• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINAWAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINAWAN"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

Karakteristik perawat terkait persepsi perawat tentang

penerapan pendokumentasian sesuai standar asuhan

keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta

DISUSUN OLEH: Puji astuti 011521065

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINAWAN

Jalan Raya Kalibata No. 25-30 Jakarta 13630

Telp. : (021) 80880882 – 8011777 Fax : (021) 80880883. E-mail : [email protected]

(2)

ii

Tugas akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Puji Astuti NIM : 011521065

Jakarta, Juli 2017

(3)

iii

Laporan penelitian dengan judul :

Karakteristik perawat terkait persepsi perawat tentang penerapan pendokumentasian sesuai standar asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD

Tarakan Jakarta

Telah disetujui dan disahkan untuk dipertahankan di depan Dewan Penguji Sidang Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Binawan. .

Jakarta, Juli 2017 Menyetujui,

Kordinator Nursing Inquiry

(Ns. Handayani M.Kep., Sp.Mat)

Pembimbing I Pembimbing II

(4)

iv

Karakteristik perawat terkait persepsi perawat tentang penerapan pendokumentasian sesuai standar asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta

Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk melalui Mata Kuliah Nursing Inquiry pada Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Binawan.

DEWAN PENGUJI

Penguji I : (Djuariah Chanafie S.Kp .,M.Kep) (... ...) Penguji II :( Ns. Handayani M.Kep., Sp.Mat) (... ...) Penguji III : (Aan Sutandi, SKp, MN) (... ...) Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal : Juli 2017 Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

(5)

v

Sebagai civitas akademik STIKes Binawan, saya yang bertanda tangan dibawah ini,

Nama : Puji Astuti

NIM : 011521065

Program Studi : Ilmu Keperawatan Jenis Karya : Tugas Akhir Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada STIKes Binawan Hak Bebas Royalti Noneksklusif (None-exlusive Rolalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :

Karakteristik perawat terkait persepsi perawat tentang penerapan pendokumentasian sesuai standar asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti /Noneksklusif ini maka STIKes Binawan berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Jakarta Pada Tanggal : Juli 2017

Yang menyatakan,

(6)

vi

Puji syukur penulis haturkan kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Karakteristik perawat terkait persepsi perawat tentang penerapan pendokumentasian sesuai standar asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan mata ajar di sekolah tinggi ilmu kesehatan binawan jakarta. Dalam proses penyusunan laporan ini penulis mendapatkan bimbingan, doa dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Kepada ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayat serta karunia –Nya kepada penulis

2. Dr. Sofyan Hawadi sebagai ketua STIKes Binawan Jakarta

3. Aliana Dewi S.Kp., MN selaku Ketua Jurusan Keperawatan STIKes Binawan Jakarta

4. Handayani M.Kep.,Sp.Mat selaku koordinator mata ajar 5. Djuariah Chanafie S.Kp .,M.Kep selaku pembimbing I

6. Kepada seluruh staff dosen dan karyawan Jurusan Keperawatan STIKes Binawan.

7. Kepada keluargaku tercinta suamiku dan anak-anaku atas doa dan dukungnya 8. Terima kasih untuk teman satu bimbingan yang selalu menyemangati selama

dalam proses pembuatan skripsi

9. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Binawan angkatan RSUD Tarakan Jakarta

10. Kepada semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu untuk doa dan dukungannya

Jakarta, Juli 2017

(7)

Riset keperawatan, Juli 2017 Puji Astuti

faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan motivasi perawat terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta

X + 60 halaman + 15 tabel + 2 bagan + 4 lampiran. ABSTRAK

Dokumentasi keperawatan merupakan bukti otentik yang dituliskan dalam format yang sudah baku dan harus di sertakan dengan tanda tangan dan nama perawat dengan jelas, pendokumentasian merupakan suatu bentuk kerja perawat dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari pendokumentasian bersifat legal yang dapat dipertanggungjawabkan nantinya dalam hal ini peneliti ingin meneliti mengenai faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan motivasi perawat terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta, Penelitian ini bersifat descriptive dengan metode crossectional dengan menggunakkan sample sebanyak 30 responden perawat, hasil penelitiannya sebagai berikut hubungan jenis kelamin terhadap dokumentasi asuhan keperawatan didapatkan nilai p-value sebesar = 0,00, hubungan lama kerja terhadap dokumentasi asuhan keperawatan didapatkan nilai p-value sebesar = 0,00 dan hubungan status terhadap dokumentasi asuhan keperawatan didapatkan nilai p-value sebesar = 0,000. Artinya semua variable saling berhubungan dengan pendokumentasian asuhan keperawatan memang erat dengan factor-faktor yang mempengaruhinya, pendokuemntasian yang baik akan selalu dikerjakan dengan baik oleh perawat setiap harinya oleh karena itu, perawat perlu meningkatkan pengetahuan mengenai penerapan asuhan keperawatan yang terbaru dengan begitu pelayana asuhan keperawatan dapat terus berkembang di RS

(8)

vii

Halaman Judul ... i

Halaman Pernyataan Orisinalitas ... ii

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman Pengesahan ... iv

Halaman Persetujuan Publikasi ... v

Kata Pengantar ... vi

Daftar Isi ... vii

Abstrak ... ix BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan Penelitian ... 5 1.2.1 Tujuan Umum ... 5 1.2.2 Tujuan Khusus ... 5 1.3 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Perawat ... 9 2.2 Asuhan Keperawatan ... 16 2.3 Motivasi ... 21 2.4 Dokumentasi keperawatan... 32 2.5 Persepsi ... 37 2.6 Kerangka Teori ... 42

BAB III KERANGKA PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka penelitian ... 43

(9)

viii BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian ... 47

4.2 Populasi ... 47

4.3 Sampel ... 48

4.4 Tempat dan waktu penelitian ... 49

4.5 Instrument Penelitian ... 50

4.6 Uji coba instrument ... 50

4.7 Validitas dan reabilitas ... 51

4.8 Pengumpulan data ... 52

4.9 Prosedur Pengumpulan data ... 53

BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Penelitian Univariat ... 57

5.2 Hasil Penelitian Bivariat ... 60

BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Pembahasan Univariat ... 64

6.2 Pembahasan Bivariat ... 72

6.3 Keterbatasan penelitian ... 79

BAB VII PENUTUP 7.1 Kesimpulan ... 80

7.2 Saran ... 81

Daftar pustaka Lampiran

(10)

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 pasal 1 Rumah Sakit adalah Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemeliharaan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan rujukan.selain itu rumah sakit merupakan tempat pelayanan keperawatan berdasarkan UU keperawatan No 38 tahun 2014 Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit.

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan (UU keperawatan No 38 tahun 2014 ) dan Tugas dan wewenang perawat menurut undang-undang keperawatan no 38 pasal 29 tahun 2014 adalah sebagai berikut: pemberi asuhan keperawatan,

(11)

penyuluh dan konselor bagi klien, pengelola pelayanan keperawatan, peneliti keperawatan, pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan wewenang, dan/atau pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu. Selain itu tugas perawat menurut Martini, (2007) ialah memberikan asuhan keperawatan antara lain mengkaji kebutuhan pasien, menegakkan diagnose keperawatan, merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan rencana tindakan, mengevaluasi hasil asuhan keperawatan, mendokumentasikan asuhan keperawatan, berperan serta dalam melakukan penyuluhan.

Dokumentasi keperawatan merupakan bukti otentik yang dituliskan dalam format yang sudah baku / sudah di sediakan dan harus di sertakan dengan tanda tangan dan nama perawat dengan jelas ( tidak menggunkan paraf ) dan harus menyatu dengan status rekam medis pasien. Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan memerlukan pendokumentasian mulai dari tahap pengkajian , penentuan diagnosa keperawatan , intervensi , implementasi dan evaluasi keperawatan di mana semua itu harus di dokumentasikan. ( Setiyarini , 2010 ). Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan seorang perawat harus mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan standar yang sudah ada. ( Kancil Jogja 2010).

Pendokumentasian keperawatan dalam menerapkan dokumentasi harus memperhatikan mutu dan karekteristik data pendokumentasian. Setiadi (2004:39) menguraikan mutu dan karekteristik data dalam pendokumentasian dibagi

(12)

menjadi 3 jenis yaitu; 1) Lengkap adalah seluruh data yang diperlukan untuk mengidentifikasi masalah keperawatan klien dicatat dengan terperinci dimana data yang terkumpul harus lengkap, guna membantu mengatasi masalah klien yang adequat. 2) Akurat dan nyata adalah dalam pengumpulan data ada kemungkinan terjadi salah paham. Untuk mencegah hal tersebut, maka perawat harus berfikir akurasi dan nyata untuk membuktikan benar tidaknya apa yang telah didengar, dilihat, diamati dan diukur melalui pemeriksaan ada tidaknya validasi terhadap semua data yang sekiranya meragukan. 3) Relevan adalah pencatatan data yang komprehensif biasanya banyak sekali data yang harus dikumpulkan, sehingga menyita waktu perawat untuk mengidentifikasi.

Penelitian yang dilakukan Isnaini (2010) menunjukkan bahwa pendokumentasian asuhan keperawatan pada aspek pengkajian 84,38%, aspek diagnosa 91,68%, aspek perencanaan 97,29%, aspek tindakan 100%, dan aspek evaluasi 95,83% dinyatakan lengkap di RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Penelitian lain yang dilakukan Anonim RSUD Pandanarang Boyolali pada tahun 2011 prosentase kelengkapan pendokumentasian asuhan ke perawatan untuk pengkajian 55 %, diagnosa 53,3 %, perencanaan 65 %, pelaksanaan 40 %, evaluasi 50 %. Hasil rata-rata didapatkan 53,21%. Hasil pengamatan, pelaksanaan pendokumentasian dilakukan perawat dengan cara mengisi lembar pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

(13)

Ruang rawat inap dan ruang rawat khusus merupakan salah satu ruang yang melakukan pendokumentasian setiap harinya, bagi seorang perawat pendokumentasian merupakan hal yang sangat penting mengingat pendokumentasian merupakan catatan dari setiap tindakan yang dilakukannya setiap harinya. Pendokumentasi asuhan keperawatan juga merupakan aspek penting dalam memberikan asuhan keperawatan karena pendokumentasian dapat dijadikan sebagai salah satu indikator akuntabilitas perawat atau tanggung gugat perawat yaitu perawat dapat digugat secara hukum. Kegiatan pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan di rumah sakit tetapi pada pelaksanaan pendokumentasian yang dilakukan perawat masih banyak belum terisi dengan berbagai kendala berupa motivasi yang kurang, jumlah tenaga yang kurang, beban kerja yang berat dan pengontrolan yang kurang.

RSUD Tarakan merupakan salah satu Rs dijakarta yang memiliki ruang rawat inap yang cukup banyak selain itu memiliki kurang lebih 500 tenaga keperawatan baik rawat inap maupun rawat jalan, salah satu ruang rawat yaitu ruang rawat ICU dimana ruang rawat ICU merupakan ruang khusus bagi pasien yang membutuhkan alat khusus, di ICU pencatatan dokumentasi sangat penting mengingat pasien yang diberi asuhan keperawatan sangat banyak berbeda dengan ruang rawat inap lainnya, di ruang ICU RSUD Tarakan memiliki 25 orang perawat terdiri dari 3 orang berpendidikan S1 dan 22 orang berpendidikan D3 keperawatan. Dalam hal ini penelitian ini peneliti ingin melihat. Persepsi

(14)

perawat terkait dengan motivasi perawat pelaksana dalam melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta.

1.2 Tujuan Penelitian 1.2.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan karakteristik perawat terkait persepsi perawat tentang penerapan pendokumentasian sesuai standar asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta.

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui kaitan usia perawat terhadap persepsi perawat pelaksana terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta

b. Mengetahui kaitan jenis kelamin perawat terhadap persepsi perawat pelaksana terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta

c. Mengetahui kaitan status perawat terhadap persepsi perawat pelaksana terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta

d. Mengetahui kaitan lama kerja perawat terhadap persepsi perawat pelaksana terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta.

(15)

e. Mengetahui kaitan jumlah tangungan perawat terhadap persepsi perawat pelaksana terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta 1.3 Manfaat Penelitian

1. Pelayanan Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi Rumah sakit terutama pelayanan keperawatan mengetahui permasalahan yang menyebabkan pendokumentasian tidak dilakukan dan akan bermanfaat bagi manajerial rumah sakit terkait peningkatan kualitas asuhan keperawatan serta memberi masukan untuk meningkatkan pada perawat dalam melakukan pendokumentasian askep di rawat inap rumah sakit.

2. Pengembangan Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumbangan ilmu pengetahuan untuk pengembangan penelitian terkait dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan pendokumentasi di Rumah Sakit.

3. Pengembangan Ilmu Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat memperluas wawasan peneliti tentang konsep-konsep penelitian dan meningkatkan ilmu pengetahuan peneliti serta menerapkan ilmu-ilmu hasil studi yang telah peneliti terima di bangku kuliah khususnya tentang pentingnya kelengkapan dokumentasi keperawatan dan

(16)

faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga akan mampu meningkatkan profesionalisme dalam kinerja keperawatan dan memperkaya wawasan, pengetahuan akan pentingnya dilaksanakan pendokumentasian.

(17)

9 2.1. PERAWAT

2.1.1. Definisi Perawat

Menurut UU keperawatan No 38 tahun 2014 Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit lalu.

Sedangkan pengertian Perawat dalam Keputusan Mentri Kesehatan Nomor 1239/MenKes/SK.XI.2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat maka pada pasal 1 ayat 1 yang berbunyi “Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan (UU keperawatan No 38 tahun 2014)

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat dan memiliki kemampuan serta kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan bidang keilmuan yang dimilki dan memberikan pelayanan kesehatan secara holistik dan profesional untuk individu sehat maupun sakit, perawat berkewajiban memenuhi kebutuhan pasien meliputi bio-psiko-sosial dan spiritual (Asmadi, 2008, Konsep Dasar Keperawatan).

(18)

Berdasarkan 5 definisi di atas, maka peneliti menyimpulkan, perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang memiliki kemampuan dan kewenangan tindakan keperawatan dalam bidang keilmuan yang dimiliki dan memberikan pelayanan kesehatan secara holistik dan profesional untuk individu sehat maupun sakit.

2.1.2. Peran perawat

Peran menurut Kozier Barbara, (1995), (dalam Wahid & Nurul, Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2009.64), adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam, suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu.

Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix yang berarti merawat atau memelihara.. Fungsi itu sendiri adalah suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan perannya. Fungsi dapat berubah disesuaikan dengan keadaan yang ada. Sedangkan fungsi perawat dalam melakukan pengkajian pada Individu sehat maupun sakit dimana segala aktifitas/ kegiatan yang dilakukan oleh perawat dalam keseharian dilakukan berguna untuk pemulihan kesehatan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, aktifitas ini dilakukan dengan berbagai cara untuk mengembalikan kemandirian pasien secepat mungkin dalam bentuk Proses Keperawatan yang terdiri dari tahap Pengkajian, Identifikasi masalah (Diagnosa Keperawatan), Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi.

(19)

Saat ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komprehensif.Perawat kontemporer menjalankan fungsi dalam kaitannya dengan berbagai peran pemberi perawatan, pembuat keputusan klinik dan etika, pelindung dan advokat bagi klien, manajer kasus, rehabilitator, komunikator dan pendidik (Wahid & Nurul, Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2009.65).

Tugas dan wewenang perawat menurut undang-undang keperawatan no 38 pasal 29 tahun 2014 adalah sebagai berikut:

1. Pemberi Asuhan Keperawatan 2. penyuluh dan konselor bagi Klien 3. pengelola Pelayanan Keperawatan 4. peneliti Keperawatan

5. pelaksana tugas berdasarkan pelimpahanwewenang, dan/atau 6. pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu

Beberapa peran perawat professional antara lain care giver, client advocate,

counselor, educator, collaborator, coordinator, change agent, consultan, dan interpersonal process.

a. Care Giver (pemberi perawatan)

Peran ini diharapkan perawat mampu menerapkan hal-hal berikutini.

1) Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat sesuai diagnosa masalah yang terjadi melalui dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang kompleks.

2) Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien, perawat harus memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan dari klien

(20)

3) Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan, mulai dari masalah fisik sampai psikologis.

b. Clien Advocate (Pembela Klien)

Perawat juga berperan sebagai advokat atau pelindung klien, yaitu membantu untuk mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan melindungi klien dari efek yang tidak diinginkan yang berasal dari pengobatan atau tindakan diagnostik tertentu. Peran inilah yang belum tampak pada sebagian besar institusi kesehatan di Indonesia, perawat masih sebatas menerima delegasi dari profesi kesehatan yang lain tanpa mempertimbangkan akibat dari tindakan yang akan dilakukannya apakah aman atau tidak bagi kesehatan klien.

Manajer kasus juga merupakan salah satu peran yang dapat dilakoni oleh perawat, disini perawat bertugas untuk mengatur jadwal tindakan yang akan dilakukan terhadap klien oleh berbagai profesi kesehatan yang ada di suatu rumah sakit untuk meminimalisasi tindakan penyembuhan yang saling tumpang tindih dan memaksimalkan fungsi terapeutik dari semua tindakan yang akan dilaksanakan terhadap klien.

Adapun tugas perawat perawat sebagai pembela klien adalah sebagai berikut : 1) Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam

menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (inform concern) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya. 2) Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena

(21)

petugas kesehatan. Perawat adalah anggota tim kesehatan yang paling lama kontak dengan klien, sehingga diharapkan perawat harus mampu membela hak-hak klien.

Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan termasuk didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Disparty, 1998).

Hak-Hak Klien antara lain :

1) Hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya 2) Hak atas informasi tentang penyakitnya 3) Hak atas privasi

4) Hak untuk menentukan nasibnya sendiri

5) Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan. Hak-Hak Tenaga Kesehatan antara lain :

1) Hak atas informasi yang benar 2) Hak untuk bekerja sesuai standart

3) Hak untuk mengakhiri hubungan dengan klien 4) Hak untuk menolak tindakan yang kurang cocok 5) Hak atas rahasia pribadi

6) Hak atas balas jasa c. Conselor (konseling)

Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan seseorang. Didalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual.

(22)

Peran perawat dalam bimbingan penyuluhan kepada pasien :

1) Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya.

2) Perubahan pola interaksi merupakan “Dasar” dalam merencanakan metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.

3) Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu.

4) Pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan.

d. Educator (Pendidik)

Mengajar adalah merujuk kepada aktifitas dimana seseorang guru membantu murid untuk belajar. Belajar adalah sebuah proses interaktif antara guru dengan satu atau banyak pelajar dimana pembelajaran obyek khusus atau keinginan untuk merubah perilaku adalah tujuannya. (Redman, 1998).Inti dari perubahan perilaku selalu didapat dari pengetahuan baru atau keterampilan secara teknis.Inti dari perubahan perilaku selalu didapat pengetahuan baru atau keterampilan secara teknis.Selama pelaksanaan perawat menerapkan strategi pengajaran dan selama evaluasi perawat menilai hasil yang telah didapat.Saat ini ada kecendrungan baru untuk peningkatan dan penjagaan kesehatan dari pada pelayanan. Sebagai akibatnya, masyarakat ingin memperoleh banyak pengetahuan dibidang kesehatan, (Wahit dan Nurul, Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2009:67)

(23)

Pada peran ini perawat diharapkan mampu melakukan hal-hal berikut:

1) Dapat dilakukan kepada klien atau keluarga, tim kesehatan lain, baik secara spontan pada saat berinteraksi maupun formal.

2) Membantu klien meningkatkan pengetahuan dalam upaya meningkatkan kesehatan, gejala penyakitnya sesuai kondisi dan tindakan yang spesifik. 3) Dasar pelaksanaan peran adalah intervensi dalam proses keperawatan. e. Kolaborasi (Collaborator)

Perawat sebagai kolaborasi dapat dilaksanakan dengan cara berkerja sama dengan tim kesehatan yang lain, baik perawat dengan dokter, perawat dengan ahli gizi, perawat dengan ahli ragiologi, dan lintas sektoral dalam masyarakat dalam kaitannya membantu mempercepat penyembuhan klien serta kesehatan masyarakat.

f. Koordinasi (Coordinator)

Dalam peran ini diharapkan perawat mampu mengarahkan, merencanakan, dan mengorganisasi pelayanan dari semua anggota tim kesehatan, karena klien menerima pelayanan dari banyak profesional .

g. Change Agent (pembawa Perubahan)

Pembawa perubahan adalah seseorang yang mempunyai inisiatif membantu orang membuat perubahan pada dirinya atau pada sistem (Kemp,1986). Mengidentifikasi masalah, mengkaji motivasi pasien dan membantu klien untuk berubah, menunjukan alternative, menggali kemungkinan hasil dari alternative, mengkaji sumber daya menunjukan peran membantu, membina dan mempertahankan hubungan membantu, membantu selama fase dari proses perubahan dan membimbing klien melalui fase ini (Marriner Torney).

(24)

h. Konsultan

Perawat berperan sebagai tempat konsultasi bagi pasien terhadap masalah yang dialami atau tindakan keperawatan yang tepat dan tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang diberikan.Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi pelayanan keperawatan yang diberikan.

2.2 Tinjauan Umum tentang Pelaksanaan Asuhan Keperawatan

Proses keperawatan secara umum diartikan sebagai pendekatan dalam pemecahan masalah yang sistematis untuk memberikan asuhan keperawatan terhadap setiap orang (Zaidin, 2008).

Standar praktek keperawatan nasional merupakan pedoman bagi perawat Indonesia, baik generalis maupun spesialis diseluruh tatanan pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, dan lai-lain) dalam melakukan asuhan keperawatan melalui proses pendekatan keperawatan. Standar praktek keperawatan di Indonesia, sebagaimana telah dijabarkan oleh PPNI, mengacu pada tahapan dalam proses keperawatan yakni terdiri dari 5 standar antara lain: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi (Nursalam, 2008):

2.2.1 Standar I: Pengkajian Keperawatan

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistimatis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara akurat, menyeluruh, singkat, dan berkesinambungan.

(25)

Kriteria proses:

1. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi pemeriksaan fisik, dan mempelajari data penunjang (hasil laboratorium, catatan klien lainnya).

2. Sumber data terdiri dari sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berasal dari pengkajian langsung terhadap klien dengan metode IPPA (inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi). Sedangkan sumber data sekunder berasal selain dari klien, misalnya: keluarga atau orang terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan catatan lainnya.

3. Data yang dikumpulkan, berfokus untuk mengidentifikasi: a. Status kesehatan klien dimasa lalu

b. Status kesehatan klien saat ini

c. Status fisiologis-psikologis-sosial-spiritual

d. Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal

2.2.2 Standar II: Diagnosa Keperawatan

Diagnosis data adalah suatu pernyataan dari pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yang pemecahannya dapat dilakukan dalam batas kewenangan perawat untuk melakukannya. Masalah nyata adalah masalah yang sudah ada pada waktu pengkajian. Sedangkan masalah potensial/resiko merupakan masalah yang mungkin timbul bila pemecahannya tidak dilaksanakan. Untuk menghidari

(26)

kekeliruan antara diagnosis medis dengan diagnosis keperawatan, perlu diketahuai perbedaan antara kedua diagnosis tersebut. Diagnosis medis berfokus pada keadaan patologis/pengobatan dan penyembuhan penyakit, sedangkan diagnosis keperawatan berfokus pada respon pasien terhadap penyakit atau factor lain yang mempengaruhi.

Perawat melakukan analisis terhadap data-data yang dikumpulkan selama pengkajian untuk menegakkan Diagnosa Keperawatan.

Kriteria proses:

a. Proses diagnosa keperawatan terdiri dari: analisis, interpretasi data, indentifikasi masalah klien, dan perumusan diagnosa keperawatan b. Komponen diagnosa keperawatan terdiri

dari: P (Problem) atau masalah

E (Etiology) atau penyebab Akan tertapi terkadang hanya dari P dan E saja.

c. Diagnosa keperawatan memiliki 2 bentuk, yakni:

1. Actual, yaitu diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah nyata yang sudah ada pada saat pengkajian dilakukan

2. Potensial, yaitu diagnosis keperawatan yang menjelaskan masalah nyata akan terjadi bila tindakan keperawatan tidak dilakukan

d. Validasi diagnosa dilakukan dengan cara bekerjasama dengan klien dan berusaha untuk dekat dengan klien atau petugas kesehatan lain e. Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa keperawatan

(27)

2.2.3 Standar III: Perencanaan

Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosis keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien. Tujuan perencanaan keperawatan adalah sebagai alat komunikasi antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain, dan meningkatkan keseimbangan asuhan keperawatan. Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan klien. Kriteria proses:

1. Perencanaan terdiri dari penetapan:Prioritas masalah

2. Tujuan dan Kriteria hasil 3. Rencana tindakan

 Melibatkan klien dalam membuat perencanaan keperawatan

 Mendokumentasikan rencana keperawatan

2.2.4 Standar IV: Implementasi

Pelaksanaan keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal, yang mencakup aspek peningkatan, pemeliharaan, dan pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dengan keluarganya. Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam asuhan keperawatan.

(28)

1. Bekerjasama dengan klien dalam melaksanakan tindakan keperawatan 2. Berkolaborasi dengan profesi kesehatan lain untuk meningkatkan

kesehatan lain

3. Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah kesehatan klien

4. Melakukan supervise terhadap tenaga pelaksana keperawatan dibawah tanggung jawabnya

5. Menjadi coordinator pelayanan dan advocator bagi klien dalam 6. mencapai tujuan perawatan.

7. Menginformasikan kepada klien tentang status kesehatan dan fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan yang ada

8. Memberikan pendidikan kepada klien dan keluarga mengenai konsep keterampilan asuhan diri serta membantu klien memodifikasi lingkungan yang digunakan

9. Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan respon klien.

2.2.5 Standar V: Evaluasi

Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang rencana keperawatan. Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik, sistematis dan terencana untuk menilai perkembangan pasien setelah pelaksanaan tindakan keperawatan. Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar serta perencanaan.

(29)

Kriteria proses:

a. Menyusun perencanaan evaluasi hasil terhadap intervensi secara komprehensif, tepat waktu dan terus menerus

b. Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukur perkembangan kearah pencapaian tujuan

c. Memvalidasi dan menganalisa data baru dengan teman sejawat dan klien

d. Bekerjasama dengan klien dan keluarga untuk memodifikasi rencana asuhan keperawatan

e. Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan ( Suriadi, Yuliani R,2007).

2.2.6 Standar VI dokumentasi keperawatan

Menurut Deswani (2011) dokumentasi adalah sesuatu yang ditulis atau dicetak, kemudian diandalkan sebagai catatan bukti bagi orang yang berwenang, dan merupakan bagian dari praktik professional. Dokumentasi keperawatan merupakan informasi tertulis tentang status dan perkembangan kondisi klien serta semua kegiatan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat (Setiadi, 2012).

2.3 MOTIVASI

2.3.1 Pengertian

Motivasi berasal dari bahasa Latin yang berarti to move.Secara umum mengacu pada adanya kekuatan dorongan yang menggerakkan kita untuk berprilaku tertentu. Oleh karena itu, dalam mempelajari motivasi kita

(30)

akan berhubungan dengan hasrat, keinginan, dorongan dan tujuan. (Notoatmodjo, Promosi Kesehatan teori dan aplikasi, 2010).

Motivasi adalah karakteristik psikologis manusia yang memberikan konstribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu (Stoner dan Freeman,1995:143 dalam Nursalam, Manajemen Keperawatan, 2011:85)

Motivasi adalah segala suatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (Ngalim Purwanto, 2000:60 dalam Nursalam, Manajemen Keperawatan ,2011:85), Motivasi adalah perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan atau menjalankan kekuasaannya, (Nursalam, Manajemen Keperawatan, 2011:86).

Dari berbagai macam definisi motivasi, menurut Stanford ada tiga hal penting dalam pengertian motivasi, yaitu hubungan antara kebutuhan, dorongan, dan tujuan.Kebutuhan muncul karena seseorang merasakan sesuatu yang kurang, baik fisiologis maupun psikologis.Dorongan merupakan arahan untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan tujuan adalah akhir dari satu siklus motivasi

Motivasi adalah proses manajemen untuk memengaruhi tingkah laku manusia berdasarkan pengetahuan mengenai apa yang membuat orang tergerak (Stoner dan Freeman, 1995:134 dalam Nursalam, Manajemen Keperawatan , 2011:86).

Menurut bentuknya motivasi terdiri atas :

(31)

2) Motivasi Ekstrinsik, yaitu motivasi yang datangnya dari luar individu.

3) Motivasi terdesak, yaitu motivasi yang muncul dalam kondisi terjepit secara serentak dan menghentak dengan cepat sekali.

2.3.2 Berbagai Teori Motivasi

Ada dua aliran teori motivasi, yaitu motivasi yang dikaji dengan mempelajari kebutuhan-kebutuhan, atau content theory, dan ada yang mengkaji dengan mempelajari prosesnya atau disebut sebagai process theory (wood et all, 1998).

Content theory: Teory-teori ini mengajukan cara untuk menganalisis kebutuhan

yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku tertentu, sedangkan process

theory berusaha memahami proses berpikir yang ada yang dapat mendorong

seseorang untuk berperilaku tertentu, (Notoatmodjo, Promosi Kesehatan teori dan aplikasi, 2010).

Landy dan Becker mengelompokan banyak pendekatan modern pada teori dan praktik menjadi empat kategori yaitu :

1) Teori kebutuhan

Teori kebutuhan berfokus pada kebutuhan orang untuk hidup berkecukupan. Dalam praktiknya, teori kebutuhan berhubungan dengan apa yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut teori kebutuhan, motivasi dimilki seseorang pada saat belum mencapai tingkat kepuasan tertentu dalam kehidupannya. Kebutuhan yang telah terpuaskan tidak akan lagi menjadi motivator. Teori-teori yang termasuk dalam kebutuhan adalah :

a) Teori hierarki Kebutuhan menurut Maslow.

Teori ini dikembangkan oleh Abraham Maslow, yang terkenal dengan kebutuhan FAKHA (Fisiologis, Aman, Kasih Sayang, Harga Diri, dan Aktualisasi Diri) di

(32)

mana Maslow memandang kebutuhan manusia sebagi lima macam hierarki, mulai dari kebutuhan yang paling mendasar sampai kebutuhan tertinggi, yaitu aktualisasi diri. Menurut Maslow, individu akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan yang paling menonjol atau paling kuat bagi mereka pada waktu tertentu.

b) Teori ERG

Teori ERG adalah teori motivasi yang menyatakan bahwa orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tentang eksistensi (Existence, kebutuhan mendasar dari Maslow), kebutuhan keterkaitan (Relatedness, kebutuhan hubungan antara pribadi) dan kebutuhan pertumbuhan (Growth, kebutuhan akan kreativitas pribadi, atau pengaruh produktif). Teori ERG menyatakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi mengalami kekecewaan, kebutuhan yang lebih rendah akan kembali, walau sudah terpuaskan.

c) Teori Tiga Macam Kebutuhan

John W. Atkinson, mengusulkan ada tiga macam dorongan mendasar dalam diri orang termotivasi, kebutuhan untuk mencapai prestasi (need for achivement), kebutuhan kekuatan (need of power), dan kebutuhan untuk berafiliasi atau hubungan dekat dengan orang lain (need for affiliation).

Penelitian McClelland juga menyatakan bahwa manajer dapat mencapai tingkat tertentu, menaikan kebutuhan untuk berprestasi dari karyawan dengan menciptakan lingkungan kerja yang memadai.

d) Teori Motivasi Dua faktor.

Teori ini dikembangkan oleh Frederick Herzberg di mana Herzberg menyakini bahwa karyawan dapat dimotivasi oleh pekerjaannya sendiri didalamnya terdapat

(33)

kepentingan yang sesuai dengan tujuan organisasi.Dari penelitiannya, Herzberg menyimpulkan bahwa ketidakpuasan dan kepuasan dalam bekerja muncul dari dua faktor yang terpisah.

Semua faktor-faktor penyebab ketidakpuasan memengaruhi konteks tempat pekerjaan yang dilakukan.Faktor yang paling penting adalah kebijakan perusahaan yang dinilai oleh banyak orang sebagai penyebab utama ketidak efensienan dan ketidak efektifan.Penilaian positif terhadap berbagai faktor ketidakpuasan ini tidak menyebabkan kepuasan kerja tetapi hanya menghilangkan ketidakpuasan.Secara lengkap, beberapa faktor yang membuat ketidakpuasan adalah kebijakan perusahaan dan administrasi, supervisi, hubungan dengan supervisor, kondisi kerja, gaji, hubungan dengan rekan sejawat, kehidupan pribadi, hubungan dengan bawahan, statur dan, keamanan.

Faktor penyebab kepuasan (faktor yang memotivasi) termasuk prestasi, pengakuan, tanggung jawab, dan kemajuan, semua berkaitan dengan isi pekerjaan dan imbalan prestasi kerja. Berbagai faktor lain yang membuat kepuasan yang lebih besar, yaitu: berprestasi, pengakuan, bekerja sendiri, tanggung jawab, kemajuan dalam pekerjaan, dan pertumbuhan.

2) Teori Keadilan

Teori keadilan didasarkan pada asumsi bahwa faktor utama dalam motivasi pekerjaan adalah evaluasi individu atau keadilan dari penghargaan yang diterima. Individu akan termotivasi jika hal yang mereka dapat seimbang dengan usaha yang mereka kerjakan.

(34)

Teori harapan ini menyatakan cara memilih dan bertindak dari berbagai alternatif tingkah laku berdasarkan harapan (apakah ada keuntungan yang diperoleh dari tiap tingkah laku). Teori harapan terdiri atas dasar sebagai berikut.

a) Harapan hasil prestasi

Individu mengharapkan konsekuensi tertentu dari tingkah laku mereka. Harapan ini nantinya akan memengaruhi keputusan tentang bagaimana cara mereka bertingkah laku.

b) Valensi

Hasil dari suatu tingkah laku mempunyai valensi atau kekuatan untuk bermotivasi. Valensi ini bervariasi dari satu individu ke individu yang lain.

c) Harapan prestasi usaha

Harapan orang mengenai tingkah keberhasilan mereka dalam melaksanakan tugas yang sulit akan berpengaruh pada tingkah laku. Tingkah laku seseorang sampai tingkat tertentu akan bergantung pada tipe hasil yang diharapkan. Beberapa hasil berfungsi sebagai imbalan intrinsik yaitu imbalan yang dirasakan langsung oleh orang yang bersangkutan. Imbalan ekstrinsik (misal: bonus, pujian, dan promosi) diberikan oleh pihak luar seperti supervisor atau kelompok kerja.

4) Teori Penguatan

Teori ini dikaitkan oleh ahli psikologi B. F. Skinner dengan teman-temannya, menunjukan bagaimana konsekuensi tingkah laku di masa lampau akan mempengaruhi tindakan di masa depan dalam proses belajar siklus.

Dalam pandangan ini tingkah laku sukarela seseorang terhadap suatu situasi atau peristiwa merupakan penyebab dari konsekuensi tertentu.Teori penguatan

(35)

menyangkut ingatan orang mengenai pengalaman rangsangan respon konsekuensi respon pada rangsangan terhadap pola tingkah laku yang konsisten sepanjang waktu.

2.3.3 Pengukuran Motivasi

Bagaimana cara mengukur motivasi seseorang, dan apakah ada suatu alat baku untuk mengukur mengukur motivasi. Motivasi tidak dapat diobservasi secara langsung namun harus diukur.Pada umumnya, yang banyak diukur adalah motivasi sosial dan motivasi biologis. Ada beberapa cara untuk mengukur motivasi, yaitu dengan 1) tes proyektif, 2) kuesioner, dan 3) observasi perilaku. (Notoatmodjo, Promosi Kesehatan teori dan aplikasi, 2010).

a. Tes proyektif

Apa yang kita katakan merupakan cerminan dari apa yang ada dalam diri kita. Dengan demikian untuk memahami apa yang dipikirkan orang, maka kita beri stimulus yang harus diinterpretasikan. Salah satu teknik proyektif yang banyak dikenal adalah Thematic perception Test (TAT). Dalam tes tersebut kita diberikan gambar dan klien diminta untuk membuat cerita dari gambar tersebut.Dalam teori Mc Leland dikatakan, bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan yaitu kebutuhan untuk berprestasi (n-ach), kebutuhan untuk power (n-power), kebutuhan untuk berafilisasi (n_aff).Dari isi cerita tersebut kita dapat menelaah motivasi yang mendasari diri klien berdasarkan konsep kebutuhan di atas.

b. Kuesioner

Salah satu cara untuk mengukur motivasi melalui kuesioner adalah dengan meminta klien untuk mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing motivasi klien. Sebagai contoh adalah EPPS (Edward’s

(36)

Personal Preference Schedule).Kuesioner tersebut terdiri dari dari 210 nomor

dimana pada masing-masing nomor terdiri dari dua pertanyaan.Klien diminta untuk memilih salah satu dari kedua pertanyaan tersebut yang lebih mencerminkan dirinya.Dari pengisian kuesioner tersebut kita dapat melihat dari ke 15 jenis kebutuhan yang yang ada dalam tes tersebut, kebutuhan mana yang paling dominan dalam diri kita. Contohnya antara lain, kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan akan keteraturan, kebutuhan untuk berafiliasi dengan orang lain, kebutuhan untuk membina hubungan dengan lawan jenis, bahkan kebutuhan untuk bertindak agresif.

c. Observasi Perilaku

Cara lain untuk mengukur motivasi adalah dengan membuat situasi sehingga klien dapat memunculkan perilaku yang mencerminkan motivasi. Misalnya, untuk mengukur keinginan untuk berprestasi, klien diminta untuk memproduksi origami dengan batas waktu tertentu.Perilaku yang diobservasi adalah, apakah klien menggunakan umpan balik yang diberikan, mengambil keputusan yang beresiko dan mementingkan kualitas dari pada kuantitas kerja.

2.3.4 Cara Meningkatkan Motivasi

a) Memotivasi dengan kekerasan (motivating by force,yaitu cara memotivasi dengan ancaman hukuman atau kekerasan dasar yang dimotivasi dapat melakukan apa yang harus dilakukan.

(37)

b) Memotivasi dengan bujukan (motivating by enticement,yaitu cara memotivasi dengan bujukan atau memberi hadiah agar melakukan sesuatu harapan yang memberikan motivasi.

c) Memotivasi dengan identifikasi (motivating by identification on egoinvoiremen), yaitu cara memotivasi dengan menanamkan kesadaran. (Sunaryo, 2006).

2.3.5 Faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang

Menurut Siagian (2002) faktor yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang dapat diketahui berdasarkan karakteristik dari individu yang bersifat khas yang terdiri dari delapan faktor yaitu :

1. Karakteristik Biografi yang meliputi :

a) Usia, hal ini penting karena usia mempunyai kaitan yang erat dengan berbagai segi kehidupan organisasional. Misalnya kaitan usia dengan tingkat kedewasaan teknis yaitu ketrampilan tugas.

b) Jenis Kelamin, karena jelas bahwa implikasi jenis kelamin para pekerja merupakan hal yang perlu mendapat perhatian secara wajar dengan demikian perlakuan terhadap merekapun dapat disesuaikan sedemikian rupa sehinggamereka menjadi anggota organisasi yang bertanggung jawab terhadappekerjaannya.

c) Status perkawinan, dengan status ini secara tidak langsung dapat memberikan petunjuk cara, dan teknik motivasi yang cocok digunakan bagi para pegawaiyang telah menikah dibandingkan dengan pegawai yang belum menikah.

(38)

d) Jumlah tanggungan, dalam hal ini jumlah tanggungan seorang seorang pencari nafkah utama keluarga adalah semua orang yang biaya idupnya tergantung pada pencari nafkah utama tersebut, tidak terbatas hanya ada istri atau suami

dan anak–anaknya.

e) Masa kerja, dalam organisasi perlu diketahui masa kerja seseorang karena masa kerja seseorang merupakan satu indikator kecenderungan para pekerja dalamberbagai segi organisasional seperti ; produktivitas kerja dan daftar kehadiran.Karena semakin lama seseorang bekerja ada kemungkinan untuk mereka mangkir atau tidak masuk kerja disebabkan karena kejenuhan.

2.Kepribadian

Kepribadian seseorang juga dapat dipengaruhi motivasi kerja seseorang karena kepribadian sebagai keseluruhan cara yang digunakan oleh seseorang untuk bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain.

3.Persepsi

Interpretasi seseorang tentang kesan sensorinya mengenai lingkungan sekitarnyaakan sangat berpengaruh pada perilaku yang pada gilirannya menentukan faktor – faktor yang dipandangnya sebagai faktor organisasional yang kuat.

4.Kemampuanbelajar

Belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan tidak terbatas pada pendidikan formal yang ditempuh seseorang diberbagai tingkat lembaga pendidikan. Salah satu bentuk nyata dari telah belajarnya seseorang

(39)

adalahperubahan dalam persepsi, perubahan dalam kemauan, dan perubahan dalam tindakan.

5. Nilai – nilai yang dianut

Sistem nilai pribadi seseorang biasanya dikaitkan dengan sistem nilai sosial yang berlaku di berbagai jenis masyarakat dimana seseorang menjadi anggota.

6. Sikap

Sikap merupakan suatu pernyataan evaluatif seseorang terhadap objek tertentu, orang tertentu atau peristiwa tertentu. Artinya sikap merupakan pencerminan perasaan seseorang terhadap sesuatu.

7. Kepuasan kerja

Kepuasan kerja adalah sikap umum seseorang yang positif terhadap kehidupan organisasionalnya.

8. Kemampuan

Kemampuan dapat digolongkan atas dua jenis yaitu kemampuan fisik dan kemampuan intelektual. Kemampuan fisik meliputi kemampuan seseorang dalam menyelesaikan tugas–tugas yang bersifat teknis, mekanistik dan repetatif, sedangkan kemampuan intelektual meliputi cara berfikir dalam menyelesaikan masalah.

(40)

2.4 Dokumentasi Keperawatan

2.4.1. Pengertian Dokumentasi Keperawatan

Menurut Deswani (2011) dokumentasi adalah sesuatu yang ditulis atau dicetak, kemudian diandalkan sebagai catatan bukti bagi orang yang berwenang, dan merupakan bagian dari praktik professional.Dokumentasi keperawatan merupakan informasi tertulis tentang status dan perkembangan kondisi klien serta semua kegiatan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat (Fisbach, 1991 dalam Setiadi, 2012).

2.4.2. Tujuan Dokumentasi Keperawatan

Menurut Doenges, Moorhouse, dan Burley (1998), tujuan sistem dokumentasi keperawatan adalah untuk memfasilitasi pemberian perawatan pasien yang berkualitas, memastikan dokumentasi kemajuan yang berkenan dengan hasil yang berfikus pada pasien, memfasilitasi konsistensi antardisiplin dan komunikasi tujuan dan kemajuan pengobatan.

Sedangkan menurut Setiadi (2012), tujuan dari dokumentasi keperawatan yaitu :

a. Sebagai sarana komunikasi : dokumentasi yang dikomunikasikan secara akurat dan lengkapdapat berguna untuk membantu koordinasi asuhan keperawatan yang diberikan oleh tim kesehatan, mencegah informasi yang berulang terhadap pasien atau anggota tim kesehatan atau mencegah tumpang tindih, bahkan sama sekali tidak dilakukan untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan ketelitian dalam memberikan asuhan

(41)

keperawatan pada pasien, membantu tim perawat dalam menggunakan waktu sebaik-baiknya.

b. Sebagai Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat : sebagai upaya untuk melindungi klien terhadap kuallitas pelayanan keperawatan yang diterima dan perlindungan terhadap keamanan perawat dalam melaksanakan tugasnya maka perawat diharuskan mencatat segala tindakan yang dilakukan terhadap klien.

c. Sebagai Informasi Statistik : data statistik dari dokumentasi keperawatan dapat membantu merencanakan kebutuhan di masa mendatang, baik SDM, sarana, prasarana dan teknis.

d. Sebagai Sarana Pendidikan : dokumentasi asuhan keperawatan yang dilaksanakan secara baik dan benar akan membantu para siswa keperawatan maupun siswa kesehatan lainnya dalam proses belajar mengajar untuk mendapatkan pengetahuan dan membandingkannya, baik teori maupun praktik lapangan.

e. Sebagai Sumber Data Penelitian : informasi yang ditulis dalam dokumentasi dapat digunakan sebagai sumber data penelitian. Hal ini sarat kaitannya dengan yang dilakukan terhadap asuhan keperawatan yang diberikan sehingga melalui penelitian dapat diciptakan satu bentuk pelayanan keperawatan yang aman, efektif dan etis.

f. Sebagai Jaminan Kualitas Pelayanan Kesehatan : melalui dokumentasi yang dilakukan dengan baik dan benar, diharapkan asuhan keperawatan yang berkualitas dapat dicapai, karena jaminan kualitas merupakan bagian dari program pengembangan pelayanan kesehatan. Suatu perbaikan tidak

(42)

dapat diwujudkan tanpa dokumentasi yang kontinu, akurat, dan rutin baik yang dilakukan oleh perawat maupun tenaga kesehatan lainnya.

g. Sebagai Sumber Data Perencanaan Asuhan Keperawatan Berkelanjutan : dengan dokumentasi akan didapatkan data yang aktual dan konsisten mencakup seluruh kegiatan keperawatan yang dilakukan melalui tahapan kegiatan proses keperawatan.

2.4.3. Manfaat Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi asuhan keperawatan merupakan tuntutan profesi yang harus dapat dipertanggungjawabkan, baik dari aspek etik maupun aspek hukum. Artinya dokumentasi asuhan keperawatan yang dapat dipertanggungjawabkan dari kedua aspek ini berkaitan erat dengan aspek manajerial, yang disatu sisi melindungi pasien sebagai penerima pelayanan (konsumen) dan disisi lain melindungi perawat sebagai pemberi jasa pelayanan dan asuhan keperawatan (Hidayat, 2002) Nursalam (2011) menerangkan bahwa dokumentasi keperawatan mempunyai makna yang penting dilihat dari berbagai aspek seperti aspek hukum, kualitas pelayanan, komunikasi, keuangan, pendidikan, penelitian, dan akreditasi. Penjelasan mengenai aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut :

a. Hukum

Semua catatan informasi tentang klien merupakan dokumentasi resmi dan bernilai hukum.Bila menjadi suatu masalah (misconduct) yang berhubungan dengan profesi keperawatan, di mana sebagai pemberi jasa dan klien sebagai pengguna jasa, maka dokumentasi dapat dipergunakan

(43)

sewaktu-waktu.Dokumentasi tersebut dapat dipergunakan sebagai barang bukti di pengadilan.

b. Kualitas Pelayanan

Pendokumentasian data klien yang lengkap dan akurat, akan memberi kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah dapat diidentifikasi dan dimonitor melalui dokumentasi yang akurat. Hal ini akan membantu meningkatkan kualitas (mutu) pelayanan keperawatan.

c. Komunikasi

Dokumentasi keadaan klien merupakan alat “perekam” terhadap masalah yang berkaitan dengan klien. Perawat atau profesi kesehatan lain dapat melihat dokumentasi yang ada dan sebagai alat komunikasi yang dijadikan pedoman dalam memberikan asuhan keperawatan.

d. d. Keuangan

Dokumentasi dapat bernilai keuangan.Semua asuhan keperawatan yang belum, sedang, dan telah diberikan didokumentasikan dengan lengkap dan dapat dipergunakan sebagai acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan bagi klien.

e. Pendidikan

Dokumentasi mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut kronologis dari kegiatan asuhan keperawatan yang dapat dipergunakan sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi peserta didik atau profesi keperawatan.

(44)

f. Penelitian

Dokumentasi keperawatan mempunyai nilai penelitian.Data yang terdapat didalamnya mengandung informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan atau objek riset dan pengembangan profesi keperawatan.

h. Akreditasi

Melalui dokumentasi keperawatan akan dapat dilihat sejauh mana peran dan fungsi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan mengenai tingkat keberhasilan pemberian asuhan keperawatan yang diberikan guna pembinaan dan pengembangan lebih lanjut.

2.4.4. Prinsip-prinsip Dokumentasi

Setiadi ( 2012 ) menerangkan prinsip pencatatan ditinjau dari teknik pencatatan yaitu :

a. Menulis nama klien pada setiap halaman catatan perawat.

b. Mudah dibaca, sebaiknya menggunakan tinta warna biru atau hitam. c. Akurat, menulis catatan selalu dimulai dengan menulis tanggal, waktu dan

dapat dipercaya secara faktual.

d. Ringkas, singkatan yang biasa digunakan dan dapat diterima, dapat dipakai.

e. Pencatatan mencakup keadaan sekarang dan waktu lampau.

f. Jika terjadi kesalahan pada saat pencatatan, coret satu kali kemudian tulis kata “salah” diatasnya serta paraf dengan jelas. Dilanjutkan dengan

(45)

informasi yang benar “jangan dihapus”. Validitas pencatatan akan rusak jika ada penghapusan.

g. Tulis nama jelas pada setiap hal yang telah dilakukan dan bubuhi tanda tangan.

h. Jika pencatatan bersambung pada halaman baru, tanda tangani dan tulis kembali waktu dan tanggal pada bagian halaman tersebut.

i. Jelaskan temuan pengkajian fisik dengan cukup terperinci. Hindari penggunaan kata seperti “sedikit” dan “banyak” yang mempunyai tafsiran dan harus dijelaskan agar bisa dimengerti.

j. Jelaskan apa yang terlihat, terdengar terasa dan tercium pada saat pengkajian.

k. Jika klien tidak dapat memberikan informasi saat pengkajian awal, coba untuk mendapatkan informasi dari anggota keluarga atau teman dekat yang ada atau kalau tidak ada catat alasannya.

2.5 Persepsi

2.5.1 Pengertian Persepsi

Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagimanusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern danekstern. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Persepsi menurut Kamus Bahasa Indonesia, persepsi berarti tanggapan (penerimaan) langsung hal melalui pancainderanya (Depdiknas, 2002:). Menurut Chaplin, persepsi adalah proses mengetahui atau mengenal objek dan kejadian objektif dengan bantuan

(46)

indera Secara terminologi, terdapat beberapa rumusan tentang persepsi, diantaranya menurut Walgito, persepsi adalah mengelompokkan benda-benda yang berdekatan atau serupa, dapat memfokuskan perhatiannya pada satu objek, sedangkan objek-objek lain disekitarnya dianggap sebagai latar belakang. Kemampuan untuk membedakan, mengelompokkan, memfokuskan dan sebagainya itu, yang selanjutnya dinterpretasi (Walgito ,2004:86).

Menurut Sugihartono, dkk (2007: 8) mengemukakan bahwa persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata. Bimo Walgito (2004) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan suatu proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti, dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam bentuk. Stimulus mana yang akan mendapatkan respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang bersangkutan.

Berdasarkan hal tersebut, perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu satu dengan individu lain. Setiap orang mempunyai kecenderungan dalam melihat benda yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bisa

(47)

dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan, pengalaman dan sudut pandangnya. Persepsi juga bertautan dengan cara pandang seseorang terhadap suatu objek tertentu dengan cara yang berbeda-beda dengan menggunakan alat indera yang dimiliki, kemudian berusaha untuk menafsirkannya. Persepsi baik positif maupun negatif ibarat file yang sudah tersimpan rapi di dalam alam pikiran bawah sadar kita. File itu akan segera muncul ketika ada stimulus yang memicunya, ada kejadian yang membukanya. Persepsi merupakan hasil kerja otak dalam memahami atau menilai suatu hal yang terjadi di sekitarnya (Waidi, 2006: 118).

2.5.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi

Persepsi seseorang tidak timbul begitu saja tetapi ada faktor-faktor yang mengetahuinya, faktor- faktor inilah yang menjadi dua orang yang melihat sesuatu yang sama akan memberikan interprestasi yang berbeda tentang yang dilihat itu. Adapun faktor tersebut adalah sebagai berikut:

a. Faktor fungsional persepsi

Yang dimaksud faktor fungsional persepsi adalah faktor yang timbul dari orang yang mempersepsi kebutuhan, sikap (suara hati), kepentingan, pengalaman dan tahapan dalam mempengaruhi tanggapan seseorang terhadap sesuatu.

b. Faktor struktural persepsi

Yang dimaksud dengan faktor struktural persepsi yaitu faktor yang muncul dari apa yang akan dipersepsi, misalnya hal-hal baru seperti

(48)

gerakan, tindak-tanduk dan ciri-ciri yang tidak biasa akan turut juga dalam menentukan persepsi orang yang melihatnya.

c. Faktor situasi persepsi

Yang dimaksud situasi persepsi yaitu faktor yang muncul sehubungan karena situasi pada waktu mempersepsi sebagai contoh orang yang memakai pakaian renang di tempat yang tidak ada hubungannya dengan olahraga renang tentunya akan mempengaruhi persepsi yang dilihatnya. d. Faktor personal persepsi

Yang dimaksud dengan faktor personal persepsi yaitu: pengalaman, motivasi, kepribadian. (Subur, 2003 )Sedangkan menurut Menurut Miftah Toha (2003: 154), faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah sebagai berikut :

1) Faktor internal

Yaitu berupa perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.

2) Faktor eksternal

Yaitu berupa latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu objek.

(49)

Dari beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi di atas dapat disimpulkan bahwa faktor situasi dan sasaran lebih bersifat objektif. Artinya individu mempunyai kecenderungan yang sama terhadap objek yang akan dipersepsi sedangkan faktor pelaku lebih objektif karena individu banyak dipengaruhi untuk keadaan psikisnya.

2.5.3 Proses Terjadinya Persepsi

Individu mengenali suatu objek dari dunia luar dan ditangkap melalui inderanya. Bagaimana individu menyadari, mengerti apa yang diindera ini merupakan suatu proses terjadinya persepsi. Proses terjadinya persepsi dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Proses fisik atau kealaman

Maksudnya adalah tanggapan tersebut dimulai dengan objek yang menimbulkan stimulus dan akhirnya stimulus itu mengenai alat indera atau reseptor.

b. Proses fisiologis

Yang dimaksud dengan proses fisiologis yaitu stimulus yang diterima oleh alat indera kemudian dilanjutkan oleh syarat sensorik ke otak.

c. Proses psikologis

Yang dimaksud dengan proses psikologis adalah proses yang terjadi dalam otak sehingga seseorang dapat menyadari apa yang diterima dengan reseptor

(50)

Dokumentasi Keperawatan : 1. Pengkajian 2. Diagnosa 3. Intervensi 4. Implementasi 5. Evaluasi Factor-faktor yang mempengaruhi motivasi : 1. Karakteristik biografi : - Usia - Jenis kelamin - Status - Jumlah tanggungan - Masa kerja 2. Kepribadian 3. Persepsi 4. Kemampuan belajar 5. Nilai-nilai 6. Sikap 7. Kepuasan Kerja 8. Kemampuan

Sumber : diadaptasi dari : Siagian 2002.

itu sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterimanya. (Walgito, 2010 : 90-91). Jadi proses terjadinya persepsi itu berawal dari

objek yang menimbulkan stimulus kemudian stimulus itu mengenai alat indera, kemudian dilanjutkan oleh syaraf sensorik ke otak, dalam otak stimulus itu diproses sehingga seseorang dapat menyadari apa yang diterima dengan reseptor itu.

(51)

43

Kerangka penelitian, Hipotesis Dan Definisi Operasional

3.1 Kerangka penelitian

Kerangka penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan tujuan penelitian yaitu Persepsi perawat terkait dengan motivasi perawat pelaksana dalam melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta Persepsi perawat tentang Dokumentasi Keperawatan Factor-faktor yang mempengaruhi motivasi Karakteristik biografi : - Usia - Jenis kelamin - Status - Jumlah tanggungan - Masa kerja

(52)

No Nama Variabel

Definisi Oprasional

Cara ukur Hasil ukur Skala ukur

1 Usia Jumlah tahun yang di dari responden lahir sampai saat ini Pada data demografi 1. Remaja akhir 18- 25 tahun 2. Masa dewasa Awal = 26- 35 tahun. 3. Masa dewasa Akhir =36- 45 tahun. 4. Masa Lansia Awal = 46- 55 tahun. 5. Masa Lansia Akhir = 56 – 65 tahun. (Depkes,2009). Ordinal 2 Jenis kelamin jenis kelamin (seks) adalah perbedaan antara perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak responden lahir. Pada data demografi 1. Laki-laki 2. Perempuan Nominal

3 Status Status responden Pada data demografi 1. Lajang 2. Menikah 3. Janda/duda Nominal 4 Jumlah tanggungan banyaknya anggota keluarga yang terdiri dari istri, dan anak, serta orang lain yang turut

Pada data demografi 1. 1 anak 2. 2 anak 3. ≥ 2 anak Ordinal

(53)

keluarga berada atau hidup dalam satu rumah dan makan bersama yang menjadi tanggungan responden

5 Lama kerja dimana responden mulai bekerja sampai saat ini responden bekerja Pada data demografi 1. < 5 tahun 2. ≥ 5 tahun Ordinal 6. Persepsi perawat mengenai Dokumentasi keperawatan Cara pandang seorang responden terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan yang benar Kuisioner 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang Ordinal 3.3 Hipotesis

1) Ada kaitan antara usia dengan persepsi motivasi perawat pelaksana dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan.

2) Ada kaitan antara jenis kelamin dengan persepsi motivasi perawat pelaksana dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan.

3) Ada kaitan antara status dengan persepsi motivasi perawat pelaksana dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan.

4) Ada kaitan antara lama kerja dengan persepsi motivasi perawat pelaksana dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan.

(54)

pelaksana dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan.

(55)

47 4.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik yaitu penelitian yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang bertujuan untuk melihat gambaran fenomena (termasuk kesehatan) yang terjadi di dalam suatu populasi tertentu (Notoatmodjo, 2010,). Metode penelitian diskriptif ini dilakukan dengan pendekatan Cross

Sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi

antara faktor-faktor beresiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010). Pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian dengan menyebarkan kuesioner kepada responden dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini ingin melihat faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi motivasi perawat pelaksana dalam terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan di ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta.

4.2 Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi dari obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Setiadi, 2013). Populasi penelitian ini adalah perawat yang bekerja di ICU RSUD Tarakan Jakarta.

(56)

4.3 Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi. Sampel terdiri dari bagian populasi yang terjangkau yang dapat digunakan sebagai subyek penelitian melalui sampling. Sedangkan sampling adalah proses yang menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam, 2008). Banyak rumus pengambilan sampel penelitian yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah sampel penelitian. Pada prinsipnya penggunaan rumus-rumus penarikan sample penelitian digunakan untuk mempermudah teknis penelitian. Sebagai misal, bila populasi penelitian terbilang sangat banyak atau mencapai jumlah ribuan atau wilayah populasi terlalu luas, maka penggunaan rumus pengambilan sample tertentu dimaksudkan untuk memperkecil jumlah pengambilan sampel atau mempersempit wilayah populasi agar teknis penelitian menjadi lancar dan efisien.

Kriteria inklusi :

- Perawat yang bekerja di Ruang ICU RSUD Tarakan Jakarta - Perawat yang bersedia menjadi responden

- Perawat yang dalam kondisi sehat kriteria ekslusi :

- Perawat yang bekerja di ruang rawat inap - Perawat yang tidak bersedia menjadi responden - Perawat yang dalam kondisi sakit

Gambar

Tabel 4.1 Tingkat reliabilitas berdasarkan nilai alpha ( ά )
Tabel 5.1 Frekuensi jenis kelamin  responden  Di  RSUD Tarakan Jakarta
Tabel 5.2 Frekuensi usia responden  Di  RSUD Tarakan Jakarta
tabel 5.6 Frekuensi status responden  Di  RSUD Tarakan Jakarta
+3

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya hasil tersebut memiliki hasil yang tidak sama dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya yaitu Pramudyo (2010) pada dosen negeri kopertis wilayah

Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan hasil yang sesuai dengan hipotesis, penelitian , bahwa faktor resiko kejadian gizi kurang pada balita di desa gayaman

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti di Wilayah Kerja Puskesmas Antibar yang menganalisis hubungan pengetahuan dengan perilaku ibu dalam

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: Ada hubungan antara kebiasaan merokok anggota keluarga dalam rumah dengan penyakit

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan setelah dilakukan pengolahan data kuesioner untuk mempelajari fakto-faktor pengetahuan penganan nyeri haid (dismenorea)

Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan di RT 35 Kahoi 2 Samarinda terhadapa ambang dengar masyarakat berdasarkan umur responden didapatkan hasil yaitu usia

Hasil uji toksisitas akut dengan lama pengamatan 48 jam, didapatkan hasil bahwa pada pemberian sarang burung wallet putih (Aerodramus fuchipagus) hingga dosis

7 Terdapat usaha mengintegrasikan hasil kegiatan penelitian dan pengabdian dosen dalam proses penyusunan RPS 2 3 8 Terdapat bentuk dan metode yang berbeda digunakan prodi 2 3 9