Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pasien yang Menderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Pirngadi, Medan Mengenai Penyakit Jantung Koroner

20 

Teks penuh

(1)

5

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil „tahu‟ dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebahagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2013)

Sebelum orang mengadopsi perilaku didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni :

1. Awarenes (kesadaran)

Orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

2. Interest (merasa tertarik)

Terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap subjek sudah mulai

timbul.

3. Evaluation (menimbang-nimbang)

Terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

4. Trial

Dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan yang diiginkan stimulusnya.

5. Adoption

Dimana subek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikap terhadap stimulus.

Pengetahuan mempunyai enam tingkatan yaitu : 1. Tahu (know)

(2)

6

sebelumnya masuk kedalam pengetahuan. Tingkat ini adalah mengingatkan kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

2. Memahami (comprehension)

Diartikan sebagai suatu kemampuan menjelakan intepretasi materi tersebut secra benar, mampu menjelaskan, menyimpulkan, memberi contoh,

meramalkan dan sebagainya. 3. Aplikasi (application)

Diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya atau penggunaan hukum, rumus, prinsip, dan sebagainya dalam situasi lain.

4. Analisis (analysis)

Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam struktur organisasi.

5. Sintesis (synthesis)

Merujuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6. Evaluasi (evaluation)

Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi suatu materi atau objek. Penilaian berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri

atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

2.2 Sikap

Sikap adalah kumpulan gejala dalam merespon stimulus atau objek, sehingga itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian dan gejala kejiwaan yang lain. Fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi perilaku (tindakan) atau merupakan reaksi tertutup.

Sikap terdiri dari tiga komponen pokok, yaitu :

(3)

7

2. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, bagaimana penilaian orang tersebut terhadap suatu objek.

3. Kecendurungan untuk bertindak (tend to behave), komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka.

Sikap adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka. Kemudian Notoatmodjo (2013) menyatakan bahwa sikap terdiri atas berbagai

tingkatan, yaitu :

1. Menerima (receiving)

Menerima diartikan dimana orang (subjek) mau dan memperlihatkan stimulus yang diberikan (objek).

2. Merespons (responding)

Merespons diartikan dimana orang (subjek) memberikan tindakan balas terhadap stimulus yang diberikan (objek), seperti menjawab bila ditanya. 3. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat ketiga. 4. Bertanggung jawab (responsible)

Atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah sikap yang paling tinggi.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dengan bertanya

bagaimana pendapat atau pertanyaan responden terhadap suatu objek (Notoatmodjo, 2013)

2.3 Perilaku

2.3.1. Definisi Perilaku

(4)

8

perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar (Notoatmodjo,2013).

2.3.2. Determinan Perilaku

Teori Lawrence Green (1980) mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2

faktor pokok, yaitu faktor diluar perilaku (non behavior causes). Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :

1. Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai – niali dan sebagainya. 2. Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan

fisik, tersedia atau tidak tidak tersedianya fasilitas – fasilitas atau sarana- sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat- obatan, alat- alat steril dan sebagainya.

3. Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

2.4 Penyakit jantung koroner 2.4.1 Definisi

Menurut National Heart, Lung and Blood Institute (NHLBI) penyakit jantung koroner (PJK) adalah suatu kondisi dimana terbentuknya plak pada

bagian dalam arteri koronaria. Arteri ini menyuplai darah yang kaya akan oksigen untuk otot jantung (NHLBI,2011).

Menurut British Heart Foundation (BHF), PJK terjadi apabila arteri koroner yang menyuplai darah dan oksigen ke jantung menyempit akibat penumpukan bahan lemak pada dinding arteri secara bertahapan (BHF,2012).

(5)

9

Proses aterosklerosis ini sudah dimulai pada masa kanak-kanak dan menjadi nyata secara klinik pada kehidupan dewasa. Lebih dari setengah insiden penyakit ini dapat diterangkan kejadiannya oleh hiperkolesterolemia, hipertensi, dan merokok. Terdapat beberapa faktor risiko lain yang juga berperan akan tetapi

dalam derajat yang lebih kecil misalnya obesitas, dan aktivitas fisik yang kurang. (American Heart Association,2013).

2.4.2 Epidemiologi

Epidemiologi PJK dimulai di Amerika Utara, Eropah dan Australia diawal abad 17. Di beberapa Negara industri , jumlah kematian akibat penyakit ini mencapai puncaknya di tahun 60-an hingga awal 70-an dan sampai saat ini perkembangannya meningkat dibeberapa Negara.

Perbedaan etnis dan ras terhadap kemungkinan terkena PJK masih belum banyak dibuktikan, walaupun pada kenyataannya PJK relatif lebih tinggi pada kulit hitam Amerika, orang Karibia, dan orang Indian di Afrika Tengah, Timur dan Selatan. Hal ini banyak dihubangkan dengan status sosial ekonominya yang diperkirakan memiliki korelasi dengan peningkatan resiko mendapatkan PJK pada umur pertengahan dengan jenis kelamin pria dan kebanyakkan diantaranya memiliki riwayat kegemukan, hipertensi dan diabetes mellitus. Masyarakat perkotaan umumnya memiliki pola dan gaya hidup berbeda dengan masyarakat

desa dan ini menjadi faktor resiko bagi ditemukannya PJK dengan konsumsi karbohidrat,konsumsi minyak nabati, pekerjaan yang keras dan merokok.

Di Negara berkembang termasuk Indonesia, pada mulanya PJK itu menyerang pasien golongan sosial ekonomi tinggi. Mereka memiliki gaya hidup yang berisiko terpapar PJK, seperti konsentrasi lemak tinggi, jarang olahraga, merokok dan suasana hidup stres. Tetapi saat ini PJK sudah merambat ke golongan social menengah kebawahan.

(6)

10

2.4.3 Patogenesis

Lesi aterosklerosis terutama terjadi pada lapisan paling dalam dinding arteri yaitu lapisan intima. Lesi tersebut meliputi Fatty streak, Fibrous plaque,

Advance (complicated) plaque. Disfungsi endotel disebabkan oleh beberapa faktor seperti merokok, hipertensi, dan hiperlipidemia. Hal ini memungkinkan masuknya berbagai komponen darah ke dalam lapisan intima arteri. Komponen-komponen

ini biasanya melapisi sepanjang lapisan endotel dan tidak merusak arteri. Infiltrasi leukosit, lipid (dibawa oleh partikel LDL), dan makrofag menyebabkan sel darah ini terakumulasi dalam lapisan intima arteri. Peradangan terjadi dan foam cell yang kaya lipid terbentuk sebagai makrofag yang menelan partikel LDL. Foam ini menumpuk dan tumbuh menjadi fatty streaks, yang akhirnya tonjol keluar ke lumen arteri.

Fibrous plaque merupakan kelanjutan dari fatty streak dimana terjadi proliferasi sel, penumpukan lemak lebih lanjut dan terbentuknya jaringan ikat serta bagian dalam yang terdiri dari campuran lemak dan sel debris sebagai akibat dari proses nekrosis. Pada fase ini terjadi proliferasi otot polos dimana sel ini akan membentuk fibrous cap. Fibrous cap ini akan menutup timbunan lemak ekstraseluler dan sel debris.

Advance (complicated) lesion merupakan jaringan nekrosis yang

merupakan inti dari lesi semakin membesar dan sering mengalami perkapuran

(calcified), fibrous cap menjadi semakin tipis dan pecah sehingga lesi ini akan mengalami ulserasi dan perdarahan serta terjadi thrombosis yang dapat

menyebabkan terjadinya oklusi aliran darah (Thomas G. Allison,2007).

2.4.4 Faktor-Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner

(7)

11

yang berhubungan dengan penyakit. Berbagai faktor resiko bekerjasama saling berinteraksi dalam memperberat kondisi penyakit.

1. Hipertensi

"Tekanan darah" adalah kekuatan darah mendorong dinding arteri

saat jantung memompa darah. Jika tekanan ini meningkat dan tetap tinggi dari waktu ke waktu, dapat merusak tubuh dengan berbagai cara

(NHLBI,2012).

Tekanan darah tinggi yang secara terus menurus dapat menyebabkan kerusakan sistem pembuluh darah arteri secara perlahan. Arteri tersebut mengalami suatu pengerasan yang dapat menyempitkan lumen dalam pembuluh darah sehingga aliran darah terhalang. Akibat dari tekanan ini dapat merupakan beban tekanan pada dinding arteri. Tekanan darah tinggi memaksa jantung bekerja lebih keras. Makin berat kondisi hipertensi yang diderita maka makin berat pula faktor resiko terhadap PJK (Djohan T.B.A, 2004).

2. Hiperkolesteramia

Kolesterol adalah lemak yang dibuat oleh hati dari lemak jenuh yang kita makan. Kolesterol sangat penting untuk sel-sel sehat, tetapi jika ada terlalu banyak dalam darah dapat menyebabkan PJK. kholesterol dilakukan dalam aliran darah oleh molekul yang disebut lipoprotein.

(8)

12

Tabel 2.1. ATP III Classification of LDL Total, and HDL Cholestrol (mg/dL) jenuh atau melalui proses biohidrogenasi di perut dari hewan ruminansia. Margarin memiliki kadar asam lemak trans yang tinggi. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan dari konsumsi asam lemak trans dengan peningkatan resiko terjadinya PJK. Peningkatan ini karena asam lemak trans meningkatkan rasio kolesterol LDL. Food and Agriculture

Organization of the United Nations dan World Health Organization

merekomendasikan untuk menurunkan konsumsi asam lemak trans dalam makanan sehari-hari sebanyak 4%. Tingginya prevalensi PJK di Pakistan

akibat dari tingginya konsumsi margarin yang terdiri dari asam lemak trans sebanyak 14.2-34.3% yang bisa menjadi salah satu faktor risiko

(9)

13

3. Diabetes melitus

Penderita diabetes menderita PJK yang lebih berat, lebih progresif, lebih kompleks, dan lebih infus dibandingkan kelompok kontrol dengan usia yang sesuai. Diabetes melitus merupakan faktor resiko independen

untuk PJK, meningkatkan risiko untuk tipe 1 maupun tipe 2 dengan dua sampai empat kali. Diantaranya dapat berupa disfungsi endothelial dan

gangguan pembuluh darah yang pada akhirnya mningkatkan resiko terjadinya Coronary Artery Diseases (CAD). Pada diabetes tergantung insulin (NIDDM), penyakit koroner dini dapat dideteksi pada studi populasi sejak dekad keempat, dan pada usia 55 tahun hingga sepertiga pasien meninggal karena komplikasi PJK, adanya mikroalbuminemia atau nefropati meningkatkan resiko PJK secara bermakna (Supriyono, 2008). DM merusakkan dinding bahagian dalam arteri melalui peningkatan ROS (reactive oxygen species) dan disfungsi sel-sel endotel pembuluh sehingga dengan lebih cepat menuju proses arteriosklerosis. Mekanismenya belum jelas, akan tetapi terjadi peningkatan tipe IV hiperlipidemi dan hipertrigliserid, pembentukan plateletyang abnormal dan DM yang disertai obesitas dan hipertensi (Djohan T.B.A, 2004 dalam Norhashimah, 2011). 4. Obesitas

Obesitas didefinisikan oleh AHA (American Heart Association)

sebagai faktor resiko utama untuk PJK. Obesitas mempercepat perkembangan aterosklerosis koroner pada pria dewasa remaja dan muda.

Obesitas perut menambah resiko kesehatan obesitas, dan lingkar pinggang berkorelasi positif dengan kadar lemak perut.

Indeks massa tubuh (BMI) dihitung sebagai berat badan (kg) / tinggi badan kuadrat (m)

Hasil skala BMI berdasarkan skala seperti berikut :

a. BMI kurang daripada 18 menunjukan seseorang kurang berat badan. b. BMI kurang daripada 18,5 menunjukkan seseorang itu kurus untuk

ketinggian mereka.

(10)

14

d. BMI antara 25 dan 29,9 menunjukkan seseorang mempunyai berat badan berlebihan untuk ketinggian mereka (overweight).

e. BMI 30 atau lebih menunjukkan seseorang itu obesitas. ( David J.Maron et al., 2008).

Obesitas dapat mempercepatkan terjadinya penyakit jantung koroner melalui berbagai cara, yaitu :

a. Obesitas mengakibatkan terjadinya perubahan lipid darah, yaitu peninggian kadar kolesterol darah, kadar LDL-kolesterol meningkat (kolesterol jahat, yaitu zat yang mempercepatkan penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah), penurunan HDL-kolesterol (kolesterol baik, yaitu zat yang mencegah terjadinya penimbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah).

b. Obesitas mengakibatkan terjadinya hipertensi. Ini adalah akibat penambahan volume darah, peningkatan renin, peningkatan kadar insulin, meningkatnya tahanan pembuluh darah sistemik, serta terdapatnya penekanan oleh lemak pada diniding pembuluh darah tepi).

c. Obesitas mengakibatkan terjadinya gangguan toleransi glukosa. Jika berat badan naik 20% maka angka kematian meningkat 20% pada pria dan 10% pada wanita. Sebaiknya menurut studi Framingham,

penurunan berat badan akan memperpanjangkan usia dan dengan penurunan berat badan sampai 10% akan menurunkan insiden PJK

20%. Obesitas pada masa kanak-kanak biasanya akan mempunyai efek atau pengaruh yang lebih buruk terhadap jantung dibanding jika obesitas didapat setelah usia dewasa Hal ini disebabkan oleh karena efek samping obesitas ditentukan oleh berat dan lamanya obesitas (Djohan T.B.A, 2004 dalam Norhashimah, 2011).

5. Merokok

(11)

15

yang merokok >20 batang perhari dapat mempengaruhi atau memperkuat efek dua faktor utama risiko lainnya.

Merokok dapat merangsang proses aterosklerosis karena efek langsung terhadap dinding arteri. Berbagai zat yang terkandung pada rook

sangat berbahaya, salah satunya adalah nikotin yang dapat menyebabkan mobilisasi katekolamin yang dapat menambahkan reaksi trombosit dan

menyebabkan kerusakan pada dinding arteri, sedangkan glikoprotein tembakau dapat menimbulkan raksi hipersensitif dinding arteri.

Asap rokok mengandungi karbon monoksida yang memiliki kamampuan jauh lebih kuat daripada sel darah merah(haemoglobin). Karbon monoksida juga dikenal sebagai penyebab uatam penyakit kardiovaskular pada perokok. Perokok memiliki kadar kolesterol HDL rendah. Hal ini berarti unsurpelindung terhadap PJK menurun. Merokok menyebabkan peningkatan frekuensi denyut jantung istirahat serta meningkatkan tekanan darah sistolik dan diastolik sehingga kebutuhan oksigen miokardium(NHLBI, 2012).

Mekanisme merokok yang menyebabkan penyakit jantung adalah seperti berikut:

a. Merokok merusak lapisan arteri, menyebabkan penumpukan dari bahan lemak (ateroma) yang mempersempit arteri. Hal ini dapat

menyebabkan angina, serangan jantung atau stroke.

b. Karbon monoksida dalam asap tembakau mengurangi jumlah oksigen

dalam darah . Ini berarti jantung harus memompa lebih keras untuk memasok tubuh dengan oksigen yang dibutuhkan.

c. Nikotin dalam rokok merangsang tubuh untuk memproduksi adrenalin, yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan meningkatkan tekanan darah , membuat jantung bekerja lebih keras. (British Heart Foundation)

6. Aktifitas fisik

(12)

16

Hal ini juga membantu mencegah perkembangan diabetes, membantu menjaga berat badan, dan mengurangi hipertensi, yang merupakan faktor-faktor resiko independen untuk penyakit kardiovaskular.

The American Heart Association merekomendasikan 30-60 menit latihan aerobik tiga sampai empat kali seminggu rekan untuk meningkatkan fitness kardiovaskular. Aktivitas fisik memperlambat

perkembangan aterosklerosis koroner dan dapat meningkatkan kadar HDL kolestrol dan memperbaiki kolateral koroner sehingga resiko PJK dapat dikurangi.

7. Riwayat keluarga

Riwayat keluarga PJK pada keluarga yang langsung berhubungan darah yang berusia kurang dari 70 tahun merupakan faktor independen untuk terjadinya PJK, dengan rasio odd dua hingga empat kali lebih besar daripada populasi kontrol.

PJK pada saudara laki-laki dengan onset pada usia 55 tahun atau lebih muda atau saudara perempuan dengan onset pada usia 65 tahun atau lebih muda didefinisikan sebagai riwayat keluarga yang positif, semakin besar jumlah anggota keluarga dengan onset dini PJK atau muda usia PJK onset dalam relatif, semakin kuat adalah nilai prediktif.

8. Umur dan jenis kelamin

Umumnya PJK ditemui pada mulai dari usia 40 tahun keatas. Data dari RS Jantung Harapan Kita menunjukkan rata-rata umur pasien pria

antara 45-55 tahun. Pada wanita, PJK dijumpai pada usia menopause atau sekitar 45-54 tahun.

(13)

17

9. Diet dan Nutrisi

Diet yang tidak sehat apat meningkatkan resiko PJK. Misalnya makanan yang tinggi lemak tidak jenuh, lemak trans dan kolesterol yang akan meningkatkan kolesterol LDL. Dengan demikian, maka harus

membatasi makanan tersebut. Lemak jenuh ditemukan di beberapa daging, mentega, minyak kelapa, produk susu, coklat, makanan yang dipanggang,

dan makanan goreng atau makanan yang diproses. Berbeda halnya denganlemak tak jenuh, lemak ini justru menurunkan kadar kolesterol LDL dan meningkatkan kadar kolesterol HDL, lemak ini dapat kita temukan diberbagai jenis makanan seperti minyak jagung dan minyak kacang kedelai. Kolesterol ditemukan pada telur, daging, produk susu, makanan yang dipanggang, dan beberapa jenis kerang. Hal ini juga penting untuk membatasi makanan yang tinggi natrium (garam) dan tambahan gula. Diet tinggi garam dapat meningkatkan resiko tekanan darah tinggi.

Tambahan gula akan memberi kalori tambahan tanpa nutrisi seperti vitamin dan mineral. Hal ini dapat menyebabkan berat badan meningkat, yang meningkatkan resiko PJK. Tambahan gula banyak ditemukan di makanan penutup, buah-buahan kalengan yang dikemas dalam sirup, minuman buah, dan minuman soda non diet (National Heart, Lung, and

Blodd Institute,2011).

2.4.5 Manifestasi Klinis

(14)

18

koroner mengusahakan agar pasok maupun kebutuhan jaringan tetap seimbang agar oksigenasasi jaringan terpenuhi, sehingga setiap jaringan maupun melakukan fungsi secara optimal.

Proses terjadinya aterosklerosis dapat sejak masa kanak-kanak, dapat

berlangsung bertahun-tahun tanpa ada gejala. Kadang-kadang gejala timbul saat usia 30-an. Banyak juga gejala baru timbul saat usia 50-60 tahun. Jika sumbatan

makin bertambah besar, maka aliran darah yang menuju jantung makin berkurang sehingga menyebabkan angina pectoris atau nyeri dada. Angina ini bertimbul karena ketikseimbangan antara kebutuhan otot jantung akan dan oksigen dan suplai arah oleh pembuluh koroner.

PJK dapat memberikan manifestasi klinis yang berbeda-beda. Dengan memperlihatkan klinis penderita, riwayat perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik, elektrokardiografi saat istirahat, foto dada, pemeriksaan enzim jantung apat membedakan subset klinis PJK. Manifestasi klinis PJK meliputi :

1. Asimptomatik (Silent Myocardial Ischemia) a. Angina Pektoris

b. Angina Pektoris Stabil c. Angina Pektoris Tidak Stabil 2. Variant Angina (Prinzmetal Angina) 3. Infark Miokard Akut

4. Dekompensasi Kordis 5. Aritmia Jantung

6. Mati Mendadak 7. Syncope

Pada penderita asimptomatik, kadang penderita PJK diketahui secara kebetulan misalnya saat dilakukan check-up kesehatan. Kelompok penderita ini tidak pernah mengeluh adanya nyeri dada (angina) baik pada saat istirahat maupun saat aktivitas. Secara kebetulan penderita menunjukkan depresi segmen ST. Pemeriksaan fisik, foto dada dan lain-lain dalam batas-batas normal.

(15)

19

daerah retrsternal, terasa seperti tertekan benda berat atau terasa panas, seperti di remas ataupun sperti tercekik. Rasa nyeri sering menjalar ke lengan kiri atas atau bawah bagian medial, ke leher, daerah maksila hingga ke dagu atau ke punggung, tetapi jarang menjalar ke lengan kanan. Nyeri biasanya berlangsung singkat (1-5

menit) dan rasa nyeri hilang bila penderita istirahat. Selain aktivitas fisik, nyeri dada dapat diprovokasi oleh stres dan emosi, anemia, usara dingin dan

tirotoksokosis. Pada saat nyeri, sering disertai keringat dinding. Rasa nyeri juga cepat hilang dengan pemberian obat golongan nitrat.

Pada penderita yang mengalami Angina Pektoris Tidak Stabil, kualitas, lokasi, penjalaran dari nyeri dada sama dengan penderita angina stabil. Tetapi nyerinya bersifat progresif dengan frekuensi timbulnya nyeri yang bertambah serta pencetus timbulnya keluhan juga berubah. Sering timbul saat istirahat. Pemberian nitrat tidak segera menghilangkan keluhan. Keadaan ini didasari oleh pathogenesis yang berbeda dengan angina stabil. Pada angina tidak stabil, plak aterosklerosis mengalami thrombosis sebagai akibat plaque rupture, di samping itu diduga juga terjadi spasme namun belum terjadi oklui total atau oklusi bersifat intermitten. Pada pemeriksaan elektrokariografi didapatkan adanya depresi segmen ST, kadar enzim jantung tidak mengalami peningkatan.

PJK dapat juga bermanifestasi sebagai infark miokard akut yang

Pre-Infraction. Penderita infark miokard akut sering didahului oleh keluhan dada terasa tidak enak (chest discomfort). Keluhan ini menyerupai gambaran angina yang klasik pada saat istirahat sehingga dianggap terjadi angina tidak stabil. 30%

(16)

20

2.4.6 Diagnosis

Pengumpulan keterangan dilakukan melalui anamnesa (wawancara), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Ini berlaku untuk semua keadaan, termasuk PJK. Awal mula yaitu anamnesis mulai dari keluhan sampai semua hal

yang berkaitan dengan PJK. Keluhan yang terpenting adalah nyeri dada. Seperti apakah nyerinya, kapan dirasakan, berapa lama, di dada sebelah mana, apakah

menjalar. Nyeri dada yang dirasakan seperti ditindih beban berat, ditusuk-tusuk, diremas, rasa terbakar adalah yang paling sering dilaporkan. Walaupun bisa saja dirasakan berbeda. Biasanya nyeri dirasakan di dada kiri dan menjalar ke lengan kiri. Setelah itu mengumpulkan keterangan semua faktor risiko PJK, antara lain: apakah merokok, menderita darah tinggi atau penyakit gula (Diabetes Mellitus), pernahkah memeriksakan kadar kolesterol dalam darah, dan adakah keluarga yang menderita PJK dan faktor resikonya. Lalu melakukan pemeriksaan fisik, dimaksudkan untuk mengetahui kelainan jantung lain yang mungkin ada. Hal ini dilakukan terutama dengan menggunakan stetoskop. Terdapat banyak jenis penyakit jantung dan pembuluh darah. Diantara yang sering dijumpai adalah penyakit arteri koroner, gagal jantung, penyakit jantung bawaan, penyakit jantung rematik, hipertensi dan lain-lain.

Untuk mengetahui penyakit tersebut maka dilakukan pemeriksaan di antaranya sebagai berikut : wawancara, pemeriksaan fisik dengan alat. Wawancara

ini merupakan langkah awal atau pendahuluan. Tes-tes lebih lanjut kemudian dikerjakan untuk mempertegas diagnosis atau mengevaluasi tingkat parahnya

(17)

21

2.4.7 Penatalaksanaan 1. Modifikasi Gaya Hidup

a. Berhenti merokok setelah serangan jantung cepat akan mengurangi resiko

b. Olahraga secara teratur juga akan mengurangi risiko masa depan penyakit jantung.

c. Diet tinggi serat, rendah kolesterol/lemak, rendah garam. d. Menurunkan beart badan.

2. Pengobatan a. Antiplatelet

Antitrombosit adalah jenis obat yang dapat membantu mengurangi risiko serangan jantung dengan penipisan darah dan mencegah dari pembekuan. Obat antiplatelet umum meliputi aspirin dosis rendah. b. Statins

Statin merupakan obat penurunan kolestrol. Contohnya termasuk simvastatin, pravastatin dan atorvastatin. Mereka bekerja dengan menghalangi pembentukan kolesterol dan meningkatkan jumlah reseptor LDL di hati, yang membantu menghilangkan kolesterol LDL dari darah Anda. Hal ini membantu memperlambat perkembangan PJK.

c. Beta-bloker

Beta-bloker -termasuk acebutolol, atenolol, bisoprolol, metoprolol dan

propranolol - sering digunakan untuk mencegah angina dan mengobati tekanan darah tinggi. Beta-bloker bekerja dengan menghalangi efek dari hormon tertentu dalam tubuh, yang memperlambat detak jantung dan meningkatkan aliran darah.

d. Nitrat

(18)

22

memiliki beberapa efek samping ringan, termasuk sakit kepala, pusing dan kulit memerah.

e. ACE (angiotensin-converting enzyme) inhibitor

ACE inhibitor biasanya digunakan untuk mengobati tekanan darah

tinggi. Contohnya termasuk ramipril dan lisinopril. Mereka memblok aktivitas hormon yang disebut angiotensin II, yang menyebabkan

pembuluh darah menyempit. Serta menghentikan jantung bekerja begitu keras, inhibitor ACE meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh.

f. Calcium channel blockers

Calcium channel blockers juga bekerja untuk menurunkan tekanan darah dengan relaksasi otot-otot yang membentuk dinding arteri. Hal ini menyebabkan arteri menjadi lebih lebar, mengurangi tekanan darah. Contohnya termasuk verapamil dan diltiazem. (National Health Service, 2011).

2.4.8 Pencegahan

Upaya pencegahan PJK pada dasarnya adalah pencegahan terhadap paparan fakor resiko yang mempermudahkan individu untuk menderita PJK. Namun secara garis besar upaya pencegahan PJK meliputi 4 tingkat, yaitu :

1. Pencegahan Primodial

Yaitu upaya pencegahan munculnya faktor predisposisi terhadap PJK

(19)

23

2. Pencegahan Primer

Pencegahan primer yaitu upaya awal pencegahan PJK sebelum seseorang menderita PJK. Pencegahan ini ditujukan kepada kelompok yang mempunyai faktor resiko terkena PJK. Dengan adanya pencegahan ini

diharapkan kelompok yang beresiko ini dapat mencegah berkembangnya proses aterosklerosis secara dini. Upaya-upaya pada pencegahan yang

disarankan meliputi : a. Berhenti Merokok

Hentikan merokok memang sulit, diperlukan kesadaran dan motivasi yang sangat kuat baik dari diri maupun lingkungan.

b. Tekanan darah dalam terkontrol

Jika tekanan darah pada saat pengukuran normal, dianjurkan memeriksa tekanan darah rutin minimal 1 kali setiap 2 bulan. Cara mengkontrol peningkatan tekanan darah adalah dengan mengkontrol berat badan, meningkatkan aktivitas fisik, kurangi konsumsi garam dan alkohol.

c. Kolesterol darah dalam terkontrol

Anjuran ini dipengaruhi oleh faktor resiko lain seperti hipertensi, DM, merokok, usia (laki-laki >45 tahun dan perempuan 55tahun), riwayat keluarga PJK. Jika normal dianjurkan pemeriksaan minimal sekali

dalam 5 tahun d. Aktivitas Fisik

Evalusi rutin aktivitas fisik sehari-hari termaaksud olahraga, sebaiknya dilakukan secara 3-4 kali setiap minggu selama 30 menit dan intensitasnya sedang.

3. Pencegahan Sekunder

(20)

24

sama dengan pencegahan primer, dan juga dilakukan pemeriksaan lipid. Selain itu, intervensi juga dilakukan dengan obat-obatan seperti aspirin, golongan reseptor penyikat β, golongan penyikat enzim pertukaran angina tension, anit hipertensi lain jika diperlukan.

4. Pencegahan Tertier

Merupakan upaya mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat atau

Figur

Tabel 2.1.  ATP III Classification of LDL Total, and HDL                                   Cholestrol  (mg/dL)
Tabel 2 1 ATP III Classification of LDL Total and HDL Cholestrol mg dL . View in document p.8

Referensi

Memperbarui...