TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi MassaIstilah komunikasi berpangkal pada perkataan latin communis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi juga berasal dari asal kata dalam bahasa latin communica yang artinya membagi (Cangara, 2004).
Unsur-unsur dari proses komunikasi ialah adanya isyarat dan lambang-lambang yang mengandung arti. Tanda-tanda atau isyarat ini perlu dipelajari oleh setiap orang apabila mereka ingin hidup bermasyarakat dan berkebudayaan.
Komunikasi massa dapat pula didefinisikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat (Rakhmat, 2005).
Komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner, yakni komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (“mass communication is messages communicated through a
mass medium to a large number of people”) (Rakhmat, 2005).
Di sini dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu harus menggunakan media massa, jadi sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri oleh ribuan, bahkan puluhan ribu orang jika tidak menggunakan media massa, maka itu bukan komunikasi massa.
Kekuatan dari media massa sangatlah dahsyat, karena dengan pemberitaan-pemberitaan, editorial, iklan-iklan, artikel-artikel dan sebagainya bisa mempengaruhi masyarakat banyak.
Media massa terbagi atas dua bagian, yaitu: 1. Media Massa Elektronik (televisi dan radio); 2. Media Massa Cetak (koran, majalah, folder, booklet). Setiap media massa mempunyai kekuatan masing-masing, tetapi pada prinsipnya media massa merupakan satu institusi yang melembaga dan berfungsi untuk menyampaikan
informasi kepada khalayak sasaran agar Well Informed (tahu informasi) (Kuswandi,1996).
Ada beberapa unsur penting dalam media massa yaitu: (1) adanya sumber informasi, (2) isi pesan (informasi), (3) saluran informasi (media), (4) khalayak sasaran (masyarakat) dan (5) umpan balik khalayak sasaran ( Karlinah, 2000).
Dari kelima komponen maka terciptalah proses komunikasi antara pemilik isi pesan (sumber informasi), dengan penerima pesan melalui saluran informasi (media).
Media Audio Visual Video
Media audio visual video adalah suatu unit peralatan elektronik yang dapat merekam informasi gambar dan suara dari sumber-sumber sinyal video, ke dalam pulsa-pulsa pita magnetik berlapis oksida, kemudian bila perlu informasi-informasi tersebut dapat dikonversi kembali ke dalam bentuk gambar nyata pada layar monitor (Gozalli dkk, 1986).
Medium video mulai berkembang pada sekitar tahun 1960-an (Gerlach dan Ely, 1980). Pada saat itu video hanya digunakan untuk keperluan siaran televisi (Murray, 1974), medium ini digunakan untuk merekam gambar dan suara yang berasal dari kamera televisi, kemudian hasil rekaman tadi dikonversi kembali pada waktu ”play back” menjadi gambar dan suara di layar magnetik. Pada waktu itu peralatan video yang digunakan masih tergolong besar (large format). Pita (tape) yang dipakai berupa pita magnetik selebar 2 inchi dalam bentuk pita gulungan terbuka (open reel). Alat ini tidak praktis sehingga penggunaannya terbatas untuk keperluan studio televisi saja.
Tahun 1960-an, format video tape recorder (VTR) berubah menjadi 1 inchi, sehingga ukurannya lebih kecil dan praktis. Pada waktu tersebut, video sudah mulai digunakan untuk keperluan pendidikan (Gerlach dan Ely, 1980).
Seiring dengan berjalannya waktu video semakin berkembang, peralatan video semakin ringkas dan canggih. Fomat VTR berubah semakin kecil menjadi ¾ inchi dan ½ inchi. Pita perekam yang pada awalnya berupa ”open reel” atau ”reel to
reel” berubah menjadi ”cartridge” kemudian menjadi lebih ringkas lagi berupa kaset yang dibungkus dengan plastik ringan (Besinger, 1991).
Perkembangan ini mengakibatkan medium video menjadi lebih ringkas, ringan serta mudah digunakan, kemajuan teknologi audio visual semakin pesat saat ini. Format video tidaklah hanya berbentuk VTR tetapi berupa piringan video dalam bentuk video disc, laser disc, atau compact disc. Dengan semakin mudahnya video dioperasikan, kini video banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan atau penyuluhan.
Implikasi dari penggunaan video kini sudah meluas, misalnya kegiatan hiburan, pendidikan, penyuluhan, kursus, perdagangan dan penelitian (Bajari, 2001). Menurut Fardiaz dalam Jahi (1988), piringan video adalah alat yang mampu menghasilkan gambar bergerak dan diam dengan suara yang diperoleh dari rekaman video dan teknologi komputer.
Komputer pada saat ini sudah dilengkapi dengan perangkat multimedia, salah satunya adalah pemutar video yang disebut CD-ROM, selain dengan format VCD kini sudah bisa digunakan dengan format DVD. Dengan format ini kapasitas memori untuk video lebih besar, selain itu kualitas gambar dan audio lebih bagus.
Perkembangan yang telah diraih pada bidang teknologi video menyebabkan pemakaian medium ini semakin meluas. Dalam kegiatan instruksional, video dalam bentuk pringan CD adalah media audio visual yang menampilkan unsur pesan, gambar bergerak dan musik. Pesan yang disajikan bisa berupa fakta, informatif edukatif maupun instruksional.
Mengkomunikasikan suatu pesan dan informasi kepada khalayak, video mempunyai keunggulan yakni, a) memperlihatkan gerak, b) memperpendek jarak dan
waktu, c) memperlihatkan fenomena yang tidak dapat dilihat mata, d) mengkomunikasikan pesan kepada pemirsa (audience) yang spesifik, e) dapat
digunakan berulang-ulang kali, f) dapat mengulangi sequence secara akurat, g) mampu memancing emosi, h) berisi visual, i) menayangkan unsur gambar dan
Selain itu, terdapat keterbatasan-keterbatasan pada media video, menurut Schramm (1984), video termasuk medium dengan daya liput yang terbatas kemampuannya. Inilah yang membedakannya dengan medium televisi yang mempunyai daya liput yang luas dan serentak. Namun dengan keterbatasan itu, video cocok sebagai medium belajar untuk kelompok yang spesifik dengan kebutuhan dan minat tertentu (Nielsen, 1981).
Mendiseminasikan suatu informasi, medium video merupakan salah satu media yang cukup efektif untuk meningkatkan pengetahuan. Dengan medium video dalam diseminasi informasi berisi pesan-pesan instruksional menjadi lebih produktif, lebih efektif dan efisien (Kemp, 1975).
Dengan memperhatikan desain dari medium video ini, proses penyampaian pesan akan lebih bisa diterima oleh khalayak dengan baik. Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999), penyampaian pesan yang menggunakan ilustrasi dari alat bantu audiovisual akan lebih mengingat banyak pesan. Media audiovisual memainkan dua peran yang berbeda yaitu memperbaiki alih proses informasi dan memotivasi untuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Format Medium Video
Adapun format atau bentuk desain pesan dari video adalah (1) jenis bahasa narasi, (2) bentuk penggunaan visual. Penyampaian pesan melalui video akan lebih menarik dan merubah perilaku khalayak, apabila membuat format penyajian pesan dalam bentuk audiovisual, dan dianggap sesuai dengan keadaan khalayak. Penyajian pesan akan memiliki kelebihan ataupun kekurangan dalam mendukung peningkatan pengetahuan khalayak.
Narasi
Format narasi adalah audio dalam penuturan langsung kadang disebut juga
”talk show” (Edmonds, 1978), dinilai cocok untuk menyajikan pesan atau informasi
yang dibutuhkan penjelasan dan uraian mendalam, bentuk ini umumnya efektif untuk menyalurkan informasi kepada pemirsa.
Willis (1967) mengatakan narasi adalah sebagai ”the person in which it is
presented” , narasi dibawakan oleh orang baik sebagai orang pertama, orang kedua
atau orang ketiga. Pada narasi tipe pertama, narator berperan tunggal dalam menyampaikan pesan-pesan, sedangkan dalam bentuk kedua, narator utama adalah orang kedua, orang pertama hanya bertindak sebagai pembuka dan penutup program. Pada tipe narasi ketiga, orang ketigalah yang bertindak sebagai narator utama. Cara seperti ini agak jarang digunakan.
Menggunakan lebih dari satu narator, bertujuan menghindari kebosanan dan suasana yang monoton. Parker (1968) mengatakan bahwa perubahan satu suara ke suara yang lain dalam narasi dapat menyegarkan presentasi dan menangkap perhatian khalayak yang lebih besar. Ada beberapa jenis narasi yang dibedakan dari cara narator menyampaikan uraian, yang pertama adalah narator tidak nampak di layar monitor pada waktu penyampaian uraian atau disemboided voice, atau bisa juga disebut ”voice-voice naration” (Willis, 1967). Adapun cara yang kedua adalah narator nampak di layar monitor, minimal muncul pada pembukaan dan akhir presentasi, dan biasa disebut ”live-naration”.
Pada bentuk penyajian pesan, unsur visual menduduki prioritas utama, ini dikarenakan penyajian narasi pesan disusun dalam rangkaian cerita bergambar yang hidup (motion picture) dan penjelasan dengan kata-kata terucap (off stage narration) bersifat mendukung penyajian. Menurut May dan Lumsdaine (dalam Kemp, 1975), bentuk penyajian yang seperti ini dinilai paling mudah dipahami karena pesan disampaikan dengan menggunakan unsur-unsur audio visual dan motion sekaligus.
Pola-pola dinamik yang penuh makna dimana gambar atau visualisasi merupakan bagian komunikasi yang penting, komunikasi visual harus menjadi prioritas utama dalam medium audio visual seperti video. Pada umumnya penggunaan elemen visual dalam materi instruksional cenderung membantu dalam proses belajar. Hasil penelitian Dwyer (1986), menyimpulkan penggunaan elemen visual yang tepat dapat mempermudah siswa memahami informasi yang diberikan.
Jenis Bahasa Narasi
Bahasa dan masyarakat merupakan dua elemen yang tidak dapat dipisahkan. Bahasa merupakan alat penghubung dan alat komunikasi anggota masyarakat (Badudu, 1996). Disamping itu, bahasa merupakan tanda yang jelas dari budi kemanusiaan, karena dari pembicaraan seseorang kita dapat menangkap keinginan dan menangkap keinginan seseorang, latar belakangnya, pendidikan, pergaulan dan adat istiadat (Samsuri, 1978).
Proses komunikasi, bahasa merupakan elemen yang paling banyak dipergunakan. Faktor utama yang mempengaruhi efektivitas pesan yang disampaikan dalam suatu proses komunikasi juga berasal dari bahasa, banyak pesan-pesan yang disampaikan sering disalahartikan oleh khalayak sehingga pesan tersebut tidak dapat diterima dengan baik, oleh karena bahasa yang dipakai tidak dipahami oleh khalayak. Menurut Sutanto (1980), bahasa adalah alat untuk meyampaikan pikiran dan alat sosial. Oleh karena itu bahasa bisa dikatakan unsur utama dalam suatu proses komunikasi. Ditambahkan oleh Rakhmat (1999), terdapat dua cara untuk mendefinisikan bahasa, yaitu fungsional dan formal. Definisi fungsional melihat bahasa dari segi fungsinya sehingga bahasa diartikan sebagai alat memiliki bersama untuk mengungkap gagasan, sedangkan definisi formal diartikan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa. Dimana setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberikan arti. Effendy (1983) menyatakan bahwa bahasa merupakan lambang yang paling banyak digunakan dalam komunikasi dan memegang peranan penting dalam menyampaikan pesan.
Efektivitas komunikasi akan tercipta apabila ditunjang oleh ketepatan penggunaan bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pesan. Sutanto (1980) membagi bahasa dalam tiga kelompok, yaitu, bahasa nasional, bahasa daerah dan bahasa kolokial.
Sehubungan dengan penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi, Rakhmat (1999) menyatakan bahwa faktor kesamaan budaya, status sosial, pendidikan dan ideologi turut menentukan kesamaan makna khalayak terhadap suatu kata atau
simbol. Penggunaan bahasa dalam suatu medium komunikasi harus mempertimbangkan latar belakang kebudayaannya.
Penggunaan bahasa yang tepat, diharapkan tidak terjadi kesalapahaman makna, pengertian ataupun persepsinya terhadap simbol yang digunakan. Wohrf (dalam Rakhmat 1999) mengemukakan khalayak tertentu akan memberikan arti kepada apa yang mereka lihat, dengar atau rasakan sesuai dengan kategori-kategori yang ada pada bahasa mereka, bahkan orang-orang yang sama sering mengembangkan kata-kata yang khusus dimilikinya oleh sekelompok mereka saja. Pemilihan dan penggunaan bahasa perlu diperhatikan dalam berkomunikasi.
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang dipakai oleh masyarakat Indonesia. Menurut Badudu (1996), bahasa Indonesia telah ditingkatkan penggunaan dan kemampuannya, sehingga bahasa tidak lagi hanya digunakan sebagai alat penghubung antar individu dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga digunakan sebagai bahasa ilmu dan tekhnologi. Ditambahkan pula oleh Anas (2000), bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan dan sekaligus sebagai alat mengkomunikasikan unsur-unsur kebudayaan. Peranan yang paling menonjol dari bahasa Indonesia adalah sebagai alat untuk mengkomunikasikan pesan-pesan pembangunan, juga bahasa sebagai alat pengembangan pengetahuan dan teknologi.
Bahasa Indonesia, yang merupakan bahasa nasional rakyat Indonesia digunakan baik disektor pendidikan, pemerintahan maupun media massa, dan seharusnya bahasa Indonesia dipergunakan dan dimengerti oleh rakyat Indonesia. Walaupun demikian dari beberapa hasil penelitian, bahasa daerah masih sangat dominan dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan. Namun Kartasasmita (2000) optimis bahwa pemakaian bahasa Indonesia yang sesuai dengan apa yang dikomunikasikan akan mudah dipahami oleh sasaran atau khalayak.
Perkembangan penggunaan bahasa Indonesia ditengah masyarakat dapat dikatakan cenderung naik atau positif, ini dikarenakan pada umumnya masyarakat
masih menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar sehari-hari, bahkan dalam proses belajar mengajar harus mempergunakan bahasa Indonesia. Menurut Gunardi (1999) pada hasil pengamatannya masyarakat Sunda yang bersedia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa penutur dalam percakapan sehari-hari.
Bahasa Sunda
Bahasa daerah di Indonesia merupakan suatu aset budaya bangsa yang tak ternilai harganya, bahasa daerah mempunyai peranan penting, antara lain sebagai simbol dari identitas suatu masyarakat. Bahasa daerah merupakan bahasa sehari-hari yang diajarkan dan dipakai dalam lingkungan keluarga umumnya juga di daerah dimana seseorang tinggal (Samsuri, 1978).
Bahasa Sunda, yang merupakan bahasa ibu masayarakat Jawa Barat masih tetap dominan dipakai, khususnya pada masyarakat pedesaan. Maka banyak pesan-pesan pembangunan mempergunakan bahasa ini untuk memberikan informasi kepada masyarakat pedesaan di Jawa Barat.
Hasil penelitian dari Surya (1989) menunjukkan bahwa nilai peningkatan pengetahuan petani yang mendengarkan presentasi dengan kaset audio yang menggunakan bahasa Sunda lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang mendengarkan kaset audio yang menggunakan bahasa Indonesia. Pendapat yang sama juga di sampaikan oleh Pambudy (1988) yang menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa Sunda lebih efektif digunakan dalam presentasi film bingkai bersuara pada penggunaan bahasa Indonesia untuk menyebarkan inovasi model farm kepada petani.
Hasil penelitian yang telah dilakukan bisa ditarik kesimpulan bahwa, penggunaan bahasa daerah atau Sunda lebih efektif dibanding bahasa Indonesia dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan, artinya bahwa bahasa Indonesia belum dapat menggantikan posisi bahasa daerah atau Sunda sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan pesan. Hal ini diperkuat oleh Srivistava (dalam Bakar, 1999) bahwa bahasa daerah merupakan bahasa yang paling tepat digunakan dalam berkomunikasi dan memajukan pendidikan. Pendapat ini dihasilkan dari penelitian di
India yang menunjukkan bahwa kelompok yang mendapat perlakuan dengan bahasa daerah untuk pelajaran matematika memperoleh hasil lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan bahasa nasional.
Bentuk Pesan Visual
Rinaldi (2003) mengemukakan media visual adalah semua alat media yang digunakan dalam suatu ruang yang dapat dilihat dan mempermudah pengertian tentang kata-kata yang tertulis maupun yang terucapkan. Alat atau media audiovisual meliputi alat peraga, foto, film bingkai, multimedia komputer dan video televisi.
Ilustrasi merupakan unsur yang utama dalam medium video, sesuai dengan fungsinya ilustrasi sangat diperlukan dalam menjelaskan suatu informasi yang akan di diseminasikan melalui media visual. Menurut Arsyad (2000), bahwa dari beberapa hasil penelitian tentang fungsi kognitif media visual, ternyata lambang visual atau gambar dapat memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami atau mengingat informasi yang terkandung di dalamnya.
Diketahui bahwa secara umum visualisasi dapat mempermudah khalayak dalam menerima dan memahami isi pesan, tetapi tidak semua jenis visualisasi sama efektifnya dalam meningkatkan pengetahuan khalayak. Menurut Bertz (1971) di dalam media audio visual gerak seperti televisi atau video, biasanya dikenal dua jenis visualisasi yaitu: visualisasi realistik dan visualisasi grafis.
Visualisasi Realistik (Gambar Bergerak)
Dalam media audio visual gerak seperti televisi atau video di kenal dua jenis visualisasi yaitu:
1. Visualisasi realistik atau visualisasi murni (pure visual) yaitu gambar hidup (motion picture) benda atau objek sesungguhnya.
2. Visualisasi grafis atau gambar diam yaitu semua bentuk visual dua dimensi yang khusus disiapkan untuk keperluan media visual (Zettl, 1969). Artinya adalah semua jenis atau simbol-simbol visual yang telah diproyeksikan dalam bidang
datar. Wujud visual grafis dalam medium video dapat berupa gambar foto atau gambar ilustrasi, sketsa, kata tercetak atau ilustrasi visual lainnya (Efrein, 1979).
Visualisasi realistik atau hidup (motion picture) merupakan gambaran dari apa yang terjadi sebenarnya. Karakteristik media visualisasi realistik adalah (1) dapat menampilkan gerakan aslinya, (2) dapat memperlihatkan suatu proses lengkap dan memungkinkan mempelajari secara mendetail dari suatu proses yang tidak dilihat dengan mata, (3) efek visualnya sangat mempengaruhi aspek kognitif, afektif dan konatif, tetapi terdapat pula kelemahannya, (1) tidak bisa mengamati suatu gambar secara mendetail, sebab obyek bergerak dan terus berubah, (2) dalam merekam maupun memutar ulang diperlukan keahlian khusus (Wittich dan Schulller, 1979).
Fungsi utama ilustrasi visualisasi dalam medium video adalah untuk mendukung serta memperjelas informasi yang disajikan, seperti apa yang diungkapkan oleh Jahi (2003) unsur utama pada program video adalah gambar yang bergerak, sedangkan gambar yang diam hanyalah pelengkap atau tambahan yang disisipkan pada saat-saat tertentu dan gambar gerak membuat subyek menjadi lebih menarik dan memikat perhatian.
Hasil penelitian Brown (1977) mengemukakan bahwa: (1) penggunaan gambar gerak dapat merangsang minat atau perhatian siswa, (2) gambar-gambar yang dipilih dan diadaptasi secara tepat, membantu siswa memahami dan mengingat isi informasi bahan-bahan verbal yang menyertainya, (3) penayangan gambar realistik pada televisi, sepenuhnya dapat membanjiri pemirsa dengan informasi visual yang terlalu banyak, ternyata kurang baik sebagai perangsang belajar dibandingkan dengan visual grafis yang sederhana, (4) dan kalau bermaksud mengajar konsep yang menyangkut soal gerak, sebuah gambar-gambar diam kurang efektif dibandingkan dengan gambar bergerak.
Hasil penelitian SOVOCOM Company dari Amerika (dalam Siswosumarto, 1999) tentang peran visualisasi peran visualisasi dalam proses pemahaman manusia, yang dinyatakan bahwa manusia belajar memahami sesuatu melalui indera penglihatan 83%, indera pendengaran 11% dan indera yang lain 62% sedangkan kemampuan mengingat pada manusia, menggunakan audio 10 % saja, 40 % dan
audiovisual 50%. Hal ini menunjukkan bahwa unsur visual (apa yang dilihat) mempunyai persentasi yang lebih tinggi dari audio (apa yang didengar), oleh karena itu sangat dianjurkan bahwa visualisasi dari lambang-lambang verbal baik itu tulisan ataupun apa yang bisa didengarkan saja mendapat porsi yang lebih sedikit dari sajian visual.
Dwyer (1979) yang menyatakan medium televisi instruksional mencoba menyelidiki apakah kerealistikan ilustrasi visual dapat menjadikan petunjuk tentang keefektifannya dalam menunjang keberhasilan belajar para siswa. Hasil penemuannya bahwa kerealistikan ilustrasi visual tidak dapat dijadikan petunjuk untuk menduga keefektifannya dalam menunjang proses belajar. Artinya suatu ilustrasi visual yang lebih realistik belum efektif dalam penyampaian informasi dengan visualisasi yang kurang realistik
Visualiasasi Grafis (Gambar Diam)
Visualisasi grafis adalah semua bentuk visual dua dimensi yang khusus disiapkan untuk keperluan media visual (Zettl, 1969). Artinya adalah semua jenis atau simbol-simbol visual yang telah diproyeksikan dalam bidang datar. Wujud visual grafis dalam medium video dapat berupa gambar foto atau gambar ilustrasi, sketsa, kata tercetak atau ilustrasi visual lainnya (Efrein, 1979). Karakteristik utama gambar grafis adalah dapat dimodifikasi pesan visual sesuai dengan tujuan yang ingin ditonjolkan.
Bentuk-bentuk ilustrasi grafis yang biasa digunakan untuk mendukung presentasi pesan pada medium video adalah:
1. Simbol piktorial berupa foto atau gambar ilustrasi
2. Simbol grafis berupa gambar sketsa, diagram, bagan dan grafis 3. Simbol verbal berupa judul, sub judul, teks uraian singkat.
Penggunaan berbagai bentuk ilustrasi grafis tersebut, uraian verbal dikombinasikan dengan penjelasan visual baik yang termasuk dalam jenis simbol grafis, simbol piktorial maupun simbol verbal. Rinaldi (2003) mengemukakan bahwa informasi yang dilengkapi dengan bahasa grafis dan visual dapat meningkatkan
hampir dua kali lipat kemungkinan informasi yang disampaikan dapat dipahami dan dimengerti oleh khalayak. Dimana kemampuan mengingat bentuk komunikasi visual dan verbal, sesudah tiga jam yaitu 80% dan sesudah tiga hari 65%, sedangkan bentuk komunikasi visual saja hanya memiliki kemampuan 72% sesudah tiga hari dan 20 % sesudah tiga hari.
Kegiatan pengajaran mengenai suatu gerak, konsep gambar hidup (motion
picture) merupakan jenis visualisasi yang paling efektif. Gambar grafis atau diam
dapat mengurangi terlalu banyak informasi yang dapat ditampilkan oleh suatu film bergerak (Brown, 1977).
Hartley (1978) menunjukkan bahwa ilustrasi sederhana lebih mudah dipahami dan dilihat, demikian juga dengan ”caption’ yang menjelaskan gambar tersebut. Gambar sederhana seringkali efektif untuk memperjelas konsep atau obyek yang diterangkan, karena dia dapat memperlihatkan bagian yang penting saja dan membuang bagian lain yang tidak perlu.
Hasil penelitian Supriadi (1986), menunjukan penggunaan ilustrasi grafis sangat efektif untuk mendukung cara penyajian pesan dalam medium video yang bersifat penuturan langsung. Dengan kata lain penggunaan ilustrasi grafis dalam presentasi pesan melalui video itu dapat mempertinggi efektifitas peningkatan pengetahuan.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, kini gambar grafis (diam) bisa dimanipulasi dengan komputer, dengan kecanggihan media yang satu ini semua pekerjaan yang menyangkut dengan media audio visual akan lebih mudah dikerjakan.
Komputer membuat semuanya mudah. Apakah import gambar atau suara dari film atau video oleh komputer pengolahannya dapat dengan mudah dan hasil seketika secepat yang dibayangkan sudah tersaji di monitor (e-edukasi.net).
Digitized picture adalah gambar yang dicapture dari video kamera, VCR,
kamera digital (inherent.brawijaya.ac.id).
Teknologi komputer sangat membantu bagi kita yang bekerja di dunia audio visual. Sekarang banyak dikenal program audio visual yang dihasilkan oleh komputer. Kemajuan sinematografi sudah sampai pada tahap puncaknya dan
perkembangan televisi sudah pada era digital yang mampu memotret hal paling abstrak sekalipun.
Kreatifitas manusia bukan pada alatnya melainkan pada niatnya (e-edukasi.net). Kemajuan teknologi memungkinkan kita dalam memanipulasi segala macam foto atau gambar. Adapun ekstensi/format file dari gambar diam atau foto adalah, gif, jpg/jpeg, png, bmp, art, djvu, mng, msp, jng, jp2, pbm (inherent.brawijaya.ac.id).
Tahap Pengembangan Pesan Pada Video
Pengembangan pesan dibagi kedalam tiga tahap yaitu: 1) tahap pengembangan ide, meliputi pengumpulan materi pesan, penyeleksian dan penyusunan pesan kedalam medium yang telah ditetapkan, 2) tahap penetapan tujuan yang akan dicapai, yaitu apakah pesan yang akan dikembangkan itu akan mempengaruhi rana kognitif, afektif atau psikomotorik khalayak, 3) tahap analisa khalayak, yaitu menyangkut karakteristik khalayak yang dituju. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik khalayak dalam pengembangan suatu pesan diperhatikan. Disarankan Lazarfeld dalam Schramn (1984) yaitu agar pengembangan pesan dapat efektif sesuai dengan khalayak yang dituju, disarankan sebelumnya untuk mempelajari karakteristik khalayak yang akan dituju, seperti: pendidikan, umur, pekerjaan dan saluran komunikasi yang digunakan.
Lionberger (1982) mengemukakan beberapa karakteristik individu yang berpengaruh terhadap adopsi adalah: umur, tingkat pendidikan dan psikologis, sehubungan dengan karakteristik khalayak, karakteristik psikologis menurut Lionberger adalah faktor rasionalitas. Fleksibilitas mental, dogmatis, orientasi pada usaha tani sebagai bisnis kemudahan menerima inovasi.
Peningkatan Pengetahuan
Salah satu peubah tak bebas dalam penelitian ini adalah peningkatan pengetahuan. Pengetahuan menurut Soekanto (1970) adalah kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya.
Berdasarkan pendapat diatas, disimpulkan bahwa pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui atau dicamkan sebagai hasil penggunaan panca indera.
Menurut Rakhmat (1986), apabila kita merangkai huruf kalimat dan mulai menangkap makna dari apa yang dilihat dan didengar maka terjadilah persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang obyek peristiwa atau hubungan yang diperoleh melaui kesimpulan informasi dan penafsiran pesan. Proses penerimaan stimuli atau sensasi dan memberi arti (persepsi) pada sensasi sangat diperlukan dalam memperoleh pengetahuan baru.
Efek Media Audiovisual (Video)
Perencanaan pesan komunikasi merupakan hal penting dan berkaitan langsung dengan penetapan tujuan komunikasi, ada tiga dimensi efek komunikasi massa, yaitu: 1) efek kognitif, 2) efek afektif, 3) efek konatif (Gonzales dalam Jahi, 1988). Tujuan komunikasi sangat berkaitan dengan efek apa yang diharapkan akan terjadi pada sasaran. Efek kognitif yaitu meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan ilmu pengetahuan. Efek afektif berhubungan dengan emosi, perasaan dan attitude (sikap) dan efek konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu.
Hal ini juga didukung oleh pendapat Lionberger (1982), yang mengatakan bahwa ada tiga jenis efek yang dihasilkan oleh keterdedahan pada media massa. Pertama efek kognitif yaitu dapat merubah atau menambah informasi orang yang terdedah. Kedua efek afektif, yaitu merubah sikap, kepercayaan atau opini orang terhadap sesuatu termasuk bagaimana mereka merasakan dirinya, ketiga efek behavioral yaitu dapat membawa kepada perubahan perilaku.
Rakhmat (2000) mengemukakan efek pesan media massa meliputi: 1) efek kognitif, terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan atau informasi, 2) efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. Efek ini ada hubungannya dengan emosi,
sikap atau nilai, 3) efek behavioral, merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati meliputi pola-pola tindakan kegiatan atau kebiasaan berperilaku.
Berdasarkan dari uraian diatas, maka media audiovisual (video) dapat dikategorikan sebagai media dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan ingin belajar dan diharapkan adanya pengetahuan.
Penelitian ini, untuk efek kognitif diarahkan pada peningkatan pengetahuan khalayak. Peningkatan pengetahuan dalam penelitian ini dinyatakan sebagai skor tambahan pengetahuan yang diperoleh dari selisih antara skor pengetahuan sebelum melihat video dengan skor pengetahuan setelah melihat video tentang penyakit Chikungunya.
Chikungunya
Virus Chikungunya pertama kali diidentifikasi di Afrika Timur tahun 1952. Tidak heran bila namanya pun berasal dari bahasa Swahili, artinya adalah yang berubah bentuk atau bungkuk. Postur penderitanya memang kebanyakan membungkuk akibat nyeri hebat di persendian tangan dan kaki. Virus ini termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh Nyamuk Aedes aegypti. Gejalanya adalah demam tinggi, sakit perut, mual, muntah, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah terutama di badan dan tangan, meski gejalanya mirip dengan Demam Berdarah Dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan ( Schok ) maupun kematian. Masa inkubasi : dua sampai empat hari, sementara manifestasinya tiga sampai sepuluh hari. Virus ini tidak ada vaksin maupun obat khususnya, dan bisa hilang sendiri. Namun, rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari sampai berbulan-bulan.
Sekitar 200-300 tahun lalu virus Chikungunya (CHIK) merupakan virus pada hewan primata di tengah hutan atau savana di Afrika. Satwa primata yang dinilai sebagai pelestari virus adalah bangsa baboon (Papio sp), Cercopithecus sp. Siklus di hutan (sylvatic cycle) di antara satwa primata dilakukan oleh nyamuk Aedes sp (Ae
africanus, Aeluteocephalus, Ae opok, Ae. furciper, Ae taylori, Ae cordelierri).
dilakukan ketika terjadi wabah di Tanzania 1952-1953. Baik virus maupun penyakitnya kemudian diberi nama sesuai bahasa setempat (Swahili), berdasarkan gejala pada penderita. Maka hadirlah Chikungunya yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung (that which contorts or bends up). Setelah beberapa lama, perangai virus Chikungunya yang semula bersiklus dari satwa primata-nyamuk-satwa primata, dapat pula bersiklus manusia-nyamuk-manusia. Tidak semua virus asal hewan dapat berubah siklusnya seperti itu. Di daerah permukiman (urban cycle), siklus virus Chikungunya dibantu oleh nyamuk Aedes aegypti. Beberapa negara di Afrika yang dilaporkan telah terserang virus Chikungunya adalah Zimbabwe, Kongo, Burundi, Angola, Gabon, Guinea Bissau, Kenya, Uganda, Nigeria, Senegal, Central Afrika, dan Bostwana. Sesudah Afrika, virus Chikungunya dilaporkan di Bangkok (1958), Kamboja, Vietnam, India dan Sri Lanka (1964), Filipina dan Indonesia (1973). Chikungunya pernah dilaporkan menyerang tiga korp sukarelawan perdamaian Amerika (US Peace Corp Volunteers) yang bertugas di Filipina, 1968. Tidak diketahui pasti bagaimana virus tersebut menyebar antarnegara. Mengingat penyebaran virus antarnegara relatif pelan, kemungkinan penyebaran ini terjadi seiring dengan perpindahan nyamuk.
Hasil penelitian terhadap epidemiologi penyakit Chikungunya di Bangkok (Thailand) dan Vellore, Madras (India) menunjukkan bahwa terjadi gelombang epidemi dalam interval 30 tahun. Satu gelombang epidemi umumnya berlangsung beberapa bulan, kemudian menurun dan bersifat ringan sehingga sering tidak termonitor. Gelombang epidemi berkaitan dengan populasi vektor (nyamuk penular) dan status kekebalan penduduk. Pengujian darah (serologik) penyakit Chikungunya sering tidak mudah karena serum Chikungunya mempunyai reaksi silang dengan virus lain dalam satu famili. Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologik antara lain uji hambatan aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM capture ELISA.
Gejala- Gejala
Para penderita umumnya mengalami demam tinggi mencapai 30-40 derajat celcius dan penderita merasakan nyeri di persendian tulang yang bisa membuatnya tidak mampu berjalan untuk sementara Demam tinggi mendadak selama 2 – 4 hari, disertai nyeri sendi, bengkak dan kemerahan di daerah lutut, pergelangan kaki, pinggul, siku dan jari-jari kaki maupun tangan. Bila bergerak rasa sakit pada sendi bertambah parah. Gejala lainnya adalah muka kemerahan, nyeri dibelakang bola mata dan konyungtiva kemerahan. Nyeri kepala, nyeri otot dan terdapat pembesaran kelenjar didaerah leher. Gejala lainnya yang dapat timbul adalah mual, muntah, bintik-bintik kemerahan seluruh badan, bisa disertai gatal. Gejala nyeri sendi dapat bertahan selama beberapa minggu sampai beberapa bulan. Penyakit ini tidak menyebabkan kematian.
Klinis tersangka Chikungunya, yaitu: (1) demam, (2) nyeri sendi atau otot, (3) ruam kulit atau bercak merah, (4) nyeri kepala dan (5) malaise atau lelah.
Pemeriksaan Laboratorium
Untuk memastikan penyakit ini dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan teknik ELISA, maupun pemeriksaan virusnya.
Tempat Nyamuk Berkembang Biak
Nyamuk Aedes berkembang biak di tempat penampungan air bersih didalam rumah maupun di sekitar rumah seperti bak mandi, tempayan, vas bunga, tempat minum burung, ban bekas, drum, kaleng, pecahan botol, potongan bambu dan tempat lainnya. Pada musim hujan lebih banyak lagi tempat-tempat yang menampung air. Cara Pencegahan
Jangan biarkan jentik-jentik nyamuk berkembang biak dilingkungan perumahan. Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melakukan “3 M” (Menguras, Menutup, dan Mengubur) barang-barang bekas, tempat-tempat penampungan air seminggu sekali secara teratur atau menaburkan larvasida serta memasukkan ikan pada kolam atau aquarium. Lindungi diri anda jangan sampai
tergigit nyamuk terutama pada siang hari dengan menggunakan repellent (obat nyamuk oles), obat nyamuk coil, memakai kelambu atau memasang kawat kasa dirumah.
Pengobatan
Seperti halnya penyakit virus tidak ada obat untuk membunuh virusnya. Pengobatan yang diberikan terhadap penderita adalah obat penurun panas dan obat nyeri sendi dan pasien dianjurkan untuk beristirahat. Penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya.
Penanganan Kasus
Bila menemukan kasus Chikungunya, lakukan :
1. Segera laporkan ke Puskesmas atau Dinas Kesehatan setempat.
2. Hindari penderita dari digigit nyamuk (tidur memakai kelambu) agar tidak menyebarkan ke orang lain.
3. Anjurkan penderita untuk beristirahat selama fase akut.
4. Pada keadaan luar biasa (KLB) perlu dilakukan penyemprotan atau pengasapan. 5. Lakukan pemeriksaan jentik di rumah dan sekitar rumah.
Para penderita umumnya mengalami demam tinggi mencapai 30-40 derajat celcius dan penderita merasakan nyeri di persendian tulang yang bisa membuatnya tidak mampu berjalan untuk sementara. Gejala lainnya, penderita akan merasakan pusing dan mual serta muntah-muntah. (DEPKES)