• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertemuan 7 Model Heuristik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pertemuan 7 Model Heuristik"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

Model Heuristik 

Model Heuristik 

Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., MT 

Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., MT 

.

.

Materi Kuliah [8]:

Materi Kuliah [8]:

(Sistem Pendukung Keputusan)

(Sistem Pendukung Keputusan)

(2)

Model Heuristik 

Model Heuristik 

Model heuristik.

Model heuristik.

 Model ini Model ini akan melakukan pencarian terhadapakan melakukan pencarian terhadap

solusi yang cukup baik melalui serangkaian solusi yang cukup baik melalui serangkaian aturan (

aturan (rulesrules).).

 Model ini lebih Model ini lebih banyak direpresentasikbanyak direpresentasikanan

dengan menggunakan pemrograman heuristik dengan menggunakan pemrograman heuristik atau sistem pakar

(3)

Model Heuristik 

Model Heuristik 

Model heuristik.

Model heuristik.

 Model ini Model ini akan melakukan pencarian terhadapakan melakukan pencarian terhadap

solusi yang cukup baik melalui serangkaian solusi yang cukup baik melalui serangkaian aturan (

aturan (rulesrules).).

 Model ini lebih Model ini lebih banyak direpresentasikbanyak direpresentasikanan

dengan menggunakan pemrograman heuristik dengan menggunakan pemrograman heuristik atau sistem pakar

(4)

 Aturan

 Aturan

Aturan umumnya dibentuk dengan format

Aturan umumnya dibentuk dengan format

IF

IF

Anteseden

Anteseden

THEN

THEN

Konsekuen

Konsekuen

Anteseden berisi aksi atau kondisi

Anteseden berisi aksi atau kondisi atau

atau

fakta yang terjadi

fakta yang terjadi

Konsekuen berupa reaksi yang dilakukan

Konsekuen berupa reaksi yang dilakukan

 jika aksi terjadi atau kon

 jika aksi terjadi atau kondisi bernilai

disi bernilai

benar.

(5)

 Aturan

Contoh:

 Untuk menetapkan suatu daerah akan dipilih

sebagai lokasi untuk mendirikan perumahan, telah dihimpun 10 aturan.

 Ada 4 atribut yang digunakan, yaitu:

 harga tanah per meter persegi (C1),

 jarak daerah tersebut dari pusat kota (C2),  ada atau tidaknya angkutan umum di daerah

tersebut (C3), dan

 keputusan untuk memilih daerah tersebut sebagai

(6)

 Aturan

 Tabel Aturan

Aturan ke- Harga tanah (C1) Jarak dari pusat kota (C2) Ada angkutan umum (C3) Dipilih untuk perumahan (C4)

1 Murah Dekat Tidak Ya

2 Sedang Dekat Tidak Ya

3 Mahal Dekat Tidak Ya

4 Mahal Jauh Tidak Tidak

5 Mahal Sedang Tidak Tidak

6 Sedang Jauh Ada Tidak

7 Murah Jauh Ada Tidak

8 Murah Sedang Tidak Ya

9 Mahal Jauh Ada Tidak

(7)

 Association Rules

 Association rules dapat dimaknai seperti

halnya kita mengklasifikasikan aturan.

Pada association rules, kita tidak hanya

dihadapkan pada bagaimana membentuk

aturan dimana konsekuen bernilai benar,

namun juga memprediksi aturan-aturan

yang terbentuk sebagai kombinasi dari

beberapa atribut.

Jumlah aturan yang mungkin terbentuk

(8)

 Association Rules

Untuk membatasi jumlah aturan tersebut,

dapat dilakukan teknik pemotongan

( pruning).

Proses pemotongan tersebut menggunakan

suatu acuan:

 batas pemotongan yang disebut dengan

coverage (jumlah kejadian yang terprediksi benar), dan

 nilai akurasi (angka yang menunjukkan

perbandingan antara jumlah konsekuen dengan anteseden).

(9)

 Association Rules

Himpuan Item. Item berperan sebagai nilai

atribut yang berpartisipasi. Satu atribut

dapat terdiri dari beberapa nilai.

Misal:

 pada atribut C1, ada 3 nilai yaitu murah, sedang

dan mahal;

 atribut C2 terdiri-atas 3 nilai yaitu dekat,

sedang dan jauh;

 atribut C3 terdiri-atas 2 nilai yaitu tidak dan

ada; dan

(10)

 Association Rules

Contoh:

 Pada kasus 1, dapat kita kelompokkan dalam

1, 2, atau 3 item.

 Diharapkan setiap kelompok item

menyumbangkan lebih dari 1 kejadian.

 Pertama, menunjukkan partisipasi atribut

(kejadian) dengan satu nilai, misal C1 = murah. Nilai (3) dibelakang murah

menunjukkan jumlah aturan yang relevan dengan C1 = murah.

(11)

 Association Rules

 Satu item No 1 item

1 C1 = murah (3) 2 C1 = sedang (3) 3 C1 = mahal (4) 4 C2 = dekat (3) 5 C2 = sedang (3) 6 C2 = jauh (4) 7 C3 = ada (4) 8 C3 = tidak (6) 9 C4 = ya (5) 10 C4 = tidak (5)

(12)

 Association Rules

 Kedua, menunjukkan partisipasi atribut

(kejadian) dengan 2 nilai.

 Misal C1 = mahal dan C2 = jauh, ada 2 aturan

yang mengandung kedua nilai tersebut (dengan banyak kejadian > 1).

(13)

 Association Rules

 Dua item No 2 item

1 C1 = mahal C2 = jauh (2) 2 C1 = murah C3 = tidak (2) 3 C1 = mahal C3 = tidak (3) 4 C1 = sedang C3 = ada (2) 5 C1 = murah C4 = ya (2) 6 C1 = sedang C4 = ya (2) 7 C1 = mahal C4 = tidak (3) 8 C2 = jauh C3 = ada (3) 9 C2 = dekat C3 = tidak (3) 10 C2 = sedang C3 = tidak (2) 11 C2 = dekat C4 = ya (3) 12 C2 = sedang C4 = ya (2) 13 C2 = jauh C4 = tidak (4) 14 C3 = ada C4 = tidak (3) 15 C3 = tidak C4 = ya (4) 16 C3 = tidak C4 = tidak (2)

(14)

 Association Rules

 Ketiga, menunjukkan partisipasi atribut

(kejadian) dengan 3 nilai.

 Misal C1 = mahal, C2 = jauh dan C4 = tidak,

ada 2 aturan yang mengandung kedua nilai tersebut (dengan banyak kejadian > 1).

(15)

 Association Rules

 Tiga item No 3 item

1 C1 = mahal C2 = jauh C4 = tidak (2) 2 C1 = murah C3 = tidak C4 = ya (2) 3 C1 = mahal C3 = tidak C4 = tidak (2) 4 C2 = jauh C3 = ada C4 = tidak (3) 5 C2 = dekat C3 = tidak C4 = ya (3)

(16)

 Association Rules

 Dari data tersebut, dapat dibangkitkan beberapa

aturan berdasarkan jumlah item yang tersedia.

 Misalkan untuk 1 item, C1 = murah, dapat

dibentuk 1 aturan:

If  then C1 = murah (3/10)

 Artinya:

 tanpa mempertimbangkan anteseden, terdapat

konsekuen yang memiliki atribut C1 = murah.

 Angka 3/10 menunjukkan perbandingan (proposisi)

antara jumlah konsekuen (setelah THEN) benar / jumlah anteseden (setelah IF) bernilai benar.

 Ada sebanyak 10 kejadian, sedangkan kejadian dengan

C1 = murah, ada 3 kejadian, sehingga nilai proposisi = 3/10.

(17)

 Association Rules

 Untuk 2 item, C1 = mahal dan C2 = jauh, dapat

dibentuk 3 aturan:

 If C1 = mahal then C2 = jauh (2/4)  If C2 = jauh then C1 = mahal (2/4)  If  then C1 = mahal and C2 = jauh (2/10)

 Pada aturan pertama, dengan anteseden C1 =

mahal, terdapat konsekuen yang memiliki atribut C2 = jauh. Banyaknya kejadian dengan C1 =

mahal ada 4 kejadian. Dari 4 kejadian tersebut, yang memiliki konsekuen C2 = jauh, ada 2

(18)

 Association Rules

 Demikian seterusnya, total terdapat 93 aturan

yang dapat dibentuk seperti:

 If  then C1 = murah 3/10

 If  then C1 = sedang 3/10

 If C1 = mahal then C2 = jauh 2/4

 If C2 = jauh then C1 = mahal 2/4

 If  then C1 = mahal and C2 = jauh 2/10  If C2 = jauh then C1 = mahal and C4 = tidak 2/4  If C4 = tidak then C1 = mahal and C2 = jauh 2/5

 If  then C1 = mahal and C2 = jauh and C4 = tidak 2/10

(19)

 Association Rules

Selanjutnya, dapat ditentukan tingkat

akurasi yang kita harapkan untuk suatu

aturan.

Misalkan ditetapkan tingkat akurasi = 100%

(1), hal ini berarti bahwa nilai proposisi

suatu aturan harus bernilai 1.

Dengan nilai akurasi 1, maka hanya ada 12

aturan dari 93 aturan tersebut yang dapat

digunakan.

(20)

 Association Rules

 Aturan-aturan yang terbentuk dengan akurasi 100%

No Aturan Coverage Akurasi  Asal

aturan

1 If C2 = jauh then C4 = tidak 4 100% 47

2 If C2 = dekat then C3 = tidak 3 100% 35

3 If C2 = dekat then C4 = ya 3 100% 41

4 If C2 = jauh and C3 = ada then C4 = tidak 3 100% 80

5 If C3 = ada and C4 = tidak then C2 = jauh 3 100% 82

(21)

 Association Rules

No Aturan Coverage Akurasi  Asal

aturan

7 If C2 = dekat and C4 = ya then C3 = tidak 3 100% 88

8 If C2 = dekat then C3 = tidak and C4 = ya 3 100% 90

9 If C1 = mahal and C2 = jauh then C4 = tidak 2 100% 59

10 If C1 = murah and C3 = tidak then C4 = ya 2 100% 66

11 If C1 = murah and C4 = ya then C3 = tidak 2 100% 67

(22)

Sistem Pakar

 Secara umum, sistem pakar (expert system)

adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar

komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli.

 Sistem pakar yang baik dirancang agar dapat

menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru kerja dari para ahli.

 Dengan sistem pakar ini, orang awampun dapat

menyelesaikan masalah yang cukup rumit yang sebenarnya hanya dapat diselesaikan dengan bantuan para ahli.

(23)

Sistem Pakar

Ada 4 komponen utama dalam sistem

pakar, yaitu:

 Basis Pengetahuan (knowledge base)  Motor inferensi (inference engine)

 Antarmuka

(24)

Sistem Pakar

Basis pengetahuan berisi

pengetahuan-pengetahuan dalam penyelesaian masalah,

tentu saja di dalam domain tertentu.

Ada 2 bentuk pendekatan basis

pengetahu-an ypengetahu-ang spengetahu-angat umum digunakpengetahu-an, yaitu:

 Penalaran berbasis aturan (Rule-Based 

Reasoning)

 Penalaran berbasis kasus (Case-Based 

(25)

Pada penalaran berbasis aturan:

 Pengetahuan direpresentasikan dengan

menggunakan aturan berbentuk: IF-THEN.

 Bentuk ini digunakan apabila terdapat

sejumlah pengetahuan pakar pada suatu permasalahan tertentu, dan si pakar dapat menyelesaikan masalah tersebut secara

berurutan.

 Disamping itu, bentuk ini juga digunakan

apabila dibutuhkan penjelasan tentang jejak (langkah-langkah) pencapaian solusi.

(26)

Pada penalaran berbasis kasus:

 Basis pengetahuan akan berisi solusi-solusi

yang telah dicapai sebelumnya, kemudian akan diturunkan suatu solusi untuk keadaan yang terjadi sekarang (fakta yang ada).

 Bentuk ini digunakan apabila user

menginginkan untuk tahu lebih banyak lagi pada kasus-kasus yang hampir sama (mirip).

 Selain itu, bentuk ini juga digunakan apabila

kita telah memiliki sejumlah situasi atau kasus tertentu dalam basis pengetahuan.

(27)

Sistem Pakar

Inference engine:

 Forward Chaining. Pencocokan fakta atau

pernyataan dimulai dari bagian sebelah kiri (IF dulu). Penalaran dimulai dari fakta

terlebih dahulu untuk menguji kebenaran hipotesis.

 Backward Chaining. Pencocokan fakta

atau pernyataan dimulai dari bagian sebelah kanan (THEN dulu). Penalaran dimulai dari hipotesis terlebih dahulu, dan untuk menguji kebenaran hipotesis tersebut dicari harus

dicari fakta-fakta yang ada dalam basis pengetahuan.

(28)

 Contoh: Ada 10 aturan

yang tersimpan dalam basis pengetahuan.

Fakta awal yang

diberikan hanya: A & E (artinya: A dan E

bernilai benar). Ingin dibuktikan apakah K bernilai benar (hipotesis: K)? No. Aturan R-1 IF A & B THEN C R-2 IF C THEN D R-3 IF A & E THEN F R-4 IF A THEN G R-5 IF F & G THEN D R-6 IF G & E THEN H R-7 IF C & H THEN I R-8 IF I & A THEN J R-9 IF G THEN J R-10 IF J THEN K

Sistem Pakar

(29)

Forward Chaining

 Munculnya fakta baru pada saat inferensi:

Aturan Fakta Baru

R-3 F R-4 G R-5 D R-6 H R-9 J R-10 K

Sistem Pakar

(30)

Sistem Pakar

Alur inferensi:

A E Fakta Fakta R-3 F G R-4 D R-5 H R-6 J K R-9 R-10

Referensi

Dokumen terkait

Traps used in trapping of Diaphorina citri adults in the citrus orchard such as (A) yellow sticky trap, (B) rebell brown-yellow trap, (C) bamboo pole trap, (D) yellow pan trap..

Hal ini terbukti bahwa pelaksanaan pembelajaran matematika dengan pemanfaatan microsoft power point slide show telah berjalan sesuai dengan perencanaan, (3) Hasil

Zirconia merupakan bahan keramik yang mempunyai sifat mekanis baik dan banyak digunakan sebagai media untuk meningkatkan ketangguhan retak bahan keramik lain diantaranya

Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang di ajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2.. Semua sumber yang

Dari hasil skenario pengujian ,yang harus dilakukan dapat diperoleh hasil pengujian dari hasil skenario pengujian pada setiap pilihan yang ada pada aplikasi Forum

Pada analisa pencahayaan alami, tanggal 23 September terjadi peningkatan intensitas cahaya alami secara derastis pada pukul 09.00 dan penurunan intensitas cahaya

Terkait dengan pengelolaan perbatasan negara, masyarakat adat di kedua daerah tersebut juga memiliki masalah yang hampir sama, di mana kegiatan lintas

Penetapan harga dalam praktek jual beli bahan bangunan ini tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak, biasanya tukang bangunan akan meminta bonus dari pembelian yang