• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL SNOWBALL THROWING BERBANTUAN MEDIA TEKA- TEKI SILANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL SNOWBALL THROWING BERBANTUAN MEDIA TEKA- TEKI SILANG"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

185

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA

MELALUI MODEL SNOWBALL THROWING

BERBANTUAN MEDIA TEKA- TEKI SILANG

1

Diah Kurniawati, 2 Sunardi

Program Studi PGSD-FKIP, Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50711, Indonesia

E-mail : 1 [email protected], 2 [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA melalui model snowball throwing berbantuan media teka-teki silang. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian menggunakan 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklusnya terdiri dari 3 pertemuan dan setiap pertemuan 2 kali jam pelajaran. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Pulutan 1 yang berjumlah 12 siswa. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik tes. Hasil penelitian ketuntasan siswa yang didapat pada pra siklus hanya 5 siswa atau 41,7% meningkat pada siklus I menjadi 9 siswa atau 75% dan siklus II meningkat lagi menjadi 10 siswa atau 83,3%. Dari perolehan nilai siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang berhasil karena dari hasil belajar yang rendah menjadi tuntas dengan indicator >80 yang menunjukkan keberhasilan. Berdasarkan analisa tersebut penggunaan model snowball throwing berbantuan media teka-teki silang disarankan untuk meningkatkan hasil belajar IPA.

(2)

186 PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Karena dengan adanya pendidikan dapat melahirkan generasi baru yang cerdas, berilmu, dan bertaqwa dalam menghadapi masa yang akan datang. Seperti yang dijelaskan dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan prestasi dirinya untuk kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan di masyarakat, bangsa dan Negara. Dalam hal ini pendidikan IPA mempunyai peranan yang penting dalam pendidikan nasional (Trianto, 2009: 1). Penyelenggaraan pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar dan mengajar (KBM). Menurut Witherington (Marno,2008: 37), Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses yang dilakukan oleh guru dalam mengembangkan kegiatan belajar siswa.

Kegiatan observasi yang dilakukan di SD Negeri Pulutan 1 pada siswa kelas IV dapat diketahui penyebabnya antara lain : guru kurang menguasai materi yang akan diajarkan, guru kurang tepat memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan, guru kurang menguasai kelas, soal yang diajukan guru tidak sesuai dengan indikator pembelajaran, siswa tidak aktif dalam proses pembelajaran. Solusi peneliti adalah guru harus pandai - pandai memilih model mana yang cocok digunakan dalam pembelajaran supaya siswa hasil belajar siswa meningkat, siswa aktif, siswa berani berpendapat, siswa tertarik mengikuti pembelajaran dan tidak cepat merasa bosan. Salah satu model yang cocok digunakan adalah Snowball Throwing berbantuan media teka-teki silang dalam pembelajaran IPA.

Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Nurjana Tri Afdhila (2013) yang memperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang dalam pembelajaran IPA SDN Gunungpati 03 Semarang dapat meningkatkan hasil

belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa meningkat dari siklus I sebesar 60,53 menjadi 72,76 pada siklus II. Ketuntasan belajar individual secara klasikal juga meningkat dari siklus I 55,56% menjadi 77,78%.

Berdasarkan permasalahan diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: “apakah penerapan pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang dapat meningkatkan hasil belajar IPA?”. Sedangkan tujuan penelitian yang akan dicapai adalah untuk “meningkatkan hasil belajar IPA dengan menerapkan model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang.

KAJIAN PUSTAKA

IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)

IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis, penerapannya terbatas pada gejala alam, lahir, berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi, eksperimen, serta menuntut sikap ilmiah seperti rasaingin tahu, jujur, terbuka (Trianto, 2012: 136). Sesuai pendapat (Samatowa, 2011: 3) IPA membahas gejala-gejala alam disusun secara sistematis berdasarkan hasil percobaan dengan pengamatan yang dilakukan manusia, memiliki objek dan menggunakan metode ilmiah.

Pembelajaran IPA adalah interaksi antara komponen-komponen pembelajaran dalam bentuk proses pembelajaran IPA. Proses pembelajaran IPA terdiri atas tiga tahap, yaitu perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran (Wisudawati dan Sulistyawati, 2014: 26).

Snowball Throwing

Snowball Throwing atau yang sering dikenal dengan snowball Flight merupakan pembelajaran yang diadopsi pertama kali dari game fisik dimana segumpalan salju dilempar dengan maksud untuk memukul orang lain. Dalam konteks pembelajaran, snowball throwing yang diterapkan dengan melempar segumpalan kertas untuk merujuk siswa yang

(3)

187 diharuskan menjawab soal dari guru.Siswa yang mendapat bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaan didalamnya (Miftahul Huda, 2013:226-227).

Langkah-langkah model Snowball Throwing menurut Suprijono (2009: 128) adalah: a) penyampaian materi oleh guru; b) pembentukan kelompok, pemanggilan ketua kelompok untuk memberikan penjelasan materi; c) penjelasan materi dari ketua kelompok kepada anggota; d) pemberian lembar kertas kerja kepada siswa untuk menuliskan pertanyaan mengenai materi; e) pembuatan kertas berisi pertanyaan menjadi bola dan pelemparan bola kertas dari satu siswa ke siswa lain; f) siswa mendapat bola kertas, menjawab pertanyaan dalam kertas secara bergantian; g) evaluasi; h) penutup. Teka-teki Silang

Pada dasarnya teka-teki silang dapat mengasah ketajaman otak, karena memaksa orang untuk menggunakan ketajaman pikiran dan daya ingat. Sesuai pendapat Cahyo (2011: 63) orang harus mengingat, mencari, dan mencocokkan kata yang pas tidak hanya sesuai jawaban, tetapi juga jumlah kotak yang disediakan.

Adapun prosedur atau langkah-langkah dalam teka-teki silang menurut Silberman (2010: 252) adalah: 1) membuat kotak teka-teki silang sederhana; 2) membuat petunjuk untuk kata-kata dalam teka-teki silang; 3) membagikan kepadasiswa, baik individual ataupun kelompok; dan 4) menentukan batas waktu pengerjaan.

Hasil Belajar

Menurut Hadari Nawawi (1998:100), hasil belajar adalah tingkatan keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes, mengenai sejumlah materi tertentu. Sesuai dengan pendapat Tulus Tu’u (2004:75) mendefinisikan hasil belajar siswa sebagai berikut: hasil belajar siswa dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau angka dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor yang ada dari

dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari luar diri siswa. Hasil belajar nantinya terpengaruh oleh bagaimana siswa dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap kedua faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa itu sendiri.

Penelitian yang Relevan

Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi K Bothmir (2011) menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I mengalami peningkatan siswa yang dikatakan tuntas sebanyak 25 siswa (55,56%). Pada siklus II meningkat lagi yaitu siswa yang tuntas sebanyak 42 (93.34) siswa. Sedangkan Wahyu Sri Indarti (2011) menyimpulkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum menggunakan model snowball throwing, persentase ketuntasan klasikal 33,3% dengan rata-rata kelas 43,8. Setelah menggunakan model snowball throwing pada siklus I, persentase ketuntasan klasikal 57,1% dengan rata-rata kelas 67,6. Sedangkan pada siklus II, persentase ketuntasan klasikal 85,7% dengan rata-rata kelas 80,1. Hal ini berarti bahwa model pembelajaran snowball throwing dapat terbukti meningkatkan hasil belajar siswa.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dikembangkan oleh Kemmis &Taggart yang dimulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.

Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian dilakukan di SD Negeri Pulutan 1 yang beralamat di desa Pelem kelurahan Pulutan kecamatan Nogosari kabupaten Boyolali. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV yang berjumlah 12 siswa terdiri dari 5 siswa perempuan dan 7 siswa laki-laki.

Definsi Operasional Variabel Penelitian Dalam Penelitian tindakan kelas terdapat 2 variabel yaitu satu variabel bebas (X) dan satu variabel terikat (Y). Definisi operasional dalam penelitian ini adalah Variable bebas dalam penelitian yang

(4)

188 dilakukan adalah model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang sebagai X. Sedangkan sebagai variable terikat adalah hasil belajar IPA yang berupa hasil tes siswa. Dapat didefinisikan bahwa model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang dapat meningkatkan hasil belajar IPA.

Teknik Pengumpulan Data dan Instrument Penelitian

Pengumpulan data yang dilakukan yaitu melalui observasi di kelas IV SD Negeri Pulutan 1 mengenai proses belajar mengajar di kelas tersebut, wawancara dengan guru kelas IV mengenai permasalahan yang terjadi, dokumentasi nilai pra siklus siswa dan tes evaluasi setelah 1 siklus selesai. Pedoman observasi yang digunakan pada penelitian ini ada dua jenis yaitu pedoman observasi untuk mengamati aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran dan pedoman observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

Uji validitas dilakukan untuk mengukur ketepatan dan mengukur sesuatu yang seharusnya diukur ditegaskan oleh pendapat Ariffin, (2012). Tingkat validitas suatu instrument dapat diketahui dengan cara mengkorelasikan setiap skor pada butir instrument dengan total skor setelah dikurangi skor butirnya sendiri atau di sebut correted item to total correlation. Tujuannya agar instrument yang digunakan mengukur apa yang harus diukur. Setelah soal diuji validitas pada SDN Pulutan 1 kelas V, siklus I dari 30 soal terdapat 23 soal yang valid sedangkan siklus II dari 30 soal terdapat 20 soal yang valid.

Sedangkan uji reliabilitas bertujuan untuk mengetahui instrument yang diukur memberikan hasil yang konstan dan ajeg. Hasil uji siklus I angka cronbach’s alpha sebesar 0, 960 dan siklus II cronbach’s alpha menunjukkan angka 0, 872. Hasil tersebut menguji kembali dengan menghilangkan soal yang tidak valid. Hasilnya instrument siklus I dan II ˃0,8 artinya instrument tersebut baik.

Teknik Analisis Data

Teknis analisis data menggunakan analisis uji ketuntasan dan analisis deskriptif komparatif. Analisis uji ketuntasan adalah analisis membandingkan skor yang diperoleh dengan KKM. Sedangkan deskriptif komparatif yaitu membandingkan hasil dari prasiklus, siklus I dan siklus II melalui penyajian data dalam bentuk tabel, skor maksimal, skor minimal, dan perhitungan persentase.Kemudian membuat kesimpulan berdasarkan hasil deskripsi data.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis data pra siklus, siklus I dan siklus II terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Dibawah ini, terdapat tabel perbandingan persentase ketuntasan dan ketidaktuntasan pada pra siklus, siklus I dan siklus II:

Perbandingan Persentase Ketuntasan Dan Ketidaktuntasan

Pada Tahap Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan rekapitulasi hasil belajar siswa dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa pada tahap pra siklus, siklus I dan siklus II mengalami peningkatan yang ditandai dengan jumlah siswa yang memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan KKM (65) dalam mata pelajaran IPA terus meningkat. Perbandingan persentase hasil belajar siswa pada pra siklus, siklus I dan siklus II yang dapat dilihat pada gambar diagram batang dibawah ini:

(5)

189 Berdasarkan rekapitulasi hasil belajar siswa pada pra siklus masih rendah hal ini ditunjukkan dengan perolehan ketuntasan hasil belajar dari 12 siswa jumlah siswa kelas IV hanya 5 siswa atau 41,7% yang dinyatakan tuntas dan sisanya 7 siswa atau 58,3% masih belum tuntas dengan nilai rata-rata 61,6% kemudian nilai maksimal 80 sedangkan nilai minimal 40.

Hasil belajar siswa yang ditingkatkan dengan menerapkan model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang dilakukan dalam 2 siklus, setiap iklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Diketahui dapat menunjukkan adanya peningkatan jumlah siswa yang mendapat nilai tuntas yaitu 9 siswa atau 75% sedangkan siswa yang tidak tuntas sebanyak 3 siswa atau 25% dengan perolehan rata-rata 72,91. Kemudian nilai maksimal 90 dan nilai minimal 50. Meskipun perolehan nilai pada siklus I sudah menunjukkan peningkatan hasil belajar IPA namun indicator hasil belum menunjukkan keberhasilan sebesar >80, maka dilanjutkan dengan kegiatan siklus II sebagai tindak lanjut dan penyempurnaan dari kegiatan siklus I. Hasil kegiatan siklus II yang dilaksanakan sebagai kegiatan tindak lanjut dan penyempurnaan dari siklus I diperoleh hasil belajar yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan kegiatan siklus I. Berdasarkan analisis data perolehan hasil belajar IPA siswa kelas IV menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dibanding siklus I yaitu sebanyak 10 siswa atau 83,3% mendapatkan ketuntasan nilai yang memenuhi (KKM=65) yang telah ditetapkan sehingga hasil belajar IPA mengalami peningkatan hasil belajar dibanding kegiatan siklus I. Hal ini berdasarkan data perolehan nilai IPA yang sudah menunjukkan kriteria ketuntasan secara keseluruhan dengan indikator keberhasilan

yang menunjukkan > 80% dengan begitu penerapan model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang pada kegiatan siklus II telah berhasil dilaksanakan sebagai tindak lanjut dan penyempurnaan dari kegiatan siklus I. Perolehan nilai terdapat 10 siswa atau 83,3% mendapatkan nilai tuntas sedangkan 2 siswa atau 16,7% tidak tuntas dengan nilai rata-rata 80,41. Kemudian nilai maksimal 95 dan nilai minimal 55.

Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang pada siklus II telah berhasil meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Pulutan 1 semester II tahun pelajaran 2016/2017 dibanding dengan siklus I dan indicator keberhasilan menunjukkan > 80.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dalam dua siklus dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPA dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang. Peningkatan dapat dilihat dari peningkatan angka persentase ketuntasan belajar siswa pada pra siklus yang hanya 41,7% meningkat menjadi 75% pada siklus I dan mencapai 83,3% pada akhir siklus II.

Walaupun masih terdapat 16,7% siswa yang tidak tuntas pada siklus II, penelitian ini telah berhasil karena ketuntasan telah mencapai 83,3% lebih besar dari indikator yang ditetapkan dalam penelitian yaitu sebesar 80%. Dengan demikian, penelitian tindakan kelas yang dilakukan berhasil dan terbukti bahwa model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA.

Saran

Sebagai implikasi dari hasil penelitian, berikut dikemukakan rekomendasi yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan IPA di SD. Guru hendaknya dapat memilih dan menerapkan

(6)

190 model pembelajaran yang menyenangkan, kreatif dan inovatif. Selain itu, seorang guru harus menggunakan media pembelajaran yang menarik dan bervariasi untuk membuat suasana belajar yang tidak membosankan dan siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Siswa hendaknya dapat mengikuti pembelajaran IPA yang dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang aktif bertanya dalam proses pembelajaran. Sekolah hendaknya memfasilitasi guru dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan mutu kualitas sekolah. Sedangkan bagi peneliti yang akan datang hendaknya dapat memperbaiki dan menerapkan model pembelajaran snowball throwing berbantuan media teka-teki silang dengan menarik dan lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Afdhilla, N. T. 2013. Penerapan Model Snowball Throwing dengan Media TTS untuk Meningkatkan Aktivitas Siswa pada Pembelajaran IPA kelas IV SDN Gunungpati 03 Semarang . (http://jurnal-unnes.ac.id, diakses tanggal 31 Januari 2017 pukul 14:10) Bothmir, D. K. 2011. Penerapan model

pembelajaran snowball throwing untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Madyopuro 2 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang . (http://journal.um.ac.id, diakses tanggal 20 Februari 2017 pukul 15:40)

Huda, Miftahul. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Indarti, W. S. 2011. Penerapan model snowball throwing untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IVB SDN Tlogomas 02 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang . (http://jurnal-online.um.ac.id, diakses tanggal 20 Februari 2017 pukul 16:30)

Nawawi, H. 1998. Metode Penelitian Bidang Sosial . Jakarta: Gadjah Mada University Press.

Samatowa, Usman . 2011. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Indeks. Silberman. 2010. Active Learning 101 Cara

Belajar Siswa Aktif . Jakarta: Nuansa Cendikia.

Slameto. 2015. Metodologi Penelitian dan Inovasi Pendidikan . Salatiga: Satya Wacana University Press.

Sugiyono . 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif R& D. Bandung: Alfabeta. Sulistya, Wardani Naniek, dkk. 2012. Asesmen

Pembelajaran SD . Salatiga: Widya Sari.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning . Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Tampubolon, Saur. 2014. Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta: Erlangga.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana . Widi, Wisudawati Asih, dkk. 2014. Metodologi

Pembelajaran IPA . Jakarta: PT Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran penemuan terbimbing ( guided discovery ) berbantu media teka-teki silang ( crossword puzzle )

Teka-teki silang bermodel discovery learning merupakan pengembangan dari bahan ajar untuk kelas X semester genap berdasarkan Kurikulum 2013 Implementasi 2016 diharapkan

IPA kelompok yang dibelajarkan melalui model pembelajaran snowball throwing berbantuan media audiovisual dan kelompok yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada

Nilai tersebut diperoleh dari hasil pelaksanaan tes hasil belajar siswa untuk kelas eksperimen yang diberikan perlakuan dengan menggunakan media permainan teka-teki silang, sedangkan

Namun, setelah mengimplementasikan media teka-teki silang terjadi peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa yaitu sebanyak 88% dalam siklus terakhir yang menandakan bahwa, target

Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui proses pembelajaran IPS menggunakan media pembelajaran teka-teki silang kelas 9 MTs Miftahul Huda mulai dari perencanaan, implementasi dan

Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan terlihat bahwa produk media pembelajaran Teka-Teki Silang yang dikembangkan pada materi Bangun Ruang Sisi Datar layak dan efektif

Pengembangan media teka-teki silang pada pembelajaran IPS secara daring kelas VIII SMP materi masa