ANESTESI PADA PASIEN DENGAN
ANESTESI PADA PASIEN DENGAN
PENYAKIT HEPAR
PENYAKIT HEPAR
NADIRAH BINTI ROSLANPENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Pasien dengan penyakit hati sering kali harus
Pasien dengan penyakit hati sering kali harus
menjalani operasi. Diperkirakan 1 di antara 700
menjalani operasi. Diperkirakan 1 di antara 700
pasien yang masuk ke rumah sakit untuk
pasien yang masuk ke rumah sakit untuk
menjalani operasi elektif memiliki gambaran
menjalani operasi elektif memiliki gambaran
fungsi hati yang abnormal. Sekitar 10%
fungsi hati yang abnormal. Sekitar 10%
pasien
pasien
penyakit hati akan menjalani operasi pada dua
penyakit hati akan menjalani operasi pada dua
tahun terakhir masa hidupnya.
tahun terakhir masa hidupnya.
Manajemen perioperatif yang optimal pada
Manajemen perioperatif yang optimal pada
pasien dengan penyakit hati yang akan
pasien dengan penyakit hati yang akan
menjalani operasi sangat penting karena dapat
menjalani operasi sangat penting karena dapat
menurunkan angka morbiditas dan mortalitas.
menurunkan angka morbiditas dan mortalitas.
ANATOMI DAN FUNGSI HEPAR
ANATOMI DAN FUNGSI HEPAR
Hepar adalah organ visera solid yang terbesar
Hepar adalah organ visera solid yang terbesar
dalam tubuh manusia. Pada orang dewasa
dalam tubuh manusia. Pada orang dewasa
beratnya dapat mencapai dua kilogram
beratnya dapat mencapai dua kilogram
(lazimnya 1500
(lazimnya 1500
–
– 1800 gram pada pria
1800 gram pada pria
dan1300
dan1300
–
– 1500 gram pada wanita) atau
1500 gram pada wanita) atau
sekitar 1/50 dari berat
sekitar 1/50 dari berat
badannya, sedangkan
badannya, sedangkan
pada bayi sekitar 1/18 (atau sekitar
pada bayi sekitar 1/18 (atau sekitar
5% dari
5% dari
berat badan). Berat relatif ini berkurang 2-3%
berat badan). Berat relatif ini berkurang 2-3%
setiap tahunnya seiring bertambahnya usia.
Setiap lobus
Setiap lobus
mengandung unit-unit
mengandung unit-unit
yang lebih kecil
yang lebih kecil
lagi yang disebut
lagi yang disebut
lobules, yang terdiri
lobules, yang terdiri
atas vena kecil yang
atas vena kecil yang
dikelil
dikelilingi oleh
ingi oleh sel-sel
sel-sel
hati (hepatosit), sistem
hati (hepatosit), sistem
saluran empedu
saluran empedu
(kanalikul
(kanalikuli biliaris),
i biliaris), dan
dan
sistem saluran limfe
sistem saluran limfe
(ruang Disse dan
(ruang Disse dan
saluran limfe
saluran limfe
interlobularis).
interlobularis).
Peredaran darah hepar tergolong unik,
karena adanya aliran darah rangkap, arterial
dan venosa. Aliran darah arterial diterima
hepar dari arteria hepatica communis , yang
mendapat aliran darah dari arteria coeliaca
(pada perjalanannya mempercabangkan
Arteria splenica, arteria phrenica, dan arteria
gastrica sinistra), sedangkan aliran darah
venosa didapatkan dari vena porta yang
mengalirkan darah dari intestinal.
Tiap segmen memiliki suplai vaskuler dan drainase biliernya sendiri. Pembagian ini dihasilkan 8 segmen. Bagian kanan hepar terdiri atas sektor
kanan-posterior yang meliputi segmen 6 (inferior) dan 7(superior), serta sektor kanan-anterior yang
meliputi segmen 5 (inferior) dan 8 (superior).Bagian kiri hepar terdiri atas sektor kiri-anterior yang meliputi segmen 4 (medial) dan 3(lateral), yang dipisahkan oleh fisura umbilikalis, serta sektor kiri-posterior yang memilikisatu segmen saja (segmen 2). Segmen 1 adalah lobus kaudatus,
FISIOLOGI HEPAR
Fungsi hepar sangatlah vital bagi kesehatan
seseorang. Hepar merupakan pusat dari
metabolisme seluruh tubuh, merupakan
sumber energi tubuh sebanyak 20% serta
menggunakan 20
–
25% oksigen darah. Ada
beberapa fungsi hepar yaitu :
1. Metabolisme karbohidrat
a)Menyimpan glikogen.
b)Mengubah galaktosa
dan fruktosa menjadi
glukosa,
c)Tempat proses
terjadinya glikogenesis,
glikogenolisis, dan
glukoneogenesis.
d)Membentuk senyawa
kimia penting dari
hasil usul perantara met
abolisme karbohidrat
2. Metabolisme lemak
a)Oksidasi beta asam lemak yang sangat
cepat dan pembentukan asam asetoasetat.
b)Pembentukan sebagian besar lipoprotein
c)Pembentukan sejumlah besar kolesterol
dan fosfolipid.
d)Pengubahan sejumlah besar karbohidrat
dan protein menjadi lemak.
3. Metabolisme protein
a)Deaminasi asam amino.
b)Pembentukan ureum untuk mengeluarkan
amonia dari cairan tubuh.
c)Pembentukan plasma protein.
d)Interkonversi diantara asam amino yang
berbeda dan ikatan yang pentinglainnya
untuk metabolisme tubuh
5. Fungsi hati sehubungan
dengan pembekuan darah
Hepar membentuk sebagian besar zat
– zat
darah yang di pakai untuk proses koagulasi. Zat
–
zat tersebut antara lain adalah fibrinogen,
protrombin, akselerator globulin, faktor VII, dan
beberapa faktor koagulasi lainnya. Vitamin K
dibutuhkan oleh proses metabolisme hati untuk
membentuk protrombin, faktor VII, IX, dan X.
Bila tidak terdapat vitamin K maka konsentrasi
zat
– zat tersebut akan turun sangatrendah
sehingga dapat menghambat proses koagulasi
darah
6. Fungsi hati pada
penyerapan dan penyimpanan
vitamin A, D, Fe dan B12 dan
asam folat.
Hepar merupakan tempat penyimpanan vitamin
dan merupakan sumber vitamin yang baik.
Vitamin yang terbanyak disimpan dalam hepar
adalah vitamin A, tapi sejumlah besar vitamin
D dan vitamin B12 dalam keadaan normal juga
disimpan.
Besi disimpan dalam tubuh antara lain dalam
hemoglobin darah, sebagian besar lainnya
7. Fungsi hati sebagai
detoksikasi
Detoksifikasi obat dan racun melalui reaksi
biotransformasi tahap I dan tahap II dan ekskresi
dalam empedu. Medium kimia yang sangat
aktif dari hati dikenal kemampuannya dalam
detoksifikasi atau ekskresi berbagai
obat-obatan ke dalam empedu. Proses
detoksifikasi ini juga dilakukan pada hormon
–
hormon yang disekresi oleh kelenjar endokrin
diekskresi atau diubah secara kimia oleh hati,
meliputi tiroksin dan hormon
– hormon steroid
seperti estrogen, kortisol, aldosteron, dan lain
–
lain.
8. Fungsi hati sebagai
fagositosis dan imunitas
Sel kupfer merupakan saringan penting
bakteri, pigmen dan berbagai bahan melalui
proses fagositosis. Selain itu sel kupfer juga
ikut memproduksi ∂
- globulin sebagai imun
livers mechanism.
9. Fungsi hemodinamik
Hati menerima 25% dari cardiac output, aliran
darah hati yang normal 1500 cc/ menit atau 1000
–
1800 cc/ menit. Darah yang mengalir di dalam
a.hepatica 25% dan di dalam v.porta 75% dari
seluruh aliran darah ke hati. Aliran darah
ke hepar dipengaruhi oleh faktor mekanis,
pengaruh persarafan dan hormonal, aliran ini
berubah cepat pada waktu senam, terik
matahari, syok. Hepar merupakan organ penting
untuk mempertahankan aliran darah.
TES FUNGSI HATI
1) kerusakan sel-sel hepar
2) obstruksi pada sistem bilier
3) fungsi sintesis dari hepar
OBAT-OBAT DALAM ANESTESI
OBAT ANESTESI INTRAVENA
1.Barbiturat
2.Benzodiazepine
3.Anestesi analgesic opioid
4.Propofol
5.Etomidat
OBAT ANESTESI INHALASI
Anestetik inhalasi Nitrogen oksida (NO2) yang
stabil pada tekanan dan suhu kamar merupakan
salah satu anestetik gas yang banyak dipakai
karena dapat digunakan dalam bentuk
kombinasi dengan anestetik lainnya. Halotan,
enfluran, isofluran, desfluran dan metoksifluran
merupakan zat cair yang mudah menguap.
Anestesi inhalasi konvensional seperti eter,
siklopropan, dan kloroform pemakaiannya sudah
dibatasi karena eter dan siklopropan mudah
terbakar sedangkan kloroform toksik terhadap
hati.
Mekanisme kerja
Kerja neurofisiologik yang penting pada obat
anestesi umum adalah dengan meningkatkan
ambang rangsang sel. Dengan meningkatnya
ambang rangsang, akan terjadi penurunan
aktivitas neuronal.
Efek terhadap hati
Efek terhadap hati
Semua obat anestetik inhalasi akan menurunkan
aliran darah ke hati dan umumnya berkisar
antara 15 sampai 45% dari aliran darah sebelum
anestesi dilakukan.
Toksisitas
Hepatotoksisitas(halotan). Biasanya hepatitis
pascabedah selalu dikaitkan dengan factor lain
seperti transfuse darah, syok hipovolemik, atau
stress bedah lainnya dibandingkan dengan
toksisitas obat anestetik. Akan tetapi, obat
halocarbon dapat menyebabkan kerusakan hati
sedangkan kloroform telah dikenal sebagai
anestetik hepatotoksik pada dasawarsa abad ini.
Halotan telah diperkenalkan mulai tahun 1956
dan sampai tahun 1963 telah banyak dilaporkan
berbagai kasus ikterus pascabedah dan nekrosis
hati yang berhubungan dengan pemakaian
OBAT LOKAL ANELGESIA
1.
Golongan ester
procain
chlorprocain
Tetracain
2. Golongan amida
3. Derivat dari quinolon
cinchocain
lidocain
mepivacain
bupivacain
etidocain
ropivacain
Mekanisme kerja obat local analgesia
Anestetik local mencegah pembentukan dan
konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di
membran sel. Obat anestetik local menghambat
permeabilitas membrane terhadap Na+. Hal ini
disebabkan adanya interaksi langsung antara zat
anestetik local dengan kanal Na+. Semakin
bertambah efek anestesi local di dalam saraf, maka
ambang rangsang membrane akan meningkat
secara bertahap. Kecepatan potensial aksi menurun.
Konduksi impuls melamabat dan factor pengaman
konduksi saraf menurun. Factor-faktor ini akan
mengakibatkan penurunan menjalarnya potensial
aksi dan dengan demikina mengakibatkan
Biotransformasi
Anestetik local golongan amida 55-95% diikat
protein plasma terutama á1-glikoprotein. Kadar
protein ini dapat meningkat karsinoma, trauma.
Infark miokard, merokok dan uremia atau dapat
menurun pada penggunaan pil kontrasepsi.
Perubahan kadar protein ini dapat
mengakibatkan perubahan jumlah zat anestetik
local yang dibawa ke hati untuk metabolisme.
Anestesi lokal diubah dalam hati dan plasma
menjadi metabolit yang mudah larut dalam air
dan kemudian diekskresikan ke dalam urin.
PENYAKIT HEPAR DAN
PENANGANAN ANESTESI
Epidemiologi
Prevalensi penyakit hepar meningkat di Amerika
Serikat. Sirosis merupakan terminal patologi
pada mayoritas penyakit hepar, didapatkan + 5%
pada otopsi pada seluruh insidens. Sirosis
merupakan penyebab utama kematian pada
laki-laki dekade ke 4 dan ke 5, serta mortality ratenya
meningkat. Pasien dengan penyakit
hepar, + 10% nya mendapatkan operasi dalam
kurun waktu 2 tahun terakhir kehidupannya.
Definisi
Penyakit hepar adalah setiap gangguan fungsi hati
yang menyebabkan penyakit. Hepar bertanggung
jawab untuk fungsi-fungsi kritis dalam tubuh dan
saat ia menjadi sakit atau terluka, dapat
menyebabkan hilangnya fungsi-fungsi dan
kerusakan yang signifikan pada tubuh. Penyakit
hepar adalah istilah yang luas yang mencakup
semua masalah potensial yang menyebabkan hepar
gagal untuk berfungsi dengan baik. Biasanya, lebih
dari 75% atau tiga perempat dari jaringan hati perlu
mengalami kerusakkan sebelum terjadi penurunan
fungsi.
Untuk tujuan klinis, ahli anestesi dapat
membagi pasien dengan penyakit hati
menjadi dua kelompok besar yang berbeda:
1) mereka dengan penyakit hati parenkim,
termasuk hepatitis virus akut dan kronis,
sirosis hati (dengan atau tanpa hipertensi
portal), dan beberapa gangguan lain;
2) mereka dengan kolestasis, termasuk
obstruksi dari jalur bilier ekstrahepatik
Pengaruh operasi dan
anestesi pada hepar
Pada pasien yang tidak memiliki gangguan
fungsi hati, pemberian obat anestesi,
analgetik, sedatif, dan tindakan pembedahan
dapat meningkatkan kadar transaminase,
alkali fosfatase, dan kadar bilirubin, namun
umumnya bersifat sementara. Sebaliknya
pasien dengan penyakit hati penurunan
pasokan darah ke hati akibat tindakan
operasi maupun anestesi dapat memicu
dekompensasi hati.
Kerusakan hati yang berat (pada sirosis hati
atau hepatitis fulminan) dapat menimbulkan
hipoalbuminemia, trombositopenia,
koagulopati, menurunnya imunitas,
intoksikasi, perubahan hemodinamik,
ensefalopati dan sindrom hepatorenal.
Keadaan tersebut menjadi faktor penyulit
pada saat tindakan operasi dan anestesi.
Hipoalbuminemia
menghambat proses
penyembuhan luka
Penurunan sintesis globulin di hati
rentan
terhadap infeksi
Gangguan metabolisme glukosa
intoleransi
glukosa
Penurunan produksi faktor pembekuan darah
yang diproduksi di hati mengalami
penurunan pada pasien yang mengalami
disfungsi hati. Koagulopati dan
trombositopenia (akibat hipertensi portal)
meningkatkan risiko perdarahan baik pre
maupun pasca-operasi.
Penurunan sintesis faktor prokoagulan dan
antikoagulan, terganggunya pembersihan
factor koagulasi yang teraktifasi, defisiensi
nutrisi (vitamin K, asam folat), splenomegali,
defek kualitatif trombosit dan akibat
penekanan trombopoiesis sumsum
Pasien sirosis, umumnya mengalami perubahan
pola hemodinamik yang bersifat hiperdinamik
berupa peningkatan curah jantung, menurunnya
resistensi vascular sistemik dan meningkatnya
volume intravaskular.
Diafragma yang mengalami elevasi karena
desakan asites menyebabkan timbulnya
mismatch rasio ventilasi terhadap aliran darah,
hipoksemia dan hipoventilasi
Aliran darah ke ginjal juga cenderung menurun
sehingga risiko terjadinya sindrom hepatorenal
meningkat
Metabolisme obat pada pasien dengan disfungs
iberat akan terganggu karena menurunnya
jumlah hepatosit dan pasokan aliran darah hati.
Waktu paruh beberapa obat menjadi meningkat
dan eliminasi menurun
Risiko intoksikasi obat
meningkat.
Pada operasi abdomen, aliran darah hati
regional menurun karena oklusi struktur
vaskular, terutama apabila arteri hepatika atau
vena porta diklem untuk mengurangi aliran
darah selama reseksi hati
Pada seseorang yang mengalami gangguan
fungsi hati, mekanisme autoregulasi terganggu
sehingga penurunan aliran ke hati sedikit saja
Penyakit hepar
HEPATITIS
AKUT
1) virus
2) obat-obatan
KRONIS
SIROSIS HEPATIS
Hepatitis virus
Hepatitis virus seringkali disebabkan oleh virus hepatitis A, B, atau C ( sebelumnya dinamakan enteric non A, non B). Akhirnya telah ditemukan juga 2 virus hepatitis lainnya : hepatitis D (delta virus) dan hepatitis E (enteric non A, non B). Hepatitis tipe A dan E ditansmisikan melalui rute feco-oral, sedangkan tipe B dan C ditransmisikan utamanya
dengan cara perkutaneus dan melalui kontak dengan cairan tubuh. Hepatitis D sendiri unik karena dapat ditransmisikan oleh salah satu rute dan memerlukan virus hepatitis B
dalam host untuk jadi tidak efektif. Virus lainnya, termasuk Epstein-Barr, herpes simpleks, cytomegalovirus, dan
Hepatitis karena obat-obatan dapat disebabkan oleh
ketergantungan terhadap racun obat-obatan secara
langsung atau metabolit, atau oleh reaksi khusus
obat-obatan , atau oleh kombinasi dari keduanya
Penggunaan asetaminofen 25 gr atau lebih
menyebabkan hepatitis fulminan yang fatal.
Beberapa jenis obat seperti Chlorpromazine dan
kontrasepsi oral menyebabkan reaksi type
cholestatic .Ingesti hepatoksin kuat, seperti carbon
tetrachlorida dan jenis jamur tertentu (amanita,
galerina) seringkali berhubungan dengan kegagalan
hepatic akut. Anestesi cair, terutama halotan,
Pertimbangan Preoperatif
(
Operasi harus ditunda sampai hepatitis
akutnya sembuh, yang diindikasikan dengan
normalnya tes fungsi hepar.
Pasien hepatitis mempunyai resiko
penurunan fungsi hepar dan berkembangnya
komplikasi kegagalan hepar, seperti
encephalopathy, coagulopathy, atau
hepatorenal syndrom.
Operasi emergensi, evaluasi praanastesi
harus difokuskan untuk menentukan jenis
dan tingkat kerusakan hepar.
Pertimbangan intraoperatif
Tujuan penanganan intraoperatif adalah
untuk mengembalikan fungsi hepar dan
menghindari factor-faktor yang dapat
merugikannya
Anestesi inhalasi biasanya lebih disukai untuk
agent intravenous karena kebanyakan yang
lain bergantung pada hepar untuk
metabolisme dan eliminasi.
Isofluran adalah anastesi inhalasi yang dipilih
karena mempunyai efek yang paling sedikit
pada aliran darah hepar.
Anastesi regional dapat digunakan pada tidak
terdapatnya koagulopati, hipotensi, yang ada
harus dicegah
HEPATITIS KRONIS
Hepatitis Kronik didefinisikan sebagai radang
hepar yang terjadi lebih dari 6 bulan, yang
dibuktikan dengan meningkatnya serum
aminotransferase
Penanganan anestesi Pasien dengan hepatitis
kronik persisten atau hepatitis kronik lobuler
harus diobati dengan cara yang sama terhadap
pasien hepatitis akut. Sebaliknya mereka dengan
hepatitis kronik aktif dapat diperkirakan telah
menderita sirosis dan diobati sesuai dengan
penyakit tersebut.
SIROSIS HEPATIS
Sirosis adalah penyakit yang serius dan progresif
yang disebabkan oleh kegagalan hepar. Penyebab
sirosis yang paling umum di Amerika adalah alcohol
(
Lachnac’s
cirrhosis).
Tiga komplikasi utama sirosis hepatis, yaitu ; (1)
perdarahan varises, akibat hipertensi portal, (2)
retensi cairan, dalam bentuk asites dan sindrom
hepatorenal, (3) encephalopathy hepatic atau
koma. + 10% pasien juga mengalami setidaknya satu
rangkaian peritonitis bakteri spontan, dan beberapa
akan mengalami carcinoma hepatoseluler pada
Pertimbangan preoperatif
Pasien dengan sirosis memiliki resiko tinggi mengalami penurunan fungsi hepar karena terbatasnya reservasi fungsional
Manifestasi gastrointestinalhipertensi portalvarices esofagusperdarahan
Penanganan perdarahan varises umumnya secara suportif. Darah yang hilang harus digantikan dengan cairan
intravena. Penanganan non bedah termasuk didalamnya vasopressin (0,1-0,9 u/min. secara intravena), propanolol, balloon tamponade (dengan tube Sengstaken Blakorhore), somatostatin (250 ug diikuti dengan 250 ug/jam), dan
Manifestasi hematologi
anemia,
trombositopenia, koagulopati, dll.
Transfusi darah, Faktor-faktor pembekuan
harus digantikan dengan produk darah yang
tepat misalnya FFP dan kriopresipitat.
Transfusi platelet harus dipertimbangkan
segera dan utama untuk pembedahan
Manifestasi respiratory
foto thorax dan
pengukuran gas darah arteri
Manifestasi Renal dan Keseimbangan
Cairan
Terapi cairan preoperative,diuresis
pre operasi yang sangat berlebihan harus
dihindari, dan deficit cairan intravaskuler akut
harus dikoreksi denagn infuse koloid
Manifestasi Sistem Saraf Pusat
perubahan
pada status mental dengan tanda-tanda
neurologist yang tidak tetap (asterixis,
hiperfleksi, atau refleks plantar yang abnormal)
dan perubahan electroencephalographie khusus
( tekanan tinggi-simetris, aktivitas gelombang
yang lemah), TIK meningkat.
Laktulosa oral 30-50 ml 98h atau neomycin 500
mg 96h berguna untuk menurunkan penyerapan
ammonia intestinal. Laktulosa berperan sebagai
osmotic laxative dan seperti neomycin mungkin
menghalangi produksi ammonia dan bakteri
intestinal. Pencegahan sedative pada pasien
Pertimbangan intraoperatif
A. Respon Obat
Respon terhadap obat anestesi tidak dapat
ditebak pada pasien dengan sirosis. Perubahan
pada kepekaan system saraf pusat, volume
distribusi, ikatan protein, metabolisme obat, dan
eliminasi obat sudah umum.
Peningkatan volume distribusi untuk
obat-obatan dengan ion tinggi, misalnya
neuromuscular blocking agent (disebut juga
muscle relaxan), disebabkan oleh meluasnya
tempat cairan ekstraseluler
B. Teknik Anestesi
Aliran darah vena porta berkurang pada kasus
sirosis. Hepar menjadi sangat bergantung pada
perfusi arteri hepatic. Pemeliharaan aliran darah
arteri hepatic dan pencegahan terhadap agen
yang memiliki kemungkinan memberikan efek
yang merugikan fungsi hepar harus kritis.
Anestesi regional bisa dilakukan pada pasien
tanpa trombositopenia atau koagulopati, tapi
perawatan yang lebih diatas normal harus
Induksi barbiturate diikuti dengan isofluran
dalam oksigen atau campuran oksigen-nitrous
oxide adalah yang paling umum digunakan
dalam anestesi pada umumnya
Mual sebelum operasi, muntah, perdarahan
gastrointestinal atas, distensi abdomen yang
diakibatkan oleh asites yang sangat banyak,
membutuhkan induksi yang terencanakan
dengan baik
Preoksigenasi dan rangkaian induksi yang sering
dengan tekanan cricoid sangat sering dijalankan.
Untuk pasien yang tidak stabil dan mereka
dengan perdarahan aktif sangat disarankan,
intubasi sadar atau induksi yang sering dengan
tekanan cricoid menggunakan ketamine
C. Monitoring
Monitoring yang teliti terhadap system
respirasi dan kardiovaskular penting bagi
pasien yang menjalani prosedur abdominal.
Oksimetri denyut nadi harus ditambahkan
dengan pengukuran gas darah arteri untuk
mengevaluasi status asam basa
Urinary output juga harus diawasi dengan
cermat
D. Pemberian cairan
Sebelum operasi, sebagian besar pasien
mengalami retriksi natrium, namun pada
intraoperatif, perawatan terhadap volume
intravascular dan urinary output lebih
diprioritaskan. Penggunaan cairan koloid
intravena lebih dipilih untuk menghindari
berlebihnya muatan natrium dan untuk
meningkatkan tekanan onkotik
Karena sebagian besar pasien mengalami
anemia dan koagulopati sebelum operasi,
transfusi merupakan hal yang sering
PENYAKIT HEPATOBILIER
(10)
Penyakit hepatobilier ditandai dengan
kolestasis, terhambatnya bahkan terhentinya
aliran empedu. Penyebab utama terjadinya
kolestasis adalah obstruksi saluran empedu
ekstrahepatik (ikterus obstruktif). Obstruksi
bilier ini bisa disebabkan oleh batu empedu,
striktur, atau tumor pada duktus hepatis
Pertimbangan Preoperatif
Kebanyakan pasien dengan kolesistitis akut
harus distabilkan dulu sebelum menjalani
kolesistektomi. Terapi medis yang dapat
diberikan adalah suction nasogastric, pemberian
cairan infus, antibiotik, dan analgetik opiat.
Pasien yang mengalami obstruksi saluran
empedu ekstrahepatik apapun penyebabnya
biasanya menderita defisiensi vitamin K.
Sebaiknya diberikan vitamin K parenteral yang
mungkin bekerja optimal setelah 24 jam. Bila
sebelum operasi nilai PT belum optimal (tidak
dalam batas normal), maka mungkin harus
Pertimbangan intraoperatif
Pada pasien dengan obstruksi saluran
empedu, pemanjangan durasi obat-obat
yang tergantung pada ekskresi empedu harus
diantisipasi. Plihlah obat-obat yang
dieliminasi di ginjal. Produksi urin harus terus
dipantau dengan kateter
OPERASI HEPAR
Prosedur operasi hepar yang lazim dilakukan adalah
reparasi laserasi, drainase abses, dan reseksi tumor
(primer atau metastase). Pada kebanyakan pasien,
hepar bisa diangkat sampai 80-85%
Pemasangan jalur intravena , Pemberian
antifibrinolitik seperti aprotinin, asam
ε
-aminokaproik, atau asam traneksamat dapat
mencegah kehilangan banyak darah intraoperatif