarkan oleh konsumen.
Setiap lembaga pemasaran melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran yang mengakibatkan bertambahnya biaya pemasaran. Sehingga semakin panjang saluran pemasaran maka semakin tinggi biaya yang dikeluarkan sehingga semakin tinggi pula harga domba yang dibayarkan konsumen. Oleh sebab itu diindikasikan pemasaran domba tersebut dapat menjadi tidak efisien. Efisiensi pemasaran pada
saluran pemasaran domba dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan SCP (Structure, Conduct, and Performance). SCP merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran dengan melihat struktur pasar, perilaku pasar dan keragaan pasar pada masing-masing lembaga pemasaran.
Struktur pasar dapat mempengaruhi perilaku pasar domba Struktur pasar dan perilaku pasar akan menentukan tingkat efisiensi dari pemasaran domba.
Keragaan pasar digunakan untuk melihat seberapa jauh pengaruh struktur dan perilaku pasar dalam proses pemasaran domba.
Pasar hewan merupakan tempat untuk bertransaksi jual beli hewan yaitu meliputi sapi, kambing dan domba. Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai merupakan salah satu pasar hewan di Kota Binjai yang beroperasi setiap hari mulai 09.00-12.00 WIB. Dimana pihak penjual dan konsumen yang ada di Pasar Tradisional Sendang Rejo melakukan kegiatan transaksi jual beli ternak domba secara lagsung. Para penjual ternak domba banyak berasal dari Kabupaten Deli serdang, Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat, Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat, Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang dan Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat, sedangkan pembeli juga berasal dari dalam dan luar provinsi.
Domba (Ovis) adalah ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal orang banyak karena dipelihara untuk dimanfaatkan rambut (disebut wol), daging, dan susunya. Domba yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan (Ovis aries), yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah selatan dan barat-
3
daya. Untuk tipe lain dari domba dan kerabat dekatnya, lihat kambing antilop.
Domba berbeda dengan kambing.
Domba merupakan salah satu ternak penghasil daging di Indonesia.
Namun produksi daging dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan karena populasi dan tingkat produktivitas ternak yang rendah. Rendahnya populasi domba antara lain disebabkan sebagian besar ternak dipelihara oleh peternak berskala kecil dengan lahan dan modal terbatas.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana karakteristik lembaga – lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo kota binjai?
2. Bagaimana bentuk saluran dan fungsi pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai?
3. Bagaimana perilaku, struktur dan keragaan pasar di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai?
4. Apakah sistem saluran pemasaran ternak domba sudah efisien?
5. Bagaimana proses penentuan harga?
Tujuan Penelitian
Mengetahui karakteristik lembaga – lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran ternak domba, mengetahui bentuk saluran dan fungsi pemasaran ternak domba, mengetahui perilaku, struktur dan keragaan pasar, serta menganalisis efisiesi pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai. .
Manfaat Penelitian
1. Informasi bagi para peternak, para pelaku bisnis dan pedagang mengenai pemasaran ternak domba.
2. Informasi bagi pemerintah dan pihak terkait yang membutuhkan.
3. Menjadi sumber informasi bagi kalangan penelitian-penelitian yang sejenis.
Kerangka Pemikiran
Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Analisis Pemasaran Ternak
Domba
Peternak/Produsen Lembaga Pemasaran Konsumen
Pedagang Pengumpul
Pedagang Besar
Pedagang Pengecer
Analisis Kualitatif
Karesteristik
Lembaga Pemasaran
Saluran Pemasaran
Penetapan Harga
Analisis Kuantitatif
Efisiensi Pemasaran
Margin Pemasaran
Share Biaya dan Keuntungan
Farmer’s Share
TINJAUAN PUSTAKA
Letak Geografis Kota Binjai
Secara astronomis, Kota Binjai berada pada 3,31’ 40’’ – 3,40’ 2’’ Lintang Utara dan 98,27’ 3’’ – 98,32’ 32’’ Bujur Timur dan terletak 28 m di atas permukaan laut. Wilayah Kota Binjai seluas 10,86 km2 dikelilingi oleh Kabupaten Deli serdang. Batas area di sebelah utara adalah Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat dan Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat dan Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang dan di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat. Binjai terdiri dari 5 kecamatan, 37 kelurahan dan 284 SLS/Lingkungan.
Adapun luas wilayah kota Binjai dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1. Luas wilayah kota Binjai menurut Kecamatan
No Kecamatan Luas (km2) Persentase (%)
1 Binjai Selatan 29,96 33,2
2 Binjai Kota 4,12 4,57
3 Binjai Timur 21,7 24,05
4 Binjai Utara 23,59 26,14
5 Binjai Barat 10,86 12,4
Total Kota Binjai 90,23 100,00
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Binjai, 2017
Tabel 1 menunjukkan bahwa Kecamatan dengan luas wilayah terbesar diKota Binjai adalah Kecamatan Binjai Selatan dengan luas area 29,96 km2 dengan jumlah persentase 33,20%. Sedangkan kecamatan dengan luas wilayah terkecil di Kota Binjai adalah Kecamatan Binjai Kota dengan luas area 4,12 km2 dengan jumlah persentase 4,57%.
Tabel 2. Populasi Ternak Menurut Kecamatan dan Jenis Ternak di Kota Binjai (ekor), Tahun 2017
Ternak (ekor)
Kecamatan Sapi perah
Sapi potong
Kerbau Kuda Kambing Domba Babi
Binjai Selatan 0 1.676 58 0 1.374 1.537 552
Binjai Kota 0 207 0 0 677 363 0
Binjai Timur 0 2.023 91 0 2.333 2.442 245
Binjai Utara 35 1.916 64 0 2.415 2.060 150
Binjai Barat 0 808 46 0 730 907 2.719
Kota Binjai 35 6.630 259 0 7.529 7.309 4.666
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Binjai, (2017) Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses dan manajerial yang membuat individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawakan dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain atau segala kegiatan yang menyangkut penyampaian produk atau jasa mulai dari produsen sampai ke konsumen (Shinta, 2011)
Pemasaran merupakan muara akhir dari suatu aktivitas produksi,untuk mempeoleh nilai harga barang produksi guna melanjutkan usaha dikemudian hari dan menciptakan kesejahteraan pengguuna. Pasar dapat berupa suatu lokasi dimana terjadi transaksi dalam rangka pemindahan hak dari suatu pihak kepada pihak lainnya yang memanfaatkan alat tukar berupa uang yang diperlukan peternak pada berbagai aspek kehidupannya. Kegiatan pemasaran ternak dapat berlangsung pada berbagai lokasi kandang peternak maupun di lokasi pasar hewan yang telah di tentukan oleh pemerintah daerah (Wibowo et al., 2016).
Pemasaran merupakan kegiatan aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen dengan tujuan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen. Untuk menganalisis saluran pemasaran dapat dilakukan tiga pendekatan, yaitu :
7
1. Pendekatan fungsi (Functional approach); merupakan pendekatan yang mempelajari fungsi-fungsi yang ada dalam lembaga pemasran yang terlibat dalam tataniaga suatu komoditi. Pendekatan fungsi terdiri dari fungsi pertukaran meliputi pembelian dan penjualan, fungsi fisik meliputi penyimpanan, pengolahan dan pengangkutan dan fungsi fasilitas yang meliputi standarisasi dan grading, penanggungan resiko, pembiayaan dan informasi pasar.
2. Pendekatan kelembagaan (institutional approach), pendekatan kelembagaan ini berguna untuk mempelajari atau mengamati peranan masing-masing lembaga pemasaran dalam kegiatan pemasaran yang terdiri dari produsen, bandar, pengecer, konsumen dan lain-lain.
3. Pendekatan prilaku (Behavioral system approach), pendekatan ini merupakan pelengkap dari kedua fungsi di atas, yaitu meganalisi aktivitas-aktivitas yang ada dalam proses pemasaran seperti perubahan dan perilaku lembaga pemasaran. Pemasaran produk pertanian merupakan pemasaran produk yang memerlukan penanganan yang intensif hingga sampai ke tangan konsumen.
Hal ini di sebabkan oleh karakteristik produk pertanian yang mudah rusak, membutuhkan ruang, di produksi dalam jumlah besar. Oleh karna itu di butuhkan integrasi berbagai pihak agar produk sampai ke tangan konsumen tanpa mengurangi kualitas produk yang di hasilkan (Bangun, 2010).
Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran adalah perangkat pemasaran baik meliputi produk, penentuan harga, promosi, dan distribusi digabungkan untuk menghasilkan respon yang diingkinkan pasar sasaran (Kotler dan Amstrong, 2012). Bauran pemasaran
terdiri dari segala sesuatau yang dapat dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi permintaan produknya. Bauran pemasaran merupakan satu dari sekian konsep yang paling universal yang telah dikembangkan dalam pemasaran dan sebagaian besar memusatkan pada empat komponen kunci, yaitu:
a. Produk (Product)
Kotler dan Keller (2007), mengartikan produk adalah segala sesuatau yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan pengembagan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan (Bagus, 2002).
b. Harga (Price)
Harga merupakan satu-satunya unsur baruan pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hak milik produk. Harga meliputi last price, discount, payment period, credit terms, dan retail price (Bagus, 2002)
Penetapan harga dipengaruhi oleh permintaan produk, target pasar, reaksi pesaing, strategi penetapan harga, bagian lain dari diluar bauran pemasaran dan biaya operasional.
c. Promosi (Promotion)
Promosi merupakan salah satu peubah didalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produknya.
Berapapun bagusnya suatu produk, bila konsumen belum pernah mendengarnya dan tidak yakin produk itu akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan membelinya. Pada dasarnya promosi adalah semua kegiatan yang bermaksdu
9
mengkomunikasikan atau menyampaikan suatu produk kepada pasar sasaran untuk memberi informasi tentang keistimewaan, kegunaan dan yang paling penting adalah tentang keberadaannya, untuk mengubah sikap atapun mendorong orang untuk bertindak (dalam hal ini membeli). Tujuan utama dari promosi adalah menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk serta mengingatka konsumen (Hermawan, 2015).
d. Lokasi (Place)
Kotler (2009) menyatakan bahwa lokasi (Place) adalah suatu strategi yang menentukan dimana dan bagaimana kita menjual suatu produk tertentu. Yang terpenting dalam strategi ini adalah menetapkan lokasi, distributor ata outlet dimana konsumen dapat meliat dan membeli barang yang ditawarkan itu. Place dalam elemen bauran pemasaran ini adalah lokasi. Lokasi merupakan keputusan organisasi menegeani tempat organisasinya dengan semua kegiatan-kegiatan organisasi.
Saluran Pemasaran
Pemasaran atau tataniaga adalah kegiatan atau aktivitas yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dan fisik dari barang-barang hasil pertanian dan kebutuhan usaha pertanian dari tangan produsen hingga ke tangan konsume.
Sedangkan saluran pemasaran atau saluran tataniaga dapat diartikan sebagai kumpulan atau himpunan perusahaan atau perorangan yang mengambil alih hak atau membantu dalam pengalihan hak atas barang atau jasa tertentu selama barang dan jasa tersebut berpindah dari tangan produsen menuju tangan konsumen (Limbong dan sitorus, 1987).
Saluran pemasaran dapat dicirikan dengan memperhatikan banyaknya tingkat saluran. Dalam saluran pemasaran terdapat panjang saluran pemasaran yang ditentukan oleh banyaknya tingkat perantara yang dilalui oleh suatu barang atau jasa (Prihantani, 2015).
Fungsi Pemasaran
Fungsi dan peranan pemasaran adalah mengusahakan agar pembeli memproleh barang yang diinginkan pada tempat, waktu, bentuk dan harga yang tepat, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah pada barang yang ditawarkan.
Pemasaran mempunyai tiga fungsi utama yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas (Mubyarto,1989).
Proses pemasaran memiliki fungsi yang harus dilakukan oleh produser dan perilaku agribisnis. Fungsi-fungsi pemasaran meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas.
1. Fungsi pertukaran adalaah tindakan memperlancar pemindahan hak milik barang atau jasa (pembelian dan penjulan). Fungsi pertukaran dalam pemasaran meliputi kegiatan yang menyangkut pengalihan kepemilikan dalam sistem pemasaran. Fungsi pertukaran ini terdiri dari fungsi penjualan dan pembelian.
2. Fungsi fisik adalah tindakan penanganan, pemindahan, dan perubahan fisik komoditi (penyimpanan, transfortasi, dan pengolahan). Fungsi fisik meliputi kegiatan-kegiatan yang secara langsung diperlakukan terhadap komoditi, sehingga komoditi tersebut mengalami tambahan guna tempat dan guna waktu.
Berdasarkan definisi fungsi fisik di atas, maka fungsi fisik ini meliputi pengangkutan dan penyimpanan.
11
3. Fungsi fasilitas adalah mempermudah fungsi pertukaran dan fungsi fisik (penanggungan resiko dan penggolongan) (Kohls dan Uhls,1985). Fungsi penyedia fasilitas, pada hakekatnya adalah untuk memperlancar fungsi pertukaran dan fungsi fisik, meliputi standarisasi, penanggung resiko, informasi harga, dan penyediaan dana (Sudiyono, 2002).
Struktur Pasar
Struktur pasar (market structure) adalah suatu dimensi yang menjelaskan pengambilan keputusan oleh perusahaan atau industri, jumlah perusahaan dalam suatu pasar, distribusi perusahaan menurut berbagai ukuran seperti size atau concentration, deskripsi dan diferensiasi produk, syarat-syarat entry dan
sebagainya (Limbong dan Sitorus, 1987).
Ada empat karakteristik pasar yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan struktur pasar, yaitu:
1. Jumlah dan besar penjual dan pembeli; apakah penjual relatif banyak sehingga tidak terdapat seorang penjual pun yang dapat mempengaruhi harga? Dengan produk yang identik ini, maka apabila penjual tersebut menjual produknya dengan harga yang lebih tinggi menyebabkan konsumen pindah untuk mengkonsumsi komoditi yang lainnya dan apabila penjual tersebut menjual produknya lebih rendah daripada harga yang berlaku di pasaran maka tidak mempengaruhi harga pasar secara berarti sebab bagian pasar (market share) yang dikuasai penjual tersebut sangat kecil sekali sehingga tidak mempengaruhi harga barang yang berlaku di pasar. Ataukah sebaliknya jumlah penjual sedikit sehingga dapat mempengaruhi harga pasar.
2. Keadaan produk yang diperjual belikan; apakah produk tersebut homogen, berbeda corak ataukah produk produk tersebut unik sehingga tidak ada penjual lain yang dapat mensubtitusikan komoditi yang dijual penjual tersebut.
3. Kemudahan masuk dan keluar pasar; apakah perusahaan mudah masuk dalam pasar jika terdapat keuntungan ekonomis ataukah perusahaan tersebut mudah keluar dari pasar seandainya tidak tercapai keuntungan normal; dan
4. Pengetahuan konsumen terhadap harga dan struktur biaya produksi; apakah terdapat informasi harga yang wajar bagi konsumen ataukah tidak ada informasi harga yang memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk melakukan diskriminasi harga (Sudiyono, 2004).
Perilaku Pasar
Perilaku pasar menunjukkan tingkah laku perusahaan dalam struktur pasar tertentu terutama bentuk-bentuk keputusan apa yang harus diambil dalam menghadapi berbagai struktur pasar. Perilaku pasar meliputi kegiatan penjualan, pembelian, penentuan harga, dan strategi tataniaga. Perilaku pasar dapat dilihat proses pembentukan harga dan stabilitas harga serta ada tidaknya praktek jujur dari lembaga yang terlibat dalam tataniaga (Azzaino, 1982).
Perilaku pasar terkait dengan tindak tanduk serta langkah yang diimplementasikan oleh penjual saat memasarkan. Tindakan yang dilakukan dapat berpengaruh pada penetapan harga dan keragaan pasar di daerah yang menjadi fokus penelitian. Perilaku pasar dapat mencerminkan aliran suatu produk mulai dari tangan produsen hingga ke tangan konsumen. Pada umumnya perilaku pasar tercermin pada saat beroperasi. Seperti saat penentuan harga, sosialisasi,
13
penetapan pangsa pasar serta aktivitas transaksi di pasar. Terdapat tiga cara mengenal perilaku pasar, yaitu :
1. Penentuan Harga dan Setting of Output : Penentuan harga yang dilakukan tanpa mempengaruhi perusahaan lain. Penetapan ini dilakukan secara bersama-sama dengan para penjual yang lain dan penetapan harga yang dilakukan dipimpin oleh pemimpin harga.
2. Kebijakan atau Aturan Promosi Produk (Product Promotion Policy) : yaitu promosi yang dilakukan penjual dengan cara mengikuti pemasaran atau membuka stand produk atas nama perusahaan.
3. Peredatory and Exlusivenary Tactics : Strategi ini tidak cukup sehat karena perusahaan yang satu berusaha untuk mengeluarkan perusahaan yang lain dari pasar dengan menetapkan harga dibawah biaya marjin, sehingga perusahaan lain tidak dapat melakukan kompetisi tersebut. Selain itu, cara lain juga dapat dilakukan dengan menguasai bahan baku yang akan mengakibatkan perusahaan lain tidak dapat menggunakan sumber bahan baku yang sama (Bangun, 2010).
Keragaan Pasar
Keragaan pasar adalah hasil keputusan akhir yang diambil dalam hubungannya dengan proses tawar menawar dan persaingan pasar. Dengan demikian keragaan pasar ini dapat digunakan untuk melihat seberapa jauh pengaruh struktur dan tingkah laku pasar dalam proses pemasaran suatu komoditi pertanian. Keragaan pasar ini secara praktis dapat dikatakan dengan melihat beberapa indikator efisiensi pemasaran (Sudiyono, 2004)
Kriteria yang digunakan untuk menentukan keragaan pasar adalah terdapat kemajuan teknologi, adanya orientasi untuk perkembangan lembaga-lembaga
pemasaran, adanya peningkatan efisiensi penggunakan sumber daya, perbaikan kualitas dan maksimasi jasa pemasaran dengan biaya serendah mungkin (Widyaningtyas et al., 2014).
Biaya Pemasaran
Menurut Fanani (2000) analisis pemasaran merupakan aktivitas pemasaran sangat penting untuk menunjang kegiatan pemasaran dalam upaya mencapai tujuannya, untuk itu sampai tingkat tertentu hal itu diimbangi pula dengan besarnya biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Pengertian analisa pemasaran dibedakan menjadi dua kategori yaitu : Dalam arti sempit, analisa pemasaran diartikan sebagai biaya penjualan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjual produk ke pasar. Dalam arti luas biaya pemasaran meliputi semua biaya yang terjadi sejak saat produk selesai diproduksi dan disimpan dalam gudang sampai dengan produk tersebut diubah kembali dalam bentuk uang tunai (Mulyadi, 1992).
Untuk indikator efesiensi pemasaran relatif digunakan analisis margin dan korelasi harga yang mencerminkan tingkat keterpaduan pasar. Margin pemasaran terdiri dari biaya pemasaran dan keuntungan biaya pemasaran. Biaya pemasaran akan semakin besar apabila terdapat unsur-unsur biaya yang sifatnya
nonkompetitif pada sistem pemasaran sehingga tidak efesien (Limbong dan Sitorus, 1987).
Berbagai laporan mengemukakan perbedaan harga disebabkan oleh variasi saluran dan margin pemasaran ternak di Indonesia baik dari jumlah pelaku
maupun distribusi biaya dan margin yang diperoleh pelaku pasar.
Kariyasa dan Faisal (2004) menyatakan bahwa penyebabnya adalah biaya
15
pemasaran akibat pemberlakuan berbagai peraturan daerah seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah dan kurangnya fasilitas pemasaran. Disamping itu berbagai laporan mengemukakan bahwa hingga saat ini diperoleh kesan peranan blantik sangat dominan dalam menentukan harga, terlebih dalam kondisi pasar
akhir-akhir ini dimana lebih banyak blantik dari pada ternak (Rusastra et al., 2006). Pendapat tersebut berlawanan dengan laporan Kariyasa
dan Faisal (2004) dimana biaya pemasaran lebih banyak ditanggung oleh blantik sehingga ia memperoleh manfaat paling sedikit dari aktivitas pemasaran sementara margin/keuntungan lebih banyak dinikmati oleh pejagal. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Marak Ali et al. (2004) bahwa peranan dan keberadaan blantik sangat penting dalam mendorong budidaya ternak kerbau di pedesaan dan harga yang lebih dinamis namun keuntungan yang diperoleh hanya sepertiga dibanding pejagal.
Masalah pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya adalah bagaimana menyalurkan produk-produk pertanian dari produsen kepada konsumen dengan harga yang wajar dan biaya pemasaran minimal. Menurut Downey dan Erickson (1992) bahwa pemasaran hasil pertanian ditinjau dari
bagian harga yang diterima oleh petani produsen dikatakan efisien apabila harga jual petani lebih dari 40% dari harga tingkat konsumen.
Margin Pemasaran
Menurut Nainggolan (2017) margin pemsasaran dalah perbedaan harga yang diterima oleh peternak penghasil dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Margin pemasaran sebagai perbedaan antara harga dibayarkan oleh konsumen akhir dengan harga diterima oleh lembaga pemasaran dan (biaya
dari jasa-jasa pemasaran yang dibutuhkan sebagai akibat permintaan dan penawaran jasa-jasa pemasaran. Biaya dari jasa-jasa tersebut terdiri atas biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran yang terlibat dalam melakukan fungsi pemasaran keuntungan yang diperoleh sebagai imbalan jasa melakukan fungsi pemasaran tersebut. Jadi komponen margin pemasaran terdiri atas biaya pemasaran dari keuntungan pemasaran, sehingga pemasaran, sehingga margin dapat dituliskan sebagai berikut :
Efesiensi Pemasaran
Efiisiensi pemasaran adalah nisbah antara total biaya dengan total nilai produk yang dipasarkan (Soekartawi, 1989). Dapat dirumuskan dengan :
Dalam perhitungan total biaya trasnfortasi dilakukan dengan menghitung rata-rata transfortasi yang dikeluarkan kemudian dibagi dengan rata-rata volume pembelian. Untuk perhitungan total biaya produk dilakukan dengan menghitung margin pemasaran kemudian ditambahkan dengan harga jual produser.
Masalah pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya adalah bagaimana menyalurkan produk-produk pertanian dari produsen kepada konsumen dengan harga yang wajar dan biaya pemasaran minimal Menurut Downey dan Erikson (1992) bahwa sistem pemasaran dikatakan efisien kalau nilai efisiensi pemasarannya adalah < 1.
Sistem pemasaran akan efesien apabila dapat memberikan suatu balas jasa yang seimbang kepada semua pelaku pemasaran yang terlibat yaitu peternak
Margin Pemasaran = Harga konsumen – Harga produsen
17
sebagai produsen, pedagang perantara dan konsumen akhir (Azzaino, 1981).
Efisiensi pemasaran didefenisikan sebagai optimasi dari nisbah antara output dengan input. Suatu perubahan yang dapat mengurangi biaya input dalam melakukan kegiatan pemasaran tanpa mengurangi kepuasan konsumen dari output, yang dapat berupa barang dan jasa, menunjukkan suatu perbaikan dari tingkat efisiensi pemasaran (Feed, 1972).
Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo
Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo yang berada di Kota Binjai merupakan milik masyarakat yang di bangun oleh masyarakat, peternak dan agen pada tahun 2013. Pasar Hewan Tradisional ini telah beroperasi kurang lebih 6 tahun. Pasar Hewan Tradisional ini dibangun dikarenakan sudah tidak berfungsinya pasar hewan yang dibangun oleh pemerintah. Pasar Hewan Tradisional belum di resmikan oleh pemerintah di karenakan lahan yang digunakan adalah lahan yang dimiliki oleh masyarakat. Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo ini dibuka setiap hari dan di mulai pada pukul 09.00-12.00 WIB.
Dimana pihak penjual dan konsumen yang ada di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo melakukan kegiatan transaksi jual beli ternak domba secara langsung. Para penjual ternak domba banyak berasal dari Kabupaten Deli serdang, Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat, Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat, Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang dan Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat, sedangkan pembeli juga berasal dari dalam dan luar provinsi. Pembeli memiliki keleluasan memilih, ternak karena banyak pilihan termasuk disesuaikan dengan penghasilan yang dimilikinya.
Gambaran Umum Ternak Domba
Domba memiliki sistematika hewan yaitu: Filum: Chordata, Sub Filum:
Vertebrata (bertulang belakang), Marga: Gnatostomata (mempunyai rahang), Kelas: Mammalia, Bangsa: Placentalia (mempunyai plasenta), Suku: Ungulata (berkuku), Ordo: Artiodactyla (berkuku genap), Sub ordo: Seledontia, Famili:
Caprinus, Genus: Ovis, Spesies: Ovis aries (Kartadisastra, 1997).
Domba ekor tipis merupakan domba lokal yang dikenal sebagai domba asli Indonesia dan berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Warna putih merupakan warna dominan dengan warna hitam di seputaran mata, hidung, dan beberapa bagian tubuh lain. Ekor tipis dan tidak berlemak. Domba jantan memiliki tanduk kecil dan melingkar, sedangkan domba betina tidak bertanduk.
Bulunya berupa wool/kasar. Berat badan domba jantan berkisar 30-40 kg dan domba betina 15-20 kg. Salah satu keunggulan domba ekor tipis adalah sifatnya yang prolifik, melahirkan 2-5 ekor setiap kelahiran (Sodiq dan Abidin, 2002).
Domba yang diperjual belikan di pasar hewan tradisional sendang rejo adalah domba sumatera. Pada umumnya domba sumatra sangat produktif dan dapat beranak sepanjang tahun. Domba lokal sumatera dapat beranak 1,82 ekor dalam setahun dan dapat memproduksi anak sapihan 2,2 ekor pertahun dengan bobot sapih 21 kg
per 22 kg bobot induk. Akan tetapi pada umumnya domba sumatera ini relatif kecil dan tidak memenuhi persyaratan bobot badan ekspor yakni diatas 35 kg.
Dari proses persilangan dengan domba St. Croix Bobot lahir maupun bobot sapih anak domba hasil persilangan lebih tinggi dari anak domba lokal sumatera.
Keunggulan dari penampilan anak hasil persilangan tampak bahwa anak
19
mortalitas pra sapih dan jarak beranak relatif lebih rendah dari anak domba murni baik lokal Sumatera maupun (yang berasal dari Amerika Tengah) diharapkan terbentuk bangsa domba bertipe bulu yang memenuhi persyaratan eksport dan dapat bseradaptasi terhadap lingkungan (Subandriyo, 1995)
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2019.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan responden pelaku pemasaran ternak domba yaitu 21 pedagang ternak domba dan 6 pemasokternakdomba di pasarhewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai.
Survei adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan kepada respoden individu dalam bentuk kuisioner (Erlina, 2011).
Metode Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian kajian pemasaran ternak domba yaitu Kota Binjai, dimana daerah ini merupakan salah satu tempat pemasaran ternak domba yang ada di Sumatera Utara. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive (sengaja) di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo yang ada di Kota Binjai Alasan memilih Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo tersebut sebagai lokasi penelitian dikarenakan Pasar Hewan Sendang Rejotersebut menjual komoditi yang akan diteliti dan merupakan Pasar Hewan Tradisional yang masihaktifhinggasaatinidi Kota Binjai.
21
Penentuan Sampel
Penentuan sampel diilakukan secara purpose samplingdimana responden terdiri dari seluruh penjual ternak domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai. Dari Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai, responden dipilih secaraaccidental samplingyaitu responden yang ada saat didatangi ke pasar dan bersedia untuk di wawancarai serta memiliki data yang di perlukan (Khoinnisa, 2008).
Sedangkan peternak/produsen dan lembaga pemasaran lainnya seperti agen dapat ditentukan dengan snowball sampling dengan cara mengikuti aliran pemasaran berdasarkan informasi yang didapatkan dari pedagang ternak domba sebelumnya.
Metode Pengumpulan Data
Data primer dan sekunder dikumpulkan pada saat penelitian berlangsung.
Data-data primer dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi langsung dan wawancara dengan responden menggunakan angket atau kuisioner. Data-data sekunder dikumpulkan dari data BPS (Badan Pusat Statistik) Kota Binjai dan dari instansi lain yang terkaitdengan penelitian serta dari literatur, buku atau jurnal.
Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah secara kualitatif dan kuantitatif, dan disajikan dalam bentuk uraian dan tabulasi angka. Pengolahan data dilakukan dengan metode deskriptif.
Analisis kualitatif digunakan untuk menegetahui karakteristik lembaga pemasaran, dan saluran pemasaran ternak domba.
1. Analisis Perilaku Pemasaran
Perilaku pasar (Market Conduct) di analisis dengan 4 indikator yaitu praktek-praktek penentuan harga harus memungkinkan adanya grading dan standarisasi komoditi peternakan, biaya pemasaran harus seragam, penentuan harga harus bebas dari praktek -praktek persekongkolan, tidak jujur ataupun perdagangan gelap, intervensipemerintah dalam bentuk kebijaksanaan harga harus dapat memperbaiki mutu produk dan peningkatan keputusan konsumen.
2.Analisis Struktur dan Keragaan Pasar
Analisis ini menggunakan pendekatan SCP (Structure, Conduct, Performance). Struktur pasar (Market Structure) di analisis dengan 3 indikator
yaitu ukuran jumlah pembeli dan penjual harus banyak sehingga menjamin adanya suatu intensitas persaingan yang memadai dalam hal harga dan kualitas produk, adanya kebebasan masuk dan keluar pasar bagi lembaga – lembaga pemasaran, jumlah pembeli harus memadai sehingga mendorong peningkatan efisiensi investasi dalam usaha pemasaran komoditi peternakan.
intervensipemerintah dalam bentuk kebijaksanaan harga harus dapat memperbaiki mutu produk dan peningkatan keputusan konsumen. Keragaan Pasar (Market Performance) di analisis dengan 4 indikator yaitu harus terdapat kemajuan
teknologi, adanya orientasi untuk perkembangan lembaga - lembaga pemasaran, adanya peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya, adanya perbaikan kualitas produk dan maksimasi jasa pemasaran dengan biaya serendah mungkin (Sudiyono, 2002).
23
2. Analisis margin pemasaran.
Menurut soekartawi (1995), untuk mencari margin pemasaran dapat digunakan rumus :
MP = Pr – Pf Keterangan :
MP : Margin pemasaran (Rp/Kg)
Pr : Harga di tingkat konsumen (Rp/Kg) Pf : Harga di tingkat peternak (Rp/Kg)
2. Analisis Farmer`s Share yang diterima produsen
Menurut Sudiyono (2002), untuk mencari Share harga yang diterima produsen dapat digunakan rumus :
Keterangan :
Spf : Farmer`s Share (%)
Pf : Harga di tingkat Peternak (Rp/Kg) Pr : Harga di tingkat konsumen (Rp/Kg)
3. Analisis share biaya pemasaran dan share keuntungan lembaga pemasaran Menurut Sudiyono (2002), untuk mencari share biaya pemasaran dan share keuntungan lembaga pemasaran dapat digunakan rumus :
Ski
=
x 100% Sbi =
x 100%
Keterangan :
Ski : Share keuntungan lembaga pemasaran ke-i (i=1)(Rp/Kg) Kpi : keuntungan lembaga pemasaran ke-i(Rp/Kg)
Sbi : Share biaya pemasaran ke-i(Rp/Kg) Kpi : biaya pemasaran ke-i (Rp/Kg) Pr : harga di tingkat konsumen (Rp/Kg) Pf : harga di tingkat produsen (Rp/Kg) 4. Efisiensi Pemasaran
Menurut Downey dan Erickson (1992) bahwa sistem pemasaran dikatakan efisien kalau nilai efesiensi pemasarannya < 1. Tolak ukur yang digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran adalah dengan melihat perbandingan share keuntungan dari masung-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran dibandingkan dengan biaya pemasaran dari masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dengan kriteria sebagai berikut :
a. Margin pemasaran
Pemasaran dikatakan efisien apabila margin pemasaran peternak lebih besar dari margin pemasaran yang diterima oleh lembaga pemasaran secara keseluruhan dan sebaliknya.
b. Berdasarkan share biaya dan share keuntungan
Pemasaran dikatakan efisien jika share keuntungan > dari share biaya dan sebaliknya.
c. Berdasarkan farmer`s share
Dikatakan efisien jika farmer`s share> 50 %. Nilai farmer`s share memiliki hubungan negatif dengan margin pemasaran artinya semakin tinggi margin pemasaran maka farmer`s share semakin rendah.
25
d. Rasio keuntungan biaya
Dikatakaan efesien jika rasio kentungan biaya > 1 dan sebalikya.
Defenisi dan Batasan Operasional
Untuk menghindari kekeliruan dan kesalah pahaman dalam menafsirkan penelitian, maka dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut :
Defenisi
1. Ternak domba adalah hewan ruminansia selain sapi, kerbau dan kambing yang dapat dijadikan sebagai sumber daging.
2. Pemasaran adalah kegiatan ekonomi yang berfungsi menyampaikan barang dari produser ke konsumen melalui perantara atau lembaga pemasaran.
3. Pasar hewan adalah tempat untuk bertransaksi jual beli hewan yaitu meliputi kerbau, sapi, kambing dan domba.
4. Lembaga pemasaran adalah orang atau badan usaha yang terlibat dalam proses pemasaran ternak domba di pasar hewan tradisional sendang rejo Kota Binjai.
5. Saluran pemasaran adalah penjualan barang-barang dan volume arus barang pada setiap saluran dari peternak/produser ke konsumen.
6. Margin pemasaran adalah selisih harga jual ternak domba ke lembaga pemasaran berikutnya dengan harga beli dari lembaga sebelumnya.
7. Farmer`s share adalah persentase harga domba yang diterima oleh peternak yaitu dengan membandingkan harga ternak domba dari peternak dengan harga beli ternak domba pada konsumen dikalikan 100%.
8. Efesiensi pemasaran adalah suatu ukuran dimana pembagian antara biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan tiap unit produk dengan harga produk yang dipasarakan dan dinyatakan dalam persen.
9. Produser/peternak adalah orang yang menghasilakn produk ternak domba dan terlibat dalam saluran pemasaran ternak domba.
10. Pedagang adalah lemabaga pemasaran yang membeli ternak domba dari peternak dan menjualnya kembali dengan tingkat keuntungan tertentu.
Batasan Operasional
1. Penelitian dilakukan di Pasar Hewan Tradisional sendang rejo Kota Binjai.
2. Penelitian dilakukan mulai bulan juli - agustus 2019.
3. Objek penelitian adalah lembaga-lembaga pemasaran ternak domba yang terlibat dalam pemasaran ternak domba di pasar hewan tradisional sendang rejo Kota Binjai.
4. Ruang lingkup penelitian ini adalah analisis pemasaran ternak domba di pasar hewan tradisional sendang Kota Binjai. Analisis pemasran ini dilakukan dengan melihat lembaga dan saluran pemasaran, analisis margin pemasaran, analisis farmer`s share, biaya pemasaran, dan share keuntungan, serta menganalisis efisiensi pemasaran.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pasar Hewan Sendang Rejo Kota Binjai
Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai sudah berdiri pada tahun 2013 dan sudah beroperasi sekitar kurang lebih 6 tahun. Pasar Hewan ini adalah pasar hewan tradisional yang dibangun oleh masyarakat, agen dan para peternak. Pasar hewan ini terbentuk dikarenakan sudah tidak berfungsi nya pasar hewan yang dibangun oleh pemerintah. Pasar hewan resmi dari pemerintah tutup dikrenakan para penjual lebih suka datang ke pasar hewa tradisional karna memiliki lokasi yang strategis dan tempat yang bersih dan memiliki jam operasional pagi mulai dari pukul 10.00-12.00 WIB. Pasar Hewan Tradisional belum di resmikan oleh pemerintah di karenakan lahan yang digunakan adalah lahan yang dimiliki oleh masyarakat. Pasar Hewan Tradisional sendang rejo ini buka setiap hari mulai pada pukul 09.00-12.00 WIB. Dimana pihak penjual dan konsumen yang ada di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo melakukan kegiatan transaksi jual beli ternak domba secara langsung. Permintaan ternak domba meningkat pada bulan-bulan tertentu seperti pada bulan menjelang idhul fitri dan idhul adha. Adapun penjual dan pembeli ternak domba yang ada di Pasar Hewan dari dalam dan luar Kota Binjai.
Ternak domba yang di jual di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai yang sudah dilakukan minggu pertama jumlahnya sebanyak160 ekor, pada minggu kedua ternak domba yang terjual sebanyak 190 ekor, pada minggu ketiga ternak domba yang terjual sebanyak 170 ekor dan minggu keempat ternak domba yang terjual sebanyak 150 ekor.
Karakteristik Lembaga-Lembaga Pemasaran a. Karakteristik Pedagang Pengumpul
Dalam proses penyaluran komoditi ternak domba dari produsen hingga sampai ke tangan konsumen akan melalui beberapa lembaga pemasaran.Dalam penelitian ini terdapat 21 orang pedagang ternak domba. Masing-masing pedagang ternak domba dari Pasar Hewan Tradisional Sambirejo Kota Binjai yang terlibat memiliki sifat yang berpengaruh pada aktivitas pemasaran yang dilakukan. Karakteristik penjual ternak domba yang meliputi jenis kelamin, umur , tingkat pendidikan dan lama usaha.
1. Jenis Kelamin Pedagang Pengumpul di Pasar Hewan Tradisional Sendang rejo Kota Binjai
Pedagang yang berada di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai 100% berjenis kelamin laki-laki hal ini di karenakan aktivitas fisik yang berat seperti pengangkutan yang memerlukan tenaga yang besar dan memerlukan waktu yang besar juga sehingga semua berjenis kelamin laki-laki.
2. Umur Pedagang Pengumpul di Pasar Hewan Sendang Rejo Kota Binjai Tabel 3. Umur Pedagang Pengumpul Ternak Domba
No Kelompok (Tahun) Jumlah Pedagang Pengumpul (orang)
Persentase Kelompok
1 Umur < 35 10 47,61
2 Umur 35-50 8 38,10
3 Umur >51 3 14,29
Total 21 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2019)
Pedagang pengumpul yang berada di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai pada umur produktif yaitu pada umur 35-50 tahun adalah sebanyak 8 orang (38,09%) dan pedagang dengan umur dibawah 35 tahun sebanyak 10 orang (47,61%) sementara itu pada tingkat umur lebih besa dari 51
29
tahun adalah sebanyak 3 orang (14,28%). Hal ini megindikasikan bahwa pedagang pengumpul sebagian besar termasuk dalam umur yang produktif dan sudah cukup berpengalaman.
3.Tingkat Pendidikan Pedagang Pengumpul di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai
Tabel 4. Tingkat Pendidikan Pedagang Pengumpul Ternak Domba No Tingkat Pendidikan Jumlah Pedagang
Pengumpul (orang)
Persentase Pendidikan ( % )
1 SMP 7 33,34
2 SMA/SLTA 13 61,90
3 S1 1 4,76
Total 21 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2019)
Berdasarkan tingkat pendidikan pedagang pengumpul dalam bentuk jumlah dan persentase sebanyak 7 orang (33,34%) responden tamat SMP, sebanyak 13 orang (61,90%) responden tamat SMA/SLTA, dan 1 orang (4,76%) responden tamat dari S1 perguruan tinggi. Hal ini menujukkan sebagian besar pedagang pengumpul memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi ( di atas SMA).
4. Lama Usaha Peternak Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Tabel 5. Lama Usaha Peternak Domba
No Lama Usaha (tahun) Jumlah Pedagang Pengumpul (orang)
Persentase Peternak
1 Usaha < 10 13 61,90
2 Usaha 10-20 8 38,09
3 Usaha < 20 - -
Total 21 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2019)
Berdasarkan tabel di atas, bahwa masing-masing pedagang pengumpul dengan pengalaman usaha antara 10 tahun (61,90%) dan 10-20 tahun sebesar (38,09%). Hal ini menunjukan bahwa pedagang relatif sudah berpengalaman
Pengalaman berusaha sangat dibutuhkan oleh pelaku pemasaraan ternak domba karna membutuhkan pengetahuan dan informasi mengenai pemasaran ternak domba dan juga membutuhkan relasi.
Karakteristik Peternak
Peternak merupakan produsen ternak domba yang juga berperan sebagai lembaga pemasaran. Peternak berperan dalam menjualkan domba secara langsung kepada konsumen di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai. Peternak responden dalam penelitian ini berasal dari luar dan dalam kota binja.
Peternak yang berasal dari dalam kota dan luar binjai berjumlah 6 orang.
a. Jumlah Kelamin Peternak
Berdasarkan data hasil survei, bahwa sebanyak (100%) peternak berjenis kelamin laki-laki. Hal ini menunjuk bahwa peternak seluruh nya berjenis kelamin laki-laki. Peternak merupakan produsen ternak domba yang juga berperan sebagai lembaga pemasaran. Peternak berperan dalam menjualkan ternak domba secara langsung kepada konsumen di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai. Dalam hal tenaga fisik yang berhubungan dengan proses pengangkutan ternak untuk di pasarkan.
b. Umur Peternak di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai Tabel. 6 Umur Peternak
No Kelompok Umur Jumlah Peternak (orang) Persentase Umur
1 Umur 41-50 2 33,33
2 Umur 51-60 3 50
3 Umur >60 1 16,66
Total 6 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2019)
Berdasarkan tabel di atas persentase kelompok umur 41-50 (33,33%)
31
tersebut dikatakan produktif (15-64) yang artinya tidak ada batasan umur dalam beternak domba.
c. Tingkat Pendidikan Peternak Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai
Tabel 7. Tingkat Pendidikan Peternak
No Tingkat Pendidikan Jumlah Peternak (orang) Persentase Pendidikan
1 SD 1 16,66
2 SMP 2 33,33
3 SMA 3 50
Total 6 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2019)
Berdasarkan hasil tingkat pendidikan adalah tamatan SD 1 orang (16,66%), SMP 2 orang (33,33%), dan diikuti dengan pendidikan SMA 3 orang (50%). Hal ini menujukkan sebagian besar peternak memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi.
d.Lama Beternak Tabel 8. Lama Beternak
No Lama Usaha (tahun) Jumlah Peternak (orang) Persentse Lama Usaha
1 Usaha 10-20 3 50
2 Usaha < 20 3 50
Total 6 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2019)
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa karakteristik peternak responden bedasarkan lama beternak usaha beternak menunjukkan bahwa 10-20 tahun (50%), < 20 tahun ( 50%). Hal ini menunjukkan bahwa peternak ternak domba sudah memiliki banyak pengalaman beternak, sehingga dapat menjalankan usaha dengan manjemen yang baik untuk hasil yang maksimal.
Lembaga Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan utama yang dilakukan oleh peternak maupun lembaga-lembaga pemasaran guna mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dalam memasarkan suatu komoditas maupun produk tertentu. Berdasarkan hasil penelitian pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Tradisonal Sendang Rejo Kota Binjai ada dua lembaga pemasaran yang berperan dalam pemasaran ternak domba yaitu peternak dan pedagang pengumpul.
Peternak merupakan produsen ternak domba yang juga berperan sebagai lembaga pemasaran. Peternak berperan dalam menjualkan domba secara langsung kepada konsumen di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai.
Peternak yang datang ke pasar hewan untuk menjualkan domba nya berasal dari dalam dan luar Kota Binjai.Bukan hanya peternak domba dari Binjai saja yang datang ke pasar hewan tetapi ada juga dari Langkat dan Medan, Karna pasar hewan Payaroba Kota Binjai ini buka setiap hari nya. Adapun peternak yang terlibat dalam pemasaran ini berjumlah 6 orang.
Pedagang pengumpul adalah lembaga pemasaran yang bertindak membeli ternak domba dari peternak dan menjual ke konsumen yang berada di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai. Dari responden yang ditemukan di pasar hewan terdapat 21 orang yangterlibat sebagai pedagang pengumpul pedagang.
Konsumen merupakan pihak terakhir di dalam saluran pemasaran ternak domba yang terdiri dari tiga jenis konsumen yaitu konsumen yang membeli ternak domba untuk di ternakkan kembali, konsumen yang membeli ternak domba untuk dijual kembali serta konsumen yang membeli untuk dijual kembali dalam bentuk
33
daging setelah dipotong. Konsumen banyak yang berasal dari daerah Binjai, Medan dan Langkat.
Saluran Pemasaran
Dalam kegiatan pemasaran terdapat lembaga pemasaran yang merupakan lembaga perantara yang menghubungkan produsen ke konsumen dalam menyampaikan hasil produksi:
Saluran Pemasaran I
Gambar 1. Skema Saluran Pemasaran I
Berdasarkan gambar di atas adalah jenis pemasaran yang termasuk saluran pemasaran I tingkat karena melibatkan satu lembaga pemasaran yaitu peternak.
Pada saluran ini peternak domba langsung membawa ternak domba ke pasar hewan untuk dijual. Alasan peternak secara langsung menjualnya ke pasar hewan karena tempat tinggal yang berdekatan dengan pasar hewan, semua keuntungan dari penjualan untuk peternak dan ingin melihat dan membeli ternak domba secara langsung milik peternak lainnya. Dari responden yang ditemukan di pasar hewan terdapat 6 orang yang berperan dalam saluran pemasaran I mereka berasal dari Kota Binjai dan Stabat.
Saluran Pemasaran II
Gambar 2. Skema Saluran Pemasaran II
Saluran pemasaran II disebut juga dengan pemasaran 2 tingkat karena melibatkan dua lembaga pemasaran yaitu peternak dan pedagang pengumpul.
Peternak
R. Makan
Peternak
Pedagang Pengumpul
Pembeli di pasar Pasar
Petani Pembeli luar daerah
Petani
Pedagang pengumpul membeli ternak domba dari para peternak yang berada di sekitar tempat tinggal nya yang kemudian akan menjual nya kembali di pasar hewan. Dari responden yang ditemukan di pasar hewan terdapat 21 orang yang terlibat sebagai pedagang pengumpul. Mereka berasal dari Medan, Binjai, Stabat dan Langkat
Fungsi Pemasaran
Fungsi pemasaran adalah fungsi yang dilakukan oleh setiap komponen yang saling berinteraksi dalam sistem pemasaran. Fungsi pemasaran diperlukan untuk memperlancar pendistribusian Ternak Domba. Fungsi lembaga pemasaran ternak domba di pasar hewan Payaroba Kota Binjai dilihat pada tabel berikut:
Tabel 9. Fungsi Lembaga Pemasaran Domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai.
Lembaga Pemasaran Fungsi Pemasaran Perlakuan
Peternak Pertukaran Penjualan
Fisik Pengankutan
Fasilitas Pembiyaan
Pedagang Pengumpul Pertukaran Penjualan, Pembelian
Fisik Pengankutan
Fasilitas Informasi
Pasar,Pembiayaan, Pengumpulan,
Penanggungan resiko
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui fungsi pemasaran masing-masing lembaga pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Sendang Rejo Kota Binjai.
Aktivitas yang dilakukan lembaga pemasaran adalah melakukan sejumlah fungsi- fungsi pemasaran. Fungsi pemasaran tersebut seperti fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi penyediaan sarana. Berdasarkan hasil pengamatan, lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran ternak domba di Pasar Hewan
35
Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai tidak melakukan semua fungsi pemasaran yang ada.
Peternak melakukan fungsi pertukaran yaitu fungsi penjualan berupa ternak domba dengan harga jual rata-rata yaitu Rp. 1.433.333per ekor. Fungsi fisik yang dilakukan adalah fungsi pengangkutan dan penyimpanan. Fungsi pengangkutan yang dilakukan oleh peternak yaitu pengangkutan ternak domba dari tempat tinggal peternak ke pasar hewan dengan menggunakan keadaan bermotor Rata- rata biaya yang dikeluarkan untuk biaya transportasi adalah Rp. 10.000 per ekor.
Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh peternak yaitu fungsi pembiayaan. Dalam hal ini peternak melakukan semua pembiayaan pemasaran seperti biaya transportasi.
Pedagang pengumpul melakukan fungsi pertukaran yaitu fungsi pembelian dan fungsi penjualan. Harga rata-rata ternak domba yang dibeli pedagang pengumpul dari peternak yaitu Rp. 1.140.476per ekor dan rata-rata harga jual ternak domba yang dijual pedagang pengumpul di pasar hewan yaitu Rp.1.647.619 per ekor. Fungsi fisik yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah fungsi pengangkutan. Pengangkutan yang dilakukan adalah pengangkutan ternak domba dari tempat tinggal pedagang pengumpul ke pasar hewan dengan menggunakan kendaraan bermotor yang memiliki rata-rata biaya transportasi sebesar Rp.11.904 per ekor. Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah informasi pasar, pembiayaan, pengumpulan, penanggungan resiko. Pedagang pengumpul memberitahukan informasi pasar kepada peternak disekitar tempat tinggal nya baik dari segi harga ternak domba dan permintaan ternak domba di pasar hewan. Pedagang pengumpul juga melakukan
penanggungan resiko atas ternak yang dijual nya ke pasar hewan baik dari segi harga maupun tingkat stres ternak domba tersebut.
Struktur Pasar
Struktur pasar adalah karakteristik lembaga dari suatu pasar yang menentukan hubungan antara penjual yang satu dengan penjual yang lain, antara pembeli dengan penjual, serta hubungan antara penjual di pasar dengan penjual potensial yang akan keluar masuk pasar. Berdasarkan lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai terdapat dua lembaga pemasaran yang terlibat. Dua lembaga pemasaran tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 10. Jumlah Lembaga Pemasaran Ternak Domba Yang Terlibat di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai
No. Lembaga Pemasaran Jumlah (n) Persentase
1 Peternak 6 22,22
2 Pedagang Pengumpul 21 77,77
Total 27 100 Sumber: Hasil survei data diolah (2019)
Dari tabel diatas diketahui bahwa pedagang pengumpul lebih banyak terlibat dalam pemasaran ternak domba yang memiliki persentase 77,77 % dibanding dengan peternak yang memiliki persentase 22,22 %. Hal ini diakibatkan karena kurangnya informasi tentang pasar hewan kepada peternak dan pedagang pengumpul lebih banyak menguasai pasar hewan dan pasar ditingkat masyarakat.
1. Ukuran jumlah penjualan dan pembeli ternak domba
Berdasarkan hasil pengamatan di Pasar Hewan Sendang Rejo Kota Binjai diketahui bahwa ukuran penjual dan pembeli sangat banyak. Di pasar hewan tersebut tidak hanya memiliki satu penjual ataupun satu pembeli sehingga mengakibatkan persaingan harga maupun produk. Dilihat dari segi penjual maka
37
pasar hewan tersebut adalah pasar oligopoli dan dilihat dari segi pembeli maka pasar hewan tersebut adalah pasar oligopsoni. Dengan banyak nya penjual dan pembeli pada Pasar Hewan Sendang Rejo Kota Binjai maka diambil keputusan bahwa pemasaran ternak domba di pasar hewan tersebut telah memenuhi kriteria efisiensi pemasaran
2. Adanya kebebasan keluar masuk pasar
Berdasarkan hasil pengamatan di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai diketahui bahwa penjual dan pembeli bebas untuk keluar masuk pasar. Mereka yang melakukan aktivitas di pasar hewan tidak perlu untuk mendapatkan izin dari pihak manapun, baik dari pemerintah maupun lembaga lainnya. Dengan adanya kebebasan keluar masuk pasar maka pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai sudah memenuhi kriteria efisiensi pemasaran
3.Jumlah pembeli harus memadai
Berdasarkan hasil pengamatan di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai diketahui bahwa pembeli ternak domba selalu berdatangan tiap harinya ke pasar hewan untuk membeli ternak domba. Hal ini didukung dengan keberlangsungan kegiatan pasar yang setiap harinya buka dan terjual nya semua jumlah ternak domba yang ditawarkan oleh para pedagang. Dalam hal ini permintaan ternak domba terus berlangsung dan tetap ada. Dengan adanya jumlah pembeli yang memadai maka pemasaran ternak domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai telah memenuhi kriteria efisiensi pemasaran.
Perilaku Pasar
Perilaku pasar menunjukkan tingkah laku lembaga pemasaran dalam struktur pasar tertentu terutama bentuk-bentuk keputusan apa yang harus diambil dalam menghadapi berbagai struktur pasar. Perilaku pasar meliputi kegiatan penjualan, pembelian, penentuan harga, dan strategi tataniaga. Kriteria yang digunakan untuk menentukan perilaku pasar adalah praktek-praktek penentuan harga harus memungkinkan adanya grading dan standarisasi, biaya pemasaran harus seragam, penentuan harga harus bebas dari praktek-praktek persekongkolan, tidak jujur ataupun perdagangan gelap, dan intervensi pemerintah dalam bentuk kebijakanharga harus dapat memperbaiki mutu produk dan peningkatan keputusan konsumen.
1. Praktek penentuan harga
Praktek-praktek penentuan harga ternak domba di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai dilihat berdasarkan penerima harga (price taker) dan penentu harga (price maker). Harga ternak domba di pasar hewan disesuaikan dengan kesepakatan antara penjual dan pembeli. Penjual dan pembeli dalam penentuan harga dengan mempertimbangkan faktor perkiraan berat badan ternak domba. Tidak ada faktor lain selain dari perkiraan berat badan ternak domba dalam penentuan harga di Pasar Hewan Tradisional Sendang Rejo Kota Binjai.
2.Biaya pemasaran
Kriteria yang digunakan untuk menentukan perilaku pasar adalah biaya pemasaran harus seragam. Biaya pemasaran merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk mendistribusika tenak domba dari tangan peternak sampai ke tangan konsumen di Pasar Hewan Sendang Rejo Kota Binjai. Biaya pemasaran