• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Geologi Lingkungan Kelompok 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tugas Geologi Lingkungan Kelompok 1"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

SESUMBER GEOLOGI

Sesumber Geologi adalah produk dari proses geologi yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.

A. SUMBERDAYA AIR 1. Dasar Teori

Air merupakan sumber daya penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan, telah meningkatkan kebutuhan air. Di lain pihak, ketersediaan air dirasakan semakin terbatas, di beberapa tempat bahkan sudah dapat dikategorikan berada dalam kondisi kritis. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti pencemaran, penggundulan hutan, kegiatan pertanian yang mengabaikan kelestarian lingkungan dan berubahnya fungsi daerah tangkapan air.

Air adalah semua air yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah. Air dalam pengertian ini termasuk air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang dimanfaatkan di darat. Sedangkan pengertian sumberdaya air adalah air dan semua potensi yang terdapat pada air, sumber air, termasuk sarana dan prasarana pengairan yang dapat dimanfaatkan, namun tidak termasuk kekayaan hewani yang ada di dalamnya (Sunaryo, 2004).

Menurut Middleton (2008) dalam Sunaryo (2004) air merupakan elemen yang paling melimpah di atas bumi, yang meliputi 70 persen permukaannya dan berjumlah kira-kira 1.4 ribu juta kilometer kubik. Namun hanya sebagian kecil saja dari jumlah ini yang benar-benar dimanfaatkan, yaitu kira-kira hanya 0,003 persen. Sebagian besar air, kira-kira 97 persen, ada dalam samudera, laut, dan kadar garamnya terlalu tinggi.

Beberapa batasan pengertian lingkup sumber daya air di bawah ini, mengambil bahan rujukan (referensi) dari Undang-undang Nomor 11 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, dan beberapa Peraturan Pemerintah yang berkait.

(2)

b. Sumber Air, adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.

c. Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air dan/atau pada sumber air yang dapat memberikan manfaat ataupun kerugian bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta lingkungannya.

d. Sumber daya air merupakan air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya.

e. Pengelolaan Sumber daya air adalah upaya untuk mengatur, merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

f. Konservasi sumber daya air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat, dan fungsi sumberdaya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan maklhk hidup, baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang.

g. Pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. Operasi: adalah kegiatan pengaturan, pengalokasian serta penyediaan air dan sumber air untuk mengoptimalkan prasarana sumber daya air.

h. Pemeliharaan adalah kegiatan untuk merawat sumber air dan prasarana sumber daya air yang ditujukan untuk menjamin kelestarian fungsi sumber air dan prasarana sumber daya air.

(3)

2. Deskripsi sumber daya dan kondisi geologi Deskripsi sumber daya

Sumberdaya air merupakan sumberdaya alam yang dapat terbarukan (renewable resources), dengan volume yang sama atau tetap. Secara teoritis volume sumberdaya air di bumi ini memang tidak berubah, dan mengalami siklus yang tertutup atau berkesinambungan. Namun dinamika kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sedikit demi sedikit mempengaruhi siklus air tersebut. Perubahan yang dapat langsung dirasakan adalah distribusi dan kualitas sumber daya yang dipakai oleh manusia untuk kehidupannya.

Sumber daya air adalah sumber daya berupa air yang berguna atau potensial bagi manusia. Kegunaan air meliputi penggunaan di bidang pertanian, industri, rumah tangga, rekreasi, dan aktivitas lingkungan. Sangat jelas terlihat bahwa seluruh manusia membutuhkan air tawar.

97% air di bumi adalah air asin, dan hanya 3% berupa air tawar yang lebih dari 2 per tiga bagiannya berada dalam bentuk es di glasier dan es kutub. Air tawar yang tidak membeku dapat ditemukan terutama di dalam tanah berupa air tanah, dan hanya sebagian kecil berada di atas permukaan tanah dan di udara.

Fetter C.W. Applied Hydrogeology,(2001), seorang ahli meneliti sumberdaya air di Bumi menyimpulkan bahwa jumlah sumberdaya air adalah tetap, namun distribusi da fasanya berbeda, dengan kesimpulan bahwa hampir dua pertiga pemukaan bumi ini ditempati oleh air, dengan komposisi perbandinga lokasi dan fasa air sebagai berikut :

 97,2% merupakan air laut yang bersifat asin sebagai akibat terlarutnya berbagai jenis garam dan mineral lainnya;

 2,14% sebagai es dan gletser yang membeku/fasa padat yang berada di puncak-puncak gunung yang sangat tinggi (Puncak Jayawijaya di Indonesia);

 0,16% sebagai air tanah yang berada di bawah permukaan tanah, berupa air tanah dalam dan dangkal;

(4)

 0,005% sebagai uap air yang berada dalam ruang antar butir tanah pucuk (topsoil) yang dapat mendukung perakaran dan pertumbuhan tanaman;  0,001% sebagai uap air dan hujan yang berada di udara bebas.

Memperhatikan data umum perbandingan dan distribusi tersebut diatas, terlihat bahwa jumlah volume air tawar yang dapat dimanfaatkan oleh manusia di muka bumi ini sangat terbatas (total sekitar 2,309% saja), apalagi saat ini kegiatan manusia telah menimbulkan berbagai bahan pencemar yang mencemari sumberdaya air tawar tersebut, sehingga jumlah air tawar yang dapat digunakan oleh manusia semakin kecil dan terbatas.

Secara eksplisit karakteristik dasar sumberdaya air antara lain:

a. Dapat mencakup beberapa wilayah administratif (cross-administrative boundary) dikarenakan oleh faktor topografi dan geologi.

b. Dipergunakan oleh berbagai aktor (multi-stakeholders)

c. Bersifat sumberdaya mengalir (flowing/dynamic resources) sehingga mempunyai keterkaitan yang sangat erat antara kondisi kuantitas dengan kualitas, antara hulu dengan hilir, antara instream dengan offstream, maupun antara air permukaan dengan air bawah tanah.

d. Dipergunakan baik oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang (antar generasi).

Kuantitas dan kualitas air amat bergantung pada tingkat pengelolaan sumber daya air masing-masing daerah, keragaman penggunaan air yang bervariasi – pertanian, air baku domestik dan industri, pembangkit tenaga listrik, perikanan, dan pemeliharaan lingkungan – selain iklim, musim (waktu) serta sifat ragawi alam (topografi dan geologi) dan kondisi demografi (jumlah dan penyebaran) serta apresiasi (persepsi) tentang air.

(5)

Kondisi Geologi

Air merupakan salah satu sumber daya geologi yang sangat penting dan vital, tidak saja diperlukan oleh semua mahkluk hidup yang ada di bumi, tetapi juga diperlukan bagi proses-proses geologi.

Aktivitas air di permukaaan bumi, batuan, tanah, udara, dan lautan mempunyai arti penting dan secara berkelanjutan akan berdampak terhadap aktivitas manusia. Manfaat sumber daya air bagi manusia antara lain adalah sebagai air minum, irigasi, pembangkit tenaga listrik, proses pendinginan pada industri dan pembangkit tenaga serta untuk sarana olahraga dan rekreasi.

Beberapa proses atau kondisi geologi menentukan keberadaan dan komposisi sumber daya air di Bumi, termasuk keterdapatan air tawar di Bumi. Air tawar adalah sumber daya terbarukan, meski suplai air bersih terus berkurang. Permintaan air telah melebihi suplai di beberapa bagian di dunia dan populasi dunia terus meningkat yang mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap air bersih. Perhatian terhadap kepentingan global dalam mempertahankan air untuk pelayanan ekosistem telah bermunculan, terutama sejak dunia telah kehilangan lebih dari setengah lahan basah bersama dengan nilai pelayanan ekosistemnya. Ekosistem air tawar yang tinggi biodiversitasnya saat ini terus berkurang lebih cepat dibandingkan dengan ekosistem laut ataupun darat. Sumber air tawar yang ada di permukaan Bumi adalah :

a. Air permukaan

Air permukaan adalah air yang terdapat di sungai, danau, atau rawa air tawar. Air permukaan secara alami dapat tergantikan dengan presipitasi dan secara alami menghilang akibat aliran menuju lautan, penguapan, dan penyerapan menuju ke bawah permukaan.

(6)

Aktivitas manusia memiliki dampak yang besar dan kadang-kadang menghancurkan faktor-faktor tersebut. Manusia seringkali meningkatkan kapasitas reservoir total dengan melakukan pembangunan reservoir buatan, dan menguranginya dengan mengeringkan lahan basah. Manusia juga sering meningkakan kuantitas dan kecepatan aliran permukaan dengan pembuatan sauran-saluran untuk berbagai keperluan, misalnya irigasi.

Kuantitas total dari air yang tersedia pada suatu waktu adalah hal yang penting. Sebagian manusia membutuhkan air pada saat-saat tertentu saja. Misalnya petani membutuhkan banyak air ketika akan menanam padi dan membutuhkan lebih sedikit air ketika menanam palawija. Untuk mensuplai petani dengan air, sistem air permukaan membutuhkan kapasitas penyimpanan yang besar untuk mengumpulkan air sepanjang tahun dan melepaskannya pada suatu waktu tertentu. Sedangkan penggunaan air lainnya membutuhkan air sepanjang waktu, misalnya pembangkit listrik yang membutuhkan air untuk pendinginan, atau pembangkit listrik tenaga air. Untuk mensuplainya, sistem perairan permukaan harus terisi ketika aliran arus rata-rata lebih rendah dari kebutuhan pembangkit listrik.

Perairan permukaan alami dapat ditambahkan dengan mengambil air permukaan dari area tangkapan hujan lainnya dengan kanal atau sistem perpipaan. Dapat juga ditambahkan secara buatan dengan cara lainnya, namun biasanya jumlahnya diabaikan karena terlalu kecil.

Manusia dapat menyebabkan hilangnya sumber air permukaan dengan menjadikannya tidak lagi berguna, misalnya dengan cara polusi.

b. Aliran sungai bawah tanah

(7)

terjadi di area karst di mana lubang tempat terbentuknya hubungan antara sungai bawah tanah dan sungai permukaan cukup banyak.

c. Air tanah

Air tanah adalah air tawar yang terletak di ruang pori-pori antara tanah dan bebatuan dalam. Air tanah juga berarti air yang mengalir di lapisan aquifer di bawah water table. Terkadang berguna untuk membuat perbedaan antara perairan di bawah permukaan yang berhubungan erat dengan perairan permukaan dan perairan bawah tanah dalam di aquifer (yang kadang-kadang disebut dengan "air fosil").

Sistem perairan di bawah permukaan dapat disamakan dengan sistem perairan permukaan dalam hal adanya input, output, dan penyimpanan. Perbedaan yang paling mendasar adalah kecepatan dan kapasitasnya; air tanah mengalir dengan kecepatan bervariasi, antara beberapa hari hingga ribuan tahun untuk muncul kembali ke perairan permukaan dari wilayah tangkapan hujan, dan air tanah memiliki kapasitas penyimpanan yang jauh lebih besar dari perairan permukaan.

Input alami dari air tanah adalah serapan dari perairan permukaan, terutama wilayah tangkapan air hujan. Sedangkan output alaminya adalah mata air dan serapan menuju lautan.

Air tanah mengalami ancaman berarti menghadapi penggunaan berlebihan, misalnya untuk mengairi lahan pertanian. Penggunaan secara belebihan di area pantai dapat menyebabkan mengalirnya air laut menuju sistem air tanah, menyebabkan air tanah dan tanah di atasnya menjadi asin (intrusi air laut). Selain itu, manusia juga dapat menyebabkan air tanah terpolusi, sama halnya dengan air permukaan yang menyebabkan air tanah tidak dapat digunakan.

d. Desalinasi

(8)

ekstensif di Teluk Persia untuk mensuplai air bagi beberapa wilayah di Timur Tengah dan fasilitas wisata dan perhotelan di wilayah tersebut.

e. Air beku

Bongkahan es yang terlihat di New Foundland, Canada

Es yang membeku di kutub dan glasier berpotensi untuk dijadikan sumber air tawar karena dua per tiga air tawar dunia berada dalam bentuk es. Beberapa skema telah diajukan untuk menjadikan gunung es di kutub sebagai sumber air, namun hingga saat ini hal itu hanya sekedar rencana. Aliran glasier saat ini dikatakan sebagai salah satu perairan permukaan.

Himalaya, "Atap Dunia" mengandung glasier dan es dalam jumlah besar di luar wilayah kutub, dan menjadi sumber dari sepuluh sungai besar di Asia yang menghidupi miliaran manusia. Masalah yang terjadi saat ini adalah peningkatan temperatur dunia yang cukup cepat, Nepal saat ini mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,6 derajat Celcius sejak sepuluh tahun lalu, sementara dunia mengalami peningkatan sebesar 0,7 sejak ratusan tahun yang lalu.

3. Deskripsi Teknik Pemanfaatan Sumber Daya Air

Berikut ini adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam pemanfaatan Sumber Daya air, yaitu :

a. Metoda pengambilan sampel air untuk air minum b. Air permukan untuk keperluan air minum

c. Kualitas air untuk keperluan air minum d. Kualitas air untuk keperluan sektor perikanan e. Air payau

f. Air pencucian/ penggelontoran

(9)

h. Air tanah

i. Limbah air buangan

j. Kandungan nitrat yang berasal dari pertanian

Seluruh makhluk hidup di muka bumi membutuhkan air. Sejak awal kehidupan, mahluk hidup terutama manusia telah memanfaatkan air untuk kelangsungan hidupnya, bahkan mutlak dibutuhkan manusia. Seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan industri, kebutuhan manusia akan air cenedrung meningkat. Berikut adalah manfaat sumber daya air sebagai pendukung kehidupan.

a. Sumber bahan pangan. Manusia dan hewan dapat memperoleh sumber makanan dari perairan, seperti berbagai jenis ikan, rumput laut, kepiting, udang, kereang dan lainnya.

b. Prasarana lalulintas air antar pulau atau antarbenua. Wilayah yang didominasi oleh perairan sangat bergantung pada lalulintas air, seperti adanya sungai atau laut inilah hubungan antar wilayah dapat terjalin.

c. Fungsi energi seperti pembangkit tenaga. Pergerakan air pasang dan surut dapat menghasilkan energi listrik. Selain itu, arus laut dapat dimanfaatkan ebagai energi pendorong perahu secara alami.

d. Fungsi rekreasi. Kondisi pantai, danau, dan lau yang indah dan bersih difungsikan sebagai objek wisata.

e. Fungsi pengaturan iklim. Perbedaan sifat fisik air laut dan daeratan dapat memengaruh gereakan udara (angin). Hal ini selanjutnya memanaskan perairan dan mengakibatkan penguapan kemudian turun sebagai hujan.

f. Sebagai tempat usaha perikanan. Manusia memanfaatkan perairan sebagai usaha perikanan, seperti tambank udang, pengembangbiakan kerang mutiara dan sejenisnya.

g. Sumber mineral, seperti garam, kalium karbonat, dan sejenisnya

(10)

Penggunaan air tawar

Penggunaan air tawar dapat dikategorikan sebagai penggunaan konsumtif dan non-konsumtif. Air dikatakan digunakan secara konsumtif jika air tidak dengan segera tersedia lagi untuk penggunaan lainnya, misalnya irigasi (di mana penguapan dan penyerapan ke dalam tanah serta penyerapan oleh tanaman dan hewan ternak terjadi dalam jumlah yang cukup besar). Jika air yang digunakan tidak mengalami kehilangan serta dapat dikembalikan ke dalam sistem perairan permukaan (setelah diolah jika air berbentuk limbah), maka air dikatakan digunakan secara non-konsumtif dan dapat digunakan kembali untuk keperluan lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

a. Bidang Pertanian

Diperkirakan 69% penggunaan air di seluruh dunia untuk irigasi. Di beberapa wilayah irigasi dilakukan terhadap semua tanaman pertanian, sedangkan di wilayah lainnya irigasi hanya dilakukan untuk tanaman pertanian yang menguntungkan, atau untuk meningkatkan hasil. Berbagai metode irigasi melibatkan perhitungan antara hasil pertanian, konsumsi air, biaya produksi, penggunaan peralatan dan bangunan. Metode irigasi seperti irigasi beralur (furrow) dan sprinkler umumnya tidak terlalu mahal namun kurang efisien karena banyak air yang mengalami evaporasi, mengalir atau terserap ke area di bawah atau di luar wilayah akar. Metode irigasi lainnya seperti irigasi tetes, irigasi banjir, dan irigasi sistem sprinkler di mana sprinkler dioperasikan dekat dengan tanah, dikatakan lebih efisien dan meminimalisasikan aliran air dan penguapan meski lebih mahal. Setiap sistem yang tidak diatur dengan benar dapat menyia-nyiakan sumber daya air, sedangkan setiap metode memiliki potensi untuk efisiensi yang lebih tinggi pada kondisi tertentu di bawah pengaturan waktu dan manajemen yang tepat.

(11)

Air saat ini lebih banyak digunakan untuk pertanian dibandingkan lainnya. Air untuk pertanian mencapai 66% dari total penggunaan air manusia, sisanya 10% untuk keperluan domestik, 20% industri, dan 4% evaporasi. Kelangkaan air mempengaruhi keamanan dan ketahanan pangan serta angka harapan hidup manusia. Untuk mengurangi konsumsi air yang berlebihan, dapat diusahakan penghematan penggunaan air agar tidak terbuang percuma. Efisiensi Penggunaan Sumber daya air dapat dibagi menjadi berikut :

1) Efisiensi Penampungan: Bentuk dari efisiensi penampungan adalah adanya upaya untuk menampung air hujan yang datang baik secara alami maupun buatan melalui panen hujan dan aliran permukaan.

2) Efisiensi Penyimpanan: Efisiensi penyimpanan dapat berupa mengisi lekukan-lekukan pada permukaan tanah (depression storage) misalnya dalam waduk untuk aliran permukaan dan mengisi celah-celah dalam tanah untuk air tanah.

3) Efisiensi Penyaluran: Efisiensi penyaluran berupa efisiensi dalam hal untuk mengantisipasi adanya kebocoran pada pasokan air.

4) Efisiensi Pemanfaatan: Efisiensi pemanfaatan berupa penggunaan sumber daya air yang tepat guna dan dilakukan secara optimal.

Konservasi air tanah berarti upaya melindungi dan memelihara keberadaan, kondisi dan lingkungan air tanah guna mempertahankan kelestarian dan atau kesinambungan ketersediaan dalam kuantitas dan kualitas yang memadai demi kelangsungan fungsi dan pemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup, baik waktu sekarang maupun pada generasi yang akan datang.

b. Bidang Industri

(12)

Air juga digunakan untuk membangkitkan energi. Pembangkit listrik tenaga air mendapatkan listrik dari air yang menggerakkan turbin air yang dihubungkan dengan generator. Pembangkit listrik tenaga air adalah pembangkit listrik yang rendah biaya produksi, tidak menghasilkan polusi, dan dapat diperbarui. Energi ini pada dasarnya disuplai oleh matahari; matahari menguapkan air di permukaan, yang lalu mengalami pengembunan di udara, turun sebagai hujan, dan air hujan mensuplai air bagi sungai yang mengaliri pembangkit listrik tenaga air. Bendungan Three Gorges merupakan bendungan pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia.

Penggunaan industrial lainnya adalah turbin uap dan penukar panas, juga sebagai pelarut bahan kimia. Keluarnya air dari industri tanpa dilakukan pengolahan terlbih dahulu dapat disebut sebagai polusi. Polusi meliputi pelepasan larutan kimia (polusi kimia) atau pelepasan air sisa penukaran panas (polusi termal). Industri membutuhkan air murni untuk berbagai aplikasi dan menggunakan berbagai tehnik pemurnian untuk suplai air maupun limbahnya. c. Bidang Rumah tangga

Air minum yang umum berada di negara-negara maju diperkirakan 15% penggunaan air di seluruh dunia adalah di rumah tangga. Hal ini meliputi air minum, mandi, memasak, sanitasi, dan berkebun. Kebutuhan minimum air yang dibutuhkan dalam rumah tangga menurut Peter Gleick adalah sekitar 50 liter per individu per hari, belum termasuk kebutuhan berkebun. Air minum haruslah air yang berkualitas tinggi sehingga dapat langsung dikonsumsi tanpa risiko bahaya. Di sebagian besar negara-negara berkembang, air yang disuplai untuk rumah tangga dan industri adalah air minum standar meski dalam proporsi yang sangat kecil digunakan untuk dikonsumsi langsung atau pengolahan makanan. d. Bidang Rekreasi

(13)

sebagai kebutuhan rekreasional. Hal lainnya misalnya air yang ditampung dalam reservoir buatan (misalnya kolam renang).

Penggunaan rekreasional umumnya non-konsumtif, karena air yang dilepaskan dapat digunakan kembali. Pengecualian terdapat pada penggunaan air di lapangan golf, yang umumnya sering menggunakan air dalam jumlah berlebihan terutama di daerah kering. Namun masih belum jelas apakah penggunaan ini dikategorikan sebagai penggunaan rekreasional atau irigasi, namun tetap memberikan efek yang cukup besar bagi sumber daya air setempat. Sebagai tambahan, penggunaan rekreasional mungkin akan mengurangi ketersediaan air bagi kebutuhan lainnya di suatu tempat pada suatu waktu tertentu.

e. Lingkungan dan ekologi

Penggunaan bagi lingkungan dan ekologi secara eksplisit juga sangat kecil namun terus berkembang. Penggunaan air untuk lingkungan dan ekologi meliputi lahan basah buatan, danau buatan yang ditujukan untuk habitat alam liar, konservasi satwa ikan, dan pelepasan air dari reservoir untuk membantu ikan bertelur. Seperti penggunaan untuk rekreasi, penggunaan untuk lingkungan dan ekologi juga termasuk penggunaan non konsumtif, namun juga mengurangi ketersediaan air untuk kebutuhan lainnya di suatu tempat pada suatu waktu tertentu.

Konsep Konservasi Air

Konsep dasar konservasi air adalah jangan membang-buang sumberdaya air. Pada awalnya konservasi air diartikan sebagai menyimpan air dan menggunakannya untuk keperluan yang produktif di kemudian hari. Konsep ini disebut konservasi segi suplai. Perkembangan selanjutnya konservasi lebih mengarah kepada pengurangan dan pengefisienan penggunaan air dan dikenal sebagai konservasi sisi kebutuhan.

(14)

dan penggunaan-penggunaan rumah tangga lainnya. Konservasi air industri berarti pemakaian air sesedikit mungkin untuk menghasilkan suatu produk. Konservasi air pertanian pada dasarnya berarti penggunaan air sesdikit mungkin untuk menghasilkan hasil pertanian yang sebanyak-banyaknya.

Konservasi air dapat dilakukan dengan cara : 1). meningkatkan pemanfaatan air permukaan dan air tanah, 2). Meningkatkan efisiensi air irigasi dan 3) menjaga kualitas air sesuai dengan peruntukannya.

4. Dampak Pemanfaatan Sumber Daya Air

Secara umum masalah pengelolaan sumberdaya air dapat dilihat dari kelemahan mempertahankan sasaran manfaat pengelolaan sumberdaya air dalam hal pengendalian banjir dan penyediaan air baku bagi kegiatan domestik, municipal, dan industri.

Masalah pengendalian banjir sebagai bagian dari upaya pengelolaan pengelolaan sumberdaya air, sering mendapatkan hambatan karena adanya pemukiman padat di sepanjang sungai yang cenderung mengakibatkan terhambatnya aliran sungai karena banyaknya sampah domestik yang dibuang ke badan sungai sehingga mengakibatkan berkurangnya daya tampung sungai untuk mengalirkan air yang datang akibat curah hujan yang tinggi di daerah hulu.

Pada sisi lain penyediaan air baku yang dibutuhkan bagi kegiatan rumah tangga, perkotaan dan industri sering mendapatkan gangguan secara kuantitas – dalam arti terjadinya penurunan debit air baku akibat terjadinya pembukaan lahan-lahan baru bagi pemukiman baru di daerah hulu yang berakibat pada pengurangan luas catchment area sebagai sumber penyedia air baku. Disamping itu, secara kualitas penyediaan air baku sering tidak memenuhi standar karena adanya pencemaran air sungai oleh limbah rumah tangga, perkotaan, dan industri.

(15)

Menurut Bisri (2009) beberapa faktor yang berkaitan dengan permasalahan sumberdaya air di Indonesia, antara lain adalah :

a. Ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan dalam perspektif ruang dan waktu.

Indonesia yang terletak di darah tropis merupakan negara kelima terbesar di dunia dalam hal ketersediaan air. Namun, secara alamiah Indonesia menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan air karena distribusi yang tidak merata baik secara spasial maupun waktu, sehingga air yang dapat disediakan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan, baik dalam perspektif jumlah maupun mutu. Ketersediaan air yang sangat melimpah pada musim hujan, yang selain menimbulkan manfaat, pada saat yang sama juga menimbulkan potensi bahaya kemanusiaan berupa banjir. Sedangkan pada musim kemarau, kelangkaan air telah pula menimbulkan potensi bahaya kemanusiaan lainnya berupa kekeringan yang berkepanjangan.

b. Meningkatnya ancaman terhadap keberlanjutan daya dukung sumberdaya air, baik air permukaan maupun ait tanah.

Kerusakan lingkungan yang semakin luas akibat kerusakan hutan secara signifikan telah menyebabkan penurunan daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam menahan dan menyimpan air.

c. Menurunnya kemampuan penyediaan air

Berkembangnya daerah permukiman dan industri telah menurunkan area resapan air dan mengancam kapasitas lingkungan dalam menyediakan air. Pada sisi lain, kapasitas infrastruktur penampang air seperti waduk dan bendungan makin menurun sebagai akibat meningkatnya sedimentasi, sehingga menurunkan keandalan penyediaan air untuk irigasi maupun air baku.

d. Meningkatnya potensi konflik air

Meningkatnya persaingan penggunaan air dan penurunan efisiensi penggunaan air salah satunya disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dan kualitas kehidupan masyarakat, jumlah kebutuhan air baku bagi rumah tangga, permukiman, pertanian maupun industri juga semakin meningkat.

(16)

Belum atau tidak berfungsinya jaringan irigasi disebabkan antara lain oleh belum lengkapnya sistem jaringan, ketidaktersediaan air, belum siapnya lahan sawah, ketidaksiapan petani penggarap atau terjadinya mutasi lahan. Selain itu, pada jaringan irigasi yang berfungsi juga mengalami kerusakan terutama disebabkan oleh rendahnya kualitas operasi dan pemeliharaan.

f. Makin meluasnya abrasi pantai

Perubahan lingkungan dan abrasi pantai mengancam keberadaan pada aspek institusi, lemahnya koordinasi antar instansi dan antar daerah otonom telah menimbulkan pola pengelolaan sumberdaya air yang tidak efisien.

g. Rendahnya kualitas pengelolaan data dan sistem informasi.

Pengelolaan sumberdaya air belum di dukung oleh basis data dan sistem informasi yang memadai. Kualitas datadan informasi yang dimiliki belum memenuhi standar yang ditetapkan dan tersedia pada saat diperlukan.

h. Kerusakan prasarana sumberdaya air

Indonesia sebagai negara yang beriklim tropis dan berada di pertemuan beberapa lempeng daratan dunia mempunyai kerentanan terhadap banjir. Banjir, gempa, tsunami, tanah longsor dan bencana lainnya hampir setiap tahun selalu terjadi.

Kerusakan sumberdaya air di Indonesia terutama disebabkan oleh kegitan-kegiatan sektor atau peruntukan yang sal ing berbenturan akibat kurang adanya keterpaduan. Beberapa kerusakan yang dapat dilihat dari berbagai segi antara lain (Ibnu Kasiro, 1994):

a. Air Permukaan

Upaya peningkatan kualitas air permukaan diperlukan misalnya dengan pembangunan instalasi pengolahan air limbah indusrri sebelum air limbah masuk ke sungai atau sumber lainnya. Kerusakan sungai yang terbesar berupa degradasi dasar sungai (68,5%), agradasi (9%), gerusan lokal (18%), dan runtuhan tebing intensif (4,5%). Adapun penyebab kerusakan sungai sebagian besar adalah penggalian bahan galian C (40%), sedimen yang tertahan di hulu (19%), bangunan dan aliran lokal (28%), dan perubahan bentuk sungai (13%).

(17)

Menurunnya kualitas air, bahkan sudah mencapai tingkat pencemaran air sangat berpengaruh terhadap permukaan air sungai tersebut, yang terutama bersumber dari pembuangan lumbah industri dan rumah tangga.

Aliran sungai menunjukkan fluktuasi yang besar, yaitu banjir yang besar pada mus-im penghujan dan debit yang kecil pada musim kemarau, bahkan cenderung kering, sehingga secara umum kesinambungan aliran sungai terganggu.

b. Air Tanah

Sebagai akibat penurapan air tanah yang tidak terkendali, sedangkan di sisi lain cadangan air tanah tetap (bahkan cenderung untuk menurun), maka terjadi penurunan muka air tanah yang terus berlanjut. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar yang sedang dan terus berkembang, seperti Bandung dan Yogyakarta. Di kota-kota besar di daerah pantai, tidak hanya terjadi penurunan muka air tanah, namun terjadi pula penyusupan laut hingga menyebabkan berasa payau atau asin. Peruntukan air tanah menjadi terbatas, karena Jcualitasnya yang jelek. Penyusupan air asin sudah teramati di Medan, Cilegon, Jakarta, Semarang, dan Denpasar. Tidak tertutup kemungkinan bahwa penyusupan air asin masih akan berlanjut ke kota-kota lain di Indonesia.

Penurunan muka air tanah dapat berdampak lanjutan berupa menurunnya muka tanah (amblesan). Di Bangkok dan Jakarta, bahkan di Semarang kasus semacam ini sudah terjadi, sehingga bangunan/gedung bertingkat terancam, dan daerah tertentu terjadi genangan banjir akibat air laut masuk ke daerah-daerah yang mengalami penurunan muka tanah.

c. Pantai dan Muara

(18)

maka keberadaan manusia di kawasan pantai akan menjadi penyebab rusaknya lingkungan di kawasan itu.

Berbagai kerusakan pantai di Indonesia pada umumnya disebabkan oleh kegiatan manusia dan pembangunan seperti diuraikan ini:

1) Interaksi antara berbagai aktivitas pembangunan dan kepentingan yang berbeda.

2) Modifikasi proses pantai. 3) Pencemaran air laut.

4) Kerusakan daerah aliran sungai (DAS). Pencemaran Sumberdaya Air

(19)
(20)

B. SUMBERDAYA LAHAN

1. Dasar Teori

Pembangunan dan perkembangan suatu daerah tidak akan terlepas dari sumberdaya yang dimiliki oleh daerah itu sendiri. Smberdaya tersebut diantaranya yaitu sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya binaan. Sumberdaya alam sendiri terbagi menjadi sumberdaya air, sumberdaya tanah, sumberdaya hutan dan sumberdaya mineral.

Dalam hal ini, sumberdaya lahan termasuk kedalam sumberdaya alam yang menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan pembangunan dan pengembangan suatu daerah. Sumberdaya lahan mencakup semua karakteristik dan proses-proses serta fenomena-fenomena lahan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Salah satu tipe penggunaan lahan yang penting ialah penggunaan sumberdaya lahan dalam tipe-tipe pemanfaatan lahan (land utilization type) pertanian untuk mendapatkan hasil-hasil pertanian dan ternak (Hardjowigeno, 1985). Untuk itu diperlukan suatu tindakan evaluasi lahan untuk mengetahui kapasitas, kesesuaian lahan serta kemampuan lahan agar perencanaan pembangunan dan pengembangan suatu daerah dapat berjalan berkesinambungan.

(21)

pada hakekatnya merupakan sekelompok unsur-unsur lahan (complex attributes) yang menentukan tingkat kemampuan dan kesesuaian lahan (FAO, 1976). Selain itu, lahan juga memiliki arti ruang atau tempat. Sehingga kata lahan bisa disetarakan maknanya dengan kata land. (Arsyad, 1989)

Sumberdaya lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia karena diperlukan dalam setiap kegiatan manusia, seperti untuk pertanian, daerah industri, daerah pemukiman, jalan untuk transportasi, daerah rekreasi atau daerah-daerah yang dipelihara kondisi alamnya untuk tujuan ilmiah. Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkunganfisik terdiri dari iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda yang ada diatasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaanlahan. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada diatas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather,1986).

(22)

2. Deskripsi Sumber Daya Dan Kondisi Geologi Lahan Pengertian Lahan

Istilah lahan digunakan berkenaan dengan permukaan bumi beserta segenap karakteristik-karakteristik yang ada padanya dan penting bagi perikehidupan manusia (Christian dan Stewart, 1968). Secara lebih rinci, istilah lahan atau land dapat didefinisikan sebagai suatu wilayah di permukaan bumi, mencakup semua komponen biosfer yang dapat dianggap tetap atau bersifat siklis yang berada di atas dan di bawah wilayah tersebut, termasuk atmosfer, tanah, batuan induk, relief, hidrologi, tumbuhan dan hewan, serta segala akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia di masa lalu dan sekarang; yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap penggunaan lahan oleh manusia pada saat sekarang dan di masa mendatang(Brinkman dan Smyth, 1973; dan FAO, 1976). Lahan dapat dipandang sebagai suatu sistem yang tersusun atas (i) komponen struktural yang sering disebut karakteristik lahan, dan (ii) komponen fungsional yang sering disebut kualitas lahan. Kualitas lahan ini pada hakekatnya merupakan sekelompok unsur-unsur lahan (complex attributes) yang menentukan tingkat kemampuan dan kesesuaian lahan (FAO, 1976). Lahan sebagai suatu "sistem" mempunyai komponen- komponen yang terorganisir secara spesifik dan perilakunya menuju kepada sasaran-sasaran tertentu.

Komponen – Komponen Lahan

(23)

Faktor-faktor ini hingga batas tertentu mempengaruhi potensi dan kemampuan lahan untuk mendukung suatu tipe penggunaan tertentu.

Kondisi geologi lahanBencana Geologi

Bencana geologi adalah bencana alam yang terjadi sebaga akibat proses alamiah yang menimpa yang berada di wilayah tersebut sehingga menimbulkan kerugian, baik kerugian material berupa harta benda ataupun korban jiwa. Bencana geologi dapat menimpa manusia karena kurang pedulinya manusia dalam memahami sifat-sifat dan karakter dari kondisi geologi setempat.

Potensi bencana geologi yang terdapat di suatu lahan/wilayah sangat ditentukan oleh kondisi geologi yang menempati lahan/wilayah tersebut. Lahan yang berada di areal dataran dan berdekatan dengan bantaran suangi atau muara sungai akan berpotensi karena bencana banjir, sedangkan lahan yang berada di pegunungan akan berpotensi terhadap bencana longsoran dan erosi.

Disamping itu kondisi geologi seperti jenis batuan, struktur geologi, dan patahan aktif serta seismisitas akan berpengaruh terhadap kemungkinan bencana geologi. Faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi potensi bencana geologi adalah tutupan lahan, pemanfaatan lahan dan eksloitasi lahan yang melebihi daya dukung suatu lahan.

3. Teknik Pemanfaatan Sumberdaya Lahan

Tipe - Tipe Penggunaan Dan Pemanfaatan LahanPenggunaan Lahan

(24)

aktivitas pertanian, penggunaan lahan tergantung pada kelas kemampuan lahan yang dicirikan oleh adanya perbedaan pada sifat-sifat yang menjadi penghambat bagi penggunaannya seperti tekstur tanah, lereng permukaan tanah, kemampuan menahan air dan tingkat erosi yang telah terjadi. Penggunaan lahan juga tergantung pada lokasi, khususnya untuk daerah-daerah pemukiman, lokasi industri, maupun untuk daerah-daerah rekreasi (Suparmoko, 1995). Menurut Barlowe (1986) faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan adalah faktor fisik dan biologis, faktor pertimbangan ekonomi dan faktor institusi (kelembagaan). Faktor fisik dan biologis mencakup kesesuaian dari sifat fisik seperti keadaan geologi, tanah, air, iklim, tumbuh-tumbuhan, hewan dan kependudukan. Faktor pertimbangan ekonomi dicirikan oleh keuntungan, keadaan pasar dan transportasi. Faktor institusi dicirikan oleh hukum pertanahan, keadaan politik, keadaan sosial dan secara administrasi dapat dilaksanakan.

Tipe penggunaan lahan ("major kind of land use") adalah golongan utama dari penggunaan lahan pedesaan, seperti lahan pertanian tadah hujan, lahan pertanian irigasi, lahan hutan, atau lahan untuk rekreasi. Tipe pemanfaatan lahan ("land utilization type, LUT") adalah suatu macam penggunaan lahan yang didefinisikan secara lebih rinci dan detail dibandingkan dengan tipe penggunaan lahan. Suatu LUT terdiri atas seperangkat spesifikasi teknis dalam konteks tatanan fisik, ekonomi dan sosial yang tertentu. Beberapa atribut utama dari LUT adalah:

1. Produk, termasuk barang (tanaman, ternak, kayu), jasa (misalnya. fasilitas rekreasi), atau benefit lain (misalnya cagar alam, suaka alam)

2. Orientasi pasar, subsisten atau komersial 3. Intensitas penggunaan kapital

4. Intensitas penggunaan tenagakerja

5. Sumber tenaga (manusia, ternak, mesin dengan menggu nakan bahan bakar tertentu)

6. Pengetahuan teknis dan perilaku pengguna lahan

(25)

8. Infrastruktur penunjang

9. Penguasaan dan pemilikan lahan 10. Tingkat pendapatan.

1. Ketinggian / Elevasi

Ketinggian suatu lahan diukur atau dihitung dari tinggi muka air laut rata-rata yaitu hingga rata-rata tinggi muka air laut pasang dan muka air laut surut. Pasang surut air laut sangat bervariasi yang sangat ditentukan oleh letak atau posisi dimana letak lahan tersebut. Sebagai Contoh, pasang surut air laut didaerah merauke, papua bias mencapai puluhan kilometer kea rah daratan, sedangkan dipulau jawa pasang-surut air laut mencapai beberapa meter hingga ratusan meter kearah daratan. Berdasarkan lokasinya, lahan dapat di kelompokkan kedalam lahan pasang surut, lahan pantai, lahan basah, lahan kering, lahan dataran rendah,lahan dataran tinggi, lahan perbukitan, lahan pegunungan.

2. Kelerengan

Permukaan bumi pada kenyataannya tidaklah berbentuk dataran, akan tetapi ada daerah-daerah di permukaan bumi yang berbentuk bukit-bukit, lembah/ ngarai, dataran dan lautan.

Tabel Kelas Lereng dan Kesesuaian Lahan

Kelerengan(%) Bentang Alam Sifat-sifat dan kesesuain Lahan 0-50 (0-3%) Datar Cocok Untuk pengembangan

pemukiman dan pertanian. Sebagian wilayah dapat berpotensi terhadap bencana banjir dan drainase yang buruk. 5-150 (3-9%) Landai Kurang sesuai untuk lapangan

terbang baik untuk industry berat. Irigasi terbatas tetapi baik untuk dry farming, drainase baik untuk pembangunan pemukiman. 15-300

(9 – 17 %)

Bergelomban g

(26)

cocok untuk areal industry ringan, bangunan rendah atau apartemen, kompleks pemukiman dan fasilitas rekreasi.

30-500

( 17-27 %)

Terjal Cocok untuk areal rekreasi, tempat peristirahatan, buffer tanaman hutan atau padang rumput.

>50% Sangat Terjal Daerah yang sesuai untuk tempat tinggal binatang buas, hutan dan padang rumput yang terbatas.

3. Jenis Batuan

Jenis Batuan yang menempati suatu lahan sangat ditentukan oleh kondis geologidimana lahan tersebut berada. Suatu lahan dapat berisi berbagai jenis Batuan, baik batuan beku, sedimen, serta batuan metamorf atau batuan vulkanik serta material rombakan dari batuan-batuan yang ada dipermukaan bumi. Sebagai contoh, wilyah DKI. Jakarta secara umum didominasi oleh endapan gunung api dan alluvial sungai, sedangkan wilayah kota bogor, didominasi oleh batuan endapan gunung berapi. Jenis-jenis batuan yang terdapat dalam lahan tersebut sangat menentukan potensi sumber daya geologi yang terdapat dalam lahan tersebut. Suatu lahan dapat memiliki sumber daya alam yang besar ( Sunber daya air, bahan galian, mineral industry, sumber daya energy, dll) apabila didalam lahan tersebut terdapat berbagai jenis sumber daya geologi yang dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan umat manusia. Suatu lahan dapat juga tidak memiliki sumber daya geologi yang memadai bagi kebutuhan manusia yang ada didalamnya.

(27)

Pada hakekatnya tanah merupakan hasil pelapukan batuan yang ada permukaan bumi, Oleh karena itu jenis-jenis tanah yang ada dipermukaan bumi sangat berkaitan erat dengan komposisi kimia-mineral batuan dasarnya. Berbagai macam jenis tanah seperti laterit, andosol, latosol, alluvial, podsolik adalah jenis-jenis tanah hasil pelapukan dari jenis-jenis batuan tertentu. Jenis-jenis tanah ayang menempati suatu lahan sangat menentukan tanaman apa saja yang dapat tumbuh diatasnya, oleh karena itu potensi suatu lahan terhadap peruntukannya sangat ditentukan oleh jenis tanah yang menempati lahan tersebut. Daya dukung lahan untuk bangunan di tentukan oleh sifat-sifat keteknikan dari tanah dan batuan terhadap daya dukung bangunan, seperti kuat tekan, plastisitas, mekanika tanah dan batuan.

5. Tutupan Lahan

Tutupan lahan adalah segala jenis vegetasi maupun hasil budidaya manusia yang menempti suatu lahan. Suatu lahan dapat ditempatioleh berbagai jenis vegetssi seperti hutan, semak belukar, kebun, sawah, tegalan, pemukiman, (Kota, kampong), bangunan ( Jalan, rel kereta api, Bendungan, Saluran irigasi dsb).

6. Hidrologi

Hidrologi yang ada disuatu lahanakanberpengaruh terhadap potensisumber daya tersebut. Sumber daya air yang terdapat disuatu kahan dapatberasal darisumber curah hujan, mata air, air run off(sunga), air bawah tanah (deep and shallow water), danau, dan air rawa. Potensi sumberdaya air disuatu lahan dapat ditentukan berdasarkan rumus hidrologi air, yaitu input-output. Ketersediana sumberdaya air untuk memenuhi kebutuhan, baik manusia maupun flora dan fauna yang berada di dalam lahan tersebut sangatlah vital. Daya dukung suatu lahan terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan sumberdaya air, baik bagi manusia serta semua makluk hidup yang ada diatasnya sangatlah terbatas. Keterbatasan dayadukung suatu lahan untuk selalu peruntukan tertentu harus diperhitungkan dengan sebaik-baiknya, karena kemampuan lahan yang ada batasnya.

(28)

Flora dan fauna yang terdapat didalam suatu lahan merupakan bagian yang tak tarpisahkan dari sumberdaya yang dimilki oleh lahan tersebut. Berbagai jenis binatang serta tumbuhan yang hidup secara alamia di dalam lahan merupakan sumberdaya dari suatu lahan. Oleh karena itu peruntukan suatu lahan untuk kepentingan tertentu haruslah dipertimbangkan aspek ekologi yang ada di dalam lahan tersebut serta untuk menjaga kelestarian fauna dan flora yang terdapat di dalamnya.

8. Iklim dan Posisi Geografis

Posisi geografis suatu lahan sangat menentukan kondisi iklim yang ada di dalam lahan tersebut. Secara geografis suatu lahan dapat berada di tepi pantai, di pegunungan, di dataran tinggi, di gurun pasir atau suatu lahan dapat berada di wilayah tropis, sub tropis, arid, semi arid, dan di kutub.

Ketinggian/elevasi suatu juga mempengaruhi kondisi iklim suatu lahan, lahan yang secara geografis terletak pada posisi geografis yang sama, akan tetapi ketinggian/elevasi berbeda akan berbeda pula kondisi klimatologinya. Oleh karena itu letak ketinggian dan posisi geografis suatu lahan sangat menentukan kondisi iklim yang ada di lahan tersebut. Seperti temperatur rata-rata, curah hujan rata-rata, presipitasi, kelembaban, angin dan arah angin, kabut, awan dan sebagainya.

Perubahan Penggunaan Lahan

Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu berikutnya, atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda. (Wahyunto et al.,2001).

Perubahan penggunaan lahan dalam pelaksanaan pembangunan tidak dapat dihindari. Perubahan tersebut terjadi karena dua hal, pertama adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat jumlahnya dan kedua berkaitan dengan meningkatnya tuntutan akan mutu kehidupanyang lebih baik.

(29)

oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. Menurut McNeilletal., (1998) faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik, ekonomi, demografi dan budaya. Aspekpolitik adalah adanya kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi terhadap pola perubahan penggunaanlahan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3 yang menjelaskan skenario perubahan penggunaan lahan.

(30)

Menurut Adjest (2000) dinegara Afrika Timur, sebanyak 70% populasi penduduk menempati 10% wilayah yang mengalami perubahan penggunaan lahan selama 30 tahun. Pola perubahan penggunaan lahan ini disebabkan karena pertumbuhan penduduk, kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dan transmigrasi serta faktor sosial ekonomi lainnya. Akibatnya, lahan basah yang sangat penting dalam fungsi hidrologis dan ekologis semakin berkurang yang pada akhirnya meningkatkan peningkatan erosi tanah dan kerusakan lingkungan lainnya. Konsekuensi lainnya adalah berpengaruh terhadap ketahanan pangan yang berimplikasi semakin banyaknya penduduk yang miskin.

(31)

alam yang ada.

(32)

C. SUMBER DAYA MINERAL

Pendahuluan

Tidak dapat dipungkiri, sumberdaya mineral sebagai salah satu sumberdaya alam, merupakan sumber yang sangat penting dalam menopang perekonomian Indonesia. Bahkan beberapa jenis mineral, yakni minyak dan gas bumi, pernah menjadi soko guru perekonomian Pemerintah. Dalam skala global, mineral – khususnya penghasil energi utama; bahkan berperan strategis dalam menentukan peta perpolitikan dunia. Sementara mineral dalam bentuk logam mulia emas juga memiliki posisi penting dalam perekonomian dunia.

Dalam perkembangan peradaban umat manusia, mineral logam telah membuat manusia selangkah lebih maju melewati peradaban zaman batu. Sejalan dengan kemajuan teknologi, semakin banyak pula mineral yang dieksploitasi demi memenuhi berbagai macam kebutuhan manusia. Jadi secara singkatnya dapat dikatakan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari peranan berbagai macam sumberdaya mineral.

Namun sayangnya sumberdaya mineral adalah sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui lagi, pada suatu saat sumberdaya tersebut tidak akan ada lagi di bumi jika terus-menerus digunakan. Selain itu sumberdaya mineral juga memiliki nilai berbeda diwaktu yang berbeda, serta rentan dipengaruhi oleh isu-isu global dunia. Disinilah pentingnya kebijaksanaan pemerintah dalam mengelola sumberdaya mineral dengan cara memahami seutuhnya karakteristik dan potensi sumberdaya mineral di Indonesia guna kemajuan dan kemakmuran bangsa. Lebih dari itu menjadi sangat penting untuk dapat memahami secara baik tentang sumber daya mineral.

Sumberdaya mineral adalah sumberdaya yang diperolehdari hasil ekstraksi batuan atau pelapukan batuan (tanah).

Berdasarkan jenisnya sumberdaya mineral dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1. Sumberdaya mineral logam. Contohnya : tembaga, besi, nikel, emas, perak, dan timah

2. Sumberdaya mineral nonlogam. Contohnya : kuarsa(silica), muskovit (mika), batu pasir, bentonit dan lempung.

(33)

mempertahankan diri dan berburu, seperti pedang, tombak, panah dan sebagainya. Kemudian pada zaman revolusi industry, kebutuhan bahan mineral semakin meningkat karena manfaat dari berbagai jenis mineral tersebut, misalnya untuk keperluan untuk membuat mesin-mesin industry, alat transportasi, alat komunikasi, dan alat-alat rumah tangga.

1. Dasar Teori

Mineral adalah senyawa alami yang terbentuk melalui proses geologis. Istilah mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimia tetapi juga struktur mineral. Mineral termasuk dalam komposisi unsur murni dan garam sederhana sampai silikat yang sangat kompleks dengan ribuan bentuk yang diketahui (senyawaan organik biasanya tidak termasuk). Mineral ialah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.

Benda padat homogen artinya bahwa mineral itu hanya terdiri satu fase padat, hanya satu macam material, yang tidak dapat diuraikan menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana oleh suatu proses fisika.

Terbentuk secara anorganik artinya benda-benda padat homogen yang dihasilkan oleh binatang dan tumbuh-tumbuhan tidak termasuk, maka dari itu kulit tiram (dan mutiara didalamnya), meskipun terdiri dari calcium carbonat yang tidak dapat dibedakan secara kimia maupun fisika dari mineral aragonit, tidak dianggap sebagai mineral. Selain dari definisi ini adapula definisi lain yang diberikan oleh beberapa ahli seperti:

a. Menurut L. G. Berry dan B. Mason 1959

Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam dan terbentuk secara anorganik dengan komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.

b. Menurut D. G. A. Whitten dan J. R. V. Brooks 1972

Mineral adalah bahan padat dengan struktur homogen mempunyai komposisi kimia tertentu dan dibentuk oleh proses alam yang anorganik.

c. Menurut A. W. R. Potter dan H. Robinson 1977

(34)

d. Menurut Kraus, dkk. 1977

Mineral adalah suatu zat yang terdapat dalam alam dengan komposisi kimia yang khas dan biasanya mempunyai struktur kristal yang jelas, yang kadang-kadang dapat menjelma dalam bentuk geometris tertentu.

Setiap jenis mineral tidak saja terdiri dari unsur-unsur tertentu, tetapi juga mempunyai bentuk tertentu yang di sebut bentuk kristal. Batasan - batasan definisi mineral :

a. Suatu bahan alam, artinya terbentuk secara alamiah, bukan dibuat oleh manusia.

b. Mempunyai sifat fisik dan sifat kimia yang tetap. Dimana sifat fisik ini mencakup: warna, kekerasan, belahan, perawakan, pecahan, dan lain sebagainya. Sedangkan sifat kimia mencakup: nyata api terhadap api oksidasi atau api reduksi, dan lain sebagainya.

c. Berupa unsur tunggal atau persenyawaan yang tetap. Beberapa contoh unsur tunggal antara lain: diamond (C), native silver (Ag), dan lain-lain. Sedangkan unsur senyawa diantaranya berupa: Barit (BaSO4), magnetit (Fe3O4), zircon

(ZrSiO4), dan lain-lain.

d. Umumnya bersifat anorganik, dimana mineral bukan hasil dari suatu kehidupan.

e. Homogen, artinya mineral tidak dapat diuraikan menjadi senyawa lain yang lebih sederhana.

f. Berupa padat, cair, dan gas.

Ilmu yang mempelajari mineral disebut mineralogi. Mineralogi merupakan suatu cabang ilmu geologi yang mempelajari mengenai mineral, baik dalam bentuk individu maupun dalam bentuk kesatuan, antara lain sifat-sifat fisik, sifat-sifat kimia, keterdapatannya, cara terjadinya, dan kegunaannya.

2. Deskripsi Sumber Daya dan Kondisi Geologi Deskripsi Sumber Daya Mineral

(35)

a. Warna (Colour)

Warna adalah kesan mineral jika terkena cahaya. Bila suatu permukaan mineral dikenai suatu cahaya, maka cahaya yang mengenai permukaan mineral tersebut sebagian akan diserap (absorpsi) dan sebagian akan dipantulkan (refleksi). Warna ini penting untuk membedakan antara warna yang disebabkan oleh campuran atau pengotor dan warna asli elemen-elemen utama pada mineral tersebut. Warna mineral dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1) Idiokromatik; yaitu warna mineral yang selalu tetap. Umumnya dijumpai pada mineral-mineral yang tidak tembus cahaya (opak), seperti galena, magnetit = hitam, pirit = kuning loyang, belerang = kuning, azurit = biru dan lain sebagainya.

2) Allochromatic; Yaitu warna mineral yang tidak tetap, tergantung dari material pengotornya. Umumnya terdapat pada mineral-mineral yang tembus cahaya, seperti kuarsa, kalsit,dan lain sebagainya. Contohnya : halite warnanya dapat berubah-ubah menjadi abu-abu, biru bervariasi, kuning, coklat gelap, dan merah muda. Juga kuarsa yang tak berwarna, tetapi karena ada campuran atau pengotor maka warna berubah-ubah menjadi violet (amethyst), merah muda, ataupun coklat hitam.

Tapi ada pula warna yang ditentukan oleh kehadiran sekelompok ion asing yang dapat memberikan warna tertentu pada mineral, yang disebut dengan nama chomophores. Contoh : ion-ion Cu yang karena proses hidrasi merupakan chromophores dalam mineral Cu sekunder, maka akan memberikan warna hijau dan biru.

(36)

b. Perawakan Kristal (crystal habit)

Apabila dalam pertumbuhan suatu mineral tidak mengalami gangguan apapun, maka mineral tersebut akan mempunyai bentuk kristal yang sempurna. Tetapi bentuk yang sempurna ini jarang sekali kita dapatkan karena gangguan tersebut di alam selalu ada. Mineral di alam yang dijumpai sering pula bentuknya tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga sulit untuk mengelompokkannya ke dalam sistem kristal.sebagai gantinya dipakai istilah perawakan kristal. Perawakan kristal merupakan bentuk khas mineral yang ditentukan oleh bidang yang membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran relatif bidang-bidang tersebut. Menurut Pearl (1975), perawakan mineral dibedakan menjadi 3 golongan besar, yaitu:

1) Elongated Habits 2) Flattened Habits 3) Rounded Habits

c. Kilap (Luster)

Kilap adalah kesan mineral akibat pantulan cahaya yang dikenakan padanya. Kilap merupakan sifat optis dari mineral yang rapat hubungannya dengan refleksi dan refraksi. Intensitas dari kilap sebenarnya tergantung kuantitas cahaya pantul dan pada umumnya tergantung pada besarnya indeks refraksi mineral. Macam – macam kilap :

1) Kilap Logam (metalic luster)

Kilap metalic merupakan kilap yang dipancarkan dari suatu logam yang padat. Kilap logam memberikan kesan seperti logam bila terkena cahaya. Mineral-mineral opak dalam fragmen - fragmen yang tipis dan mempunyai indeks refaksi (n = 3) atau lebihpada umumnya mempunyai kilap logam. Misalnya : emas, pirit, kalkopirit, galena, sulfida, logam alam.

(37)

2) Kilap Sub Metalik (sub-metalic luster)

Kilap sub metalik terdapat pada mineral - mineral semi opak sampai opak dan mempunyai indeks refraksi (n = 2,6 dan 3). Contoh : mineral cuprit, cinabar, hematit, alabandit

Alabandite Cinnabar 3) Kilap Bukan Logam (non metalic luster)

Kilap bukan logam tidak memberikan kesan logam jika terkena cahaya. Kilap bukan logam biasanya terlihat pada mineral-mineral yang mempunyai warna-warna muda dan dapat melukiskan cahaya pada bagian-bagian yang tipis.

Kilap bukan logam dapat dibedakan menjadi : 1. Kilap Kaca (vitreous luster)

2. Kilap Intan (adamantine luster) 3. Kilap Damar (resinous luster) 4. Kilap Lemak (greasy luster) 5. Kilap Sutera (silky luster) 6. Kilap Mutiara (pearly luster) 7. Kilap Tanah (earthy luster) 8. Kilap Lilin (waxy luster) d. Kekerasan (Hardness)

(38)

Kekerasan Mineral Keterangan 1 Talc Mg3Si4O10(OH)2 Tergores kuku

2 Gypsum CaSO4-2H2O Tergores kuku, kekerasan kuku-kuku

3 Calcite CaCO3 Tergores pecahan botol, atau pisau

4 Fluorite CaF2 Tergores pecahan botol, atau pisau

5 Apatite Ca5(PO4)3(OH,Cl,F) Tergores dengan sukar oleh pisau

6 Orthoclase KAlSi3O8 Tergores pisau atau pecahan botol

7 Quartz SiO2 Tergores pisau

8 Topaz Al2SiO4(OH,F)2 Tergores pisau

9 Corundum Al2O3 Tergores pisau

10 Diamond C (pure carbon) Tergores pisau

e. Gores (Streak)

Gores atau cerat adalah warna mineral dalam bentuk bubuk. Cerat dapat sama atau berbeda dengan warna mineral. Umumnya warna cerat tetap. Gores ini di pertanggungjawabkan karena stabil dan penting untuk membedakan 2 mineral yang warnanya sama tetapi goresnya berbeda. Gores ini di peroleh dengan cara mengoreskan mineral pada permukaan keeping porselin, tetapi apabila mineral mempunyai kekerasan lebih dari 6, maka dapat di cari mineral yang berwarna terang biasanya mempunyai gores berwarna putih.

Contoh : Kuarsa = putih / tak berwarna Gypsum = putih / tak berwarna Calcite = tak bertwarna

Mineral bukan logam dan berwarna gelap akan memberikan gores yang lebih terang dari pada warna mineralnya sendiri. Mineral yang mempunyai kilap metallic kadang-kadang mempunyai warna gpoes yang lebih gelap dari warna mineralnya sendiri. Mineral-mineral oksida, sulfida, karbonat, dan phospat, arsenat, sulfat juga mempunyai goresan yang karakteristik. Untuk mineral-mineral transparan dan translusent mempunyai kilap bukan logam mempunyai gores lebih terang dari warnanya, sedangkan mineral-mineral dengan kilap logam kerap kali mempunyai gores yang lebih gelap dari warnanya. Ada beberapa mineral warna dan gores sering menunjukan warna yang sama.

f. Belahan (Cleavage)

(39)

licin. Tidak semua mineral mempunyai sifat ini, sehingga dipakai istilah mudah dibelah, sukar dibelah, atau tidak dapat dibelah. Bidang belahan umumnya sejajar dengan bidang tertentu dari mineral tersebut. Belahan dapat di bedakan menjadi:

1) Sempurna (perfect), yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang merupakan bidang yang rata dan sukar pecah selain melalui bidang belahannya. Contoh : calcite, muscovite, galena, halite 2) Baik (good), yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang

belahannya yang rata, tetapi dapat juga terbelah tidak melalui bidang belahannya. Contoh : feldspar, hyperstene, diopsite, augite, rhodonite 3) Jelas (distinct), yaitu apabila bidang belahan mineral dapat terlihat jelas,

tetapi mineral tersebut sukar membelah melalui bidang belahannya dan tidak rata. Contoh : staurolite, scapolite, hornblende, anglesite, feldspar, scheelite

4) Tidak Jelas (indistinct), yaitu apabila arah belahannya masih terlihat, tetapi kemungkinan untuk membentuk belahan dan pecahan sama besar. Contoh : beryl, corundum, platina, gold, magnetite

5) Tidak Sempurna (imperfect), yaitu apabila mineral sudah tidak terlihat arah belahannya, dan mineral akan pecah dengan permukaan yang tidak rata. Contoh : apatite, cassiterite, native sulphur

g. Pecahan (Fracture)

Pecahan adalah kemampuan mineral untuk pecah melalui bidang yang tidak rata dan tidak teratur. Mineral yang mendapat tekanan dan melampaui batas plastisitasnya, jika tidak terbelah secara teratur, maka mineral akan pecah dengan arah yang tidak teratur. Pecahan dapat dibedakan menjadi :

1) Pecahan konkoidal (Choncoidal), yaitu pecahan yang memperlihatkan gelombang yang melengkung di permukaan. Bentuknya menyerupai pecahan botol atau kulit bawang. Contoh : kuarsa, cerrusite, anglesite, obsidian, rutile, zincite.

2) Pecahan berserat/fibrus (Splintery), yaitu pecahan mineral yang hancur menjadi kecil-kecil dan tajam menyerupai benang atau berserabut. Contoh : flourite, anhydrite, antigorite.

(40)

mempunytai pecahan uneven. Contoh : garnet, hematite, chalcopyrite, rutile.

4) Pecahan rata (Even), yaitu pecahan mineral dengan permukaan bidang pecah kecil-kecil dengan ujung pecahan masih mendekati bidang datar. Contoh : muscovite, talc, biotite, mineral lempung.

5) Pecahan Runcing (Hacly), yaitu pecahan mineral yang permukaannya tidak teratur, kasar, dan ujungnya runcing-runcing. Contoh : copper, platinum, silver, gold.

6) Pecahan tanah (Earthy), yaitu pecahan mineral yang hancur seperti tanah. Contoh: kaolin, muscovite, biotite, talc.

h. Daya Tahan Terhadap Pukulan (Tenacity)

Tenacity adalah suatu reksi atau daya tahan mineral terhadap gaya yang mengenainya, seperti penekanan, pemecahan, pembengkokan, pematahan, pemukulan, penghancuran, dan pemotongan. Tenacity dapat dibagi menjadi:

1) Brittle (Rapuh), yaitu apabila suatu mineral dipukul dan mudah hancur menjadi partikel-partikel yang kecil, sehingga akan meninggalkan serbuk yang halus. Sebagian besar mineral memiliki sifat brittle (mudah remuk dan hancur). Contoh: calcite, kuarsa, marcasite, hematite.

2) Sectile (Dapat Diiris), yaitu apabila mineral mudah dipotong dengan pisau dengan tidak berkurang menjadi tepung. Contoh : gypsum, cerargyte. 3) Ductile (Dapat Dipintal), yaitu apabila mineral dapat ditarik dan diulur

seperti kawat. Bila ditarik akan menjadi panjang, dan apabila dilepaskan akan kembali seperti semula. Contoh : silver, copper, olivine, cerargyte. 4) Malleable (Dapat Ditempa), yaitu apabila mineral ditempa dengan palu

akan menjadi pipih. Contoh : gold, copper, dan silver.

5) Elastic (Lentur), yaitu apabila mineral dapat merenggang bila ditarik, dan akan kembali seperti semula bila dilepaskan. Contoh : muscovite, hematite tipis.

6) Flexible, yaitu apabila mineral dapat dilengkungkan kemana-mana dengan mudah. Contoh : talc, gypsum, mica.

i. Berat Jenis (Specific Gravity)

(41)

BJ= BERAT MINERAL VOLUME MINERAL

Dalam penentuan berat jenis dipergunakan alat-alat seperti : a. Piknometer

b. Timbangan analitik, dan c. Gelas ukur.

j. Bau dan rasa (Taste and Odor)

Disamping dari sifat-sifat yang telah dibahas di atas, beberapa mineral mempunyai rasa dan bau.

k. Sifat kemagnetan

Sifat kemagnetan yang perlu dicatat dalam praktikum mineral fisik adalah sifat dari mineral yang diselidiki, apakah feromagnetik, paramagnetik, atau diamagnetik.

1) Feromagnetik, yaitu mineral yang mempunyai daya tarik yang sangat kuat terhadap magnet. Jika dibalik, mineral tersebutpun tidak akan terlepas dari magnet.

2) Paramagnetik (magnetik), yaitu mineral tersebut mempunyai daya tarik terhadap magnet, tetapi lemah dan tidak keras seperti feromagnetik. Jika dibalik, mineral tersebut akan terlepas dari magnet.

3) Diamagnetik (non-magnetik), yaitu mineral tersebut mempunyai daya tolak terhadap magnet.

l. Derajat Ketransparanan

Sifat Transparan dari suatu mineral tergantung pada kemampuan mineral tersebut mentransmit sinar cahaya (berkas sinar).

Kondisi Geologi

(42)

akan berasosiasi dengan batuan beku intermdiet seperti andesit dan diorite sedangkan minyak bumi terbentuk dalam batuan sedimenter. Oleh karena kondisi geologi setiap Negara tidak selalu sama, maka keterdapatan dan penyebaran sumberdaya mineral juga tidak merata di setiap Negara.

Sebagaimana diketahui bahwa untuk mendapatkan sumberdaya mineral maka diperlukan suatu proses yaitu, mulai dari tahap penemuan (eksplorasi), tahap pengambilan (ekploitasi) dan tahap ekstraksi dan prosesing (pemisahan mineral-mineral dengan material yang tidak diperlukan). Dalam setiap tahapan pada proses mendapatkan sumberdaya mineral akan berdampak pada pencemaran lingkungan.

Genesa Mineral

Proses pembentukan mineral-mineral baik yang memiliki nilai ekonomis, maupun yang tidak bernilai ekonomis sangat perlu diketahui dan dipelajari mengenai proses pembentukan, keterdapatan serta pemanfaatan dari mineral-mineral tersebut. Mineral yang bersifat ekonomis dapat diketahui bagaimaana keberadaannya dan keterdapatannya dengan memperhatikan asosiasi mineralnya yang biasanya tidak bernilai ekonomis. Dari beberapa proses eksplorasi, penyelidikan, pencarian endapan mineral, dapat diketahui bahwa keberadaan suatu mineral tidak terlepas dari beberapa faktor yang sangat berpengaruh, antara lain banyaknya dan distribusi unsur-unsur kimia, aspek biologis, dan fisika.

Secara umum, proses pembentukan mineral baik jenis logam maupun nonlogam dapat terbentuk karena proses mineralisasi yang diakibatkan oleh aktivitas magma, dan mineral ekonomis selain karena aktivitas magma, juga dapat dihasilkan oleh proses alterasi, yaitu mineral hasil ubahan dari mineral yang telah ada karena suatu faktor. Pada proses pembentukan mineral baik secara mineralisasi dan alterasi tidak terlepas dari faktor-faktor tertentu.

a. Proses Magmatis

(43)

b. Proses Pegmatisme

Setelah proses pembentukan magmatis, larutan sisa magma (larutan pegmatisme) yang terdiri dari cairan dan gas. Stadium endapan ini berkisar antara 600˚C sampai 450˚C berupa larutan magma sisa. Asosiasi batuan umumnya Granit.

c. Proses Pneumatolisis

Setelah temperatur mulai turun, antara 550-450˚C, akumulasi gas mulai membentuk jebakan pneumatolisis dan tinggal larutan sisa magma makin encer. d. Proses Hydrotermal

Merupakan proses pembentuk mineral yang terjadi oleh pengaruh temperatur dan tekanan yang sangat rendah, dan larutan magma yang terbentuk sebelumnya. e. Proses Proses Replacement (Metasomatic replacement)

Proses Replacement adalah prsoses dalam pembentukan endapan-endapan mineral epigenetic yang didominasi oleh pembentukan endapan-endapan hipotermal, mesotermal dan sangat penting dalam grup epitermal.

f. Proses Sedimenter

Proses Sedimenter terbagi atas endapan besi, mangan, phosphate, nikel dan lain sebagainya.

g. Proses Evaporasi

Proses EvaporasiTerdiri dari Evaporasi laut, danau dan air tanah. h. Konsentrasi Residu dan Mekanik

Konsentrasi residu dan mekanik terdiri atas :

1. Konsentrasi Residu berupa endapan residu mangan, besi, bauxite dan lain-lain.

2. Konsentrasi Mekanik (endapan placer), berupa sungai, pantai, alluvial dan eolian.

i. Supergen Enrichment

(44)

proses ini berlangsung terus menerus, maka yang akan terjadi adalah proses pengkayaan supergen (supergen enrichment).

j. Proses Metamorfisme

Metamorfisme terbagi atas endapan endapan termetamorfiskan dan endapan metamorfisme.

3. Deskripsi Teknik Pemanfaatan Sumberdaya Mineral a. Kebutuhan Sumberdaya Mineral

Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya permintaan mineral logam didunia adalah:

1) Peningkatannya jumlah populasi manusia dibumi

2) Meningkatnya standar hidup manusia di Negara berkembang

3) Meningkatnya status Negara (misalnya Negara berkembang menjadi maju) Meningkatnya kebutuhan sumberdaya mineral didunia telah memacu kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral serta untuk mendapatkan lokas-lokasi sumberdaya mineral yang baru. Konsekuensi dari meningkatnya eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral harus diikuti dengan usaha-usaha dalam pencegahan terhadap dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral tersebut.

Permasalahan yang sering muncul dari kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral adalah penurunan kualitas lingkungan, seperti pencemaran pada tanah, udara dan hidrologi air, serta terganggunya ekosistem.

b. Peran Industri Pertambangan

Industri pertambangan adalah suatu industri yang paling penting dalam kegiatan eksploitasi suatu bahan galian mineral dimana bahan galian mineral diproses dan dipisahkan dari material pengikut yang tidak diperlukan. Dalam industri mineral, proses untuk mendapatkan mineral-mineral yang ekonomis biasanya menggunakan metoda ekstraksi, yaitu proses pemisahan mineral-mineral dari batuan terhadap mineral pengikut yang tidak diperlukan.

(45)

ketahui bahwa dibidang pertanian, para petani sangat membutuhkan pupuk bagi tanamannya dan pupuk yang dibutuhkan oleh para petani tersebut berasal dari hasil industri pupuk (fertilizer) yang bahan bakunya berasal dari mineral-mineral yang ditambang. Bahan bakar minyak dan gas bumi digunakan sebagai bahan bakar kendaraan untuk alat transportasi serta bahan bakar energy yang dipakai untuk menggerakkan mesin-mesin industri maupun penerangan berasal dari industrri pertambangan. Kendaraan transportasi seperti pesawat terbang, kapal, kereta api dan mobil serta mesin indistri memerlukan material baja, besi, aluminium, tembaga, nikel dan lain-lain sebagai bahan baku. Berdasarkan hal tersebut, maka keberadaan industri pertambangan pada hakekatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kebutuhan ini akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah populasi manusia dan meningkatnya kesejahteraan suatu Negara serta perkembangan suatu Negara agraris menjadi Negara industri.

Proses dalam menghasilkan produk sumberdaya mineral mempunyai kontribusi yang besar terhadap pencemaran lingkungan dan hal ini telah dikritis oleh para pemerhati lingkungan. Disatu sisi untuk menutup suatu tambang atau industri pertambangan yang menghasilkan mineral-mineral yang dibutuhkan oleh manusia adalah sesuatu hal yang tidak bijaksana. Disisi lain,dampak yang ditimbulkan akibat pertumbuhan industri pertambangan harus disikapi dengan cara mencegah agar supaya dampak yang ditimbulkannya dapat diminimalkan.

4. Dampak Pemanfaatan Sumberdaya Mineral

Untuk memanfaatkan sumberdaya mineral yang tersebar di permukaan Bumi, erat kaitannya dengan kegiatan di industri pertambangan, baik berupa kegiatan eksplorasi, eksploitasi, maupun ekstraksi dan prosesing.

a. Dampak Pertambangan terhadap Lingkungan

(46)

lingkungan seperti ekosistem menjadi terganggu, pencemaran udara, tanah dan air oleh mineral-mineral yang berbahaya bagi kehidupan manusia maupun flora dan fauna. Lubang-lubang bekas penambangan serta pembukaan lapisan tanah yang subur pada saat penambangan dapat mengakibatkan daerah yang semula subur menjadi daerah yang tandus dan akan memerlikan waktu yang sangat lama untuk kembali kedalam kondisi semula. Polusi dan degradasi lingkungan akan terjadi pada semua tahap dalam aktivitas pertambangan, mulai dari tahap eksplorasi , tahap eksploitasi hingga tahap prosesing mineral serta semua aktivitas yang menyertainya dalam seluruh tahap tersebut, seperti penggunaan peralatan survey, bahan peledak, alat-alat berat, limbah mineral padat yang tidak dibutuhkan.

b. Dampak dari Tahap Eksplorasi

Biasanya pada tahap eksplorasi dimulai dengan penyelidikan dipermukaan bumi yang diawali dengan survey geofisika dipermukaan tanah serta survey udara, kemudian dilanjutkan dengan survey geokimia dengan metoda stream sediment sampling, soil sampling, rock sampling yang kemudian dilanjutkan dengan pemboran (drilling), pembuatan puritan (trenching), dan peledakan (blasting). Dampak yang ditimbulkan pada tahap ini adalah pembukaan lahan-lahan yang tertutup tanaman, seperti dilingkungan hutan lindung, hutan suaka marga satwa, taman nasional dan lain sebagainya. Masuknya peralatan survey dan alat-alat berat kelokasi penyelidikan didaerah yang di eksplorasi aka menimbulkan degradasi lingkungan serta terganggungnya eksositem daerah tersebut. Bekas-bekas lubang pemborsn, pengupasan lapisan tanah oleh alat-alat berta dan aktivitas pekerjaan dibawah tanah (underground) yang ditinggalkan setelah satu penyelidikan eksplorasi selesai akan mengakibatkan degradasi lingkungan.

c. Dampak dari Tahap Ekploitasi/Penambangan

(47)

secara hati-hati sehingga dikemudian hari tidak menimbulkan dampak lingkungan yang berupa pencemaran, degradasi lingkunga

Gambar

Tabel Kelas Lereng dan Kesesuaian Lahan

Referensi

Dokumen terkait

Peralatan yang dapat mengubah energi radiasi sinar matahari menjadi energi panas adalah .....a. Pembangkit listrik yang memanfaatkan tenaga panas bumi

Potensi energi panas bumi di P. Tidore berada di daerah munculan mataair panas dan. terkonsentrasi juga di bawah struktur kaldera Talaga. Sistim panas bumi di sini diasumsikan

Peluang investasi energi terbarukan di Kabupaten Ogan Komering Ulu adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) dan pembangkit listrik tenaga air skala mikro

Adanya pemanfaatan potensi energi panas bumi di kabupaten Ende ini dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau PLTP skala kecil berpotensi

Untuk mengatasi krisis energi khususnya di Sumatera Utara yang salah satu provinsi memiliki potensi panas bumi, seharusnya pembangkit listrik tenaga panas bumi

Permasalahan dalam Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi ...8

PETA KONSEP terdiri atas Energi Alternatif - Pembangkit tenaga listrik - Energi listrik - Energi kalor Energi matahari Energi panas bumi digunakan untuk digunakan untuk Energi

DAMPAK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI PLTPB BAGI LINGKUNGAN PADARINCANG NAMA : UBAIDILLAH NIM : 201710047 Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi PLTPB