• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gaya Hidup Dan Pemilihan Bimbingan Belajar Bagi Siswa SMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gaya Hidup Dan Pemilihan Bimbingan Belajar Bagi Siswa SMA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1. Gaya hidup

Menurut Max Weber, gaya hidup merupakan persamaan status kehormatan

yang ditandai dengan konsumsi terhadap simbol gaya hidup yang sama. Ketika

seorang individu berada dalam suatu kelompok maka hal tersebut dapat

menunjukkan status sosial yang ia miliki sama dengan individu lainnya yang ada

dalam kelompok tersebut. Teman dekat atau teman bergaul seseorang pada

umumnya tidak dapat terlepas dari beberapa kesamaan yang mereka miliki

termasuk status sosial yang mereka miliki. Adanya perbedaan status dan gaya

hidup mengakibatkan masyarakat berada dalam batasan-batasan yang begitu

berbeda. Perbedaan tersebut maka setiap orang juga memiliki gaya konsumsi yang

berbeda. Mereka dengan perbedaan status akan mengonsumsi simbol gaya hidup

sesuai dengan kemampuan dan posisi yang mereka miliki.

Definisi lainnya menurut Plummer (Olivia M. Kaparang,2013)

menyebutkan gaya hidup adalah cara hidup individu yang diidentifikasikan oleh

bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka

anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan

tentang dunia sekitarnya (pendapat). Engel, Blackwell & Miniard (Brian Bayu

Setiawan, 2014) memaparkan gambaran tentang komponen-komponen AIO

sebagai berikut : Activities (aktivitas) adalah tindakan yang nyata seperti

(2)

alasan untuk tindakan tersebut jarang dapat diukur secara langsung. Interests

(minat) akan semacam objek peristiwa, atau topik dalam tingkat kegairahan yang

menyertai perhatian khusus maupun terus menerus kepadanya. Opinion (opini)

adalah "jawaban" lisan atau tertulis yang orang berikan sebagai respons terhadap

situasi sehubungan dengan peristiwa masa datang, dan penimbangan konsekuesi

yang memberi ganjaran atau menghukum dari jalannya tindakan alternatif.

Teori Milieu berpendapat bahwa bukan turunan yang menetapkan sifat-sifat

manusia, melainkan alam lingkungannya dimana manusia itu hidup. Teori ini

juga dipengaruhi dengan paham kapitalisme bahwa kebutuhan manusia harus

senantiasa terpenuhi, namun berdasarkan kenyataan bahwa kebutuhan manusia

tidak akan pernah terpenuhi secara keseluruhan karena kebutuhan manusia tidak

terbatas. Teori ini menjelaskan bagaimana lingkungan dengan paham kapitalisme

mulai memberikan dampak bagi kehidupan individu. Ketika individu mulai masuk

ke lingkungan masyarakat maka kapitalisme itu akan memasuki kehidupan

mereka yaitu salah satunya melalui gaya hidup. Berbagai tawaran menarik yang

diberikan oleh kapitalisme menimbulkan konsumerisme yang tinggi dalam

masyarakat. Adanya hasrat manusia untuk mengonsumsi semakin menimbulkan

perbedaan- perbedaan diantara mereka dimana hal ini menimbulkan tingkat

konsumsi yang berbeda dari setiap masyarakat sesuai dengan status seseorang.

Hal inilah yang menciptakan gaya hidup yang berbeda dalam kehidupan

masyarakat tersebut tergantung seberapa besar kemampuannya untuk memenuhi

kebutuhannya yang jauh berbeda dengan kemampuan dari masyarakat lainnya

(3)

Chaney dalam bukunya Lifestlye (1996:92) berasumsi bahwa gaya hidup

merupakan ciri dari sebuah masyarakat modern, atau biasa juga disebut

modernitas. Dalam arti disini, adalah siapapun yang hidup dalam masyarakat

modern akan menggunakan gagasan tentang gaya hidup untuk menggambarkan

tindakannya sendiri maupun orang lain.Terutama bagaimana dia ingin

dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan

bagaimana ia membentuk image di mata orang lain, berkaitan dengan status sosial

yang disandangnya. Untuk merefleksikan image inilah, dibutuhkan simbol-simbol

status tertentu, yang sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku

konsumsinya.Gaya hidup pada akhirnya menjadi pembentuk identitas sosial.

Dalam hal ini, secara garis besar dapat dibedakan melalui dua tahap. Tahap

pertama, disampaikan dengan menggunakan pilihan-pilihan (choice). Dalam hal

ini sikap dan cita rasayang merupakan karakteristik anggota kelompok sosial baru.

Hal ini dapat diidentifikasi sebagai sesuatu yang penting. Dalam wacana publik

kontemporer seperti artikel surat kabar, khotbah, syair, dan panduan moral

cendikiawan yang terefleksi lewat sikap moral yang mengutamakan nilai. Dengan

kata lain, seseorang yang akan dianggap baik jika menjalankan prinsip moral pada

masyarakatnya. Tahap kedua merupakan tahap kultural. Pada tahap ini, gaya

hidup yang terfokus pada kehidupan yang merupakan bagian dari aktifitas waktu

luang atau komsumsi. Seseorang dalam sebuah kelompok masyarakat akan dinilai

denagn cita rasa tinggi ketika mampu memanfaatkan waktu luang dengan

nyaman. Nyaman disini bisa diidentifikasikan sebagai suatu ruang konsumsi yang

(4)

ataupun keluar negeri. Ketika gaya hidup diekspresikan dengan cita rasa dan nilai

material pada akhirnya akan berhubungan dengan karakteristik sosio struktural

lainnya.

Amstrong (Kaparang, 2013),lebih jauh menyatakan bahwa faktor-faktor

yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal

dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal).

Faktor internal yaitu sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep

diri, motif, dan persepsi sedangkan faktor eksternal terdiri dari kelompok

referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan.Faktor internal merupakan faktor

yang didasarkan pada diri seseorang seberapa terbuka dirinya terhadap pengaruh

yang muncul dalam dirinya yang menuntut perubahan pada kehidupannya. Faktor

eksternal merupakan faktor yang muncul dari orang-orang yang ada disekeliling

kita yang secara tidak kita sadari memberikan pengaruh pada individu.

2.2. Konsumsi

Dunia modern saat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan yang diinginkan

oleh masyarakat adalah apabila mereka memiliiki dan menunjukkan tanda-tanda

atau barang-barang yang dipandang oleh masyarakat umum sebagai barang yang

mewah.Mereka yang telah mampu untuk memiliki barang-barang mewah tersebut

dianggap menjadi masyarakat yang telah menemukan kebahagiaannya.Dalam hal

ini mereka yang telah mampu mencapai hal tersebut merupakan masyarakat yang

berada dalam kelas sosial atas.Perbedaan dalam akses terhadap barang-barang

(5)

konsumsi yang terjadi antara masyarakat yang tergolong dalam kelas sosial atas

dan masyarakat kelas sosial bawah.

Rasionalitas konsumen dalam sistem masyarakat telah mengalami

perkembangan dan perubahan, karena mereka membeli barang bukan lagi karena

kebutuhan (needs), namun lebih kepada pemenuhan hasrat (desire). Ketika

hendak mengonsumsi sesuatu, individu juga harus mempertimbangkan kepuasan

hasratnya yang harus terpenuhi.Konsumsi menurut Baudrillard bukan sekedar

nafsu untuk membeli begitu banyak komoditas, satu fungsi kenikmatan, satu

fungsi individual, pembebasan kebutuhan, pemuasan diri, kekayaan atau

konsumsi objek. Manusia tidak hanya ditawari apa yang mereka butuhkan (what

they needed), melainkan pula apa yang mereka harapkan (what they desired).

Dengan demikian, “wants” berubah secara aktif menjadi “needs”, apa yang

semula sekedar menjadi keinginan berubah menjadi yang dibutuhkan.

Konsumsi berada dalam suatu pemaknaan yaitu satu manipulasi tanda dan

manipulasi objek sebagai tanda. Nilai simbol dijadikan sebagai sebuah komoditas

utama masyarakat untuk mengonsumsi sesuatu.Jadi, yang layak untuk dikonsumsi

oleh masyarakat banyak adalah apabila objek tersebut telah memiliki tanda (sign)

yang terbaik. Simbol atau citra yang dimiliki suatu objek tersebut layak menjadi

salah satu faktor bagi mereka untuk mempertimbangkan apakah objek tersebut

layak untuk dikonsumsi atau tidak. Meskipun suatu objek memiliki tujuan yang

sama namun dengan semakin eksis dan dan baiknya citranya sehingga objek

tersebut dapat terlihat berbeda dimata konsumen.

(6)

menentukan status sosial yang dimiliki seseorang. Mengonsumsi objek

berdasarkan merek maka dapat terlihat bahwa mereka juga memperhatikan gengsi

sosial.Mengonsumsi objek yang tidak memiliki citra atau merek yang tidak baik

atau terkenal maka hal ini dapat dipengaruhi oleh gengsi sosial yang selalu

dipertimbangkan. Mengonsumsi objek maka berarti mengonsumsi tanda dan

dalam prosesnya mendefinisikan diri kita.

Thorstein Veblen mengajukan sebuah istilah conspicuous consumption

(konsumsi yang mencolok) untuk menunjukkan barang- barang yang kita beli dan

kita pertontonkan kepada oranglain untuk menegaskan gengsi dan status kita serta

menunjang gaya hidup di waktu luang. Veblen juga mengemukakan istilah

pecuniary emultion (penyamaan kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan dengan

uang) dimana golongan yang tidak masuk pada leissure class berusaha menyamai

perolehan dan pemakaian benda-benda tertentu dengan harapan bahwa mereka

akan mencapai keadaan dengan golongan-golongan yang berada diatas mereka.

Menurut Bourdieu konsumsi dianalisis sebagai bentuk pemuasan kebutuhan yang

berakar secara biologis, lebih jauh Bourdieu lebih menekankan konsumsi meliputi

tanda, simbol, ide dan nilai yang digunakan sebagai cara memisahkan satu

kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya. Bourdieu memaknai modal

bukan hanya dimaknai modal semata-mata sebagai modal yang berbentuk materi,

melainkan modal merupakan sebuah hasil kerja yang terakumulasi (dalam bentuk

yang “terbendakan” atau bersifat “menumbuh”-terjiwai dalam diri

seseorang).Bourdieu menyebut istilah modal sosial (social capital), modal budaya

(7)

a. Modal sosial menunjuk pada sekumpulan sumberdaya yang aktual atau

potensial yang terkait dengan pemilikan jaringan hubungan saling

mengenal dan/atau saling mengakui yang memberi anggotanya

dukungan modal yang dimiliki bersama. Modal sosial dapat diwujudkan

dalam bentuk praktis seperti pertemanan, dan bentuk terlembagakan

terwujud dalam keanggotaan kelompok yang relatif terikat seperti

keluarga, suku, sekolah.

b. Modal budaya merujuk pada serangkaian kemampuan atau keahlian

individu, termasuk di dalamnya adalah sikap, cara bertutur kata,

berpenampilan, cara bergaul, dan sebagainya.

c. Modal simbolik merupakan sebuah bentuk modal yang berasal dari jenis

yang lain, yang disalahkenali bukan sebagai modal yang semena,

melainkan dikenali dan diatur sebagai sesuatu yang sah dan natural.

Modal simbolik ini berupa pemilihan tempat tinggal, pemilihan tempat

wisata, hobi, tempat makan, dan sebagainya. Menurut Bourdieu modal

simbolik merupakan sumber kekuasaan yang krusial.

Menurut Bourdieu setiap kelas memiliki sikap, selera, kebiasaan, perilaku

atau bahkan modal yang berbeda.Bourdieu membedakan kelas menjadi

tiga.Pembedaan ini sekali lagi didasarkan pada faktor pemilihan modal

tadi.Pertama, kelas dominan, yang ditandai oleh pemilikan modal yang cukup

besar. Individu dalam kelas ini mampu mengakumulasikan berbagai modal dan

secara jelas mampu membedakan dirinya dengan orang lain untuk menunjukkan

(8)

memiliki kesamaan sifat dengan kaum borjuasi, yaitu mereka memiliki keinginan

untuk menaiki tangga sosial, akan tetapi mereka menempati kelas menengah

dalam struktur masyarakat. Mereka dapat dikatakan akan lebih banyak melakukan

imitasi terhadap kelas dominan. Ketiga, kelas populer.Kelas ini merupakan kelas

yang hampir tidak memiliki modal, baik modal ekonomi, modal budaya maupun

modal simbolik. Mereka berada pada posisi yang cenderung menerima dominasi

kelas dominan, mereka cenderung menerima apa saja yang dipaksakan kelas

dominan.

2.3. Pilihan Rasional

Menurut Coleman yang merupakan salah seorang yang berkiprah dalam

teori pilihan rasional ini, tidak saja membahas teori ini dalam kajian mikro tetapi

juga mencakup pada hal makro. Menurutnya, seseorang akan bertindak mengarah

pada suatu tujuan yang ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi). Untuk

mencapai tujuan tersebut individu akan mempertimbangkan berbagai hal yang

akan menentukan tindakannya untuk mencapai keinginannya tersebut. Dalam hal

ini individu harus memilih beberapa pilihan tindakan yang harus diambil agar

lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan (goal) dan memuaskan

kebutuhannya.

Lebih jauh lagi, Coleman membahas mengenai pilihan rasional ini dalam

hubungan antara aktor dan sumber daya. Suatu sumber daya dibentuk dan

dikontrol oleh seorang aktor. Aktor lainnya mulai tertarik dan memberikan

perhatiannya pada sumber daya tersebut. Menurutnya individu-individu akan

(9)

pilihan-pilihan mereka juga terbatas. Stimulus dan pilihan ini bervariasi untuk

setiap individu, bergantung pada sistem dimana individu-individu itu berada.

Adanya ketertarikan tersebut maka mulai terjalin interaksi antar kedua aktor

tersebut. Hubungan kedua aktor tersebut akan menimbulkan hubungan saling

membutuhkan, dimana kedua aktor memiliki tujuan yang sama dan saling

melengkapi meskipun mereka memiliki beberapa kepentingan lainnya yang

berbeda. Namun hubungan ini selanjutnya akan membentuk hubungan saling

ketergantungan diantara kedua aktor tersebut. Ada beberapa premis-premis dasar

mengenai pilihan rasional yaitu:

a. Manusia memiliki seperangkat preferensi-preferensi yang bisa mereka

pahami, mereka tata menurut sekala prioritas, dan dibandingkan antara

satu dengan yang lain.

b. Tatanan preferensi ini bersifat transitif, atau konsisten dalam logika.

Misalnya, jika seseorang lebih memilih sekolah A dibanding sekolah B,

dan sekolah B dibanding sekolah C, maka orang tersebut pasti lebih

memilih sekolah Adibanding sekolah C.

c. Tatanan preferensi itu didasarkan pada prinsip ‘memaksimalkan manfaat’

dan ‘meminimalkan resiko’.

d. Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang egois.

Namun, terkadang pilihan yang dilakukan oleh seorang aktor merupakan

tindakan yang tak rasionalitas dan tak jarang menyimpang dari cara-cara yang

ada.Tindakan ini juga cenderung menyebabkan subordinasi antara satu actor

(10)

Economy and Society menyatakan bahwa tindakan konsumsi dapat dikatakan

sebagai tindakan sosial sejauh tindakan tersebut memperhatikan tingkah laku dari

individu lain yang diarahkan pada tujuan tertentu. Tindakan sosial menurut Weber

terdiri dari:

a. Tindakan rasional yaitu tindakan yang berdasarkan pertimbangan yang

sadar terhadap tujuan tindakan dan pilihan dari alat yang

dipergunakan.

b. Tindakan rasional nilai yaitu suatu tindakan dimana tujuan telah ada

dalam hubungannya dengan nilai absolut dan akhir bagi individu.

c. Tindakan afektif yaitu suatu tindakan yang didominasi perasaan atau

emosi tanpa refleksi intelektual atau perencaan yang sadar seperti

cinta, marah, suka dan duka.

d. Tindakan tradisional yaitu tindakan yang dikarenakan kebiasaan atau

Referensi

Dokumen terkait

Kohesivitas adalah individu saling terikat dalam kelompok, semakin terikat suatu kelompok maka akan semakin kuat kelompok tersebut. Individu yang telah akrab akan cenderung

Begitu juga dengan ekspresi yang mereka tampilkan ketika sedang berinteraksi dengan individu atau kelompok sosial lain.Seperti seorang perempuan muslim yang meniru

Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang s atu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara

Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan, perlakuan guru terhadap siswa tersebut masih sama dengan siswa lain yang memiliki kemampuan lebih, sehingga tidak ada

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan bimbingan kelompok adalah suatu upaya bimbingan kepada individu-individu melalui prosedur kolompok

Hasil dari kuisioner kedua kelompok siswa antara jurusan IPA dan IPS menunjukkan plilhan gaya belajar yang sama antara kedua kelompok, sehingga perlu dilihat prestasi

Hal tersebut menunjukkan ciri-ciri individu yang belum matang kariernya menurut Super (dalam Brown & Lent, 2013), ciri-ciri tersebut antara lain yaitu

mempengaruhi sebuah interaksi sosial ataupun pertemanan dalam individu antara lain: status sosial ekonomi yang sama atau sedikit di atas anggota lain dalam kelompoknya dan