BAB II
KONSELING SINGKAT BERORIENTASI SOLUSI UNTUK MENINGKATKAN HARGA DIRI
A. Konsep Harga Diri 1. Definisi Harga Diri
Pada awalnya, definisi harga diri merujuk pada pemahaman harga diri sebagai kompetensi (competence), yaitu penilaian tentang kondisi kemampuanya saat ini (actual real/ self), yang sering dibandingkan dengan kondisi kemampuan yang diinginkan individu (ideal self). Setelah itu pemahaman mengenai konsep harga diri semakon berkembang (Murk, 2006).
Guindon (2010: 207) mengungkapkanharga diri adalah “komponen sikap, evaluatif diri; penilaian afektif ditempatkan pada konsep diri yang terdiri dari perasaan berharga dan penerimaan yang dikembangkan dan dipelihara sebagai konsekuensi dari kesadaran akan kompetensi dan umpan balik dari dunia luar”.
Ghufron (2010:39) berpendapat bahwa harga diri adalah tingkat penilaian yang positif atau negative yangdihubungkan dengan konsep diri seseorang. Harga diri merupakan evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri secara positif dan juga sebaliknya dapatmenghargai secara negative.
Rosenberg (Guindon, 2010:11) mendefinisikan harga diri adalah sebagai evaluasi yang dilakukan seseorang baik dalam cara positif maupun negatif terhadap suatu objek khusus yaitu diri.
Tafarodi & Swann (2001:1179) mengungkapkan bahwa harga diri adalah dua aspek yang saling terkait dimana individu dapat merasa nyaman dengan dirinya (Self liking)dan menghargai kompetensi dirinya (Self competence).
Berdasarkan penjabaran mengenai harga diri di atas dapat disimpulkan bahwa harga diri adalah suatu keberhargaan yang dimiliki oleh individu dalam menilai keseluruhan sikap individu terhadap dirinya yang tampak dari perasaan berharga atau tidak berharganya seseorang.
Ada perbedaan karakteristik antara individu dengan harga diritinggi dan rendah. Penelitian Guindon (2010) menunjukan bahwa dengan harga diritinggi lebih mandiri dan dan lebih mampu mengarahkan diri. Sementara itu, remaja
dengan harga dirirendah memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu diantaranya memiliki masalah interpersonal, memiliki kegagalan akademis, ketergantungan, perlawanan terselubung, depresi, kecemasan (Coetzee, 2009:19).
Guindon (2010:19) menjabarkan lebih lanjut karakteristik individu dengan harga diritinggi dan rendah, seperti yang nampak pada tabel berikut :
Tabel 2.1
Karakteristik Individu Dengan Harga DiriTinggi Dan Rendah Harga DiriTinggi Harga DiriRendah Merasa puas dengan dirinya. Merasa tidak puas dengan dirinya.
Bangga menjadi dirinya sendiri. Ingin menjadi orang lain atau berada diposisi orang lain.
Lebih sering mangalami rasa senang dan bahagia.
Lebih sering mengalami emosi yang negatif (stress, sedih, marah).
Dapat menerima kegagalan dan bangkit dari kekecewaan akibat gagal.
Sulit menerima kegagalan dan kecewa berlebihan saat gagal.
Memandang hidup secara positif dan dapat mengambil sisi positif dari kejadian yang dialami.
Memandang hidup dan berbagai kejadian dalam hidup sebagai hal yang negatif.
Menghargai tanggapan orang lain sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri.
Menggap tanggapan orang lain sebagai kritik yang mengancam.
Menerima peristiwa yang negatif yang terjadi dalam diri dan berusaha memperbaikinya.
Membesar-besarkan peristiwa negatif yang pernah dialami.
Mudah untuk berinteraksi, berhubungan dekat dan percaya pada orang lain.
Tidak mudah berinteraksi, berhubungan dekat dan percaya pada orang lain.
Berani mengabil resiko. Menghindar dari resiko.
Bersikap positif pada orang lain atau Bersikap negatif (sinis) pada orang lain
institusi yang terkait denagan dirinya.
atau insstitusi yang terkait dengan dirinya.
Optimis. Pesimis.
Berpikir konstruktif (dapat mendorong diri sendiri)
Berpikir yang tidak membangun (merasa tidak dapat membantu diri sendiri).
Tingkat harga diri pada siswa tidaklah sama antara satu dengan lainnya, dan hal ini sangat mempengaruhi rasa percaya diri siswa. Dengan harga diri yang tinggi, siswa dapat mengembangkan dan meningkatkan rasa percaya dirinya dengan baik. Bila siswa memiliki harga diri yang tinggi menganggap diri sebagai orang yang berharga, dapat mengontrol tindakannya, menyukai tugas baru, berhasil/berprestasi dibidang akademik, tidak menganggap dirinya sempurna, memiliki nilai dan sikap demokratis, lebih bahagia dan efektif menghadapi tuntutan lingkungan.
Sedangkan siswa yang memiliki harga diri rendah yaitu menganggap diri tidak berharga, sulit mengontrol tindakan dan prilakunya, tidak menyukai segala hal atau tugas yang baru, tidak yakin akan pendapat dan kemampuan diri, menganggap diri kurang sempurna, kurang memiliki nilai dan sikap yang demokratis, dan selalu merasa khawatir dan ragu-ragu dalam menghadapi tuntutan dari lingkungan. Selain itu dengan harga diri tinggi tidak akan menjadi penghambat individu untuk memulai bergaul dengan teman sebayanya. Individu akan menjadi percaya diri dan mudah membangun interaksi (Sarwan, A., &
Nur’aini, 2018:39).
2. Aspek-aspek Harga Diri
Aspek harga diri merupakan hal-hal yang sangat penting bagi terbentuknya harga diri pada individu, aspek-aspek harga diri mencakup power (kekuatan), significance (keberartian), virtue (kebajikan) dan competence (kemampuan) (Mruk, 2006):
a. Power (Kekuatan)
Power ialah kemampuan individu untuk mempengaruhi aksinya dengan mengontrol tingkah lakunya sendiri dan mempengaruhi orang lain. Dalam situasi tertentu, power tersebut muncul melalui pengakuan dan penghargaan yang diterima oleh individu dari orang lain, dan melalui kualitas penilaian terhadap pendapat-pendapat dan hak-haknya. Efek dari pengakuan tersebut adalah menumbuhkan perasaan penghargaan (sense of appreciation) terhadap pandangannya sendiri dan mampu melawan tekanan untuk melakukan konformitas tanpa mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan dan pendapat- pendapatnya sendiri. Masing-masing perlakuan tersebut bisa mengembangkan control sosial, kepemimpinan, dan kemandirian yang mampu memunculkan sikap asertif, energik, tingkah laku, eksplorasi.
b. Significance (keberartian)
Keberartian dalam hal ini dilihat dari penerimaan, perhatian, dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh orang lain. Ekspresi dari penghargaan dan minat terhadap individu tersebut termasuk dalam pengertian penerimaan (acceptance) dan popularitas (popularity), yang merupakan kebalikan dari penolakan dan isolasi. Penerimaan ditandai dengan kehangatan, responsifitas, minat, dan menyukai individu apa adanya. Dampak utama dari masing-masing perlakuan dan kasih sayang tersebut adalah menumbuhkan perasaan berarti (sense of importance) dalam dirinya. Makin banyak orang menunjukkan kasih sayang, maka makin besar kemungkinan memiliki penilaian diri yang baik.
c. Competence (kompetensi)
Keberhasilan pada area ini ditandai dengan tingkat pencapaian yang tinggi, dengan tingkatan dan tugas yang bervariasi untuk tiap kelompok usia. Mruk, (2006) menunjukkan bahwa pengalaman-pengalaman seorang anak mulai dari masa bayi yang diberikan secara biologis dan rasa mampu (sense of efficacy) yang memberikannya kesenangan, membawanya untuk selalu berhadapan dengan lingkungan dan menjadi dasar bagi pengembangan motivasi instrinsik untuk mencapai kompetensi yang lebih tinggi lagi.
d. Virtue (Kebajikan)
Kebajikan dalam hal ini ditandai oleh tingkah laku patuh pada kode etik, moral, dan prinsip-prinsip agama. Orang yang mematuhi kodeetik dan agama dan kemudian menginternalisasikannya, menampilkan sikap diri yang positif dengan keberhasilan dalam pemenuhan terhadap tujuan-tujuan pengabdian terhadap nilai- nilai luhur. Perasaan berharga yang muncul diwarnai dengan sentiment-sentiment keadilan dan kejujuran, dan pemenuhan terhadap hal-hal yang bersifat spiritual.
Buss (1995) menjelaskan bahwa komponen dari harga diri tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian, pertama pada aspek penampilan, kemampuan dan kekuatan berkaitan dengan aspek percaya diri. Kemudian aspek penghargaan sosial, apresiasi, dan moralitas, berkaitan dengan kecintaan pada diri dan aspek harga diri.
Menurut Tafarodi & Swann (2001) aspek-aspek harga diri ada dua aspek yaitu:
a. Menyukai diri (self liking)
Self liking merupakan evaluasi terhadap dirinya sendiri suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju dengan apa yang dimilikinya dan mampu menerima dirinya sendiri.
b. Kemampuan diri (self competence)
Self competence merupakan evaluasi diri secara positif maupun negatif terhadap kemampuan yang dimiliki dan berkaitan erat dengan kekuatan individu untuk mencapai keberhasilanya.
Dari dua aspek diatas dapat disimpulkan bahwa harga diri merupakan penilaian terhadap diri sendiri melalui self liking (menyukai diri) dan self competence (kemampuan diri). Aspek ini lebih pada penerimaan diri sendiri. Self liking dapat dikatakan sebagai pandangan terhadap diri sendiri, apakah dapat menerima dirinya sendiri terhadap penilaian orang lain yang diberikan padanya, suka atau tidak suka pada dirinya, setuju atau tidak setuju dengan apa yang dimiliki dirinya. Self liking yang tinggi akan menjadikan individu nyaman terhadap diri dan lingkungannya, memiliki pengaruh yang poitif yang rendah akan menjadikan individu memiliki penilaian yang buruk terhadap dirinya.
Pada dasarnya, menyukai diri sendiri adalah pengalaman penilaian diri sebagai objek sosial, orang baik atau orang jahat. Sebagai sifat umum, siswa dapat mengurangi rasa nilai yang kronis dan keseluruhan sebagai individu dengan signifikansi sosial. Dengan sosial, yang dimaksud menyarankan bahwa menyukai diri sendiri terutama adalah persepsi siswa tentang nilai yang orang lain akreditasi kepada siswa, meskipun ini jelas merupakan salah satu sumber berkelanjutan.
Sebaliknya, suka pada diri sendiri yang dewasa bersandar terutama pada nilai sosial yang siswa anggap sebagai milik diri sendiri.
Sedangkan, Kompetensi diri sangat erat terkait tetapi tidak setara dengan efektivitas diri yang didefinisikan sebagai "kepercayaan orang tentang kemampuan mereka untuk melakukan kontrol atas peristiwa yang mengendalikan hidup mereka".
3. Faktor yang mempengaruhi Harga diri Remaja
Menurut Coopersmith (1967:16), faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri yaitu;
a. Kondisi Fisik
Adanya konsistensi antara daya tarik fisik dan tinggi badan dengan harga diri. Individu dengan kondisi fisik yang menarik cenderung memiliki harga diri yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi fisik yang kurang menarik. Begitu juga dengan remaja yang terlalu memikirkan masalah ukuran dan bentuk tubuhnya. Mereka akan berusaha keras untuk bisa mempertahankan bentuk tubuh atau menurunkan berat bandannya.
b. Faktor Jenis Kelamin
Wanita selalu merasa harga dirinya lebih rendah dari pada pria, seperti perasaan kurang mampu, kepercayaan diri yang rendah, atau merasa butuh di lindungi. Hal ini terjadi karena peran orang tua dan harapan-harapan dari masyarakat yang berbeda-beda baik pria maupun wanita.
c. Intelegensi
Individu dengan harga diri yang tinggi akan mencapai prestasi akademik yang tinggi, dibandingkan dengan individu yang memiliki harga diri yang rendah.
Selain itu, individu yang memiliki harga diri yang tinggi juga memiliki skor intelegensi yang lebih baik, taraf aspirasi yang lebih baik, dan selalu berusaha lebih keras.
d. Lingkungan Keluarga
Perlakuan adil, dan pemberian kesempatan untuk aktif dan mendidik yang demokratis akan membuat anak memiliki harga diri yang tinggi. Orang tua yang sering memberi hukuman dan larangan tanpa penyebab dan alasan akan menyebabkan anak merasa tidak berharga. Individu yang dengan keluarga yang bahagia akan memiliki harga diri yang tinggi karena berada dalam keluaga yang mampu memberikannya rasa aman, nyaman, menerima apa adanya, memberikan rasa cinta, dan selalu memberikan tanggapan positif.
Sedangkan, pengabaian dan penolakan akan membuat individu merasa tidak berharga secara otomatis. Karena, individu akan merasa tidak berharga, merasa diacuhkan dan tidak dihargai, sehingga mereka akan mengalami perasaan negatif terhadap dirinya sendiri.
e. Lingkungan Sosial
Ada beberapa perubahan dalam harga diri, dan dapat dijelaskan melalui konsepkonsep kesuksesan, nilai, aspirasi dan mekanisme pertahanan diri.
Kesuksesan tersebut timbul melalui pengalaman dalam lingkunga, kesuksesan dalam bidang tertentu, kompetisi, dan nilai kebaikkan. Hal tersebut merupakan hasil dari proses lingkungan, penghargaan, penerimaan, dan perlakuan orang lain kepadanya. Termasuk penerimaan teman dekat (peer), mereka bahkan bersedia untuk melepaskan prinsip diri mereka dan melakukan perbuatan yang sama (conform) dengan teman dekat mereka agar bisa dianggap “sehati” meskipun perbuatan yang mereka lakukan adalah perbuatan negatif.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri yaitu, kondisi fisik, faktor jenis kelamin, intelegensi, lingkungan keluarga, dan lingkungan sosial.
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri individu adalah kondisi fisik seseorang, hal ini sejalan dengan pendapat Santrock (2007) bahwa faktor yang mempengaruhi harga diri adalah kondisi fisik, karena kondisi fisik memberi sumbangan paling banyak pada harga diri seseorang, selain itu, kondisi fisik juga merupakan salah satu bagian dari citra tubuh, maka dalam hal ini citra tubuh dapat mempengaruhi harga diri seseorang. Oleh karena itu peneliti memilih citra tubuh yang diturunkan dari faktor kondisi fisik, sebagai faktor yang mempengaruhi harga diri seseorang.
Harga diriyang sehat bisa dibentuk dan dibina (ditumbuhkembangkan) yang tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ghufron (2010:44) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhipertumbuhan harga diri yaitu sebagai berikut:
a. Orang tua
Orang tua merupakan sumber utama pembentuk harga diri, khususnya di kalangan anak-anak. Pemberian yang paling berharga dari orang tua adalah meletakkan landasan harga diri yang kokoh, mengembangkan kepercayaan diri dari hormat diri.
b. Teman
Orang-orang terdekat dalam kehidupan keseharian akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan harga diri. Ketika anak berada di lingkungan sekolah dengan teman yang sering memperoloknya, maka lingkungan tersebut rendah baik bagi pertumbuhan harga diri yang sehat. Sebaliknya, teman sejawat dan kawankawan dekat dapat pula menumbuhkembangkan harga diriyang sehat.
Ini dikarenakan suasana pergaulan yang saling mendukung, saling menghargai terhadap usaha dan hasil yang dicapai seseorang.
c. Pencapaian Prestasi
Hasil yang dicapai dan memadai merupakan salah satu faktor bagi pengembangan selfesteem. Penciptaan perasaan tenang, yakin, dan mampu melaksanakan suatu tugas merupakan bibit bagi pengembangan harga diri.
Sebaliknya, apabila kegagalan beruntun yang diperoleh akan memberikan kesan mendalam bahwa kita tidak mampu mencapai sukses.
d. Diri Sendiri
Manusia akan berfungsi saat memiliki ilusi positif tentang diri sendiri pada tingkat yang sedang (Gufron, 2010:45). Sumber utama bagi pengembangan harga diri adalah diri anda sendiri. Kita dapat mempertinggi atau memperendah harga dirisesuai dengan perasaan kita sendiri. Seseorang yang sehat harga dirinya ditandai oleh beberapa ciri diantaranya adalah: Selalu memberi dorongan, motivasi kepada diri sendiri. Selalu memandang pada apa yang dikerjakan dan pada apa yang telah dilakukan.
e. Lingkungan
Lingkungan yang menerima seseorang akan memberikan peningkatan akan kebutuhan harga diri seseorang , namun jika lingkungan menolak seseorang maka akan menimbulkan kekecewaan terhadap seseorang dan akan membuat seseorang tersebut menjadi tidak percaya diri sehingga seseorang tersebut akan menarik diri dari lingkungan dan mengakibatkan rendahnya harga diri seseorang.
f. Pendidikan
Pendidikan di sekolah khususnya perangkat sekolah seperti guru biasanya selalu memberikan dorongan-dorongan kepada siswa untuk mengembangkan potensipotensi yang dimiliki oleh siswa sehingga siswa menjadi pribadi yang percaya diri dan memiliki tingkat harga diri yang tinggi.
Berdasarkan dari pendapat tersebut peneliti menyimpulkan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi harga diri yaitu faktor yang berasal dari internal dan dari faktor eksternal. Oleh sebab itu, setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda-beda sesuai dengan proses perkembangannya.
Ghufron dan Risnawita (2011:63) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi harga diri, diantaranya:
a. Faktor jenis kelamin
Jenis kelamin membuktikan bahwa harga diri wanita lebih randah dari pada harga diri pria.
b. Intelegensi
Intelegensi sebagai gambaran lengkap kapasitas fungsional individu sangat erat berkaitan dengan prestasi karena pengukuran intelegensi selalu
berdasarkan kemampuan akademis. Individu dengan harga diri yang tinggi akan mencapai prestasi akademik yang tinggi dari pada individu dengan harga diri yang rendah.
c. Kondisi fisik
Menemukan adanya hubungan yang konsisten antara daya tarik fisik dan tinggi badan dengan harga diri. Individu dengan kondisi fisik yang menarik cenderung memiliki harga diri yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi fisik yang kurang menarik.
d. Lingkungan keluarga
Peran keluarga sangat menentukan bagi perkembangan harga diri anak.
Seorang anak untuk pertamakalinya mengenal orangtua yang mendidik dan membesarkannya serta sebagai dasar untuk bersosialisasi dalam lingkungan yang lebih besar. Keluarga harus menemukan suatu kondisi dasar untuk mencapai perkembangan harga diri anak yang baik. Perlakuan adil, pemberian kesempatan untuk aktif dan mendidik yang demokratis akan membuat anak mendapat harga diri yang tinggi.
e. Lingkungan sosial
Ada beberapa ubahan dalam harga diri yang dapat dijelaskan melalui konsep-konsep kesuksesan, nilai, aspirasi, dan mekanisme pertahanan hidup.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut secara umum dapat dipahami bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri dapat di bedakan menjadi dua kelompok, yaitu faktor internal seperti jenis kelamin, intelegensi, kondisi fisik individu dan faktor eksternal seperti lingkungan sosial, sekolah dan keluarga.
Menurut Hill (2013) menjelaskan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya dan berubahnya harga diri seseorang, yakni:
a. Menanggapi situasi dalam lingkungan
Individu yang responsif dalam menanggapi umpan balik dari lingkungan dalam beberapa penelitian psikologi sosial berdampak pada harga diri dalam jangka pendek, seperti yang diungkapkan oleh Hill (2013) dalam kehidupan sehari-hari banyak situasi atau kenyataan terkait dengan peran sosial tertentu, misalnya anak-anak dan remaja dihargai dan dihukum karena perilaku tertentu di
sekolah dan di rumah. Hal ini merupakan situasi yang dapat membentuk diri, misalnya anak yang sering gagal di tugas utama perkembangan dapat menginternalisasikan hukuman atau umpan balik yang diterima sehingga mengembangkan citra diri yang negatif.
b. Refleksi diri
Refleksi diri dapat menjadi salah satu faktor berubahnya harga diri pada seseorang, perubahan kognitif seseorang menjadi salah satu faktor yang dapat merubah harga diri. Seiring perkembangan individu dari remaja, dewasa dan menjadi tua maka kemampuan individu secara kognitif dapat meningkat, hal ini lah yang kemudian juga dapat mempengaruhi perubahan dari harga diri (Hill, 2013).
c. Penilaian dari orang lain
Persepsi atau penilaian dari orang lain terhadap diri seseorang dapat mempengaruhi naik dan turunnya harga diriorang tersebut, misalnya penilaian dari pasangan akan mempengaruhi penilaian individu terhadap dirinya sendiri.
Ketika seseorang mendapat penilaian negatif dari pasangannya maka individu tersebut juga akan memandang dirinya negatif begitu juga sebaliknya. Penilaian dan persepsi negatif dari orang di luar individu itulah yang juga dapat merubah harga diri seseorang.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas mengenai Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri, maka dapat diperjelas bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terbentuk dan berkembangnya harga diri pada seseorang yaitu, penerimaan dari orang lain, keberhasilan yang pernah dicapai, nilai-nilai dan harapan yang dimiliki, refleksi diri dan cara individu merespon kegagalan dalam hidupnya
Berdasarkan penelitian Anindyajati. M., Melisa, K. (2004:58) faktor yang mempengaruhi harga diri individu akan berfungsi dalam kehidupan ya sehari-hati.
Individu dengan harga diri rndah, cenderung memiliki motivasi rendah.
Sementara individu yang memiliki harga diri tinggi akan lebih baik dan dapat berperilaku efektif. Hal ini di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya, yaitu:
a. Penerimaan atau penghinaan diri
Individu yang merasa dirinya berharga akan penilaian yang lebih baik atau positif terhadap dirinya dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami hal tersebut. Individu yang memiliki harga diri yang baik akan mampu menghargai dirinya sendiri, menerima dirinya, tidak menganggap rendah dirinya, melainkan mengenali keterbatasan dirinya sendiri dan mempunyai harapan untuk maju dan memahami potensi yang dimilikinya. Sebaliknya, individu yang memiliki harga diri rendah akan menghindar dari persahabatanya, cenderung menyendiri, tidak puas akan dirinya, walaupun sesungguhnya orang memiliki harga diri yang rendah memerlukan dukungan.
b. Keluarga-Orangtua
Keluarga dan orangtua memiliki porsi terbesar yang mempengaruhi harga diri, hal ini dikarenakan keluarga merupakan modal pertama dalam proses imitasi.
Perasaan dihargai dalam keluarga merupakan nilai yang penting dalam mempengaruhi harga diri.
c. Keterbukaan – Kecemasan
Individu cenderung terbuka dalam menerima keyakinan, nilai-nilai, sikap, moral dari seseorang maupun lingkungan lainya jika dirinya diterima dan dihargai. Sebaliknya, seseorang akan mengalami kekecewaan bila ditilak lingkunganya.
4. Dinamika Psikologis harga diri pada remaja
Harga diriseseorang akan menentukan cara seseorang akan menampilkan dirinya dilingkungannya. Harga diriseseorang juga akan mempengaruhi cara seseorang tersebut akan menampilkan potensi yang dimilikinya, sehingga harga diriinipun memiliki peranan yang besar dalam prestasi yang dicapai seseorang.
Biasanya anak yang memiliki harga diriyang tinggi akan tampil sebagai seseorang yang percaya diri, bekerja dengan baik disekolah dan disukai oleh orang lain dalam relasi sosialnya. Sedangkan anak yang memilki harga diriyang rendah lebih sering tidak memilki teman, tidak memilki motivasi belajar, prestasi yang rendah di sekolah dan memilki bermacam-macam masalah dalam penyesuaian sosialnya.
Menurut Coopersmith, (Ghufron,2010:45) individu dengan harga diri yang tinggi akan mencapai prestasi yang tinggi daripada individu dengan harga dirirendah dan dikatakan individu dengan harga diritinggi memiliki skor intelegensi yang lebih baik, taraf aspirasi yang lebih baik dan selalu berusaha keras.
Menurut Lawrence (Anindyajati & Melisa, 2004:6) mengemukakan istilah yang berkaitan dengan harga diri antara lain ; self concept (konsep diri), self ideal (ideal diri), self image (gambaran diri). Individu yang dapat membentuk harga diri yang baik adalah individu yang actual selfnya seimbang atau lebih tinggi dari ideal selfnya, sebaliknya bila tidak ada keseimbangan atau keadaan actual self yang dimiliki individu menjurus ke arah lebih rendah dari ideal self yang dimilikinya, maka dikatakan individu tersebut memiliki harga diri yang rendah baik.
Harga diri merupakan penilaian kemampuan diri, yaitu antara kemampuan yang secara riil dimiliki seseorang dengan kemampuan ideal yang diharapkan ada pada dirinya yang akan ditunjukkan melalui sikap terhadap dirinya sendiri, apakah ia menerima atau menolaknya. Hal ini berarti bahwa harga diri memiliki peranan yang sangat penting terhadap perkembangan kepribadian siswa.
Adanya dua jenis harga diri mungkin memiliki konsekuensi yang sangat berbeda, harga diri secara global menjadi lebih relevan untuk kesejahteraan psikologis, dan spesifik harga diri yang menjadi lebih relevan untuk perilaku.
Harga diri secara global lebih kuat berkaitan dengan langkah-langkah kesejahteraan psikologis, sedangkan spesifik harga diri yang berkaitan dengan akademik, sebagai prediktor kemampuan dalam belajar. Harga diri akademik dapat mempengaruhi harga diri seseorang secara global, terutama pada komponen harga diri yang positif yang berfungsi juga untuk melihat seberapa tinggi penghargaan terhadap kemampuan belajar (Rosenberg 1965).
B. Konsep Konseling Singkat Berorientasi Solusi 1. Sejarah Teori Konseling Singkat Berorientasi Solusi
Konseling singkat berorientasi solusi adalah pendekatan konseling yang Berorientasi pada masa depan, yang berorientasi pada tujuan. Terapi singkat ini awalnya dikembangkan oleh Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg di Brief Family Therapy Center di Milwaukee pada awal tahun 1980-an. Konseling singkat Berorientasi solusi menekankan pada kekuatan dan resiliensi orang dengan berfokus pada pengecualian untuk masalah mereka dan konsep solusi yang mereka temukan. Pendekatan ini berbasis kompetensi yang berfokus pada kekuatan konseli dari kegagalan mereka. Berbeda dengan pendekatan konseling tradisional karena berfokus pada solusi bukan masalah. Konseling singkat Berorientasi solusi mengharuskan konselor untuk menjadi disiplin dan memiliki sikap, keyakinan dan pendekatan konseling yang positif serta fokus pada masa depan.
Pendekatan konseling ini menjadi semakin populer dalam pelayanan konseling karena kepraktisan, efisiensi dan keefektivan dalam memberikan bantuan terhadap konseli. Disamping itu, konseling singkat Berorientasi solusi merupakan pendekatan konseling yang paling banyak digunakan oleh praktisi profesi pemberian bantuan (Sugara, 2019:3). Hal ini dikarenakan konseling singkat Berorientasi solusi dapat secara efektif dalam memberikan bantuan dalam setting keluarga, pasangan, para individu, anak-anak, dan remaja dcngan beragam masalah kehidupan (Sugara, 2019:3).
Konseling singkat berorientasi solusi adalah sebuah pendekatan yang memberikan kemungkinan orang untuk membangun perubahan dalam kehidupan mereka dalam jangka pendek. Mungkin waktu Ia percaya bahwa perubahan berasal dari dua prinsip sumber (Sugara, 2019:3). Pertama dari dorongan gambaran Masa depan yang mereka inginkan yaitu mengenai seperti apa kehidupan mereka jika sesi konseling ini berhasil. Kedua, dari keterampilan dan sumber daya yang mereka miliki yang menunjukkan bahwa dirinya memiliki historis kesuksesan di masa sekarang dan lalu. Karena dua hal inilah, konseli bisa
melakukan penyesuaian dengan apa yang ingin mereka lakukan dalam hidup mereka.
Konseling singkat berorientasi solusi menggunakan. modus intervensi dalam memberikan bantuan dengan memperhatikan bahasa konseli. Pandangan ini memegang peranan panting bahwa konselor sangat perlu untuk memperhatikan cara konseli berbicara tentang kehidupan mereka, apa yang mereka katakan dan bahasa yang mereka gunakan ketika membicarakan hal itu. Secara harflah, konseling singkat Berorientasi solusi memanfaatkan bahasa konseli untuk membantu konseli melakukan perubahan dalam kehidupannya (Sugara, 2019:4).
Konseling Singkat berorientasi solusi menggunakan modus intervensi dalam memberikan bantuan dengan memperhatikan bahasa konseli. Pandangan ini memegang peranan penting bahwa konselor sangat perlu untuk memperhatikan cara konseli berbicara tentang kehidupan mereka, apa yang mereka katakan dan bahasa yang mereka gunakan ketika membicarakan hal itu. Secara harflah, konseling Singkat Berorientasi solusi memanfaatkan bahasa konseli untuk membantu konseli melakukan perubahan dalam kehidupannya.
Sugara (2019:4) Konseling Singkat Berorientasi solusi muncul sebagai bagian dari kritik terhadap pendekatan konseling yang berkembang yang memfokuskan pada ‘problem oriented’ padahal secara esensi yang konseli cari dalam sesi konseling adalah solusi yang tepat dan dapat ia lakukan. Sejak awal pengembangan, konseling berorientasi solusi tidak hanya menjadi salah satu sekolah terkemuka dalam terapi Singkat, akan tetapi juga memberikan pengaruh besar dalam beragam bidang seperti kesehatan mental, kebijakan bisnis, kebijakan sosial, pendidikan, dan peradilan pidana, kesejahteraan anak, perlakuan terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini dikarenakan model konseling yang praktis, tujuan, fokus pada negosiasi tujuan yang jelas, ringkas, dan realistis.
Pendekatan berorientasi solusi mengasumsikan bahwa semua konseli memiliki pcngetahuan tentang apa yang akan membuat hidup mereka menjadi lebih baik, walaupun mungkin mereka memerlukan gambaran yang lebih detail mengenai kehidupan mereka yang lebih baik dan asumsi bahwa setiap orang yang
membutuhkan bantuan setidaknya memiliki minimal keterampilan yang diperlukan untuk mcnciptakan solusi.
Pada akhir 1960an, konseling Singkat berorientasi solusi tumbuh dan berkembang berdasarkan hasil dari Pengamatan Steve de Shazer tentang apa yang terjadi saat dia mulai bertanya kepada konseli untuk memperhatikan apa yang lebih baik dalam kehidupan mereka diantara sesi (Sugara, 2019:4). Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan yang lain karena perhatian terhadap masalah yang dibawa konseli 1“? dalam konseling, tidaklah diutamakan. Hasil praktek dengan menggunakan pendekatan konseling Singkat berorientasi solusi menunjukkan bahwa dua pertiga konselinya melaporkan merasa lebih baik pada sesi berikutnya.
Sepertiga yang merasakan bahwa konseli merasa tidak lebih baik akan tetapi setengah dari konseli ini mulai menemukan perbaikan yang pertama kali tidak diketahui. Hal ini memberikan penjelasan yang luas bahwa pendekatan konseling singkat berfokus solusi memilikj efek siginilikan terhadap perubahan yang terjadi pada konseli.
De Shazer memanfaatkan suatu konsep realitas bahwa tidak selamanya konseli berada dalam masalah. Konsep ini dia manfaatkan pada konseli agar melakukan identifikasi saat dimana dia sedang tidak berada dalam masalah.
Sebagaj contoh, konseli yang mengalami depresi, biasanya tidak selalu tertekan 100% dari waktu ke waktu. Ada waktu saat depresi tidak ada atau kurang dirasakan. Dengan memusatkan perhatian pada pengecualian (exception) terhadap masalah ini, solusi yang sebelumnya tidak dikenal dapat diidentifnkasi.
Pendekatan ini membuka paradgima baru yang membawa pergeseran dari pandangan tradisional yang fokus pada masalah konseli berubah menjadi fokus pada solusi yakni ketika pembicaradn mengenai masalah diminimalkan.
Konseling dengan pendekatan solusi terus mengalami perkembangan pembahan positif dapat tetjadi bahkan sebelurn pertemuan sesi konseling penama.
Konselor dapat bertanya kepada calon konseli antara percakapan pertama sampai ke waktu pertemuan sesi konseling pertama, hal apa yang mereka temukan dan rasakan lebih baik dalam hidup mereka. catatatnya, mereka melaporkan hasil yang sama dengan yang ditemukan oleh De Shazer saat memberikan tugas kepada
konseli untuk mengamati perubahan positif yang ditemukan diantara setiap sesi.
Konseli menemukan bahwa temyata masalah yang dia rasakan tidak selalu muncul dari waktu ke waktu akan tetapi ada kalanya saat dia tidak berada dalam masalah dan saat itu dia alami, terjadi perubahan pikiran dan perasaan yang dia alami. Temuan ini membawa De Shazer dan rekan-rekannya untuk menyimpulkan bahwa memusatkan perhatian pada solusi jauh lebih efektif membantu konseli dan pada fokus pada masalah. Hal ini membangun pergeseran filosofis baru dalam bidang konseling.
2. Asumsi Konseling Singkat Berorientasi Solusi
Konseling Singkat Berorientasi Solusimencerminkan gagasan dasar tentang perubahan, interaksi dan tentang mencapai tujuan. Konseling singkat berorientasi solusi percaya bahwa konseli memiliki kemampuan untuk menentukan tujuan-tujuan pribadi yang bermakna dan bahwa mereka memiliki sumber daya yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Tujuanya adalah unik untuk setiap konseli dan dibangun oleh konseli untuk menciptakan masa depan yang lebih baik (Prochaska & Norcross, 2003).
Menurut Sugara, (2019:35) menjelaskan bahwa konseling singkat berorientasi solusi sebagai model konseling memfokuskan pada bagaimana seseorang bembah dan bagaimana mereka dapat mencapai tujuan mereka. Adapun tujuan tersebut , yaitu :
a. Fokus pada keberhasilan akan membawa pada solusi
Asumsi pertama berpendapat bahwa ketika kita berkonsentrasi pada kesuksesan, perubahan yang positif akan teljadi. SFBC mengarahkan fokus pada apa yang tepat dan bekexja untuk konseli bukan menganalisis dengan apa yang salah pada konseli. Fokus pada "pembicaraan solusi" dan'pada "pembicaraan masalah" karena hal ini akan mempercepat perubahan. Hal im' mungkin menjadi tugas yang agak sulit bagi konselor pemula karena kebanyakan konselor pemula belajar konseling dengan melakukan ekpslorasi terhadap masalah yang dialami oleh konseli. Pergeseran dari masalah ke identifikasi solusi memerlukan
kesadaran dari konselor dan melakukan latihan berulang agar menjadi lebih terampil.
b. Selalu ada pengecualian (exception) dari setiap masalah
Asumsi kedua menegaskan bahwa setiap masalah memiliki pengecualian yang dapat diidentitikasi atau dapat ditemukan dan diubah menj adi solusi.
Konseli cenderung melihat masalah mereka seperti biasa teljadi, padahal, pada kenyataannya, masalah mereka sesekali tidak ada dalam situasi masalah. Konseli seringkali menj adi begitu tenggelam dengan masalah mereka sehingga mereka sering gagal melihat kesuksesan yang pernah ia capai. Konseli gagal mengenali dan mengidentiflkasi pengecualian atau situasi saat masalah tidak teljadi.
Tugas seorang konselor adalah membantu konseli untuk mengakses pengecualian (exception) kemudian memperbesarnya (amplify) sehingga konseli menyadari sesuatu yang ditemukan dan mampu menj adi solusi bagi dirinya.
Terkait hal ini, maka seorang konselor menggunakan keterampilannya sebagai pendengar aktif dan melakukan respon secara tepat dengan melakukan pertanyaan yan g mampu membuat konseli menemukan kesuksesan yang pemah diraihnya.
c. Perubahan kecil akan membawa perubahan besar
Asumsi ketiga adalah perubahan kecil memiliki efek positif yang akan berkembang menjadi perubahan yang besar. Begitu orang bisa mengenal satu sama lain, menjadi mampu memprediksi dan saling mengantipasi perilaku masing-masing. Ketika konseli merubah perilaku mereka dengan sedikit-sedikit, maka hal itu menyebabkan reaksi sebagai respon terhadap perubahan awal.
d. Konseli mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya
Konseli memiliki apa yang diperlukan untuk menyelesaikan kesulitan mereka. Konseli mengetahui apa yang perlu dan dapat ia lakukan dalam menghadapi masalahnya.
e. Tujuan yang positif lebih efektif
Tujuan konseli harus dibuat dalam kalimat positif, mencerminkan apa yang konseli dilakukan konseli, bukan secara negatif, yang mencerminkan sesuatu yang tidak baik terjadi.
3. Aplikasi: Teknik Dan Prosedur Konseling
Beberapa teknik kunci pada Konseling Singkat Berorientasi Solusi ini cenderung untuk mempekerjakan konseli dalam mencari perbedaan dengan melakukan teknik konseling seperti melakukan Exception Question, The Miracle Question , Crystal Ball, Video tape, Coping question, Scaling Question. Semua teknik ini menggunakan visual, auditori dan kinestetik dalam melakukan perubahan (Sugara, 2019:43) yaitu, sebagai berikut :
a. Exception Questions/Pertanyaan Pengecualian
Pada tahapan ini konselor melakukan identifikasi terhadap pengecualian yang terjadi pada konseli. Pengecualian (exception) adalah situasi dimana konseli tidak terjadi masalah. Pengecualian disebut “news of difference”. Konselor mengajukan pertanyaan pengecualian untuk mengarahkan konseli ke arah waktu- waktu ketika masalah tidak timbul.
Pengecualian maksudnya adalah pengalaman-pengalaman masa lalu dalam hidup yang layak untuk diharapkan muncul ketika ada masalah, meskipun biasanya tidak. Pengungkapan ini mengingatkan kepada konseli bahwa masalah tidak semuanya memiliki kekuatan dan tidak selalu muncul selamanya.
Pengungkapan ini memberikan peluang bagi munculnya sumber, ditemukannya kekuatan dan didapatkannya kemungkinan solusi.
Tujuan dari teknik ini adalah agar konseli mengulang kesuksesan di masa lalu dan membantu mereka mendapatkan kepercayaan untuk melakukan perbaikan ke depan berdasarkan pengalaman suksesnya tersebut. Bahkan ketika konseli tidak memiliki solusi apapun sebelumnya dengan menggunakan teknik exception, sebagian besar konseli memiliki contoh dari pengecualian untuk mencari solusi masalah. (De Shazer & Dolan, 2007:4)
Konselor menanyakan pada konseli apa yang harus dilakukan agar pengecualian ini lebih sering terjadi. Dalam istilah Konseling Singkat Berorientasi Solusi, hal ini disebut “change talk ”. Koselor dapat menggunakan pertanyaan pengecualian (exception question) misalnya “Saya ingin kamu kembali mengingat saat dimana anda berani dalam hidup, coba ceritakan pada saya apa yang berbeda dari diri anda”, ”coba kemukakan kepada saya saat-saat anda bebas dari
masalah?”.
Pada tahapan ini juga, konselor mendorong konseli untuk menemukan kesadaran akan kompetensi yang dapat dilakukan oleh konseli dalam menghadapi masalahnya. Mengajukan pertanyaan pengecualian adalah kunci utama yang sangat berguna terhadap perubahan yang di inginkan oleh konseli. (Macdonald, 2007:15).
b. The Miracle Question/ Pertanyaan Keajaiban
Miracle Question adalah teknik bertanya yang digunakan konselor untuk membantu konseli bagaimana menetapkan visi ke depan, merupakan suatu keadaan bilamana konseli tidak bermasalah dan itu merupakan tujuan yang hendak dicapai. Dengan teknik ini akan sangat berguna dalam memunculkan informasi solusi bagi konseli (De Shazer & Dolan, 2007:25). Pertanyaan yang mengarahkan konseli berimajinasi apa yang akan terjadi jika suatu masalah yang dialami secara ajaib terselesaikan.
Teknik ini membantu memperjelas tujuan dan masalah, denganmerangsang konseli untuk mengimajinasikan suatu solusi dan memberantas hambatan dalam penyelesaian masalah serta membangun harapan terhadap terjadinya perubahan.Konselor dapat bertanya, “Saya ingin bertanya, tetapi pertanyaannya agak aneh, bayangkan suatu malam kamu tertidur, dan saat kamu tertidur terjadi sebuah keajaiban dimana masalah yang kamu ceritakan selesai. Dan saat bangun pagi hari apa yang kamu rasakan berbeda ?”.
Kemudian pertanyaan lanjutan seperti :”adakah orang yang tahu bahwa anda sudah berubah?”, misalnya konseli menjawab “ya, ada yaitu ibu”, kemudian konselor bertanya, “kira-kira apa yang ibu anda katakan tentang perubahan anda”
“apa yang kamu rasakan ketika ibu memuji anda?”.Konselor mengajukan pertanyaan yang akan membuat konseli berorientasi pada solusi.
“Katakan saja itu sudah terjadi pada diri anda, coba anda berjalan mundur ke posisi anda saat ini, kira-kira perubahan apa yang muncul pada diri anda?”
c. Crystal Ball/ Bola Kristal
Teknik crystal ball ini di pengaruhi oleh pemikiran Milton H Erickson, dimana teknik ini bisa digunakan dalam Konseling Singkat Berorientasi
Solusi.Bola kristal adalah salah satu teknik Konseling Singkat Berorientasi Solusi dimana konseli bisa membayangkan perubahan apa yang terjadi di masa depan, dimana waktu yang menjadi fokus utama pada perubahan konseli.
Macdonald (2007:21) Teknik crystal ball digunakan ketika teknik miracle question tidak diterima, konselor bisa menggunakan pertanyaan seperti : “Saya ingin anda membayangkan ada bola kristal di depan anda, bola kristal ini bisa melihat masa depan, jika kita bertemu 5 tahun ke depan dan masalah anda telah terpecahkan, apa yang terjadi pada diri anda ?”.
Kemudian konselor mengajukan pertanyaan solusi seperti: “Saya ingin anda melihat masa depan, jika anda sudah ada di masa depan dengan perubahan yang di inginkan, saya ingin anda berjalan menyusuri ke kehidupan anda sekarang, kira-kira pengalaman dan perubahan apa yang anda alami?” “Apakah ada sesuatu yang muncul dalam diri anda?’.
d. Video Tape
Macdonald (2007:109) Teknik video tape digunakan agar konseli bisa membayangkan dalam sebuah rekaman video kehidupan di masa yang akan datang, sehingga konseli dapat berimajinasi melalui visual, auditori dan kinestetiknya, yang akan menjadikan konseli selalu berpikiran positif akan perubahannya. Konselor bisa menggunakan pertanyaan seperti: “Katakanlah beberapa bulan telah berlalu dan masalah anda telah teratasi. Jika anda dan saya harus menonton rekaman video kehidupan anda di masa depan, apa yang akan anda lakukan pada rekaman tersebut, sehinggaakan menunjukkan bahwa semuanyalebih baik?
e. Coping Question
Teknik ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang berbagai sumber daya yang dimiliki konseli. Coping question bertanya tentang bagaimana konseli berhasil bertahan meski ada kesulitan yang mereka hadapi.
Konselor yang berorientasi pada solusi akan menemukan bagaimana konseli dapat terus berjalan meskipun semua itu bertentangan dengan mereka.
Dengan teknik ini membantu konseli menemukan sumber daya dan kekuatan yang kemungkinan besar tidak mereka ketahui. Bila digunakan dengan benar dan
dengan ketekunan hasilnya akan menjadikan kekuatan bagi dirinya sendiri, hal Ini akan membantu mengalihkan pandangan mereka tentang diri mereka sendiri dalam arah positif.Konselor bisa menggunakan pertanyaan seperti:
“Bagaimana anda bisa melakukan aktivitas seperti biasanya?”
“Bagaimanaanda bisa terus menjalani kehidupan ini ketika banyaknyapermasalahan?”
“Bagaimana anda bisa menghadapi situasi seperti ini hanya sendiri ?”
Pertanyaan jenis ini membantu konselor membiarkan konseli memimpin dalam memberi tahu apa yang mereka mampu, apa yang baik tentang mereka dan memungkinkan mereka mengenali kekuatan, sumber daya dan kemampuan yang seringkali tidak mereka pikirkan sendiri. Begitu konseli mendapat jawaban untuk pertanyaan coping, tugas konselor selanjutnya adalah membangun jawaban itu untuk memperluasnya. Jadi, ikuti tanggapan mereka dan ajukan pertanyaan seperti:
“Apa yang akan anda lakukan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya?”
“Apa yang Anda butuhkan untuk terus menjalani kehidupan yang sulit ini
?"
f. Scaling Questions/Pertanyaan Skala
Pernyataan skla yang digunakan dalam proses konseling singkat berorientasi solusi merupakan cara yang tepat untuk mengukur kemajuan konseli selama sesi konseling. Dengan menggunakan pernyataan skla, konseli diminta untuk melakukan penilaian dalam skla dari 0 hingga 10, dimana 0 ketika konseli berada jauh dari tujuan konseli dan 10 adalah ketika keajaiban terjadi dan masalah yang membawa konseli ke konseling telah terpecahkan. Pernytaan skla merupakan komponen kunci dari proses konseling singkat berorientasi solusi karena memberikan sebuah langkah realistis yang perlu konseli ambil dalam mencapai tujuanya.
Pada sesi awal, pernyataan skla digunakan sebagai baseline untuk mengidentifikasi konseli dengan pencapaian tujuan yang konseli inginkan. Dalam sesi selanjutnya, penyataan skla berfungsi sebagai alat ukur untuk melihat
kemajuan yang telah dicapainya. Pernyataan skla memberikan dasar untuk membingkai pernyataan tentang apa yang dapay dilakukan konseli untuk meningkatkan kondisi dirinya saat ini untuk mencapai tujuannya.
Macdonald (2007:17) teknik yang digunakan konselor untuk mengidentifikasi perbedaan yang bemanfaat bagi konseli dan dapat membantu untuk menetapkan tujuan pula. Menggunakan teknik scaling meminta konseli untuk menilai kondisi dirinya (masalah, pencapaian tujuan) dan cara yang tepat untuk menilai kemajuan.
Konseling Singkat Berorientasi Solusi juga menggunakan skala pertanyaan ketika perubahan dalampengalaman sesorang tidak mudah diamati, seperti perasaan, suasana hati, atau komunikasi. Pertanyaan yang meminta konseli membuat yang abstrak menjadi konkret, yang samar menjadi jelas dengan mengangkakan kekuatan, masalah, keadaanatau perubahan konseli. Pertanyaan dengan memberikan skala menjadikan konseli untuk memberikan perhatian yang lebih dekat kepada apa yang sedang mereka kerjakan dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan kepada perubahan yang mereka kehendaki.
Konselor dapat juga menggunakan pertanyaan skala (scaling question) untuk menilai posisi konseli terhadap masalahnya. Misalnya dengan pertanyaan
“Jika ada angka dari 0 sampai 10, dimana 0 kamu merasa sangat buruk dan 10 sangat baik, saat ini kamu ada di angka berapa ?”. Lanjutkan dengan pertanyaan
“apa yang perlu kamu lakukan supaya kamu naik satu atau dua angka ke atas ?”.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membuat konseli pada kondisi ‘momen solusi’ dan saat itulah muncul solusi yang tepat dari diri konseli.
Teknik ini dapat diterapkan secara kreatif untuk memanfaatkan persepsi konseli tentang berbagai macam pengalaman, termasuk "harga diri, perubahan, percaya diri, investasi dalam perubahan, kemauan untuk bekerja keras untuk membawa perubahan yang diinginkan, memprioritaskan masalah untuk dipecahkan, persepsi harapan, dan evaluasi kemajuan.
g. Mengirimkan Pesan (Sending The Message)
Setelah konselor melakukan teknik konseling di atas, maka langkah yang sangat penting adalah memberikan pesan kepada konseli terkait perubahan yang ingin dicapainya. Mengakhiri sesi dengan memberikan pesan kepada konseli memben'kan dampak positif karena secara utuh karena memperkuat imaj inasi dan gambaran apa yang perlu konseli lakukan setelah sesi konseling. Berdasarkan pengalaman pribadi dan umpan balik konseli, pemberian pesan menjadi sebuah penguat sugesti untuk melakukan perubahan (Sugara, 2019:110).
Memberikan pesan diakhir sesi memiliki efek Signifikan terhadap perubahan konseli Hal ini teljadi karena pada tahapan ini, konseli diberikan sebuah sugeti positif yang dapat dia lakukan sebagai Ian en awal solusi yang teljadi pada dirinya (Sugara, 2019:110). Selain itu berdasarkan pengalaman praktek yang dilaksanakan,memberi pesan diakhir sesi dapat membuat konseli memanfaatkan pesan menjadi sebuah sumber daya solusi yang perlu teljadi pada dirinya.
Konseli biasanya mulai menggunakan metode ini dengan menempelkan pesan dikamamya atau meletakkannya di dompet mereka atau mempostingnya secara jelas. Hal ini membuat proses perubahan pada konseli menjadi lebih efektif karena terdapat penguatan positif pada konseli. Pesan diakhir sesi membantu konseli dengan riwayat penyalahgunaan narkoba, gangguan panik, dan gangguan kecemasan mampu mengendalikan din'nya dan memainkan peran dengan tindakan positif dalam mencapai tujuannya.
Komponen pesan pada akhir sesi konseling singkat berorientasi solusi terdiri dari tiga bagian: (a) pujian (b) pernyataan penghubung (c) tugas. Dalam pembuatan tulisan, konselor memperhatikan ketiga bagaian tersebut sehingga secara utuh dapat membuat sebuah pesan yang bermakna bagi perubahan pada konseli.
Selama pertemuan konseling, konselor perlu mencatat informasi yang dapat digunakan untuk membuat pesan pujian bagi konseli. Pujian ini diambil dari pernyataan tujuan positif, tanggapan terhadap pengecualian keajaiban, mengeksplorasi keberhasilan positif atau pengecualian untuk masalah, dan
tanggapan terhadap pernyataan skla. Ketika konseli mengobservasi konselor mencatat hal-hal positif, keberhasilan, kekuatan, dan sumber daya selama sesi, mereka perlu diperkuat untuk melanjutkan keberhasilan bagi konseli. Serta konselor perlu menuliskan hal positif yang mungkin belum ditulis dalam catatan.
h. Terminating
Dari awal sekali melakukan sesi konseling yang berorientasi solusi, konselor selalu berpikiran bahwa dalam bekerja akan mengarah kepada penghentian. Begitu konseli mampu membangun solusi yang memuaskan, hubungan konseling dapat dihentikan.
Sebelum konseling berakhir, konselor membantu konseli dalam mengenali hal-hal yang bisa mereka lakukan untuk melanjutkan perubahan-perubahan yang telah mereka lakukan di masa yang akan datang. Konseli juga bisa dibantu untuk mengenali rintangan atau hambatan-hambatan yang kemungkinan ditemui dalam perjalanannya memelihara perubahan yang telah mereka lakukan.
i. Subsequent sessions
Ketika konseli ingin melanjutkan sesi kedua, konselor menanyakan beberapa hal terakit tugas yang diberikan pada sesi pertama mengenai perubahan apa yang telah di lakukan oleh konseli. Seperti contoh pertanyaan kunci pada sesi berikutnya:
“Apa yang lebih baik bagimu sejak kamu terakhir di sini?”
“Apa lagi?”
“Jika kejadian positif telah terjadi, bagaimana anda melakukannya?”
“Jika kejadian negatif telah terjadi, bagaimana hal itu terjadi?
Bagaimana andamengatasi itu?
Insoo Kim Berg dan Norm Reuss (Mcdonald, 2007:30) menyarankan sebuah struktur yang menggunakan prinsip EARS, yaitu :
Eliciting to Success (mendapatkan apa yang lebih baik) sesi awal ketika menjabarkan contoh keberhasilan dalam kaitanya debfab sasaran konseli. Setelah konseli memberi tahu apa yang lebih baik sejak pertemuan akhir, jelaskan rncian dengan bertanya, “dalam seminggu ini, perubahan positif apa yang terjadi pada
diri anda?” atau “apa yang telah anda lakukan untuk membuat segalanya lebih baik.”
Amplying (Memperbesar Pengecualian) komponen selanjutnya adalah memperbesar pengecualian. Ketika konseli menyadari perubahan positif terjadi pada dirinya, maka tugas konselor adalah melakukan pernyataan untuk mendetailkan perilaku yang terjadi. Menguraikan hubungan timbal balik yang ditimbulkan oleh upaya konseli memberdayakan konseli untuk mengenali dampak dari tindakan konseli, yang pada intinya memperkuat konseli untuk menghadapi tantangan lebih lanjut yang mungkin tidak konseli usahakan sebaliknya.
Komponen ini menggunakan pernyataan hubungan timbal balik seperti, “ bagaimana kamu bisa membuat itu terjadi?.
Reinforce (Menguatkan Perubahan Positif) memperkuat atau memperteguh, yang merupakan langkah ketiga dalam urutan dan merupakan intervensi yang sangat penting bagi konselor berorientasi solusi. Ketika konseli menemukan dan di dukung dalam upaya konseli untuk mencapai perubahan positif dalam kehidupanya. Selain itu membentuk pikiran dapat membimbing konseli dalam situasi masa depan. Karena bagian wawancara ini mirip dengan contoh mengeksplorasi kesuksesan dan mendorong keberhasilan (Cheerleading).
Konselor dapat menggunakan pernyataan yang membuat konseli menerima perubahan positif yang terjadi pada dirinya. Contohnya, “waw, luarbiasa kamu mampu mengendalikan diri saat ibumu memarahimu.” Contoh pernyataan tersebut mendorong keberhasilan konseli bahwa ia mampu dan menemukan cara untuk membuat dirinya lebih baik. Konselor juga membantu konseli untuk secara detail merinci kembali pengalaman keberhasilan yang telah ditemukanya. Hal ini tidak lain adalah agar konseli semakin menyadari bahwa dirinya mampu berbuat lebih baik untuk dirinya.
Start Again ( Memulai kembali ) Ulangi prosesnya sampai tidak ada lagi perbaikan dan pengecualian yang akan datang. Konselor memulai kembali proses sesi konseling yang akan menjadikan konseli mencapai tujuan yang di inginkan sehingga konseli tidak akan datang untuk sesi selanjutnya.
C. Hasil Penelitian Harga diri dengan Intervensi
Penelitian yang dilakukan oleh Wardani, I., dkk (2019:19)
a
danya perbedaan signifikan harga diri remaja setelah latihan kepercayaan diri dibandingkanremaja setelah pemberian stimulasi perkembangan psikososial.Penelitian ini membuktikan bahwa latihan kepercayaan diri efektif dalam meningkatkan harga diriremaja. Terapi ini dapat dijadikan salah satu intervensi untuk mengatasi masalah harga diri rendahpada remaja putus sekolah.Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas latihan kepercayaandiri dalam meningkatkan harga diri remaja putus sekolah.Remaja merupakan periode kritis peralihan dari anak menjadi dewasa. Kejadian putus sekolahmerupakan salah satu faktor pencetus yang dapat menyebabkan munculnya masalah dalam beradaptasiterhadap perubahan yang terjadi.
Penelitian yang dilakukan oleh Sarwan, A., & Nur’aini. (2018:32) pertama terdapat perbedaan kepercayaan diri siswa yang diberikan layanan bimbingan kelompok menggunakan teknik latihan asertif dan diskusi. kedua, terdapat perbedaan kepercayaan diri siswa yang memiliki harga diri tinggi dan harga diri rendah. Dan ketiga, terdapat interaksi antara bimbingan kelompok dan harga diri dalam mempengaruhi kepercayaan diri siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kepercayaan diri siswa yang mengikuti layanan bimbingan kelompok (BKp) melalui teknik latihan asertif dan teknik diskusi, perbedaan kepercayaan diri siswa yang memiliki harga diri tinggi dan yang memiliki harga diri rendah, serta interaksi bimbingan kelompok dan harga diri dalam mempengaruhi kepercayaan diri siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahman, D. H. (2015:47) metafora lebih efektif daripada konseling kenyataan dalam meningkatkan harga diri di tengah intervensi; dan (2) metafora sama efektifnya dengan konseling realitas dalam meningkatkan harga diri pada akhir intervensi.
Terdapat beberapa penelitian tentang pemberian intervensi pada individu yang mengalami harga diri yang rendah diantaranya penelitian yang dilakukan Pratiwi & Nuryono (2014) Maka hasil dari penelitian tersebut setelah diberikan
perlakuan Konseling Singkat Berorientasi Solusi mengalami peningkatan harga diri siswa. Dari hasil analisis data dapat diketahui ada perbedaan skor antara sebelum dan sesudah diberikan perlakuan yang menggunakan Konseling Singkat Berorientasi Solusi dalam meningkatkan harga diri siswa kelas XI Bahasa SMA AL-ISLAM Krian.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa konseling Konseling Singkat Berorientasi Solusi dapat digunakan untuk meningkatkan harga diri siswa kelas XI Bahasa SMA AL-ISLAM Krian.
Penelitian yang dilakukan oleh Rustandi dan Rachman (2014) Hasil penelitian ini dilihat dari hasil secara kuantitatif ditemukan bahwa ada perbedaan tingkat harga diri ketika mahasiswa sebelum mendapatkan konseling singkat berorientasi solusi dan sesudah mendapatkankonseling singkat berorientasi solusi.
Dengan kata lain Konseling singkat berorientasi solusi mempunyai efek pada perubahan terapeutik untuk peningkatan harga diri (self-esteem) mahasiswa.
Dari hasil penelitian yang dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa beberapa pendekatan konseling terbukti mampu mengurangi harga diri yang rendah pada individu, maka konseling singkat berorientasi solusi tidak menutup kemungkinan dapat digunakan untuk meningkatkan harga diri.