BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian survei bersifat deskriptif dengan menggunakan desain potong silang(cross sectional), yaitu untuk mengetahui
gambaran kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji, aktivitas fisik dan status gizinya.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Padangsidimpuan di jalan di jalan Merdeka No.188 di Kota Padangsidimpuan. Alasan pemilihan lokasi
penelitian berdasarkan survei pendahuluan dari 10 remaja terdapat 1 remaja obesitas dan 5 gemuk, serta remaja mempunyai kebiaasan mengkonsumsi makanan cepat saji.
Penelitian ini direncanakan akan dilakukan pada bulan September 2016 sampai dengan selesai.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah para remaja yang bersekolah di
SMAN 1 Padangsidimpuan sejumlah 658 orang. 3.3.2 Sampel
Besar sampel penelitian akan dihitung dengan menggunakan rumus
Slovin:
= N
n = Besar sampel
N = Jumlah populasi (658orang)
d = Kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolerir, kemudian di kuadratkan. Dengan tingkat kepercayaan 90%
= 658
1 + 658(0,1)2
= 658 7,58 = 86,807≈87
Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka jumlah sampel dalam
penelitian ini adalah sebanyak 87 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode teknikstratified random sampling, karena populasi terdiri dari tingkatan (Budiarto,2001).
Tabel 3.1 Pembagian Proporsi Sampel
Satuan Jumlah Populasi Jumlah Sampel Tiap Kelas Kelas X
Kelas XI Kelas XII
240
240 178
240
658 87 = 31,73 ≈32 240
658 87 = 31,73 ≈32 178
658 87 = 23,53 ≈23 Setelah itu sampel diambil dari setiap strata dan tidak harus diambil dari tiap kelas.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer dalam penelitian ini adalah :
2. Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan formulir recall dan formulir frekuensi makanan (food
frequency).
3. Aktivitas fisik diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan formulir
recall aktivitas fisik.
4. Data status gizi diperoleh dengan pengukuran tinggi badan (TB) kepada responden dengan menggunakan microtoise dengan ketelitian 0,1 sedangkan
berat badan (BB) menggunakan timbangan berat badan.Kemudian dihitung indeks massa tubuh menurut umur dengan menggunakan software WHO
AnthroPlus.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh mengenai gambaran sekolah
SMA Negeri 1 Padangsidimpuan, jumlah siswa/i SMA Negeri 1 Padangsidimpuan, dan data lain yang dianggap mendukung.
3.5 Variabel dan Defenisi Operasional 3.5.1 Variabel
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen dan variabel
3.5.2 Defenisi Operasional
1. Makanan cepat saji adalah makanan yang tersedia dalam waktu cepat, praktis
dan siap disantap.
2. Kebiasaankonsumsi makanancepat saji adalah informasi yang memberikan
gambaran mengenai frekuensi dan jumlah konsumsi makanan cepat saji. a. Frekuensi konsumsi makanan cepat saji adalah keseringan mengonsumsi
makanan cepat saji misalnya setiap hari, minggu dan bulan.
b. Jumlah konsumsimakanan cepat saji adalah banyaknya sumbangan energi, karbohidrat, lemak, dan protein yang berasal dari makanan cepat
saji terhadap rata-rata konsumsi per hari. .
3. Aktivitas fisik adalah semua kegiatan yang dilakukan remaja dalam waktu 24 jam.
4. Status gizi adalah gambaran keadaan tubuh remaja yang dilihat dari nilai IMT/U yang dihitung menggunakan software WHO AnthroPlus.
5. Remaja adalah individu yang berumur 15-18 tahun bersekolah di SMA Negeri 1 Padangsidimpuan.
3.6 Metode Pengukuran
3.6.1 Kebiasaan Makanan Cepat Saji
Kebiasaan Makanan cepat saji yang terdiri dari aspek jumlah dan frekuensi makan cepat saji dapat diukur metode Food Recall 24 jam , dan
- Dilakukan 2 kali dan harinya tidak berturut-turut
- Jumlah makanan yang dikonsumsi dikonversikan menjadi zat gizi (energi,
karbohitrat, protein dan lemak) dari URT kedalam berat (gram) menggunakan software nutrisurvey
- Kemudian dihitung dan membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi(AKG) mengunakan rumus :
Tingkat Konsumsi Energi = konsumsi zat gizi (Energi )
Angka kecukupan gizi (AKG ) x 100%
Tingkat Konsumsi Karbohidrat = konsumsi zat gizi (Karbohidrat )
Angka kecukupan gizi (AKG ) x 100%
Tingkat Konsumsi Protein = konsumsi zat gizi (Protein )
Angka kecukupan gizi (AKG ) x 100%
Tingkat Konsumsi Lemak = konsumsi zat gizi (Lemak )
Angka kecukupan gizi (AKG ) x 100%
Angka kecukupan gizi perorang per hari umur 15-18 tahun adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2 Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan per hari Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
Umur AKG energi
(Kkal)
Karbohidrat Protein Lemak 13-15 thn (Pria) Sumber : Permenkes RI Nomor 75 tahun 2013
Setelah kecukupan gizi yang dikonsumsi diperoleh dalam bentuk persen, hasil persen tersebut dikatagorikan atas (WNPG dalam Hardiansyah, 2004) :
- Lebih : >110%
Untuk menghitung sumbangan energi, karbohidrat, protein, lemak dari makanan
cepat saji terhadap konsumsi energi, karbohidrat, protein, lemak per hari digunakan rumus :
Sumbangan Konsumsi Energi = konsumsi energi (�� � �)
konsumsi Energi per hari x 100%
Sumbangan Konsumsi Karbohidrat = konsumsi Karbohidrat (�� � �)
konsumsi karbohidrat per hari x 100%
Sumbangan Konsumsi Protein = konsumsi Protein (�� � �)
konsumsi protein per hari x 100%
Sumbangan Konsumsi Lemak = konsumsi Lemak (�� � � ) konsumsi lemak per hari x 100
b. Food Frequency Question.
Frekuensi konsumsi makanan cepat saji(fast food)dapat diukur dengan menggunakan formulir food frequency dengan kategori (Junaz, 2014 dalam Marpaung 2015)
Tidak Pernah
Jarang : 1 – 2 sebulan
Sering : 3 – 5 kali seminggu Selalu : 1 – 3 kali sehari
3.6.2 Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik siswa diperoleh dari hasil wawancara kuesioner aktivitas fisik. Aktivitas fisik diukur dengan metode faktorial, yaitu merinci semua jenis
Keluaran Energi pada kegiatan tertentu lalu tingkat aktivitas fisik dihitung dan dinyatakan dalam Physical Activity Level (PAL).
PAL = (��� ) 24 ��
Keterangan :
PAL : Physical activity level (tingkat aktivitas fisik)
PAR : Physical activity ratio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk tiap jenis
kegiatan per satuan waktu tertentu) w : Alokasi waktu tiap aktivitas (jam)
Tabel 3.3 Kategori Aktivitas Fisik Standar Berdasarkan Nilai Physical Activity Level (PAL).
Kategori aktivitas fisik berdasarkan nilai Physical Activity Level (PAL).
Nilai PAL
Ringan Sedang Berat
1,40-1,69 1,70-1,99 2,00-2,40 Sumber : FAO, 2001
3.6.3 Status Gizi
Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) merupakan alat atau cara
yang sederhana untuk memantau status gizi pada remaja. Status gizi remaja dapat diukur menggunakan software WHO AnthroPlus dengan melihat Z-score Indeks
Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) kemudian disesuaikan dengan kategorinya.
Tabel 3.4 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Remaja berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U)
Kategori Status Gizi Z-Score
Sangat Kurus Kurus
Normal Gemuk Obesitas
<-3 SD
-3 SD sampai dengan <-2 SD -2 SD sampai dengan 1 SD >1 SD sampai dengan 2 SD
3.7 Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan deskriptif dan tabulasi silang. Analisis
BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Lokasi Penelitian
SMA Negeri 1 Padangsidimpuan berada di Jalan Sudirman no. 188
Kecamatan Padangsidimpuan Utara Kota Padangsidimpuan. SMA Negeri 1 memiliki guru sebanyak 57 orang dan memiliki siswa sebanyak 658 orang serta
didukung fasilitas ruang belajar yang terdiri dari ruang kelas, perpustakaan, laboratorium kimia, laboratorium bahasa, laboratorium komputer,laboratorium fisika, laboratorium biologi, dan mushollah. Ruang kantor terdiri dari ruang
kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, dan ruang tamu. Ruang penunjang terdiri dari gudang, kamar mandi/ WC guru, kamar mandi/WC siswa, ruang BK,
dan ruang UKS.Ektrakulikuler yang ada di SMA Negeri 1 Padangsidimpuan yaitu OSIS, Pramuka, Paskibraka, futsal, basket, dan voli.
Letak SMA Negeri 1 Padangsidimpuan ini sangat strategis berada dipusat kota dan dekat dengan pusat perbelanjaan sehingga memudahkan para remaja untuk mengonsumsi makanan jajanan seperti makanan cepat saji diantaranya
adalah fried chicken, hamburger, pizza, spaghetti, kentang goreng, mie instant, bakso, gado-gado, pecal, gorengan (bakwan, tahu goreng, tempe goreng, pisang
goreng), minuman bersoda, nuget dan sosis. 4.2 Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah remaja yang berusia 15-19 tahun
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
Karakteristik n %
Umur 15 Tahun 16 Tahun 17 Tahun 18 Tahun
26 40 18 3
29,9 46,0 20,7 3,4
Total 87 100,0
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
48 39
55,2 44,8
Total 87 100,0
Dari tabel 4.1, dapat dilihat hasil karakteristik responden paling banyak pada umur 16 tahun sebanyak 40 orang (46,0%), dan 48 orang (55,2%) berjenis
kelamin laki-laki.
4.3 Kebiasaan Konsumsi Remaja
4.3.1 Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji Remaja SMA
Berdasarkan tabel 4.2 distribusi frekuensi konsumsi makanan cepat saji bahwa makanan cepat saji yang sering dikonsumsi (3-5 kali seminggu) adalah gorengan (59,8%), bakso (48,3%), dan terbanyak ketiga fried chicken (47,1%).
Sedangkan makanan cepat saji yang jarang dikonsumsi (1-2 kali sebulan) adalah pecal (73,6%).
4.3.2 Asupan Energi
Pola makan remaja dilihat berdasarkan asupan energi dikategorikan menjadi
tiga kategori yaitu lebih (>110% AKG), baik (80-110% AKG), dan kurang (<80%
AKG). Distribusi frekuensi remaja berdasarkan asupan energi dapat dilihat pada tabel
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan Berdasarkan Asupan Energi
Asupan Energi n %
Kurang Baik Lebih
15 63 9
17,2 72,4 10,3
Total 87 100,0
Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi remaja berdasarkan asupan energi pada kategori baik sebanyak 63 orang (72,4%), pada kategori kurang 15 orang (17,2%), sedangkan pada kategori lebih sebanyak 9
orang (10,3%).
4.3.3 Asupan Protein
Pola makan remaja dilihat berdasarkan asupan protein dikategorikan menjadi
tiga kategori yaitu lebih (>110% AKG), baik (80-110% AKG), dan kurang (<80%
AKG). Distribusi frekuensi remaja berdasarkan asupan protein dapat dilihat pada
tabel dibawah ini:
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan Berdasarkan Asupan Protein
AsupanProtein n %
Baik Lebih
64 23
73,6 26,4
Total 87 100,0
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi remaja berdasarkan asupan protein pada kategori baik sebanyak 64 orang (73,6%), pada
4.3.4 Asupan Lemak
Pola makan remaja dilihat berdasarkan asupan lemak dikategorikan menjadi
tiga kategori yaitu lebih (>110% AKG), baik (80-110% AKG), dan kurang (<80%
AKG). Distribusi frekuensi remaja berdasarkan asupan lemak dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan Berdasarkan Asupan Lemak
AsupanLemak n %
Kurang Baik Lebih
12 62 13
13,8 71,3 14,9
Total 87 100,0
Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi remaja
berdasarkan asupan lemak pada kategori baik sebanyak 62 orang (71,3%), pada kategori lebih 13 orang (14,9%), sedangkan pada kategori kurang sebanyak 12
orang (13,8%).
4.3.5 Asupan Karbohidrat
Pola makan remaja dilihat berdasarkan asupan karbohidrat dikategorikan
menjadi tiga kategori yaitu lebih (>110% AKG), baik (80-110% AKG), dan kurang
(<80% AKG). Distribusi frekuensi remaja berdasarkan asupan karbohidrat dapat
dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan Berdasarkan Asupan Karbohidrat
AsupanKarbohidrat n %
Kurang Baik Lebih
24 56 7
27,6 64,4 8,0
Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi remaja berdasarkan asupan karbohidrat pada kategori baik sebanyak 56 orang (64,4%),
pada kategori kurang 24 orang (27,6%), sedangkan pada kategori kurang sebanyak 7 orang (8,0%).
4.4 Aktivitas Fisik Remaja
Aktivitas fisik terdiri dari 3 kategori yaitu aktivitas ringan, aktivitas sedang, dan aktivitas berat. Distribusi aktivitas fisik remaja dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel4.7 Distribusi Frekuensi Aktivitas Fisik Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan
Kategori Aktivitas Fisik n %
Ringan Sedang
79 8
90,8 9,2
Total 87 100,0
Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi aktivitas
fisik remaja pada kategori ringan ada sebanyak 79 orang (90,8%) dan aktivitas fisik remaja pada kategori sedang 8 orang (9,2%).
4.5 Status Gizi Remaja
Penelitian yang dilakukan terhadap 87 remaja di SMA Negeri 1 Padangsidimpuan berdasarkan hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Status Gizi Remaja SMA Negeri 1 berdasarkan IMT/U sebagian besar adalah kategori gemuk sebanyak 40 orang (46%), normal sebanyak 37 orang (42,5%), kurus sebanyak 8 orang (9,2%), dan
obesitas 2 orang (2,3%).
Berdasarkan hasil penelitian dilihat juga distribusi frekuensi status gizi
remaja berdasarkan jenis kelamin. Distribusi frekuensi status gizi berdasarkan jenis kelamin dari 87 remaja adalah sebagai berikut:
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Status Gizi Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Status Gizi
Total Kurus Normal Gemuk Obesitas
n % n % n % n % n %
Berdasarkan tabel 4.9dapat dilihat bahwa remaja yang berstatus gizi gemuk sebagian besar berjenis kelamin laki-laki yaitu 27 orang (56,2%), remaja yang berstatus gizi normal sebagian besar berjenis kelamin perempuan (51,3%). 4.6 Distribusi Status Gizi Berdasarkan Asupan Gizi
Distribusi status gizi berdasarkan asupan energi, protein, lemak, dan
Tabel 4.10 Distribusi Status Gizi Berdasarkan Asupan Energi, Protein,
Berdasarkan tabel 4.10 diketahui bahwa distribusi status gizi remaja
berdasarkan asupan energi pada kategori kurang sebanyak 8 orang (53,3%) memiliki status gizi normal, sedangkan pada kategori baik sebanyak 33 orang (52,4%) memiliki status gizi gemuk dan kategori lebih 7 orang (77,8%) memiliki
status gizi gemuk.
Berdasarkan tabel 4.10 diketahui bahwa distribusi status gizi remaja
Berdasarkan tabel 4.10 diketahui bahwa distribusi status gizi remaja berdasarkan asupan lemak pada kategori kurang sebanyak 6 orang (50,0%)
memiliki status gizi kurus, sedangkan pada kategori baik sebanyak 32 orang (51,6%) memiliki status gizi gemuk dan pada kategori lebih sebanyak 8 orang
(61,5%) memiliki status gizi gemuk.
Berdasarkan tabel 4.10 diketahui bahwa distribusi status gizi remaja berdasarkan asupan karbohidrat pada kategori kurang sebanyak 10 orang (41,7%)
memiliki status gizi normal, sedangkan pada kategori baik sebanyak 29 orang (51,8%) memiliki status gizi gemuk dan pada kategori lebih 5 orang (71,4%)
memiliki status gizi gemuk.
4.7 Sumbangan Asupan Gizi Makanan Cepat Saji Remaja SMA Negeri 1Padangsidimpuan Terhadap Asupan Gizi per hari
Sumbangan asupan gizi makanan cepat saji terhadap asupan energi, asupan
protein, asupan lemak, dan asupan karbohidrat per hari remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan dapat dilihat pada tabel berikut:
77,86gram. Untuk sumbangan asupan gizi makanan cepat saji terendah adalah energi 168,93Kkal, protein 8,11gram, lemak 11,99gram, dan karbohidrat
23,95gram. Untuk sumbangan asupan gizi dari makanan cepat saji tertinggi adalah energi1062,92Kkal, protein 63,39gram, lemak 80,06gram, dan karbohidrat
127,57gram.
Rata-rata sumbangan asupan gizi makanan cepat saji terhadap asupan energi, asupan protein, asupan lemak, dan asupan karbohidrat per hari remaja
SMA Negeri 1 Padangsidimpuan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.12 Distribusi Rata-rata Sumbangan Asupan Gizi Makanan Cepat
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa rata-rata sumbangan asupan gizi makanan cepat saji remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan terhadap asupan gizi per hari
yaitu energi 30,30%, protein 28,08%, lemak 49,18%, dan karbohidrat 28,61%. Untuk sumbangan asupan gizi makanan cepat saji terendah adalah energi 8,05%,
protein 10,67%, lemak 14,63% dan karbohidrat 8,80%. Untuk sumbangan asupan gizi dari makanan cepat saji tertinggi adalah energy 50,65%, protein 83,40%,
4.8 Distribusi Status Gizi Berdasarkan Aktivitas Fisik
Distribusi status gizi berdasarkan aktivitas fisik dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel 4.13 Distribusi Status Gizi Berdasarkan Aktifitas Fisik Aktivitas
Fisik
Status Gizi Total
Kurus Normal Gemuk Obesitas
n % n % n % n % n %
1. Ringan 2. Sedang
6 2
7,6 25,0
31 6
39,2 75,0
40 0
50,6 0,0
2 0
2,5 0,0
79 8
100,0 100,0 Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1
Padangsidimpuan bahwa aktivitas fisik remaja dengan kategori ringan sebanyak 40 orang (50,6%) dengan status gizi gemuk, sedangkan pada kategori sedang
sebanyak 6 orang (75,0%) dengan status gizi normal. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas yang ringan dapat menyebabkan kegemukan karena tubuh kurang
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Kebiasaan Konsumsi Makanan Cepat Saji
Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji yang sering dandalamjumlah
yang banyakmerupakan salah satu faktor risiko terjadinya kegemukandanobesitas. Makanan cepat saji yang tinggi indeks glikemik dan densitas energi dan tidak diseimbangi dengan pengeluaran energi yang cukup menyebabkan obesitas.
(Rosenheck, 2008 dan Rouhani dkk, 2012).Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji dalam penelitian ini digambarkan melalui sumbangan konsumsi (energi,
protein, lemak dan karbohidrat) dan frekuensi konsumsi. 5.1.1 Frekuensi Konsumsi Makanan Cepat Saji
Untuk frekuensi konsumsi makanan cepat saji dapat dilihat bahwa jenis makanan cepat saji yang paling sering dikonsumsi oleh remaja yaitu sebanyak
59,8% mengonsumsi gorengan, 48,3% mengonsumsi bakso dan 47,1% mengonsumsi fried chicken. Sedangkan makanan cepat saji yang jarang dikonsumsi remaja adalah pecal sebanyak 73,6%. Gorengan sangat disukai
banyak orang termasuk remaja karena harganya murah, mengenyangkan,dan ketersediaannya yang mudah diperoleh termasukkantinsekolah. Padahal makanan
ini tidak baik sering dikonsumsi, karena banyak mengandung lemak dan karbohidrat yang secara tidak langsung jika sering dikonsumsi dan dalam jumlah yang banyak akan mengakibatkan kenaikan berat badan dan berbagai penyakit
biladikonsumsidan juga tidak sulit untuk menemukan makanan ini. Remajabiasanyamengonsumsigorenganpada jam istirahatsekolah sebagai
makanan selingan dan terkadang dijadikan sarapan, sedangkanfried chickendanbaksobiasanyadikonsumsipadawaktupulangsekolahdanpulangtambaha
nbelajar. Remajaseringmengonsumsimakanancepatsaji
karenamudahdidapatdanmengenyangkan,
sehinggaremajamalasuntukmembawabekaldarirumah dan lebih memilih untuk
jajan disekolah dan sekitar sekolah.
Berdasarkan penelitian dapat juga kita lihat bahwa makanan cepat saji
yang sering dikonsumsi adalah makanan yang mengandung tinggi lemak dan karbohidrat sedangkan yang jarang dikonsumsi adalah makanan yang tinggi serat sehingga diketahui bahwa remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan kurang akan
asupan serat. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tidak mengonsumsi makanan yang dianjurkan dalam pedoman gizi seimbang. Konsumsi makanan
sehari-hari harusnya sesuai dengan pedoman gizi seimbang yaitu mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Cara menerapkan gizi seimbang adalah dengan
mengonsumsi lima kelompok pangan yaitu makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan dan minuman setiap hari atau setiap kali makan seperti piring
makananku dalam gizi seimbang dengan porsi makanan pokok sama dengan porsi sayuran, porsi lauk-pauk sama dengan porsi buah-buahan, ditambah dengan air mineral dan batasi konsumsi gula, garam dan minyak. Dengan mengonsumsi
mencegah masalah gizi pada remaja. Konsumsi makanan juga harus memperhatikan 4 pilar yaitu keanekaragaman pangan, perilaku hidup bersih, dan
mempertahankan berat badan normal (Kemenkes, 2014).
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami,
mengenai gambaran indeks massa tubuh remaja usia 15-17 tahun yang mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) pola barat di Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah Medan diketahui makanan cepat saji (fast food)yang
paling sering dikonsumsi yaitu ayam goreng (fried chicken) 46 orang (69,7%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tambunan,
mengenai hubungan kebiasaan konsumsi makanan cepat saji (fast food) dengan obesitas pada siswa Kelas V dan VI SD Shafiyyatul Amaliyyah Medan diketahui bahwa jenis makanan cepat saji yang sangat sering dikonsumsi oleh responden
adalah gorengan yaitu sebanyak 52 orang (57,8%) dan sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hasibuan pada remaja putri di SMAN 1 Barumun bahwa makanan
cepat saji yang banyak dikonsumsi adalah gorengan (46,8%).
5.1.2 Distribusi Status Gizi Berdasarkan Asupan Energi, Protein, Lemak dan Karbohidrat
Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa remaja SMA Negeri
1 Padangsidimpuandengan asupan energi harian pada kategori kurang sebanyak 53,3% memiliki status gizi normal, sedangkan pada kategori baik sebanyak 52,4% memiliki status gizi gemuk dan kategori lebih 77,8% memiliki status gizi gemuk.
Berdasarkan penelitian bahwa remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan dengan asupan protein harian pada kategori baik sebanyak 51,6% memiliki status
gizi normal, sedangkan pada kategori lebih sebanyak 17 orang 73,9% memiliki status gizi gemuk. Tidak ada remaja yang asupan protein hariannya kurang. Hal
tersebut menunjukkan konsumsi asupan protein remaja baik dan bahkan sebanyak 26,4% sudah mengonsumsi asupan protein dalam jumlah yng berlebih.
Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa remaja SMA Negeri
1 Padangsidimpuan dengan asupan lemak harian pada kategori kurang sebanyak 50,0% memiliki status gizi kurus, sedangkan pada kategori baik sebanyak 51,6%
memiliki status gizi gemuk dan pada kategori lebih sebanyak 61,5% memiliki status gizi gemuk. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi asupan lemak yang dikonsumsi status gizi remaja cenderung lebih mengalami kegemukan.
Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan dengan asupan karbohidrat harian pada kategori kurang
sebanyak 41,7% memiliki status gizi normal, sedangkan pada kategori baik sebanyak 51,8% memiliki status gizi gemuk dan pada kategori lebih 71,4% memiliki status gizi gemuk. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi asupan
karbohidrat yang dikonsumsi status gizi remaja cenderung lebih mengalami kegemukan.
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa semakin tinggi asupan gizi yaitu asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat yang dikonsumsi oleh remaja menunjukkan status gizi remaja cenderung mengalami kegemukan. Konsumsi
aktivitas fisik ataupun olahraga akan menyebabkan energi dan lemak tersimpan dalam tubuh dan mengakibatkan kegemukan dan obesitas.
5.1.3 Asupan Energi, Protein, Lemak dan Karbohidrat dari Makanan Cepat Saji
Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji yang sering merupakan salah satu faktor risiko terjadinya obesitas. Makanan cepat saji yang tinggi indeks glikemik dan densitas energi dan tidak diseimbangi dengan pengeluaran energi yang cukup
menyebabkan obesitas.Kebiasaan pola makan remaja saat ini seperti makan camilan, melewatkan waktu makan terutama sarapan pagi, waktu makan tidak
teratur, sering makan fast food, dan jarang mengkonsumsi sayur ataupun buah. Hal tersebut dapat mengakibatkan asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan gizi seimbang akibatnya dapat menyebabkan gizi kurang atau gizi
lebih (Irianto, 2014).
Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa rata-rata sumbangan
asupan energi dari makanan cepat saji remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan adalah sebesar 635 Kkal atau sebesar 30,30% dari konsumsi asupan energi hariannya. Untuk rata-rata sumbangan asupan protein dari makanan cepat saji
remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan adalah 21,46 gram atau sebesar 28,08% dari konsumsi asupan protein hariannya.Untuk rata-rata sumbangan asupan lemak
karbohidrat hariannya. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa asupan lemak dan asupan energi dan karbohidrat merupakan penyumbang terbanyak dari makanan
cepat saji dan yang paling sedikit adalah asupan protein. Ini dikarenakan jenis makanan cepat saji yang dikonsumsi seperti gorengan, bakso, dan fried chicken
tergolong mengandung lemak dan karbohidrat yang tinggibila terus menerus
dikonsumsi tanpa disertai dengan olahraga maka akan berdampak negative pada
keadaan gizi remaja yaitu kegemukan dan obesitas dan beresiko terhadap penyakit
degeneratif seperti hipertensi, stroke, diabetes, danseranganjantung.
Remaja yang menyumbangkan asupan energi paling tinggi dari makanan
cepat saji adalah sebesar 1062,92Kkal atau 50,65% dari konsumsi asupan energi sehari. Remaja yang menyumbangkan asupan protein dari makanan cepat saji paling tinggi 63,39 gram atau 83,40% dari konsumsi asupan protein sehari. Untuk
sumbangan asupan lemak paling tinggi 80,06 gram atau 97,65% dari konsumsi asupan lemak sehari dan untuk sumbangan karbohidrat yang paling tinggi 127,57
gram atau 46,87% dari konsumsi asupan karbohidrat sehari. Dapat dilihat bahwa sumbangan asupan protein dan lemak yang paling tinggi dari makanan cepat saji sudah dikategorikan baik dalam anjuran angka kecukupan gizi sehari berarti
hampir seluruh konsumsi asupan gizinya berasal dari makanan cepat saji. Hal ini kemungkinan jikaseringmengonsumsiasupangizienergi, lemakdankarbohidrat
yang
cukuptinggidarimakanancepatsajitanpadiimbangidenganaktivitasfisiksepertiolahra gaakanmengakibatkanpenimbunankaloridanlemakdalamtubuh yang
Penelitianinisejalandenganpenelitian yang dilakukanAryati, Rahayu, danYustinimengenaihubungankonsumsifast food dengankejadianoverweight
padaremaja di smakatolikcendrawasih Makassar, dengan rata-rata asupan energinya 493 Kkal, asupan protein 39,5 gram, asupan lemak 47,1 gram, dan
karbohidrat 80 gram. Makanan cepat sajiumumnya banyak mengandung garam, lemak, dan kalori yang tinggi, yang dapat memicu kenaikan berat badan. Protein yangterkandungdalammakanancepatsajitidakbanyaksehinggamenunjukkantidakad
anyahubunganantaraasupan protein darimakanancepatsajidengan statusgizi.Kemungkinan asupan protein lebihbanyakdidapatdarimakanan yang
bukancepatsaji.
Penelitian inijuga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hasibuan pada remaja putri di SMAN 1 Barumundiketahui bahwa rata-rata kontribusi asupan
karbohidrat 31,7 gram atau sebesar 19,7% terhadap asupan karbohidrat sehari, asupan protein 10,5 gram atau sebesar 25,9% terhadap asupan protein sehari,
asupan lemak 13,1 gram atau sebesar 33,8% terhadap asupan lemak sehari, dan asupan serat 1,3 gram atau 15,0% terhadap asupan serat sehari. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kontribusi lemak paling besar.
Kebiasaan
konsumsimakanancepatsajiremajadilihatberdasarkanfrekuensikonsumsidansumba
nganasupangizinya.Remajamengatakansukamengonsumsimakanancepatsajikarena enak,
Makanan cepat saji banyak mengandung garam, lemak, dan kalori yang tinggi, yang dapat memicu kenaikan berat badan. Selain zat gizinya yang rendah,
makanan cepat saji mengandung zat pengawet yang tidak baik untuk kesehatan. Namun makanan cepat saji (fast food) pada zaman sekarang ini tergolong banyak
diminati oleh sebagian besar orang karena penyajiannya yang cepat dan praktis. Ketersediaannya yang mudah dijangkau di sekitar lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja membuat banyak orang yang gemar
mengonsumsinya.Jikamakananinidikonsumsisecaraterusmenerusdanberlebihan, dikhawatirkanakanberakibatpadaterjadinyapeningkatanberatbadandanpenyakitdeg
enerativesepertijantungkoroner, hipertensi, stroke dan diabetes mellitus. 5.2 Status Gizi
Berdasarkan hasil penelitian status gizi remaja dilihat berdasarkan IMT/U
bahwa terdapat 46,0% remaja dengan status gizi gemuk, 42,5% remaja dengan status gizi normal, 9,2% remaja dengan status gizi kurus, dan 2,3% remaja dengan
status gizi obesitas. Hal tersebut menunjukkan bahwa banyak remaja yang gemuk sejalan dengan data Riskesdas (2013) yang menyatakan bahwa prevalensi kegemukan di Padangsidimpuan 11,7% diatas angka prevalensi nasional 5,7%.
Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi dan aktivitas fisik remaja yang tidak seimbang.
Seperti penelitian yang dilakukan Hasibuan(2014) mengenai perilaku makan fast food dan status gizi remaja di SMAN 1 Barumun bahwa terdapat 50,7% remaja dengan status gizi gemuk dan obesitas, 48,1% dengan status gizi
banyak remaja memiliki berat badan yang berlebih. Kemungkinan besar remaja belum memperhatikan makanan yang dikonsumsi, dimana asupan gizi dari
makanan yang dikonsumsi sudah melebihi anjuran angka kecukupan gizinya dan aktivitas fisik yang dilakukan remaja tidak sesuai dengan asupan gizi yang
dikonsumsi. Asupan gizi yang dikonsumsi melebihi anjuran angka kecukupan gizinya namun aktivitas fisik yang dilakukan ringan dan sedikit sehingga asupan gizi menumpuk ditubuh mengakibatkan berat badan naik. Keadaan ini juga akan
memicu timbulnya masalah-masalah gizi lebih dan berbagai penyakit non infeksi yang sangat berbahaya seperti hipertensi, diabetes melitus, kanker dan stroke.
5.3 Distribusi Status Gizi Berdasarkan Aktivitas Fisik
Menurut penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Padangsidimpuan diketahui bahwa remaja dengan aktivitas fisik ringan sebanyak 39,2% status gizi
normal dan 50,6% status gizi gemuk. Sedangkan remaja dengan aktivitas fisik sedang sebanyak 25% status gizi kurus dan 75% status gizi normal. Hal
inimenunjukkanbahwapararemaja yang gizigemukmelakukanaktivitasfisik yang ringan,sehinggakaloridalamtubuhtidakterbakardanmenumpukmengakibatkankenai kanberatbadan.Aktivitasfisik yang biasadilakukanremajasepertiduduk, jalansantai,
belajar, danjaranguntukmelakukanolahraga karena tidak setiap pelajaran olahraga
remaja melakukan kegiatan olahraga
sertaaktivitasfisikberatlainnya.Ketersediankenderaandankemajuanteknologijugam embuatpekerjaanmenjadilebihmudahdantidakmemerlukankerjafisik yang
ukankegiatanaktivitasfisik, tidakbanyakberjalan kaki dalamjarak yang jauh, menggunakankenderaansebagaialattransportasi,danlebihbanyakmenghabiskanwak
tunyauntukkegiatandalamposisiberdiridiam, ataududuk.
Penelitianinisejalandenganpenelitian yang dilakukanFauyandengan hasil
dari uji chi-square antara aktivitas fisik dengan kejadian overweight menyatakan bahwa ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian overweight p=0,001<0,05 dimanaresponden overweight yang memiliki aktivitas fisik kategori
ringan sebanyak 76,2% dan responden non overweight sebanyak 21,1%.
Remaja yang kurangmelakukanaktivitasfisiksehari-hari,
menyebabkantubuhnyakurangmengeluarkanenergi.Olehkarenaitujikaasupanenergi
berlebihtanpadiimbangiaktivitasfisik yang
seimbangmakaseorangremajamudahmengalamikegemukan.Terjadinyagizilebihsec
araumumberkaitandengankeseimbanganenergi di
dalamtubuh.Aktivitasfisikmerupakansalahsatufaktor yang
dapatmeningkatkankebutuhanenergi.Sehinggaapabilaaktivitasfisikrendahmakake mungkinanterjadinyaobesitasakanmeningkat.Ketimpangandalammasukandanpem akaiankaloridapatdisebabkanbanyakfactorseperti, genetik, metabolik, perilaku,
danlingkungansertaaktifitasfisik.Siswa yang memiliki aktivitas fisik rendah memiliki peluang untuk menjadi obesitas dibandingkan dengan kelompok siswa
dengan aktivitas fisik tinggi (Indriawati & Soraya).
Penelitian ini jugasejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indriawati & Soraya mengenai hubungan konsumsi makanan cepat saji dan aktivitas fisik
rata-rata memiliki aktivitas fisik sedang dan untuk kelompok anak obesitas lebih banyak ditemukan memiliki aktivitas rendah dan sejalan dengan penelitian
Suryaputra dan Nadhiroh (2012) yang dilakukan pada SMA Santa Agnes Surabaya, didapatkan sebagian besar remaja yang memiliki indeks massa tubuh
obesitas memiliki tingkat aktivitas fisik yang ringan.
Penelitian ini juga sejalan dengan penlitian yang dilakukan oleh Sorongan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas aktivitas fisik dengan
status gizi. Aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi karena status gizi seseorang bergantung juga penggunaan zat gizi yang
dikonsumsi dengan cara beraktivitas.Aktivitas fisik yang rendah didukung dengan asupan energi tinggi yang diperoleh dari konsumsi makanan berlebihan, sedangkan keluaran energi rendah yang trakumulasi akan memberikan kelebihan
lemak tubuh yang dapat mengakibatkan obesitas dan dapat membahayakan kesehatan (Witjaksono, 2003 dalam P. Roselly 2008).
Masalahkegemukansaatinibisa disebabkanakibatmakanmelebihikebutuhan, kurangaktivitasfisik, dankarenapengaruhiklanmakanan yang berlebihan. Gaya hidupmasakinijugabisa menyebabkankegemukanyaitupergerakantubuh yang
sedikitdansukamengkonsumsimakancepatsajiseperti burger, pizza, kentanggoringdanlainnya
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat dikemukakan kesimpulan, sebagai berikut :
1. Frekuensi konsumsi makanan cepat saji remaja SMA Negeri 1
Padangsidimpuan yang sering dikonsumsi adalah gorengan (59,8%), bakso (48,3%) , fried chicken (47,1%) dan makanan cepat saji yang
jarang dikonsumsi (1-2 kali sebulan) adalah pecal (73,6%). Makanan yang dikonsumsi lebih banyak mengandung karbohidrat dan lemak, dan
sangat rendah serat.
2. Rata-rata sumbangan asupan energi dari makanan cepat saji remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan adalah sebanyak 635,98 Kkal (30,30%)
terhadap konsumsi asupan energi sehari, asupan protein sebanyak 21,46 gram (28,08%) terhadap konsumsi asupan protein sehari, asupan lemak
sebanyak 40,31 gram (49,18%) terhadap konsumsi asupan lemak sehari, dan asupan karbohidrat sebanyak 77,86 gram (28,61%) terhadap konsumsi asupan karbohidrat sehari.
53,1% dengan aktivitas yang ringan dan juga terdapat status gizi normal sebesar 39,2% dengan aktivitas ringan.
4. Status Gizi Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan berdasarkan IMT/U sebagian besar 48,3% memiliki status gizi gemuk dan obesitas.
6.2 Saran
1. Pihak sekolah diharapkan memberikan pembelajaran tentang pedoman gizi seimbang melalui berbagai kegiatan promosi kesehatan di sekolah untuk
meningkatkan kualitas gizi remaja di sekolah dan juga diharapkan agar aktif melakukan kegiatan olahraga dalam pelajaran pendidikan olahraga
dan jasmani.
2. Kepada Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan lebih memperhatikan makanan sehari-hari termasuk konsumsi makanan cepat saji. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara konsumsi makanan dengan jenis yang beragam dan gizi seimbang dengan porsi sesuai anjuran untuk menghindari
ketidakseimbangan antara zat gizi.
3. Kepada Remaja SMA Negeri 1 Padangsidimpuan lebih memperhatikan aktivitas fisik sesuai dengan asupan gizi yang dikonsumsi sehingga tubuh