4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Reaksi Pengumpulan Pepetek terhadap Warna Cahaya dengan Intensitas Berbeda
Informasi mengenai tingkah laku ikan akan memberikan petunjuk bagaimana bentuk proses penangkapan yang tepat dan diharapkan akan dapat mempercepat penciptaan teknologi penangkapan ikan yang efektif dan efisien. Dalam penelitian ini, ikan yang digunakan sebagai sampel percobaan adalah pepetek (Secutor insidiator) yang merupakan ikan demersal yang hidup di laut tropis dengan kisaran suhu 26 - 29 oC dan bersifat fototaksis positif. Swimming
layer ikan tersebut adalah di kedalaman 10 – 50 m (Bloch 1787; Smith et al. 1999;
Wagiu 2003). Hasil pengamatan secara visual terhadap pepetek menunjukkan adanya perbedaan respon ikan terhadap warna cahaya yang berbeda dengan intensitas cahaya yang berbeda pula. Lama pemaparan cahaya terhadap pepetek tiap intensitas cahaya adalah selama 10 menit, dan kemudian dimatikan selama 15 menit. Setelah itu, dinyalakan kembali untuk proses pemaparan selanjutnya dengan intensitas yang berbeda. Penggunaan waktu 10 menit karena menurut Zilanov (1968), ikan mulai tertarik pada cahaya sejak lampu mulai dinyalakan antara 1 sampai 5 menit. Sel kon ikan mulai bergerak naik menuju outer limiting membran sesaat setelah ada cahaya. Karena akuarium percobaan yang kecil dan jarak lampu dari atas permukaan air hanya 0.5 m maka pemaparan hanya dilakukan dalam waktu 10 menit. Apabila dilakukan lebih dari 10 menit maka dikhawatirkan sel kon ikan tersebut telah mengalami kejenuhan sehingga ikan akan menghindari cahaya. Reaksi ikan terhadap warna cahaya kemudian dihitung jumlah ikan yang terkonsentrasi pada kolom warna cahaya. Banyaknya ikan yang berkumpul pada setengah akuarium di bawah sumber cahaya dapat dilihat pada Lampiran 4.
Berdasarkan rata-rata jumlah ikan yang terkumpul di bawah warna cahaya dengan intensitas yang berbeda (Lampiran 5) terlihat bahwa pepetek secara fisiologis kurang bereaksi terhadap warna cahaya merah bila dibandingkan warna cahaya biru dan hijau. Hal ini diketahui dari jumlah pepetek yang terkumpul di bawah warna cahaya merah lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah pepetek yang terkumpul di bawah warna cahaya yang lain. Dari keseluruhan jumlah sampel
pepetek yaitu sebanyak 88 ekor, ternyata ikan tersebut lebih banyak terkonsentrasi pada kolom warna cahaya hijau dengan rata-rata ikan yang berkumpul sebanyak 82 ekor pada intensitas 19 lux. Tidak demikian halnya bila dilihat pada tabel kolom warna cahaya merah. Terlihat hanya sebanyak 45 ekor ikan secara rata-rata yang terkumpul dari keseluruhan sampel ikan yang diujicobakan pada intensitas yang sama. Hal tersebut menyatakan bahwa jumlah pepetek yang terkumpul pada warna cahaya merah adalah yang terendah bila dibandingkan dengan ketiga warna cahaya yang diujicobakan pada intensitas yang sama.
Pada urutan kedua terbanyak jumlah pepetek yang terkumpul adalah pada kolom warna cahaya biru sebanyak 71 ekor dan selanjutnya kuning sebanyak 56 ekor. Apabila dilihat pada Gambar 12 rata-rata terkumpulnya jumlah ikan maka dapat disimpulkan bahwa pepetek lebih adaptif terhadap panjang gelombang cahaya pendek, yaitu warna cahaya hijau dan kurang adaptif terhadap panjang gelombang cahaya panjang yaitu warna cahaya merah.
Hasil kajian terhadap tingkah laku pepetek seperti terlihat pada Gambar 12 bahwa jumlah rata-rata pepetek yang berkumpul pada intensitas 19 lux lebih banyak pada kolom warna cahaya hijau. Sementara itu, pada kolom warna cahaya merah jumlah pepetek yang berkumpul paling sedikit bila dibandingkan dengan kolom warna cahaya yang lain.
Secara keseluruhan rata-rata banyaknya ikan yang berkumpul untuk masing-masing cahaya di setiap intensitas pada cahaya hijau adalah 45 ekor (33,3% dari total ikan sampel), kemudian cahaya biru dengan rata-rata 41 ekor (30,4% dari total ikan sampel), cahaya kuning dengan rata-rata 28 ekor (20,7% dari total ikan
sampel) dan cahaya merah dengan rata-rata 21 ekor (15,5% dari total ikan sampel) (Lampiran 7).
Dari Gambar 12 tersebut juga terlihat semakin meningkat intensitas cahaya, rata-rata jumlah ikan yang berkumpul pada masing- masing kolom warna cahaya juga mengalami peningkatan. Pada beberapa penelitian penggunaan intensitas cahaya yang berlebihan akan menyebabkan penurunan jumlah hasil tangkapan. Hal tersebut terjadi karena dengan intensitas cahaya yang besar, ikan aka n semakin menjauh dari sumber cahaya sehingga tidak terjangkau oleh alat tangkap yang dioperasikan.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 Intensitas (Lux)
Jumlah ikan yang berkumpul ( ekor)
Biru Hijau Kuning Merah
Gambar 12. Rata-rata jumlah pepetek yang berkumpul untuk masing- masing warna cahaya di setiap intensitas
Akan tetapi, pada percobaan ini jumlah ikan yang berkumpul masih mengalami peningkatan untuk tiap warna meskipun intensitas yang diberikan semakin tinggi. Hal tersebut diduga karena proses pemaparan yang hanya dilakukan 10 menit, sehingga ikan tersebut belum mengalami kejenuhan. Meskipun pemaparan cahaya dilakukan hingga intensitas 19 lux tetapi jumlah ikan masih terus mengalami peningkatan. Dengan demikian, untuk mengetahui titik jenuh pada proses penglihatan pepetek sebaiknya dilakukan pula percobaan dengan intensitas yang lebih tinggi dari 19 lux dan waktu pemaparan yang lebih lama dari 10 menit. Selain penambahan intensitas perlu juga disertai dengan penambahan lamanya waktu pemaparan karena terdapat tiga hal yang dapat mempengaruhi proses mendekatnya ikan pada sumber cahaya yaitu warna cahaya, intensitas cahaya dan lamanya waktu pemaparan. Apabila ikan tersebut telah mengalami titik jenuh dengan pemaparan yang lama maka ikan tersebut akan menghindari sumber cahaya berwarna tersebut.
Perhitungan analisis ragam terhadap jumlah ikan yang berkumpul menunjukkan bahwa hubungan antara intensitas cahaya dengan warna cahaya
secara signifikan terdapat perbedaan (berbeda nyata). Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap pengumpulan pepetek pada kombinasi perlakuan antara intensitas cahaya dengan warna cahaya. Akan tetapi setelah kombinasi perlakuan tersebut diuji lebih lanjut dengan uji Duncan (Lampiran 8), hasil yang didapat berbeda tidak nyata untuk tiap subset. Hal ini berarti kombinasi perlakuan warna cahaya dengan intensitas memiliki nilai yang berbeda tetapi reaksi yang didapat tidak ada perbedaan secara nyata.
Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan itu pula menunjukkan bahwa kombinasi perlakukan warna cahaya dengan intensitas yang menghasilkan respons tertinggi terhadap jumlah ikan yang berkumpul yaitu pada warna cahaya hijau dengan intensitas 19 lux. Perlakuan tersebut berbeda tidak nyata dengan kombinasi perlakuan warna cahaya hijau dengan intensitas 17 lux.
Hal tersebut sangat erat berhubungan dengan lingkungan hidupnya karena pepetek termasuk ikan demersal. Selanjutnya Ben Yami (1976) mengemukakan bahwa cahaya biru dan hijau paling dalam menembus lapisan air, sementara cahaya merah akan terabsorbsi oleh air hanya beberapa meter (2-3 m) setelah menembus permukaan laut. Warna cahaya biru dan hijau dapat menembus perairan sampai kedalaman lebih dari 10 m. Berdasarkan habitatnya maka pepetek lebih terbiasa dengan warna cahaya biru dan hijau. Ikan tersebut akan cepat bereaksi (beradaptasi) terhadap warna biru dan hijau daripada warna kuning dan merah.
Apabila sel kon ikan sudah mengalami adaptasi penuh (full adapted) dan masih terpapar oleh cahaya maka ikan tersebut akan menghindari cahaya yang berakibat turunnya sel kon. Akan tetapi, pada percobaan ini jumlah rata-rata ikan yang berkumpul pada tiap intensitas untuk semua kolom warna cahaya masih meningkat sampai pada intensitas 19 lux. Hal ini kemungkinan karena sel kon pada mata ikan belum dalam keadaan jenuh. Faktor-faktor yang diduga menyebabkan hal tersebut adalah lamanya pemaparan yang hanya 10 menit dengan intensitas 19 lux.
Berdasarkan hasil perhitungan secara statistik diketahui bahwa nilai F-hitung untuk interaksi cahaya dengan intensitas 5.80 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa interaksi warna cahaya dengan intensitas berpengaruh nyata terhadap banyaknya ikan yang berkumpul.
Apabila pengaruh interaksi cahaya dengan intensitas nyata maka tidak bisa melihat pengaruh cahaya dan pengaruh intensitas secara terpisah. Dari nilai R-Sq sebesar 97.37 % menunjukkan ukuran kebaikan model, jadi 97.37 % keragaman data dapat dijelaskan oleh model faktorial RAL.
Tingkah laku pepetek sesaat setelah lampu dinyalakan adalah perlahan-lahan ikan tersebut mendekati cahaya dan berputar-putar pada bagian cahaya yang masih remang-remang di air. Ikan- ikan tersebut kemudian menuju ke tempat yang lebih terang dan berkumpul di daerah yang sangat terang yaitu daerah yang langsung diterangi oleh cahaya.
4.2 Pengaruh Warna Cahaya de ngan Intensitas yang Berbeda terhadap Adaptasi Retina
Adaptasi retina mata ikan terhadap cahaya dapat dilihat dari pergerakan sel kon. Apabila sel kon telah mencapai membran pembatas luar (outer limiting
membran) maka sel kon dari ikan tersebut sudah mengalami adaptasi penuh
terhadap cahaya yang dipaparkan ( fully adapted ). Adaptasi merupakan kemampuan mahluk hidup untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Semakin cepat sel kon mencapai outer limiting membrane maka semakin adaptif ikan tersebut terhadap cahaya yang dipaparkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pepetek merupakan jenis ikan yang bersifat fototaksis positif karena terdapat sel kon pada retinanya. Menurut Smith (1982), apabila secara histologis di dalam retina tidak terdapat sel kon maka ikan tersebut tidak bersifat fototaksis positif seperti pada ikan Evynnis japonica. Fototaksis positif merupakan gerakan seluruh tubuh ikan mendekati cahaya.
Mata ikan setidaknya mempunyai dua jenis fotoreseptor, yaitu sel kon dan sel rod. Distribusi dari kedua jenis fotoreseptor tersebut di dalam retina mata pada masing-masing hewan berbeda. Apabila di dalam retina terdapat sel kon maka ikan tersebut mampu melihat warna (color vision), sedangkan sel rod hanya dapat menyediakan informasi kecerahan suatu lingkungan (Smith 1982). Color vision atau kemampuan melihat warna merupakan respon fisiologi retina mata terhadap cahaya dan proses syaraf di otak terhadap respon dari retina.
Hasil penelitian pengaruh intensitas warna cahaya terhadap adaptasi retina mata pepetek (Secutor insidiator), melalui proses adaptasi pada percobaan skala laboratorium dengan analisis histologi didapatkan bahwa pada warna cahaya biru dengan intensitas cahaya sebesar 1 lux sel kon mulai bergerak naik. Sel kon sebelum dipapar dengan cahaya terletak di dekat epitelium berpigmen (Gambar 13). Demikian juga yang terjadi pada pemaparan dengan warna cahaya hijau, kuning dan merah. Apabila ikan mempunyai sifat fototaksis positif maka sel kon akan bergerak naik menuju membran pembatas luar (outer limiting membrane) saat mata ikan tersebut terpapar cahaya.
Gambar 13. Sel kon sebelum dipapar oleh cahaya
Epitelium berpigmen Lapisan fotoreseptor Membran pembatas luar Lapisan inti luar
Lapisan flexiform luar Lapisan inti dalam Lapisan flexiform dalam
Pergerakan sel kon tetap terjadi seiring dengan peningkatan intensitas cahaya yang dipaparkan. Akan tetapi peningkatan pergerakan sel kon menuju membran pembatas luar untuk tiap warna cahaya berbeda. Pergerakan sel kon pada warna cahaya biru masih tetap berlangsung pada pemaparan 3 lux, 5 lux, 7 lux, 9 lux, sampai 11 lux, tetapi belum mencapai membran pembatas luar. Pada pemaparan 13 lux, sel kon telah mengalami adaptasi penuh (full adapted) ditandai dengan sel kon yang sudah mencapai membran pembatas luar (outer limiting
membrane ) (dengan lama penyinaran selama 10 menit) seperti terlihat pada
Gambar 14. Demikian juga pemaparan dengan intensitas 15 lux, 17 lux dan 19 lux.
Keterangan gambar :
a. Membran pembatas luar (outer limiting membrane) c. Epitelium berpigmen
b. Lapisan fotoreseptor
Gambar 14. Pergerakan sel kon yang terpapar warna cahaya biru pada intensitas cahaya yang berbeda dalam waktu 10 menit
11 Lux 13 Lux 15 Lux 17 Lux 19 Lux
1 Lux 3 Lux 5 Lux 7 Lux 9 Lux
a
b
Demikian pula dengan warna cahaya hijau, sel kon pada retina pepetek mulai bergerak menuju membran pembatas luar saat pemaparan dengan intensitas 1 lux sampai 11 lux. Kemudian sel kon mengalami adaptasi penuh pada intensitas sebesar 13 lux sampai pemaparan 19 lux (Gambar 15).
Keterangan gambar :
a. Membran pembatas luar (outer limiting membrane) c. Epitelium berpigmen
b. Lapisan fotoreseptor
Gambar 15. Pergerakan sel kon yang terpapar warna cahaya hijau pada intensitas cahaya yang berbeda dalam waktu 10 menit
Akan tetapi tidak demikian dengan warna cahaya kuning. Sel kon pepetek baru mulai mengalami adaptasi penuh pada pemaparan dengan intensitas 15 lux (Gambar 16). Kemudian diikuti dengan pemaparan dengan intensitas 17 lux dan 19 lux dimana pada kedua intensitas tersebut pepetek juga mengalami adaptasi penuh dengan lama pemaparan 10 menit.
11 Lux 13 Lux 15 Lux 17 Lux 19 Lux
9 Lux 7 Lux
1 Lux 3 Lux 5 Lux
a
b
Pada percobaan dengan warna cahaya merah, sel kon belum mengalami adaptasi penuh pada pemaparan cahaya antara 1 lux sampai 15 lux. Sel kon baru mengalami adaptasi penuh (full adapted) pada pemaparan dengan intensitas 17 lux (Gambar 17). Demikian pula pemaparan dengan intensitas cahaya sebesar 19 lux, sel kon pepetek juga mengalami adaptasi penuh. Dengan demikian maka penjuluran sel kon lebih lambat pada pemaparan dengan warna cahaya merah bila dibandingkan dengan warna cahaya biru, hijau maupun kuning.
Keterangan gambar :
a. Membran pembatas luar (outer limiting membrane) b. Lapisan fotoreseptor
c. Epitelium berpigmen
Gambar 16. Pergerakan sel kon yang terpapar warna cahaya kuning pada intensitas cahaya yang berbeda dalam waktu 10 menit
1 Lux 3 Lux 5 Lux 7 Lux 9 Lux
11 Lux 13 Lux 15 Lux 17 Lux 19 Lux
a
b
Kuantitas dan kualitas cahaya yang digunakan akan mempengaruhi tingkah laku ikan terhadap cahaya, dimana mata ikan bereaksi selektif terhadap perbedaan spektrum (Nikonorov 1975).
Keterangan gambar :
a. Membran pembatas luar (outer limiting membrane) b. Lapisan fotoreseptor
c. Epitelium berpigmen
Gambar 17. Pergerakan sel kon yang terpapar warna cahaya merah pada iluminasi yang berbeda dalam waktu 10 menit
Ikan dikatakan mempunyai penglihatan terhadap warna (color vision) apabila ikan tersebut mempunyai kemampuan untuk membedakan spektrum warna cahaya. Dalam hal ini adalalah cahaya tampak (visible light). Apabila di dalam retina ikan terdapat sel kon maka ikan tersebut dapat membedakan warna (Smith 1982).
Menurut Fujaya (2002), ikan memiliki kepekaan terhadap intensitas cahaya dan panjang gelombang tertentu. Pengenalan warna cahaya tersebut oleh ikan berlangsung sangat cepat yaitu sekitar 10-20 detik. Sensitivitas retina terhadap
1 Lux 3 Lux 5 Lux 7 Lux 9 Lux
11 Lux 13 Lux 15 Lux 17 Lux 19 Lux
a b
warna cahaya tergantung dari pigmen yang terdapat pada sel kon dan sel rod. Warna dari pigmen retina menentukan warna cahaya apa yang dapat diserap secara maksimal, misalnya pigmen merah (rhodopsin) dapat mengabsorbsi secara maksimal cahaya hijau (Smith 1982). Terdapat 2 kelompok besar fotopigmen yaitu rhodopsin dan parphyropsin. Bagian opsin dari pigmen adalah protein yang
berikatan dengan retinens (turunan dari vitamin A). Berdasarkan hasil penelitian pengaruh warna cahaya pada intensitas yang
berbeda didapatkan bahwa jenis ikan ini lebih sensitif terhadap warna cahaya hijau pada intensitas 13 lux dan warna cahaya biru dengan intensitas 13 lux. Hal tersebut terlihat dari pergerakan sel kon yang lebih cepat beradaptasi pada warna cahaya hijau dan biru, karena pepetek berdasarkan tempat hidup nya termasuk ikan demersal. Kedalaman merupakan variabel lingkungan yang berpengaruh terhadap komunitas ikan demersal (Smith et al. 1999). Swimming layer pepetek adalah di kedalaman 10-50 m dengan demikian sel kon pepetek sudah terbiasa mengabsorbsi warna biru dan hijau dari pada warna cahaya lain. Dengan demikian, preferensi dari ikan tersebut adalah warna biru dan hijau dimana kedua warna tersebut yang dapat menembus perairan lebih dari 10 m.
Hal tersebut juga diduga karena pepetek mempunyai fotopigmen rhodopsin. Adanya fotopigmen tersebut maka akan mengabsorbsi warna biru dan hijau secara maksimal (Smith 1982). Apabila terdapat fotopigmen rodhopsin maka puncak dari warna yang diabsorbsi terbesar oleh sel kon adalah warna biru dan hijau. Dengan hasil bahwa sel kon pepetek lebih adaptif terhadap warna hijau, maka dapat diduga bahwa fotopigmen yang terdapat di dalam mata pepetek adalah rhodopsin.
Menurut Fujaya (2002) seperti halnya pada semua hewan vertebrata, ukuran sel kon (sel kerucut) menunjukkan kesensitifitasan retina terhadap spektrum cahaya. Sel kerucut pendek sensitif terhadap gelombang cahaya pendek sedangkan sel kerucut panjang sensitif terhadap gelombang cahaya terpanjang. Ukuran sel kerucut adalah 20-200µm (Nicol 1963).
Sel kon tersebut selanjutnya dihitung kon indeksnya untuk mengetahui rasio atau perbandingan pergerakan panjang sel kon antar intensitas yang berbeda. Contoh perhitungan kon indeks terdapat pada Lampiran 24. Kenaikan indeks sel kon untuk masing- masing warna cahaya berdasarkan kenaikan intensitas cahaya
dapat dilihat pada gambar 18. Berdasarkan grafik tersebut, pepetek terlebih dahulu mengalami adaptasi penuh pada warna cahaya hijau dan biru pada intensitas 13 lux. Pada warna cahaya kuning baru mengalami adaptasi penuh pada intensitas 15 lux sedangkan pada warna cahaya merah sel kon baru mengalami adaptasi penuh pada intensitas 19 lux. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19
Intensitas Cahaya (Lux)
Kon indeks (%)
Hijau Biru Kuning Merah
Gambar 18. Rasio kon indeks pepetek dengan cahaya berbeda dalam waktu 10menit Dari Gambar 18 terlihat bahwa rasio kon indeks warna cahaya biru dan hijau lebih cepat mengalami adaptasi penuh bila dibandingkan dengan kedua warna cahaya yang lain yaitu warna cahaya kuning dan merah. Dengan demikian pepetek lebih cepat mengabsorbsi warna cahaya biru da n hijau. Batas adaptasi penuh (full
adapted) dari sel kon adalah antara 90%-96%. Hal tersebut karena perhitungan
penjuluran sel kon (rasio kon indeks) adalah mulai dari epithelium berpigmen sampai di tengah-tengah dari sel kon tersebut.
Dari Gambar 18 tersebut juga dapat disimpulkan bahwa sel kon pepetek lebih sensitif terhadap cahaya biru dan hijau yang memiliki panjang gelombang
Grafik sudah full adapted untuk hijau dan biru
pendek yaitu antara 450 sampai 550 nm. Puncak dari kesensitifitasan dari sel kon adalah pada warna cahaya hijau. Kesensitifitasan sel kon akan turun pada warna kuning dan merah yang memiliki panjang gelombang 575 sampai 750 nm.
Perhitungan analisis ragam kon indeks menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan antara intensitas cahaya dengan warna cahaya secara signifikan berbeda nyata dengan nilai p=0.00. Artinya bahwa terdapat perbedaan signifikan pada kombinasi perlakuan antara intensitas cahaya dengan warna cahaya.
Hasil uji lanjut Duncan terhadap kenaikan sel kon (Lampiran 10) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan warna cahaya dengan intensitas yang menghasilkan respons tertinggi terhadap kon indeks yaitu pada warna cahaya hijau dengan intensitas 19 lux. Namun demikian kombinasi perlakuan tersebut tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan warna biru 15 lux, warna hijau 15 lux, warna biru 17 lux, warna biru 19 lux, warna kuning 17 lux, warna kuning 19 lux dan warna hijau 17 lux. Hasil perhitungan dengan uji lanjut Duncan tersebut diketahui pula tidak ada kombinasi perlakuan antara warna cahaya dengan intensitas cahaya yang berbeda nyata.
Berdasarkan hasil uji lanjut berkumpulnya jumlah ikan dan kenaikan sel kon maka kombinasi perlakuan cahaya hijau dengan intensitas 17 lux merupakan kombinasi perlakuan yang optimum terhadap jumlah ikan yang berkumpul dan kenaikan sel kon pada percobaan ini. Karena kombinasi perlakuan tersebut tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan warna cahaya hijau pada intensitas 19 lux.
Dari hasil berkumpulnya jumlah ikan dan kon indeks dapat diketahui bahwa ikan mulai bereaksi terhadap cahaya lampu pada penyalaan dengan intensitas sebesar 1 lux untuk semua warna cahaya. Pada pemaparan dengan warna cahaya biru dengan intensitas 1 lux dimana jumlah ikan yang berkumpul sebanyak 12 ekor dengan kon indeks sebesar 23.75 %. Sel kon mulai mengalami masa transisi sampai pemaparan cahaya dengan intensitas sebesar 11 lux. Masa transisi adalah keadaan dimana penjuluran sel kon belum mencapai membran pembatas luar (outer
limiting membrane). Sel kon mulai mengalami adaptasi penuh pada pemaparan
dengan intensitas 13 lux. Pada intensitas tersebut kon indeks pepetek sebesar 90% dengan jumlah ikan yang berkumpul dibawah cahaya tersebut sebanyak 59 ekor.
Begitu pula pemaparan dengan cahaya warna hijau, ikan mulai bereaksi terhadap cahaya lampu pada penyalaan dengan intensitas sebesar 1 lux. Jumlah ikan yang berkumpul pada pemaparan tersebut sebanyak 10 ekor dan kon indeks ikan tersebut 24 %. Pada intensitas antara 1 lux sampai 11 lux sel kon pepetek mengalami masa transisi. Sel kon pepetek mulai beradaptasi penuh pada pemaparan dengan intensitas sebesar 13 lux dimana ikan yang berkumpul sebanyak 64 ekor dan kon indeks 91.9%. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pengertian adaptasi penuh (full adapted) sel kon adalah apabila kon indeks dari sel kon tersebut sebesar antara 90%-97%.
Pemaparan dengan cahaya warna kuning ikan mulai bereaksi pada pemaparan dengan intensitas sebesar 1 lux seperti pada pemaparan dengan cahaya warna biru dan hijau. Pada pemaparan dengan warna cahaya kuning ini jumlah ikan yang berkumpul sebesar 8 ekor dengan kon indeks pepetek sebesar 12.5%. Akan tetapi pada pemaparan dengan warna cahaya kuning sel kon baru mengalami adaptasi penuh pada intensitas 17 lux dengan kon indeks sebesar 96.3% dan jumlah ikan yang berkumpul sebanyak 52 ekor. Keadaan sel kon antara intensitas 1 lux sampai 15 lux masih mengalami masa transisi. Demikian juga pada pemaparan dengan cahaya warna merah. Pepetek mulai bereaksi terhadap cahaya pada pemaparan dengan intensitas sebesar 1 lux. Jumlah ikan yang berkumpul pada pemaparan dengan intensitas tersebut sebanyak 5 ekor dengan kon indeks 16.2%. Intensitas antara 1 lux sampai 15 lux sel kon mengalami masa transisi. Sel kon telah mengalami adaptasi penuh pada pemaparan sebesar 17 lux dengan kon indeks 92.95% dan jumlah ikan yang berkumpul sebanyak 37 ekor. Dengan demikian sel kon pepetek lebih responsif terhadap cahaya warna hijau karena jumlah ikan yang berkumpul pada pemaparan dengan cahaya warna tersebut paling banyak bila dibandingkan dengan pemaparan dengan cahaya warna yang lain. Hubungan antara kon indeks dengan banyaknya ikan yang berkumpul dapat dilihat pada Gambar 19 berikut.
Gambar 19. Grafik hubungan antara nilai kon indeks, intensitas cahaya dan jumlah ikan ya ng berkumpul pada masing- masing warna cahaya Keterangan: diagram batang adalah jumlah ikan yang berkumpul pada masing masing warna cahaya; diagram garis adalah kon indeks pepetek pada masing masing warna cahaya
Apabila dilihat dari banyaknya ikan yang berkumpul untuk proses adaptasi penuh yang tercepat maka pepetek yang dipapar dengan warna hijaulah yang lebih responsif karena berdasarkan habitatnya, ikan tersebut telah teradaptasi dengan warna cahaya hijau.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19
intensitas cahaya (lux)
kon indeks (%) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90