• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kasus Kusta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Kasus Kusta"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KASUS LAPORAN KASUS

MORBUS HANSEN/ LEPRA/ KUSTA MORBUS HANSEN/ LEPRA/ KUSTA

Amelia DNS Amelia DNS

Bagian/Smf Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin Bagian/Smf Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin

Fk Unizar/ RSUP NTB Fk Unizar/ RSUP NTB

PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Konon, kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh Konon, kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal oleh peradaban

peradaban Tiongkok kuna,Tiongkok kuna, Mesir kuna,Mesir kuna, dandan IndiaIndia..[3][3] PadaPada 1995,1995, Organisasi Kesehatan DuniaOrganisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat dua hingga tiga

(WHO) memperkirakan terdapat dua hingga tiga juta jiwa juta jiwa yang cacat permanen karena kusta.yang cacat permanen karena kusta.

[4] [4]

Walaupun pengisolasian atau pemisahan penderita dengan masyarakat dirasakan kurang Walaupun pengisolasian atau pemisahan penderita dengan masyarakat dirasakan kurang perlu dan tidak 

perlu dan tidak etis,etis, beberapa kelompok penderita masih dapat ditemukan di berbagai belahanbeberapa kelompok penderita masih dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, seperti

dunia, seperti IndiaIndia dandan Vietnam.Vietnam. Kusta berasal dari kata

Kusta berasal dari kata kusthakustha di bahasa Sansekerta, yang berarti kumpulan gejala-di bahasa Sansekerta, yang berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penderita Kusta sebenarnya telah ditemukan sejak tahun 600 gejala kulit secara umum. Penderita Kusta sebenarnya telah ditemukan sejak tahun 600 Sebelum Masehi. Namun, kuman penyebab penyakit Kusta, yakni

Sebelum Masehi. Namun, kuman penyebab penyakit Kusta, yakni  Mycobacterium  Mycobacterium lepraeleprae,, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH Armauer Hansen pada tahun 1873, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH Armauer Hansen pada tahun 1873, maka dari itu Kusta ini dikenal juga dengan nama Morbus Hansen, sesuai dengan penemu maka dari itu Kusta ini dikenal juga dengan nama Morbus Hansen, sesuai dengan penemu kuman penyebab kusta tersebut.

kuman penyebab kusta tersebut.

Penyakit ini diduga berasal dari Afrika dan Asia tengah dan kemudian tersebar Penyakit ini diduga berasal dari Afrika dan Asia tengah dan kemudian tersebar melalui perpindahan penduduk di beberapa belahan dunia, penyebaran penyakit tersebut melalui perpindahan penduduk di beberapa belahan dunia, penyebaran penyakit tersebut umumnya dibawa oleh para pedagang yang melintasi batas negara. Sedangkan Kusta masuk  umumnya dibawa oleh para pedagang yang melintasi batas negara. Sedangkan Kusta masuk  ke Indonesia ini melalui para pedagang dan penyebar agama sekitar abad ke IV-V oleh orang ke Indonesia ini melalui para pedagang dan penyebar agama sekitar abad ke IV-V oleh orang India.

(2)

DEFINISI DEFINISI

Kusta/ Lepra/ Penyakit Morbus Hansen, Penyakit Hansen

Kusta/ Lepra/ Penyakit Morbus Hansen, Penyakit Hansen adalah sebuahadalah sebuah penyakitpenyakit infeksi

infeksi kroniskronis yang disebabkan olehyang disebabkan oleh bakteribakteri Mycobacterium lepr Mycobacterium lepraeae..[1][1] Penyakit ini adalah tipePenyakit ini adalah tipe penyakit

penyakit granulomatosagranulomatosa padapada saraf tepisaraf tepi dandan mukosamukosa daridari saluran pernapasan atas;saluran pernapasan atas; dandan lesilesi pada

pada kulitkulit adalah tanda yang bisa diamati dari luaradalah tanda yang bisa diamati dari luar ..[2][2] Bila tidak ditangani, kusta Bila tidak ditangani, kusta dapat sangatdapat sangat progresif, menyebabkan kerusaka

progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, n pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dansaraf-saraf, anggota gerak, dan mata.mata. ETIOLOGI

ETIOLOGI

Kusta yang merupakan penyakit kronis ini disebabkan oleh infeksi

Kusta yang merupakan penyakit kronis ini disebabkan oleh infeksi  Mycobacterium Mycobacterium leprae

leprae (M.leprae)(M.leprae). Kuman ini adalah kuman aerob, berbentuk batang dengan ukuran 1-8. Kuman ini adalah kuman aerob, berbentuk batang dengan ukuran 1-8 μμ,, lebar 0,2

lebar 0,2  –  –  0,50,5 μμ, sifatnya tahan asam sehingga tidak mudah untuk diwarnai., sifatnya tahan asam sehingga tidak mudah untuk diwarnai.  M.leprae M.leprae biasanya berkelompok dan ada pula yang tersebar satu-satu. Kuman ini hidup dalam sel biasanya berkelompok dan ada pula yang tersebar satu-satu. Kuman ini hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat dikultur

terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat dikultur dalam media buatan.dalam media buatan.

Masa belah diri kuman kusta ini memerlukan waktu yang sangat lama dibandingkan Masa belah diri kuman kusta ini memerlukan waktu yang sangat lama dibandingkan dengan kuman lain, yaitu 12-21 hari. Sehingga masa tunas pun menjadi lama,

dengan kuman lain, yaitu 12-21 hari. Sehingga masa tunas pun menjadi lama, yaitu sekitar 2yaitu sekitar 2 –  –  5 tahun.

5 tahun.

Kuman Kusta ini pertama kali menyerang saraf tepi, yang selanjutnya dapat Kuman Kusta ini pertama kali menyerang saraf tepi, yang selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang dan juga testis, kecuali susunan saraf pusat. Kusta yang merupakan penyakit otot, tulang dan juga testis, kecuali susunan saraf pusat. Kusta yang merupakan penyakit menahun ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan anggota tubuh penderita tidak dapat menahun ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

berfungsi sebagaimana mestinya.

Mikobakteriae merupakan kelompok bakteri berbentuk basil, bersifat

Mikobakteriae merupakan kelompok bakteri berbentuk basil, bersifat aerob yang tidak aerob yang tidak  membentuk spora. Meskipun mereka tidak terwarnai dengan baik, segera setelah diwarnai membentuk spora. Meskipun mereka tidak terwarnai dengan baik, segera setelah diwarnai mereka mempertahankan dekolorisasi oleh asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan mereka mempertahankan dekolorisasi oleh asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan  basil

 basil “cepat “cepat asam” asam” (Brooks, (Brooks, 453:2005). Mycobacterium 453:2005). Mycobacterium leprae leprae merupakan merupakan agen agen causal causal padapada lepra. Kuman ini berbentuk batang tahan asam yang termasuk familia

lepra. Kuman ini berbentuk batang tahan asam yang termasuk familia  Mycobacteriaeceae Mycobacteriaeceae atas dasar morfologik, biokimia, antigenik, dan kemiripan genetik dengan mikobakterium atas dasar morfologik, biokimia, antigenik, dan kemiripan genetik dengan mikobakterium lainnya (Isselbacher, 808:1999).

lainnya (Isselbacher, 808:1999).

Bentuk bentuk kusta yang dapat kita lihat dibawah mikroskop adalah bentuk utuh, Bentuk bentuk kusta yang dapat kita lihat dibawah mikroskop adalah bentuk utuh, bentuk pecah

(3)

bentuk 

bentuk clumps.clumps. Bentuk utuh , diman dinding Bentuk utuh , diman dinding selnya masih utuh, mengambil zat warna merata,selnya masih utuh, mengambil zat warna merata, dan panjangnya biasanya empat kali lebarnya. Bentuk pecah

dan panjangnya biasanya empat kali lebarnya. Bentuk pecah  –  – pecah, dimana dinding selnyapecah, dimana dinding selnya terputus sebagian atau seluruhnya dan pengambilan zat warna tidak

terputus sebagian atau seluruhnya dan pengambilan zat warna tidak merata. Bentuk granular,merata. Bentuk granular, dimana kelihatan seperti titik 

dimana kelihatan seperti titik  –  –  titik tersusun seperti garis lurus atau berkelompok. Bentuk titik tersusun seperti garis lurus atau berkelompok. Bentuk  globus, dimana beberapa bentuk utuh atau

globus, dimana beberapa bentuk utuh atau  fragmented  fragmented  atauatau granulated granulated  mengandung ikatanmengandung ikatan atau berkelompok 

atau berkelompok  –  –  kelompok. Kelompok kecil adalah kelompok yang terdiri dari 40kelompok. Kelompok kecil adalah kelompok yang terdiri dari 40  –  –  6060 BTA sedangkan kelompok besar adalah kelompok yang terdiri dari 200

BTA sedangkan kelompok besar adalah kelompok yang terdiri dari 200  –  – 300 BTA. Bentuk 300 BTA. Bentuk  clumps

clumps, dimana beberapa bentuk granular membentuk pulau, dimana beberapa bentuk granular membentuk pulau  –  – pulau tersendiri dan biasanyapulau tersendiri dan biasanya lebih dari 500 BTA

lebih dari 500 BTA (Wahyuni, 4-5:2009).(Wahyuni, 4-5:2009). EPIDEMIOLOGI

EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan data yang diperoleh dari WHO

Berdasarkan data yang diperoleh dari WHO pada akhir tahun 2006 didapatkan jumlahpada akhir tahun 2006 didapatkan jumlah pasien kusta yang teregistrasi sebanyak 224.727 penderita. Dari data tersebut didapatkan pasien kusta yang teregistrasi sebanyak 224.727 penderita. Dari data tersebut didapatkan  jumlah

 jumlah pasien pasien terbanyak terbanyak dari dari benua benua Asia Asia dengan dengan jumlah jumlah pasien pasien yang yang terdaftar terdaftar sebanyak sebanyak  116.663 dan dari data didapatkan India merupakan negara dengan jumlah penduduk terkena 116.663 dan dari data didapatkan India merupakan negara dengan jumlah penduduk terkena kusta terbanyak dengan jumlah 82.901 penderita. Namun Micronesia F. S merupakan negara kusta terbanyak dengan jumlah 82.901 penderita. Namun Micronesia F. S merupakan negara dengan jumlah rata-rata prevalensi per 10.000 penduduk terbanyak di dunia, yaitu dengan dengan jumlah rata-rata prevalensi per 10.000 penduduk terbanyak di dunia, yaitu dengan 9,64 per 10.000 jumlah penduduk. Sementara Indonesia pada 2006 tercatat memiliki jumlah 9,64 per 10.000 jumlah penduduk. Sementara Indonesia pada 2006 tercatat memiliki jumlah penderita sebanyak 22.175 (WHO). Pada Poli Kulit dan Kelamin RSUD dr. SOEBANDI, penderita sebanyak 22.175 (WHO). Pada Poli Kulit dan Kelamin RSUD dr. SOEBANDI, Jember dari tahun 1999 sampai tahun 2001 didapatkan jumlah pasien sebanyak 140 Jember dari tahun 1999 sampai tahun 2001 didapatkan jumlah pasien sebanyak 140 penderita, dengan 74 pasien dengan tipe multibasiler dan 66 kasus dengan tipe pausibasiler penderita, dengan 74 pasien dengan tipe multibasiler dan 66 kasus dengan tipe pausibasiler (Erlan. J.S. et all, 21:2003).

(Erlan. J.S. et all, 21:2003).

Kejadian penyakit kusta menunjukkan adanya perbedaan distribusi dapat dilihat Kejadian penyakit kusta menunjukkan adanya perbedaan distribusi dapat dilihat karena faktor geografi. Namun jika diamati dalam satu negara atau wilayah yang sama karena faktor geografi. Namun jika diamati dalam satu negara atau wilayah yang sama kondisi lingkungannya ternyata perbedaan distribusi dapat terjadi karena

kondisi lingkungannya ternyata perbedaan distribusi dapat terjadi karena faktor etnik.faktor etnik.

Di Myanmar kejadian kusta lepromatosa lebih sering terjadi pada etnik Burma Di Myanmar kejadian kusta lepromatosa lebih sering terjadi pada etnik Burma dibandingkan dengan etnik India. Situasi di Malaysia juga mengindikasikan hal yang sama: dibandingkan dengan etnik India. Situasi di Malaysia juga mengindikasikan hal yang sama: kejadian kusta lepromatosa lebih banyak pada etnik China dibandingkan etnik Melayu atau kejadian kusta lepromatosa lebih banyak pada etnik China dibandingkan etnik Melayu atau India. Demikian pula dengan kejadian di Indonesia etnik Madura dan Bugis lebih banyak  India. Demikian pula dengan kejadian di Indonesia etnik Madura dan Bugis lebih banyak  menderita kusta dibandingkan etnik Jawa atau Melayu (Depkes RI, 8:2006).

(4)

Sudah diketahui bahwa faktor sosial ekonomi berperan penting dalam kejadian kusta. Sudah diketahui bahwa faktor sosial ekonomi berperan penting dalam kejadian kusta. Hal ini terbukti pada negara-negara di Eropa. Dengan adanya peningkatan sosial ekonomi, Hal ini terbukti pada negara-negara di Eropa. Dengan adanya peningkatan sosial ekonomi, maka kejadian kusta sangat cepat menurun, bahkan hilang. Kasus kusta imor pada negara maka kejadian kusta sangat cepat menurun, bahkan hilang. Kasus kusta imor pada negara tersebut ternyata tidak menularkan kepada orang yang sosial ekonomi tinggi. Kegagalan tersebut ternyata tidak menularkan kepada orang yang sosial ekonomi tinggi. Kegagalan kasus kusta impor untuk menularkan pada kasus kedua di Eropa juga disebabkan karena kasus kusta impor untuk menularkan pada kasus kedua di Eropa juga disebabkan karena tingkat sosial ekonomi yang tinggi (Depkes RI, 8:

tingkat sosial ekonomi yang tinggi (Depkes RI, 8:2006).2006).

Kebanyakan penelitian melaporkan distribusi penyakit kusta menurut umur Kebanyakan penelitian melaporkan distribusi penyakit kusta menurut umur berdasarkan prevalensi, hanya sedikit yang berdasarkan insiden, kaena pada saat timbulnya berdasarkan prevalensi, hanya sedikit yang berdasarkan insiden, kaena pada saat timbulnya penyakit sangat sulit diketahui. Dengn kata lain kejadian penyakit sering terkait pada umur penyakit sangat sulit diketahui. Dengn kata lain kejadian penyakit sering terkait pada umur pada saat timbulnya penyakit. Pada penyakit kronik

pada saat timbulnya penyakit. Pada penyakit kronik seperti kusta, informasi berdasarkan dataseperti kusta, informasi berdasarkan data prevalensi dan data umur pada saat timbulnya penyakit mungkin tidak menggambarkan prevalensi dan data umur pada saat timbulnya penyakit mungkin tidak menggambarkan resiko spesifik umur. Kusta diketahui terjadi pada semua umur berkisar antara bayi sampai resiko spesifik umur. Kusta diketahui terjadi pada semua umur berkisar antara bayi sampai umur tua (3 minggu sampai lebih dari 70 tahun). Namun yang terbanyak adalah pada usia umur tua (3 minggu sampai lebih dari 70 tahun). Namun yang terbanyak adalah pada usia muda dan produktif (Depkes RI, 8:2006).

muda dan produktif (Depkes RI, 8:2006).

Kusta dapat mengenai laki-laki dan perempuan. Menurut catatan sebagian besar Kusta dapat mengenai laki-laki dan perempuan. Menurut catatan sebagian besar negara di dunia kecuali di beberapa negara di Afrika menunjukkan bahwa laki-laki lebih negara di dunia kecuali di beberapa negara di Afrika menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak terserang dibandingkan wanita. Relatif rendahnya kejadian kusta pada perempuan banyak terserang dibandingkan wanita. Relatif rendahnya kejadian kusta pada perempuan kemungkinan karena faktor lingkungan atau faktor biologi. Seperti kebanyakan penyakit kemungkinan karena faktor lingkungan atau faktor biologi. Seperti kebanyakan penyakit menular lainnya, laki-laki lebih banyak terpapar dengan faktor resiko akibat gaya hidupnya menular lainnya, laki-laki lebih banyak terpapar dengan faktor resiko akibat gaya hidupnya (Depkes RI, 8:2006).

(Depkes RI, 8:2006).

FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN TERJADINYA PENYAKIT KUSTA FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN TERJADINYA PENYAKIT KUSTA a. Sumber Penularan

a. Sumber Penularan

Hanya manusia satu-satunya sampai saat ini

Hanya manusia satu-satunya sampai saat ini yang dianggap sebagai sumber penularanyang dianggap sebagai sumber penularan walaupun kuman kusta dapat hidup pada armadillo, simpanse, dan pada telapak kaki tikus walaupun kuman kusta dapat hidup pada armadillo, simpanse, dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyai kelenjar thymus (Depkes RI, 9:2006).

yang tidak mempunyai kelenjar thymus (Depkes RI, 9:2006). b. Cara Keluar dari Pejamu (Host)

b. Cara Keluar dari Pejamu (Host)

Mukosa hidung telah lama dikenal sebagai sumber dari

Mukosa hidung telah lama dikenal sebagai sumber dari kuman. Suatu kerokan hidungkuman. Suatu kerokan hidung dari penderita tipe Lepromatous yang tidak diobati menunjukkan jumlah kuman sebesar dari penderita tipe Lepromatous yang tidak diobati menunjukkan jumlah kuman sebesar

(5)

10-10. Dan telah terbukti bahwa saluran napas bagian atas dari penderita tipe Lepromatous 10. Dan telah terbukti bahwa saluran napas bagian atas dari penderita tipe Lepromatous merupakan sumber kuman yang terpenting dalam

merupakan sumber kuman yang terpenting dalam lingkungan (Depkes RI, 9:2006).lingkungan (Depkes RI, 9:2006). c. Cara Penularan

c. Cara Penularan

Kuman kusta mempunyai masa inkubasi selama 2-5 tahun, akan tetapi dapat juga Kuman kusta mempunyai masa inkubasi selama 2-5 tahun, akan tetapi dapat juga bertahun-tahun. Penularan terjadi apabila

bertahun-tahun. Penularan terjadi apabila  M.  M. lepraeleprae yang utuh (hidup) keluar dari tubuhyang utuh (hidup) keluar dari tubuh penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain.

penderita dan masuk ke dalam tubuh orang lain. Belum diketahui secara pasti bagaimana caraBelum diketahui secara pasti bagaimana cara penularan penyakit kusta. Secara teoritis penularan ini

penularan penyakit kusta. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak dapat terjadi dengan cara kontak yangyang lama dengan penderita. Penderita yang sudah minum obat

lama dengan penderita. Penderita yang sudah minum obat sesuai dengan regimen WHO tidak sesuai dengan regimen WHO tidak  menjadi sumber penularan bagi orang lain (Depkes RI, 10:2006).

menjadi sumber penularan bagi orang lain (Depkes RI, 10:2006). d. Cara Masuk ke Pejamu

d. Cara Masuk ke Pejamu

Tempat masuk kuman kusta ke dalam tubuh pejamu sampai saat ini belum dapat Tempat masuk kuman kusta ke dalam tubuh pejamu sampai saat ini belum dapat dipastikan. Diperirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernapasan bagian atas dan dipastikan. Diperirakan cara masuknya adalah melalui saluran pernapasan bagian atas dan melalui kontak kulit yang tidak

melalui kontak kulit yang tidak utuh (Depkes RI, 10:2006).utuh (Depkes RI, 10:2006). e. Pejamu

e. Pejamu

Hanya sedikit orang yang akan terjangkit kusta setelah kontak dengan penderita, hal Hanya sedikit orang yang akan terjangkit kusta setelah kontak dengan penderita, hal ini disebabkan karena adanya imunitas.

ini disebabkan karena adanya imunitas.  M.  M. lepraeleprae termasuk kuman obligat intraseluler dantermasuk kuman obligat intraseluler dan sistem kekebalan yang efektif adalah sistem kekebalan seluler. Faktor fisiologik seperti sistem kekebalan yang efektif adalah sistem kekebalan seluler. Faktor fisiologik seperti pubertas, menopause, kehamilan, serta faktor infeksi dan malnutrisi dapat meningkatkan pubertas, menopause, kehamilan, serta faktor infeksi dan malnutrisi dapat meningkatkan perubahan klinis penyakit kusta. Dari studi

perubahan klinis penyakit kusta. Dari studi keluarga kembar didapatkakeluarga kembar didapatkan bahwa faktor n bahwa faktor genetik genetik  mempengaruhi tipe penyakit yang berkembang setelah infeksi

mempengaruhi tipe penyakit yang berkembang setelah infeksi (Depkes RI, 10:2009).(Depkes RI, 10:2009).

Sebagian besar (95%) manusia kebal terhadap kusta, hampir sebagian kecil (5%) dapat Sebagian besar (95%) manusia kebal terhadap kusta, hampir sebagian kecil (5%) dapat ditulari. Dari 5% yang tertular tersebut, sekitar 70% dapat sembuh sendiri dan hanya 30% ditulari. Dari 5% yang tertular tersebut, sekitar 70% dapat sembuh sendiri dan hanya 30% yang dapat menjadi sakit (Depkes RI, 10:2006).

yang dapat menjadi sakit (Depkes RI, 10:2006). PATOGENESIS

PATOGENESIS

Masuknya M.Leprae ke dalam tubuh akan ditangkap oleh APC (Antigen Presenting Masuknya M.Leprae ke dalam tubuh akan ditangkap oleh APC (Antigen Presenting Cell) dan melalui dua signal yaitu signal pertama dan signal kedua. Signal pertama adalah Cell) dan melalui dua signal yaitu signal pertama dan signal kedua. Signal pertama adalah tergantung pada TCR- terkait antigen (

(6)

molekul MHC pada permukaan APC sedangkan signal kedua adalah produksi sitokin dan molekul MHC pada permukaan APC sedangkan signal kedua adalah produksi sitokin dan ekspresinya pada permukaan dari molekul kostimulator APC yang berinteraksi dengan ligan ekspresinya pada permukaan dari molekul kostimulator APC yang berinteraksi dengan ligan sel T melalui CD28. Adanya kedua signal ini akan mengaktivasi To sehingga To akan sel T melalui CD28. Adanya kedua signal ini akan mengaktivasi To sehingga To akan  berdifferensiasi menjadi Th1 dan Th2. Adanya TNF α

 berdifferensiasi menjadi Th1 dan Th2. Adanya TNF α dan IL 12 akan membantu differensiasidan IL 12 akan membantu differensiasi To menjadi Th1 (Wahyuni, 6:2009).

To menjadi Th1 (Wahyuni, 6:2009).

Th 1 akan menghasilkan IL 2 dan IFN γ yang akan meningkatkan fagositosis Th 1 akan menghasilkan IL 2 dan IFN γ yang akan meningkatkan fagositosis makrofag( fenolat glikolipid I yang merupakan lemak dari M.leprae akan berikatan dengan makrofag( fenolat glikolipid I yang merupakan lemak dari M.leprae akan berikatan dengan C3 melalui reseptor CR1,CR3,CR4 pada permukaannya lalu akan difagositosis) dan C3 melalui reseptor CR1,CR3,CR4 pada permukaannya lalu akan difagositosis) dan proliferasi sel B. Selain itu, IL 2 juga akan mengaktifkan CTL lalu CD8+.Di dalam fagosit, proliferasi sel B. Selain itu, IL 2 juga akan mengaktifkan CTL lalu CD8+.Di dalam fagosit, fenolat glikolipid I akan melindungi bakteri dari penghancuran oksidatif oleh anion fenolat glikolipid I akan melindungi bakteri dari penghancuran oksidatif oleh anion superoksida dan radikal hidroksil yang dapat menghancurkan secara kimiawi. Karena gagal superoksida dan radikal hidroksil yang dapat menghancurkan secara kimiawi. Karena gagal membunuh antigen maka sitokin dan

membunuh antigen maka sitokin dan growth factorsgrowth factors akan terus dihasilkan dan akan merusak akan terus dihasilkan dan akan merusak   jaringan

 jaringan akibatnya akibatnya makrofag makrofag akan akan terus terus diaktifkan diaktifkan dan dan lama lama kelamaan kelamaan sitoplasma sitoplasma dandan organella dari makrofag akan membesar, sekarang makrofag seudah disebut dengan sel organella dari makrofag akan membesar, sekarang makrofag seudah disebut dengan sel epiteloid dan penyatuan sel epitelioid ini

epiteloid dan penyatuan sel epitelioid ini akan membentuk granuloma (Wahyuakan membentuk granuloma (Wahyuni, 6-7:2009).ni, 6-7:2009). Th2 akan menghasilkan IL 4, IL 10, IL 5, IL 13. IL 5 akan mengaktifasi dari Th2 akan menghasilkan IL 4, IL 10, IL 5, IL 13. IL 5 akan mengaktifasi dari eosinofil. IL 4 dan IL 10

eosinofil. IL 4 dan IL 10 akan mengaktifasi dari makrofag. IL 4akan mengaktifasakan mengaktifasi dari makrofag. IL 4akan mengaktifasi sel B untuk i sel B untuk  menghasilkan IgG4 dan IgE. IL 4 , IL10, dan IL 13 akan mengaktifasi sel mast (Wahyuni, menghasilkan IgG4 dan IgE. IL 4 , IL10, dan IL 13 akan mengaktifasi sel mast (Wahyuni, 7:2009).

7:2009).

Signal I tanpa adanya signal II akan menginduksi adanya sel T anergi dan tidak  Signal I tanpa adanya signal II akan menginduksi adanya sel T anergi dan tidak  teraktivasinya APC secara lengkap akan menyebabkan respon ke arah

teraktivasinya APC secara lengkap akan menyebabkan respon ke arah Th2. Pada TuberkoloidTh2. Pada Tuberkoloid Leprosy, kita akan melihat

Leprosy, kita akan melihat bahwa Th 1 akan bahwa Th 1 akan lebih tinggi dibandingkan denganTh2 sedangkanlebih tinggi dibandingkan denganTh2 sedangkan pada Lepromatous leprosy, Th2 akan lebih tinggi dibandingkan dengan Th1(Wahyuni, pada Lepromatous leprosy, Th2 akan lebih tinggi dibandingkan dengan Th1(Wahyuni, 7:2009).

7:2009).

APC pada kulit adalah sel dendritik dimana sel ini berasal dari sum

APC pada kulit adalah sel dendritik dimana sel ini berasal dari sum  –  – sum tulang dansum tulang dan melalui darah didistribusikan ke jaringan non limfoid. Sel dendritik merupakan APC yang melalui darah didistribusikan ke jaringan non limfoid. Sel dendritik merupakan APC yang paling efektif karena letaknya yang strategis yaitu di tempat

paling efektif karena letaknya yang strategis yaitu di tempat  –  –  tempat mikroba dan antigentempat mikroba dan antigen asing masuk tubuh serta organ

asing masuk tubuh serta organ  –  –  organ yang mungkin dikolonisasi mikroba. Sel denritik organ yang mungkin dikolonisasi mikroba. Sel denritik  dalam hal untuk bekerja harus terlebih dulu diaktifkan dari IDC menjadi DC. Idc akan dalam hal untuk bekerja harus terlebih dulu diaktifkan dari IDC menjadi DC. Idc akan diaktifkan oleh adanya peptida dari MHC pada permukaan sel, selain itu dengan adanya diaktifkan oleh adanya peptida dari MHC pada permukaan sel, selain itu dengan adanya molekul kostimulator CD86/B72, CD80/B7.1, CD38 dan CD40. Setelah DC matang, DC molekul kostimulator CD86/B72, CD80/B7.1, CD38 dan CD40. Setelah DC matang, DC

(7)

akan pindah dari jaringan yang inflamasi ke sirkulasi limfatik karena adanya ekspresi dari akan pindah dari jaringan yang inflamasi ke sirkulasi limfatik karena adanya ekspresi dari CCR7 ( reseptor kemokin satu

CCR7 ( reseptor kemokin satu  –  –  satunya yang diekspresikan oleh DC matang). M. Lepraesatunya yang diekspresikan oleh DC matang). M. Leprae mengaktivasi DC melalui TLR 2

mengaktivasi DC melalui TLR 2  –  – TLR 1 heterodimer dan diasumsikan melaluiTLR 1 heterodimer dan diasumsikan melalui triacylated triacylated  lipoprotein

lipoprotein seperti 19 kda lipoprotein. TLR 2 polimorfisme dikaitkan dengan meningkatnyaseperti 19 kda lipoprotein. TLR 2 polimorfisme dikaitkan dengan meningkatnya kerentanan terhadap leprosy (Wahyuni, 8:2009).

kerentanan terhadap leprosy (Wahyuni, 8:2009).

PATOGENESIS KERUSAKAN SARAF PADA PASIEN

PATOGENESIS KERUSAKAN SARAF PADA PASIEN KUSTAKUSTA M.Leprae memiliki bagian

M.Leprae memiliki bagian G domain of extracellular matriks protein laminin 2G domain of extracellular matriks protein laminin 2 yangyang akan berikatan dengansel schwaan melalui reseptor dystroglikan lalu akan mengaktifkan akan berikatan dengansel schwaan melalui reseptor dystroglikan lalu akan mengaktifkan MHC kelas II setelah itu mengaktifkan CD4+. CD4+ akan mengaktifkan Th1 dan Th2 MHC kelas II setelah itu mengaktifkan CD4+. CD4+ akan mengaktifkan Th1 dan Th2 dimana Th1 dan Th2 akan mengaktifkan makrofag. Makrofag gagal memakan M. Leprae dimana Th1 dan Th2 akan mengaktifkan makrofag. Makrofag gagal memakan M. Leprae akibat adanya fenolat glikolipid I yang melindunginya di dalam makrofag. Ketidakmampuan akibat adanya fenolat glikolipid I yang melindunginya di dalam makrofag. Ketidakmampuan makrofag akan merangsang dia bekerja terus

makrofag akan merangsang dia bekerja terus  –  – menerus untuk menghasilkan sitokin dan GFmenerus untuk menghasilkan sitokin dan GF yang lebih banyak lagi. Sitokin dan GF tidak mengenelai bagian self atau nonself sehingga yang lebih banyak lagi. Sitokin dan GF tidak mengenelai bagian self atau nonself sehingga akan merusak saraf dan saraf yang rusak akan diganti dengan jaringan fibrous sehingga akan merusak saraf dan saraf yang rusak akan diganti dengan jaringan fibrous sehingga terjadilah penebalan saraf tepi. Sel schwann merupakan APC non professional (Wahyuni, terjadilah penebalan saraf tepi. Sel schwann merupakan APC non professional (Wahyuni, 8:2009).

8:2009).

PATOGENESIS REAKSI KUSTA PATOGENESIS REAKSI KUSTA

Reaksi kusta adalah suatu episode akut dalam perjalan kronis penyakit kusta yang Reaksi kusta adalah suatu episode akut dalam perjalan kronis penyakit kusta yang dianggap sebagai suatu kelaziman atau bagian dari komplikasi penyakit kusta. Ada dua tipe dianggap sebagai suatu kelaziman atau bagian dari komplikasi penyakit kusta. Ada dua tipe reaksi dari kusta yaitu reaksi kusta tipe I dan reaksi kusta tipe II. Reaksi kusta tipe I sering reaksi dari kusta yaitu reaksi kusta tipe I dan reaksi kusta tipe II. Reaksi kusta tipe I sering disebut reaksi lepra non nodular merupakan reaksi hipersensitifitas tipe IV ( Delayed Type disebut reaksi lepra non nodular merupakan reaksi hipersensitifitas tipe IV ( Delayed Type Hipersensitivity Reaction ). Reaksi tipe I sering kita

Hipersensitivity Reaction ). Reaksi tipe I sering kita jumpai pada BT dan BL. M. jumpai pada BT dan BL. M. Leprae akanLeprae akan berinteraksi dengan limfosit T dan akan mengakibatkan perubahan sistem imunitas selluler berinteraksi dengan limfosit T dan akan mengakibatkan perubahan sistem imunitas selluler yang cepat. Hasil dari reaksi ini ada dua yaitu

yang cepat. Hasil dari reaksi ini ada dua yaitu upgrading reaction / reversal reactionupgrading reaction / reversal reaction , dimana, dimana terjadi pergeseran ke arah tuberkoloid ( peningkatan sistem imunitas selluler) dan biasanya terjadi pergeseran ke arah tuberkoloid ( peningkatan sistem imunitas selluler) dan biasanya terjadi pada respon terhadap terapi, dan

terjadi pada respon terhadap terapi, dan downgradingdowngrading, dimana terjadi pergeseran ke arah, dimana terjadi pergeseran ke arah lepromatous ( penurunan sistem imunitas selluler) dan biasanya terjadi pada awal terapi lepromatous ( penurunan sistem imunitas selluler) dan biasanya terjadi pada awal terapi (Wahyuni, 8:2009).

(Wahyuni, 8:2009).

Reaksi kusta tipe II adalah hipersensitivitas humoraltepatnya hipersensitivitas tipe III. Reaksi kusta tipe II adalah hipersensitivitas humoraltepatnya hipersensitivitas tipe III. Reaksi tipe dua sering juga disebut eritema nodosum lepromatous. Reaksi ini sering terjadi Reaksi tipe dua sering juga disebut eritema nodosum lepromatous. Reaksi ini sering terjadi

(8)

pada pasien LL. M. Lepraeakan berinteraksi dengan antibodi membentuk kompleks imun dan pada pasien LL. M. Lepraeakan berinteraksi dengan antibodi membentuk kompleks imun dan mengendap pada pembuluh darah. Komplemen akan berikatan pada komples imun dan mengendap pada pembuluh darah. Komplemen akan berikatan pada komples imun dan merangsang netrofil untuk menghasilkan enzim lisosom. Enzim lisosom akan melisis sel merangsang netrofil untuk menghasilkan enzim lisosom. Enzim lisosom akan melisis sel (Wahyuni, 8:2009).

(Wahyuni, 8:2009). GAMBARAN KLINIS GAMBARAN KLINIS

Keluhan utama biasanya sebagai akibat kelainan saraf tepi, yang dalam hal ini dapat Keluhan utama biasanya sebagai akibat kelainan saraf tepi, yang dalam hal ini dapat berupa bercak pada kulit yang mati rasa, r

berupa bercak pada kulit yang mati rasa, rasa tebal, kesemutan, kelemahaasa tebal, kesemutan, kelemahan otot-n otot-otot dan kulitotot dan kulit kering akibat gangguan pengeluaran kelenjar keringa

kering akibat gangguan pengeluaran kelenjar keringat. Gejala klinis t. Gejala klinis yang terjadi dapat berupayang terjadi dapat berupa kelainan pada saraf tepi, kulit,

kelainan pada saraf tepi, kulit, rambut, otot, tulang, mata, dan testis.rambut, otot, tulang, mata, dan testis.

Klasifikasi kusta menurut Ridley dan Jopling: Klasifikasi kusta menurut Ridley dan Jopling: 1. Tipe Tuberkuloid (TT)

1. Tipe Tuberkuloid (TT)

Lesi ini mengenai baik kulit maupun syaraf, jumlah lesi bisa satu atau beberapa, dapat Lesi ini mengenai baik kulit maupun syaraf, jumlah lesi bisa satu atau beberapa, dapat berupa makula atau plakat yang berbatas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi berupa makula atau plakat yang berbatas jelas dan pada bagian tengah dapat ditemukan lesi yang regresi atau central healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi, yang regresi atau central healing. Permukaan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi, bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis atau tinea sirsinata. Dapat disertai penebalan bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis atau tinea sirsinata. Dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan otot, dan sedikit rasa gatal. Tidak adanya saraf perifer yang biasanya teraba, kelemahan otot, dan sedikit rasa gatal. Tidak adanya kuman merupakan tanda terdapatnya respon imun pejamu yang adekuat terhadap kuman kuman merupakan tanda terdapatnya respon imun pejamu yang adekuat terhadap kuman kusta.

(9)

2. Tipe Borderline Tuberkuloid (BT) 2. Tipe Borderline Tuberkuloid (BT)

Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT, yakni berupa makula atau plakat yang sering Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT, yakni berupa makula atau plakat yang sering disertai lesi satelit di tepinya. Jumlah lesi dapat satu atau beberapa, tetapi gambaran disertai lesi satelit di tepinya. Jumlah lesi dapat satu atau beberapa, tetapi gambaran hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama tidak sejelas tipe TT. Adanya gangguan saraf  hipopigmentasi, kekeringan kulit atau skuama tidak sejelas tipe TT. Adanya gangguan saraf  tidak seberat tipe TT d

tidak seberat tipe TT dan biasanya asimetris. Lesi satelit biasanya ada dan tan biasanya asimetris. Lesi satelit biasanya ada dan t erletak dekat saraf erletak dekat saraf  perifer yang menebal.

perifer yang menebal.

3. Tipe Mid Borderline (BB) 3. Tipe Mid Borderline (BB)

Merupakan tipe yang paling tidak stabil, disebut juga sebagai bentuk dismorfik dan Merupakan tipe yang paling tidak stabil, disebut juga sebagai bentuk dismorfik dan  jarang

 jarang dijumpai. dijumpai. Lesi Lesi sangat sangat bervariasi, bervariasi, dapat dapat berbentuk berbentuk makula makula infiltratif, infiltratif, permukaan permukaan lesilesi dapat mengkilap dan batas lesi kurang jelas. Ciri khasnya adalah lesi punched out, yaitu, dapat mengkilap dan batas lesi kurang jelas. Ciri khasnya adalah lesi punched out, yaitu, suatu lesi hipopigmentasi dengan bagian tengah oval dan berbatas jelas.

suatu lesi hipopigmentasi dengan bagian tengah oval dan berbatas jelas. 4. Tipe Borderline Lepromatosus (BL)

4. Tipe Borderline Lepromatosus (BL) Secara klasik lesi dimulai

Secara klasik lesi dimulai dengan makula, awalnya sedikit dan dengan cepat menyebardengan makula, awalnya sedikit dan dengan cepat menyebar ke seluruh badan. Walaupun masih kecil, papul dan nodul lebih tegas dengan distribusi lesi ke seluruh badan. Walaupun masih kecil, papul dan nodul lebih tegas dengan distribusi lesi yang hampir simetris dan beberapa nodul nampaknya melekuk pada bagian tengah. Lesi yang hampir simetris dan beberapa nodul nampaknya melekuk pada bagian tengah. Lesi bagian tengah sering tampak normal dengan infiltrasi di pinggir dan beberapa tampak seperti bagian tengah sering tampak normal dengan infiltrasi di pinggir dan beberapa tampak seperti punched out. Tanda-tanda kerusakan saraf lebih cepat

punched out. Tanda-tanda kerusakan saraf lebih cepat muncul dibandingkan dengan tipe LL.muncul dibandingkan dengan tipe LL. 5. Tipe Lepromatous Leprosy

5. Tipe Lepromatous Leprosy

Jumlah lesi pada tipe ini sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritematus, Jumlah lesi pada tipe ini sangat banyak, simetris, permukaan halus, lebih eritematus, berkilap, berbatas tidak tegas, dan pada stadium

berkilap, berbatas tidak tegas, dan pada stadium dini tidak ditemukan anestesi dan anhidrosis.dini tidak ditemukan anestesi dan anhidrosis. Distribusi lesi khas, yakni di daerah wajah, mengenai dahi, pelipis, dagu, cuping telinga; Distribusi lesi khas, yakni di daerah wajah, mengenai dahi, pelipis, dagu, cuping telinga; sedangkan di badan mengenai bagian badan yang dingin, seperti lengan, punggung tangan, sedangkan di badan mengenai bagian badan yang dingin, seperti lengan, punggung tangan, dan ekstensor tungkai. Pada stadium lanjut, tampak penebalan kulit yang progresif, cuping dan ekstensor tungkai. Pada stadium lanjut, tampak penebalan kulit yang progresif, cuping telinga menebal, facies leonina, madarosis, iritis, keratitis, deformitas pada hidung, telinga menebal, facies leonina, madarosis, iritis, keratitis, deformitas pada hidung, pembesaran kelenjar limfe, dan orkitis yang selanjutnya dapat menjadi atrofi

pembesaran kelenjar limfe, dan orkitis yang selanjutnya dapat menjadi atrofi testis.Kerusakantestis.Kerusakan saraf yang luas menyebabkan gejala stocking and glove anesthesia dan pada stadium lanjut saraf yang luas menyebabkan gejala stocking and glove anesthesia dan pada stadium lanjut serabut-serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan serabut-serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin atau fibrosis yang menyebabkan anastesi dan pengecilan otot tangan dan kaki.

(10)

Klasifikasi menurut Ridley dan Jopling Klasifikasi menurut Ridley dan Jopling Sifat

Sifat LepromatousLepromatous Leprosy (LL) Leprosy (LL) Borderline Borderline Lepromatous (BL) Lepromatous (BL) Mid Borderline Mid Borderline (BB) (BB) Lesi Lesi Bentuk

Bentuk Makula, Makula, InfiltratInfiltrat Difus, Papul, Nodul Difus, Papul, Nodul

Makula, Plakat, Makula, Plakat, Papul Papul Plakat, Dome Plakat, Dome Shaped (Kubah), Shaped (Kubah), Punched Out Punched Out Jumlah

Jumlah Tidak Tidak terhitung,terhitung, praktis tidak ada praktis tidak ada kulit sehat

kulit sehat

Sukar dihitung, Sukar dihitung, masih ada kulit masih ada kulit sehat

sehat

Dapat dihitung, kulit Dapat dihitung, kulit sehat jelas ada

sehat jelas ada

Distribusi

Distribusi Simetris Simetris Hampir Hampir Simetris Simetris AsimetrisAsimetris Permukaan

Permukaan Halus Halus Berkilat Berkilat Halus Halus Berkilat Berkilat Agak Agak Kasar/berkilatKasar/berkilat Batas

Batas Tidak Tidak Jelas Jelas Agak Agak Jelas Jelas Agak Agak JelasJelas Anastesia

Anastesia Biasanya Biasanya Tak Tak Jelas Jelas Tak Tak Jelas Jelas Lebih Lebih JelasJelas BTA

BTA Lesi

Lesi Kulit Kulit Banyak Banyak (ada (ada globus) globus) Banyak Banyak Agak Agak Banyak Banyak  Sekret

Sekret Hidung Hidung Banyak Banyak (ada (ada globus) globus) Biasanya Biasanya Negatif Negatif Negatif Negatif  Tes Lepromin

Tes Lepromin Negatif Negatif Negatif Negatif Biasanya Biasanya Negatif Negatif 

Namun ada juga tipe kusta yang tidak termasuk dalam klasifikasi Ridley dan Jopling, Namun ada juga tipe kusta yang tidak termasuk dalam klasifikasi Ridley dan Jopling, tetapi diterima secara luas oleh para ahli kusta, yaitu tipe Intermediate (I). Lesi biasanya tetapi diterima secara luas oleh para ahli kusta, yaitu tipe Intermediate (I). Lesi biasanya berupa makula hipopigmentasi dengan sedikit sisik dan kulit disekitarnya normal. Lokasi berupa makula hipopigmentasi dengan sedikit sisik dan kulit disekitarnya normal. Lokasi biasanya di bagian ekstensor ekstremitas, bokong atau muka, kadang-kadang dapat biasanya di bagian ekstensor ekstremitas, bokong atau muka, kadang-kadang dapat ditemukan makula hipostesia atau sedikit

ditemukan makula hipostesia atau sedikit penebalan saraf.penebalan saraf.

Deformitas dapat terjadi pada kusta. Pada kusta sesuai patofisiologinya ada dua yaitu Deformitas dapat terjadi pada kusta. Pada kusta sesuai patofisiologinya ada dua yaitu primer dan sekunder. Deformitas primer sebagai akibat langsung oleh granuloma yang primer dan sekunder. Deformitas primer sebagai akibat langsung oleh granuloma yang terbentuk sebagai reaksi terhadap M.leprae, yang mendesak dan merusak jaringan terbentuk sebagai reaksi terhadap M.leprae, yang mendesak dan merusak jaringan disekitarnya, yaitu kulit, mukosa traktus respiratorius atas, tulang

disekitarnya, yaitu kulit, mukosa traktus respiratorius atas, tulang  –  –  tulang jari, dan wajah.tulang jari, dan wajah. Deformitas sekunder terjadi sebagai akibat kerusakan saraf, umumnya deformitas

Deformitas sekunder terjadi sebagai akibat kerusakan saraf, umumnya deformitas diakibatkandiakibatkan keduanya

keduanya, tetapi , tetapi terutama karena kerusakan saraf.terutama karena kerusakan saraf.

Gejala kerusakan saraf pada nervus ulnaris adalah anestesia pada ujung jari anterior Gejala kerusakan saraf pada nervus ulnaris adalah anestesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis, clawing kelingking dan jari manis, dan atrofi hipotenar dan otot kelingking dan jari manis, clawing kelingking dan jari manis, dan atrofi hipotenar dan otot

(11)

interoseus serta kedua otot lumbrikalis

interoseus serta kedua otot lumbrikalis medial. Pada N.medianus adalah anestesia pada ujungmedial. Pada N.medianus adalah anestesia pada ujung  jari

 jari bagian anterior bagian anterior ibu ibu jari, jari, telunjuk, telunjuk, dan dan jari jari tengah, tengah, tidak tidak mampu aduksi mampu aduksi ibu ibu jari, jari, clawingclawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, ibu jari kontraktur,

ibu jari, telunjuk, dan jari tengah, ibu jari kontraktur, dan juga atrofi otot tenar dan kedua ototdan juga atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral. Pada N.radialis adalah anestesi dorsum manus, serta ujung proksimal jari lumbrikalis lateral. Pada N.radialis adalah anestesi dorsum manus, serta ujung proksimal jari telunjuk, tangan gantung (

telunjuk, tangan gantung (wrist dropwrist drop) dan tak mampu ekstensi jari) dan tak mampu ekstensi jari  –  –  jari atau pergelanganjari atau pergelangan tangan. Pada N. Poplitea lateralis adalah anestesi tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum tangan. Pada N. Poplitea lateralis adalah anestesi tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis, kaki gantung (

pedis, kaki gantung ( foot drop foot drop) dan kelemahan otot peroneus. Pada N.tibialis posterior adalah) dan kelemahan otot peroneus. Pada N.tibialis posterior adalah anestesi telapak kaki,

anestesi telapak kaki, claw toesclaw toes , dan paralisis otot , dan paralisis otot intrinsik kaki dan kolaps arkus pedis. Padaintrinsik kaki dan kolaps arkus pedis. Pada N. Fasialis adalah cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus dan cabang N. Fasialis adalah cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus dan cabang bukal, mandibular serta servikal menyebabkan kehilangan ekspresi wajah dan kegagalan bukal, mandibular serta servikal menyebabkan kehilangan ekspresi wajah dan kegagalan mengatupkan bibir. Pada N.trigeminus adalah anestesi kulit wajah, kornea dan konjungtiva mengatupkan bibir. Pada N.trigeminus adalah anestesi kulit wajah, kornea dan konjungtiva mata.

mata.

Kerusakan mata pada kusta dapat primer dan sekunder. Primer mengakibatkan Kerusakan mata pada kusta dapat primer dan sekunder. Primer mengakibatkan alopesia pada alis mata dan bulu mata, juga dapat mendesak jaringan mata lainnya. Sekunder alopesia pada alis mata dan bulu mata, juga dapat mendesak jaringan mata lainnya. Sekunder disebabkan oleh rusaknya N.fasialis yang dapat membuat paralisis N.orbitkularis disebabkan oleh rusaknya N.fasialis yang dapat membuat paralisis N.orbitkularis palpebrarum sebagian atau seluruhnya, mengakibatkan lagoftalmus yang selanjutnya, palpebrarum sebagian atau seluruhnya, mengakibatkan lagoftalmus yang selanjutnya, menyebabkan kerusakan bagian

menyebabkan kerusakan bagian  –  – bagian mata lainnya. Secara sendirian atau bersamabagian mata lainnya. Secara sendirian atau bersama  –  – samasama akan menyebabkan kebutaan.

akan menyebabkan kebutaan.

Infiltrasi granuloma ke dalam adneksa kulit

Infiltrasi granuloma ke dalam adneksa kulit yang terdiri atas jaringan keringat, kelenjaryang terdiri atas jaringan keringat, kelenjar palit, dan folikel rambut dapat mengakibatkan kulit kering dan alopesia. Pada tipe palit, dan folikel rambut dapat mengakibatkan kulit kering dan alopesia. Pada tipe lepromatous dapat timbul ginekomastia akibat gangguan keseimbangan hormonal dan oleh lepromatous dapat timbul ginekomastia akibat gangguan keseimbangan hormonal dan oleh karena infiltrasi granuloma pada tubulus seminiferus testis.

karena infiltrasi granuloma pada tubulus seminiferus testis.

Kusta histioid, merupakan variasi lesi pada tipe lepromatous yang titandai dengan Kusta histioid, merupakan variasi lesi pada tipe lepromatous yang titandai dengan adanya nodus yang berbatas tegas, dapat juga berbentuk nodus yang berbatas tegas, dapat adanya nodus yang berbatas tegas, dapat juga berbentuk nodus yang berbatas tegas, dapat  juga

 juga berbentuk berbentuk plak. plak. Bakterioskopik Bakterioskopik positif positif tinggi. tinggi. Umumnya Umumnya timbul timbul sebagai sebagai kasuskasus relapserelapse sensitive

sensitive atauatau relape resistent relape resistent ..  Relapse  Relapse sensitivesensitive terjadi, bila penyakit kambuh setelahterjadi, bila penyakit kambuh setelah menyelesaikan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Dapat terjadi oleh karena menyelesaikan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Dapat terjadi oleh karena kuman yang dorman aktif kembali atau pengobatan yang diselesaikan tisak adekuat, baik  kuman yang dorman aktif kembali atau pengobatan yang diselesaikan tisak adekuat, baik  dosis maupun lama pemberiannya.

dosis maupun lama pemberiannya.

Gejala pada reaksi kusta tipe I adalah perubahan lesi kulit, demam yang tidak begitu Gejala pada reaksi kusta tipe I adalah perubahan lesi kulit, demam yang tidak begitu tinggi, gangguan konstitusi, gangguan saraf tepi,

(12)

skin lesion

skin lesion dan nyeri pada tekan saraf. Reaksi kusta tipe I dapat dibedakan atas reaksi ringandan nyeri pada tekan saraf. Reaksi kusta tipe I dapat dibedakan atas reaksi ringan dan berat.

dan berat.

Pada reaksi kusta tipe II adalah neuritis, gangguan konstitusi, dan komplikasi organ Pada reaksi kusta tipe II adalah neuritis, gangguan konstitusi, dan komplikasi organ tubuh. Reaksi kusta tipe II ju

tubuh. Reaksi kusta tipe II juga dapat dibedakan atas reaksi ringan dan berat.ga dapat dibedakan atas reaksi ringan dan berat.

Fenomena lucio berupa plak atau infiltrat difus, merah muda, bentuk tidak teratur, dan Fenomena lucio berupa plak atau infiltrat difus, merah muda, bentuk tidak teratur, dan nyeri. Lesi lebih berat tampak lebih eritematosa, purpura, bula, terjadi nekrosis dan ulserasi nyeri. Lesi lebih berat tampak lebih eritematosa, purpura, bula, terjadi nekrosis dan ulserasi yang nyeri. Lesi lambat sembuh dan terbentuk jaringan parut. Dari hasil histopatologi yang nyeri. Lesi lambat sembuh dan terbentuk jaringan parut. Dari hasil histopatologi ditemukan nekrosis epidermal iskemik, odem, proliferasi endotelial pembuluh darah dan ditemukan nekrosis epidermal iskemik, odem, proliferasi endotelial pembuluh darah dan banyak basil M.leprae di endotel kapiler.

banyak basil M.leprae di endotel kapiler.

Eritema nodosum lepromatous (ENL), timbul nodul subkutan yang nyeri tekann dan Eritema nodosum lepromatous (ENL), timbul nodul subkutan yang nyeri tekann dan meradang, biasanya dalam kumpulan. Setiap nodul bertahan selama satua atau dua minggu meradang, biasanya dalam kumpulan. Setiap nodul bertahan selama satua atau dua minggu tetapi bisa timbul kumpulan nodul baru.

tetapi bisa timbul kumpulan nodul baru. Dapat terjadi demam, limfadenopati, dan athralgia.Dapat terjadi demam, limfadenopati, dan athralgia. PEMERIKSAAN PASIEN

PEMERIKSAAN PASIEN

Inspeksi pasien dapat dilakukan dengan penerangan yang baik, lesi kulit juga harus Inspeksi pasien dapat dilakukan dengan penerangan yang baik, lesi kulit juga harus diperhatikan dan juga dilihat

diperhatikan dan juga dilihat kerusakan kulit. Palpasi dan kerusakan kulit. Palpasi dan pemeriksaapemeriksaan dengan menggunakann dengan menggunakan alat

alat  –  –  alat sederhana yaitu jarum untuk rasa nyeri, kapas untuk rasa raba, tabung reaksialat sederhana yaitu jarum untuk rasa nyeri, kapas untuk rasa raba, tabung reaksi masing

masing  –  –  masing dengan air panas dan es, pensil tinta Gunawan (tanda Gunawan) untuk masing dengan air panas dan es, pensil tinta Gunawan (tanda Gunawan) untuk  melihat ada tidaknya dehidrasi di daerah lesi yang dapat jelas dan dapat pula tidak dan melihat ada tidaknya dehidrasi di daerah lesi yang dapat jelas dan dapat pula tidak dan sebagainya. Cara menggoresnya mulai dari tengah lesi, yang kadang

sebagainya. Cara menggoresnya mulai dari tengah lesi, yang kadang  –  –  kadang dapatkadang dapat membantu, tetapi bagi penderita yang memiliki kulit berambut sedikit, sangat sukar untuk  membantu, tetapi bagi penderita yang memiliki kulit berambut sedikit, sangat sukar untuk  menentukannya.

menentukannya.

Pemeriksaan Saraf Tepi Pemeriksaan Saraf Tepi

Untuk saraf perifer, perlu diperhatikan pembesaran, konsistensi dan nyeri atau tidak. Untuk saraf perifer, perlu diperhatikan pembesaran, konsistensi dan nyeri atau tidak. Hanya beberapa saraf yang diperiksa yaitu N.fasialis, N.aurikularis magnus, N.radialis, N. Hanya beberapa saraf yang diperiksa yaitu N.fasialis, N.aurikularis magnus, N.radialis, N. Ulnaris, N. Medianus, N. Poplitea lateralis, N. Tibialis posterior. Pada pemeriksaan saraf tepi Ulnaris, N. Medianus, N. Poplitea lateralis, N. Tibialis posterior. Pada pemeriksaan saraf tepi dapat dibandingkan saraf bagian kiri dan kanan, adanya pembesaran atau tidak, pembesaran dapat dibandingkan saraf bagian kiri dan kanan, adanya pembesaran atau tidak, pembesaran reguler/irreguler, perabaan keras/kenyal, dan yang terakhir dapat dicari adanya nyeri atau reguler/irreguler, perabaan keras/kenyal, dan yang terakhir dapat dicari adanya nyeri atau tidak (Daili, 21:2003). Pada tipe lepromatous biasanya kelainan sarafnya billateral dan tidak (Daili, 21:2003). Pada tipe lepromatous biasanya kelainan sarafnya billateral dan menyeluruh sedangka

(13)

Untuk mendapat kesan saraf mana yang mulai menebal atau sudah menebal dan saraf  Untuk mendapat kesan saraf mana yang mulai menebal atau sudah menebal dan saraf  mana yang masih normal,

mana yang masih normal, diperlukan pengalaman yang banyak (Daili, 21:2003).diperlukan pengalaman yang banyak (Daili, 21:2003).

Cara pemeriksaan saraf tepi Cara pemeriksaan saraf tepi

 Aurukularis

 Aurukularis magnusmagnus. Pasien disuruh menoleh ke samping semaksimal mungkin,. Pasien disuruh menoleh ke samping semaksimal mungkin, maka saraf yang terlibat akan terdorong oleh otot di bawahnya sehingga acapkali sudah maka saraf yang terlibat akan terdorong oleh otot di bawahnya sehingga acapkali sudah bisa terlihat bila saraf membesar. Dua jari pemeriksa diletakkan di atas persilangan bisa terlihat bila saraf membesar. Dua jari pemeriksa diletakkan di atas persilangan  jalannya saraf tersebut

 jalannya saraf tersebut dengan arah dengan arah otot. Bila otot. Bila ada penebalan, maka pada ada penebalan, maka pada perabaan secaraperabaan secara seksama akan menemukan jaringan seperti kabel atau kawat. Jangan lupa seksama akan menemukan jaringan seperti kabel atau kawat. Jangan lupa membanding

membandingkan antara yang kiri dan kan antara yang kiri dan yang kanan (Daili, 21:2003).yang kanan (Daili, 21:2003).  N.

 N. UlnarisUlnaris. Tangan yang diperiksa harus santai, sedikit fleksi dan sebaiknya. Tangan yang diperiksa harus santai, sedikit fleksi dan sebaiknya diletakkan di atas satu tangan pemeriksa. Tangan pemeriksa yang lain meraba lekukan di diletakkan di atas satu tangan pemeriksa. Tangan pemeriksa yang lain meraba lekukan di bawah siku (sulkus nervi ulnaris) dan merasakan, apakah ada penebalan atau tidak. Perlu bawah siku (sulkus nervi ulnaris) dan merasakan, apakah ada penebalan atau tidak. Perlu dibandingkan antara yang kanan dan yang kiri untuk melihat adanya perbeedaan atau dibandingkan antara yang kanan dan yang kiri untuk melihat adanya perbeedaan atau tidak (Daili, 22:2003).

tidak (Daili, 22:2003).  N.

 N. Paroneus Paroneus lateralislateralis. Pasien duduk dengan kedua kaki menggantung, diraba di. Pasien duduk dengan kedua kaki menggantung, diraba di sebelah lateral dari capitulum fibulae, biasanya sedikit ke posterior

sebelah lateral dari capitulum fibulae, biasanya sedikit ke posterior (Daili, 22:2003).(Daili, 22:2003). Tes Fungsi Saraf 

Tes Fungsi Saraf  Tes Sensoris

Tes Sensoris. Gunakan kapas, jarum, serta tabung reaksi berisi air . Gunakan kapas, jarum, serta tabung reaksi berisi air hangat dan dingin.hangat dan dingin.  Rasa

 Rasa RabaRaba. Sepotong kapas yang dilancipkan ujungnya digunakan untuk memeriksa. Sepotong kapas yang dilancipkan ujungnya digunakan untuk memeriksa perasaan rangsang raba dengan menyinggungkannya pada kulit. Pasien yang diperiksa harus perasaan rangsang raba dengan menyinggungkannya pada kulit. Pasien yang diperiksa harus duduk pada waktu dilakukan pemeriksaan. Terlebih dahulu petugas menerangkan bahwa duduk pada waktu dilakukan pemeriksaan. Terlebih dahulu petugas menerangkan bahwa

(14)

bilamana merasa disinggung bagian tubuhnya dengan kapas, ia h

bilamana merasa disinggung bagian tubuhnya dengan kapas, ia h arus menunjukkan kulit yangarus menunjukkan kulit yang disinggung dengan jari telunjuknya dan dikerjakan dengan mata terbuka. Bilamana hal ini disinggung dengan jari telunjuknya dan dikerjakan dengan mata terbuka. Bilamana hal ini telah jelas, maka ia diminta menutup matanya, kalau perlu matanya ditutup dengan sepotong telah jelas, maka ia diminta menutup matanya, kalau perlu matanya ditutup dengan sepotong kain. Selain diperiksa pada lesi di kulit sebaiknya juga diperiksa pada kulit yang sehat. kain. Selain diperiksa pada lesi di kulit sebaiknya juga diperiksa pada kulit yang sehat. Bercak pada kulit harus diperiksa pada bagian tengahnya (Daili, 22:2003).

Bercak pada kulit harus diperiksa pada bagian tengahnya (Daili, 22:2003).  Rasa

 Rasa NyeriNyeri. Diperiksa dengan memakai jarum. Petugas menusuk kulit dengan ujung jarum. Diperiksa dengan memakai jarum. Petugas menusuk kulit dengan ujung jarum yang tajam dan dengan pangkal tangkainya yang tumpul dan pasien harus mengatakan yang tajam dan dengan pangkal tangkainya yang tumpul dan pasien harus mengatakan tusukan mana yang tajam dan mana yang tumpul (Daili,

tusukan mana yang tajam dan mana yang tumpul (Daili, 22:2003).22:2003).  Rasa

 Rasa Suhu.Suhu. Dilakukan dengan menggunakan 2 tabung reaksi, yang satu berisi air panasDilakukan dengan menggunakan 2 tabung reaksi, yang satu berisi air panas (sebaiknya 40

(sebaiknya 4000C), yang lainnya air dingin (sebaiknya sekitar 20C), yang lainnya air dingin (sebaiknya sekitar 2000C). Mata pasien ditutup atauC). Mata pasien ditutup atau menoleh ke tempat lain, lalu bergantian kedua tabung tersebut ditempelkan pada daerah kulit menoleh ke tempat lain, lalu bergantian kedua tabung tersebut ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai. Sebelumnya dilakukan kontrol pada kulit yang sehat. Bila pada daerah yang dicurigai. Sebelumnya dilakukan kontrol pada kulit yang sehat. Bila pada daerah tersebut pasien salah menyebutkan sensasi suhu, maka dapat disebutkan sensasi suhu di tersebut pasien salah menyebutkan sensasi suhu, maka dapat disebutkan sensasi suhu di daerah tersebut terganggu (Daili,

daerah tersebut terganggu (Daili, 22:2003).22:2003). Tes Otonom

Tes Otonom. Berdasarkan adanya gangguan berkeringat di makula anestesi pada penyakit. Berdasarkan adanya gangguan berkeringat di makula anestesi pada penyakit kusta, pemeriksaan lesi kulit dapat dilengkapi dengan tes anhidrosis.

kusta, pemeriksaan lesi kulit dapat dilengkapi dengan tes anhidrosis. Tes dengan pensil tinta

Tes dengan pensil tinta. Pensil tinta digariskan mulai dari bagian tengah lesi yang. Pensil tinta digariskan mulai dari bagian tengah lesi yang dicurigai terus sampai ke daerah kulit

dicurigai terus sampai ke daerah kulit normal.normal. Tes pilokarpin

Tes pilokarpin. Daerah kulit pada makula dan perbatasannya disuntik dengan. Daerah kulit pada makula dan perbatasannya disuntik dengan pilokarpin subkutan. Setelah beberapa menit tampak daerah kulit normal berkeringat, pilokarpin subkutan. Setelah beberapa menit tampak daerah kulit normal berkeringat, sedangka

sedangkan daerah lesi n daerah lesi tetap kering.tetap kering. Tes Motoris (Voluntary muscle test) Tes Motoris (Voluntary muscle test)

Cara memeriksa: Mula-mula periksa gerakan dari motorik

Cara memeriksa: Mula-mula periksa gerakan dari motorik yang akan diperiksa:yang akan diperiksa: Periksa fungsi saraf ulnaris dengan merapatkan jari kelingking pasien

Periksa fungsi saraf ulnaris dengan merapatkan jari kelingking pasien. Peganglah jari. Peganglah jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis pasien, lalu mintalah pasien untuk merapatkan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis pasien, lalu mintalah pasien untuk merapatkan jari kelingkingnya. Jika pasien dapat merapatkan jari kelingkingnya, taruhlah kertas diantara jari kelingkingnya. Jika pasien dapat merapatkan jari kelingkingnya, taruhlah kertas diantara jari kelingking dan jari manis, mintalah pasien untuk menahan kertas tersebut. Bila pasien kelingking dan jari manis, mintalah pasien untuk menahan kertas tersebut. Bila pasien mampu menahan coba tarik

(15)

Periksa fungsi saraf medianus dengan meluruskan ibu jari ke atas

Periksa fungsi saraf medianus dengan meluruskan ibu jari ke atas. Minta pasien mengangkat. Minta pasien mengangkat ibu jarinya ke atas. Perhatikan ibu jari apakah benar-benar bergerak ke atas dan jempolnya ibu jarinya ke atas. Perhatikan ibu jari apakah benar-benar bergerak ke atas dan jempolnya lurus. Jika pasien dapat melakukannya, kemudian tekan atau dorong ibu jari pada bagian lurus. Jika pasien dapat melakukannya, kemudian tekan atau dorong ibu jari pada bagian telapaknya.

telapaknya.

Periksa fungsi saraf radialis dengan meminta pasien untuk menggerakkna pergelangan Periksa fungsi saraf radialis dengan meminta pasien untuk menggerakkna pergelangan tangan ke belakang

tangan ke belakang. Uji . Uji kekuatan otot dengan mencoba menahan gerakan tersebut.kekuatan otot dengan mencoba menahan gerakan tersebut.

Periksa fungsi saraf eroneus communis dengan meminta pasien melakukan gerakan fleksi Periksa fungsi saraf eroneus communis dengan meminta pasien melakukan gerakan fleksi  pada p

 pada pergelangan ergelangan kaki dan kaki dan minta jugminta juga pasia pasien untuen untuk melakukan k melakukan gerakan gerakan ke latke lateraleral, lalu nilai, lalu nilai kekuatan ototnya dengan mencoba untuk menahan gerakan tersebut.

kekuatan ototnya dengan mencoba untuk menahan gerakan tersebut. PEMERIKSAAN BAKTERIOSKOPIS

PEMERIKSAAN BAKTERIOSKOPIS

Pemeriksaaan bakterioskopik, sediaan dari kerokan jaringan kulit atau usapan mukosa Pemeriksaaan bakterioskopik, sediaan dari kerokan jaringan kulit atau usapan mukosa hidung yang diwarnai denganpewarnaan BTA ZIEHL NEELSON. Pertama

hidung yang diwarnai denganpewarnaan BTA ZIEHL NEELSON. Pertama  –  –  tama harustama harus ditentukan lesi di kulit yang diharapkan paling padat oleh basil setelah terlebih dahulu ditentukan lesi di kulit yang diharapkan paling padat oleh basil setelah terlebih dahulu menentukan jumlah tepat yang diambil. Untuk riset dapat diperiksa 10 tempat

menentukan jumlah tepat yang diambil. Untuk riset dapat diperiksa 10 tempat dan untuk rutindan untuk rutin sebaiknya minimal 4

sebaiknya minimal 4  –  –  6 tempat yaitu kedua cuping telinga bagian bawah dan 2 -4lesi lain6 tempat yaitu kedua cuping telinga bagian bawah dan 2 -4lesi lain yang paling aktif berarti yang paling eritematosa dan paling infiltratif. Pemilihan cuping yang paling aktif berarti yang paling eritematosa dan paling infiltratif. Pemilihan cuping telinga tanpa mengiraukan ada atau tidaknya lesi di tempat tersebut oleh karena pengalaman, telinga tanpa mengiraukan ada atau tidaknya lesi di tempat tersebut oleh karena pengalaman, pada cuping telinga didapati

pada cuping telinga didapati banyak M.leprae.banyak M.leprae.

Kepadatan BTA tanpa membedakan solid dan nonsolid pada sebuah sediaan Kepadatan BTA tanpa membedakan solid dan nonsolid pada sebuah sediaan dinyatakan dengan indeks bakteri ( I.B) dengan nilai 0 sampai 6+ menurut Ridley. 0 bila dinyatakan dengan indeks bakteri ( I.B) dengan nilai 0 sampai 6+ menurut Ridley. 0 bila tidak ada BTA dalam 100

tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandang (LP).lapangan pandang (LP). 1 + Bila 1

1 + Bila 1 –  – 10 BTA dalam 100 LP10 BTA dalam 100 LP 2+Bila 1

2+Bila 1 –  – 10 BTA dalam 10 LP10 BTA dalam 10 LP 3+Bila 1

3+Bila 1 –  – 10 BTA rata10 BTA rata –  – rata dalam 1 LPrata dalam 1 LP 4+Bila 11

4+Bila 11 –  – 100 BTA rata100 BTA rata –  – rata dalam 1 LPrata dalam 1 LP 5+Bila 101

(16)

6+Bila> 1000 BTA rata

6+Bila> 1000 BTA rata –  – rata dalam 1 LPrata dalam 1 LP

Indeks morfologi adalah persentase bentuk solid dibandingkan dengan jumlah solid Indeks morfologi adalah persentase bentuk solid dibandingkan dengan jumlah solid dan non solid.

dan non solid.

IM= Jumlah solidx 100 % IM= Jumlah solidx 100 % Jumlah solid + Non solid

Jumlah solid + Non solid

Syarat perhitungan IM adalah jumlah minimal kuman tiap lesi 100 BTA, I.B 1+ tidak  Syarat perhitungan IM adalah jumlah minimal kuman tiap lesi 100 BTA, I.B 1+ tidak  perlu dibuat IM karedna untuk mendapatkan 100 BTA harus mencari dalam 1.000 sampai perlu dibuat IM karedna untuk mendapatkan 100 BTA harus mencari dalam 1.000 sampai 10.000lapang

10.000lapangan, mulai an, mulai I.B 3+ maksimum harus I.B 3+ maksimum harus dicari 100 ldicari 100 lapangan.apangan. PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGIS

PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGIS

Pemeriksaan histopatologi, gambaran histopatologi tipe tuberkoloid adalah tuberkel Pemeriksaan histopatologi, gambaran histopatologi tipe tuberkoloid adalah tuberkel dan kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada basil atau hanya sedikit dan non solid. Tipe dan kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada basil atau hanya sedikit dan non solid. Tipe lepromatosa terdpat kelim sunyi subepidermal (

lepromatosa terdpat kelim sunyi subepidermal ( subepidermal clear zonesubepidermal clear zone) yaitu suatu daerah) yaitu suatu daerah langsung di bawah epidermis yang jaringannya tidak patologik. Bisa dijumpai sel virchow langsung di bawah epidermis yang jaringannya tidak patologik. Bisa dijumpai sel virchow dengan banyak basil. Pada tipe

dengan banyak basil. Pada tipe borderline terdapat campuran unsurborderline terdapat campuran unsur  –  – unsur tersebut.unsur tersebut. Sel virchow adalah histiosit

Sel virchow adalah histiosit yang dijadikan M.leprae sebagai tempat berkembangbiak yang dijadikan M.leprae sebagai tempat berkembangbiak  dan sebagai alat pengangkut penyebarluasan.

dan sebagai alat pengangkut penyebarluasan. PEMERIKSAAN SEROLOGIS

PEMERIKSAAN SEROLOGIS

Kegagalan pembiakan dan isolasi kuman mengakibatkan diagnosis serologis Kegagalan pembiakan dan isolasi kuman mengakibatkan diagnosis serologis merupakan alternatif yang paling diharapkan. Pemeriksaan serologik, didasarkan terbentuk  merupakan alternatif yang paling diharapkan. Pemeriksaan serologik, didasarkan terbentuk  antibodi pada tubuh seseorang yang terinfeksi oleh M.leprae. Pemeriksaan serologik adalah antibodi pada tubuh seseorang yang terinfeksi oleh M.leprae. Pemeriksaan serologik adalah MLPA (Mycobacterium Leprae Particle Aglutination), uji ELISA dan ML

MLPA (Mycobacterium Leprae Particle Aglutination), uji ELISA dan ML dipstick.dipstick. PEMERIKSAAN LEPROMIN

PEMERIKSAAN LEPROMIN

Tes lepromin adalah tes non spesifik untuk klasifikasi dan prognosis lepra tapi tidak  Tes lepromin adalah tes non spesifik untuk klasifikasi dan prognosis lepra tapi tidak  untuk diagnosis. Tes ini berguna untuk menunjukkan sistem imun penderita terhadap untuk diagnosis. Tes ini berguna untuk menunjukkan sistem imun penderita terhadap M.leprae. O,1 ml lepromin dipersiapkan dari ekstrak basil organisme, disuntikkan M.leprae. O,1 ml lepromin dipersiapkan dari ekstrak basil organisme, disuntikkan intradermal. Kemudian dibaca setelah 48 jam/ 2hari ( reaksi Fernandez) atau 3

(17)

reaksi Mitsuda). Reaksi Fernandez positif bila terdapat indurasi dan eritemayang reaksi Mitsuda). Reaksi Fernandez positif bila terdapat indurasi dan eritemayang menunjukkan kalau penderita bereaksi terhadap M. Leprae yaitu respon imun tipe lambat ini menunjukkan kalau penderita bereaksi terhadap M. Leprae yaitu respon imun tipe lambat ini seperti mantoux test (

seperti mantoux test ( PPD) pada tuberkolosis.PPD) pada tuberkolosis. Reaksi Mitsuda bernilai :

Reaksi Mitsuda bernilai :

0 Papul berdiameter 3 mm atau kurang 0 Papul berdiameter 3 mm atau kurang + 1 Papul berdiameter 4

+ 1 Papul berdiameter 4 –  – 6 mm6 mm + 2Papul berdiameter 7

+ 2Papul berdiameter 7 –  – 10 mm10 mm + 3 papul berdiameter lebih

+ 3 papul berdiameter lebih dari 10 mm dari 10 mm atau papul dengan ulserasiatau papul dengan ulserasi DIAGNOSIS

DIAGNOSIS

Penyakit kusta disebut juga dengan

Penyakit kusta disebut juga dengan the greatest immitator the greatest immitator karena memberikan gejalakarena memberikan gejala yang hampir mirip dengan penyakit lainnya. Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada yang hampir mirip dengan penyakit lainnya. Diagnosis penyakit kusta didasarkan pada penemuan tanda kardinal (

penemuan tanda kardinal (cardinal signcardinal sign), yaitu:), yaitu: 1.Bercak kulit yang mati rasa

1.Bercak kulit yang mati rasa

Pemeriksaan harus di seluruh tubuh untuk menemukan ditempat tubuh yang lain, maka Pemeriksaan harus di seluruh tubuh untuk menemukan ditempat tubuh yang lain, maka akan didapatkan bercak hipopigmentasi atau eritematus, mendatar (makula) atau meninggi akan didapatkan bercak hipopigmentasi atau eritematus, mendatar (makula) atau meninggi (plak). Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa raba, rasa suhu, (plak). Mati rasa pada bercak bersifat total atau sebagian saja terhadap rasa raba, rasa suhu, dan rasa nyeri.

(18)

2.Penebalan saraf tepi 2.Penebalan saraf tepi

Dapat disertairasa nyeri dan dapat juga disertai dengan atau tanpa gangguan fungsi saraf  Dapat disertairasa nyeri dan dapat juga disertai dengan atau tanpa gangguan fungsi saraf  yang terkena, yaitu:

yang terkena, yaitu: a.

a. Gangguan fungsi sensoris: hipostesi atau anestesiGangguan fungsi sensoris: hipostesi atau anestesi b.

b. Gangguan fungsi motoris: paresis atau paralisisGangguan fungsi motoris: paresis atau paralisis c.

c. Gangguan fungsi otonom: kulit kering, retak, edema, pertumbuhan rambut yangGangguan fungsi otonom: kulit kering, retak, edema, pertumbuhan rambut yang terganggu.

terganggu.

3.Ditemukan kuman tahan asam 3.Ditemukan kuman tahan asam

Bahan pemeriksaan adalah hapusan kulit, cuping telinga, dan lesi kulit pada bagian yang Bahan pemeriksaan adalah hapusan kulit, cuping telinga, dan lesi kulit pada bagian yang aktif. Kadang-kadang bahan diperoleh dari biopsi kulit atau saraf.

aktif. Kadang-kadang bahan diperoleh dari biopsi kulit atau saraf.

Untuk menegakkan diagnosis penyakit kusta, paling sedikit harus ditemukan satu tanda Untuk menegakkan diagnosis penyakit kusta, paling sedikit harus ditemukan satu tanda kardinal. Bila tidak atau belum dapat ditemukan, maka kita hanya dapat mengatakan kardinal. Bila tidak atau belum dapat ditemukan, maka kita hanya dapat mengatakan tersangka kusta dan pasien perlu diamati dan diperiksa ulang setelah 3-6 bulan sampai tersangka kusta dan pasien perlu diamati dan diperiksa ulang setelah 3-6 bulan sampai diagnosis kusta dapat ditegakkan atau disingkirkan.

diagnosis kusta dapat ditegakkan atau disingkirkan. DIAGNOSIS BANDING

DIAGNOSIS BANDING

Pada lesi makula, differensial diagnosisnya adalah vitiligo, Ptiriasis versikolor, Pada lesi makula, differensial diagnosisnya adalah vitiligo, Ptiriasis versikolor, Ptiriasis alba, Tinea korporis , dll. Pada lesi papul, Granuloma annulare, lichen planus dll. Ptiriasis alba, Tinea korporis , dll. Pada lesi papul, Granuloma annulare, lichen planus dll. Pada lesi plak, Tinea korporis, Ptiriasis rosea, psoriasis dll. Pada lesi nodul, Acne vulgaris, Pada lesi plak, Tinea korporis, Ptiriasis rosea, psoriasis dll. Pada lesi nodul, Acne vulgaris, neurofibromatosis dll. Pada lesi saraf, Amyloidosis, diabetes, trachoma dll.

neurofibromatosis dll. Pada lesi saraf, Amyloidosis, diabetes, trachoma dll.

Vitiligo, makula putih berbatas tegas dan mengenai seluruh tubuh yang mengandung Vitiligo, makula putih berbatas tegas dan mengenai seluruh tubuh yang mengandung sel melanosit. Vitiligo merupakan hipomelanosis idiopatik yang ditandai dengan makula sel melanosit. Vitiligo merupakan hipomelanosis idiopatik yang ditandai dengan makula putih yang dapat meluas. Patogenesis vitiligo ada beberapa yaitu hipotesis autoimun, putih yang dapat meluas. Patogenesis vitiligo ada beberapa yaitu hipotesis autoimun, hipotesis neurohumoral, hipotesis autotoksik dan pajanan terhadap bahan ki

hipotesis neurohumoral, hipotesis autotoksik dan pajanan terhadap bahan ki mia.mia.

Hipotesis autoimun, ada hubungan dengan hipotiroid Hashimoto, anemia pernisiosa Hipotesis autoimun, ada hubungan dengan hipotiroid Hashimoto, anemia pernisiosa dan hipoparatiroid. Hipotesis neurohumeral, karena melanosit terbentuk dari neural crest dan hipoparatiroid. Hipotesis neurohumeral, karena melanosit terbentuk dari neural crest maka diduga faktor neural berpengaruh. Hasil metabolisme tirosin adalah melanin dan maka diduga faktor neural berpengaruh. Hasil metabolisme tirosin adalah melanin dan katekol. Kemungkinan ada produk intermediate dari katekol yang mempunyai efek merusak  katekol. Kemungkinan ada produk intermediate dari katekol yang mempunyai efek merusak 

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun secara teoritis reaksi tipe I ini dapat terjadi pada semua bentuk kusta yang subpolar, tetapi pada bentuk BB jauh lebih sering terjadi daripada bentuk

Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kustha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta atau lepra disebut juga Morbus Hansen,

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara ekspresi caspase-3 sebagai petanda apoptosis makrofag pada lesi kulit penderita kusta dengan tipe pausibasiler

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran

7,11 Selain itu, penderita dengan reaksi kusta, terutama reaksi reversal, penderita dengan lesi kulit multipel dan penderita dengan saraf yang membesar atau

Hasil penelitian terhadap tipe kusta, dari 65 orang yang mengalami gangguan sensasi raba melalui pemeriksaan monofilament, tipe kusta terbanyak adalah tipe MB

Distribusi dosis awal ekuivalen kortikosteroid yang digunakan untuk terapi pasien kusta dengan reaksi tipe 2 episode pertama di Divisi Kusta URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD

Namun gejala klinis dari pasien sangat mendukung untuk diagnosis kusta yaitu terdapat beberapa lesi makula eritematous yang anestesi dan juga terdapat penebalan