58
BAB IV AKAR IDEOLOGIS GERAKAN SOSIAL KEAGAMAAN UKMKP
UNIMED
Bagian awal dari Tesis ini menyatakan tentang ideologi dalam gerakan sosial sebagai rumusan permasalahan. Fokus penelitian yang menjadi arah penulisan tesis ini, yaitu akar Ideologis dalam Gerakan Sosial Keagamaan UKMKP UNIMED. Kedua Variabel ini telah dideskripsikan oleh penulis pada bab 3. Selanjutnya pada bagian ini penulis akan menyajikan suatu pembahasan terhadap ideologi Perkantas dan pengaruhnya dalam Gerakan sosial keagamaan berdasarkan landasan teori seperti yang dipaparkan dalam bab dua.
Melalui analisis ini penulis mengeksplorasi serta menjelaskan secara sistematis penelitian ini dengan pendekatan sosiologis. Penulis memulai bagian ini berdasarkan fokus penelitian mulai dengan ideologi Perkantas dan selanjutnya mendeskripsikan bagaimana Ideologi Perkantas menyebabkan perkembangan gerakan sosial keagamaan di UKMKP UNIMED.
1. Ideologi Perkantas sebagai akar ideologis UKMKP UNIMED
Ideologi berdasarkan etimologisnya merupakan ilmu yang meliputi kajian tentang asal-usul dan hakikat ide atau gagasan.1 Ideologi mengacu pada pengertian pada sistem ide-ide tentang fenomena, terutama fenomena kehidupan sosial; cara berpikir khas suatu kelas atau individu. Untuk melihat hakikat ide dan gagasan lahir, melalui pendekatan
59
sosiologi pengetahuan. Kita perlu beranjak pada pengetahuan sosial yang berkembang pada konteks masa itu. Perlunya melakukan kajian sosio-historis dari tokoh pendiri, masa-masa perkembangan Yayasan, serta mencoba menginterpretasikan vision
statement dari organisasi tersebut.
Untuk mengetahui Ideologi Perkantas, kita harus mencari ide-ide yang melatar belakangi pendirian organisasi ini pada masa lampau. Konteks sosio-historis dari pendiri Perkantas yang melahirkan Visi dan Misi Pelayanan Perkantas. Ide-ide dan sistem nilai seperti apa yang mengkristal dalam pelayanan organisasi ini sehingga menjadi suatu ideologi pelayanan Perkantas.
Kita akan melihat Ideologi melalui pendekatan sosiologi pengetahuan yang merupakan teori cabang dari keilmuan yang berusaha, menganalisis kaitan antara pengetahuan dan kehidupan masyarakat; teori ini bisa juga sebagai riset sosiologi-historis, yang berupaya menelusuri bentuk-bentuk yang diambil oleh kaitannya dengan perkembangan intelektual manusia. Menurut Karl Mannheim dalam sosiologi pengetahuan sebagai berikut:
… terdapat cara-cara bepikir yang tak dapat dipahami secara memadai bila asal-usul sosialnya tidak jelas. Sosiologi pengetahuan lebih berusaha memahami pemikiran dalam latar belakang kongkrit dari situasi sosial-historis tertentu yang memunculkan pikiran individual yang berbeda-beda secara bertahap-tahap. Dengan demikian bukanlah manusia pada umumnya yang berpikir, melainkan manusia dalam kelompok tertentu yang telah
60
mengembangkan suatu gaya pemikiran tertentu dalam rangka tanggapan terus menerus terhadap situasi-situasi khusus tertentu yang mencirikan posisi umum mereka.2
Berdasarkan gambar 2.1, kita melihat proses dari sosiologi pengetahuan menurut Mannheim. Gambar ini ketika kita melihat segala kondisi material dan sosial akan melahirkan suatu perilaku baik individu maupun sosial. Ketika hal ini mengalami internalisasi, perilaku ini menumbuhkan pengalaman personal dari perilaku seseorang. Jika setiap individu berinteraksi dengan individu lain dan melakukan eksternalisasi dan objektivikasi, maka pengalaman ini bukan hanya terjadi personal namun secara kolektif. Hal ini yang menjadi landasan bagi Organisasi-organisasi dan Proses sosial mendasari pembentukan ideologi. Pada tahap selanjutnya ideologi yang menyebabkan seseorang maupun kolektif berusaha mengubah dan melestarikan kondisi material dan sosial itu kembali.
Ideologi dalam kajian sosiologi pengetahuan merupakan hasil kristalisasi pemikiran yang mencoba diterapkan pada konteks kekinian.3 Pengalaman sosio-historis individu dalam kelompok ini yang melahirkan nilai-nilai penting, hal ini ketika dituangkan dalam tujuan bersama. Visi dan Misi merupakan representasi pemikiran dari para pendiri organisasi Perkantas. Melalui pernyataan visi ini kita bisa melihat tentang kajian nilai-nilai dan konsep ide-ide tentang Perkantas.
Sejarah Perkantas lahir dari ide dan nilai dimana adanya suatu gerakan pelayanan mahasiswa untuk melakukan perlawanan terhadap teologi liberal. Perlawanan terhadap
2 Karl Mannheim. Ideologi dan Utopia…, 2-3 3 Karl Mannheim.Ideologi dan Utopia…4-5
61
teologi yang tidak mengutamakan Firman sebagai hal yang penting lagi. Teologi ini sangat dipengaruhi oleh masa-masa pencerahan dimana Rasionalisasi sangat berkembang. Konteks sosio historis inilah yang melahirkan Pelayanan Perkantas dunia.
Tokoh-tokoh pendiri Perkantas memiliki cara pikir yang dipengaruhi oleh sejarah gerakan pelayanan mahasiswa didunia. Berdasarkan buku Visi dan kontinuitas dinyatakan bahwa:
Pada tahun 1963 tepatnya bulan Desember, Jonathan Parapak pada waktu itu merupakan mahasiswa dari Fakultas Teknik Elektro Universitas Hobart tingkat II, bertemu dengan Ir. Soen Siregar seorang sarjana teknik sipil dan mesin lulusan Universitas Adelaide, Melbourne, Australia. Pada masa itu menjadi awal permulaan terbentuknya ide dan gagasan dalam mengerjakan pelayanan mahasiswa di Indonesia. Ia merasakan banyak sekali berkat yang diterima melalui kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab dan Persekutuan Doa di kampus masing-masing.4
Bentuk pemikiran yang mereka alami ketika di Australia mengalami suatu pertambahan nilai. Pengalaman mereka bukan hanya perdebatan antara hal yang teologi liberal dan injili, namun pemikiran mereka mengacu pada bentuk organisasi kemahasiswaan di OCF. Berikut pembahasan tentang perilaku atau cara hidup yang menghasilkan nilai-nilai yang mengkristal dan mendasari organisasi Perkantas serta mengubah dan melestarikan kondisi material dan sosial kehidupan mahasiswa yang dilayani, yaitu:
4Lih Tim Perkantas. Visi dan Kontinuitas,... 2-3
62
1.1. Pelayanan dan persekutuan yang berpusat pada Kristus (Christ Centered)
Pelayanan ini merupakan pelayanan kekristenan, sehingga pusat dari tujuan dan Visinya pun berorientasi pada Kristus. Pelayanan ini menyadari bahwa Kristus merupakan kepala dan yang empunya pelayanan. Seperti tercantum dalam Visi Perkantas yaitu:
Visi pelayanan Perkantas adalah Mahasiswa bisa mengenal Kristus, bertumbuh menjadi murid Tuhan yang setia, taat, dewasa, tangguh, dan menjadi teladan, sehingga menjadi berkat yang nyata bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.5
Tujuan dari Yayasan ini adalah mahasiswa yang mengenal, bertumbuh dan menjadi murid Kristus. Pelayanan ini berpusat pada Kristus sebagai pribadi yang menginspirasi berdirinya pelayanan ini. Oleh sebab itu, gerakan ini bisa juga disebut sebagai gerakan Yesus.6 Semua tindakan, perilaku, dan keseluruhan hidup Yesus menjadi sarana untuk setiap orang bertindak.
Melalui wawancara dengan Jimmy Kuswadi, “Ia menyatakan bahwa proses menerima Kristus melalui PA (Pemahaman Alkitab) merupakan cara yang saya alami dan ini menjadi pola pelayanan Perkantas.”7 Hal ini juga terjadi dalam pengalaman dari setiap tokoh dari pendiri Perkantas lainnya. Mereka mendapatkan pengetahuan tentang Kristus dan mengalaminya secara personal dalam dunia kampus dan melalui kegiatan pemahaman Alkitab. Melalui Persekutuan yang mereka alami dan hidupi menyebabkan para pendiri Perkantas mengalami suatu pemikiran, untuk setiap orang menjadi sebagai
5 Lih Perkantas Nasional. Annual Review Perkantas 2014 6Gerd Theissen. Gerakan Yesus. (Maumere:Ledalero, 2005)
7Hasil wawancara Jimmy Kuswadi dalam Buku Visi dan Kontinuitas: Pergerakan Perkantas Selama 30 Tahun di Indonesia.
63
pengikut Kristus. Orang lain pun bisa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang Kristus secara pribadi melalui pesan dari firman Tuhan dan teladan hidup setiap orang yang hidup dalam Kristus.
1.2. Persekutuan dan Persahabatan
Ir.Panusunan Siregar dan kawan-kawan merasakan besarnya pengaruh komunitas mahasiswa Internasional OCF di Australia yang hangat. Kasih persaudaraan yang tidak melihat latar belakang suku, ras, etnis dan denominasi memberikan inspirasi ide tentang Yayasan yang akan dibentuknya. Semangat kekeluargaan dan kasih persaudaraan menjadi landasan kuat berdirinya pelayanan Perkantas di Indonesia.
Kekeluargaan merupakan suatu nilai yang berakar dalam budaya semua komunitas pembentuk negara Indonesia.8 Kehidupan untuk saling peduli seperti layaknya satu keluarga menyebabkan nilai-nilai ini sangat penting untuk dimiliki Organisasi di Indonesia. Perkantas membangun semangat persekutuan dalam dimensi kekeluargaan. Hal ini terlihat dari strategi kelompok kecil merupakan bentuk-bentuk membangun semangat kekeluargaan didalamnya.
Yayasan ini didesain sebagai bentuk persekutuan dan komunitas kecil dimana setiap orang mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang nilai-nilai utama dari Perkantas. Seperti yang selalu dinyatakan oleh Jonathan Parapak bahwa
“Perkantas lebih menekankan pada fellowship dan kelompok kecil yang efektif. Kelompok-kelompok ini bisa semakin berlipatganda, dan Kelompok-kelompok ini bisa mendapatkan pengalaman
64
nilai fellowship. Ia juga mengkhawatirkan ketika kelompok terlalu terorganisir akan kehilangan sisi fellowshipnya. Lembaga lain bisa menonjol namun fellowship dari organisasi ini tidak boleh hilang”9
Cara hidup ini muncul dalam pendiri-pendiri Perkantas dikarenakan konteks sosio-historis di Australia merupakan salah satu negara modern yang menganut kebebasan individual, sehingga para pendiri mengganggap budaya komunal di Australia sangatlah penting. Nuansa eksklusivitas dalam kelompok-kelompok kecil pelayanan OCF membuat mereka bisa mengalami persekutuan yang hangat dan dalam. Kasih persaudaraan yang mereka temukan dalam persekutuan ini membawa kepada sikap inklusif, dimana mereka ingin supaya pengalaman mereka dalam persekutuan yang hangat ini bisa terjadi di dalam persekutuan mahasiswa Kristen di Indonesia. Pada perkembangan Pelayanan Perkantas empat puluh empat tahun, semangat ini tidak pernah bisa dilepaskan. Cara hidup persekutuan ini merupakan strategi penting dimana Perkantas bisa tersebar di seluruh Indonesia. Pendekatan Perkantas sebagai persekutuan dibandingkan organisasi agama, sosial atau politik menyebabkan pelayanan ini bisa masuk dalam mahasiswa sangat cepat. Bentuk persekutuan lebih dinamis untuk melakukan gerakan-gerakan bersama dan bukan berdasarkan program.
Pola ini juga yang ditiru oleh Gerakan Pelayanan Mahasiswa di Medan yang menjadi cikal bakal Perkantas Medan. Pelayanan Perkantas Medan kental dengan konteks budaya Batak yang hidup dalam komunitas dan kekeluargaan oleh karena itu
9 Hasil Wawancara dengan Jonathan Parapak dalam buku Visi dan Kontinuitas: Pergerakan Perkantas Selama 30 Tahun di Indonesia. (Jakarta: Perkantas Nasional,2001), 5
65
penerimaan Pelayanan terhadap pola Perkantas yang bernuansa persekutuan bisa terjadi.
Perilaku ini juga tercantum dalam bentuk nama Perkantas sebagai bentuk Persekutuan yang bersifat dinamis dan organisme. Ini merupakan simbol dari Yayasan Perkantas yang lebih mengutamakan komunitas atau persekutuan dibandingkan organisasi atau bentuk struktural. Nuansa persekutuan dan persaudaraan menjadi berdirinya Perkantas di Indonesia. Ide yang dibangun merupakan persekutuan yang bukan hanya eksklusif namun akhirnya bersifat inklusif. Persekutuan bukan hanya orang datang masuk kedalamnya tetapi juga orang yang didalamnya keluar dan masuk dalam komunitas-komunitas lainnya serta menularkan semangat ide persekutuan yang mereka alami serta bertransformasi.
1.3. Pemahaman Alkitab (Bible Study)
Pemahaman Alkitab merupakan bentuk kegiatan dari belajar membahas kisah alkitab dan merefleksikan dalam praksis kehidupan masa kini. Kegiatan ini membutuhkan metode hermeneutik10 yang tepat. Melihat perkembangannya bahwa metodenya menggunakan pendekatan pembacaan bagi kaum awam. Metode yang biasa digunakan dalam pelayanan Perkantas adalah metode induktif. Suatu metode yang menggunakan prinsip OIA (Observasi, Interpretasi dan Aplikasi). Bentuk metode ini menolong setiap orang untuk melakukan cara membaca induktif. Selain itu kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan dalam pelayanan Perkantas yaitu eksposisi Alkitab
10 Hermeneutis merupakan studi tentang prinsip-prinsip metodologi dari interpretasi (seperti interpretasi Alkitab). Merriam Webster Dictionary. 2015
66
sebagai bagian dari pemahaman Alkitab. Hal ini seperti dinyatakan oleh Collin Chapman dalam buku Our Heritage:
“Kegiatan utama kita adalah Penyelidikan Alkitab, dan salah satu tujuan utama kita adalah menolong setiap mahasiswa untuk mempelajari Alkitab secara mandiri dan kemudian mengaplikasikan pengajaran yang diperoleh kedalam keseluruhan hidup mereka.”11
Metode pemahaman Alkitab begitu ditekankan dalam pelayanan Perkantas, secara sosio-historis dikarenakan adanya perdebatan antara teologi liberal dengan teologi injili, tidak terlalu nyata dalam persekutuan ini. Hal ini terjadi karena dalam ranah praktis pengalaman tokoh-tokoh Perkantas bukan dalam perdebatan antara teologi tetapi mempelajari Alkitab secara mendalam. Studi yang mereka lakukan biasanya bersifat praksis untuk membangun etika dan moral. Suatu metode induktif yaitu berusaha menggali apa yang dibaca dan menginterpretasikannya sesuai konteksnya. Selanjutnya mencari pesan yang relevan praktis untuk dilakukan pada konteks mahasiswa. Kehidupan reflektif dari pendiri Perkantas berdasarkan nilai-nilai yang Alkitabiah inilah yang memicu pembentukan Perkantas di Indonesia. Perilaku dan pengalaman personal ini membuat mereka mengorganisir suatu yayasan yang berpusat pada pemahaman-pemahaman dalam makna dan pesan narasi Alkitab.
1.4. Pelayanan yang mengutamakan Doa
Satu ide penekanan dari Lembaga ini menekankan pada doa. Kekuatan berdoa merupakan hal yang mereka dapatkan ketika memikirkan pelayanan ini di Australia.
11 Collin Chapman, Ed.Tim Perkantas. Keunikan Gerakan Persekutuan Mahasiswa, dalam buku Our Heritage: Keunikan dan Kekayaan Pelayanan Mahasiswa.(Jakarta:Perkantas Jakarta, 2006),93
67
Kekuatan tokoh pendiri Perkantas dalam mendirikan Pelayanan ini diawali dengan gerakan berdoa. Berdasarkan buku 30 tahun Perkantas dinyatakan bahwa,
“pada tahun 1969 sepulangnya Jonathan Parapak kembali ke Indonesia dan mereka mulai merealisasikan apa yang sudah mereka rencanakan dan doakan bersama pada tahun 1963…”12
Pernyataan ini mengkonfirmasi bahwa pelayanan Perkantas didirikan dan diawal dengan doa. Oleh karena pengalaman inilah yang mendasari organisasi dan proses pelayanan Perkantas. Ide dan pengalaman ini membawa mereka masuk dalam konteks materi dan sosial menyatakan kekuatan pelayanan hanya dikarenakan oleh doa semata. Bukan hanya pada masa awal-awal perintisan saja namun ide tentang berdoa juga mewarnai perkembangan pelayanan selama 44 tahun di Indonesia.
Persekutuan ini bisa tersebar di seluruh Indonesia bukan hanya karena kekuatan struktur organisasi namun didasari oleh ide semangat berdoa. Perkembangan Perkantas pada masa-masa awal dalam menjangkau 25 kota, dikarenakan seorang staf Perkantas Iman Santosa menekankan pada kekuatan doa. Menurut Buku 30 tahun Perkatas menyatakan bahwa
“…Beliau merupakan orang yang melakukan perintisan-perintisan kota-kota diawali dengan kekuatan doa, sehingga pada tahun 1983 sebelum beliau meninggalkan Perkantas untuk melanjutkan studi di USA, Bpk. Iman sempat menyaksikan bahwa doa mereka bersama rekan-rekan sepelayanan di Surabaya pada tahun 1973 di jawab oleh Tuhan. Doa mereka
68
yaitu bahwa dalam waktu 10 tahun (1973-1983) pelayanan mahasiswa telah berkembang di 25 kota…”13
Melalui data sejarah ini menyatakan bahwa nilai penting dalam pendirian Yayasan Perkantas adalah pengalaman berdoa yang terealisasi dalam kehidupan orang-orang di Perkantas. Hal ini merupakan kemampuan reflektif manusia terhadap yang kuasa yang Ilahi dan terimplikasi terhadap daya juang, komitmen dan karakter tokoh-tokoh perintis dan perkembangan Perkantas.
1.5. Kelompok Kecil (Small Group)
Ini merupakan perilaku atau cara hidup yang menjadi ciri khas pelayanan Perkantas. Pola pelayanan yang selalu ditekankan bukan pada gerakan pelayanan massal namun bentuk-bentuk kelompok diskusi dan grup yang lebih kecil, strategi ini menjadi kekuatan pergerakan pelayanan ini. Melalui Kelompok kecil terjadinya konstruksi-konstruksi sosial terhadap ide-ide yang sama seperti pemikiran dari para tokoh pendiri Perkantas.
Pelayanan Perkantas muncul dari kelompok kecil, dimana tiga orang pendiri sama-sama memikirkan ide tentang pendirian Yayasan Perkantas. Ada pergulatan untuk bergabung dengan lembaga pelayanan Mahasiswa lainnya atau mendirikan sendiri lembaga ini. Hasil diskusi dengan kelompok kecil inilah yang akhirnya membangun suatu organisasi pelayanan rohani yang cukup besar.
13 Tim Perkantas. 30 tahun Perkantas:…,25
69
Tokoh Pendiri Perkantas menyatakan melalui pengalamannya Kelompok kecil di OCF menyebabkan mereka mengalami visi bersama terhadap Pelayanan Mahasiswa di Indonesia. Mereka pun sepulang dari Australia berusaha menerapkan strategi pelayanan ini dengan membuat KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) bersama Ir. Panusunan Siregar dan kawan-kawan. Melalui strategi kelompok kecil Perkantas memiliki nilai lebih dari pelayan-pelayan lembaga mahasiswa lainnya.
Strategi dan bentuk penekanan pelayanan dalam kelompok kecil selama empat dekade baru terlihat dampaknya. Pada awal era Perkantas hanyalah persekutuan yang membuka pelayanan-pelayanan secara sederhana. Menggunakan pendekatan akar rumput ini Perkantas mampu berdiri menjadi suatu organisasi yang cukup kuat karena memiliki kekuatan akar rumput secara dalam. Pengaruhnya pun sudah mulai masuk dalam seluruh ranah kehidupan. Mulai dari pendidikan, bisnis, politik, ekonomi, sosial, kesehatan, dan lainnya. Kelompok kecil yang melakukan pembinaan terhadap para mahasiswa merupakan nilai yang sangat penting dimiliki Pelayanan Perkantas.
Perkantas mengutamakan nilai ini dibandingkan suatu pergerakan-pergerakan massa secara masif. Nilainya bahwa Mahasiswa diakomodir dalam kelompok-kelompok siapa pun dan dari latar belakang apa pun. Melalui strategi inilah Perkantas berorientasi pada setiap manusia dalam kelompok perlu mendapatkan pengetahuan moral, religius dan tradisi.
70
1.6. Kepemimpinan Mahasiswa (Inisiatif dan tanggung Jawab Mahasiswa)
Pelayanan Perkantas bukanlah pelayanan yang dikendalikan oleh pendiri maupun tokoh pendiri Perkantas. Pelayanan ini di inisiatifkan oleh mahasiswa dan mereka yang bertanggung jawab dalam melakukannya. Peranan Pekerja penuh waktu maupun para alumni adalah untuk memperlengkapi mereka dalam melakukan pekerjaan pelayanan, dengan tujuan mahasiswa bisa menjadi pemimpin maupun pelayan yang kreatif.14
Para tokoh pendiri Perkantas berusaha untuk mengutamakan inisiatif dan tanggung jawab berasal dari mahasiswa. Pola pelayanan dari mahasiswa oleh mahasiswa merupakan hal yang selalu ditekankan oleh pendiri Perkantas. Hal ini dikarenakan pada masa pelayanan di OCF mereka sangat dipercayakan untuk mengerjakan pelayanan dan oleh karena inisiatif dan tanggung jawab ini membuat mereka melihat pentingnya nilai dimana Pelayanan Perkantas harus digerakkan oleh kepemimpinan mahasiswa. Oleh sebab itu melalui pelayanan ini penting perlunya ada regenerasi setiap angkatan ke angkatan lain. Mahasiswa bukan hanya berinisiatif mengerjakan pelayanan namun juga bertanggung jawab untuk setiap rencana dan inisiatifnya mengerjakan pelayanan.
Kepemimpinan kaum muda dalam Perkantas merupakan nilai yang ditemukan oleh penulis dari sejarah pemikiran para pendiri. Hal ini juga terlihat dari implementasi organisasi yang mengutamakan generasi muda yang selalu memimpin organisasi Perkantas maupun pelayanan-pelayanan kampus. Adanya regenerasi yang berkesinambungan merupakan hal yang penting untuk dilakukan dalam Yayasan ini.
14 C.Stacey Wood, ed.Tim Perkantas. Inisiatif & Tanggung Jawab Mahasiswa, dalam buku: Our Heritage: Keunikan dan Kekayaan Pelayanan Mahasiswa.(Jakarta:Perkantas Jakarta, 2006),88-92
71 1.7. Interdenominasi
Pelayanan yang bersifat antar aliran gereja merupakan pelayanan yang tidak terkotak-kotak dalam denominasi, melainkan pelayanan yang bertujuan membangun kesatuan orang percaya. Pelayanan bebas denominasi merupakan hal yang cukup rumit diterapkan karena dengan demikian akan menciptakan denominasi baru. Oleh sebab itu Perkantas mencoba melihat bahwa Perkantas merupakan persekutuan mahasiswa yang bertujuan untuk melayani mahasiswa dalam orientasi pembinaan kerohaniaan dalam belajar Firman melalui pelayanan kelompok kecil. Melalui bentuk konsep statement ini, Perkantas membangun semangat interdenominasi yaitu in essential we unity, in
non-essential we liberty,and in all things we charity.15
Para pendiri ketika ingin mendirikan pelayanan ini dicurigai sebagai pelayanan mahasiswa yang sangat denominasional. Mereka melihat dan mengalami suatu pelayanan yang berorientasi pada Visi dan Misi yang jelas dengan tidak memindahkan mahasiswa dari gereja satu ke gereja lain, sehingga pelayanan ini bertujuan untuk orang-orang yang bina untuk terlibat aktif di gereja masing-masing. Pelayanan ini pun tidak melayani sakramen gereja. Jenis pelayanan inilah yang dialami oleh pendiri Perkantas sewaktu mengalami pelayanan di Australia.
Perkembangan pelayanan Perkantas semakin besar dari masa ke masa. Pada awalnya Perkantas sangat di tentang oleh gereja-gereja lokal. Salah satunya Penerimaan Perkantas di kota Medan cukup sulit karena pelayanan ini diidentikkan dengan
15 Tadius Gunadi, ed.Tim Perkantas. Interdenominasi-dalam buku: Our Heritage: Keunikan dan Kekayaan Pelayanan Mahasiswa.(Jakarta:Perkantas Jakarta, 2006),108
72
pelayanan denominasional. Seiring dengan perjalanan pelayanan Perkantas di daerah-daerah yang bekerjasama dengan gereja lokal. Penerimaan dari gereja-gereja semakin lebih baik terhadap Perkantas. Yayasan ini tidak dianggap sebagai lembaga saingan Gereja namun menjadi Parachurh.
Parachurch merupakan lembaga yang berfungsi sebagai ‘mitra pendamping gereja’ untuk
menunjukkan naturnya sebagai pelayanan yang tidak terlepas dari institusi gereja, namun hadir bersama gereja-gereja lokal untuk maksud khusus menjangkau, membina, dan mempersiapkan mahasiswa untuk tugas mereka kelak sebagai para pemimpin awam di tengah gereja dan masyarakat.”16
Para pendiri tidak ingin untuk mendirikan Gereja, STT, maupun Universitas. Mereka hanya merindukan suatu yayasan yang mendorong pelayanan-pelayanan kampus dalam bidang kerohanian kemahasiswaan Kristen, bisa memiliki pola pelayanan Perkantas. Suatu pola yang menekankan delapan keunikan pelayanan mahasiswa ini. Bukan menekankan pada ajaran, dogma maupun bentuk ibadah, melainkan suatu pelayanan mahasiswa yang memiliki visi besar menghasilkan alumni-alumni yang menjadi murid Kristus.
Mantan Rektor STT Jakarta, Robert Borrong menyatakan bahwa, “Saya meyaksikan banyak gereja berhasil melakukan kerjasama dengan parachurch, di mana pihak gereja secara terbuka merangkul orang-orang yang mau membantu, dan berhasil membuat pemuda-pemuda di gereja itu aktif.”17
16 Tim Perkantas. Kisah Yang Belum Usai. (Jakarta:Literatur Perkantas, 2011),5 17 Tim Perkantas. Visi Kontinuitas…, 157-159
73
Melalui pernyataan ini kita bisa melihat Perkantas semakin bisa bekerjasama dengan semua pihak baik Gereja-Gereja, Kampus-kampus Teologia, maupun Universitas-universitas untuk bekerja sama membangun kehidupan kerohaniaan dari mahasiswa. Pendidikan Agama Kristen yang bukan hanya secara formal namun bentuk pendidikan yang holistik dan terintegrasi.
1.8. Misi Integral
“Misi” adalah tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan. “Integral” adalah satu keseluruhan. “Misi integral” memandang manusia dalam keutuhannya, dalam konteks sosial-historisnya. Misi seperti ini terlalu radikal bagi kaum liberal dan terlalu komprehensif bagi kaum konservatif.18 Kaum injili sering menyederhanakan proses pertobatan yang mungkin saja kelihatan cepat dan sederhana dari luar, namun sesungguhnya bukan proses yang mudah.19
Menurut pertemuan Misi dalam Micah Declaration on Integral Mission, suatu menyatakan statement tentang Misi Integral yaitu:
’Misi integral atau transformasi holistik adalah proklamasi dan demonstrasi Injil. Penginjilan dan keterlibatan sosial bukan hanya harus dikerjakan berdampingan satu dengan yang lain. Melainkan dalam misi integral proklamasi kita memiliki konsekuensi sosial saat kita memanggil orang untuk mengasihi dan bertobat dalam semua area kehidupan. Dan keterlibatan sosial kita memiliki konsekuensi penginjilan saat kita menjadi saksi akan anugerah Yesus Kristus yang mengubahkan. Jika kita mengabaikan dunia kita mengkhianati
18Walter Brueggemann, Biblical Perspective on Evangelism: Living in a Three-Storied Universe (Nashville: Abingdon, 1993) 38.
74
firman Allah yang mengutus kita untuk melayani dunia. Jika kita mengabaikan firman Allah kita tidak memiliki apa pun untuk dibawa kepada dunia.’20
Melalui kajian ini lah kita bisa melihat pengertian suatu misi merupakan misi yang bukan hanya suatu gerakan penginjilan, namun melihat suatu pergerakan yang lebih utuh. Keterlibatan Perkantas dalam dunia sosial, politik dan sector yang lebih umum menjadi sarana untuk Perkantas menjadi berkat bagi banyak bangsa.
Gagasan ini terkandung dalam pemikiran dari para pendiri ketika mereka ingin melakukan perintisan Pelayanan mahasiswa di Indonesia. Pernyataan Panusunan Siregar yang menyatakan bahwa “kami ingin membangun pelayanan mahasiswa yang didasarkan pada pemahaman Firman tuhan, dan ini ingin ditransformasikan kepada lembaga-lembaga pelayanan mahasiswa yang ada”21 Adanya suatu gerakan misi yang terintegrasi dalam pendirian Perkantas. Bukan melakukan misi sesuai dengan ide dan pemikiran namun dengan melakukan transformasi.
1.9. Pemuridan : Ide Utama dari Pelayanan Perkantas
Kedelapan nilai ini ingin mencapai suatu tujuan yaitu “Alumni yang menjadi murid Kristus”, yang tercantum dalam Visi dan Misi Perkantas. Dalam pencapaian visi ini kita bisa melihat suatu Ide besar dan nilai paling penting dari hasil rumusan dari MP3 tahun 2006 yaitu pemuridan menjadi ide utama dari Yayasan Perkantas. Konsep
20 ‘The Micah Declaration on Integral Mission’ dalam buku Tim Chester (ed.), Justice, Mercy and Humility: Integral Mission and the Poor (Carlisle, UK: Paternoster, 2002), hal. 19.
21 Hasil wawancara dengan Panusunan Siregar, dalam buku Visi dan Kontinuitas: Pergerakan Perkantas Selama 30 Tahun di Indonesia. (Jakarta: Juli 2001)
75
menjadi murid biasa dikenal dengan pemuridan. inilah yang menjadi ide besar dari pemikiran pendiri dan organisasi Perkantas.
Pemuridan adalah suatu proses hubungan antara seorang pengikut yang lebih dewasa serta berpengalaman dengan orang-orang yang baru, dengan cara melakukan transfer hidup (baik prinsip-prinsip, nilai-nilai, keyakinan, komitmen, disiplin, waktu, tenaga, perhatian serta hal lain yang diperlukan) yang bertujuan untuk menology orang tersebut menjadi dewasa sehingga suatu waktu mereka bisa melakukan hal yang sama kepada orang lain.22
Pemuridan menurut Herdy bisa dikategorikan sebagai mentoring. Jika dalam dunia religius maka mentoring yang dilakukan berdasarkan pada kepercayaan-kepercayaan keagamaan seperti melakukan mentoring untuk seseorang untuk hidup seperti Kristus. Banyak aspek yang dilakukan dalam proses mentoring ini, sehingga tindakan pemuridan mencakup hal yang cukup luas.
Perkantas mencoba merumuskan arti pemuridan yaitu pemuridan adalah suatu proses belajar berjalan mengikut Yesus, yang menuntut ketaatan total dan penyangkalan diri, sehingga dibutuhkan kesadaran penuh untuk melakukannya.23 Jadi Pemuridan merupakan suatu proses dari seseorang yang membagikan hidupnya bagi orang lain yang lebih dewasa atau berpengalaman, untuk menolong mereka untuk lebih dewasa dan mereka akhirnya mampu menolong orang lain.
22 Herdy, Hutabarat. Mentoring dan Pemuridan. (Bandung:Kalam Hidup,2011), 75
76
Delapan nilai keunikan Perkantas ini penulis kategorikan sebagai bentuk proses pemuridan. Pola keunikan Perkantas ini masuk dalam proses pemuridan Perkantas untuuk mencapai visi dan misi Perkantas. Pola ini jika dalam bahasa sekular biasa disebut sebagai pola pendidikan mentoring untuk menolong orang-orang yang terlibat. Oleh sebab itu penulis melihat Perkantas memiliki bentuk ide utama dari pelayanannya yang sama di hampir semua pergerakan pelayanan di Indonesia. Fokus utama dan ideologi dari Perkantas adalah Pemuridan. seluruh kegiatan berorientasi untuk mencapai tindakan dan menerapkan semua aktifitas kegiatannya berorientasi pada pemuridan.
Nilai utama yang mengkristal ini lahir dari pemikiran para pendiri Perkantas dan proses kristalisasi dalam organisasi. Lalu dikembangkan oleh pelayanan di setiap daerah dan proses ini terus berlangsung hampir 44 tahun . Yayasan yang sebenarnya bukan lembaga berkekuatan ideologi politik namun pada nilai-nilai yang tertanam sepanjang perjalanan 44 tahun, Perkantas menjadi suatu Yayasan yang memiliki ideologi organisasi . Hal ini disepakati pada diseluruh pelayanan Perkantas Nasional pada tahun 2006, dalam membahas fokus pelayanan Perkantas yaitu Pemuridan.24 Pada tahun 2009 diadakan konsultasi pemuridan membahas konsep pemuridan, kurikulum, bahan dan hal yang berkaitan tentang pemuridan, yang dilakukan selama 4 tahun untuk mencari benang merah konsep pemuridan di seluruh Indonesia.25 Pada tahun 2011 diadakan sosialisasi kurikulum pemuridan.
24 Berdasarkan MP3 Perkantas tahun 2006,inisiatif strategis pelayanan Perkantas yaitu pemuridan 25 Lih Perkantas Nasional. Annual Review Pelayanan Perkantas 2014
77
Melalui proses kristalisasi tentang konsep dan ide utama pelayanan Perkantas ini, maka penulis bisa menyimpulkan bahwa ideologi Perkantas merupakan Pemuridan. Konsep pemuridan bukan merupakan ideologi politik namun lebih mengacu kepada ideologi pendidikan, karena hal yang diutamakan bukan pertarungan kekuasaan dalam pemerintah atau negara, namun lebih merupakan bentuk politik pendidikan yang dilakukan oleh Pelayanan Perkantas untuk mengetahui posisi bentuk pembinaan kerohanian.
1.10. Nilai-Nilai yang terkandung di Perkantas
Pada bagian ini kita akan membahas tentang nilai-nilai yang terkandung dalam delapan cara hidup atau perilaku dan ideologi Perkantas. Melalui pembahasan ini penulis mencoba menginterpretasi berdasarkan delapan cara hidup Perkantas dan perilakunya yaitu membagi menjadi tiga nilai yang terdapat dalam Pelayanan Perkantas. Hal ini tergambar dari delapan cara hidup dan perilaku pendahulu Perkantas.
1. Kekeluargaan.
Hal ini ditemukan dalam cara-cara hidup pada cara hidup dalam komunitas kelompok kecil yang tergambar dari tujuan cara hidup yang disampaikan oleh para pendiri Perkantas. Selain itu persekutuan yang menjadi kegiatan dalam Perkantas menjadi sarana untuk setiap orang menghargai anggota sebagai keluargannya. Cara hidup yang Interdenominasi didasari oleh karena kasih kekeluargaan yang muncul di Perkantas.
78
Nilai tentang kekudusan dan kesalehan muncul dari perilaku dan cara hidup hidup berpusatkan pada Kristus. Melalui proses pemuridan dalam kelompok kecil, hal yang diharapkan setiap orang dalam pelayanan Perkantas memiliki hidup kudus dan saleh sesuai dengan nilai-nilai alkitabiah yang perlu di tafsirkan sesuai dengan konteks. Oleh sebab itu melalui gerakan studi alkitab setiap anggota kelompok bisa mencari nilai-nilai kekudusan dan kesalehan. Selain itu perilaku hidup yang memiliki relasi dengan Tuhan, menolong setiap orang untuk membangun spiritualitas yang saleh dan kudus.
3. Integritas
Nilai terakhir yang penulis temukan dari delapan perilaku atau cara hidup dalam Perkantas yaitu Integritas. Kerinduan dari para pendiri Perkantas yaitu suatu kehidupan alumni-alumni yang utuh. Apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang diperbuat. suatu nilai yang muncul dari perilaku hidup yang lahir dari pembinaan dalam kelompok kecil, kepemimpinan mahasiswa dan hidup berpusat pada Kristus. Melalui cara hidup ini kehidupan diharapkan setiap anggota yang menghayati visi dan misi Perkantas bisa memiliki sistem nilai ini.
2. Pemuridan sebagai Ideologi Pendidikan
Setelah melihat nilai-nilai yang terkandung dalam pelayanan Perkantas dan juga melihat nilai utama pelayanan Perkantas merupakan pemuridan. Selanjutnya, kita melihat ideologi pemuridan ini dalam perspektif Ideologi pendidikan. Suatu bentuk
79
ideologi yang ditemukan penulis dalam melihat bentuk-bentuk nilai dan keutamaan dalam mengerjakan pelayanan pembinaan kerohanian ini.
Ideologi Pendidikan menurut William O’Neil berkaitan dengan sistem-sistem filosofis, namun mereka berbeda dari sistem-sistem filosofis yang biasanya dalam empat hal berikut ini: Ideologi ini lebih merupakan sistem-sistem gagasan yang umum atau luas ketimbang kebanyakan filosofi. Selain itu idenya mengakar pada etika sosial (yakni, dalam filosofi moral serta politik), dan hanya memiliki akar yang tidak besar di dalam sistem-sistem filosofi yang lebih abstrak, seperti misalnya realisme, idealisme, dan pragmatisme. Sistem yang diniatkan terutama untuk mengarahkan tindakan sosial dan bukan sekedar menjernihkan ataupun menata pengetahuan. Ideologi ini merupakan sebab sekaligus akibat dari perubahan sosial yang mendasar.26
Melalui konsep ini penulis membandingkan dengan hasil penelitian terhadap Perkantas tercakup dalam konsep Pemuridan Perkantas. Konsep dimana pemuridan merupakan suatu sistem gagasan umum dan luas ketimbang pandangan filosofis. Penggunaan pemuridan merupakan bentuk tindakan untuk menjadikan seorang murid. Proses untuk menjadi murid Kristus merupakan bentuk filosofi keagamaan. Melalui konsep nilai ini melahirkan sistem-sistem filosofi yang lebih abstrak dan hal ini diniatkan untuk mengarahkan sebagai tindakan sosial buku sekedar hanya mencoba melakukan penataan pengetahuan.
80
Perkantas merupakan organisasi sosial keagamaan yang bergerak melayani Alumni, Mahasiswa dan Siswa. Pelayanan ini melayani unit-unit kegiatan mahasiswa di kampus-kampus. Pergerakan pelayanan ini menolong kegiatan ekstrakulikuler di Sekolah dan Universitas. Kegiatan ekstrakulikulernya bergerak di bidang sosial keagamaan. Bisa dikatakan bahwa Perkantas merupakan lembaga yang menawarkan Pendidikan Agama Kristen secara non-formal. Bentuknya bukan Gereja namun
Parachurch.
Pendidikan Agama Kristen secara non-formal ini yang menyebabkan Perkantas memiliki suatu pandangan ideologi tentang pendidikan. Metode PAK non-formal ini bertujuan untuk melakukan pembinaan karakter secara kontinu yang berbeda dengan bentuk pendidikan agama pada kampus-kampus. Penekanan dari PAK ini bertujuan untuk memahami iman Kristen secara dasar dan bagaimana membangun perilaku setiap siswa dan mahasiswa untuk memiliki karakter murid Kristus. Mengalami perubahan pengetahuan tentang Yesus dan mengalami perubahan karakter seperti Kristus ini yang menjadi Visi dari Perkantas.
Bentuk PAK ini memiliki struktur kurikulum, materi dan pola pembinaannya. Hal ini disusun berdasarkan profil yang ingin dihasilkan oleh Perkantas. Bentuk ini tetap mempertahankan tradisi yang menjadi pola dari masa lalu dan tetap terbuka untuk disesuaikan dengan konteks. Kajian kurikulum, materi atau bahan tidak bersifat mutlak namun menjadi kerangka acuan dalam proses pendidikan anggota kelompok.
81
Tujuan pendidikan ini adalah pembinaan karakter. Bukan pembinaaan doktrinal atau ajaran-ajaran gereja namun melakukan pembinaan kerohanian. Hal yang diutamakan membangun etika dan moral anggota. Dengan menggunakan tradisi kekristenan yang relevan sesuai konteks masa kini dan juga pola bentuk terstruktur, agar mengalami proses keteraturan. Pendidikan ini juga menekankan pada profil mahasiswa yang memiliki karakter seperti komitmen, ketekunan, rela berkorban, bertanggung jawab, berintegritas dan mengucap syukur, dan lainnya. Bentuk trainingnya melalui diskusi-diskusi melalui kelompok kecil yang menjadi strategi pelayanan ini.
Dalam menghadapi suatu perubahan sosial yang perlu mempertimbangkan tradisi ini, membuat Perkantas bisa dikategorikan dalam jenis ideologi pendidikan yang bersifat konservatif. Suatu pendidikan agama Kristen non-formal yang dilakukan dalam unit-unit pelayanan mahasiswa dengan kegiatan ekstrakulikuler dalam bentuk pembinaan kerohaniaan Kristen. Perkantas memberikan bentuk pembinaan dengan terstruktur dengan memperhatikan tradisi –tradisi dan kedelapan nilai-nilai pelayanan Mahasiswa. Mulai dari materi pembinaan sampai dengan kurikulum pembinaan di tawarkan untuk melakukan suatu pemuridan yang bisa dilakukan dari generasi ke generasi.
2.1. Pemuridan sebagai Ideologi Konservatisme pendidikan
Pemuridan merupakan pandangan Perkantas tentang bagaimana cara melakukan pendidikan Agama Kristen secara non-formal melalui kegiatan pembinaan rohaniah.
82
Harapannya melalui konsep ide ini Perkantas bisa mencapai visi dan misi organisasi yaitu “Alumni yang Takut Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama.”
Penulis melalui kajian teori dan membandingkan dengan data lapangan yang diperoleh. Penulis Mencoba untuk menginterpretasikan mengapa Ideologi ini merupakan termasuk dalam kategori ideologi pendidikan yang bersifat konservatisme pendidikan.
“Dalam konservatisme pendidikan religius, lebih menekankan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai landasan pembangunan karakter moral yang tepat. Konservatisme pendidikan sekular yang memusatkan perhatiannya pada perlunya melestarikan dan meneruskan keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang sudah ada, sebagai cara untuk menjamin pertahanan hidup secara sosial serta efektivitas secara kuat oleh orientasi pendidikan yang bersifat lebih Alkitabiah dan Penginjilan, yang secara teologis jelas-jelas kurang liberal dari berbagai aliran utama Kristen Protestan. Konservatisme sekular cenderung terwakili oleh para kritisi yang tajam dari kalangan pendukung progresifisme dan permisifisme pendidikan.” 27
Penulis membandingkan melalui pernyataan dalam buku William O’Neil maka IVCF (Intervarsity Christian Fellowship) menurutnya termasuk dalam kelompok dalam Ideologi Konservatifisme Pendidikan.28 Suatu ideologi yang mempertahankan tradisi namun paling terbuka diantara Ideologi konservatif. Perkantas memiliki akar kesamaan dengan IVCF di dunia, yang mengutamakan nilai-nilai yang paling fundamental namun
27 William O’Neil. Ideologi-Ideologi Pendidikan…,106-107 28 Ibid.109
83
tidak reaktif. Pendekatan PAK–nya mengutamakan konteks kekinian namun mendialogkannya dengan tradisi yang dimiliki.
Ada prinsip-prinsip nilai tentang budaya alkitabiah merupakan salah satu ciri dari ideologi konservatisme pendidikan. Melalui pembinaan kerohaniaan ada keyakinan bahwa Perkantas akan melakukan perubahan karakter dari setiap orang-orang yang mengalami pembinaan di kampus-kampus. Keyakinan ini tergambar dari vision statement dan gagasan dari tokoh pendiri Perkantas. Selain itu respon terhadap perubahan sosial lebih bersifat lambat dan tidak reaktif. Perkantas lebih melihat perubahan sosial yang terjadi secara akar rumput pelayanan ini.
3. Ideologi Pemuridan Dalam Gerakan Sosial Keagamaan UKMKP UNIMED
Jika melihat pendekatan teori gerakan sosial keagamaan yang diungkapkan oleh Smelser yaitu Gerakan sosial keagamaan adalah suatu fenomena perilaku kolektif yang berorientasi nilai yang berupaya untuk melakukan suatu perubahan, merestorasi, memproteksi dan memodifikasi sistem nilai untuk suatu keyakinan yang digeneralisir.29 Perubahan yang dilakukan oleh perilaku kolektif ini lebih cenderung berorientasi nilai. Ada nilai yang menyebabkan suatu gerakan melakukan tindakan kolektif bersama. Nilai utama itu biasa di kategorikan oleh penulis sebagai ideologi, suatu ide yang terkristalisasi dalam pengalaman sejarah dan organisasi.
UKMKP UNIMED merupakan lembaga kemahasiswaan yang lahir dari akar sejarah dari gerakan kelompok kecil. Sebelumnya organisasi kemahasiswaan di naungi
84
oleh GMKI namun pada tahun 1964, organisasi stagnan. Pada tahun 1967-1968 ada suatu gerakan doa untuk memulai lagi pelayanan di kampus ini. Pada tahun 1972 melalui pelayanan Viktor Tobing ada suatu gerakan kelompok kecil yang melakukan suatu gerakan pemahaman Alkitab dan Doa, pelayanan ini pun melakukan suatu gerakan. Hal ini dipengaruhi oleh konsep pelayanan Viktor Tobing yang berasal dari kampus DTC (Discipleship Training College), dimana pola pelayanan sama dengan Iman Santoso. Salah seorang staf perkantas nasional yang sangat punya peran signifikan. Namun, pada tahun 1975 sampai dengan 1985 gerakan kelompok kecil mengalami kevakuman. Pada tahun 1986 dilakukan perintisan ulang oleh Perkantas. Pada waktu itu Perkantas melakukan gerakan kelompok kecil yang berorientasi pada pemuridan. Melalui gerakan kelompok pemuridan ini, terjadi suatu gerakan yang cukup masif. Ada ribuan anggota yang bisa direkrut pertahunnya.
Pada tahun 2014 terakhir ada sekitar 1012 anggota kelompok kecil.30 Gerakan Kelompok kecil ini pertahunnya mengalami pertambahan cukup signifikan dan sudah mengalami banyak kontribusi bagi pelayanan organisasi UKMKP UNIMED. Gerakan kelompok kecil yang bermultiplikasi ini menjadikan gerakan kemahasiswaan di UKMKP menjadi besar.31 Perilaku kolektif yang dipengaruhi oleh suatu ideologi pemuridan inilah yang menyebabkan pelayanan ini berkembang menjadi suatu gerakan sosial keagamaan. Orientasi pergerakan ini yaitu membangun kehidupan spiritual mahasiswa, penginjilan dan misi ke kampus-kampus lain.
30 Lih Laporan Pertanggung Jawaban Kepengurusan UKMKP UNIMED, Semester II Periode 2014, pada bulan Desember 2014
85
Gerakan Kelompok kecil yang berorientasi pada pemuridan merupakan suatu gerakan yang yang melakukan pembinaan karakter menjadi tujuan dari gerakan kelompok kecil UKMKP UNIMED. Selain itu gerakan yang melatar belakangi kelahiran dari UKMKP adalah penginjilan. Suatu tindakan untuk menjangkau orang-orang dengan menggunakan pendekatan konsep revival, yaitu konsep hidup baru. Melalui perilaku kolektif ini seluruh anggota kelompok kecil melakukan tindakan penjangkauan kepada mahasiswa-mahasiswa baru untuk bisa ikut dalam kelompok kecil.
Kegiatan-kegiatan dari kelompok kecil, seminar, dan kebaktian-kebaktian mampu menjadi sarana efektif untuk melakukan perilaku kolektif bersama yaitu setiap anggota kelompok kecil akhirnya melakukan suatu gerakan baca Alkitab dan Saat Teduh. Beberapa gerakan yang muncul dari pergerakan kelompok kecil melahirkan gerakan-gerakan seperti gerakan-gerakan Pemahaman Alkitab dengan metode induktif, gerakan-gerakan penginjilan, gerakan doa dan puasa, sampai dengan gerakan melakukan aksi nyata baik sosial maupun politik.
Perilaku-perilaku kolektif yang tadinya suatu gerakan sudah mengalami degradasi karena perilaku kolektif itu sudah menjadi pola pelayanan secara terstruktur dan yang coba di terjemahkan menjadi kegiatan rutin, namun konsep dan perilaku kolektif itu tidak menjadi suatu dorongan dari pemikiran yang melihat nilai penting didalamnya.
Kondisi ini yang membuat Gerakan yang dahulu begitu kuat di masa-masa pendirian organisasi ini, coba dirumuskan dalam bentuk suatu kegiatan rutin untuk
86
sarana perilaku kolektif bisa dilakukan, namun problemnya hal ini terjadi bukan secara dinamis namun bernuasa otoritatif dan ada unsur kekuasaan. Hal ini menjadi problem dalam gerakan yang murni hasil kerinduan perilaku kolektif berubah menjadi suatu kegiatan struktural yang kehilangan semangatnya.
3.1. Kajian Sosio-historis Ideologi Perkantas sebagai akar Ideologis UKMKP UNIMED
Aspek kesejarahan keterlibatan Perkantas sangat berperan dalam memberikan pengaruh dalam akar ideologis gerakan sosial keagamaan di UKMKP UNIMED. Adanya perintisan ulang dikampus ini pada tahun 1986 melalui gerakan kelompok kecil menyebabkan organisisasi UKMKP mulai muncul lagi yang bernama RAP (Rubrik Akhir Pekan). Suatu gerakan pelayanan yang berorientasi pada Pemuridan semakin besar. Alumni-alumni yang menjadi murid Kristus berdasarkan tujuan dari Visi dan Misi UKMKP UNIMED.
Ideologi pemuridan menjadi begitu berakar dalam UKMKP, apalagi aspek sosial mahasiswa UKMKP yang merupakan Universitas yang menghasilkan para pendidik menjadi hal ini penting. Suatu bentuk pemuridan yang mempertahankan tradisi dan pendekatan struktur pendidikan, membuat konsep dan penerimaan tentang ideologi pemuridan menjadi ruang bagi organisasi ini sangat berelasi dengan kuat. Adanya kurikulum Pemuridan dan bahan-bahan dari perkantas menolong pembinaan di UKMKP bisa dilakukan secara nyata.
87
3.2. Relasi Ide-ide dari tokoh perintis dan orang kunci UKMKP UNIMED
Adanya relasi tokoh-tokoh pendiri pelayanan UKMKP UNIMED menyebabkan ideologi ini bisa terjadi. Perintisan ulang yang dilakukan oleh Almen Pasaribu dengan memimpin Sarihot Malau yang menjadi ketua UKMKP pada periode 1987-1990 memiliki nilai strategis. Sarihot yang dipimpin ini menangkap konsep tentang pemuridan yang terus dimultiplikasikan diUKMKP UNIMED.32 Hal ini menjadi suatu strategi pelayanan yaitu mendorong setiap orang untuk ikut dalam kelompok kecil pemuridan. Hal ini difasilitasi dengan Staf perkantas pada waktu itu dan didorong pola pelayanan kelompok kecil bisa dilakukan secara masif.
Sejarah pemikiran para pendiri UKMKP UNIMED tidak pernah bisa dilepaskan dengan ideologi pemuridan Perkantas. Orang-orang yang mendapatkan pengalaman kelompok kecil berorientasi pemuridan ini selalu ada generasi ke generasi. Adanya keharusan setiap pengurus UKMKP harus mengikuti kelompok kecil, menyebabkan perkembangan ideologi pemuridan terjadi sangat besar. Gerakan kelompok kecil yang mendasarkan pemuridan ini menjadi sarana yang efektif untuk gerakan ini bisa terjadi antar generasi. Hal ini pun menjadi tradisi yang ditekankan dalam pelayanan UKMKP UNIMED sehingga gerakan ini menjadi suatu hal penting untuk dikerjakan dalam pelayanan ini.
Peran agen sangat mempengaruhi nilai-nilai bisa tertanam untuk suatu gerakan sosial keagamaan. Adanya Staf Perkantas (pekerja penuh waktu) yang melakukan
88
pendampingan khusus melalui kelompok kecil secara rutin dan pendampingan terhadap pengurus UKMKP menyebabkan, ide dan gagasan pemuridan bisa terus bertahan. Salah satu yang menyebabkan ideologi bisa terus tertanam selama beberapa waktu. Adanya peran orang-orang kunci yang memiliki otoritas dan kharisma sangat menentukan bagaimana nilai-nilai dari keunikan pelayanan Perkantas bertransformasi menjadi nillai-nilai dari UKMKP UNIMED. Oleh sebab itu ide atau gagasan penekanan utama dalam pelayanan UKMKP pun sama seperti yang ditekankan oleh Perkantas yaitu Pemuridan.
Ideologi pemuridan dalam UKMKP UNIMED membuat kelompok kecil menjadi suatu perilaku kolektif. Mahasiswa baru yang tergabung dalam pelayanan ini terpengaruh dengan dinamika situasi ini, sehingga perilaku kolektif ini mendorong para mahasiswa UNIMED pun berlomba-lomba untuk menjadi anggota kelompok kecil setiap tahunnya. Perilaku kolektif ini terjadi karena besarnya penjangkauan yang dilakukan organisasi ini dan peran penting anggota UKMKP dalam kehidupan kampus UNIMED.
Nilai-nilai Perkantas dalam UKMKP UNIMED bisa mengalami multiplikasi secara besar terhadap orang-orang yang mengikuti kelompok kecil. Sampai pada tahun 2015 gerakan kelompok kecil ini terus dilakukan dan berdampak besar bagi pergerakan kelompok kecil. Banyak alumni-alumni yang akhirnya melakukan gerakan ini bukan hanya di kampus namun sudah sampai pada pelayanan didaerah-daerah. Banyak alumni pelayanan UKMKP menjadi guru disekolah-sekolah di daerah-daerah Sumatera Utara. Mereka melakukan suatu pelayanan disekolah-sekolah dengan kelompok kecil.
89
3.3. Ideologi Pemuridan dalam Visi dan Misi UKMKP UNIMED
Visi merupakan proyeksi tentang masa depan atau merupakan tujuan pencapaian organisasi. Visi merupakan harapan masa depan yang belum terjadi dan hal ini merupakan gagasan atau ide yang bersifat deskriptif tentang masa depan. yang coba dibuat untuk Gerakan pelayanan Mahasiswa bisa mengerti apa yang akan dikerjakan. Melalui analisis Visi UKMKP, penulis melihat ada suatu gambaran dimana tujuan bersama itu terlihat.
Visi merupakan suatu gambaran dan tujuan pada masa depan yang kita inginkan bersama. Bennis dan Nanus mendefinisikan visi sebagai: “something that articulates a
view of a realistic, credible, attractive future for the organization, a condition that is better in some important ways than what now exists.”33 Kita bisa melihat bahwa visi lahir dari cara pandang pemikiran yang realistis, dapat dipercaya, masa depan yang menarik bagi organisasi dibandingkan dengan kondisi nyata pada saat ini. Oleh sebab itu sebenarnya Visi bisa dikatakan sebagai suatu ideologi. Suatu ide-ide yang bersifat masa depan.
Locke mengatakan bahwa kendati visi sangat bervariasi, pernyataan visi yang membangkitkan inspirasi dan memotivasi mempunyai persamaan karakteristik yaitu:34 Ringkas, Kejelasan, Abstraksi, Tantangan, Orientasi Masa depan, Stabilitas dan Disukai.
33 Bennis,W & Nannus,B. Leaders: The Strategies for Taking Charge.(New York: HarperCollins,1997), 19
34 Edwin Locke & Assosiates. Essensi Kepemimipinan: Empat Kunci untuk Memimpin dengan Penuh Keberhasilan. (Jakarta:Spektrum,1997), 73
90
Visi mengandung unsur basic values, mission dan objectives. Mulyadi mencoba menggambarkan hubungan visi, misi dan nilai sebagaimana tertuang dalam gambar 2.1 berikut.
Gambar 4.1 Hubungan Visi, Misi, Core Beliefs, dan Core Value35
Tujuan dari visi bila dikaitkan dengan proses perubahan maka visi yang baik memiliki tujuan yaitu:
Memperjelas arah umum perubahan kebijakan organisasi Memotivasi karyawan untuk bertindak dengan arah yang benar
Membantu proses mengkoordinasi tindakan-tindakan tertentu dari orang yang berbeda-beda
Misi merupakan cara mengimplementasikan visi menjadi kenyataan, yang diterjemahkan dalam strategi dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, potensi
91
dan ancaman dari kondisi realita. Misi bisa juga diterjemahkan sebagai suatu hal yang harus dikerjakan karena dipengaruhi oleh proyeksi masa depan.
Unsur-unsur yang mempengaruhi Visi yaitu Misi, Nilai utama, selain itu kondisi dan pengalaman agen sangat berperan penting dalam hal ini. Visi dipengaruhi oleh Nilai-nilai utama. Nilai-Nilai-nilai utama itu bisa hal yang filosofis namun bisa berupa Ideologi.
Visi dan Misi UKMKP dipengaruhi oleh nilai-nilai atau ideologi Perkantas. Terlihat ketika tujuan dipengaruhi oleh nilai kepemimpinan mahasiswa di masa yang akan datang. Pernyataan misinya menggambarkan tentang sistem nilai yang ingin dikerjakan oleh Perkantas. Kedelapan nilai inilah yang mewarnai penjabaran misi yang akan dilakukan. Polanya pun menggunakan prinsip yang dikerjakan perkantas dengan 4 P (Penginjilan, Pemuridan, Pelipatgandaan dan Pengutusan). Suatu bentuk yang dipengaruhi oleh peran agen perumusan Visi dan Misi
Pada bagian sebelumnya peran tokoh kunci atau agen sangat mempengaruhi gerakan kemahasiswaan ini. Mereka merupakan tokoh penggagas pemikiran lahirnya visi dan misi. Perumusan visi dan misi lahir dari pemikiran para tokoh pendiri organisasi secara terstruktur. Tradisi penjelasan lahirnya visi dan misi pada masa regenerasi merupakan sarana penting bagi Staf Perkantas mengisi sebagai pembicara dalam acara ini.
Ideologi pemuridan sangat mempengaruhi karena terus mempertahankan tradisi, menjaga dan melestarikan hal ini menjadi agenda utama dalam pengerjaan pelayanan Perkantas dalam gerakan UKMKP UNIMED. Hal ini untuk mempertahankan berjalannya
92
organisasi secara terstruktur dan menjadi sarana bisa tercapainya Visi Perkantas didalamnya.
3.4. Ideologi pemuridan dalam Program Kegiatan UKMKP UNIMED
Dalam bab 3 penulis telah mendeskripsikan program-program kegiatan dari UKMKP UNIMED. Program kegiatan ini merupakan suatu gerakan yang coba distrukturkan oleh organisasi ini. Sebelumnya gerakan ini merupakan inisiatif orang-orang yang digerakan oleh kesadaran pentingnya pemuridan. Untuk membuat ide ini tertanam maka dilakukan suatu kegiatan yang membuat pemuridan dipahami oleh setiap orang dalam anggota kelompok kecil. Cara penjangkauan yang dilakukan oleh UKMKP mulai dari perekrutan mahasiswa baru sampai mahasiswa tingkat dua.
Selain itu kegiatan-kegiatan ibadah UKMKP lebih menekankan pada pentingnya gerakan kelompok kecil berorientasi pada pemuridan. Melalui gerakan ini terjadi gerakan-gerakan sosial keagamaan lainnya. Terjadi gerakan baca Alkitab, gerakan berdoa dan berpuasa, gerakan penginjilan, gerakan aksi nyata, dan beberapa gerakan lainnya. Hal ini terjadi melalui diskusi-diskusi melihat hal realita dan kondisi ideal yang diharapkan berdasarkan interpretasi secara induktif dari Alkitab.
Peran sentral pergerakan kelompok kecil berdasarkan ideologi pemuridan dengan menekankan nilai-nilai keunikan pelayanan Perkantas menjadi besar. Kemampuannya membentuk perilaku kolektif mahasiswa UNIMED secara masif membawa pada suatu nilai-nilai yang terkristal dan bersifat untuk menjaga kepentingan.
93
Terkadang ideologi bersifat positif namun disisi lain ada unsur kepentingan didalamnya. Inilah dimensi ideologi yang perlu kita pelajari melalui pendekatan Geuss.
4. Dimensi Ideologi Pemuridan
Melihat pembahasan tentang Ideologi, dengan menggunakan pendekatan Raymond Geuss menyatakan bahwa Ideologi punya pemahaman dalam beberapa dimensi. Melalui bagian ini penulis mengkaji dimensi ideologi pemuridan dalam empat pemahaman ideologi menurut Geuss, berikut pembahasannya:
4.1. Ideologi Pemuridan Dalam Pemahaman Deskriptif
Geuss menyatakan bahwa Ideologi merupakan program kajian tentang kelompok manusia (antropologi), ada bermacam hal yang orang yang dapat kaji tentang kelompok manusia. Konsep ideologi dalam pemahaman deskriptif muncul dalam rangka meneruskan proyek penggambaran dan penjelasan fitur-fitur tertentu dan fakta-fakta tentang kelompok sosial manusia.
Melihat hal ini Perkantas merumuskan suatu pandangan tentang program kajian empiris pemuridan sebagai hal yang utama untuk mempertahankan nilai-nilai yang terkandung dalam Yayasan. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk mendeskripsikan secara jelas tentang Visi dan Misi Pelayanan Perkantas yaitu berfokus pada menghasilkan murid Kristus.
Unsur-unsur Ideologi Pemuridan merupakan konsep atau ide-ide, keyakinan dalam bentuk diskursif (konseptual atau proposisional). Hal-hal non diskursifnya terealisasi terhadap bentuk-bentuk strategi pemuridannya. Bentuk organisasi , bentuk
94
ritual yang dilakukan lebih bersifat bebas namun menggali ulang tradisi-tradisi gereja lain namun tidak mencampur adukan.
Geuss mengutip David Bell yang menyataan bahwa ideologi sebagai cara menerjemahkan ide menjadi tindakan dan mendefinisikan sebuah ideologi total sebagai sistem yang termasuk pada realitas komprehensif, ini merupakan satu set kepercayaan yang dihayati dengan semangat, dan berusaha untuk mengubah keseluruhan cara hidup. Hal ini juga bertujuan transformasi radikal atau rekonstruksi masyarakat secara keseluruhan. Terbuat dalam suatu program atau rencana aksi.36
4.2. Ideologi Pemuridan Dalam Pemahaman Positif
Menurut Geuss Ideologi dalam dimensi positif lebih kepada sesuatu yang dibentuk, dibuat atau diciptakan. Pemuridan merupakan suatu ideologi yang dibuat atau diciptakan dari hasil refleksi yang mengkristalisasi dari para tokoh-tokoh pendiri Perkantas. Bukan hanya itu, dalam proses perjalanan sejarah nilai utama ini akhirnya dijadikan strategi utama untuk mencapai Visi dan Misi Perkantas. Hal ini diawali dengan gerakan kelompok-kelompok yang membutuhkan materi dan kurikulum. Pemuridan merupakan hal yang bersifat abstrak layaknya pendidikan yang coba dibentuk dan ditransformasikan dalam kegiatan nyata.
Selain itu Ide pemuridan akan membuat setiap anggota kelompok kemudian saling menciptakan situasi yang memungkinkan mereka untuk merasa menjadi bagian dari suatu kehidupan bersama. Hal yang paling nyata ketika seluruh alumni pembinaan
95
Perkantas akan bicara tentang kelompok kecil yang orientasinya menghasilkan murid. Prosesnya bukan hanya sebagai murid namun mereka harus beranjak menjadi pembuat murid dan menuju ke proses Pembina pembuat murid. Proses pembinaan bukan hanya dibina namun juga penting melakukan multiplikasi didalamnya.
Dimensi Ideologi pemuridan dalam pemahaman positif juga merupakan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan kepentingan suatu kelompok sosial, mesti dilakukan dengan menjauhkan tendensi memperbudak, mengeksploitasi, atau bahkan mendominasi pihak lain. Jadi melalui pendekatan ini ideologi bisa menjadi suatu kesadaran positif.37 Proses ini dlakukan dengan menekankan multiplikasi dimana yang dipimpin ada waktunya akan memimpin dan melatih kepemimpin terus menerus. Hal ini bukan bertujuan untuk menggunakan otoritas namun, konsep melayani setiap anggota merupakan hal yang penting.
4.3. Ideologi Pemuridan Dalam Pejoratif
Kita akan masuk tentang ideologi pemuridan dalam pemahaman pejorative atau kepalsuan. Geuss menyatakan bahwa Konsep penggunaan ideologi pada pemahaman pejoratif bersifat negatif, merendahkan atau kritis. Ideologi merupakan khayalan atau kesadaran palsu dimana tidak sesuai dengan realitas yang ada. Geuss menyatakan bahwa istilah ‘kesadaran’ mengacu pada konstelasi kepercayaan tertentu, sikap, watak, dll.38
Pemuridan sebagai ideologi, memiliki potensi untuk bersifat pejorative. Ideologi ini merupakan suatu khayalan akan masa depan melahirkan murid-murid Kristus,
37 Raymond Geuss. The Idea of A Critical Theory…,22-25 38 Raymond Geuss. The Idea of A Critical Theory…,12
96
namun hal ini bisa menjadi permasalahan didalamnya karena suatu proyeksi yang belum tentu terjadi. Nilai kelompok kecil menjadi suatu dimensi eksklusifisme yang akan menghasilkan diskriminasi terhadap orang-orang yang tidak bisa mengikuti hal ini.
Pemuridan pernah dialami oleh tokoh pendiri dalam konteks sosial budaya yang berbeda. Mereka melakukan bentuk konsep pemuridan dan merekalah hasilnya. Namun apakah hal ini bisa digeneralisir. Inilah letak kepercayaan yang bersifat abstrak dan coba dibuat untuk menjadi saran kepentingan para pendahulu mengerjakan impiannya. Dimensi pejorative inilah yang terdapat dalam nilai-nilai pemuridan.
Adanya unsur kepentingan dalam menjaga tradisi dari nilai-nilai dan mencoba menghambat perubahan yang cepat, membuat ideologi ini memiliki kepentingan menjaga fungsi dan struktur. Melakukan klaim-klaim kebenaran dengan memakai Alkitab menjadikan Perkantas bisa terjebak dalam kepentingan pemahaman teologis tertentu. Salah satu bisa hilangnya nilai interdenominasi yang sesungguhnya, dikarenakan Perkantas akan membentuk denominasi baru lagi. Perspektif inilah yang perlu di perhatikan dan di pertimbangkan tentang menjaga nilai-nilai tersebut.
Gerakan UKMKP menjadi bias kepentingan antara Visi perkantas dengan kerinduan mahasiswa secara individu. Adanya penekanan visi secara komunitas melalui pembentukan ide-ide dalam kelompok kecil, menjadikan ide pemuridan sarat kepentingan organisasi. Mahasiswa berada dalam dua pilihan mengikuti visi bersama atau keluar dari komunitas tersebut. Inilah dimensi pejorative yang terjadi dalam
97
ideologi Pemuridan. Hal ini untuk menjaga perubahan tidak terjadi secara besar. Proses perubahan yang diharapkan yaitu transformatif.
4.4. Kritik Ideologi Pemuridan
Bagian ini merupakan suatu jalan keluar yang penulis lakukan untuk menghindari permasalahan dimensi pejorative dalam Ideologi. Membangun kesadaran kritis kepada Perkantas dan UKMKP agar berhati-hati dengan ide-ide atau gagasan yang sudah terkristalisasi. Ideologi Pemuridan bersifat Konservatisme pendidikan memiliki kerentanan terhadap keinginan untuk mempertahankan tradisi. Walaupun ideologi ini tetap terbuka untuk melakukan perubahan sosial berdasarkan konteks dan realita masa kini. Namun, ada unsur susah berajak dari kondisi lama, menyebabkan adanya suatu kekerasan secara tidak langsung baik struktural maupun budaya.
Kritik berdasarkan pendekatan Marx yaitu usaha-usaha mengemansipasi diri dari penindasan dan alienasi yang dihasilkan oleh hubungan-hubungan kekuasaan di dalam masyarakat.39 Tujuan dari membebaskan diri dari bentuk tekanan atas pengaruh ideologi yang bersifat pejorative. Tindakan praksis menjadi hal penting dalam pembebasan itu. Adanya refleksi dan aksi dalam tindakan manusia menyebabkan manusia mengalami kesadaran kritis dan terlepas dari bentuk-bentuk pengetahuan yang memiliki kepentingan. Geuss mencatat bahwa anggota Mazhab Frankfurt membagi kritik ideologi dalam beberapa cara yaitu40
39 Budi Hardiman. Kritik Ideologi:Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan.(Yogyakarta:Kanisius,1990),52 40 Budi Hardiman. Kritik Ideologi…,52
98
Kritik ilmiah (scientific Criticism). Suatu kritik yang menolak keyakinan-keyakinan dalam bentuk kesadaran yang secara empiris palsu atau tidak didukung dengan bukti. Jika dikaitkan dengan ideologi pemuridan memang ada suatu keyakinan yang didasarkan oleh pengalaman para tokoh-tokoh pendiri Perkantas, namun inilah yang menjadi tradisi untuk terus dipertahankan. Pada realitanya perlu adanya pembaharuan tradisi yang diyakini berdasarkan konteks. Nilai-nilai mungkin perlu mengalami perubahan konteks dan bersifat terbuka untuk berubah seiring perubahan sosial yang terjadi di dalam dunia mahasiswa.
Kritik Ideologi Positivis yaitu suatu cara untuk memberikan pemisahan yang jelas antara yang kognitif dari yang non-kognitif terlebih menolak semua keyakinan yang dibungkus dengan atribut non-kognitif. Pemisahan yang dilakukan dalam Ideologi pemuridan yaitu memisahkan hal-hal pemuridan dari bentuk bersifat keyakinan iman dengan hal yang bersifat rasional dan empiris. Pendekatan ini melihat hal-hal yang bisa diterima dalam membebaskan orang untuk bisa menyadari tradisi dalam konteksnya serta mencari refleksi untuk masa kini. Proses pemahaman alkitab dengan induktif merupakan cara untuk setiap mahasiswa belajar berpikir induktif. Melihat realita dan fakta-fakta untuk menarik suatu pemikiran teoritisnya.