ALASAN MASYARAKAT TIDAK MENGIKUTI PROGRAM BPJS DI
NAGARI SIGUNTUR MUDA KECAMATAN KOTO XI TARUSAN
KABUPATEN PESISIR SELATAN
ARTIKEL
PUTRI WAHYUNI
NPM: 12070056
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
The reason people do not follow the program BPJS in Nagari Siguntur Muda District of koto X1 Tarusan Coastal District south. thesis, sociology education (STKIP) PGRI West Sumatera, Padang,
2016. Oleh :
Putri Wahyunii1NildaElfemi2Yanti Sri Wahyuni3
*The Sosiology education student of STKIP PGRI west Sumatera **The Sosiology staff of sosiology education of STKIP PGRI west Sumatera
ABSTRACT
This research program background by BPJS collect fees per month Nagari Siguntur Young people who participate very little BPJS program with a number of 6%. only 207 people have BPJS. The purpose of this study was to describe the reason people do not follow the program BPJS in Nagarian Siguntur Muda District of Koto XI Tarusan South Coastal District. The theory used is the theory of phenomenology by Alfred Schutz, After the data were analyzed by collecting data, data reduction, data presentation, and draw conclusions. The results of this study revealed that the reason people do not follow the program BPJS in Nagari Siguntur Young diantarnya: 1. Not having the money to pay iyuran BPJS, 2. low public knowledge about BPJS, 3. Having KIS card.
Keywords: People and Programs BPJS
1
Mahasiswa Program StudiPendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat 2
Pembimbing I, staf pengajar Prodi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat 3
PENDAHULUAN
Pada masa ini perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat. Semua aspek kehidupan juga tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. Masyarakat dapat menikmati semua fasilitas kehidupan yang ada karena semua fasilitas yang disediakan jauh lebih baik dari tahun ke tahun. Dalam bidang kesehatan misalnya, telah banyak tersedia berbagai pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan bertujuan agar masyarakat mendapat jaminan kesehatan. Jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Untuk menjamin kesehatan masyarakat pemerintah telah berupaya melaksanakan berbagai program kesehatan diantara yaitu JPS, JAMKESMAS, dan BPJS (Putri, 2014:1)
Program JPS (Jaringan pengaman sosial) berdiri dilatarbelakangi oleh krisis ekonomi di Indonesia tahun 1998. Tujuan didirikan JPS yaitu untuk membantu masyarakat mengatasi masalah-masalah ekonomi karena saat itu Indonesia mengalami krisis ekonomi yang membuat perekonomian masyarakat Indonesia terpuruk. Jadi banyak
timbul masalah-masalah ekonomi,
pengangguran, kelaparan dan kesehatan. Untuk menanggulangi semua masalah tersebut pemerintah memberikan dana sebesar 17.9 Triliun rupiah kepada masyarakat miskin melalui program JPS agar masyarakat bisa mandiri dan terbebas dari permasalahan ekonomi. Namun pemberian JPS tidak efektif karena dana yang diberikan tidak tepat
sasaran. Banyak penyelewangan yang
dilakukan oleh oknum-oknum tertentu sehingga dana tidak tersalurkan dan masalah kemiskinan dan kesehatan tidak dapat diselesaikan.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) mengakui, sebesar 8 triliun dari Rp. 17,9 triliun dana JPS pada tahun anggaran 1998/1999 telah salah alamat atau menyimpang dari tujuan semula. Dana JPS yang salah alamatitu disebabkan pada awalnya ada interpretasi yang berbeda
mengenai definisi JPS, sehingga banyak departemen yang seharusnya tidak mendapat dana JPS ikut mengajukan proposal.Hanya Rp. 9 triliun saja yang berhasil disalurkan Sementara itu lebih dari Rp. 8 triliun sisanya salah alamat (Rijal dalam Kompas, 23 April1999)
Setelah program JPS dinilai tidak efektif pemerintah mendirikan Program Jamkesmas. Program Jamkesmas merupakan
program pelayanan kesehatan yang
diperuntukkan bagi kaum miskin. Peserta Jamkesmas tidak perlu membayar cicilan perbulan karena biaya kesehatan tersebut ditanggung oleh pemerintah. Penyelenggaraan Jaminan kesehatan dicanangkan pertama kali oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2004 sebagai bagian dari kewajiban pemerintah yang diamanatkan oleh konstitusi untuk memberi perlindungan kepada seluruh warga negara.
Pada tahap awal penyelenggaraannya, jaminan kesehatan diselenggarakan melalui program jaminan kesehatan dengan nama jaminan kesehatan masyarakat miskin (Askeskin) dan dikelola oleh BUMN, yaitu PT. Askes. Dalam perkembangannya, program ini berubah nama menjadi program jaminan kesehatan masyarakat atau Jamkesmas, dengan menargetkan masyarakat miskin dan hampir miskin sebagai penerima pelayanan kesehatan.
Untuk menjalankan program
Jamkesmas, melalui Undang-undang nomor 32
tahun 2004 pemerintah daerah
memformulasikan skema jaminan sosial
tersendiri, pemerintah daerah
menyelenggarakan program jaminan kesehatan untuk masyarakat di daerahnya. Peraturan ini menjadi pijakan dasar pemerintah daerah dalam menyelenggarakan berbagai skema jaminan kesehatan di tingkat lokal. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak skema jaminan kesehatan yang lahir dan diterapkan di beberapa provinsi dan kabupaten dan kota di Indonesia. Namun program jamkesmas juga tidak efisien dalam menanggulangi masalah kesehatan. Hal tersebut disebab oleh pemberian kartu jamkesmas yang tidak merata. Di beberapa daerah. Pemberian kartu jamkesmas tidak
tepat sasaran. Warga miskin seharusnya
mendapatkan kartu jamkesmas namun
masyarakat yang memiliki penghasilan tetap
juga mendapatkan kartu Jamkesmas
(dwicaksono, 2012:1).
BPJS berdiri pada tanggal 1 Januari
2014. Pendirian program BPJS
dilatarbelakangi oleh banyaknya masyarakat yang tidak mendapat pelayanan kesehatan yang seharusnya mereka dapatkan. Tujuan didirikan BPJS yaitu agar pelayanan kesehatan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarkat karena pada program jamkesmas pelayanan kesehatan tidak merata. Hal tersebut membuat program jamkesmas dialihkan ke BPJS.
Jika masyarakat mengikuti program
BPJS maka masyarakat tidak perlu
memikirkan biaya kesehatan mereka karena pemerintah telah menyediakan layanan kesehatan yang melayani semua lapisan masyarakat. Menurut Undang-Undang No 24 Tahun 2011 BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial.
BPJS menurut UU SJSN adalah transformasi dari badan penyelenggara jaminan sosial yang sekarang telah berjalan dan membentuk badan penyelenggara baru sesuai dengan dinamika perkembangan jaminan sosial. Program BPJS ditujukan bagi semua lapisan masyarakat. Masyarakat bisa memperoleh layanan kesehatan yang baik dan memperoleh obat-obatan yang berkualitas. Jika mengikuti BPJS masyarakat memperoleh
haknya dalam mendapatkan pelayanan
kesehatan (putri, 2014:9)
Program BPJS di Nagari Siguntur Muda sudah ada sejak tahun 2014. Namun
tidak banyak masyarakat yang
memanfaatkannya. Padahal Walinagari
melalui bidan-bidan desa dan didampingi oleh kader-kader kesehatan telah memberitahukan kepada masyarakat tentang program BPJS.
Kenagarian Siguntur Muda BPJS
diinformasikan langsung kepada masyarakat. bidan-bidan desa bersama kader-kader kesehatan yang ada di puskesmas pembantu turun langusng ke tengah-tengah masyarakat untuk memberi penyuluhan. Mereka diberikan
informasi mengenai tata cara pendaftaran, cara mempergunakan BPJS dan manfaat yang diperoleh bila memakai BPJS. Selain itu bidan-bidan desa juga memberikan informasi kepada masyarakat yang berobat ke puskesmas mengenai pelaksanaan BPJS. Hal itu berarti bahwa penyuluhan mengenai BPJS di Nagari Siguntur Muda dilakukan dengan cara menemui masyarakat secara langsung.
Nagari Siguntur Muda program BPJS tidak begitu dikenal masyarakat. Ketertarikan masyarakat pada program BPJS sangat rendah. Mereka masih banyak berobat secara umum di puskesmas dan poskesri. Berdasarkan catatan yang ada di Puskesmas dan Poskesri di Kenagarian Siguntur Muda tahun 2015
menunjukan bahwa masyarakat untuk
mengikuti program BPJS sangat rendah. Alasan masyarakat tidak mau mengikuti BPJS disebabkan oleh faktor ekonomi. Masyarakat nagari Siguntur Muda banyak yang bekerja sebagai buruh tani gambir. Mereka tidak mampu membayar iyuran BPJS karena penghasilan mereka juga tergantung hasil pertanian. Hal tersebut menjadi pertimbangan bagi masyarakat untuk tidak mengikuti BPJS,
mengingat BPJS merupakan program
kesehatan yang memungut iuran perbulan sehingga masyarakat merasa terbebani. Masyarakat yang hidup sebagai petani merasa bahwa mengikuti BPJS akan menambah biaya pengeluaran. Sedangkan pendapatan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah Nagari Siguntur
menargetkan 70% masyarakat memakai BPJS maka seharusnya sekitar 2389 orang menggunakan layanan BPJS namun harapan itu masih jauh dari yang ditargetkan. Masyarakat memiliki kartu BPJS hanya sekitar 6 % saja yaitu 207 orang. jadi penggunaan BPJS di Nagari Siguntur Muda sangat rendah. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian mengenai alasan masyarakat tidak mengikuti program BPJS di nagari Siguntur Muda kecamatan Koto XI Tarusan.
METODOLOGI
Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam penelitian ini mengunakan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena metode kualitatif mempelajari data di lingkungan secara alamiah dan mengutamakan teknik observasi dan wawancara serta dokumen. Menurut Moleong (2010:6) Penelitian kualitatif penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskriftif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang dialamiah dan dengan dimaanfaatkan berbagai metode alamiah. Alasan penulis memilih pendekatan kualitatif
dianggap mampu menjelaskan masalah
penelitian yang telah diteliti secara mendalam. Analisis data adalah proses yang sistematis untuk menentukan bagian-bagian dan saling keterkaitan antara bagian-bagian keseluruhan data yang telah dikumpulkan untuk menghasilkan klasifikasi. Analisis data kualitatif adalah pengumpulan data, mereduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan (Miles dan Huberman dalam Sugiyono, 2013:246). Dalam analisis data ini diharapkan akan didapatkan alasan masyarakat tidak mengikuti program BPJS di Nagari Siguntur Muda Kecamatan koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan yang diawali dengan proses penelitian sampai kepada pembuatan laporan penelitian. Analisis data dalam penelitian ini digunakan model analisis data dari Miles dan Huberman. Dengan mengunakan beberapa langkah yaitu langkah pertama dimulai dari Reduksi data, setelah data selesai di reduksi maka langkah selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel atau pun diagram dan lain-lain, setelah semua langkah selesai dilakukan maka langkah selanjut adalah kesimpulan dari keseluruhan data sehingga dapat menjawab tujuan dari penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Proses Sosialisasi BPJS di Nagari
Siguntur Muda
Proses sosialisasi BPJS di Nagari Siguntur Muda kurang maksimal. Hal tersebut disebabkan karena saat sosialisasi dilakukan tidak menggunakan brosur atau spanduk selain itu masyarakat di nagari Siguntur Muda pada siang hari juga tidak berada di rumah. Mereka rata-rata pada umumnya pada siang hari pergi bekerja ke ladang karena mata pencarian masyarakat di nagari Siguntur Muda adalah buruh tani gambir (tukang kampo). Sehingga proses sosialisasi dinilai kurang maksimal.
sosialisasi kurang maksimal karena
masyarakat di Nagari Siguntur Muda pada siang hari banyak yang sedang berada di ladang.
2. pelayanan BPJS di Nagari Siguntur Muda
Pelayanan BPJS yang dilakukan oleh bidan-bidan serta kader kesehatan kepada masyarakat sangat baik. Hal tersebut dapat dilihat saat para bidan melayani peserta BPJS di puskemas. Bidan melayani masyarakat 24 empat jam. Sebenarnya puskesmas di nagari Siguntur Muda hanya beroperasi sejak pukul 08.00 wib sampai pukul 20.00 wib. Namun jika ada masalah darurat yang membutuhkan pertolongan segera. Maka bidan berupaya melayani masyarakat. Selain itu mereka bersedia dipanggil ke rumah jika ada masyarakat yang tidak kuat datang ke puskesmas.
3. Rekrut Peserta BPJS Di Nagari Siguntur Muda
Perekrutan peserta BPJSdi Nagari Siguntur Muda dilakukan oleh bidan dan kader kesehatan dengan cara mengunjungi rumah warga kemudian menawarkan program BPJS bagi warga yang tidak memiliki kartu kesehatan. menurut masyarakat program BPJS bukanlah program kesehatan yang menjamin kesehatan masyarakat secara gratis karena setiap bulan masyarakat harus membayar iyuran BPJS.
Perekrutan peserta BPJS dilakukan dengan cara mendata masyarakat yang tidak memiliki kartu kesehatan. Masing-masing bidan mendata masyarakat yang ada di nagari Siguntur Muda sesuai dengan area yang telah ditugaskan dalam unit kerja para bidan dan kader. Bidan-bidan tersebut mendata penduduk yang tidak memiliki BPJS kemudian
mengajak mereka untuk bergabung.
Sebelumnya bidan dan kader kesehatan terlebih dahulu menjelaskan hal-hal yang terkait dengan BPJS. Sebelum menawarkan program BPJS kepada masyarakat.
4. Alasan Masyarakat Tidak Mau Mengikuti Program BPJS
Program BPJS di nagari Siguntur Muda tidak berjalan sebagaimana yang
diharapkan oleh pemerintah nagari.
Masyarakat cenderung tidak mau mengikuti BPJS. Ada beberapa faktor yang menjadi alasan masyarakat tidak mau mengikuti BPJS yaitu:
a. Masyarakat Tidak Mempunyai uang untuk Membayar Iyuran BPJS
Uang merupakan salah satu alasan yang masuk akal bagi masyarakat dalam hal mengikuti program layanan kesehatan. Berdasarkan Observasi yang dilakukan pada 20 Mei 2016, dilihat dari rumahnya lantai rumahnya masih papan, dinding rumahnya ditutupi pakai triplek dan juga tidak mempunyai kendaraan. Jika dia sakit tidak terlalau parah maka dia berobat hanya di puskesmas atau di poskesri, Masyarakat pada umumnya hanya bekerja sebagai buruh tani gambir hanya memiliki penghasilan 300 sampai 400 ribu rupiah seminggu itupun termasuk semuanya tanggunggan kebutuhan sehari-hari dan juga biaya sekolah anak serta biaya listrik. Pengeluaran masyarakat Nagari siguntur muda sebanyak 50 ribu rupiah sehari jika biaya sebanyak itu tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari nya maka para ibu rumah tangga berhutang kewarung tempat dia belanja jadi dengan penghasilan yang sebanyak itu masyarakat tidak mau untuk mengikuti program BPJS. Apabila ditinjau
dari teori fenomenologi Alfred Schutz bahwa
“because motif” motif alasan terkait dengan
pengalaman, masa lalu seseorang. terlihat pada alasan masyarakat tidak memiliki uang untuk membayar iyuran BPJS karena mereka menganggap uang yang mereka miliki di gunakan untuk keperluan kebutuhan sehari-hari nya dan juga untuk biaya sekolah anaknya serta biaya listrik, ketimbang membayar iyuran BPJS hal ini di dapat dari pengalaman mereka dalam mempergunakan uang untuk kebutuhan yang lebih utama.
b. Pengetahuan Masyarakat Yang Masih Rendah Tentang BPJS
Di nagari Siguntur Muda banyak masyarakat yang tidak mengetahui informasi mengenai BPJS karena data yang didapat dari kantor wali nagari banyak masyarakat yang tidak sekolah. Tingkat pendidikan masyarakat di Nagari Siguntur muda hanya pada tingkat SMP yang paling tinggi, Informasi BPJS yang disampaikan oleh kader-kader kesehatan
seperti pelaksanaannya, tata cara
pendaftarannya, maupun biaya dan
manfaatnya. Namun masih banyak juga masyarakat yang bingung cara mendaftar program BPJS, Hal tersebut disebabkan oleh proses sosialisasi yang tidak maksimal contohnya dalam hal penyampaian informasi. Banyak masyarakat yang tidak mendapat informasi. Penyebaran informasi tidak merata dan tidak menjangkau semua masyarakat yang ada di nagari Siguntur Muda.Hal tersebut disebabkan karena saat sosialisasi dilakukan banyak warga yang sedang tidak berada di rumah. Selain itu proses sosialisasi dilakukan tanpa brosur sehingga masyarakat susah dan
bingung untuk memahami cara
pendaftarannya. Pembayaran BPJS juga jauh dari tempat tinggal masyarakat sehingga masyarakat tidak mau untuk mengikuti
program BPJS. berdasarkan Alasan
masyarakat tidak mengikuti program BPJS menggunakan teori fenomenologi menurut Alfred Schutz tindakan manusia ditentukan oleh makna yang dipahami tentang sesuatu yang disebut motif, dimana mereka dalam melakukan tindakan mempunyai suatu alasan tertentu, Berdasarkan permasalahan teori yang digunakan lebih mengacu kepada because
motive yang berarti motivasi yang melalui
pengalaman dan masa lalu individu sebagai anggota masyarakat. Di mana masyarakat siguntur ini tidak mau mengikuti program BPJS karena masyarakat yang tidak tahu cara pendaftarannya. Jika dikaitkan dengan teori yang digunakan “because motive” terkait dengan pengalaman atau masa lalu seseorang ini terlihat pada ketidaketahuan masyarakat dalam cara pendftaran BPJS artinya mereka memperoleh hal tersebut dari pembicaraan-pembicaran orang-orang sekeliling bahwa pendaftaran PBJS sangan berbelit-belit dan mamakai waktu yang lama yang membuat
masyarakat menganggap bahwa cara
pendaftaran BPJS sangan berbelit-belit sehingga masyarakat menganggap cara pendaftaran sangat sulit dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang BPJS yang membuat masyarakat tidak tahu tata cara pendaftar BPJS. Hal itu diperoleh dari apa yang masyarakat rasakan dan lalui bahwa dari pembicaraan orang lain tentang BPJS cara pendaftaran yang berbelit-belit membuat masyarakat tidak tahu tata cara pendataftaran PBJS. dan pengetahuan yang rendah dia menggangap prosedur BPJS ini berbelit-belit dan banyak syarat-syarat yang harus di penuhi sehingga masyarakat binggung untuk cara mendaftar BPJS ini.
c. Memiliki Kartu KIS ( Kartu Indonesia Sehat)
Program BPJS masuk ke Siguntur Muda tahun 2014. Sebelum itu telah ada pula program jamkesmas dan askes. namun sekarang program jamkesmas digantikan oleh program KIS (kartu Indonesia sehat). Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan
21 Februari 2016 Kader kesehatan
memberikan kartu kis (kartu Indonesia sehat) kepada masyarakat yang telah mendapatkan kartu jamkesmas. Kartu KIS berbeda dengan BPJS sebab kartu KIS tidak perlu membayar tiap bulan. Lain halnya dengan BPJS, BPJS mengharuskan membayarkan iyuran perbulan selama seumur hidup. Dan pelayanan kartu KIS dengan BPJS mandiri tetap sama pelayanannya tanpa harus membedakan mana yang dari pemerintah dan mana yang BPJS mandiri. Dengan pelayanan yang sama
dilakukan oleh orang kesehatan masyarakat merasa nyaman dan senang dengan kartu yang mereka punya. Apabila ditinjau dari teori fenomenologi Alfred Schutz bahwa” In order
motive yang berarti motivasi yang tumbuh dan
timbul karena melihat adanya nilai-nilai terhadap tindakan untuk jangkauan masa depan. Di mana masyarakat siguntur ini tidak mau mengikuti program BPJS karena sudah memiliki kartu kesehatan yang lain. jadi dengan memiliki kartu kesehatan yang lain masyarakat sudah memiliki kedepannya tanpa harus memikirkan biaya berobat.
KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa alasan masyarakat tidak mau mengikuti BPJS di kenagarian Siguntur Muda disebabkan oleh beberapa faktor yaitu Tidak punya uang untuk
mengikuti program BPJS. Masyarakat
mengatakan tidak punya uang karena mereka hanya bekerja sebagai buruh tani gambir dengan penghasilan yang rendah sebanyak Rp 300-400 seminggu Sehingga mereka merasa tidak mampu untuk membayar BPJS. Selain itu, pengetahuan masyarakat juga tergolong masih rendah mengenai BPJS. Masyarakat banyak yang tidak mengetahui tata cara pendaftaran BPJS, meskipun sosialisasi sudah dilakkan.faktor lain yang menjadi alasan bagi masyarakat tidak mau mengikuti BPJS yaitu masyarakat memiliki kartu kesehatan yang lain seperti kartu Jamkesmas yang sekarang namanya diganti menjadi kartu KIS (kartu indonesia sehat).
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, peneliti menyarankan sebagai berikut:
1. Bagi kader-kader kesehatan supaya lebih giat lagi
memberikan sosialisasi
kepada masyarakat dan
memperhatikan waktu yang
tepat dalam melakukan
sosialisasi.
2. Bagi peneliti selanjutnya
diharapkan melakukan
penelitian yang lebih luas sehingga hasil penelitian dapat digeneralisir dengan
informasi yang lebih
lengkap.
3. Masyarakat agar mencari
informasi di tempat
pelayanan kesehatan seperti puskesmas, puskesri atau kantor walinagari setempat
dan tidak menggunakan
kartu kesehatan orang lain. .
DAFTAR PUSTAKA
Dwicaksono, Adenantera. 2012. Jamkesmas
Dan Jaminan Kesehatan Daerah.
Bandung: Perkumpulan Inisiatif. Putri, Eka Asih. 2014. Paham BPJS: Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.
Jakarta: CV Komunitas Pejaten Mediatama.
Rijal. 2009. Penerima JPS Tidak Tepat
Sasaran. Jurnal Vol 9 no 11
Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Sugioyono. 2013. Metode penelitian
kuantitatif kualitatif dn R&D, Bandung: