Kata Pengantar
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) merupakan salah satu unit kerja eselon dua di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Dalam pelaksanaan tugasnya, PSEKP memfokuskan diri pada analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan di bidang pertanian. Selain itu, PSEKP juga menelaah ulang program dan kebijakan pertanian, melaksanakan kerja sama serta mendayagunakan hasil analisis dan pengkajian maupun konsultasi publik di bidang sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
Selama lebih dari tiga dasawarsa, PSEKP telah melaksanakan tugasnya sebagai sebuah lembaga penelitian yang kritis dan dipercaya di tingkat nasional maupun internasional. Dalam melakukan kegiatan penelitian, lembaga ini banyak menghasilkan pengetahuan sosial ekonomi pertanian, serta proaktif dalam memberikan alternatif rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian kepada stakeholder lingkup Kementerian Pertanian dan lembaga pemerintah lainnya Dalam buku ini disampaikan informasi tentang sejarah, visi, misi, tugas dan fungsi, struktur organisasi, keberadaan sumberdaya manusia, fasilitas, program penelitian, publikasi, fasilitas perpustakaan serta kegiatan kerja sama penelitian yang dilaksanakan oleh PSEKP. Penerbitan buku ini dimaksudkan untuk memberikan informasi singkat tentang kiprah dan keberadaan PSEKP. Selain itu diharapkan melalui penerbitan buku ini dapat mendorong berbagai pihak terkait untuk lebih memanfaatkan hasil penelitian PSEKP, serta terjalinnya komunikasi dan kerja sama dalam kegiatan penelitian dan pemanfaatan hasil. Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam membantu penerbitan buku ini kami sampaikan terima kasih, dan saran serta masukan pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan pada edisi berikutnya.
Bogor, Oktober 2013 Kepala Pusat,
Sejarah
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) merupakan salah satu lembaga penelitian setingkat eselon II di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pada awal berdirinya tahun 1976, lembaga ini dikenal sebagai Pusat Penelitian Agro Ekonomi (PAE). Sejalan
dengan dinamika pembangunan pertanian, beberapa kali lembaga ini mengalami perubahan nama.
Pada tahun 1990, PAE berubah menjadi Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian (P/SE), kemudian menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian (Puslitbangsosek) pada tahun 2001. Pada tahun 2005, berganti nama lagi menjadi Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Terakhir pada tahun 2010, berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 61/Permentan/OT.140/8/2010, nama lembaga ini ditetapkan menjadi Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
Dalam kurun waktu lebih dari tiga dasawarsa dari sejak berdirinya (1976-2012), PSEKP telah dipimpin oleh tujuh Kepala Pusat, yaitu Prof. Dr. Syarifudin Baharsyah (1976–1983), Dr. Faisal Kasryno (1983–1989), Prof. Dr. Effendi Pasandaran (1989–1995), Prof. Dr. Achmad Suryana (1995–1998), Prof. Dr. Tahlim Sudaryanto (1998–2002), Prof. Dr. Pantjar Simatupang (2002–2005), Prof. Dr. Tahlim Sudaryanto (2005-2010), dan Dr. Handewi P. Saliem (2010–sekarang)
Tugas Pokok dan Fungsi
PSEKP mempunyai tugas melaksanakananalisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian. Fungsi PSEKP adalah: (a) merumuskan program analisis sosial ekonomi dan kebijakan pertanian; (b) melaksanakan analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan di bidang pertanian; (c) melaksanakan telaah ulang program dan kebijakan di bidang pertanian; (d) memberikan pelayanan teknik di bidang analisis
sosial ekonomi dan kebijakan pertanian; (e) melaksanakan kerja sama dan mendayagunakan hasil analisis dan pengkajian serta konsultasi publik di bidang sosial ekonomi dan kebijakan pertanian; (f) mengevaluasi dan melaporkan hasil
analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian; dan (g) mengelola urusan tata usaha dan rumah tangga pusat.
Berdasarkan Peraturan Menteri
Pertanian No. 634/Kpts/OT.140/1/2011, tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, maka PSEKP dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya di dukung Unit Eselon III, yaitu Bagian Umum, Bidang Program dan Evaluasi, serta Bidang kerja sama dan Pendayagunaan Hasil, disamping kelompok jabatan fungsional sebagai pelaksana teknis kegiatan penelitian dan pengkajian dan tugas teknis lainnya, secara lengkap uraian tugas unit eselon III tersebut adalah sebagai berikut:
A. Bagian Umum, terdiri dari:
1. Subbagian Kepegawaian dan Rumah Tangga, mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, rumah tangga, surat menyurat dan kearsipan.
2. Subbagian Keuangan dan Perlengkapan, mempunyai tugas melakukan urusan keuangan dan perlengkapan.
B. Bidang Program Dan Evaluasi, terdiri dari:
1. Subbidang Program, mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan rencana, program dan anggaran kegiatan analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
2. Subbidang Evaluasi dan Pelaporan, mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pemantauan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan kegiatan analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
C. Bidang Kerja Sama dan Pendayagunaan Hasil, terdiri dari:
1. Subbidang Kerja Sama, mempunyai tugas memberikan pelayanan teknik dan penyiapan bahan penyusunan kerja sama analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
2. Subbidang Pendayagunaan Hasil, mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan promosi, diseminasi, komersialisasi, dokumentasi, serta pelaksanaan urusan perpustakaan dan publikasi hasil analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
Visi
Menjadi institusi penelitian/pengkajian yang kritis dan terpercaya, bertaraf internasional dalam menghasilkan informasi dan ilmu pengetahuan sosial ekonomi pertanian, serta proaktif dalam memberikan alternatif rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian.
Misi
Melakukan analisis dan pengkajian, guna menghasilkan informasi dan ilmu pengetahuan sosial ekonomi pertanian yang merupakan produk primer PSEKP.
Analisis kebijakan, yaitu kegiatan untuk mengolah informasi dan ilmu pengetahuan hasil analisis menjadi rumusan usulan dan pertimbangan kebijakan pembangunan pertanian.
Melakukan advokasi kebijakan
pembangunan pertanian kepada stakeholder terkait.
Mengembangkan kemampuan institusi PSEKP sehingga mampu mewujudkan visi dan misinya secara berkelanjutan.
Program Penelitian
Untuk melaksanakan misi, dengan mempertimbangkan lingkungan strategis dan implikasinya terhadap tantangan pembangunan pertanian, program utama PSEKP untuk lima tahun ke depan (2011 – 2014) adalah sebagai berikut:
1. Program Pengkajian Kebijakan Penguatan dan Perlindungan Usaha Pertanian 2. Program Pengkajian Kebijakan Sumberdaya Alam, Infrastruktur dan Investasi
Pertanian
3. Program Pengkajian Kebijakan Kelembagaan dan Regulasi Pertanian
4. Program Pengkajian Kebijakan Ekonomi Makro, Ketahanan Pangan, Pengentasan Kemiskinan dan Pembangunan Perdesaan
5. Program Penelitian Dinamika Ekonomi Pertanian dan Perdesaan 6. Evaluasi dan Tanggap Cepat Atas Isu Kebijakan Aktual
7. Program Diseminasi Hasil dan Peningkatan Kapasitas Lembaga
Struktur Organisasi
Dukungan Sumberdaya Manusia
Dalam pelaksanaan tupoksinya PSEKP didukung oleh sumberdaya manusia yang handal sebanyak 167 orang. Secara rinci pegawai yang bergelar Doktor 29 orang, Magister 33 orang, Sarjana 36 orang, Diploma 16 orang, SMU 45 orang, serta SLTP/SD 8 orang. Dari pegawai tersebut, 87 orang diantaranya merupakan tenaga fungsional dengan rumpun fungsional sebagai berikut: 81 orang memiliki jabatan fungsional Peneliti di berbagai keahlian (3 orang diantaranya telah menjadi Profesor Riset) dan 6 orang tenaga fungsional non peneliti (Pranata Komputer, Pustakawan, Arsiparis, Litkayasa).
Kabag Umum
Ir. Hasyim Asyari, MM Kepala Pusat Sosial Ekonomi
dan Kebijakan Pertanian
Dr. Handewi P. Saliem
Kabid Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Dr. Sri Hery Susilowati
Plh. Kasubbid Pendayagunaan Hasil Ir. Wartiningsih Kasubbid Kerjasama Dr. Hermanto Kasubbid Program M. Suryadi, SP Plh. Kasubbid Evaluasi dan Pelaporan
Ir. Sri H.Suhartini, MSi
Kelompok Jabatan Fungsional Kabid Program dan
Evaluasi Ir. Supena Friyatno, MSi
Kasubbag Kepegawaian dan RT Endro Gunawan, SP, ME Kasubbag Keuangan dan Perlengkapan Drs. Agus Subekti
PSEKP memiliki tiga Kelompok Peneliti (Kelti), yaitu: (1) Ekonomi Makro dan Perdagangan Internasional; (2) Ekonomi Pertanian dan Manajemen Agribisnis; (3) Sosial Budaya Pertanian dan Perdesaan. Bila dilihat dari latar belakang dan disiplin ilmu yang ditekuni, sebagian besar staf peneliti PSEKP mempunyai disiplin ilmu Ekonomi Pertanian, terutama untuk jenjang S2 dan S3 serta Sosial Ekonomi Pertanian pada jenjang S1. Sementara itu minat dan bidang keahlian yang ditekuni para peneliti dapat dipilah antara lain Sistem Usaha Pertanian, Kebijakan
Pertanian dan Pembangunan,
Sosiologi Pertanian dan Perdesaan, Ekonomi Internasional,
Perdagangan
Internasional, Ekonomi Lahan, Ilmu Ekonomi Sumberdaya, Sosiologi dan Kelembagaan, Pembangunan Wilayah, Pemberdayaan
Masyarakat, Penyuluhan dan Komunikasi, Agribisnis serta Pembiayaan Pertanian (rincian terlampir).
Fasilitas
1. Laboratorium Komputer dan Analisis Data
Untuk pengolahan data penelitian, PSEKP didukung sebuah laboratorium komputer yang dilengkapi dengan PC stand alone dan PC LAN (Local Areal Network). Dalam perkembangan ke depan direncanakan akan dibangun laboratorium Perdagangan Internasional dan Panel Petani Nasional (PATANAS). Selain fasilitas tersebut, juga tersedia database berupa kumpulan data primer maupun sekunder dari kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan. Program yang digunakan dalam analisis data meliputi SAS, STATA, GAMS,
SHAZAM, GTAP, RunDynam, TradeCAN, GEMPACK, CSPro2, Minitab, SPSS serta aplikasi program analisis lainnya.
2. Perpustakaan dan Penyebaran Informasi Penelitian Pengolahan Bahan Pustaka
Pengolahan bahan pustaka selama ini menggunakan program CDS/ISIS dengan jumlah database mencapai 19. Nama-nama database adalah BUKU, BPS, STAT, MAJA, DALAK, BROSUR, KORAN, ACIAR, IFPRI, PROS, P/SE, THESIS, CGPRT, SDP, SAE, WIN, SEMI, SP, dan TAHUN. Untuk peningkatan pelayanan kepada pengguna, Pada tahun 2007 perpustakaan secara bertahap telah mengolah bahan pustaka menggunakan program WIN/ISIS. Kemudian pada tahun 2010 terjadi perubahan Database sesuai dengan arahan dari Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian menjadi 4 Database yaitu: BUKU, MAJALAH, SEMINAR, dan IPTAN. Untuk mendapatkan informasi mengenai buku dan artikel yang dimiliki, dapat diakses melalui website http://digilib.litbang.deptan.go.id/~psekp/.
Koleksi dan Jumlah Database Bahan Pustaka di Perpustakaan PSEKP per Desember 2012
No. Database Koleksi Jumlah
1. BUKU Kumpulan buku-buku yang dimiliki pustaka 9123 2. MAJALAH Kumpulan majalah yang dimiliki pustaka 689 3. SEMINAR Kumpulan makalah seminar 1048 4. IPTAN Kumpulan artikel/tulisan ilmiah pertanian 7586
Total 18446
Pelayanan Perpustakaan
Pelayanan perpustakaan PSEKP yang diberikan kepada pengguna, dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan sistem pelayanan terbuka untuk peneliti PSEKP dan sistem pelayanan tertutup untuk pengguna luar PSEKP. Sistem pelayanan dan penelusuran data, dilakukan melalui sistem katalog dengan pola komputerisasi, serta untuk pemenuhan data yang dibutuhkan oleh pengguna, disediakan layanan langsung melalui petugas perpustakaan atau dapat dilakukan secara online setelah Perpustakaan Digital PSEKP dioperasionalkan, sehingga materi yang dibutuhkan dari Perpustakaan PSEKP dapat secara langsung diakses oleh pengguna.
Kerja Sama Antar Perpustakaan
Kerja sama antarperpustakaan dalam kaitannya dengan pelayanan informasi kepada pengguna, dilaksanakan melalui Subbidang Pendayagunaan Hasil
dengan seluruh perpustakaan lingkup Badan Litbang Pertanian terutama yang berada di Bogor. Dalam kegiatan kerja sama ini perpustakaan menyediakan formulir/bon pinjaman Pelayanan Antar-Perpustakaan (PAP). Sejak tahun 2009 kerja sama antarperpustakaan selain diarahkan pada penelusuran publikasi PSEKP di seluruh perpustakaan yang terdaftar dalam pendistribusian publikasi PSEKP juga melalui jaringan perpustakaan digital.
Secara lebih luas, kerja sama informasi, publikasi dan perpustakaan juga tidak hanya dilakukan dengan berbagai perpustakaan lingkup Departemen Pertanian, tetapi juga dengan berbagai perpustakaan Universitas, Lembaga Penelitian maupun Institusi-institusi terkait di daerah. Di tingkat Pusat dengan Perpustakaan Nasional, Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, perpustakaan lingkup Badan Litbang, maupun perpustakaan Lembaga – lembaga Riset Nasional/ Internasional lainnya. Tahun 2012, kerja sama perpustakaan melalui Subbidang Pendayagunaan Hasil, tercatat mencapai: 18 Eselon I, 84 Eselon II, 79 Perpustakaan Universitas, 31 Perpustakaan BPTP, 9 Lembaga Internasional, 22 Perpustakaan Dinas Propinsi, serta 11 perpustakaan instansi lainnya diseluruh Indonesia.
Publikasi
Publikasi yang diterbitkan oleh PSEKP terdiri atas : (1) Jurnal Agro Ekonomi (JAE), (2) Forum Penelitian Agro Ekonomi (FAE), (3) Analisis Kebijakan Pertanian (AKP), (4) Prosiding Hasil Seminar Nasional, (5) Buku Tematik, (6) Laporan Tahunan, (7) Laporan Teknis Hasil Penelitian, dan (8) Newsletter.
Sejak tahun 2006, tiga publikasi PSEKP telah mendapatkan akreditasi. Pada tahun 2012, hasil akreditasi ulang oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diterapkan akreditasi untuk Forum Penelitian Agro Ekonomi (FAE) berdasarkan SK No. 444/AU2/P2MI-LIPI/08/2012 dan untuk Jurnal Agro Ekonomi (JAE) 444/AU2/P2MI-LIPI/08/2012. Untuk Analisis Kebijakan Pertanian (AKP) tidak terakreditasi. Informasi tentang profil dan publikasi yang telah dihasilkan PSEKP dapat diakses melalui website: http://pse.litbang.deptan.go.id
Penulis untuk publikasi berkala (JAE, FAE, dan AKP) terbuka bagi peneliti dan tenaga pengajar lembaga dan institusi di luar PSEKP. Demikian juga topik yang di tulis, meliputi berbagai isu seputar pembangunan perdesaan dan pertanian. Secara detail keragaan dari publikasi berkala tersebut adalah sebagai berikut:
Jurnal Agro Ekonomi (JAE)
Jurnal Agro Ekonomi (JAE) adalah media primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian. JAE memuat informasi bagi ilmuwan dan pemerhati pembangunan pertanian, pengambil kebijakan, dan pelaku pembangunan pertanian dan perdesaan.
JAE diterbitkan oleh PSEKP 2 kali setahun, pada bulan Mei dan Oktober.
Selama tahun 2011-2012 jumlah naskah yang sudah diterbitkan di JAE sebanyak 20 naskah. Sebagian besar penulis di JAE berasal dari luar lingkup PSEKP dan hanya 30 persen dari lingkup PSEKP. Penulis dari luar PSEKP umumnya berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan beberapa negara.
Dari hasil penelusuran terbitan JAE selama dua tahun terakhir (20 naskah) diperoleh persentase topik dari artikel yang diterbitkan di JAE sebagai berikut: (a) Sumberdaya (15%), (b) Pengembangan agribisnis (15%), (c) Ketahanan pangan (15%), (d) Evaluasi program pembangunan pertanian (10%), (e) Pemasaran/ perdagangan Internasional (25%), dan (f) Kelembagaan dan organisasi (20%).
Forum Penelitian Agro Ekonomi (FAE)
Forum Penelitian Agro Ekonomi (FAE) merupakan publikasi ilmiah yang memuat review hasil penelitian sosial ekonomi pertanian dan juga menampung naskah-naskah yang berupa gagasan ataupun konsepsi orisinal dalam bidang sosial dan ekonomi pertanian. Media ini terbit dua kali setahun yaitu bulan Juli dan Desember.
Jumlah naskah yang telah diterbitkan pada Forum Penelitian Agro Ekonomi dari tahun 2011 – 2012 sebanyak 20 naskah yang penulisnya berasal dari PSEKP (95%) dan dari luar PSEKP (5%).
Topik dari 20 naskah yang telah diterbitkan tersebut berkisar pada isu: (a) Pengembangan Agribisnis (25%), (b) Kelembagaan dan Organisasi (25 %), (c) Ketahanan Pangan (termasuk diversifikasi, keamanan pangan) (15%), (d) Pembangunan Perdesaan (25%), (e) Kredit, Pembiayaan, Asuransi (5%), (f) Sumberdaya (lahan, tenaga kerja, alam) (15%), dan (g) Isu Lingkungan/ Pembangunan Berkelanjutan (10%).
Analisis Kebijakan Pertanian (AKP)
Analisis Kebijakan Pertanian (AKP) adalah media jurnal ilmiah yang membahas isu aktual kebijakan pertanian yang memuat artikel analisis kebijakan pertanian dalam bentuk gagasan, dialog dan polemik. AKP terbit empat kali setahun yaitu pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Jumlah naskah yang diterbitkan pada Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian selama dua tahun terakhir (2011-2012) adalah 40 naskah. Dari jumlah tersebut yang berasal dari PSEKP sebanyak 25 naskah (62,5%) dan dari luar PSEKP sebanyak 15 naskah (37.5%).
Topik artikel yang dimuat berkisar pada isu sebagai berikut: (a) Pemasaran/Perdagangan Internasional (15%), (b) Pembangunan Perdesaan (2,5%), (c) Sumberdaya (lahan, Tenaga Kerja, alam) (15%), (d) Kredit,
Pembiayaan, Asuransi (2,5%), (e) Ketahanan Pangan (termasuk diversifikasi, keamanan pangan (7,5%); (f) Evaluasi Program Pembangunan Pertanian (15%); (g) Kelembagaan dan Organisasi (20%); (h) Isu lingkungan/ Pembangunan Berkelanjutan (5%); (i) Pengembangan Agribisnis (5%); dan (j) lain-lain (12,5%).
Kerja Sama Penelitian
1. Lembaga dan Lingkup Kerja Sama
Sebagai Lembaga Penelitian yang memiliki tugas dan fungsi melaksanakan analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) telah melaksanakan kegiatan penelitian bekerja sama dengan instansi/lembaga dalam dan luar negeri. Beberapa lembaga/instansi yang telah menjalin
kerja sama dalam kurun waktu dua tahun terakhir (2011-2012) adalah:
No Mitra Kerjasama Judul Penelitian Masa/Waktu Tahun Anggaran Luar negeri
1 International Food Policy Research Institute (IFPRI)
Market for High-Value Commodities in Indonesia: Promoting Competitiveness and Inclusiveness
1 juni 2009 – November 2011
2 International Food Policy Research Institute (IFPRI)
Plausible Futures for Economic Development and Structural Adjustment in Indonesia-Impacts and Policy Implication for the Asia Pasific Region 1 Januari 2009 – 30 Desember 2011 3 Australian Centre for International Agricultural (ACIAR)
Cost Effective Bio Security for Non Industrial Commercial Poultry Production in Indonesia Juni 2008 – November 2012 4 The International Development Research (IDRC)
Eco-Health Assessment on Poultry Production Clusters (Ppcs) for the Livelihood Improvement of Small Producers
Juli 2011 – Juli 2014
5 Michigan State University (MSU)
Access to Modernizing Value Chains by Smalls Farmers in Indonesia and Nicaragua Februari – September 2011 Dalam negeri 1 Kemenristek/Badan Litbang
Studi Kebutuhan Pengembangan Produk Olahan Pertanian dalam Rangka Liberalisasi Perdagangan
No Mitra Kerjasama Judul Penelitian Masa/Waktu Tahun Anggaran 2 Kemenristek/Badan
Litbang
Peningkatan Kapabilitas Kelompok Tani dalam Adaptasi terhadap Perubahan Iklim
2011
3 Kemenristek/Badan Litbang
Analisis Volatilitas Komoditas Pangan dalam Rangka Peningkatan Stabilisasi Harga Pangan Pokok
2011
4 Kemenristek/Badan Litbang
Proyeksi Kinerja Petani Jangka Panjang 2012-2035 dalam Mendukung Pengembangan MP3EI di Koridor Sumatera
2012
5 Kemenristek/Badan Litbang
Analisis Permintaan, Penawaran dan Kebijakan Pengembangan Komoditas Tanaman Pangan Utama dalam Program MP3EI di Koridor Sulawesi dan Gorontalo
2012
2. Beberapa Hasil Terpilih Kegiatan Kerja Sama
Kerja sama penelitian PSEKP dengan lembaga internasional dan nasional telah menghasilkan beberapa rekomendasi serta pengetahuan baru, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
A. Peningkatan Kapabilitas Kelompok Tani dalam Adaptasi terhadap Perubahan Iklim
Penelitian ini merupakan kerjasama antara Kemenristek dan PSEKP. Latar belakang penelitian ini adalah lemahnya kapabilitas kelompok tani dalam menanggulangi dampak perubahan iklim dengan hasil penelitian sebagai berikut:
Bentuk adaptasi secara antisipatif yang dilakukan petani pada kasus kebanjiran di Kabupaten Bantul adalah membuat saluran draenase berupa
selokan untuk membuang kelebihan air, dan melakukan pemeliharaan/pendalaman saluran draenase. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat bentuk adaptasi antisipatif terhadap kasus kebanjiran dilakukan dengan penyesuaian pola tanam, jenis varietas dan dosis pemupukan. Bentuk adaptasi antisipatif terhadap kasus kekeringan di Kabupaten Gunung Kidul, DIY adalah menaikkan air dari sungai dengan membuat bendungan atau dam, membuat sumur ladang dan membuat sumur bor. Pada kasus kekeringan di Jawa Barat, adaptasi responsif dilakukan dengan cara: (1) menggunakan varietas padi berumur pendek misalnya varietas Ciherang; (2) melakukan curi ”start” tanam, dengan cara memanen sebagian kecil tanaman padi MH lebih awal guna mempersiapkan persemaian pada MK1; (3) mengurangi dosis pupuk urea pada
MK 1; (4) menjadikan jerami hasil MH sebagai pupuk organik; (5) meningkatkan pupuk organik untuk mengikat air sehingga dapat memperlambat penguapan; (6) melakukan pompanisasi dengan sumber air berasal dari saluran pembuangan; (7) menjemput air (istilah setempat gilir giring), dimana biaya menjemput air biasanya ditanggung oleh pemerintah desa.Efektifitas strategi adaptasi pada kasus kebanjiran Di Kabupaten Bantul, DIY mencapai nilai R/Ca rasio 1.09 dari R/Cn rasio 1.56 dalam kondisi normal. Produktivitas rata-rata dalam kondisi kebanjiran hanya mencapai 4,5 ton per hektar, sementara dalam kondisi normal produktivitas padi rata-rata mencapai 6,0 ton per hektar per musim. Efektifitas strategi adaptasi pada kasus kebanjiran Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mencapai nilai R/Ca rasio 1.01 dari nilai R/Cn rasio 1.47 dalam kondisi normal. produktivitas rata-rata hanya mencapai 3,5 ton per hektar sedangkan dalam kondisi normal produktivitas padi rata-rata mencapai 5,0 ton per hektar. Efektifitas strategi adaptasi pada kasus kekeringan di Kabupaten Gunung Kidul DIY, hanya mencapai nilai R/Ca rasio 0.93 R/C dari R/Cn rasio dalam kondisi normal 1.48. Produktivitas padi rata-rata dalam kondisi normal mencapai 5,5 ton per hektar, sedangkan dalam kondisi terjadi kekeringan produktivitas rata-rata hanya mencapai 3,5 ton per hektar. Dengan harga jual yang sama, fenomena ini menyebabkan penerimaan total usahatani padi diantara kedua kondisi tersebut juga sangat berbeda. Efektifitas strategi adaptasi dalam kasus Kekeringan di Kabupaten Indramayu Jawa Barat hanya mencapai nilai R/Ca rasio 0.24, menurun drastis dari R/Cn 1,7 dalam kondisi normal. Pada kondisi normal, produktivitas usahatani padi pada MK 1 hanya mencapai 3,0 ton GKP per hektar, sedangkan pada kondisi kekeringan produktivitas padi hanya mencapai 0.4 kuintal GKP per hektar. Kapabilitas kelompok dianalisis dengan menilai faktor-faktor eksternal dan internal, baik dari aspek teknis, ekonomi, sosial dan kelembagaan yang mempengaruhinya. Dukungan faktor eksternal dalam aspek teknologi, informasi dan infrastruktur di Provinsi DIY dan Jawa Barat relatif belum memadai ( 2,44). Demikian juga dari aspek kebijakan, Pemerintah Pusat dan Daerah dalam membantu peningkatan kapasitas kelompok menghadapi perubahan iklim relatif kurang memadai (<2,00). Faktor internal, aspek teknis terkait aspek penguasaan pengetahuan dan kemampuan kelompok tani terhadap perubahan iklim secara umum masih relatif rendah dan kurang memadai (<2,44). Paling tidak terdapat 5 (lima) hal yang menjelaskan mengapa tingkat pengetahuan kelompok tani terhadap masalah perubahan iklim relatif rendah, yaitu: teknologi adaptasi untuk mengatasi perubahan iklim, relatif kurangnya pelatihan penyuluhan teknologi, keikutsertaan dalam sekolah lapang iklim, dan pemahaman tentang perubahan iklim.
Faktor ekonomi yang berupa ketersediaan sarana prasarana dan permodalan finansial masih jauh dari memadai untuk mengatasi dampak perubahan iklim berupa kebanjiran di Kabupaten Indramayu (2,20) dan di Kabupaten Gunung Kidul (2,23). Dalam kasus kekeringan Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul memiliki nilai yang sama
yaitu 2,07. Dengan lemahnya dua faktor ini akan sulit bagi kelompok tani mempunyai kapabilitas yang dapat diandalkan untuk merespon dampak perubahan iklim. Faktor sosial terkait dengan respon pengurus dan kompetensi SDM dalam kelompok secara umum masih belum memadai (<3,00). Respon pengurus terhadap dampak kekeringan nampak lebih tinggi dibandingkan kebanjiran. Pada kasus di Provinsi DIY, antara kebanjiran dan kekeringan, tidak menunjukkan kesenjangan yang besar (kebanjiran=2,60; kekeringan=2,65). Pada kasus di Jawa Barat, terdapat kesenjangan antara kasus kebanjiran (1,90) dan kasus kekeringan (2,75). Faktor sosial terkait aspek kompetensi anggota dalam kelompok secara umum hampir memadai. Pada kasus kebanjiran, tingkat kompetensi anggota kelompok tani di Provinsi DIY mencapai 2,88 dan 2,74 untuk Provinsi Jabar. Sementara pada kasus kekeringan, tingkat kompetensi anggota kelompok tani di Provinsi DIY mencapai 2,72 dan di Provinsi Jabar mencapai 2,76.
B. Analisis Permintaan, Penawaran dan Kebijakan Pengembangan Komoditas Tanaman Pangan Utama dalam Program MP3EI di Koridor Sulawesi
Penelitian ini merupakan kerjasama antara Kemenristek dengan PSEKP. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui secara aktual bagaimana situasi mengenai permintaan dan penawaran serta pengembangan komoditas pangan saat ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kerangka pemanfaatan hasil penelitian ini yaitu berupa bentuk: (1) Laporan hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga/instansi terkait di lokasi penelitian, (2) Publikasi hasil penelitian sebagai bahan informasi dan pertimbangan perumusan kebijakan dalam pengembangan komoditas tanaman pangan utama (padi, jagung dan kedelai) khususnya di lokasi penelitian Provinsi Sulawesi Selatan dan Gorontalo, (3) Seminar hasil penelitian untuk menyebarluaskan hasil penelitian. Strategi pemanfaatan hasil penelitian ini yaitu dengan cara mengirimkan hasil laporan penelitian ke instansi/lembaga terkait di lokasi penelitian, menyebarluaskan hasil penelitian melalui media publikasi hasil penelitian, dan publikasi seminar hasil penelitian. Hasil penelitian atau kajian memiliki urgensi penting sebagai bahan informasi kebijakan dalam pengembangan komoditas tanaman pangan utama (padi, jagung dan kedelai) khususnya di lokasi penelitian Provinsi Sulawesi Selatan dan Gorontalo dimasa mendatang. Dengan demikian pengembangan dan peningkatan informasi hasil penelitian untuk tahun yang akan datang perlu terus ditingkatkan dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan komoditas tanaman pangan utama (padi, jagung dan kedelai). Hal ini disebabkan oleh dinamisnya berbagai aspek yang menyangkut aspek sosial ekonomi dan kebijakan pengembangan tanaman pangan. Keberlanjutan penelitian/kajian dengan dukungan dana dari program Ristek sangat diharapkan. Dukungan keberlanjutan kajian juga tidak hanya dari program ristek pusat, akan tetapi juga dari pemerintah daerah.
C. Proyeksi Kinerja Pembangunan Pertanian Jangka Panjang: 2012-2035 dalam Mendukung Pengembangan MP3EI di Koridor Sumatera
Pembangunan pertanian merupakan salah satu bagian integral dari pembangunan nasional. Meskipun peran relatif sektor pertanian terhadap perekonomian nasional cenderung terus menurun, namun dinamika yang terjadi di perekonomian Indonesia ditopang oleh sektor pertanian dan intervensi pemerintah terhadap kebijakan makro ekonomi yang menyangkut sektor pertanian masih cukup kuat. Pertumbuhan rata-rata PDB sektor pertanian dalam periode tahun 2000-2010 mencapai 3,2 persen, namun kontribusinya terhadap ekonomi nasional secara keseluruhan menurun dari 19,0 persen pada 1990 menjadi hanya 15 persen pada 2010. Di sisi lain, sektor pertanian masih diharapkan dapat menjadi katup pengaman bagi penyediaan kesempatan kerja. Pada 1990 sektor pertanian menyerap sekitar 56 persen dari total tenaga kerja dan turun menjadi 38 persen pada 2010. Implikasi dari kebijakan seperti ini akan mempengaruhi efisiensi sektor pertanian dan memperlambat peningkatan produktifitas pertanian dan pada akhirnya akan melemahkan daya saing produk pertanian. Pembangunan pertanian dapat didefinisikan sebagai suatu proses perubahan sosial yang implementasinya tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan status dan kesejahteraan petani saja, tetapi juga untuk mengembangkan potensi sumberdaya manusia baik secara ekonomi, sosial, politik, budaya, lingkungan, maupun melalui perbaikan, pertumbuhan dan perubahan. Sejalan dengan hal itu indikasi keberhasilan pembangunan suatu negara atau wilayah yang banyak digunakan adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diukur dari tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk lingkup nasional dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk lingkup wilayah. Selain dipengaruhi faktor internal, pertumbuhan ekonomi suatu negara juga dipengaruhi faktor eksternal, terutama setelah era ekonomi yang semakin mengglobal. Secara internal, tiga komponen utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi tersebut adalah pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Ketiga komponen tersebut sebaiknya berkedudukan sejajar dalam mengelola sumberdaya ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya.
Pada era globalisasi seperti saat ini dinamika perekonomian nasional sangat dipengaruhi oleh perekonomian regional dan internasional. Oleh karena itu, pembangunan pertanian memerlukan penyempurnaan dan perbaikan dari kegiatan pembangunan sebelumnya menyesuaikan dinamika perubahan lingkungan strategis yang selalu berubah. Hal ini menjadi penting karena kinerja pembangunan pertanian tidak akan terlepas dari lingkungan strategis yang melingkupinya, baik lingkungan strategis internasional, regional, nasional maupun wilayah/daerah. Dengan demikian untuk dapat merumuskan arah pembangunan pertanian ke depan secara baik, maka pemahaman yang seksama atas dinamika lingkungan strategis serta proyeksi pembangunan pertanian tersebut perlu dilakukan. Untuk mendukung
pembangunan ekonomi Indonesia, pemerintah membuat Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). MP3EI ditetapkan oleh Peraturan Presiden RI No. 32 Tahun 2011. MP3EI menjadi acuan untuk menetapkan kebijakan sektoral bagi menteri dan pimpinan lembaga non kementerian di masing-masing bidang dan acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, MP3EI sebagai salah satu pemicu dalam mempercepat pembangunan ekonomi nasional dalam kurun waktu 15 tahun yang sesuai dengan rencana pemerintah dalam RPJMN tahun 2011-2025. Sementara bagi dunia usaha MP3EI merupakan acuan bagi dunia usaha untuk berinvestasi dengan tujuan utama menghasilkan produk-produk yang mempunyai nilai tambah (added value) dan membangun pusat-pusat produk unggulan di luar pulau Jawa. Strategi utama MP3EI adalah: (1) pengembangan koridor ekonomi, (2) konektifitas nasional (daerah) dan (3) pengembangan Iptek dan SDM. Untuk mensukseskan MP3EI Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah untuk melakukan langkah-langkah sebagai berikut: (1) revisi UU agar terjamin kepastian hukum, (2) percepatan infrastruktur, (3) debirokrasi aparatur negara, (4) reformasi pelaksanaan peraturan perpajakan, bea cukai dan tarif, (5) dukungan perbankan nasional (Perpres 32 Tahun 2011). Program MP3EI terdiri dari 22 kegiatan utama, di mana 15 kegiatan di antaranya merupakan bidang usaha industri, yaitu: Pengembangan Klaster Industri Kelapa Sawit, Karet, Batu Bara, Nikel, Tembaga, Minyak dan Gas, Makanan Minuman, Kakao, Tekstil, Mesin Peralatan Transportasi, Perkapalan, Baja, Aluminium, Telematika, dan Alutsista. Program dan kegiatan tersebut difokuskan pada 6 koridor ekonomi yang telah ditetapkan. Keenam koridor tersebut terdiri dari: 1) Koridor Sumatera, 2) Koridor Jawa, 3) Koridor Kalimantan, 4) Koridor Sulawesi, 5) Koridor Bali – Nusa Tenggara, dan 6) Koridor Papua – Kepulauan Maluku. Masing-masing koridor ekonomi memiliki fokus kegiatan utama yang akan dikembangkan. Untuk koridor ekonomi Sumatera, kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan akan difokuskan pada kelapa sawit, karet, batu bara, besi baja, dan perkapalan. Berdasarkan ketentuan dalam MP3EI, Kementerian Pertanian akan fokus pada pengembangan kelapa sawit dan karet di koridor Sumatera,. Sedangkan untuk Koridor Ekonomi Jawa sebagai Sentra Pengembangan Industri Makanan/Pangan difokuskan pada pengembangan industri makanan/pangan melalui penumbuhan industri di pedesaan yang mengolah produk-produk pertanian menjadi produk olahan makanan. Pada koridor Sumatera, Kementerian Pertanian telah membangun kawasan sentra produksi padi, jagung dan kakao berdasarkan potensi agro-ekosistem dan memfasilitasi kegiatan penyediaan infrastruktur, perbenihan maupun pemberdayaan petani. Pada Koridor Ekonomi Bali-NTB-NTT Kementerian Pertanian akan mengembangkan koridor ini sebagai sentra produksi jagung, kedelai dan ternak. Pada tahun 2011 telah dialokasikan anggaran di Bali, NTB dan NTT untuk mendukung pengembangan jagung, kedelai dan ternak.
Adapun untuk koridor Ekonomi Papua, Kementerian Pertanian akan mengembangkan Koridor Ekonomi ini sebagai sentra produksi pangan, perkebunan dan peternakan.
Hasil proyeksi kinerja pembangunan pertanian jangka panjang diharapkan akan dapat menjadi bahan dalam mencari peluang yang perlu dirumuskan dalam dinamika lingkungan strategis untuk mempertajam tujuan dan sasaran pembangunan pertanian antara lain dengan mengevaluasi kembali kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan. Disamping itu searah dengan dinamika lingkungan strategis, maka penajaman arah dan pengelompokan kebijakan yang memperhatikan pasar dan lingkungan sumberdaya spesifik lokalita. Hal ini disebabkan kedua potensi tersebut akan sangat menentukan keuntungan komparatif dan kompetitif dari komoditas pertanian Indonesia.
Success Story
dan Penelitian
Unggulan PSEKP Dua Tahun
Terakhir
1. Success Story PSEKP
Sebagai salah satu lembaga penelitian yang mendalami kajian tentang aspek sosial ekonomi pertanian di Indonesia, keberadaan PSEKP telah banyak mewarnai berbagai wacana dan kebijakan di seputar pembangunan ekonomi perdesaan, khususnya yang terkait dengan isu pertanian. Pengumpulan data series tentang beberapa indikator pembangunan perdesaan, dalam
bentuk panel data mikro petani nasional (PATANAS), diacu berbagai kalangan stakeholders baik dalam negeri maupun luar negeri (seperti World Bank), dimana data PATANAS dirujuk sebagai indikator pencapaian pembangunan pertanian, khususnya di wilayah perdesaan pada berbagai agroekosistem. Database PATANAS dengan cakupan berbagai aspek ekonomi pertanian, juga digunakan oleh banyak mahasiswa untuk penyelesaian program S-2 dan S-3 mereka.
Selain PATANAS, beberapa hasil penelitian lainnya yang sangat menonjol adalah PUAP, PSDS, Studi Kebijakan Akselerasi Pertumbuhan Produksi Padi di Luar Pulau Jawa dan Kajian Alternatif Skema Pembiayaan APBN untuk Mendukung Swasembada Beras. Implikasi kebijakan penelitian PUAP antara lain untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani melalui penyediaan modal dalam kegiatan agribisnis.
Dalam tata perdagangan dunia yang semakin terbuka saat ini PSEKP juga berperan sangat nyata dalam memandu para pengambil kebijakan di
Kementerian Pertanian, Perdagangan, Perindustrian, Kantor Menko Perekonomian serta Kementerian Luar Negeri, dalam menyikapi atau mengambil inisiatif berbagai kebijakan terkait komoditas pertanian Indonesia di forum kerja sama multilateral dan bilateral. Peran serta PSEKP merupakan wujud dari komitmen perlindungan petani dan konsumen dalam negeri. Peneliti PSEKP secara aktif menjadi anggota delegasi Republik Indonesia dalam berbagai forum internasional tentang perdagangan komoditas pertanian, seperti WTO, APEC dan lainnya. Untuk medukung keterlibatan peneliti PSEKP dalam berbagai forum ini, beberapa topik penelitian dilakukan terkait dengan perdagangan internasional, proyeksi serta perilaku harga dan indikator lainnya dari komoditas terpilih.
Selain beberapa hal di atas, secara sporadis PSEKP juga telah mewarnai berbagai kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia, yang dilakukan secara cepat, akurat dan tepat melalui kegiatan analisis kebijakan (Anjak). Berbagai kajian yang dilakukan didasarkan pada permintaan untuk mendukung suatu kebijakan, baik dari lingkup Kementerian Pertanian ataupun stakeholder (seperti Bappenas dan Kementerian Perdagangan)
lainnya, dan juga bersifat antisipasi terhadap berbagai hal yang terkait dengan dampak dari suatu kebijakan atau dari suatu kejadian. Beberapa kajian cepat yang terkait dengan penanggulangan bencana erupsi Merapi, subsidi pupuk dan stabilisasi harga pasar merupakan contoh dari kegiatan yang telah dilakukan.
2. Penelitian Unggulan Dua Tahun Terakhir
Beberapa hasil penelitian unggulan yang dijadikan sintesis, pertimbangan dan advokasi kebijakan pembangunan pertanian dan digunakan oleh pimpinan Kementerian Pertanian serta pihak terkait lainnya selama tahun 2011 – 2012 diantaranya adalah:
A. Penentuan Desa Calon Lokasi PUAP 2011 dan Evaluasi Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan
Dalam pelaksanaan pembangunan pertanian, sebagian besar pelaku/ petani menghadapi kendala permodalan, baik modal sendiri maupun akses terhadap lembaga permodalan yang ada. Untuk mengatasi keterbatasan modal petani tersebut, pemerintah mengambil inisiatif untuk memberikan stimulan bantuan modal finansial berasal dari APBN dalam bentuk Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) ke kelompok tani/Gapoktan. Pola BLM telah dimulai tahun 2000 dan sejak tahun 2008, pola BLM ini diperkenalkan dalam bentuk program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dibawah koordinasi PNPM Mandiri yang dilanjutkan pada tahun 2011. Untuk menyempurnakan pelaksanaan program PUAP tahun 2011 perlu dilakukan kegiatan yang mencakup: (a) membantu penentuan calon penerima dana BLM PUAP 2011 dan (b) evaluasi terhadap pelaksanaan program PUAP sebelumnya.
Evaluasi kinerja pelaksanaan program PUAP sudah dilaksanakan sejak tahun 2009. Secara umum, hasil evaluasi menunjukkan bahwa kinerja input, proses, output, outcome, dan dampak program masih belum dapat mencapai sasaran secara optimal. Di sisi lain, evaluasi tentang Program PUAP baru dilakukan pada Tahun 2011 dan hal ini sangat dibutuhkan untuk mendapatkan informasi dan pemahaman terhadap kelayakan pelaksanaan program PUAP. Seluruh informasi yang akan dikumpulkan diharapkan dapat memberikan gambaran secara holistik tentang pencapaian program PUAP di perdesaan.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Kementerian Pertanian telah merealisasikan pencairan dana BLM PUAP sebanyak 29.013 gapoktan yang tersebar di 33 Provinsi wilayah Indonesia, yakni 10.542 gapoktan pada tahun 2008, 9884 gapoktan (2009) dan 8587 gapoktan (2010). Hingga bulan November 2011, berdasarkan lima SK penetapan dana BLM PUAP mencakup 6697 gapoktan dengan nilai penyaluran Rp 669.693.808. Hal ini berarti bahwa sampai dengan tahun 2011, dari total desa di Indonesia (lebih dari 70.000 desa) maka hampir 50 persen jumlah desa yang ada di Indonesia telah menerima dana BLM PUAP.
Meskipun sumber usulan tetap sama dari tahun ke tahun, yakni usulan dari pemerintah daerah, aspirasi masyarakat dan unit kerja eselon I lingkup Kementan, namun terjadi perubahan pada mekanisme pengusulan desa calon lokasi penerima dana BLM PUAP. Perubahan mekanisme pengusulan desa ini terjadi akibat penyesuaian pelaksanaan PUAP dari tahun ke tahun. Pada aspek sosialisasi yang dilakukan berjenjang dari tingkat provinsi hingga desa dirasakan masih sangat kurang. Hal ini sangat berkaitan erat dengan pemahaman Program PUAP hingga level pengurus gapoktan dan petani. Pada umumnya, baik Penyuluh Pendamping dan Penyelia Mitra Tani menganggap materi pelatihan telah dapat dipahami dengan baik, namun pelaksanaan pelatihan terus diupayakan meningkat, baik dari aspek waktu, praktikum dan kualitas nara sumber. Koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah perlu ditingkatkan. Frekuensi pendampingan oleh Penyuluh Pendamping umumnya lebih intensif dibandingkan pendampingan oleh Penyelia Mitra Tani. Hal ini antara lain disebabkan oleh rasio jumlah gapoktan yang harus didampingi oleh Penyelia Mitra Tani melebihi kapasitasnya sehingga menjadi kurang optimal.
Introduksi inovasi teknologi dan rekayasa kelembagaan lebih menekankan pada pendekatan budaya material (bantuan dana, alsintan, sarana produksi) dibanding nonmaterial (membangun sistem nilai). Peranan BPTP dalam inovasi teknologi terhadap gapoktan cukup menonjol dengan langkah operasional kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh BPTP yang terkait dengan integrasi PUAP dan program lainnya. Pembinaan untuk kelembagaan Gapoktan dan LKM-A yang telah dilakukan melalui pendekatan kelompok, namun pendekatan partisipatif masih belum dilakukan secara maksimal. Pengembangan kelembagaan
Gapoktan dan LKM-A cenderung menggunakan pendekatan struktural dari pada pendekatan kultural;
Penyaluran dana BLM PUAP umumnya masih dilakukan oleh pengurus gapoktan atau unit usaha yang ada di bawah gapoktan. Pendirian Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A) masih jarang ditemui di lokasi provinsi contoh, kecuali di Jawa Timur dan Kabupaten Karo yang pada umumnya sudah membentuk LKM-A sebagai pengelola dana PUAP, walaupun sifatnya masih berupa unit usaha di bawah Gapoktan dan pengurusnya juga masih merangkap sebagai pengurus Gapoktan. Perkembangan dana BLM PUAP cukup lancar, kecuali untuk gapoktan di Provinsi NTB yang perkembangan dananya ada yang negatif karena terjadi penurunan harga ternak sapi. Perguliran dana PUAP rata-rata 2-4 kali dengan tingkat jasa yang ditetapkan antara 1,5 hingga 2,5 persen per bulan. Mekanisme peminjaman dana BLM PUAP umumnya yarnen, meskipun ada juga yang bulanan atau bahkan tahunan (kasus ternak sapi). Rata-rata gapoktan telah mempunyai unit usaha simpan pinjam, dengan menetapkan simpanan pokok, wajib dan sukarela yang merupakan syarat dalam pembentukan unit usaha simpan pinjam dan merupakan salah satu sumber permodalan yaitu sebagai modal swadaya masyarakat.
Implikasi kebijakan dari penelitian ini adalah program PUAP ditujukan, antara lain untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani melalui penyediaan modal dalam kegiatan agribisnis. Dalam hal pembinaan kegiatan gapoktan oleh PP dan PMT, informasi yang sangat kuat menunjukkan bahwa kwalitas dan frekwensi pembinaan mereka tidak dapat dilaksanakan secara optimal. Selain karena tidak memiliki sarana angkutan sendiri, sebagian PP masih berstatus honorer dengan masa depan yang tidak pasti. Demikian juga dengan PMT yang harus membagi waktu untuk mengunjungi 20 hingga 30 gapoktan secara bergiliran, namun hanya mendapat honorarium 8-10 bulan dalam setahun. Kondisi seperti ini diduga turut berkontribusi terhadap kurang efektifnya pembinaan di lapangan. Dalam konteks ini, sangat arif mengusulkan agar dapat dicarikan jalan keluar untuk kedua masalah diatas.
Alternatif yang dapat diusulkan untuk dipertimbangkan adalah kepastian masa depan para penyuluh. Pengangkatan penyuluh lapangan (atau PP) yang berstatus tenaga honorer menjadi pegawai tetap pemerintah perlu diprioritaskan dan diusulkan anggaran untuk kegiatan mereka, bahkan secara bertahap perlu diangkat penyuluh-penyuluh baru dan diberi tanggungjawab bersama-sama petani membantu meningkatkan kinerja usahatani pada setiap gapoktan. Selanjutnya, mengikuti pengangkatan PMT di daerah yang bantuannya sangat dibutuhkan untuk mendorong pengembangan gapoktan, maka kepada mereka layak diberikan kontrak dengan honorarium penuh selama 12 bulan dalam masa satu tahun.
Menyoroti kelembagaan PUAP saat ini, harus diakui bahwa tidak semua gapoktan penerima BLM PUAP memiliki potensi kuat memajukan agribisnis di wilayah masing-masing. Gapoktan yang memiliki potensi kuat untuk dikembangkan, dengan persyaratan tertentu, perlu diidentifikasi. Pembinaan berkelanjutan terhadap gapoktan berpotensi ini harus dilakukan dalam berbagai program yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Perkuatan kelembagaan harus dilakukan dengan berbagai upaya, baik upaya yang dilakukan pemerintah pusat dan disinkronkan dengan upaya yang mampu dilakukan oleh pemerintah daerah. Sinergi program kedua tingkat pemerintahan ini harus dilakukan secara terpadu agar percepatan pengembangan dapat diciptakan. Evaluasi yang dilakukan melalui penelitian ini mengindikasikan perlunya perkuatan kelembagaan gapoktan potensial tersebut.
Jika Program PUAP masih atau tidak dilanjutkan pada tahun-tahun yang akan datang pada desa/gapoktan lainnya, hasil penelitian ini mengindikasikan perlunya dilaksanakan identifikasi gapoktan potensial, khususnya gapoktan yang telah mempunyai LKM dan menekuni usaha ekonomi yang menjanjikan. Hal ini perlu dipertimbangkan dan dijadikan prioritas kegiatan (Ditjen PSP) pada tahun yang akan datang sehingga proses pengembangannya dapat dipercepat dan menjadi model yang dapat ditiru oleh gapoktan lain dalam peningkatan pengelolaan bantuan dana Program PUAP. Aspek lain terkait dengan dibutuhkannya dokumen legal LKM-A untuk melaksanakan dan memperluas kegiatan usaha/agribisnis adalah pemilihan bentuk badan hukum yang sesuai dengan keberadaan petani dalam gapoktan. Peran pembina gapoktan di daerah sangat penting. Para pembina daerah seharusnya memiliki agenda pembinaan yang jelas, terarah, serta konsisten dan dilakukan oleh individu-individu yang mewakili instansi/lembaga terkait. Daerah masih sangat lemah dalam koordinasi kegiatan seperti ini, terutama karena selain tidak memiliki agenda pembinaan yang jelas, seringnya pergantian pejabat yang mengurus kepentingan petani di daerah sangat memengaruhi kinerja para pembina ini. Arah dan konsistensi pembinaan dapat berubah dan kelanjutan kegiatan juga dapat terhambat. Oleh karena itu, para pembina di daerah perlu berkoordinasi dan membuat agenda pembinaan yang konkrit dan berkelanjutan, dan jika pergantian pejabat di daerah tidak dapat dihindarkan, maka setiap individu pembina ini harus tunduk pada agenda pembinaan dengan kegiatan yang telah disepakati. Tim Pembina/Teknis Program PUAP harus mengambil inisiatif melakukan komunikasi secara intensif dengan berbagai instansi terkait dan merumuskan berbagai bentuk pembinaan gapoktan, jika perlu untuk setiap gapoktan lengkap dengan materi, waktu, tempat, dan berbagai kebutuhan lainnya.
B. Panel Petani Nasional (PATANAS): Indikator Pembangunan Pertanian dan Perdesaan di Wilayah Agroekosistem Lahan Kering Berbasis Sayuran dan Palawija
Pembangunan pertanian dari sejak pemerintahan Orde Baru hingga ke pemerintahan Orde reformasi tidak pernah berhenti yang ditandai dengan silih bergantinya kebijakan dan program yang dijalankan yang semuanya dimaksudkan untuk mencapai target-target utama pembangunan pertanian. Selama lima tahun kedepan (2010-2014) ada 4 (empat) target utama Kementerian Pertanian, yaitu: (a)
pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, (b) peningkatan diversifikasi pangan, (c) peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, dan (d) peningkatan kesejahteraan petani (Kementerian Pertanian, 2009). Untuk mengetahui hasil-hasil dan dampak dari pembangunan pertanian khususnya yang berkaitan dengan target utama berupa peningkatan kesejahteraan petani sudah barang tentu pemerintah membutuhkan informasi yang dimaksudkan untuk mempertajam tujuan dan sekaligus kebijakan maupun program pembangunan pertanian itu sendiri. Infomasi tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator pembangunan ekonomi.
Dengan diperolehnya indikator-indikator pembangunan ekonomi tersebut akan diperoleh sejumlah manfaat. Pertama, indikator-indikator tersebut dapat melengkapi indikator pembangunan ekonomi di tingkat agregat nasional, provinsi atau kabupaten yang secara berkala diterbitkan oleh BPS. Kedua, indikator-indikator tersebut dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang dinamika hasil-hasil dan dampak pembangunan pertanian di tingkat rumah tangga di wilayah pedesaan khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan petani dalam periode 2008-2011. Ketiga, indikator-indikator tersebut dapat dijadikan masukan dalam rangka mempertajam tujuan dan sekaligus kebijakan maupun program pembangunan khususnya pembangunan pertanian yang bersifat spesifik lokasi dan spesifik komoditas.
Secara garis besar tujuan penelitian adalah menyajikan sejumlah indikator yang merefleksikan dinamika hasil-hasil dan dampak pembangunan pertanian dan perdesaan di wilayah agroekosistem lahan kering berbasis sayuran dan palawija khususnya di tingkat usahatani dan rumah tangga. Lokasi penelitian dilakukan di Provinsi Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukan bahwa luas lahan tegalan tidak mengalami pertambahan, sementara di sisi lain jumlah penduduk terus meningkat sehingga tekanan jumlah penduduk terhadap lahan pertanian cenderung semakin berat yang diindikasikan oleh rata-rata luas lahan tegalan per rumah tangga yang relatif sempit. Konsekuensinya, daya serap subsektor tanaman pangan di desa-desa lokasi penelitian terhadap pertambahan tenaga kerja akan semakin terbatas. Oleh karena itu, pemerintah perlu membuka seluas-luasnya lapangan kerja di sektor
non-pertanian agar terjadi pergeseran struktur kesempatan kerja di wilayah pedesaan
Kapasitas produksi usahatani komoditas utama (komoditas basis) di desa-desa lokasi penelitian masih memungkinkan ditingkatkan melalui penggunaan benih unggul berlabel dan penerapan pemupukan berimbang. Dalam hubungan ini yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah tetap memberikan subsidi untuk pupuk anorganik. Subsidi semacam ini harus juga diterapkan untuk benih palawija dan sayuran. Melalui pemberian subsidi pupuk dan
benih diharapkan beban biaya usahatani yang harus ditanggung petani menjadi relatif lebih ringan.
Pada saat ini diversifikasi sumber pendapatan harus dilakukan rumah tangga petani sebagai konsekuensi dari terbatasnya pendapatan dari usahatani komoditas utama (komoditas basis) dan atau sektor pertanian untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari baik berupa pengeluaran makan maupun non-makanan.
Dengan menggunakan pangsa pengeluaran pangan sebagai petunjuk tingkat kesejahteraan, selama periode tahun 2008-2011 secara agregat rumah tangga petani lahan kering berbasis palawija mengalami peningkatan kesejahteraan yang ditunjukkan oleh penurunan pangsa pengeluaran pangan dari 62 persen pada tahun 2008 menjadi 57,54 persen pada tahun 2011, sementara itu secara agregat rumah tangga petani lahan kering berbasis sayuran mengalami penurunan tingkat kesejahteraan yang ditunjukkan oleh kenaikan pangsa pengeluaran pangan dari 47 persen pada tahun 2008 menjadi 56,67 persen pada tahun 2011.
Selama periode tahun 2008-2011 jumlah rumah tangga miskin khususnya di desa-desa lokasi penelitian diperkirakan meningkat disebabkan oleh penurunan tajam profitabilitas beberapa usahatani dan relatif rendahnya tingkat dan laju upah tenaga kerja di sektor pertanian selama periode tahun tersebut. Oleh karena itu program raskin dinilai tetap bermanfaat bagi meringankan beban pengeluaran (khususnya pengeluaran pangan) bagi penduduk miskin.
C. Keragaan, Permasalahan dan Upaya Mendukung Akselerasi Program Swasembada Daging Sapi
Selama 40 tahun terakhir industri sapi potong Indonesia mengalami dinamika yang arahnya cenderung negatif. Ketika dasawarsa 1979-1980 Indonesia merupakan negara eksportir sapi potong. Kemudian pada dasawarsa 1980-1990 Pemerintah mengambil kebijakan menghentikan ekspor sapi potong dan kerbau). Akhirnya sejak awal tahun 1990-an sampai saat ini justru Indonesia menjadi negara pengimpor sapi potong. Hal ini disebabkan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan. Di lain pihak, pertumbuhan produksi daging sapi dalam negeri relatif lambat.
Mengingat pentingnya kemandirian pangan, dengan dukungan politik dan dana serta pengalaman di masa lalu maka kebijakan swasembada daging sapi dan kerbau dilakukan lagi dengan rancangan yang melibatkan berbagai stakeholder. Rancangan dibuat dalam suatu dokumen berupa blue print (BP). Dengan demikian diharapkan program akan memberi hasil lebih baik dari dua program sebelumnya. Untuk mendapat hasil sesuai dengan tujuan dan maksud dari PSDS maka diperlukan data dan informasi terkait dengan implementasi dan dampak PSDS. Untuk itu penelitian yang terkait dengan kinerja dan upaya akselerasi PSDS perlu dilakukan sebagai bahan masukan bagi instansi terkait yang melaksanakan program tersebut, khususnya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjennak dan Keswan), Kementerian Pertanian (Kementan). Dalam BP, PSDS 2014 akan ditempuh dengan 13 rencana aksi. Namun darimana menurunkan ketigabelas rencana aksi tersebut merupakan masalah yang perlu ditelusuri. Apakah kegiatan yang ada diturunkan dari struktur organisasi Ditjennak yang cenderung membagi tugas namun tidak melihat urgensi kegiatan dikaitkan dengan keterbatasan dana dan waktu untuk melaksanakan program? Atau, kegiatan yang ada diturunkan dari teori fungsi produksi atau penawaran, sehingga upaya yang dilakukan adalah bagaimana menggeser kurva penawaran ke kanan. Selanjutnya dari peubah yang ada apakah ada langkah-langkah penentuan prioritas, sehingga kegiatan mana yang didahulukan. Artinya, perlu diketahui apa konsep swasembada yang digunakan dan upaya apa yang dilakukan untuk mencapai swasembada tersebut.
Implementasi kebijakan selama ini cenderung bersifat top down dan seragam pada berbagai daerah. Padahal kondisi bervariasi dan kebijakan akan dirasakan berbagai pihak.
Senjang permintaan dan penawaran daging sapi nasional terus melebar. Untuk menutupi senjang tersebut dipenuhi dari impor. Pertumbuhan volume impor ternak dan daging sapi nasional terus meningkat. Efisiensi produksi dan pemasaran di dan dari negara eksportir memicu semakin besarnya pangsa impor tersebut. Akibatnya industri sapi potong nasional yang berbasis peternakan skala kecil terus terdesak. Apabila tidak ada upaya khusus, ketergantungan impor akan semakin meningkat dan mengancam kemandirian pangan dan industri sapi potong nasional. Pemerintah mencanangkan program swasembada daging sapi (PSDS). Upaya tersebut tidak mudah, membutuhkan alokasi anggaran yang besar, butuh komitmen tinggi antar instansi dan tingkat Pemerintahan, melibatkan banyak stakeholder dan membutuhkan waktu lama. Agar program berjalan efektif diperlukan informasi dan data dukung terkait dengan permasalahan implementasi program di lapangan sejak konsep, dukungan anggaran dan pelaksanaan kegiatan di lapang. Informasi dan data dukung tersebut akan dikomunikasikan kepada berbagai instansi terkait untuk mengakselerasi tujuan dan maksud yang ingin dicapai PSDS.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa pelaksanaan PSDS 2014 baik di tingkat pusat maupun di berbagai daerah khususnya pada empat lokasi penelitian mendapat dukungan berbagai pihak. Hal itu terlihat dari dukungan program dan dana baik dari Ditjen dalam Kementan, kementerian lain, Pemda, Program CSR dan Community Development pihak swasta yang mendukung 13 kegiatan PSDS 2014 koheren mencapai sasaran. Distribusi dokumen formal sebagai payung hukum pelaksanaan PSDS di daerah masih belum berjalan dengan baik. Sosialisasi dan pelaksanaan di daerah terutama pada tingkat kabupaten/kota terkadang menghadapi kendala dana operasional akibat sistem otonomi daerah yang mengharuskan daerah membiayai sendiri programnya.
Dukungan SDM untuk mensukseskan PSDS masih kurang, terutama pada aspek budidaya (reproduksi) dan pascapanen (tenaga di RPH). SDM mutlak diperlukan untuk menjamin berlangsungnya keseluruhan program terlaksana dengan baik sesuai dengan petunjuk pelaksanaan 13 kegiatan PSDS.
Peningkatan populasi dan produksi ternak dan daging sapi melalui berbagai program pada poknak termasuk SMD diperkirakan akan berpengaruh positif namun dalam menentukan calon kelompok dan calon lokasi perlu diperketat. Pencapaian target pengembangan pupuk organik dan biogas akan mudah dicapai, namun hasilnya tidak berpengaruh langsung pada kegiatan peningkatan populasi dan produksi terrnak dan daging sapi. Kegiatan ini dapat merangsang peternak untuk berusaha karena mampu memberi penghasilan baik tunai maupun tidak. Kegiatan integrasi sawit sapi merupakan potensi besar untuk meningkatkan populasi dan produsi ternak dan daging sapi. Namun pihak pengelola perkebunan sawit masih banyak yang belum terlibat, padahal potensi keuntungan yang dihasilkan cukup baik.
Penyediaan bibit sapi dalam bentuk produksi dan distribusi semen beku menunjukkan hasil yang baik terutama yang dilakukan oleh UPT Pusat. Namun dalam pelaksanaan IB di tingkat peternak masih mengalami hambatan. Hal ini terindikasi dari nilai service per conception (S/C) yang besar dan jarak kelahiran lebih dari 14 bulan. Masalah utama adalah kekurangan tenaga inseminator, pemeriksa kebuntingan, dan tenaga lain yang mendukung keberhasilan IB.
Implementasi kegiatan penjaringan betina produktif masih mendua antara dilakukan di RPH, di pasar hewan, atau di tingkat peternak. Hasil sementara beberapa sapi betina hasil penjaringan sudah memberi keturunan dengan kualitas yang baik. Namun beberapa opsi tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan, terutama ada dugaan terjadi manipulasi pemanfaatan dana.
Pengendalian impor ternak dan daging sapi pada akhir 2010 telah mampu mendorong meningkatnya volume pemasaran dari sentra produksi terutama dari Jawa ke sentra konsumsi di Jabar. Hal ini terindikasi dari banyaknya sapi yang diperdagangkan di pasar hewan Ciwareng
yang memperdagangkan sapi bibit dan sapi potong serta sapi yang masuk RPH Ciroyom Bandung.
Di tingkat makro, untuk mensukseskan PSDS 2014 dukungan kebijakan impor sapi bibit/bakalan, daging sapi, dan jeroan harus ditinjau ulang untuk menjamin kelangsungan usahaternak sapi skala kecil yang mendominasi peternakan sapi Indonesia. Diharapkan pemerintah tidak melakukan kebijakan berstandar ganda, sehingga akan menghambat target yang ingin dicapai Program PSDS.
Implikasi kebijakan dari penelitian ini adalah: (1) Seleksi kelompok mendukung peningkatan populasi perlu dilakukan dengan seleksi ketat sehingga hasilnya menjadi lebih efektif. Upaya lain adalah melibatkan BUMN, investor lokal, dan mengembangkan usaha skala menengah yang ada di masyarakat; (2) Mulai 2012 sebaiknya penerapan pengolahan pupuk organik dan biogas dilakukan pada lokasi yang benar-benar dibutuhkan dan sumber pupuk kandang tersedia tidak disamaratakan pada setiap daerah. Pada beberapa daerah, keberadaan biogas dan pupuk organik masih belum dibutuhkan; (3) Upaya mengoptimalkan sistem integrasi sawit sapi memerlukan peran pihak lain di luar Kementerian Pertanian, seperti pihak BUMN, Asosiasi Perkebunan, dan penyandang dana yang terkait dengan usaha perkebunan sawit; (4) Namun beberapa opsi tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan, terutama ada dugaan terjadi manipulasi pemanfaatan dana. Karena masih pada tahap awal, maka kegiatan ini perlu terus dimonitor dan dievaluasi secara khusus, sehingga terhindar dari upaya-upaya moral hazard yang merugikan; (5) Untuk meningkatkan efektivitas program penjaringan betina produktif memerlukan monitoring, evaluasi, dan perbaikan terus-menerus, sehingga terhindar dari upaya-upaya moral hazard yang merugikan; (6) Kegiatan VBC belum memberi hasil yang memuaskan. Oleh karena itu, kegiatan VBC sebaiknya dialihkan pada kegiatan pertama, yaitu pengembangan usaha pembiakan sapi lokal; (7) Untuk mendorong kegiatan peningkatan populasi dan produksi daging sapi di dalam negeri diperlukan pengendalian impor ternak dan daging sapi yang dilakukan dengan komitmen tinggi dan konsisten; (8) Perbaikan di berbagai lini harus dilakukan di tingkat mikro dan makro dan mengarahkan kegiatan menjadi lebih fokus, sehingga dana, tenaga, dan waktu untuk mencapai target swasembada menjadi lebih efisien dan efektif; (9) Distribusi dan pemasaran sapi dan daging harus memperhatikan aspek keswan dan kesmavet. Pencegahan penyakit menular dari ternak ke ternak atau dari ternak ke manusia harus menjadi agenda setiap pihak yang terlibat dalam saluran distribusi dan pemasaran tersebut; (10) Masyarakat perlu ditingkatkan kesadarannya tentang pentingnya memperoleh daging ASUH dari ternak yang sehat dan tidak membeli karena harga murah. Di setiap mata rantai pemasaran akan selalu ada celah pelanggaran terkait kedua aspek tersebut. Peran Pemerintah penting dalam membuat aturan dan sanksi tegas atas pelanggaran kedua aspek ini, sehingga memberi efek jera.
D. Studi Kebijakan Akselerasi Pertumbuhan Produksi Padi di Luar Jawa
Secara historis, Pulau Jawa merupakan sentra produksi padi dan sebagian besar produksi padi nasional dihasilkan di Pulau Jawa. Selama tahun 1985-2005 sekitar 55-62 persen produksi padi nasional dihasilkan di Pulau Jawa. Sekitar 95 persen produksi padi tersebut dihasilkan dari lahan sawah dan sisanya dihasilkan dari lahan kering (padi ladang). Akan tetapi, laju pertumbuhan produksi padi sawah di Pulau Jawa akhir-akhir ini justru cenderung turun. Selama tahun 1985-1995 produksi padi sawah di Jawa rata-rata meningkat 1,60 persen per tahun tetapi pada tahun 1995-2005 laju peningkatan produksi padi tersebut hanya sebesar 0,59 persen per tahun.
Dalam jangka panjang laju pertumbuhan produksi padi di Jawa diperkirakan akan terus mengalami penurunan atau semakin lambat terutama karena konversi lahan sawah ke penggunaan non pertanian di Pulau Jawa akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan jumlah penduduk yang membutuhkan lahan untuk pemukiman sehingga akan mengurangi
kapasitas produksi padi sawah. Oleh karena itu, untuk mendorong peningkatan produksi padi nasional maka perlu dilakukan suatu terobosan dengan memacu peningkatan produksi padi di luar Jawa. Secara agronomis upaya peningkatan produksi padi tersebut dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas, peningkatan luas tanam, dan peningkatan intensitas tanaman padi, khususnya di daerah yang memiliki agroklimat yang sesuai untuk pengembangan tanaman padi.
Kecamatan di Pulau Sulawesi sebagian besar memiliki basis sumberdaya lahan kering (74,7% kecamatan). Hal ini mengungkapkan bahwa sebagian besar kecamatan di pulau Sulawesi memiliki sumberdaya lahan kering yang relatif dominan. Jika dikaji menurut peranannya terhadap luas tanaman padi di Pulau Sulawesi, maka sebagian besar kecamatan tidak tergolong sebagai sentra tanaman padi dan hanya 214 kecamatan atau 27,5 persen kecamatan yang tergolong sentra tanaman padi.
Struktur tanaman pangan yang didominasi oleh tanaman padi dan areal tanaman padi yang relatif luas, menyebabkan kecamatan sentra padi memiliki peranan cukup besar terhadap total luas tanaman padi di Pulau Sulawesi. Sekitar 75 persen tanaman padi di Pulau Sulawesi dikembangkan pada kecamatan sentra tanaman padi dan sisanya diusahakan pada kecamatan non sentra tanaman padi. Namun sekitar 62 persen tanaman kedele juga dikembangkan pada kecamatan sentra padi dan sisanya dikembangkan pada kecamatan non sentra tanaman padi.
Dari segi luas lahan sawah, luas lahan sawah cenderung lebih besar di kecamatan sentra tanaman padi (3601 ha/kecamatan) dibanding kecamatan bukan sentra tanaman padi (784 ha/kecamatan). Dari segi luas lahan sawah per keluarga, luas lahan sawah per keluarga relatif lebih luas di kecamatan sentra
tanaman padi (0,56 ha/keluarga) dibanding kecamatan bukan sentra tanaman padi (0,18 ha/keluarga). Dari segi ketersediaan jaringan irigasi, jumlah desa yang tersedia jaringan irigasi cenderung lebih banyak di kecamatan sentra tanaman padi (71,8% desa) dibanding kecamatan bukan sentra tanaman padi (36,1% desa).
Dari segi jumlah tenaga kerja buruh tani, jumlah tenaga kerja buruh tani relatif lebih banyak di kecamatan sentra tanaman padi (2888 orang per kecamatan) dibanding kecamatan bukan sentra tanaman padi (1274 orang per kecamatan). Selanjutnya, dari segi keberadaan fasilitas kredit, jumlah desa yang telah menikmati fasilitas kredit cenderung lebih banyak di kecamatan sentra tanaman padi (KKP 9,6% desa;KUK 26,4% desa; KPR 11,2% desa dan kredit lainnya 41,2% desa) dibanding kecamatan bukan sentra tanaman padi (KKP 4,9% desa; KUK 22,2% desa;KPR 6,3% desa; dan kredit lainnya 25,7% desa).
Dari segi peranan sektor pertanian sebagai sumber pendapatan penduduk, peranan sektor pertanian sebagai sumber pendapatan penduduk cenderung lebih besar di kecamatan sentra tanaman padi (97,0%) dibanding kecamatan bukan sentra tanaman padi (81,7%). Dari segi luas tanam padi, luas tanam padi cenderung lebih banyak di kecamatan sentra tanaman padi (5210 ha/kecamatan) dibanding kecamatan bukan sentra tanaman padi (654
ha/kecamatan). Kemudian, dari segi IP padi, 60,8 persen luas sawah di kecamatan sentra tanaman padi memiliki IP padi 100-200 persen. Sementara itu 70,5 persen luas sawah di kecamatan bukan sentra tanaman padi memiliki IP padi kurang dari 100 persen.
Besarnya peranan faktor-faktor penentu pengembangan padi diurut dari yang terbesar hingga terkecil adalah sebagai berikut: (1) kondisi iklim dan tanah (31,0%), (2) karakteristik sumberdaya lahan (18,6%), (3) infrastruktur pendukung (14,7%), (4) lembaga pendukung (9,7%), (5) lingkungan sosial ekonomi (10,3%), (6) karakteristik petani (7,5%), dan (7) ketersediaan teknologi (8,1%).
Di Pulau Sulawesi, Sumatera dan Papua ketersediaan air masih melebihi kebutuhan air dengan kata lain masih mengalami surplus. Surplus air tersebut pada umumnya terjadi pada musim hujan maupun musim kemarau. Di Pulau Sulawesi surplus air tersebut sekitar 89 persen pada musim hujan dan 37 persen pada musim kemarau dan hal ini menunjukkan bahwa dari segi ketersediaan air peningkatan luas tanaman semusim masih memungkinkan. Dalam konteks perluasan tanaman padi hal tersebut mengindikasikan bahwa peluang keberhasilan peningkatan IP padi di Pulau Sulawesi masih cukup besar.
Potensi perluasan sawah di Pulau Sulawesi sebesar 423 ribu hektar. Seluruh sumberdaya lahan yang dapat dijadikan lahan sawah tersebut berupa lahan bukan rawa. Di Pulau Sulawesi kendala sosial pengembangan lahan sawah relatif kecil dibanding Pulau Maluku dan Papua atau Pulau Kalimantan, karena sebagian besar petani di Pulau Sulawesi telah terbiasa menanam padi.
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa secara sosial peluang keberhasilan perluasan lahan sawah dalam rangka mendorong peningkatan produksi padi di luar Pulau Jawa relatif besar di Pulau Sulawesi dibanding pulau lainnya.
Khusus di Provinsi Sulawesi Selatan, terdapat 146 kecamatan atau 52,0 persen kecamatan yang memiliki potensi pengembangan padi relatif tinggi dengan total luas sawah sekitar 479,9 ribu hektar atau 81,0 persen dari luas sawah yang tersedia. Kecamatan tersebut pada umumnya merupakan kecamatan sentra tanaman padi. Sekitar 53 persen lahan sawah tersebut terdapat di 4 kabupaten utama, yaitu Kabupaten Wajo, Bone, Pinrang dan Sidrap. Sementara di Provinsi Sulawesi Tengah terdapat 31 kecamatan atau 27,2 persen kecamatan yang memiliki potensi pengembangan padi relatif tinggi dengan total luas sawah sekitar 94,2 ribu hektar atau 63 persen dari luas sawah yang tersedia. Kecamatan tersebut pada umumnya merupakan kecamatan sentra tanaman padi. Sekitar 59,5 persen lahan sawah tersebut terdapat di 3 kabupaten utama, yaitu Kabupaten Sigi, Parigi Moutong dan Banggai.
Implikasi kebijakan penelitian ini adalah bahwa ancaman konversi lahan sawah pada tipe kecamatan sentra padi relatif tinggi sehingga lahan sawah yang tersedia cenderung berkurang, padahal pada wilayah tersebut mempunyai peranan relatif besar terhadap luas tanaman padi, kedele dan jagung. Untuk mengatasi masalah ini perlu diterapkan kebijakan insentif yang difokuskan pada kecamatan potensial padi. Disamping untuk mengatasi masalah konversi lahan kebijakan tersebut juga diperlukan untuk mengurangi kemiskinan di wilayah tersebut.
Peluang peningkatan IP padi di Pulau Sulawesi juga masih cukup besar mengingat surplus air pada musim hujan dan musim kemarau masih cukup besar. Dalam kaitan ini, pemanfaatan air sungai untuk irigasi melalui pompanisasi merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh, mengingat cukup banyak desa yang dilalui sungai tetapi hanya sebagian kecil yang telah dimanfaatkan untuk irigasi. Pendekatan lain yang perlu ditempuh pada lahan sawah irigasi adalah melakukan penataan jadwal pengairan dan pasokan air yang optimal untuk usahatani padi. Dalam kaitan ini koordinasi dengan institusi pengairan sangat diperlukan.
E. Panel Petani Nasional (Patanas): Dinamika Indikator Pembangunan Pertanian Dan Perdesaan di Wilayah Agroekosistem Lahan Kering Berbasis Perkebunan
Penelitian PATANAS (Panel Petani Nasional) merupakan kajian yang bersifat panel, dirancang untuk memantau dan memahami berbagai perubahan jangka panjang profil rumahtangga di daerah perdesaan. Kajian PATANAS menghasilkan data panel mikro, gabungan data time series dan cross section
yang memiliki kandungan data dan informasi yang rinci serta memiliki spektrum ekonomi dan sosial yang sangat luas mencakup berbagai variasi agroekosistem dan wilayah serta komoditas basis. Dinamika pembangunan pertanian dan perdesaan di wilayah agroekosistem lahan kering berbasis perkebunan mengkaji perubahan kondisi sosial ekonomi perdesaan dalam rentang waktu 2009 – 2012. Dari kajian ini akan dihasilkan sejumlah indikator pembangunan pertanian dan perdesaan.
Tujuan umum penelitian adalah mengkaji dinamika sosial ekonomi perdesaan di agroekosistem lahan kering berbasis perkebunan dalam periode 2009-2012 guna menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan kapasitas produksi usahatani dan kesejahteraan rumah tangga di wilayah agroekosistem lahan kering berbasis perkebunan. Dasar pemilihan provinsi-provinsi yang menjadi lokasi penelitian yang mewakili agroekosistem lahan kering berbasis perkebunan yang sudah dilakukan pada survei pertama (tahun 2009) adalah berdasarkan konsep sentra produksi dengan metoda LQ (Loqation Qoution), adalah Jambi (mewakili komoditas karet dan kelapa sawit), Jawa Timur (mewakili komoditas Tebu), Kalimantan Barat (mewakili komoditas karet dan kelapa sawit), dan Sulawesi Selatan (mewakili komoditas kakao).
Kajian penelitian ini menghasilkan kesimpulan antara lain: (1) Dinamika penguasaan lahan selama periode 2009-2012 mengalami peningkatan cukup nyata pada wilayah komoditas basis karet dan kelapa sawit yang umumnya diperoleh melalui lahan warisan yang semula masih berupa hutan dan melalui pembelian kebun dari petani lain dengan distribusi penguasaan lahan yang dicerminkan melalui indeks Gini secara umum bergeser dari status ketimpangan ringan ke sedang; (2) Penyerapan tenaga kerja dan partisipasi kerja cenderung meningkat, kecuali untuk wilayah komoditas basis tebu yang cenderung menurun; (3) Adopsi teknologi budidaya cenderung meningkat yang ditunjukkan melalui peningkatan partisipasi penggunaan bibit unggul, dan teknik pemeliharaan yang baik; (4) Pendapatan rumahtangga perkebunan setara beras meningkat rata-rata 82 persen dari 3707 kg/kapita/tahun menjadi 6753 kg/kapita/tahun karena membaiknya harga komoditas perkebunan dan semakin banyaknya ragam sumber pendapatan; (5) Selama periode 2009-2012 pengeluaran total rumahtangga secara nominal meningkat 50 persen, sedangkan secara riil setara kg beras rata-rata hanya meningkat 17 persen; (6) Secara rataan insiden kemiskinan (headcount index) berkisar 5,0 persen - 15,0 persen, kecuali untuk kabupaten Pinrang yang mewakili agroekosistem lahan kering perkebunan berbasis komoditas kakao sebesar 35,9 persen; (7) Secara umum nilai tukar petani (NTP) pekebun selama periode 2009-2012 terhadap total pengeluaran, dan total konsumsi pangan dan non pangan, namun nilai tukar terhadap biaya produksi cenderung menurun, yang mengindikasikan semakin meningkatnya biaya produksi usahatani; dan (8) Pada kelembagaan Agribisnis, cara pemasaran