i
TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER
MATA KULIAH EKONOMI KELEMBAGAAN
Permasalahan Teori Kontrak Agensi dan Pemenuhan Lima Asas
Pertukaran Harta dalam Linkage Pembiayaan Perbankan
Syariah pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah
Dosen : Dr. Asfi Manzilati, SE. ME.
Disusun oleh
Muhammad Said Hannaf
145020501111025
Program Studi Ekonomi Islam Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya Malang
ii KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah yang Tuhan yang Maha Kuasa, karena berkat pertolongan melalui doa kepada-Nya kita serta usaha dapat menyelesaikan ujian akhir semester Mata Kuliah Ekonomi Kelembagaan.
Kami ucapkan terima kasih kepada Dr. Asfi Manzilati, atas saran-sarannya pada karya tulis ini. Kemudian pihak-pihak yang telah berperan membantu kami dalam menyelesaikan karya tulis ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini membutuhkan saran dan kritik yang membangun untuk meningkatkan kualitas karya tulis ini. Akhir kata semoga karya tulis yang saya hasilkan dapat bermanfaat bagi kita semua.
iii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL v
DAFTAR GAMBAR vi
PENDAHULUAN
Latar belakang 1
Rumusan Masalah 3
Tujuan 3
TINJAUAN PUSTAKA
Linkage Pembiayaan Perbankan Syariah Pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah 4
Linkage Program Bank Syariah dalam kerangka
Generic Model Linkage, Bank Indonesia 10
Tinjauan Teori Kontrak-Agensi 12
Asas-asas Pertukaran Harta Sebagai Indikator Pertukaran Harta 13
Studi Terdahulu 15
Kerangka Penelitian 16
METODE PENELITIAN
Jenis Penulian dan Pendekatan Penulisan 17
Jenis dan Sumber Data 17
iv PEMBAHASAN
Pengaruh Kelengkapan Kontrak pada Linkage Pembiayaan Bank Syariah pada LKMS
dengan Akad Mudharabah-Murabahah 19
PENUTUP
Kesimpulan 29
Saran 29
v DAFTAR TABEL
vi DAFTAR GAMBAR
Generic Model Linkage Executing, Bank Indonesia 5
Generic Model Linkage Channeling,, Bank Indonesia 7
1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Perbankan Syariah di Indonesia, saat ini mengalami perkembangan
yang pesat. Hal ini dibuktikan dengan jumlah aset perbankan syariah yang
merangkak naik, dan penguasaan pangsa pasar keuangan nasional yang
mencapai lebih dari 5% 1. Kenaikan pangsa pasar ini menjadi wujud
optimisme pegiat ekonomi syariah, bahwa perbankan syariah sebagai
lokomotif perkembangan ekonomi syariah bisa keluar dari stagnansi.
Perbankan syariah di Indonesia juga memiliki pangsa pasar pada
lembaga keuangan mikro syariah. Pembiayaan ini dikenal dengan istilah
linkage program, program pembiayaan linkage dikenal sejak tahun 2001, yang diluncurkan oleh Bank Indonesia. Linkage program secara kelembagaan yang efisien terjadi pada tahun 2004 ketika diterbitkannya
Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Linkage program menjadi salah satu program dalam pilar satu API. Dalam linkage program yang terdiri dari tiga
jenis, executing, channeling dan joint financing serta kode etik peserta linkage2. Tujuan dari linkage program adalah memperluas akses
pembiayaan yang diberikan oleh Lembaga Keuangan Mikro termasuk
didalamnya Lembaga Keuangan Mikro Syariah pada para anggotanya.
Pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan syariah per Oktober
2012 yang disalurkan pada BMT (Baitul Ma’al Wa Tamwil) selama satu
tahun mencapai Rp. 439,2 miliar3. Secara kelembagaan pengaturan
pembiayaan linkage belum muncul, aturan terbaru yang sifatnya
rekomendasi adalah buku panduan pelaksanaan akad murabahah, musyarakah dan musyarakah mutanaqishah. Secara kelembagaan yang tidak lengkap aturan mainnya inilah menimbulkan ketidaklengkapan
kontrak.
1http://infobanknews.com/aset-naik-pangsa-pasar-perbankan-syariah-jadi-53/2/
2Siti Maesaroh. 2011. Efektifitas Linkage Program Bank Syariah Mandiri dalam Penguatan Pembiayaan Lembaga Keuangan Mikro. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal 20
2 Hal ini berakibat pada persoalan prinsipal-agen mendera pembiayaan linkage antara perbankan syariah dan LKMS yang memerlukan
permodalan. Hal ini digambarkan dengan pola akad yang seharusnya agen
(dalam hal ini LKMS) memiliki bargain position (posisi tawar) dan informasi
yang seimbang dengan perbankan syariah selaku prinsipalnya. Namun
untuk mendapatkan pembiayaan (dengan menggunakan akad mudharabah (fund partnership)) pihak yang mendapatkan pembiayaan (mudharib/LKMS) harus menyalurkan pembiayaan itu kembali dengan menggunakan akad murabahah. Pemilihan akad murabahah ini bergantung pada kebijakan bank yang memberikan pembiayaan (dukungan modal)
pada lembaga keuangan mikro syariah. Sehingga LKMS dilarang untuk
menyalurkan pembiayaan pada nasabahnya dengan menggunakan akad
selain murabahah.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dengan adanya payung hukum
yang diterbitkan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan
Undang-Undang Perbankan Syariah yang mengatur secara umum dan operasional
akad murabahah, namun dukungan kelembagaan (rules of the game) terhadap penerapan akad murabahah yang harus dilakukan oleh LKMS untuk mendapatkan pembiayaan mudharabah belum memiliki payung hukum yang kuat. Penulis menilai permasalahan ini penting untuk
diselesaikan, melihat hal ini jika dikaitkan dengan kelembagaan
permasalahan prinsipal-agen memiliki kecacatan prosedur penegakan,
dimana agen akan terbebani dengan ketentuan akad murabahah lebih
lanjut hal ini juga mencederai prinsip-prinsip kesyariahan dalam akad. Oleh
karena itu penulis, mengangkat judul penelitian, “Permasalahan Teori Kontrak Agensi dan Pemenuhan Lima Asas Pertukaran Harta dalam
Linkage Pembiayaan Perbankan Syariah pada Lembaga Keuangan
3 1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, yang mana menunjukkan research gap, yakni pola kontrak (akad) yang dipaksakan, dalam hal ini Lembaga
Keuangan Mikro Syariah yang mendapatkan pembiayaan berupa akad
mudharabah, harus menyalurkan dana hasil pembiayaan tersebut kepada nasabahnya dengan menggunakan akad murabahah. Tentunya ketidakseimbangan kontrak inilah yang perlu ditinjau dan diperbaiki.
Research gap ini menghasilkan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan akad (kontrak) pembiayaan mudharabah yang diberikan bank syariah pada lembaga keuangan mikro
syariah?
2. Bagaimana bentuk yang ideal dalam penerapan kontrak
mudharabah, antara perbankan syariah pada lembaga keuangan mikro syariah?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Tujuan penelitian ini adalah, mendeskripsikan penerapan teori
agensi-kontrak dalam pembiayaan yang diberikan oleh perbankan
syariah pada lembaga keuangan mikro syariah.
2. Memberikan rekomendasi secara kelembagaan dan aspek syariah
(fiqih muamalah) untuk penerapan pola pembiayaan perbankan
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Linkage Pembiayaan Perbankan Syariah pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah
Linkage program merupakan kerjasama yang dilaksanakan bank umum, pada lembaga keuangan mikro dalam bentuk pembiayaan sebagai
upaya untuk meningkatkan kegiatan sektor riil dalam hal ini Usaha Mikro
dan Kecil (UMK). Pada tahun 2004, Arsitektur Perbankan Indonesia (API)
mengeluarkan generic model linkage program yang berisi mengenai aturan-aturan pelaksanaan linkage program antara bank umum dan Lembaga
Keuangan Mikro, sehingga penerapan linkage program semakin jelas dan terarah. Dalam program linkage terdiri atas executing, channeling dan joint
financing.
Lembaga Keuangan Mikro menurut UU No 1 Tahun 2013 adalah
Lembaga Keuangan Mikro yang selanjutnya disingkat LKM adalah lembaga
keuangan yang khusus didirikan untuk memberikan jasa pengembangan
usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau
pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat,
pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan
usaha yang tidak semata-mata mencari keuntungan.
Dalam mengoptimalkan dan meningkatkan literasi keuangan
masyarakat, kebijakan linkage pembiayaan atau sumber pembiayaan yang
saling terhubung diterbitkan oleh Bank Indonesia. Peningkatan literasi inilah
yang diharapkan oleh Bank Indonesia yang diteruskan oleh Otoritas Jasa
Keuangan semakin meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membuat
perencanaan keuangan dan meningkatnya akses pendanaan skala mikro
bagi masyarakat; membantu peningkatan pemberdayaan ekonomi dan
5 kesejahteraan masyarakat. Lebih lanjut dengan adanya kebijakan linkage inilah peran intermediasi perbankan syariah terus meningkat.
Lembaga Keuangan Mikro Syariah dalam kerangka Undang-Undang
No. 1 Tahun 2013 adalah, terbagi menjadi dua, yakni berbentuk koperasi
atau perseroan terbatas. LKMS adalah badan usaha berbadan hukum yang
operasional usahanya adalah memberikan layanan jasa lembaga keuangan
berdasarkan prinsip-prinsip syariah, yang termasuk LKMS yang akan
dijadikan mudharib atau mitra kerja sama adalah BPRS, BMT/Baitul Qirod,
BTM, Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) dan Unit Usaha Jasa
Keuangan Syariah (UJKS), KUD, yang telah berbadan hukum Koperasi.
Penerapan linkage pembiayaan terbagi dengan tiga pola, yakni
Executing, Channeling dan Joint Financing, Pola executing, Bank Syariah memberikan pembiayaan kepada LKM/LKMS untuk diteruskan kepada
UMK. LKM diberikan kewenangan untuk memutuskan calon mitra yang
akan mendapatkan fasilitas pembiayaan dan sebagai konsekuensinya
risiko ditanggung oleh LKM/LKMS, dan untuk pencatatan di bank umum
sebagai pembiayaan ke LKM.
Untuk Bank Syariah yang melaksanakan linkage program dengan
LKM/LKMS digunakan akad mudharabah4
4Siti Maesaroh. 2011. Efektifitas Linkage Program Bank Syariah Mandiri dalam Penguatan Pembiayaan Lembaga Keuangan Mikro. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal 21
Gambar 2.1.
6 "Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak. Jika persyaratan itu dilanggar, ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah, beliau membenarkannya." (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).
Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Shuhaib:
"Nabi bersabda, 'Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual." (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).
Kaidah fiqih:
.اه ْير ْحت ىلع ٌلْيلد ّلدي ْ أ ّاإ حابإْا اماع ْلا ىف ل ْصأا
“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
Dalam pola channeling, Bank Konvensional atau Bank Syariah
memberikan pembiayaan secara langsung kepada nasabah/UMK sebagai
end user melalui LKM yang bertindak sebagai wakil dari bank tersebut.
Dalam pola ini risiko ditanggung oleh bank sehingga LKM tidak memiliki
kewenangan memutus pembiayaan kecuali setelah mendapatkan surat
kuasa dari bank umum dan pencatatan di bank umum sebagai pembiayaan
ke nasabah/UMK sedangkan di LKM dicatat pada off balance sheet.5
7 Pada bank syariah akad yang digunakan antara bank syariah dan
LKM adalah
wakalah,6 dengan landasan hukum:
Artinya: “Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)." Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun”. (Al-Kahfi/18 : 19).
Kaidah fiqih:
Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
Sedangkan akad antara,LKM dan nasabah/UMK, disesuaikan dengan
kebutuhan nasabah/UMK.
Dalam pola joint financing, pembiayaan dilakukan bersama antara
Bank Konvensional atau Bank Syariah dan LKM dalam membiayai UMK,
dimana resiko ditanggung bersama oleh kedua belah pihak sesuai porsinya
6Siti Maesaroh. 2011. Efektifitas Linkage Program Bank Syariah Mandiri dalam Penguatan Pembiayaan Lembaga Keuangan Mikro. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal 22
Gambar 2.2.
8 masing-masing sehingga kewenangan memutus pembiayaan ada pada
bank umum dan LKM dan untuk pencatatan di bank umum sebagai
pembiayaan ke UMK sedangkan pencatatan di LKM pada off balance sheet.7 Akad yang digunakan antara bank syariah dan LKM
adalah musyarakah, dengan landasan hukum:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. ( Al-Maidah/5 : 2)
Kaidah fiqih:
ا ىف ل ْصأا .اه ْير ْحت ىلع ٌلْيلد ّلدي ْ أ ّاإ حابإْا اماع ْل
“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
7Siti Maesaroh. 2011. Efektifitas Linkage Program Bank Syariah Mandiri dalam Penguatan Pembiayaan Lembaga Keuangan Mikro. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal 23
Gambar 2.3.
9 Sedangkan akad antara LKM dengan UMK disesuaikan dengan
kebutuhan UMK.
Linkage program merupakan kerjasama yang saling menguntungkan
bagi semua pihak. Bagi bank umum yang memiliki keterbatasan jaringan
dan infrastuktur,dengan adanya linkage program dapat menjangkau Usaha Mikro dan Kecil yang terbukti tahan terhadap krisis ekonomi, dan bagi
Lembaga Keuangan Mikro yang memiliki dana terbatas akan sangat
terbantu dengan adanya linkage program ini sehingga LKM dapat menyalurkan pembiayaan kepada Usaha Mikro dan Kecil, dan juga
menguntungkan bagi Usaha Mikro Kecil yang umumnya kesulitan dalam
mendapatkan dukungan dana dari bank umum karena termasuk dalam
kategori unbankable. Dari uraian tadi terlihat keterkaitan satu sama lain yang menguntungkan.
Dalam hal ini agar pelaksanaan linkage program dapat terus berjalan sesuai dengan ketentuan yang ada, terdapat kode etik yang harus dipatuhi
oleh lembaga yang menjalankan linkage program, yaitu:
1. Bank Umum Syariah (BUS) / Unit Usaha Syariah (UUS) yang
melakukan kerjasama linkage program dengan BPRS, tidak
diperbolehkan mengambil alih pembiayaan terhadap nasabah
BPRS yang sedang dibiayai melalui linkage program dan atau
masih menjadi nasabah BPRS.
2. Bagi nasabah BPRS yang telah naik kelas (dari nasabah mikro
menjadi kecil) dan memerlukan dana pembiayaan yang lebih besar,
namun BPRS tidak mampu membiayai karena kendala BMPK
maka BUS/UUS dapat membiayai nasabah BPRS dimaksud.
3. BUS/UUS yang melakukan linkage program dengan BPRS, tidak diperbolehkan mengambil sumber daya manusia BPRS.
4. BUS/UUS dan BPRS harus transparan dalam memberikan dan
menyampaikan informasi yang terkait dengan linkage program sejauh tidak melanggar ketentuan yang berlaku (seperti: laporan
10 5. Bagi BPRS, satu jaminan hanya untuk dijaminkan kepada satu
shohibul maal mitra pembiayaan (BUS/UUS).
6. BUS/UUS tidak diperkenankan untuk memanfaatkan data nasabah
pembiayaan dan BPRS untuk kepentingan diluar linkage program.
7. BUS/UUS dan BPRS yang melaksanakan linkage program dengan pola joint financing dan chanelling, tidak diperkenankan membebani nasabah pembiayaan dengan margin/nisbah bagi hasil
yang lebih tinggi dari harga pasar untuk sektor usaha UMK yang
dibiayai.
8. BUS/UUS yang melakukan linkage program dengan BPRS, tidak diperkenankan meminta laporan hasil pemeriksaan BPRS yang
dikeluarkan oleh Bank Indonesia.
9. BPRS yang mengikuti linkage program harus memelihara tingkat kesehatannya.
10. Setiap pelanggaran kode etik di atas oleh BUS/UUS/BPRS
dilaporkan kepada Bank Indonesia oleh pihak yang merasa
dirugikan.
2.2. Linkage Program Bank Syariah dalam kerangka Generic Model Linkage, Bank Indonesia
Karena prinsip bank syariah dan bank konvensional berbeda maka
aturan berlinkage pada generic model linkage program-pun berbeda, disini penulis akan memaparkan aturan yang dimuat dalam Generic Model Linkage program antara Bank Syariah dan LKM diantaranya ialah;
1. Distribusi pendapatan, pada pola executing distribusi pendapatan sesuai dengan nisbah yang telah disepakati antara bank syariah
dan LKM. Pola channeling bank syariah mendapatkan pendapatan dari nisbah bagi hasil/margin yang telah disepakati dengan UMK,
11 disepakati dengan UMK dan pembagian pendapatan antara bank
syariah dengan LKM sesuai dengan porsi yang telah disepakati.
2. Dalam menentukan besarnya nisbah bagi hasil/margin bagi UMK
harus merupakan kesepakatan bersama dengan
mempertimbangkan harga pasar untuk usaha UMK yang akan
dibiayai.
3. Target nasabah untuk pembiayaan dengan pola executing sepenuhnya merupakan wewenang LKM, untuk pola channeling sepenuhnya merupakan wewenang bank syariah dan untuk pola
joint financing merupakan kesepakatan bersama antara bank syariah dan LKM.
4. Batas plafon per nasabah pada pola executing harus sesuai dengan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), pada pola
channeling dan joint financing maksimum Rp500.000.000,-.
5. Jaminan utama dan tambahan dari UMK, harus sesuai dengan
Undang-Undang Perbankan. Pada pola executing jenis dan besarnya jaminan ditentukan oleh LKM dengan tetap
memperhatikan akad pembiayaan antara LKM dan UMK, dan
jaminan diadministrasikan oleh LKM. Pada pola channeling jenis dan besarnya jaminan ditentukan oleh bank syariah dengan tetap
memperhatikan akad pembiayaan antara bank syariah dan UMK,
dan jaminan diadministrasikan oleh bank syariah (untuk jaminan
tambahan, diadministrasikan dan dapat diadministrasikan kepada
LKM). Pada pola joint financing jenis dan besarnya jaminan ditentukan bersama oleh bank syariah dan LKM dengan tetap
memperhatikan akad pembiayaan antara bank syariah, LKM dan
UMK, dan jaminan diadministrasikan oleh LKM yang bertindak
untuk diri sendiri dan atas nama bank syariah.
12 syariah,Joint financing dilakukan oleh LKM bertindak untuk diri sendiri dan atas nama bank syariah.
7. Jangka waktu proses persetujuan pembiayaan dalam rangka
linkage program bank syariah kepada LKM maksimum dua bulan
setelah data dan persyaratan telah dipenuhi secara lengkap.
2.3. Tinjauan Teori Kontrak dan Agensi dalam Ekonomi Kelembagaan Teori Agensi menurut Eisenhardt (1989)8 teori keagenan
menjelaskan tentang pola hubungan antara prinsipal dan agen.
Prinsipal bertindak sebagai pihak yang memberikan mandate kepada
agen, sedangkan agen sebagai pihak yang mengerjakan mandate dari
prinsipal. Tujuan utama teori keagenan adalah untuk menjelaskan
bagaimana pihak-pihak yang melakukan hubungan kontrak dapat
mendesain kontrak yang tujuannya untuk meminimalisir cost sebagai dampak adanya informasi yang tidak simetris dan kondisi
ketidakpastian. Teori ini juga menekankan pada eksistensi
mekanisme pasar dan institusional yang dapat melengkapi kontrak
untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam hubungan
kontraktual.
Lebih lanjut menurut teori keagenan dari Jensen dan Meckling
(1976), permasalahan keagenan ditandai dengan adanya perbedaan
kepentingan dan informasi yang tidak lengkap (asymmetry
information) antara prinsipal dan agen. Sebagai hasilnya akan timbul apa yang dinamakan biaya keagenan yang meliputi monitoring costs, bonding costs dan residual losses. Monitoring costs adalah biaya yang muncul dan ditanggung oleh prinsipal untuk memonitor perilaku agen,
yaitu untuk mengukur, mengamati dan mengontrol perilaku agen.
Sementara itu bonding cost adalah biaya yang ditanggung ageen untuk menetapkan dan memenuhi mekanisme yang menjamin bahwa
13 agen yang bertindak untuk menjamin bahwa agen yang bertindak
untuk kepentingan prinsipal, terakhir residual loss timbul dari
kenyataan bahwa agen kadangkala berbeda dari tindakan yang
memaksimumkan kepentingan prinsipal.
Dalam teori keagenan, yang terjadi antara bank syariah yang
bertindak sebagai prinsipal, dan LKM/LKMS bertindak sebagai agen.
Permasalahan prinsipal-agen yakni terdapat kecenderungan bahwa
agen bekerja untuk memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri
dibanding bekerja untuk memaksimalkan keuntungan prinsipal atau
keuntungan kedua belah pihak. Dalam meminimalisir potensi risiko
dengan linkage inilah, secara oportunistik bank syariah mengharuskan penyaluran dana yang bersumber dari pembiayaannya harus
menggunakan akad murabahah (akad natural certainty contract/imbal pendapatannya pasti). Dalam hal ini bank syariah berusaha agar
LKM/LKMS (agen) bekerja untuk memaksimalkan keuntungan
prinsipal, namun persoalan mengenai akad yang ditetapkan oleh bank
syariah. Namun hal ini memang dibenarkan, yang perlu ditekankan
adalah bagaimana kesepakatan kontrak yang dibuat dan disepakati
oleh prinsipal dan agen memiliki kontrak yang lengkap untuk membuat
kontrak tersebut dapat berjalan awet.
2.4. Asas-Asas Pertukaran Harta Sebagai Indikator Keabsahan Akad Pertukaran harta/ kegiatan transaksi pada dasarnya juga memiliki tata
main dan tata nilai yang harus dipenuhi. Berikut ini adalah kaidah lima
asas yang menjadi alat ukur bagi keabsahan akad, yang terdiri
sebagai berikut9.
1. Asas keberadaan, harta yang dipertukarkan harus ada (exist).
Orang yang tidak punya apa-apa tidak dapat menukarkan hartanya.
Harta tersebut bias dalam dua bentuk, yakni berupa benda konkret
14 ataupun benda tidak konkret. Kedua jenis benda ini dapat saling
dipertukarkan dengan sesamanya atau sebaliknya. Bentuk
pertukarannya adalah:
a. Pertukaran benda konkret dengan benda konkret, misalnya:
benda dengan benda adalah barter atau uang dengan benda.
b. Pertukaran benda tidak konkret dengan benda konkret,
misalnya: tenaga dan pikiran dengan upah, risiko dengan hasil
investasi, dan manfaat sewa dengan uang sewa.
2. Asas kebernilaian, harta yang dipertukarkan harus bernilai. Nilai
didapat karena harta tersebut dincintai dan dapat dimiliki serta
dapat dialihkan kepada pihak lainnya. Pengalihan tersebut
didasarkan pada kemanfaatan. Benda yang haram tidak punya nilai
dalam ekonomi Islam karena ia tidak memiliki kemanfaatan atau
mengandung kerusakan yang sangat besar.
3. Asas kesetaraan, harta yang dipertukarkan harus setara.
Kesetaraan itu dapat diukur dengan cara: a) nilai pasar pada masa
sekarang atau b) nilai biaya yang diperlukan untuk mengadakannya
c) nilai manfaat bersih yang bias diperoleh di masa mendatang.
4. Asas kejujuran, yang dimaksud kejujuran dalam akad maksudnya,
a) informasi mengenai akad dan perinciannya harus cukup,
lengkap, dan benar. Seluruh informasi yang bersifat material harus
diungkapkan, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman baik
yang disengaja maupun tidak mengenai subjek, predikat, objek dan
keterangan akad. b) kejujuran akan membuat akad menjadi
peristiwa silaturahim yang akan menyambung persaudaraan
sesame manusia, yang bisa berakibat pada kekacauan umum,
kejahatan dan anarki. c) kejujuran dalam berakad dijamin oleh
syariah dan menjamin adanya kepastian bahwa setelah pertukaran
dilakukan secara benar maka masing-masing pihak berhak
menguasai harta yang ia telah pertukarkan. d) selain pada
15 harta. Pertukaran harus dilakukan dengan tatacara tertentu dan
tidak boleh dilakukan dengan serampangan. Misalnya penguasaan
baru boleh dilakukan setelah seluruh kewajiban yang
dipersyaratkan telah dipenuhi.
5. Asas kecakapan, yakni pihak yang melakukan akad harus cakap
secara hukum, menguasai apa yang akan diakadkan. Kecakapan
disini juga bahwa para pihak yang berakad harus dalam keadaan
saling rela dan bebas (tidak mengandung paksaan) untuk saling
mengikatkan diri.
2.5. Studi Terdahulu
Penelitian Johan Arifin, (2013), Peran intermediasi perbankan
syariah semakin optimal dengan adanya linkage pembiayaan, kemudian nilai pembiayaan bermasalah juga tidak meningkat dengan
sistem linkage ini. Kekhawatiran LKM/LKMS dimungkinkan nasabah yang potensial diambil alih oleh bank yang diajak kerjasama
(channeling). Kemudian terjadi ketidakadilan antara bank dan
LKM/LKMS yang secara operasional melakukan pengawasan dan
pendampingan bersama, akan tetapi keuntungan/bagi hasil yang
diberikan lebih besar pada bank.
Lebih lanjut pada penelitian yang dilakukan oleh Maesaroh
(2011) disimpulkan bahwa lembaga keuangan mikro yang
menerapkan linkage program mengalami peningkatan aset, modal,
dan jumlah nasabah. Dari hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa
linkage program masih belum optimal. Salah satunya adalah berkaitan
dengan aspek pengaturannya, khususnya pada landasan hukum.
Penelitian yang dilakukan oleh Denizar dan Nafik (2015), bahwa,
16 mudharabah wal murabahah, maksudnya adalah BMT Mandiri Sejahtera mendapatkan pembiayaan dengan menggunakan akad
mudharabah sedangkan penyaluran dana linkage pada
masyarakat/anggota dari BMT Mandiri Sejahtera menggunakan akad
murabahah. Bentuk kerjasama menggunakan akad mudharabah wal murabahah secara syariah akad tersebut sah, namun kurang sesuai jika ditinjau dari tujuan ekonomi Islam.
2.6. Kerangka Penelitian
Masalah Peningkatan Permodalan untuk LKMS
Linkage Pembiayaan dengan Bank Syariah
Penggunaan akad Mudharabah-Murabahah,
menimbulkan masalah keawetan kontrak
17 BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian adalah seluruh proses kegiatan yang digunakan untuk
memecahkan suatu masalah. Dalam kegiatan ini terungkap adanya
usaha dan pengorganisasian yang sistematis untuk melakukan
penyelidikan suatu masalah yang spesifik yang diperlukan
pemecahannya.
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif
deskriptif, penelitian kualitatiif lebih menekankan pada penggunaan
diri si peneliti sebagai instrumen. Peneliti harus mampu mengungkap
gejala sosial dilapangan dengan mengerahkan segenap fungsi
inderawinya. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang memberi
gambaran yang lebih jelas tentang fenomena.10 Lebih lanjut penelitian
deskriptif yang biasa disebut juga penelitian taksonomik, hal ini
dikarenakan untuk mengeksplorasi dan klarifikasi mengenai sesuatu
fenomena atau kenyataan sosial.
3.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder berupa literatur yang berhubungan dengan penelitian.
Laporan keuangan maupun dokumen lain. Baik berupa media cetak
maupun media.
10 Mulyadi, Mohammad. 2011. Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Serta Pemikiran Dasar
18 3.3. Teknik Analisis Data
Proses analisa data yang digunakan dalam penulisan ini yaitu
secara bolakbalik dan interaktif. Analisa yang dilakukan terdiri dari: (1)
pengumpulan data (data collection), yaitu mengumpulkan semua data yang mempunyai relevansi sebagai sumber pembahasan. (2) reduksi
data (data reduction), data yang telah dikumpul kemudian diseleksi sesuai dengan rumusan masalah dan kriteris gagasan yang diinginkan
untuk memudahkan arah dalam alur pembahasan. Dalam reduksi
data, dilakukan diskusi, yaitu bertukar pikiran dengan orang yang
memiliki kompetensi dalam bidang perbankan syariah dan
pembiayaan. Data yang digunakan akhirnya adalah data dan sumber
informasi terpercaya yang telah didalami. Dalam hal ini intuitif subjektif
penulis juga dilibatkan, karena alur gagasan penulis tentang masalah
yang dibahas patut dilibatkan, (3) penyajian data (data display), data yang telah diseleksi/direduksi kemudiann disajikan dalam bentuk
tulisan maupun gambar. (4) pemaparan dan penegasan kesimpulan
(conclution drawing and verification), yaitu data disajikan dengan memaparkan solusi yang dapat disimpulkan sesuai dengan
19 BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Pengaruh Kelengkapan Kontrak pada Linkage Pembiayaan Bank Syariah pada LKMS dengan akad Mudharabah-Murabahah
Dalam Ahmad Erani (2012:83), terdapat empat aspek yang menjadi
faktor perbedaan jenis kontrak yakni:
1. Jangka waktu dari kontrak, sangat berhubungan dengan atribut
transaksi dan sekaligus menggambarkan komitmen dari para mitra
2. Derajat kelengkapan, yang mencakup variable-variabel harga,
kualitas, aturan keterlambatan dan penalty.
3. Kontrak biasanya bersinggungan dengan insentif, antara lain sistem
tingkat yang tetap, upah berdasarkan jam kerja, distribusi bagian pada
pekerja, pengambilan aset yang dibayarkan kepada pemilik, dan sewa
yang dibagi diantara mitra yang bergabung dengan proyek.
4. Prosedur penegakan yang berlaku, kontrak berhubungan dengan
mitra untuk tujuan saling menguntungkan, tetapi pada waktu yang
bersamaan kontrak juga menyimpan risiko kerugian melalui sikap
oportunis.
Terdapat catatan penting mengenai derajat kelengkapan dan
prosedur penegakan. Hal ini disebabkan banyaknya kelembagaan (rule of
the game) yang tidak lengkap. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Denizar dan Nafik (2015), pada BMT yang melakukan kontrak linkage pembiayaan. BMT X tersebut setiap tahun selalu melakukan penambahan
jumlah outstanding pembiayaan dari linkage program, khususnya dengan
Bank Syariah Mandiri, namun BMT Y tidak lagi melanjutkan linkage pembiayaan pada tahun 2013. Menurut informan, pengaruh linkage pada perkembangan kinerja setelah melakukan linkage dengan bank syariah,
namun akan lebih nyaman apabila menggunakan dana anggota karena
20 Pada penelitian terdahulu, linkage program Bank Syariah menghasilkan dampak yang positif terhadap kinerja BMT tersebut, dari
tahun 2009 sampai tahun 2012. Namun pada tahun 2013 program linkage pembiayaan ini tidak dilanjutkan kembali. Padahal apabila linkage program
ini berdampak positif, maka seharusnya BMT Y tetap melanjutkan linkage program dengan Bank Syariah X.
Terdapat tiga hal yang menjadi alasan BMT Y, tidak melanjutkan
linkage program dengan Bank Syariah X pada tahun 2013. Pertama, informan menganggap pola syariah dari linkage program dengan Bank Syariah X masih kurang sesuai. Model yang digunakan adalah executing dengan pola akad mudharabah wal murabahah. Maksud dari pola akad ini adalah pembiayaan Bank Syariah X pada BMT Y menggunakan akad
mudharabah, sedangkan penyaluran dana linkage tersebut kepada anggota BMT/masyarakat menggunakan akad murabahah. Pola inilah yang disebut informan return dari akad mudharabah dengan Bank Syariah X tetap atau flat. Kedua, bagi hasil dari linkage program dengan Bank Syariah X masih cukup tinggi. Margin efektif yang ingin didapatkan Bank Syariah X
dari program linkage dengan BMT Y adalah sekitar 13,75%. Dana linkage
program Bank Syariah X tersebut dilempar kepada anggota/masyarakat
dengan margin efektif pembiayaan sekitar 20-24%.
Ketiga proses pencairan dana linkage, yang masih terlalu lama, yaitu
satu bulan BMT Y yang telah bekerja sama selama lima tahun dengan Bank
Syariah X seharusnya bias lebih cepat proses pencairannya, karena telah
saling percaya. Namun, tetap saja informan yang juga selaku manajer di
BMT Y kurang puas dengan proses pencairan dana yang paling cepat satu
21 Jika dianalisis melalui konsekuensi atas pembiayaan yang
menggunakan akad mudharabah inilah yang menjadi jawaban mengapa
perkembangan pembiayaan perbankan syariah mayoritas didominasi oleh
akad murabahah.
1. Ketidakpastian hasil
Mudharabah memberikan hasil pengembalian yang tidak pasti,
bergantung pada kepercayaan dan konsekuensi segala hal yang
tertulis dalam kontrak. Bank melakukan pengamanan dana nasabah
dan karenanya sangat menghindari risiko (risk averse). 2. Masalah Prinsipal-Agen
Keuntungan yang diperoleh oleh sangat bergantung pada kinerja
dan kejujuran nasabah. Bank tentu sudah sangat berhati-hati dalam
menanamkan modalnya, namun demikian akad ini tidak terlepas dari
permasalahan prinsipal-agen, yaitu terdapat kencenderungan bahwa
agen bekerja untuk memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri
dibandingkan bekerja untuk memaksimalkan keuntungan prinsipal
22 Table 4.1. pola akad mudharabah-murabahah di Bank Syariah
Untuk menggambarkan pola ini lebih jelas, berikut ini contohnya: a. Pembiayaan bank : Rp. 2 miliar
b. Skema pembiayaan : mudharabah c. Tenor : 3 Tahun
d. Ekspektasi bagi hasil yang diharapkan bank : 15% pertahun efektif
BMT/LKMS mengucurkan pembiayaan kepada para anggotanya dengan data sebagai berikut
a. Pembiayaan kepada nasabah : Rp. 2 miliar (100% dari dana bank), dengan rincian jumlah nasabah sebanyak 100 orang, dengan masing-masing pembiayaan Rp 20 Juta
b. Skema pembiayaan : murabahah c. Tenor : 3 tahun
Akad Mudharabah Murabahah
Margin Misalnya: 15%
23 Berikut ini adalah perhitungannya:
1. Perhitungan bank syariah pada LKMS
Perkiraan angsuran per bulan = P X �
− +
Angsuran selama 3 tahun (36 bulan) = Rp 69,330,657 /bulan X 36
= Rp.2,495,903,652
2. Perhitungan LKMS pada nasabah/anggota dan masyarakat
Perkiraan angsuran per bulan = P X �
− +
Angsuran selama 3 tahun (36 bulan) = Rp 76,380,906/bulan X 36
= Rp.2,749,712,629
Karena dalam akad mudharabah, tidak boleh dipastikan besar angsuran dan keuntungannya, maka perlu dicari nisbah bagi hasil yang akan ditulis di akad.
3. Perhitungan nisbah bagi hasil:
Formula untuk mencari nisbah bagi hasil
a. Nisbah bank: perkiraan keuntungan bank/margin keuntungan LKMS
24 Dalam hal ini,
a. Nisbah bank: 15%/22% = 68,18%
b. Nisbah LKMS: 100% - 68,18% =31,82%
Perhitungan tersebut dituangkan dalam akad murabahah sebagai berikut:
Bank bertindak sebagai shahibul maal, LKMS sebagai mudharib Modal bank : Rp. 2.000.000.000
Modal LKMS : Rp. 0
Bagi hasil : didasarkan pada pendapatan mudharib Bagi hasil yang dibayarkan : setiap mudharib mendapatkan
pendapatan
Nisbah bagi hasil bank : 68,18% dari pendapatan mudharib Nisbah bagi hasil LKMS : 31,82% dari pendapatan mudharib Tenor angsuran : 36 bulan
Akad mudharabah diatas menjadi dasar dari jadwal angsur yang dibayarkan LKMS kepada bank syariah.
Keterangan:
Angsuran pembayaran pokok ditambah perkiraan hasil yang harus dibayar pada bulan tersebut, diperoleh dengan cara seperti
menghitung angsuran per bulan.
Jumlahnya diharapkan tetap setiap bulan, dalam kasus ini Rp. 69.330.657/bulan
Perkiraan bagi hasil: pembayaran perkiraan bagi hasil yang harus dibayar pada bulan tersebut, diperoleh dengan cara mengalikan perkiraan bagi hasil yang telah dikonversi dengan sisa pokok bulan sebelumnya, misalnya dalam kasus ini pada bulan kedua:
Pembayaran pokok : Rp. 69.330.657 – Rp. 24.445.867
: Rp. 44.884.790
25 Komposisi perkiraan jadwal angsur LKMS pada bank syariah adalah sebagai berikut:
Bulan Pokok Bagi hasil Angsuran Sisa angsuran Sisa bagi hasil Sisa pokok
1. 44.330.657 25 000.000 69.330.657 2.426.572.995 470.903.652 1.955.669.343 2. 44.884.790 24.445.867 69.330.657 2.357.242.338 446.457.786 1.910.784.553 3. 45.445.850 23.884.807 69.330.657 2.287.911.681 422.572.979 1.865.338.703 4. 46.013.923 23.316.734 69.330.657 2.218.581.024 399.256.245 1.819.324.779 5. 46.589.097 22.741.560 69.330.657 2.149.250.367 376.514.685 1.772.735.682 6. 47.171.461 22.159.196 69.330.657 2.079.919.710 354.355.489 1.725.564.221 7. 47.761.104 21.569.553 69.330.657 2.010.589.053 332.785.936 1.677.803.117 8. 48.358.118 20.972.539 69.330.657 1.941.258.396 311.813.397 1.629.444.999 9. 48.962.595 20.368.062 69.330.657 1.871.927.739 291.445.335 1.580.482.404 10. 49.574.627 19.756.030 69.330.657 1.802.597.082 271 689 305 1.530.907.777 11. 50.194.310 19.136.347 69.330.657 1.733.266.425 252.552.958 1.480.713.468 12. 50.821.739 18.508.918 69.330.657 1.663.935.768 234.044.039 1.429.891.729 13 51.457.010 17.873.647 69.330.657 1.594.605.111 216.170.393 1.378.434.719 14 52.100.223 17.230.434 69.330.657 1.525.274.454 198.939.959 1.326.334.496 15 52.751.476 16.579.181 69.330.657 1.455.943.797 182.360.777 1.273.583.020 16 53.410.869 15.919.788 69.330.657 1.386.613.140 166.440.990 1.220.172.150 17 54.078.505 15.252.152 69.330.657 1.317.282.483 151.188.838 1.166.093.645 18 54.754.486 14.576.171 69.330.657 1.247.951.826 136.612.667 1.111.339.159 19 55.438.918 13.891.739 69.330.657 1.178.621.169 122.720.928 1.055.900.241 20 56.131.904 13.198.753 69.330.657 1.109.290.512 109.522.175 999.768.337 21 56.833.553 12.497.104 69.330.657 1.039.959.855 97.025.071 942.934.785
22 57.543.972 11.786.685 69.330.657 970.629.198 85.238.386 885.390.812
23 58.263.272 11.067.385 69.330.657 901.298.541 74.171.001 827.127.541
24 58.991.563 10.339.094 69.330.657 831.967.884 63.831.906 768.135.978
25 59.728.957 9.601.700 69.330.657 762.637.227 54.230.207 708.407.021
26 60.475.569 8.855.088 69.330.657 693.306.570 45.375.119 647.931.451
27 61.231.514 8.099.143 69.330.657 623.975.913 37.275.976 586.699.937
28 61.996.908 7.333.749 69.330.657 554.645.256 29.942.226 524.703.030
29 62.771.869 6.558.788 69.330.657 485.314.599 23.383.439 461.931.160
30 63.556.518 5.774.140 69.330.657 415.983.942 17.609.299 398.374.643
31 64.350.974 4.979.683 69.330.657 346.653.285 12.629.616 334.023.669
32 65.155.361 4.175.296 69.330.657 277.322.682 8.454.320 268.868.308
33 65.969.803 3.360.854 69.330.657 207.991.971 5.093.466 202.898.505
34 66.794.426 2.536.231 69.330.657 138.661.314 2.557.235 136.104.079
35 67.629.356 1.701.301 69.330.657 69.330.657 855.934 68.474.723
26 Lebih lanjut ini adalah jadwal angsur anggota pada LKMS (akumulasi) adalah sebagai berikut:
Bulan Pokok Margin Angsuran Sisa angsuran Sisa margin Sisa pokok
1. 39.714.240 36.666.667 76.380.906 2.673.331.722 713.045.962 1.960.285.760 2. 40.442.334 35.938.572 76.380.906 2.596.950.816 677.107.390 1.919.843.426 3. 41.183.777 35.197.129 76.380.906 2.520.569.910 641.910.260 1.878.659.649 4. 41.938.813 34.442.094 76.380.906 2.444.189.003 607.468.167 1.836.720.837 5. 42.707.691 33.673.215 76.380.906 2.367.808.097 573.794.951 1.794.013.146 6. 43.490.665 32.890.241 76.380.906 2.291.427.191 540.904.710 1.750.522.480 7. 44.287.994 32.092.912 76.380.906 2.215.046.284 508.811.798 1.706.234.486 8. 45.099.941 31.280.966 76.380.906 2.138.665.378 477.530.833 1.661.134.545 9. 45.926.373 30.454.133 76.380.906 2.062.284.472 447.076.699 1.615.207.772 10. 46.768.764 29.612.142 76.380.906 1.985.903.565 417.464.557 1.568.439.008 11. 47.626.191 28.754.715 76.380.906 1.909.522.659 388.709.842 1.520.812.817 12. 48.499.338 27.881.568 76.380.906 1.833.141.753 360.828.273 1.472.313.479 13 49.388.493 26.992.414 76.380.906 1.756.760.846 333.835.860 1.422.924.986 14 50.293.984 26.086.958 76.380.906 1.680.379.940 307.748.902 1.372.631.038 15 51.216.004 25.164.902 76.380.906 1.603.999.033 282.583 999 1.321.415.034 16 52.154.964 24.225.942 76.380.906 1.527.618.127 258.358.057 1.269.260.070 17 53.611.138 23.269.768 76.380.906 1.451.237.221 235.088.289 1.216.148.932 18 54.084.843 22.296.064 76.380.906 1.374.856.314 212.792.225 1.162.064.089 19 55.076.398 21.304.508 76.380.906 1.298.475.408 191.487.717 1.106.987.691 20 56.086.132 20.294.774 76.380.906 12.22.094.502 171.192.943 1.050.901.559 21 57.114.378 19.266.529 76.380.906 1.145.713.595 151.926.414 993.787.181 22 58.161.475 18.219.432 76.380.906 1.069.332.689 133.706.982 935.625.707
23 59.227.768 17.153.138 76.380.906 992.951.783 116.553.844 876.397.938
24 60.313.611 16.067.296 76.380.906 916.570.876 100.486.549 816.084.327
25 61.419.360 14.961.546 76.380.906 840.189.970 85.525.003 754.664.967
26 62.545.382 13.835.524 76.380.906 763.809.064 71.689.479 692.119.585
27 63.692.047 12.688.859 76.380.906 687.428.157 59.000.619 628.427.538
28 64.859.735 11.521.172 76.380.906 611.047.251 47.479.448 563.567.803
29 66.048.830 10.332.076 76.380.906 534.666.344 37.147.372 497.518.973
30 67.259.725 9.121.181 76.380.906 458.285.438 28.026.190 430.259.248
31 68.492.820 7.888.086 76.380.906 381.904.532 20.138.104 361.766.428
32 69.748.522 6.632.385 76.380.906 305.523.625 13.505.720 292.017906
33 71.027.245 5.353.662 76.380.906 229.142.719 8.152.058 220.990.661
34 72.329.411 4.051.495 76.380.906 152.761.813 4.100.563 148.661.250
35 73.655.450 2.725.456 76.380.906 76.380.906 1.375.106 75.005.800
36 75.005.800 1.375.106 76.380.906 0 0 0
27 Keuntungan (selisih) bagi LKMS dari perkiraan jadwal angsur diatas
sebagai berikut,
Bulan Selisih margin Selisih angsuran
1 11.666.667 7.050.249
Kekeliruan akad mudharabah-murabahah di bank syariah, dengan menimbang penjelasan secara teoretis maupun analisis keuangan, yang
terjadi pada akad mudharabah – murabahah ini adalah, akad mudharabah ini memang digunakan sebagai pelengkap akad murabahah. Sebuah upaya mencari cara legal untuk tetap menerapkan akad mudharabah, sebagai akad yang dikenal sebagai akad yang tidak diragukan lagi keabsahannya,
namun tetap tidak mau kehilangan kepastian yang ditawarkan akad
28 kontrak yang tidak lengkap menjadi kelemahan dan ketidakawetan atas
pelaksanaan kontrak akad ini. Lebih lanjut dalam lima asas pertukaran
harta, yang dilanggar adalah, aspek keberadaan, aspek kesetaraan dan
aspek kejujuran. Secara tegas ketidakjelasan yang harus ditanggung oleh
mudharib dalam hal ini LKMS jika anggotanya gagal bayar, apakah ia harus
membayar sesuai dengan jadwal angsur atau sesuai dengan keberhasilan.
Hal ini dapat menimbulkan sengketa antara LKMS dan Bank Syariah,
sengketa muncul karena klausa yang menyebutkan bahwa “mudharib ikut menanggung kerugian apabila kegagalan diakibatkan kelalaian mudharib”. Pada hal inilah, menyepakati mana yang kelalaian mana yang bukan, yang
biasanya menjadi pangkal sengketa.
Sehingga peneliti menilai, perlunya perbaikan tata kelola
kelembagaan, namun seperti telah dijelaskan sebelumnya juga, bahwa
dalam kontrak dua pihak dengan pola prinsipal-agen persoalan
ketidaseimbangan posisi tawar sulit untuk dihindari, sehingga peneliti
menilai peran regulasi penting untuk mengatur secara jelas bagaimana pola
linkage dan bentuk tanggung jawab pada masing-masing pihaik, lebih lanjut
hal inilah yang perlu disadari oleh pihak otoritas (dalam hal ini Otoritas Jasa
Keuangan) dan Dewan Syariah Nasional, untuk bersama memperbaiki pola
akad mudharabah wal murabahah, yang mana kontrak linkage pembiayaan
ini tidak berlangsung awet, sehingga masalah kontrak yang berhubungan
29 BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Penelitian literatur ini secara objektif memandang bank syariah
mendukung kesulitan modal dan peningkatan kapasitas pembiayaan yang
kemudian lahirlah linkage pembiayaan. Lemahnya kelembagaan yang bermuara pada kelengkapan kontrak dan prosedural penegakan, sehingga
masalah keagenan muncul. Berdasarkan penjelasan pada bab
pembahasan, peneliti melihat persoalan ini diperbaiki dengan diawali
membangun kelembagaan yang efisien melalui regulasi yang tepat
(regulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Dewan Syariah Nasional). Hal
ini disadari mengingat landasan regulasi dari linkage pembiayaan ini belum
rinci. Sehingga pihak-pihak yang melakukan kontrak memberi penafsiran
aturan main tersebut tanpa kesamaan pandangan.
5.2. Saran
Penelitian ini, lebih lanjut dapat dikembangkan dari segi analisis teori
kontrak dan fiqih muamalah, dengan dilakukan pemetaan yang lebih merinci, diharapkan dapat semakin memperjelas, strategi untuk
menyelesaikan masalah penelitian bidang ini. Dengan pemetaan teori ini
30 DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Johan. 2013. Hubungan Hukum Kemitraan Dalam Linkage Program Perbankan Syari’ah. Vol IV (2): 43-54.
Bank Indonesia. Generic Model Linkage Program.
Denizar dan Nafik. 2015. Linkage Program Bank Syariah dengan BMT: Tinjauan Kritis Bagi Pengembangan Sistem Keuangan Islam yang Lebih Kaffah. JESTT Vol 2 (10): 850-864.
Hamidah, Siti. 2015. Analisis Kebijakan Linkage Program Lembaga
Keuangan Syariah Dalam Rangka Pemberdayaan UKM di Indonesia. Jurnal Arena Hukum Vol 8 (2): 185-216
Mulyadi, Mohammad. 2011. Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Serta Pemikiran Dasar Menggabungkannya. Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol. 15 (1).
Natadipurba, Candra. 2015. Ekonomi Islam 101. PT. Mobidelta Indonesia: Bandung.
Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Graha Ilmu: Yogyakarta.
Siti Maesaroh. 2011. Efektifitas Linkage Program Bank Syariah Mandiri dalam Penguatan Pembiayaan Lembaga Keuangan Mikro. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Wirahadi, Afridian dan Yossi Septriani, Ahmad. 2008. Konflik Keagenan: Tinjauan Teoritis dan Cara Menguranginya. Jurnal Akuntansi & Manajemen Vol 3 (2): 47-55.
Yustika, Ahmad Erani. 2012. Ekonomi Kelembagaan, Paradigma, Teori dan Kebijakan. Erlangga: Jakarta.
Sumber Website: