PENGARUH KOMPETENSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI
PADA POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
THE EFFECT OF COMPETENCY ON EMPLOYEE PERFORMANCE AT STATE POLYTECHNICS OF UJUNG PANDANG
E M M Y A H
PROGRAM MAGISTER ILMU ADMINISTRASI SEKOLAH TINGGI ILMU ADMNISTRASI
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA MAKASSAR
TESIS
HALAMAN PENGESAHAN
PENGARUH KOMPETENSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
Disusun dan diajukan oleh
E M M Y A H
Nomor Pokok Mahasiswa : 27.22.010
Menyetujui : Komisi Penasihat
Muhammad Firdaus, MDA., Ph.D. Alam Tauhid S, S.Sos., M.Si.
Ketua Anggota
.
Mengetahui :
KETUA STIA LAN MAKASSAR
Prof. Dr. Ismail Said, SH., MH. NIP. 270 000 292
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa sesungguhnya :
1. Karya tulis saya berupa TESIS, saya ajukan untuk mendapatkan gelar akademik berupa MAGISTER di STIA LAN Makassar, merupakan karya asli saya dan belum pernah diajukan oleh siapapun juga maupun pada perguruan tinggi lainnya.
2. Adapun pada karya tulis saya, tulisan yang saya kutip dan jelas disebutkan nama pengarang serta tercantum sebagai daftar pustaka. 3. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila
dikemudian hari terdapat penyimpangan ataupun ketidakbenaran maka saya bersedia menerima sanksi lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Makassar, 24 Juli 2009 Yang menyatakan,
E M M Y A H
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis mampu
menyelesaikan penulisan tesis ini.
Banyak kendala yang dihadapi oleh penulis dalam rangka penyusunan
tesis ini, yang hanya berkat bantuan berbagai pihak, maka tesis ini dapat
selesai. Dalam kesempatan ini penulis dengan tulus menyampaikan
terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. H. Ismail Said, S.H., M. H., selaku
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara
Makassar, Bapak Muhammad Firdaus, MDA., PhD., sebagai ketua komisi
penasihat dan Bapak Alam Tauhid S, S.Sos., M.Si., sebagai anggota
Komisi Penasihat atas bimbingan yang telah diberikan mulai dari
pengembangan minat terhadap permasalahan penelitian, pelaksanaan
penelitian sampai dengan penulisan tesis ini.
Terima kasih penulis kepada pimpinan dan para staf Politeknik
Negeri Ujung Pandang atas izin dan kerjasamanya dalam pengumpulan
data penelitian di lapangan. Terima kasih kepada teman-teman kuliah
seangkatan atas segala dukungan morilnya selama ini. Terima kasih
kepada segenap staf pengajar pada Program Magister STIA LAN
Makassar yang telah mendidik penulis selama melaksanakan pendidikan.
Akhirnya, di ruang sangat terbatas namun terasa begitu berarti,
dan anak-anakku, atas kasih sayang, dukungan, dan pengertiannya
selama ini. Kepada segenap keluarga besar yang telah banyak membantu
selama penulis menuntut ilmu, penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Terima kasih kepada mereka yang namanya tidak tercantum tetapi
telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
Penulis sadar bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu saran dan kritikan yang sifatnya membangun senantiasa
penulis harapkan. Harapan penulis semoga tesis ini dapat memenuhi
maksud dan tujuannya.
Makassar, Juli 2009
E M M Y A H
PENGARUH KOMPETENSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
Penyusun : Emmyah
N P M : 27.22.010
Penasihat : Muhammad Firdaus, MDA., PhD. Alam Tauhid S, S.Sos., M.Si.
ABSTRAK
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah; Bagaimanakah pengaruh kompetensi terhadap kinerja pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang?. Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetensi terhadap kinerja pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang.
Metode penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian survey dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tujuan eksplanatif, yaitu untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesis.
Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang yang berjumlah 130 orang. Metode pengambilan sampel adalah Nonprobability sampling dengan teknik sampling jenuh, dimana semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel (penelitian populasi).
Untuk mendapatkan data yang komprehensif, maka digunakan angket (kuesioner) sebagai sumber data primer. Observasi dan dokumentasi sebagai sumber data sekunder.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa secara simultan (bersama-sama) kompetensi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang. Uji secara parsial menunjukkan bahwa indikator konsep diri dan nilai-nilai memberi pengaruh paling dominan, sedangkan indikator karakteristik pribadi memberi pengaruh paling kecil.
.DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR JUDUL i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
LEMBAR PENGESAHAN iii
LEMBAR PENYATAAN iv KATA PENGANTAR v ABSTRAK vii ABSTRACT viii DAFTAR ISI ix DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xvi
DAFTAR LAMPIRAN xvii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 9
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10
A. Tinjauan Teori 10
1. Konsep Kompetensi 10
2. Konsep Kinerja Pegawai 32
3. Faktor-faktor kinerja pegawai 38
B. Definisi Operasional Variabel 57
C. Kerangka Pikir 64
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 66
A. Metode Penelitian 66
B. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling 66
C. Teknik Pengumpulan Data 67
D. Instrumen Penelitian 68
E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 68
BAB IV HASIL PENELITIAN 72
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 72
B. Karakteristik Responden 80
C. Kompetensi Pegawai 83
D. Kinerja Pegawai 95
E. Pengaruh Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai 110
F. Pembahasan 119 BAB V PENUTUP 135 A. Kesimpulan 135 B. Saran 136 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP PENULIS
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Tingkat Keeratan Pengaruh Variabel X ke Y 71
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin 81
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pangkat / golongan
81
4. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja 82
5. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan 82
6. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Langkah-langkah sistematis yang logis dalam menyelesaikan masalah adalah metode yang terbaik untuk memecahkan masalah
83
7. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa selalu bekerja dengan arah yang pasti ketika dalam menyelesaikan suatu masalah telah ada prosedur yang jelas yang harus diikuti
84
8. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa dalam menyelesaikan suatu masalah yang berbeda dibutuhkan waktu yang relatih lama
85
9. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa bertanya tanpa mengharapkan jawaban akan sangat membuang-buang waktu
86
10. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa kadang-kadang dalam kondisi tertentu antusiasme sangat diperlukan
86
11. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa orang-orang yang mendahulukan untuk mengikuti peraturan-peraturan yang berkaitan dengan urusannya kemudian bersenang-senang setelah tugasnya selesai akan disenangi orang lain
12. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Pernyataan Bahwa orang akan tetap disenangi ketika dalam mengajukan suatu argumentasi dalam suatu debat/diskusi, orang lain tidak menyetujui pendapat tersebut
88
13. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa menyatakan pendapat yang mana pendapat tersebut tampak menjatuhkan orang lain adalah hal yang biasa terjadi
89
14. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa mendapatkan teguran karena melanggar aturan adalah hal wajar yang harus diterima
90
15. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa bekerja dengan orang lain dalam satu tim adalah lebih baik daripada bekerja secara sendirian
90
16. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa orang menyukai pekerjaan yang memungkinkannya dapat dipengaruhi oleh orang lain
91
17. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa orang harus menggunakan sebagian waktunya untuk memikirkan tentang apa yang orangg lain pikir dan rasakan
92
18. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa menjadi seorang dokter lebih manusiawi daripada menjadi seorang peneliti
93
19. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa kita harus dapat mengetahui bagaimana caranya mengontrol ketegangan-ketegangan kita
93
20. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa terhadap hal-hal yang menarik minat, kita lebih bisa berkonsentrasi
21. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Pernyataan Bahwa seharusnya orang-orang dapat bergaul lebih baik dengan orang-orang yang kelas sosial dan urusan-urusannya setaraf dengannya
95
22. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Telah Menunjukkan Perhatian Pada Aspek Ketelitian Dalam Bekerja
96
23. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Senantiasa Mematuhi Peraturan dan Prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja Sesuai Dengan Bidang Tugas dan Tanggung Jawabnya
96
24. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Mampu Membuat Keputusan Yang Berhubungan Dengan Pekerjaan
97
25. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Memahami Konsekuensi Keputusan dan Tindakan Yang Diambilnya Sesuai Tugas dan Tanggung Jawabnya
98
26. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Mampu Menyelesaikan Tugas Kerja Yang Diberikan Secara Konsisten
99
27. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Mampu Menentukan dan Mengatur Prioritas Kerja Secara Efektif
99
28. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Mampu Menggunakan Waktu Dengan Efisien Dalam Melaksanakan Segala Tugas yang Dibebankan Kepadanya
100
29. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa pegawai dapat memelihara tempat kerja yang teratur sesuai dengan fungsinya
101
30. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Senantiasa Berinisiatif Untuk Mengatasi Setiap Permasalahan Dalam Pelaksanaan Tugasnya
31. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Pernyataan Bahwa pegawai telah mampu menghasilkan ide, tindakan dan solusi yang inovatif
102
32. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Senantiasa Berusaha Mencari Tantangan Baru Pengembangan Diri dan Kesempatan Untuk Belajar
103
33. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Mampu Mengantisipasi dan Memahami Setiap Masalah Yang Mungkin Dapat Terjadi
103
34. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Mampu Memelihara Hubungan Kerja Yang Efektif
104
35. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Dapat Bekerjasama Dalam Tim
105
36. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Senantiasa Memberikan Bantuan dan Dukungan Kepada Pegawai Yang Lain
105
37. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Senantiasa Mengakui Kesalahan Sendiri dan Mau Belajar Dari Kesalahan Tersebut
106
38. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Hadir dan Pulang Secara Rutin dan Tepat Waktu
107
39. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Senantiasa Mengikuti dan Melaksanakan Instruksi-Instruksi Yang Diberikan
108
40. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap
Pernyataan Bahwa Pegawai Dapat Bekerja Secara Mandiri
41. Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Pernyataan Bahwa Pegawai Dapat Menyelesaikan Tugas dan Memenuhi Tanggung Jawabnya Sesuai Dengan Batas Waktu Yang Ditentukan
109
42. Model Summary Pengaruh Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang
110
43. Tabel Anova Pengaruh Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang
111
44. Coefficients Correlations Variabel Kompetensi terhadap Kinerja Pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang
DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6.
Bagan Hirarki Kebutuhan Menurut Maslow
Skema Kerangka Pikir
Grafik bar (batang) pengaruh pengetahuan terhadap kinerja pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang
Grafik bar (batang) pengaruh keterampilan terhadap kinerja pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang
Grafik bar (batang) pengaruh konsep diri dan nilai-nilai terhadap kinerja pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang
Grafik bar (batang) pengaruh karakteristik pribadi terhadap kinerja pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang
49 64 121 123 126 129
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Angket Penelitian 142
2. Data Angket Penelitian 147
3. Output SPSS Tabel Frekuensi 155
4. Output SPSS Regresi 164
5. Tabel Nilai-nilai Dalam Distribusi t 167
6. Tabel Nilai-nilai Dalam Distribusi F 168
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 sebagai perubahan atas
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian tersirat amanat bahwa dalam rangka usaha mencapai
tujuan nasional diperlukan pegawai negeri sipil yang berperan sebagai
pelayan masyarakat, dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila dan
Undang – Undang Dasar 1945. Peranan dan kedudukan Pegawai Negeri
Sipil (PNS) sangat penting dan menentukan karena pegawai negeri
merupakan unsur aparatur negara dalam menyelenggarakan tugas-tugas
pemerintahan dan pembangunan dalam rangka mencapai tujuan nasional.
Anggaran Negara yang dibelanjakan untuk kepentingan pegawai
negeri dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, namun hal tersebut
belum diimbangi dengan peningkatan profesionalisme dan integritas yang
tinggi bagi komunitas Pegawai Negeri Sipil. Belanja pegawai adalah
semua pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai kompensasi
dalam bentuk uang atau barang yang diberikan kepada pegawai
pemerintah pusat, pensiunan, anggota Tentara Nasional
Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan pejabat negara,
2 imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan, kecuali pekerjaan yang
berkaitan dengan pembentukan modal.
Dalam upaya mengatasi permasalahan ini, para pengambil
kebijakan dapat melakukan perbaikan kedalam, yang salah satunya
melalui pengembangan sumber daya manusia. Perbaikan kondisi internal
ini sekaligus bertujuan untuk memperkuat diri dan meningkatkan daya
tahan dalam menghadapi persaingan lokal dan global yang pasti akan
semakin ketat. Ini artinya instansi harus memperbaiki sistem manajemen
kinerja instansinya melalui perbaikan kinerja pegawainya, karena
keberhasilan instansi dalam memperbaiki kinerja instansinya sangat
tergantung pada kualitas sumber daya manusia yang bersangkutan dalam
berkarya atau bekerja.
Bekerja merupakan kegiatan manusia untuk mengubah keadaan
tertentu dari suatu alam lingkungan. Perubahan ini ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan hidup dan memelihara hidup yang pada dasarnya
untuk memenuhi tujuan hidup. Pada dasarnya kebutuhan hidup manusia
tersebut tidak hanya berupa material, tetapi juga bersifat non-material
seperti kebanggaan dan kepuasan kerja. Di dalam proses mencapai
kebutuhan yang diinginkan, tiap individu cenderung akan dihadapkan
pada hal-hal baru yang mungkin tidak diduga sebelumnya, sehingga
melalui bekerja dan pertumbuhan pengalaman, seseorang akan
memperoleh kemajuan dalam hidupnya. Dalam proses bekerja itulah
3 Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara
keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas
dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja,
target atau sasaran maupun kriteria yang ditentukan terlebih dahulu dan
telah disepakati bersama. Jika dilihat dari asal katanya, kata kinerja
berasal dari kata performance, yang menurut The Scribner - Bantam
English Dictionary (dalam Rivai dan Basri, 2005:14) berasal dari akar kata to perform yang mempunyai beberapa masukan (entries), yakni (1)
melakukan, menjalankan, melaksanakan (to do or carry out execute); (2)
memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar (to
dischange of fulfill; as vow); (3) melaksanakan atau menyempurnakan
tanggung jawab (to execute or complete an understanding); (4) melakukan
sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin (to do what is
expected of a person machine). Dari masukan tersebut dapat diartikan,
kinerja adalah melakukan suatu kegiatan dan menyempurnakan pekerjaan
tersebut sesuai dengan tanggung jawabnya sehingga dapat mencapai
hasil sesuai dengan yang diharapkan.
Kinerja dalam menjalankan fungsinya tidak berdiri sendiri, tetapi
berhubungan dengan kemampuan dan motivasi kerja. Oleh karena itu
menurut Keith Davis (dalam Mangkunegara, 2005:13), ada dua faktor
utama yang mempengaruhi kinerja individu yakni kemampuan (ability),
dan motivasi kerja (motivation) individu tersebut. Kemampuan individual
4 belakang pendidikan, dan keterampilan (skill) yang dikuasai. Sedangkan
motivasi kerja individual tergantung sikap (attitude) sebagai motivasi dasar
dan lingkungan yang mempengaruhi motivasi tersebut.
Oleh karena itu, pembinaan dan peningkatan kinerja individu dapat
dilakukan dengan pembinaan dan peningkatan kemampuan dan motivasi
kerja yang dimiliki. Peningkatan kemampuan kerja dilakukan dengan
upaya peningkatan aspek-aspek yang mendasari unsur tersebut yakni
pengetahuan dan keterampilan kerja individu serta peningkatan motivasi
kerja dilakukan dengan cara membina sikap mental individu serta
situasi/lingkungan yang mendorong timbulnya kepuasan dan kemauan
kerja individu.
Menuju Perguruan tinggi yang ber-Badan Hukum Perguruan Tinggi,
maka Politeknik Negeri Ujung Pandang terus berupaya meningkatkan
kualitas proses belajar mengajar dimana sasaran akhir adalah terjadinya
peningkatan kualitas lulusan yang unggul dan kompetitif, memberdayakan
seluruh pegawai agar dapat bekerja secara optimal, efektif dan efisien.
Langkah antisipasi secara total yang diperlukan untuk menghasilkan
lulusan yang mandiri, profesional dan kompetitif tersebut maka perlu
meningkatkan kinerja pegawai Politeknik Negeri Ujunga Pandang dengan
penguasaan pengetahuan (cognitive), penguasaan keterampilan
(psychomotoric), Pengembangan sikap mental (affective), dan
5 Pengelolaan pendidikan tinggi mutlak harus dilakukan dengan
sebaik-baiknya mengingat dewasa ini pendidikan tinggi di Indonesia
diperhadapkan pada masa depan yang penuh tantangan, karena laju
perubahan bergerak sangat cepat, tuntutan masyarakat semakin tinggi,
kehidupan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, dan faktor-faktor lain yang kompleks dalam era globalisasi ini.
Politeknik Negeri Ujung Pandang sebagai salah satu perguruan tinggi
dalam menjalankan tugas dan fungsinya selalu mengacu pada paradigma
baru pendidikan tinggi sebagai strategi nasional dalam menyelenggarakan
dan mengembangkan Pendidikan Nasional.
Kinerja Individu adalah hasil kerja pegawai baik dari segi kualitas
maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan.
Pegawai yang produktif menggambarkan potensi, persepsi, dan kreativitas
seseorang yang senantiasa ingin menyumbangkan kemampuan agar
bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Jadi, pegawai yang produktif
adalah orang yang dapat memberi sumbangan yang nyata, imaginatif dan
inovatif dalam mendekati persoalan hidupnya serta mempunyai
kepandaian (kreatif) dalam mencapai tujuan hidupnya, bertanggung jawab
dan responsif dalam hubungannya dengan orang lain (kepemimpinan).
Pegawai seperti ini merupakan aset organisasi yang selalu berusaha
meningkatkan diri dalam organisasinya, dan akan menunjang pencapaian
6 Oleh karena itu, organisasi perlu melakukan upaya akuisisi atau
pengembangan kompetensi secara sistematis. Pengembangan
kompetensi dapat dilakukan dengan pembinaan dan peningkatan
kemampuan dan motivasi kerja yang dimiliki. Peningkatan kemampuan
kerja dilakukan dengan upaya peningkatan aspek-aspek yang mendasari
unsur tersebut yakni pengetahuan dan keterampilan kerja individu serta
peningkatan motivasi kerja dilakukan dengan cara membina sikap mental
individu serta situasi/lingkungan yang mendorong timbulnya kepuasan dan
kemauan kerja individu.
Seirama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang cepat serta persaingan yang begitu ketat dan tuntutan reformasi
maka seluruh komponen Politeknik Negeri Ujung Pandang termasuk
seluruh karyawan, teknisi, laboran dan pustakawan turut serta
mendukung dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara
berkesinambungan. Kebutuhan tenaga-tenaga terampil didalam berbagai
bidang sudah merupakan tuntutan dunia global yang tidak dapat ditunda
dan dituntut untuk memiliki kemampuan dalam membuat rencana
pengembangan SDM yang berkualitas, dengan melakukan perbaikan
kedalam, yang salah satunya melalui pengembangan SDM. Dengan
perbaikan kondisi internal ini sekaligus bertujuan untuk memperkuat diri
dan meningkatkan daya tahan dalam menghadapi persaingan lokal dan
global yang akan semakin ketat. Ini artinya Instansi harus memperbaiki
7 Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Politeknik Negeri Ujung
Pandang, maka dukungan kualitas sumber daya aparatur menjadi sebuah
keharusan. Kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu
faktor untuk meningkatkan produktivitas kinerja suatu organisasi atau
instansi. Oleh karena itu, diperlukan sumber daya manusia yang
mempunyai kompetensi tinggi karena kompetensi akan dapat mendukung
peningkatan prestasi kinerja pegawai. Selama ini banyak instansi
pemerintah yang belum mempunyai pegawai dengan kompetensi yang
memadai, ini dibuktikan dengan rendahnya produktivitas pegawai dan
sulitnya mengukur kinerja pegawai di lingkup instansi pemerintah. Selama
ini penilaian prestasi kinerja pegawai menggunakan Daftar Penilaian
Pelaksaan Pekerjaan (DP3) yang didalam terdapat 8 (delapan) unsur,
yaitu kejujuran, kesetiaan, ketaatan, prestasi kerja, tanggung jawab,
kerjasama, kepemimpinan dan prakarsa.
Harapan terhadap profesionalisme PNS ini dilatarbelakangi oleh
adanya kesenjangan antara kinerja yang diharapkan (intended
performance) dengan kinerja nyata yang dihasilkan (actual performance)
oleh PNS. Masih banyaknya tingkat inefisiensi dalam pelaksanaan tugas
merupakan bukti nyata kompetensi yang masih rendah. PNS yang kurang
professional dan kurang memiliki kesadaran moral cenderung melakukan
penyalahgunaan wewenang atau penyalahgunaan keuangan negara.
Perilaku PNS yang menyimpang tersebut akan menjadi permasalahan
8 perubahan lingkungan termasuk kurang peka menghadapi perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta sulit untuk memperbaiki kinerjanya
(http://www.bkn.go.id. 2004).
Dalam pengamatan penulis pada Instansi Politeknik Negeri Ujung
Pandang sebagai lembaga pendidikan profesional ternama di Kawasan
Timur Indonesia seharusnya bisa menjadi barometer dalam pencapaian
kinerja yang tinggi. Namun, kenyataan empirik menunjukkan bahwa
kinerja pegawai tidak maksimal. Hal ini tampak adanya aktivitas yang
dilakukan sebagian Pegawai Negeri yang tidak produktif, ada sekitar 33
orang dari 130 orang atau 25 % pegawai terlambat masuk kantor dan
pulang tidak tepat waktu (sumber: Laporan rekapitulasi kehadiran staf
administrasi, teknisi, laboran dan pustakawan Politeknik Negeri Ujung
Pandang), tidak adanya pelatihan untuk staf 2 tahun terakhir (sumber:
laporan Hubungan Industri PNUP), tidak profesionalnya dalam pelayanan
baik kepada mahasiswa maupun terhadap staf dan dosen diberbagai
jurusan, Ada kecenderungan pegawai menunda pekerjaan, menunggu
perintah atasan,
Berdasarkan uraian tersebut, penulis merasa tertarik untuk
melakukan penelitian dengan melanjutkan penelitian terdahulu juga oleh
penulis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai pada
Politeknik Negeri Ujung Pandang dan pada penelitian ini, penulis
mengangkat judul “Pengaruh Kompetensi Terhadap Kinerja Pegawai
9 dibatasi pada staf administrasi, teknisi, laboran dan pustakawan. Dosen
juga merupakan pegawai, tetapi tidak dimasukkan dalam penelitian ini
karena karakteristik dan indikator mereka berbeda.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mencoba merumuskan
permasalahan tentang “Bagaimanakah Pengaruh kompetensi terhadap
Kinerja Pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang”.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis lebih
mendalam tentang pengaruh kompetensi terhadap kinerja pegawai pada
Politeknik Negeri Ujung Pandang.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat terhadap kepentingan dunia akademik:
Dengan mengetahui pengaruh kompetensi terhadap kinerja
pegawai pada Politeknik Negeri Ujung Pandang dapat memperkaya
pengetahuan mengenai kompetensi pegawai, kinerja individu dan kinerja
organisasi.
b. Manfaat terhadap dunia praktis:
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat disumbangkan
saran-saran untuk meningkatkan kompetensi pegawai, kinerja pegawai dan
10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA [[ A. Tinjauan Teori 1. Konsep Kompetensi
Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau
melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan
dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh
pekerjaan tersebut. Kompetensi sebagai kemampuan seseorang untuk
menghasilkan pada tingkat yang memuaskan di tempat kerja, juga
menunjukkan karakteristik pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
atau dibutuhkan oleh setiap individu yang memampukan mereka untuk
melakukan tugas dan tanggung jawab mereka secara efektif dan
meningkatkan standar kualitas professional dalam pekerjaan.
Ada dua istilah yang muncul dari dua aliran yang berbeda tentang
konsep kesesuaian dalam pekerjaan. Istilah tersebut adalah
”Competency” (kompetensi) yaitu deskripsi mengenai perilaku, dan “Competence” (kecakapan) yang merupakan deskripsi tugas atau hasil
pekerjaan. (Palan, 2007:5)
Walau perbedaan arti kedua istilah tersebut diterima secara umum,
namun penggunaannya masih sering dipertukarkan, yang menyebabkan
setiap orang memiliki pengertian yang berbeda-beda. Umumnya orang
11 sendiri sesuai dengan kepentingannya. Komentar Zamkee (1982) yang
dikutip oleh Palan (2007:6) mengatakan bahwa “Kompetensi
(competence), model kompetensi dan pelatihan berbasis kompetensi
merupakan kata yang bisa diartikan beragam mengikuti pendefinisiannya.
Perbedaan makna tersebut bukan berasal dari kebodohan atau
ketamakan pasar, tapi dari beberapa prosedur mendasar dan perbedaan
filosofis diantara mereka yang berlomba untuk mendefinisikan dan
membentuk konsep tersebut dan menetapkan model bagi kita yang akan
menggunakan kompetensi dalam upaya sehari-hari.
Konsep kompetensi berawal dari artikel David McClelland yang
mengegerkan, “Testing for competence rather than intelligence”. Artikel
tersebut meluncurkan gerakan kompetensi dalam psikologi industrial.
David McClelland menyimpulkan, berdasarkan hasil penelitian, bahwa tes
kecakapan akademis tradisional dan pengetahuan isi, serta nilai dan
ijazah sekolah; (1) tidak dapat memprediksi keberhasilan di
pekerjaan/kehidupan, (2) biasanya bias terhadap masyarakat yang sosial
ekonomi rendah.
Kesimpulan ini membuat David Mc Clelland bertanya-tanya, apabila
bukan kecerdasan, apa yang dapat memprediksi keberhasilan
pekerjaan/kehidupan, maka ia mulai mencari metode penelitian untuk
mengindentifikasi variabel kompetensi yang bisa memprediksi kinerja
karyawan dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ekonomi, sosial
12
sample), sebuah metode yang membandingkan antara orang sukses
dengan orang yang kurang sukses dengan tujuan untuk mengidentifikasi
karakteristik yang berkaitan dengan kesuksesan. Karakteristik-karakteristik
atau kompetensi-kompetensi ini, ketika muncul dan dipertunjukkan secara
konsisten, mengarah pada kesuksesan hasil kerja. Hal ini pula yang
menyebabkan beragamnya definisi kompetensi.
Spencer dan Spencer (dalam Palan, 2007:6), mengemukakan
bahwa kompetensi merujuk kepada karakteristik yang mendasari perilaku
yang menggambarkan motif, karakteristik pribadi (ciri khas), konsep diri,
nilai-nilai, pengetahuan atau keahlian yang dibawa seseorang yang
berkinerja unggul (superior performer) di tempat kerja.
Selanjutnya, Spencer dan Spencer (dalam Palan, 2007:6),
menguraikan lima karakteristik yang membentuk kompetensi, sebagai
berikut:
1. Pengetahuan; merujuk pada informasi dan hasil pembelajaran. 2. Keterampilan; merujuk pada kemampuan seseorang untuk
melakukan suatu kegiatan.
3. Konsep diri dan nilai-nilai; merujuk pada sikap, nilai-nilai dan citra diri seseorang, seperti kepercayaan seseorang bahwa dia bisa berhasil dalam suatu situasi.
4. Karakteristik pribadi; merujuk pada karakteristik fisik dan konsistensi tanggapan terhadap situasi atau informasi, seperti pengendalian diri dan kemampuan untuk tetap tenang dibawah tekanan.
5. Motif; merupakan emosi, hasrat, kebutuhan psikologis atau dorongan-dorongan lain yang memicu tindakan.
Karakteristik kompetensi dibedakan berdasarkan pada tingkat
mana kompetensi tersebut dapat diajarkan. Keahlian dan pengetahuan
13 mudah tampak. Kompetisi ini biasanya mudah untuk dikembangkan dan
tidak memerlukan biaya pelatihan yang besar untuk menguasainya.
Kompetensi konsep diri, karakteristik pribadi dan motif sifatnya tersebunyi
dan karena itu lebih sulit untuk dikembangkan atau dinilai. Untuk
mengubah motif dan karakteristik pribadi masih dapat dilakukan, namun
prosesnya panjang, sulit dan mahal. Cara yang paling hemat bagi
organisasi untuk memiliki kompetensi ini adalah melalui proses seleksi
karakter.
Berikut ini akan diuraikan secara rinci masing-masing karakteristik
kompetensi sebagaimana yang dikemukakan oleh Spencer dan Spencer
(1993), sebagai berikut :
1. Pengetahuan
Pengetahuan pegawai turut menentukan berhasil tidaknya
pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, pegawai yang
mempunyai pengetahuan yang cukup akan meningkatkan efisiensi
perusahaan. Namun bagi pegawai yang belum mempunyai
pengetahuan cukup, maka akan bekerja tersendat-sendat. Pemborosan
bahan, waktu dan tenaga serta faktor produksi yang lain akan diperbuat
oleh pegawai berpengetahuan kurang. Pemborosan ini akan
mempertinggi biaya dalam pencapaian tujuan organisasi.
Menurut Spencer dan Spencer (1993), dikutip oleh Sutoto (2004),
14
conceptual thinking (CT), technical/professional/managerial expertise
(EXP)
a. Analytical thinking (AT) adalah kemampuan memahami situasi dengan
merincinya menjadi bagian-bagian kecil, atau melihat implikasi sebuah
situasi secara rinci. Pada intinya, kompetensi ini memungkinkan
seseorang berpikir secara analitis atau sistematis terhadap sesuatu
yang kompleks.
b. Conceptual thinking (CT) adalah memahami sebuah situasi atau
masalah dengan menempatkan setiap bagian menjadi satu kesatuan
untuk mendapatkan gambar yang lebih besar. Termasuk kemampuan
mengidentifikasi pola atau hubungan antar situasi yang tidak secara
jelas terkait; mengidentifikasi isu mendasar atau kunci dalam situasi
yang kompleks. CT bersifat kreatif, konsepsional, atau induktif.
c. Expertise (EXP) termasuk pengetahuan terkait pada pekerjaan (bisa
teknikal, profesional, atau manajerial), dan juga motivasi untuk
memperluas, memanfaatkan, dan mendistribusikan pengetahuan
tersebut.
2. Keterampilan
Pegawai yang mempunyai kemampuan kerja yang baik, maka akan
mempercepat pencapaian tujuan organisasi, sebaliknya pegawai yang
tidak terampil. akan memperlambat tujuan organisasi. Untuk
pegawai-pegawai baru atau pegawai-pegawai dengan tugas baru diperlukan tambahan
15 Menurut Spencer dan Spencer (1993), dikutip oleh Sutoto (2004),
cluster keterampilan meliputi kompetensi concern for order (CO), initiative
(INT), impact and influence (IMP), dan information seeking (INFO).
a. Concern for order (CO) merupakan dorongan dalam diri seseorang
untuk mengurangi ketidakpastian di lingkungan sekitarnya, khususnya
berkaitan dengan pengaturan kerja, instruksi, informasi dan data.
b. Initiative (INT) merupakan dorongan bertindak untuk melebihi yang
dibutuhkan atau yang dituntut dari pekerjaan, melakukan sesuatu
tanpa menunggu perintah lebih dahulu. Tindakan ini dilakukan untuk
memperbaiki atau meningkatkan hasil pekerjaan atau menghindari
timbulnya masalah atau menciptakan peluang baru.
c. Impact and influence (IMP) merupakan tindakan membujuk,
mehyakinkan, mempengaruhi atau mengesankan sehingga orang lain
mau mendukung agendanya.
d. Information seeking (INFO) merupakan besarnya usaha tambahan
yang dikeluarkan untuk mengumpulkan informasi lebih banyak.
3. Konsep Diri dan Nilai-nilai
Konsep diri dan nilai-nilai merujuk pada sikap. Disamping
pengetahuan dan ketrampilan pegawai, hal yang perlu diperhatikan
adalah sikap atau perilaku kerja pegawai. Apabiia pegawai mempunyai
sifat yang mendukung pencapaian tujuan organisasi, maka secara
otomatis segala tugas yang dibebankan kepadanya akan dilaksanakan
16 Menurut Spencer dan Spencer (1993), dikutip oleh Sutoto (2004),
cluster ini mencakup kompetensi developing others (DEV), directiveness:
assertiveness and use of positional power (DIR), teamwork and cooperation (TW), team leadership (TL), interpersonal understanding (IU),
dan customer service orientation (CSO).
a. Developing others (DEV) adalah versi khusus dari impact and
influence, berupa kemauan untuk mengembangkan orang lain. Esensi
dari kompetensi ini terletak pada kemauan serius untuk
mengembangkan orang lain dan dampaknya ketimbang sebuah peran
formal. Bisa dengan mengirim orang ke program training secara rutin
untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan dan perusahaan. Cara lain
adalah dengan bekerja untuk mengembangkan para kolega, klien,
bahkan atasan.
b. Directiveness assertiveness and use of positional power (DIR)
mencerminkan kemauan untuk membuat orang lain selaras dengan
keinginannya. Di sini sang pemimpin menceritakan apa yang harus
dilakukan.
c. Teamwork and cooperation (TW) berarti kemauan sungguh-sungguh
untuk bekerja secara kooperatif dengan pihak lain, menjadi bagian
sebuah tim, bekerja bersama sehingga menjadi lebih kompetitif.
d. Team leadership (TL) adalah kemauan untuk berperan sebagai
17 untuk memimpin orang lain. TL lazimnya terlihat dalam posisi otoritas
formal.
e. Interpersonal understanding (IU) merupakan kemampuan untuk memahami dan mendengarkan hal-hal yang tidak diungkapkan dengan perkataan, bisa berupa pemahaman atas perasaan, keinginan atau pemikiran orang lain.
f. Customer service orientation (CSO) merupakan keinginan untuk menolong atau melayani pelanggan atau orang lain. Pelanggan adalah pelanggan aktual atau pelanggan akhir dari organisasi yang sama.
4. Karakteristik Pribadi
Karakteristik pribadi merupakan cerminan bagaimana seorang pegawai mampu/tidak mampu melakukan suatu aktivitas dan tugas secara mudah/sulit dan sukses/tidak pernah sukses. Menurut Spencer dan Spencer (1993), dikutip oleh Sutoto (2004), cluster ini mencakup kompetensi self control (SCT), self confidence (SCF), flexibility (FLX), dan
organizational commitment (OC).
a. Self control (SCT) merupakan kemampuan untuk mengendalikan emosi diri sehingga mencegah untuk melakukan tindakan-tindakan yang negatif pada saat ada cobaan, khususnya ketika menghadapi tantangan atau penolakan dari orang lain atau pada saat bekerja dibawah tekanan.
b. Self confidence (SCF) merupakan keyakinan seseorang pada kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan suatu tugas atau tantangan.
c. Flexibility (FLX) merupakan kemampuan menyesuaikan diri dan bekerja secara efektif pada berbagai situasi, dengan berbagai rekan
18 atau kelompok yang berbeda; kemampuan untuk memahami dan menghargai perbedaan dan pandangan yang bertentangan atas suatu isu.
d. Organizational commitment (OC) merupakan kemampuan dan kemauan seseorang untuk mengaitkan apa yang diperbuat dengan kebutuhan, prioritas dan tujuan organisasi; berbuat sesuatu untuk mempromosikan tujuan organisasi atau untuk memenuhi kebutuhan organisasi; dan menempatkan misi organisasi diatas keinginan diri sendiri atau peran profesionalnya.
5. Motif
Motif adalah kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan kepuasan dirinya. Menurut Spencer dan Spencer (1993), dikutip oleh Sutoto (2004), Cluster ini mencakup
organizational awareness (OA), relationship building (RB), dan achievement orientation (ACH)
a. Organizational awareness (OA) merupakan kemampuan untuk memahami hubungan kekuasan atau posisi dalam organisasi.
b. Relationship building (RB) merupakan besarnya usaha untuk menjalin dan membina hubungan sosial atau jaringan hubungan sosial agar tetap hangat dan akrab.
c. Achievement orientation (ACH) merupakan derajat kepedulian seorang pegawai terhadap pekerjaannya, sehingga terdorong berusaha untuk bekerja lebih baik atau di atas merupakan derajat kepedulian seorang pegawai terhadap standar.
Penelitian ini hanya akan mengkaji konsep kompetensi dari aspek
pengetahuan, keterampilan, konsep diri, dan karakteristik pribadi.
19 kompetensi yang nampak dipermukaan sehingga mudah dilihat dan
dinilai. Kompetensi ini biasanya mudah untuk dikembangkan dan tidak
memerlukan biaya pelatihan yang besar untuk menguasainya.
Kompetensi konsep diri dan karakteristik pribadi sifatnya tersebunyi tapi
masih dapat diamati melalui sikap dan prilaku yang terlihat sehari-hari.
Sedangkan aspek motivasi tidak diteliti karena disamping sifatnya
tersebunyi di dalam hati seseorang, motivasi juga lebih sulit untuk
dikembangkan atau dinilai. Untuk mengubah motif memang masih dapat
dilakukan, namun prosesnya panjang, sulit dan mahal. Mengingat
terbatasnya waktu penelitian, maka peneliti menetapkan bahwa aspek
motivasi tidak diteliti.
Palan (2007:6) mengatakan bahwa kompetensi terdiri dari
beberapa jenis karakteristik yang berbeda, yang mendorong perilaku.
Pondasi karakteristik ini terbukti dalam cara seseorang berperilaku di
tempat kerja. Kompetensi adalah mengenai orang seperti apa dan apa
yang dapat mereka lakukan, bukan apa yang mungkin mereka lakukan.
Kompetensi ditemukan pada orang-orang yang diklasifikasikan sebagai
berkinerja unggul atau efektif.
Murgiyono (2002:11), mengemukakan bahwa bagaimana
mengetahui, mengukur, dan mengembangkan kompetensi untuk membina
PNS yang profesional, bertanggung jawab, jujur dan adil. Manajemen
PNS berbasis kompetensi harus didasarkan pada pengertian dan
pemahaman secara jelas mengenai kompetensi yang dibutuhkan, untuk
memberikan gambaran secara rinci tentang kekuatan dan kelemahan
yang dimiliki PNS. Secara konseptual, Pribadi (dalam Murgiyono,
20 Kompetensi adalah hal-hal yang mampu dilakukan seseorang. Dalam pengertian ini mencakup tiga hal, yaitu: (1) atribut-atribut positif pemegang jabatan, (2) jabatan itu dijalankan dengan hasil efektif atau superior, dan (3) perilaku pemegang jabatan.
Amstrong dan Baron (1998:298), mengatakan bahwa “competency
is some time defined as referring to the dimensions of behavior that lie behind competen performance”. (kadang-kadang terbentuk sebagai
dimensi-dimensi perilaku dan tingkah laku yang terletak dari kompetensi
kinerja). Prayitno dan Suprapto (2002:2), mengatakan bahwa standar
kompetensi adalah spesifikasi atau sesuatu yang dilakukan, memuat
persyaratan minimal yang harus dimiliki seseorang yang akan melakukan
pekerjaan tertentu agar bersangkutan mempunyai kemampuan
melaksanakan pekerjaan dengan hasil baik. Suprapto (2002:3),
mengatakan bahwa:
Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang PNS berupa pengetahuan, keahlian dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.
Lasmahadi dalam Prayitno dan Suprapto (2002:2), mengatakan
bahwa kompetensi didefinisikan sebagai aspek pribadi dari seorang
pegawai yang memungkinkan dia untuk mencapai kinerja yang superior.
Aspek-aspek pribadi termasuk sifat, motif-motif, sistem nilai, sikap
pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi-kompetensi akan
mengarahkan tingkah laku, sedangkan tingkah laku akan menghasilkan
kinerja. Mitrani (1995:21), mengatakan bahwa kompetensi adalah suatu
sifat dasar seseorang yang dengan sendirinya berkaitan dengan
21 Kompetensi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun
2000, adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang
PNS berupa pengetahuan, keterampilan dan atau sikap perilaku yang
diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.
Spencer dan Spencer dalam Ruky (2004: 106) menjelaskan bahwa
kompetensi dalam kaitannya dengan unjuk kerja dapat digolongkan dalam
2(dua) jenis, yaitu :
a. Kompetensi ambang (threshold competencies), yaitu kriteria minimal dan esensial yang dibutuhkan/di tuntut dari sebuah jabatan dan harus bisa di penuhi oleh setiap pemegang jabatan tersebut untuk dapat bekerja menjalankan pekerjaan tersebut secara efektif
b. Kompetensi pembeda (differentiating competencies), yaitu kriteria yang dapat membedakan antara orang yang selalu mencapai unjuk kerja superior dan orang yang unjuk kerjanya rata-rata saja.
Sedangkan, Covey, Roger dan Merrill dalam Mangkunegara
(2005:112) mengatakan bahwa kompetensi mencakup:
a. Kompetensi teknis: pengetahuan dan keahlian untuk mencapai hasil-hasil yang telah disepakati, kemampuan untuk memikirkan persoalan dan mencari alternatif-alternatif baru.
b. Kompetensi konseptual: kemampuan untuk melihat gambar besar, untuk menguji berbagai pengandaian dan pengubah perspektif.
c. Kompetensi untuk hidup dalam saling ketergantungan kemampuan secara efektif dengan orang lain, termasuk kemampuan untuk mendengar, berkomunikasi, mendapat alternatif ketiga, menciptakan kesepakatan menang-menang, dan berusaha mencapai solusi alternatif ketiga, kemampuan untuk melihat dan beroperasi secara efektif dalam organisasi atau sistem yang utuh.
22 Michael Zwell 2000:25 (dalam Wibowo, 2007:93) memberikan lima
kategori kompetensi, yang terdiri dari task achievement, relationship,
personal attribute, managerial, dan leadership.
1. Task achievement merupakan kategori kompetensi yang berhubungan
dengan kinerja baik. Kompetensi yang berkaitan dengan task
achievement ditunjukkan oleh: orientasi pada hasil, mengelola kinerja,
mepengaruhi, inisiatif, efisensi produksi, fleksibilitas, inovasi, peduli
kepada kualitas, perbaikan berkelanjutan, dan keahlian teknis.
2. Relationship merupakan kategori kompetensi yang berhubungan
dengan komunikasi dan bekerja baik dengan orang lain dan
memuaskan kebutuhannya. Kompetensi yang berhubungan dengan
relationship meliputi: kerja sama, orientasi pada pelayanan,
kepedulian antar pribadi, kecerdasan organisasional, membangun
hubungan, penyelesaian konflik, perhatian pada komunikasi dan
sensitivitas lintas budaya.
3. Personal attribute merupakan kompetensi intrinsic individu dan
menghubungkan bagaimana orang berpikir, merasa, belajar dan
berkembang. Personal attribute merupakan kompetensi yang meliputi:
integritas dan kejujuran, pengembangan diri, ketegasan, kualitas
keputusan, manajemen stress, berpikir analitis, dan berpikir
konseptual.
4. Managerial merupakan kompetensi yang secara spesifik berkaitan
23 Kompetensi manajerial berupa: memotivasi, memberdayakan, dan
mengembangkan orang lain.
5. Leadership merupakan kompetensi yang berhubungan dengan
memimpin organisasi dan orang untuk mencapai maksud, visi, dan
tujuan organisasi. Kompetensi berkenaan dengan leadership meliputi:
kepemimpinan visioner, berpikir strategis, orientasi kewirausahaan,
manajemen perubahan, membangun komitmen organisasional,
membangun focus dan maksud.
Setiap kompetensi tampak pada individu pada berbagai tingkatan.
Kompetensi termasuk karakteristik manusia yang paling dalam seperti
motif, sifat dan sikap atau merupakan karakteristik yang dengan mudah
dapat diamati seperti keterampilan atau pengetahuan.
Adanya tingkat kompetensi dikemukakan oleh spencer dan spencer
1993:11 (dalam Wibowo, 2007: 95) seperti gunung es dimana ada yag
tampak dipermukaan, tetapi ada pula yang tidak terlihat dipermukaan.
Tingkatan kompetensi dapat dikelompokkan dalam tiga tingkatan, yaitu:
behavior tools, image attribute, dan personal characteristic. 1. Behavioral Tools.
a. Knowledge merupakan informasi yang digunakan orang dalam
bidang tertentu.
b. Skill merupakan kemampuan orang untuk melakukan sesuatu
24
2. Image Attribute.
a. Social role merupakan pola perilaku orang yang diperkuat oleh
kelompok social atau organisasi.
b. Self Image merupakan pandangan orang terhadap dirinya sendiri,
identitas, kepribadian, dan harga dirinya.
3. Personal Characteristic.
a. Traits merupakan aspek tipikal berperilaku.
b. Motive merupakan apa yang mendorong perilaku seseorang dalam
bidang tertentu (prestasi, afiliasi, kekuasaan).
Spencer dan Spencer dalam Mitrani (1995:40-43), ciri-ciri yang
perlu dimiliki orang-orang untuk bekerja dalam organisasi-organisasi baru,
baik untuk para eksekutif, manajer dan karyawan sebagai berikut :
a. Eksekutif :
1) Pemikiran strategis. Untuk memahami kecenderungan (trends)
lingkungan yang cepat berubah, kekuatan serta kelemahan
organisasi sendiri, supaya dapat menemukan tanggapan strategis
yang terbaik.
2) Kepemimpinan perubahan (change leadership). Untuk mengkomunikasikan pandangan mengenai strategi organisasi
sehingga dapat membangkitkan motivasi dan komitmen mereka
yang tulus dan memanfaatkan SDM organisasi sebaik-baiknya
25 3) Mengenai hubungan (relationship management). Untuk membina
hubungan dengan pihak lain yang kerja-samanya diperlukan demi
keberhasilan organisasi.
b. Manajer
1) Keluwesan. Untuk mengubah struktur dan proses-proses
manajerial bila diperlukan, untuk melaksanakan strategi perubahan
organisasi.
2) Pelaksanaan perubahan. Untuk mengkomunikasikan kebutuhan
perubahan organisasi kepada sesama karyawan, dan
keterampilan-keterampilan manajemen perubahan.
3) Saling pengertian antar pribadi. Untuk memahami dan menghargai
masukan-masukan dari orang-orang yang berlainan.
4) Memberikan wewenang. Dengan saling berbagi informasi minta
pendapat dari sesama karyawan mengupayakan pengembangan
karyawan, mendelegasikan tanggung jawab yang berarti.
5) Bantuan kelompok. Agar kelompok-kelompok yang berlainan dapat
bekerja-sama secara efektif untuk mencapai tujuan bersama.
6) Protobilitas. Agar cepat menyesuaikan diri dan berfungsi secara
efektif dari lingkungan-lingkungan asing, seorang manajer harus
26 c. Karyawan
1) Keluwesan. Untuk memandang perubahan sebagai peluang yang
menarik ketimbang suatu ancaman.
2) Selalu mencari informasi, motivasi dan kemampuan belajar.
Merupakan keinginan yang tulus terhadap peluang-peluang untuk
mempelajari keterampilan-keterampilan teknis dan hubungan antar
pribadi baru
3) Motivasi untuk berprestasi. Merupakan pendorong bagi inovasi,
yaitu peningkatan mutu dan produktivitas terus menerus yang
dibutuhkan untuk menghadapi (lebih baik memimpin) persaingan
yang terus meningkat
4) Motivasi kerja di bawah tekanan waktu. Merupakan gabungan
antara keluwesan, motivasi untuk berprestasi, daya tahan terhadap
tekanan, dan komitmen terhadap organisasi, yang memungkinkan
seseorang bekerja di bawah tuntutan akan produk atau jasa-jasa
(baru) dalam jangka waktu yang lebih singkat.
5) Kesediaan untuk bekerjasama (coll aborativeness). Dalam
kelompok–kelompok multidisipliner dengan rekan kerja yang
berbeda beda, pengharapan positif terhadap orang lain, saling
pengertian antar pribadi, dan komitmen terhadap organisasi.
6) Orientasi pelayanan pelanggan (customer service orientation)
27 pengertian antar pribadi yang memadai untuk mengetahui
kebutuhan dan suasana emosional pelanggan, dan cukup inisiatif
untuk mengatasi rintangan-rintangan dalam organisasi sendiri guna
memecahkan masalah-masalah pelanggan.
Kompetensi bukan merupakan kemampuan yang tidak dapat
dipengaruhi, Michael Zwell 2000: 56-68 (dalam Wibowo 2007:102)
mengungkapkan bahwa terdapat beberapa factor yang dapat
mempengaruhi kecakapan kompetensi seseorang, yaitu sebagai berikut:
1. Keyakinan dan Nilai-nilai
Keyakinan orang tentang dirinya maupun terhadap orang lain akan
sangat mempengaruhi perilaku. Apabila orang percaya bahwa mereka
tidak kreatif dan inovatif, mereka tidak akan berusaha berpikir tentang cara
baru atau berbeda dalam melakukan sesuatu. Untuk itu, setiap orang
harus berpikir positif baik tentang dirinya maupun terhadap orang lain dan
menunjukkan ciri orang yang berpikir kedepan.
2. Keterampilan
Keterampilan memainkan peran dikebanyakan kompetensi.
Pengembangan keterampilan yang secara spesifik berkaitan dengan
kompetensi dapat berdampak baik pada budaya organisasi dan
28 3. Pengalaman.
Keahlian dari banyak kompetensi memerlukan pengalaman
mengorganisasi orang, komunikasi di hadapan kelompok, menyelesaikan
masalah, dsb. Orang yang pekerjaannya memerlukan sedikit pemikiran
strategis kurang mengembangkan kompetensi daripada mereka yang
telah menggunakan pemikiran strategis bertahun-tahun. Pengalaman
merupakan elemen kompetensi yang perlu, tetapi untuk menjadi ahli tidak
cukup dengan pengalaman.
4. Karakteristik Kepribadian.
Dalam kepribadian termasuk banyak factor yang diantaranya sulit
untuk berubah. Akan tetapi, kepribadian bukannya sesuatu yang tidak
dapat berubah. Kepribadian seseorang dapat berubah sepanjang waktu.
Orang merespons dan berinteraksi dengan kekuatan dan lingkungan
sekitarnya.
Kepribadian dapat mempengaruhi keahlian manajer dan pekerja
dalam sejumlah kompetensi, termasuk dalam penyelesaian konflik,
menunjukkan kepedulian interpersonal, kemampuan bekerja dalam tim,
memberikan pengaruh dan membangun hubungan. Walaupun dapat
berubah, kepribadian tidak cenderung berubah dengan mudah. Tidaklah
bijaksana untuk mengharapkan orang memperbaiki kompetensinya
29 5. Motivasi
Merupakan factor dalam kompetensi yang dapat berubah. Dengan
memberikan dorongan, apresiasi terhadap pekerjaan bawahan,
memberikan pengakuan dan perhatian individual dari atasan dapat
mempunyai pengaruh positif terhadap motivasi seorang bawahan.
Kompetensi menyebabkan orientasi bekerja seseorang pada hasil,
kemampuan mempengaruhi orang lain, meningkatnya inisiatif, dsb. Pada
gilirannya, peningkatan kompetensi akan meningkatkan kinerja bawahan
dan kontribusinya pada organisasi pun menjadi meningkat.
6. Isu Emosional
Hambatan emosional dapat membatasi penguasaan kompetensi.
Takut membuat kesalahan, menjadi malu, merasa tidak disuai atau tidak
menjadi bagian, semuanya cenderung membatasi motivasi dan inisiatif.
Perasaan tentang kewenangan dapat mempengaruhi kemampuan
komunikasi dan menyelesaikan konflik dengan manajer.
Mengatasi pengalaman yang tidak menyenangkan akan
memperbaiki penguasaan dalam banyak kompetensi. Akan tetapi, tidak
beralasan mengharapkan pekerja mengatasi hambatan emosional tanpa
bantuan.
7. Kemampuan Intelektual.
Kompetensi tergantung pada pemikiran kognitif seperti pemikiran
konseptual dan pemikiran analitis. Tidak mungkin memperbaiki melalui
30 8. Budaya Organisasi
Budaya organisasi mempengaruhi kompetensi sumber daya
manusia dalam kegiatan sebagai berikut:
a. Praktik rekruitmen dan seleksi karyawan mempertimbangkan siapa
diantara pekerja yang dimasukkan dalam organisasi dan tingkat
keahliannya tentang kompetensi.
b. Sistem penghargaan mengkomunikasikan pada pekerja bagaimana
organisasi menghargai kompetensi.
c. Praktik pengambilan keputusan mempengaruhi kompetensi dalam
memberdayakan orang lain, inisiatif, dan memotivasi orang lain.
d. Filosofi organisasi, visi-misi, dan nilai-nilai berhubungan dengan semua
kompetensi.
e. Kebiasaan dan prosedur member informasi kepada pekerja tentang
berapa banyak kompetensi yang diharapkan.
f. Komitmen pada pelatihan dan pengembangan mengkomunikasikan
pada pekerja tentang pentingnya kompetensi tentang pembangunan
berkelanjutan.
g. Proses organisasional yang mengembangkan pemimpin secara
langsung mempengaruhi kompetensi kepemimpinan.
Selanjutnya, Palan (2007:21) mengatakan bahwa ada dua isu yang
31 1. Isu organisasi, mencakup;
a) Perekonomian dunia ditandai dengan oleh perubahan drastis dan
inovasi teknologi. Organisasi harus selalu meningkatkan
kompetensi karyawan mereka agar berprestasi dan sukses.
Sekarang organisasi-organisasi melakukan upaya besar-besaran
agar berkinerja unggul, yang hanya dapat dicapai dengan
berinvestasi pada tenaga kerja yang kompeten.
b) Aspirasi organisasi pada sebuah pasar hanya dapat direalisasikan
oleh tenaga kerja yang bermulti-keterampilan (multy skills), mudah
berpindah dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, dan
memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
c) Ketidakpuasan terhadap mutu pendidikan telah mendorong industri
melakukan sendiri pendidikan dan pelatihan untuk memastikan
tenaga kerja yang siap pakai.
d) Kesamaan pemahaman mengenai kompetensi dalam organisasi,
memungkinkan organisasi memiliki kesamaan bahasa dalam
menjelaskan aktivitasnya.
e) Dengan kesamaan pemahaman terhadap pengertian konsistensi
dan efektivitasnya dalam organisasi, organisasi memperoleh
keuntungan berupa konsistensi yang tinggi dalam menilai kinerja
karyawan, karena penilaian tersebut didasarkan pada kompetensi
yang dimiliki dan dipahami bersama.
f) Akhirnya, gerakan mutu menuntut organisasi untuk memastikan
32 g) Kompetensi mendukung pencapaian tujuan strategis organisasi.
2. Isu karyawan, mencakup;
a) Di dalam dunia yang tidak bisa diprediksi, organisasi mulai
merasakan tantangan besar. Konsep hubungan kerja dengan
sendirinya mengalami perubahan; dipekerjakan bukan lagi untuk
seumur hidup, melainkan dipekerjakan selama keahliannya
dibutuhkan oleh perusahaan.
b) Apabila ada karyawan tidak lagi mengembangkan kompetensinya
melalui belajar dan berkinerja, mereka akan menciptakan
kesalahan fatal.
Mencermati berbagai uraian tentang konsep kompetensi di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi
adalah kemampuan dan karakteristik yang mendasari perilaku seseorang
untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya
sesuai dengan hasil yang diharapkan. Indikator dari kompetensi banyak
ditentukan oleh kajian teoritis yang dikembangkan. Kompetensi terlihat
dalam dimensi pengetahuan, keterampilan, konsep diri dan nilai-nilai,
karakteristik pribadi, dan motif yang memicu tindakan seseorang.
2. Kinerja Pegawai
Secara etimologi, kinerja berasal dari kata performance.
Performance berasal dari kata to perform yang mempunyai beberapa
masukan (entries), yakni (1) melakukan, (2) memenuhi atau menjalankan
33 yang diharapkan oleh seseorang. Dari masukan tersebut dapat diartikan,
kinerja adalah melakukan suatu kegiatan dan menyempurnakan pekerjaan
tersebut sesuai dengan tanggung jawabnya sehingga dapat mencapai
hasil sesuai dengan yang diharapkan.
Murphy dan Cleveland (1995:113) mengatakan bahwa kinerja
adalah kualitas perilaku yang berorientasi pada tugas atau pekerjaan.
Ndraha (1997:112) mengatakan bahwa kinerja adalah manifestasi dari
hubungan kerakyatan antara masyarakat dengan pemerintah. Widodo
(2006:78) mengatakan bahwa kinerja adalah melakukan suatu kegiatan
dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan
hasil seperti yang diharapkan.
Selanjutnya Gibson (1990:40) mengatakan bahwa kinerja
seseorang ditentukan oleh kemampuan dan motivasinya untuk
melaksanakan pekerjaan. Dikatakan juga bahwa pelaksanaan pekerjaan
itu ditentukan oleh interaksi antara kemampuan dan motivasi. Keban
(1995:1) kinerja adalah merupakan tingkat pencapaian tujuan. Sedangkan
Timpe (1998:9) kinerja adalah prestasi kerja, yang ditentukan oleh faktor
lingkungan dan perilaku manajemen. Hasil penelitian Timpe menunjukkan
bahwa lingkungan kerja yang menyenangkan begitu penting untuk
mendorong tingkat kinerja pegawai yang paling efektif dan produktif dalam
interaksi sosial organisasi akan senantiasa terjadi adanya harapan
34 Mangkunegara (2005:9) mengatakan bahwa:
Kinerja adalah merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Dwiyanto (1995:24), mengatakan bahwa kemampuan untuk
menghasilkan berupa jasa dan materi disebut kinerja, dimana kemampuan
tersebut dapat dipengaruhi oleh motivasi, pendidikan, dan pengalaman
kerja, sehingga dapat dikatakan kinerja sama dengan hasil kerja yang
dihasilkan dari kemampuan untuk menghasilkan jasa dan materi.
Menurut Simanjuntak (2005:103) Kinerja Individu adalah tingkat
pencapaian atau hasil kerja seseorang dari sasaran yang harus dicapai
atau tugas yang harus dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu. Rivai
dan Basri (2005:14) berpendapat bahwa:
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu didalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan hasil kemungkinan, seperti standar kerja, target atau sasaran atau kriteria yang ditentukan terlebih dahulu dan disepakati bersama.
Beberapa pengertian tentang kinerja dalam Rivai dan Basri
(2005:14) berikut ini dapat memperkaya wawasan adalah:
1. Kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk pada
tindakan pencapaian serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang
diminta, Stolovitch and Keeps: 1992 (dalam Rivai dan Basri 2005:14).
2. Kinerja merupakan salah satu kumpulan total dari kerja yang ada pada
35 3. Kinerja dipengaruhi oleh tujuan, Mondy and Premeaux: 1993 (dalam
Rivai dan Basri 2005:14).
4. Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk
menyelesaikan tugas atau pekerjaan, seseorang harus memiliki derajat
kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kesediaan dan
keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan
sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan
dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya, Hersey and Blanchard:
1993 (dalam Rivai dan Basri 2005:14).
5. Kinerja merujuk kepada pencapaian tujuan karyawan atas tugas yang
diberikan, Casio: 1992 (dalam Rivai dan Basri 2005:14).
6. Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan
tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kinerja dinyatakan baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat
tercapai dengan baik, Donelly, Gibson and Ivancevich: 1994 (dalam
Rivai dan Basri 2005:14).
7. Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan merupakan salah satu tolok
ukur kinerja individu. Ada tiga kriteria dalam melakukan penilaian
kinerja indivudu, yakni: (a) tugas individu; (b) perilaku individu; dan (c)
ciri individu, Robbin: 1996 (dalam Rivai dan Basri 2005:14).
8. Kinerja sebagai kualitas dan kuantitas pencapaian tugas-tugas, baik
yang dilakukan oleh individu, kelompok maupun perusahaan,
Schermerhorn, Hunt and Osborn: 1991 (dalam Rivai dan Basri
36 Prawirosentono (1990:2), mengatakan bahwa:
Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh pegawai atau sekelompok pegawai dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.
Sinambela, dkk (2007:136) mendefinisikan kinerja pegawai sebagai
kemampuan pegawai dalam melakukan sesuatu dengan keahlian tertentu.
Simamora (2003:416) mengemukakan bahwa:
Kinerja adalah aktivitas yang berkaitan dengan unsur-unsur yang terlibat dalam proses untuk menghasilkan sesuatu output. Dalam pengertian kinerja tersebut di atas ada 3 aspek yang salingg berkaitan perlu dipahami setiap pegawai atau pimpinan suatu unit kerja atau organisasi yaitu; 1) tugas atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya jelas, 2) hasil yang diharapkan dari suatu pekerjaan atau fungsi menjadi jelas, 3) waktu yang diperlukan menyelesaikan suatu pekerjaan tepat agar hasil yang diharapkan dapat terwujud.
Ruky (2004:12) mengemukakan beberapa pendapat bahwa kinerja
ialah suatu penilaian priodik atas nilai seseorang yang berada dalam
posisi untuk mengamati atau menilai prestasi kerjanya, sedangkan Dale S.
Beach (dalam Ruky, 2004:12) mengemukakan bahwa performance adalah
sebuah penilaian sistematis atas individu karyawan mengenai prestasi
dalam pekerjaannya dan potensinya untuk pengembangan, selanjutnya
Cascio (dalam Ruky, 2004:12) berpendapat bahwa perfomance adalah
sebuah gambaran atau deskripsi sistematis tentang kekuatan dan
kelemahan yang terkait dengan pekerjaan seseorang atau suatu