• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII KESIMPULAN DAN REFLEKSI TEORETIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VIII KESIMPULAN DAN REFLEKSI TEORETIK"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VIII

KESIMPULAN DAN REFLEKSI TEORETIK

8.1. Kesimpulan

Sebagaimana diuraikan pada bab-bab sebelumnya, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Penerimaan khalayak media massa online terhadap kampanye hitam pada Pilpres 2014 yang bersifat heterogen dipengaruhi oleh latar belakang ideologi politik, status sosial, faktor kultural, pengalaman masa lalu, dan karakter keluarga. Sebagaimana karakter informan penelitian ini yang sejak awal sengaja dipilih informan yang bervariasi latar belakangnya. Dari aspek ideologi politik mengacu pada pemahaman ideologi politik aliran karena di Yogyakarta hal ini masih fenomenal. Akan tetapi, terkait dengan dukungan Pilpres 2014 karakter politik aliran tidak begitu termanifestasi secara tegas seperti karakternya dalam Pemilu Legislatif. Konstituen Pilpres 2014 lebih longgar keterikatan ideologi politiknya, dan yang menonjol hanya pada isu Islam politik yang lebih syariat, Islam tradisional-kulturalis, dan nasionalis. Meskipun demikian, isu primordialisme masih cukup mewarnai dalam isi pesan kampanye Pilpres 2014 melalui media online, seperti perbedaan agama, ras, dan paham ideologi komunisme. Isu ini direproduksi untuk menegaskan kehadirannya dalam wacana publik.

(2)

8.1.1. Faktor Ideologis

Isu primordialisme tersebut lebih banyak disebarkan oleh kubu KMP yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta, dengan terus menyerang bahwa Jokowi bukan Islam, ada keturunan Cina, dan berpaham komunis. Penghembusan isu ini khas dilakukan oleh kelompok Islam politik yang lebih menghendaki terintegrasinya negara dan agama, atau lebih sering dikenal sebagai partai politik berasas Islam, seperti PKS, PPP, dan sedikit banyak juga PAN yang memang merupakan bagian dari KMP. Terhadap isu bahwa Jokowi beragama Kristen, khalayak ternyata juga beragam penerimaannya mengikuti keragaman latar belakang ideologi kepartaian dan keormasan. Bagi khalayak yang secara ideologis lebih Islamis seperti PKS, PPP, dan PAN misalnya, mereka cukup sensitif terhadap isu kadar keislaman seorang calon Presiden. Demikian pula khalayak yang memiliki latar belakang keormasan seperti Muhammadiyah, FPI, HTI, dan KAMI. Jadi ketika media massa online menghembuskan isu yang meragukan keislaman Jokowi, maka semakin mempertegas penolakannya terhadap Capres tersebut. Kelompok ini juga sangat sensitif terhadap isu ideologi komunis dan rasialis-kecinaan.

Bagi kelompok Islamis, soal kadar keislaman Capres adalah sangat penting, karena bagi mereka senantiasa menggunakan pertimbangan keterwakilan umat Islam, yang secara kuantitas memang mayoritas. Kelompok ini tidak rela jika bangsa Indonesia yang 90 persen memeluk Islam dipimpin oleh nonmuslim atau orang yang diragukan keislamannya. Oleh karena itu,

(3)

kelompok ini di samping sensitif dengan isu muslim-nonmuslim, juga memainkannya sebagai instrumen mempengaruhi konstituen. Ketika khalayak ini menerima terpaan isu bahwa Jokowi beragama Kristen, mereka begitu percaya dan sangat kecewa, sehingga mempertegas penolakan terhadap pencalonan Jokowi sebagai Capres. Setidaknya khalayak kategori kelompok ini semakin meragukan kadar keislaman Jokowi, meskipun berulangkali juga mendapat terpaan yang menetralisir isu tersebut. Khalayak yang berafiliasi pada ormas seperti Muhammadiyah sangat sensitif terhadap kristenisasi. Rivalitas terhadap gerakan zending agama Kristen di Yogyakarta sudah berlangsung sejak berdirinya Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan. Paham kemuhammadiyahan yang ditanamkan melalui berbagai institusi strategis seperti lembaga pendidikan dan keluarga, terus berhasil memelihara sikap kritis terhadap gerakan kristenisasi. Setidaknya berkembang persepsi bahwa Jokowi atau PDIP sering dianggap oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah dekat dengan orang Kristen. Bahkan mereka beranggapan bahwa Jokowi dan PDIP akan dimanfaatkan oleh orang-orang Kristen untuk kepentingan penyebaran agama Kristen.

Demikian pula ketika menerima isu rasialis bahwa Jokowi adalah keturunan Cina juga sangat sensitif. Kelompok Islamis sangat resah terhadap isu tersebut dan karena itu semakin menolak pencalonan Jokowi sebagai Capres. Terutama dari kelompok Muhammadiyah sangat gelisah dengan dominasi etnis Cina terhadap sektor perekonomian. Bagi Muhammadiyah dominasi ekonomi oleh etnis Cina adalah mempersempit peluang berdagang bagi Islam modernis. Kultur berdagang sangat berkembang di kalangan umat Islam yang berafiliasi

(4)

kepada ormas keagamaan seperti Muhammadiyah, LDII, Majelis Tafsir Al Qur‟an (MTA) dan lain-lain yang bergerak di bidang perdagangan. Kelompok ini meyakini Hadist Nabi yang mengatakan bahwa 9 dari 10 rejeki yang diberikan Tuhan adalah berdagang. Oleh karena itu kelompok ini memiliki rivalitas tinggi terhadap etnis Cina karena sama-sama bergerak di bidang perdagangan. Dengan demikian, ketika Jokowi mendapat kampanye negatif yang diisukan berketurunan Cina, semakin mendapat penolakan terhadap pencalonan Jokowi sebagai presiden. Setidaknya mereka begitu percaya terhadap cara kampanye negatif melalui media massa online yang memaparkan secara rinci logika bahwa Jokowi adalah keturunan Cina.

Sementara itu reaksi berbeda datang dari kalangan konstituen PDIP, Partai Nasdem, Hanura, dan juga PKB. Pandangan dari pemilih PDIP menanggapi semua isu primordial yang diekspose oleh media massa online, sama sekali menolaknya. Bagi pendukung PDIP dan juga Nasdem serta Hanura, semua kampanye negatif yang ditujukan terhadap Jokowi ditanggapi sebagai kebohongan. Isu bahwa Jokowi beragama Kristen, komunis, dan ada keturunan Cina tidak begitu dipedulikan, dalam arti tetap mendukungnya. Kelompok ini meyakini bahwa kampanye seperti itu memang sengaja dihembuskan oleh kubu KMP untuk mendiskreditkan Jokowi, sehingga tidak mempercayainya. Konstituen partai pendukung KIH senantiasa bersikap selektif terhadap isi pesan kampanye negatif yang dilakukan oleh kubu KMP melalui media massa online.

Menarik adalah penerimaan khalayak yang memiliki latar belakang politik sebagai pendukung PKB. Meskipun PKB juga masuk dalam kategori

(5)

Partai berbasis umat Islam, terutama dari kalangan Islam tradisionalis; akan tetapi cukup kritis terhadap isu primordialisme yang dihembuskan melalui kampanye negatif. Mereka tidak begitu percaya bahwa Jokowi adalah beragama Kristen dan memiliki garis keturunan Cina. Penerimaan konstituen PKB terhadap kampanye negatif melalui media massa online, sepanjang menyangkut primordialisme, disikapi secara kritis atau setidaknya bersikap permisif. Bahkan terhadap isu bahwa Jokowi adalah komunis, konstituen PKB tidak mempercayainya, meskipun secara historis Islam tradisionalis, yaitu umat NU, memiliki riwayat konfliktual dengan gerakan komunis pada tahun 1965.

Penerimaan selektif terhadap kampanye negatif yang menggunakan isu primordialisme juga ditunjukkan oleh konstituen Parpol pendukung KMP, seperti Golkar dan bahkan juga Partai Gerinda sendiri. Konstituen dari kedua Parpol tersebut tidak begitu percaya dengan isu yang mendiskreditkan Jokowi melalui isu primodialisme. Kelompok ini mempertanyakan kebenaran isu tersebut, dan tidak cenderung percaya terhadap anggapan yang berkembang bahwa Jokowi adalah seorang komunis, beragama Kristen, dan keturunan Cina. Meskipun mereka ini menyatakan tidak mendukung pencalonan Jokowi sebagai presiden, tetapi pertimbangan yang digunakan adalah bukan isu primordial. Mereka lebih menggunakan pertimbangan yang lebih rasional, yaitu aspek kompetensi dan sumber daya yang dimiliki oleh Prabowo sebagai calon presiden. Bagi konstituen Partai Golkar dan Gerinda, memilih Prabowo lebih karena dianggap lebih mampu memimpin negara ini ketimbang Jokowi; bukan karena faktor-faktor agama, ras, maupun ideologi komunis. Jadi karakter

(6)

penerimaan kelompok ini lebih kritis ketika mendapat terpaan kampanye negatif.

Lantas bagaimana penerimaan dari khalayak media massa online yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta ketika menyikapi kampanye negatif yang diekspose detik.com berisi tentang isu pelanggaran HAM, bertangan besi, dan bangkrut yang tercermin pada sosok Prabowo. Secara umum kelompok ini juga menyadari bahwa semua itu memang merupakan kampanye negatif yang bertujuan mendeskriditkan atau melakukan pembunuhan karakter terhadap Prabowo, yang tujuannya adalah menggagalkan pencalonannya sebagai presiden. Apa pun yang diekspose detik.com menurut konstituen yang condong ke kubu KMP adalah upaya untuk membuat citra negatif seorang Prabowo.

Ketika menerima isu bahwa Prabowo pernah melakukan pelanggaran HAM ketika masih aktif menjadi tentara pada era Orde Baru, para konstituen yang pro KMP cenderung tidak begitu mempedulikannya. Umumnya mereka memang tidak begitu menolak terhadap tujuan itu, tetapi selalu berargumen bahwa itu adalah masa lalu yang tidak perlu diungkit lagi. Terhadap isu bahwa Prabowo bangkrut atau tidak membayar pajak terkait dengan berbagai perusahaannya, penerimaan khalayak yang pro KMP cenderung tidak peduli. Bahkan sebagian sering berargumen bahwa isu semacam itu hanyalah cara untuk menjatuhkan citra Prabowo.

Sedangkan khalayak yang pro kubu KIH cenderung membenarkan isu tersebut, bahwa Prabowo memang pelanggar HAM ketika masih menjadi tentara pada era Orde Baru. Isu tentang Prabowo berperan penting dalam penciptaan

(7)

kerusuhan Mei 1998 di Jakarta dan Solo oleh kubu KIH cenderung memperoleh pembenaran. Atau paling tidak, isu semacam itu telah membuat semakin memperkuat penolakannya sebagai calon presiden, dan sebaliknya memperkuat dukungannya terhadap pasangan Jokowi-JK. Juga berkembang kekhawatiran atas gaya kepemimpinan yang cenderung keras, bertangan besi, otoriter, dan semaunya sendiri terus berkembang di kalangan khalayak pendukung KIH jika kelak kemudian hari memimpin negara ini. Semua itu merupakan reaksi penerimaan atas terpaan media massa online yang berisi kampanye negatif. Setiap pesan kampanye hitam yang diekspose media massa online baik okezone.com maupun detik.com, oleh komunitas netizen diangkat menjadi wacana dan kemudian diseleksi menurut interpretasi masing-masing. Pesan tidak diterima begitu saja sebagaimana yang ditransmisikan oleh media massa.

8.1.2. Faktor Lembaga Keluarga

Proses penerimaan kampanye negatif juga mengalami seleksi dari latar belakang keluarga. Tampaknya keberadaan keluarga sebagai penanam dan sosialisasi nilai cukup menjadi rujukan ketika menseleksi sebuah pesan kampanye negatif melalui media massa online. Ketika mendapat isu tentang keterkaitan Jokowi dengan komunisme, sebagian netizen merujuknya terhadap nilai yang ditanamkan keluarga. Bagi keluarga Islamis dan dari kalangan keluarga TNI, isu komunis begitu sensitif. Ada informan yang mengaku bahwa oleh ayahnya langsung diminta tanpa resep harus memilih Prabowo karena ia berasal dari keluarga tentara. Namun informan ini mencoba bersikap selektif,

(8)

dan terus mencoba untuk mempertimbangkan aspek lain dalam memilih pasangan calon presiden 2014. Artinya, bahwa di kalangan keluarga TNI, secara otomatis mendukung pencalonan Prabowo sebagai presiden, sehingga ketika menerima terpaan kampanye negatif tentang Prabowo praktis tidak berpengaruh.

Keluarga tentara juga cenderung sensitif terhadap isu komunis, sehingga ketika Jokowi diisukan melalui kampanye negatif tersangkut komunis, maka keluarga tentara cenderung resisten. Nilai yang tertanam melalui institusi keluarga cenderung mengontrol perilaku memilih, sehingga isi pesan kampanye negatif melalui media massa online lebih digunakan sebagai penguat atas nilai yang telah ada sebelumnya. Terutama itu di kalangan usia muda yang tidak begitu tertarik pada isu politik, maka ketika memilih lebih karena mengikuti kehendak keluarga. Memang ada informan yang mengaku lebih bebas dalam memilih pasangan calon pada Pilpres 2014. Bahkan ada informan yang mengaku bahwa antara istri dan suami memiliki calon pasangan sendiri-sendiri yang berbeda. Akan tetapi, khalayak seperti itu lebih banyak datang dari mereka yang telah memiliki budaya politik partisipan dan lebih melek politik.

Terkait dengan isu HAM itu, pada sisi lain juga berkaitan dengan pengalaman masa lalu bagi informan yang pernah mempunyai pengalaman buru. Sejumlah informan yang mengaku memiliki pengalaman tidak mengenakkan, atau pernah mengetahui dengan mata kepala sendiri atas kekerasan yang dilakukan oleh tentara, terbukti juga sensitif dengan isu HAM. Ketika menyaksikan peristiwa pada kerusuhan 1998, pengalaman itu sekaligus menjadi referensi untuk pertimbangan pilihan. Bahkan informan ini mengaku bahwa

(9)

keluarganya kurang suka dengan perilaku tentara yang mengedepankan kekerasan. Jadi menurut informan ini ekspose media tentang isu pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Prabowo adalah pembenaran atas pengalaman yang pernah diperoleh. Jadi ketika media memberitakan tentang pelanggaran HAM oleh calon presiden, maka kelompok netizen yang sebelumnya punya pengalaman buruk dengan TNI, merasa mendapatkan penguatan dari media.

Sementara itu informan dari keluarga santri juga mengaku lebih banyak merujuk pada nilai-nilai keluarga ketika menerima isu komunisme. Peran keluarga cukup dominan dalam menyikapi isi pesan yang mengandung paham komunis. Tafsir yang berkembang atas isu Jokowi adalah komunis, maka keluarga santri langsung mengaitkannya dengan peristiwa 1965. Jadi ini lebih disebabkan karena nilai yang ditanamkan dari orangtua yang sempat mengalami peristiwa tersebut. Bahkan juga ada yang mengaitkannya dengan dominan Cina. Jika komunis menang, maka itu artinya sama dengan mengundang Cina menjajah Indonesia. Namun demikian, generasi muda tetap berusaha bersikap otonom ketika menerima pesan kampanye negatif. Meskipun orangtuanya menganjurkan atas nilai dan pengalaman yang dipunyai ketika harus menjatuhkan pilihan terhadap pasangan calon, tetapi informan muda cenderung mempertimbangkan aspek lain. Oleh karena itu, ketika menerima terpaan kampanye negatif atas pasangan calon presiden yang dihembuskan oleh media massa online, mereka ini berusaha menyikapinya secara kritis, atau paling tidak berusaha bersikap selektif.

(10)

Sementara bagi keluarga yang memiliki latar belakang komunis, memang lebih cenderung memilih Jokowi, sehingga ketika mendapat terpaan kampanye negatif dari kedua kubu yang bersaing melalui media massa online, cenderung merujuk pada pengalaman yang tidak mengenakan. Selama era Orde Baru keluarga komunis mendapat perlakuan tidak adil, banyak mendapat ejekan, diskriminasi, dan ditutup peluangnya untuk masuk ke birokrasi pemerintah. Bagi keluarga komunis, kebanyakan memiliki pengalaman traumatik dengan tentara yang memperlakukan dengan penuh kekerasan. Oleh karena itu, ketika mendapat terpaan isu tentang pelanggaran HAM yang dilakukan Prabowo, maka netizen yang berlatarbelakang komunis ini semakin mempertegas penolakannya. Dengan demikian, latar belakang keluarga dan pengalaman buruk dengan tentara adakalanya mengurangi sikap kritis terhadap pesan kampanye negatif, meskipun kemudian juga mempertegas sikap sebelumnya. Oleh karena itu, isu pelanggaran HAM bagi netizen yang memiliki latar belakang keluarga komunis, merupakan isu sensitif.

8.1.3. Faktor Kultural

Terhadap isu kultural, seperti berkembangnya anggapan bahwa hanya sosok orang yang berkultur priyayi yang patut memimpin bangsa, juga mendapat respons beragam. Dalam kubu KMP terus dihembuskan kampanye negatif, bahwa sosok Jokowi adalah tidak wangun sebagai presiden, karena bukan berkultur priyayi. Dalam konstruksi kelompok berkultur priyayi, sosok presiden harus gagah, rupawan, dan berpenampilan menarik. Karena itu sosok

(11)

Jokowi selalu dianggap tidak pantas menjadi presiden, berwajah ndeso, culun, dan kurang rupawan. Atau secara kultural Jokowi adalah sosok orang berkultur abangan, yang hanya pantas menjadi kawula.

Dalam kubu KMP juga diwacanakan bahwa yang patut menjadi presiden adalah sosok prajurit atau berlatar belakang militer. Prabowo adalah seorang militer dan memiliki penampilan gagah, cukup rupawan, dan pantas secara fisik menjadi presiden. Konstruksi ideal bahwa presiden Indonesia harus dari kalangan militer memang sudah cukup lama berproses, terutama mengalami intensitas tinggi pada era Orde Baru. Melalui politik otoriter sentralistik, pada era ini ditetapkan semacam kriteria bahwa yang menjadi pemimpin dari presiden, gubernur, bupati/wali kota adalah militer. Dikotomi kepemimpinan sipil-militer ini sengaja diciptakan demi supremasi militer. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian Prabowo lebih dianggap pantas untuk menjadi presiden ketimbang Jokowi atas alasan politik penampilan.

Bagi pendukung KIH, kampanye negatif yang bias militer dan priyayi tersebut mendapat perlawanan secara masif, dan kemudian mengkritisi pesan tersebut. Salah satu manifestasinya malah justru menjadi khalayak fanatik pendukung Jokowi. Semakin Jokowi direndahkan, entah identik dengan wong ndeso, culun, dan ora wangun, maka semakin menguatkan dukungannya pada pasangan Jokowi-JK. Berkembang semacam perasaan empatik terhadap tokoh yang mendapat perlakuan perlakuan tidak adil yang dilakukan oleh media melalui kampanye negatif.

(12)

Begitulah singkatnya penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama, penerimaan khalayak media massa online terhadap kampanye hitam pada Pilpres 2014 tidak homogen, tetapi sangat beragam bergantung pada latar belakang ideologi politik, status sosial, faktor kultural, pengalaman masa lalu, dan karakter keluarga. Kedua, kepercayaan khalayak media massa online terhadap pesan kampanye hitam bervariasi, dalam arti ada yang percaya terhadap isu-isu negatif yang disebarkan, tetapi jua ada yang sama sekali tidak percaya bergantung latar belakang sosio-kultural dan preferensi politiknya. Ketiga, kampanye hitam melalui media baru secara umum tidak berpengaruh terhadap persepsi khalayak media massa online, malah menguatkan kondisi preferensi politik khalayak yang sudah ada yang memang sudah terbelah menjadi dua kubu pendukung masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden. Artinya, khalayak yang berada dalam posisi dominan-hegemonik, praktis tidak terpengaruh oleh pesan dan isu yang disebarkan melalui kampanye hitam. Keempat, khalayak dalam menerima pesan dan isu kampanye hitam melalui media massa online tidak bersifat individual sebagaimana karakter khalayak media baru, tetapi khalayak menerimanya secara kolektif terikat oleh kelompok rujukan ideologi politik dan nilai sosio-kultural yang disosialisasikan melalui lembaga keluarga.

8.2. Refleksi Teoretis

Mencermati hasil penelitian ini dalam hubungannya dengan teori yang digunakan ada beberapa argumen yang dapat dieksplorasi. Tesis Morley yang

(13)

mengatakan bahwa ada perbedaan besar antara pembaca ideal yang diusulkan dalam model strukturalis dengan cara para anggota audiens aktual berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, tercermin dalam perilaku penerimaan khalayak media massa online terhadap kampanye negatif melalui media massa online. Menurut Morley bahwa audiens bukanlah semata-mata subyek pasif, yang tertipu oleh wacana media dan meresponsnya secara apa adanya seperti yang dikehendaki komunikatornya juga memiliki relevansi dengan studi ini.

Khalayak media massa onlinesebagaimana temuan penelitian ternyata memiliki daya seleksi ketika menerima pesan kampanye negatif yang dilancarkan oleh keduabelah pihak yang berkompetisi. Setiap informan memberikan argumentasi bahwa seluruh pesan yang disampaikan melalui kampanye negatif tidaklah netral, tetapi bertujuan untuk mengendalikan opini khalayak. Asumsi media massa mampu mengontrol khalayak secara total, tidaklah terbukti sebab khalayak media online memiliki daya kritis yang cukup mengurangi pengaruh media. Setiap informasi dan pesan yang terkandung dalam kampanye negatif akan senantiasa dikonfirmasikan kepada nilai ideologi, nilai kultural, kesepakatan keluarga, dan pengetahuan yang dimilikinya. Jadi khalayak media massa online cenderung bersikap aktif ketika diterpa oleh kampanye negatif.

Sementara itu, pandangan kaum strukturalis di sini bukan berarti tidak berlaku. Sebagaimana temuan penelitian ini, bahwa komunitas netizen dalam posisinya sebagai khalayak media massa online ternyata tidaklah otonom terhadap struktur. Meskipun bersikap kritis terhadap struktur pesan media

(14)

massa, tetapi ketika meresepsi pesan kampanye negatif ternyata juga masih menggunakan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap struktur. Seorang informan dari kubu KIH misalnya, ketika memaknai isu primordial seperti agama atau ras, terbukti harus merujuk pada struktur partai politiknya atau nilai dalam struktur keluarga. Begitupun yang terjadi dalam khalayak pendukung KMP, ketika memaknai pesan pelanggaran HAM yang dilakukan Prabowo akan dikonfirmasikan kepada struktur nilai yang terkandung dalam partai politiknya.

Jadi temuan itu juga senada dengan argumen antirepresentasi sebagaimana dikatakan oleh Rorty tentang ketidakmenentuan bahasa, bahwa tidak ada item linguistik yang merepresentasikan item nonlinguistik (Rorty, 1991: 2). Ia berpendapat bahwa tidak ada hilikopter besar – alat yang bisa mengangkat kita ke luar dari keyakinan sehingga bisa berada pada suatu sudut pandang di mana kita melihat relasi keyakinan tersebut dengan realitas (Rorty, 1991: 9). Apa yang ditunjukan oleh khalayak media massa online memang mengandung sikap kritis sebagaimana ia memproduksi makna secara polisemik. Akan tetapi, sikap kritis itu bukanlah datang dari ruang murni, melainkan merupakan konsekuensi logis dari terpaan nilai-nilai sebelumnya yang mereka peroleh dari proses penanaman nilai melalui institusi keluarga, ideologisasi pada parpol, ataupun terpaan wacana lainnya. Jadi tidak ada khalayak yang bebas murni merepresentasikan dirinya tanpa terpaan nilai sebelumnya.

Posisi studi ini–sebagaimana temuan-temuan lapangan--tidak seperti argumen studi resepsi ekstrim yang berargumen bahwa khalayak aktif murni ketika menerima pesan media. Tetapi lebih berposisi sebagai studi khalayak

(15)

yang skeptik, dalam arti tidak ada representasi murni dalam khalayak ketika menerima pesan media. Namun demikian, juga tidak berposisi sebagai studi resepsi yang secara ekstrim mengikuti antirepresentasi, sebab bagaimana pun khalayak juga terbukti memiliki kemampuan memproduksi makna sebagai hasil dari prinsip identitas cair dan ambigu. Artinya, terdapat juga khalayak yang tidak secara fanatik berdiri dari satu nilai atau ideologi, melainkan bersifat cair, ralasional, dan mendua, ketika meresepsi pesan kampanye negatif pada Pilpres 2014.

Hasil penelitian ini dalam hal tertentu juga sesuai dengan tesis Ien Ang yang argumen sentralnya adalah bahwa para penonton Dallas secara aktif terlibat di dalam produksi makna dan kesenangan, yang termanifestasi dalam berbagai bentuk yang tidak dapat direduksi menjadi struktur teks, efek ideologis, atau pun proyek politis. Ada sikap kritis yang berkembang dalam pandangan penonton terhadap tayangan televisi. Di sinilah kemudian Ang menemukan bahwa Dallas di mata penonton menyodorkan realisme emosional yang oleh penonton dibaca dalam dua level, yaitu level denotatif dan konotatif. Menonton Dallas, seperti program lainnya, adalah sebuah proses selektif, membaca melintasi teks dari denotasi hingga konotasi, merangkaikan pemahaman kita akan diri di dalam dan di luar narasi.

Dalam penelitian ini khalayak media massa online dalam menerima kampanye negatif juga bersikap kritis. Para pembaca berita okezone.com dan detik.com juga menyodorkan realisme emotional yang oleh khalayak media massa online dibaca dalam dua level denotatif dan konotatif. Pembaca ketika

(16)

menerima terpaan kampanye negatif, mula-mula mengikuti makna yang terkandung dalam struktur teks. Akan tetapi tidak berhenti disitu, proses pemaknaan selanjutnya masuk dalam level konotatif, dalam arti ketika menerima pesan kampanye negatif selalu dikritisi bahwa teks tersebut memiliki konteks. Pada level ini pembaca kemudian terlihat mulai bersikap kritis bahwa teks tersebut tidak netral, melainkan mengandung kepentingan para penyebar isu kampanye negatif.

Temuan penelitian ini juga berhimpit dengan argumen studi konsumsi massa kritis yang berbeda dengan argumen analisis tekstual. Dikatakan bahwa khalayak adalah pencipta kreatif makna, membawa kompetensi kultural yang telah dimiliki untuk membaca teks kultural. Khalayak tidak dipandang sebagai penerima pasif budaya melainkan sebagai produsen aktif dari dalam konteks budayanya sendiri. Kendati ekonomi politik dan analisis tekstual membentuk bagian dari penelitian tentang kekuasaan industri budaya, namun mereka tidak menentukan signifikansi kultural ataupun menilai kekuasaan yang dimiliki khalayak aktif sebagai produsen makna (Barker, 2000: 361).

Sedangkan jika didialogkan dengan teori yang dekemukan oleh Hall, yaitu tentang encoding-decoding, juga terdapat kesesuaian. Menurut Hall produksi makna tidak memastikan adanya konsumsi makna itu sebagaimana yang dikehendaki oleh pengode karena pesan-pesan televisi, yang dikonstruksi sebagai sistem tanda dengan komponen penekanan yang beraneka ragam, bersifat polisemik. Singkatnya, pesan-pesan televisi mengandung berbagai makna dan dapat diinterpretasikan dengan cara yang berbeda. Demikian pula

(17)

dalam kampanye negatif yang disebarkan oleh media massa online, bahwa konsumsi makna tidak seperti yang dikehendaki oleh pengodenya, karena pesan kampanye ternyata juga bersifat polisemik. Pesan-pesan kampanye negatif mengandung berbagai makna dan dapat diinterpretasikan dengan cara yang berbeda, bergantung pada karakter khalayak yang ternyata beragam.

Berkaitan dengan tesis Hall tentang tiga posisi pendekodean (decoding):Encoding/decoding dominan-hegemonik yang menerima „makna yang dikehendaki‟; kode yang dinegosiasikan yang mengakui adanya legitimasi kode hegemonik secara abstrak namun membuat aturannya dan adaptasinya sendiri berdasarkan atas situasi tertentu; kode oposisional di mana orang memahami encoding (penulisan kode) yang lebih disukai namun menolaknya dan men-decode (memecahkan kode) dengan cara sebaliknya; penelitian ini menunjukkan kesesuaian, tetapi sekaligus juga menyodorkan beberapa keunikan.

Pada posisi khalayak yang masuk dalam kategori dominan-hegemonik, ternyata masing-masing kubu menyodorkan karakternya yang berbeda. Pada kubu KMP khalayak masuk kategori ini justru datang dari mereka yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, terutama dari kalangan khalayak afiliasi politiknya ke PKS dan anggotan keormasan islamis. Khalayak ini begitu menerima seperti yang dikonstruksikan media jika menyangkut pesan kampanye negatif yang berkaitan dengan isu primordial tertuju pada Jokowi. Sementara itu hal yang sama juga terjadi pada pendukung KIH yang berafiliasi pada PDIP dan berlatar belakang keluarga komunis. Mereka begitu percaya dan menerima apa

(18)

adanya pesan media yang berisi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Prabowo. Mereka percaya bahwa Prabowo memang pelanggar HAM dan terlibat pada peristiwa kerusuhan 1998.

Begitulah, penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah tesis yang selama ini disodorkan dalam studi-studi resepsi tidak semuanya sesuai dengan fenomena khalayak dengan latar belakang sosio-kultural yang berbeda. Meskipun demikian, sepertinya sulit menemukan khalayak yang memiliki kesadaran kritis penuh yang bersifat otonom bebas dari referensi kognitif. Boleh jadi benar, tesis dalam tradisi Marxian dan neomarxian yang meyakini bahwa tidak ada representasi dalam khalayak, sekalipun itu khalayak aktif.

Terdapat polarisasi khalayak dalam menerima kampanye hitam melalui media massa online, yaitu pendukung KMP di satu sisi, dan pada sisi lain khalayak yang mendukung KIH. Akan tetapi jika dilihat lebih dalam keterbelahan khalayak itu sudah jauh lebih dulu terjadi, dan bahkan relatif sudah mapan polarisasinya berbasis politik aliran, yaitu antara khalayak yang orientasi alirannya ke islamis dan nasionalis. Polarisasi khalayak berbasis politik aliran ini kemudian masing-masing menjadi semacam cheerleader atau pesorak bagi dua kubu yang berkontestasi dalam momen Pilpres 2014, dan mereka masing-masing itu juga cenderung mencari media massa pilihannya sendiri. Sebagaimana asumsi teori efek media, bahwa media mempunyai kemampuan kuat mengkonstruksi identitas khalayak, maka khalayak memiliki kecenderungan mencari media yang mengkonstruksinya tersebut. Dalam proses selanjutnya, paling tidak media terus berfungsi sebagai pemelihara identitas

(19)

khalayak, sehingga media memiliki konstribusi signifikan dalam penguatan identitas khalayak. Dalam konteks ini, khalayak islamis misalnya, akan cenderung membaca Harian Republika; sementara khalayak nasionalis cenderung membaca Harian Kompas.

Namun demikian sekecil apa pun khalayak yang terpolarisasi berbasis politik aliran itu tetap memiliki kadar kontestasi antarkubu, setidaknya menjadi bagian dari kontestasi antara pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Hanya saja memang persaingannya bukan sekadar didorong oleh soal pro Jokowi atau pro Prabowo, melainkan persaingan khalayak yang polaritatif tersebut karena kontestasi itu lebih bersifat ideologis atau berbasis politik aliran. Dengan demikian kontestasi khalayak dalam konteks pertarungan pasangan Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta lebih bersifat tentatif atau kesementaraan, sedangkan yang lebih permanen atau mapan adalah kontestasi khalayak berbasis ideologi atau politik aliran.

Adalah benar bahwa kedua kubu khalayak tersebut pada prinsipnya mencari media massa yang sesuai dengan preferensi politik dan kulturalnya masing-masing, sehingga keterlibatan kontestatif di antara keduanya relatif tidak intens. Akan tetapi ketika kedua kubu khalayak tersebut meresepsi kampanye hitam pada momen politik Pilpres 2014, kadar kontestasi semakin terasa sebagaimana terekspresi pada pandangan, penyikapan, dan bahkan perilaku memilihnya. Bagi khalayak yang pro pada kubu KMP akan terus membantah pemberitaan detik.com yang mengandung kampanye hitam terhadap pasangan Prabowo-Hatta, sekaligus membenarkan pemberitaan kampanye hitam yang

(20)

dilakukan oleh okezone.com terhadap kubu KIH yang mengusung pasangan Jokowi-JK. Namun demikian, sebagaimana temuan dalam penelitian ini, bahwa ada juga khalayak yang bersikap aktif berbasis kesadaran kritis, sehingga keluar dari pengaruh politik aliran ketika menerima pesan kampanye hitam dari kedua media massa online tersebut. Biasanya jenis khalayak seperti ini, lebih bersifat individual ketimbang institusional.

Persoalannya adalah mengapa polarisasi khalayak ke dalam dua kubu tersebut relatif mapan? Dalam konteks khalayak politik di Indonesia, kemapanan polarisasi itu antara lain karena masih berlakunya politik aliran. Meskipun kemunculannya bersifat pasang-surut bergantung pada sistem politik yang sedang berlangsung, tetapi secara laten politik aliran itu masih kuat keberadaannya. Ketika masa pemerintahan Soekarno misalnya, politik aliran ini menguat atau pasang, sebagaimana tercermin pada polarisasi khalayak politik yang bisa dibaca pada peta politik hasil Pemilu 1955. Sementara itu pada masa Orde Baru, politik aliran mengalami surut karena negara tampil begitu kuat melakukan tekanan terhadap praktik politik aliran. Semuanya serba dikontrol negara, sehingga kehidupan sosial-politik bersifat monolitik, tidak ada ruang untuk ekspresi politik beragam berbasis aliran. Sedangkan pada era pasca Orde Baru, politik aliran menguat kembali sebagaimana tercermin pada hasil Pemilu 1999.

Dengan demikian, polarisasi khalayak sebagaimana terjadi pada momen politik Pilpres 2014 pada prinsipnya sudah terstruktur oleh politik aliran. Polarisasi khalayak berbasis politik aliran ini semakin menguat jika merespons

(21)

isu-isu sensitif seperti agama, ideologi komunis, dan sekarang juga isu etnik dan ras. Bersamaan dengan itu, pembelahan khalayak yang mapan tersebut semakin menguat ketika dimainkan oleh elite untuk perebutan kekuasaan. Inilah yang sering disebut sebagai praktik politik identitas, yang sering kali oleh elite secara sengaja dimainkan untuk menggalang dukungan khalayak dalam upaya berebut negara. Di sinilah kemudian identitas nasionalis dan islamis mendapatkan momentum untuk saling berkontestasi sebagaimana termanifestasi pada pembelahan khalayak ketika Pilpres 2014.

Sebagai implikasinya bukan saja khalayak yang mengkonstruksi media dan kemudian juga menggunakannya secara kreatif, tetapi juga kekuatan politik mengkonstruksi media untuk kemudian menggunakannya sebagai alat kampanye hitam. Jadi di sini bukan perkara khalayak memberikan dukungan terhadap kubu Jokowi atau Prabowo, tetapi perkara cara berpikir khalayak yang sudah terkerangkai (framing) oleh ideologi dan agama. Jadi yang radikal dalam khalayak di sini adalah cara berpikirnya, yang sudah terstruktur oleh politik aliran, oleh karena itu polarisasi khalayak ini relatif mapan, dan senantiasa muncul dalam setiap momen politik besar seperti Pilpres, bukan saja Pilpres 2014, tetapi juga besar kemungkinan akan mewarnai pada Pilpres selanjutnya.

Secara hierarkis bisa dikatakan, bahwa media dikonstruksi oleh khalayak “aktif”, dan selanjutnya khalayak distrukturkan oleh politik aliran. Jadi dapat dikatakan bahwa, media memang dikonsumsi secara kreatif dan aktif oleh khalayak, akan tetapi posisi khalayak aktif itu tetap dalam tanda petik, yaitu bukan khalayak otonom berkesadaran kritis, namun khalayak yang terkerangkai

(22)

oleh sebuah ideologi atau politik aliran. Jadi tesis yang bisa diajukan adalah, bahwa dalam penerimaan terhadap pesan media, tidak ada khalayak aktif yang terbebas dari referensi kognitifnya; atau penerimaan khalayak terhadap pesan media memang tidak mengikuti pola decoding berbanding lurus dengan encodingnya, tetapi mengikuti pola berbanding lurus dengan referansi kognitif atau ideologinya.

Tesis tersebut barangkali bisa menjadi bahan pertimbangan menarik jika diletakan pada konteks politik Indonesia kontemporer yang menginginkan terjaganya identitas keindonesiaan terbuka melampaui isu primordialisme. Justru di tengah menguatkan kehendak untuk tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang plural, demokratis, dan anti SARA, tetapi fakta menunjukkan bahwa polarisasi khalayak berbasis politik aliran masih menguat. Di tengah kehendak membangun Indonesia yang toleran, inklusif, dan anti primordialistik, tetapi fakta menunjukkan bahwa politik identitas masih terus menguat. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kemapanan konstruksi identitas berbasis ideologi dan agama, muncul dalam momen-momen politik seperti Pilpres 2014, Pilkada DKI 2017, dan besar kemungkinan pada Pilpres yang akan datang. Semua itu menjadi pekerjaan besar bagi upaya membangun Indonesia demokratis, menjaga identitas keindonesiaan terbuka, dan masyarakat kewargaan.

Sementara itu pada level global juga terjadi kecenderungan yang sama, yaitu di tengah kehadiran postmodernisme yang menyuarakan berakhirnya ideologi besar, tetapi fakta menunjukkan bahwa gerakan ideologis, kebangkitan

(23)

politik kanan, populisme, dan konservatisme juga terus terjadi di seluruh dunia. Bahkan Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Australia yang selama ini dikenal sebagai benua perintis dan pelopor demokrasi, saat ini sedang mengalami kebangkitan gerakan-gerakan eksklusif. Dunia yang terus didorong bergerak menuju masyarakat inklusif tampaknya sedang mengalami titik balik.

Referensi

Dokumen terkait

Maslow, dengan menganalisis motivasi tindakan yang tidak biasa yang dilakukan tokoh Mashiro Moritaka Pada komik Bakuman karya Oba Tsugumi berdasarkan tindakan untuk memenuhi

Oleh karena itu, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik dengan menggunakan uraian kata-kata dengan mendeskripsikan

Hallitseva laji oli limalevä ( Gonyostomum semen ), jonka osuus kokonaisbiomassasta oli 55 %. Järvestä on kasvi- planktonrekisterissä aikaisempi tulos vuodelta 2008. Bio- massa oli

Kecuali pada FN 76 disinter selama 60 menit, nilai induksi remanennya lebih tinggi daripada paduan yang disinter pada waktu yang sama, hal ini dapat dijelaskan di Gambar 4.5b

Aktivitas yang dilakukan menunjukkan bahwa siswa mengeksplorasi pengetahuan awal melalui kegiatan menggunakan lego untuk menentukan pecahan dengan cara membuat pecahan bagian

L9 Lampiran 10 Gambar Grafik Perbandingan Debit Puncak Periode 10 Tahunan Metode Rasional dan HEC-HMS Sebelum dan Sesudah Pembangunan Masjid L10 Lampiran 11 Tabel Perbandingan

Permasalahan kedaulatan, keamanan dan keselamatan di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II merupakan permasalahan yang kompleks, karena berkaitan luasnya wilayah perairan