• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONVERSI AGAMA DAN PENGALAMAN KEAGAMAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KONVERSI AGAMA DAN PENGALAMAN KEAGAMAAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

11

KONVERSI AGAMA DAN PENGALAMAN KEAGAMAAN

A. KONVERSI AGAMA

Konversi berasal dari kata Conversion (bahasa inggris) yang berarti “berlawanan arah” dengan sendirinya konversi agama berarti terjadinya suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan

keyakinan semula.1

Pengertian konversi agama secara etimologi berasal dari kata lain “conversio” yang berarti: tobat, tindak, berubah (agama). Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian : tobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk kedalam agama ( menjadi raderi )

Sedangkan konvensi Agama menurut terminilogi sebagaimana di kemukakan oleh Max Heirich adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan

sebelumnya.2

Konvensi Agama menurut Walter Horston Clank dalam bukunya ”The Psykology Of Religion” memberikan definisi konvensi Agama sebagai berikut: Konvensi Agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap dan ajaran tindak Agama, lebih jelas dan lebih tegas lagi, Konvensi Agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba kearah mendapat hidayah Allah secara

1

Zakiah Darajad, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, 1970) hlm. 137.

2

(2)

mendadak telah terjadi. Yang mungkin sangat mendalam atau jangkal.

Dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.3

Beralih Agama menurut Weber dan Dirkheim ada tiga, Pertama adalah kecenderungan masyarakat pada doktrin keagamaan tertentu sangat dipengarui oleh kedudukan kelas penganutnya. Kedua adalah beberapa ide Agama mencerminkan karakteristik kondisi manusia yang sangat Universal dan karenanya mempunyai daya tarik luas menfrandensikan pembagian statifikasi sosial. Ketiga adalah perubahan sosial, khusus di organisasi, yang mengakibatkan hilangnya consensus budaya dan solidaritas kelompok dan membuat manusia berada dalam situasi ”mencari komonitas” yakni pencarian nilai-nilai baru yang akan menjadi anutan mereka dan kelompok-kelompok dimana mereka akan

bergabung.4

Konversi agama secara psikologis, agama sebagai kumpulan memerankan peranan penting proses konversi keseluruhannya. Hal ini merupakan sasaran menarik bagi sosiologi agama, seseorang yang mengalami pertobatan tidak akan tinggal diam. Ia didorong oleh keinginan untuk mencari komunitas keagamaan yang dianggap sanggup memberikan jawaban yang meredakan batinnya. Pada suatu ketika ia menjumpai suatu komunitas yang religius yang menawarkan diri sebagai tempat untuk membangun kehidupan baru dimana tesedia peranan-peranan baru yang memungkinkan pengembangan aspirasinya. Jikalau dalam kelompok baru itu segala sesuatunya dirasa sesuai dengan keinginannya, maka disitu ia meraa menemukan suatu cara yang

diyakini sebagai panggilan baru.5

3

Zakiah Darajad, op. cit., hlm.

4

O‘ Dea Thomas F, Sosiologi Agama (Yogyakarta: CV Rajawali, 1987) hlm. 116.

5

(3)

B. PENGALAMAN KEAGAMAAN DAN PROSES KONVERSI AGAMA

Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Proses konversi agama ini dapat diumpamakan seperti proses pemugaran sebuah gedung bangunan lama dibongkar dan pada tempat yang sama didirikan bangunan baru yang lain sama sekali dari bangunan sebelumnya.

Demikian pula seseorang atau kelompok yang mengalami proses konversi agama ini. Segala bentuk kehidupan batinnya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutinya; maka setelah terjadi konversi agama pada dasarnya secara spontan pula lama ditinggalkan sama sekali. Segala bentuk perasaan batin terhadap kepercayaan lama seperti harapan, rasa bahagia, keselamatan, kemantapan berbuah menjadi berlawanan arah. Timbullah gejala-gejala baru berupa: perasaan serba tidak lengkap dan tidak sempurna. Gejala ini menimbulkan proses kejiwaan dalam bentuk: merenung, timbulnya tekanan batin, penyesalan diri, rasa berdosa, cemas terhadap masa depan, perasaan susah yang ditimbulkan oleh kebimbangan.

Perasaan yang berlawanan itu menimbulkan pertentangan dalam batin sehingga untuk mengatasi kesulitan tersebut harus dicari jalan penyalurannya. Umumnya apabila gejala tersebut sudah dialami oleh seseorang atau kelompok maka dirinya menjadi lemah dan pasrah ataupun timbul semacam peledakan perasaan untuk menghindarkan diri dari pertentangan batin itu. Ketenangan batin akan terjadi dengan sendirinya bila yang bersangkutan telah mampu memilih pandangan hidup yang baru. Pandangan hidup yang dipilih tersebut merupakan

(4)

petaruh bagi masa depannya sehingga ia merupakan pegangan baru

dalam kehidupan selanjutnya.6

Tiap-tiap konversi agama itu melalui proses-proses jiwa sebagai berikut:

1. Masa tenang pertama, masa tenang sebelum mengalami konversi, di mana segala sikap, tingkah laku dan sifat-sifatnya acuh tak acuh menentang agama.

2. Masa ketidaktenangan; konflik dan pertentangan batin berkecamuk dalam hatinya, gelisah, putus asa, tegang, panik dan sebagainya, baik disebabkan oleh moralnya, kekecewaan atau oleh apapun juga. Pada masa tegang, gelisah, dan konflik jiwa yang berat itu biasanya mudah perasa, cepat tersinggung dan hampir-hampir putus asa dalam hidupnya dan mudah kena sugesti.

3. Peristiwa konversi itu sendiri setelah masa goncang itu mencapai puncaknya, maka terjadilah konversi itu sendiri. Orang merasa tiba-tiba mendapat petunjuk Tuhan, mendapat kekuatan dan semangat hidup yang tadinya seperti lamun ombak atau diporakporandakan oleh badai taufan persoalan, jalan yang akan ditempuh penuh onak dan diri, tiba-tiba angin berhembus, hidup berubah menjadi tenang, segala persoalan hilang mendadak, berganti dengan rasa istirahat dan menyerah dengan tenang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Pengasih dan Penyayang, mengampuni segala dosa dan melindungi manusia

dengan kekuasaan-Nya.7

4. Keadaan tentram dan tenang. Setelah krisis konversi lewat dan masa menyerah dilalui. Maka timbullah perasaan atau kondisi jiwa yang baru, rasa aman damai di hati, tiada lagi dosa yang tidak diampuni Tuhan; tidak ada kesalahan yang patut disesali, semuanya telah

6

Djalaluddin, Psikologi, op. cit., hlm. 252.

7

(5)

lewat, segala persoalan menjadi enteng dan terselesaikan. Hati lega, tiada lagi yang menggelisahkan, kecemasan dan kekhawatiran berubah harapan yang menggembirakan, tenang, luas tak ubahnya seperti lautan lepas yang tidak berombak di pagi yang nyaman. Dada menjadi lapang, sikap penuh kesabaran yang menyenangkan. Dia menjadi pemaaf dan dengan mudah baginya mencari jalan untuk memaafkan kesalahan orang.

5. Ekspresi konversi dalam hidup. Tingkat dari konversi itu adalah pengungkapan konversi agama dalam tindak tanduk, kelakuan. Sikap dan perkataan dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama, maka konversi yang diiringi dengan tindak dan ungkapan-ungkapan kongkrit dalam kehidupan sehari-hari, itulah yang akan membawa tetap dan mantapnya

perubahan keyakinan tersebut.8

Proses terjadinya konvensi Agama antara seseorang dengan yang lainnya tidak selalu sama persis. Perbedaan ini terjadi disebabkan oleh latar belakang dari individu itu sendiri berbeda, misalnya:

a. Keadaan keluarga b. Keadaan lingkungan c. Keadaan pendidikan

d. Sebab-sebab yang mendorong untuk konvensi Agama9

Latar belakang seperti diatas, memungkinkan terjadinya konvensi Agama secara mendadak atau berangsur-angsur. “Carl X” menekankan pada perubahan keyakinan Agama yang bersifat mendadak

8

Ibid., hlm. 140

9

Khusus poin D. Uka Tjandra Sasmita (ed, Sejarah nasional Indonesia III), (Jakarta: Grafitas, 1975) hlm. 122.

(6)

dan radikal, namun ia tidak menolak peran dari proses yang bersifat gradual.10

Proses konversi agama ada 2 unsur:

1. Unsur dari dalam diri yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang diambil seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang bereaksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seiring dengan proses tersebut muncul pola struktur psikologis baru yang dipilih.

2. unsur dari luar yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. Kekuatan yang datang dari luar dari ini kemudian menekankan pengaruhnya terhadap kesadaran mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan penyelesaian oleh yang bersangkutan.

Kedua unsur tersebut kemudian mempengaruhi kehidupan batin untuk aktif berperan memilih penyelesaian yang mampu memberikan ketenangan batin kepada yang bersangkutan. Jadi di sini terlihat adanya pengaruh motivasi dari unsur tersebut terhadap batin. Jika pemilihan tersebut sudah serasi dengan kehendak batin maka akan terciptalah suatu ketenangan. Seiring dengan timbulnya ketenangan batin tersebut terjadilah semacam perubahan total dalam struktur psikologis sehingga struktur lama terhapus dan digantikan dengan yang baru sebagai hasil pilihan yang dianggap baik dan benar, sebagai pertimbangannya akan

10

W.H. Clark, Psycology Of Religion (New York: The Macmillan Company, 1958) hlm. 191.

(7)

muncul motivasi baru untuk merealisasi kebenaran itu dalam bentuk tindakan atau perbuatan yang positif. Jika proses konversi itu diteliti dengan seksama maka baik hal itu terjadi oleh unsur luar ataupun unsur dalam ataupun terhadap individu atau kelompok maka akan ditemui

persamaan.11

H. Carrier, membagi proses konversi agama dalam pentahapan sebagai berikut:

1. Terjadi disintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami.

2. Reintegrasi kepribadian berdasarkan konversi agama yang baru. Dengan adanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur lama,

3. Tumbuh sikap menerima konsepsi agama baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya.

4. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan

panggilan suci petunjuk Tuhan.12

C. FAKTOR PENDORONG TERJADINYA KONVERSI AGAMA Menurut Max Heirich ada empat faktor yang mendorong terjadinya konversi agama (masuk atau pindah agama).

1. Dari kalangan ahli teologi: faktor pengaruh ilahi. Seseorang atau kelompok masuk atau pindah agama (konversi agama) karena di dorong oleh karunia Allah SWT. Tanpa adanya pengaruh khusus dari Allah SWT orang tidak sanggup menerima kepercayaan yang sifatnya radikal mengatasi kekuatan insani. Dengan kata lain, untuk berani menerima hidup baru dengan segala konsekuensinya diperlukan bantuan istimewa dari Allah SWT. yang sifatnya

11

Djalaluddin, op. cit., hlm. 253.

12

(8)

Cuma telah dijelaskan di atas bahwa masalah dari dunia supra-empiris itu bukanlah kompetensi ilmu-ilmu sosial untuk membicarakannya.

2. Faktor kedua datang dari kalangan ahli psikologi pembebasan dari tekanan batin. Tekanan batin itu sendiri timbul dalam diri seseorang karena pengaruh lingkungan sosial. Oran lalu mencari jalan keluar dengan mencari kekuatan lain, yaitu masuk agama. Orang yang menghadapi situasi yang mengancam dan menekan batinnya. Tekanan itu dapat diatasi dengan kekuatannya sendiri, maka orang lantas lari kepada kekuatan dari dunia lain. Di situ ia mendapat pandangan baru yang dapat mengalahkan motif-motif atau patokan hidup terdahulu yang selama itu ditaatinya. Tekanan batin itu sendiri yang selama itu menyiksa timbul dari salah satu faktor berikut: a. Masalah keluarga yang dialami seseorang sebelum masuk agama.

Kesulitan antar anggota keluarga, percekcokan, kesulitan seks, kesepian batin, tidak mendapat tempat hati kerabat, itu semua menimbulkan tekanan (stress) psikologi dalam diri orang yang

berpindah agama itu.13

b. Urutan kelahiran tertentu. c. Faktor lain ialah kemiskinan.

3. Faktor ketiga suasana pendidikan (sosialisasi)

Dalam hal ini literatur ilmu sosial menampilkan argumentasi bahwa pendidikan memainkan peranan lebih kuat atas terbentuknya di posisi religius yang lebih kuat bagi kaum wanita daripada kaum pria.14

13

Hendro Puspito, op. cit., hlm. 80.

14

(9)

4. Aneka pengaruh sosial

a. Pengaruh pergaulan antar pribadi

b. Pengaruh saudara atau teman-teman dekat

c. Pengaruh pemimpin agama.15

Para ahli agama yang menyatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supra natural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok.

Para ahli sosiologi berpendapat bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi agama itu terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:

a. Pengaruh hubungan antar pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun non agama (kesenian, ilmu pengetahuan, ataupun bidang kebudayaan yang lain).

b. Pengaruh kebiasaan yang rutin

Pengaruh ini dapat mendorong seseorang atau kelompok untuk berubah kepercayaan jika dilakukan secara rutin hingga terbiasa, misalnya: menghadiri upacara keagamaan atau pertemuan-pertemuan yang bersifat keagamaan baik pada lembaga formal, ataupun non formal.

c. Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat

misalnya: karib, keluarga, famili dan sebagainya.16

d. Pengaruh pemimpin keagamaan

Hubungan yang baik dengan pemimpin agama merupakan salah satu faktor pendorong konversi agama.

15

Ibid., hlm. 82.

16

(10)

e. Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi

Perkumpulan yang dimaksud seseorang berdasarkan hobinya dapat pula menjadi pendorong terjadinya konvensi agama.

f. Pengaruh kekuasaan pemimpin

Yang dimaksud di sini adalah pengaruh kekuasaan pemimpin berdasarkan kekuatan hukum. Masyarakat umumnya cenderung

menganut agama yang dianut oleh pemimpinnya.17

Sesungguhnya untuk menentukan faktor-faktor apa yang mempengaruhi dan menyebabkan mungkin terjadinya konversi agama itu, memang tidak mudah. Namun demikian, ada beberapa faktor yang tampaknya terjadi dan terdapat dalam setiap peristiwa konversi agama antara lain:

a. Pertentangan batin (konflik jiwa) dan ketegangan perasaan

Rupanya orang-orang yang gelisah, yang di dalam dirinya bertarung berbagai persoalan, yang kadang-kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problem itu mudah mengalami konversi agama. Diantaranya ketegangan batin yang dirasakan orang, ialah tidak mampunya ia mematuhi nilai-nilai moral dan agama dalam hidupnya. Ia tahu bahwa yang salah itu salah, akan tetapi ia tidak mampu menghindarkan dirinya yang salah itu, dan ia tahu mana

yang benar, akan tetapi tidak mampu berbuat benar.18 Dalam semua

konversi agama, boleh dikatakan latar belakang yang terpokok adalah konflik jiwa (pertentangan batin) dan ketegangan perasaan yang mungkin disebabkan oleh berbagai keadaan.

17

Ibid., hlm. 248.

18

(11)

b. Pengaruh hubungan dengan tradisi keagamaan

Memang benar, bahwa konversi agama bisa terjadi dalam sekejap mata. Namun tidak ada peristiwa konversi agama yang tidak mempunyai riwayat. Diantara faktor-faktor terpenting dalam konversi itu adalah pengalaman-pengalaman yang mempengaruhinya. Sehingga terjadi konversi tersebut. Di antara pengaruh yang terpenting adalah pendidikan orang tua di waktu kecil, memang orang-orang yang mengalami konversi itu acuh tak acuh, bahkan menentang agama pada hidupnya menjelang konversi itu terjadi, namun jika dipelajari riwayat hidupnya sejak kecil, akan didapatlah misalnya ibu/bapaknya orang yang kuat beragama atau

salah satu dari orang tuanya tekun beragama.19

c. Ajakan/seruan dan sugesti

Banyak pula terbukti, bahwa di antara peristiwa konversi agama, terjadi karena sugesti dan bujukan dari luar. Kendatipun pengaruh sugesti dan bujukan itu, pada mulanya dangkal saja, atau tidak mendalam, tidak sampai kepada perubahan kepribadian, namun jika orang yang mengalami konversi itu dapat merasakan kelegaan dan ketenteraman batin dalam keyakinan yang baru, maka lama

kelamaan akan masuklah keyakinan itu ke dalam kepribadiannya.20

d. Faktor-faktor emosi

Kalau kita kembali kepada orang-orang yang emosinya lebih mudah mendorongnya untuk bertindak, biasanya mereka sangat tajam (ekstrim) apabila melihat sesuatu yang menyenangkan perasaannya, sesuatu itu akan dipujinya setinggi langit, tapi sebaliknya akan menghantamkan habis-habisan orang yang berbeda pendapat dengan dia. Orang-orang yang demikian itu kadang-kadang berkeras

19

Ibid., hlm. 161.

20

(12)

membela kesalahan yang dibuatnya. Kendatipun ia tahu bahwa yang dibuatnya itu salah, namun ia tidak mampu menghindarkannya. e. Kemauan

Kemauan juga memerankan peranan penting dalam konversi agama. Di mana dalam beberapa kasus, terbukti bahwa peristiwa konversi itu terjadi sebagai hasil dari perjuangan batin yang mengalami konversi.21

Faktor intern, yang mempengaruhi konversi agama 1. Kepribadian

Secara psikologis tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang.

2. Faktor pembawaan

Kecenderungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Faktor ekstern yang mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah:

1. Faktor keluarga, keretakan keluarga, ketidakserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat dan lainnya.

Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin sehingga sering terjadi konversi agama dalam

usahanya untuk meredakan tekanan batin yang menimpa dirinya.22

2. Lingkungan tempat tinggal

Orang yang merasa terlempar dari lingkungan tempat tinggal atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat merasa dirinya hidup sebatangkara. Keadaan yang demikian menyebabkan seseorang

21

Ibid., hlm. 164.

22

(13)

mendambakan ketenangan dan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahan batinnya hilang.

3. Perubahan status

Perubahan status terutama yang berlangsung secara mendadak akan banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama misalnya; perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan, kawin dengan orang yang berlainan agama dan sebagainya.

4. Kemiskinan

Kondisi sosial ekonomi yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama. Masyarakat awam yang miskin cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik kebutuhan mendesak akan sandang pangan dapat mempengaruhi.

Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konversi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data dan argumentasi bahwa suasana pendidikan ikut mempengaruhi konversi agama, walaupun belum dapat dikumpulkan data secara pasti tentang pengaruh lembaga pendidikan terhadap konversi agama namun berdirinya sekolah-sekolah yang bernaung di bawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.23

23

Referensi

Dokumen terkait

/indakan yang dapat menyebabkan in$ersio uteri adalah perasat @rede pada korpus uteri yang tidak berkontraksi baik dan tarikan pada tali pusat dengan plasenta yang belum lepas

Metode ini dipilih karena sesuai juga dengan harapan peneliti bahwa akan tercapainya tujuan penelitian menggunakan metode survei dengan penggunaan data primer untuk setiap

Salah satu masalah yang paling sering muncul adalah kegiatan informal di bidang perdagangan, yaitu kegiatan pedagang kaki lima (PKL). Tidak berbeda dengan sektor ekonomi

Buku Informasi Mahasiswa (BIM) adalah buku yang berisi data/profil mahasiswa bimbingan akademik dan catatan tentang proses bimbingan dan konsultasi akademik antara

Pembahasan mengenai proses rekrutmen dan seleksi tenaga kerja di PT Jasa Raharja (Persero) Perwakilan Malang pada penelitian ini adalah berdasarkan hasil pengumpulan data

Disisi lain, penulis akan mencoba mengungkap gambaran umum tentang representasi remaja muslim perempuan dan bagaimana islam memandangnya dalam buku Yuk Berhijab!, karena dinilai

Kegiatan analisis tugas merupakan pengidentifikasian ketrampilan - ketrampilan utama yang diperlukan dalam pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang digunakan.