BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Perpindahan Panas 2.1.1 Perpindahan Panas Konduksi
Konduksi adalah transfer energi dari partikel yang memiliki energi lebih besar ke substansi dengan energi yang lebih rendah dan sebagai hasilnya terjadi interaksi antara partikel.[11]
Rumus Umum :
q = -k . A . ... (2.1)
Dimana :
q = Laju perpindahan panas (W)
A = Luas penampang dimana panas mengalir (m2
dT/dx = Gradien suhu pada penampang, atau laju perubahan suhu T )
terhadap jarak dalam arah aliran panas x (K) k = Konduktivitas termal bahan (W/m.K)
2.1.2 Perpindahan Panas Konveksi
Konveksi adalah bentuk dari transfer energi diantara permukaan padat dan fluida yang bergerak serta terkandung efek kombinasi konduksi dan fluida bergerak.[11]
Rumus Umum :
q = h.A. ... (2.2)
Dimana :
q = Laju perpindahan panas konveksi (W)
h = Koefisien perpindahan panas konveksi (W/m2 A = Luas penampang (m
K) 2
∆T = Perubahan atau perbedaan suhu ( K)
Nilai koefisien konveksi dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut ini = Bilangan Nusselt
L = panjang plat (m)
Bilangan Nusselt untuk aliran konveksi sebuah plat dapat ditentukan dengan melihat sesuai dengan keadaan kasusnya. Misalnya sebuah plat datar yang ditiup angin dengan kecepatan U∞ dan temperatur T∞ . Dengan temperatur plat adalah konstan sebesar Ts. Jika temperatur plat lebih tinggi dari temperatur udara,
maka panas akan mengalir dari plat datar ke fluida. Bilangan Nusselt (Nu) dapat dihitung berdasarkan kasus ini adalah. [2]
untuk Re < 5x105...(2.4)
= Bilangan Nusselt sepanjang x
x
Pr = Bilangan Prandlt
= Bilangan Reynolds sepanjang x
Secara umum, pola aliran fluida untuk konveksi panas terbagi menjadi tiga jenis, yaitu aliran laminar, transisi, dan turbulen . Aliran laminar adalah aliran yang molekul-molekul fluidanya masih tersusun rapi atau tidak acak, sedangkan aliran turbulen adalah aliran yang molekul-molekul fluidanya acak atau radial. Aliran transisi merupakan pola aliran yang berada diantara aliran laminar dan turbulen. Persamaan yang digunakan untuk menghitung bilangan Reynold adalah sebagai berikut[2].
Dimana: 2.1.3 Perpindahan Panas Radiasi
)
Perpindahan panas radiasi adalah perpindahan panas yang terjadi tanpa melalui media perantara (padat dan fluida).
Persamaan untuk mencari perpindahan panas radiasi adalah sebagai berikut [11]:
= laju perpindahan panas radiasi (W)
A = luas permukaan (m2
σ = kontanta Stefan – Boltzmann (5,67 x 10 )
2.2.1 Teori Dasar Radiasi Surya
Radiasi adalah proses perpindahan panas tampa melalui media. Bila energi radiasi menimpa permukaan suatu bahan, maka sebagian akan dipantulkan (refleksi) , sebagian lagi akan diserap (absorbsi) dan sebagian lagi akan diteruskan (transmisi). Kebanyakan benda padat tidak bisa mentransmisikan radiasi thermal sehingga penerapan transmisivitas dianggap nol(Saharjo, 1997).
Atmosfer bumi terdiri atas empat lapisan dari yang terdekat dari permukaan bumi yaitu troposfer (0-10 km), stratosfer (10-30 km), mesosfer (30-50 km), dan thermosfer (50-400 km) (Saharjo, 1997).
Radiasi yang sampai di lapisan thermosfer dilambangkan (Gon). Radiasi yang diteruskan ke permukaan bumi dilambangkan (Gbeam). Radiasi akibat pemantulan dan pembiasan dilambangkan (Gdiffuse).
Gambar 2.1 Radiasi surya (kamusmeteorology.blogspot.com)
2.2.2 Rumusan Radiasi Surya
Matahari mempunyai diameter 1,39×109 m. Bumi mengelilingi matahari dengan lintasan berbentuk ellipse dan matahari berada pada salah satu pusatnya. Jarak rata-rata matahari dari permukaan bumi adalah 1,49×1011 m.[3]
1,52x1011 m. Karena adanya perbedaan jarak ini, menyebabkan radiasi yang diterima atmosfer bumi juga akan berbeda.[3]
Gambar 2.2 Pergerakan bumi terhadap matahari
2.2.3 Menentukan Besarnya Radiasi Surya
Radiasi beam adalah radiasi yang langsung di transmisikan dari atmosphere ke permukaan bumi. Adapun persamaan yang digunakan untuk mencari radiasi beam [3]:
Gbeam = Gon τbcos θz ... Dimana :
(2.8)
Gon = radiasi yang diterima atmosphere (W/m2
τ
) b
cos θ
= faksi radiasi yang diteruskan ke bumi z
G
= cosinus sudut zenith
beam = radiasi yang ditransmisikan dari atmosphere ke permukaan bumi (W/m2)
Radiasi diffuse adalah radiasi yang di pantulkan ke segala arah, dan kemudian dimanfaatan. Adapun persamaan yang digunakan untuk mencari radiasi diffuse [3] adalah :
Dimana :
Gon = radiasi yang diterima atmosphere (W/m2
τ
) b
cos θ
= faksi radiasi yang diteruskan ke bumi z
G
= cosinus sudut zenith
difuse = Radiasi yang dipantulkan ke segala arah dan kemudian dapat dimanfaatkan.
Radiasi total adalah jumlah dari radiasi beam dan radiasi diffuse seperti pada persamaan berikut [3] :
Gtotal = Gbeam + Gdifuse ... (2.10) Radiasi yang dapat ditangkap oleh luasan kolektor, intensitas radiasi diperoleh dari alat ukur, dan dihitung permenit, sehingga energi radiasi dapat di hitung mengunakan rumus [3] :
Q = I A Δt ... (2.11) Dimana:
Q = Energi Radiasi (J) I = Intensitas radiasi (W/m2 A = Luas penampang kolektor(m
) 2
Δt = Selang waktu perhitungan (s) )
= Emisivitas kaca (%)
2.3 Konveksi Alamiah
Jika aliran fluida terjadi secara alami sebagai akibat dari adanya perpindahan panas yang terjadi secara konveksi, maka ini disebut konveksi natural atau kadang disebut konveksi bebas atau konveksi alamiah dalam bahasa Inggris disebut natural convection atau free convection.
2.3.1 Konveksi Alamiah Pada Permukaan Luar
diperhitungkan. Bilangan-bilangan tanpa dimensi yang sering digunakan untuk menghitung konveksi alamiah adalah [2] :
RaL = ... (2.12)
Persamaan mencari bilangan Nusselt untuk konveksi alamiah pada plat luar telah diturunkan secara analitik, dengan asumsi bahwa aliran adalah laminar. Namun faktanya, aliran tidak selalu laminar melainkan turbulent. Oleh karena itu, untuk menentukan bilangan Nusselt dapat disesuaikan dengan bilangan Rayleigh dengan persamaan sebagai berikut. [2]
untuk 104 < RaL <107...(2.13)
2.3.2 Konveksi Alamiah Pada Ruang Tertutup
H
Gambar 2.3 Ruang tertutup yang tinggi dan rendah
Untuk ruang tertutup seperti pada gambar 2.3 dengan aspek rasio L/H > 1, rekomendasi Berkovsky dan Polekov (1997) dapat digunakan. Ruang dengan ketinggian 1 < L/H < 2, dan syarat tambahan RaH Pr/0,2 + Pr>103
McGregor dan Emery (1969) merekomendasikan dua persamaan berikut untuk ruang tertutup dengan rasio ketinggian yang lebih besar lagi. [2]
... (2.17)
Syarat untuk persamaan ini adalah : dan
kemudian untuk rasio yang lebih tinggi lagi,
... (2.18)
Syarat untuk persamaan ini adalah : dan
Disini perlu diperhatikan bahwa bilangan Nu dan Ra semua dinyatakan dengan lebar ruang, yaitu H dan tinggi L.
Untuk ruang tertutup dengan rasio ketinggian kurang dari 1, atau ruang pendek seperti yang ditampilkan pada gambar 2.5, rekomendasi yang diajukan oleh Bejan dan Tien (1978) dapat digunakan [2]:
... (2.19)
Pada Gambar 2.4 dibawah ini, ditampilkan ruang tertutup dengan posisi dinding panas di bawah. Jika kasusnya seperti ini, pola aliran yang terjadi di dalam ruang akan sangat bervariasi dan sangat tergantung pada bilangan Rayleigh nya. Pola aliran yang terjadi tetap memutar, tetapi ada kemungkinan sumbu putaran lebih dari satu. Fenomena putaran di ruang tertutup yang lebih dari satu ini biasanya dikenal dengan istilah ruang Benard atau Benard cell. Nama ini disesuaikan dengan nama orang pertama yang mengamati dan melaporkannya tahun 1900. [2]
Gambar 2.4 Ruang tertutup
Jika fluida yang ada di ruangan tertutup ini adalah udara, maka persamaan yang diajukan oleh Jakob (1949) dapat digunakan [2]:
Rumus umum :
Nu = Bilangan Nusselt Ra = Bilangan Rayleigh
Meskipun persamaan ini dikhususkan untuk udara tetapi masih dapat digunakan untuk gas yang lain selama bilangan Prandtl memenuhi 0,5<Pr<2. Sementara untuk jangkauan fluida selain gas Globe dan Dropkin (1959) mengajukan persamaan berikut [2]:
Rumus umum :
Nu=0,069Ra1L3Pr0,074 ... (2.22) Dimana :
Nu = Bilangan Nusselt Ra = Bilangan Rayleigh Pr = Bilangan Prandlt
Syarat bilangan Rayleigh agar persamaan ini berlaku adalah 9 persamaan berikut untuk digunakan pada kasus ini [2]:
Rumus Umum : Syarat penggunaan persamaan ini adalah 5
10
[ adalah yang diambil hanya nilai positif. Jika nilai yang didalam kurung negative maka hasilnya sama dengan nol. Perhatikan operasi berikut [2]+ =2 tetapi [−2]+ =0
L H
g
Tc
fluida
Kaca (ding in)
Abso rber
(Pana s)
TH
θ
Gambar 2.5 konveksi natural pada ruang tertutup yang miring
Pada gambar 2.5 ditampilkan sebuah solar kolektor plat datar yang dapat dimodelkan sebagai ruang tertutup persegi yang miring. Sebenarnya pada kolektor ini terdapat dua buah kaca, tetapi pada model ini hanya ditampilkan satu lapis. Asumsi dilakukan disini adalah perpindahan panas yang terjadi adalah dua dimensi dan dinding samping dari kolektor diisolasi dengan baik.
Pada kasus ini tidak banyak penelitian yang telah dilakukan. Tetapi rekomendasi yang diajukan oleh Holland, dkk (1976) dapat digunakan. [2]
... (2.24) Syarat persamaan ini adalah rasio lebar tehadap ketinggian cukup besar H/L 12, , dan sudut kemiringan kurang dari 70o, ( 0< θ < 70o)
... (2.25)
Syarat menggunakan persamaan ini adalah sudut kemiringan harus lebih kecil dari sudut kritis 0 < < . Nu untuk sudut 0o dapat digunakan persamaan yang diajukan Holland,dkk(1976) diatas dan untuk 90o , persamaan (82) atau (83) dapat digunakan. Tetapi disini perlu kehati-hatian menggunakan parameter L dan H, jangan sampai tertukar. Sudut kemiringan kritis berbeda untuk masing-masing rasio untuk beberapa rasio ditampilkan pada tabel 2.1. [2]
Tabel 2.1. Sudut kritis ruang tertutup miring.
Rasio H/L Sudut Kritis,
1 25o
3 53o
6 60o
12 67o
>12 70o
Jika Sudut kemiringan melebihi sudut kritis, maka rekomendasi oleh Ayyaswamy dan Catton (1973) dapat digunakan. [2]
... (2.26)
Persamaan ini berlaku untuk dan semua H/L. Sementara jika kemiringannya melebihi dari , Arnold, dkk(1974) dapat digunakan. [2]
2.4 Kompor surya
2.4.1 Sejarah Kompor Surya
Saat ini, masih ada manusia yang belum mengetahui cara memasak makanan. Sebagian orang makan makanan dalam kondisi mentah. Kemudian manusia menemukan bahwa api bisa dikendalikan dan digunakan untuk memasak makanan. Api pada dasarnya adalah tenaga surya yang disimpan dalam kayu. Melihat cara ini, cara memasak dengan kayu adalah metode pertama memasak dengan energi surya di bumi ini.
Awal memasak dengan energi surya dapat ditemukan dari beberapa cerita terisolasi di masa lalu. Kaum Esseni, suatu sekte awal Yahudi, membuat wafer lembut dengan memanaskan wafer pada tanah yang tumbuh biji-bijian pada bebatuan diatasnya kemudian biji-bijian tersebut dipanaskan oleh matahari padang pasir. Tujuannya adalah agar wafer tidak terlalu panas.
Orang yang pertama mengetahui Kompor surya adalah Horase de Saussure, seorang naturalis Swiss. Dia memasak buah-buahan dalam Kompor surya tipe kotak yang dapat mencapai suhu 190° F. Kemudian orang menganggapnya sebagai kakek dari Kompor surya.
Selama waktu ini, sudah banyak orang yang mulai menggunakan Kompor surya. Di India, seorang tentara Inggris mempatenkan Kompor surya yang cukup canggih dan dikenal dengan nama solar chef. Pada tahun 1894, ada sebuah restoran di Cina yang melayani makanan yang dimasak dengan energi surya. Ada juga cerita tentang seorang kapten laut yang menciptakan Kompor surya yang bisa digunakan pada perjalanan panjang.[12]
Kompor surya yang pertama kali diakui adalah milik seorang berkebangsaan Amerika yang bernama Barbara Kerr dari Arizona. Prinsip kerja Kompor surya -nya adalah menyerap energi solar dan mengkonversinya menjadi panas serta memerangkapnya dalam ruang tertutup (Abhishek Saxenaa : 2011-2).
bahan bakar. Sejumlah insinyur disewa untuk mempelajari aspek yang berbeda dari desain Kompor surya . Studi ini menyimpulkan bahwa Kompor surya yang dibangun tidak hanya dapat memasak makanan secara menyeluruh dan bergizi, tetapi cukup mudah untuk membuat dan digunakan.
PBB kemudian mensponsori studi dan program untuk memperkenalkan Kompor surya ke budaya kaum primitif. Upaya ini terbukti tidak berhasil. Dalam suatu studi, Sebanyak 500 Kompor surya diberikan ke sebuah kampung pengungsi. Tiga bulan kemudian mereka kembali menggunakan kayu bakar. Para ilmuwan sosial menyimpulkan bahwa metode memasak dengan Kompor surya tidak terlalu menarik perhatian dan kaum primitif tidak mau beradaptasi dengan metode memasak ini.
Sehingga PBB,menyimpulkan bahwa Kompor surya bukan pilihan yang layak dan semua dana untuk Kompor surya dihentikan.Karena mereka merasa desain yang dipromosikan terlalu rumit. Juga, kompor terlalu mahal bagi pengguna yang dituju sehingga mereka merasa bahwa banyak pekerjaan yang dibutuhkan untuk mendesain Kompor surya.
Baru pada tahun 1987, sebuah demonstrasi besar–besaran mendukung agar Kompor surya digunakan di dataran tinggi Bolivia, suatu daerah di mana kayu sudah langka. Dua organisasi, Pillsbury Corporation dan sebuah organisasi non-pemerintah yang disebut Meals for Millions,, bersama-sama mensponsori demonstrasi memasak dan kemudian mengajarkan orang desa bagaimana membangun Kompor surya dengan bahan lokal. Pada tahun 1988, Pillsbury, bekerjasama dengan Foster Parents (sekarang Save the Children) mensponsori sebuah proyek serupa di Guatemala. Proyek ini merupakan proyek awal PBB dan kemudian dimulailah aliran proyek-proyek tersebut di seluruh dunia yang terus mengalir hingga saat ini.[12]
2.4.2 Tipe-Tipe Kompor surya
Sebuah Solar box cooker biasanya memiliki kaca transparan atau plastik, dan mungkin memiliki reflektor tambahan untuk mengkonsentrasi sinar matahari ke dalam kotak. Bagian atas biasanya dapat dibuka untuk memungkinkan pot berisi makanan untuk ditempatkan di dalam. Satu atau lebih reflektor logam mengkilap atau bahan berlapis alumunium foil dapat diposisikan untuk menambah cahaya tambahan ke bagian dalam ruang oven. Wadah untuk memasak dan bagian bawah dalam box harus berwarna gelap atau hitam. Di dalam dinding harus reflektif untuk mengurangi kehilangan panas radiasi dan memantul cahaya menuju bagian bawah pot. Kotak itu harus memiliki sisi terisolasi. Isolasi termal untuk
Solar box cooker harus mampu menahan suhu sampai 150 ° C (300 ° F) tanpa
meleleh atau bereaksi dengan panas yang dapat menimbulkan gas beracun. Gumpalan koran, wol, kain, rumput kering, lembar kardus, dll dapat digunakan untuk mengisolasi dinding kompor. Solar box cooker biasanya mencapai suhu 150 ° C (300 ° F). Waktu terbaik memasak adalah sebelum tengah hari, meskipun terkadang tergantung pada garis lintang dan cuaca. Kompor surya dapat digunakan untuk menghangatkan makanan dan minuman .
Gambar 2.6 Kompor surya tipe box
Keterangan Gambar 2.6 :
1.Boosted Mirror, fungsinya merefleksikan cahaya ke absorber.
2) Kompor surya tipe panel
Kompor surya tipe panel menggunakan panel reflektif untuk mengarahkan sinar matahari untuk memasak panci yang tertutup dalam kantong plastik bening. Sebuah model umum adalah CooKit . Dikembangkan pada tahun 1994 oleh
International Kompor surya , seringkali diproduksi dengan menyisipkan bahan
reflektif, seperti aluminium foil, lalu dipotong dan dilipat karena biasanya karton berbentuk gelombang. Hal ini agar mempermudah penyimpanan.
Hotpot adalah sebuah bentuk Kompor surya canggih yang
mencakup mangkuk kaca. Panel dipoles kilat pada bagian aluminium.Hotpot memiliki keuntungan termal yang tinggi karena memanfaatkan efek rumah kaca pada bagian mangkuk kacanya. Hotpot ini sering digunakan dalam proyek-proyek di seluruh dunia.
Gambar 2.7 Kompor surya tipe panel
Keterangan Gambar 2.7 :
1. Boosted Mirror, fungsinya merefleksikan cahaya ke absorber. 2. Reflektor, fungsinya untuk merefleksikan cahaya matahari ke pot.
3) Kompor surya tipe ketel
panas, dan untuk mensterilkan air. Ada juga yang menggunakan teknologi tinggi yaitu dengan menggunakan teknologi tabung vakum.
Gambar 2.8 Kompor surya tipe ketel
Keterangan Gambar 2.8 :
1.Reflektor, fungsinya merefleksikan cahaya ke ketel. 2.Ketel, fungsinya sebagai wadah untuk menampung air .
4) Kompor surya tipe parabola
Gambar 2.9 Kompor surya tipe parabola Keterangan Gambar 2.9 :
1.Reflektor, fungsinya merefleksikan cahaya ke ketel.
2.Panci, fungsinya sebagai wadah untuk menampung makanan . 5) Kompor Surya tipe scheffler
Gambar 2.10 Kompor Surya tipe Sceffler Keterangan Gambar 2.10 :
1.Reflektor, fungsinya merefleksikan cahaya ke Vessel
2.Vessel, fungsinya sebagai wadah untuk menampung makanan ataupun air 6) Kompor surya tipe Indirect
Gambar 2.11 Kompor Surya tipe Indirect
(Paper Thermal Performance of solar cooker based on evacuated
tube solar collector with phase change material and applications)
2.4.3 Bagian – Bagian utama Kompor surya
Adapun bagian-bagian utama dari Kompor surya adalah :
1. Booster Mirror
Boosted Mirror merupakan desain dari beberapa tipe kaca dengan sudut
tertentu untuk mengoptimasasikan pantulan cahaya pada Kompor surya .Biasanya Boosted mirror digunakan pada Kompor surya tipe box.Prinsip kerjanya adalah dengan mengunakan cermin atau bahan yang mengkilap sehingga memantulkan cahaya radiasi ke dalam Box.
2. Glazing Material
Glazing Material termasuk diantaranya kaca, acrelic,fiberglass dan
memiliki tranmisi energi solar yang tinggi. Walaupun sekarang yang paling banyak digunakan adalah 2 panel.,kaca dua panel adalah 2 kaca di buat menjadi 1 unit.
3. Cooking Vessel
Bentuk yang biasa digunakan untuk vessel masak adalah silinder yang terbuat dari aluminium yang digunakan untuk memasak di dalam SBC ( Solar Box
Collector). Di luar dari vessel masak itu di lapisi /dicat warna hitam dan
didempetkan pada plat absorber untuk mendapatkan hubungan kontak antara plat absorber dengan tempat masak,untuk mendapatkan dan meningkatkan perpindahan panas secara konduksi antara plat absorber dengan vessel masak ini.
Vessel masak ini harus dapat menyerap panas baik secara radiasi maupun
konduksi. Radiasi yang didapatkan adalah energi solar yang masuk ke dalam kaca ,selanjutnya merambat ke vessel. Konduksi yang didapatkan adalah energi solar yang masuk ke box dan diserap absorber kemudian merambat ke vessel masak ini.
4. Absorber Tray
Absorber tray dari box cooker adalah FPC (Flat Plate Collector)
sederhana. Ketika radiasi solar datang dan melewati kaca dan menuju ke permukaan absorber yang memiliki absorptivity yang tinggi, energi yang besar di serap oleh baki ini dan di transfer ke makanan yang akan dimasak dan ditempatkan dalam vessel masak.
5. Insulation (isolasi)
Isolasi adalah komponen penting dalam hal untuk menyimpan energi panas. Untuk mencegah transmisi energi panas dari dalam box keluar box diperlukan suatu isolasi. Isolasi berperan penuh dalam hal untuk menjaga suhu didalam box tetap konstant.
Ada beberapa bahan yang dapat digunakan untuk isolasi misalnya : Glass
wool, gulungan kertas, jerami dan lain-lain. Hal yang perlu diperhatikan dalam
setebal 40 mm, mereka mendapati suhu 158oC dan dengan tanpa isolasi mereka memperoleh suhu 117oC. Dari hasil tersebut kita peroleh bahwa dengan isolasi ,hasil yang didapatkan lebih efisien.
2.5 Prinsip Memasak
Lof (1963;7:125-33)mendeskripsikan prinsip memasak dengan ketentuan bahwa energi yang diperlukan untuk memasak adalah maksimum panas sensibel selama masa jemur. Panas diperlukan untuk perubahan fisik dan kimia.Energi yang dibutuhkan untuk memasak secara spesifik adalah tidak tetap dan dapat berubah sesuai dengan metode yang digunakan .Selama proses memasak, 20% dari energi digunakan untuk membuat makanan pada temperatur mendidih, 35% panas digunakan untuk menguapkan air dan 45 % lainnya hilang ke udara.
Memasak merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kuman penyakit yang terdapat dalam makanan. Dalam pengujian kali ini yang menjadi bahan untuk dimasak adalah air. Salah satu cara untuk menghilangkan kuman penyakit dari air yang akan dikonsumsi adalah dengan memanaskan atau memasak air.
Pasteurisasi pada air yang akan dikonsumsi dapat dilakukan dengan jalan memanaskan air pada temperatur 55°C - 60°C selama sepuluh menit. Hal tersebut akan mematikan sebagian besar pathogen yang ada dalam air. Cara lain yang lebih efektif adalah memasak atau merebus air yang akan kita konsumsu hingga mendidih. Cara ini sangat efektif untuk mematikan semua pathogen yang ada dalam air seperti virus, bakteri, spora, fungi dan protozoa.
2.6 Kalor Laten dan Kalor Sensibel 2.6.1 Kalor Laten
disebut kalor transformasi. Kalor yang diperlukan untuk merubah fasa dari materi bermassa m adalah [5] :
...(2.28)
Dimana :
QL L
= Kalor laten zat (J)
e
m = Massa zat (kg)
= Kapasitas kalor spesifik laten (J/kg)
2.6.2 Kalor Sensibel
Tingkat panas atau intensitas panas dapat diukur ketika panas tersebut merubah temperatur dari suatu benda. Perubahan intensitas panas dapat diukur dengan termometer. Ketika perubahan temperatur didapatkan, maka dapat diketahui bahwa intensitas panas telah berubah dan disebut sebagai panas sensibel. Dengan kata lain, kalor sensibel adalah kalor yang diberikan atau yang dilepaskan oleh suatu jenis fluida sehingga temperaturnya naik atau turun tanpa menyebabkan perubahan fasa fluida tersebut. Kalor yang diperlukan untuk merubah temperatur suatu materi bermassa m adalah [5] :
...(2.29)
Dimana :
Qs
m = Massa zat (kg)
= Kalor sensibel zat (J)
CP