• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA KESALAHAN PADA OPERASI PEMBAGIAN BI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "POLA KESALAHAN PADA OPERASI PEMBAGIAN BI (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

POLA KESALAHAN PADA OPERASI PEMBAGIAN BILANGAN PECAHAN : STUDI KASUS PADA 4 SISWA KELAS VII B SMP N 3

DEPOK SLEMAN TAHUN PELAJARAN 2008/2009

Oleh: Anik Yuliani, S.Pd., M.Pd.*) anik_yuliani070886@yahoo.com

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan beberapa siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Depok Tahun Pelajaran 2008/2009 serta faktor penyebab terjadinya kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan tersebut. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes dan wawancara. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa pola kesalahan yang ditemukan pada operasi pembagian bilangan pecahan dikelompokan dalam dua jenis kesalahan yaitu:

1. Kesalahan pada pemahaman algoritma dasar pembagian bilangan pecahan. Pola kesalahan yang diungkap yaitu: a) Siswa menganggap bahwa pembagian bilangan pecahan dengan bilangan bulat, dimanapun letak bilangan pecahannya maka bilangan pecahan tersebutlah yang harus dibalik. b) Siswa menganggap bahwa cara penyelesaian operasi pembagian bilangan pecahan sama dengan menyelesaikan operasi penjumlahan pada bilangan pecahan yaitu dengan menyamakan penyebut. c) Siswa menyelesaikan operasi pembagian bilangan bulat dengan bilangan pecahan dengan cara langsung membagi bilangan-bilangan tersebut.

2. Kesalahan pada pemahaman algoritma dasar perkalian bilangan pecahan. Pola kesalahan yang diungkap yaitu:a) Siswa berasumsi bahwa perkalian antara bilangan bulat dengan bilangan pecahan atau sebaliknya sama dengan mengubah bentuk pecahan campuran ke dalam bentuk pecahan biasa.b) Siswa berasumsi bahwa dalam menyelesaikan perkalian bilangan bulat dengan bilangan pecahan, siswa mengalikan bilangan bulat dengan pembilang dan juga bilangan bulat dengan penyebutnya.

Sedangkan faktor penyebab terjadinya kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan tersebut meliputi: Penerapan hukum dan strategi yang tidak relevan; kurangnya pemahaman konsep dasar perkalian dan pembagian antara bilangan bulat dengan bilangan pecahan; kurangnya penguasaan keterampilan prasyarat pada bilangan pecahan.

Kata Kunci : Pola Kesalahan, Operasi Pembagian Bilangan Pecahan

A. Pendahuluan

(2)

dibandingkan dengan mengambil seluruh bagian. Pembahasan materi pecahan secara formal dipelajari di sekolah dasar sejak kelas III semester 2 dengan penekanan pada pengembangan konsep dasar bilangan pecahan melalui benda-benda konkret kemudian dengan model-model atau gambar. Sementara di sekolah menengah, materi pecahan kembali dibahas pada kelas VII semester 1 dengan penekanan pada melatih cara berfikir dan bernalar serta mengembangkan kemampuan memecahkan masalah mengenai bilangan pecahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Mengingat bilangan pecahan sangat dekat sekali dengan kehidupan kita maka diharapkan siswa mampu memahami dan menerapkan pecahan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil wawancara penulis dengan guru matematika yang mengajar di kelas VII SMP N 3 Depok memberikan indikasi bahwa penguasaan konsep pecahan masih tergolong rendah, serta masih banyak siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal cerita yang terkait dengan konsep dan sifat operasi bilangan pecahan.

Dalam Teaching and Learning Mathematics, Bergeson (2000) menemukan beberapa kesalahan konsep, salah satu kesalahan konsep yang ditemukan adalah menggunakan konsep perkalian dalam pembagian bilangan pecahan. Misalnya pada pembagian bilangan bulat dengan bilangan pecahan siswa langsung mengalikan bilangan bulat dengan bilangan pecahan kemudian siswa membaginya.

Sejalan dengan Bergeson (2000), Newstead & Murray (1998) juga menemukan adanya kesalahan pada pembagian bilangan bulat dengan bilangan pecahan. Kesalahan ini terjadi dari kesalahan siswa yang tidak disengaja serta kesalahan berdasar pada pengetahuan formal yang dimiliki oleh siswa.

Ketidakmampuan siswa untuk menginterpretasikan soal 3

4 sebagai ” berapa

banyak 3

4×2 yang ada dalam 2”.

Pengetahuan dasar mengenai bilangan pecahan yang dimiliki siswa akan bermanfaat dalam pemahaman dan penguasaan konsep pecahan pada jenjang pendidikan berikutnya. Konsep pecahan yang telah dipelajari sebelumnya akan digunakan sebagai modal untuk mempelajari konsep selanjutnya. Jika konsep awal yang dipelajari oleh siswa salah maka untuk penerapan konsep itu pada pengetahuan selanjutnya akan salah juga. Hal tersebut akan menimbulkan berbagai kesalahan.

(3)

muncul dan faktor penyebab terjadinya kesalahan tersebut, sehingga mereka dapat membantu siswa untuk memperbaiki kesalahan yang mereka alami. Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin lebih mengetahui pola kesalahan yang terkait dengan operasi pembagian bilangan pecahan serta faktor penyebab terjadinya kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan dari beberapa siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Depok Sleman Tahun pelajaran 2008 / 2009.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang diajukan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut:

1. Apa saja pola kesalahan yang terkait dengan operasi pembagian bilangan pecahan dari beberapa siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Depok Sleman Tahun pelajaran 2008/2009?

2. Apa faktor penyebab terjadinya kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan dari beberapa siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Depok Sleman Tahun pelajaran 2008/2009?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

1. Pola kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan pada beberapa siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Depok Sleman Tahun Pelajaran 2008/2009.

2. Faktor penyebab terjadinya kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan pada beberapa siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Depok Sleman Tahun Pelajaran 2008/2009.

D. Manfaat Penelitian

Dengan diadakannya penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi siswa mengenai pola kesalahan yang mereka miliki selama ini dan mampu mengatasi kesalahan tersebut, sehingga siswa terdorong untuk mempelajari kembali konsep-konsep yang benar mengenai bilangan pecahan.

2. Hasil penelitian akan memberikan informasi tentang pola kesalahan terkait dengan operasi pembagian bilangan pecahan sehingga dapat dijadikan sebagai masukan bagi calon guru matematika untuk merancang pembelajaran yang dapat mengatasi kesalahan khususnya pada materi pokok pecahan.

(4)

diharapkan guru dapat mengajarkan konsep yang benar sehingga tidak terjadi kesalahan-kesalahan lagi.

E. Konsep, Kategori Kesalahan dan Faktor Penyebab Kesalahan

1. Konsep

Sebagian besar siswa hanya menghafalkan definisi konsep tanpa mengetahui hubungan antara konsep satu dengan konsep-konsep yang lainnya. Akibatnya konsep yang baru menjadi tidak berhubungan dengan konsep sebelumnya. Ausubel et al (1978, dalam Berg, 1991: 8) mendefinisikan ”konsep adalah benda-benda, kejadian-kejadian, situasi-situasi, atau ciri-ciri yang memiliki ciri-ciri khas dan yang terwakili dalam setiap budaya oleh suatu tanda atau simbol”. Sementara itu menurut Gagne (dalam Ruseffendi, 1980) konsep adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan non contoh.

Dari pengertian konsep yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konsep adalah ide abstrak dan untuk pengelompokkan objek-objek biasanya dinyatakan dalam suatu istilah yang kemudian dituangkan ke dalam contoh dan bukan contoh. Penguasaan akan suatu konsep sangatlah penting, karena konsep merupakan alat dalam belajar untuk penguasaan materi. Dengan adanya pengusaan konsep yang baik, diharapkan siswa akan dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang tidak terbatas.

2. Kategori Kesalahan

Berg (1991:101) mengemukakan bahwa kesalahan siswa dalam matematika dapat dibagi dalam berbagai jenis kesalahan antara lain:

1) Ralat yang terjadi secara acak tanpa pola tertentu, 2) Salah ingat atau hafal,

3) Kesalahan yang terjadi secara konsisten, terus-menerus dan menunjukkan pola tertentu.

Pada penelitian ini penulis hanya akan memfokuskan pada kesalahan siswa menurut Berg (1991) yaitu kesalahan yang terjadi secara konsisten, terus-menerus dan menunjukkan pola tertentu. Untuk menentukan subyek penelitian, penulis akan memilih beberapa siswa yang memenuhi kriteria melakukan kesalahan secara konsisten, terus-menerus dan menunjukkan pola tertentu tersebut.

a. Kesalahan-kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan.

(5)

Teachers’ Knowledge of Children’s Conceptions: The Case of Division of Fractions” meneliti tiga puluh calon guru sekolah dasar tentang konsepsi anak pada pembagian pecahan. Tirosh (2000), mengklasifikasikan kesalahan yang dibuat oleh partisipan ketika membagi pecahan dalam tiga kategori yaitu

1) Algoritma berbasis kesalahan

Berbagai cara dalam menghitung pembagian termasuk dalam kategori ini. Hal umum prosedur yang termasuk membalikkan pembagian sebagai ganti pembagi atau pembalikan sebelum perkalian pembilang dan penyebut (see, e.g.,Ashlock, 1990; Barash & Klein, 1996). Kesalahan ini biasanya menjelaskan hasil dari hafalan algoritma. Ketika algoritma memaparkan sebuah langkah yang tidak berarti, memungkinkan siswa lupa akan langkah tersebut atau merubah caranya yang justru bisa menjadi suatu kesalahan.

2) Kesalahan yang tidak disengaja

Penelitian tentang cara operasi pembagian menunjukkan bahwa siswa dalam menyeimbangkan operasi dengan bilangan bulat pada pecahan dan untuk menjelaskan pembagian primer menggunakan cara lama, dalam keseluruhan model pembagian. Dalam model pembagian ini sebuah obyek membagi ke dalam angka terpisah atau kumpulan terkecil (e.g., Lima anak membeli 15 buah roti dan membaginya sama rata. Berapa nilai roti yang masing-masing anak dapatkan?). Cara lama, keseluruhan model pembagian memaksakan tiga batasan dalam operasi pembagian: a). Pembagi harus angka genap; b). Pembagi harus lebih kecil dari bilangan yang dibagi; c). Hasil bagi harus lebih kecil dari bilangan yang dibagi. Keunggulan cara lama, keseluruhan model menunjukkan dengan sungguh batas kemampuan anak dan tingkat kemampuan calon guru dalam mengoreksi jawaban pada masalah pembagian yang menyertakan pecahan (e.g., Fischbein, Deri, Nello, & Marino, 1985; Greber, Tirosh, dan Glover, 1989 dalam Journal for Research in Mathematics Education 2000, Vol 31, No. 1, 5-25). Data juga menyarankan bahwa respon anak dalam menyertakan pembagian pecahan dipengaruhi oleh model ini.

(6)

berpikir bahwa pembagian pecahan merupakan komutatif bahwa

2 . Sebagai contoh siswa percaya bahwa 1

formal (e.g., pembagian komutatif dan berikut

1 seharusnya membantu guru dalam mengidentifikasi sumber spesifik kesalahan siswa dan yang sesuai intruksi.

3. Faktor Penyebab Terjadinya Kesalahan.

Menurut Radatz, H. (1978, dalam Krismayanti, 2006) menemukan beberapa faktor penyebab kesalahan yaitu:

1) Kesulitan Konsep

Ketika seorang siswa mengalami kesulitan bahasa maka siswa tersebut akan mengalami kendala besar dalam pemahaman suatu konsep. Kesulitan bahasa meliputi tidak bisa mengartikan kata-kata, kalimat atau istilah tertentu yang digunakan dalam matematika. Misalnya siswa tidak mengerti apa yang dimaksud dengan konstanta, variabel, gradien dan lain-lain.

2) Kesulitan memahami informasi tentang ruang

Kesulitan memahami informasi tentang bangun ruang adalah kesulitan yang disebabkan karena siswa mengalami kesulitan untuk mengenali bentuk-bentuk visual dan memahami sifat-sifat keruangan yang berkaitan dengan soal-soal matematika.

(7)

sebagainya.

4) Ketidaktepatan penggabungan

Kesulitan ini lebih melibatkan kemampuan kognitif siswa, karena disini siswa harus bisa menemukan cara lain atau alternatif penyelesaian masalah jika soal tersebut tidak bisa diselesaikan dengan satu cara.

5) Penerapan hukum atau strategi yang tidak relevan

Dalam menyelesaikan soal-soal matematika biasanya kita menggunakan hukum-hukum, dalil-dalil dan teorema-teorema. Karena ketidaktepatan siswa dalam menerapkan hukum-hukum, dalil-dalil, teorema-teorema atau definisi-definisi siswa pasti akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikan soal.

Penulis akan menggunakan pendapat dari Radatz (1978, dalam Krismayanti, 2006) sebagai landasan teori untuk menganalisa faktor penyebab terjadinya kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan.

F. Jenis Penelitian dan Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kasus atau studi kasus. Menurut Maxfield (1930, dalam Nazir, 1985). Subyek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat. Penelitian kasus ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2006: 4).

G. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes uraian dan wawancara.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah :

a. Data tentang pola kesalahan yang dilakukan oleh empat siswa SMP N 3 Depok kelas VII B yang terkait dengan operasi pembagian bilangan pecahan. Data ini diperoleh dari pemilihan jawaban siswa yang melakukan kesalahan secara konsisten, terus-menerus dan menunjukkan pola tertentu serta dari hasil analisa wawancara.

b. Data tentang faktor penyebab terjadinya kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan empat siswa SMP N 3 Depok kelas VII B yang dapat diperoleh dari hasil tes uraian serta hasil analisa wawancara.

(8)

Berdasarkan data yang terkumpul dari 35 siswa terdapat siswa yang mengerjakan soal dengan benar, mengerjakan soal dengan salah dan tidak mengerjakan soal. Penulis hanya menampilkan jawaban yang salah saja untuk mempermudah dalam melakukan analisis selanjutnya. Dengan adanya kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan, maka penulis memilih beberapa siswa yang melakukan kesalahan paling banyak.

Berikut ini rangkuman pola kesalahan yang ditemukan oleh penulis pada operasi pembagian bilangan pecahan dan juga faktor penyebab terjadinya kesalahan tersebut.

a. Kesalahan pada pemahaman algoritma dasar pembagian bilangan pecahan.

Pada kesalahan pemahaman algoritma dasar pembagian bilangan pecahan, penulis menemukan beberapa pola kesalahan yaitu:

1) Siswa menganggap bahwa pembagian bilangan pecahan dengan bilangan bulat, dimanapun letak bilangan pecahannya maka bilangan pecahan tersebutlah yang harus dibalik.

Pola kesalahan yang dilakukan dapat dilihat dari jawaban yang diberikan

oleh siswa misalnya 7÷ 5 8=7×

8 5=

43

5 . Pola kesalahan tersebut sesuai dengan

hasil penelitian Tirosh (2000). Kesalahan ini terjadi karena kurangnya pemahaman konsep dasar pembagian bilangan pecahan dengan bilangan bulat.

2) Siswa menganggap bahwa cara penyelesaian operasi pembagian bilangan pecahan sama dengan menyelesaikan operasi penjumlahan pada bilangan pecahan yaitu dengan menyamakan penyebut.

Pola kesalahan yang dilakukan dapat dilihat dari jawaban yang diberikan

oleh siswa yaitu 8

3

5 , siswa tersebut menggunakan

konsep penjumlahan yaitu 7× 8

5 dalam menyelesaikan operasi

(9)

dan strategi yang tidak relevan yaitu siswa menggunakan konsep penjumlahan pecahan dalam menyelesaikan operasi pembagian pada bilangan pecahan. 3) Siswa menyelesaikan operasi pembagian bilangan bulat

dengan bilangan pecahan dengan cara langsung membagi bilangan-bilangan tersebut.

Pola kesalahan yang dilakukan dapat dilihat dari jawaban yang diberikan

oleh siswa yaitu 1 3÷2=

3

1×2 . Pola kesalahan tersebut sesuai dengan hasil

penelitian yang diungkapkan oleh Naiser (2004). Kesalahan ini terjadi karena kurangnya pemahaman konsep dasar pembagian bilangan pecahan dengan bilangan bulat atau sebaliknya, serta kurangnya pemahaman konsep dasar pembagian bilangan bulat.

b. Penulis juga menemukan adanya pola kesalahan lain yang berkaitan dengan kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan yaitu:

Kesalahan pada pemahaman algoritma dasar perkalian bilangan pecahan.

Pola kesalahan yang penulis temukan ini tidak terdapat pada rumusan kategori pola kesalahan yang penulis buat pada bab 3. Penulis menganggap bahwa pola kesalahan yang ditemukan ini merupakan kategori pola kesalahan yang lain. Pada kesalahan pemahaman algoritma dasar perkalian bilangan pecahan, penulis menemukan beberapa pola kesalahan yaitu:

1) Siswa berasumsi bahwa perkalian antara bilangan bulat dengan bilangan pecahan atau sebaliknya sama dengan mengubah bentuk pecahan campuran ke dalam bentuk pecahan biasa.

Pola kesalahan yang dilakukan oleh Angga dapat dilihat dari jawaban yang

diberikan oleh Angga yaitu

3

1 ×2 . Penulis memandang bahwa

pembagian pada bilangan pecahan memiliki kaitan yang erat dengan perkalian pada bilangan pecahan. Hal ini dapat dilihat dari definisi pembagian pada bilangan pecahan yaitu membagi suatu pecahan sama dengan mengalikan dengan kebalikan dari pecahan pembaginya.

(10)

bahwa pecahan campuran itu merupakan bentuk lain dari perkalian antara bilangan bulat dengan bilangan pecahan.relevan serta kurangnya pemahaman konsep dasar perkalian bilangan bulat dengan bilangan pecahan.

2) Siswa berasumsi bahwa dalam menyelesaikan perkalian bilangan bulat dengan bilangan pecahan, siswa mengalikan bilangan bulat dengan pembilang dan juga bilangan bulat dengan penyebutnya.

Pola kesalahan ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan oleh Hagi

yaitu

1

3 pada tabel 4.12. Dasar pemikiran siswa sehingga

muncul cara ini yaitu didasarkan pada cara penyelesaian perkalian pecahan dengan pecahan dimana pembilang dikalikan dengan pembilang dan penyebut

dikalikan dengan penyebut

5

1 .

Berdasarkan hasil analisis di atas, faktor penyebab terjadinya kesalahan ini adalah kurangnya penguasaan keterampilan prasyarat yaitu siswa tidak mengetahui bahwa bilangan bulat dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan. Selain itu faktor yang lainnya yaitu kurangnya pemahaman konsep perkalian antara bilangan pecahan dengan bilangan bulat.

I. Kesimpulan

Dari perumusan masalah yang dirumuskan oleh penulis pada bab I maka penulis dapat menjawab perumusan masalah tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Apa saja pola kesalahan yang terkait dengan operasi pembagian bilangan pecahan dari siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Depok Tahun pelajaran 2008 / 2009?

a. Kesalahan pada pemahaman algoritma dasar pembagian bilangan pecahan. Pola kesalahan yang dapat diungkap yaitu sebagai berikut:

1) Siswa menganggap bahwa pembagian bilangan pecahan dengan bilangan bulat, dimanapun letak bilangan pecahannya maka bilangan pecahan tersebutlah yang harus dibalik.

(11)

3) Siswa menyelesaikan operasi pembagian bilangan bulat dengan bilangan pecahan dengan cara langsung membagi bilangan-bilangan tersebut.

b. Dalam penelitian ini penulis juga menemukan adanya pola kesalahan lain yang berkaitan dengan kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan yaitu sebagai berikut:

kesalahan pada pemahaman algoritma dasar perkalian bilangan pecahan. Pola kesalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah:

1) Siswa berasumsi bahwa perkalian antara bilangan bulat dengan bilangan pecahan atau sebaliknya sama dengan mengubah bentuk pecahan campuran ke dalam bentuk pecahan biasa.

2) Siswa berasumsi bahwa dalam menyelesaikan perkalian bilangan bulat dengan bilangan pecahan, siswa mengalikan bilangan bulat dengan pembilang dan juga bilangan bulat dengan penyebutnya.

2. Apa faktor penyebab terjadinya kesalahan pada operasi pembagian bilangan pecahan dari siswa kelas VII B SMP Negeri 3 Depok Tahun pelajaran 2008 / 2009?

a. Penerapan hukum dan strategi yang tidak relevan.

Salah satu contoh bukti adanya penerapan hukum dan strategi yang tidak relevan yaitu siswa menggunakan konsep penjumlahan pecahan dalam menyelesaikan operasi pembagian pada bilangan pecahan.

b. Kurangnya pemahaman konsep dasar perkalian dan pembagian bilangan bulat dengan bilangan pecahan.

c. Kurangnya penguasaan keterampilan prasyarat pada bilangan pecahan. Misalnya siswa tidak mengetahui bahwa bilangan bulat dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan.

DAFTAR PUSTAKA

Bergeson, Terry. (2000). Teaching and Learning Mathematics, Using Research to Shift From the “Yesterday” Mind to the “Tommorow” Mind. State Superintendent of Public Instruction. Dalam http://www.k12.wa.us/research/pubdocs/pdf/mathbook.pdfhttp. Diakses pada tanggal 3 Desember 2008.

(12)

SMP Kanisius Pakem. Makalah. USD Yogyakarta.

Kuhnelt, H. (1989). Interdisciplinary Aspects of Physics Education. Austria: Universitas Wien Almunster.

Naiser, E. A. (2004). Understanding Fractional Equivalence and the Differentiated Effect on Operations with Fraction. Dalam http://txspace tamu.edu/bitsream/handle/1969.1/1469/etd-tamu-2004C-EDCI-Naiser.pdf?seq . Diakses pada tanggal 9 Juni 2008.

Nazir, M. (1985). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Newstead, K. & Murray, H. (1998). Young students’ Contruction of Fraction, Proceedings of the Twenty-second International Conference for the Psychology of Mathematics Education: vol 3(pp.295-302). Stellenbosch, South, dalamhttp://academic.sun.ac.za/mathed/MALATI/Files/Fractions98.pdf. Diakses pada tanggal 9 Juni 2008.

Ruseffendi. (1980). Pengajaran Matematika Modern untuk Orangtua Murid dan SPG. Tarsito, Bandung.

Tirosh, D. (2000). Enhancing Prospective Teachers Knowledge of Children’s Conceptions: The case of Division of Fractions. Tel-Aviv University. Israel.

Van Den Berg, E. (1991). ”Miskonsepsi Fisika dan Remediasi”. Sebuah Pengantar Berdasarkan Lokakarya yang Diselenggarakan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, 7-10 Agustus 1990. Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga Indonesia 50711.

Referensi

Dokumen terkait

2 Ekhvan Hendra Saputra Teknik Kelautan STUDI PRE-ENGINEERING Untuk OFFSHORE WIND TURBINE Sebagai Proyek Investasi Masa Depan Wika 3 Muhammad Nurdin Muchlish Teknik

Berdasarkan penelusuran kepustakaan khususnya di lingkungan Universitas Sumatera Utara umumnya dan perpustakaan Universitas Sumatera Utara, penelitian yang dilakukan peneliti

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada sebagian penderita kanker payudara yang dalam kondisi setelah mastectomy dan munculnya kembali kanker payudara

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 14,3% perempuan berusia 46- 50 tahun di Dukuh Klurak Baru, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta pada bulan 31 Juli – 4 Agustus

Memasuki Tahun Akademik 2021/2022 Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang membuka pendaftaran Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) untuk Program D III, Program

commerce , penulis melakukan penelitian pada Lazada dengan membagikan kuesioner kepada (68) responden yang merupakan mahasiswa Prodi Teknik Informatika STMIK Global

TERTULIS DARI JURUSAN ARSITEKTUR UNIVERSITAS DIPONEGORO UNTUK KEPERLUAN DILUAR TUGAS INI TANPA PERSETUJUAN BAIK SEBAGIAN MAUPUN SELURUHNYA DALAM BENTUK APAPUN DOKUMEN INI TIDAK