PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR
KOMPETENSI STRUKTUR RANGKA MANUSIA DAN FUNGSINYA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA MICROSOFT POWER POINT PADA PESERTA DIDIK KELAS IV SDN KORIPAN 04 KEC.SUSUKAN
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Oleh
MUH ROFI’UDIN ANHARUL HUDA KHUSNUL ZAHRIYATI
SRI SUWARNI
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PARIWISATA INDONESIA STIEPARI SEMARANG
PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR
KOMPETENSI STRUKTUR RANGKA MANUSIA DAN FUNGSINYA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA MICROSOFT POWER POINT PADA PESERTA DIDIK KELAS IV SDN KORIPAN 04 KEC.SUSUKAN
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Abstrak: Hasil belajar peserta didik Kelas IV SDN KORIPAN 04 KEC.SUSUKAN pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, khususnya kompetensi dasar hubungan struktur rangka manusia dan fungsinya relatif rendah. Hal ini tercermin dari nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik pada pretes dikategorikan kurang. Berdasarkan masalah tersebut maka penelitian dilaksanakan dengan tujuan mengetahui efektifitas penggunaan aplikasi komputer melalui microsoft power point terhadap peningkatan hasil belajar kompetensi hubungan struktur rangka dan fungsinya pada peserta didik kelas IV SD Negeri Koripan 04Kabupaten Semarang.
Pemanfaatan komputer sebagai media pembelajaran dilakukan untuk mempelajari kompetensi-kompetensi pilihan yang dapat divisualisasikan dengan media tersebut. Microsoft power point adalah salah satu Microsoft Office yang digunakan untuk merancang/membuat slide atau bahan-bahan presentasi. Microsoft power point dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan jika dikelola dan diterapkan dengan tepat dapat membantu guru meningkatkan hasil belajar. Penggunaan microsoft power point juga mampu mendorong peserta didik untuk lebih aktif dalam proses belajarnya.
pada kompetensi hubungan struktur rangka manusia dan fungsinya. Efektifitas penggunaan aplikasi komputer tersebut tercermin dari 23 orang atau 79% dari 29 orang peserta didik mencapai ketuntasan belajar pada kompetensi yang pelajari. Kedua, penggunaan microsoft power point dalam proses pembelajaran juga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini ditandai dengan penurunan jumlah peserta didik yang tidak masuk sekolah, peserta didik semakin aktif dalam proses pembelajaran, peningkatan motivasi belajar peserta didik yang ditunjukkan dengan antusias dan konsentrasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran.
Berdasarkan temuan dan simpulan penelitian dapat diajukan saran-saran sebagai berikut: pertama guru harus memilih dan menentukan kompetensi pelajaran yang dapat divisualisasikan menggunakan microsoft power point agar diperoleh hasil yang maksimal. Kedua, guru perlu menyediakan waktu yang cukup untuk menyiapakan microsoft power point yang beragam, dan rancangan pengorganisasian peserta didik dalam proses pembelajaran. Ketiga, komputer harus benar-benar berfungsi sebagai alat bantu yang memudahkan guru dalam mengajar, bukan menambah beban atau merepotkan.
PENDAHULUAN 1.LATAR BELAKANG
Proses belajar mengajar adalah kegiatan yang menjadi tolak ukur keberhasilan suatu pendidikan.Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar khususnya dengan mengubah paradigma pendidikan sekolah dari pembelajaran yang berpusat guru (teacher centered) ke pembelajaran yang berpusat peserta didik (student centered) (Depdiknas, 2003:2). Paradigma ini menuntut agar guru lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran, sehingga memungkinkan peserta didik dapat berekspresi melalui kegiatan-kegiatan nyata yang menyenangkan dan mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, yang pada akhirnya diperoleh hasil belajar seperti yang diharapkan.
Keberhasilan pembelajaran yang dikelola guru diketahui dari hasil belajar siswa yang diperoleh guru melalui kegiatan penilaian setiap akhir pembelajaran. Hasil belajar adalah pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran.
UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 57 (1) menyebutkan bahwa, evaluasi dilakukan dalam rangka mengendalikan mutu pendidikan secara rasional sebagai bentuk akuintitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, dan pasal 58 (1) disebutkan pula bahwa, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh guru untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil peserta didik
Fakta menunjukkan bahwa peserta didik kelas IV SDN Koripan 04 Kecamatan Susukan sebagian besar, yaitu 26 orang atau (90%) dari 29 orang, pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, khususnya dasar hubungan antara kerangka tubuh manusia dengan fungsinya masih belum tuntas. Nilai rata-rata peserta didik 52% dari kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan sebesar 70%.
Penelitian bertujuan mengetahui efektifitas aplikasi komputer sebagai media pembelajran dalam hal ini microsoft power point dalam meningkatkan hasil belajar. Selain hal tersebut, juga untuk membuat pembelajaran lebih bermakna.
Pemanfaatan media komputer, adalah sebagai penunjang penyampaian pesan, pengetahuan dan kompetensi pelajaran, serta untuk menggali dan memperdalam penguasaan kompetensi pelajaran tertentu dalam pembelajaran. (Hartoyo, 2007:6).
Microsoft power point adalah perangkat lunak (software) aplikasi yang mengolah suatu gagasan/ pemikiran ke dalam sebuah presentasi. Bahan presentasi tersebut akan disimpan dalam file yang terdiri dari sejumlah slide. Masing-masing slide dapat menampilkan teks, grafik, gambar, tabel, bagan organisasi, animasi, dan lain-lain (Wahyu Hidayat, 2007:394).
Microsoft power point dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk membantu guru meningkatkan hasil belajar peserta didik jika dikelola dan diterapkan dengan tepat. Lebih lanjut Zainuri (2005:1) menyebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan aplikasi komputer dalam pembelajaran adalah: (a) Komputer harus benar-benar berfungsi sebagai alat bantu yang memudahkan guru dalam mengajar, bukan menambah beban atau merepotkan; (b) Hasil media yang disajikan dapat membantu peserta didik lebih mudah mencerna pengetahuan; dan (c) Alur pemberian contoh dan keterangan dapat memberikan pemahaman lebih pada peserta didik, dan menambah efisiensi kerja dan waktu guru.
2.Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui kemampuan siswa kelas 4 di SD Negeri Koripan 04 Kecamatan Susukan.
2. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 di SD Negeri Koripan 04 Kecamatan Susukan.
3. Menggunakan Microsof power point dalam pembelajaran siswa kelas 4 di SD Negeri Koripan 04 Kecamatan Susukan.
3.Manfaat Penelitian
a. Kepala SD Negeri Koripan 04.
1) Dapat menjadi masukan bagi kepala sekolah dalam memotivasi guru pada PBM
2) Dapat memberikan solusi bagi kepala sekolah terhadap hambatan yang dihadapi guru dalam PBM
b. Guru SD Negeri Koripan 04
1) Dapat mendorong guru untuk berperan aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan.
TINJAUAN PUSTAKA A.Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Belajar memegang peranan penting didalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi manusia. Oleh karena itu dengan menguasai prinsip-prinsip dasar tentang belajar, seseorang mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu memegang peranan penting dalam proses psikologis (Anni, 2006: 2).
Pengertian belajar berbeda dengan pengertian pertumbuhan yang menekankan pada aspek fisik, dan perkembangan yang menekankan pada aspek kombinasi hasil belajar dan pertumbuhan. Unsur-unsur yang terdapat dalam belajar meliputi: pembelajar, stimulus, memori, dan respon. Belajar yang efektif dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal pembelajar. Faktor internal meliputi aspek fisik, psikis dan sosial. Sedangkan faktor eksternal meliputi, tingkat kesulitan bahan belajar, tempat belajar, iklim dan cuaca serta suasana lingkungan. Oleh karena itu agar belajar berlangsung efektif pada diri siswa, guru harus menguasai bahan belajar, keterampilan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran secara terpadu.
Belajar adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan sesuatu yang belum dimengerti atau yang belum didalami secara menyeluruh tentang suatu hal. Dengan belajar seseorang akan dapat mengubah dirinya ke arah yang lebih baik, baik dari segi kualitas, maupun kuantitas pengetahuan yang dimilikinya. Apabila dalam suatu proses belajar seseorang tidak mengalami peningkatan kualitas maupun kuantitas kemampuan, maka orang tersebut pada dasarnya belum belajar, atau dengan kata lain gagal dalam belajar.
Belajar merupakan serangkaian kegiatan aktif siswa dalam membangun pengertian dan pemahaman. Oleh karena itu dalam proses siswa harus diberi waktu yang memadai untuk bisa membangun makna dan pemahaman, sekaligus membangun keterampilan dari pengetahuan yang diperolehnya. Artinya, memberikan waktu yang cukup bagi siswa untuk berfikir dalam menghadapi masalah sehingga siswa dapat membangun gagasannya sendiri untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Tidak membantu siswa secara dini, menghormati hasil kerja siswa, dan memberi tantangan kepada siswa dengan banyak memberi latihan soal merupakan strategi guru untuk membentuk siswanya menjadi pembelajar seumur hidup. Tanggung jawab belajar pada dasarnya berada di tangan siswa. Namun demikian bukan berarti guru tidak mempunyai tanggung jawab apapun. Tanggung jawab guru adalah menciptakan suasana belajar yang dinamis sehingga siswa terdorong motivasi belajarnya, sehingga suasana belajar yang kondusif dapat tercipta.
Prinsip belajar di atas sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat. Prinsip-prinsip belajar adalah sebagai berikut.
(2) Proses belajar akan terjadi apabila seseorang dihadapkan pada situasi yang problematic Dengan banyaknya problem yang di hadapi akan mendorong siswa untuk berfikir mencari jalan agar masalahnya dapat terselesaikan.
(3) Belajar dengan pemahaman akan lebih bermakna di banding belajar dengan hafalan Belajar dengan pemahaman memungkinkan siswa mengetahui konsep yang diajarkan, sehingga apapun permasalahan yang di hadapi akan bisa terselesaikan dengan baik. Sedangkan belajar dengan hafalan hanya cenderung merangsang siswa untuk mengingat apa yang telah diajarkan kepadanya tanpa mengetahui konsep dasar yang relevan dengan bahan ajaran yang diterima. (4) Belajar secara menyeluruh akan lebih berhasil di banding belajar secara
terbagi. Dengan belajar secara menyeluruh siswa akan lebih mengerti dengan jelas hubungan-hubungan dari berbagai komponen yang ada dalam suatu bahan ajaran. Sehingga memungkinkan siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mudah dan cepat di bandingkan dengan belajar bagian demi bagian.
(5) Belajar memerlukan kemampuan untuk menangkap intisari pelajaran itu sendiri Sehubungan dengan pengertian di atas, apa yang di terima siswa dalam belajarnya mempunyai arti bahwa siswa telah menangkap intisari dari pelajaran yang disampaikan.
(6) Belajar merupakan proses kontinu
Belajar merupakan suatu proses, dan proses itu membutuhkan waktu. Hal ini didasarkan pada keterbatasan kemampuan manusai dalam menerima sesuatu secara spontan. Oleh karena itu belajar akan membawa hasil yang maksimal apabila dilakukan secara kontinu dengan jadwal yang teratur dan materi yang sesuai dengan kebutuhan.
(7) Proses belajar memerlukan metode yang tepat
Pengguanaan metode yang tepat dalam proses belajar mempunyai arti yang penting baik bagi siswa maupun guru. Dengan materi yang tepat akan membangkitkan motivasi belajar dalam diri siswa, sehingga proses transfer pengetahuan akan lebih cepat dilakukan. Dengan metode yang tepat pula guru berhasil menjadi fasilitator dari proses belajar yang terjadi.
(8) Belajar memerlukan minat dan perhatian siswa
Proses belajar membutuhkan minat dan perhatian siswa untuk dapat mernyerap materi yang disampaikan. Tugas seorang gurulah yang harus membangkitkan minat manusia dalam mengembangkan, menambah pengetahuan, dan mengikuti perkembangan di segala bidang kehidupan.
Prinsip ini mengacu pada empat pilar pendidikan yang universal yaitu belajar mengetahui (learning to know ), belajar yang melakukan (learning to do ), belajar menjadi diri sendiri (learning to be ), dan belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together ) (Suherman, 2003: 4).
Belajar akan merubah seseorang, tetapi tidak semua perubahan tingkah laku disebut perubahan. Ciri-ciri belajar menurut Darsono (2000: 30) adalah:
(1) belajar dilakukan dengan sabar dan memiliki tujuan; (2) belajar merupakan pengalaman tersendiri;
(3) belajar adalah proses interaksi individu dengan lingkungan; (4) belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri pelaku.
B.Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar(Anni, 2006: 5). Secara garis besar hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotoris. Ranah kognitif berhubungan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran intelektual, ranah kognitif mencakup kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis dan penelitian.
Ranah yang kedua adalah ranah afektif yang berhubungan dengan perasaan, sikap, minat, dan nilai. Kategori ranah afektif meliputi penerimaan, penanggapan, penilaian, pengorganisasian, pembentukan pola hidup. Ranah terakhir adalah ranah psikomotorik menunjukkan adanya kemampuan fisik seperti keterampilan motorik dan syaraf, manipulasi objek, dan koordinasi syaraf.
Dalam penelitian ini ranah afektif yang berisi sikap, minat dan nilai dijabarkan menjadi nilai aktivitas.siswa yang berisi sepuluh indicator yaitu: (1) kehadiran, (2) Disiplin/rajin, (3) Kerapian, (4) Kerjasama, (5) Menjawab, (6) Bertanya, (7) Berpendapat, (8) Catatan di buku rapi/lengkap, (9) Referensi Lengkap, (10) Penyelesaian tugas. Sedangkan dalam ranah psikomotorik diambil ketrampilan proses yaituk ketrampilan memproseskan perolehan (Semiawan, 1985: 3) yang dalam penelitian meliputi empat tahap ketrampilan dalam pelaksanaan permainan yaitu: (1) persiapan (2) pelaksanaan, (3) komunikasi (4) hasil.
C.Teori pembelajaran
Menurut Peaget (Suherman, 2003: 38), ada empat tahap perkembangan kognitif anak yaitu:
(1) periode “sensory motory stage”
bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik (perbuatan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indera).
(2) periode pra operasi “pre operasional stage”
tahap ini adalah tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkret. Istilah operasi yang digunakan oleh Piaget disini adalah berupa tindakan-tindakan kognitif, seperti mengklasifikasikan sekelompok objek (classifiying), menata letak benda-benda menurut urutan tertentu (seriation), dan membilang (counting), pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-objek yang kelihatannya berbeda, maka ia akan mengatakannya berbeda pula.
umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkret
(4) periode pengerjaan formal
anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal abstrak.
Dalam membangun pengetahuan anak berdasarkan teori di atas, anak tidak bisa menggunakan strategi pembelajaranTematiksecara langsung yang bersifat deduktif. Hal ini disebabkan cara deduktif yang digunakan dalam mengajarTematikadalah ide-ide yang bersifat abstrak yang bertentangan dengan persepsi spontan anak, karena siswa sekolah dasar masih berada pada tahap operasional kongkrit akibatnya siswa akan mengalami kesulitan. Penggunaan media pembelajaran sangat diperlukan dalam mengajarkan operas-operasi dasarTematikpada siswa sekolah dasar.
D.Media Pembelajaran
Seorang guru pada saat menyajikanmateri pembelajaran kepada siswa sering kali menggunakan media, agar informasi/ bahan ajar tersebut dapat diterima atau diserap dengan baik oleh para siswa yang pada akhirnya diharapkan terjadi perubahan pengetahuan ( kognitif ), sikap ( afektif ) maupun keterampilan ( psikomotorik ).
Seiring dengan penggunaan media oleh guru dalam proses pembelajaran, perlu kita pahamibahwa kegiatan pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh H. Udin S. Winataputra, dkk 2005 : 5.4 ) bahwa dalam proses komunikasi guru berperan sebagai komunikator yang akan menyampaikan pesan. Untuk itu bagi seorang guru agar pesan yang akan disampaikan kepada siswa dapat diterima dengan baik maka diperlukan adanya wahana penyalur pesan serta wahana yang bias menjelaskan konsep yaitu media pembelajaran. Salah satu media pembelajaran yang sederhana dn sering kita jumpai adalah dengan digunakanya alat peraga oleh seorang guru dalam menyampaikan meteri pembelajaran
Dengan memperhatikan pentingnya media pembelajaran dalam proses pembelajaran inilah maka peneliti menekankan pada alat peraga sebagai salah satu factor yang turut mempengaruhi tingkat keberhasilan siswa. Dalam bukunya H. Udin S. Winataputra, dkk ( 2005: 5.11 ) mengemukakan bahwa media pembelajaran dapat membangkitkan motivasi belajar, member kesan perhatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar.
Berdasar pada pentingnya penggunaan media/ alat peraga dalam perbaikan pembelajaran, sebab media/ alat peraga dapat diartikansebgai berikut :
1. Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran ( schramm, dalam Winata putra, 1997: 5.3 )
3. Sarana komunikasi dalam bentuk cetakmaupun pandang, dengan termasuk teknologi perangkat kerasnya ( NEA, dalam Winataputra, 1997: 5.3 )
Media pembelajaran pada hakekatnya merupakan penyalur pesan- pesan pembelajaran yang disampaikan oleh sumber pesan ( guru ) kepada penerima pesan ( siswa ) dengan maksud agar pesan- pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya.
Media dapat meningkatkan hasil belajar siswa kerena :
1. Dapat merangsang timbulnya proses/ dialog mental pada diri siswa 2. Dapat menciptakan situasi belajar yang diharapkan atau lebih efektif 3. Siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajr lebih mudahdan lebih
cepat
4. Dapat mengurangi terjadinya penyakit verbalisme 5. Dapat membangkitkan motivasi belajar
6. Hasil belajar siswa akan tahan lama.
Banyak temuan penelitian yang mengungkapkan keadaan media pembelajaran, diantaranya yang dilakukn oleh British Audio-Visual Association ( dalam Winataputra, 1997: 5.6 ) bahwa rata- rata jumlah informasi yang diperoleh seseorang melalui indra menunjukkan komposisi sebagai berikut: 75% melalui indra penglihatan, 13% dari indra pendengaran, 6% dari indra sentuhan dan perabaan, 6% dari indra penciuman dan lidah.
Dari hasil temuan ini menunjukkan bahwa media/ alat peraga sangat penting sehingga harus dijadikan sebagai bagian tak terpisahkan dalam proses pembelajaran dan sangat berpengaruh terhadap perubahan perilaku siswa.
2.Kerangka Berfikir
Penggunaan media oleh guru dalam proses pembelajaran, perlu kita pahamibahwa kegiatan pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi.
Pentingnya media pembelajaran dalam proses pembelajaran inilah maka peneliti menekankan pada alat peraga sebagai salah satu factor yang turut mempengaruhi tingkat keberhasilan siswa., media pembelajaran dapat membangkitkan motivasi belajar, member kesan perhatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar.
Berdasar pada pentingnya penggunaan media/ alat peraga dalam perbaikan pembelajaran, sebab media/ alat peraga dapat diartikansebgai berikut : Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran
Sarana Fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran seperti buku, film, fidio, slide, dan sebagainya
Gambar 2.1 Kerangka berpikir
3.Metode Penelitian
Penulis melakukan penelitian ini dengan metodologi sebagai berikut: Setting Penelitian, antara lain: waktu penelitian, mulai tanggal 17 sampai dengan 29 September 2016, dengan pertimbangan, sesuai dengan program semester mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas IV semester 1, kompetensi dasar hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya diajarkan pada minggu ke-10 dan 11, dan tempat penelitian, di kelas IV SDN Koripan 04 Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Pemilihan tempat penelitian didasarkan pada pertama pengalaman empirik, bahwa setiap awal tahun pelajaran guru dihadapkan pada masalah rendahnya hasil belajar peserta didik kelas kelas IV pada kompetensi dasar hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya, kedua peneliti adalah guru di kelas tersebut, hal ini dapat mendapatkan pengalaman untuk meningkatakan proses pembelajran pada waktu-waktu yang kan datang serta menghemat/efisiensi baik biaya, waktu dan tenaga.
pakem pakem
Penggunaan media Penggunaan media
Buku paket
Buku paket PeragaPeraga Video
Video
Subjek Penelitian, adalah peserta didik kelas IV SD Negeri Koripan 04 Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang pada semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 29 orang dan guru kelasnya.
Sumber Data, adalah peserta didik kelas IV SD Negeri Koripan 04 Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 29 orang dan guru kelasnya.
Teknik Pengumpulan Data, dilakukan dengan cara: (a) mengadakan tes/evaluasi terhadap hasil belajar peserta didik melalui pretes dan postes di setiap siklus, (b) melakukan observasi/pengamatan terhadap aktivitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung, (c) melakukan observasi/pengamatan terhadap rencana pembelajaran yang disusun guru, dan (d) melakukan observasi/pengamatan terhadap aktivitas guru selama pembelajaran.
Alat Pengumpulan Data, yang digunakan adalah lembar tes/evaluasi berupa pretes dan postest, lembar observasi/pengamatan terhadap aktivitas siswa, lembar observasi/pengamatan terhadap rencana pembelajaran yang disusun guru, dan lembar observasi/pengamatan terhadap aktivitas guru, masing-masing untuk dua siklus
Analisis Data, dilakukan dengan cara menganalisis hasil belajar dengan anlisis diskriptif komperatif yaitu membandingkan nilai tes antar siklus maupun dengan indikator kinerja, dan hasil observasi dengan alanisis diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi.
Indikator Kinerja, yang digunakan adalah: Bila sebanyak 75 % peserta didik (22 orang) dari 29 orang telah mendapatkan nilai sama dengan atau lebih dari kriteria ketuntasan belajar yang telah ditetapkan sebesar 70%.
Prosedur Penelitian, yang digunakan adalah metode Penelitian dan dirancang dalam 2 (dua) siklus. Prosedur penelitian masing-masing siklus dilakukukan dalam 4 (empat) tahapan, dengan alur perencanaan (planning), impelmentasi tindakan (acting), observasi dan interprestasi (observing), dan refleksi (reflecting).
Tahap perencanaan/planning, antara lain pelaksanaan tes diagnostik untuk menspesifikasi masalah, pembuatan rencana pelaksanaan pembelajara (RPP), pembuatan media pembelajaran yaitu file microsoft power point sesuai kompetensi pelajaran, membuat lembar observasi, membuat alat evaluasi, dan membuat pedoman wawancara.
Tahap implementasi tindakan/acting dilaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah didesain, antara lain:
- Kegiatan Awal (± 5 menit) antara lain, (1) melakukan doa bersama untuk mengawali pembelajaran, (2) presensi untuk mengetahui kehadiran peserta didik, dan (3) apersepsi.
(4) guru memandu tanya jawab dengan peserta didik sambil mengamati layang-layang utuh dan layang-layang tanpa kerangka yang diperlihatkan guru, kemudian diminta membandingkan sehingga menemukan fungsi rangka pada layang-layang.
- Kegiatan Inti (± 50 menit) antara lain, (1) peserta didik mengamati penayangan power point kompetensi hubungan struktur rangka manusia dan fungsinya melalui media komputer dan LCD proyektor, (2) peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil ( 3 – 4 orang) mengamati gambar rangka, kemudian dengan bimbingan guru mengidentifikasi bagian-bagian rangka dan nama-nama tulang penyusunnya.
- Kegiatan Akhir (± 15 menit), antara lain (1) pemantapan/penguatan, dengan mengajukan pertanyaan mengulas kesimpulan, (2) memotivasi belajar peserta didik, dan (3) refleksi untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dan tindak lanjutnya.
Tahap observasi dan interprestasi/observing, yaitu melaksanakan observasi/pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran, dengan menggunakan lembar observasi oleh guru kepada siswa, dan oleh Kepala Sekolah kepada guru kelas. Observasi juga dilakukan Kepala Sekolah terhadap rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun dan disiapkan guru.
dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Pelaksanaan tindakan pada Siklus II dilaksanakan dalam 4 (empat) tahap, yaitu perencanaan, implementasi tindakan, observasi, dan refleksi.
Tahap perencanaan/planning, antara lain pelaksanaan tes diagnostik yang berfungsi sebagai evaluasi awal untuk menspesifikasi masalah sesuai hasil analisa data pada Siklus I, pembuatan skenario pembelajaran disesuaikan dengan kekurangan dan kelemahan yang terjadi pada siklus I, menyiapkan media pembelajaran yaitu file microsoft power point sesuai kompetensi pelajaran, membuat lembar observasi, membuat alat evaluasi, dan membuat pedoman wawancara;
Tahap implementasi tindakan/acting, pada tahap ini dilaksanakan kegiatan sesuai dengan skenario pembelajaran yang didesain sesuai dengan kebutuhan, seperti yang didapat dari hasil analisa dan interprestasi data yang diperoleh pada Siklus I, antara lain
- Kegiatan Awal (± 5 menit) antara lain, (1) melakukan doa bersama untuk mengawali pembelajaran, (2) presensi untuk mengetahui kehadiran peserta didik, dan (3) apersepsi, misalnya tanya jawab pelajaran IPA pertemuan sebelumnya.
- Kegiatan Inti (± 50 menit) antara lain, (1) peserta didik mengamati penayangan power point kompetensi hubungan struktur rangka manusia dan fungsinya melalui media komputer dan LCD proyektor, (2) peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil ( 3 – 4 orang) mengamati gambar rangka, kemudian dengan bimbingan guru mengidentifikasi bagian-bagian rangka dan nama-nama tulang penyusunnya.
- Kegiatan Akhir (± 15 menit), antara lain (1) pemantapan/penguatan, dengan mengajukan pertanyaan mengulas kesimpulan, (2) memotivasi belajar peserta didik, dan (3) refleksi untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dan tindak lanjutnya.
observasi, oleh guru kepada siswa, dan oleh Kepala Sekolah kepada guru kelas. Observasi juga dilakukan Kepala Sekolah terhadap rencana pembelajaran sebagai skenario pembelajaran yang disusun dan disiapkan guru.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil pretes yang dilakukan sebelum dilakukan tindakan, pada kompetensi hubungan struktur rangka manusia dan fungsinya diperoleh data-data seperti diuraikan pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Hasil Pretes Diagnosa Awal
No Kategori Rentang
Nilai Frekuensi %
Jumlah
Nilai Rata-rata
1. Amat Baik 86 – 100 0 0 0 0
2. Baik 70 – 85 3 10 215 71
3. Cukup 56 – 69 8 28 522 65
4. Kurang 41 – 55 10 34 504 50
5. Sangat Kurang < 40 8 28 295 37
Jumlah 29 100 1.536 52
Dari Tabel 1 di atas diketahui bahwa dari 29 orang peseta didik, 3 orang mendapatkan nilai 70, artinya 10% orang yang telah menuntaskan kompetensi dasar yang diujikan dan sebagian besar 26 orang (90%) belum tuntas. Nilai rata-rata hasil belajar peserta didik adalah 52, sehingga dikategorikan kurang. Dengan kondisi awal seperti pada data, maka penguasaan peserta didik kelas IV terhadap kompetensi yang akan dipelajari kurang, maka perlu adanya tindakan perbaikan.
Hasil implementasi tindakan Siklus I, dengan digunakannya aplikasi komputer melalui microsoft power point dalam pembelajaran diperoleh data-data sebagaimana disajikan pada Tabel 2 berikut:
Tabel 2. Hasil Nilai Postes Siklus I
No Kategori RentangNilai Frekuensi % JumlahNilai Rata-rata
1. Amat Baik 86 – 100 3 10 259 86
2. Baik 70 – 85 17 59 1.266 74
4. Kurang 41 – 55 3 10 160 53
5. Sangat Kurang < 40 0 0 0 0
Jumlah 29 100 2.060 71
Dari data-data seperti pada Tabel 2, dapat diketahui bahwa 20 orang (69%) telah dapat menuntaskan kompetensi yang dipelajari, dan 9 orang (31%) belum tuntas. Merujuk pada indikator kinerja penelitian yang telah ditetapkan, yaitu 75% atau 22 orang telah mendapatkan nilai sama dengan atau lebih dari kriteria ketuntasan belajar yang telah ditetapkan sebesar 70%, sehingga hasil belajar peserta didik pada Siklus I belum memenuhi indikator kinerja. Dan dapat disimpulkan bahwa dengan digunakannya aplikasi komputer melalui microsoft power point dalam pembelajaran belum membatu hasil belajar peserta didik.
Dari data-data tersebut diketahui pula bahwa nilai rata-rata kelas hasil belajar peserta didik Siklus I adalah 71 dan dikategorikan baik. Kemampuan peserta didik untuk mencerna pelajaran mengalami kanaikan sebesar 36,5%, yaitu dari nilai rata-rata kelas pretes, yaitu 52.
Siklus II dilaksanakan dengan perbaikan sesuai kelemahan pada Siklus sebelumnya, dan diperoleh data sebagaimana disajikan pada Tabel 3 berikut:
Tabel 3. Hasil Nilai Postes Siklus II
No Kategori RentangNilai Frekuensi % JumlahNilai Rata-rata
1. Amat Baik 86 – 100 3 10 264 88
2. Baik 70 – 85 20 69 1.534 77
3. Cukup 56 – 69 5 17 330 66
4. Kurang 41 – 55 1 4 55 55
5. Sangat Kurang < 40 0 0 0 0
Jumlah 29 100 2.183 75
telah ditetapkan sebesar 70%, maka dengan digunakannya aplikasi komputer melalui microsoft power point dalam pembelajaran pada Siklus II dapat memenuhi indikator kinerja penelitian.
Nilai rata-rata kelas hasil belajar peserta didik Siklus II adalah 75, sehingga dapat dikategorikan baik Hasil belajar peserta didik tersebut menunjukkan bahwa kemampuan peserta didik untuk mencerna kompetensi mengalami kanaikan sebesar 44,2%, yaitu dari nilai rata-rata kelas pretes, yaitu 52.
Penelitian yang dilaksanakan dalam 2 siklus didapatkan data bahwa banyaknya peserta didik kelas IV SDN KORIPAN 04 KEC.SUSUKAN yang dapat menuntaskan kompetensi hubungan struktur rangka manusia dan fungsinya mengalami peningkatan yang relatif tinggi. Hal ini dapat dilihat dari hasil pretes dan postes/ulangan akhir pembelajaran pada setiap siklus, seperti pada Tabel seperti pada Tabel 4 dan Gambar 1 berikut ini:
Tabel 4. Frekuensi Peserta Didik dalam Perolehan Nilai
No Kategori RentangNilai Pretes Siklus I Siklus II
Kenaikan Rata-rata
(%)
f % f % f %
1. Amat Baik
86 – 100 0 0 3 10 3 10 10
2. Baik 70 – 85 3 10 17 59 20 69 29,5
3. Cukup 56 – 69 8 28 6 21 5 17 -5,5
4. Kurang 41 – 55 10 34 3 10 1 4 -15
5. Sangat
Kurang < 40 8 28 0 0 0 0 -14
Jumlah 29 100 29 100 29 100
Data hasil tindakan pada tabel menunjukkan bahwa pada tahap pretes peserta didik yang dapat menuntaskan kompetensi sebanyak 3 orang (10%), pada Siklus I mengalami perubahan, yaitu menjadi 20 orang (69%) dan pada Siklus II menjadi 23 orang (79%). Dari data tersebut dapat diartikan bahwa kemampuan peserta didik menyerap kompetensi yang diajarkan mengalami peningkatan, yaitu rata-rata 34,5%.
Pada Siklus I peserta didik yang telah menuntaskan kompetensi 20 orang (69%) dari 29 orang, hal tersebut belum memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan, yaitu sebanyak 75% dari 29 orang, yaitu 22 orang mendapatkan nilai sama dengan atau lebih dari kriteria ketuntasan belajar yang telah ditetapkan sebesar 70%. Pada siklus II sebanyak 23 orang (79%) telah dapat menuntaskan kompetensi yang dipelajari, bila merujuk pada indikator kinerja penelitian tersebut, maka dengan digunakannya aplikasi komputer melalui microsoft power point dalam pembelajaran pada Siklus II dapat memenuhi indikator kinerja penelitian.
Data hasil observasi/pengamatan yang dilakukan guru terhadap peserta didik dalam proses pembelajaran, ditunjukkan pada Tabel 5 dan Gambar 2 berikut ini :
No Aspek yang Dinilai Siklus I Siklus II Rata-rata
1. Minat 70 74,7 77,3
Kriteria Baik
2. Inisiatif 80 76,8
3. Kerjasama 80 82,1
Rata-rata 76,7 77,8
Gambar 2. Grafik Partisipasi Peserta dalam Pembelajaran
Data-data di atas menyebutkan bahwa rata-rata nilai partisipasinya peserta didik dalam pembelajaran adalah 73,5. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan digunakannya aplikasi komputer melalui microsoft power point dalam proses pembelajaran partisiapasi dapat dikatakan baik.
Data hasil observasi pembelajaran yang dilakukan Kepala Sekolah terhadap guru selama proses pembelajaran disajikan pada Tabel 6 dan Gambar 3 berikut ini :
Tabel 6. Hasil Pengamatan Pembelajaran
No Aspek yang Dinilai Siklus I Siklus II Rata-rata
1. Rencana Pembelajaran 89 89 84
Kreteria Baik
2. Pelaksanaan Pembelajaran 77 87
3. Tindak Lanjut 80 80
Rata-rata 81 85
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Depdidbud, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Tim Penyusun Kamus. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas, Ditjen Dikdasmen, Proyek Peningkatan PPPG IPS dan PMP Malang. 2003, Penelitian . Malang: Proyek Peningkatan PPPG IPS dan PMP Malang
Depdiknas. 2006. Standar Isi Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Kelas IV SD/MI. Jakarta: Depdiknas.
Hartoyo. 2007. Ketersediaan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Upaya Revitalisasi Pembelajaran. Makalah disajikan pada Seminar dan Lokakarya Nasional “Peran Teknologi Informasi &
Hidayat, Wahyu. 2006. Kamus Teknologi Informasi. Surabaya: Sarana Ilmu.
Moein Moesa, A. 1995. Model dan Metode Mengajar. Jakarta : Universitas Terbuka.
Ngabiyanto. 2007. Kaidah Selingkung Jurnal Penelitian Pendidikan. Makalah disajikan dalam Workshop Pengembangan Pembelajaran Inovatif dalan Rangka Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme Guru SD, SMP, dan SMA, di UNNES, Semarang, 7 Oktober.
Sidi, Indra Jati. 2007. Implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pembelajaran. Makalah disajikan pada Seminar dan Lokakarya Nasional “Peran Teknologi Informasi & Komuniksai dalam Revitalisasi Pembelajaran, Depdiknas, Staf Ahli Mendiknas Bidang Pengembangan Kurikulum dan Media Pembelajaran, Semarang, 23 Agustus.
Subyantoro. 2007. Penulisan Artikel Ilmiah Hasil Penelitian. Makalah disajikan dalam Workshop Pengembangan Pembelajaran Inovatif dalan Rangka Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme Guru SD, SMP, dan SMA, di UNNES, Semarang, 7 Oktober.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2003, Jakarta: Ditjen Dikdasmen, Bagian Proyek Penilaian Hasil Belajar Tahap Akhir Nasional.