GAYA HIDUP DAN PEMILIHAN LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR BAGI SISWA SMA
(Studi pada Bimbingan Belajar Ganesha Operation, Sony Sugema College dan Prosus Inten)
SKRIPSI
Diajukan oleh:
Devi Sihotang (110901031)
DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Perkembangan pendidikan bukan saja hanya terjadi pada pendidikan formal. Saat ini pendidikan nonformal juga mengalami perkembangan dan menjadi favorit bagi siswa. Bimbingan belajar sudah menjadi sebuah tren baru dikalangan siswa. Maraknya bimbingan belajar juga menimbulkan persaingan diantara setiap bimbingan belajar untuk dapat menarik minat siswa. Setiap siswa dengan gaya hidup yang berbeda-beda berlomba-lomba untuk memilih bimbingan belajar yang akan mereka ikuti. Tujuan dari tulisan ini adalah ingin melihat bagaimana gaya hidup siswa yang berbeda-beda mempengaruhinya dalam memilih bimbingan belajar yang diikuti oleh siswa tersebut. Siswa yang akan diteliti disini adalah siswa SMA yang mengikuti bimbingan belajar yang ada dikota Medan yaitu bimbingan belajar Ganesha Operation, Sony Sugema College dan Prosus Inten. Bimbingan belajar ini adalah bimbingan belajar yang saat ini menjadi favorit dan mampu menarik minat para siswa. metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasi untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara gaya hidup dan pemilihan bimbingan belajar oleh siswa SMA dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebar kuesioner dan observasi. Hasil penelitian yang ditemukan di lapangan adalah secara garis besar terdapat hubungan antara gaya hidup dan pemilihan bimbingan belajar bagi siswa SMA. Namun, hubungan antara kedua variabel tersebut sangat lemah.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih, atas segala limpahan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “Gaya Hidup Dan Pemilihan Bimbingan Belajar Bagi Siswa SMA”disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan ini penulis menyampaikan penghargaan yang tulus danucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Ria Manurung, M.Si selaku dosen wali penulisdan sebagai dosen pembimbing skripsi penulis yang telah bersedia membimbing penulis sejak awal hingga akhir perkuliahan. Dimana beliau juga memberikan solusi kepada penulis ketika penulis menghadapi masalah ketika berada dilokasi penelitian.
3. Bapak Prof. RizaBuana Ismail, M.Phil,.Ph.D, selaku dosen penguji yang telah bersedia menjadi penguji skripsi ini dan telah memberi masukan-masukan dalam perbaikan skripsi ini.
4. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si, selaku ketua Departemen SosiologiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, dan selaku Ketua Penguji dalam Ujian Meja Hijau.
5. Drs. Muba Simanihuruk, selaku Sekretaris Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
6. Segenap dosen, staff, dan seluruh pegawai Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Kak Fenni Khairifa dan Kak Bettyyang telah cukup banyak membantu penulis selama masa perkuliahan dalam hal administrasi.
Sri Rejeki Sihotang, S.E beserta adik-adik saya Juliade Sihotang dan Simon Joel Diffos Sihotang.
8. Sahabat-sahabat sosiologi tercinta, yang mulai dari awal perkuliahan hingga akhir perkuliahan ini selalu menemani saya dalam suka maupun duka, Kathy Sabrina Togatorop, Fransisca Sinaga, S. Sos, Carlina Panjaitan, S.Sos, Elsa Elonika Tarigan dan Vera Novelina Sirait, atas semua dukungan dan bantuan kalian selama ini, serta kebersamaan kita yang tidak terlupakan. Semoga persahabatan kita tidak hanya sampai disini dan semoga kita selalu menjadi sebuah kisah unik untuk masa depan.
9. Teman-teman Sosiologi seperjuangan lainnya, Erawati Siagian, Ernita Siregar S.Sos, Emilia Simangunsong S.Sos, Andriani Ambarita, Silvia Purba, Angel Manihuruk, Hendrikson Siahaan, Jhon Sardo, Repita Simamora S.Sos, Yusni Malau, Defasari Simbolon, Joan Naibaho, Rio Sihombing dan teman-teman sosiologi lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu penulis dalam berdiskusi hingga penulis dapat menyelesaikan penelitian..
10. Para Respondendan khususnya pihak bimbingan belajar Ganesha Operation, Sony Sugema College, dan Prosus Inten yang telah banyak membantu memberikan informasi yang sangat dibutuhkan dalam penulisan skripsi ini, serta memberikan izin bagi penulis untuk melakukan penelitian.
Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, harapan saya agar tulisan ini dapat berguna bagi pembacanya, dan akhir kata dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini.
Medan, November 2015 (Penulis)
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK... ... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah... ... 6
1.3 Tujuan Penelitian... ... 6
1.4 Manfaat Penelitian... 6
1.4.1 Manfaat Teoritis... 6
1.4.2 Manfaat Praktis... ... 7
1.5 Hipotesis Penelitian... ... 7
1.6 Operasional Variabel... 8
1.7Definisi Konsep... 10
BAB II KERANGKA TEORI 2. 1 Gaya Hidup... 13
2.2 Konsumsi... 15
2.3 Pilihan Rasional... 19
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian...22
3.2 Lokasi Peneltian... 22
3.3.1 Populasi...23
3.3.2 Sampel... 23
3.4 Teknik Pengumpulan Data... 25
3.5.1 Data Primer... 25
3.5.2 Data Sekunder... 25
3.6Teknik Analisa Data... 26
3.6.1 Analisis Tabel Tunggal... 26
3.6.2 Korelasi... 26
3.6.3 Anova... 27
3.7 Keterbatasan Peneliti... 27
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian... 29
4.1.1Ganesha Operation... 29
4.1.1.1. Sejarah Singkat Bimbingan Belajar Ganesha Operation... 29
4.1.1.2. Visi dan Misi Ganesha Operation... 30
4.1.1.3. Tujuan Bimbingan Belajar Ganesha Operation... 31
4.1.1.4. Program Belajar... 32
4.1.2.Sony Sugema College (SSC)... 36
4.1.2.1. Sejarah Singkat Bimbingan Belajar SSC... 36
4.1.2.2. Visi dan Misi Bimbingan Belajar SSC... 38
4.1.2.3. Program Belajar... 39
4.1.3. Prosus Inten... 41
4.1.3.1. Sejarah dan Profil Inten... 41
4.1.3.3. Biaya Bimbingan Belajar... 44
4.2.Hasil Penelitian... 44
4.2.1 Karakteristik Responden... 45
4.2.2. Gaya Hidup Berdasarkan Aktivitasnya... 52
4.2.3. Gaya Hidup Berdasarkan Ketertarikan/ Minat... 62
4.2.4. Gaya Hidup Berdasarkan Pendapat... 69
4.2.5. Pemilihan Bimbingan Belajar Berdasarkan Citra Bimbingan Belajar... 74
4.2.6. Pemilihan Bimbingan Belajar Berdasarkan Citra Produk ... 82
4.3. Analisa Data ... 88
4.3.1. Uji Realibilitas... 88
4.3.2. Korelasi... 90
4.3.3. Anova... 93
4.4 Pembahasan... 97
4.4.1. Gaya Hidup Siswa... 97
4.4.2. Pemilihan Bimbingan Belajar... 101
4.4.3. Gaya Hidup dan Pemilihan Bimbingan Belajar... 102
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan... 104
5.2 Saran ... 106
Daftar Pustaka... 108
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Jumlah Populasi Penelitian ... 23
Tabel 3.2. Penarikan Sampel Morgan... 24
Tabel 3.3.Jumlah Sampel Penelitian ... 25
Tabel 4.1.Program Bimbingan Belajar Ganesha Operation Kelas XII... 32
Tabel 4.2.Biaya Bimbingan Belajar Ganesha Operation... 36
Tabel 4.3.Biaya Bimbingan Belajar Sony Sugema College... 40
Tabel 4.4 .Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 45
Tabel 4.5.Karakteristik Responden Berdasarkan Nama Sekolah... 46
Tabel 4.6.Karakteristik Responden Berdasarkan Jurusan ... 47
Tabel 4.7.Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Mengikuti Bimbingan Belajar...48
Tabel 4.8.Karakteristik Responden Berdasarkan Program Belajar... 49
Tabel 4.9.Karakteristik Berdasarkan Pekerjaan Orangtua... 50
Tabel 4.10.Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan Orangtua.... 51
Tabel 4.11.Aktivitas Orangtua Sepulang Bekerja... 52
Tabel 4.12 .Aktivitas Responden dan Keluarga Ketika Liburan... 53
Tabel 4.13.Aktivitas Responden dalam Mengisi Waktu Luangnya... 54
Tabel 4.14.Aktivitas Responden dan Temannya Mengisi Waktu Luangnya. 55 Tabel 4.15.Gaya Hidup (Aktivitas)... 57
Tabel 4.16.Gaya Hidup (Ketertarikan/Minat)... 63
Tabel 4.17.Gaya Hidup (Pendapat)... 70
Tabel 4.18.Pemilihan Bimbingan Belajar (Citra Bimbingan Belajar)... 76
Tabel 4.19.Pemilihan Bimbingan Belajar (Citra Produk)... 83
Tabel 4.21.Uji Korelasi Berdasarkan Indikator Variabel... 90
Tabel 4.22. Test Of Homogenity Of Variances... 94
Tabel 4.23. Uji Anova... 95
ABSTRAK
Perkembangan pendidikan bukan saja hanya terjadi pada pendidikan formal. Saat ini pendidikan nonformal juga mengalami perkembangan dan menjadi favorit bagi siswa. Bimbingan belajar sudah menjadi sebuah tren baru dikalangan siswa. Maraknya bimbingan belajar juga menimbulkan persaingan diantara setiap bimbingan belajar untuk dapat menarik minat siswa. Setiap siswa dengan gaya hidup yang berbeda-beda berlomba-lomba untuk memilih bimbingan belajar yang akan mereka ikuti. Tujuan dari tulisan ini adalah ingin melihat bagaimana gaya hidup siswa yang berbeda-beda mempengaruhinya dalam memilih bimbingan belajar yang diikuti oleh siswa tersebut. Siswa yang akan diteliti disini adalah siswa SMA yang mengikuti bimbingan belajar yang ada dikota Medan yaitu bimbingan belajar Ganesha Operation, Sony Sugema College dan Prosus Inten. Bimbingan belajar ini adalah bimbingan belajar yang saat ini menjadi favorit dan mampu menarik minat para siswa. metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasi untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara gaya hidup dan pemilihan bimbingan belajar oleh siswa SMA dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebar kuesioner dan observasi. Hasil penelitian yang ditemukan di lapangan adalah secara garis besar terdapat hubungan antara gaya hidup dan pemilihan bimbingan belajar bagi siswa SMA. Namun, hubungan antara kedua variabel tersebut sangat lemah.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Gaya hidup menurut Plummer (Olivia M. Kaparang, 2013)adalah cara
hidup individu yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan
waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya
(ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitarnya
(pendapat). Gaya hidup dalam hal ini berkaitan dengan bagaimana pola
aktivitas yang dilakukan oleh individu khususnya dalam memanfaatkan
waktu luang yang ia miliki. Setiap tindakan yang dilakukan oleh individu
akan selalu berdasarkan dengan apa yang ia sukai atau sesuai dengan
ketertarikannya terhadap sesuatu hal. Pendapat seseorang terhadap dunia
sekitar juga dapat menentukan tindakannya dalam melakukan sesuatu. Pola
tindakan inilah yang dapat menentukan pola kehidupan seseorang dan
menjadikannya sebagai gaya hidupnya
Saat ini perbincangan mengenai gaya hidup selalu berkaitan sebagai
suatu bentuk sikap dan perilaku individu yang mengarah pada tindakan
konsumsi. Cara hidup yang dilakukan oleh setiap individu akan menunjukkan
gaya hidup yang berbeda-beda. Perbedaan cara hidup tersebut dapat terlihat
dari adanya perbedaan kemampuan seseorang untuk mengonsumsi apa yang
ia inginkan. Tidak semua orang dapat memperoleh hal-hal yang ia inginkan.
Kemampuan seseorang untuk membeli suatu barang-barang branded akan
menunjukkan letak kedudukan seseorang. Mengeluarkan uang dengan jumlah
yang besar untuk memenuhi keinginannya menunjukkan gaya hidup mewah
yang dimiliki seseorang. Kemampuan individu dalam menghabiskan uangnya
dan mengisi waktu luang yang ia miliki merupakan salah satu refleksi dari
sebuah gaya hidup. Kegiatan konsumsi oleh mereka dari kelas menengah ke
atas lebih cenderung berorientasi pada kebutuhan kesenangan mereka saja.
Konsumsi yang mereka lakukan cenderung pada keinginan emosional dan
sosial. Tindakan konsumsi secara sosial membentuk kelompok-kelompok
pada masyarakat.
Gaya hidup dalam dunia pendidikan merupakan topik menarik yang
sedang terjadi saat ini. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam
kehidupan setiap orang. Semua orangtua menginginkan anaknya agar dapat
mengecap pendidikan yang terbaik. Untuk itu banyak hal yang akan
diupayakan oleh orangtua agar anaknya dapat memperoleh pendidikan yang
berkualitas terutama dalam hal ekonomi. Saat ini pendidikan dengan biaya
yang mahal dipersepsikan masyarakat sebagai pendidikan yang berkualitas.
Banyak sekolah-sekolah yang menjadi favorit adalah sekolah dengan biaya
pendidikan yang mahal dan memberikan pendidikan yang berkualitas.
Fenomena yang terjadi dalam masyarakat ini sudah menjadi tren yang kuat
sehingga mengikuti pendidikan dengan biaya mahal menjadi gaya hidup.
Pendidikan formal dengan biaya yang mahal bukan satu-satunya yang
menjadi tren saat ini. Mengikuti pendidikan nonformal yaitu bimbingan
belajar juga menjadi sebuah tren baru dalam dunia pendidikan saat ini.
siswa untuk dapat lulus ujian Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Ujian
Nasional (UN). Semakin tingginya keinginan dan kebutuhan para siswa untuk
dapat lulus dari ujian PTN dan UN, menimbulkan semakin maraknya jumlah
bimbingan belajar. Ketertarikan siswa untuk mengikuti pendidikan nonformal
menjadikannya menjadi sebuah kebiasaan yang harus mereka ikuti. Siswa
berasumsi untuk dapat lulus dari ujian nasional dan ujian perguruan tinggi
negeri maka mereka harus mengikuti bimbingan belajar sebagai suatu jalan
keluar yang dapat membantu mereka untuk menghadapi ujian.Bimbingan
belajar menurut Oemar Hamalik (Ratri Dwi Mulyani; 2012) adalahbimbingan
yang ditujukan kepada siswa untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai
dengan kebutuhan, bakat, minat, kemampuannya dan membantu siswa untuk
menentukan cara-cara yang efektif dan efisien dalam mengatasi masalah
belajar yang dialami oleh siswa.
Hadirnya berbagai lembaga bimbingan belajar dengan nama, latar
belakang, dan berbagai tawaran menarik yang bertujuan untuk membantu
para siswa dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi mulai menarik
minat dan perhatian para peserta didik. Lembaga bimbingan belajar ini
menawarkan berbagai prediksi soal-soal yang telah disiapkan dalam
menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri dan ujian nasional. Sistem
belajar yang diterapkan dalam bimbingan belajar ini berbeda seperti
disekolah. Bimbingan belajar ini memberikan pendekatan secara emosional
dengan siswa sehingga keakraban dan kedekatan antara peserta didik dan
teknik cepat tepat dalam menjawab soal merupakan kunci utama yang ingin
didapatkan oleh siswa.
Seiring dengan semakin meningkatnya partisipasi siswa untuk
mengikuti bimbingan belajar membuat lembaga pendidikan ini mengalami
peningkatan dari segi jumlahnya. Saat ini banyak bimbingan belajar mulai
berdiri dengan nama dan ciri khasnya masing-masing. Munculnya persaingan
antara lembaga bimbingan belajar ini juga tidak dapat dipungkiri. Persaingan
pasar mulai terjadi pada bimbingan belajar untuk menarik minat siswa dalam
memilih bimbingan belajar. Hal ini dapat terlihat dariadanya klasifikasi kelas
yang berbeda-beda pada setiap tingkatannya dalam program belajar.Ada
bimbingan dengan kelas regular dan ada bimbingan kelas yang
eksekutif.Kedua hal ini memiliki harga yang berbeda, dimana biaya eksekutif
lebih mahal dari biaya regular. Untuk biaya bimbingan akan dikenakan per
semester yang mencapai jutaan rupiah. Harga tersebut berbeda lagi dengan
biaya pendaftaran untuk masuk ke bimbingan belajar tersebut.
Munculnya berbagai bimbingan belajar, mengangkat beberapa nama
bimbingan belajar yang menjadi pilihan paling banyak diminati oleh siswa.
Beberapa nama bimbingan belajar tersebut diantaranya Ganesha Operation,
Medica, Quantum, Sony Sugema College, Expert, Quinn, Inten, dan
sebagainya. Bimbingan belajar tersebut merupakan bimbingan belajar yang
menawarkan biaya pendidikan yang dapat mencapai jutaan rupiah.
Bimbingan belajar dengan berbagai kelebihan dan penawarannya
masing-masing tersebut secara tidak langsung menginginkan siswa untuk menentukan
memilih bimbingan belajar yang akan mereka ikuti. Siswa juga memiliki
kemampuan yang berbeda-beda untuk memilih nama bimbingan belajar yang
bisa ia ikuti. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang terklasifikasi yang
menyebabkan perbedaan kemampuan masyarakat untuk mengkonsumsi.
Banyak hal yang dapat mempengaruhi siswa dalam memilih bimbingan
belajar yang akan mereka ikuti. Namun, keputusan tersebut tidak terlepas dari
pengaruh gaya hidup yang mereka miliki. Seperti penelitian yang dilakukan
oleh Hawkins dan Mothersbaugh (Renny Annisa : 2014) menyatakan bahwa suatu penelitian terkait mengenai gaya hidup melalui program SRI Consulting Business Intelligence’s (SRIC-BI) VALS™ membagi tiga motivasi utama konsumen: (1) Ideals Motivation: Konsumen memilih berdasarkan kepercayaan dan prinsip mereka bukan berdasarkan perasaan dan keinginan akan pengakuan sosial. Konsumen membeli fungsi dan hal yang dapat dipercaya. (2) Achievement Motivation: Konsumen berusaha untuk mendapat posisi sosial yang jelas dan mereka sangat terpengaruh oleh tindakan, pengakuan dan opini orang lain. Konsumen membeli symbolstatus. (3) Self-expression Motivation: Konsumen berorientasi pada tindakan, berusaha untuk mengekspresikan individualitas melalui pilihan mereka. Mereka membeli pengalaman.
terima dari lingkungan sekitar dan dapat juga berdasarkan keputusan dari orangtua siswa. Hal menarik yang menjadi fokus dari peneliti adalah untuk melihat sejauh mana pengaruh gaya hidup yang dimiliki oleh siswa itu sendiri terhadap keputusannya memilih lembaga bimbingan belajar yang akan diikuti. Apakah ada alasan lain dari siswa dalam memilih lembaga bimbingan belajar yang mereka ikuti?
1.2.Perumusan masalah
Berdasarkan pemaparan diatas maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan gaya hidup dan pemilihan bimbingan belajar bagi siswa SMA?
1.3.Tujuan penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka tujuan penelitian yang diharapkan dapat diperoleh melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan pemilihan bimbingan belajar bagi siswa SMA.
1.4.Manfaat penelitian 1.4.1. Manfaat teoritis
1. Menghasilkan karya ilmiah mengenai gaya hidup dan pemilihan bimbingan belajar sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam kajian lembaga pendidikan nonformal dalam era modernisasi.
2. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi dalam memahami peran dari setiap lembaga pendidikan yang ada di Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pendidikan para generasi pelajar.
1.4.2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai pijakan bagi para pengambil dan pembuat kebijakan dalam memutuskan peraturan yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Sehingga pemerintah dapat mengetahui apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan pendidikan yang harus dimiliki dan dipenuhi oleh negara sehingga dapat meningkatkan kualitas dunia pendidikan.
1.5. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris.Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ha: terdapat hubungangayahidup dan pemilihan lembaga bimbingan belajar
Ho: tidak terdapat hubungan gaya hidup dan pemilihan lembaga bimbingan
belajar bagi siswa SMA 1.6. Operasional Variabel
Definisi dari operasional adalah hasil dari operasionalisasi. Operasionalisasi adalah sebagai proses penyederhanaan suatu konstruk kedalam tingkat konsep. Kerlinger (Black, 2009) menyatakan untuk menyusun operasional variabel adalah dengan memberikan makna pada suatu konstruk atau variabel dengan menetapkan “operasi” atau kegiatan yang diperlukan untuk mengukur konstruk atau variabel. Adapun yang menjadi variabel independen (X) dalam penelitian ini adalah gaya hidup dengan indikator sebagai berikut:
a. Aktivitas adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh individu dalam mengisi dan menghabiskan waktu luangnya. Adapun yang menjadi indikator dari aktivitas yaitu:
1. Bekerja 2. Komunitas 3. Liburan 4. Hiburan
b. Ketertarikan/ Minat adalah apa yang menjadi ketertarikan dari individu terhadap sesuatu hal. Adapun indikator dari konsep ini yaitu:
1. Keluarga 2. Pekerjaan 3. Kelas sosial 4. Rekreasi
c. Pendapat / Opini adalah apa yang mereka pikirkan terhadap dunia sekitar mereka. Adapun yang menjadi indikator dari konsep ini yaitu:
1. Budaya 2. Lingkungan 3. Ekonomi 4. Diri sendiri
Dan yang menjadi variabel dependen (Y) dalam penelitian ini adalah pemilihan lembaga bimbingan belajar dengan indikator sebagai berikut:
1. Citra Lembaga Bimbingan Belajar
Citra bimbingan belajar adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan pelayanannya (Jefkins dan Yadin, 2004). Adapun indikator-indikator dari citra perusahaan adalah:
a. Alternatif pilihan program pendidikan. b. Pengajar yang profesional
c. Popularitas
d. memiliki citra sebagai salah satu lembaga pendidikan terbaik
2. Citra Produk
Citra Produk merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu produk. Adapun indikator-indikator dari citra produk adalah:
a. ILP memiliki materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik b. Metode pembelajaran yang efektif dan efisien.
d. Lulusan yang berkompeten.
1.7. Definisi konsep
1.7.1.Gaya Hidup
Gaya hidup (Handoko; 2004) adalah pola-pola tindakan yang membedakan antara satu orang dengan orang yang lainnya.Pola-pola tindakan ini kadang diartikan sebagai tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat sehingga menjadikannya sebagai suatu tindakan yang harus diikuti atau dilakukan untuk memperbaiki kehidupannya dalam bermasyarakat.Gaya hidup ini berkenaan dengan bagaimana tindakan individu terhadap munculnya suatu tren yang menuntut keputusan seseorang tersebut untuk melakukannya atau tidak.
1.7.2. Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar menurut Oemar Hamalik (Ratri Dwi Mulyani; 2012) adalahbimbingan yang ditujukan kepada siswa untuk mendapat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, kemampuannya dan membantu siswa untuk menentukan cara-cara yang efektif dan efisien dalam mengatasi
Pemilihan bimbingan belajar
(Y) Citra Lembaga Bimbingan Belajar
Citra Produk Gaya Hidup (X)
masalah belajar yang dialami oleh siswa.Bimbingan belajar dilakukan oleh sebuah lembaga yang bertujuan untuk membantu pendidikan para siswa khususnya untuk membantu mereka dalam mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional (UN) dan ujian memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN). 1.7.3. Perilaku Konsumtif
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1. Gaya hidup
Menurut Max Weber, gaya hidup merupakan persamaan status kehormatan yang ditandai dengan konsumsi terhadap simbol gaya hidup yang sama. Ketika seorang individu berada dalam suatu kelompok maka hal tersebut dapat menunjukkan status sosial yang ia miliki sama dengan individu lainnya yang ada dalam kelompok tersebut. Teman dekat atau teman bergaul seseorang pada umumnya tidak dapat terlepas dari beberapa kesamaan yang mereka miliki termasuk status sosial yang mereka miliki. Adanya perbedaan status dan gaya hidup mengakibatkan masyarakat berada dalam batasan-batasan yang begitu berbeda. Perbedaan tersebut maka setiap orang juga memiliki gaya konsumsi yang berbeda. Mereka dengan perbedaan status akan mengonsumsi simbol gaya hidup sesuai dengan kemampuan dan posisi yang mereka miliki.
alasan untuk tindakan tersebut jarang dapat diukur secara langsung. Interests (minat) akan semacam objek peristiwa, atau topik dalam tingkat kegairahan yang menyertai perhatian khusus maupun terus menerus kepadanya. Opinion (opini) adalah "jawaban" lisan atau tertulis yang orang berikan sebagai respons terhadap situasi sehubungan dengan peristiwa masa datang, dan penimbangan konsekuesi yang memberi ganjaran atau menghukum dari jalannya tindakan alternatif.
ataupun keluar negeri. Ketika gaya hidup diekspresikan dengan cita rasa dan nilai material pada akhirnya akan berhubungan dengan karakteristik sosio struktural lainnya.
Amstrong (Kaparang, 2013),lebih jauh menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal yaitu sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi sedangkan faktor eksternal terdiri dari kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan.Faktor internal merupakan faktor yang didasarkan pada diri seseorang seberapa terbuka dirinya terhadap pengaruh yang muncul dalam dirinya yang menuntut perubahan pada kehidupannya. Faktor eksternal merupakan faktor yang muncul dari orang-orang yang ada disekeliling kita yang secara tidak kita sadari memberikan pengaruh pada individu.
2.2. Konsumsi
konsumsi yang terjadi antara masyarakat yang tergolong dalam kelas sosial atas dan masyarakat kelas sosial bawah.
Rasionalitas konsumen dalam sistem masyarakat telah mengalami perkembangan dan perubahan, karena mereka membeli barang bukan lagi karena kebutuhan (needs), namun lebih kepada pemenuhan hasrat (desire). Ketika hendak mengonsumsi sesuatu, individu juga harus mempertimbangkan kepuasan hasratnya yang harus terpenuhi.Konsumsi menurut Baudrillard bukan sekedar nafsu untuk membeli begitu banyak komoditas, satu fungsi kenikmatan, satu fungsi individual, pembebasan kebutuhan, pemuasan diri, kekayaan atau konsumsi objek. Manusia tidak hanya ditawari apa yang mereka butuhkan (what they needed), melainkan pula apa yang mereka harapkan (what they desired). Dengan demikian, “wants” berubah secara aktif menjadi “needs”, apa yang semula sekedar menjadi keinginan berubah menjadi yang dibutuhkan.
Konsumsi berada dalam suatu pemaknaan yaitu satu manipulasi tanda dan manipulasi objek sebagai tanda. Nilai simbol dijadikan sebagai sebuah komoditas utama masyarakat untuk mengonsumsi sesuatu.Jadi, yang layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat banyak adalah apabila objek tersebut telah memiliki tanda (sign) yang terbaik. Simbol atau citra yang dimiliki suatu objek tersebut layak menjadi salah satu faktor bagi mereka untuk mempertimbangkan apakah objek tersebut layak untuk dikonsumsi atau tidak. Meskipun suatu objek memiliki tujuan yang sama namun dengan semakin eksis dan dan baiknya citranya sehingga objek tersebut dapat terlihat berbeda dimata konsumen.
menentukan status sosial yang dimiliki seseorang. Mengonsumsi objek berdasarkan merek maka dapat terlihat bahwa mereka juga memperhatikan gengsi sosial.Mengonsumsi objek yang tidak memiliki citra atau merek yang tidak baik atau terkenal maka hal ini dapat dipengaruhi oleh gengsi sosial yang selalu dipertimbangkan. Mengonsumsi objek maka berarti mengonsumsi tanda dan dalam prosesnya mendefinisikan diri kita.
a. Modal sosial menunjuk pada sekumpulan sumberdaya yang aktual atau potensial yang terkait dengan pemilikan jaringan hubungan saling mengenal dan/atau saling mengakui yang memberi anggotanya dukungan modal yang dimiliki bersama. Modal sosial dapat diwujudkan dalam bentuk praktis seperti pertemanan, dan bentuk terlembagakan terwujud dalam keanggotaan kelompok yang relatif terikat seperti keluarga, suku, sekolah.
b. Modal budaya merujuk pada serangkaian kemampuan atau keahlian individu, termasuk di dalamnya adalah sikap, cara bertutur kata, berpenampilan, cara bergaul, dan sebagainya.
c. Modal simbolik merupakan sebuah bentuk modal yang berasal dari jenis yang lain, yang disalahkenali bukan sebagai modal yang semena, melainkan dikenali dan diatur sebagai sesuatu yang sah dan natural. Modal simbolik ini berupa pemilihan tempat tinggal, pemilihan tempat wisata, hobi, tempat makan, dan sebagainya. Menurut Bourdieu modal simbolik merupakan sumber kekuasaan yang krusial.
memiliki kesamaan sifat dengan kaum borjuasi, yaitu mereka memiliki keinginan untuk menaiki tangga sosial, akan tetapi mereka menempati kelas menengah dalam struktur masyarakat. Mereka dapat dikatakan akan lebih banyak melakukan imitasi terhadap kelas dominan. Ketiga, kelas populer.Kelas ini merupakan kelas yang hampir tidak memiliki modal, baik modal ekonomi, modal budaya maupun modal simbolik. Mereka berada pada posisi yang cenderung menerima dominasi kelas dominan, mereka cenderung menerima apa saja yang dipaksakan kelas dominan.
2.3. Pilihan Rasional
Menurut Coleman yang merupakan salah seorang yang berkiprah dalam teori pilihan rasional ini, tidak saja membahas teori ini dalam kajian mikro tetapi juga mencakup pada hal makro. Menurutnya, seseorang akan bertindak mengarah pada suatu tujuan yang ditentukan oleh nilai atau pilihan (preferensi). Untuk mencapai tujuan tersebut individu akan mempertimbangkan berbagai hal yang akan menentukan tindakannya untuk mencapai keinginannya tersebut. Dalam hal ini individu harus memilih beberapa pilihan tindakan yang harus diambil agar lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan (goal) dan memuaskan kebutuhannya.
pilihan-pilihan mereka juga terbatas. Stimulus dan pilihan ini bervariasi untuk setiap individu, bergantung pada sistem dimana individu-individu itu berada. Adanya ketertarikan tersebut maka mulai terjalin interaksi antar kedua aktor tersebut. Hubungan kedua aktor tersebut akan menimbulkan hubungan saling membutuhkan, dimana kedua aktor memiliki tujuan yang sama dan saling melengkapi meskipun mereka memiliki beberapa kepentingan lainnya yang berbeda. Namun hubungan ini selanjutnya akan membentuk hubungan saling ketergantungan diantara kedua aktor tersebut. Ada beberapa premis-premis dasar mengenai pilihan rasional yaitu:
a. Manusia memiliki seperangkat preferensi-preferensi yang bisa mereka pahami, mereka tata menurut sekala prioritas, dan dibandingkan antara satu dengan yang lain.
b. Tatanan preferensi ini bersifat transitif, atau konsisten dalam logika. Misalnya, jika seseorang lebih memilih sekolah A dibanding sekolah B, dan sekolah B dibanding sekolah C, maka orang tersebut pasti lebih memilih sekolah Adibanding sekolah C.
c. Tatanan preferensi itu didasarkan pada prinsip ‘memaksimalkan manfaat’ dan ‘meminimalkan resiko’.
d. Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang egois.
Economy and Society menyatakan bahwa tindakan konsumsi dapat dikatakan sebagai tindakan sosial sejauh tindakan tersebut memperhatikan tingkah laku dari individu lain yang diarahkan pada tujuan tertentu. Tindakan sosial menurut Weber terdiri dari:
a. Tindakan rasional yaitu tindakan yang berdasarkan pertimbangan yang sadar terhadap tujuan tindakan dan pilihan dari alat yang dipergunakan.
b. Tindakan rasional nilai yaitu suatu tindakan dimana tujuan telah ada dalam hubungannya dengan nilai absolut dan akhir bagi individu. c. Tindakan afektif yaitu suatu tindakan yang didominasi perasaan atau
emosi tanpa refleksi intelektual atau perencaan yang sadar seperti cinta, marah, suka dan duka.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
korelasi dengan pendekatan kuantitatif.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan
ada tidaknya hubungan dan kapasitas hubungan antara dua variabel atau lebih.
Dengan studi korelasional, peneliti dapat memperoleh informasi mengenai taraf
hubungan yang terjadi bukan mengenai ada tidaknya efek variabel satu terhadap
variabel lain yang sedang diteliti. Penelitian ini dirancang untuk menentukan
tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi.Hubungan
antar variabel tidak saja dalam bentuk sebab-akibat, tetapi juga hubungan timbal
balik antara dua variabel.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada lembaga bimbingan belajar yang ada di Kota
Medan. Beberapa nama bimbingan belajar yang ada di Medan yaitu adalah
Ganesha Operation, Medica, Sony Sugema College, Quantum, Inten, O Friends,
Bima, Primagama, Quin, dsb. Dari beberapa bimbingan belajar tersebut peneliti
memilih beberapa bimbingan belajar sebagai lokasi penelitian. Bimbingan belajar
dengan kualitas dan nama yang terkenal dikalangan para siswa menjadi alasan
peneliti dalam memilih lokasi penelitian. Ada beberapa nama bimbingan belajar
yang menjadi favorit dari para siswa SMA karena kualitas dari bimbingan belajar
Nama dari ketiga bimbingan belajar ini tidak asing lagi bagi para siswa yang
terlihat dari jumlah siswa yang mendaftar di tempat bimbingan belajar tersebut
dan memiliki beberapa cabang yang telah ada di Kota Medan.
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari subjek penelitian yang memiliki
karakteristik tertentu atau populasi merupakan keseluruhan gejala atau satuan
yang ingin diteliti.Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah
mencakup seluruh siswa kelas XII yang mengikuti bimbingan belajar Sony
Sugema College, Ganesha Operation, dan Prosus Inten.
Tabel 3.1.
Jumlah Populasi Penelititan
No. Nama bimbingan belajar Jumlah siswa
1. Ganesha Operation 300 orang
2. Sony Sugema College 400 orang
3. Inten 200 orang
Total 900 orang
3.3.2. Sampel
Sampel adalah suatu bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang
dianggap dapat menggambarkan populasinya. Penelitian pada sampel hanya
merupakan pendekatan pada populasinya.Selalu ada resiko kesalahan dalam
menarik kesimpulan untuk keseluruhan populasi. Oleh karena itu, setiap
penelitian dengan menggunakan sampel akan selalu berusaha memperkecil resiko
kesalahan tersebut. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah
yang akan dijadikan sebagai responden akan dipilih dengan menggunakan teknik
pengambilan sampel secara acak sederhana dimana setiap unsur mempunyai peluang yang sama dijadikan sampel.
Untuk memperoleh sampel yang akan diteliti maka digunakan tabel Morgan sebagai berikut:
Tabel 3.2 Tabel Morgan
Tabel 3.3
Jumlah Sampel Penelitian
No. Nama bimbingan belajar Jumlah siswa
1. Ganesha Operation 81 orang
2. Sony Sugema College 100 orang
3. Inten 88 orang
Total 269 orang
3.4. Teknik Pengumpulan Data
3.4.1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek
penelitian. Adapun yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah:
a. Kuesioner yaituteknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan
angket yang berisi sejumlah pertanyaan tertulis untuk memperoleh
informasi.
b. Observasi yaitu pengamatan secara langsung terhadap objek yang
diteliti untuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai objek
penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti langsung ke lapangan dan
mengamati para siswa yang mengikuti bimbingan belajar.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek
penelitian.Data ini sebagai salah satu aspek pendukung keabsahan penelitian.
Teknik pengumpulan data sekunder dapat dilakukan melalui penelitian studi
kepustakaan yang diperlukan untuk mendukung data yang diperoleh dari
buku-buku ilmiah, tulisan ilmiah, jurnal, situs-situs internet, dan hasil penelitian
3.5. Teknik Analisa Data
Analisa data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih
mudah untuk dibaca dan diinterpretasikan. Dalam proses ini digunakan dengan
menggunakan statistik. Fungsi dari statistik ini yaitu untuk menyederhanakan data
penelitian dengan jumlah yang besar dan menjadikan dengan informasi yang lebih
sederhana dan lebih mudah untuk dipahami. Untuk menganalisis data dalam
penelitian ini digunakan analisis data sebagai berikut:
3.5.1. Analisis Tabel Tunggal
Analisa tabel tunggal merupakan suatu analisa yang dilakukan dengan
membagi-bagikan variabel penelitian kedalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar
frekuensi.Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa kolom yang
merupakan sejumlah frekuensi dari persentasi untuk setiap kategori.
3.5.2. Korelasi
Korelasi merupakan suatu hubungan antara satu variabel dengan variabel yang
lainnya. Untuk melihat hubungan antara variabel pada penelitian ini, digunakan
analisis korelasi Spearman dengan rumus sebagai berikut:
r
s= 1
-6 �2�3 −�
Keterangan:
r : koefisien korelasi variabel X dan Y
N : jumlah sampel
3.5.3. Anova
ANOVA adalah suatu modelyangcukup komprehensif untukmendeteksi perbedaan kelompok pada variabel terikat tunggal. Teknik analisa dengan Anova hanya menguji satu variabel terikat. Analisis data ini menguji perbedaan mean pada variabel terikat untuk beberapa variabel bebas. Analisis Varians (ANOVA) digunakan untuk mencari perbedaan antar variabel.Untuk memperoleh perhitungan tersebut, maka dalam penelitian ini akan didukung dengan program
software SPSS 21 sehingga diharapkan hasil yang diperoleh lebih akurat.
3.6. Keterbatasan Peneliti
responden, serta informasi yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan validitasnya.
Didalam menemukan data dilapangan, peneliti juga mengalami banyak
hambatan-hambatan. Hambatan tersebut dikarenakan penelitian ini dilakukan di 3
institusi pendidikan yang berbeda. Memasuki sebuah bimbingan belajar bukan hal
yang mudah terutama untuk mendapatkan data mengenai bimbingan belajar.
Banyak bimbingan belajar yang masih belum terbuka terhadap adanya penelitian
yang muncul dari mahasiswa. Hal tersebut menyebabkan peneliti harus berusaha
untuk mencari bimbingan yang mau menerima untuk dijadikan lokasi penelitian
dan masih termasuk dalam kriteria pemilihan lokasi penelitian. Jumlah lokasi
penelitian yang ada dalam penelitian ini yaitu 3 bimbingan belajar (Ganesha
Operation, Sony Sugema College, dan Prosus Inten) yang memiliki jumlah siswa
yang banyak menguras waktu peneliti untuk dapat melakukan penelitian
BAB IV
HASIL DAN ANALISA DATA
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.1. Ganesha Operation
4.1.1.1.Sejarah singkat Bimbingan Belajar Ganesha Operation
Ganesha Operation merupakan salah satu bimbingan belajar yang terdapat di Indonesia. Di tengah-tengah persaingan yang tajam dalam industri bimbingan belajar, pada tanggal 1 Mei 1984 Ganesha Operation didirikan di Kota Bandung oleh Ir.Bob Foster. Latar belakang pendirian lembaga ini adalah adanya mata rantai yang terputus dari link informasi Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dengan dunia Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Posisi inilah yang diisi oleh Ganesha Operation untuk berfungsi sebagai jembatan dunia SLTA terhadap dunia PTN mengenai informasi jurusan PTN (prospek dan tingkat persaingannya), pemberian materi pelajaran yang sesuai dengan ruang lingkup bahan uji seleksi penerimaan mahasiswa baru dan pemberian metode-metode inovatif dan kreatif menyelesaikan soal-soal tes masuk PTN sehingga membantu para siswa lulusan SLTA memenuhi keinginan mereka memasuki PTN.
terhadap kepuasaan belajar siswa/siswinya. Memberikan pelayanan yang maksimal diharapkan bisa membantu siswa/siswi dalam belajar untuk meningkatkan hasil prestasi belajar siswa yang maksimal sesuai bakat dan minat siswa-siswi tersebut. Oleh sebab itu untuk mendukung pencapaiannya perlu layanan bimbingan belajar secara efektif oleh pendidik. Pelaksanaan bimbingan yang kontinu dan berkesinambungan serta dengan teknik-teknik atau memperhatikan prinsip-prinsip bimbingan yang ditekankan pada bimbingan belajar, memahami kemampuan diri dan pengembangan membuat perencanaan serta kemampuan.
4.1.1.2. Visi dan Misi Ganesha Operation
Adapun Visi dari Bimbingan Belajar Ganesha Operation adalah:
“Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan nasional, serta meningkatkan budaya belajar masyarakat.”
Adapun Misi dari Bimbingan Belajar Ganesha Operation adalah:
1. Menjadi wadah pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan dasar (basic science) dengan komitmen total kepada inovasi dan kreativitas.
2. Memberikan metode yang unik dan unggul untuk menguasai basic science.
3. Mewujudkan kepuasan siswa (student satisfaction) melalui keunggulan:
a Produk jasa pendidikan yang konseptual.
c Lokasi (place) yang strategis.
d Proses pelayanan yang cepat.
e Sumber daya manusia (people) yang ramah, terampil, dan memiliki kompetisi.
f Ruangan dan lingkungan (physical evidence) yang nyaman dan asri dengan fasilitas yang lengkap.
g Informasi yang lengkap dan terpercaya
4. Menjalin kemitraan yang konstruktif dengan orangtua siswa, sekolah, perguruan tinggi dan masyarakat.
5. Memberikan kepada karyawan pekerjaan yang bermakna serta kompensasi yang memadai.
4.1.1.3 Tujuan Bimbingan Ganesha Operation Adapun Tujuan bimbingan Ganesha Operation adalah :
1. Membantu para siswa mengatasi kesulitan belajar melalui bimbingan staff pengajar yang berkualitas dan berwawasan luas dengan Buku Panduan Belajar yang lengkap dan sistematis.
2. Memberikan informasi pendidikan yang sangat lengkap baik untuk tingkat SD, SLTP, SLTA, maupun Perguruan Tinggi.
4. Meningkatkan prestasi siswa sehingga memperoleh nilai harian, nilai rapor, nilai Ujian Akhir Nasional, dam nilai SPMB yang lebih tinggi.
4.1.1.4. Program Belajar
Tabel 4.1
Daftar Program Belajar Bimbingan Belajar Ganesha Operation kelas XII SMA
PROGRAM KEUNGGULAN TUJUAN
Reguler
a. Belajar sesuai materi sekolah
b. Tutorial service time c. Try out berkala dan EPB
(evaluasi Prestasi belajar)
a. Sukses ulangan harian b. Sukses UTS, UAS, dan
UN
c. Terjadi peningkatan prestasi belajar
b. Tutorial Service Time (prioritas)
h. 16 siswa/kelas (Gold) i. 20 siswa/kelas (Silver)
a. Target terjadi kenaikan prestasi belajar di
d. Peningkatan nilai rapor
TWT a. Jaminan lulus PTN b. 20 siswa per kelas
c. Kelas homogen (khusus SMAN 1, SMAN 4, SMA St Thomas 1, SMA Sutomo 1 Medan)
d. TST (prioritas), TO, dan EPB
Lulus PTN favorit melalui SNMPTN, SBMPTN, UM, dan jalur seleksi PTN
lainnya
b. Belajar fokus materi SBMPTN
c. TST (prioritas Exe), TO, EPB
Lulus PTN favorit melalui SBMPTN
Fasilitas bagi siswa GO:
1. Rumus the king
Rumus khusus yang diperoleh dengan berpikir kreatif sehingga soal-soal dapat diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
2. M-3 (Meeting on Maximizing Motivation)
Siswa mendapatkan seminar motivasi secara berkala untuk menumbuhkan dan membangkitkan semangat belajar.
3. EPB (Evaluasi Prestasi Belajar)
Hasil Try Out dianalisis per butir soal, per bidang studi. Kelulusan siswa akan diprediksi pada evaluasi prestasi belajar ini dan saran jurusan yang bisa dimasuki akan diberikan sesuai tingkat kemampuan siswa saat ini.
4. Buku SMS (Strategi Menuju Sukses)
Inovasi terbaru yang hanya ada di GO, setiap siswa akan dipantau kemajuan belajarnya lewat sistem informasi akademik yang terpadu. Siswa dipandu melalui strategi khusus untuk mencapai cita-citanya sesuai kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
5. Buku koding
6. RAC (Reminder Attendance Control)
Setiap siswa akan mendapatkan GO Card/GO Executive (kartu magnetik untuk absensi) yang harus digesekkan pada mesin absen canggih berkamera (Realtime Attendance Record) sebagai bukti kehadiran siswa pada jadwal belajar rutin.
7. UAS/Ulum Vaganza
Merupakan pelajaran tambahan khusus menjelang UAS/Ulum. Soal yang dibahas adalah variasi soal-soal UAS/Ulum yang pernah keluar sesuai dengan asal sekolah masing-masing siswa.
8. Evaluasi VAK
Dilakukan diawal program untuk mengetahui modalitas siswa apakah visual, auditorial, atau kinestetik sehingga setiap siswa dapat belajar sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing.
9. GO Hi Teach
Metode belajar revolusioner yang membuat siswa berkonsentrasi penuh sehingga informasi disimpan memori jangka panjang.
10. TST (Tutorial Service Time)
Disediakan pengajar piket untuk melayani pertanyaan siswa seputar PR sekolah atau tambahan pelajaran atas permintaan siswa di luar pertemuan terjadwal. Layanan ekstra ini gratis tanpa biaya tambahan.
Pengajar adalah lulusan PTN, profesional, dan perguruan tinggi terkemuka lainnya yang sangat berpengalaman dan terlatih menerapkan Revolusi Belajar sehingga siswa mudah mengerti materi yang diajarkan.
12. Revolusi belajar
Metode belajar sesuai dengan cara kerja otak. Optimalisasi penggunaan otak kanan dan otak kiri ditempuh dengan memperdengarkan musik klasik saat belajar, brain gym, break sesaat sesuai teori von restoff, mencatat menggunakan mind map, dan mengingat dengan metode asosiasi.
13.Parents meeting
Pertemuan rutin orangtua dan konselor GO untuk bersama-sama memantau perkembangan prestasi siswa.
14. Try out terpadu
Daftar biaya bimbingan belajar:
Tabel 4.2
Daftar Biaya Bimbingan Belajar Ganesha Operation Kelas XII SMA
Program
Executive Biaya normal
Biaya setelah
Silver Rp.9.900.000,00 Rp.8.712.000,00 Rp.8.276.400,00 12 SMA
TWT Rp.10.350.000,00 Rp.9.108.000,00 Rp.8.652.600,00 12 SMA
Gold Rp.13.750.000,00 Rp.12.100.000,00 Rp.11.495.000,00 12 SMA
Platinum Rp.18.750.000,00 Rp.16.500.000,00 Rp.15.675.000,00 Sumber: brosur Lembaga Bimbingan Belajar Ganesha Operation tahun 2015
Program Reguler
Lama
belajar s.d Biaya normal
Biaya setelah 12 SMA UN 2016 Rp.6.750.000,00 Rp.4.725.000,00 Rp.4.252.000,00 12 SMA SBMPTN
2016 Rp.7.900.000,00 Rp.5.530.000,00 Rp.4.977.000,00 Sumber: brosur Lembaga Bimbingan Belajar Ganesha Operation tahun 2015
4.1.2.Sony Sugema College (SSC)
4.1.2.1.Sejarah singkat Bimbingan Belajar Sony Sugema College
Secara finansial saat itu, beliau memang hanya memiliki bekal modal sebanyak Rp. 1,5 juta. Namun bekal pengalaman dan optimisme yang digenggamnya telah memberi semangat berwirausaha yang sulit dibendung. Sebanyak 50% dari modal yang dimilikinya digunakan untuk membayar biaya sewa gedung selama satu bulan. Sisanya digunakan untuk membeli berbagai perlengkapan belajar untuk siswa, seperti kursi, meja tulis, papan tulis, dll. Modal selama satu bulan itulah yang menjadi sumber awal berdirinya perusahaan yang kini memiliki banyak pengembangan bisnis dan lembaga sosial ini.
Komitmen LBB SSC untuk memberikan pelayanan terbaik kepada siswanya telah membuahkan reputasi dan citra positif di mata masyarakat. Demi menjaga kualitas, LBB SSC selalu menyediakan guru-guru berkualitas. Setiap siswa diberi keleluasaan untuk memanfaatkan fasilitas internet secara gratis, mereka dapat pula mengikuti perkembangan pendidikan melalui situs LBB SSC yang selalu diperbaharui secara rutin.
Filosofi dasar dari Sony Sugema College adalah “The fastest solution” yang selalu kembali pada prinsip-prinsip sederhana guna memecahkan soal dalam berbagai variasi soal. The Fastest Solution, merupakan hasil pencarian terus menerus dari Tim SSC sehingga berbagai persoalan dapat dipandang dengan cara yang sangat simpel. The Fastest Solution, bukanlah hafalan rumus-rumus yang banyak dan berbeda dengan rumus-rumus umum.
evaluasi terpadu adalah metode evaluasi yang mengukur faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi kelulusan dan prestasi.
Learning is Fun – Belajar itu indah, filosofi ini dipilih oleh SSC karena SSC dengan staff pengajarnya yang berkualitas siap memberikan materi pelajaran yang dibantu oleh peralatan multimedia yang menampilkan presentasi grafik dan gambar. Teknologi pendidikan yang dikembangkan SSC yaitu Komputer Multimedia, Audio Visual, MIS (Management Information System). Untuk mengenali dan mengembangkan potensi siswa secara berkesinambungan dan seimbang, SSC menyediakan konsultasi siswa.
4.1.2.2.Visi dan Misi Bimbingan Belajar SSC
SSC adalah Lembaga Bimbingan Belajar dengan visi menjadi “ lembaga pendidikan yang terbaik di Indonesia” selalu memberikan layanan program bimbingan belajar yang bermutu untuk meningkatkan prestasi akademik siswa disekolah. Didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas baik staf pengajar dan karyawan membuat LBB SSC makin kokoh dimata masyarakat.
baik dari hari ke hari . SSC menjamin hasil yang optimal pada aktivitas belajar siswa.
LBB SSC yang terdepan dalam teknologi selalu berusaha untuk berinovasi sesuai dengan falsafah “Kaizen” yang artinya perbaikan terus menerus. Konsisten dengan komitmen tersebut:
• LBB SSC mengenalkan Try Out yang terkomputerisasi pada saat itu masih menggunakan disket dan UNDER DOS.
• LBB SSC mempelopori Audio Visual System dengan menggunakan computer.
• LBB SSC mempelopori penggunaan internet.
• LBB SSC memperbaharui Audio Visual Systemnya dengan menggunakan teknologi Flash, sehingga lebih mudah diakses dan dapat di tonton kapan saja.
• LBB SSC meluncurkan program terintegrasi dari Management Information System dan fasilitas teknologi informasi terbaru seperti WAP, SMS, dan IVR serta menghubungkan seluruh fasilitas dan outlet seluruh Indonesia yang disebut : Sistem Saraf Digital.
4.1.2.3. Program Belajar
Kelas 12 SMA khusus ITB dan kedokteran (KIK) a. Garansi program
Jika peserta diterima di PTN non ITB atau non Fak. Kedokteran PTN melalui seleksi PTN 2016 atau sistem penerimaan mahasiswa baru PTN 2016, maka dana dikembalikan sebesar Rp.1.500.000,00.
b. Syarat pengembalian
Kehadiran peserta 85% dari seluruh pertemuan termasuk Try Out dan peserta wajib mengikuti try out SSC. Perjanjian ini diaktekan ke notaris.
c. Fasilitas ruang belajar
- Kelas ber AC, bersih dan nyaman - Kapasitas kelas 18 siswa
- Ruang diskusi buka sampai pkl.21.00 Wib d. Frekuensi pertemuan
- 3 kali seminggu sampai UN 2016
- Setiap hari setelah UN sampai SNMPTN/ SBMPTN 2016 e. Materi pembelajaran
- Belajar materi 1-3 SMA
- Pengulangan materi dan bahas soal standar seleksi PTN f. Biaya belajar
Tabel 4.3 Biaya Belajar SSC
BIAYA BELAJAR TARGET
Rp. 7.000.000,00 Cicilan pembayaran:
Cicilan 1 Rp.2 juta (dibayar setelah LULUS seleksi)
Cicilan 2 Rp. 2 juta (dibayar Nov.2015) Cicilan 3 Rp. 2 juta (dibayar Jan.2016) Cicilan 4 Rp. 1 juta (dibayar Mar.2016)
Program studi ITB dan program studi kedokteran PTN (UI, UGM, UNPAD, UNAIR, USU,
UNSRI, UNAND, UNSYAH)
Kelas 12 SMA Program Intensif Khusus (PIK) a. Garansi program
Jika peserta program tidak diterima di PTN melalui seleksi PTN 2016 atau sistem penerimaan mahasiswa baru PTN 2016, maka dana dikembalikan sebesar Rp.1.500.000,00.
b. Syarat pengembalian
Kehadiran peserta 80% dari seluruh pertemuan termasuk Try Out dan peserta wajib mengikuti Try Out SSC. Perjanjian ini diaktekan ke Notaris.
c. Frekuensi belajar
Tahap I : 2 x seminggu (Juli-Desember 2015) Tahap II : 3 x seminggu (Januari- UN 2016)
Tahap III : setiap hari setelah UN 2016- SBMPTN 2016 d. Fasilitas tambahan
- Try Out SBMPTN dan Try Out UN - Modul belajar
- Tambahan belajar persiapan khusus UN 2016 e. Biaya belajar
Rp. 4.500.000,00: pembayaran dapat dicicil 2x dan pembayaran secara cash discount Rp.500.000,00
4.1.3 Prosus INTEN
4.1.3.1. Sejarah dan Profil Inten
pionir dengan model Quantum Learning-nya yang sangat luar biasa. Ia beserta berbagai penggagas pendekatan pengakaran alternatif lainnya, menjadi ilham berdirinya PROSUS INTEN.
Inti model pengajaran di PROUS INTEN mengacu pada prinsip-prinsip ilmu kognitif modern melalui penelitian mengenai otak dan kecerdasan, Emotional Intelligence (kecerdasan emosi), dan Adversity Quotient, kunci keberhasilan mencapai tujuan. Dengan demikian, PROSUS INTEN menyejatikan dirinya sebagai satu-satunya lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang menciptakan keterampilan super kepada siswanya melalui metode terbaik dalam mengajar yang di kalangan pakar pendidikan dunia disebut “belajar sejati” atau true learning.
Sejak berdiri, PROSUS INTEN telah berhasil menghantar siswanya masuk PTN terbaik. PROSUS INTEN juga telah memperlihatkan diri sebagai satu-satunya bimbingan belajar dengan organisasi yang prima, komit dengan kerja sama tim yang sangat baik dan kompak. Standarisasi utama yang diterapkan dalam rekrutmen SDM adalah kualitas, sikap mental, akhlak, dan kepribadian sehingga mereka dikenal sebagai guru-guru yang sangat profesional, menempatkan pelayanan di atas segala-galanya dalam sebuah tanggung jawab dan kasih sayang.
4.1.3.2. Substansi Program
1. Membangun landasan yang kukuh untuk kesuksesan belajar
b membentuk keterampilan belajar sehingga siswa mengalami peningkatan yang signifikan dalam menyerap, mengingat, dan menalar;
c menanamkan konsep belajar melalui teknik-teknik belajar yang sesuai dengan cara kerja otak;
d membentuk keterampilan berpikir sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan inovatif;
e membentuk sikap metal positif sehingga siswa akan memiliki rasa percaya diri dan menjadi kreatif;
f memunculkan keajaiban-keajaiban yang terkandung dalam diri setiap siswa
2. Meningkatkan kemampuan akademik
Dalam memnuhi tuntutan evaluasi belajar di sekolah hingga Ujian Masuk PTN, meningkatkan kemampuan kualitas akademik siswa merupakan tanggungjawab besar Inten dengan cara:
a. memberikan materi ajaran tambahan di samping materi ajaran pokok. Materi ajaran tambahan tersebut adalah konsultasi yang berkaitan dengan peletakan landasan kesuksesan belajar;
b. standar pengajaran dan pelayanan guru-guru PROSUS INTEN layak dipercaya;
d. siswa yang nilainya di bawah standar akan ditangani secara khusus (belajar personal) sehingga dapat mengejar ketertinggalan.
4.1.3.3. Biaya Bimbingan Belajar
1. bebas biaya pendaftaran dan biaya seleksi
2. uang jaminan diserahkan setelah calon peserta resmi menjadi calon PROSUS INTEN. Uang jaminan dan mekanisme pembayarannya dibicarakan dalam pertemuan/ musyawarah antara penyelenggara dan orangtua calon peserta;
3. bila ternyata ada peserta PROSUS INTEN tidak lulus dalam ujian masuk PTN 2016 atau tidak diterima di PTN, uang jaminan yang diterima penyelenggara dikembalikan 100% kepada orangtua peserta atau kepada orang yang menandatangani surat perjanjian bermaterai;
4. untuk melaksanakan program ini, penyelenggara dan orangtua peserta membuat perjanjian tertulis yang berisikan hak-hak dan kewajiban kedua belah pihak.
4.2 Hasil Penelitian
merupakan suatu upaya untuk menata dan mengelompokkan data menjadi satu bagian-bagian tertentu berdasarkan jawaban responden. Analisis data yang dimaksud adalah interpretasi langsung berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dilapangan.
Temuan penelitian dalam hal ini adalah meliputi karakteristik responden yaitu:
4.2.1. Karakteristik Responden
Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Kategori Frekuensi ( f ) Persentasi
1 Laki-Laki 93 orang 34,6%
2 Perempuan 176 orang 65,4%
Jumlah 269 orang 100%
Sumber: Kuesioner September, 2015
Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Nama Sekolah No. Nama Sekolah Frekuensi Persentasi
1. SMA Cahaya Medan 21 7,8%
Sumber: Kuesioner September 2015
mengikuti bimbingan belajar. Siswa yang mengikuti bimbingan belajar berasal dari sekolah negeri maupun sekolah swasta. Lokasi penelitian yang berada di 3 lokasi penelitian yaitu Ganesha Operation, Sony Sugema College dan Prosus Inten, memperoleh data sebanyak 27 sekolah yang berada di kota Medan menjadi asal sekolah dari 269 responden. Responden terbanyak dalam penelitian ini berasal dari SMA Negeri 1 Medan yaitu 54 responden (20,1%), kemudian diikuti dengan SMA Negeri 4 Medan sebanyak 50 responden (18,6%), SMA St Thomas 1 Medan 39 responden (14,5%), SMA St Thomas 2 Medan sebanyak 24 responden (8,9%), SMA Cahaya Medan sebanyak 21 responden (7,8%). Responden lainnya berasal dari sekolah SMA Sutomo 1 Medan dan SMA Swasta Methodist 2 Medan dengan jumlah responden masing-masing 12 responden (4,5%). Untuk jumlah responden terendah, dengan masing-masing 1 responden (0,4%) berasal dari sekolah SMA Harapan 1 Medan, SMA Immanuel Medan, SMA N 2 Rantau Utara, SMA Negeri 1 P.Batu, SMA Negeri 14 Medan, SMA Negeri 15 Medan, SMA Negeri 7 Medan, SMA WR Supratman II, dan UPH College.
Tabel 4.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Jurusan
No. Jurusan Frekuensi Persentasi
1. IPA 184 68,4%
2. IPS 85 31,6%
Jumlah 269 100%
Sumber: Kuesioner September 2015
sebanyak 184 orang (68,4%) dan jurusan IPS sebanyak 85 orang (31,6%). Dari hasil temuan dilapangan ditemukan fakta bahwa siswa yang paling banyak mengikuti bimbingan belajar adalah siswa yang berasal dari jurusan IPA. Fakta tersebut ditemukan dimasing-masing 3 bimbingan belajar yang berbeda yang disebutkan langsung oleh pimpinan masing-masing dari lembaga bimbingan belajar. Bimbingan belajar SCC dengan jumlah kelas XII sebanyak 400 orang hanya memiliki 79 orang siswa kelas XII IPS. Bimbingan belajar Ganesha Operation dengan jumlah kelas 19, hanya memiliki 4 sampai 5 ruangan untuk kelas IPS. Bimbingan belajar Inten memiliki jumlah siswa XII IPS sebanyak 50 orang. Hal ini disebabkan karena mata pelajaran yang dimiliki oleh kelas IPA lebih sulit dibandingkan dengan kelas IPS.
Tabel 4.7
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Mengikuti Bimbingan Belajar No. Lama mengikuti bimbel Frekuensi Persentasi
1. < 1 tahun 135 50,2%
2. 1-2 tahun 66 24,5%
3. > 2 tahun 68 25,3%
Jumlah 269 100%
Sumber: Kuesioner September 2015
mengikuti bimbingan belajar > 2 tahun. Responden dengan pilihan jawaban tersebut adalah responden yang telah mengikuti bimbingan belajar sejak mereka SMA, SMP dan bahkan sejak SD. Responden dengan jumlah 66 orang (24,5%) telah mengikuti bimbingan belajar sejak 1-2 tahun.
Tabel 4.8
Karakteristik Responden Berdasarkan Program Belajar Bimbingan Belajar No. Program belajar Frekuensi Persentasi
1. Executive 160 59,5%
2. Reguler 109 40,5%
Jumlah 269 100%
Sumber: Kuesioner September 2015
Pembagian kelas seperti halnya diatas secara langsung telah membedakan responden dalam tingkatannya masing-masing berdasarkan kemampuan ekonomi mereka untuk dapat memasuki kelas executive. Kelas executive adalah kelas bagi mereka yang memiliki perekonomian yang tinggi atau status sosial yang tinggi sehingga mereka dapat menikmati fasilitas yang lebih baik yang diberikan oleh lembaga bimbingan belajar. Munculnya pembagian kelas tersebut merupakan gaya dari kapitalisme yang berusaha untuk menciptakan konsumerisme pada masyarakat. Perbedaan tingkat konsumsi inilah yang semakin menciptakan perbedaan status sosial dalam kehidupan responden.
Tabel 4.9
Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ayah dan Ibu No Jenis Pekerjaan Orang Tua F Persentase
Ayah Ibu Ayah Ibu
1 Pegawai BUMN 36 21 13,4% 7,8%
2 Pegawai Swasta 45 25 16,7% 9,3%
3 Wiraswasta 89 46 33,1% 17,1%
4 Pensiunan 14 - 5,2% -
5 Ibu Rumah Tangga 107 39,8%
6 Lainnya 85 70 31,6% 26%
Jumlah 269 269 100% 100%
Sumber: Kuesioner September 2015
kepala sekolah), pedagang, petani, pengacara, dan TNI. Pegawai swasta menjadi profesi orangtua (ayah ) dari 45 responden (16,7%). Pekerjaan orangtua (ayah) sebagai pegawai BUMN dilakukan oleh orangtua responden dengan jumlah 36 orang (13,4%).Orangtua (ayah) responden yang sudah pensiunan berjumlah 14 (5,2%). Pekerjaan lainnya untuk orangtua (ibu) diberikan oleh 70 responden (26%) dimana yang pekerjaan ibu lainnya adalah PNS (pegawai kantor, guru SD, dosen, bidan, dokter), petani, pedagang, notaris. Pekerjaan orangtua (ibu ) dari responden lainnya adalah sebanyak 46 orangtua responden bekerja sebagai wiraswasta (33,1%), sebagai pegawai swasta berjumlah 25 orangtua responden (16,7%) dan pegawai BUMN berjumlah 21 (13,4%).
Tabel 4.10
Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan Orangtua No. Jumlah penghasilan Frekuensi Persentasi
1. Rp.1.000.000,00 - Rp.3.000.000,00 34 12,6% 2. Rp.3.000.001,00 – Rp.5.000.000,00 102 37,9% 3. Rp.5.000.001,00 – Rp.7.000.000,00 67 24,9%
4. > Rp.7.000.001,00 66 24,5%
Jumlah 269 100%
Sumber: Kuesioner September 2015
4.2.2. Gaya Hidup Responden Berdasarkan Aktivitasnya 4.2.2.1. Aktivitas Orangtua Sepulang Bekerja
Tabel 4.11
Tabel Frekuensi Mengenai Aktivitas Orangtua Responden Sepulang Bekerja
No. Pernyataan Frekuensi Persentasi
1 Melakukan pekerjaan sampingan 19 7,1%
2. Bersantai dirumah 191 71%
3. Bermain dengan anak-anak 39 14,5% 4. Berkumpul dengan tetangga 3 1,1%
5. Lainnya 17 6,3%
Jumlah 269 100%
Sumber: Kuesioner September 2015
berkumpul dengan keluarga (5 responden), olahraga (3 responden), istirahat (2 responden) dan mengikuti kegiatan gereja (1 responden).
4.2.2.2. Kegiatan Responden dan Keluarga Ketika Liburan Tabel 4.12
Tabel Frekuensi Mengenai Kegiatan Responden dan Keluarga Ketika Liburan
No. Pernyataan Frekuensi Persentasi
1. Jalan-jalan keluar kota 96 35,7%
2. Berbelanja 11 4,1%
3. Jalan-jalan ke mall 32 11,9%
4. Menghabiskan waktu dirumah 116 43,1%
5. Lainnya 14 5,2%
Jumlah 269 100%
Sumber: Kuesioner September 2015
responden (11,9%) bersama dengan keluarganya. Aktivitas lainnya yang dilakukan oleh responden bersama dengan keluarganya adalah berbelanja seperti yang dinyatakan oleh 11 responden (4,1%). Pilihan jawaban lainnya diberikan oleh 14 responden (5,2%) dengan aktivitas seperti: melakukan semua pilihan jawaban diatas (6 responden), pergi ke tempat rekreasi (5 responden), main catur dengan teman, belajar, dan bekerja dengan masing-masing 1 responden.
4.2.2.3. Aktivitas yang Dilakukan Oleh Responden dalam Mengisi Waktu Luangnya
Tabel 4.13
Tabel Frekuensi Mengenai Aktivitas Responden di Waktu Luangnya
No. Pernyataan Frekuensi Persentasi
1. Membantu orangtua 52 19,3%
2. Menonton TV dirumah dan tidur 68 25,3% 3. Mengikuti esktrakulikuler disekolah 32 11,9%
4. Berdiskusi dengan tentor 82 30,5%
5. Lainnya 35 13%
Jumlah 269 100%
Sumber: Kuesioner September 2015
belajar dirumah, hangout dengan teman-teman dan bekerja. Responden lainnya berjumlah 32 responden (11,9%) mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sekolah untuk mengisi waktu luang yang dimiliki.
4.2.2.4. Tempat Responden dan Teman-Temannya Menghabiskan Waktu Luang
Tabel 4.14
Tabel Frekuensi Mengenai Tempat Responden dan Teman-Temannya Menghabiskan Waktu Luang
No. Pernyataan Frekuensi Persentasi
1. Di tempat bimbingan belajar 131 48,7%
2. Di cafe atau mall 60 22,3%
3. Di rumah teman 40 14,9%
4. Wisata keluar kota 7 2,6%
5. Lainnya 31 11,5%
269 100%
Sumber: Kuesioner September 2015
dari adanya tulisan didinding bimbingan belajar bahwa siswa lain yang bukan dari bimbingan belajar tersebut untuk duduk di ruang diskusi. Hal ini disebabkan karena responden seringkali mengajak temannya untuk diskusi dengan tentor di tempat bimbingan belajar. Cafe dan mall juga menjadi tempat responden untuk menghabiskan waktu luang bersama teman-temannya seperti yang disebutkan oleh 60 responden (22,3%). Berkumpul bersama di rumah salah satu teman adalah tempat yang dipilih oleh 40 responden (14,9%) untuk menghabiskan waktu luang mereka. Pilihan jawaban lainnya disampaikan oleh 31 responden (11,5%), dimana responden menghabiskan waktu luangnya disekolah. Untuk 7 responden (2,6%) lainnya memilih wisata keluar kota dengan teman-teman untuk menghabiskan waktu luang.
Tabel 4.14
Tabel Frekuensi Mengenai Gaya Hidup (Aktivitas)
No Pernyataan SS S KS TS STS Total Mean Std
deviasi
1
Salah satu aktivitas anda adalah mengikuti kegiatan ekstrakulikuler/ non akademis di sekolah.
Aktivitas lainnya yang anda lakukan di sekolah adalah dengan mengikuti kelompok belajar.
Orangtua anda mendukung anda untuk mengikuti komunitas yang anda inginkan.
Berbelanja adalah aktivitas yang anda lakukan dengan teman-teman anda di waktu luang.
Orangtua anda setiap hari menyempatkan waktunya untuk membantu anda belajar di rumah.
Waktu luang yang anda miliki anda
lakukan di tempat bimbingan belajar. (24,2%) 65 (40,1%) 108 (22,7%) 61 (6,7%) 18 (6,3%) 17 (100%) 269 3,69 1,102
7
Kegiatan ekstrakulikuler menjadi aktivitas yang sedang dilakukan oleh 111 responden (41,3%) dengan memberikan jawaban setuju terhadap pernyataan tersebut. Pilihan jawaban sangat setuju juga diberikan oleh 55 responden (20,4%) lainnya, dimana mereka saat ini sedang aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakulikuler disekolah. Berbeda dengan responden lainnya yang memberikan tidak setuju sebanyak 51 responden (19%) yang menunjukkan bahwa responden sedang tidak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler disekolah. Pernyataan kurang setuju juga diberikan oleh 42 responden (15,6%) dan sangat tidak setuju oleh 10 responden (3,7%).
responden yang juga mengikuti aktivitas les disamping mereka mengikuti bimbingan belajar. Oleh karena itu, responden benar-benar harus mampu mengatur waktunya untuk dapat menjalankan setiap aktivitasnya.