Efek Biologis
Perkiraan nasib racun
• Mobilitas • Persistensi • Akumulasi
Mobilitas
• Zat yg tidak mobil adalah zat yang mudah teradsorpsi, terdegradasi/transformasi, mengendap dsb
• Mobilitas suatu zat dilihat dari nilai
kelarutannya, nilai koefisien distribusi tanah/air (Kd), kemampuan xenobiotik untuk terikat pada materi organik atau humus (Koc), sifat kepolaran
• Solubilitas > 30 mg/L mudah dileachingdari tanah ke air
• Nilai Kd < 2 mobilitas tinggi
• Koc < 500 mobilitas tinggi • Hubungan Kd dengan Koc :
[X dalam air] Kd
[X total] - [X dalam air]
Kd Koc
% organik karbon dalam sampel
• Zenobiotik bersifat polar mobilitas tinggi
• Regulasi untuk menentukan pestisida dapat masuk ke air tanah Groundwater ubiquility score (GUS) : • GUS yg tinggi mudah leaching dan masuk ke air
tanah
• GUS > 2,8 : zat kimia mudah masuk ke air tanah (mudah leaching)
• GUS 1,8 – 2,8 : zat kimia transisi
• GUS < 1,8 : zat kimia tidak mudah ke air tanah (tidak mudah leaching)
GUS (logt1 pada tanah)(4-(log Koc))
Persistensi
• Xenobiotik juga berguna sebagai sumber karbon, sumber energi, dll terjadi biodegradasi
• Bila tidak terjadi biodegradasi persisten • Sifat persisten dapat diperkirakan dari waktu
paruhnya
• Waktu paruh > 25 minggu (hidrolisis) persisten • Waktu paruh > 2-3 minggu di dalam tanah
Kelas degradasi Persistensi
1 = mudah 1 – 3 minggu 2 = dapat 1 – 3 bulan
3 = sulit 3 bulan – 1 tahun 4 = sulit sekali 1 – 2 tahun
Mobilitas Koc Persistensi T1/2 (hari)
Tidak mobil >4000 Tidak persisten < 5 Sedikit mobil 4000 – 500 Sedikit persisten 5 – 21 Cukup mobil 499 – 75 Cukup persisten 22 – 60 Mobil 74 – 15 Sangat persisten >60
Akumulasi
• Bioakumulasi : pengambilan (uptake) zat kimia dari lingkungan oleh makhluk hidup terdapat
pencemar dalam organisme dalam konsentrasi jauh lebih besar dari konsentrasi di lingkungannya
• Biokonsentrasi : kasus spesifik dari bioakumulasi,
dimana suatu zat yang terlarut secara selektif masuk ke dalam jaringan organisme dan terkonsentrasi
melalui rute selain makanan
• Rasio organik/lingkungan bioakumulasi yg berbahaya
Biokonsentrasi
• Zat masuk dan dikeluarkan melalui proses pasif transpor
• Zat dimetabolisme secara lambat
• Zat mempunyai kelarutan dalam air yang rendah
• Zat mempunyai kelarutan dalam lipid tinggi • Xenobiotik masuk dari air ke jaringan lipid
Prinsip terjadinya efek
• Efek biologis hasil akhir dari interaksi fungsi homeostasis dengan xenobiotik • Efek terjadi akibat interaksi xenobiotik
dengan organ target organ target mempunyai reseptor bagi xenobiotik • Reseptor : tempat yg sensitif terhadap
xenobiotik, di mana xenobiotik menempel dan berinteraksi
• Jenis reseptor :
Tipe I : reseptor di permukaan sel
Tipe II : reseptor di dalam sitoplasma Tipe III : reseptor di dalam inti/nukleus
• Ikatan xenobiotik dengan reseptor ikatan kovalen, ionik, hidrogen, van der Waals
Efek pada elemen sel
• Efek pada elemen sel dapat terjadi mulai dari portal entri
• Kontak langsung / tak langsung menimbulkan efek ringan (iritasi), sensitasi sampai kerusakan hebat (kematian sel)
• Ex : paparan silika menyebabkan Silikosis, terjadi fibrosis (kerusakan jaringan ikat ) yg progresif
Paparan Asbes asbestos dan kanker paru-paru
Efek pada enzim
• Xenobiotik mengganggu kerja enzim
• Ex : insektisida organofosfat mengganggu enzim asetilkolinesterase, logam berat
memblocking –SH dalam sistem enzim, menggantikan
Efek pada DNA, RNA
• DNA : informasi genetik yg ada dalam inti sel dan berfungsi sebagai cetakan dalam produksi protein atau pembelahan sel, sehingga cetakan yg baru
akan sama dengan cetakannya
• Adanya xenobiotik dapat menyebabkan mutasi genetik
• Efek mutasi genetik :
Pada sel genetik mutan
Sel tubuh (somatik) kanker
Efek atas dasar organ target
• Xenobiotik masuk ke tubuh terdistribusi sesuai dengan afinitasnya
• Ex : iodium menyerang kelenjar gondok • Xenobiotik dapat menyerang organ hati,
sistem saraf, paru-paru, ginjal, kulit, darah, reproduksi,mata
a. Hepatotoksisiti
• Hepatotoksisiti : keadaan di mana xenobiotik mempunyai daya racun terhadap hati
a. Hepatotoksisiti (cont’d)
• Xenobiotik dapat masuk melalui oral, inhalasi atau dermal
• Xenobiotik masuk ke hati : hasil absorpsi usus lewat pembuluh vena porta
• Xenobiotik akan dimetabolisme, disimpan, dibiotransformasi, dikonyugasi lalu dieksresi • Apabila xenobiotik tidak dapat
b. Neurotoksisiti
• Xenobiotik bersifat toksik pada sistem saraf • Sistem saraf mentrasmisi impuls lewat sel
saraf
• Neurotoksikdikelompokkan menjadi 3 : • Racun yg mengganggu neuro-transmisi
• Racun yg menyebabkan saraf kekurangan oksigen (hipoksia sampai anoksia)
Racun yg mengganggu sistem saraf :
• Zat yg menghentikan transmisi toksin botulinum
• Zat yg menyebabkan depolarisasi DDT mendepolarisasi ujung saraf presinaptik berulang dengan meningkatkan
permeabilitas terhadap Na
• Zat stimulan xantine spt kafein mencegah cAMP bertindak sebagai sistem transpor
• Zat depresan (kebalikan stimulan) alkohol memblokir konduksi impuls dengan
mengurangi konduktivitas Na, dan K
• Zat sbg antagonis reseptor mencegah neurotransmiter untuk mengaktivasi
reseptor dan memulai impuls, ex : atropin • Zat antikolinesterase menghambat saraf
Racun perusak sel saraf : • Merusak lapisan mielin
Mielin sebagai insulator saraf sehingga impuls berjalan cepat
Toksin : Pb, CN, difteri, dll • Merusak saraf motorik perifer
Merusak penglihatan dan pendengaran Toksin : As, metanol, metil merkuri, TEL,
dll
• Merusak otak
c. Pneumotoksisiti
• Pneumotoksisiti : keadaan di mana
xenobiotik bersifat toksik terhadap sistem pernapasan
• Ex : gas klorin, Nox, Sox, Cd, Ni, Hg, Cr,
d. Nefrotoksisiti
• Nefrotoksisiti : keadaan di mana xenobiotik bersifat toksik terhadap organ ginjal
• Ex : As, Cd, Cr, Pb, Hg, antibiotik, analgetik, dll • Zat nefrotoksik dibagi 2 :
Nefrotoksikan primer merusak ginjal tanpa terjadi bioaktivasi atau biotransformasi, ex : garam merkuri
Nefrotoksikan sekunder merusak ginjal setelah mengalami biotransformasi menjadi lebih toksik, ex : trikloroetilen
e. Dermatotoksisiti
• Dermatoksisiti : keadaan di mana xenobiotik bersifat toksik terhadap kulit
• Kulit merupakan membran semipermeable, yg
berfungsi memelihara homeostasis, regulasi termal, melindungi tubuh dari zat kimia, sinar UV, dll
• Dermatitis kontak akibat sabun, pelarut asam/basa, oli, dll
• Kelainan warna kulit hidrokuinon, petroleum, dll • Luka kromium
• Tumor akibat UV, produk petroleum
f. Teratogenesis &
Reproduktifitoksisiti
• Teratogenesis : toksistas terhadap janin kelainan struktur maupun fungsi tubuh yg reversibel /
irreversibel oleh faktor lingkungan yang mengganggu perkembangan normal
• Dapat disebabkan oleh virus sifilis, herpes, oleh obat, metabolisme ibu tidak seimbang, kelainan genetik, dll • Reproduktiftoksisiti : disfungsi dari sistem reproduktif,
termasuk proses
• Disebabkan oleh semua racun yg berpengaruh
terhadap alat reproduksi, ex: metil klorida, imidazole, dll
g. Hematoksisiti
• Hematoksisiti : toksisitas terhadap sistem hematopoetik (sistem pembentuk sel darah dan berfungsi dalam respirasi seluler)
• Penyebab :
Berkurangnya
trombosit/trombositpenia aspirin, benzena, Hg, paracetamol, DDT, dll
• Penyebab (cont’d) :
Hilangnya sel darah putih yg polimorfonyklear
Tidak terbentuknya sel darah/apiatik
anemia dan pansitopenia aspirin, CCL4, klordane, Au, hidrokuinon, dll
Anemia hemolitik insektisida, insulin, penicilin, dll
h. Oftalmotoksisiti
• Oflamotoksisiti : toksisitas terhadap mata • Efeknya ringan : iritasi, korosi, sampai beat
(kebutaan)
• Racun kornea paparan asam basa, detergen, logam Ag, Hg
• Racun lensa mata 2,4-dinitrofenol (obat anti gemuk) penyebab katarak, talium sulfat pada insektisida, dll
• Racun perusak sel saraf dan serabut saraf
metanol penyebab kebutaan, talium, As pentavalen, kina, Hg organik
Efek berdasarkan gejala
• Fibrosis terbentuknya jaringan ikat yg
berlebihan dan pada tempat yg tidak normal • Granuloma kelainan jaringan yg
berbentuk jaringan radang kronis, sehingga tampak merah dan bonjol2
• Demam
• Asfiksia keadaan di mana darah dan
jaringan tubuh kekurangan oksigendan tidak dapat membuang CO2
• Alergi kondisi badan yg bereaksi berlebih terhadap materi tertentu yg disebut allergen • Mutan, kanker, teratoma
Mutan radiasi pengion, metil Hg Kanker PAH, vinilklorida, dll
Teratoma arsen, metil Hg, TEL, benzena, dll
• Keracunan sistemik keracunan seluruh badan Pb, Cd, Hg, TEL, dll