• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KEGIATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PROGRAM STUDI DIPLOMA 4 KIMIA TEKSTIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KEGIATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PROGRAM STUDI DIPLOMA 4 KIMIA TEKSTIL"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KEGIATAN

PENGEMBANGAN KURIKULUM

PROGRAM STUDI DIPLOMA 4

KIMIA TEKSTIL

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL

(2)

KATA PENGANTAR

Evaluasi dan pengembangan kurikulum merupakan salah satu bagian terpenting dalam kegatan penjaminan mutu akademik dari suatu institusi pendidikan. Oleh sebab itu, kurikulum harus selalu dievaluasi secara berkala bersama dengan dosen, pengguna lulusan dan masyarakat. Perubahan dan pengembangan perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan lulusannya serta menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan industri.

Lebih daripada sekedar rincian mata kuliah dan silabus, kurikulum pada dasarnya adalah perwujudan dari kebijakan manajemen pendidikan tinggi mengenai arah pendidikan yang diinginkan dan dibangun di atas visi yang jelas dan kuat tentang keberadaan serta peran penting institusi dalam pendidikan bagi kemajuan bangsa dan negara. Kurikulum juga merupakan hasil pemikiran dan filosofi para pendidik tentang kehidupan akademik yang akan mewarnai dan membentuk iklim akademik di lingkungan kampus serta interaksi para anggotanya dengan masyarakat luas. Pada tataran yang lebih praktis, kurikulum berperan sebagai rujukan mutu dan salah satu ukuran keberhasilan perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang diharapkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kurikulum yang digunakan sebagai acuan kegiatan pendidikan dan proses belajar mengajar pada Program Studi Diploma 4 Kimia Tekstil saat ini merupakan hasil tinjauan dan pengembangan pada tahun 2007. Sudah waktunya untuk kembali melakukan tinjauan dan evaluasi. Penyusunan dan pengembangan kurikulum Program Diploma 4 Kimia Tekstil dalam laporan ini menggunakan pedoman Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Tinggi keluaran Direktorat Akademik, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, tahun 2008. Kegiatannya dibagi menjadi dua tahap sesuai SK Ketua STTT No. 34.1/SJ-IND.6.1/Kep/3/2012 dan No. 68.2/SJ-IND.6.1/Kep/8/2013.

Bandung, 24 Mei 2013

Tim Pengembangan Kurikulum Program Diploma 4 Kimia Tekstil

(3)

DESKRIPSI TUGAS Tim Pengarah dan Penanggungjawab

Memberikan arahan dan masukan kepada Tim Pelaksana Pengembangan Kurikulum Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.

Ketua Tim Pelaksana dan Koordinator

Mengkoordinasikan dan mengawasi kegiatan pengembangan kurikulum dan mempertanggungjawabkan kepada Ketua STTT.

Anggota

1. Mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data. 2. Memberikan masukan sebagai pelengkap data.

3. Menyusun Laporan Kegiatan Pengembangan Kurikulum Program Studi Diploma Empat Kimia Tekstil .

Sesuai SK Ketua STTT No. 34.1/SJ-IND.6.1/Kep/3/2012 dan No. 68.2/SJ-IND.6.1/Kep/8/2013 tentang Penunjukan dan Pembentukan Tim Pengembangan Kurikulum Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, kegiatan pengembangan kurikulum dibagi menjadi dua tahap, yaitu :

Tahap I (2012)

Pengarah : Dr. Noerati, S.Teks., M.T.

Penanggungjawab : Agus Suprapto, S.Teks., M.Si.

Ketua : Mohamad Widodo, A.T., M.Tech., Ph.D.

Anggota : Juju Juhana, A.T., M.Si.

Hariyanti Rahayu S., S.Teks., M.T. Nyimas Susyami H., S.Teks., M.Si. Ida Nuramdhani, S.Si.T., M.Sc. Muhammad Ichwan, A.T., M.S.Eng. Tugas dan tanggung jawab Tim :

1. Melakukan analisa jabatan 2. Mengidentifikasi profil lulusan

3. Survei dan verifikasi hasil survey ke industri TPT dan asosiasi pertekstilan 4. Membuat laporan kegiatan

(4)

Tahap II (2013)

Penanggungjawab : Dr. Noerati, S.Teks., M.T.

Ketua : Nyimas Susyami H., S.Teks., M.Si.

Wakil Ketua : Agus Suparpto, S.Teks., M.Si.

Koordinator : Mohamad Widodo, A.T., M.Tech., Ph.D.

Anggota : Juju Juhana, A.T., M.Si.

Dede Karyana, S.Teks., M.Si. Ida Nuramdhani, S.Si.T., M.Sc. Ika Natalia Mauliza, S.S.T. Octianne Djamaludin, M.T. Tugas dan tanggung jawab Tim :

1. Mengelola administrasi dalam kegiatan pengembangan kurikulum sesuai aturan pemerintah yang berlaku

2. Mengelola rapat koordinasi dan rapat teknis pengembangan kurikulum sesuai dengan program kerja tim penyusun

(5)

1. PENDAHULUAN

Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) adalah salah satu perguruan tinggi di bawah Kementerian Perindustrian Republik Indonesia yang mempunyai tugas pokok: (1) melaksanakan dan mengembangkan pendidikan dalam ilmu dan teknologi tekstil, (2) melaksanakan penelitian terapan dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi tekstil, dan (3) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka pembentukan kepribadian mahasiswa dan menunjang pengembangan industri tekstil (Buku Pedoman Program Diploma 4 Sekolah TInggi Teknologi Tekstil).

Dalam perjalanannya yang panjang, program studi Kimia Tekstil bersama dengan Teknik Tekstil telah memberikan kontribusi sangat besar dan bahkan menjadi salah satu pelaku utama pembangunan basis industri tekstil tradisional

dan soko guru pengembangan sektor industri tekstil modern di Indonesia,

terutama dalam menyokong lahirnya tenaga ahli tekstil yang andal. Dari sejarah dan perkembangannya dapat diamati bagaimana kurikulum pendidikan tekstil berkembang secara progresif menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri tekstil bukan pada saat itu saja tapi juga mengantisipasi peran lulusannya di masa depan. Apa yang kita miliki dan nikmati sekarang adalah buah dari pikiran visioner yang memiliki jangkauan jauh ke depan.

Program Studi Kimia Tekstil di Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil adalah satu-satunya di Indonesia. Tidak ada satu pun perguruan tinggi lain di Indonesia yang memiliki sumber daya dan potensi di bidang tekstil seperti yang dimiliki STTT saat ini. Aset penting lainnya yang sering kurang disadari adalah keluasan jaringan dan hubungannya dengan industri yang tidak dimiliki institusi pendidikan lain manapun dan tidak mudah tergantikan dalam waktu singkat. Posisinya yang unik menjadikan program studi ini sebagai satu-satunya tumpuan harapan dan oleh karena itu mengemban tanggung jawab sangat besar bagi kemajuan industri tekstil Indonesia. Untuk itu, Program Studi Kimia Tekstil harus berani tampil mengambil langkah jauh ke depan. Kurikulum pendidikannya bukan hanya harus selalu update dan mampu menjawab kebutuhan pada saat ini, tapi juga harus berorientasi untuk pengembangan industri tekstil di masa depan.

(6)

Misi utama penyelenggaraan pendidikan tinggi tekstil oleh STTT adalah mendukung kemajuan industri tekstil melalui penyediaan tenaga ahli yang cakap dan andal untuk sektor industri, pendidikan dan litbang (penelitian dan pengembangan). Dua yang terakhir ini sangat penting dan memiliki nilai strategis karena merupakan prasyarat dan jaminan bagi pengembangan dan keberlanjutan (sustainability) program tekstil nasional. Revitalisasi industri tekstil yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui fungsi litbang – di lingkungan akademik maupun industri – yang lebih kuat dan proaktif menuju inovasi dan penguasaan teknologi yang lebih mandiri.

Di dalam dokumen Peta Jalan (roadmap) Pengembangan Industri Prioritas Tahun 2010-2014 yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian pada tahun 2009, disebutkan bahwa industri tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu industri prioritas yang masuk ke dalam kelompok klaster Basis Industri Manufaktur. Pada saat yang sama, tekstil dan produk tekstil sebetulnya juga bisa masuk dalam klaster Penunjang Industri Kreatif dan Industri Kreatif Tertentu yang selama ini sering dipahami secara terbatas hanya meliputi fesyen dan barang kerajinan atau seni berbahan tekstil. Sejalan dengan semangat Kementerian Perindustrian untuk berperan serta aktif dalam program penciptaan wirausahawan mandiri, Program Studi Kimia Tekstil berpeluang sangat besar untuk ikut mendorong terciptanya wirausaha industri kreatif tekstil berbasis teknologi sederhana dan teknologi tinggi sebagai bagian dari program ekonomi kreatif Indonesia. Memadukan fesyen dan teknologi tinggi berbasis kimia tekstil bisa menjadi salah satu contoh industri kreatif yang dimaksud. Untuk itu, mahasiswa perlu dibekali dengan pengetahuan mengenai perancangan dan pengembangan produk serta proses inovasi. Ini akan menjadi wilayah baru dan alternatif pilihan berkarir yang menarik bagi lulusan.

Sebetulnya, sudah ada rintisan ke arah sana, walaupun belum diakomodasi secara formal dan terstruktur di dalam kurikulum yang berjalan saat ini. Sebagai contoh, pada kegiatan praktikum Teknologi Penyempurnaan 2, mahasiswa ditugaskan untuk merancang dan membuat produk inovatif tekstil berbasis teknologi penyempurnaan. Dalam praktiknya, mahasiswa bekerja secara berkelompok di dalam tim mulai dari brainstorming, perumusan ide, presentasi

(7)

karyanya di dalam suatu forum. Pengetahuan mengenai prinsip-prinsip perancangan dan pengembangan produk serta proses dan manajemen inovasi akan sangat membantu proses kreatif tersebut.

Tekstil selama ini lebih banyak dikenal sebagai bahan sandang. Namun demikian, bidang aplikasinya sesungguhnya meliputi wilayah yang sangat luas termasuk apa yang secara kolektif sering disebut sebagai tekstil teknik (technical textiles). Beberapa bidang tekstil teknik yang banyak mengalami kemajuan dan mendapat sorotan antara lain adalah tekstil medik, tekstil otomotif, tekstil untuk olah-raga dan tekstil untuk perlindungan. Di samping itu, teknologi tekstil juga telah berkembang pesat dan menghasilkan wilayah aplikasi baru yang sering disebut sebagai smart textiles atau tekstil cerdas, yaitu bahan tekstil yang dirancang sedemikian rupa hingga memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan merespon secara aktif stimulan yang diterimanya dan/atau kondisi lingkungan sekitarnya. Selain itu, di bidang sandang saat ini dikenal istilah performance

wear atau performance clothing (Gambar 1) untuk pakaian olah-raga atau

kegiatan luar (outdoor activities) yang mengedepankan fungsi untuk mendukung unjuk kerja pemakainya.

(8)

Masyarakat di negara-negara maju, yang nota bene merupakan tujuan ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia, saat ini menunjukkan tingkat kesadaran yang semakin tinggi mengenai lingkungan untuk kehidupan yang lebih berkualitas (quality life). Di bidang kimia, kepedulian tersebut melahirkan konsep dan gerakan Kimia Hijau atau Green Chemistry, yaitu: “… an approach to the synthesis, processing and use of chemicals that reduce risks to human and the

environment, …” (Rashmi, 2000), yang meliputi antara lain inovasi teknologi

proses, perancangan zat-zat kimia dan bahan-bahan baru yang ramah lingkungan, pemanfaatan sumber-sumber yang berkelanjutan dan alternatif berbasis bioteknologi, serta penggunaan metodologi dan piranti untuk evaluasi dampak lingkungan.

Gambar 2. Dua Belas Prinsip Kimia Hijau

(http://www.virtualsciencefair.org/2013/dosu13t/Practical%20Application/practical%20ap plications.html)

Di samping itu, baru-baru ini, pada tahun 2011, muncul inisiatif baru dari industri dengan apa yang disebut sebagai Roadmap to Zero Discharge of Hazardous

Chemicals (ZDHC) (http://www.roadmaptozero.com). Inisiatif tersebut

mentargetkan industri pakaian jadi dan sepatu serta industri terkait, termasuk industri TPT dan kimia, bebas dari zat-zat kimia berbahaya pada tahun 2020.

(9)

Oeko-Tex Standard 100 adalah sistem sertifikasi global untuk bahan tekstil, mulai dari bahan baku hingga produk akhir, yang meliputi pengujian untuk zat-zat yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan baik yang sudah diatur di dalam perangkat perundang-undangan dan peraturan yang berlaku maupun yang belum.

Gambar 3. Zero discharge of hazardous chemicals dan Oeko-Tex

Mencermati perkembangan tren global tersebut Program Studi Diploma 4 Kimia Tekstil perlu membekali lulusannya dengan pengetahuan tentang prinsip-prinsip kimia hijau dan penerapannya pada proses produksi TPT. Di samping itu, lulusan Program Diploma 4 Kimia Tekstil juga diharapkan mampu menangani isu dan masalah yang berkaitan dengan pemakaian zat-zat berbahaya dan substitusinya maupun perancangan proses alternatif yang lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan.

Gambar 4 memperlihatkan tahap pembangunan industri nasional Indonesia sesuai dengan Kebijakan Industri Nasional yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Pada klaster industri TPT disebutkan bahwa sasaran jangka panjang 2010-2025 adalah “Meningkatnya daya saing melalui spesialisasi pada produk TPT bernilai tambah tinggi dan high fashion berbahan baku lokal.” Pokok-pokok rencana aksi untuk mencapai sasaran tersebut meliputi (1) pengembangan industri serat alam dan serat buatan berkualitas (performa) tinggi, (2) pengembangan desain, teknologi dan diversifikasi produk untuk mencapai nilai tambah dan high fashion, serta (3) penguasaan manufaktur dan desain smart textiles. Ketiga rencana aksi tersebut memberikan petunjuk yang jelas tentang arah pengembangan industri tekstil Indonesia dan juga indikasi mengenai kebutuhan SDM yang diperlukan untuk menunjang pencapaian sasaran jangka panjang industri TPT 2010-2025.

(10)

Semua uraian di atas dimaksudkan untuk memberikan perspektif dan gambaran mengenai konteks dan situasi internal maupun eksternal (global) yang perlu dipertimbangkan dalam mengevaluasi dan mengembangkan kurikulum.

Gambar 4. Kebijakan Industri Nasional

(diadaptasi dari Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional)

2. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud kegiatan evaluasi dan pengembangan kurikulum Program Studi Diploma 4 Kimia Tekstil secara umum adalah untuk meningkatkan relevansi dan mutu pendidikan agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan pemangku kepentingan, termasuk industri tekstil nasional.

Tujuan evaluasi dan pengembangan kurikulum Program Studi Diploma 4 Kimia Tekstil 2012 dan 2013 adalah:

1) Menghasilkan kurikulum berbasis kompetensi untuk Program Studi Diploma 4 Kimia Tekstil sesuai dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi yang berwawasan global dan berkelanjutan (sustainable).

2) Menghasilkan kurikulum yang dapat berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pengembangan industri tekstil nasional Indonesia untuk jangka

2010-2014: pemantapan daya saing basis industri manufak-tur yang berkelanjutan serta terbangunnya pilar industri andalan masa depan.

2015-2020: Indonesia negara industri maju baru sesuai deklarasi Bogor tahun 1995

2020-2025: Indonesia negara industri tangguh dunia

(11)

panjang sesuai dengan Kebijakan Industri Nasional menuju cita-cita Indonesia menjadi negara industri tangguh dunia pada tahun 2025.

3. REFERENSI

Beberapa dokumen yang dijadikan sebagai referensi dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum ini meliputi dokumen peraturan dan perundang-undangan negara tentang pendidikan dan industri serta dokumen strategis institusi, yaitu :

1) Undang-undang Negara Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

2) Undang-undang Negara Republik Indonesia No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi

3) Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia

4) Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Tinggi, Dirjen Pendidikan Tinggi, Jakarta, 2008.

5) Buku 1-7 Pedoman Akreditasi Program Studi Diploma, Badan Akeditasi Nasional Perguruan Tinggi, Jakarta, 2009.

6) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi.

7) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar

8) Rencana Strategis Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil 2011-2015

9) Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.

10) Peta Jalan (roadmap) Pengembangan Industri Prioritas Tahun 2010-2014, Departemen Perindustrian, 2009.

(12)

Di samping itu, penyusunan dan pengembangan kurikulum juga menggunakan benchmarking perguruan tinggi tekstil di luar negeri. Dipilihnya perguruan tinggi tekstil luar negeri karena dua alasan, yaitu: (1) STTT merupakan perguruan tinggi tekstil terlengkap dan menjadi rujukan bagi perguruan tinggi lain penyelenggara pendidikan tekstil di Indonesia, dan (2) visi global yang dicanangkan STTT.

4. KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK)

Kurikulum menurut Kepmendiknas No. 23/U/2000 didefinsikan sebagai “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Definisi kompetensi menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002 adalah “seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu”. Dengan demikian, kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dapat dipahami sebagai sebuah rencana kegiatan pembelajaran yang menitikberatkan pada pencapaian kompetensi lulusannya, dimana kerangka penyusunannya didasarkan atas strategi pentahapan pembelajaran dalam mencapai kompetensi yang dimaksudkan.

4.1 PENYUSUNAN KBK MENGACU KEPADA KKNI

Langkah-langkah penyusunan KBK dapat dilihat pada Gambar 5. Seperti tergambar pada skema, langkah awal yang harus dilakukan dalam penyusunan kurikulum adalah analisa SWOT tentang visi keilmuan dan kemampuan program studi yang diikuti dengan tracer study untuk mengetahui kebutuhan pasar tenaga kerja terhadap lulusan. Langkah selanjutnya adalah menyusun profil lulusan, yaitu peran dan fungsi yang diharapkan dapat dijalankan oleh lulusan di masyarakat nantinya yang sekaligus merupakan outcome pendidikan. Hasilnya lalu digunakan untuk menetapkan kompetensi lulusan atau capaian pembelajaran dengan memperhatikan (1) nilai-nilai yang perguruan tinggi (university values) yang sudah ditetapkan, (2) visi keilmuan (scientific vision) program studi, dan (3) kebutuhan masyarakat pemangku kepentingan (Gambar

(13)

6). Kompetensi tersebut lalu dibagi menjadi tiga kategori, yaitu kompetensi utama, kompetensi pendukung, dan kompetensi lainnya, yang menghasilkan rumusan kompetensi lulusan.

Gambar 5. Skema proses penyusunan kurikulum berbasis kompetensi

Langkah selanjutnya adalah melakukan kajian elemen kompetensi, yaitu apakah masing-masing kompetensi sudah mengandung lima elemen kompetensi yang dipersyaratkan dalam Kepmendiknas No. 045/U/2002, yang meliputi : (1) landasan kepribadian, (2) penguasaan ilmu dan keterampilan, (3) kemampuan berkarya, (4) sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai, dan (5) pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya. Berikutnya adalah menentukan bahan kajian yang perlu dipelajari untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Bahan kajian adalah :

- Suatu bangunan ilmu, teknologi atau seni, obyek yang dipelajari yang menunjukkan ciri cabang ilmu tertentu atau inti keilmuan suatu program studi.

(14)

- Pengetahuan atau bidang kajian yang akan dikembangkan karena sangat potensial untuk antisipasi pengembangan ilmu dan dibutuhkan masyarakat di masa depan.

Gambar 6. Perumusan kompetensi (capaian pembelajaran) lulusan berdasarkan profil lulusan dengan memperhatikan nilai-nilai PT, visi keilmuan, dan kebutuhan pasar dan

mengacu kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.

Pemetaan bahan kajian dan kompetensi melalui suatu matriks hubungan antara keduanya lalu digunakan untuk analisis pembentukan mata kuliah dan penetapan beban SKS masing-masing mata kuliah. Dalam konteks KBK, SKS harus dipahami sebagai waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mencapai kompetensi tertentu dengan melalui suatu bentuk pembelajaran dan bahan kajian tertentu. Perkiraan dan penetapan besaran SKS untuk suatu mata kuliah atau pengalaman belajar yang direncanakan dilakukan dengan menganalisis beberapa variabel secara simultan, yaitu: (1) tingkat kemampuan/kompetensi yang ingin dicapai, (2) tingkat keluasan dan kedalaman bahan kajian yang harus dipelajari, (3) strategi pembelajaran yang akan diterapkan, (4) posisi/letak semester suatu kegiatan pembelajaran, dan (5) perbandingan terhadap keseluruhan beban studi di satu semester.

(15)

Penyajian mata kuliah dalam semester sering dikenal sebagai struktur kurikulum. Ada dua macam pendekatan struktur kurikulum, yaitu (1) pendekatan serial, dan (2) pendekatan paralel. Pada pendekatan serial, mata kuliah disusun berdasarkan logika atau struktur keilmuannya dari yang paling dasar hingga mata kuliah lanjutan, sehingga semua harus dilaksanakan secara berurutan dimana mata kuliah di semester awal menjadi prasyarat (prerequisite) bagi mata kuliah pada semester berikutnya. Pada pendekatan paralel, mata kuliah tidak disusun secara hirarkis sehingga peserta didik memiliki kebebasan untuk mengerjakan mata kuliah yang ditawarkan pada tahap manapun dari proses pembelajarannya. Pendekatan seperti ini cocok untuk mata kuliah pilihan yang sifatnya memberikan tambahan bekal kepada lulusan agar mempunyai keluasan dalam memilih bidang kehidupan serta dapat meningkatkan kualitas kehidupannya (kompetensi lainnya). Struktur kurikulum kombinasi dari pendekatan serial dan paralel memberikan keluwesan di dalam penyajian mata kuliah, mengingat ada mata kuliah yang memang harus diikuti secara berjenjang. 4.2 BATASAN DALAM PENYUSUNAN KBK

Batasan yang ditetapkan dalam pengembangan kurikulum ini diambil dari dokumen peraturan perundang-undangan yang meliputi batasan mengenai kualifikasi lulusan Program Diploma 4, ruang lingkup, tujuan dan batasan lama studinya.

1) Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) menjadi acuan pokok dalam penetapan kompetensi lulusan pendidikan akademik, pendidikan vokasi, dan pendidikan profesi (UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 29 Ayat 1-2).

2) Penyetaraan capaian pembelajaran yang dihasilkan melalui pendidikan dengan jenjang kualifikasi pada KKNI untuk lulusan Diploma 4 atau Sarjana Terapan paling rendah setara dengan jenjang 6 (Peraturan Presiden RI No. 8 Tahun 2012 tentang KKNI, Pasal 5).

Sesuai dengan deskripsi jenjang kualifikasi KKNI yang diuraikan dalam Lampiran PerPres RI No. 8 Tahun 2012 tentang KKNI, kompetensi untuk jenjang 6 adalah:

(16)

a) Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi.

b) Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.

c) Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok.

d) Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

Di samping itu, KKNI juga mempersyaratkan lulusan pendidikan Diploma 4 memiliki capaian pembelajaran atau kompetensi umum yang meliputi sikap dan tata nilai sebagai berikut:

a) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

b) Memiliki moral, etika dan kepribadian yang baik di dalam menyelesaikan tugasnya.

c) Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air serta mendukung perdamaian dunia.

d) Mampu bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat dan lingkungannya.

e) Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, kepercayaan, dan agama serta pendapat/temuan original orang lain.

f) Menjunjung tinggi penegakan hukum serta memiliki semangat untuk mendahulukan kepentingan bangsa serta masyarakat luas.

(17)

g) Mampu menginternalisasi nilai dan norma akademik yang benar terkait dengan kejujuran, etika, atribusi, hak cipta, kerahasiaan dan kepemilikan data.

h) Mampu menginternalisasi semangat kewirausahaan.

3) Pendidikan pada jenjang Diploma 4 diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dalam bidang kerja yang bersifat rutin maupun yang belum akrab dengan sifat-sifat maupun kontekstualnya secara mandiri dalam pelaksanaan maupun tanggungjawab pekerjaannya, serta mampu melaksanakan pengawasan dan bimbingan atas dasar keterampilan manajerial yang dimilikinya (KepMendiknas No. 232/U/2000, Pasal 4 Ayat 4). 4) Beban studi program Diploma 4 sekurang-kurangnya 144 SKS dan

sebanyak-banyaknya 160 SKS yang dijadualkan untuk 8 semester dan dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 8 semester dan selama-lamanya 14 semester setelah pendidikan menengah atas (Naskah Akademik Akreditasi Program Diploma, BAN PT, 2010).

5. VISI, MISI DAN NILAI-NILAI PERGURUAN TINGGI 5.1 VISI

Menjadi Perguruan Tinggi yang unggul dalam pendidikan teknologi tekstil dan garmen yang mampu bersaing secara global.

5.2 MISI

1) Menyelenggarakan pendidikan vokasi meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat (tridharma perguruan tinggi) yang mampu memenuhi tuntutan pemangku kepentingan.

2) Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tekstil dan garmen.

3) Menghasilkan tenaga ahli di bidang teknologi tekstil dan garmen yang kompeten, mandiri dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.

4) Menyelenggarakan pengelolaan pendidikan yang profesional, transparan dan akuntabel.

(18)

5) Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak bagi terselenggaranya tridharma perguruan tinggi.

5.3 NILAI-NILAI PERGURUAN TINGGI

Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil didirikan dengan semangat pionir, yaitu sebagai lembaga pendidikan tinggi tekstil yang pertama di Indonesia, dan dengan visi membangun industri tekstil nasional Indonesia. Sejarah membuktikan bagaimana sekolah ini telah memberikan komitmennya selama lebih dari 50 tahun dalam pembangunan dan pengembangan industri tekstil melalui penyediaan SDM dan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Dalam perkembangannya, sekolah ini berhasil menjadikan dirinya center of excellence tingkat dunia di bidang tekstil pada era 1970-1980an.

Pengalaman di masa lalu dan pandangan ke depan melahirkan nilai-nilai yang menjadi pegangan bagi STTT dan segenap warga di dalamnya, yaitu: komitmen, kerja sama, unggul, mutu dan inovasi.

6. VISI, MISI DAN VISI KEILMUAN PROGRAM STUDI 6.1 VISI

Menjadikan Program Studi Kimia Tekstil sebagai acuan dan pusat informasi dalam penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan dan pelatihan bidang keahlian kimia tekstil serta dalam penanganan masalah-masalah yang berkaitan dengan operasional serta pengembangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta industri penunjangnya.

6.2 MISI

Mendidik mahasiswa menjadi tenaga ahli tekstil sesuai dengan kebutuhan, melaksanakan penelitian terapan maupun sains dalam rangka membantu memecahkan masalah atau pengembangan industri TPT.

(19)

Secara tradisional, bidang kimia tekstil di STTT selama ini dipahami sebagai bidang yang mempelajari proses persiapan penyempurnaan kain, pencelupan dan pencapan hingga penyempurnaan khusus yang bertujuan untuk memperbaiki kekurangan dan/atau mendapatkan sifat-sifat baru yang bersifat khusus pada bahan tekstil. Definisi yang diberikan American Chemical Society (ACS, www.acs.org) melengkapi pemahaman mengenai ruang lingkup bidang studi kimia tekstil :

“Textile chemistry … is a highly specialized field that applies the principles of the basic fields of chemistry to the understanding of textile materials and to their

functional and esthetic modification into useful and desirable items. … [which]

includes the application of the principles of surface chemistry to cleaning

processes and modifications such as dyeing and finishing. … [and]

encompasses organic chemistry in the synthesis and formulation of the products used in these processes.” (http://www.acs.org/content/acs/en/careers/what chemistsdo/careers/textile-chemistry.html)

7. ANALISA SWOT DAN TRACER STUDY 7.1 ANALISA SWOT

Tabel 1 pada halaman berikut memperlihatkan hasil analisa SWOT program studi Diploma 4 Kimia Tekstil dengan fokus pada kurikulum. Tidak dapat dihindari bahwa kondisi program studi akan mempengaruhi kurikulum yang dihasilkannya, sehingga sebagian isi menyoroti pula tentang analisa terhadap program studi. Secara prinsip, analisa SWOT juga memberikan gambaran utuh tentang kondisi nilai-nilai STTT sebagai perguruan tinggi dan visi keilmuan program studi Kimia Tekstil.

7.2 TRACER STUDY

Dalam rangka memetakan relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat pemangku kepentingan dilakukan tracer study serta need assessment dan market signal dengan cara survei pada industri dan menggunakan data pekerjaan lulusan yang biasa dilaporkan pada saat wisuda.

(20)

INTERNA

L

KEKUATAN (S) KELEMAHAN (W)

- Visi dan misi program studi memiliki arah yang jelas, konsisten dengan visi dan misi STTT, sejalan dengan kebijakan pembangunan industri nasional. - Kurikulum yang sudah dan sedang

berjalan dinilai dapat memenuhi kebutuhan tenaga ahli industri tekstil (terutama sandang) level manajemen menengah.

- Jumlah dosen S2 dan S3 > 70% dari dalam dan luar negeri.

- Program Studi Kimia Tekstil telah memiliki dosen tetap dengan keahlian spesifik di bidang tekstil maju yang dapat dioptimalkan untuk mengembangkan visi keilmuan program studi dan dapat diakomodir dalam kurikulum yang dikembangkan.

- Rasio jumlah dosen:mahasiswa memenuhi kriteria baik, yaitu 1 : 13 - Hampir semua dosen tetap memiliki

keahlian di bidang program studi - Lebih dari 80% dosen tetap memiliki

kualifikasi profesional (tersertifikasi) - Sarana dan prasarana tersedia lengkap

memadai

- Belum ada mata kuliah yang mendukung penciptaan wirausahawan baru dan mandiri berbasis inovasi teknologi. - Riset untuk skripsi terbatas hanya pada

permasalahan rutin di pabrik karena waktu yang disediakan menyatu dengan kegiatan PKL.

- Belum ada mata kuliah pilihan yang memberi keleluasaan pada mahasiswa untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan sesuai pilihan minatnya. - Kurikulum belum cukup kuat

menunjukkan keunggulannya yang unik. - Kurikulum yang ada belum mencakup

tekstil maju dan masih kurang mengikuti perkembangan teknologi tekstil terkini - Secara umum, kurikulum belum

mengakomodir pengembangan soft-skill secara optimal.

- Semangat kurikulum berbasis

kompetensi untuk pendidikan vokasi di STTT masih terlalu fokus hanya pada penyediaan tenaga kerja untuk industri saat ini saja, dan kurang memperhatikan penguasaan teknologi maju.

-

E

KSTE

RN

AL

PELUANG (O) TANTANGAN (T)

- Belum ada lembaga lain yang memiliki minat dan kemampuan mengembangkan teknologi tekstil masa depan yang meliputi tekstil maju (advanced textiles) dan teknologi rekayasa tekstil.

- Satu-satunya Program Studi Kimia Tekstil yang ada di Indonesia. - UU Pendidikan Tinggi Tahun 2012

membuka peluang mengembangkan pendidikan lanjut di program studi - Terbuka kesempatan pengembangan

SDM melalui jalinan kerja sama nasional dan internasional

- Kebijakan industri nasional mendorong pengembangan serat berunjuk kerja dan bernilai tambah tinggi dari bahan alam dan sintetik.

- Pemerintah mendorong pengembangan tekstil cerdas

- Ilmu dan teknologi tekstil global berkembang sangat cepat

- Belum ada program pendidikan pasca sarjana bidang kimia tekstil di dalam negeri

- Kurikulum masih perlu memberikan perhatian lebih besar pada

pengembangan soft skills yang lebih kuat, meliputi kepemimpinan, daya analisa, dan kemampuan berkomunikasi.

- Kurikulum masih dinilai terlalu condong bersifat akademik dan kurang vokasional

(21)

Profil lulusan yang dimaksud di sini, seperti telah dijelaskan di muka, adalah peran yang diharapkan dapat dilakukan lulusan program studi di masyarakat dan dunia kerja. Penetapan profil lulusan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi atas bidang pekerjaan dan jabatan para lulusan yang bekerja di industri tekstil dan terkait serta instansi pemerintah. Di samping itu, profil lulusan juga ditetapkan dengan melihat potensi perkembangan industri tekstil di masa depan dan juga nilai-nilai perguruan tinggi serta visi keilmuan program studi yang sudah disampaikan pada bagian sebelumnya.

Penting untuk diperhatikan bahwa Kementerian Perindustrian sebagai induk organisasi STTT, melalui Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia No. 148/M-IND/PER/10/2009, telah menetapkan tujuan pendidikan Program Diploma 4 di Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil sebagai berikut:

1 Menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan akademik dan profesional sebagai tenaga ahli tekstil dalam industri, pendidikan, penelitian dan pengembangan serta tenaga ahli lainnya.

2 Mengembangkan ilmu dan teknologi tekstil demi kepentingan Negara dan bangsa Indonesia serta umat manusia

3 Melakukan penelitian untuk menghasilkan berbagai temuan di bidang pertekstilan.

4 Mengembangkan program pengabdian kepada masyarakat dalam rangka pembentukan kepribadian sivitas akademika dalam mengamalkan hasil penelitian, ilmu dan teknologi guna kepentingan masyarakat (STATUTA STTT Pasal 5, ayat 1).

Dengan demikian, profil atau peran lulusan Program Studi Diploma 4 Kimia Tekstil ditetapkan sebagai berikut:

1. Supervisor (middle management) di bagian produksi, pemeliharaan,

penelitian dan pengembangan (laboratorium), perencanaan produksi dan pengendalian bahan (production planning and inventory control), pengendalian mutu (quality control) pada industri tekstil, khususnya unit

(22)

pencelupan/pencapan dan penyempurnaan, termasuk industri pembuatan serat.

2. Technical sales, yaitu posisi yang membutuhkan keahlian di bidang

pemasaran sekaligus pengetahuan dan keterampilan teknis yang kuat di bidang kimia tekstil untuk membantu industri melakukan pengembangan proses dan pemecahan masalah sebagai bagian dari layanan sebelum dan sesudah penjualan.

3. Peneliti, yaitu posisi yang biasanya banyak ditemui di instansi-instansi pemerintah yang memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai lembaga penelitian dan pengembangan seperti Balai Besar Tekstil dan Balai Besar Selulosa, atau bahkan Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi.

4. Pendidik, yaitu sebagai guru di sekolah-sekolah kejuruan (SMK) yang menyelenggarakan program studi tekstil dan dosen. Profil lulusan sebagai pendidik ini penting untuk menjaga keberlangsungan pendidikan tekstil di Indonesia.

5. Pelaku usaha/wirausaha bidang TPT

6. Technopreuner (wirausahawan berbasis teknologi) di bidang kimia

tekstil dan bidang terkait lainnya.

7. Ahli rekayasa bahan (material science and engineering)

Diagram di bawah ini menunjukkan profil lulusan lulusan program studi Diploma 4 Kimia Tekstil dengan fokus pada profil supervisor pada industri tekstil. Sedikit catatan mengenai profil ahli rekayasa bahan; profil ini merupakan hasil prediksi berdasarkan tren perkembangan teknologi tekstil di masa depan yang banyak bersinggungan dengan ilmu bahan (material science and engineering) untuk smart material atau smart textiles.

(23)

Gambar 7. Profil lulusan Program Studi Kimia Tekstil Diploma 4

9. KOMPETENSI LULUSAN DAN KAJIAN ELEMEN KOMPETENSI Berdasarkan kajian terhadap nilai-nilai perguruan tinggi, visi keilmuan program studi, dan kebutuhan masyarakat pemangku kepentingan, serta merujuk kepada KKNI jenjang kualifikasi 6 untuk lulusan program Diploma 4, maka rumusan kompetensi program studi Diploma 4 Kimia Tekstil adalah sebagai berikut:

2) Mampu mengaplikasikan bidang keahlian kimia tekstil dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang kimia tekstil dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi di industri berkaitan dengan:

a. Perencanaan dan pelaksanaan proses produksi b. Pengendalian proses dan mutu produksi

c. Penyelesaian masalah d. Penguasaan mesin produksi e. Pengelolaan bahan baku f. Evaluasi hasil produksi

SUPERVISOR

INDUSTRY

TECHNICAL SALES TECHNO-PREUNER PENDIDIK PENELITI AHLI REKAYASA BAHAN PELAKU USAHA TPT

(24)

3) Menguasai konsep teoritis bidang keteknikan secara umum dan kosep teoritis bidang kimia tekstil secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.

4) Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok.

5) Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

Pengelompokan kompetensi (a-f) pada butir (1) di atas merupakan hasil evaluasi perumusan kompetensi yang ada pada kurikulum yang sedang berjalan saat ini (Buku Pedoman KBK Program Studi Diploma 4 Kimia Tekstil, 2012) dan hasil survei terhadap industri (contoh kuesioner terlampir) dengan memperhatikan profil lulusan yang sudah ditetapkan. Tabel 2 pada halaman berikut memperlihatkan rumusan kompetensi dan hasil kajian elemen kompetensi pada tiap kompetensi lulusan Program Studi Diploma 4 Kimia Tekstil yang terbagi menjadi empat kategori kompetensi, yaitu: kompetensi utama, pendukung, penunjang, dan kompetensi umum jenjang kualifikasi 6. Rumusan kompetensi difokuskan pada profil lulusan sebagai tenaga middle management yang menjadi inti kebutuhan di sektor industri tekstil.

Pemeriksaan keterkaitan antara rumusan kompetensi dengan elemen kompetensi ini dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa kurikulum yang sedang disusun telah mempertimbangkan unsur-unsur dasar dari kurikulum yang disarankan oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Di samping itu, kajian mengenai kandungan elemen kompetensi juga dimaksudkan untuk membantu menentukan strategi pembelajaran yang akan diterapkan nantinya dalam rangka pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.

(25)

Tabel 2. Rumusan Kompetensi dan Kajian Elemen Kompetensi

KATEGORI

KOMPETENSI RUMUSAN KOMPETENSI

Elemen Kompetensi Kepribadian Ipteks Berkarya Sikap

Perilaku Bermasyarakat

UMUM

1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.   

2. Memiliki moral, etika dan kepribadian yang baik di

dalam menyelesaikan tugasnya.    

3. Berperan sebagai warga negara yang bangga dan

cinta tanah air serta mendukung perdamaian dunia.   

4. Mampu bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat dan lingkungannya.

 

5. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, kepercayaan, dan agama serta pendapat/temuan original orang lain.

  

6. Menjunjung tinggi penegakan hukum serta memiliki semangat untuk mendahulukan kepentingan bangsa serta masyarakat luas.

  

7. Mampu menginternalisasi nilai dan norma akademik yang benar terkait dengan kejujuran, etika, atribusi, hak cipta, kerahasiaan dan kepemilikan data.

 

(26)

KATEGORI

KOMPETENSI RUMUSAN KOMPETENSI

Elemen Kompetensi Kepribadian Ipteks Berkarya Sikap

Perilaku Bermasyarakat

UTAMA 1. Merencanakan Proses Produksi

1.1 Menentukan metode proses produksi  

1.2 Menghitung kebutuhan bahan baku benang

dan/atau kain dan zat-zat kimianya  

1.3 Menentukan jenis, jumlah, dan jam kerja mesin

yang digunakan  

1.4 Mengalokasikan jumlah dan kualifikasi SDM

sesuai dengan proses operasinya  

1.5 Menghitung biaya produksi secara keseluruhan

sesuai dengan prosesnya.  

2. Menangani Pelaksanaan Proses Produksi 2.1 Memeriksa ketersediaan bahan benang dan/atau

kain serta zat-zat kimianya  

2.2 Memeriksa kesiapan mesin dan operator  

2.3 Mengawasi dan memberikan arahan proses

produksi    

2.4 Memeriksa jumlah dan mutu hasil proses produksi  

2.5 Menjalankan kebijakan dan prosedur kerja

berdasarkan prinsip-prinsip K3   

2.6 Membangun kerja tim dan memberi motivasi kepada bawahan untuk mencapai target produksi dan target mutu yang telah ditetapkan

   

(27)

KATEGORI

KOMPETENSI RUMUSAN KOMPETENSI

Elemen Kompetensi Kepribadian Ipteks Berkarya Sikap

Perilaku Bermasyarakat 2.8 Membuat dan memberikan laporan berkala

kepada atasan  

3. Mengendalikan Proses dan Mutu Produksi 3.1 Memahami fungsi dan mekanisme mesin untuk

proses produksi 

3.2 Melakukan tindakan pengendalian dan

penanggulangan dalam rangka mencapai mutu dan jumlah produksi

  

3.3 Menjalankan sistem manajemen mutu    

4. Memecahkan Masalah Produksi

4.1 Menangani dan mengatasi masalah akibat

penyimpangan operasi proses produksi   

4.2 Menangani dan mengatasi masalah akibat

penggunaan bahan baku dan bahan pembantu   

4.3 Menangani dan mengatasi masalah akibat

kelainan kerja mesin dan perawatan   

4.4 Meningkatkan kinerja SDM untuk mengatasi mutu

dan jumlah hasil produksi    

4.5 Menangani dan mengatasi masalah akibat

penyimpangan biaya produksi   

5. Menguasai Operasi dan Pemeliharaan Mesin

Produksi  

6. Mengelola dan Mengendalikan Bahan dan Zat Kimia

(28)

KATEGORI

KOMPETENSI RUMUSAN KOMPETENSI

Elemen Kompetensi Kepribadian Ipteks Berkarya Sikap

Perilaku Bermasyarakat

6.1 Mengenali karakteristik bahan dan zat kimia  

6.2 Menguji mutu bahan dan zat kimia  

6.3 Mengendalikan persediaan bahan dan zat kimia  

6.4 Menetapkan spesifikasi bahan dan zat kimia  

7. Mengevaluasi Hasil Produksi

7.1 Menguji hasil produksi  

7.2 Menganalisa cacat hasil produksi  

7.3 Merekomendasikan tindakan perbaikan atau

pemecahan masalah  

8. Menguasai Proses Pengolahan Limbah Hasil Industri Tekstil

8.1 Menguji karakteristik limbah industri tekstil  

8.2 Merancang proses pengolahan limbah produksi

tekstil sesuai skala industrinya  

9. Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan

keteknikan secara umum  

10. Menguasai konsep teoritis bidang kimia tekstil

secara mendalam  

11. Mampu memformulasikan penyelesaian masalah

(29)

KATEGORI

KOMPETENSI RUMUSAN KOMPETENSI

Elemen Kompetensi Kepribadian Ipteks Berkarya Sikap

Perilaku Bermasyarakat 13. Mampu memberikan petunjuk dalam memilih

berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok

 

14. Mampu bertanggung jawab pada pekerjaan

sendiri  

15. Mampu diberi tanggung jawab atas pencapaian

hasil kerja organisasi.  

PENDUKUNG 1. Mengembangkan produk industri kreatif di bidang tekstil berbasis teknologi sederhana dan teknologi tinggi

 

2. Merancang proses produksi ramah lingkungan dan

berkelanjutan  

PENUNJANG 1. Mengembangkan kemampuan berwirausaha di

bidang tekstil     

2. Menguasai teknik berkomunikasi yang baik dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris secara lisan maupun tulisan

 

3. Memahami metodologi riset dan kaidah-kaidah

penulisan karya ilmiah  

4. Terampil menggunakan dan memanfaatkan

teknologi informasi  

5. Mampu mempresentasikan hasil penelitian dalam

(30)

10. PEMILIHAN BAHAN KAJIAN DAN ANALISA KEDALAMAN

Bahan kajian adalah suatu bangunan ilmu, teknologi atau seni, obyek yang dipelajari, yang menunjukkan ciri cabang ilmu tertentu, atau dengan kata lain menunjukkan bidang kajian atau inti keilmuan suatu program studi. Pilihan bahan kajian ini sangat dipengaruhi oleh visi keilmuan program studi dan biasanya diambil dari program pengembangan program studi. Tingkat keluasan, kerincian, dan kedalaman bahan kajian ini merupakan pilihan otonom masyarakat ilmiah di program studi.

Pemilihan, penetapan dan analisa kedalaman bahan kajian sangat membutuhkan pandangan keahlian dosen-dosen baik secara individu maupun melalui kelompok studi/bidang studi dan laboratorium, sehingga dalam pelaksanaannya semua dosen harus dilibatkan. Peran dan kontribusi para dosen masih dibutuhkan hingga menyusun matriks hubungan rumusan kompetensi dan bahan kajian serta struktur kurikulum, silabus dan strategi pembelajaran.

Tabel 3 menampilkan bahan kajian dan analisa kedalaman hasil diskusi dosen-dosen anggota tim pengembangan kurikulum program studi Diploma 4 Kimia Tekstil. Demikian pula halnya dengan matriks rumusan kompetensi dan bahan kajian (Tabel 5) serta struktur kurikulum (Tabel 6) yang masih terbatas hanya pada hasil diskusi internal tim kurikulum.

Dari kedua tabel tersebut, yaitu Tabel 5 dan 6, kita bisa memperkirakan besaran SKS yang dibutuhkan masing-masing bahan kajian dan mata kuliah untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan.

(31)

Tabel 3. Kedalaman dan keluasan kajian Kimia Tekstil

BAHAN KAJIAN MATA KULIAH

M eng et ah u i M em ah am i M enerap kan M eng an ali sa M eng ev alu asi M em b u at

Inti Keilmuan A Teknologi Proses Kimia Tekstil 1 Teknologi Persiapan Penyempurnaan

2 Teknologi Pencelupan

3 Teknologi Pencapan

4 Teknologi Penyempurnaan

5 Keteknikan Proses Kimia Tekstil

B Pengetahuan Bahan dan Zat Kimia 6 Serat Tekstil dan Polimer

7 Kimia Zat Warna

8 Sains dan Teknologi Warna

9 Zat Pembantu Tekstil

C Kimia Analisa, Pengujian dan Evaluasi Tekstil 10 Kimia Analisa

11 Pengujian dan Evaluasi Tekstil

IPTEKS Pendukung D Manajemen 12 Manajemen Industri dan Produksi Tekstil

13 Perencanaan Produksi dan Inventory

Control

14 Manajemen SDM

15 Perhitungan Biaya

16 Pengendalian Mutu

17 Pemasaran

F Ilmu Dasar Keteknikan dan Kimia Tekstil 18 Matematika

19 Fisika

(32)

BAHAN KAJIAN MATA KULIAH M eng et ah u i M em ah am i M enerap kan M eng an ali sa M eng ev alu asi M em b u at 21 Kimia Organik 22 Statistika

23 Otomasi dan Elektronik Mesin Tekstil

24 Utilitas

25 Desain Tekstil

26 Pengantar Manufaktur & Barang Tekstil 27 Pengolahan Air dan Limbah Industri 28 Manajemen Lingkungan

29 Komputasi

IPTEKS Pelengkap H Humaniora dan Ilmu-ilmu Sosial 30 Agama

31 Pancasila & Kewarganegaraan

32 Marketing

33 Bahasa Indonesia

34 Bahasa Inggris

35 Metodologi Riset

Akan Dikembangkan K Kesehatan dan Keselamatan Kerja 36 Kesehatan dan Keselamatan Kerja

L Bioteknologi Tekstil 37 Bioteknologi Tekstil

M Perancangan dan Pengembangan Produk 38 Perancangan & Pengembangan Produk

Untuk Masa Depan N Tekstil Maju 39 Tekstil Maju

Ciri Perguruan Tinggi O Kimia Hijau dan Proses Ramah Lingkungan 40 Kimia Hijau dan Proses Ramah

Lingkungan

(33)
(34)

Tabel 4. Matriks rumusan kompetensi dan bahan kajian untuk pembentukan mata kuliah KOM P ETE N SI RUMUSAN KOMPETENSI

BAHAN KAJIAN/MATA KULIAH Inti Keilmuan

IPTEKS

Pendukung IPTEKS Pelengkap Dikembangkan

Masa Depan Ciri PT A B C D E F G H I J K L M N O P UM U M

1 Bertakwa kepada Tuhan Yang

Maha Esa 30

2 Memiliki moral, etika dan kepribadian yang baik di dalam

menyelesaikan tugasnya 31

3 Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air serta mendukung perdamaian

dunia.

4 Mampu bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat

dan lingkungannya.

5 Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, kepercayaan, dan agama serta

pendapat/temuan original orang

lain.

6 Menjunjung tinggi penegakan hukum serta memiliki semangat untuk mendahulukan kepentingan

(35)

KOM P ETE N SI RUMUSAN KOMPETENSI

BAHAN KAJIAN/MATA KULIAH Inti Keilmuan

IPTEKS

Pendukung IPTEKS Pelengkap Dikembangkan

Masa Depan

Ciri PT

A B C D E F G H I J K L M N O P

7 Mampu menginternalisasi nilai dan norma akademik yang benar terkait dengan kejujuran, etika, atribusi, hak cipta, kerahasiaan

dan kepemilikan data.

8 Mampu menginternalisasi

semangat kewirausahaan. 41

UTAMA

1 Merencanakan Proses Produksi

1.1 Menentukan metode proses

produksi 1-9

1.2 Menghitung kebutuhan bahan baku benang dan/atau kain dan

zat-zat kimianya 18 29

1.3 Menentukan jenis, jumlah, dan

jam kerja mesin yang digunakan 12

1.4 Mengalokasikan jumlah dan kualifikasi SDM sesuai dengan

proses operasinya

13-14

1.5 Menghitung biaya produksi secara keseluruhan sesuai dengan

prosesnya.

2 Menangani Pelaksanaan Proses

Produksi

2.1 Memeriksa ketersediaan bahan benang dan/atau kain serta zat-zat

(36)

KOM P ETE N SI RUMUSAN KOMPETENSI

BAHAN KAJIAN/MATA KULIAH Inti Keilmuan

IPTEKS

Pendukung IPTEKS Pelengkap Dikembangkan

Masa Depan

Ciri PT

A B C D E F G H I J K L M N O P

2.2 Memeriksa kesiapan mesin dan

operator 5

23,

24

2.3 Mengawasi dan memberikan

arahan proses produksi 14

2.4 Memeriksa jumlah dan mutu hasil

proses produksi 1-4 7-8 12

2.5 Menjalankan kebijakan dan prosedur kerja berdasarkan

prinsip-prinsip K3 36

2.6 Membangun kerja tim dan memberi motivasi kepada bawahan untuk mencapai target produksi dan target mutu yang

telah ditetapkan 14

33,

34

2.7 Melakukan koordinasi dengan

bagian lain terkait

2.8 Membuat dan memberikan

laporan berkala kepada atasan

3 Mengendalikan Proses dan Mutu

Produksi

3.1 Memahami fungsi dan mekanisme

mesin untuk proses produksi 5

3.2 Melakukan tindakan pengendalian dan penanggulangan dalam rangka mencapai mutu dan jumlah

(37)

KOM P ETE N SI RUMUSAN KOMPETENSI

BAHAN KAJIAN/MATA KULIAH Inti Keilmuan

IPTEKS

Pendukung IPTEKS Pelengkap Dikembangkan

Masa Depan

Ciri PT

A B C D E F G H I J K L M N O P

3.3 Menjalankan sistem manajemen

mutu

13,

16

4 Memecahkan Masalah Produksi

4.1 Menangani dan mengatasi masalah akibat penyimpangan

operasi proses produksi 1-5

4.2 Menangani dan mengatasi

masalah akibat penggunaan bahan

baku dan bahan pembantu 7-9

4.3 Menangani dan mengatasi masalah akibat kelainan kerja

mesin dan perawatan 5 12

4.4 Meningkatkan kinerja SDM untuk mengatasi mutu dan jumlah hasil

produksi 14

4.5 Menangani dan mengatasi masalah akibat penyimpangan

biaya produksi 15

5 Menguasai Operasi dan

Pemeliharaan Mesin Produksi 12

6 Mengelola dan Mengendalikan

Bahan dan Zat Kimia

6.1 Mengenali karakteristik bahan dan zat kimia

6,7,

9

19,

20

6.2 Menguji mutu bahan dan zat kimia

10,

(38)

KOM P ETE N SI RUMUSAN KOMPETENSI

BAHAN KAJIAN/MATA KULIAH Inti Keilmuan

IPTEKS

Pendukung IPTEKS Pelengkap Dikembangkan

Masa Depan

Ciri PT

A B C D E F G H I J K L M N O P

6.3 Mengendalikan persediaan bahan

dan zat kimia 13 18

6.4 Menetapkan spesifikasi bahan dan zat kimia

6,7,

9

19,

20

7 Mengevaluasi Hasil Produksi

7.1 Menguji hasil produksi 10

7.2 Menganalisa cacat hasil produksi

1-11 16

7.3 Merekomendasikan tindakan perbaikan atau pemecahan

masalah

8 Menguasai Proses Pengolahan

Limbah Hasil Industri Tekstil

8.1 Menguji karakteristik limbah industri tekstil

1-6,9

27, 40 8.2 Merancang proses pengolahan

limbah produksi tekstil sesuai

skala industrinya

9 Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan keteknikan secara

umum

18-20

22-29

10 Menguasai konsep teoritis bidang

kimia tekstil secara mendalam 1-11 21

11 Mampu memformulasikan

(39)

KOM P ETE N SI RUMUSAN KOMPETENSI

BAHAN KAJIAN/MATA KULIAH Inti Keilmuan

IPTEKS

Pendukung IPTEKS Pelengkap Dikembangkan

Masa Depan

Ciri PT

A B C D E F G H I J K L M N O P

12 Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis

informasi dan data

13 Mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan

kelompok

14 Mampu bertanggung jawab pada

pekerjaan sendiri

30,

31

15 Mampu diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja

organisasi. P EN D U KUN

G 16 Mengembangkan produk industri kreatif di bidang tekstil berbasis

teknologi sederhana dan teknologi

tinggi 1-9 35 38 39

17 Merancang proses produksi ramah

lingkungan dan berkelanjutan 37 40

P EN UN JAN G 18 Mengembangkan kemampuan

berwirausaha di bidang tekstil 41

19 Menguasai teknik berkomunikasi yang baik dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris secara lisan

maupun tulisan

33,

34

20 Memahami metodologi riset dan

(40)

KOM P ETE N SI RUMUSAN KOMPETENSI

BAHAN KAJIAN/MATA KULIAH Inti Keilmuan

IPTEKS

Pendukung IPTEKS Pelengkap Dikembangkan

Masa Depan Ciri PT A B C D E F G H I J K L M N O P ilmiah

21 Terampil menggunakan dan

memanfaatkan teknologi informasi 29

22 Mampu mempresentasikan hasil

penelitian dalam forum ilmiah 33,34

(41)

11. STRUKTUR KURIKULUM

Setelah diperoleh perkiraan atau gambaran mengenai besarnya SKS untk setiap mata kuliah, maka langkah selanjutnya adalah menyusun mata kuliah tersebut dalam semester. Di dalam penentuan jumlah SKS perlu diperhatikan pula ketentuan tentang kurikulum yang dipersyaratkan untuk mendapatkan skor tertinggi (4) dalam penilaian akreditasi program studi sesuai dengan Standar 5 tentang Kurikulum, Pembelajaran dan Suasana Akademik pada Buku 6 Matrik Penilaian Instrumen Akreditasi sebagai berikut:

1) Sruktur kurikulum sesuai dengan standar kompetensi dan sudah berorientasi ke depan

2) Jumlah SKS yang digunakan untuk kegiatan praktikum/ praktek/ PKL (=JSKS ) pada Program Diploma 4 Non-IPS ≥ 57. Jika 41 <Jsks < 57,

maka skor = ( JSKS - 41 )/4. Satu (1) SKS praktek/praktikum minimum

2 jam kegiatan terjadwal per minggu dan 1 SKS praktek kerja lapangan = 4 jam kegiatan per minggu.

3) Persentase mata kuliah yang dalam penentuan nilai akhirnya memberikan bobot pada tugas-tugas (PR atau laporan) ≥ 20% (PTGS). Jika PTGS ≥ 60%, maka skor = 4.

4) Persentase mata kuliah dilengkapi dengan deskripsi mata kuliah, silabus dan SAP (= MKSAP) ≥ 95%.

5) Jumlah jam real yang digunakan untuk kegiatan praktikum/ praktek/ PKL (=Jjam real) ≥ 2390.

6) Kurikulum disesuaikan dengan perkembangan IPTEKS dan kebutuhan pemangku kepentingan.

7) Program dan kegiatan akademik untuk menciptakan suasana akademik (seminar, simposium, lokakarya, bedah buku, penelitian bersama dll).

8) Pembekalan lulusan program studi dengan etika profesi. 9) Budaya keselamatan kerja dalam kegiatan praktikum/praktek.

(42)

STANDAR KOMPETENSI PENCELUPAN

Sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan dan untuk memenuhi tuntutan akreditasi, maka penyusunan kurikulum program Diploma 4 Kimia Tekstil diselaraskan dengan standar kompetensi nasional, dalam hal ini Standar Kompetensi Pencelupan sebagaimana ditampilkan di bawah ini. Tujuan Fungsi Kunci/Key

Function

Fungsi Utama/Major Function

Fungsi dasar/ Unit Kompetensi Memproses benang/kain polos dengan cara pencelupan menjadi benang/kain berwarna 1. Merencanakan Produksi 1. Merencanakan

proses 1. Menyusun Perencanaan harian proses pencelupan 2. Menyusun Perencanaan Metoda Proses 3. Menyusun Perencanaan Penggunaan Mesin 4. Menyusun Perhitungan Waktu Proses 5. Menyusun rencana proses inspecting hasil pencelupan 6. Mengkomunikasikan perencanaan 2. Merencanakan kebutuhan bahan baku dan penunjang 1. Menyusun Perencanaan Bahan Baku dan Bahan Pembantu 2. Menyusun Perencanaan Bahan Penunjang (energi) 3. Menyusun Perhitungan Biaya Produksi 4. Mengkomunikasikan perencanaan 3. Perencanaan Evaluasi Hasil Produksi 1. Menyusun Perencanaan Evaluasi Proses 2. Menyusun rencana tindakan barang cacat 3. Menyusun Perencanaan Perbaikan 2. Melaksanakan Produksi 1. Melaksanakan Proses Persiapan Penyempurnaan (Pre-Treatment) 1. Melakukan Penimbangan Zat Warna dan Zat Pembantu Tekstil 2. Melakukan

(43)

Tujuan Fungsi Kunci/Key Function

Fungsi Utama/Major Function

Fungsi dasar/ Unit Kompetensi Pada Kain Menggunakan Mesin Bakar Bulu Konvensional 3. Melakukan Pembakaran Bulu Pada Kain Metoda Simultan Dengan Penghilangan Kanji Menggunakan Mesin Bakar Bulu 4. Melakukan Penghilangan Kanji Pada Kain Metoda Pad-Batch Menggunakan Mesin Pad-Roll 5. Melakukan Pemasakan Benang Atau Kain Menggunakan Kier Ketel 6. Melakukan Pemasakan Benang Secara Manual Menggunakan Bak Celup 7. Melakukan Pemasakan Kain Menggunakan Mesin Jigger 8. Melakukan Pemasakan Kain Menggunakan Mesin Winch 9. Melakukan Proses Pengelantangan Kain Metoda Pad Batch Menggunakan Mesin Pad-Roll 10. Melakukan Pengelantangan Kain Metoda Kontinyu 11. Melakukan Pemantapan Panas (Heat Setting) Pada Kain Menggunakan Mesin Stenter 12. Melakukan Pemerseran Pada Kain Menggunakan Mesin Chain Mercerizing 13. Melakukan Pemerseran Pada Kain Menggunakan Mesin Chainless

(44)

Tujuan Fungsi Kunci/Key Function

Fungsi Utama/Major Function

Fungsi dasar/ Unit Kompetensi

Mercerizing 14. Melakukan

Pengurangan Berat (Weight Reduce) Kain Metoda Diskontinyu (Batch) Menggunakan Mesin Alkali Tank 15. Melakukan Proses Weight Reduce Metode Kontinyu Menggunakan Mesin J-Box/L-Box/CDR 2. Melaksanakan Proses produksi Pencelupan 1. Melakukan Pencelupan Benang Atau Kain Secara Manual Menggunakan Bak Celup

2. Melakukan

Pencelupan Benang Hank Menggunakan Mesin Celup Hank 3. Melakukan

Pencelupan Benang Dengan Zat Warna Indigo Metode Kontinyu Menggunakan Rope-Dyeing 4. Melakukan Pencelupan Benang Dengan Zat Warna Indigo Metode Kontinyu Menggunakan Looptex 5. Melakukan Pencelupan Kain Menggunakan Mesin Jigger 6. Melakukan Pencelupan Kain Menggunakan Mesin Celup Winch 7. Melakukan Pencelupan Kain Metode HT/HP Menggunakan Mesin Celup Beam 8. Melakukan Pencelupan Kain Metode HT/HP Menggunakan Mesin Celup Jet 9. Melakukan Pencelupan Benang Metode HT/HP

(45)

Tujuan Fungsi Kunci/Key Function

Fungsi Utama/Major Function

Fungsi dasar/ Unit Kompetensi Celup Package 10. Melakukan Pencelupan Benang Metode HT/HP Menggunakan Mesin Celup Cones 11. Melakukan Pencucian Kain Menggunakan Mesin Washing Range 12. Melakukan Impregnasi

Kain Menggunakan Mesin Pad Dry 13. Melakukan

Pencelupan Kain Metoda Alkali Shock Menggunakan Mesin Alkali Shock 14. Melakukan Pencelupan Kain Metoda Batching Menggunakan Mesin Pad-Roll 15. Melakukan Pencelupan Kain Metoda Steaming Menggunakan Mesin Pad-Steam 16. Melakukan Fiksasi Pencelupan Kain Metoda Baking Menggunakan Mesin Pad-Baking 17. Melakukan Fiksasi Metoda Termofiksasi Menggunakan Mesin Termofiksasi (Baking atau termosol atau curing)

18. Melakukan Fiksasi Kain Metoda Steaming Menggunakan Mesin Steaming 19. Melakukan Colour Matching Secara manual 20. Melakukan Colour Matching menggunakan Instrumen 3. Melaksanakan Proses produksi Penyempurnaa n 1. Melakukan pemerasan benang/kain dengan mesin Sentrifuge 2. Melakukan pengeringan benang dengan mesin Vacum Dryer

(46)

Tujuan Fungsi Kunci/Key Function

Fungsi Utama/Major Function

Fungsi dasar/ Unit Kompetensi

3. Melakukan penyempurnaan pelemasan benang secara manual dengan Bak

4. Melakukan penyempurnaan pelemasan benang dengan mesin celup Hank 5. Melakukan penyempurnaan pelemasan benang menggunakan mesin celup Cone 6. Melakukan penyempurnaan pelemasan benang menggunakan mesin celup Package 7. Melakukan Penggulungan Benang 8. Melakukan pembukaan kain dengan mesin Scutcher 9. Melakukan pengeringan kain dengan mesin Short Loop Dryer (SLD) 10. Melakukan pengeringan kain dengan mesin Cylinder Dryer 11. Melakukan pengeringan kain dengan Mesin Tumbler Dryer 12. Melakukan pengeringan kain dengan mesin Stenter 13. Melakukan

penyempurnaan resin metoda Pad Dry Cure dengan mesin Termofiksasi (Baking /Curing)

14. Melakukan

penyempurnaan resin metoda Pad Dry-Cure dengan mesin Stenter 15. Melakukan

penyempurnaan biowash pada kain kapas atau campuran

(47)

Tujuan Fungsi Kunci/Key Function

Fungsi Utama/Major Function

Fungsi dasar/ Unit Kompetensi

Jet Impact 16. Melakukan

penyempurnaan calander pada kain tenun dengan mesin Calander 17. Melakukan penyempurnaan pegangan dengan mesin Comfit 18. Melakukan penyempurnaan dekatisasi dengan mesin Dekatizing 19. Melakukan penyempurnaan penggarukan pada kain dengan mesin Raising

20. Melakukan

penyempurnaan anti mengkeret kain dengan mesin Sanfor 21. Melakukan

penyempurnaan pencukuran bulu pada kain dengan mesin Shearing

22. Melakukan penyempurnaan sueding/emirizing pada kain dengan mesin Sueding

23. Melakukan final setting kain dengan mesin Stenter

24. Melakukan inspeksi kain tenun dengan mesin Inspeksi

25. Melakukan

penggulungan kain dengan mesin Rolling 26. Melakukan

penggulungan kain dengan mesin Folding 27. Melakukan

penggulungan kain dengan mesin Lapping 28. Melakukan setting

kain rajut bundar dengan mesin Calander Begel 29. Melakukan

pengeringan kain rajut bundar dengan mesin Vertical Tubular Dryer

(48)

Tujuan Fungsi Kunci/Key Function

Fungsi Utama/Major Function

Fungsi dasar/ Unit Kompetensi

(VTD) 30. Melakukan

pengeringan kain rajut bundar dengan mesin Less Tension Dryer (LTD)

31. Melakukan

pembelahan kain rajut bundar dengan mesin Slitting

32. Melakukan impregnasi resin pelemas pada kain rajut bundar metoda Pad-Dry 33. Melakukan

pembalikan kain rajut bundar dengan mesin Balik kain

34. Melakukan penyempurnaan Calander pada kain rajut bundar dengan mesin Calander Begel 4. Melaksanakan keselamatan kerja dan lingkungan hidup 1. Melaksanakan kesehatan & keselamatan kerja 2. Menjaga Lingkungan hidup 3. Mengawasi Produksi/ Melakukan Pengendalian Mutu Produksi 1. Mengawasi bahan baku dan penunjang (Melakukan pemeriksaan terhadap ketersediaan bahan baku dan penunjang

1. Mengawasi jumlah dan mutu bahan baku, bahan pembantu ( Melakukan pemerksaan terhadap ketersediaan bahan baku dan pendukunh

2. Mengawasi jumlah dan mutu energi( Melakukan pemeriksaan terhadap sarana pendukung proses pencelupan) 3. Melakukan ketersediaan Mesin-mesin Produksi Pencelupan 2. Mengawasi kondisi proses dan mesin ( Melakukan pengawasan terhadap jalannya proses produksi) 1. Mengawasi kondisi proses dan mesin 2. ? 3. ? 3. Mengawasi SDM (Melakukan pengawasan terhadap SDM) 1. Melakukan Pembimbingan / Pengarahan untuk Meningkatkan Motivasi Kerja

Gambar

Gambar 1. Performance wear, pakaian unjuk kerja tinggi.
Gambar 2. Dua Belas Prinsip Kimia Hijau
Gambar 3. Zero discharge of hazardous chemicals dan Oeko-Tex
Gambar 4. Kebijakan Industri Nasional
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini karena mahasiswa sudah mempunyai kesadaran dalam dirinya sendiri untuk menerapkan alat pelindung diri yaitu sebanyak 31 mahasiswa (66.0%) sering

RB &amp; KLINIK PUTRA MEDIKA III Dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada peserta Laki-laki Umum Dewasa dan Anak-anak RS ASRI MEDIKA Klinik Spesialis hanya Anak, Penyakit

Sehubungan dengan Pengadaan Kendaraan Dinas Operasional Roda Empat Direktorat Jenderal Pajak Tahun Anggaran 2011 Paket Vlll (Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi

Sampel yang digunakan untuk analisis mikrobiologi dan analisis pH adalah tahu putih yang diawetkan menggunakan metil paraben, asam benzoat dan kalium sorbat dengan konsentrasi

[r]

Hal ini menyebabkan ketidak efisienan dalam operasinya untuk meningkatkan kinerja penjualan, di perlukan adanya sebuah aplikasi berbasis komputer yang dapat membantu proses

Penyelesaian administrasi semua perkara yang masuk baik perkara pidana maupun perkara perdata di Pengadilan Negeri Kuningan pada tahun 2015 dapat diselesaikan semuanya

Berdasarkan definisi-definisi atau pendapat tersebut di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antar sesama manusia yang saling