• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab 2 serat bambu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "bab 2 serat bambu"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Beton

Beton adalah bahan gabungan yang terdiri dari agregat kasar dan halus yang dicampur dengan air dan semen sebagai pengikat dan pengisi antara agregat kasar dan halus, seringkali ditambahkan admixture atau additive bila diperlukan (Subakti, 1994). Beton juga dapat didefinisikan sebagai bahan bangunan dan konstruksi yang sifat-sifatnya dapat ditentukan terlebih dahulu dengan mengadakan perencanaan dan pengawasan yang teliti terhadap bahan-bahan pembentuknya (Samekto, 2001). Beton digunakan sebagai material struktur karena memiliki beberapa keuntungan, antara lain: mudah untuk dicetak, tahan api, kuat terhadap tekan, dan dapat dicor di tempat. Disamping keuntungan beton juga memiliki kelemahan, yaitu beton merupakan bahan yang getas, mempunyai tegangan tarik yang rendah dan volume beton yang tidak stabil akibat terjadinya penyusutan.

Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar, dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang membentuk masa padat (SNI 03-2847-2002). Sifat-sifat positif dari beton antara lain relatif mudah dikerjakan serta dicetak sesuai dengan keinginan, tahan terhadap tekanan, dan tahan terhadap cuaca. Sedangkan sifat-sifat negatifnya antara lain tidak kedap terhadap air (permeabilitas beton relatif tinggi), kuat tarik beton rendah, mudah terdesintegrasi oleh sulfat yang dikandung oleh tanah (Murdock,1991). Sifat positif dan negatif dari beton tersebut ditentukan oleh sifat - sifat material pembentuknya, perbandingan campuran, dan cara pelaksanaan pekerjaan. Berdasarkan berat satuannya beton dapat dibedakan atas beton normal dan beton ringan. Beton ringan adalah beton yang mempunyai berat satuan tidak lebih dari1900 kg/m3 (SNI 03-2847-2002). Beton ringan dapat diperoleh dengan membuat beton dari agregat ringan, penambahan udara, atau penambahan material yang mempunyai berat satuan yang kecil, seperti styrofoam. Beton dengan penambahan styrofoam dapat disebut beton-styrofoam (styrofoam concrete) yang disingkat ”styrocon”.

2.2 Styrofoam

(2)

cincin karbon) yang tersusun secara tidak teratur sepanjang garis karbon dari molekul. Penggabungan acak dari bensena mencegah molekul membentuk garis yang sangat lurus sehingga hasilnya merupakan polyester mempunyai bentuk yang tidak tetap, transparan dan dalam berbagai bentuk plastik. Polystyrene merupakan bahan yang baik ditinjau dari segi mekanis maupun suhu, namun bersifat agak rapuh dan lunak pada suhu dibawah 100oC (Billmeyer, 1984). Polystyrene memiliki berat jenis sampai 1050 kg/m3, kuat tarik sampai 40 MPa, modulus lentur sampai 3000 MPa, dan angka poisson 0,33 (Crawford, 1998). Dalam bentuknya yang granular, styrofoam atau expended polystyrene memiliki berat satuan yang sangat kecil yaitu berkisar antara 13 – 22kg/m3.

Selain ringan styrofoam juga memiliki kemampuan menyerap air yang sangat kecil (kedap air). Penggunaan styrofoam dalam beton dapat dianggap sebagai rongga udara. Namun keuntungan menggunakan Styrofoam dibandingkan menggunakan rongga udara dalam beton berongga adalah styrofoam mempunyai kekuatan tarik. Dengan demikian, selain akan membuat beton menjadi ringan dapat juga bekerja sebagai serat yang rapat meningkatkan kemampuan kekuatan dan khususnya daktilitas beton. Kerapatan atau berat satuan beton dengan campuran styrofoam dapat diatur dengan mengontrol jumlah Styrofoam yang digunakan dalam beton untuk memperoleh beton dengan berat satuan yang lebih kecil. Namun kuat tekan beton yang diperoleh tentunya akan lebih rendah.

2.3 Bambu

Bambu yang dikenali secara umum merupakan tanaman yang dibudidayakan ataupun yang tumbuh secara alami dalam ilmu botani merupakan anggota dari sub famili rumput-rumputan (Graminae) dan tersusun ruas-ruas sepanjang batangnya. Beberapa keunggulan yang dimiliki bambu antara lain adalah mudah ditanam, pertumbuhannya cepat, tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus, mempunyai ketahanan terhadap berbagai gangguan, rumpun bambu yang sudah terbakar masih bisa hidup dan potensial sebagai bahan pengganti kayu. (Janssen, 1987 : 84-86).

(3)

potongan (pangkal, tengah dan ujung). Bambu mempunyai kekuatan tarik sejajar serat yang tinggi namun kekuatan gesernya rendah (Janssen, 1991 : 94-101).

Penelitian lebih lanjut oleh Morisco (1999:14-16) memperlihatkan bagian terkuat dari bambu adalah kulitnya. Kekuatan kulit ini sangat jauh lebih tinggi dari pada kekuatan bambu bagian dalam. Tebal kulit relatif seragam sepanjang batang, sedangkan tebal bambu sangat bervariasi dari pangkal sampai ujung.Oleh karena itu bambu yang tipis mempunyai porsi kulit besar, sehingga mempunyai kekuatan rata-rata menjadi tinggi. Sedangkan bambu yang tebal mempunyai porsi kulit luar yang tipis sehingga mempunyai kekuatan rata-rata yang rendah. Sehingga untuk menilai kekuatan bambu sebaiknya berdasarkan ketebalannya, sehingga diperoleh hasil yang konsisten.

Penggunaan bambu sebagai bahan baku atau komponen bangunan tergantung dari kadar airnya (moisture content). Pada musim hujan kadar airnya dapat mencapai dua kalinya. Kandungan air bambu ini sangat mempengaruhi kualitas bambu terutama pada saat akan dimanfaatkan sebagai komponen bangunan. Pemuaian dan penyusutan bambu hampir sama dengan kayu. Perubahan yang terjadi pada panjang, lebar serta tebal kurang lebih berbanding lurus dengan kadar air yang dikandung.

Dibandingkan dengan kayu lunak sejenis spruce (famili pinus), bambu dua kali lebih lama terbakar. Kulit bambu yang mengandung silisic acid sangat membantu menahan rambatan api shingga proses terbakarnya lebih lama dibandingkan spruce.

Bambu mempunyai sifat fisik sebagai berikut:

 Pada proses pengeringan bambu yang belum dewasa sering retak.

 Bagian dalam batang bambu biasanya lebih banyak mengandung kadar air bebas daripada bagian batang luar dan kulit.

 Buku - buku (knots) mengandung kurang lebih 10 % air lebih sedikit dibandingkan bagian ruas.

 Bambu tidak dapat diguanakan sebagai tulangan pada beton, karena bambu pada saat pengeringan menyusut, volumenya menurun sehingga lekatan dengan betonnya longgar.

 Penyusutan bambu yang ditebang pada musim hujan sampai keadaan kering udara adalah pada arah longitudinal sebesar 0,2% sampai 0,5 %, arah tangensial sebesar 10-20% dan arah radial sebesar 15-30%.

(4)

2.4 Beton Serat

Beton serat didefinisikan sebagai beton yang terbuat dari campuran beton yang terbuat dari campuran semen, agregat halus, agregat kasar dan sejumlah kecil serat / fibre (ACI Cocommite 544, 1982). Bahan-bahan serat yang dapat digunakan untuk perbaikan sifat beton pada beton serat antara lain baja, plastic, kaca, karbon serta serat dari bahan alami seperti ijuk, rami maupun serat dari tumbuhan lain (ACI Cocommite 544, 1982).

Pada beton serat, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kelacakan (workability) adukan beton dan teknik pencampuran serat. Kelacakan (workability) adukan yang sering diukur dengan nilai slump. Penambahan serat ke campuran beton akan menurunkan kelacakan (workability) campuran. Teknik pencampuran serat merupakan teknik dan upaya pencampuran agar serat yang ditambahkan ke dalam adukan beton segar dapat tersebar merata. (Mudji Suhardiman, 2011).

2.5 Perawatan Benda Uji

Badan Standardisasi Nasional (SNI 03-2493-2011) mengatakan semua benda uji yang dibuat di laboratorium harus dirawat basah pada temperature 23ᵒC + 1,7C mulai dari waktu percetakan sampai saat pengujian. Penyimpanan selama 48 jam pertama perawatan harus pada lingkungan bebas getaran. Seperti yang diberlakukan pada perawatan benda uji yang dibuka, perawatan basah berarti bahwa benda uji yang akan diuji harus memiliki air yang bebas yang dijaga pada seluruh permukaan pada semua waktu. Kondisi ini dipenuhi dengan merendam dalam air jenuh kapur dan dapat dipenuhi dengan penyimpanan dalam ruang jenuh air sesuai dengan AASHTO M 201. Benda uji tidak boleh diletakkan pada air mengalir atau air yang menetes. Dan untuk perawatan beton silinder struktur ringan sesuai dengan standar ini atau dengan SNI 03-3402-1994.

Badan Standardisasi Nasional (SNI 03-4810-1998) mengatakan semua benda uji silinder yang dibuat di lapangan sebagai berikut:

 Harus diletakkan pada temperature 23ᵒC + 1,7C sebelum 30 menit setelah pembukaan cetakan.

 Tidak boleh lebih dari 3 jam diletakkan pada suhu antara 20ᵒC sampai 30 C.ᵒ

(5)

 Penyimpanan dalam keadaan basah, yaitu dengan perendaman dalam air kapur jenuh atau dengan ditutupi kain basah.

2.6 Penentuan Jumlah Benda Uji

Menurut SNI 03-2493-2011 (Tata Cara Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di Laboratorium) disebutkan bahwa jumlah benda uji dan jumlah campuran tergantung pada kebiasaan dan sifat program pengujian. Tuntunan biasanya diberikan dalam metode pengujian atau spesifikasi untuk benda uji yang dibuat. Biasanya tiga atau lebih benda uji dicetak untuk masing-masing umur pengujian dan kondisi pengujian, kecuali cara lain ditentukan. Benda uji yang melibatkan variabel yang telah ditentukan, harus dibuat dari tiga campuran terpisah yang dicampur pada hari yang berbeda. Jumlah benda uji yang sama untuk masing-masing variabel harus dibuat pada hari yang telah ditentukan. Bila tidak memungkinkan untuk membuat sesedikitnya satu benda uji untuk masing-masing ragam pada hari yang ditentukan, campuran seluruh seri benda uji harus diselesaikan dalam jumlah hari sesedikit mungkin, dan satu dari campuran harus diulang masing-masing hari sebagai standar pembanding.

2.7 Aplikasi Beton dengan EPS atau Styrocon

Penggunaan styrocon atau beton dengan EPS belum banyak diketahui dan dilirik oleh masyarakat. Penggunaan styrocon dapat berupa tembok luar atau dalam suatu bangunan, pembuatan perumahan terpencil, rumah yang dapat dipindahkan, rumah atau bangunan yang dapat dibongkar, tempat penampungan bencana, tembok penyekat, tembok tahan api, penangkal sinar matahari pada gedung bertingkat, untuk lantai dan atap.

Salah satu perusahaan yang telah menggunakan aplikasi beton dengan EPS ini adalah MAK-Styrocon™. Panel beton dengan EPS mereka terbuat dari campuran semen Portland dan EPS bentuk butiran yang diletakkan diantara lapisan non-asbestos yang dilapisi dengan lapisan semen.

2.8 Perbandingan antara Penelitian ini dengan Penelitian Sebelumnya

(6)

1. Dari jurnal yang berjudul “Kajian Pengaruh Penambahan Serat Bambu Ori Terhadap Kuat Tekan dan Kuat Tarik Beton” yang disusun oleh Mudji Suhardiman dari Universitas Janabadra (2011) disimpulkan bahwa penambahan serat bambu sampai sebesar 2 persen dari berat semen dapat menambah kuat tekan dan kuat tarik daripada beton biasa.

2. Dari jurnal Smartek yang berjudul “Perilaku dan Kapasitas Lentur Balok Beton Berserat Bambu” oleh Agus Rivani dan Shyama Maricar (2009) disimpulkan bahwa penambahan serat bambu dapat meningkatkan kekuatan beton hingga 30 persen dari kekuatan beton biasa.

3. Dari jurnal yang berjudul “Permeabilitas Beton dengan Penambahan Styrofoam” oleh I Gusti Ketut Sudipta dan Ketut Sudarsana (2009) dari Universitas Udayana disimpulkan bahwa semakin banyak penambahan styrofoam menyebabkan semakin meningkatnya nilai slump, semakin kecil berat satuan beton, dan semakin meningkat tingkat permeabilitasnya.

4. Dari jurnal yang berjudul “Kuat Tarik Belah dan Lentur Beton dengan Penambahan Styrofoam (Styrocon)” oleh I.B. Dharma Giri, I Ketut Sudarsana dan N.L.P. Eka Agustiningsih (2008) dari Universitas Udayana disimpulkan bahwa penambahan persentase styrofoam dalam campuran beton menambah jumlah rongga udara dalam beton yang mengakibatkan nilai slump meningkat, namun menurunkan berat satuan, kuat tarik belah dan kuat tarik lentur beton. 5. Dari makalah tugas akhir “Pengaruh Penggunaan Expanded Polystyrene yang

Dilapisi Surfaktan Sebagai Material Subtitusi Agregat Halus Pada Campuran Beton Terhadap Nilai Kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah” oleh Alice Siauwantara (2013) dari Universitas Bina Nusantara disimpulkan bahwa penambahan expanded polystyrene menurunkan kuat tekan, kuat tarik belah dan berat jenis beton. Nilai berat jenis dan nilai kuat tekan terbesar beton expanded polystyrene yang dilapisi surfaktan adalah dengan kadarexpanded polystyrene sebesar 5% terhadap agregat halus.

(7)

tertinggi dan berat jenis terkecil yaitu beton dengan kadarexpanded polystyrene 30% dan fly ash 15%.

7. Dari jurnal yang berjudul “Mechanical Properties of Bamboo Fibre Reinforced Concrete” oleh Dr. Shakeel Ahmad, Altamash Raza, dan Hina Gupta (2014) dari 2nd International Conference on Research in Science, Engineering and

Technology (ICRSET’2014) di Dubai, disimpulkan bahwa kekuatan tekan dari sampel benda uji berbentuk kubus dengan serat bambu pada hari kedua puluh delapan tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dibandingkan beton normal, tetapi kekuatan tekannya bertambah menjadi dua kali lipat pada umur lima puluh hari. Disimpulkan juga bahwa modulus elastisitas dan kekuatan lentur dari beton dengan perkuatan tulangan bambu bertambah hingga hampir dua kali lipat. Dan beton dengan serat bambu ini dikatakan lebih ekonomis daripada beton normal.

8. Dari jurnal yang berjudul “Research and Development on Bamboo Reinforced Concrete Structure” oleh Masakazu Terai dan Koichi Minami (2012) dari Universitas Fukuyama di Jepang menyimpulkan bahwa kuat tarik dari beton yang menggunakan perkuatan bambu akan meningkat seiring dengan bertambahnya waktu. Disimpulkan juga bahwa perilaku tarik dari bambu hampir sama dengan perilaku tarik dari baja polos dan kekuatan ikat dari bambu yaitu 1,2 sampai 1,35 MPa lebih baik dibandingkan baja polos.

9. Dari jurnal yang berjudul “Review of Bamboo as Reinforcement Material in Concrete Structure” oleh Ajinkya Kaware, Prof. U.R.Awari, dan Prof. M.R. Wakchaure dari India dalam International Journal of Innovative Research in Science, Engineering and Technology Vol. 2, Issue 6 (2013) menyimpulkan bahwa bambu memiliki daya serap yang tinggi terhadap air sehingga diperlukan cara untuk mengatasi masalah ini, kuat tarik dari baik dan bambu bisa digunakan sebagai perkuatan strukur untuk proyek kecil dengan harga yang ekonomis, dan bambu memiliki ketahanan yang rendah terhadap geser sehingga tidak bisa digunakan untuk struktur dengan perkuatan geser. Dikatakan juga bahwa bambu memiliki kuat ikat yang lemah sehingga perlu dilapisi dengan epoxy dan tar.

(8)

2.9 Perancangan Campuran Beton

Perancangan campuran beton pada penelitian ini menggunakan SNI.03-2834-2000 dengan judul buku Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Berikut langkah perhitungannya:

2.9.1 Penetapan Kuat Tekan Beton

Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f'c) pada umur tertentu, (f'c=… MPa pada umur 28 hari). Kuat tekan beton yang disyaratkan ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencanaan struktur dan kondisi setempat.

2.9.2 Penetapan Nilai Deviasi Standar (s)

Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaan campuran di lapangan. Makin baik mutu pelaksanaannya makin kecil nilai deviasi standarnya. Penetapan nilai deviasi standar (s) ini berdasarkan atas hasil perancangan pada pembuatan beton mutu yang sama dan menggunakan bahan dasar yang sama pula.

Nilai deviasi standar (s) dihitung dengan rumus:

1

fc = Kuat tekan masing-masing hasil uji (MPa). fcr = Kuat tekan beton rata-rata hasil uji (MPa). n = Jumlah hasil uji kuat tekan.

Jika jumlah data hasil uji kurang dari 30 buah, maka dilakukan koreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali, seperti pada tabel berikut:

Tabel LANDASAN TEORI.1 Faktor Pengali Deviasi Standar

Jumlah data ≥30 25 20 15 <15

Faktor Pengali 1,00 1,03 1,08 1,16 Gunakan tabel 2.3

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

Jika data uji lapangan untuk menghitung deviasi standar yang memenuhi persyaratan di atas tidak tersedia, maka kuat tekan rata-rata yang ditargetkan sebesar

(9)

Untuk memberikan gambaran bagaimana cara menilai tingkat mutu pekerjaan beton, di sini diberikan pedoman sebagai berikut:

Tabel LANDASAN TEORI.2 Nilai Deviasi Standar Untuk Berbagai Tingkat Pengendalian Mutu Pekerjaan di Lapangan

Tingkat Pengendalian Mutu Pekerjaan Nilai Deiviasi

Standar, s (MPa)

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

2.9.3 Menghitung Nilai Tambah / Margin (m)

Nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar (s) dengan rumus

m = Nilai tambah (MPa) k = 1,64

s = Deviasi standar (MPa)

Bila tidak ada catatan hasil uji lapangan unuk perhitungan deviasi standar, maka kuat tekan rata-rata perlu (fcr) harus ditetapkan berdasarkan tabel 2.3 berikut:

Tabel LANDASAN TEORI.3 Kuat Tekan Rata-Rata Perlu Jika Data Tidak Tersedia

Persyaratan Kuat Tekan, f’c (MPa)

Kuat Tekan Rata-Rata Perlu, f’cr (MPa)

<21 f’c + 7,0

21-35 f’c + 8,5

>35 f’c + 10,0

Sumber : SNI 03-2847-2000, Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung

2.9.4 Menetapkan Kuat Tekan Rata-Rata Yang Direncanakan Kuat tekan rata-rata yang direncanakan diperoleh dengan rumus:

f’cr = f’c + m (3.4)

(10)

f'c = Kuat tekan beton yang disyaratkan (MPa)

f’cr = Kuat tekan rata-rata beton yang ditargetkan (MPa) m = Nilai tambah (MPa)

2.9.5 Penetapan Jenis Semen Portland

Menurut SII 0013-18 di Indonesia semen Portland dibedakan menjadi lima jenis, yaitu jenis I, II, III, IV, dan V.

Tabel LANDASAN TEORI.4 Tipe Semen dan Fungsinya

Tipe Semen Deskripsi

I

Semen Portland Jenis Umum (Normal PC) yaitu jenis semen untuk penggunaan dalam konstruksi beton seara umum yang tidak memerlukan sifat-sifat khusus, misalnya untuk trotoar, pasangan bata, dll

II

Semen Portland Jenis Umum dengan perubahan-perubahan (Modified Portland Cement). Semen ini memiliki panas hidarasi yang lebih rendah dari Jenis I. Semen ini digunakan untuk bangunan-bangunan tebal seperti pilar, kolom, dll

III

Semen Portland dengan kekuatan awal tinggi (High Early Strength PC). Jenis ini akan menghasilkan beton dengan kekuatan yang besar pada waktu singkat, biasanya digunakan untuk struktur yang mendesak digunakan, misalnya perbaikan jalan beton

IV

Semen Portland dengan panas hidrasi rendah (Low Heat PC).

Jenis ini merupakan jenis khusus dengan panas hidrasi yang serendah-rendahnya. Digunakan untuk bangunan beton massa besar, seperti bendungan, dll

V

Semen Portland tahan sulfat (Sulfat Resistant PC). Jenis PC

yang khusus dimaksudkan untuk penggunaan pada bangunan-bangunan yang kena sulfat seperti Industri Kimia dan lain-lain. Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

2.9.6 Penetapan Jenis Agregat

Jenis kerikil dan pasir ditetapkan apakah berupa agregat alami (tak terpecahkan) ataukah jenis agregat batu pecah (crushed aggregate).

2.9.7 Penetapan Faktor Air Semen

(11)

Tabel LANDASAN TEORI.5 Perkiraan Kuat Tekan Beton (MPa) dengan Faktor Air Semen 0,50

Jenis semen Jenis agregat kasar Umur (hari)Kekuatan tekan (MPa) Bentuk benda uji

3 7 28 91

Semen Portland

Tipe I, II dan IV

Batu tak dipecah 17 23 33 40

Silinder

Batu pecah 19 27 37 45

Batu tak dipecah 20 28 40 48

Kubus

Batu pecah 23 32 45 54

Semen Portland

Tipe III

Batu tak dipecah 21 28 38 44

Silinder

Batu pecah 25 33 44 48

Batu tak dipecah 25 31 46 53

Kubus

Batu pecah 30 40 53 60

(12)

Gambar LANDASAN TEORI.1 Grafik Hubungan Antara Kuat Tekan Beton dan FAS Beton untuk Benda Uji Kubus (15 cm x 15

cm x 15 cm)

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

FAS dari tabel 2.5

f’c dari tabel 2.5

(13)

Gambar LANDASAN TEORI.2 Grafik Hubungan Antara Kuat Tekan Beton dan FAS Beton untuk Benda Uji Silinder

(diameter 15 cm dan tinggi 30 cm)

(14)

Langkah penetapannya dilakukan dengan cara sebagai berikut:

 Lihat Tabel 2.4, dengan data jenis semen, jenis agregat kasar dan umur beton yang dikehendaki, dibaca perkiraan kuat tekan silinder beton yang akan diperoleh jika dipakai faktor air semen 0,50.

 Lihat Gambar 2.1 atau Gambar 2.2 (sesuai jenis benda uji yang dipakai), buatlah titik A dengan nilai faktor air semen 0,50 (sebagai absis) dan kuat tekan beton yang diperoleh dari Tabel 2.2 (sebagai ordinat). Pada titik A tersebut kemudian dibuat grafik baru yang bentuknya sama dengan 2 grafik yang berdekatan.

 Selanjutnya ditarik garis mendatar dari sumbu tegak sisi kiri pada kuat tekan rata-rata yang dikehendaki sampai memotong grafik baru tersebut. Dari titik potong tersebut kemudian ditarik garis ke bawah sampai memotong sumbu mendatar sehingga diperoleh nilai faktor air semen.

2.9.8 Penetapan Faktor Air Semen Maksimum

Penetapan nilai faktor air semen (FAS) maksimum dilakukan dengan tabel 2.5. Jika nilai faktor air semen ini lebih rendah daripada nilai faktor air semen dari langkah 2.5.6, maka nilai faktor air semen maksimum ini yang dipakai untuk perhitungan selanjutnya.

Tabel LANDASAN TEORI.6 Persyaratan Faktor Air Semen Maksimum Untuk Berbagai Pembetonan dan Lingkungan Khusus

Jenis pembetonan Semen min perm3 beton (kg) FAS maksimum

Beton di dalam ruang bangunan

a. Keadaan kaliling non korosif

b. Keadaan keliling korosif, disebabkan oleh

Beton di luar ruang bangunan

a. Tidak terlindung dari hujan dan terik

Beton yang masuk ke dalam tanah

a. Mengalami keadaan basah dan kering

Beton yang selalu berhubungan dengan:

a. Air tawar

(15)

b. Air laut

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

Tabel 2.5a Faktor Air Semen Maksimum untuk Beton yang Berhubungan dengan Air Tanah yang Mengandung Sulfat

Konsentrasi Sulfat

Pozolan 290 330 350 0,50

Tipe I dengan

>2,0 >5,6 >5,0 Tipe II atau V danlapisan pelindung 330 370 420 0,45 Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

Tabel 3.5b Faktor Air Semen untuk Beton Bertulang dalam Air

Jenis beton Berhubungan

(semen PortlandPozolan) 340 380

0,50 Tipe II atau V 340 380

Air laut 0,45 Tipe II atau V 340 380

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

2.9.9 Penetapan Nilai Slump

(16)

Tabel LANDASAN TEORI.7 Penetapan Nilai Slump (cm)

Pemakaian Beton Maksimum Minimum

Dinding, pelat pondasi dan pondasi telapak

bertulang 12,5 5,0

Pondasi telapak tidak bertulang, kaison dan

struktur di bawah tanah 9,0 2,5

Pelat, balok, kolom dan dinding 15,0 7,5

Pengerasan jalan 7,5 5,0

Pembetonan masal 7,5 2,5

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

2.9.10 Penetapan Besar Butir Agregat Maksimum

Pada beton normal ada 3 pilihan besar butir maksimum, yaitu 40 mm, 20 mm, atau 10 mm. Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan-ketentuan berikut:

 Tiga perempat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan atau berkas baja tulangan.

 Sepertiga kali tebal pelat.

2.9.11 Penetapan Jumlah Aair Yang Diperukan Per Meter Kubik Beton

Berdasarkan ukuran maksimum agregat, jenis agregat, dan slump yang diinginkan, lihat Tabel 2.7.

Tabel LANDASAN TEORI.8 Perkiraan Kebutuhan Air per m3 Beton (liter)

Ukuran

agregat maks Jenis Batuan

Slump (mm)

0 – 10 10 – 30 30 – 60 60 – 180

10 mm Batu tak dipecahBatu Pecah 150180 180205 205230 225250

20 mm Batu tak dipecah

Batu Pecah

40 mm Batu tak dipecahBatu Pecah 115155 140175 160190 175205

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

(17)

Dimana:

A = Jumlah air yang dibutuhkan (lt/m)

Ah = Jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat halusnya Ak = Jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat kasarnya

2.9.12 Berat Semen yang Diperlukan Dihitung

Berat semen per m3 beton dihitung dengan membagi jumlah air (dari langkah 2.5.11) dengan faktor air semen yang diperoleh pada langkah 2.5.7 dan 2.5.8.

Tabel LANDASAN TEORI.9 Kebutuhan Semen Minimum untuk Berbagai Pembetonan dan Lingkungan Khusus

Jenis pembetonan

Semen min per m3 beton

(kg)

FAS maksimum

Beton di dalam ruang bangunan

a. Keadaan kaliling non korosif

b. Keadaan keliling korosif, disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif

275

325

0,60

0,52

Beton di luar ruang bangunan

a. Tidak terlindung dari hujan dan terik

Beton yang masuk ke dalam tanah

a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti

b. Mendapat pengaruh sulfat dan alkali dari tanah

325 0,55

Lihat Tabel2.8a

Beton yang selalu berhubungan dengan:

a. Air tawar b. Air laut

Lihat Tabel 2.8b

(18)

Tabel 2.8a Kandungan Semen Minimum untuk Beton Yang Berhubungan Dengan Air Tanah Yang Mengandung Sulfat

Konsentrasi Sulfat

Pozolan 290 330 350 0,50

Tipe I dengan

>2,0 >5,6 >5,0 Tipe II atau V dan

lapisan pelindung 330 370 420 0,45

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

Tabel 2.8b Kandungan Semen Minimum Untuk Beton Bertulang Dalam Air (kg/m3)

Air laut 0,45 Tipe II atau V 340 380

(19)

2.9.13 Kebutuhan Semen Minimum

Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus.Kebutuhan semen minimum ditetapkan dengan Tabel 2.8.

2.9.14 Penyesuaian Kebutuhan Semen

Apabila kebutuhan semen yang diperoleh dari langkah 2.5.12 ternyata lebih sedikit daripada kebutuhan semen minimum (pada langkah 2.5.13), maka kebutuhan semen minimum dipakai yang nilainya lebih besar.

2.9.15 Penyesuaian Jumlah Air atau Faktor Air Semen

Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah 2.5.14 maka nilai faktor air semen berubah. Dalam hal ini dapat dilakukan dua cara berikut:

 Faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah air dengan jumlah semen minimum.

 Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen minimum dengan faktor air semen.

2.9.16 Penentuan Gradasi Agregat Halus

Berdasarkan gradasinya (lihat analisis ayakan), agregat halus yang akan dipakai dapat diklasifikasikan menjadi 4 daerah. Penentuan daerah gradasi itu didasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel 2.10 atau Gambar 2.3, Gambar 2.4, Gambar 2.5 dan Gambar 2.6.

Tabel LANDASAN TEORI.10 Batas Gradasi Agregat Halus

Lubang Ayakan (mm)

Persentase Berat Butir yang Lolos Ayakan

Daerah I Daerah II Daerah III Daerah IV

10 100 100 100 100

4,8 90 – 100 90 – 100 90 – 100 95 – 100

2,4 60 – 95 75 – 100 85 – 100 95 – 100

1,2 30 – 70 55 – 90 75 – 100 90 – 100

0,6 15 – 34 35 –59 60 – 79 80 – 100

0,3 5 – 20 8 – 30 12 – 40 15 – 50

0,15 0 – 10 0 – 10 0 – 10 0 – 15

(20)

Gambar LANDASAN TEORI.3 Batas Gradasi Agregat Halus Daerah I

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

Gambar LANDASAN TEORI.4 Batas Gradasi Agregat Halus Daerah II

(21)

Gambar LANDASAN TEORI.5 Batas Gradasi Agregat Halus Daerah III

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

Gambar LANDASAN TEORI.6 Batas Gradasi Agregat Halus Daerah IV

(22)

2.9.17 Perbandingan Agregat Halus dan Agregat Kasar

Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimum agregat kasar, nilai Slump, faktor air semen, dan daerah gradasi agregat halus. Berdasarkan data tersebut dan grafik pada Gambar 2.7 atau Gambar 2.8 atau Gambar 2.9.

Gambar LANDASAN TEORI.7 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat dengan Ukuran Butir Maksimum 10 mm

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

Gambar LANDASAN TEORI.8 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat dengan Ukuran Butir Maksimum 20 mm

(23)

Gambar LANDASAN TEORI.9 Persentase Agregat Halus Terhadap Agregat dengan Ukuran Butir Maksimum 40 mm

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

2.9.18 Berat Jenis Agregat Campuran

Berat jenis agregat campuran dihitung dengan rumus:

ak ah

camp P BJ K BJ

BJ    

(3.6) Dimana:

BJcamp = Berat jenis agregat campuran BJah = Berat jenis agregat halus BJak = Berat jenis agregat kasar

P = Persentase berat agregat halus terhadap berat agregat campuran K = Persentase berat agregat kasar terhadap berat agregat campuran

2.9.19 Penentuan Berat Isi Beton

Dengan data berat jenis agregat campuran dari langkah 2.5.18 dan kebutuhan air tiap m3 beton, maka dengan grafik pada Gambar 2.10 dapat diperkirakan berat isi betonnya. Caranya adalah sebagai berikut:

 Dari berat jenis agregat campuran pada langkah 2.5.18 dibuat garis miring berat jenis gabungan yang sesuai dengan garis miring yang paling dekat yang terdapat pada Gambar 2.10.

(24)

vertikal ke atas sampai mencapai garis miring yang dibuat pada cara sebelumnya di atas.

 Dari titik potong ini ditarik garis horizontal ke kiri sehingga diperoleh nilai berat isi beton.

Gambar LANDASAN TEORI.10 Penentuan Berat Isi Beton yang Dimampatkan Secara Penuh

Sumber : SNI 03-2834-2000, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal

2.9.20 Kebutuhan Agregat Campuran

Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton per m3 dengan kebutuhan air dan semen.

2.9.21 Berat Agregat Halus yang Diperlukan Dihitung Berdasarkan Hasil dari Langkah Q dan T

Kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya.

2.9.22 Berat Agregat Kasar yang Diperlukan yang Dihitung Berdasarkan Hasil dari Langkah T dan U

(25)

Catatan:

Dalam perhitungan di atas, agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam keadaan jenuh kering permukaan, sehingga apabila agregatnya tidak kering permukaan, maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya. Hitungan koreksi dilakukan dengan rumus sebagai berikut:

Dimana:

A = Jumlah kebutuhan air (lt/m3)

B = Jumlah kebutuhan agregat halus (kg/m3) C = Jumlah kebutuhan agregat kasar (kg/m3)

Ah = Kadar air sesungguhnya dalam agregat halus (%) Ak = Kadar air sesungguhnya dalam agregat kasar (%)

Gambar

Tabel  LANDASAN TEORI.2 Nilai Deviasi Standar Untuk Berbagai Tingkat
Tabel  LANDASAN TEORI.4 Tipe Semen dan Fungsinya
Tabel   LANDASAN  TEORI.5 Perkiraan  Kuat  Tekan  Beton  (MPa)dengan Faktor Air Semen 0,50
tabel 2.5f’c dari tabel 2.5
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu proyek. Potensi setiap sumber daya manusia yang ada dalam proyek seharusnya

Khusus untuk data utang luar negeri swasta dalam bentuk surat berharga yang diterbitkan di dalam negeri dan dimiliki oleh bukan penduduk diperoleh dari laporan bank

Bahasa yang mahasiswa papua asal sorong Selatan gunakan dalam berkomunikasi serta beradaptasi dengan orang manado adalah kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia tetapi

Pada TB kongenital dapat terlihat segera setelah bayi kepustakaan lain dilaporkan sampai tahun 1989 lahir, tetapi biasanya muncul pada usia minggu terdapat 300

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi bahwa kendala yang dihadapi guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar di SMP Negeri di Kecamatan Wih Pesam yang sangat

Panggungrejo, Mandaranrejo, Ngemplakrejo, Kandangsapi, Mayangan, Trajeng, Karangketug, Krapyakrejo, Blandongan, Kebonsari Sosialisasi peremajaan kawasan merupakan hal

Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Lampung melaksanakan system Pelaksanaan Pelayanan Publik kepada masyarakat terkait informasi Pelaksanaan Kegiatan di Satuan

Bila dari hasil penelitian didapatkan korelasi yang signifikan antara ekspresi miR-21 dengan grade histopatologis di jaringan kanker payudara, maka ekspresi