• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembentukan Modal Sosial Korporasi Terha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pembentukan Modal Sosial Korporasi Terha"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBENTUKAN MODAL SOSIAL KORPORASI TERHADAP KOMUNITAS DALAM PENGIMPLEMENTASIAN PROGRAM

(Studi kasus: perusahaan ekstraktif MIGAS)

Oleh:

Dwi Anisa Febrianti (110605895)

Departemen Sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia

(2)

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Konflik perusahaan tambang dan migas kian meningkat seiring dari tahun ke tahun. Konflik yang terjadi dipicu oleh eksplorasi lahan baru yang dilakukan oleh perusahaan migas dan pertambangan. Diketahui bersama, bahan tambang dan migas seperti batu bara, emas, bijih besi, minak dan gas merupakan sumberdaya tidak terbaharui, sehingga jika sumber daya tersebut habis, maka perusahaan tambang mencari lahan lain yang memiliki potensi tambang dan migas untuk di eksplorasi. Seperti terlansir pada situs Jaringan Advokasi Tambang, ijin pertambangan yang keluar pada tahun 2012 mencapai 10.235. angka tersebut masih belum termasuk dengan perusahaan migas.

Kemudian pada tahun 2013 angka ijin pertambangan melonjak menjadi 11.000 (jatam.org, 2013). Tingginya angka ijin pertambangan, mengakibatkan eksploitasi besar-besaran yang menimbulkan berbagai konflik antara korporasi dengan masyarakat di sekitar tambang (stakeholder). Eksploitasi besar-besaran antara tahun 2008-2011 melonjak menjadi 500-800% (jatam.org, 2013). Konflik yang terjadi antara korporasi tambang sepanjang tahun 2012-2013 adalah konflik antara suku Karonsie Dongi digusur oleh PT Inco di Sorowako Sulawesi Selatan, ikan-ikan di karamba warga desa Betaua pada mati sejak PT. Ina Touna Mining beroperasi di Tojo Una-una Seulawesi tengah, Newmont dibiarkan membuang 140.000 limbah tailing tambang setiap harinya ke laut Sumbawa NTB, PT Freeport bahkan membuang sedikitnya 200.000 ton perharinya ke sungai Ajkwa di Papua, juga puluhan ribu korban akibat dari kasus PT.Lapindo (jatam.org, 2012).

(3)

Pembentukan modal sosial untuk mengurangi angka konflik merupakan salah satu bentuk tindakan yang dapat dilakukan oleh perusahaan melalui program-program CSR yang berbentuk pemberdayaan masyarakat sekitar tambang dan migas.

Pembentukan modal sosial ini dibutuhkan karena sumber daya itu sendiri melekat pada satu jaringan sosial yang dapat diakses dan dimobilisasi melalui ikatan dalam suatu jaringan (Lin 2001a). Jaringan dalam modal sosial akan mempermudah suatu perusahaan tambang dan migas untuk memperoleh sumberdaya yang mereka butuhkan. Selain itu, dengan membangun jaringan dengan masyarakat sekitar tambang dan migas, diharapkan dapat menurunkan konflik yang terjadi. Pembentukan modal sosial ini, dapat diimplementasikan melalui program-program pemberdayaan yang dibentuk oleh perusahaan, dengan jalan ini maka perusahaan menumbuhkan kepercayaan masyarakat akan keberadaannya. Tidak melulu konflik yang mengiringi berdirinya perusahaan tambang dan migas tersebut, namun juga memberikan dampak positif untuk masyarakat yang ada di sekitarnya.

Selain pembentukan modal sosial melalui program CSR, CSR sendiri juga merupakan hal terpenting yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan, terutama untuk perusahaan ekstraktif. Selain dikarenakan diperlukan dalam kelancaran bisnis, legitimasi sosial, mengurangi konflik dan juga menjaga kerukunan antara korporasi dengan warga sekitar, CSR juga merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan. Hal tersebut seperti yang dikutip dalam sebuah disertasi, sesuai dengan UU No 25 tahun 2007 mengenai penanaman modal, dimana setiap perusahaan wajib untuk melaksanakan tanggung jawab korporasi. Kemudian UU No 40 tahun 2007 Pasal 74 mengenai perseroa terbatas, yang mengatakan bahwa korporasi wajib menjalankan tanggung jawabnya, namun tanggung jawab ini dilakukan bukan sebagai beban. Selain itu, telah disahkannya ISO 26000 yang mana tertulis bahwa perusahaan wajib melaksanakan tanggung jawab korporasinya.

(4)

sekitar perusahaan tersebut. Sehingga pembangunan relasi sangat dibutuhkan. Diantara banyaknya perusahaan atau korporasi yang sering berkonflik dengan komunitas lokal di sekitar pertambangan, masih terdapat pula perusahaan-perusahaan ekstraktif yang dapat dengan baik membangun relasi dengan komunitas lokal. Dari relasi yang baik, maka perusahaan bisa mendapatkan legitimasi sosial dari komunitas lokal, yang berguna untuk melancarkan kegiatan bisnis. Sedangkan bagi masyarakat atau komunitas lokal, kehadiran perusahaan juga menguntungkan mereka, karena mereka memperoleh program-program CSR yang memberdayakan mereka, meningkatkan standar hidup mereka dan memberikan bantuan baik secara ekonomi, pendidikan, bahkan kesehatan.

Berdasarkan topik yang dibahas sebelumnya, terdapat beberapa penelitian sebelumnya yang kurang lebih memiliki bahasan yang sama dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis. Penulis akan mengelompokkan setiap literature yang terkait berdasarkan perspektif apa yang menjadi acuan literature tersebut. Literature dibagi menjadi beberapa perspektif. Yang pertama adalah perspektif structural fungsional yaitu literature mengenai motivasi dan implementasi program corporate social responsibility PT. Unilever Indonesia. Literature ini dikelompokkan kedalam perspektif structural fungsional, dikarenakan tujuan dalam penulisan ini melihat bagaimana PT. Unilever ini sendiri menjalankan CSRnya untuk menjadi corporate citizen berbasis kemitraan koperasi melalui petani serta perempuan petani kedelai hitam. Disamping PT. Unilever membuat kemitraan dengan koperasi dapat memperoleh akses ke pasokan kedelai hitam yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi, disisi lain, para petani perempuan juga memperoleh keuntungan dengan adanya pemberdayaan yang dilakukan oleh PT. Unilever ini sendiri. Kemudian tulisan keddua yang dikelompokkan kedalam perspektif structural fungsional adalah tulisan mengenai Implementasi CSR terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat. Dalam tulisan ini terlihat sekali bahwa perusahaan membuat program CSR tidak hanya untuk memajukan perusahaan dan membangun citra yang baik, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan stakeholdernya melalui penerapan berbagai program yang dilaksanakan. Program yang dilakukan antara lain pada bidang kesehatan, pendidikan, kemiskinan, sosial, agama, infrastruktur, dan lingkungan hidup. Penerapan program tersebut membawa pengaruh baik dan positif terhadap peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat.

(5)

Kalimantan Timur mengimplementasikan program peduli pendidikan dalam rangka membentuk citra perusahaannya. Disisi lain, warga di sekitar perusahaan pupuk tersebut tidak dengan keseluruhan memperoleh dampak positif dari keberadaan perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan yang kurang komunikatif dalam menyebarkan informasi mengenai program pendidikan yang dijalankan. Tulisan yang menggunakan perspektif ini juga yaitu tulisan yang berjudul Analisis Sosiologis Terhadap Implementasi CSR pada Masyarakat Indonesia. dimana pada tulisan ini dikatakan bahwa CSR sebagai program sosial telah memberikan banyak kontribusi dalam menangani berbagai macam permasalahan sosial yang ada di masyarakat sekitar perusahaan. namun dalam perlaksanaannya masih terdapat banyak kendala. Salah satunya adalah keabsahan CSR di mata hukum dan tidak adanya regulasi yang jelas mengenai CSR itu sendiri.

Perspektif yang ketiga adalah perspektif konflik. Tulisan berjudul Implementasi CSR sebagai Modal Sosial pada PT. Newmont. Pada tulisan ini terlihat bahwa pembentukan modal sosial oleh PT.Newmont melalui berbagai program dibidang pendidikan, infrastruktur, perbaikan kesehatan dan lain sebagainya berjalan baik. Namun sangat disayangkan karena ketidakpercayaan masyarakat akan PT. Newmont meningkat yang terkait dengan eksplorasi daerah Dodo yang merupakan daerah tempat dimakamkannya nenek moyang dan leluhur mereka. Selain itu muncul pula berbagai tuntutan dari para nelayan disekitar PT. Newmont yang menklaim ikan hasil tangkapan mereka menjadi berkurang sejak kemunculan PT. Newmont di daerah mereka.

Berdasarkan perspektif penulisan beberapa literature yang telah dipaparkan diatas, peneliti akan menggunakan perspektif structural fungsional hal ini terkait dengan tujuan penelitian yang ingin melihat relasi antara korporasi dengan stakeholder. Dimana relasi yang terbangun nantinya akan terdapat hubungan timbal balik dan antara korporasi dengan stakeholder saling memiliki fungsi satu sama lain yang membuat mereka menjadi terkait.

I.2.Permasalahan

(6)

yang sudah sangat baik, mengingat tulisan ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar magister. Namun, terdapat beberapa kekurangan, yaitu peneliti hanya melihat sebatas motivasi dari PT. Unilever dalam menjalankan program P3KHnya saja. Kemudian bagaimana pengimplementasian programnya, hanya dilihat berdasarkan apakah program yang dilakukan oleh PT. Unilever ini masuk kedalam kategori charity, philantrophy, dan citizenship saja. Penulis tidak membahas mengenai bagaimana proses yang dilakukan oleh PT. Unilever dalam melakukan pendekatan untuk memuluskan jalannya program yang telah dilakukan. Selain itu, penulis juga tidak membahas bagaimana social capital antara PT. Unilever dengan para petani perempuan dibangun. Padahal social capital merupakan hal yang penting dalam menjalankan program CSR.

Kemudian pada tesis kedua yang berjudul Implementasi Kegiatan Coorporate Social Responsibility dalam Membentuk Reputasi Perusahaan. Tulisan ini berisikan mengenai bagaimana perusahaan membentuk reputasinya di mata stakeholder, dengan memberlakukan program CSR dibidang pendidikan. Program tersebut sudah berjalan dengan baik dan perusahaan. Menurut saya, tulisan ini kurang berguna untuk para penerima bantuan program CSR dari PT. Pupuk Kalimantan Timur, terlihat bahwa program ini tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya. Seperti kurangnya komunikasi dan kurangnya publikasi mengenai program ini kemasyarakat setempat, memperlihatkan bahwa program ini kurang matang dalam persiapannya.selain itu, sebaiknya penulis melihat sisi lain seperti tanggapan dari berbagai masyarakat sekitar yang kiranya tidak memperoleh informasi mengenai program tersebut. sehingga data yang dihasilkan menjadi lebih kaya.

(7)

metode kuantitatif. Dimana peneliti menyebarkan kuesioner untuk memperoleh data valid mengenai kesejahteraan sosial di masyarakat. Menurut penulis, sebaiknya penelitian ini akan lebih baik jika dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, sehingga hasil yang didapat akan lebih menggambarkan kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya. Dengan menggunakan kuesioner, bisa saja responden tidak menjawab pertanyaan yang disajikan dengan keadaan yang sebenarnya atau bisa saja direkayasa demi kepentingan perusahaan tersebut.

Tulisan yang terakhir berjudul Analisis Sosiologis Terhadap Implementasi Coorporate Social Responsibility Pada Masyarakat Indonesia. Tulisan ini berisikan tentang, CSR yang telah memberikan banyak kontribusi dalam menyelesaikan berbagai permasalah sosial. Dalam pengimplementasiannya, CSR menghadapi berbagai macam halangan dan rintangan. Namun, CSR ini masih belum memiliki hukum yang jelas, walaupun begitu CSR sendiri dapat meningkatkan semangat kebersamaan dalam berbagai komunitas yang berbeda. Seharusnya tulisan ini juga berbicara mengenai modal sosial yang dibangun oleh korporasi sehingga memperoleh legitimasi dari masyarakat disekitar perusahaan, karena hal tersebut sangat sosiologis sekali untuk dibahas. Selain itu, saat ini CSR telah memiliki hukum yang jelas sebagai kewajiban bagi perusahaan. seperti misalnya saja disahkannya ISO 26000 dan juga UU No 40 tahun 2007 Pasal 74 mengenai kewajiban korporasi untuk melakukan tanggung jawab korporasi.

Dari beberapa hasil studi literature diatas, terdapat satu studi literature yang dirasa mendukung topic penelitian yang penulis ambil. Yaitu tulisan yang berjudul Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai Modal Sosial Pada PT. Newmont. Tulisan tersebut berisikan untuk mengetahui penerapan CSR yang sesuai dengan visi perusahaan dan pasal 74 UU No. 40 tahun 2007 dan juga untuk mengetahui kendala-kendala apa saja yang diperoleh dalam pengimplementasian program CSR. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PT. Newmont melakukan sejumlah program dalam pengimplementasiannya. Namun sayangnya ketidakpercayaan warga semakin meningkat dan munculnya persepsi buruk yang muncul akibat dari pencemaran yang dilakukan oleh PT. Newmont.

(8)

memperoleh legitimasi sosial dari masyarakat setempat. Sedangkan pada perusahaan migas yang akan diteliti oleh penulis, hubungan antara masyarakat disekitar pertambangan migas dengan perusahaan terjalin dengan baik. Dengan kata lain, keberhasilan pembengunan modal sosial dapat terlihat.

Berdasarkan uraian diatas, penulis dapat menarik hipotesa, bahwa perusahaan yang akan penulis teliti telah membangun modal sosial terhadap komunitas setempat dengan baik. Sehingga kehadirannya dirasa mampu mengatasi beberapa permasalahan sosial yang muncul di masyarakat sekitar perusahaan. Selain itu, perusahaan juga mampu membangun modal sosial dengan komunitas lain seperti kementrian pendidikan dalam mengimplementasikan program yang akan dilaksanakan. Berdasarkan permasalahan diatas, dapat terlihat bahwa dari sekian banyak perusahaan ekstraktif yang melakukan program CSR namun banyak korporasi yang tidak dapat berdamai dengan para stakeholder. Salah satu perusahaan tempat penulis akan teliti justru sebaliknya. Korporasi tersebut justru dapat membangun modal sosial dengan stakeholdernya dengan baik. Dan dari berbagai sumber belum ada konflik yang terjadi. Hal tersebut memunculkan pertanyaan, yaitu bagaimana pembentukan modal sosial sehingga tidak sampai terjadi konflik antara perusahaan ekstraktif terkait dengan para stakeholder.

Berdasarkan hasil penelitian-penelitian sebelumnya, belum ada penelitian yang membahas mengenai pembentukan modal sosial. Penulis mencoba mengisi kekosongan-kekosongan yang ada dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Penulis akan berfokus pada pembentukan modal sosial melalui pengimplementasian program. Penelitian sebelumnya lebih banyak membahas mengenai implementasi program dan melakukan evaluasi program yang telah dibuat oleh suatu perusahaan. apakah program tersebut telah sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh stakeholder atau belum. Namun belum banyak yang melihat, sebenanya dalam melakukan implementasi program sendiri, dibutuhkan relasi yang terbangun dengan baik antara korporasi dengan stakeholder. Yang membuat program dapat berjalan dengan baik dan menghindari kemungkinan-kemungkinan terjadinya konflik.

I.3. Tujuan Penelitian

(9)

I.4. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut:

a. Bagaimana upaya pembentukan modal sosial melalui implementasi program dilakukan?

I.5. Kerangka Konseptual

Berikut beberapa konsep yang digunakan dalam menganalisis permasalahan dalam penelitian ini:

a. Modal Sosial

Modal sosial sendiri merupakan sumber daya yang melekat pada sebuah jaringan sosial. Sumber daya tersebut dapat di akses atau dimobilisasi melalui ikatan dalam jaringan (Lin 2001, dalam Hand Book of Social Capital: Chapter 2). Melalui relasi sosial atau melalui jaringan sosial, actor dapat meminjam atau merebut sumber daya dari actor lain. Modal sosial merupakan satu kesatuan dengan jaringan sosial. Dimana jaringan memiliki kondisi yang dibutuhkan untuk mengakses dan menggunakan sumber daya yang melekat. Tanpa jaringan, maka tidak mungkin untuk mengambil sumber daya yang melekat tersebut. Jaringan yang terbuka akan memberikan fasilitas akses yang lebih baik atau memiliki sumber daya yang lebih bervariasi.

b. Corporate Social Responsibility (CSR)

CSR atau tanggung jawab korporasi secara sosial merupakan korporasi berkewajiban untuk turut menciptakan kesejahteraan salam masyarakat, sekaligus secara bersamaan membangun relasi saling mendukung antara korporasi dengan masyarakat sekitarnya (Dennis, 2007; Freeman, 2005; Bartkus, 2002; Kotler, 2005; Saiia, 2003 dalam Prayogo, 2013). Korporasi pada industry tambang dan migas dituntut untuk memiliki tanggung jawab yang lebih dari sekedar kepedulian terhadap masyarakat, utamanya masyarakat sekitar operasi tambang, karena sifat industrinya yang eksploitatif terhadap sumber alam dan ekologi local. Korporasi dituntut untuk melakukan tindakan nyata dan langsung yang dpat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, utamanya di sekitar lingkungan sosialnya (Prayogo, 2013).

(10)

Ackerman, Implementasi Program CS terdiri dari tiga tahap (Anderson, 20:1989, dalam Laksana 36:2012):

Tahap 1: Tahap komitmen, yaitu tahap dimana tom management menyadari pentingnya keterlibatan dan tanggung jawab perusahaan terhadap permasalahan atau isu tertentu dan kemudian mengeluarkanpernyataan kebijakan terkait hal tersebut.

Tahap 2: Tahap pembelajaran, yaitu tahap pengumpulan data, analisa dan evaluasi oleh manajemen.

Tahap 3: Tahap Institusionalisasi, yaitu tahap dimana program diturunkan kepada lini organisasi untuk dijalankan, tahap penggunaan sumber daya perusahan, pengkomunikasian program dan evaluasi program.

Implementasi program merupakan langkah konkret menerapkan program kegiatan yang telah dirumuskan. Dalam implementasi CSR kegiatan tambang khususnya, implementasi program sebaiknya dilakukan sebelum proses konstruksi dilakukan. Hal ini demikian karena korporasi perlu memperkenalkan jati dirinya sebelum melakukan operasi tambang agar dapat diterima oleh masyarakat. Pendekatan korporasi terhadap masyarakat, menentukan legitimasi sosialny, yang kemudian menentukan sikap masyarakat terhadap keberadaan kegiatan tambang (Prayogo, 191: 2013).

I.6. Tinjauan Pustaka

I.6.1. Implementasi Program CSR

Tesis yang pertama berbicara mengenai motivasi dan implementasi program CSR PT. Unilever Tbk. Implementasi program CSR yang dibuat melalui kebijakan, diambil berdasarkan DNA Unilever yaitu bisnis bukan hanya sekedar bisnis semata, melainkan adanya jiwa social entrepreneur. PT. Unilever ini membuat suatu program pengembangan petani kedelai hitam (P3KH). Program ini merupakan salah satu jalan pembentukan modal sosial PT Unilever. Dengan dibentuknya program ini, maka PT. Unilever telah memberdayakan masyarakat terutama wanita petani kedelai hitam. Dengan dibentuknya program ini, kepercayaan masyarakat yang menjadi stakeholder PT. Unilever diharapkan akan semakin kuat. Dimana PT Unilever selalu melakukan pendekatan-pendekatan secara emosional untuk menghidupkan trust masyarakat.

(11)

Karena mereka memiliki tempat untuk menjual kedelainya dan tidak perlu bersusah payah mencari market. Kemudian, pendapatan para petani wanita ini menjadi lebih jelas. Hal ini dikarenakan system harga yang ada tidak berdasarkan kendali dari tengkulak kedelai hitam, sehingga harga dari kedelai hitam tersebut stabil. Implementasi kebijakan bisnis CSR ini, memberikan peningkatan secara ekonomi untuk komunitas petani kedlai beserta keluarga. Dan mereka, para epetani kedelai, memperoleh pelatihan-pelatihan yang kemudan akan menguntungkan mereka. Mereka memperoleh skill tambahan karena adanya program pelatihan, dan skill tersebut akan terus berguna walaupun PT Unilever tidak lagi memberdayakan masyarakat tersebut. Sebagian besar penerima manfaat P3KH memberikan nilai positif terhadap korporasi tersebut, karena telah memberikan suntikan moral untuk lebih berdaya dalam meningkatkan kesejahteraan mereka

(12)

adalah program perbaikan habitat laut minahasa, berupa prakarsa dan pendanaan. Dalam perjalanannya PT Newmont dapat dengan baik membentuk modal sosial dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat sekitar, namun sejak terjadinya kasus pembuangan limbah ke laut yang menyebabkan nelayan merugi akibat hasil tangkapan berkurang, dan adanya eksplorasi pertambangan di daerah Dodo yang merupakan tempat bersemayamnya nenek moyang masyarakat sekitar, kepercayaan wargapun menjadi hilang.

Kemudian tulisan yang berjudul Implementasi CSR terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat. Pada tulisan ini, pembentukan modal sosial tercermin dari komitmen perusahaan untuk memperoleh kesejahterraan hidup bagi para stakeholdernya. PT Batamindo memiliki indicator kesejahteraan berdasarkan pada peningkatan kesehatan, pendidikan dan aktivitas perekonomian. Pendekatan yang dilakukan oleh PT Batamindo dalam membangun modal sosialnya adalah dengan berfokus pada nilai-nilai local. Yang terakhir adalah tulisan yang berjudul Analisis Sosiologis terhadap Implementasi CSR pada Masyarakat Indonesia. Dalam membentuk modal sosialnya, program CSR dari perusahaan menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial yang ada di masyarakat, seperti kesempatan bekerja, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan lingkungan. Walaupun mampu membangun modal sosial dengan baik kepada para stakeholdernya, perusahaan-perusahaan yang menjalankan program CSR masih terkendala dengan hukum dan hak asasi manusia. Karena pada masa tersebut, belum ada penetapan hukum mengenai kewajiban melakukan CSR.

I.7. Delimitasi dan Limitasi Penelitian

Limitasi dalam penelitian ini pertama menyangkut masalah lokasi penelitian yang sulit dijangkau. Dikarenakan lokasi stakeholder yang berada di daerah kepaluan seribu yang menjadikan peneliti sulit untuk pergi kesana. Kendala keadaan alam salah satunya. Yaitu cuaca yang tidak menentu dan ombak yang tinggi menjadikan peneliti tidak dimungkinkan untuk mendatangi lokasi tersebut. Selain itu, pihak korporasi yang tidak memberikan informasi secara keseluruhan juga menjadi hambatan dalam melakukan penelitian ini. Kemudian keterbatasan waktu, dimana penelitian yang dilakukan hanya beberapa hari saja. Sehingga data yang dikumpulkan menjadi kurang maksimal dan mendalam.

(13)

I.8. Signifikansi Penelitian

a. Signifikansi Secara Akademis

Penelitian ini merupakan salah satu bentuk penerapan dari beberapa mata kuliah yang telah dijalani selama enam semester ini, terutama mata kuliah kualitatif. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran berupa pembentukan social capital dari korporasi terhadap stakeholder yang mampu meredam terjadinya koflik dan menguntungkan kedua belah pihak. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam ilmu sosial yang dapat dipertimbangkan, terutama dalam bidang CSR. dapat pula untuk menambah kekosongan dalam penelitian-penelitian sebelumnya yang lebih banyak berokus pada implementasi program. Sehingga dapat menambah hal baru terkait dengan CSR.

b. Signifikansi Praktis

(14)

BAB II

STRATEGI PENGUMPULAN DATA

II.1. Asumsi dan Rasionalisasi Pendekatan Kualitatif

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakanmetode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang –oleh sejumlah individu atau sekelempok orang – dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan (Creswell, 2010). Metode penelitian ini mengumpulkan data lapangan dimana masalah atau isi akan diiteliti. Informasi atau data dikumpulkan melalui berbicara secara langsung atau melakukan interview, wawancara, dokumentasi dan observasi perilaku informan yang akan diteliti. Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti mempelajari makna yang disampaikan oleh informan mengenai permasalah dan isu penelitian, bukan makna yang dibangun sendiri oleh peneliti. Data penelitian ini diambil dari berbagai informan, tidak bertumpu pada satu informan saja. (creswell 261-262, 2010)

Tujuan dasar atau rasionalisasi dalam penelitian kualitatif ini adalah dalam rangka untuk mengetahui dan menjelaskan pembentukan modal sosial yang dilakukan oleh korporasi melalui program-program yang telah dibuat, untuk diimplementasikan kepada stakeholder. Dimana dengan program-program tersebut, hubungan antara korporasi dan stakeholder dapat terjalin dengan baik. Hal tersebut dapat memudahkan korporasi untuk memperoleh legitimasi sosial dan juga memudahkan korporasi dalam mengambil sumber daya alam yang berada di sekitar stake holder, atau bahkan milik stakeholder tersebut. Namun, korporasi harus memberikan timbal balik atas sumber daya yang diambil dari stakeholder. Seperti dengan cara memberdayakan masyarakat sekitar korporasi, sehingga masyarakatnya menjadi lebih mandiri.

II.2. Tipe Penelitian

(15)

suatu program CSR yang diimplementasikan oleh korporasi dalam angka membentuk modal sosial. Modal sosial yang didapatkan, digunakan untuk memperoleh sumber daya yang dibutuhkan oleh korporasi.

II.3. Peran Peneliti

Penelitian kualitatif merupakan penelitian interpretif, yang didalamnya peneliti harus terlibat dalam pengalaman yang berkelanjutan dan terus-menerus dengan partisipan. Keterlibatan ini nantinya akan memunculkan serangkaian isu-isu strategis, etis, dan personal dalam proses penelitian kualitatif (Locke et al, dalam Creswell, 2010).

Dalam penelitian ini, hubungan peneliti dengan partisipan atau informan hanyalah sebatas hubungan peneliti dan informan saja. Dengan kata lain, hubungan yang terjalin hanyalah hubungan biasa saja. Lokasi penelitian yang dilakukan oleh peneliti sendiri yang pertama di korporasi yang terkait dengan penelitian ini dan juga di salah satu pulau di kepulauan seribu juka hal tersebut memungkinkan untuk dilakukan.

II.4. Prosedur Pengumpulan dan Argumentasi

(16)

Daftar Pustaka

Prayogo, Dody. 2013. Socially Responsible Corporation: Peta Masalah, Tanggung Jawab Sosial dan Pembangunan Komunitas pada Industri Tambang dan Migas Indonesia. UI Press: Jakarta.

Prayogo, Dody. 2013. Konflik antara Korporasi Dengan Komunitas Lokal: Sebuah Kasus Empirik pada Indusri Geotermal di Jawa Barat. UI Press: Jakarta

Lin, Nan. 2008. The Handbook of Social Capital: A Network Theory of Social Capital. Oxford University Press: New York

Creswell, John W. 2010. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Kamal, Miko. CSR Tidak Lagi Wajib.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt502d8a41c9e04/csr-tidak-lagi-wajib-broleh--miko-kamal--phd. Diakses pada tanggal 18 Februari 2014, Pukul 17:53

Anonym. Social Responsibility. http://www.iso.org/iso/iso26000. Diakses pada 18 Februari 2014, Pukul 12:53

Asy’ari, Hasan. 2009. Implementasi Corporate Social Responsibility (CSR) Sebagai Modal Sosial pada PT. Newmont. http://eprints.undip.ac.id/17529/. Diunduh pada 17 Februari 2014, Pukul 21:26

Mapisangka, Andi. 2009. Implementasi CSR terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat. fe.um.ac.id/wp-content/uploads/2009/09/ANDI_M-CSR1.pdf. Diunduh pada 17 Februari 2014, Pukul 21:36

Siregar, Chairil N. 2007. Analisis Sosiologis terhadap Implementasi Corporate Social Responsibility pada Masyarakat Indonesia. journal.fsrd.itb.ac.id. Diunduh pada 18 Februari 2014, Pukul 12:38

Habibi, Muhammad. 2012. Motivasi dan Implementasi Program Coorporate Social

Responsibility PT. Unilever Indonesia. lontar.ui.ac.id. Diunduh pada 18 Februari 2014, Pukul 20:21

(17)

Anonym. 2012. HATAM (Hari Anti Tambang) 29 Mei 2012.

http://www.jatam.org/component/content/article/30-2012/150-hatam-hari-anti-tambang-2012.html. Diakses pada 24 Maret 2014, Pukul 20:53

Anonym. 2012. Dukungan Peringatan Hari Tanpa Tambang (HATAM) - 29 Mei 2012. http://www.jatam.org/saung-pers/siaran-pers/156-dukung-peringatan-hari-anti-tambang-hatam-29-mei-2012.html. Diakses pada 24 Maret 2014, Pukul 20:53

(18)

Lampiran a. Panduan wawancara mendalam

1. Bagaimanakah pendekatan yang dilakukan korporasi kepada stakeholder? 2. Bagaimanakah cara membentuk program yang akan diimplementasikan oleh

CSR?

3. Apa sajakah Program-program yang dibentuk oleh CSR perusahaan? 4. Bagaimana korporasi mengimplementasian program yang telah dibentuk? 5. Sejak kapan program tersebut diimplementasikan?

6. Apakah korporasi melakukan perbaikan program?

7. Bagaimanakah hubungan antara korporasi dengan stakeholder saat ini?

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat tiga model pembentukan modal sosial yang di kembangkan oleh HIMPPAR, yaitu membuat atau menciptakan perekat sosial yang mengikat para anggota HIMPPAR, membuat

Sehingga dapat disimpulkan bahwa modal sosial yang terbentuk dari petisi online ini lebih cocok untuk difusi informasi, dan menjadi salah satu alternati bentuk

Jaringan sosial dalam menjalankan program Coorporate Social Responsibility (CSR) yang saling berhubungan dalam kerja sama ada tiga yang, jaringan sosial antara CSR dengan

Dalam konteks terjadinya konflik sosial, disamping instrument PDNA (DALA dan HRNA), pengukuran terhadap kerugian non-materiil dalam bentuk rusaknya modal sosial dalam berbagai

Dalam konteks terjadinya konflik sosial, disamping instrument PDNA (DALA dan HRNA), pengukuran terhadap kerugian non-materiil dalam bentuk rusaknya modal sosial dalam berbagai

Kelompok nelayan Berkah Bahari memiliki bentuk–bentuk modal sosial berupa kepercayaan / hubungan saling percaya, pranata, dan jaringan sosial yang baik dalam tataran individu

Pertama, Pasar Rakyat Pesantren Sebagai Modal Sosial yang diwujudkan dengan Bentuk integritas dan komiten dalam membangun ekonomi bangsa yang dilakukan oleh Pesantren Al Mumtaz salah

Seperti modal fisik dan modal manusia, modal sosial tidak sepenuhnya dapat ditukar, tetapi dapat ditukar terkait dengan aktivitas-aktivitas tertentu.. Bentuk modal tertentu yang