BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan, penilaian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar. Sistem penilaian yang baik akan mendorong guru menggunakan strategi mengajar yang lebih baik dan memotivasi anak untuk belajar lebih giat. Penilaian biasanya dimulai dengan kegiatan pengukuran. Pengukuran (measurement) merupakan cabang ilmu statistika terapan yang bertujuan untuk membangun dasar-dasar pengembangan tes yang lebih baik sehingga menghasilkan tes yang berfungsi secara optimal, valid, dan reliabel.
Proses belajar mengajar dilaksanakan tidak hanya untuk kesenangan atau bersifat mekanis saja tetapi mempunyai misi atau tujuan bersama. Dalam usaha untuk mencapai misi dan tujuan itu perlu diketahui apakah usaha yang dilakukan sudah sesuai dengan tujuan? Untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai perlu diadakan tes. Sebuah tes yang dapat baik sebagai alat pengukur harus dianalisis terlebih dahulu. Dalam menganalisis butir soal dalam tes harus memperhatikan daya serap, tingkat kesukaran, daya beda, fungsi pengecoh, validitas dan reabilitas. Hal tersebut dilakukan agar tes yang diberikan kepada siswa sesuai dengan daya serap siswa, tingkat kesukarannya, dan soal yang diberikan pun harus valid. Sehingga, tujuan dari pembelajaran dapat tercapai.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu:
a. Apakah yang dimaksud dengan analisis butir soal ?
b. apa saja jenis analisis butir soal ?
c. Bagaimana cara mengaplikasikan analisis butir soal secara kualitatif dan kuantitatif?
C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini, yaitu:
a. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan analisis butir soal ?
b. Untuk mengetahui jenis analisis butir soal ?
c. Untuk mengaplikasikan analisis butir soal secara kualitatif dan kuantitatif?
BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Analisis Item
Setelah perumusan indikator perilaku jelas, maka penulisan item baru dapat dilakukan. Setiap item mengacu pada satu indikator perilaku tertentu (Azwar, 2009). Tes yang baik adalah tes yang reliabel dan valid. Jika demikian maka item-item dalam tes itu pun harus baik. Item yang baik adalah item yang reliabel dan valid, di mana item dapat berfungsi membedakan kemampuan antar individu penempuh tes (Cohen & Swerdlik, 2005). Untuk mengetahui karakteristik item yang baik tersebut maka dilakukanlah proses analisis terhadap item.
Analisis item merupakan prosedur statistika yang digunakan untuk membantu membuat keputusan tentang item-item mana yang baik, mana item yang perlu direvisi dan mana item yang harus dibuang (Cohen & Swerdlik, 2005). Azwar (2009) juga berpendapat serupa di mana menurutnya analisis item merupakan proses pengujian parameter item (daya beda dan tingkat kesulitan item) guna mengetahui apakah item memenuhi persyaratan psikometris untuk disertakan sebagai bagian dari tes. Lebih lanjut lagi, Azwar (2009) mengatakan bahwa hasil analisis item menjadi dasar dalam seleksi item, di mana item-item yang tidak memenuhi syarat psikometris akan disingkirkan atau direvisi terlebih dahulu.
baik, diantaranya menggunakan kalimat yang sederhana, jelas dan mudah dimengerti oleh responden, namun tetap harus mengikuti tata tulis dan bahasa yang baku, hindari penafsiran ganda pada kalimat item, penulisan item mengacu pada indikator perilaku atau pada komponen atribut, oleh karena itu sebaiknya jangan menulis item yang secara langsung menanyakan atribut yang hendak diungkap, perhatikan indikator perilaku yang hendak diungkap sehingga stimulus dan pilihan jawaban tetap relevan dengan tujuan pengukuran, isi item tidak boleh mengandung social desirability atau item yang sesuai dengan keinginan sosial pada umumnya atau dianggap baik dari sudut pandang norma sosial karena item yang mengandung social desirability akan cenderung disetujui oleh semua orang karena orang akan berpikir normatif dan bukan karena sesuai dengan keadaan dirinya, hindari stereotip jawaban, maka sebaiknya sebagian dari item-item dibuat dalam arah favorable dan sebagian lagi unfavorable.
Setelah tahap analisis kualitatif selesai, yaitu termasuk setelah terkumpul jumlah item yang dinilai cukup, di mana menurut Cohen dan Swerdlik (2005) sebaiknya jumlah item yang dibuat sebanyak 2 kali lipat item akhir yang direncakaan, sedangkan menurut Azwar (2009) jumlahnya biasanya tiga kali lipat dari jumlah item akhir yang direncanakan, maka setelah itu item-item tersebut disusun dalam format semi-final dan siap dilakukan uji coba secara empiris kepada subjek tes (Azwar, 2009). Setelah dilakukan pengujian empiris (field-tested) maka hasil uji coba terebut dianalisis dengan teknik analisis kuantitatif, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, dengan melihat bagaimana tingkat kesulitan item dan daya bedanya, serta daya pengecoh jika item tersebut dalam format pilihan ganda.
Pengertian tingkat kesulitan item terkait dengan persentase (proporsi) orang/subjek yang menjawab benar pada item tertentu. Semakin besar persentasenya maka berarti semakin banyak orang yang bisa menjawab atau semakin mudahnya item tersebut (Anastasi & Urbina, 1997).
dilakukan dengan perhitungan indeks diskriminasi dengan menggunakan metode kelompok-kelompok ekstrem dan indeks korelasi (Crocker & Algina, 1986).
Teknik analisis item berikutnya berlaku pada item yang bersifat pilihan ganda. Menurut Cohen dan Swerdlik (2005), meski tidak menyebutkan istilah ‘Daya Pengecoh’ namun analisis alternatif pilihan jawaban yang dimaksudkan serupa dengan makna analisis daya pengecoh ini digunakan untuk melihat apakah alternatif pilihan jawaban yang salah bekerja dengan baik pada subjek yang berada pada upper group dan lower group. Teknik ini dilakukan dengan cara membandingkan berapa subjek pada upper group dengan lower group yang memilih masing-masing alternatif jawaban pada item tertentu. Alternatif jawaban terdiri dari satu jawaban yang benar dan yang dimaksud dengan jawaban pengecoh adalah beberapa pilihan jawaban lainnya yang salah. Pada prinsipnya, untuk mengetahui apakah pengecoh berfungsi baik pada suatu item atau tidak adalah dengan melihat apakah jawaban yang benar (kunci jawaban) banyak dipilih oleh kelompok subjek yang tergolong dalam upper group dibanding lower group (Cohen & Swerdlik, 2005).
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tes yang baik adalah tes yang reliabel dan valid, dan dengan begitu sama pula artinya bahwa item tes yang baik pun yang reliabel dan valid (Cohen & Swerdlik, 2005). Baik-tidaknya suatu tes tidak dapat mengacu pada berapa jumlah item-item yang ada di dalamnya. Meski banyaknya item dalam tes dapat saja berpotensi meningkatkan reliabilitas hasil pengukuran (Azwar, 2009), namun tidak dapat dipastikan berapa batas jumlah item yang dapat dikatakan membuat tes menjadi tes yang baik.
saja apabila tes dengan jumlah item yang banyak (atau bahkan jumlahnya sedikit) tetapi hasil analisis terhadap item-item tersebut menunjukkan bahwa banyak item-item yang tidak berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan pengukuran, maka tes tersebut tidak dapat dikatakan sebagai tes yang baik.
Adaptasi tes sama dengan mengadaptasi pada sejumlah item yang membangun tes tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika ingin melakukan adaptasi tes. International Test Commision (ITC) menyarankan langkah-langkah yang dianggap cukup baik untuk dapat menjadi panduan peneliti atau pengembang tes ketika melakukan adaptasi pada sebuah tes (Hambleton & Patsula, 1999).
Tahapan itu antara lain:
Yakinkan bahwa terdapat konstruk yang setara dengan konstruk yang ingin diukur pada budaya dan sesuai bahasa kelompok subjek target tes. Untuk itu perlu dilakukan konsultasi atau diskusi dengan psikolog atau pakar dalam konstruk yang dimaksud.
Putuskan apakah mengadaptasi tes yang sudah ada atau mengembangkan tes baru. Perhatikan tujuan mengadaptasi tes, keuntungan dan kerugian jika mengadaptasi dibanding membuat tes baru.
Pilihlah pakar alih bahasa yang baik atau kredibel. Sebaiknya libatkan lebih dari seorang pakar ahli bahasa. Selain itu libatkan pula pakar yang ahli dalam konstruk yang akan diukur.
Menerjemahkan dan mengadaptasi tes. Gunakan metode forward-backward translation pada item-item tes, dimana setelah menerjemahkan bahasa asli tes ke dalam bahasa target adaptasi, lalu terjemahkan kembali bahasa target adaptasi tersebut ke bahasa asli tes untuk melihat apakah makna dari maksud item tersebut tidak berbeda.
Lakukan uji coba terhadap tes yang telah diadaptasi tersebut. Upaya melakukan uji coba dengan pilot test perlu dilakukan terhadap sejumlah kecil orang-orang yang memiliki karakteristik serupa dengan subjek yang sebenarnya.
Lakukan field-test dengan melibatkan subjek yang lebih besar.
Pilih desain statistika yang tepat untuk mengkaitkan skor hasil tes yang telah diadaptasi dengan tes aslinya.
Jika pengembang tes menekankan pada perbandingan antar-budaya, yakinkan bahwa bahasa pada tes asli dan tes adaptasi adalah setara.
Lakukan uji validitas pada tes yang diadaptasi.
Catat seluruh proses konstruksi dalam mengadaptasi hingga pengujian validitas (tahap 1 hingga 10) dan buatlah manual/ pedoman administrasi tes yang telah diadaptasi tersebut.
Latihlah para pengguna tes secara langsung, meskipun telah disediakan manual administrasi tes.
Lakukan pemantauan dan evaluasi terhadap tes yang diadaptasi.
B. Teknis Analisis Item
Teknik untuk melakukan analisis item dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara garis besar analisis kualitatif dilakukan terkait dengan validitas isi dan prosedur penulisan yang baik, sedangkan analisis kuantitatif terkait dengan pengukuran tingkat kesulitan item dan daya beda (Anastasi & Urbina, 1997).
1. Teknik Analisis Secara Kualitatif
ahli seperti guru yang mengajarkan materi, ahli materi, penyusun atau pengembang kurikulum, ahli penilaian, ahli bahasa, berlatar belakang psikologi.
Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara bersama-sama berdasarkan kaidah penulisannya. Di samping itu, para penelaah dipersilakan mengomentari berdasarkan kompetensinya masing-masing. Setiap komentar atau masukan dari peserta diskusi dicatat. Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama-sama, perbaikannya seperti apa. Namun, kelemahan teknik ini memiliki kelemahan karena memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap satu butir soal.
Teknik berikutnya adalah Teknik Panel yakni suatu teknik menelaah butir soal berdasarkan kaidah penulisan butir soal. Kaidah itu diantaranya materi, konstruksi, bahasa atau budaya, kebenaran kunci jawaban atau pedoman penskoran. Caranya beberapa penelaah diberikan butir-butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penilaian atau penelaahan. Pada tahap awal, semua orang yang terlibat dalam kegiatan penelaahan disamakan persepsinya, kemudian mereka berkerja sendiri-sendiri di tempat berbeda. Para penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir soal dengan kriteria: soal baik, perlu diperbaiki, atau diganti.
Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif, penggunaan format penelaahan soal akan sangat membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal. Format penelaahan soal yang dimaksud adalah format penelaahan butir soal: uraian, pilihan ganda, instrumen non-tes. Berikut disajikan keempat format penelaahan butir soal.
a. Format Penelaahan Butir Soal Bentuk Uraian Mata pelajaran :
Kelas/semester :
No Aspek yang ditelaah Nomor soal
A Materi 1 2 3 4 5 …
1 Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk Uraian)
2 Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan sudah sesuai
3 Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevansi, kontinuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi) 4 Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang jenis
sekolah atau tingkat kelas
B Konstruksi
1 Menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban uraian
2 Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal
3 Ada pedoman penskorannya
4 Tabel, gambar, grafik, peta, atau
yang sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca
C Bahasa/Budaya
1 Rumusan kalimat komunikatif
2 Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baku 3 Tidak menggunakan kata/ungkapan yang menimbulkan
penafsiran ganda atau salah pengertian
4 Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu
Keterangan: Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah!
Mata pelajaran :
Kelas/semester :
Penelaah :
No Aspek yang ditelaah Nomor soal
A Materi 1 2 3 4 5 …
1 Soal sesuai dengan indikator (menuntut tes tertulis untuk bentuk pilihan ganda)
2 Materi yang ditanyakan sesuai dengan kompetensi (urgensi, relevansi, kontinuitas, keterpakaian sehari-hari tinggi) 3 Pilihan jawaban homogen dan logis
4 Hanya ada satu jawaban B Konstruksi
1 Pokok soal dirumuskan dengan singkat, jelas, dan tegas 2 Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban merupakan
pernyataan yang diperlukan saja
3 Pokok soal tidak memberi petunjuk kunci jawaban
4 Pokok soal bebas dan pernyataan yang bersifat negatif ganda 5 Pilihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari segi materi 6 Gambar, grafik, tabel, diagram, atau sejenisnya jelas dan
berfungsi
7 Panjang pilihan jawaban relatif sama
8 Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua jawaban di atas salah/benar" dan sejenisnya
10 Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya C Bahasa/Budaya
1 Menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
2 Menggunakan bahasa yang komunikatif
3 Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu 4 Pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang
sama, kecuali merupakan satu kesatuan pengertian
Keterangan: Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah!
c. Format Penelaahan untuk Instrumen Non-Tes Mata pelajaran :
Kelas/semester :
Penelaah:
No Aspek yang ditelaah Nomor soal
A Materi 1 2 3 4 5 …
1 Pernyataan/soal sudah sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi
2 Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek koginisi, afeksi, atau konasi dan pernyataan positif atau negatifnya
B Konstruksi
2 Kalimatnya bebas dari pernyaatn yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja
3 Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda
4 Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu
5 Kalimatnya bebas dari pernyataan faktual atau dapat diinterpretasikan sebagai fakta
6 Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden
7 Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara lengkap 8 Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak pasti pasti
seperti semua, selalu, kadang-kadang, tidak satu pun, tidak pernah
9 Kalimatnya tidak banyak menggunakan kata hanya, sekedar, semata-mata
C Bahasa/Budaya
1 Bahasa soal harus komunikatif dan sesuai dengan jenjang pendidikan siswa atau responden
2 Soal menggunakan bahasa Indonesia baku
3 Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu
Keterangan: Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah!
2. Teknis Analisis Secara Kuantitatif
Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik tes guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, sederhana, familiar, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer, dan dapat menggunakan data dari beberapa peserta didik atau sampel kecil (Millman dan Greene, 1993: 358). Analisis jenis butir ini yang lazim digunakan dalam praktik di lapangan, terutama oleh guru disekolah.
Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap butir soal ditelaah dari segi: tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau fungsi pengecoh pada setiap pilihan jawaban, reliabilitas dan validitas soal.
1. Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 - 1,00 (Aiken (1994: 66). Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu. Suatu soal memiliki TK= 0,00 artinya bahwa tidak ada siswa yang menjawab benar dan bila memiliki TK= 1,00 artinya bahwa siswa menjawab benar. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor soal. Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu. Rumus ini dipergunakan untuk soal selected response item, yaitu (Nitko, 1996: 310).
Tingkat Kesuk aran(TK)=jumlah siswa yang menjawab benar butir soal jumlah siswa yang mengikuti tes Atau dengan menggunakan rumus:
P=B N
P = proporsi (indeks kesukaran)
N = jumlah peserta tes
Tingkat kesukaran butir soal biasanya dikaitkan dengan tujuan tes. Misalnya untuk keperluan ujian semester digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran sedang, untuk keperluan seleksi digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran tinggi atau sukar, dan untuk keperluan diagnostik biasanya digunakan butir soal yang memiliki tingkat kesukaran rendah atau mudah.
Klasifikasi tingkat kesulitan soal dapat menggunakan kriteria berikut: N
Tingkat kesukaran butir soal memiliki 2 kegunaan, yaitu kegunaan bagi guru dan kegunaan bagi pengujian dan pengajaran (Nitko, 1996: 310-313). Kegunaannya bagi guru adalah: (1) sebagai pengenalan konsep terhadap pembelajaran ulang dan memberi masukan kepada siswa tentang hasil belajar mereka, (2) memperoleh informasi tentang penekanan kurikulum atau mencurigai terhadap butir soal yang bias. Adapun kegunaannya bagi pengujian dan pengajaran adalah: (a) pengenalan konsep yang diperlukan untuk diajarkan ulang, (b) tanda-tanda terhadap kelebihan dan kelemahan pada kurikulum sekolah, (c) memberi masukan kepada siswa, (d) tanda-tanda kemungkinan adanya butir soal yang bias, (e) merakit tes yang memiliki ketepatan data soal.
Contoh : Tes formatif IPA, 10 soal bentuk pilihan ganda, option 4, dengan proporsi 2 soal mudah, 6 soal sedang dan 2 soal sukar, jumlah siswa = 20 orang.
No Kemampuan
1 Pengetahuan Mudah 18 0,90 Mudah
2 Pengetahuan Mudah 12 0,60 Sedang
4 Aplikasi Sedang 12 0,60 Sedang
5 Aplikasi Sedang 9 0,45 Sedang
6 Pemahaman Sedang 20 1,00 Mudah
7 Analisa Sedang 6 0,30 Sukar
8 Pemahaman Sedang 10 0,50 Sedang
9 Sintesa Sukar 4 0,20 Sukar
10 Sintesa Sukar 9 0,45 Sedang
Dalam mencari indeks kesukaran menggunakan rumus yang telah ditulis di atas:
P=B N=
18 20=0,90
Dari contoh di atas diperoleh hasil, yaitu : soal nomor 1, 3, 4, 5, 8 dan 9, terdapat kesesuaian antara judgement dengan hasil analisa, soal nomor 2 yang di judgement mudah ternyata termasuk soal sedang, soal nomor 6 yang di judgement sedang ternyata termasuk soal mudah, soal nomor 7 yang dijudgement sedang, ternyata termasuk sukar dan soal nomor 10 yang dijudgement sukar, ternyata termasuk soal sedang.
Atas dasar hasil di atas, soal yang harus diperbaiki adalah:
Soal nomor 2, diturunkan ke dalam kategori mudah,
Soal nomor 6, dinaikkan ke dalam kategori sedang,
Soal nomor 7 diturunkan ke dalam kategori sedang,
Soal nomor 10, dinaikkan ke dalam kategori sukar.
2. Daya Pembeda
meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data empiriknya. Berdasarkan indeks daya pembeda, setiap butir soal dapat diketahui apakah butir soal itu baik, direvisi atau ditolak.
Kedua, untuk mengetahui seberapa jauh masing-masing soal dapat mendeteksi atau membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telah memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru. Apabila suatu soal tidak dapat membedakan kedua kemampuan siswa itu maka butir soal itu dapat dicurigai kemungkinannya: a) Kunci jawaban butir soal itu tidak tepat. b) Butir soal itu memiliki 2 atau lebih kunci jawaban yang benar. c) Kompetensi yang diukur tidak jelas. d) Pengecoh tidak berfungsi. e) Materi yang ditanyakan terlalu sulit, sehingga banyak siswa yang menebak dan f) Sebagian besar siswa yang memahami materi yang ditanyakan berpikir ada yang salah informasi dalam butir soalnya.
Untuk menentukan daya pembeda dibedakan menjadi kelompok kecil (kurang dari 100 orang) dan kelompok besar (100 orang ke atas).
a) Untuk kelompok kecil
b) Untuk Kelompok Besar
Mengingat biaya dan waktu untuk menganalisis, maka untuk kelompok besar biasanya hanya di ambil kedua kutubnya saja, yaitu 27% skor teratas sebagai kelompok atas ( JA) dan 27% skor terbawah sebagai kelompok bawah (JB ).
Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas dapat menggambarkan tingkat kemampuan soal dalam membedakan antar peserta tes yang sudah memahami materi yang diujikan dengan peserta tes yang belum atau tidak memahami materi yang diujikan. Adapun klasifikasinya sebagai berikut :
D = 0,00 – 0,20 = jelek (poor)
D = 0,20 – 0,40 = cukup (satisfactory) D = 0,40 – 0,70 = baik (good)
D = 0,70 – 1,00 = baik sekali (excellent)
D = negative, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negative sebaiknya di buang saja.
Contoh perhitungan: Dari hasil analisis tes yang terdiri dari 10 butir soal yang dikerjakan oleh 14 orang siswa, terdapat dalam tabel sebagai berikut :
Kelompok atas Kelompok bawah
10 6
8 6
8 6
7 5
7 5
7 5
7 3
7 orang 7 orang
Array ini sekaligus menunjukkan adanya kelompok atas (JA ) dan kelompok bawah (JB) dengan pemiliknya sebagai berikut:
Kelompok atas (JA) Kelompok bawah (JB)
B = 7 A = 5
C = 8 D = 5
E = 10 F = 6
I = 8 G = 6
J = 7 H = 6
K = 7 L = 5
N = 7 M = 3
7 orang 7 orang
Perhatikan pada tabel analisis 10 butir soal 14 siswa.
Di belakang nama siswa di tuliskan huruf A atau B sebagai tanda kelompok. Hal ini untuk mempermudah menentukan BA dan BB
Sudah disebutkan diatas bahwa soal yang baik adalah soal yang dapat membedakan antara anak pandai dan anak kurang pandai, dilihat dari dapat dan tidaknya megerjakan soal itu.
Marilah kita lihat kita perhatikan analisis lagi, khusus untuk butir soal nomor 1.
Dari kelompok atas yang dapat menjawab betul 8 orang. Dari kelompok bawah yang menjawab betul 3 orang.
Kita tetapkan dalam rumus diskriminasi:
Dengan demikian maka indeks diskriminasi untuk soal ni 1 adalah 0,5. Sekarang kita perhatikan butir soal nomor 8 :
3. Teknik Analisis Fungsi Distraktor
Pada saat membicarakan tentang tes obyektif bentuk multiple choice item telah dikemukakan bahwa pada tes obyektif multiple choice item tersebut untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes telah dilengkapi dengan beberapa kemungkian jawaban atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternative.
Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara tiga smpai dengan lima buah, dan dari kemungkinan – kemungkinan jawab yang terpasang pada setiap pada setiap butir item itu salah satunya adalah merupakan jawaban betul atu disebut dengan kunci jawaban, sedangakan sisanya adalah merupakan jawaban salah. Jawaban – jawaban salah itulah yang bisa dikenal denag istilah distraktor (distraktor merupakan jawaban pengecoh).
Tujuan utama dari pemasangan distraktor pada setiap butir item itu adalah agar dari sekian banyak test, yang mengikuti tes ada yang tertarik memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa distraktor yang mereka pilih itu merupakan jawaban betul. Jadi mereka terkecoh, menganggap bahwa distraktor yang terpasang pada item itu sebagai kunci jawaban item, pada hal bukan. Tentu saja, makin banyak siswa yang terkecoh, maka kita dapat menyatakan bahwa distraktor itu semakin dapat menjalankan fungsinyadengan sebaik – baiknya. Sebaliknya, apabila distraktor yang dipasang pada setiap butir item itu tidak laku maksudnya tak ada seorang pun dari sekian banyak testee yang merasa tertarik atau terangsang untuk memilih distraktor tersebut sebagai jawaban betul, maka hal ini mengandung makna bahwa distraktor tersebut tidak menjalankan fungsinya dengan baik.
Berikut ini dikemukakan sebuah contoh bagaimana cara menganalisis fungsi distraktor. Misalnya tes dibidang studi pendidikan moral pancasila diikuti oleh 50 siswa madrasah tsanawiyah. Bentuk soalnya adalah multiple choice dengan item sebanyak 40 butir, dimana setiap butir item dilengkapi dengan lima alternatif yaitu A,B,C,D dan E. dari 40 butir item tersebut diatas, khusus untuk butir item no 1, 2, dan 3.
Soal pilihan ganda :
1. logam Zn dengan larutan ZnSO4; dan logam Cu dengan larutan CuSO4. Diketahui data potensial standar masing-masing logam sebagai berikut :
E° Cu = +0,34 volt
Jika kita ingin merancang sel volta dengan beda potensial +1,10 volt, maka elektroda yang digunakan adalah….
Menentukan EoSel atau beda potensial = +1,10 volt diperoleh dari selisih Eokatoda – EoAnoda, yang memiliki selisih +1,10 volt jika Katodanya Cu dan anodanya Zn Eosel = EoCu – EoZn = +0,34 – (-0,76) = +1,10 volt.
JAWABAN E
2. Pernyataan berikut berhubungan dengan sel volta :
a. pada katoda terjadi reaksi reduksi
b. pada anoda terjadi reaksi oksidasi
c. pada sel volta, katoda merupakan elektroda negatif
d. logam yang memiliki potensial lebih tinggi berperan sebagai elektroda positif
e. logam yang memiliki potensial lebih rendah berperan sebagai elektroda negatif
Dari pernyataan di atas, yang tidak benar adalah….
A. a
potensialnnya lebih tinggi. Begitu pula sebaliknya untuk anoda. Jawaban yang salah adalah no.3 pada sel volta, katoda merupakan elektroda negatif, seharusnya merupakan elektroda positif. JAWABAN C
3. Elektrolisis larutan garam logam alkali dan larutan alkali tanah tidak dapat membentuk logamnya, tetapi terbentuk gas hidrogen. Hal ini disebabkan oleh
A. E° reduksi ion logam alkali < E° reduksi H2O
B. E° reduksi ion logam alkali > E° reduksi H2O
C. E° reduksi ion logam alkali = E° reduksi H2O
D. E° reduksi ion logam alkali > E° reduksi ion H+
E. E° reduksi ion logam alkali < E° reduksi ion H+
Pembahasan:
Elektrolisis larutan garam alkali dan alkali tanah yang bereaksi di katodanya adalah air bukan ion logamnya. Hal ini disebabkan karena E° reduksi ion logam alkali lebih kecil dari E° reduksi H2O. Sehingga H2O lebih mudah mengalami reduksi. JAWABAN A
Dengan pola penyebaran jawaban item sebagaimana tergambar pada analisis di atas maka dengan mudah dapat diketahui, berapa persen testee yang telah terkecoh untuk memilih distraktor yang dipasangkan pada item 1, 2 dan 3 yaitu :
1. Untuk kunci jawaban adalah E, sedangkan pengecoh/distraktornya adalah A, B, C, dan D.
Pengecoh A dipilih oleh 4 orang, berarti 4/50 * 100% = 8%. Jadi pengecoh A sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sebab angka persentasenya sudah lebih dari 5%.
Pengecoh B dipilih oleh 6 orang , berarti 6/50 * 100% = 12% maka distraktornya berfungsi dengan baik.
Pengecoh C dipilih oleh 5 orang , berarti 5/50 * 100% = 10% maka distraktornya berfungsi dengan baik.
Pengecoh D dipilih oleh 5 orang , berarti 5/50 * 100% = 10% maka distraktornya berfungsi dengan baik.
2. Untuk item no 2, kunci jawaban adalah C, sedangkan pengecohnya adalah A, B, D dan E.
Pengecoh A dipilih oleh 1orang, berarti 1/50 * 100% = 2%. Jadi pengecoh A belum dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sebab angka persentasenya kurang dari 5%.
Pengecoh C dipilih oleh 2 orang , berarti 2/50 * 100% = 4% maka distraktornya tidak berfungsi dengan baik.
Pengecoh D dipilih oleh 1 orang , berarti 1/50 * 100% = 2% maka distraktornya tidak berfungsi dengan baik.
Pengecoh E dipilih oleh 2 orang , berarti 2/50 * 100% = 4% maka distraktornya tidak berfungsi dengan baik.
Jadi keempat pengecoh yang dipasangkan pada item nomor 2 itu belum dapat dijalankan fungsinya seperti yang diharapkan.
3. Untuk item nomor 3, kunci jawaban adalah A, sedangkan pengecohnya adalah C, B, D, dan E.
Pengecoh A,B dan D masing – masing dipilih oleh 1 orang berarti 1/50 * 100% = 2% jadi tiga buah pengecoh itu belum berfungsi.
Pengecoh E dipilih oleh 37 orang, berarti 37 /50* 100% = 74% maka distraktornya berfungsi dengan baik.
Untuk butir item nomor 1 siswa yang menjawab benar sebanyak 30 orang, berarti indeks kesukaran itemnya (P) = 30/50 = 0,60 (drajat kesukaran itemnya baik, yaitu terletak antara 0,30 sampai 0,70). Untuk butir item nomor 2, jumlah siswa yang jawabannya betul adalah 44 orang, berarti angka indeks kesukaran itemnya = 44/50 = 0,88 (butir item nomor 2 ini termasuk kategori terlalu mudah). Sedangkan butir item nomor 3 dijawab betul oleh 10 orang siswa: berarti angka indeks kesukarannya itemnya = 10/50 = 0,20 (butir item nomor 3 termasuk kategori terlalu sukar).
C. Tujuan dan manfaat menganalisis butir soal
keputusan tentang setiap penilaian. Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya di antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru.
Tujuan menganalisis butir soal adalah :
1. Untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan.
2. Untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah diajarkan.
Manfaat dari kegiatan menganalisis butir soal, diantaranya adalah:
1. Dapat membantu para pengguna tes dalam evaluasi atas tes yang digunakan,
2. Sangat relevan bagi penyusunan tes informal dan lokal seperti tes yang disiapkan guru untuk siswa dikelas,
3. Mendukung penulisan butir soal yang efektif,
4. Secara materi dapat memperbaiki tes di kelas,
5. Meningkatkan validitas soal dan reliabilitas
6. Menentukan apakah suatu fungsi butir soal sesuai dengan yang diharapkan,
7. Memberi masukan kepada guru tentang kesulitan siswa,
8. Memberi masukan pada aspek tertentu untuk pengembangan kurikulum,
9. Merevisi materi yang dinilai atau diukur,
Menganalisis butir soal dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis secara kualitatif biasanya yang ditelaah antara lain dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, kebenaran kunci jawaban atau pedoman penskorannya. Sedangkan analisis secara kuantitatif, yang ditelaah adalah tingkat kesukaran butir soal, daya pembeda butir soal, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.
Untuk menganalisis secara kuantitatif, terutama untuk jenis soal (1) gabungan antara soal pilihan ganda dan Uraian, atau (2) soal uraian saja, maka dalam proses penghitungannya kita dapat menggunakan kalkulator, atau memanfaatkan kelebihan dari program computer. Program computer yang sudah dikenal secara umum, seperti EXCEL, SPSS, atau program khusus seperti ITEMAN, RASCAL, ASCAL, BILOG, FACETS tentunya dapat kita manfaatkan sebesar-besarnya. Akan tetapi, dari sekian program computer yang ada, ternyata program excel yang paling banyak digunakan oleh sebagian besar guru, karena sudah memasyarakat dikalangan guru.
BAB III PENUTUP
Analisis Item Soal adalah merupkan suatu prosedur yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang akan kita susun.
Penganalisisan terhadap butir-butir soal dapat dilakukan dari tiga segi yaitu :
1. Teknik analisis kesukaran item soal. Angka indeks kesukaran item ini dapat diperoleh dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Dubois yaitu :
Tingkat Kesukaran(TK)=jumlahsiswa yang menjawab benar butir soal jumlahsiswa yang mengikuti tes Atau dengan menggunakan rumus:
P=B N
P = proporsi (indeks kesukaran)
B = jumlah siswa yang menjawab benar N = jumlah peserta tes
2. Teknik analisis daya pembeda. Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah).
Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah :
3. Teknik analisis fungsi distraktor. Jawaban – jawaban salah itulah yang bisa dikenal dengan istilah distraktor (distraktor merupakan jawaban pengecoh).
penyusunan tes informal dan lokal seperti tes yang disiapkan guru untuk siswa dikelas, mendukung penulisan butir soal yang efektif, secara materi dapat memperbaiki tes di kelas, meningkatkan validitas soal dan reliabilitas serta meningkatkan keterampilan penulisan soal
B. SARAN
Anastasi, A. & Urbina, S. 1997. Psychological Testing. 7th edition. New Jersey: Prentice-Hall.
Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Azwar Saifuddin. 2009. Reliabilitas dan Validitas. Cetakan IX. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, Saifuddin. 2009. Penyusunan Skala Psikologi. Cetakan XII. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Cohen, R,J. & Swerdlik, M.E. 2005. Psychological Testing and Assessment. 6th edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Crocker, L. & Algina, J. 1986. Introduction to classical and modern test theory. Fort Worth : Harcourt Brace Jovanovich College Publishers.
Hambleton, Ronald & Patsula, Liane.1999. Increasing The Validity of Adapted Tests, Myths to be Avoided and Guidelines for Improving Test Adaptation Practices. August 1999. Association of Test Publishers. Diunduh pada tanggal 3 April 2010 dari http://www.testpublishers.org/journal01.htm
Lababa, Djunaidi. 2008. Analisis Butir Soal dengan Teori Tes Klasik: Sebuah Pengantar. Iqra, Volume 5, Januari-Juni 2008.
Rafi’I,Suryatna. 1990. Teknik Evaluasi. Bandung: Penerbit Angkasa.
Rosnita. 2007. Evaluasi Pendidikan. Bandung: Cita Pustaka Setia.
Sudijono, anas. 2009. Pengantar evaluasi pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.