1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Desa Rugemuk di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang memiliki pantai dan sungai yang mengalir menuju pantai tersebut. Pantai tersebut digunakan oleh masyarakat sekitar untuk mencari nafkah sekaligus sebagai tempat tinggal.
Rata-rata masyarakat pesisir pantai di Desa Rugemuk tersebut memiliki rumah yang terbuat dari kayu dan seringkali rumah tersebut terendam oleh air laut pasang. Air yang menggenangi rumah mereka membuat kondisi sanitasi lingkungan menjadi semakin buruk dikarenakan air yang berasal dari campuran muara sungai dan laut tersebut terasa payau, ditambah lagi air payau tersebut bercampur dengan kotoran baik kotoran hewan maupun manusia. Air payau tersebut tidak hanya menggenangi rumah mereka tetapi juga meresap kedalam sumur. Sumur mereka kebanyakan merupakan sumur galian atau bukan sumur bor, air inilah yang mereka pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Sanitasi tersebut diperburuk dengan ketidaktersediaan septitank untuk pembuangan tinja, hal ini mungkin dikarenakan kurangnya kepedulian masyarakat di daerah tersebut tentang kesehatan dan juga rendahnya taraf perekonomian penduduk didaerah tersebut. Akhirnya mereka akan membuang hajat di tempat yang mereka sebut kakus yang terletak dipinggir sungai. Adanya kakus dipinggir sungai membuat sungai terkontaminasi oleh kotoran manusia dan sungai tersebut digunakan masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci pakaian, piring dan lain-lain.
Masyarakat pesisir pantai di Desa Rugemuk kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Profesi yang bisa kita kategorikan dalam perekonomian rendah sehingga membuat mereka cenderung tidak memperhatikan masalah kesehatan, khususnya mengenai penyakit kulit.
Masyarakat pada daerah tersebut rata-rata memiliki taraf pendidikan yang rendah sehingga membuat kurangnya pengetahuan mereka tentang kesehatan hal
2
ini dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang lebih mempercayai obat tradisional daripada pengobatan dokter.
Kulit merupakan pelindung tubuh terhadap pengaruh dari luar seperti bahan kimia, radiasi, faktor mekanik, dan invasi lingkungan luar. Oleh karena itu, kulit merupakan bagian tubuh manusia yang cukup sensitif terhadap berbagai penyakit (Harahap, 1990). Air payau bisa menimbulkan iritasi dan bakteri yang berasal dari air tersebut akan menggangu kesehatan kulit pada masyarakat pesisir pantai di Desa Rugemuk, sebagai contoh dermatitis yang dapat disebabkan oleh alergi, iritasi kulit, hipersensitifitas kulit (Ewa, dkk, 2009).
Penyakit kulit mungkin pula disebabkan oleh jamur atau binatang laut. Pekerjaan basah merupakan tempat berkembangnya penyakit jamur, misalnya monoliasis (Ari, dkk, 2005).
Indonesia sebagai negara tropis memiliki beragam penyakit kulit. Penyakit kulit seperti pioderma dan ektoparasit, merupakan penyakit kulit tersering pada negara berkembang khusus daerah tropis. Penyakit kulit banyak yang tidak menyebabkan masalah kesehatan yang singnifikan kecuali kusta, sehingga masyarakat sering mengabaikan, misalnya ketika mereka terkena tinea kapitis mereka akan cenderung mengabaikannya karena penyakitnya bersifat asimptomatik atau tak bergejala, berbeda jika terkena skabies yang membuat rasa gatal dengan intensitas yang hebat (Milena, dkk, 2010 ).
The International Foundation of Dermatology menyediakan informasi tentang community patterns of skin disease pada 9 negara di dunia yaitu Australia (Northwest Territory), Ethiopia, Indonesia, Mali, Meksiko, Mozambik, Senegal, Tanzania, Thailand dan daerah miskin lain dalam lingkungan tropis dari Meksiko sampai Madagaskar yang menyebutkan bahwa masalah kulit utama pada masyarakat yaitu skabies, mikosis superfisial, pioderma, pedikulosis, ekzema atau dermatitis, HIV-related skin disease, kelainan pigmen, akne.
Berdasarkan hasil penelitian, Indonesia memiliki prevalensi sebesar 28 % untuk penyakit kulit, seperti yang diteliti di Negara Timor Leste yang dulunya merupakan bagian dari Indonesia. Mereka meneliti infeksi kulit di Timor Leste dikarenakan infeksi kulit sering menyerang penduduk di negara berkembang yang
3
memilki sanitasi yang buruk, kesukaran mengakses air bersih dan banyaknya, penduduk dimana kriteria tersebut terdapat di Timor Leste. Dalam penelitian tersebut mereka hanya melihat 5 kondisi penyakit kulit yaitu: pioderma, infeksi jamur, frambusia, lepra, skabies. Hasilnya dari dari 1535 orang 44% infeksi yang tidak teridentifikasi, 39% kasus disebabkan oleh jamur, 17% skabies, 7% pioderma, 2% lepra dan 0,4% frambusia. Mereka menyimpulkan bahwa penyakit kulit paling banyak di daerah Timor Leste disebabkan oleh jamur dan penderita laki-laki lebih banyak dibanding wanita. Data penelitian tersebut menunjukkan bahwa 10% responden memiliki lebih dari satu penyakit kulit yang tersering yaitu campuran pioderma dengan skabies atau infeksi jamur.
Berdasarkan keadaan lingkungan Desa Rugemuk Kecamatan Pantai Labu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang penyakit kulit yang tersering di Desa Rugemuk Kecamatan Pantai Labu.
1.2. Rumusan Masalah
Apakah penyakit kulit yang tersering pada masyarakat pesisir pantai di Kecamatan Pantai Labu Desa Rugemuk ?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran penyakit kulit pada masyarakat di daerah pesisir pantai di Desa Rugemuk Kecamatan Pantai Labu.
1.3.2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui penyakit kulit tersering pada masyarakat di daerah pesisir pantai di Desa Rugemuk Kecamatan Pantai Labu.
4
1.4. Manfaat
1. Instansi kesehatan dapat menggunakan data dari penelitian ini untuk melakukan penyuluhan kesehatan di Desa Rugemuk Kecamatan Pantai Labu.
2. Kegiatan bakti sosial bisa menggunakan data dari penelitian ini untuk melakukan pengobatan masal di Desa Rugemuk Kecamatan Pantai Labu.
3 Peneliti akan memberikan informasi kepada penderita tentang penyakit kulitnya .
4. Peneliti dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan khususnya dibidang penyakit kulit.
5. Dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya di Desa Rugemuk Kecamatan Pantai Labu