55 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Paradigma Penelitian
Paradigma merupakan cara pandang yang digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam memandang suatu gejala sosial tertentu, sehingga melalui paradigma tersebut seseorang mampu mengartikan gejala tersebut (Suyanto, 2015, h.25). Sarantakos dalam Manzilati (2017, h.1) menyatakan bahwa paradigma merupakan sejumlah proposisi yang menjelaskan bagaimana dunia dihayati. Dalam suatu paradigma terdiri dari pandangan mengenai dunia, cara untuk memecahkan kompleksitas dunia, menjelaskan apa yang penting, apa yang memiliki legitimasi, dan apa yang masuk di akal. Penggunaan paradigma yang berbeda-beda akan menghasilkan makna atau pengertian yang berbeda pula mengenai suatu hal karena setiap paradigma memiliki asumsi yang berbeda-beda.
Adanya paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan yang harus dijawab, bagaimana cara menjawabnya serta berbagai aturan yang yang wajib diikuti dalam mengintepretasikan informasi yang dikumpulkan dalam menjawab berbagai persoalan yang ada (Gora, 2019, h.397).
Creswell & Poth (2018) menyatakan paradigma post-positivisme tidak mempercayai hubungan sebab akibat yang terlalu kaku dan lebih mengakui bahwa seluruh sebab akibat merupakan probabilitas yang memiliki kemungkinan
56 untuk terjadi atau tidak terjadi. Pada praktiknya, penerapan paradigma post- positivisme percaya pada berbagai perspektif atau pandangan dari berbagai partisipan daripada realitas tunggal. Peneliti yang menganut paradigma post- positivisme memandang bahwa partisipan memiliki peran untuk menentukan ada tidaknya realitas, sehingga pada paradigma post-positivisme mengakui adanya realitas yang beragam (h.66).
Menurut Creswell & Poth (2018) paradigma post-positivisme dapat diintepretasi berdasarkan 3 sudut pandang, yaitu secara ontologi (sifat realitas), epistemologi (bagaimana realitas diketahui), dan aksiologi (peran dari nilai- nilai). Post-positivisme secara ontologi diartikan sebagai sebuah realitas tunggal yang ada di luar diri kita, peneliti mungkin tidak dapat memahami realitas secara sempurna karena kurangnya kemutlakan. Secara epistemologi, dalam paradigma post-positivisme realitas hanya dapat diperkirakan, tetapi realitas dibangun melalui penelitian dan statistik. Interaksi dan partisipan dijaga agar tetap minimum. Secara aksiologi, dalam paradigma post-positivisme bias penelitian perlu dikontrol dan tidak diungkapkan dalam penelitian (h.86).
3.2. Jenis dan Sifat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Menurut Creswell dalam Raco (2010) penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral (h.7).
Untuk mengetahui dan memahami gejala sentral tersebut peneliti dapat mewawancarai partisipan dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat
57 umum dan agak luas untuk memperoleh banyak informasi yang kemudian informasi tersebut diolah menjadi kata atau teks. Hal serupa juga disampaikan oleh Creswell & Poth (2018) yang mengatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan sebuah jenis penelitian yang dalam pelaksanaannya menempatkan peneliti pada suatu realitas (h.41). Penelitian dengan sifat kualitatif menuntut peneliti menjalankan beberapa tahapan penelitian untuk membuat realitas terungkap melalui representasi, catatan di lapangan, wawancara, perbincangan, foto, rekaman suara, dan catatan bagi diri sendiri. Kothari (2004) juga menyatakan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk menemukan motif dan keinginan yang mendasari suatu fenomena (h.3).
Dalam praktiknya penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan lebih sering menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Menurut Denzin & Lincoln (2018) penelitian bersifat deskriptif akan memberikan gambaran jelas dan rinci mengenai suatu fenomena yang diteliti (h.607). Disamping itu, penelitian bersifat deskriptif kualitatif tidak mengubah atau memanipulasi variabel yang digunakan.
Proses dan makna berdasarkan perspektif subyek akan lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif (Sugiarto, 2015, h.8). Dalam penelitian yang dilakukan ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana cara masing-masing orang tua untuk berkomunikasi dengan anak dalam mendampingi anak saat bermain game online melalui gadget. Hasil penelitian ini juga akan dibahas dalam bentuk narasi secara jelas dan detail.
58 3.3. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dan informasi dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2016, h.2). Menurut Yin (2018) metode penelitian studi kasus adalah metode penelitian dalam ilmu sosial yang umumnya digunakan untuk menyelidiki fenomena kontemporer secara mendalam dan dalam konteks dunia nyata (h.349). Oleh karena itu, penelitian studi kasus mengasumsikan bahwa memeriksa konteks dan kondisi kompleks lainnya yang terkait dengan kasus yang sedang dipelajari merupakan satu kesatuan dalam pemahaman kasus (Yin, 2012, h.4). Yin (2012) mengatakan dalam metode penelitian studi kasus mencakup keseluruhan prosedur lengkap untuk melakukan penelitian studi kasus, yaitu merancang studi kasus, mengumpulkan data, menganalisa data, dan melaporkan hasil yang telah didapatkan (h.3). Dalam bukunya, Yin (2018) memiliki 4 desain metode penelitian studi kasus yang termasuk dalam tipologi 2 × 2 yang terdiri dari studi kasus tunggal atau ganda dan studi kasus holistik atau terdiri dari unit analisis yang tertanam (h.349). Dalam penelitian ini, jenis studi kasus yang digunakan adalah studi kasus tunggal (single-case study), yaitu sebuah studi kasus yang diselenggarakan di sekitar satu kasus tunggal, kasus mungkin dipilih karena merupakan kasus yang kritis, umum, atau tidak biasa (Yin, 2018, h.353). Kasus yang diangkat dalam penelitian ini merupakan kasus yang umum yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kasus yang diangkat adalah kasus mengenai kecanduan game online pada usia sekolah dasar. Dalam penelitian ini, peneliti
59 akan memahami dan menjelaskan secara lebih dalam mengenai bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan oleh orang tua dalam mendampingi anaknya saat bermain game online melalui gadget.
3.4. Pemilihan Partisipan
Pada sebuah penelitian kualitatif, peran partisipan merupakan suatu hal yang penting. Dalam bukunya Gora (2019) mengatakan bahwa beberapa peneliti kualitatif menggunakan sumber data dari partisipan sebagai penegasan sumber data primer (h.279). Menurut Yin (2018), partisipan merupakan seseorang yang dijadikan sebagai sumber data penelitian oleh peneliti. Biasanya, peneliti mengumpulkan data dari partisipan melalui metode wawancara. Satu atau beberapa partisipan kemudian dapat diminta untuk meninjau rancangan laporan studi kasus yang telah dibuat oleh peneliti (h.352).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling sebagai metode pemilihan partisipan. Melalui teknik purposive sampling, peneliti memilih partisipan karena partisipan dapat dengan sengaja menginformasikan pemahaman tentang masalah penelitian dan fenomena sentral dalam penelitian (Yin, 2018, h.271). Adapun kriteria partisipan yang dibutuhkan oleh peneliti untuk menyelesaikan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Orang tua (ayah atau ibu), keduanya bekerja
2. Sosial Ekonomi Status B-C (memiliki pendapatan 3,5 juta - 4,6 juta) 3. Memiliki anak usia 6-12 tahun.
60 4. Memiliki anak yang aktif bermain game online melalui gadget
(smartphone, tablet, komputer, laptop, dll).
5. Merasa khawatir anaknya mengalami kecanduan bermain game online.
6. Bersedia untuk menjadi partisipan dan diwawancarai.
Berdasarkan kriteria tersebut, maka berikut ini adalah beberapa keluarga yang dijadikan sebagai informan oleh peneliti.
No Nama Orang
Tua Nama Anak Pendidikan Pekerjaan Alasan Pemilihan Informan
1. Fransiska
Javier Joseph Pukan (12
thn)
SMA Wirausaha
Merupakan seorang ibu yang memiliki bisnis tahu bakso dan sehari-
hari sibuk mengantarkan produk
ke konsumen dan memiliki seorang anak
laki-laki yang selalu bermain game online melalui smartphone
yang dimiliki.
2. Deasy Mulyani
Farhat Zakki F (11
thn)
S1 Karyawan
Swasta
Merupakan seorang ibu yang bekerja di sebuah perusahaan di daerah
Bogor dan memiliki anak yang gemar bermain game online
3. Eka Oktaria Ningrum
Haikal Nur Aqso Lesmana
(12 thn)
SMK Karyawan
Swasta
Merupakan seorang ibu yang bekerja sebagai resepsionis di sebuah perusahaan di daerah Bogor dan memiliki
anak yang sering bermain game online.
Tabel 3.1 Tabel Kriteria Partisipan Sumber: Diolah Oleh Peneliti (2020)
61 4. Wiwik
Estiningsih
Maria Rosa
(9 thn) S1 Guru SD
Merupakan seorang ibu yang kesehariannya sibuk bekerja sebagai guru dan memiliki anak perempuan yang gemar bermain game online.
5. Emilia Sofi
Juan Jessica Shandra (12
thn)
S1 Wirausaha
Merupakan seorang ibu yang kesehariannya sibuk berada di kedai pempek untuk berjualan
pempek dan memiliki anak yang gemar bermain game online.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari wawancara mendalam (indepth interview) dan studi dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data primer dan juga studi pustaka sebagai teknik pengumpulan data sekunder.
3.5.1. Wawancara Mendalam (Indepth Interview)
Wawancara mendalam (indepth interview) merupakan suatu teknik pengumpulan data dan infomasi yang tidak mampu diperoleh melalui kuesioner maupun observasi. Melalui wawancara mendalam (indepth interview) peneliti mampu mendapatkan pengertian mengenai pengalaman hidup seseorang (Raco, h.117, 2010). Arti penting dari sebuah pengalaman seseorang yang telah diperoleh melalui proses wawancara mendalam kemudian dijadikan sebagai data untuk dianalisis secara lebih lanjut.
Tabel 3.1 Tabel Kriteria Partisipan Sumber: Diolah Oleh Peneliti (2020)
62 Dalam penelitian ini dilakukan teknik wawancara mendalam (indepth interview) dalam bentuk open-ended interview. Melalui open-ended interview memungkinkan peneliti untuk mendapatkan informasi dan wawasan yang lebih kaya dan juga lebih luas, karena melalui bentuk open- ended interview ini para informan tidak hanya memberikan jawaban atas pertanyaan spesifik yang disampaikan oleh peneliti melainkan diajak untuk membangun realitas yang terjadi dan berpikir mengenai situasi yang terjadi sehingga wawasan yang diberikan oleh informan kepada peneliti menjadi lebih luas (Yin, 2012, h.12).
3.5.2. Studi Dokumen
Menurut Gora (2019) studi dokumen adalah teknik pengumpulan data yang memungkinkan peneliti mampu memperoleh banyak informasi sebagai sumber pendukung dalam pemecahan masalah. Data yang dikumpulkan dengan teknik dokumentasi ini dapat terdiri dari foto-foto kegiatan, sketsa, biografi, catatan-catatan tertulis, atau bentuk laporan, data statistik, catatan harian, memo, faksimili, dan lain-lain (h.283-284). Studi dokumen merupakan hal penting dalam sebuah studi kasus sebagai pendukung bukti dari sumber-sumber lainnya (Yin, 2012, h.103). Oleh karena itu, dalam penelitian ini studi dokumen digunakan untuk memperkuat hasil penelitian.
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa foto-foto dan data statistik yang berkaitan dengan komunikasi antara orang tua dan
63 anak dalam menghadapi fenomena penggunaan gadget pada anak yang semakin meningkat. Data dokumentasi ini dibutuhkan sebagai sumber informasi pendukung yang mendukung sumber informasi utama.
3.6. Teknik Keabsahan Data
Keabsahan atau validitas data penting dilakukan untuk menjamin konsistensi temuan dari suatu penelitian. Peneliti harus secara terus menerus melakukan pemeriksaan terhadap hasil penelitian dari sumber yang berbeda maupun yang sama (Yin, 2012, h.13). Menurut Yin (2018) dalam melakukan keabsahan atau validitas data terdapat beberapa teknik keabsahan data dalam penelitian kualitatif yang dapat digunakan oleh peneliti, yaitu (h.78-79):
1. Construct Validity. Construct validity merupakan suatu teknik keabsahan data dengan mengidentifikasi langkah-langkah operasional yang benar untuk konsep yang sedang dipelajari.
2. Internal Validity. Internal validity merupakan suatu teknik keabsahan data yang digunakan untuk studi penjelasan atau kausal dan tidak digunakan dalam studi deskriptif atau eksploratif. Internal validity dilakukan dengan berusahan membangun hubungan sederhana, dimana kondisi tertentu diyakini menyebabkan kondisi yang lain, yang dibedakan dari hubungan palsu.
3. External Validity. External validity merupakan teknik keabsahan data dengan menunjukkan apakah dan bagaimana temuan studi kasus dapat digeneralisasikan.
64 4. Reliability. Reliability merupakan teknik keabsahan data dengan menunjukkan bahwa operasi suatu penelitian, seperti prosedur pengumpulan datanya dapat diulangi dengan hasil yang sama.
Dalam penelitian ini teknik keabsahan data yang digunakan adalah construct validity. Teknik keabsahan data ini digunakan karena dalam penelitian ini menggunakan banyak sumber bukti untuk memperkuat hasil penelitian. Melalui teknik construct validity ini peneliti akan menyocokkan hasil penelitian dengan konsep dan teori yang digunakan dalam penelitian.
3.7. Teknik Analisis Data
Ketika seluruh data penelitian sudah terkumpul melalui berbagai teknik pengumpulan data, maka tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah menganalisis data dan informasi untuk kemudian dituliskan menjadi hasil penelitian. Yin (2018) dalam bukunya menggolongkan teknik analisis penelitian studi kasus menjadi 5 jenis, yaitu logika penjodohan pola (pattern matching), pembuatan eksplanasi (explanation building), analisis deret waktu (time-series analysis), model logis (logic models), dan sintaksis lintas kasus (cross-case synthesis) (h.223). Berikut adalah penjelasan masing-masing teknik analisis data.
1. Logika penjodohan pola (pattern matching) merupakan teknik analisis data studi kasus dengan membandingkan pola berdasarkan data yang dikumpulkan dengan pola yang ditentukan sebelum pengumpulan data dilakukan (Yin, 2018, h.352).
65 2. Pembuatan eksplanasi (explanation building) merupakan teknik analisis data dalam studi kasus dengan menggunakan data untuk mengembangkan penjelasan tentang kejadian dalam suatu kasus (Yin, 2018, h.352).
3. Analisis deret waktu (time-series analysis) merupakan teknik analisis dalam studi kasus dengan menyusun data sesuai dengan waktu dan membandingkan tren terhadap yang semula ditetapkan sebelum pengumpulan data (Yin, 2018, h.354).
4. Model logika (logic models) merupakan teknik analisis dalam studi kasus dengan menetapkan dan mengoperasionalkan rantai kejadian atau peristiwa yang kompleks selama periode waktu yang panjang, mencoba menunjukkan bagaimana suatu kegiatan yang kompleks. Suatu kejadian digambarkan dalam pola sebab-akibat-sebab-akibat berulang, dimana hasil pada tahap sebelumnya dapat menjadi stimulus (Yin, 2018, h.236).
5. Sintaksis lintas kasus (cross-case synthesis) merupakan teknik analisis dalam studi kasus dengan menyusun data untuk studi kasus berganda, dengan terlebih dahulu memeriksa hasil untuk setiap studi kasus individu dan hanya kemudian mengamati pola hasil di seluruh studi kasus (Yin, 2018, h.350).
Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis logika penjodohan pola atau pattern matching. Di mana melalui teknik analisis ini, peneliti dapat membandingkan pola data empirik yang telah ditemukan dengan pola data yang diprediksi. Jika ditemukan persamaan pada kedua pola tersebut, maka hasilnya
66 dapat memperkuat validitas atau keabsahan data penelitian studi kasus (Yin, 2018, h.352).