• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Yuridis Cross Rezim Hak Cipta dan Desain Industri di Indonesia Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Yuridis Cross Rezim Hak Cipta dan Desain Industri di Indonesia Chapter III V"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

BENTUK-BENTUK PERMASALAHAN HAK CIPTA DAN DESAIN INDUSTRI YANG TERJADI DI INDONESIA

A. Bentuk-Bentuk Sengketa Hak Cipta dan Desain Industri

Paradigma pemberian hak berbeda dengan paradigma penegakan hak. Unsur perbedaan akan dicari sebanyak-banyaknya di dalam pemberian hak sedangkan unsur persamaan akan dicari sebanyak-banyaknya di dalam penegakan hak. Paradigma pemberian hak tidak serta merta dapat meniadakan tidak adanya pelanggaran hak.

Tidak heran apabila penyidik Polri (Polisi Republik Indonesia) bingung saat menangani pemeriksaan seorang tersangka atas pelanggaran hak cipta dimana si tersangka ternyata memiliki sertipikat Desain Industri yang sama dengan ciptaan yang dipersangkakan terhadapnya. Hal demikian mengakibatkan mandeknya proses penyidikan terhadap pelanggaran hak cipta dengan dalih si tersangka juga memiliki alas hak yang notebenesama dengan hak cipta milik orang lain yang dipersangkakkan terhadap dirinya.

Perlindungan hak cipta diberikan untuk karya seni, sastra, ilmu pengetahuan dan hak-hak terkait. Sedangkan perlindungan desain industri diberikan untuk suatu bentuk (tiga dimensi), konfigurasi (tiga dimensi), komposisi (dua dimensi : garis, warna, garis dan warna), gabungan tiga dimensi dan dua dimensi (bentuk dan konfigurasi; konfigurasi dan komposisi; bentuk dan komposisi; bentuk, konfigurasi dan komposisi).

(2)

Perlindungan hak cipta bersifat otomatis saat ekspresi nyata terwujud dan tanpa pendaftaran (deklaratif). Sedangkan perlindungan desain industri diberikan berdasarkan pendaftaran terhadap desain yang baru (konstitutif). Karya cipta merupakan sebuah karya master piece dan tidak diproduksi secara massal sedangkan desain industri diproduksi massal. Syarat desain industri yang mendapatkan perlindungan :

1. Memenuhi persyaratan substansi :

a. Kreasi desain industri yang memberikan kesan estetis (Pasal 1 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000). Kreasi bentuk, konfigurasi, komposisi garis dan warna atau kombinasinya yang memberikan bentuk estetis. Kreasinya bukan semata-mata fungsi atau teknis (pasal 25 ayat 1 perjanjian TRIPs);

b. Kreasi desain industri yang dapat dilihat dengan kasat mata. Lazimnya suatu kreasi desain industri harus dapat dilihat jelas dengan kasat mata (tanpa menggunakan alat bantu), dimana pola dan bentuknya jelas. Jadi kesan indah/estisnya ditentukan melalui penglihatan bukan rasa, penciuman dan suara;

c. Kreasi desain industri yang dapat diterapkan pada produk industri dan kerajinan tangan (Pasal 1 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000. Dapat diproduksi secara massal melalui mesin maupun tangan. Jika diproduksi ulang memberikan hasil yang konsisten.

(3)

penerimaan atau tanggal prioritas (bila dengan hak prioritas) dan telah diumumkan/digunakan dengan baik di Indonesia atau di luar Indonesia (Pasal 2 ayat 2 dan Pasal 2 ayat 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000). Baru dinilai dari sudut kreasi dan/atau produknya. Nilai kemiripan, nilai kreatifitas dan nilai karakter indvidu suatu desain industri tidak diatur dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000. Nilai baru/kebaruan maknanya nilai tidak identik atau berbeda atau tidak sama atau tidak identik dengan “pengungkapan” yang telah ada sebelumnya.

e. Kreasi industri yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum, agama atau kesusilaan (Pasal 4 Undang-undang Nomor 31/2000)

2. Memenuhi persyaratan administrasi/formalitas (Pasal 11, 13, 14, 15, 16, 17 dan 19 (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000).

3. Tidak ditarik kembali permohonannya karena memenuhi persyaratan permohonan (pasal 20 ayat 1) dan pemohon tidak menarik permohonannya. (Pasal 21 Undang-Undang No. 31 Tahun 2000)

Agar permohonan pendaftaran desain industri dapat diberikan (granted) pastikan persyaratan di atas terpenuhi. Untuk mendapatkan nilai baru atau kebaruan cari perbedaan sebanyak-banyaknya terhadap desain yang telah ada sebelumnya.

Pembatalan penegakan hak desain industri dapat dilakukan karena : 1. Permintaan pemegang hak desain industri

(4)

Pembatalan pendaftaran desain industri atas kehendak pemegang hak yang ditujukan ke Ditjen HKI harus melampirkan persetujuan tertulis dari penerimaan lisensi. Gugatan pendaftaran desain industri oleh pihak ketiga harus diajukan ke Pengadilan Niaga dalam wilayah hukum tempat tinggal atau domisili Tergugat atau apabila pemegang hak berdomisili di luar wilayah Indonesia gugatan diajukan ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Adapun yang menjadi objek pembatalan pendaftaran berdasarkan gugatan adalah karena:

1. Permohonan desain industri yang diberikan tidak baru (bertentangan dengan Pasal 2). Harus disimak apakkah barang atau produk, bentuk, konfigurasi, komposisi garis dan warna sama atau tidak sama dengan desain pembanding yang relavan;

2. Permohonan desain industri yang diberikan dianggap bertentangan dengan Undang-undang yang berlaku, ketertiban umum, agama dan kesusilaan (Pasal 4). Dalam hal terjadi pelanggaran hak, perlu dipikirkan dan disiapkan strategi yang matang sebelum melakukan upaya hukum (gugatan pembatalan, gugatan ganti rugi dan tuntutan pidana).

(5)

memperoleh sertipikat pendaftaran desain industri untuk desain yang sama atau identik dengan desain milik perusahaan A. Apabila diajukan gugatan pembatalan ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dengan dasar desain industri tersebut tidak baru maka kesempatan (chance) untuk dibatalkannya desain tersebut sangat besar. Apabila perusahaan A berhasil membatalkan desain pulpen milik perusahaan B maka desain tersebut menjadi milik umum (pubic domain). Akibat hukumnya, setiap orang termasuk perusahaan A itu sendiri berhak menggunakan desain pulpen tersebut. Perusahaan A tidak akan bisa memperoleh sertipikat desain industri dari Ditjen HKI karena sudah ada pengungkapan sebelumnya (tidak baru) jika hendak mengajukan permohonan pendaftaran desain pulpen tersebut. Apabila sampai terjadi kondisi seperti ini maka perusahaan A akan rugi sendiri. Karena perusahaan A akan kalah bersaing dengan produk impor Cina yang harganya jauh lebih murah untuk desain yang sama di pasaran Indonesia. Solusinya, Alternative Dispute Resolution (negosiasi, mediasi dan konsiliasi) adalah pilihan lebih baik (Pasal 47). Dengan membeli desain milik perusahaan B, pasar (market) untuk Indonesia masih bisa dimonopoli oleh perusahaan A dengan hak mengizinkan (memberi lisensi) dan melarang pihak lain untuk menggunakan desain miliknya.

(6)

di Ditjen HKI. Dalam kasus seerti ini banyak pro dan kontra dikalangan praktisi HKI. Sebagian mengatakan “iya” dan sebagian “’tidak”. Bagi yang pro mereka menyatakan lebih baik mencari makan bersama ikan hiu daripada berebut makanan dengan ikan hiu. Alternative Dispute Resolution (ADR) adalah pilihan lebih baik. Perusahaan A tidak perlu pusing dengan proses litigasi dan lebih mengirit biaya dan waktu. Masing-masing pihak bisa berjalan sendiri karena telah memiliki alas hak. Sebaliknya bagi yang kontra mereka menyatakan keberatan dengan pemilihan ADR sebagai solusi. Menurut mereka, jelas telah terjadi pelanggaran hak cipta walaupun perusahaan B telah memiliki sertipikat desain industri. Hal ini berbeda antara desain industri dan desain industri. Yang jelas ini adalah kasus hak cipta dan desain industri, adanya alas hak tidak berarti tidak adanya pelanggaran.

(7)

Dalam kasus cross rezim seperti ini, terlalu dini bagi penyidik untuk menyimpulkan demikia. Ada atau tidak adanya pelanggaran baru akan terlihat pada acara pembuktian di pengadilan kelak. Proses pidana tetap harus dijalankan tanpa harus terlebih dahulu menunggu adanya putusan pembatalan desain industri. Biarkan para pihak membuktikan siapa terlebih dahulu memiliki hak di acara pembuktian nanti dan biarkan pengadilan yang memutuskan ada tidaknya pelanggaran hak cipta dalam kasus cross rezim seperti ini.

Hak cipta adalah terminologi hukum yang menggambarkan hak-hak yang diberikan kepada pencipta untuk karya-karya mereka dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Jenis karya yang dilindungi oleh hak cipta adalah buku, program komputer, pamflet, susunan perwajahan karya tulis yang diterbitkan dan semua hasil karya tulis lainnya; ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lainnya diwujudkan dengan cara diucapkan; alat peradga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan; ciptaan lagu atau musik dengan atau tanpa teks, termasuk karawitan dan rekaman suara; drama, tari (koreografi), pewayangan, pantonim; karya pertunjukan; karya siaran; seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, seni terapan yang berupa seni kerajinan tangan; arsitektur; peta; seni batik; fotografi; sinematografi; terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai dan karya lainnya dari hasil pengalihwujudan.

(8)

memperbanyak ciptaannya; memberi izin pihak lain untuk menggunakan haknya dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.

Pencipta suatu karya dapat melarang atau tidak mengizinkan orang lain untuk melakukan, memperdengarkan/memperlihatkan kepada publik seperti cerita panggung atau karya musik;

a. Peniruan dalam berbagai bentuk, seperti publikasi cetak atau rekaman suara; b. Perekaman, misalnya dalam bentuk CD, kaset atau video;

c. Penyiaran melalui radio, kabel dan satelit;

d. Penerjemahan ke dalam bahasa lain atau mengadaptasi, misalnya novel dibuat menjadi film layar lebar.

Banyak karya yang dilindungi oleh hak cipta memerlukan distribusi, komunikasi dan investasi keuangan untuk penyebarluasannya (misalnya: publikasi rekaman suara atau film). Lebih jauh lagi, pencipta sering menjual hak atas karya mereka kepada individu atau perusahaan yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam pemasaran sehingga dapat memberikan pemasukan yang besar.Pembayaran biasanya tergantung pada penggunaan aktual atas karya tersebut, yang kemudian disebut sebagairoyalty.

(9)

waktu yang rasional.Hak cipta juga melindungi hak moral, yaitu hak untuk menuntut kepemilikan suatu karya dan hak untuk tidak menyetujui perubahan yang dapat membahayakan reputasi penciptanya.

Pencipta dapat menuntut hak-haknya secara administratif di pengadilan dengan pemeriksaan bukti-bukti untuk pembuktian proses pembuatan atau kepemilikan yang tidak sah (pembajakan) atas produk yang merupakan karya yang dilindungi. Pemilik juga dapat memohon pengadilan untuk menghentikan kegiatan-kegiatan yang dilihat dapat mengakibatkan kerugian secara finansial dan menghambat penyebarluasan karya tersebut.

Lingkup hak yang terkait dengan hak cipta berkembang sangat pesat dalam 50 tahun terakhir. Hak-hak ini tumbuh disekitar karya-karya yang memiliki hak cipta dan menyediakan meskipun seringkali lebih terbatas dan dengan jangka waktu yang lebih singkat, hak-hak untuk :

a. Artis pertunjukan (seperti aktor dan musisi) pada pertunjukan mereka; b. Produser rekaman (seperti kaset dan CD) pada rekaman mereka; c. Organisasi penyiaran pada program-program radio dan televisi;

(10)

Bidang hak cipta dan hak-hak lain yang terkait sudah berkembang secara luas pada beberapa dekade terakhir dengan kemajuan teknologi yang menghasilkan cara baru untuk penyebarluasan karya cipta yaitu dengan berbagai bentuk komunikasi di dunia seperti penyiaran dengan satelit dan CD. Penyebaran karya melalui internet merupakan perkembangan terakhir yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang hak cipta.World Intellectual Property Organization sudah terlibat secara intensif dalam diskusi internasional yang sedang berlangsung untuk pembentukan standar perlindungan hak cipta dalam dunia maya.

Hak cipta sendiri tidak terikat pada prosedur resmi, begitu suatu karya asli diciptakan maka karya tersebut sudah dilindungi oleh hak cipta.Dengan demikiam, pendirian collective management organizations menjadi sangat penting dan menjadi prioritas di berbagai Negara.Organisasi ini dapat memberikan keuntungan bagi para anggotanya dengan menyediakan tenaga ahli dalam bidang administrasi dan hukum yang bertugas mengumpulkan, mengatur dan menyebarkan royalty yang merupakan hak anggotanya yang didapat dari penggunaan karya anggotanya di dunia internasional.

(11)

Desain industri diaplikasikan pada berbagai bentuk produk industri dan kerajinan; dari instrument teknikal dan medical sampai jam tangan, perhiasan dan barang mewah lainnya; dari perlengkapan rumah tangga dan peralatan elektrikal sampai kenderaan dan struktur arsitektural; dari desain tekstil sampai barang-barang hobby (kesenangan).Untuk dapat dilindungi dengan undang-undang, suatu desain industri harus baru dan dapat dilihat oleh mata.Hal ini berarti desain industri cenderung merupakan nilai estetis menyeluruh, sehingga setiap karakteristik teknikal yang menerapkan sistem tidak ikut terlindungi.

Desain industri adalah sesuatu yang menjadikan suatu produk menjadi tampak lebih bagus dan menarik, lebih jauh lagi dapat meningkatkan nilai komersial suatu produk untuk diterima pasar.Bila suatu desain industri dilindungi, maka pemiliknya seseorang atau entitas yang sudah mendaftarkan desain tersebut diberikan suatu hak eksklusif untuk menerapkan desain industrinya, melarang pihak lain membuat, memakai, menjual atau mengimpor desain tersebut tanpa persetujuannya.

Hal ini dapat membantu pencipta untuk mendapatkan keuntungan optimal, sesuai dengan investasinya.Sistem perlindungan yang efektif juga menguntungkan konsumen dan masyarakat, yaitu dapat meningkatkan persaingan yang adil dan praktek perdagangan yang jujur, meningkatkan kreativitas yang pada akhirnya dapat memperbanyak jumlah produk yang menarik secara estetis.

(12)

Sektor-sektor tersebut ikut berkontribusi dalam pengembangan kegiatan komersial dan ekspor produk nasional.

Desain industri relatif lebih mudah dan murah untuk dikembangkan dan dilindungi.Desain industri lebih mudah diakses oleh usaha kecil dan menengah, seniman dan pengrajin, baik di Negara industri maupun Negara berkembang. Hak desain industri dapat beralih atau dialihkan dengan cara pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.

Prosedur pengajuan permohonan desain industri dapat dilakukan sebagai berikut; pertama, permohonan untuk perlindungan desain industri harus diterima oleh kantor Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Permohonan harus mencantumkan contoh fisik atau gambar atau foto atau uraian desain industri yang akan didaftarkan. Desain industri tidak boleh melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum dan kesusilaan.

Hampir disetiap negara, suatu desain industri harus didaftarkan agar dapat dilindungi oleh undang-undang desain industri.Peraturan umum agar dapat didaftarkan adalah desain harus baru dan asli.Biasanya kata baru diartikan sebagai tidak ada desain yang identik atau mirip yang pernah ada sebelumnya.

(13)

dan beberapa Negara, perlindungan desain industri dan hak cipta dapat muncul bersamaan. Di Negara-negara lain, ada yang menerapkan secara mutual eksklusif bila pemilik desain sudah memilih satu jenis perlindungan maka dia tidak dapat lagi menggunakan perlindungan yang lain.

Selain itu, permohonan desain industri juga harus mencantumkan surat pernyataan bahwa desain yang akan didaftarkan adalah miliknya, juga surat kuasa apabila permohonan perlindungan desain industri diajukan melalui kuasa serta membayar seluruh biaya.

Permohonan desain industri dapat juga dilakukan dengan hak prioritas, yaitu hak pemohon yang berasal dari negara-negara anggota konvensi paris tersebut. Persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia untuk mengajukan permohonan ke negara-negara yang tergabung dalam kedua persetujuan. Permohonan di negara yang dituju memiliki tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan yang diajukan di negara asal selama kurun waktu yang telah ditentukan berdasarkan konvensi paris. Permohonan dengan hak prioritas ini harus diajukan dalam waktu selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak tanggal penerimaan permohonan di negara asal.

(14)

Seiring dengan perubahan teknologi,konsepsi ini mengalami pergeseran. Sistem hukum meletakkan kekayaan dalam tiga kategori, yaitu pertama, sebagian besar masyarakat mengakui hak kepemilikan pribadi dalam kekayaan pribadi, yang dikenal denganintangible things; kedua, kekayaan dalam pengertian riil, seperti tanah dan bangunan; ketiga, kekayaan yang diketahui sebagai kekayaan inttelektual. Konsep inilah yang dicoba sebagai dasar pemikiran dalam pemikiran hak kekayaan intelektual. Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa kekayaan intelektual membutuhkan olah pikir dan kreatifitas si pencipta, penemu atau sang kreator. Oleh karena itu pengambilan dengan tidak memberikan kompensasi bagi pemiliknya adalah suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan karena melanggar ajaran moral yang baik. Landasan moral ini pula yang dikenal dalam teori filsafat sebagai teori hukum alam. Dalam ajaran moral dikenal doktrin jangan mencuri atau jangan mengambil apa yang bukan hakmu.

Pendekatan landasan moral atas tuntutan untuk melindungi hak kekayaan intelektual ini menekankan pada kejujuran dan keadilan. Dilihat sebagai perbuatan yang tidak jujur dan tidak adil jika mencuri usaha seseorang tanpa mendapatkan terlebih dahulu persetujuaannya.

(15)

moral and material intersts resulting from any scienttific, literary or artistic production of which he (sic) is the author.”

Doktrin moral diadopsi oleh rezim HKI untuk memberikan perlindungan terhadap individu pemilik HKI agar hak-haknya tidak dilanggar oleh orang lain. Namun sesungguhnya doktrin hukum alam di atas bersifat lebih luas daripada sekedar melindungi individu pemilik HKI, karena doktrin itu dapat pula diterapkan untuk melindungi pihak-pihak lain, termasuk masyarakat lokal atau tradisional atas pegetahuan tradisionalnya.

Lebih jauh dasar filosofis rezim HKI adalah alasan ekonomi, bahwa individu telah mengorbankan tenaga, waktu, pikirannya bahkan biaya demi sebuah karya atau penemuan yang berguna bagi kehidupan. Rasionalitas untuk melindungi modal investasi tersebut mesti dibarengi dengan pemberian hak eksklusif terhadap individu yang bersangkutan agar dapat secara eksklusif menikmati hasil olah pikirnya itu.

Ajaran Aristoteles juga telah menggambarkan argumentasi di atas dalam upaya menciptakan keadilan. Salah satu keadilan yang dikenal dalam teorinya adalah keadilan distributif. Keadilan distributif adalah keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap orang bagian yang sesuai dengan jasanya. Artinya bukan keadilan yang didasari kesamaan jumlah tetapi kesebandingan.

(16)

memperoleh kemanfaatan itu. Inilah yang dalam konteks pembangunan ekonomi terutama di bidang HKI menjadi reward theory, yang mendalilkan bahwa apabila individu-individu yang kreatif diberi insentif berupa hak eksklusif, maka hal ini akan merangsang individu-individu lain untuk berkreasi. Dengan kata lain, rezim HKI merupakan sebuah bentuk kompensasi dan dorongan bagi orang untuk mencipta. Hal ini dapat menguntungkan masyarakat dalam jangka panjang.Melalui pembatasan penggunaan inovasi diharapkan akhirnya meningkatkan tingkat informasi dan inovasi yang tersedia di masyarakat.

Namun demikian di beberapa Negara berkembang, hak alami tidak relevan.Oleh karena hak milik sekalipun memiliki fungsi sosial dan menjadi milik bersama.Hal ini berarti bahwa masyarakat dapat memiliki hak alami atas suatu ciptaan atau invensi yang dibuat baik oleh individu maupun melalui kerjasama kelompok.Nilai-nilai falsafah yang mendasari pemikiran pemilikan individu terhadap suatu karya cipta manusia baik dalam bidang ilmu, sastra, maupun seni adalah nilai budaya barat yang menjelma dalam sistem hukumnya.

Secara praktis, di bawah perlindungan rezim HKI, penulis novel dan pencipta musik dapat memperoleh kompensasi atas ciptaannya sehingga mereka pun terdorong untuk melahirkan ciptaan-ciptaan baru. Dapat dibayangkan bila tidak ada hukum HKI, para pencipta atau investor mungkin memutuskan untuk tidak mencipta dan menemukan sesuatu.

(17)

teknologi. Boleh jadi apabila rezim HKI tidak melindungi, mmungkin akan sedikit kemajuan di bidang teknologi dan orang-orang mungkin tidak akan menulis buku-buku.

Begitupun manfaat yang diperoleh dari rezim HKI, sebagian berpendapat bahwa dapat pula mendatangkan kerugian sosial karena adanya pembatasan kebebasan atau akses secara murah terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Apalagi kritik lainnya dari Negara-negara (misalnya: Indonesia dan China) yang sejak awal telah mengembangkan teknologi dan tradisi kesusasteraan secara mengesankan jauh sebelum kapitalis barat menemukan HKI.

Berdasarkan uraian dasar filosofis HKI di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perlindungan yang diberikan dalam HKI lebih dominan pada perlindungan individual. Namun untuk menyeimbangkan kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat, maka system HKI mendasarkan diri pada prinsip sebagai berikut :

1. Prinsip Keadilan (The Principle of Natural Justice)

Pencipta sebuah karya atau orang lain yang membuahkan hasil kemampuan intelektualnya wajar memperoleh imbalan. Imbalan tersebut dapat berupa materi maupun bukan materi seperti adanya rasa aman karena dilindungi dan diakui atas hasil karyanya. Hukum memberikan perlindungan tersebut demi kepentingan pencipta berupa surat kekuasaan untuk bertindak dalam rangka kepentingannya yaitu hak eksklusif.

(18)

Hak Kekayaan Intelektual merupakan hak yang berasal dari kegiatan kreatif suatu kemampuan daya piker manusia yang diekspresikan kepada khalayak umum dalam berbagai bentuknya yang memiliki manfaat serta berguna dalam menunjang kehidupan manusia.Maksudnya, kepemilikan itu wajar karena sifat ekonomis manusia menjadikan hal itu sebagai keharusan untuk menunjang kehidupannya di dalam masyarakat.

3. Prinsip Kebudayaan

Pengakuan atas kreasi, karya, karsa dan cipta manusia yang dibakukan dalam system HKI adalah suatu usaha yang tidak dapat dilepaskan sebagai perwujudang suasana yang diharapkan mampu membangkitkan semangat dan minat untuk mendorong melahirkan ciptaan baru.

4. Prinsip Sosial

Hukum tidak mengatur kepentingan manusia sebagai perseorangan yang berdiri sendiri, terlepas dari manusia yang lain akan tetapi hukum mengatur kepentingan manusia sebagai warga masyarakat.

(19)

Secara normatif Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta telah memberikan perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta atau pencipta sebagai pemilik karya cipta cukup memadai. Akan tetapi, pada kenyataannya pelanggaran atas suatu karya cipta masih marak dan sulit ditangani. Padahal pelanggaran-pelanggaran tersebut terjadi di depan mata dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk pelanggaran yang terjadi yaitu mengumumkan, mengedarkan maupun menjual karya cipta orang lain tanpa seizin pencipta maupun pemegang hak cipta. Dampak pelanggaran hak cipta ini selain merusak tatanan masyarakat pada umumnya, juga akan mengakibatkan lesunya gairah untuk berkarya di bidang seni, sastra dan ilmu pengetahuan.

Suatu karya ciptaan akan mendapatkan perlindungan hukum hak cipta apabila memenuhi tiga persyaratan: Pertama, memenuhi unsur keaslian; Kedua, keaslian dalam sistem perundang-undangan (civil law system) yang dianut, meminta derajat yang sangat tinggi dengan memperhatikan personalitas sebagai kepribadian yang tercetak dalam karyanya; dan ketiga, kreativitas menyiratkan adanya hubungan sebab akibat antara pencipta dan ciptaannya.

(20)

tuntutan ke Pengadilan Negeri dengan melibatkan aparat penegakan hukum seperti Polisi dan Jaksa untuk sengketa pidatanya.

Para founding fathers bangsa ini sepakat bahwa bangsa dan Negara ini didirikan dengan senantiasa menjunjung tinggi hukum.Maka, sudah sewajarnya segala tindakan dan perilaku di Negara ini pun senantiasa didasarkan pada aturan hukum.Konsekuensi seperti ini tentunya tidak saja diterapkan untuk perilaku-perilaku tertentu, tetapi harus secara menyeluruh.Sehingga keamanan dan ketertiban yang bersama kepastian hukum diakui menjadi fungsi hukum dapat tercapai pula.

Tiga undang-undang di bidang HaKI yang berkaitan dengan perlindungan terhadap Industrial Design Layout-Designs (Topographies) of Integrated Circuits, Protections of Undisclosed Informationdisetujui oleh DPR pada tanggal 4 Desember 2000 dan disahkan menjadi Undang-Undang Rahasia Dagang Nomor 30 Tahun 2000, Undang-Undang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu Nomor 32 Tahun 2000 dan tentu saja Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri.

(21)

industri yang sesuai dengan persyaratan minimal yang diatur dalam TRIPS Agreement.

B. Pilihan Forum Penyelesaian Sengketa

Dalam Undang-Undang Desain Industri secara umum menurut penilaian penulis sudah memenuhi perlindungan terhadap desain industri dalam negeri, namun ada salah satu hal yang patut menjadi perhatian kita semua yakni masalah penyelesaian sengketa. Tidak maksimalnya hasil yang diperoleh dari beberapa kasus yang disengketakan disebabkan karena berbagai hal diantaranya adalah proses penyelesaiannya yang membutuhkan waktu lama bahkan sampai bertahun-tahun. Jadi untuk mewujudkan sistem peradilan yang cepat, tepat dengan biaya murah belum terpenuhi.

Pelanggaran atau sengketa di bidang desain industri dapat terjadi dan diselesaikan secara pidana maupun perdata. Dalam hal pemegang desain industri telah mendaftarkan desain industri dan memperoleh sertipikat desain industri dan jika haknya dilanggar oleh pihak lain, maka ia dapat menentukan penyelesaian pelanggaran haknya apakah akan dilakukan secara pidana atau perdata.

(22)

bisa juga mengadu pada Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Ditjen HaKI (vide Pasal 53 Undang-Undang Desain Industri). Penyidik sebagaimana diatur dalam Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang Desain Industri berwenang :

a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Desain Industri;

b. Melakukan pemeriksaan terhadap pihak yang melakukan tindak pidana di bidang HaKI di atas;

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari pihak sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di atas;

d. Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, pencatatan dan dokumen lain yang berkenaan dengan tindak pidana di atas;

e. Melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat barang bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen lain;

f. Melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di atas;

g. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di atas.

(23)

dan pihak terdakwa yang tidak puas terhadap putusan Pengadilan Negeri dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi dan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung jika tidak puas pula terhadap Putusan Pengadilan Negeri atau Pengadilan Tinggi.

Proses penyelesaian secara pidana tidak memberikan kepastian waktu dan biaya. Perkara pelanggaran desain industri waktunya bisa sampai bertahun-tahun, bahkan ada yang ketika waktu berlangsungnya perlindungan terhadap desain industri habis 10 tahun keputusan kasasi baru turun.

Kemudian perkara perdata yaitu gugatan pembatalan terhadap desain industri terdaftar yaitu memanfaatkan Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri sebagai upaya penyelesaian perkara.Seperti kasus perdata umumnya, undang-undang ini juga memberikan hak bagi para pihak yang bersengketa untuk menggunakan lembaga arbitrase maupun alternatif penyelesaian sengketa (Pasal 47 Undang-Undang Desain Industri).Namun, penunjukan lembaga untuk menyelsaikan sengketa tersebut belum sepenuhnya terpenuhi karena keterbatasan ahli, harapan agar penyelesaian sengketa di bidang desain industri dapat dilakukan secara profesional, lebih efisien dan efektif belum memberikan hasil yang maksimal.

(24)

acara perdata pada umumnya yang menyatakan bahwa gugatan diajukan melalui yurisdiksi Pengadilan Negeri di wilayah atau domisili tergugat berada. Namun, oleh karena jumlah Pengadilan Niaga hanya ada 5 (lima) yaitu: Pengadilan Niaga Medan, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Makasar, maka cakupan domisili hukum tergugat itu akan melintasi kewenangan beberapa Pengadilan Negeri. Misalnya, tergugat berdomisili di daerah Jakarta yang telah mendaftarkan desain industri sepatu secara tanpa hak di Ditjen HaKI dan penggugat beralamat di daerah Jogjakarta, yan merasa sebagai pendesain sepatu itu dan meiliki bukti-bukti bahwa tergugat telah “mencuri” desain industri sepatu milik penggugat. Maka jika penggugat akan mengajukan gugatan pembatalan pendaftaran desain industri itu penggugat harus mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang dan gugatan itu bukan diajukan melalui Pengadilan Negeri Jogjakarta.

Penyelesaian perkara melalui Pengadilan Niaga tidak jauh berbeda dengan memperkarakan kasus desain industri melalui tuntutan pidana.Jumlah dan letak Pengadilan Niaga menjadi persoalan yng harus segera diselesaikan mengingt wilayah Indonesia yang sangat luas. Juga lamanya proses penyelesaian dan mengingat perlindungan terhadap desain industri jangka waktunya hanya 10 (sepuluh) tahun dan sangat terbatas serta tidak dapat diperpanjang lagi.

(25)

internasional.Permasalahan HaKI sangat kompleks dan tidak semata hanya berkaitan dengan hukum saja, melainkan berhubungan erat dengan perdagangan, ekonomi, industri dan perkembangan teknologi serta menjadi landasan bagi usaha untuk mengajukansocial culturalbangsa dan masyarakat pada umumnya.

Hak atas kekayaan intelektual merupakan hak yangberasal dari kegiatan kreatif suatu kemampuan daya pikir manusia yang diekspresikan kepada khalayak umum dalam berbagai bentuknya yang memiliki manfaat serta berguna dalam menunjang kehidupan manusia yang mempunyai nilai ekonomi.82Seperti juga bidang hak kekayaan intelektual yang lain, desain industri adalah karya intelektual yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Desain industri adalah satu konsep yang sudah tua.Indonesia sendiri sudah mengenal konsep ini di dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri.Desain industri dalam Undang- undang-undang ini merujuk pada suatu karya intelektual tentang bentuk, konfigurasi garis atau warna, atau garis dan warna yang memberikan kesan estetis.Karya tersebut dapat diwujudkan dalam pola tiga atau dua dimensi serta bisa dipakai untuk menghasilkan suatu barang, komoditi industri atau kerajinan tangan.Walaupun mirip desain industri jelas berbeda dari hak cipta.

Hak atas desain industri diberikan bagi desain yang baru.Dengan “baru” diartikan, desain tersebut belum pernah ada dan berbeda dari desain yang telah ada sebelumnya. Sebetulnya TRIPs memberikan keleluasaan bagi Negara anggota untuk memilih kriteria “baru” atau “orisinal” atau kedua criteria tersebut.83Sebagai Negara

82M. Djumhana dan R. Djubaidillah,Hak Milik Intelektual (Sejarah Teori dan Prakteknya di

Indonesia), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, Hal. 16 83

(26)

berkembang, Indonesia perlu memajukan sektor industri dengan meningkatkan kemampuan daya saing.Salah satu adanya daya saing tersebut adalah dengan memanfaatkan peranan Desain Industri yang merupakan bagian dari hak kekayaan intelektual, keanekaragaman budaya yang dipadukan dengan upaya untuk ikut serta dalam globalisasi perdagangan dengan memberikan pula perlindungan hukum terhadap desain industri nasional.84

Hingga kini persengketaan dalam desain industri cenderung mengalami peningkatan.Peningkatan ini tentunya dilatarbelakangi oleh berbagai alasan, diantaranya adalah meningkatnya kesadaran hukum para pihak serta signifikannya kerugian yang diderita oleh salah satu pihak.Permasalahan tentang persengketaan desain industri di Indonesia telah diatur dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri.Tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan berbagai alternatif penyelesaian sengketa desain industri.

Sengketa dalam pengertian luas termasuk perbedaan pendapat, perselisihan ataupun konflik.Sengketa juga dapat dipahami sebagai perbedaan pendapat yang telah mencapai eskalasi tertentu atau mengemuka, sengketa bisnis sangat jelas dapat didefenisikan sebagai suatu bentuk perbedaan pendapat, perselisihan atau konglik dalam lingkup aktivitas perdagangan atau bisnis.

Model penyelesaian sengketa bisnis dapat dibedakan menjadi 2 (dua)yakni: Pertama, penyelesaian sengketa melalui proses Peradilan (Adjudikasi) dan Kedua, Penyelesaian sengketa melalui proses Konsensual (Non Adjudikasi).

84

(27)

Proses penyelesaian sengketa melalui pengadilan berupa litigasi (proses pengadilan) dan arbitrase sedangkan proses penyelesaian sengketa melalui konsensual dapat berupa alternative penyelesaian sengketa (APS). Di Indonesia kedua model penyelesaian sengketa bisnis ini sangat dikenal, untuk penyelesaian sengketa melalui pradilan dikenal ada empat system peradilan yang dikenal dengan system peradilan umum dan peradilan agama.Untuk system peradilan umum lebih banyak menyelesaikan senketa bisnis konvensional sementara peradilan agama memiliki kewenangan menyelesaikan sengketa bisnis yang berbasis pada nilai-nilai syariah.

Penyelesaian sengketa bisnis melalui peradilan didirikan dengan karakteristik sebagai berikut : prosesnya sangat formal (terikat pada hukum acara), untuk sengketa bisnis yang memiliki unsur sengketa perdata, yakni sengketa yang terjadi antara orang dengan orang, maka proses beracaranya didasarkan pada ketentuan HIR/RBG. Secara khusus, apabila berkenaan dengan proses di Peradilan Niaga mengacu kepada produk perundang-undangan seperti undang-undang dalam bidang HaKI. Dari dasar acuan hukum ini Nampak proses sangat formal, dimana aturan mainnya ditentukan sedemikian rupa dengan pola-pola penyelesaian yang sudah diberikan.

(28)

BAB IV

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK CIPTA DAN DESAIN INDUSTRI APABILA TERJADI SENGKETA

A. Bentuk-Bentuk Perlindungan Hukum

Menurut L.J Taylor dalam bukunya yang berjudul Copyright for Librarians menyatakan bahwa yang dilindungi hak cipta adalah ekspresi dari sebuah ide, jadi bukan melindungi idenya itu sendiri. Artinya, yang dilindungi hak cipta adalah sudah dalam bentuk nyata sebagai sebuah ciptaan bukan masih merupakan gagasan.85

Perlindungan Hak Cipta diberikan untuk karya seni, sastra, ilmu pengetahuan dan hak-hak terkait sedangkan perlindungan Desain Industri diberikan untuk suatu bentuk (tiga dimensi), konfigurasi (tiga dimensi), komposisi (dua dimensi yang terdiri dari garis, warna, garis dan warna), gabungan tiga dimensi dan dua dimensi (bentuk dan konfigurasi, konfigurasi dan kommposisi, bentuk dan komposisi, bentuk, konfigurasi dan komposisi).

Perlindungan hak cipta bersifat otomatis saat ekspresi nyata terwujud dan tanpa pendaftaran (deklaratif). Sebagai salah satu contoh yang dapat dilihat adalah perusahaan Microsoft membuat sebuah perangkat lunak sebagaimana yang lebih dikenal sekarang yakniWindows. Yang berhak membuat salinan dariWindowsadalah Microsoftitu sendiri. Kepemilikan hak ciptanya dapat diserahkan secara sepenuhnya atau sebagian ke pihak lain. Misalnya, Microsoft menjual produknya ke publik dengan mekanisme lisensi. Artinya Microsoft memberi hak kepada seseorang yang

(29)

membeli Windows untuk memakai perangkat lunak tersebut. Orang tersebut tidak diperkenankan untuk membuat salinan Windows untuk dijual kembali karena hak tersebut tidak diberikan olehMicrosoft.86

Secara normatif UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta telah memberikan perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta atau pencipta sebagai pemilik karya cipta cukup memadai. Akan tetapi pada kenyataannya yang ada, pelanggaran akan suatu karya cipta masih marak dan sulit untuk ditangani. Padahal, pelanggaran-pelanggaran tersebut terjadi di depan mata dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk pelanggaran yang terjadi yaitu mengumumkan, mengedarkan maupun menjual karya cipta orang lain tanpa seizin pencipta maupun pemegang hak cipta. Salah satu bentuk pelanggaran hak cipta yaitu pembajakan.Dampak pelanggaran hak cipta ini selain merusak tatanan masyarakat pada umumnya, juga akan mengakibatkan lesunya gairah untuk berkarya di bidang seni, sastra dan ilmu pengetahuan.87Sekalipun razia telah dilakukan oleh aparat berwenang, namun tetap saja tidak bisa menghentikan peredaran produk-produk bajakan, terutama CD, VCD dan DVD, baik film maupun software.88

Hal ini tentu saja secara ekonomi memberi keuntungan bagi masyarakat luas. Hanya saja keadaan ini tidak dibenarkan hukum, sebab ada pihak lain yang dirugikan yakni pencipta dan penerbit. Pembajakan tetap merupakan tidakan yang kurang baik,

86JJ Amstrong Sembiring,Sejarah dan Perkembangan HKI Indonesia, www. , diakses pada

tanggal 20 Mei 2013.

87Budi Agus Riswandi dan Shabhi Mahmashani,Loc. Cit., Hal. 64.

88http://media.vivanews.com/thumbs/62508_vcd_dan_dvd_bajakan_thumb_300_225.jpg,

(30)

tindakan tidak terpuji, bertentangan dengan prinsip moralitas, apalagi dilakukan dengan unsur kesengajaan untuk memperoleh keuntungan dengan mengabaikan jerih payah orang lain.

Dalam peristiwa ini, pada dasarnya yang dirugikan adalah pencipta atau si pemegang hak, sedangkan masyarakat konsumen merasa lebih beruntung karena dapat membeli dengan harga yang murah.89

Suatu karya ciptaan akan mendapatkan perlindungan hukum hak cipta apabila memenuhi tiga persyaratan yaitu memenuhi unsur keaslian, keaslian dalam sistem hukum perundang-undangan (civil law system) yang dianut dan kreativitas menyiratkan adanya hubungan sebab akibat antara pencipta dan ciptaannya.

Memperhatikan pada ketentuan Undang-undang Hak Cipta, ada dua bentuk perlindungan yang diberikan, yakni: pertama, perlindungan preventif yang bersifat pencegahan. Bentuk perlindungan ini berupa pendaftaran ciptaan dan lisensi serta pengalihan hak. Kedua, perlindungan represif yang bersifat tindakan hukum. Bentuk perlindungan ini berupa gugatan ke Pengadilan Niaga atau melalui penyelesaian sengketa untuk sengketa perdata, sedangkan tuntutan ke Pengadilan Negeri dengan melibatkan aparat penegakan hukum seperti polisi dan jaksa untuk sengketa pidananya.90

89Saat ini ditenggarai begitu banyak buku-buku bajakan yang dijual di bawah harga yang

ditetapkan penerbit.Selain itu VCD bajakan juga tersebar secara luas dan dijual bebas di pasar-pasar tradisional.Pelakunya secara terang-terangan memasarkan hasil bajakan itu tanpa adanya tindakan dari aparat penyidik.

(31)

Sedangkan perlindungan desain industri diberikan berdasarkan pendaftaran terhadap desain yang baru (konstitutif). Karya cipta merupakan sebuah karya masterpiece dan tidak diproduksi secara massal. Sedangkan Desain Industri diproduksi secara massal.

Berkembangnya perdagangan internasional dan adanya gerakan perdagangan bebas mengakibatkan makin terasa kebutuhan perlindungan terhadap hak milik perindustrian yang sifatnya tidak lagi timbal balik tetapi sudah bersifat antar negara secara global. Pada akhir abad kesembilan belas, perkembangan pengaturan masalah hak milik perindustrian mulai melewati batas-batas negara. Tonggak sejarahnya dimulai dengan dibentuknya Uni Paris untuk Perlindungan Internasional Milik Perindustrian pada tahun 1883. Hak milik perindustrian meliputi tiga komponen, yaitu paten, merek dan desain industri. Pengaturan dalam bentuk konvensinya, yaitu The Paris Convention for The Protection of Industrial Property (Konvensi Paris). Konvensi ini mencakup pengaturan tentang hak merek, hak paten dan hak desain industri.91

Pengaturan desain industri mulai dikenal pada abad ke-18, pada masa revolusi Inggris. Pada mulanya desain industri berkembang pada sektor tekstil dan kerajinan tangan yang dibuat secara massal. Undang-Undang yang pertama dibuat untuk mengatur desain industri adalahDesigning and Printing of Linens, Cotton, Calicoes and Muslins Act pada tahun 1787. Undang-Undang tersebut memberikan

91Achmad Zen Umar Purba, Menyambut Millenium : TRIPs Dimensi Baru, Newsletter No.

(32)

perlindungan hanya dua bulan dan dapat diperpanjang sampai tiga bulan. Pada saat itu desain industri baru dalam bentuk dua dimensi, perkembangan selanjutnya cakupan desain industri meliputi tiga dimensi. Desain industri dalam bentuknya yang tiga dimensi mulai diatur dalam Sculpture Copyright Act 1798. Pengaturannya pun masih sederhana hanya meliputi model manusia dan binatang. Ketentuan undang-undang 1839 mengatur desain industri yang lebih luas, baik bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi yang hasilnya dipakai dalam proses industri. Selain itu perlu diatur adanya pendaftaran, tetapi jangka waktu perlindungannya masih tetap singkat. Barulah pada tahun 1842 pengaturan desain industri lebih komprehensif lagi. Lamanya perlindungan atas hak desain industri tahap demi tahap lebih diperpanjanng. Menurut Registered Design Act 1949 perlindungan diberikan 5 tahun dan dapat diperpanjang dua kali, sehingga totalnya menjadi 15 tahun.92

Dalam peraturan perundang-undangan mengenai desain industri tidak akan terlepas dari hak cipta, karena pada permulaannya pengaturan desain industri tidak dipisahkan dengan hak cipta. Desain industri dianggap sebagai bagian dari pekerjaan artistik atau paling tidak adalah bagian dari seni pakai (applied art). Keadaan seperti ini di Inggris terus berlangsung sampai terbentuknya Undang-Undang Hak Cipta Desain dan Paten pada tahun 1988. Dalam pasal 51 undang-undang tersebut memuat pemisahan antara perlindungan hak cipta dan hak desain. Sedangkan pengaturan dalam Undang-Undang Hak Cipta 1956, perlindungannya terbatas sebagai ciptaan

92 Djubaedillah dan Muhammad Djumhana, Hak Milik Intelektual (Sejarah, Teori dan

(33)

keahlian dalam bidang artistik, yang masih terasa sangat erat dengan perlindungan hak cipta, antara lain dalam hal desain yang dilindungi secara hak cipta, yaitu desain grafik, fotografi, seni pahat atau kolase (sculpture atau collage), rancang bangun arsitek, pekerjaan tangan. Sedangkan Undang-Undang Registered Design Act 1949, menentukan perlindungannya sebagai bagian dari seni terpakai. Sehingga di Inggris terdapat tiga bentuk perlindungan desain, yaitudesign registration, design copyright, dan full copyright. Adanya peraturan yang belum secara tegas memisahkan desain industri sebagai suatu hak tersendiri, karena latar belakang materi dan obyek desain industri itu sendiri.93

Desain industri tidak bisa terlepas dari karya cipta manusia yang pengaturannya secara tegas melalui ketentuan hak cipta, yaitu seni lukis, seni patung dan sebagainya. Hal ini terlihat dari wujud desain industri yang tidak terlepas dari langkah menggambar dan membentuk model. Selain bersinggungan dengan hak cipta, desain industri juga dapat bersinggungan dengan hak milik intelektual lainnya, misalnya hak paten dan hak merek. Hal itu karena melihat bentuknya serta penerapannya di bidang industri dan perdagangan, maka desain industri tidak akan terlepas dari aturan hak cipta, hak paten dan hak merek.

Indonesia sebagai negara berkembang perlu memajukan sektor industri dengan meningkatkan kemampuan daya saing. Salah satu daya saing tersebut adalah memanfaatkan peranan desain industri. Dari segi hukum desain industri yang

(34)

diharapkan mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan perlindungan atas desain industri yang selama ini tidak mempunyai aturan tersendiri.

Penciptaan suatu desain memerlukan tenaga, pikiran, waktu dan bahkan biaya yang tidak sedikit, sehingga perlu upaya perlindungan hukum agar desain itu tidak ditiru atau dijiplak oleh pihak lain. Desain sebagai bagian dari aset perusahaan, haruslah diupayakan mendapat perlindungan hukum yang cukup, karena desain sangat menentukan keunggulan dalam bersaing suatu produk perusahaan dengan produk lain yang sejenis.

Pengalihan pengaturan desain industri dari Undang-Undang Hak Cipta ke Undang-Undang Desain Industri membawa pengaruh pada perlindungan hukumnya. Hak cipta tidak harus didaftarkan sedangkan hak desain industri baru muncul bila didaftarkan. Hal ini tentunya akan membawa akibat banyaknya desain industri tidak mendapat perlindungan hukum dari peniruan pihak lain. Realitas yang ada bahwa sebagian besar desain industri yang telah dipasarkan selama ini tidak dimintakan pendaftarannya. Kondisi ini akan terasa lebih mengenaskan apabila produk tersebut diekspor di berbagai negara.

(35)

perdagangan bebas nanti, akan diberikan kebebasan seluas-luasnya produk asing untuk masuk ke Indonesia. Hal ini jelas membuat produk dalam negeri akan kehilangan pasar di negaranya sendiri, apalagi ketika produk asing yang sejenis dijual dengan harga yang jauh lebih murah dan berkualitas daripada produk dalam negeri.

Kondisi demikian harus segera diantisipasi dengan segala daya upaya untuk menumbuhkembangkan tradisi dan budaya berkreasi dan mencipta, sehingga tumbuh menjadi kreator dan produsen yang kreatif serta handal. Sebaliknya masyarakat dari segala lapisan perlu diberikan pengertian jangan sampai bangsa Indonesia hanya sebagai konsumen dan pengusaha nasional lainnya hanya sebagai penonton saja. Dengan ditumbuh-kembangkannya tradisi demikian juga disertai dengan gerakan untuk menghargai produk bangsa sendiri, dan diberikan contoh secara nyata pada gaya hidup figur masyarakat, tokoh yang menjadi panutan masyarakat dan tentu saja pemerintah.

Penghargaan masyarakat Indonesia terhadap desain industri, terdiri dari penghargaan terhadap hasil dari desain industri itu sendiri dan penghargaan terhadap perangkat hukum yang mengatur ketentuan desain industri. Kehidupan desain industri di Indonesia masih menghadapi permasalahan yang kompleks, masyarakat Indonesia juga masih kurang menghargai terhadap desain industri local, hal ini bisa terlihat antara lain dari belum banyaknya lembaga pendidikan formal di bidang desain industri.

(36)

banyak hasil penelitian dari perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian, maupun penemuan-penemuan atau hasil kreasi desainer lokal yang tidak dikembangkan lebih jauh karena tidak adanya dukungan dari kalangan industri.

Sebaliknya bila ada semangat dari kalangan pengusaha nasional tertentu untuk mengembangkan desain industri hasil karya desainer lokal, tetapi yang diharapkan justru tidak ada, sehingga mereka kembali bergantung pada hasil karya bangsa asing. Kondisi yang sangat bertolak belakang menyebabkan terjadi kepincangan dalam gerak industrialiasasi, sebab perkembangan industri dan teknologi tidak didukung sepenuhnya dengan karya desain industri yang baik dan handal dari hasil desainer lokal. Hal ini mengakibatkan produk industri maupun hasil kerajinan lokal Indonesia kalah dalam persaingan dagang di pasar internasional, bahkan sekarang untuk terus bertahan di dalam negeri juga sudah sangat sulit.

(37)

dengan mengandalkan kepada sumber daya manusia, serta mempunyai apresiasi yang tinggi kepada desain.

Penghargaan terhadap desain di Indonesia masih sangat memprihatinkan, apalagi dalam hal pemahaman dan kesadaran hukum masyarakat dalam bidang desain. Masyarakat Indonesia kurang memahami dan mengetahui dengan baik bidang ketentuan dan pearturan perundang-undangan di bidang desain, hal ini dapat dilihat dari kesadaran hukum masyarakat secara umum. Masyarakat memang tidak memahami dan mengetahui dengan baik mengenai hak atas kekayaan intelektual di bidang desain industri. Kondisi demikian tidak hanya menimpa masyarakat awam yang tidak berkecimpung di bidang desain, tetapi juga menimpa kalangan masyarakat desainer itu sendiri, bahkan aparat pemerintah yang bertugas untuk menegakkan hukum pun masih banyak yang tidak memahami.

(38)

Para desainer banyak yang kurang memahami atau mengetahui secara tepat, bahwa mereka memiliki hak atas karyanya yang disebut hak atas kekayaan intelektualdibidang desain industri. Ketidaktahuan atau ketidakpahaman mereka begitu besar sehingga mereka tidak tahu dan tidak paham mengenai kapan serta bagaimana harus menegakkan dan mempertahankan haknya. Keadaan demikian sangat potensial menyebabkan kerugian bagi Indonesia, sebagai contohada kabar bahwa saat ini sejumlah desain batik Indonesia telah didaftarkan pihak asing, antara lain para desainer dari Jerman, Inggris dan Jepang, sehingga menyebabkan setiap batik Indonesia yang mempunyai desain seperti yang didaftarkan tidak bisa lagi diekspor ke negara-negara tersebut karena dianggap sebagai barang ilegal.

Terdapat pula kisah yang cukup ironis, dimana untuk terus menjaga kelangsungan usaha batiknya, para pengrajin batik tradisional di Yogyakarta memberikan kursus kilat kepada para wisatawan dengan hanya bertukar dengan beberapa lembar rupiah, padahal desain mereka tidak terlindungi. Hal ini tentu saja tidak dapat terus dibiarkan, tetapi pemerintah harus memberikan perhatian secara khusus dan nyata, sehingga bangsa negara ini tidak terus menerus dirugikan oleh pihak asing dan bangsa ini tidak kehilangan identitas seni budaya nasional.

(39)

dalam tahap pemasarannya. Hal tersebut tentu saja menggambarkan pentingnya kebutuhan hukum untuk melandasi kegiatan perekonomian suatu negara termasuk di dalamnya yang menyangkut desain industri. Melihat keadaan yang demikian, maka dalam memahami atau mempelajari hukum yang mengatur masalah desain industritidak bisa hanya terbatas hukum di dalam negeri saja, tetapi perlu memahami atau mempelajari hukum internasional, serta memahami atau mempelajari sistem hukum negara lain yang menjadi mitra dalam kegiatan ekonomi. Rendahnya atau kurangnya pemahaman dan pengetahuan hukum negara mitra kita sering digunakan oleh mereka untuk melakukan praktek-praktek usaha yang merugikan (restrictive business practise), tindakan yang mengarah kepada penekanan kehendak mitra usaha.94

Hak desain dan desain yang didaftarkan pada dasarnya merupakan perlindungan hukum bagi desainer atas ciptaannya atau desainnya, yang diberikan untuk jangka waktu tertentu. Sesuai dengan prinsip-prinsip hak atas kekayaan intelektual yang bersifat eksklusif, maka perlindungan hukum di bidang desain pun demikian, yaitu melarang pihak lain untuk melaksanakan atau melakukan tindakan lainnya yang bersifat mengambil manfaat desain tersebut.95

Di dalam ketentuan Konvensi Paris, desain industri merupakan bagian dari hak milik perindustrian sesuai dengan ketentuan Pasal 1 Ayat 2 revisi Stockholm 1967 dan perubahannya tanggal 28 September 1979, bahwa, “The protection of

94Ibid., Hal. 74

95Indarto, Implementasi Undang-Undang Tentang HAKI Berkaitan Dengan Keterbukaan

(40)

industrial property has as its object patents, utility models, industrial design, trademarks, service marks, trade names, indication of source or applellation of origin and the repression of unfair competition”.96

Desain mempunyai pengertian sebagai suatu gagasan awal, rancangan, perencanaan, pola, susunan, rencana, proyek, hasil pemikiran yang tepat dengan maksud tertentu dan jelas. Oleh karena itu, desain mencakup bidang yang luas, meliputi desain industri, tekstil, interior, grafis, arsitektur, desain rekayasa, serta desain kota, semuanya dibuat dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia. Luasnya cakupan desain industri, menyebabkan sering bersinggungan dengan perlindungan dalam kerangka hak cipta ataupun perlindungan hak atas kekayaan intelektual lainnya.97

Perundang-undangan yang dimaksudkan untuk melindungi desain, pada dasarnya meliputi perlindungan terhadap desain yang didaftarkan (registered design) dan hak desain (design right) yang tidak perlu didaftarkan. Desain yang didaftarkan mengandung ciri-ciri khusus dari benda tersebut yang dapat dilihat secara jelas dan nyata. Sedangkan hak desain untuk melindungi satu segi dari bentuk dan konfigurasi dari barang-barang tanpa syarat penampakan visual.

Objek pengaturan perlindungan hukum di bidang desain yaitu karya-karya berupa produk yang dasarnya merupakan pattern, yang digunakan untuk membuat

96 Sudargo Gautama, Hak Atas Kekayaan Intelektual Peraturan Baru Desain

Industri,Bandung : Citra Aditya Bakti, 2000, Hal. 265.

(41)

atau memproduksi barang secara berulang.98 Elemen terakhir ini yang sebenarnya merupakan ciri dan menjadi kunci sebab apabila ciri ini hiang, maka konsepsi mengenai perlindungan hukumnya akan lebih tepat dikualifikasikan sebagai hak cipta.

Perlindungan atas hak desain atau desain memiliki jangka waktu terbatas yang telah ditentukan oleh undang-undang. Menurut Pasal 26 Ayat 3 Perjanjian TRIPs, disebutkan “The duration of protection available shall amount to least 10 years”, yang artinya bahwa jangka minimal perlindungan adalah 10 tahun. Jangka waktu perlindungan tersebut diberikan secara limitatif dengan waktu tertentu yang dihitung, misalnya dari sejak tanggal filling date, namun demikian terkadang jangka waktu tersebut dapat diperpanjang dengan pengajuan (renawal of registration).99

Pemberian kesempatan untuk perpanjangan demikian dengan pertimbangan demikian dengan pertimbangan bila desain tersebut saat diaplikasikan dalam kegiatan produk belum memberikan pengembalian biaya yang sudah dikeluarkan sewaktu penelitian sampai lahirnya desain baru tersebut. Alasan demikian harus dapat dibuktikan oleh pemohon, perpanjangan demikian dapat dipahami karena kegiatan penelitian tersebut biasanya memerlukan pengorbanan tenaga, waktu dan biaya yang cukup besar.

98Supanto, Penegakan Hukum Pidana di Bidang Desain Industri dan Merek, Seminar

Nasional Implementasi Undang-Undang Desain Industri dan Merek, Surakarta, 2002, Hal. 5

99The Legal Texts, The Result of The Uruguay Round of Multilateral Trade Negotiations,

(42)

Konsepsi perlindungan hukum atas desain yang demikian menggambarkan bahwa perlindungan hukum tidak secara otomatis berjalan, tidak bersifat diam-diam karena harus adanya pengajuan permohonan perpanjangan secara tegas. Dengan demikian apabila tidak diajukan permohonan perpanjangan, dengan sendirinya menurut hukum, perlindungan hukumnya gugur, maka hilang pula hak eksklusif yang melekat pada desain yang bersangkutan.

Permohonan perpanjangan yang dapat dilakukan bila desain tersebut masih digunakan, diproduksi dan diperdagangkan. Dalam jangka waktu perlindungan tersebut, pemegang atau pemilik desain biasanya diwajibkan melaksanakan desainnya yang telah terdaftar, membayar biaya pada Ditjen HAKI dan harus menghindarkan penyalahgunaan yang dimilikinya. Kewajiban yang demikian apabila tidak dipenuhi oleh desainer atau pemilik atau pemegang hak desain tersebut akan diberikan konsekuensi yanitu pengenaan sanksi. Sanksi yang sering dikenakan, antara lain apabila selama beberapa tahun tidak ditaatinya kewajiban pembayaran biaya tahunan, yaitu berupa pendaftaran desain tersebut dinyatakan batal demi hukum sejak tidak dipenuhinya kewajiban tersebut.

(43)

nilai kemanfaatan dalam industri, dan apakah desain tersebut telah memenuhi syarat-syarat baik secara formal maupun materil.

Agar hak desain industri dapat diperoleh, maka pemegang hak wajib mengajukan permohonan pendaftaran secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Ditjen HAKI dengan membayar biaya. Permohonan tersebut ditandatangani oleh Pemohon atau kuasanya, yang harus memuat:100

a. Tanggal, bulan dan tahun surat permohonan. b. Nama dan kewarganegaraan pendesain.

c. Nama dan alamat lengkap kuasa apabila permohonan diajukan melalui kuasa. d. Nama negara dan tanggal penerimaan permohonan pertama kali dalam hal

permohonan diajukan dengan hak prioritas.

Permohonan pendaftaran desain industri harus dilampiri dengan :

a. Contoh fisik atau gambar atau foto dan uraian dari desain industri yang dimohonkan pendaftarannya.

b. Surat kkuasa khusus dalam hal permohonan diajukan melalui kuasa.

c. Surat pernyataan bahwa desain industri yang dimohonkan pendaftarannya adalah miliknya.

Apabila permohonan diajukan secara bersama-sama oleh lebih dari satu pemohon, permohonan tersebut ditandatangani oleh satu pemohon dengan melampirkan persetujuan tertulis dari pemohon lainnya. Apabila permohonan

100 Abdulkadir Muhammad, Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, Bandung : Citra

(44)

diajukan oleh bukan pendesain, permohonan harus disertai pernyataan yang dilengkapi dengan bukti yang cukup bahwa pemohon berhak atas desain industri yang bersangkutan. Setiap permohonan hanya dapat diajukan untuk satu desain industri atau beberapa desain industri yang merupakan satu kesatuan desain industri atau memiliki kelas yang sama.

Pemohon yag bertempat tinggal di luar wilayah Indonesia harus mengajukan permohonan melalui kuasa. Kuasa tersebut adalah konsultan terdaftar di Ditjen HAKI. Pemohon tersebut harus menyatakan dan memilih domisili hukumnya di Indonesia. Domisili hukum yang dipilih itu biasanya adalah domisili konsultan sebagai kuasanya yang ditunjuk untuk mengurus pendaftaran desain industri miliknya.101

B. Penegakan Hukum Atas Pelanggaran Hak Cipta dan Desain Industri

Kenyataan yang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini adalah masih banyaknya pelanggaran hak cipta walaupun Indonesia telah mengundangkan Undang-Undang Hak Cipta yang baru, khususnya begitu marak pembajakan102terhadap karya cipta musik, film dan program komputer. Maraknya pembajakan hak cipta ini karena perkembangan dan kemajuan teknologi untuk memperbanyak (reproduction) karya cipta tersebut secara massal (melalui video, CD, VCD, DVD), sehingga jumlah pembajakan hak cipta melalui perangkat ini sangat besar.

101Djubaedillah dan Muhammad Djumhana,Op. Cit., Hal. 213.

102 Pembajakan adalah tindakan yang termasuk merugikan orang lain bahkan Negara karena

(45)

Perkembangan yang ada di masyarakat terjadi perdebatan antara kebutuhan masyarakat secara ekonomi dan sikap penghargaan hak cipta, diskusi ini di luar lemahnya perlindungan hukum hak cipta. Permasalahan lemahnya penegakan hukum ini disebabkan karena kemampuan aparat penegak hukum dalam memahami ketentuan-ketentuan di bidang hak atas kekayaan intelektual.103

Maraknya pembajakan hak cipta di Indonesia ternyata berimplikasi panjang. Setelah keluar dariPriority Watch Listoleh Amerika Serikat atas pelanggaran HAKI tahun 2000, sejak April 2001, Indonesia masuk kembali daftar hitam pelanggaran hak cipta.104Dengan membuat undang-undang hak cipta saja tidak cukup, oleh karena itu masyarakat diminta kesadarannya untuk menghargai hak kekayaan intelektual, setidaknya menyangkut kemauan dan kemampuan dari pemerintah untuk membuat peraturan dan menegakkan hukum hak kekayaan intelektual.

Terhadap lemahnya penegakan hukum hak cipta di Indonesia, masalah yang tak kalah penting adalah adanya alasan “dilema pasar” yang dikemukakan oleh berbagai kalangan dalam menyikapi masalah pembajakan HAKI. Disebutkan, secara ekonomis, konsumen akan selalu mencari barang yang murah-dikaitkan pula dengan skala kepentingan yang bersangkutan. Harga murah, biar kualitas jejak sedikit, dikatakan sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Berdasarkan sistem hukum hukum yang berlaku, penegakan hukum hak cipta dapat diupayakan melalui ketentuan-ketentuan dalam hukum perdata maupun hukum

103www.hukumonline.com, Berita, Diakses pada tanggal 20 April 2013, jam 08.51

104www.hukumonline.com, Berita, “Konspirasi Bisnis di Balik Pembajakan Hak Cipta

(46)

pidana. Atas dasar kewajiban yang ditentukan dalamTRIPs Agreement, dengan latar belakang adanya tuntutan kepentingan perdagangan internasional untuk percepatan penyelasaian perkara-perkara HAKI, maka terjadi perubahan atas undang-undang hak cipta telah mengakibatkan terbentuknya “lex specialis”105, khususnya terhadap hukum acara perdata yang berlaku.

Kekhususan tersebut menimbulkan beberapa permasalahan dalam penerapannya, antara lain sebagai berikut :106

1. Masalah kompetensi penanganan perkara pidana di bidang HAKI. Karena perkara pidana di bidang HAKI tidak secara khusus menjadi kompetensi pengadilan niaga, dalam keadaan tertentu dapat menimbulkan kemungkinan adanya dualisme putusan atas pelanggaran HAKI. Dalam satu perkara pelanggaran HAKI yang sama, terdapat kemungkinan untuk menegakkan hak melalui mekanisme perdata atau pidana. Kompetensi penuntutan perkara pidana ditentukan oleh locus delicti (tempat kejadian) dan tempus delicti (waktu kejadian) yang bisa terjadi di mana saja di luar wilayah suatu pengadilan niaga.

2. Masalah pembatasan upaya hukum. Tujuan upaya hukum hanya terbatas pada kasasi saja yaitu untuk memangkas kemungkinan para pihak untuk melakukan

105 Dalam melaksanakan tugas tersebut hakim tunduk pada Hukum Acara Perdata (HIR=

Herzine Indonesich Reglemen) yang merupakan hukum acara perdata yang dibuat oleh pemerintah Kolonial Belanda) dan Hukum Acara Pidana (UU Nomor 8 Tahun 1981). Di samping itu hakim juga terikat pada hukum acara yang secara khusus diatur menyimpang dari kedua sumber hukum di atas, seperti misalnya penyelesaian perkara HKI.

106Suwidya Abdullah, Beberapa Permasalahan Dalam Litigasi Perkara HAKI di Tingkat

(47)

“buying time” untuk menunda kesalahan. Selain itu undang-undang juga memberikan batasan sehingga untuk perkara HAKI seluruh proses waktunya memerlukan rata-rata waktu 6 bulan.

3. Masalah penetapan sementara pengadilan, pada prinsipnya hukum acara perdata Indonesia tidak mengenal tindakan pendahuluan oleh hakim yang dilakukan di luar proses gugatan. Dengan adanya ketentuan Pasal 51 TRIPs Agreement mengenai “provisional measure”, tindakan itu mulai diatur di dalam perundang-undangan tentang HAKI. Pengaturan ini akan menimbulkan masalah tersendiri dalam hukum acara perdata, dan bila memungkinkan, apakah harus menunggu pokok perkaranya diputus lebih dahulu.

Permasalahan lain dari segi administratif dan birokratif lembaga pengadilan adalah kurang memberi perhatian serius terhadap sengketa ataupun perkara pidana atas pelanggaran hak cipta, sehingga berdampak hasil penegakan hukumnya dari putusan-putusan pengadilan baik perdata maupun pidana. Penanganan perkara pidana bidang HKI sampai saat ini tidak diklarifikasikan sebagai perkara HKI, melainkan sebagai perkara pemalsuan atau penipuan. Akibatnya, statistik khusus perkara pidana bidang HKI tidak terdeteksi dan terdokumentasi secara khusus, sedangkan perkara perdata diklarifikasikan sehingga perkara perdata bidang HKI dapat dengan mudah dicatat sebagaimana perkara perdata lainnya seperti kepailitan, waris, jual beli dan sebagainya.

(48)

hubungan antara kebutuhan untuk memperoleh keuntungan dengan cara jalan pintas yang mudah dicapai. Bentuk-bentuk pelanggaran terhadap hak milik intelektual tersebut dapat beripa pemalsuan, pembajakan, penyadapan dan pembocoran informasi rahasia, persaingan tidak jujur, turut menawarkan serta memperdagangkan hasil pemalsuan dan sebagainya. Terjadinya pelanggaran tersebut, tidak hanya merugikan pemilik hak saja, tetapi juga dapat merugikan kepentingan umum, misalnya merugikan di bidang perpajakan, perindustrian, serta tatanan sosial, hukum dan ekonomi secara luas. Untuk menanggulangi pelanggaran terhadap hal milik intelektual tersebut melalui sarana hukum, maka hukum perdata, hukum pidana dan hukum administrasi negara dapat digunakan disamping tindakan-tindakan pencegahan lain yang bersifat non yuridis.

(49)

Pemegang hak desain industri atau penerima lisensi dapat menggugat siapapun yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan membuat, memakai, menjual atau mengimpor produk yang diberi hak desain industri berupa gugatan ganti kerugian dan penghentian semua perbuatan. Gugatan tersebut diajukan ke Pengadilan Niaga. Menurut ketentuan Pasal 49 Undang-Undang Desain Industri, berdasarkan bukti yang cukup, pihak yang haknya dirugikan dapat meminta hakim Pengadilan Niaga untuk menerbitkan surat penetapan sementara tentang :107

a. Pencegahan masuknya produk yang berkaitan dengan pelanggaran hak desain industri.

b. Penyimpanan bukti yang berkaitan dengan pelanggaran hak desain industri, hal ini dimaksudkan untuk mencegah pihak pelanggar menghilangkan barang bukti.

Gugatan perdata terhadap orang yang melakukan pelanggaran tidak menghapuskan tuntutan pidana bila ada alasan untuk itu. Apabila terdapat dugaan kuat telah tindak pidana pelanggaran terhadap hak desain industri, maka Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil (Penyidik PPNS) yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik melakukan penyidikan tindakan pidana di bidang desain industri.108 Menurut ketentuan Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang Desain Industri, PPNS berwenang :

107 Insan Budi Maulana,Kumpulan Perundang-undangan di Bidang HAKI, Bandung : Citra

Aditya Bakti, 2001, Hal. 35.

108 W. Simanjuntak, Ketentuan-Ketentuan Pokok Dalam RUU Desain Industri, Newsletter

(50)

a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran pengaduan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang desain industri.

b. Melakukan pemeriksaan terhadap pihak yang diduga telah melakukan tindak pidana di bidang desain industri.

c. Meminta keterangan peristiwa tindak pidana di bidang desain industri.

d. Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, pencatatan dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang desain industri.

e. Melakukan pemeriksaan di tempat yang diduga terdapat barang bukti pembukuan, pencatatan dokumen lain.

f. Melakukan penyitaan terhadap barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam pekara tindak pidana di bidang desain industri, dan

g. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang desain industri.

Apabila telah terjadi tindak pidana pelanggaran desain industri, maka pelaku tindak pidana diancam dengan pidana yang diatur di dalam Pasal 54 Undang-Undang Desain Industri yang memuat :109

a. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun atau denda paling banyak sebesar Rp. 300.000.000.- apabila dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan membuat, memakai, menjual produk yang diberi hak desain industri.

(51)
(52)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Penyebab sengketa hak cipta dan desain industri terjadi karena adanya pelanggaran-pelanggaran yang ditimbulkan oleh masyarakat terhadap hak milik intelektual pada umumnya, khususnya hak cipta dan desain industri yang juga merupakan bagian dari hak atas kekayaan intelektual. Salah satu pelanggaran tersebut misalnya, seseorang (misalnya A) memiliki hak cipta atas suatu motif dan karya seni dimana motif dan karya seni seseorang itu telah didaftar oleh orang lain (misalnya perusahaan B) sebagai desain industri miliknya. Secara kebetulan permohonan desain industri perusahaan B yang sama dengan motif A terdaftardi Ditjen HaKI.

2. Penyelesaian sengketa antara hak cipta dan desain industri dimana masing-masing telah memiliki alas hak yang sama adalah dengan menggugat siapapun yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 9 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000, berupa: ganti rugi atau penghentian semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000. Selain itu penyelesaian sengketa dapat dilakukan dengan Alternative Dispute Resolution (negosiasi, mediasi dan konsiliasi) sesuai dengan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000, para pihak dapat

(53)

menyelesaikan perselisihan tersebut melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa.

3. Perlindungan terhadap hak cipta bersifat otomatis saat ekspresi nyata terwujud dan tanpa pendaftaran (deklaratif). Perlindungan hak cipta diberikan kepada pemegang hak cipta, sedangkan perlindungan desain industri tidak bersifat otomatis karena baru diberikan berdasarkan pendaftaran terhadap desain yang baru (konstitutif).

B. Saran

1. Diharapkan agar pemerintah dapat memberikan perlindungan HaKI yang maksimal kepada para pengusaha khususnya yang bergerak di bidang hak cipta dan desain industri.

Referensi

Dokumen terkait

• Periksa secara visual lokasi pemasangan kateter untuk mengetahui apakah ada pembengkakan, demam tanpa adanya penyebab yang jelas, atau gejala

This undergraduate thesis entitled “ A Comparative Study between Thinking Aloud Pair Problem Solving and Problem Posing Model in Teaching Reading (An Experimental

Kata Kunci : Strategi Inquiring Minds Want To Know dan Hasil Belajar Dari hasil observasi penelitian di kelas V MIN Lhoknga Aceh Besar, penulis melihat masalah rendahnya hasil

Pembelajaran Bahasa dengan materi tentang Days diajarkan di kelas V semester I. Dalam penelitian ini, materi tersebut diajarkan dengan menggunakan model

Namun beberapa provinsi justru mengalami penurunan yang berkala dari tahun 2009 hingga tahun 2011 seperti Jakarta yang walaupun masih memegang penerima investasi terbanyak

Memandikan bayi adalah kegiatan penting yang harus dilakukan secara benar oleh Memandikan bayi adalah kegiatan penting yang harus dilakukan secara benar oleh orang tua,selain

Guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, maka pada tahun 2013 Sekolah Tinggi Ilmu Statistik melaksanakan berbagai kegiatan yang mengacu pada program

Penggunaan yang tercantum dalam Lembaran Data Keselamatan Bahan ini tidak mewakili kesepakatan pada kualitas bahan / campuran atau penggunaan yang tercantum sesuai dalam kontrak.