• Tidak ada hasil yang ditemukan

42052 ID disaster management based on the perspective of inter religious connection and l

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "42052 ID disaster management based on the perspective of inter religious connection and l"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

P

EN D AH U LU AN

Indonesia adalah negeri rawan bencana alam . Banyak wilayah yang m em iliki ancam an bencana gem pa bum i dan tsunam i, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, kebakaran, gelom bang pasang, puting beliung, dan sebagainya (Ma’arif 20 10 : 2). Bencana ini terjadi akibat m urni gejala alam ataupun plus akibat kecerobohan dan keserakahan m anusia yang m erusak lingkungannya (Senoaji, 20 0 4: 143). Tanpa perkiraan pasti, bencana bisa kapan pun dan di m ana pun terjadi, tanpa m em andang status sosial, identitas keagam aan, dan asal suku para korbannya. Bencana bisa m enim pa m asyarakat yang berada di pedalam an hutan, bisa m asyarakat pedesaan yang hom ogen dan kental dengan sikap toleran, bisa m asyarakat perkotaan yang heterogen. Bencana alam juga bisa m enim pa seorang dan kom unitas m uslim yang taat, ataupun sebaliknya m ereka yang tidak taat. Dem ikian juga, orang non-m uslim pun bisa m engalam i bencana itu dan sam a parahnya dengan apa yang dialam i saudara m ereka yang m uslim .

(3)

Suasana susah akibat bencana sem akin runyam dengan hadirnya isu perendahan m artabat kem anusiaan ini.

Isu penyebaran agam a sepertinya paling tam pak ke perm ukaan pada aktivitas kem anusiaan pasca bencana, nam un perbedaan perspektif kebudayaan antara pihak terdam pak dengan para aktivis kem anusiaan seringkali m enciptakan suasana yang kurang nyam an. Banyak kasus bahwa perbedaan kebiasaan dan praktik kebudayaan itu telah m engham bat aktivitas kem anusiaan, khususnya dalam persoalan pendataan, pem etaan, dan partisipasi kom unitas. Para relawan kerap m engedepankan perspektif kebudayaannya sendiri atau kebudayaan global yang cenderung m etropolis saat berhadapan dengan kom unitas yang m em iliki kebudayaannya sendiri (Laksono 1998: 9).

Keadaan di atas terlihat pada banyaknya kasus penanganan bencana yang keliru sebagaim ana terjadi di wilayah pedesaan yang m asih kental dengan kebudayaan lokalnya. Perbedaan perspektif telah m em ungkinkan sulitnya penum buhan partisipasi dan penciptaan kondisi livelihood (pendam pingan penghidupan) yang sesuai dengan lingkungan kebudayaan m asyarakat terdam pak. Kasus Keuda Panga di Teunom Aceh yang m em indahkan sistem penghidupan m asyarakat dari berorientasi laut m enjadi berorientasi darat, m isalnya, telah m elem ahkan kepercayaan penduduk lokal terhadap lem baga kem anusiaan (YTBI 20 0 7: 113-117). Dem ikian juga dengan beberapa pendekatan kebudayaan yang keliru oleh beberapa lem baga kem anusiaan saat m em anfaatkan peran m asjid pada situasi darurat di Cigalontang Tasikm alaya dan Padang Sum atera Barat telah m em buat ketidakpercayaan para penyintas.

Perspektif hubungan antara agam a

(interfaith logic) dan pengedepanan kearifan lokal dalam aktivitas kem anusiaan yang seringkali m em anfaatkan peran m asjid dan para pengurusnya m enjadi sam a pentingnya dengan pelayanan kem anusiaan yang m engatasi keterbatasan dan kedaruratan m asyarakat

terdam pak. Persoalannya, bagaim ana peran m asjid dalam aktivitas penanganan bencana yang didasarkan pada perspektif hubungan antar agam a dan kearifan lokal dapat diwujudkan? Ram bu-ram bu kem anusiaan seperti apa yang m em buat pelaksanaan penanganan bencana tidak m enciptakan m asalah baru bagi para penyintasnya? J awaban dari pertanyaan ini m enjadi penting sebagai bagian dari perum usan strategi dan code of conduct aktivitas lem baga kem anusiaan ketika berhadapan dengan kom unitas yang berbeda agam a dan budaya dengan berbagai pihak di suatu lokasi bencana.

Kehadiran berbagai fenom ena sosial budaya dan keagam aan seiring terjadinya bencana di atas telah m em posisikan bencana disebut-sebut sebagai sub kebudayaan. Oleh karena itu, pem aham an m engenai bencana tidak dapat dipisahkan dari persoalan kultural dan struktural yang terikat pada ruang dan waktu. Menurut Irwan Abdullah (20 0 8). Ada tiga hal penting dalam m em persoalkan bencana beserta penanganan bencananya. Pertam a, bencana seyogianya ditanggapi sebagai “proses” yang harus dilihat dari tahapan historis, term asuk sum ber-sum ber pem bentukan dan kelahirannya. Karena sebagai suatu proses, bencana sebenarnya dapat dikelola dan dikendalikan pada tingkatan yang berbeda-beda berdasarkan kem am puan pengetahuan, sikap, tindakan, dan kelem bagaan yang tersedia. Pem aham an yang lengkap tentang keseluruhan hubungan m anusia dengan lingkungan dalam proses m utual production of each others existence

m em ungkinkan prediksi dan kesiapan dalam m enghadapi bencana itu. Hal tersebut juga akan m em ungkinkan m inim alisasi dari status kerentanan m asyarakat terhadap suatu bencana (Abdullah, 20 0 8).

(4)

dirum uskan dalam situasi norm al. Ketika bencana dilihat sebagai konteks, m aka m asyarakat dapat m em bebaskan diri dari perangkap norm alitas. Proses ini akan m enuntut ketersediaan pengakuan dan praktik penafsiran yang lain secara akadem is m aupun kebijakan. Keberadaan “daerah bencana” atau “korban bencana” m erupakan ruang kebijakan yang harus m enjadi bagian dari suatu kebijakan norm al. J adi, penanganan atas bencana tidak seharusnya dirum uskan secara m endadak begitu saja.

Ketiga, bencana adalah “ranah’ bagi pem aham an yang lebih dalam dan m endasar tentang hakikat dari hubungan-hubungan dalam konstruksi m asyarakat. Kejadian bencana telah m engungkap esensi dan rahasia tentang kelem ahan dan kekuatan tersem bunyi dari m asyarakat, yang dalam situasi “norm al’ tertutup oleh sistem dan struktur yang m em bungkusnya. Keberadaan dan akibat bencana m enjangkau spektrum yang luas sehingga bencana m em beri potensi m enghubungkan analisis ilm u sosial dengan pilihan ideologis dan kepentingan yang m enentukan kehadiran dari suatu bencana (Abdullah, 20 0 8: 6-8).

Pilihan-pilihan atas pem aham an dan spektrum di atas tentu akan sangat m em engaruhi tanggapan dan aktivitas pelayanan kem anusiaan pasca terjadinya bencana. Perspektif hubungan antar agam a yang dibangun dari m asing-m asing ajaran agam a dalam proses penanganan bencana akan m enciptakan situasi dam ai, dan tidak akan m enim bulkan isu-isu penyebaran keagam aan tertentu. Selain persoalan keagam aan, aspek penting lain dalam penanganan bencana yang m enjadi m ekanism e strategis antara berbagai pihak dan pelaksanaan kerja di lapangan, adalah pilihan pem anfaatan dan penyesuaian dengan kearifan lokal yang tum buh kem bang di m asyarakat terdam pak itu. Kearifan lokal dalam penanggulangan bencana m erupakan suatu konsep yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa bencana itu sendiri. Penafsiran m engenai kearifan lokal identik dengan “pelabelan” atau ciri khas pada m asyarakat tertentu dan dijelaskan secara

variatif. Kearifan lokal m erupakan gagasan-gagasan setem pat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota m asyarakatnya (Sartini, 20 0 4:111). Dalam praktiknya, kearifan lokal itu seringkali m engikhtiarkan adanya konsepsi hubungan antara agam a di dalam nya.

M

ETOD E

P

EN ELITIAN

Tulisan ini sebenarnya m erupakan konstruksi teoritis yang berhubungan dengan code of conduct

(5)

m asyarakat. Proses analisis seperti ini dilakukan agar sem ua persoalan yang terkait pada hubungan antar agam a dan karakter kebudayaan dalam upaya m em erankan m asjid pada situasi darurat dan m engefektifkan peran kepem im pinan lokal pada upaya pengurangan resiko bencana, dapat diikat m enjadi satu kesatuan pem bahasan yang saling m enjelaskan.

H

ASIL D AN

P

EMBAH ASAN

1. Mas jid : Ru an g Pe rju m p aan Mas yarakat Te rd am p ak d an Re law an

Saat atau pasca bencana, terlebih di m asa tanggap darurat, sem ua tatanan yang ada um um nya berubah. Perubahan rata-rata bersifat spontan dan sem entara itu akan kem bali lagi pada tatanan sem ula sebelum bencana terjadi, terkecuali pada keadaan-keadaan khusus m isalnya ketika 1.0 0 0 ulam a Aceh m eninggal pada tragedi gem pa bum i dan tsunam i. Perubahan yang ada juga bisa bersifat perm anen. Apa yang disebut perubahan di sini adalah proses pergeseran, pengurangan, penam bahan, dan perkem bangan unsur dalam suatu tatanan sosial dan kebudayaan yang terjadi m elalui interaksi antara warga pendukung dengan penciptaan unsur baru dan m elalui penyesuaian tertentu pula. Perubahan tidak hanya terkait pada soal waktu, kapan suatu peristiwa bencana m isalnya terjadi, tetapi juga di m ana bencana itu terjadi.

Anthony Giddens dalam buku Central Problem in Social Theory : Action, Structure and Contradiction in Social Analy sis pernah m enulis tentang perubahan ini berdasarkan relasi ruang dan waktu. Waktu tidak sem ata didentikkan dengan perubahan sosial. Di dalam nya tidak hanya tem poralitas perilaku sosial, nam un juga spasial. Baginya, setiap pola interaksi yang hadir pasti berada di dalam waktu dan ruang. Oleh karena itu, Giddens m engartikan sistem yang terdapat di dalam pola interaksi itu adalah sistem sosial (Giddens, 1979: 66-68). Waktu dan tem pat bencana m enjadi penting dalam analisis suatu perubahan sistem sosial dan sum ber daya yang dim iliki m asyarakat, term asuk perubahan

tatanan dan peran m asjid dari sesuatu yang sakral m enuju peran bersifat ruang publik. Ruang sakral sendiri diartikan sebagai m akna dan fungsi yang m elam paui m akna dan fungsi obyektifnya dari suatu tem pat atau ruangan (Eliade 20 0 2: 91-92). Bangunan m asjid m isalnya secara obyektif sebagaim ana terlihat adalah bangunan berbentuk kotak dengan kubah dan m enaranya, dan didukung oleh fasilitas pendukung lain; tem pat wudhu, MCK, halam an luas, dan bangunan lain (TPA/ TPQ, m adrasah) (DMI, 20 0 6: 5-7).

(6)

dari yang sakral ke ruang publik, m eskipun tidak m eninggalkan peran yang sakral itu. Ruang publik adalah ruang di m ana sem ua individu, baik yang berasal dari sistem sosial kom unitasnya m aupun dari luar sistem sosialnya dapat m engakses dan m em anfaatkan fungsinya, baik fungsi obyektifnya sem ata m aupun fungsi dari ‘alam kedua’ yang sakral itu.

Pem anfaatan terhadap fungsi obyektif berarti pem anfatan atas ruang-ruang yang ada, m eskipun pem anfaatannya tidak boleh m elanggar ram bu-ram bu yang ada, sebagai satu prasyarat dari apa yang disebut ‘alam kedua’. Oleh karena itu, bukan berarti bahwa setiap ruang publik tidak selalu m em iliki nilai transendensi. Masjid yang sejak awalnya sudah m em iliki m akna ‘alam kedua’ yang sakral, ketika ditam bah perannya m enjadi ruang publik dalam urusan aktivitas kem anusiaan, m aka ia m enjadi ruang istim ewa dan strategis yang m am pu m enghubungkan kebutuhan batiniah (hablum m inallah) dengan kebutuhan dan kepentingan lahiriah-kem anusiaan (hablum m innanas) yang saat situasi bencana dibutuhkan penyintas.

Dalam konteks bencana, m asjid sebagaim ana penelitian M. Alie Hum aedi dan Zulfa Sakhiyya (20 11: 63-80 ) m enjadi ruang perjum paan yang sangat baik, antara internal m asyarakat terdam pak atau m asyarakat terdam pak dengan kelom pok penangan bencana. Setidaknya ada enam peran m asjid dalam situasi bencana, yaitu: (i) penyediaan fasilitas dan akom odasi; (ii) penyim panan dan tem pat distribusi; (iii) tem pat koordinasi; (iv) pengelola dan pelaksana kerjasam a; (v) penggugah partisipasi; dan (vi) area terapi psikososial. Di m asjid ini, im plem entasi ajaran tolong m enolong (surat al-Maidah ayat 2), dapat diwujudkan secara bersam a.

Konsepsi tolong m enolong telah m enghadirkan adanya tuntutan itu bahwa sentuhan kem anusiaan tidak saja harus kepada m ereka yang se-im an saja, tetapi juga se-kem anusiaan (hubungan bashariy ah

dan insaniy ah). Oleh karena itu, siapapun yang berniat dan berbuat baik bagi penyintas akan disetujui untuk m em anfaatkan m asjid, walaupun

ada ram bu-ram bu tertentu yang harus ditaati. Loncatan peran m asjid ke ruang publik, di m ana kegiatan individu dan sosial dapat dilakukan di m asjid. Di satu sisi m em ang dipandang sebagai hal yang “tidak sewajarnya”, karena m asyarakat biasa um um nya hanya m em andang m asjid sebagai tem pat ibadah m ahdah saja (Ayub, 1997:2). Di sisi lain, peran itu sesungguhnya m endekatkan m asjid dengan kehidupan nyata dan problem atika yang dihadapi langsung oleh m asyarakat, khususnya saat m enghadapi dan berada pada situasi bencana. Inilah satu peran m asjid yang bersifat kontekstual.

Masjid-m asjid pada enam lokasi di dua propinsi itu telah m enunjukkan suatu kenyataan bahwa dalam situasi bencana terlihat adanya perubahan peran m asjid, dari apa yang disebut “tem pat sakral” m enjadi “ruang publik kom unitas.” Konsepsi itu m enyebabkan terjadinya pelam pauan batas-batas kekhususan, dari yang hanya m uslim sepaham -sealiran atau bahkan hanya se-m uslim saja, ke penerim aannya bagi m ereka yang non-m uslim . Anom ali seperti ini akan sangat jarang dijum pai jika tidak terjadi pada saat dan di daerah bencana. Bencana m erupakan satu keadaan di m ana sesuatu yang awalnya diragukan bahkan diharam kan sekalipun, dapat diperbolehkan sepanjang itu bisa m enyelam atkan kehidupan m anusia. Peningkatan peran m asjid dalam m ekanism e kebencanaan yang sebetulnya juga tidak dalam keadaan diharam kan pem anfaatannya, adalah suatu keniscayaan.

2 . Ram bu -ram bu d alam Aktivitas Ke m an u s iaan

(7)

m enggunakan ruang obyektifnya dan dibatasi dengan “alam kedua” yang bersifat sakral itu. Dalam situasi bencana sekalipun, dua m akna ruang tetap digunakan, sehingga kewibawaan m asjid saat berperan dalam situasi bencana tetap terjaga. Kewibawaan tem patnya berbeda dengan tem pat um um yang sam a digunakan untuk kepentingan penanganan bencana. Dem ikian juga penggiat tanggap darurat dari pihak luar hanya m am pu m engakses dan m engkoordinasikan segala tindakan dan gugus tugasnya dengan para pengurus m asjid.

(8)
(9)

kem bali m adrasah yang roboh dan m enam bah fasilitas MCK di m asjid itu. Saat m endengar itu, kam i sangat senang, karena kam i m erasa kebingungan bagaim ana nanti m em bangunkannya kem bali. Perwakilan organisasi itu yang terdiri dari lim a orang itu ikut senang.”

“Sayangnya m ereka m enyam paikan bahwa setelah bangunan jadi nantinya, di atas dan dinding bangunan harus terdapat gam bar (sim bol agam a tertentu) dan dituliskan kata-kata tertentu. Mendengar itu, kam i m em inta waktu untuk m em bicarakannya. Kam i sendiri baru tahu bahwa organisasi ini adalah yayasan agam a tertentu. Kam i tetap m enerim a bantuan dari m ana saja, tetapi um um nya tidak seperti ini. Mem ang ada logo kecil di atas kardus atau kantong plastik, seperti yang dilakukan oleh lem baga lain, tetapi tidak sebesar dan sejelas seperti yang dim intakan oleh perwakilan organisasi yang datang itu. Beberapa hari kem udian kam i sepakat untuk m enolak bantuan yang bernilai ratusan juta rupiah itu. Pilihan ini adalah prinsip kam i” (Wawancara dengan Ajengan Dj, 20 10 ).

Bandingkan dengan data m engenai bantuan yang berasal dari “kelom pok keagam aan tertentu” kepada para jem aah m asjid AH. Kedua inform asi tersebut sam a-sam a berasal dari pengurus m asjid itu.

“Sekitar tiga m inggu pasca gem pa, seseorang yang m engaku berasal dari “kelom pok agam a A” datang ke m asjid sini. Mereka ingin bertem u dengan ketua pengurus m asjid yang ada. Kebetulan pak Dj sedang pergi, tam u itu kem udian dipertem ukan dengan pak H, sekretaris DKM sekaligus m erangkap m enjadi sekretaris desa. Sam bil m em perkenalkan bahwa ia berasal dari “kelom pok agam a tertentu” perwakilan J akarta, ia kem udian m enyam paikan niatnya untuk m em beri bantuan. Mendengar organisasi keagam aan itu, saya sendiri tidak kaget, karena banyak organisasi agam a lain yang bekerja di wilayah ini. Kontak telepon pun diberikan.”

“Satu bulan kem udian, orang tersebut m enelepon. Ia bertanya bantuan apa yang paling dibutuhkan. Saya langsung m enyatakan bahwa bahan m aterial yang dibutuhkan m asyarakat sekarang. Ia langsung m enyatakan m ohon ditunggu satu m inggu berikutnya ya pak. Selang satu m inggu dua truk tronton besar berm uatan sem en datang ke m asjid AH itu. Bapak perwakilan dari kelom pok itu m enyatakan bahwa ada 40 0 zak sem en dari m ereka untuk bapak-bapak yang ada di sini, silahkan dibagi sesuai kesepakatan warga. Akhirnya, oleh pihak m asjid sem en tersebut dibagikan sebanyak dua zak untuk per satu rum ahnya. Pihak kelom pok itu

pun tidak berbuat aneh, m enem pelkan spanduk, atau m em inta kom pensasi apapun. Mereka hanya m inta tanda terim a serah terim a bantuan saja” (Wawancara Pak Ep, H, dan Ru, Pengurus m asjid AH, di rum ah H. R, Novem ber 20 10 ).

Dua kasus di atas m enunjukkan secara jelas m ana bantuan yang ditolak dan m ana bantuan yang diterim a m asyarakat, m eskipun kedua pihak itu sam a-sam a m elakukan survei dan pem etaan awal terlebih dahulu. Penem pelan em bel-em bel agam a dalam arti vulgar m enjadi alasan utam a m engapa bantuan dari organisasi sosial keagam aan yang pertam a ditolak. Menurut m asyarakat, ada sem acam kepentingan tersem bunyi di dalam nya. Sem entara itu, pada kasus bantuan kelom pok kedua, m eskipun jelas nyata berasal dari kom unitas Kristen, m asyarakat m au m enerim anya. Mereka m enganggap bahwa bantuan itu adalah ketulusan sekelom pok m anusia kepada m anusia lain yang sedang terkena m usibah (hubungan bashariy ah-insaniy ah). Bantuan tersebut m em ang betul adalah teologi sosial Kristiani, tetapi ungkapan itu tidak dinyatakan secara vulgar sebagaim ana bantuan yang akan dilakukan oleh organisasi pertam a.

4 ) Tid a k m e n g k h u s u s k a n b a n t u a n k e p a d a s e k e lo m p o k o r a n g

(10)

itu. Mereka akhirnya m em bagikan tenda itu berdasarkan pilihan atau instruksi walikorong. Sayangnya, para penerim a itu kebetulan m erupakan jem aah m asjid yang banyak berasal dari sisi barat m asjid (m ungkin, dalam kategori bukan orang adat), akhirnya, m asyarakat bagian tim ur dan utara m asjid m arah-m arah. Mereka m enghardik walikorong, dan sekaligus m engusir fasilitator LSM itu” (Wawancara dengan Lak, Fasilitator LSM X, di Sungai Lim un, Desem ber 20 10 ).

Inform asi penting yang berasal dari jaringan LSM ini m enjadi satu pelajaran bahwa pem bagian bantuan tidak bisa bersifat “tanggung”, baik dalam pengertian kurang jum lahnya ataupun tidak layak dalam hal kualitasnya. Selain itu, keterlibatan tokoh agam a dan tokoh m asyarakat yang m em iliki legitim asi sosial budaya m enjadi keniscayaan. Peranserta m ereka adalah bagian dari berjalannya m ekanism e kearifan lokal m asyarakat setem pat.

Masyarakat pasca bencana adalah m asyarakat yang sensitif; perbedaan jum lah bantuan yang diterim a bisa m enjadi polem ik berkepanjangan, terlebih ketika penentuan itu tidak m elibatkan peranserta seluruh atau sebagian besar dari kepem im pinan lokal yang diakui oleh m asyarakat setem pat. Kebersam aan sosial pasca bencana yang ada pun kadang dianggap sebagai usaha para penyintas untuk m engakses bantuan dari pihak lain untuk diri dan keluarganya. Seandainya hal “tanggung” di atas terjadi, seharusnya fasilitator LSM itu m enyerahkan bantuannya kepada pim pinan kolektif, seperti pengurus m asjid atau pengurus kam pung yang diakui secara kom unal. Mekanism e kearifan lokal yang ada akan m enyelesaikan kekurangan tersebut, baik m elalui pendekatan-pendekatan yang disepakati oleh seluruh anggota m asyarakat ataupun negosiasi sosial tertentu. Penggunaan sistem bagi rata (bagito) atas bantuan atau pilihan bahwa barang bantuan m enjadi m ilik um um yang diatur pengurusan dan pengelolaannya oleh m asjid dan seterusnya bisa jadi m erupakan pilihan-pilihan yang dapat diajukan untuk m encegah terjadinya disharm oni di m asyarakat. Cara ini adalah bagian dari m ekanism e kebudayaan lokal yang harus diperhatikan penanganan bencana.

Apa yang dilakukan oleh suatu “lem baga internasional X” di m asjid Toboh Sum atera Barat, m isalnya, m enjadi contoh yang baik.

“Sebelum m ereka m em berikan bantuan, beberapa orang datang ke sini. Mereka m enghitung sem ua penyintas yang ada, dan bertanya tentang kebutuhan apa saja yang diperlukan saat ini. Beberapa bangunan didata, dan m ereka m elihat seluruh fasilitas sanitasi seluruh rum ah, term asuk m asjid dan sekolah. Mereka m enanyakan siapa yang paling bertanggung jawab di m asjid Toboh ini, dan bagaim ana pula cara m engum pulkan m asyarakat. Saat itu, m ereka tidak m enjanjikan apapun, tetapi akan berusaha sem aksim al m ungkin. Dua m inggu kem udian orang-orang tersebut dengan bantuan yang dim uatnya di dalam dua buah truk yang bertuliskan spanduk “lem baga X”, kem udian datang. Masyarakat yang sebelum nya sudah dikum pulkan oleh pengurus pun antri tertib untuk m enerim a bantuan” (Inform asi Sdr. S, Koto Dalam Desem ber 20 10 ).

Dua kasus di atas sebenarnya m em ang tidak bisa disam akan antara LSM lokal dengan Lem baga X yang m erupakan lem baga internasional bencana yang m em iliki dana cukup, profesional dan terlatih baik. Sebelum m em berikan bantuan, para fasilitatornya m elakukan survei kelayakan dan pem etaan terhadap penyintas dan kebutuhan apa saja yang m endesak untuk segera diberikan. Hasil survei itu m enjadi pegangan untuk penyerahan jum lah dan siapa saja penerim a bantuan. Tahap-tahap pelaksanaan penanganan bencana yang dilakukan lem baga internasional itu telah m enyesuaikan diri dengan standar dari piagam kem anusiaan proyek sphere (CBDRM NU, 20 0 9: 18-19). Mereka akan betul-betul m encerm ati langkah taktis dan sum ber daya yang dim iliki m asyarakat sebagai potensi yang bisa dikem bangkan untuk kerjasam a itu.

(11)

dari salah satu bentuk kearifan lokal, sebagaim ana pilihan perspektif yang diajukan Irwan Abdullah di atas.

Selain em pat ram bu di atas, sebenarnya ada ram bu yang kecil-kecilnya. Ram bu lain itu juga pasti tidak akan bertolak belakang dengan code of conduct dari lem baga kem anusiaan penanganan bencana tingkat nasional dan internasional. Karena um um nya, ram bu-ram bu yang ada selalu m em perhatikan pandangan dunia, kebudayaan dan keagam aan m anusia sedunia yang sam a-sam a berdiri pada prinsip kem anusiaan dan toleransi. Prinsip inilah yang m enjadi dasar dari aktivitas kem anusiaan dalam penanganan bencana.

3 . Pe n ge d e p an an Pe rs e p ktif In t e r fa it h Lo g ic d an Ke arifan Lo kal

(12)

Dialog kekaryaan lintas organisasi dengan dasar penghargaan hubungan antar agam a

(interfaith logic) kem udian dapat dilakukan tanpa basa-basi atau proyek hubungan lintas agam a saja. Mem ang hal paling m endukung upaya penanam an konsep interfaith logic adalah peran dan keterlibatan dari para tokoh agam a, tokoh m asyarakat, dan pem im pin inform al lain yang sehari-harinya berkepentingan atau berkecim pung dalam aspek-aspek keagam aan dan sistem sosial budayanya. Artinya, jika para pem im pin inform al tradisional sebagai bagian dari kearifan lokal itu telah m em ulainya terlebih dahulu, m aka kelom pok m asyarakat akar rum put pun akan m engikutinya. Proses kerja seperti inilah yang disebut bahwa pihak luar (liy an) telah m engedepankan prinsip kearifan lokal dalam penanganan bencananya.

Keadaan di atas tidak sem ata diartikan kepentingan suatu proyek penanganan bencana saja, tetapi secara substansial ia harus dibaca bahwa pandangan dunia yang berhubungan dengan konsepsi m engenai liy an setidaknya telah diterim a secara baik. Kalau hal ini tidak ada dalam benak para tokoh utam a, m aka tidaklah m ungkin kerjasam a lintas agam a dan penghargaan terhadap kearifan lokal dalam arti strukturalisasi sekalipun akan terjadi. Dengan dem ikian, proyek bersam a penanganan bencana hanyalah wujud sederhana dari praktik interfaith logic dan penghargaan terhadap kearifan lokalnya. Sem entara keterlibatan tokoh utam a penanganan bencana yang m am pu m enciptakan habitus

(13)

desain tersebut adalah standar pem bangunan rum ah sebagaim ana yang dim inta oleh lem baga donornya (pem beri dana). Sayangnya lem baga DH tidak m enindaklanjuti atau m enegosiasikan kem auan m asyarakat kepada lem baga donornya. Banyak anggota m asyarakat m enolak atau kem udian m em bongkar bagian itu pasca pem bangunannya.

Kasus desain pem bangunan rum ah di atas m enjadi salah satu contoh kecil dari kenyataan bahwa tidak sem ua penangan bencana m au m enghargai kearifan lokal atau perspektif kebudayaan m asyarakat terdam paknya. Akibatnya, tidak jarang m uncul penolakan dan bahkan pengusiran yang berakibat pada tidak efektifnya aktivitas kem anusiaan pada penanganan bencana. Bangunan perspektif yang diajukan penangan seolah m enganggap bahwa orientasi kebudayaannya adalah jalan keluar dari perm asalahan yang dihadapi m asyarakat terdam pak. Hal ini tentu tidak berjalan dengan orientasi kebudayaan lokal m asyarakat terdam pak. Dialog kebudayaan m em ang selalu diupayakan di dalam proses aktivitasnya, tetapi seringkali orientasi kebudayaan penangan lebih kuat dibandingkan perspektif kebudayaan m asyarakat terdam paknya.

Kerangka pem ikiran hubungan antara agam a

(interfaith logic) di satu sisi dan perbedaan karakter kebudayaan di sisi lain, pada praktiknya sering m enyatu m enjadi satu persoalan yang sam a, yaitu perbedaan jati diri antara diri (self)

dan liy an (other). Konsepsi diri dan liy an bisa berada pada pelaku penangan bencana ataupun m asyarakat terdam pak, tergantung dari sisi m ana persoalan ini dilihat. J ika orientasinya ditujukan pada m asyarakat terdam pak, m aka posisi diri tentu berada pada m ereka, sem entara posisi liy an berada pada para penangan bencana. Upaya m em pertem ukan diri dan liy an, baik dalam persoalan agam a ataupun kebudayaan inilah yang m enjadi kunci keberhasilan dari berjalannya aktivitas kem anusiaan.

Artinya, dialog keagam aan dan penghargaan terhadap kebudayaan lokal term asuk di dalam nya

(14)

m em perhatikan tem uan penelitian, m aka ram bu-ram bu aktivitas kem anusiaan dalam penanganan bencana yang m elibatkan m asjid dan para pem im pin tradisional perlu didasarkan pada kerangka berpikir hubungan antar agam a dan pengedepanan perspektif kebudayaan lokal, term asuk di dalam nya kearifan lokal.

Ram bu-ram bu interfaith logic dan

perspektif kebudayaan lokal dalam aktivitas kem anusiaan saat situasi bencana ini didasari pada tiga pertim bangan. Pertam a, pentingnya pem artabatan kem anusiaan terhadap m asyarakat terdam pak. Kedua, sebagai jalan strategis dalam m enghim punkan kom unikasi dan gerakan m assa dalam satu kepentingan yang sam a, yaitu kegiatan kesiapsiagaan, penanganan, dan pengurangan risiko bencana. Hal ini dilakukan sebagai upaya penguatan m asyarakat sipil (civil society ), di m ana kapasitas m asyarakat seperti m asjid dan para pem im pin tradisional bisa m enjadi jantung dari gerakan m asyarakat sipil untuk kepentingan bencana. Terakhir, lem baga kem anusiaan bisa m enjadi stim ulus dari code of conduct kem anusiaan yang m engedepankan hubungan antar agam a dan pengedepanan kebudayaan lokal yang dipatuhi oleh para relawan, fasilitator dan seluruh elem en m asyarakat berdam paknya. Penguatan kerangka interfaith logic dan pem aham an pada kebudayaan lokal itu akhirnya akan berdam pak pada penum buhan partisipasi dan pengolahan kem am puan sum ber daya yang dim iliki m asyarakat, serta penyebaran dan penguatan jaringan antara m asyarakat dan penangan bencana dalam m ekanism e penanganan bencana.

Berdasarkan kepentingan di atas, Kem enterian Agam a dapat m endorong para pem im pin lokal yang m em iliki legitim asi sosial spiritual dan para pengurus m asjid untuk bisa terlibat dalam aktivitas kem anusiaan. Setidaknya, penciptaan kondisi untuk m enum buhkan kesadaran bahwa m asjid tidak sem ata berfungsi sebagai ibadah

m ahdah saja, juga dapat difungsikan untuk urusan kem anusiaan khususnya di wilayah-wilayah rawan bencana. Pem belajaran pentingnya dari

ram bu-ram bu yang m engedepankan hubungan antar agam a dan perspektif kebudayaan lokal pun perlu dilakukan di tingkat pendidikan form al dan inform al.

U

CAPAN

T

ERIMAKASIH

(15)

Giddens, Anthony. 1979. Central Problem s in Social Theory : Action, Structure and Contradiction in Social Analy sis. London: The Macm illan Press LTD.

Harvey, David W. 1987. The Condition of Posm odernity . London: Edward Arnold.

Hum aedi, M. Alie. 20 0 7. Strategi Kebijakan dan Advokasi Pem berday aan Sosial Ekonom i Masy arakat Korban Bencana Alam dan Bencana Kem anusiaan Aceh Pasca Tsunam i.

J akarta: YTBI dan Christian Aid.

Hum aedi, M. Alie. 20 0 1. Teologi Sosial Katolik dan Islam . Yogyakarta. Tesis IAIN Sunan Kalijaga.

Hum aedi, M. Alie dan Zulfa Sakhiyya. 20 11. Di Rum ah-Mu Kam i Berlindung. Yogyakarta: Valia Press.

Hum aedi, M. Alie dan J onathan Victor Rem beth. 20 14. Perisai Rokatenda: Pem artabatan dalam Kebinnekaan Masy arakat Berdam pak.

J akarta: HFI.

Laksono, PM. 1998. Persepsi Setem pat dan Nasional m engenai Bencana Alam : Sebuah Desa di Gunung Merapi. J akarta: Yayasan Obor Indonesia.

(16)

Referensi

Dokumen terkait

1) Need for Affiliation (n Aff), adalah kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain seperti teman sebaya, setia kawan, berpartisipasi dalam kelompok sebaya,

- Buku Fikih Siswa, Kemenag - Buku Penunjang lain yang Relevan - Internet 4.5 Mempraktikkan cara daman dan kafalah 4.5.1 Mempraktikkan tata cara dlaman 4.5.2 Mempraktikkan

puti fenomena yang dihasilkan sejak dua kelompok yang berbeda kebudayaannya mulai melakukan kontak langsung yang diikuti perubahan pola kebudayaan asli salah satu atau kedua

Sedangkan tingkat probabilitas perbandingan antara berat ikan asin dengan berat ikan mentah, dan percepatan penjualan ikan asin lebih besar dari tingkat

Pokja Pengadaan Barang I Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang/Jasa Pemerintah dilingkungan Pemerintah Provinsi Bali akan melaksanakan Pelelangan Sederhana dengan

Kepada para Peserta Lelang yang berkeberatan atas Penetapan Pemenang ini diberikan kesempatan untuk mengajukan sanggahan secara online sesuai jadwal pada aplikasi SPSE melalui website

Given the high barriers to entry and Pelindo III’s first mover advantage, it is well placed to maintain its position as the largest port operator in Central and Eastern

Berdasarkan Surat Penetapan Pemenang Pemilihan Langsung Pengadaan Pekerjaan Konstruksi Pembangunan Poskesdes Desa Tegalrejo Kecamatan Mayang Nomor : 027/12149/414/ 2012, tanggal 3