A. Latar Belakang
Pesatnya perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi dalam bidang pendidikan merupakan langkah berbagai pihak untuk dapat melakukan kegiatan belajar mengajar yang efektif dengan mengoptimalkan berbagai keadaan-keadaan dinamis pembelajaran berupa sarana dan prasarana belajar, kemampuan pemahaman materi belajar dan pendekatan belajar yang sesuai dengan karakter pembelajaran, sehingga dalam hal ini, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif, efisien dan mengena pada tujuan yang diharapkan dengan menguasai teknik-teknik penyajian pembelajaran atau biasanya disebut metode mengajar.
Pendidikan pada prinsipnya adalah upaya mengembangkan potensi-potensi dasar yang dimiliki oleh peserta didik dan setiap siswa berhak memperoleh peluang yang sama untuk mencapai kinerja akademik yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan intelektual, fisik, latar belakang siswa, kebiasaan dan pendekatan belajar.
Table 1.1: Nilai Tengah Semester I (ganjil) Mata Pelajaran Fisika VII pada SMPN 5 Kota Bima.
No PelajaranTahun Kelas KKM Rata-rata TuntasTidak Tuntas KetuntasanPersentase Tidak TuntasPersentase
1 2010/2011 VIIA 65 56,7 orang14 orang16 53,3% 46,7% VII B 65 52,0 12
orang orang20 62,5% 37,5%
2 2011/2012 VII A 65 60,3 orang15 orang17 48,6% 51,4% VII B 65 62,3 13
orang orang22 62,9% 37,1%
Sumber : Data Guru Mata Pelajaran Fisika Semester I SMPN 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014.
Dari data di atas dapat terlihat bahwa hasil hasil belajar siswa kelas VII A khususnya mata pelajaran fisika relatif rendah. Hal ini dapat di lihat nilai rata – rata tengah semester kelas VII A tahun ajaran 2011/2012 SMPN 5 Kota Bima 60,3 dan hasil ketuntasan mencapai 51,4%. Selain itu, ternyata yang di temui di SMP Negeri 5 Kota Bima adalah masih banyak guru menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah). Siswa hanya mendengar dan mencatat. Alasan menggunakan pembelajaran konvensional yang di kemukakan oleh beberapa sumber informasi (guru) antara lain terbenturnya oleh waktu tatap muka di kelas, kesulitan untuk menyusun bahan pelajaran yang menggunakan pendekatan yang menarik, sarana dan prasarana yang kurang mendukung. Dengan alasan tersebut guru lebih memilih metode ceramah dari pada metode lain.
mencatat. Sedangkan hasil belajar dapat di lihat dari nilai tengah semester siswa pada mata pelajaran fisika kelas VII A SMPN 5 Kota Bima yang hanya memiliki nilai rata-rata 60,3 sehingga hasil belajar siswa dikatakan rendah.
Penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak melibatkan siswa secara penuh dalam kegiatan belajar mengajar sangat mempengaruhi aktivitas dan prestasi belajar yang dicapai siswa SMP kelas VII.
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan oleh guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar adalah pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) yaitu pendekatan yang memfokuskan siswa pada masalah, pertanyaan-pertanyaan dan pada hal-hal yang tidak diketahui siswa. Hal ini, berarti para siswa mencari jawaban dan penjelasan mengenai masalah yang dihadapinya, sehingga para siswa dihadapkan pada berbagai pertanyaan-pertanyaan dan masalah baru. Dengan penggunaan pendekatan sains, para siswa mencari informasi dan menggunakannya, siswa dapat menghubungkan studi sains mereka dengan kehidupan siswa sehari-hari, selain itu siswa dapat terlibat dalam memecahkan isu-isu sosial, mereka melihat relevansi dari studi sains mereka untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai warga negara.
siswa pada masalah, dan mencari jawaban, rasa keingintahuan serta penjelasan dari masalah itu sendiri, maka dengan sendirinya akan meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar. Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas penggunaan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dalam meningkatkan aktifitas dan
prestasi belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran fisika di SMPN 5 Kota
Bima Tahun Pelajaran 2013/2014”.
B. Identifikasi Masalah
Permasalahan yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini adalah: 1. Pelaksanaan proses belajar mengajar, siswa tidak begitu bergairah
dalam menerima pelajaran. Hal ini terlihat dari rendahnya aktifitas belajar siswa serta minimnya partisipasi siswa dalam pembelajaran. 2. Rendahnya prestasi belajar karna kurangnya partisipasi siswa dalam
belajar.
3. Pendekatan pembelajaran yang relatif kurang menarik yang dilakukan oleh guru.
4. Penggunaan Metode pembelajaran konvensional atau ceramah. C. Batasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas peneliti membatasi masalah pada point 1, 2 dan 3 yaitu :
2. Rendahnya prestasi belajar karna kurangnya partisipasi siswa dalam belajar
3. Pendekatan pembelajaran yang relatif kurang menarik yang dilakukan oleh guru.
D. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam penelitian ini yaitu : 1. Apakah efektif penggunaan pendekatan Sains
Teknologi dan Masyarakat (STM) dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa kls VII A pada mata pelajaran fisika di SMPN 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014.
2. Apakah efektif penggunaan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII A pada mata pelajaran fisika di SMPN 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014.
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penilitian antara lain :
1. Untuk mengetahui peningkatan aktifitas belajar siswa kelas VII A melalui efektifitas pendekatan Sains Teknologi dan masyarakat (STM) pada Mata Pelajaran Fisika di SMP SMPN 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014. 2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa kelas VII A melalui
F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat memberi informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan tentang mengetahui Efektivitas penggunaan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dalam meningkatkan aktifitas dan prestasi belajar siswa kelas VII A pada mata pelajaran fisika di SMPN 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa yaitu Pembelajaran fisika terasa menarik, bermakna dan tidak membosankan sehingga siswa menjadi lebih kritis dan aktif belajar. Selain itu diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran fisika di sekolah.
b. Bagi guru yaitu membantu dalam mengatasi kesulitan mengajarkan konsep-konsep fisika di SMPN 5 Kota Bima dengan menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi.
c. Bagi lembaga-lembaga terkait, dapat digunakan sebagai tolak ukur dan pertimbangan dalam mengambil kebijakan untuk menunjukan pendidikan di indonesia.
G. Definisi Operasional
1. Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)
berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Adapun langkah-langkah guru dalam menggunakan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) yaitu:
a. Guru mengemukakan isu atau masalah aktual yang ada. b. Melaksanakan pembelajaran menggunakan strategi tertentu.
c. Konsep yang telah dipahami siswa digunakan untuk menyelesaikan masalah.
d. Guru memberikan pemantapan konsep. e. Melaksanakan evaluasi.
2. Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar merupakan sebuah frase yang terdiri dari dua kata yaitu aktivitas dan belajar. Aktivitas adalah kegiatan yang ditimbulkan oleh situasi sedangkan belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.
Aktivitas belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kegiatan-kegiatan siswa dalam belajar menggunakan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) yang dapat diketahui berdasarkan hasil observasi.
Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari akibat aktivitas dalam belajar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori 1. Belajar
Menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan (Hamalik,2011 :13). Belajar juga dapat diartikan sebagai bentuk pertumbuhan atau perubahan dari diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku serta pengalaman dan latihan. Menurut Jage, belajar adalah sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya akibat dari pengalaman, sedangkan menurut pandangan Skinner, belajar merupakan suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara bertahap (Sagala, 2003: 56). Jadi belajar adalah suatu proses perubahan prilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.
Adapun macam-macam teori belajar adalah sebagai berikut: a. Menurut Teori Disiplin Mental
Belajar adalah mengusahakan adanya tanggapan sebanyak-banyaknya dan sejelas-jelasnya pada kesadaran individu.
Dalam teori ini ada juga prinsip atau hukum dalam belajar antara lain:
1) Belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut.
2) Belajar akan berhasil apabila banyak ulangan dan latihan.
3) Belajar akan semangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik.
c. Menurut Teori Belajar Getsalt
Belajar adalah suatu proses perkembangan. Anak merupakan suatu organisme yang tumbuh dan berkembang. Belajar adalah suatu poses yang berlangsung secara terus menerus. Anak tidak hanya belajar di sekolah akan tetapi juga belajar di luar sekolah (Sagala, 2003: 62).
Mengajar menurut William H. Burton adalah upaya untuk memberikan stimulus, bimbingan pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan/menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa. Jadi sebenarnya hakikat guru mengajar adalah usaha untuk membuat siswa belajar. Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar (Hamalik,2011: 15).
lingkungan keluarganya sendiri. Dalam fisika, konsep yang satu terkait dengan konsep yang lain, sehingga memerlukan strategi belajar mengajar yang dapat membantu siswa memahami konsep secara baik.
2. Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)
Istilah Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) diambil dari Science-Technology-Society (STS) yang mula-mula berkembang di Amerika Serikat. Dalam unit-unitnya ditunjukkan adanya kaitan antara sains dan teknologi dan masyarakat pula, dan bagaimana masyarakat menentukan atau mengelola sains dan teknologi. Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) diharapkan dapat melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya (Poedjiadi, 2006: 73).
Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara kemajuan sains dah teknologi, membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, dan nilai - nilai sains itu sendiri dalam kehidupan masyarakat secara praktis (Hidayat, 1996: 42).
Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan pendekatan yang mengfokuskan siswa pada masalah, pertanyaan-pertanyaan dan pada hal-hal yang tidak diketahui oleh siswa. Hal ini berarti para siswa harus mencari jawaban dan penjelasan masalah yang di hadapinya, para siswa mencari informasi dan menggunakannya,siswa dapat menghubungkan studi sains mereka dengan kehidupan sehari-hari, selain itu siswa dapat memecahkan masalahnya sendiri.
Menurut (Poedjiadi, 2000: 32) tujuan pembelajaran Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dikelompokkan dalam empat kategori yaitu sebagai berikut:
a. Untuk kebutuhan pribadi. Pendidikan sains hendaknya dapat menyiapkan individu yang menggunakan sains tersebut guna meningkatkan kehidupannya sendiri.
b. Untuk menyelesaikan masalah sosial yaitu hendaknya dapat menghasilkan warga Negara yang berpengetahuan dan siap berpartisipasi secara bertanggungjawab dalam masalah social yang ada kaitannya dengan sains.
lapangan kerja bidang sains dan teknologi yang terbuka bagi mereka dengan berbagai kecakapan dan minat.
d. Untuk persiapan belajar lebih lanjut dapat meberikan sumbangan cara belajar pada masa yang akan datang.
Menurut Yager dalam (Hidayat, 2002: 18) Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Identifikasi masalah-masalah setempat yang memiliki kepentingan dan
dampak.
b. Penggunaan sumber daya setempat (manusia dan benda) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah. c. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang
dapat diterapkan untuk memecahkan masalah. d. Fokus pada sains dan teknologi terhadap siswa.
e. Penekanan pada keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakan dalam pemecahan masalah.
f. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga Negara dimana siswa mencoba memecahkan isu-isu yang telah teridentifikasi.
g. Identifikasi bagaimana sains dan teknologi berdampak di masa depan. Menurut (Poedjiadi, 2006: 27) langkah-langkah yang dapat dilaksanakan dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) yaitu:
b. Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar tertentu yang dapat dipilih oleh guru sesuai dengan pedagogi materi subyek atau materi pelajaran.
c. Konsep yang telah dipahami oleh siswa dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah atau menganalisis masalah-masalah yang telah dilontarkan pada awal pembelajaran.
d. Guru memberikan pemantapan konsep-konsep agar tidak terjadi minkonsepsi pada diri siswa.
e. Melaksanakan evaluasi. 3. Aktifitas Belajar Siswa
Adapun aktifitas belajar menurut (Djamarah, 2002: 35) adalah sebagai berikut :
a. Membaca, adalah aktifitas yang banyak dilakukan disekolah dan perguruan tinggi. Membaca di sisni tidak mesti membaca buku belaka, tetapi juga membaca majalah, koran, tabloid, jurnal-jurnal hasil penelitian, catatan hasil belajar atau kuliah, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kebutuhan studi.
b. Menulis dan mencatat, merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari aktivitas belajar. Mencatat yang termasuk sebagai aktifitas belajar adalah apabila dalam mencatat itu orang menyadari kebutuhan dan tujuannya, serta menggunakan seperangkat tertentu agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian tujuan belajar.
guru menggunakan metode ceramah, maka setiap siswa atau mahasiswa harus mendengarkan apa yang disampaikan guru atau dosen.
d. Memandang, adalah mengarahkan penglihatan ke suatu objek. Aktifitas memandang dalam arti belajar adalah aktifitas memandang yang bertujuan sesuai dengan kebutuhan untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang positif.
e. Berpikir, adalah termasuk aktifitas belajar. Dengan berpikir orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antara sesuatu.
f. Mengingat, adalah gejala psikologis. Ingatan itu sendiri adalah kemampuan jiwa untuk memasukkan (learning), menyimpan
(retention) dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau. Jadi, mengenai ingatan itu sendiri ada tiga fungsi yaitu: memasukkan, menyimpan dan mengangkat kembali ke alam sadar. g. Membuat ringkasan, dapat membantu dalam hal mengingat atau
mencari kembali materi dalam buku untuk masa-masa yang akan datang.
h. Meraba, membau, dan mencicipi/mengecap, adalah indra manusia yang dapat dijadikan sebagai alat untuk kepentingan belajar. Artinya aktifitas meraba, membau, mengecap dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk belajar.
Demikian pula gambar-gambar, peta-peta, dan lainlain-lain dapat menjadi bahan ilustratif yang membantu pemahaman seseorang tentang sesuatu hal.
j. Menyusun kertas kerja., Dalam menyusun kertas harus sistematis dan metodologis, artinya menggunakan metode-metode tertentu dalam penggarapannya. Sistematis artinya menggunakan kerangka berpikir yang logis dan kronologis.
k. Latihan atau praktek, adalah konsep belajar yang menghendaki adanya penyatuan usaha mendapatkan kesan-kesan dengan cara berbuat. Dalam hal ini belajar sambil berbuat adalah termasuk latihan.
Menurut (Djamarah, 2002 : 38) jika sudut pandang diarahkan pada aspek lainnya, maka faktor-faktor penyebab hambatan aktivitas belajar anak didik dapat dibagi menjadi faktor anak didik, sekolah, keluarga, dan masyarakat sekitar.
a. Faktor Anak Didik
Anak didik adalah subjek yang belajar. Dialah yang merasakan langsung penderitaan akibat kesulitan belajar. Karena dia adalah orang yang belajar, bukan guru yang belajar.
Untuk mendapatkan gambaran faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar anak didik, maka akan dikemukakan sebagai berikut:
1) Inteligensi (IQ) yang kurang baik
3) Faktor emosional yang kurang stabil. Misalnya mudah tersinggung, pemurung , pemarah, selalu bingung dalam menghadapi masalah, selalu sedih tanpa alasan yang jelas, dan sebagainya
4) Aktivitas belajar yang kurang. Lebih banyak malas daripada melakukan kegiatan belajar
5) Kebiasaan belajar yang kurang baik
b. Faktor Sekolah
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal tempat pengabdian guru dan rumah rehabilitasi anak didik.
Faktor-faktor yang dianggap dapat menimbulkan hambatan belajar bagi anak didik di lingkungan sekolah adalah:
1) Guru tidak berkualitas, baik dalam pengambilan metode yang digunakan ataupun dalam penguasaan mata pelajaran yang dipegangnya.
2) Hubungan guru dengan anak didik kurang harmonis 3) Cara guru mengajar yang kurang baik
4) Alat atau media yang kurang memadai
5) Perpustakaan sekolah yang kurang memadai dan kurang merangsang penggunaannya oleh anak didik
6) Fasilitas fisik sekolah yang tak memenuhi syarat kesehatan dan tak terpelihara dengan baik
Keluarga adalah lembaga pendidikan informal atau luar sekolah yang diakui keberadaannya dalam dunia pendidikan Oleh karena itu ada beberapa faktor dalam keluarga yang menjadi penyebab hambatan belajar anak didik sebagai berikut:
1) Kurangnya kelengkapan alat-alat belajar bagi anak di rumah, sehingga kebutuhan belajar yang diperlukan, tidak ada maka, kegiatan belajar anakpun berhenti untuk beberapa waktu.
2) Kurangnya biaya pendidikan yang disediakan orangtua sehingga anak harus ikut memikirkan bagaimana mencari uang untuk biaya sekolah hingga tamat.
3) Anak tidak mempunyai ruang dan tempat belajar yang khusus di rumah
4) Ekonomi keluarga yang terlalu lemah atau tinggi yang membuat anak berlebih-lebihan
d. Faktor Masyarakat Sekitar
Jika keluarga adalah komunitas masyarakat terkecil maka, masyarakat adalah komunitas masyarakat dalam kehidupan sosial yang tersebar. Dalam masyarakat, terpatri strata sosial yang merupakan penjelmaan dari suku, ras, agama, antar golongan, pendidikan, jabatan, status, dan sebaginya. Pergaulan yang terkadang kurang bersahabat sering memicu konflik sosial.
4. Prestasi Belajar
dapat digambarkan dengan suatu simbol yang menyatakan nilai, baik dalam bentuk huruf maupun angka, dimana unsur-unsur subjektif pendidik tidak boleh diikutkan dalam penilaian tersebut. Nilai prestasi harus mencerminkan tindakan-tindakan peserta didik, sejauhmana telah mencapai tujuan yang diterapkan di setiap bidang studi. Dalam institusi pendidikan, baik langsung maupun tidak langsung, prestasi atau hasil belajar terkait dengan evaluasi. Prestasi belajar bukan merupakan hasil dari kegiatan belajar mengajar semata, namun prestasi merupakan hasil kerja yang keadaannya sangat kompleks.
Berdasarkan batasan pengertian prestasi belajar tersebut, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar fisika adalah hasil yang telah dicapai siswa melalui suatu kegiatan belajar fisika. Kegiatan belajar tersebut dapat dilakukan secara individu maupun kelompok, Indikator keberhasilan belajar fisika adalah:
a. Sikap positif terhadap fisika.
b. Mengembangkan kreatifitas dan seni mengerjakan fisika. c. Mengembangkan kemampuan berfikir logis.
d. Mengembangkan proses/prosedur fisika. e. Melakukan percobaan-percobaan fisika.
f. Memahami pentingnya bilangan dan penerapannya g. Memahamai pentingnya geometri dan penerapannya. h. Menemukan pola-pola fisika.
i. Menemukan hubungan-hubungan fisika.
k. Memahami konsep-konsep atau pengertian fisika.
l. Berusaha secara kontinu dan terus menerus dalam mengembangkan fisika.
m. Mampu mengkomunikasikan hasil-hasil pekerjaan fisika.
n. Mampu mengembangkan dirinya sebagai seorang peneliti untuk meneliti fisika.
o. Mampu bekerja secara mandiri dan independent dalam memecahkan persoalan fisika.
p. Mampu menggunakan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari untuk menggali persoalan fisika.
q. Mencoba menularkan atau memberikan pengetahuan atau keterampilan fisika kepada orang lain.
r. Mempunyai pengalaman mengikuti berbagai lomba fisika termasuk olimpiade.
Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa. Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern).
a. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi.
b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya (Slameto, 2011: 36). Faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat”.
B. Kajian Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini dilakukan oleh : 1. (Gunawan, 2012: 22), tentang penerapan pendekatan sains teknologi
masyarakat (STM) dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Dompu, pada pokok bahasan GLB dan GLBB. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui 2 siklus yang terdiri dari tahap perencanaan pelaksanaan pengamatan dan refleksi serta menggunkan koefisien product moment dan meningkatkan prestasi dan aktivitas belajar siswa kelas VII pada Mata Pelajaran Fisika di SMP Negeri 1 Dompu tahun ajaran 2011/2012.
untuk mengetahui pengaruh pendekatan sains teknologi masyarakat terhadap aktifitas dan prestasi belajar fisika, untuk menentukan sampel digunakan cluster random sampling dengan analisi statistik yang digunakan adalah korelasi product moment dan uju statistik t-tes diperoleh thitung 7,364 dan uji ttabel 1,991. Nilai thitung (7,364) > ttabel (1,991) dengan sig
0,000 < 0,05 maka pendekatan sains teknologi masyarakat berpengaruh secara sigifikan terhadap prestasi belajar fisika.
Yang membedakan penelitian ini dengan beberapa penelitian di atas adalah obyek, pokok bahasan dan jenis penelitian, sedangkan penelitian ini melihat efektifitas penggunaan sains teknologi masyarakat untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan besaran satuan siswa kelas VII SMP Negeri 5 Kota Bima.
C. Kerangka Berpikir
penigkatan pemahaman siswa yang akhirnya berdampak baik pada peningkatan prestasi belajar siswa.
Aktifitas belajar dan prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan dalam pendekatan Sains teknologi dan Masyarakat (STM) melalui kegiatan belajar yang terfokus pada kegiatan siswa untuk mencari informasi dan memecahkan masalah tersebut secara mandiri selain itu para siswa ditekankan untuk mencapai keterampilan proses dalam belajar seperti mengklasifikasi, mengkomunikasi, mengidentifikasi dan lain-lain, sebagai bekal dalam upaya mencapai pemahaman materi belajar yang baik.
Proses belajar menggunakan Sains teknologi dan Masyarakat (STM) yang lebih banyak melibatkan siswa dalam setiap proses belajar sangat mendukung pemantapan pemahaman yang ada pada diri siswa yang pada akhirnya dapat berdampak positif terhadap peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa yang tinggi khususnya pada siswa kelas VII C SMPN 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014.
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Penggunaan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) efiktif
dapat meningkatkan aktifitas siswa kelas VII A pada Mata Pelajaran Fisika di SMPN 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014”
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian ini adalah berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu suatu kegiatan mencermati objek yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu dan berbentuk siklus kegitan belajar. Dalam penelitian ini guru melakukan dengan sengaja dan diamati hasilnya dengan seksama (Arikunto, 2010: 4: 47).
Adapun penelitian tindakan kelas (PTK) merupkan kegiatan mencermati suatu objek (siswa) yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu,dari bentuk rangkaian siklus kegitan/belajar.
B. Pendekatan Penelitian
Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mendapatkan data mengenai aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa setelah proses belajar berlangsung menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM).
C. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VII SMPN 5 Kota Bima. Adapun waktu pelaksanaannya pada Tahun Pelajaran 2013/2014.
D. Ruang Lingkup Penelitian 1. Subyek penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 5 Kota Bima semester I (Genap) Tahun Pelajaran 2013/2014.
2. Obyek penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah penggunaan pendekatan sains teknologi dan masyarakat (STM) dalam meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika pada pada pokok bahasan besaran dan satuan.
3. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di VII SMP Negeri 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014.
E. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian dapat diartikan sebagai mengatur latar (setting) penelitian agar peneliti memperoleh data yang tepat (valid) sesuai dengan karakteristik variabel dengan tujuan penelitian.
Untuk mencapai ketuntasan belajar, penelitian ini dirancang dan dilaksanakan dalam 2 atau 3 siklus apabila pada siklus I tidak tuntas. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi, dan refleksi. Berikut bagan siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu:
Bagan 3.1. Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Dari bagan di atas, dapat dijelaskan bahwa sesudah suatu siklus selesai diterapkan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang (planning) atau revisi terhadap penerapan siklus sebelumnya. Selanjutnya berdasarkan perencanaan ulang tersebut dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri. Demikian untuk seterusnya, satu siklus diikuti dengan siklus berikutnya sehingga PTK dapat dilakukan dengan
Perencanaan II Refleksi I
Observasi dan Evaluasi I
Pelaksanaan I Perencanaan I
Refleksi II
Observasi dan Evaluasi II
Pelaksanaan II
beberapa kali siklus. Secara rinci prosedur tindakan dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut:
SIKLUS I
1. Perencanaan
Dalam tahap ini, hal-hal yang dilakukan oleh peneliti adalah:
a. Peneliti mensosialisasikan pembelajaran kepada guru mata pelajaran fisika
b. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
c. Menyiapkan lembar Observasi untuk mengamati mencatat langkah-langkah dalam pembelajaran yang ditujukan pada siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung.
d. Menyusun lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi. e. Mendesain alat evaluasi dalam bentuk tes pilihan ganda. 2. Pelaksanaan tindakan
Dalam tahap pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah disusun oleh peneliti.
3. Observasi dan Evaluasi.
setelah akhir setiap siklus dengan memberikan tes soal pilihan yang dikerjakan secara individual sesuai dengan skenario yang disusun.
4. Refleksi
Pada tahap ini peneliti sebagai pengajar bersama guru yang bertindak sebagai Observer, mengkaji kekurangan dari tindakan yang telah diberikan. Hal ini dilakukan dengan cara melihat data hasil evaluasi yang dicapai siswa pada siklus I. Jika refleksi menunjukkan bahwa tindakan siklus I memperoleh hasil yang tidak optimal, maka dilakukan siklus berikutnya.
F. Instrumen penelitian
Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Lembar Observasi merupakan catatan peneliti mengenai segala sesuatu yang terjadi pada saat pengamatan berlangsung (Riduwan, 2004: 34). Penggunaan lembar pengamatan untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa pada setiap pertemuan siklus menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM). Sebagai observernya yaitu guru mata pelajaran fisika SMPN 5 Kota Bima.
Tes yang digunakan untuk memperoleh data mengenai prestasi belajar siswa menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM). Adapun bentuk soal tes yaitu pilihan ganda.
G. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan unruk memperoleh tujuan yang diharapkan (Riduwan, 2004: 40). Teknik pengamatan yang dilakukan guna melihat secara langsung aktivitas siswa selama menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) yang dilakukan pada setiap pertemuan belajar mengajar pada masing-masing siklus.
2. Tes hasil belajar yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Arikunto, 2001: 31). Teknik tes dilakukan setelah proses belajar mengajar selesai dilakukan.
H. Teknik Analisis Data 1. Aktivitas belajar
Hasil Observasi mengenai aktivitas belajar siswa akan dianalisa dengan rumus sebagai berikut:
As =
i x
………
Keterangan:
As = Skor rata-rata aktivitas belajar. x = Skor masing-masing indikator.
i = Banyaknya indikator.
Kemudian hasil tersebut di atas, dibandingkan dengan hasil dari MI dan SDI dengan rumus sebagai berikut:
MI = 2 1
(skor tertinggi + skor terendah)……….(3.2)
= menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.2. Konversi Aktivitas Belajar Siswa
Prestasi belajar siswa yang diperoleh dianalisis menggunakan rumus deskriptif persentase untuk ditentukan ketuntasan siswa secara individu maupun secara klasikal. Adapun rumus tersebut yaitu:
a. Ketuntasan Individu.
Data tes prestasi belajar proses pembelajaran dianalisis dengan menggunakan analisis ketuntasan hasil belajar secara klasikal minimal ≥ 85% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 65. Dengan rumus ketuntasan belajar klasikal ( Sugiyono,2011) adalah:
KK =
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini di laksanakan mulai pada tanggal 25 Agustus 2013 sampai dengan tanggal 25 September 2013 untuk mengetahui peningkatan Aktifitas dan Prestasi belajar siswa kelas VII A pada pokok bahasan besaran dan satuan di SMP Negeri 5 Kota Bima melalui Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) pada tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian ini di laksankan dalam dua siklus dan tiga kali pertemuan untuk siklus I dan tiga kali pertemuan untuk siklus ke II. Berdasarkan hasil observasi di peroleh data kualitatif yang akan memberikan gambaran tentang kegiatan guru dan siswa selama proses belajar mengajar dan hasil evaluasi yang di peroleh berupa data kuantitatif. Untuk data–data tersebut kemudian di analisiskan dengan menggunakan metode dan rumus yang telah di tetapkan sebelumnya. Penelitian tindakan kelas terhadap pelaksanaan pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM), pada tiap siklus di peroleh hasil sebagai berikut:
1. Siklus I
a. Menyusun Perencanaan (planning)
Adapun peneliti yang harus persiapkan pada tahap siklus I ini yaitu:
2) Membuat lembar observasi kegiatan belajar siswa pertemuan I dan II.
3) Menyusun lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan diskusi.
4) Membuat alat evalusai berupa soal tes.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pengajaran dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Masing – masing pertemuan selama 2 x 45 menit dan pada pertemuan ketiga di gunakan untuk evaluasi selama 1 x 45 menit. Pada siklus I ini diikuti oleh 26 orang siswa dan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat.
Pertemuan I di laksanakan pada hari Rabu bertepatan pada tanggal 28 Agustus 2013 sedangkan pertemuan II di laksanakan pada hari Sabtu bertepatan pada tanggal 31 Agustus 2013 untuk evaluasi. Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat dengan menggunakan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM). Pada pelaksanaan kegiatan siklus I terlihat bahwa siswa kurang antusias dalam belajar. Ini terlihat dari masih banyak siswa yang masih belum aktif dalam proses pembelajaran.
c. Observasi dan Evaluasi
Hasil Semua aktivitas siswa di peroleh dari pengamatan yang di lakukan oleh observer dengan mengisi lembar observasi yang telah di siapkan dengan tujuan untuk merekam jalanya proses belajar mengajar. Maka semua aktifitas yang nampak dicatat dalam lembar observasi siswa sesuai dengan deskriptor yang nampak dan selanjutnya diolah dengan menggunakan rumus yang telah ditetapkan sebelumnya. Data tentang hasil observasi belajar siswa siklus I yang telah dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus 2013 dan 31 Agustus 2013 dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1Hasil Observasi Kegiatan Belajar Siswa Pada Siklus I No Keterangan Pertemuan ISiklus Pertemuan II
1.
2) Hasil Tes Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan analisis evaluasi akhir pada siklus I dimana soal berbentuk pilihan ganda sebanyak 20 butir soal (lampiran 7) untuk dikerjakan secara individu. Skor maksimal dari soal tersebut adalah 100 dengan skor minimal 0 jika siswa tidak menjawab sama sekali atau tidak ikut. Melalui analisis hasil evaluasi siklus I, ketuntasan hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan Tabel 4.3 sebagai berikut.
No Keterangan Evaluasi Akhir
Persentase siswa yang tuntas belajar (%) Jumlah siswa tuntas
Tabel 4.3 Distribusi Tes Kognitif Siswa Pada Siklus I
Berdasarkan analisis evaluasi akhir pada tabel 4.2 dan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa ketuntasan klasikal yang tercapai sebesar 69,23%, dengan siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 sebanyak 18 orang. Hal ini menunjukan bahwa penelitian pada siklus I ini belum mencapai target. Dimana suatu kelas dianggap tuntas secara klasikal jika telah mencapai 85%. Ini berarti indikator keberhasilan belum tercapai sehingga perlu adanya pengulangan dan perbaikan pada siklus berikutnya
d. Refleksi
Refleksi dilakukan pada akhir siklus. Pada tahap ini peneliti bersama observer mengkaji pelaksanaan dan hasil yang diperoleh selama proses pembelajaran pada siklus I. Sebagai acuan dalam siklus ini adalah hasil observasi dan evaluasi. Hasil evaluasi ini digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki serta menyempurnakan perencanaan dan pelaksanaan pengajaran pada siklus berikutnya.
Berdasarkan hasil observasi yang diperoleh selama pelaksanaan siklus I, masih terdapat beberapa kekurangan yang harus diperbaiki pada siklus II. Perbaikan-perbaikan yang dilakukan antara lain:
1) Guru harus memberikan pertanyaan untuk menguji penguasaan materi sebelumnya.
2) Guru harus mengaitkan materi yang akan di bahas dengan materi sebelumnya
3) Guru harus memberikan alokasi waktu dalam pemberian tugas / diskusi kelompok
4) Guru harus memberikan penghargaan kepada kelompok memiliki kinerja baik
5) Guru harus membimbing siswa untuk memberikan kesimpulan 6) Guru harus memberikan tugas mandiri
2. Siklus II
a. Menyusun Perencanaan (planning)
Adapun peneliti yang harus persiapkan pada tahap siklus II ini yaitu :
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
2) Membuat lembar observasi kegitan guru pertemuan I dan II.
3) Membuat lembar observasi siswa pertemuan I dan II.
4) Membuat alat evalusai berupa soal tes. b. Pelaksanaan Tindakan
pertemuan ketiga di gunakan untuk evaluasi selama 1 x 45 menit. Pada siklus II ini diikuti oleh 26 orang siswa dan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Pertemuan I di laksanakan pada hari Sabtu bertepatan pada tanggal 7 September 2013 sedangkan pertemuan II di laksanakan pada hari Rabu bertepatan pada tanggal 11 September 2013 untuk evaluasi. Pelaksanaan tindakan pada siklus II dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat dengan menggunakan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM). Pada siklus II siswa sudah aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar siswa aktif dalam kegiatan diskusi, mencari permasalahan, dan menganalisis suatu permasalah. Disamping itu sebagian besar siswa aktif merespon dan memberikan tanggapan baik bentuk pertanyaan maupun berupa solusi serta siswa dapat menyimpulkan materi yang dipelajari.
c. Observasi dan Evaluasi
1) Hasil Observasi Aktivitas Siswa
Tabel 4.4Hasil Observasi Kegiatan Belajar Siswa Pada SiklusII No Keterangan Pertemuan ISiklus IIPertemuan II
1.
Untuk tabel 4.3 aktivitas siswa pada siklus II pertemuan I dan pertemuan II dengan jumlah skor dan berkategori aktif, sehingga bisa dikatakan bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa dari siklus sebelumnya.
2) Hasil Tes Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan analisis evaluasi akhir pada hari Jum’at bertepatan pada tanggal 14 September 2013 untuk siklus II dimana soal berbentuk pilihan ganda sebanyak 20 butir soal (lampiran 8) untuk dikerjakan secara individu. Melalui analisis hasil evaluasi siklus II, ketuntasan hasil belajar siswa dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan Tabel 4,6 berikut.
Tabel 4.5 Hasil belajar tes kognitif siswa pada siklus II
No Keterangan Evaluasi Akhir
Persentase siswa yang tuntas belajar (%) Jumlah siswa tuntas Tabel 4.6 Distribusi Tes Kognitif Siswa Pada Siklus II
Dari analisis
evaluasi akhir pada tabel 4.5 dan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa
ketuntasan klasikal yang tercapai sebesar 88%, dengan siswa yang memperoleh nilai ≤ 65 sebanyak 23 orang. Hal ini menunjukan bahwa penelitian pada siklus II telah mencapai target yang di harapakn. Dimana suatu kelas dianggap tuntas secara klasikal jika telah mencapai 85%. Ini berarti indikator keberhasilan telah tercapai.
d. Refleksi
Berdasarkan hasil analisis observasi dan evaluasi belajar siswa pada setiap siklus, terlihat bahwa terjadi peningkatan skor aktivitas belajar siswa dan ketuntasan klasikal pada setiap siklus dengan demikian indikator kerja telah tercapai. Dari hasil refleksi pada siklus II dipandang sudah sangat baik. Secara keseluruhan pembelajaran fisika dengan materi pengukuran berlangsung dengan baik. Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dengan menggunakan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi pada siklus II. 3. Perbandingan Siklus I dan Siklus II
Tabel 4.7 Data Perbandingan Hasil Observasi Kegiatan Belajar Siswa
Tabel 4.8 Data Perbandingan Hasil Evaluasi Belajar Siswa Siklus I Dan Siklus II
Data hasil evaluasi Siklus I Siklus II
Jumlah Siswa 26 26
Nilai rata-rata 70,57 73,89
Nilai tertinggi 90 90
Nilai terendah 45 55
Jumlah siswa yang tuntas 18 23
Jumlah siswa yang tidak tuntas 8 3
Persentase ketuntasan klasikal 69% 88%
Peningkatan 19%
B. Pembahasan
informasi dan menggunakannya, siswa dapat menghubungkan studi sains mereka dengan kehidupan siswa sehari-hari, selain itu siswa dapat terlibat dalam memecahkan isu-isu sosial, mereka melihat relevansi dari studi sains mereka untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai warga negara.
Kegiatan penutup dalam pembelajaran ini berupa menarik kesimpulan dari materi yang telah dipelajari dengan bimbingan guru. Sebelum menarik kesimpulan siswa diberikan kesempatan untuk menanyakan kembali materi yang kurang jelas untuk dipahami, sedangkan guru menyatukan kerangka berpikir siswa dengan menjelaskan bagian-bagian penting. Setelah itu guru dan siswa bersama-sama menarik kesimpulan.
Dalam kegiatan pengamatan terhadap pokok bahasan besaran dan satuan, diharapkan siswa menggunakan pengetahuan awalnya untuk membangun pengetahuan baru dan untuk membuktikan pada siswa yang mulanya tidak tahu menjadi tahu. Pada kegiatan pengamatan ini akan mengalami proses induktif (berdasarkan fakta nyata) sehingga siswa dapat membangun makna, kesan dalam memori atau ingatannya.
Dalam kegiatan shering, siswa saling melengkapi hasil temuannya antara satu kelompok dengan kelompok lain. Selain itu untuk menyamakan konsep antara siswa yang satu dengan siswa yang lain dan antara guru dengan siswa. Guru membimbing siswa dalam mengemukakan pendapat atau jawaban siswa dengan memperhatikan keterlibatan dan keaktifan siswa.
Untuk kegiatan belajar siswa pada siklus I masih belum memenuhi hasil yang diharapkan. Sedangkan untuk hasil observasi aktivitas belajar siswa yang diperoleh yaitu 10 pada pertemuan I dan 13 pada pertemuan II serta untuk rata-rata skor siswa yaitu 11,5 yang tergolong dalam kategori kurang tinggi. Ini menunjukkan belum tercapai indikator kerja yang telah ditetapkan dan untuk mengetahui meningkat atau tidaknya skor aktivitas dan hasil belajar siswa maka dilanjutkan ke siklus II.
Pada siklus II jumlah skor aktivitas belajar siswa dan ketuntasan klasikal mengalami peningkatan dimana rata-rata skor aktivitas belajar siswa yang diperoleh yaitu 17 pada pertemuan I dan 18 pada pertemuan II, serta kategori aktivitas siswa yaitu 17,5 yang tergolong dalam tinggi, Ini menunjukkan bahwa target yang ingin dicapai yaitu aktivitas belajar siswa minimal berkategori tinggi sudah tercapai. Adapun gambaran peningkatan aktivitas guru dan siswa dapat lihat pada grafik 4.1 berikut
Sedangkan untuk hasil belajar siswa, pada siklus I ketuntasan klasikal mencapai 69%, sedangkan pada siklus II ketuntasan klasikal 88%. Dengan peningkatan 19%. Ini menunjukkan bahwa target yang ingin dicapai yaitu ketuntasan klasikal ≥ 85% telah tercapai.
Untuk lebih jelasnya, gambaran peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat pada grafik 4.2 berikut
Gambar 4.2 Grafik Peningkatan Hasil Belajar Siswa Tiap Siklus
Dari grafik 4.2 bahwa grafik tersebut terlihat peningkatan dari hasil evaluasi dan hasil observasi kegiatan belajar siswa dari siklus I dan siklus II. Untuk di ketahui bahwa proses belajar mengajar dapat meningkatkan hasil belajar fisika kelas VII A pada pokok bahasan gerak di SMP Negeri 5 Kota Bima melalui Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) tahun pelajaran 2013/2014.
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Penggunaan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VII A pada mata pelajaran Fisika di SMP Negeri 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014. 2. Penggunaan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) efektif
dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII A pada mata pelajaran Fisika di SMP Negeri 5 Kota Bima Tahun Pelajaran 2013/2014. B. Saran-Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Guru: Untuk dapat meningkatkan keterampilan proses merencanakan eksperimen dan hasil belajar siswa, diharapkan guru dapat menerapkan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM), selain itu guru diharapkan dapat memanfaatkan metode yang ada dan mengkombinasikan metode tersebut serta menyesuaikan penggunaannya dengan keadaan dan kondisi siswa saat akan belajar, baik itu kondisi lingkungan siswa, kondisi kurikulum yang diterapkan ataupun kondisi psikis siswa.
dapat meningkatkan ketuntasan belajar anak. Selain itu pemberian fasilitas pendukung yang berkesinambungan kepada anak dalam belajar dapat memotivasi pikiran anak untuk bergairah dalam belajar dan memiliki kreativitas yang tinggi dalam mengembangkan materi-materi belajar yang telah diterima.
3. Peneliti: Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang masalah yang sama karena karakteristik yang diungkap dalam penelitian ini sangat terbatas, sehingga apa yang menjadi rekomendasi nantinya dapat dijadikan sebagai acuan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak-pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2001. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jkarta: Rineka Cipta
2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V,
Jakarta: Rineka Cipta.
2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi 12, Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hidayat, E. M, 2002. Sains Teknologi-Masyarakat. Bandung: FPMIPA IKIP Bandung.
Margono, s. 2001. Metodologo Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Ciputat; PT. Logos Wicana Ilmu
Marsigit. http//pbfis Marsigit. Blogspot.com/2008/12/ indikator-siswa-belajar fisika.html.
Nasution, 2000. Metode Research. Jakarta, Penerbit Bumi Aksara. Nazir, M. 1999. Metode Penelitian. Jakarta : Galia Indonesia
Poedjiadi, 2000. Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi di Masa yang akan Datang. Bandung: FPMIPA IKIP Bandung
Poedjiadi, 2006. Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi di Masa yang akan Datang. Bandung: FPMIPA IKIP Bandung.
Poedjiadi, A. 2006. Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Melalui
Literasasi Sains dan teknologi bagi Masyarakat. Bandung: FPMIPA IKIP Bandung
Rahadi, Aristo. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas.
Riduwan. 2004. Metode dan Teknik Menyusun Skripsi. Alfabeta: Bandung Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Rineka