• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

BERITA DAERAH

KOTA TANGERANG SELATAN

No. 47,2019 PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN.

Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 47 Tahun 2019

tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 3 Tahun 2019 tentang Penataan Dan Pengendalian Pembangunan

Menara Telekomuikasi.

PROVINSI BANTEN

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2019

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN

MENARA TELEKOMUNIKASI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN,

Menimbang : a. bahwa penataan dan pengendalian pembangunan menara telekomunikasi telah diatur dengan Peraturan

Walikota Tangerang Selatan Nomor 3 Tahun 2019 tentang Penataan dan Pengendalian

Pembangunan Menara Telekomunikasi;

b. bahwa untuk menciptakan kelancaran komunikasi dalam masyarakat, perlu penataan infrastruktur tiang penyangga jaringan dan telekomunikasi agar tidak menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitar;

c. bahwa dalam penataan infrastruktur tiang penyangga jaringan dan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam huruf b, maka Peraturan Walikota sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu dilakukan perubahan;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Walikota tentang Perubahan atas Peraturan Walikota Nomor 3 Tahun 2019 tentang Penataan dan Pengendalian Pembangunan Menara Telekomunikasi;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunkasi (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 1999 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881);

SALINAN

(2)

-2-

3. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kota Tangerang Selatan di

Provinsi Banten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4935);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang

Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);

6. Peraturan Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 5 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan

Komunikasi dan Informatika (Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 Nomor 05, Tambahan Lembaran Daerah Kota Tangerang Selatan Nomor 0510);

7. Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 3 tahun 2019 tentang Penataan dan

Pengendalian Pembangunan Menara Telekomunikasi (Berita Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2019 Nomor 3);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN WALIKOTA TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI.

Pasal I

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Walikota Tangerang Selatan Nomor 3 Tahun 2019 tentang Penataan dan

Pengendalian Pembangunan Menara Telekomunikasi

(Berita Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2019

Nomor 3) diubah sebagai berikut:

(3)

-3-

1. Ketentuan Pasal 1 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 1

Dalam Peraturan Walikota ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kota Tangerang Selatan.

2. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

3. Walikota adalah Walikota Tangerang Selatan.

4. Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tangerang Selatan yang selajutnya disebut Diskominfo adalah Perangkat Daerah yang membidangi urusan Komunikasi dan Informatika, Persandian, serta Statistik.

5. Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan/atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya.

6. Telekomunikasi Khusus adalah penyelenggaraan telekomunikasi untuk meteorologi dan geofisika, televisi siaran, radio siaran, amatir radio, komunikasi radio anatar penduduk dan penyelenggaran telekomunikasi khusus instansi pemerintah tertentu/swasta.

7. Penyelenggara Telekomunikasi adalah perseorangan, koperasi, badan usaha milik daerah, badan usaha milik negara, badan usaha swasta, instansi pemerintah, dan instansi pertahanan keamanan negara.

8. Penyelenggaraan Telekomunikasi adalah kegiatan penyediaan dan pelayanan telekomunikasi sehingga memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi.

9. Alat Telekomunikasi adalah setiap alat perlengkapan yang digunakan dalam bertelekomunikasi

10. Perangkat Telekomunikasi adalah sekelompok alat telekomunikasi yang memungkinkan

bertelekomunikasi.

11. Menara Telekomunikasi Bersama adalah menara

yang berfungsi sebagai penunjang jaringan

telekomunikasi khusus dan yang digunakan secara

bersama-sama oleh penyelenggara telekomunikasi,

digunakan oleh maksimal 4 (empat) Penyelenggara

Telekomunikasi.

(4)

-4-

12. Menara Green Field adalah menara telekomunikasi yang didirikan di atas tanah.

13. Menara Roof Top adalah menara telekomunikasi yang didirikan di atas bangunan.

14. Menara Microcell adalah menara telekomunikasi

yang desain Kamuflase dan

bentuknya diselaraskan dengan lingkungan dimana menara tersebut berada.

15. Menara Telekomunikasi, yang selanjutnya disebut Menara, adalah bangunan-bangunan untuk kepentingan umum yang didirikan di atas tanah, atau bangunan yang merupakan satu kesatuan konstruksi dengan bangunan gedung yang dipergunakan untuk kepentingan umum yang struktur fisiknya dapat berupa rangka baja yang diikat oleh berbagai simpul atau berupa bentuk tunggal tanpa simpul, dimana fungsi, desain dan konstruksinya disesuaikan sebagai sarana penunjang menempatkan perangkat telekomunikasi.

16. Penyedia Menara adalah perseorangan, koperasi, badan usaha milik daerah, badan usaha milik negara atau badan usaha swasta yang memiliki dan mengelola menara untuk digunakan bersama oleh penyelenggara telekomunikasi.

17. Pengelola Menara adalah badan usaha yang mengelola dan/atau mengoperasikan menara yang dimiliki oleh pihak lain.

18. Penyedia Jasa Konstruksi adalah orang perseorangan atau badan yang kegiatan usahanya menyediakan layanan jasa konstruksi.

19. Jaringan Utama adalah bagian dari jaringan infrastruktur telekomunikasi yang menghubungkan berbagai elemen jaringan telekomunikasi yang dapat berfungsi sebagai central trunk, Mobile Switching Center, Base Station Controller Radio Network Controller, dan jaringan transmisi utama.

20. Bangunan Gedung adalah wujud fisik hasil

pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat

kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di

atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang

berfungsi sebagai tempat manusia melakukan

kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal,

kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan

sosial, budaya, maupun kegiatan khusus.

(5)

-5-

21. Surat Keterangan Zona Menara telekomunikasi yang selanjutnya disingkat SKZ adalah wilayah yang terdiri dari titik-titik zona lokasi yang telah ditentukan untuk pembangunan menara telekomunikasi bersama.

22. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik spesifik.

23. Zona Bebas Menara adalah zona tidak diperbolehkan terdapat menara.

24. Zona Menara adalah zona diperbolehkan terdapat menara sesuai kriteria teknis yang ditetapkan, termasuk menara yang disyaratkan untuk bebas visual.

25. Zona Menara Eksisting adalah Menara telekomunikasi yang sudah berdiri dan beroperasi di wilayanh Kota Tangerang Selatan.

26. Zona Menara Baru adalah Menara telekomunikasi yang akan di bangun baru yang telah di atur dalam call planning dari titik koordinat menara telekomunikasi yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan menara bersama yang baru.

27. Titik Zona Menara adalah titik pusat jari-jari lingkaran yang diidentifikasi dengan koordinat geografis (longitude, lattitude) yang membentuk zona pola persebaran menara bersama dalam sebuah radius yang ditentukan di dalam peraturan ini.

28. Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan, yang selanjutnya disebut KKOP, adalah wilayah daratan dan/atau perairan dan ruang udara di sekitar bandar udara yang digunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan.

29. Base Transceiver Station, yang selanjutnya disingkat BTS, adalah perangkat stasiun pemancar dan penerima telepon selular untuk melayani suatu wilayah cakupan (cell coverage).

30. Microcell adalah subsistem BTS yang memiliki

cakupan layanan dengan area/radius yang lebih

kecil digunakan untuk mengkover area yang tidak

terjangkau oleh BTS utama atau bertujuan

meningkatkan kapasitas dan kualitas pada area

yang padat trafiknya.

(6)

-6-

31. Fiber Optik atau Serat Optik adalah sejenis media dengan karakteristik khusus yang mampu menghantarkan data melalui gelombang frekuensi dengan kapasitas yang sangat besar.

32. Infrastruktur Pasif Telekomunikasi adalah bangunan atau struktur untuk kepentingan bersama yang didirikan di atas dan di bawah tanah, atau bangunan yang merupakan satu kesatuan konstruksi dengan bangunan gedung atau struktur tertentu yang dipergunakan untuk kepentingan bersama sebagai sarana penunjang menempatkan perangkat telekomunikasi, antara lain berupa Infrastruktur Saluran Bawah Tanah, Infrastruktur Terowongan, Tiang Penyangga Fiber Optik, Tiang Microcell dan Menara Telekomunikasi.

33. Tiang Penyangga Fiber Optik adalah konstruksi tiang dari material beton yang penempatannya sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah yang berfungsi sebagai sarana penunjang untuk menempatkan jaringan fiber optik yang desain atau bentuk ditetapkan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika.

34. Infrastruktur Saluran Bawah Tanah adalah bangunan atau struktur untuk kepentingan umum yang didirikan di bawah tanah yang digunakan untuk menempatkan dan melindungi kabel jaringan Telekomunikasi yang berada di bawah akses ke gedung/lokasi pelanggan.

35. Infrastruktur Terowongan adalah struktur bangunan padat yang berbentuk segi empat atau lingkaran yang terletak di dalam tanah dan/atau di dalam air.

36. Pipa adalah Pipa tunggal atau sekumpulan Pipa yang terletak di bawah tanah dan ditempatkan di sepanjang rute jalan dann berfungsi untuk melindungi kabel atau Sub Pipa.

37. Sub Pipa adalah Pipa yang lebih kecil ukurannya di dalam Pipa utama dan digunakan untuk membagi ruangan di dalam Pipa utama menjadi beberapa bagian agar penggunaannya lebih efektif serta untuk keperluan melindungi kabel.

38. Ruang Sambung Berdiri (manhole) adalah prasarana

di tepi atau badan jalan berupa lubang yang dapat

memuat orang yang bekerja dan selain digunakan

untuk tempat instalasi dan pemeliharaan Pipa juga

digunakan sebagai tempat untuk sambungan dan

percabangan jalur pada Pipa.

(7)

-7-

39. Ruang Sambung Jongkok (handhole) adalah prasarana di tepi atau badan jalan berupa lubang yang dapat dikerjakan orang sambil jongkok dan selain digunakan untuk tempat instalasi dan pemeliharaan Pipa juga digunakan sebagai tempat untuk sambungan dan percabangan jalur pada Pipa.

40. Kabinet adalah sarana untuk menempatkan rak dan/atau perangkat aktif, perangkat pendukung, serta frame distribusi sebagai titik terminasi antarmuka dari arah sentral dengan antarmuka dari arah pelanggan yang ditempatkan di luar ruangan atau gedung.

41. Gorong-Gorong Beton adalah bangunan padat dari beton berbentuk segi empat atau lingkaran, mempunyai spigot dan socket, yang berfungsi melindungi perangkat yang ada di dalamnya dari infiltrasi air tanah dan melindungi agar tetap menyatu di dalam kedudukannya walaupun terjadi guncangan atau pergeseran tanah.

42. Penyedia Infrastruktur Pasif adalah pihak yang memiliki infrastruktur pasif untuk digunakan bersama oleh Penyelenggara Telekomunikasi.

43. Pengelola Infrastruktur Pasif adalah badan usaha yang mengelola dan/atau mengoperasikan infrastruktur pasif.

44. Open Access adalah akses yang diberikan secara terbuka dan bebas yang dapat dimanfaatkan secara bersama oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi.

45. Rencana Tata Ruang Wilayah, yang selanjutnya disingkat RTRW, adalah hasil perencanaan tata ruang wilayah kota yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah.

46. Rencana Detail Tata Ruang, yang selanjutnya disingkat RDTR, adalah penjabaran dari rencana tata ruang wilayah kota ke dalam rencana pemanfaatan kawasan perkotaan.

47. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, yang

selanjutnya disingkat RTBL, adalah panduan

rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang

dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan

ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta

memuat materi pokok ketentuan program bangunan

dan lingkungan, rencana umum dan panduan

rancangan, rencana investasi, ketentuan

pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian

pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.

(8)

-8-

48. Izin Mendirikan Bangunan Menara, yang selanjutnya disingkat IMB Menara, adalah izin mendirikan bangunan yang diberikan oleh walikota atau pejabat yang berwenang di bidang pelayanan perizinan kepada pemilik menara untuk membangun atau mengubah menara sesuai dengan persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.

49. Standar Nasional Indonesia, yang selanjutnya disingkat SNI, adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional dan berlaku secara nasional.

50. Izin Penempatan Perangkat Telekomunikasi yang selanjutnya disingkat IPPT adalah surat pertimbangan yang dikeluarkan oleh Dinas untuk digunakan sebagai dasar penerbitan Surat Keterangan Pengendalian Operasional Menara dan penyelenggaraan Telekomunikasi.

51. Surat Kelayakan Kontruksi Menara yang selanjutnya disingkat SKKM adalah surat yang diberikan oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan kepada pemilik menara telekomunikasi untuk dibolehkannya menara telekomunikasi beroperasi dalam jangka waktu yang tertentu.

2. Ketentuan Pasal 5 ayat (3), ayat (4), dan ayat (6) diubah, serta ayat (5) dihapus, sehingga Pasal 5 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 5

(1) Penggelaran kabel fiber optik diutamakan diletakkan di bawah tanah.

(2) Penggelaran kabel optik dapat dilakukan melalui jalur udara.

(3) Penggelaran kabel fiber optik yang akan diletakkan di bawah tanah pada sepanjang jalan utama dan jalan kolektor dilengkapi dengan:

a. Ruang Sambung Berdiri;

b. Ruang Sambung Jongkok;

c. Kabinet.

(4) Pemasangan Ruang Sambung Berdiri, Ruang Sambung Jongkok dan Kabinet harus mempertimbangkan estetika Daerah dan tidak mengganggu fungsi pedestrian.

(5) Dihapus.

(6) Penggelaran fiber optik terlebih dahulu harus

mendapat izin penyelenggaraan instalasi kabel optik

dari dinas yang membidangi urusan perizinan.

(9)

-9-

3. Di antara Pasal 5 dan Pasal 6 disisipkan 13 (tiga belas) Pasal yakni Pasal 5A sampai dengan Pasal 5M, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 5A

(1) Penggelaran kabel fiber optik di bawah tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dapat melalui:

a. Pipa; atau

b. Gorong-Gorong Beton.

(2) Penggelaran kabel fiber optik melalui Pipa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dapat memiliki Sub Pipa berupa:

c. Macroduct; atau d. Microduct.

(3) Macroduct sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dapat berbentuk bulat, Ionjong, segi empat, segi lima, atau segi enam.

(4) Contoh Pipa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.

Pasal 5B

(1) Pipa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5A ayat (1) huruf a terdiri atas:

a. Karakteristik Pipa;

b. material Pipa;

c. diameter dan jumlah Pipa;

d. material Sub Pipa;

e. sambungan Pipa; dan f. kapasitas Pipa.

(2) Karakteristik Pipa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yang akan digunakan untuk keperluan telekomunikasi bawah tanah:

a. memiliki permukaan rata, halus, tidak retak, tidak cacat, kuat, tidak mengalami perubahan warna dan bentuk, dan tahan lama, termasuk sambungan Pipa;

b. aman dari masuknya partikel lain yang dapat menggganggu fungsi Infrastruktur Saluran Bawah Tanah Bersama Telekomunikasi; dan c. desain instalasi jaringan Pipa harus efisien dan

memperhitungkan perlindungan mekanik kabel

telekomunikasi.

(10)

-10-

Pasal 5C

(1) Gorong-Gorong Beton sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5A ayat (1) huruf b dapat memiliki penampang berbentuk:

a. segi empat; atau b. lingkaran.

(2) Gorong-Gorong Beton sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5A ayat (1) huruf b terdiri atas:

a. kekuatan Gorong-Gorong Beton;

b. ukuran Gorong-Gorong Beton; dan c. kapasitas Gorong-Gorong Beton.

(3) Kekuatan Gorong-Gorong Beton sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a harus memenuhi syarat dengan memperhitungkan beban sebagai berikut:

a. berat Gorong-Gorong Beton:

b. berat isi Gorong-Gorong Beton;

c. beban mati di atasnya; dan

d. beban hidup yang bergerak di atasnya.

(4) Ukuran Gorong-Gorong Beton sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b terdiri atas:

a. penampang berbentuk persegi memiliki ukuran paling kecil 20cm (dua puluh centimeter) x 20cm (dua puluh centimeter); dan

b. penampang berbentuk lingkaran memiliki ukuran diameter penampang paling kecil 30 cm (tiga puluh centimeter).

(5) Kapasitas Gorong-Gorong Beton sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c menampung paling sedikit 2 (dua) penyelenggara telekomunikasi.

(6) Contoh bentuk Gorong-gorong Beton sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) sebagaimana tercantum

dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak

terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.

(11)

-11-

Pasal 5D

(1) Ruang Sambung Berdiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf a terdiri atas:

a. persyaratan;

b. kekuatan;

c. Pipa cadangan;

d. penandaaan;

e. ukuran Ruang Sambung Berdiri;

f. tipe;

g. penyumbat Pipa;

h. komponen;

(2) Persyaratan Ruang Sambung Berdiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:

a. harus dapat dimasuki orang;

b. tutup harus rata dengan permukaan tanah dan tidak mengganggu pengguna jalan:

c. bebas dari segala macam cacat fisik;

d. tutup hanya dapat dibuka dengan katrol atau alat tertentu;

e. tutup tertera tulisan "Telekomunikasi";

f. penempatan disesuaikan dengan kebutuhan;

g. memiliki sistem resapan air;

h. jarak antar Ruang Sambung Berdiri paling dekat 25 meter;

i. untuk Ruang Sambung Berdiri Tipe L dan Tipe T, radius tikungan Pipa minimum harus 20 kali diameter luar Pipa;

j. campuran beton dengan persyaratan mutu beton mengacu pada Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

k. persyaratan penulangan dengan persyaratan beton bertulang mengacu pada Peraturan Perundang-undangan yang berlaku; dan

l. harus mampu menampung paling sedikit 2 (dua)

penyelenggara telekomunikasi dengan

memperhatikan kapasitas maksimum Ruang

Sambung Berdiri.

(12)

-12-

(3) Kekuatan Ruang Sambung Berdiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b harus memperhitungkan beban sebagai berikut:

a. berat Ruang Sambung Berdiri;

b. berat isi Ruang Sambung Berdiri;

c. beban mati di atasnya; dan

d. beban hidup yang bergerak di atasnya.

(4) Pipa cadangan Ruang Sambung Berdiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dipasang pada lubang Pipa yang tidak terpakai di dalam Ruang Sambung Berdiri dengan ukuran paling panjang 40cm (empat puluh centimeter).

(5) Penandaaan Ruang Sambung Berdiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d terletak di dinding leher ruang sambung bagian dalam yang mudah dilihat, tidak mudah hilang dan berisi informasi tipe, tahun pembuatan, dan nama pemilik.

(6) Ukuran Ruang Sambung Berdiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e paling kecil berukuran:

a. Tipe S panjang 250cm (dua ratus lima puluh centimeter), lebar 120cm (seratus dua puluh centimeter), dan tinggi 180cm (seratus delapan puluh centimeter);

b. Tipe L panjang 370cm (tiga ratus tujuh puluh centimeter), lebar 120cm (seratus dua puluh centimeter), dan tinggi 180cm (seratus delapan puluh centimeter); dan

c. Tipe T panjang 250cm (dua ratus lima puluh centimeter), lebar 120cm (seratus dua puluh centimeter), dan tinggi 180cm (seratus delapan puluh centimeter).

(7) Contoh tipe, penyumbat Pipa, dan komponen Ruang Sambung Berdiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, huruf g, dan huruf h sebagaimana tercantum dalam Lampiran III yang merupakan

bagian tidak terpisahkan dari Peraturan

Walikota ini.

(13)

-13-

Pasal 5E

(1) Ruang Sambung Jongkok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf b terdiri atas:

a. persyaratan;

b. kekuatan;

c. penandaaan;

d. ukuran Ruang Sambung Jongkok;

e. komponen;

(2) Persyaratan Ruang Sambung Jongkok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:

a. tutup rata dengan permukaan tanah dan tidak mengganggu pengguna jalan;

b. bebas dari segala macam cacat fisik;

c. tertera tulisan "Telekomunikasi" pada tutup;

d. penempatan disesuaikan dengan kebutuhan;

e. memiliki sistem resapan air;

f. radius tikungan Pipa paling sedikit 20 (dua puluh) kali diameter luar Pipa:

g. jarak antar Ruang Sambung Jongkok paling dekat 25m (dua puluh lima meter); dan

h. harus mampu menampung paling sedikit 2 (dua) penyelenggara telekomunikasi dengan memperhatikan kapasitas maksimum Ruang Sambung Jongkok.

(3) Kekuatan Ruang Sambung Jongkok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:

a. berat Ruang Sambung Jongkok;

b. berat isi Ruang Sambung Jongkok;

c. beban mati di atasnya; dan

d. beban hidup/yang bergerak di atasnya.

(4) Penandaaan Ruang Sambung Jongkok sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) huruf c terletak di dinding

leher ruang sambung bagian dalam yang mudah

dilihat, tidak mudah hilang dan berisi informasi

tipe, tahun pembuatan, dan nama pemilik.

(14)

-14-

(5) Ukuran Ruang Sambung Jongkok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d paling kecil berukuran:

a. Ukuran Besar panjang 180cm (seratus delapan puluh centimeter), lebar 100cm (seratus centimeter), dan tinggi 160cm (seratus enam puluh centimeter);

b. Ukuran Menengah panjang 120cm (seratus dua puluh centimeter), lebar 100cm (seratus centimeter), dan tinggi 160cm (seratus enam puluh centimeter); dan

c. Ukuran Kecil panjang 40cm (empat puluh centimeter), lebar 40cm (empat puluh centimeter), dan tinggi 40cm (empat puluh centimeter).

(6) Contoh komponen Ruang Sambung Jongkok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.

Pasal 5F

(1) Kabinet sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf c terdiri atas:

a. persyaratan;

b. pondasi; dan c. ukuran;

(2) Persyaratan Kabinet sebagaimana dimaksud pada (1) huruf a terdiri atas:

a. terbuat dari bahan logam, plastik, PVC atau fiber glass;

b. konstruksi harus kuat dan kokoh;

c. mampu melindungi perangkat di dalamnya;

d. memiliki sistem sirkulasi udara untuk melindungi perangkat didalamnya terhadap suhu panas dari dalam dan Iuar Kabinet;

dan

e. penempatan Kabinet sesuai dengan

kebutuhan dan tidak boleh mengganggu

pengguna jalan.

(15)

-15-

(3) Pondasi Kabinet sebagaimana dimaksud pada (1) huruf b paling sedikit memenuhi persyaratan:

a. harus kuat, kokoh dan mampu menahan beban diatasnya;

b. bagian dalam pondasi harus dibuat berongga dan mempunyai ruang yang cukup untuk memasukkan kabel telekomunikasi,

c. kabel catu daya, dan kabel pentanahan;dan d. tidak dapat dimasuki air atau serangga yang

dapat mengganggu perangkat di dalam Kabinet.

(4) Ukuran Kabinet sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c paling besar panjang 200cm (dua ratus centimeter), lebar 80cm (delapan puluh centimeter), dan tinggi 170cm (seratus tujuh puluh centimeter).

Pasal 5G

(1) Penggelaran kabel fiber optik melalui jalur udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) harus dibangun Tiang Penyangga Fiber Optik.

(2) Pembangunan Tiang Penyangga Fiber Optik diarahkan kepada penggunaan Tiang Penyangga Fiber Optik bersama.

(3) Zona Tiang Penyangga Fiber Optik eksisting sebagai Tiang Penyangga Fiber Optik bersama.

(4) Pembangunan Tiang Penyangga Fiber Optik terlebih dahulu harus mendapat izin penyelenggaraan instalasi kabel optik dari dinas yang membidangi urusan perizinan.

(5) Desain Tiang Penyangga Fiber Optik sebagaimana dimaksud pada Pasal 5G ayat (2) tercantum dalam Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.

Pasal 5H

(1) Penyelenggara Tiang Penyangga Fiber Optik dapat memanfaatkan aset Pemerintah Daerah.

(2) Pemanfaatan aset Pemerintah Daerah dilaksanakan

sesuai dengan peraturan perundang-undangan

mengenai pemanfaatan Barang Milik Daerah.

(16)

-16-

Pasal 5I

Dalam hal terjadi pelebaran jalan atau kegiatan lain yang berakibat berubahnya titik Tiang Penyangga Fiber Optik eksisting, titik Tiang Penyangga Fiber Optik eksisting dapat dipindahkan.

Pasal 5J

(1) Tiang Penyangga Fiber Optik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa Tiang Beton dengan tinggi paling rendah 7m (tujuh meter) dan paling tinggi 11m (sebelas meter).

(2) Tiang Penyangga Fiber Optik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

a. persyaratan;

b. penandaaan; dan c. instalasi.

(3) Jarak antar Tiang Penyangga Fiber Optik paling jauh 50m (lima puluh meter).

(4) Tiang beton sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan bersama utilitas lain dengan mempertimbangkan aspek keselamatan dan tidak menimbulkan gangguan.

(5) Utilitas lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) antara lain:

a. Closed Circuit Television;

b. Wireless Local Area Network; atau c. Penerangan Jalan Umum.

Pasal 5K

Persyaratan sebagaimana dimaksud pada (3) huruf a paling sedikit:

a. Tidak boleh mengandung cacat yang dapat membahayakan pengguna;

b. Mampu menampung lebih dari satu penyelenggara telekomunikasi dengan memperhatikan beban maksimum tiang; dan

c. Jarak antar tiang paling jauh 50 (lima puluh) meter.

(17)

-17-

Pasal 5L

Penandaaan tiang penyangga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b terletak di tiang pada jarak 1,5m (satu koma lima meter) di atas garis tanah dengan diberi tanda berupa identifikasi mudah terlihat, tidak mudah hilang, dan paling sedikit berisi informasi mengenai beban maksimum, tahun pembuatan, tinggi tiang dan nama pemilik.

Pasal 5M

Instalasi tiang penyangga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c harus memenuhi persyaratan:

a. Posisi kabel yang pertama kali dipasang berada pada posisi paling atas dan kabel selanjutnya dipasang pada posisi dibawahnya atau disampingnya secara berurutan; dan

b. Posisi box panel Optic Distribution Panel yang pertama kali dipasang berada pada posisi paling atas dan box panel Optic Distribution Panel selanjutnya dipasang pada posisi dibawahnya secara berurutan atau dipasang pada tiang selanjutnya.

4. Ketentuan Pasal 10 ayat (2) diubah, sehingga Pasal 10 berbunyi sebagai berikut;

Pasal 10

(1) Struktur bangunan Menara Macrocell wajib mengacu kepada SNI dan standar baku tertentu untuk menjamin keselamatan bangunan dan lingkungan dengan memperhitungkan faktor yang menentukan kekuatan dan kestabilan konstruksi Menara Macrocell, dengan mempertimbangkan:

a. ketinggian Menara;

b. struktur Menara;

c. rangka struktur Menara;

d. pondasi Menara;

e. kekuatan angin; dan f. konstruksi tahan gempa.

(2) Persyaratan struktur bangunan Menara Macrocell

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum

pada Lampiran VI yang merupakan bagian tidak

terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.

(18)

-18-

5. Di antara Pasal 12 dan Pasal 13 disisipkan 1 (satu) Pasal yakni Pasal 12A, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 12A

Penyedia Menara dilarang mengajukan permohonan pembangunan Menara Macrocell baru.

6. Ketentuan Pasal 14 ayat (3) dan ayat (5) diubah, sehingga Pasal 14 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 14

(1) Pembangunan Menara Microcell wajib menggunakan tiang tunggal.

(2) Tiang tunggal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk kamuflase.

(3) Tiang tunggal berbentuk kamuflase sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. tiang Microcell paling tinggi 20 (dua puluh) meter dari permukaan tanah;

b. diameter tiang Microcell paling besar 35 (tiga puluh lima) centimeter; dan

c. kontruksi tiang sesuai dengan desain.

(4) Tiang Microcell menyediakan paling sedikit 1 (satu) penyelenggara telekomunikasi.

(5) Desain tiang Microcell sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.

7. Ketentuan Pasal 17 ayat (1) dan ayat (4) dihapus, sehingga Pasal 17 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 17 (1) Dihapus.

(2) Penempatan perangkat elektronik untuk Microcell wajib ditempatkan di atas tanah dengan cara yang disamarkan atau dibawah permukaan tanah.

(3) Setiap penggelaran kabel fiber optik wajib dilaporkan kepada Dinas Komunikasi dan Informatika.

(4) Dihapus.

(19)

-19-

8. Ketentuan Pasal 18 ayat (3) diubah, sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut;

Pasal 18

(1) Penempatan Menara Telekomunikasi meliputi Zona Menara Eksisting dan Zona Menara Baru yang dituangkan dalam Titik Zona Menara.

(2) Penempatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memperhatikan RTRW, RDTR, RTBL, standar kualitas pelayanan telekomunikasi, keamanan, keselamatan, estetika Lingkungan, serta kesinambungan usaha dan pertumbuhan industri.

(3) Penempatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran VIII yang merupakan

bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota ini.

9. Ketentuan Pasal 20 ayat (2) huruf f dihapus, sehingga Pasal 20 berbunyi sebagai berikut:

Pasal 20

(1) Penyedia Menara Telekomunikasi untuk memiliki Izin Penempatan titik lokasi menara telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a harus mengajukan permohonan kepada Walikota melalui Dinas yang berwenang menyelenggarakan perizinan.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan melampirkan persyaratan:

a. salinan Kartu Tanda Penduduk;

b. salinan akta pendirian perusahaan;

c. peta lokasi rencana penempatan pembangunan menara telekomunikasi;

d. gambar rencana bentuk menara telekomunikasi;

e. surat pernyataan penggunaan bersama menara telekomunikasi;

f. dihapus;

g. surat pernyataan kesanggupan menyediakan jaringan fiber optik, CCTV, wifi dan partisipasi terhadap pembangunan teknologi informasi dan komunikasi daerah;

h. surat pernyataan kesediaan untuk membongkar dan memindahkan menara apabila digunakan untuk kepentingan umum;

dan

i. persyaratan lain yang ditentukan oleh

Perangkat Daerah yang menangani perizinan.

(20)

-20-

(3) Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melalui tim teknis melakukan verifikasi atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(4) Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melalui tim teknis melakukan survei lapangan atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(5) Apabila hasil verifikasi dan survei lapangan yang dilakukan oleh tim teknis sesuai dengan persyaratan, Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menerbitkan Surat Keterangan Zona Menara telekomunikasi.

Pasal II

Peraturan Walikota ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Walikota ini dengan

penempatannya dalam Berita Daerah Kota Tangerang Selatan.

Ditetapkan di Tangerang Selatan pada tanggal 10 Desember 2019

WALIKOTA

TANGERANG SELATAN, ttd

AIRIN RACHMI DIANY Diundangkan di Tangerang Selatan

pada tanggal 11 Desember 2019 SEKRETARIS DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN,

ttd MUHAMAD

BERITA DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2019 NOMOR 48

(21)

LAMPIRAN I

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2019

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI

CONTOH PIPA

Infrastruktur saluran bawah tanah berupa pipa dapat memiliki sub pipa berupa :

a. Macroduct;

b. Microduct.

Gambar I

Infrastruktur Saluran Bawah Tanah Berupa Pipa

(22)

- 2 -

Gambar II

Macrodµct dan Microduct

WALIKOTA

TANGERANG SELATAN, ttd

AIRIN RACHMI DIANY

(23)

LAMPIRAN II

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2019

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI

CONTOH BENTUK GORONG-GORONG BETON

Infrastruktur saluran bawah tanah berupa gorong-gorong beton dapat memiliki penampang berbentuk :

a. Segi empat; atau b. Lingkaran.

Gambar 1

Saluran Bawah Tanah Berupa Gorong-Gorong Beton Penampang Segi Empat

(24)

- 2 -

Gambar 2

Saluran Bawah Tanah Berupa Gorong-Gorong Beton Penampang Lingkaran

WALIKOTA

TANGERANG SELATAN, ttd

AIRIN RACHMI DIANY

(25)

LAMPIRAN III

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2019

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI

CONTOH TIPE, PENYUMBAT PIPA,

DAN KOMPONEN RUANG SAMBUNG BERDIRI (MANHOLE)

Ruang sambung berdiri terdiri dari 3 (tiga) tipe : a. Ruang Sambung Berdiri Tipe S

b. Ruang Sambung Berdiri Tipe L c. Ruang Sambung Berdiri Tipe T

Gambar I

Ruang Sambung Berdiri Tipe S

(26)

- 2 -

Gambar II

Ruang Sambung Berdiri Tipe L

Gambar III

Ruang Sambung Berdiri Tipe T

(27)

- 3 -

Komponen ruang sambung berdiri terdiri dari : a. Tutup;

b. Leher;

c. Badan; dan

d. Lubang Resapan Air.

Gambar IV

Ruang Sambung Berdiri

Ujung pipa tersebut di dalam Ruarig Sambung Berdiri harus dipasang penyumbat pipa (stopper) sedangkan ujung luar pipa harus dipasang penutup pipa (dop) PVC yang kedap air.

Gambar V

Penyumbat Pipa Ruang Sambung Berdiri

WALIKOTA

TANGERANG SELATAN, ttd

AIRIN RACHMI DIANY

(28)

LAMPIRAN IV

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2019

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI

CONTOH KOMPONEN RUANG SAMBUNG JONGKOK (HANDHOLE) Ruang sambung terdiri dari :

a. tutup;

b. badan; dan

c. lubang resapan air.

Gambar I

Contoh Ruang Sambung Jongkok

WALIKOTA

TANGERANG SELATAN, ttd

AIRIN RACHMI DIANY

(29)

LAMPIRAN V

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2019

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI

DESAIN TIANG PENYANGGA FIBER OPTIC

Tiang Penyangga Fiber Optic dapat digunakan bersama utilitas lain antara lain:

a. Closed Circuit Television;

b. Wireless Local Area Network; atau c. Penerangan Jalan Umum.

WALIKOTA

TANGERANG SELATAN, ttd

AIRIN RACHMI DIANY

(30)

LAMPIRAN VI

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2019

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI

PERSYARATAN STRUKTUR BANGUNAN MENARA MACROCELL A. Struktur Bangunan Menara Macrocell

1. Setiap bangunan Menara strukturnya harus direncanakan dan dilaksanakan agar kuat, kokoh, dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety), serta memenuhi persyaratan kelayakan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan Menara, lokasi, keawetan, dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.

2. Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh- pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur, baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa, angin, pengaruh korosi, jamur, dan serangga perusak.

3. Dalam perencanaan struktural bangunan Menara terhadap pengaruh gempa, semua unsur struktur bangunan Menara, baik bagian dari sub struktur maupun struktur Menara, harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya.

4. Struktur bangunan Menara harus direncanakan secara rinci, sehingga apabila terjadi keruntuhan pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan, kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan Menara, menyelamatkan diri.

5. Apabila bangunan Menara terletak pada lokasi tanah yang dapat terjadi likuifaksi, maka struktural bawah bangunan menara harus direncanakan mampu menahan gaya likuifaksi tanah tersebut.

6. Untuk menentukan tingkat keandalan struktural bangunan, harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan ketentuan dalam pedoman/petunjuk teknis tata cara pemeriksaan keandalan bangunan Menara.

7. Perbaikan atau perkuatan struktur bangunan harus segera dilakukan

sesuai Rekomendasi hasil pemeriksaan keandalan bangunan Menara,

sehingga bangunan Menara selalu memenuhi persyaratan keselamatan

struktural.

(31)

- 2 -

8. Perencanaan dan pelaksanaan perawatan struktural bangunan Menara seperti halnya penambahan struktur dan/atau penggantian struktur, harus mempertimbangkan persyaratan keselamatan struktur sesuai dengan pedoman dan standar teknis yang berlaku.

9. Pembongkaran bangunan Menara dilakukan apabila bangunan Menara sudah tidak layak fungsi, dan setiap pembongkaran bangunan Menara harus dilaksanakan secara tertib dengan mempertimbangkan keselamatan masyarakat dan lingkungannya.

10. Pemeriksaan keandalan bangunan Menara dilaksanakan secara berkala sesuai klasifikasi bangunan, dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikat.

11. Untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan,pemeriksaan keandalan bangunan harus dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman/petunjuk teknis yang berlaku.

B. Pembebanan pada Bangunan Menara Macrocell

1. Analisis struktur harus dilakukan untuk memeriksa respon struktur terhadap beban-beban yang mungkin bekerja selama umur kelayakan struktur, termasuk beban tetap, beban sementara (angin dan gempa) dan beban khusus.

2. Penentuan mengenai jenis, intensitas dan cara bekerjanya beban harus mengikuti :

a. SNI 03-1726-2002 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung, atau edisi terbaru; dan

b. SNI 03-1727-1989 Tata Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung, atau edisi terbaru.

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.

C. Struktur Atas Bangunan Menara Macrocell 1. Konstruksi Beton.

Perencanaan Konstruksi beton harus mengikuti :

a. SNI 03-1734-1989 Tata Cara Perencanaan Beton dan Struktur Dinding Bertulang Untuk Rumah dan Gedung, atau edisi terbaru;

b. SNI 03-2847-1992 Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung, atau edisi terbaru;

c. SNI 03-3430-1994 Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur

Pasangan Balok Beton Berongga Bertulang Untuk Bangunan Rumah

dan Gedung, atau edisi terbaru;

(32)

- 3 -

d. SNI 03-3976-1995 Tata Cara Pengaduan Pengecoran Beton, atau edisi terbaru;

e. SNI 03-2834-2000 Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal, atau edisi terbaru; dan

f. SNI 03-3449-2002 Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Ringan Dengan Agregat Ringan, atau edisi terbaru.

Sedangkan untuk perencanaan dan pelaksanaan konstruksi beton pracetak dan prategang harus mengikuti:

a. Tata Cara perencanaan dan pelaksanaan konstruksi beton pracetak dan prategang untuk Bangunan Gedung;

b. Metoda pengujian dan penentuan parameter perencanaan tahan gempa konstruksi beton pracetak dan prategang untuk Bangunan Gedung;dan

c. Spesifikasi sistem dan material konstruksi beton pracetak dan prategang untuk Bangunan Gedung.

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampang, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman tekhnis.

2. Konstruksi Baja

Perencanaan konstruksi baja harus mengikuti:

a. SNI 03-1729-2002 Tata Cara Perencanaan Bangunan Baja Untuk Gedung, atau edisi terbaru;

b. Tata cara dan/atau pedoman lain yang masih terkait dalam perencanaan konstruksi baja;

c. Tata cara pembuatan atau perakitan konstruksi baja; dan

d. Tata cara pemeliharaan konstruksi baja selama pelaksanaan konstruksi.

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.

D. Struktur Bawah Bangunan Menara Macrocell 1. Pondasi Langsung

a. Kedalaman pondasi langsung harus direncanakan sedemikian rupa sehingga dasarnya terletak di atas lapisan tanah yang mantap dengan daya dukung tanah yang cukup kuat dan selama berfungsinya bangunan tidak mengalami penurunan yang melampaui batas.

b. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai

teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek,

berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan

tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal

dengan parameter tanah yang lain.

(33)

- 4 -

c. Pelaksanaan pondasi langsung tidak boleh menyimpang dari rencana dan spesifikasi teknik yang berlaku atau ditentukan oleh perencanaan ahli yang memiliki sertifikat. penyelidikan tanah yaitu studi daya dukung tanah yang merupakan upaya untuk mendapatkan informasi terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi daya dukung tanah, meliputi:

1) Heterogenitas lapisan tanah dan struktur tanah; dan

2) Kemungkinan pelapukan struktur lapisan tanah akibat gaya- gaya luar seperti air, udara, dan iklim.

d. Pondasi langsung dapat dibuat dari pasangan batu atau konstruksi beton bertulang. penyelidikan tanah dilakukan dengan survai geoteknik dan/atau uji laboratorium sesuai kebutuhan, antara lain meliputi:

1) Interpretasi foto udara dan remote sensing;

2) Sumur uji

3) Pemboran dangkal dan/atau dalam;

4) Uji sonder;

5) Penyelidikan metode geofisik; dan 6) Penyelidikan metode geolistrik.

2. Pondasi Dalam

a. Pondasi dalam pada umumnya digunakan dalam hal lapisan tanah dengan daya dukung yang cukup terletak jauh di bawah permukaan tanah, sehingga penggunaan pondasi langsung dapat menyebabkan penurunan yang berlebihan atau ketidakstabilan konstruksi.

b. Perhitungan daya dukung dan penurunan pondasi dilakukan sesuai teori mekanika tanah yang baku dan lazim dalam praktek, berdasarkan parameter tanah yang ditemukan dari penyelidikan tanah dengan memperhatikan nilai tipikal dan korelasi tipikal dengan parameter tanah yang lain.

c. Umumnya daya dukung rencana pondasi dalam harus diverifikasi dengan percobaan pembebanan, kecuali jika jumlah pondasi dalam direncanakan dengan faktor keamanan yang jauh lebih besar dari faktor keamanan yang lazim.

d. Percobaan pembebanan pada pondasi dalam harus dilakukan dengan berdasarkan tata cara yang lazim dan hasilnya harus dievaluasi oleh perencanaan ahli yang memiliki sertifikat.

e. Jumlah percobaan pembebanan pada pondasi dalam adalah 1% (satu perseratus) dari jumlah titik pondasi yang akan

dilaksanakan dengan penentuan titik secara random, kecuali

ditentukan lain oleh perencana ahli serta disetujui oleh dinas yang

membidangi bangunan gedung.

(34)

- 5 -

f. Pelaksanaan konstruksi bangunan Menara harus memperhatikan gangguan yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan pada masa pelaksanaan konstruksi.

g. Dalam hal lokasi pemasangan tiang pancang terletak di daerah tepi laut yang dapat mengakibatkan korosif harus memperhatikan pengamanan baja terhadap korosi.

h. Dalam hal perencanaan atau metode pelaksanaan menggunakan pondasi yang belum diatur dalam SNI dan/atau mempunyai paten dengan metode konstruksi yang belum dikenal, harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan instansi yang berwenang.

i. Apabila perhitungan struktur menggunakan perangkat lunak, harus menggunakan perangkat lunak yang diakui oleh assosiasi terkait yang sah menurut hukum.

Dalam hal masih ada persyaratan lainnya yang belum tertampung, atau yang belum mempunyai SNI, digunakan standar baku dan/atau pedoman teknis.

WALIKOTA

TANGERANG SELATAN, ttd

AIRIN RACHMI DIANY

(35)

LAMPIRAN VII

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2019

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI

DESAIN TIANG MICROCELL

Desain tiang microcell terdiri dari:

a. pohon yang terkamuflase dari daun hingga batang;

b. tiang penerangan jalan umum;

c. pemasangan CCTV;

d. pemasangan Wifi; dan

e. mempertimbangkan aspek keindahan dan keselarasan dengan lingkungan.

Gambar 1

Desain Tiang Microcell di Bahu Jalan

(36)

2

Gambar 2

Desain Tiang Microcell di Median Jalan

(37)

3

Gambar 3

Contoh Desain Lainnya Tiang Microcell

(38)

4

Gambar 4

Contoh Desain Lainnya Tiang Microcell

WALIKOTA

TANGERANG SELATAN, ttd

AIRIN RACHMI DIANY

(39)

LAMPIRAN VIII

PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 47 TAHUN 2019

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 3 TAHUN 2019 TENTANG PENATAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN MENARA TELEKOMUNIKASI

PENEMPATAN MENARA TELEKOMUNIKASI

No Zone_Name Long Lat Kecamatan

1 ZMT_TANGSEL_0001 106.681946 -6.319941 Serpong

2 ZMT_TANGSEL_0002 106.688835 -6.299767 Serpong

3 ZMT_TANGSEL_0003 106.687286 -6.304053 Serpong

4 ZMT_TANGSEL_0004 106.692207 -6.261721 Pondok Aren

5 ZMT_TANGSEL_0005 106.6617821 -6.2777579 Serpong Utara

6 ZMT_TANGSEL_0006 106.70335 -6.31552 Serpong

7 ZMT_TANGSEL_0007 106.71492 -6.296993 Ciputat

8 ZMT_TANGSEL_0008 106.745813 -6.286607 Ciputat Timur

9 ZMT_TANGSEL_0009 106.665202 -6.248724 Serpong Utara

10 ZMT_TANGSEL_0010 106.73337 -6.2941 Ciputat

11 ZMT_TANGSEL_0011 106.76272 -6.28865 Ciputat Timur

12 ZMT_TANGSEL_0012 106.69807 -6.32126 Serpong

13 ZMT_TANGSEL_0013 106.694078 -6.307191 Serpong

14 ZMT_TANGSEL_0014 106.70188 -6.35281 Setu

15 ZMT_TANGSEL_0015 106.74408 -6.303263 Ciputat

16 ZMT_TANGSEL_0016 106.66332 -6.343378 Setu

17 ZMT_TANGSEL_0017 106.738324 -6.326429 Pamulang

18 ZMT_TANGSEL_0018 106.755036 -6.311374 Ciputat Timur

19 ZMT_TANGSEL_0019 106.666762 -6.336499 Setu

20 ZMT_TANGSEL_0020 106.742677 -6.286067 Ciputat Timur

21 ZMT_TANGSEL_0021 106.769964 -6.331884 Pamulang

22 ZMT_TANGSEL_0022 106.712843 -6.256164 Pondok Aren

23 ZMT_TANGSEL_0023 106.705404 -6.27592 Pondok Aren

24 ZMT_TANGSEL_0024 106.694772 -6.358359 Setu

25 ZMT_TANGSEL_0025 106.730176 -6.258762 Pondok Aren

26 ZMT_TANGSEL_0026 106.676065 -6.247669 Serpong Utara

27 ZMT_TANGSEL_0027 106.714914 -6.280719 Pondok Aren

28 ZMT_TANGSEL_0028 106.670645 -6.255182 Serpong Utara

29 ZMT_TANGSEL_0029 106.680879 -6.286937 Serpong

30 ZMT_TANGSEL_0030 106.736622 -6.345647 Pamulang

31 ZMT_TANGSEL_0031 106.726975 -6.315607 Ciputat

32 ZMT_TANGSEL_0032 106.71284 -6.26727 Pondok Aren

(40)

2

No Zone_Name Long Lat Kecamatan

33 ZMT_TANGSEL_0033 106.758814 -6.291619 Ciputat Timur

34 ZMT_TANGSEL_0034 106.674255 -6.349643 Setu

35 ZMT_TANGSEL_0035 106.755814 -6.354852 Pamulang

36 ZMT_TANGSEL_0036 106.719334 -6.315839 Ciputat

37 ZMT_TANGSEL_0037 106.725357 -6.262896 Pondok Aren

38 ZMT_TANGSEL_0038 106.75504 -6.29453 Ciputat Timur

39 ZMT_TANGSEL_0039 106.669438 -6.318213 Serpong

40 ZMT_TANGSEL_0040 106.769026 -6.318641 Ciputat Timur

41 ZMT_TANGSEL_0041 106.672614 -6.252242 Serpong Utara

42 ZMT_TANGSEL_0042 106.736983 -6.283998 Ciputat Timur

43 ZMT_TANGSEL_0043 106.730558 -6.289874 Ciputat

44 ZMT_TANGSEL_0044 106.757635 -6.305687 Ciputat Timur

45 ZMT_TANGSEL_0045 106.718675 -6.340152 Pamulang

46 ZMT_TANGSEL_0046 106.672888 -6.274479 Serpong Utara

47 ZMT_TANGSEL_0047 106.72316 -6.288985 Ciputat

48 ZMT_TANGSEL_0048 106.678888 -6.320894 Serpong

49 ZMT_TANGSEL_0049 106.709083 -6.322853 Ciputat

50 ZMT_TANGSEL_0050 106.677292 -6.316246 Serpong

51 ZMT_TANGSEL_0051 106.63966 -6.23632 Serpong Utara

52 ZMT_TANGSEL_0052 106.710803 -6.339022 Pamulang

53 ZMT_TANGSEL_0053 106.74363 -6.327021 Ciputat

54 ZMT_TANGSEL_0054 106.707765 -6.345737 Serpong

55 ZMT_TANGSEL_0055 106.672395 -6.284902 Serpong

56 ZMT_TANGSEL_0056 106.7556 -6.36015 Pamulang

57 ZMT_TANGSEL_0057 106.72078 -6.260795 Pondok Aren

58 ZMT_TANGSEL_0058 106.661182 -6.32094 Serpong

59 ZMT_TANGSEL_0059 106.684389 -6.312351 Serpong

60 ZMT_TANGSEL_0060 106.725649 -6.340939 Pamulang

61 ZMT_TANGSEL_0061 106.72128 -6.30192 Ciputat

62 ZMT_TANGSEL_0062 106.712257 -6.314292 Ciputat

63 ZMT_TANGSEL_0063 106.668658 -6.267198 Serpong Utara

64 ZMT_TANGSEL_0064 106.6720676 -6.3391509 Setu

65 ZMT_TANGSEL_0065 106.726281 -6.332894 Pamulang

66 ZMT_TANGSEL_0066 106.702743 -6.28573 Pondok Aren

67 ZMT_TANGSEL_0067 106.68231 -6.24522 Pondok Aren

68 ZMT_TANGSEL_0068 106.741664 -6.310675 Pamulang

69 ZMT_TANGSEL_0069 106.71077 -6.292891 Pondok Aren

70 ZMT_TANGSEL_0070 106.66735 -6.29052 Serpong

71 ZMT_TANGSEL_0071 106.769365 -6.300581 Ciputat Timur

72 ZMT_TANGSEL_0072 106.7368061 -6.2575738 Pondok Aren

73 ZMT_TANGSEL_0073 106.744777 -6.325094 Ciputat

74 ZMT_TANGSEL_0074 106.738 -6.30425 Ciputat

75 ZMT_TANGSEL_0075 106.74809 -6.25217 Pondok Aren

76 ZMT_TANGSEL_0076 106.748303 -6.323659 Ciputat

77 ZMT_TANGSEL_0077 106.741147 -6.3432 Pamulang

(41)

3

No Zone_Name Long Lat Kecamatan

78 ZMT_TANGSEL_0078 106.759162 -6.340601 Pamulang

79 ZMT_TANGSEL_0079 106.737301 -6.311691 Pamulang

80 ZMT_TANGSEL_0080 106.662213 -6.263434 Serpong Utara

81 ZMT_TANGSEL_0081 106.711941 -6.264164 Pondok Aren

82 ZMT_TANGSEL_0082 106.667084 -6.240356 Serpong Utara

83 ZMT_TANGSEL_0083 106.749306 -6.283507 Ciputat Timur

84 ZMT_TANGSEL_0084 106.667974 -6.352632 Setu

85 ZMT_TANGSEL_0085 106.736646 -6.262571 Pondok Aren

86 ZMT_TANGSEL_0086 106.682147 -6.304427 Serpong

87 ZMT_TANGSEL_0087 106.758748 -6.344889 Pamulang

88 ZMT_TANGSEL_0088 106.663602 -6.323936 Serpong

89 ZMT_TANGSEL_0089 106.679188 -6.333849 Setu

90 ZMT_TANGSEL_0090 106.718672 -6.263531 Pondok Aren

91 ZMT_TANGSEL_0091 106.67716 -6.33156 Setu

92 ZMT_TANGSEL_0092 106.693951 -6.313547 Serpong

93 ZMT_TANGSEL_0093 106.664938 -6.235015 Serpong Utara

94 ZMT_TANGSEL_0094 106.71182 -6.34325 Pamulang

95 ZMT_TANGSEL_0095 106.67889 -6.23839 Serpong Utara

96 ZMT_TANGSEL_0096 106.68164 -6.25858 Pondok Aren

97 ZMT_TANGSEL_0097 106.68274 -6.35574 Setu

98 ZMT_TANGSEL_0098 106.75962 -6.31701 Ciputat Timur

99 ZMT_TANGSEL_0099 106.73495 -6.3485 Pamulang

100 ZMT_TANGSEL_0100 106.740243 -6.279425 Ciputat Timur

101 ZMT_TANGSEL_0101 106.718936 -6.279302 Pondok Aren

102 ZMT_TANGSEL_0102 106.76328 -6.3222 Ciputat Timur

103 ZMT_TANGSEL_0103 106.752778 -6.321434 Ciputat Timur

104 ZMT_TANGSEL_0104 106.698926 -6.347056 Setu

105 ZMT_TANGSEL_0105 106.7570406 -6.3009313 Ciputat Timur

106 ZMT_TANGSEL_0106 106.720077 -6.304481 Ciputat

107 ZMT_TANGSEL_0107 106.72059 -6.34248 Pamulang

108 ZMT_TANGSEL_0108 106.683681 -6.260132 Pondok Aren

109 ZMT_TANGSEL_0109 106.720823 -6.345699 Pamulang

110 ZMT_TANGSEL_0110 106.732568 -6.343323 Pamulang

111 ZMT_TANGSEL_0111 106.721036 -6.324445 Pamulang

112 ZMT_TANGSEL_0112 106.659006 -6.281392 Serpong

113 ZMT_TANGSEL_0113 106.720326 -6.319928 Ciputat

114 ZMT_TANGSEL_0114 106.657091 -6.265699 Serpong Utara

115 ZMT_TANGSEL_0115 106.72129 -6.318665 Ciputat

116 ZMT_TANGSEL_0116 106.762455 -6.296879 Ciputat Timur

117 ZMT_TANGSEL_0117 106.721599 -6.355837 Pamulang

118 ZMT_TANGSEL_0118 106.669185 -6.346788 Setu

119 ZMT_TANGSEL_0119 106.721336 -6.35293 Pamulang

120 ZMT_TANGSEL_0120 106.74941 -6.312004 Ciputat

121 ZMT_TANGSEL_0121 106.721939 -6.327904 Pamulang

122 ZMT_TANGSEL_0122 106.668353 -6.300999 Serpong

(42)

4

No Zone_Name Long Lat Kecamatan

123 ZMT_TANGSEL_0123 106.722065 -6.334135 Pamulang

124 ZMT_TANGSEL_0124 106.766628 -6.292242 Ciputat Timur

125 ZMT_TANGSEL_0125 106.723092 -6.311418 Ciputat

126 ZMT_TANGSEL_0126 106.703573 -6.278513 Pondok Aren

127 ZMT_TANGSEL_0127 106.72307 -6.347839 Pamulang

128 ZMT_TANGSEL_0128 106.679584 -6.305595 Serpong

129 ZMT_TANGSEL_0129 106.7242 -6.31794 Ciputat

130 ZMT_TANGSEL_0130 106.751203 -6.273743 Ciputat Timur

131 ZMT_TANGSEL_0131 106.725034 -6.328623 Pamulang

132 ZMT_TANGSEL_0132 106.666881 -6.297692 Serpong

133 ZMT_TANGSEL_0133 106.748792 -6.278153 Ciputat Timur

134 ZMT_TANGSEL_0134 106.725671 -6.325715 Pamulang

135 ZMT_TANGSEL_0135 106.676398 -6.343434 Setu

136 ZMT_TANGSEL_0136 106.726285 -6.354829 Pamulang

137 ZMT_TANGSEL_0137 106.720979 -6.259227 Pondok Aren

138 ZMT_TANGSEL_0138 106.726353 -6.305386 Ciputat

139 ZMT_TANGSEL_0139 106.65328 -6.339055 Setu

140 ZMT_TANGSEL_0140 106.72662 -6.31782 Ciputat

141 ZMT_TANGSEL_0141 106.655868 -6.347154 Setu

142 ZMT_TANGSEL_0142 106.726825 -6.352809 Pamulang

143 ZMT_TANGSEL_0143 106.657705 -6.333607 Setu

144 ZMT_TANGSEL_0144 106.726584 -6.310073 Ciputat

145 ZMT_TANGSEL_0145 106.688362 -6.305135 Serpong

146 ZMT_TANGSEL_0146 106.727231 -6.340856 Pamulang

147 ZMT_TANGSEL_0147 106.658636 -6.300032 Serpong

148 ZMT_TANGSEL_0148 106.727307 -6.32397 Pamulang

149 ZMT_TANGSEL_0149 106.659186 -6.311721 Serpong

150 ZMT_TANGSEL_0150 106.727722 -6.335716 Pamulang

151 ZMT_TANGSEL_0151 106.753668 -6.311498 Ciputat Timur

152 ZMT_TANGSEL_0152 106.727811 -6.317134 Ciputat

153 ZMT_TANGSEL_0153 106.659958 -6.304809 Serpong

154 ZMT_TANGSEL_0154 106.728746 -6.30125 Ciputat

155 ZMT_TANGSEL_0155 106.65997 -6.310053 Serpong

156 ZMT_TANGSEL_0156 106.72897 -6.334135 Pamulang

157 ZMT_TANGSEL_0157 106.66051 -6.3372 Setu

158 ZMT_TANGSEL_0158 106.729015 -6.342455 Pamulang

159 ZMT_TANGSEL_0159 106.661208 -6.301836 Serpong

160 ZMT_TANGSEL_0160 106.729145 -6.359308 Pamulang

161 ZMT_TANGSEL_0161 106.662291 -6.30702 Serpong

162 ZMT_TANGSEL_0162 106.730373 -6.323641 Pamulang

163 ZMT_TANGSEL_0163 106.661752 -6.314618 Serpong

164 ZMT_TANGSEL_0164 106.73094 -6.346574 Pamulang

165 ZMT_TANGSEL_0165 106.66254 -6.30502 Serpong

166 ZMT_TANGSEL_0166 106.73103 -6.3356 Pamulang

167 ZMT_TANGSEL_0167 106.662921 -6.315908 Serpong

(43)

5

No Zone_Name Long Lat Kecamatan

168 ZMT_TANGSEL_0168 106.73159 -6.33854 Pamulang

169 ZMT_TANGSEL_0169 106.73169 -6.32106 Pamulang

170 ZMT_TANGSEL_0170 106.66296 -6.30285 Serpong

171 ZMT_TANGSEL_0171 106.731787 -6.341539 Pamulang

172 ZMT_TANGSEL_0172 106.663282 -6.339419 Setu

173 ZMT_TANGSEL_0173 106.732163 -6.358532 Pamulang

174 ZMT_TANGSEL_0174 106.713942 -6.257872 Pondok Aren

175 ZMT_TANGSEL_0175 106.731856 -6.323284 Pamulang

176 ZMT_TANGSEL_0176 106.664371 -6.306252 Serpong

177 ZMT_TANGSEL_0177 106.732602 -6.300911 Ciputat

178 ZMT_TANGSEL_0178 106.66459 -6.33136 Setu

179 ZMT_TANGSEL_0179 106.732702 -6.298764 Ciputat

180 ZMT_TANGSEL_0180 106.66454 -6.307607 Serpong

181 ZMT_TANGSEL_0181 106.732858 -6.3362 Pamulang

182 ZMT_TANGSEL_0182 106.665027 -6.30093 Serpong

183 ZMT_TANGSEL_0183 106.733031 -6.329678 Pamulang

184 ZMT_TANGSEL_0184 106.665593 -6.320087 Serpong

185 ZMT_TANGSEL_0185 106.733571 -6.354104 Pamulang

186 ZMT_TANGSEL_0186 106.66628 -6.31414 Serpong

187 ZMT_TANGSEL_0187 106.734292 -6.351288 Pamulang

188 ZMT_TANGSEL_0188 106.666537 -6.310818 Serpong

189 ZMT_TANGSEL_0189 106.734025 -6.304831 Ciputat

190 ZMT_TANGSEL_0190 106.666708 -6.324545 Serpong

191 ZMT_TANGSEL_0191 106.734209 -6.311577 Pamulang

192 ZMT_TANGSEL_0192 106.667792 -6.314193 Serpong

193 ZMT_TANGSEL_0193 106.73464 -6.34657 Pamulang

194 ZMT_TANGSEL_0194 106.66782 -6.342694 Setu

195 ZMT_TANGSEL_0195 106.73473 -6.30351 Ciputat

196 ZMT_TANGSEL_0196 106.66791 -6.33074 Setu

197 ZMT_TANGSEL_0197 106.734798 -6.316245 Ciputat

198 ZMT_TANGSEL_0198 106.668 -6.328933 Setu

199 ZMT_TANGSEL_0199 106.734572 -6.32503 Pamulang

200 ZMT_TANGSEL_0200 106.668217 -6.334842 Setu

201 ZMT_TANGSEL_0201 106.73574 -6.35583 Pamulang

202 ZMT_TANGSEL_0202 106.667878 -6.355581 Setu

203 ZMT_TANGSEL_0203 106.735822 -6.313193 Pamulang

204 ZMT_TANGSEL_0204 106.668469 -6.304486 Serpong

205 ZMT_TANGSEL_0205 106.735831 -6.306417 Pamulang

206 ZMT_TANGSEL_0206 106.669331 -6.306026 Serpong

207 ZMT_TANGSEL_0207 106.735772 -6.343385 Pamulang

208 ZMT_TANGSEL_0208 106.66912 -6.323405 Serpong

209 ZMT_TANGSEL_0209 106.73615 -6.3094 Pamulang

210 ZMT_TANGSEL_0210 106.669489 -6.314911 Serpong

211 ZMT_TANGSEL_0211 106.736163 -6.31585 Pamulang

212 ZMT_TANGSEL_0212 106.669685 -6.299559 Serpong

Referensi

Dokumen terkait

STUDI TENTANG MINTA TERHADAP PROFESI GURU GEOGRAFI PADA MAHASISWA DEPARTEMEN GEOGRAFI FPIPS UPI.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dalam terminologi ekonomi dan keuangan hal ini merupakan kondisi yang tidak efisien bahkan pada periode tahun 2009, 2009 dan 2013 rasio efisiensi telah melebihi dari angka

Mahathir akan terus terpahat sebagai “ Bapa Pemodenan Malaysia ” , negarawan ulung yang berwawasan menjadikan Malaysia sebuah Negara moden dan makmur dengan purata

Mengangkat sebagai anggota dimaksud DIKTUM PERTAMA wakil- wakil dari komponen Departemen Dalam Negeri, Departemen Keuangan dan BAPPENAS sebagaimana

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.. AKP

[r]

Berdasarkan pada hasil penelitian bahwa dengan adanya sistem pengelompokkan ini Dapat melakukan pengklasifikasian kematangan buah jeruk keprok dengan menggunakan

Puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Hubungan antara Tingkat Kehadiran Ibu di Kelas Ibu Hamil dengan