23 CARA PENYELESAIAN KELALAIAN DAN WANPRESTASI PADA PROGRAM TABUNGAN PENDIDIKAN MITRA IQRA’ (STUDI KASUS DI AJB BUMIPUTERA
1912 DIVISI SYARIAH JEMBER 2010) Sayid Aziz Ghaffar
IAIN Jember
ABSTRAK
Produk yang paling rentan akan resiko terjadinya kelalaian dan wanprestasi adalah produk yang paling banyak nasabahnya, yaitu Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’. Hal ini bedasarkan data dari Buku Produksi 2010 AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember dan interview dengan Supervisor AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember Tanggal 21 Desember 2010, yang menyatakan; Dari 58 orang jumlah total peserta yang menfatar pada tahun 2010 di Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’, 20% pernah lalai dalam membayar premi dan 2% pernah melakukan wanprestasi. Adanya kelalaian sebesar 20% dan wanprestasi 2%, membuat peneliti tertarik untuk mengkaji fenomena tersebut. Fokus penelitian adalah: Bagaimana cara penyelesaian kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember. Untuk sub pokok masalahnya adalah; a). Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’?, b). Bagaimana somasi di Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ ketika shahibul mal lalai?, c). Bagaimana cara penyelesaian wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’?. Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif, dan metode penentuan informannya menggunakan purposive sampling, metode pengumpulan data meliputi metode interview, observasi, dan dokumentasi. Adapun metode analisa datanya adalah induktif, untuk mengetahui hasil penelitian berdasarkan data terkumpul yang dicari secara berulang-ulang. Sedangkan keabsahan datanya menggunakan metode triangulasi sumber, yaitu membandingkan dan mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Dari hasil penelitian yang didapat dari teori dan masalah dilapangan, maka dapat disimpulkan bahwa: Ketika Peserta/Pemegang Polis lalai, maka badan (pihak asuransi) mensomasi yang bersangkutan sebanyak tiga kali selama masa grace period. Kemudian ketika peserta/pemegang polis masih belum membayar seletah melewati masa leluasa/grace period, maka yang bersangkutan dinyatakan wanprestasi dan badan (pihak asuransi) akan melakukan tindakan sesuai dengan pasal-pasal yang tertulis di Syarat-syarat Umum Polis Asuransi Jiwa Syariah AJB Bumiputera 1912.
Kata Kunci: Asuransi, Kelalaian, Wanprestasi PENDAHULUAN
Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 pada tahun 2009 hanya memperoleh pemasukan premi 89% dari target awal premi senilai Rp. 5,1 Triliun (www.detikfinance.com, diakses 22 Desember 2010), kemudian untuk tahun 2010 Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 menargetkan memperoleh premi sebesar Rp. 5,7 triliun, namun target tersebut diprediksikan hanya berhasil dicapai sekitar Rp. 5,4 triliun, atau hanya 95% (www.vibiznews.com, diakses 22 Desember 2010), karena total pendapatan premi pada bulan Juli 2010 yang berhasil dibukukan hanya Rp. 3,38 Triliun (www.tribunnews.com, diakses 22 Desember 2010). Salah satu faktor kurang maksimalnya
24 pencapaian perolehan target adalah, tingkat kepatuhan peserta/pemegang polis dalam pembayaran premi yang masih rendah (www.bumiputera.com, diakses 22 Desember 2010).
Rendahnya tingkat kepatuhan peserta/pemegang polis dalam pembayaran premi bisa berupa terlambat membayar premi atau bahkan berhenti membayar premi sebelum kontrak selesai. Poin-poin perjanjian yang harus dipatuhi nasabah AJB Bumiputera 1912 sudah tertuang di dalam Syarat-Syarat Umum Polis dan Syarat-Syarat-Syarat-Syarat Khusus Polis. Apabila nasabah tidak mematuhinya maka bisa disebut lalai atau bahkan wanprestasi.
”Wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur ... seorang debitur baru dikatakan wanprestasi apabila ia telah diberikan somasi oleh kreditur atau juru sita.” (Salim, 2003: 98-99).
Kelalaian dan wanprestasi adalah resiko yang rentan dihadapi oleh perusahaan asuransi, termasuk Asuransi Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember yang salah satu programnya adalah Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ atau Dana Investasi. Sula (2004:641) mendefinisikan, “Program Takaful dana siswa adalah suatu bentuk perlindungan untuk peroragan yang bermaksud menyediakan dana pendidikan, dalam mata uang Rupiah dan US Dollar untuk putra-putrinya sampai sarjana”.
Secara definitif ada 3 produk yang ditawarkan AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember; Program Tunjangan Hari Tua Mitra Sakinah, Program Tabungan Haji Mitra Mabrur, dan Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’. Dari ketiga produk tersebut, yang paling banyak nasabahnya adalah Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’, yaitu 58 nasabah yang mendaftar pada tahun 2010 (Buku Produksi 2010, AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember, Tidak Diterbitkan). Jadi, produk yang paling rentan akan resiko terjadinya kelalaian dan wanprestasi adalah Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’. Hal ini bedasarkan data dari Buku Produksi 2010 AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember dan interview dengan M. Ichsanuddin, Supervisor AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember Tanggal 21 Desember 2010, yang menyatakan; Dari 58 orang jumlah total nasabah atau shahibul mal di Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ yang mendaftar pada tahun 2010, 20% pernah lalai dalam membayar premi dan 2% pernah melakukan wanprestasi.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti dan membahas lebih mendalam tentang cara penyelesaian kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan
25 Pendidikan Mitra Iqra’ yang dilakukan AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember dan faktor-faktor yang menyebabkan kelalaian dan wanprestasi tersebut.
LANDASAN TEORITIS Somasi
Fuady (2001: 88) menyebutkan bahwasanya tindakan wanprestasi ini dapat terjadi karena Kesengajaan, Kelalaian; dan Tanpa kesalahan (tanpa kesengajaan atau kelalaian). Somasi diatur dalam pasal 1238 KUH Perdata dan pasal 1243 Perdata. Somasi adalah teguran dari si berpiutang (kreditur) kepada si berutang (debitur) agar dapat memenuhi prestasi sesuai dengan isi perjanjian yang telah disepakati antara keduanya. Somasi timbul disebabkan debitur tidak memenuhi prestasinya, sesuai dengan yang diperjanjikan (Salim, 2003: 96). Yang berwenang mengeluarkan surat perintah itu adalah kreditur atau pejabat yang berwenang untuk itu. Pejabat yang berwenang untuk itu adalah Juru Sita, Badan Urusan Piutang Negara, dan lain-lain (Salim, 2003: 96-97). Agar somasi yang dilayangkan efektif menekan pihak lawan untuk memenuhi prestasi dan tuntutan yang ada, penyusunannya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut,
(www.surabayapagi.com/index.php?p=detilberita&id=12693, diakses 25 Oktober 2010): 1. Identitas pemberi somasi dan identitas lawan harus jelas. Nama, sebutan ataupun alias harus
ditulis lengkap. Alamat domisili kedua belah pihak harus ditulis dengan jelas.
2. Isi materi harus menyebutkan tuntutan yang diajukan. Isi materinya tentang pemenuhan wanprestasi pihak lawan dan atau menyebutkan perbuatan melawan hukum pihak lawan yang merugikan pemberi somasi. Dasar-dasar pengajuan tuntutan juga harus ditulis lengkap. Serta tuntutan permintaan ganti kerugian, besar nominalnya harus ditulis.
3. Batas waktu pemenuhan somasi oleh pihak lawan harus ditentukan dengan tegas. Tujuannya, bila pihak lawan tidak menanggapi dan memenuhi isi somasi, maka pemberi somasi bisa langsung mengajukan gugatan
Wanprestasi
Wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur ... seorang debitur baru dikatakan wanprestasi apabila ia telah diberikan somasi oleh kreditur atau juru sita. (Salim, 2003: 98-99). Yang dimaksud wanprestasi adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahannya,
26 debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian. Adapun bentuk-bentuk dari wanprestasi yaitu:
1. Tidak memenuhi prestasi sama sekali; Sehubungan dengan dengan debitur yang tidak memenuhi prestasinya maka dikatakan debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali.
2. Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya; Apabila prestasi debitur masih dapat diharapkan pemenuhannya, maka debitur dianggap memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya.
3. Memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru; Debitur yang memenuhi prestasi tapi keliru, apabila prestasi yang keliru tersebut tidak dapat diperbaiki lagi maka debitur dikatakan tidak memenuhi prestasi sama sekali.
Ada empat akibat adanya wanprestasi (Salim, 2003: 99), yaitu Perikatan tetap ada, debitur harus membayar ganti rugi kepada kreditur (Pasal 1243 KUH Perdata), beban risiko beralih untuk kerugian debitur, jika halangan itu timbul setelah debitur wanprestasi, kecuali bila ada kesengajaan atau kesalahan besar dari pihak kreditur. Serta jika perikatan lahir dari perjanjian timbal balik, kreditur dapat membebaskan diri dari kewajibannya memberikan kontra prestasi dengan menggunakan pasal 1266 KUH Perdata. Kreditur dapat menuntut kepada debitur yang telah melakukan wanprestasi tentang permintaan pemenuhan prestasi saja dari debitur, Kreditur dapat menuntut prestasi disertai ganti rugi, hanya mungkin kerugian karena keterlambatan, Kreditur dapat menuntut pembatalan perjanjian, Kreditur dapat menuntut pembatalan disertai ganti rugi kepada debitur. Ganti rugi itu berupa pembayaran uang denda.
Asuransi Syariah
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama’ Indonesia No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, mendefinisikan asuransi syariah yaitu Asuransi syariah (Ta’min, Takaful atau Tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pngembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.
Dari definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi syariah merupakan suatu pengaturan pengelolaan risiko yang memenuhi ketentuan syariah yang bersifat saling melindungi dan tolong-menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa atas dasar persaudaraan atau ukhuwah islamiyah di antara sesama anggota peserta asuransi syariah dalam menghadapi suatu musibah
27 atau bencana yang dialami salah satu dari mereka. Artinya jika sebagian diantara mereka mengalami peristiwa tersebut, maka semuanya saling menolong dengan memberikan sedikit derma (tabarru’). Dasar Hukum Asuransi Syariah
Al-Qur’an tidak menyebutkan dengan tegas ayat yang menerangkan tentang asuransi seperti saat ini secara praktis. Indikasinya adalah, tidak munculnya istilah asuransi atau at-ta’min secara gamblang dalam Al-Qur’an. Meskipun begitu, ada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an yang menerangkan nilai-nilai dasar dalam praktek asuransi secara implisit. Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang mempunyai muatan nilai-nilai yang ada dalam praktek asuransi adalah surat Al-Ma’idah (5) ayat 2:
اللهاوقتاو ناودعلاو مثلإا يلع اونواعتلاو يوقتلاو ربلا يلع اونواعتو
:ةدءاملا
٢
باقعلا ديدش الله نإ
Artinya: ” ... dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kemu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (Ali, 2004: 105).Ayat ini memuat perintah (amr) tolong-menolong antar sesama manusia. Dalam bisnis asuransi, nilai ini terlihat dalam praktik kerelaan anggota (nasabah) perusahaan asuransi untuk menyisihkan dananya agar digunakan sebagai dana sosial (tabarru’) (Ali, 2004: 105-106).
Rasulullah saw. menuntun manusia agar selalu waspada terhadap kerugian atau bencana yang akan terjadi, bukan langsung pasrah (tawakkal) kepada Allah. Rasulullah saw. bersabda yang artinya:
”Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bertanya seseorang kepada Rasulullah saw. tentang (untanya): ”Apa (unta) ini saya ikat saja atau langsung saya bertawakkal pada (Allah swt)?” Bersabda Rasulullah saw.: ”Pertama ikatlah unta itu kemudian bertawakkal-lah kepada Allah swt.” (HR. At-Turmudzi).
Hadits di atas mengandung nilai implisit supaya manusia bisa menghindar dari risiko yang berbentuk kerugian materi ataupun jiwa. Ali (2004: 119) menyebutkan:
”Praktik asuransi adalah bisnis yang bertumpu pada bagaimana cara mengelola risiko itu dapat diminimalisasi pada tingkat yang sedikit (serendah) mungkin. Risiko kerugian tersebut akan terasa ringan jika ditanggung bersama-sama oleh semua anggota (nasabah) asuransi. Sebaliknya jika risiko kerugian tersebut hanya ditanggung oleh pemiliknya, maka akan terasa berat bagi pemilik risiko tersebut.” Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’
28 Asuransi syariah sebagai perusahaan adalah sebuah usaha atau bisnis yang menerapkan prinsip-prinsip syar’i sehingga jelas kehalalannya. Artinya, dalam menjalankan seluruh kegiatannya, selalu didasarkan atas prinsip saling menolong dan saling menanggung diantara sesama peserta asuransi syariah. Adanya prinsip saling menolong dan saling menanggung diantara sesama peserta inilah, maka dapat dikatakan di satu sisi peserta asuransi syariah memiliki posisi sebagai orang yang dibantu atas musibah yang menimpanya. Namun di sisi lain, ia juga mempunyai posisi sebagai orang yang membantu peserta lain yang tertimpa musibah.
Salah satu program asuransi syariah yang ditawarkan oleh AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember, adalah Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’. Program ini termasuk dalam produk-produk individu yang terdapat unsur tabungan (saving). Artinya, program ini untuk perorangan dan secara khusus, di dalamnya selain mengandung dana kebajikan (tabarru’), juga terdapat unsur tabungan yang dapat diambil kapan saja oleh pemiliknya. Adapun pengertian asuransi syariah dana siswa menurut sula (2004: 641) adalah, “Program Takaful dana siswa adalah suatu bentuk perlindungan untuk peroragan yang bermaksud menyediakan dana pendidikan, dalam mata uang Rupiah dan US Dollar untuk putra-putrinya samapai sarjana”.
Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ adalah Program asuransi pendidikan yang menjamin biaya sekolah anak mulai dari Tanam Kanak Kanak sampai Perguruan Tinggi. Merupakan gabungan antara tabungan dan tolong menolong dalam menanggulangi musibah kematian (www.bumiputera.com, diakses 21 Desember 2010).
METODE PENELITIAN
Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan peserta lalai atau bahkan wanprestasi dan bagaimana cara penyelesaiannya dari pihak AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember ketika terjadi resiko tersebut, peneliti mencari data dari beberapa informan. Data yang peneliti peroleh dari para informan, salah satunya berupa kata-kata atau argumentasi. Mengingat penelitian ini berupaya untuk menggambarkan dan menjelaskan faktor-faktor penyebab peserta lalai atau bahkan wanprestasi dan bagaimana cara penyelesaiannya pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ AJB Bumiputera 1912 divisi syariah Jember, maka pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah Pendekatan Penelitian Kualitatif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2008: 3)
29 Objek penelitian ini adalah faktor-faktor penyebab peserta lalai atau bahkan wanprestasi dan bagaimana cara penyelesaiannya pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ AJB Bumiputera 1912 divisi syariah Jember. Maka jenis penelitiannya adalah penelitian kasus, jadi dalam penelitian ini peneliti dituntut untuk terjun langsung ke tempat di mana objek penelitian tersebut bisa diteliti, guna mendapatkan data-data yang akurat. Tujuan penelitian kasus dan penelitian lapangan adalah untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan sesuatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat (Suryabrata, 2009: 80).
Sedangkan teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam sebuah penelitian. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Dalam penelitian kualitatif ... teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumentasi (Sugiyono, 2009: 225)
Ada beberapa tekhnik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun analisa datanya menggunakan metode analisis kualititatif induktif yang terbagi menjadi tiga proses yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Kemudian untuk menguji keabsahan data peneliti menggunakan metode triangulasi yakni Triangulation is qualitative cross-validation. It assesses the sufficiency of the data according to the convergence of multiple data sources or multiple data collection procedures (Wiliam Wiersma, 1998). Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu (Sugiyono, 2009: 273). Peneliti menggunakan metode triangulasi sumber untuk menguji keabsahan data. Sugiyono (2009: 274) berpendapat bahwa triangulasi sumber adalah “Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam penelitian ini, setelah peneliti mengadakan wawancara dengan Kepala Cabang, Kepala Unit operasional, Kepala Unit Administrasi dan Keuangan serta Supervisor AJB Bumiputera 1912 Cabang Jember, kemudian peneliti mengecek validitas hasil wawancara tersebut kepada informan yang bersangkutan dan informan yang lain.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Cara penyelesaian kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’
“Peserta/pemegang polis dinyatakan lalai ketika terlambat membayar premi. Definisi terlambat membayar premi adalah, belum membayar premi pada saat jatuh tempo pembayaran premi
30 yang tertera dalam kuitansi premi yang berasal dari kesepakatan awal dalam akad, yaitu tanggal, bulan dan tahun.” (M. Ichsanuddin, wawancara, Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember, 17 Maret 2011).
“Peserta/pemegang polis dinyatakan wanprestasi ketika masih belum membayar premi setelah melewati masa leluasa/grace period. Masa leluasa/grace period adalah keringanan waktu yang diberikan badan (pihak asuransi) kepada peserta/pemegang polis untuk membayar premi yang belum dilunasinya ketika jatuh tempo, yaitu satu bulan kalender mulai dari jatuh tempo. Sesuai dengan Syarat-syarat Umum Polis Asuransi Jiwa Syariah AJB Bumiputera 1912, Pasal 5 ayat 1; Untuk membayar premi lanjutan diberi masa leluasa tigapuluh hari terhitung mulai tanggal jatuh tempo.” (M. Ichsanuddin, wawancara, Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember, 17 Maret 2011).
Sesuai dengan hasil wawancara dengan M. Ichsanuddin di Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember pada Tanggal 17 Maret 2011, peneliti menginterpretasikan bahwa, ketika Peserta/Pemegang Polis lalai, maka badan (pihak asuransi) mensomasi yang bersangkutan sebanyak tiga kali selama masa grace period. Kemudian ketika peserta/pemegang polis masih belum membayar seletah melewati masa leluasa/grace period, maka yang bersangkutan dinyatakan wanprestasi dan badan (pihak asuransi) akan melakukan tindakan sesuai dengan pasal-pasal yang tertulis di Syarat-syarat Umum Polis Asuransi Jiwa Syariah AJB Bumiputera 1912.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’
Sesuai dengan hasil wawancara dengan M. Ichsanuddin di Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember pada Tanggal 17 Maret 2011, Ada 2 klasifikasi faktor yang menyebabkan terjadinya kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’:
1) Faktor Internal
Umumnya ada 3 tempat pembayaran premi bagi peserta/pemegang polis, yaitu: kantor Bumiputera 1912, alamat tempat kerja dan rumah peserta/pemegang polis. Untuk pembayaran premi yang dilakukan di kantor Bumiputera 1912 menjadi tanggung jawab kasir, tetapi untuk pembayaran premi yang dilakukan di alamat tempat kerja dan rumah peserta/pemegang polis, menjadi tanggung jawab agen debet untuk mengutip premi. Faktor internal yang menyebabkan terjadinya kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ adalah:
a) Agen debet tidak melakukan pencatatan secara akurat tentang jatuh tempo (tanggal, bulan dan tahun) pembayaran premi masing-masing peserta.
31 b) Agen debet tidak memiliki program kerja mingguan yang jelas perihal jadwal
pengutipan.
c) Belum terjadi pengkaraban antara agen debet dengan para peserta/pemegang polis yang berdampak pada kelancaran pembayaran premi.
d) Solusi yang sudah dilakukan
M. Ichsanuddin, wawancara, Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember, 17 Maret 2011. Solusi yang selama ini dilakukan untuk mengatasi penyebab terjadinya kelalaian dan wanprestasi dari faktor internal tersebut adalah:
1) Konseling
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang konselor atau dalam hal ini adalah supervisor kepada setiap agen. Konseling sifatnya hanya teoritik, jadi supervisor hanya memberikan teori untuk mengatasi masalah yang terjadi.
2) Pembinaan
Pembinaan adalah proses bimbingan yang dilakukan oleh supervisor kepada setiap agen. Pembinaan sifatnya praktek, jadi supervisor ikut mendampingi agen dalam proses penyelesaian masalah.
3) Retraining
Retraining (training ulang) adalah proses terakhir setelah supervisor melalukan konseling dan pembinaan kepada setiap agennya. Dalam hal ini, supervisor cukup melakukan monitoring atau pengawasan selama agen menjalani proses retraining. 2) Faktor Eksternal
Sedangkan untuk faktor eksternal atau kendala yang muncul dari peserta/pemegang polis adalah faktor ekonomi, yaitu menyangkut kebutuhan penting lainnya yang harus dipenuhi. Umumnya ketika agen debet mendatangi peserta/pemegang polis di tempat kerja atau di rumahnya untuk mengutip premi yang belum dibayar ketika jatuh tempo, bagi peserta/pemegang polis yang belum bisa memenuhi kewajibannya tersebut beralasan dana yang seharusnya untuk membayar premi, dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak.
32 Berdasarkan hasil wawancara dengan M. Ichsanuddin di Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember pada Tanggal 17 Maret 2011, Bagi peserta/pemegang polis yang masih belum membayar premi setelah jatuh tempo, maka agen debet selama masa leluasa/grace period sebanyak tiga kali akan menyampaikan somasi kepada yang bersangkutan dengan cara langsung mendatanginya dengan membawa lembaran administrasi (PP 17, PP 18 dan PP 19).
PP 17 adalah kuitansi atau bukti pembayaran premi, digunakan jika peserta/pemegang polis membayar tunggakan preminya pada tanggal tersebut. PP 18 adalah Bukti Kunjungan yang wajib diisi dan ditandatangani oleh peserta/pemegang polis, sebagai bukti sudah didatangi agen debet. PP 18 fungsinya sebagai bukti tertulis jika suatu saat nanti peserta/pemegang polis beralasan tidak pernah didatangi agen debet untuk mengutip tunggakan preminya. PP 19 adalah surat pernyataan yang diisi oleh agen debet sesuai kesepakatan dengan peseta/pemegang polis dan ditandatangani oleh peserta/pemegang polis atau salah satu keluarga yang ditemui (jika peserta/pemegang polis tidak ada di tempat). PP 19 digunakan atau diisi jika agen debet tidak berhasil mengutip premi tunggakan atau tidak bertemu dengan peserta/pemegang polis di rumah yang bersangkutan.
Cara penyelesaian wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’
Jika masa leluasa/grace period sudah selesai dan badan (pihak asuransi) sudah mensomasi sebanyak tiga kali melalui agen debet, tetapi peserta/pemegang polis masih belum melunasi tunggakan preminya, maka yang bersangkutan dinyatakan telah melakukan wanprestasi.
Sesuai dengan hasil wawancara dengan M. Ichsanuddin di Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember pada Tanggal 17 Maret 2011, dalam asuransi syariah, meskipun peserta/pemegang polis telah melakukan wanprestasi, yang bersangkutan tetap mendapatkan proteksi atau perlindungan berupa klaim meninggal (jika peserta/pemegang polis ditakdirkan meninggal dunia pada tahun yang sama dengan tahun dia tidak melakukan kewajibannya membayar premi) yang merupakan akumulasi dari santunan kebajikan dan nilai tunai (untuk tahapan dana pendidikan yang berikutnya tidak dibayarkan). Tetapi jika peserta/pemegang polis ditakdirkan meninggal dunia pada tahun yang tidak sama ketika dia melakukan wanprestasi atau tahun berikutnya, maka yang bersangkutan mendapatkan klaim meninggal lebih sedikit, karena manfaat asuransi dari nilai tunai harus dikurangi untuk membayar premi tabarru’ sesuai masa asuransi yang diikutinya. Hal ini karena dalam asuransi syariah tidak mengenal Polis Lapse, artinya meskipun peserta/pemegang polis terpaksa belum membayar premi yang menjadi kewajibannya karena suatu sebab tertentu maka Bumiputera Syariah tetap memberikan proteksi atau perlindungan bagi yang bersangkutan berupa klaim meninggal.
33 Jika peserta/pemegang polis masih ditakdirkan hidup ketika melakukan wanprestasi, maka Badan (pihak asuransi) akan menawarkan beberapa opsi/pilihan, yaitu: a). Peserta/pemegang polis memperoleh nilai tunai polis (tidak memperoleh tahapan dana pendidikan yang berikutnya) dengan syarat menyerahkan polis dan kuitansi pembayaran premi terakhir kepada badan (pihak asuransi), dan dengan demikian perjanjian asuransi dinyatakan berakhir dan polis menjadi tidak berlaku. b). Peserta/pemegang polis membayar tunggakan premi. c). Apabila peserta/pemegang polis tidak menentukan opsi/pilahan a)/b) maka badan (pihak asuransi) secara otomatis akan memberlakukan opsi/pilihan b). d). Apabila premi tabungan peserta/pemegang polis telah habis untuk membayar premi tabarru’ maka secara otomatis perjanjian asuransi berakhir dan polis batal. Hal ini diatur dalam Pasal 6 Syarat-syarat Umum Polis Asuransi Jiwa Syariah AJB Bumiputera 1912, yaitu:
1. Jika sampai akhir masa leluasa premi belum dibayar, maka peserta dapat menentukan salah satu pilihan sebagai berikut:
a. Memperoleh Nilai Tunai Polis dengan menyerahkan Polis dan Kuitansi pembayaran premi terkahir kepada Badan, dan dengan demikian Perjanjian Asuransi dinyatakan berkahir dan Polis menjadi tidak berlaku.
b. Membayar Tunggakan premi (Premi Tabarru’) dengan cara memperhitungkan Nilai Tunai.
2. Apabila Premi tidak dibayar sampai akhir masa leluasa dan Peserta tidak secara aktif menyatakan pilihan atas ketentuan pasal 6 ayat 1.1. dan ayat 1.2. maka Badan secara otomatis akan memberlakukan pasal 6 ayat 1.2.
3. Apabila Premi Tabungan Peserta telah habis untuk membayar Premi Tabarru’ maka secara otomatis perjanjian asuransi berkahir dan Polis batal.
AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember juga memberikan kesempatan kepada peserta/pemegang polis untuk melakukan pemulihan polis. Pemulihan polis yang telah batal tersebut dapat dilakukan oleh peserta/pemegang polis apabila yang bersangkutan sudah memenuhi syarat sebagaimana tertuang dalam Pasal 8 Syarat-syarat Umum Polis Asuransi Jiwa Syariah AJB Bumiputera 1912, yaitu:
1. Polis yang tertunggak pembayaran preminya dan Premi Tabarru’nya masih terus berjalan sesuai ketentuan pasal 6 ayat 1.2. di atas dapat di pulihkan kembali.
2. Pemulihan Polis dapat dilakukan dengan cara melunasi seluruh tunggakan Premi Lanjutan dan dikenakan biaya administrasi.
34 3. Dengan melunasi seluruh tunggakan Premi Lanjutan, maka Premi Tabungan dan
mudharabahnya diperhitungkan sejak tanggal Pemulihan Polis. Pembahasan Temuan
“Premi yang dibayarkan peserta tiap triwulanan, semesteran, tahunan ataupun sekaligus, mangandung unsur dana; tabarru’, tabungan dan premi biaya.” (M. Ichsanuddin, wawancara, Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember, 17 Maret 2011).
Sesuai dengan pemahaman peneliti tentang Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 21/DSN-MUI/X/2001 (penetapan kedelapan fatwa tentang pedoman umum asuransi syari’ah), Dana Premi seluruh peserta/pemegang polis diinvestasikan oleh Badan (pihak asuransi), dan seluruh investasi dilakukan sesuai dengan syariah.
“Mudharabah (bagi hasil) yang diperoleh peserta/pemegang polis berasal dari Dana Tabungan dikalikan Hasil Investasi, hasilnya dikalikan dengan Bagian Hasil Investasi. Kemudian Premi biaya digunakan untuk biaya administrasi, gaji karyawan dan biaya operasional lainnya.” (M. Ichsanuddin, wawancara, Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember, 17 Maret 2011).
Dari pemaparan di atas, jelas terlihat bahwa dalam Asuransi Syariah terdapat transparansi dana. Investasi dana pada asuransi syariah berdasarkan bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional memakai bunga (riba) sebagai landasan perhitungan investasinya. Pembayaran klaim pada asuransi syariah diambil dari dana tabarru’ (dana kebajikan) seluruh peserta yang sejak awal telah diikhlaskan bahwa ada penyisihan dana yang akan dipakai sebagai dana tolong menolong di antara peserta bila terjadi musibah. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan.
“Menurut Tri Sulistiani S.KM selaku Mitra Kerja di Asuransi Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember: Asuransi Syariah akan menghilangkan unsur MAGHRIB yaitu Maisir (Judi/untung-untungan) nilai tunai sudah ada sejak awal karena dana dipisahkan antara dana peserta dan dana yang dihibahkan untuk tolong-menolong. Gharar (Ketidakpastian) merupakan bentuk akad syariah: akad takafuli (Tolong-menolong), sumber dana pembayaran klaim dari dana peserta dan dana tolong-menolong. Riba (Bunga) merupakan akad Mudharabah (bagi hasil) dan jenis investasi bebas riba” (Wahyuningsih, 2010: 92).
Hal tersebut Sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 21/DSN-MUI/X/2001 yang menyebutkan bahwa Akad yang sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan
35 maksiat. Sebelum memfokuskan pembahasan temuan pada cara penyelesaian kelalaian dan wanprestasi, peneliti terlebih dahulu akan membahas tentang faktor penyebab terjadinya kelalaian dan wanprestasi.
“Ada 2 klasifikasi faktor yang menyebabkan terjadinya kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’: 1). Faktor Internal: a). Agen debet tidak melakukan pencatatan secara akurat tentang jatuh tempo (tanggal, bulan dan tahun) pembayaran premi masing-masing peserta, b). Agen debet tidak memiliki program kerja mingguan yang jelas perihal jadwal pengutipan, c) Belum terjadi pengkaraban antara agen debet dengan para peserta/pemegang polis
yang berdampak pada kelancaran pembayaran premi. 2). Faktor Eksternal: Faktor Ekonomi.” (M. Ichsanuddin, wawancara, Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember, 17 Maret 2011).
Untuk mengatasi faktor internal, supervisor menerapkaan Konseling, Pembinaan dan Retraining kepada setiap agen/mitra kerjanya. Diharapkan dari pembenahan internal, agen bisa mensosialisasikan kepada peserta/pemegang polis bahwasanya pembayaran premi juga termasuk kebutuhan penting karena menyangkut masa depan anaknya dalam hal pendidikan. Sehingga nantinya peserta/pemegang polis bisa membayar angsuran preminya tepat waktu. Dengan kata lain, pembenahan internal juga akan berimplikasi positif dalam mengatasi faktor eksternal.
Pembahasan selanjutnya peneliti fokuskan kepada cara penyelesaian kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syarian Jember. “Ketika Peserta/Pemegang Polis lalai, maka badan (pihak asuransi) mensomasi yang bersangkutan sebanyak tiga kali selama masa grace period. Agen debet selama masa leluasa/grace period sebanyak tiga kali akan menyampaikan somasi kepada yang bersangkutan dengan cara langsung mendatanginya dengan membawa lembaran administrasi (PP 17, PP 18 dan PP 19).” (M. Ichsanuddin, wawancara, Kantor Bumiputera 1912 Cabang Jember, 17 Maret 2011).
Dalam kunjungannya, agen debet juga menjelaskan kepada peserta/pemegang polis akan status polisnya yaitu bahwa perjanjian asuransi bisa dinyatakan batal dan polis menjadi tidak berlaku lagi apabila sampai akhir masa leluasa/grace period tunggakan premi belum dibayar.
Jika masa leluasa/grace period sudah selesai dan badan (pihak asuransi) sudah mensomasi sebanyak tiga kali melalui agen debet, tetapi peserta/pemegang polis masih belum melunasi tunggakan preminya, maka yang bersangkutan dinyatakan telah melakukan wanprestasi. Maka agen debet akan mendatangi lagi yang bersangkutan untuk menawarkan opsi/pilihan, yaitu:
36 a) Peserta/pemegang polis memperoleh nilai tunai polis (tidak memperoleh tahapan dana pendidikan yang berikutnya) dengan syarat menyerahkan polis dan kuitansi pembayaran premi terakhir kepada badan (pihak asuransi), dan dengan demikian perjanjian asuransi dinyatakan berakhir dan polis menjadi tidak berlaku.
b) Peserta/pemegang polis membayar tunggakan preminya.
Sebaiknya peserta/pemegang polis jika masih ingin mempertahankan perjanjian asuransi agar memilih opsi/pilihan b), tetapi apabila peserta/pemegang polis ingin mengakhiri perjanjian asuransinya, sebaiknya secara aktif untuk segera menyampaikan kepada agen debet kalau ingin memilih opsi/pilihan a), setelah diproses, maka peserta/pemegang polis akan menerima nilai tunainya. Hal ini berbeda dengan asuransi konvensional, apabila peserta/pemegang polis melakukan wanprestasi/belum melunasi pembayaran preminya melewati masa leluasa/grace period atau membatalkan kontraknya secara sepihak, maka yang bersangkutan tidak akan menerima kembali uang yang telah dibayarkan, dengan kata lain uangnya dianggap hangus.
Apabila peserta/pemegang polis tidak menentukan opsi/pilahan a)/b) maka Badan (pihak asuransi) secara otomatis akan memberlakukan opsi/pilihan b). Kemudian apabila premi tabungan peserta/pemegang polis telah habis untuk membayar premi tabarru’ maka secara otomatis perjanjian asuransi berakhir dan polis batal. Namun Badan (pihak asuransi) masih memberikan kesempatan bagi peserta/pemegang polis yang beritikad baik ingin meneruskan kembali perjanjian asuransinya/memulihkan kembali polisnya, hal tersebut sudah diatur dalam Pasal 8 Syarat-syarat Umum Polis Asuransi Jiwa Syariah AJB Bumiputera 1912.
Dari pembahasan temuan diatas, diharapkan mampu meningkatkan kesadaran umat Islam untuk mempersiapkan masa depan sang buah hati sekaligus mengantisipasi kemungkinan terjadinya resiko dalam kehidupan ekonomi yang akan dihadapi. Hal tersebut memerlukan sejumlah dana sejak dini, salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut dapat dilakukan melalui asuransi syariah yang notabene status hukum maupun cara aktifitasnya sejalan dengan prinsip-prinsip syari’ah. Dalam berasuransi di AJB Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember, calon peserta/pemegang polis sebaiknya harus memahami terlebih dahulu Syarat-syarat Umum Polis Asuransi Jiwa Syariah AJB Bumiputera 1912 sebelum menandatangani kontrak perjanjian asuransi. Hal tersebut untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahpahaman jika selama proses kontrak perjanjian asuransi terjadi kelalaian dan wanprestasi.
37 1. Kesimpulan Umum
Ketika Peserta/Pemegang Polis lalai, maka badan (pihak asuransi) mensomasi yang bersangkutan sebanyak tiga kali selama masa grace period. Kemudian ketika peserta/pemegang polis masih belum membayar seletah melewati masa leluasa/grace period, maka yang bersangkutan dinyatakan wanprestasi dan badan (pihak asuransi) akan melakukan tindakan sesuai dengan pasal-pasal yang tertulis di Syarat-syarat Umum Polis Asuransi Jiwa Syariah AJB Bumiputera 1912.
2. Kesimpulan Khusus
a. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kelalaian dan wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’, adalah:
1. Faktor Internal: 1). Agen debet tidak melakukan pencatatan secara akurat tentang jatuh tempo (tanggal, bulan dan tahun) pembayaran premi masing-masing peserta, 2). Agen debet tidak memiliki program kerja mingguan yang jelas perihal jadwal pengutipan, 3). Belum terjadi pengkaraban antara agen debet dengan para peserta/pemegang polis yang berdampak pada kelancaran pembayaran premi.
2. Faktor Eksternal: faktor eksternal atau kendala yang muncul dari peserta/pemegang polis adalah faktor ekonomi, yaitu menyangkut kebutuhan penting lainnya yang harus dipenuhi.
b. Somasi di Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’ akan disampaikan oleh agen debet kepada peserta yang lalai sebanyak tiga kali selama masa leluasa/grace period dengan cara langsung mendatanginya dengan membawa lembaran administrasi (PP 17, PP 18 dan PP 19).
c. Cara penyelesaian wanprestasi pada Program Tabungan Pendidikan Mitra Iqra’, yaitu: jika peserta/pemegang polis ditakdirkan meninggal dunia pada tahun yang sama dengan tahun dia tidak melakukan kewajibannya membayar premi, maka yang bersangkutan tetap mendapatkan proteksi atau perlindungan berupa klaim meninggal. Tetapi jika peserta/pemegang polis ditakdirkan meninggal dunia pada tahun yang tidak sama ketika dia melakukan wanprestasi atau tahun berikutnya, maka yang bersangkutan mendapatkan klaim meninggal lebih sedikit, karena manfaat asuransi dari nilai tunai harus dikurangi untuk membayar premi tabarru’ sesuai masa asuransi yang diikutinya. Jika
38 peserta/pemegang polis masih ditakdirkan hidup ketika melakukan wanprestasi, maka Badan (pihak asuransi) akan menawarkan beberapa opsi/pilihan, yaitu: a). Peserta/pemegang polis memperoleh nilai tunai polis (tidak memperoleh tahapan dana pendidikan yang berikutnya) dengan syarat menyerahkan polis dan kuitansi pembayaran premi terakhir kepada badan (pihak asuransi), dan dengan demikian perjanjian asuransi dinyatakan berakhir dan polis menjadi tidak berlaku. b). Peserta/pemegang polis membayar tunggakan premi. c). Apabila peserta/pemegang polis tidak menentukan opsi/pilahan a)/b) maka badan (pihak asuransi) secara otomatis akan memberlakukan opsi/pilihan b). d). Apabila premi tabungan peserta/pemegang polis telah habis untuk membayar premi tabarru’ maka secara otomatis perjanjian asuransi berakhir dan polis batal.
DAFTAR RUJUKAN
Ali, AM. Hasan. 2004. Asuransi Dalam Perspektif Hukum Islam Suatu Tinjauan Analisis Historis, Teoritis, dan Praktis. Jakarta: Kencana.
Ali, Zainuddin. 2007. Hukum Asuransi Syariah. Jakarta: Sinar Grafika.
Antonio, Muhammad Syafi’i. 1994. Asuransi Dalam Perspektif Islam. Jakarta: STI Daniel, Moehar. 2005. Metode Penelitian Sosial Ekonomi. Jakarta: Bumi Aksara.
Didin Hafidhuddin, dkk. 2009. Solusi Berasuransi: Lebih Indah Dengan Syariah. Bandung: PT. Karya Kita.
Fatwa Dewan Syari'ah Nasional No: 21/DSN-MUI/X/2001
Fuady, Munir. 2001. Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis). Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Iqbal, Muhaimin. 2006. Asuransi Umum Syariah Dalam Praktik Upaya Menghilangkan Gharar, Maisir, dan Riba. Jakarta: Gema Insani Press.
Kashmir, A. 2000. Lembaga Keuangan Non Bank. Jakarta: RajaGrafindo.
Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Dedi. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Rosdakarya.
Salim. 2003. Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak. Jakarta: Sinar Grafika. STAIN Jember, 2009. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa. Jember: STAIN Jember. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sula, Muhammad Syakir. 2004. Asuransi Syariah (Lide and General) Konsep dan Sistem Operasional. Jakarta: Gema Insani Press.
Suryabrata, Sumadi. 2009. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers.
Suryana, Asep. 2007. Tahap-tahapan Penelitian Kualitatif. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia: 6-13.
39 Tim Penyusun Kamus. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai pustaka.
Wahyuningsih, Endang Sri. 2010. Sistem Pemasaran Asuransi Bumiputera 1912 Divisi Syariah Jember. Jember: STAIN Jember
http://asuransisyariah.myblogrepublika.com/2009/04/16/nilai-nilai-dalam- pengelolaan-asuransi-syariah/ http://tongkonanku.blogspot.com/2009/06/perbedaan-asuransi-syariah- dengan.html http://yogiikhwan.wordpress.com/2008/03/20/wanprestasi-sanksi-ganti-kerugian- dan-keadaan-memaksa/ www.bumiputera.com www.detikfinance.com www.KamusBahasaIndonesia.org www.surabayapagi.com/index.php?p=detilberita&id=12693 www.tribunnews.com www.vibiznews.com