• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. campak pada bayi, maka dalam tinjauan pustaka ini mengkaji mengenai efektivitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. campak pada bayi, maka dalam tinjauan pustaka ini mengkaji mengenai efektivitas"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana efektivitas KIE yang dilakukan petugas puskesmas terhadap pengetahuan ibu tentang pemberian imunisasi campak pada bayi, maka dalam tinjauan pustaka ini mengkaji mengenai efektivitas KIE dan pengetahuan ibu tentang pemberian imunisasi campak pada bayi.

2.1. Efektivitas KIE

Untuk memahami efektivitas KIE terlebih dahulu dipahami arti efektivitas dan arti dari KIE.

2.1.1. Efektivitas

Pemahaman terhadap efektivitas ini meliputi pengertian efektivitas, cara pengukuran efektivitas, pendekatan efektivitas, dan masalah dalam pengukuran efektivitas.

2.1.1.1. Pengertian Efektivitas

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai nilai efektif, pengaruh atau akibat, bisa diartikan sebagai kegiatan yang bisa memberikan hasil yang memuaskan, dapat dikatakan juga bahwa efektivitas merupakan keterkaitan antara tujuan dan hasil yang dinyatakan, dan menunjukan derajat kesesuaian antara tujuan yang dinyatakan dengan hasil yang dicapai. Jadi pengertian efektivitas adalah pengaruh yang ditimbulkan atau

(2)

disebabkan oleh adanya suatu kegiatan tertentu untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang dicapai dalam setiap tindakan yang dilakukan (Starawaji, 2009).

Penjelasan di dalam Ensiklopedia Agama dan Filsafat yang disalin dari Starawaji (2009) bahwa efektivitas adalah menunjukkan taraf tercapainya tujuan. Suatu program atau usaha dikatakan efektif kalau usaha mencapai tujuannya. Secara ideal efektivitas dapat dinyatakan dengan ukuran yang dapat dihitung seperti dalam persentase.

Dapat disimpulkan bahwa pengertian efektivitas adalah keberhasilan suatu aktifitas atau kegiatan dalam mencapai tujuan dan target, sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya, dan apabila tujuan dan target dapat tercapai sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya, dikatakan efektif dan sebaliknya apabila tujuan dan target tidak dapat tercapai sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya maka aktifitas itu dikatakan tidak efektif.

2.1.1.2. Cara Pengukuran Efektivitas

Menurut Starawaji (2009) yang mengutip pendapat Campbell (1989), terdapat cara pengukuran terhadap efektivitas yang secara umum dan yang paling menonjol adalah sebagai berikut:

1. Keberhasilan program 2. Keberhasilan sasaran

3. Kepuasan terhadap program 4. Tingkat input dan output

(3)

5. Pencapaian tujuan menyeluruh 2.1.1.3. Pendekatan Efektivitas

Pendekatan efektivitas digunakan untuk mengukur sejauh mana aktivitas itu efektif. Ada beberapa pendekatan yang digunakan terhadap efektivitas yaitu:

a. Pendekatan Sasaran

Pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana suatu lembaga berhasil merealisasikan sasaran yang hendak dicapai. Pendekatan sasaran dalam pengukuran efektivitas dimulai dengan identifikasi sasaran organisasi dan mengukur tingkatan keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran tersebut. Selain tercapainya tujuan, efektivitas juga selalu memperhatikan faktor waktu pelaksanaan. Oleh karena itu dalam efektivitas selalu terkandung unsur waktu pelaksanaan. Tujuan tercapai dengan waktu yang tepat maka program tersebut efektif (Starawaji, 2009).

b. Pendekatan Sumber

Pendekatan sumber mengukur efektivitas melalui keberhasilan suatu lembaga dalam mendapatkan berbagai macam sumber yang dibutuhkannya. Suatu lembaga harus dapat memperoleh berbagai macam sumber dan juga memelihara keadaan dan sistem agar dapat efektif. Pendekatan ini didasarkan pada teori mengenai keterbukaan sistem suatu lembaga terhadap lingkungannya, karena lembaga mempunyai hubungan yang merata dengan lingkungannya dimana dari lingkungan diperoleh sumber-sumber yang merupakan input lembaga tersebut dan

(4)

out put yang dihasilkan juga dilemparkannya pada lingkungannya (Starawaji, 2009).

c. Pendekatan Proses

Pendekatan proses menganggap sebagai efisiensi dan kondisi kesehatan dari suatu lembaga internal. Pada lembaga yang efektif, proses internal berjalan dengan lancar dimana kegiatan bagian-bagian yang ada berjalan secara terkoordinasi. Pendekatan ini tidak memperhatikan lingkungan melainkan memusatkan perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan terhadap sumber-sumber yang dimiliki lembaga, yang menggambarkan tingkat efisiensi serta kesehatan lembaga.

2.1.1.4. Masalah dalam Pengukuran Efektivitas

Efektivitas selalu diukur berdasarkan prestasi, produktivitas dan laba. Pengukuran efektivitas dengan menggunakan sasaran yang sebenarnya dan memberikan hasil pengukuran efektivitas berdasarkan sasaran dengan memperhatikan masalah yang ditimbulkan oleh beberapa hal berikut:

a. Adanya macam-macam output

Adanya bermacam-macam output yang dihasilkan menyebabkan pengukuran efektivitas dengan pendekatan sasaran menjadi sulit untuk dilakukan. Pengukuran juga semakin sulit jika ada sasaran yang saling bertentangan dengan sasaran lainnya. Efektivitas tidak akan dapat diukur hanya dengan menggunakan suatu indikator atau efektivitas yang tinggi pada suatu sasaran yang seringkali disertai dengan efektivitas yang rendah pada sasaran lainnya. Dengan demikian, yang diperoleh dari pengukuran

(5)

efektivitas adalah profil atau bentuk dari efek yang menunjukkan ukuran efektivitas pada setiap sasaran yang dimilikinya.

Selanjutnya hal lain yang sering dipermasalahkan adalah frekuensi penggunaan kriteria dalam pengukuran efektivitas seperti yang dikemukakan oleh Steers (1985) yang dikutip oleh Starawaji (2009) yaitu bahwa kriteria tersebut dalam pengukuran efektivitas adalah: Adaptabilitas dan fleksibilitas, Produktivitas, keberhasilan memperoleh sumber, keterbukaan dalam komunikasi, Keberhasilan pencapaian program, Pengembangan program.

b. Subjektivitas dalam penilaian

Pengukuran efektivitas dengan menggunakan pendekatan sasaran seringkali mengalami hambatan, karena sulitnya mengidentifikasi sasaran yang sebenarnya dan juga karena kesulitan dalam pengukuran keberhasilan dalam mencapai sasaran. Untuk itu ada baiknya bila meninjau bahwa perlu masuk kedalam suatu lembaga untuk mempelajari sasaran yang sebenarnya karena informasi yang diperoleh hanya dari dalam suatu lembaga untuk melihat program yang berorientasi ke luar atau masyarakat, seringkali dipengaruhi oleh subjektifitas. Untuk sasaran yang dinyatakan dalam bentuk kualitatif, unsur subjektif itu tidak berpengaruh tetapi untuk sasaran yang harus dideskripsikan secara kuantitatif, informasi yang diperoleh akan sangat tergantung pada subjektifitas dalam suatu lembaga mengenai sasarannya.

Hal ini didukung oleh pendapat Steers (1985) yang dikutip oleh starawaji (2009) yaitu bahwa lingkungan dan keseluruhan elemen-elemen kontekstual berpengaruh terhadap informasi lembaga dan menentukan tercapai tidaknya sasaran

(6)

yang hendak dicapai. Karena itu perbedaan karakteristik faktor-faktor kontekstual ini perlu diperhatikan apabila hendak bermaksud mengukur efektifivas program yang terdapat pada lingkungan yang berbeda. Dengan demikian, suatu usaha atau kegiatan dikatakan efektif apabila tujuan atau sasaran dapat dicapai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya dan dapat memberikan manfaat yang nyata sesuai dengan kebutuhan.

2.1.2. KIE

Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) berasal dari bahasa Inggris yang telah diterjemahkan kedalam bahasa indonesia, yaitu dari kata Communication

Information, Education, (CIE). Istilah KIE mempunyai pengertian yang komplek

karena dalam proses komunikasi terkandung unsur informasi dan informasi itu sendiri mempunyai unsur edukasi, yang mempunyai sifat dapat menggerakkan seseorang atau kelompok untuk melakukan sesuatu (Depkes RI, 1993). Tujuan KIE adalah peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku individu maupun kelompok (Depkes RI, 2002). Secara rinci pengertian KIE dapat diformulasikan sebagai berikut:

a) Komunikasi

Diartikan sebagai proses penyampaian berbagai informasi antara petugas KIE dengan masyarakat sehingga pada akhirnya tercapai suatu persepsi (pandangan) yang sama antara petugas dengan masyarakat.

(7)

Diartikan sebagai semua data, fakta, rumusan serta acuan yang perlu diketahui, dipahami dan dilaksanakan oleh petugas dan masyarakat dalam rangka melaksanakan suatu kegiatan.

c) Edukasi

Diartikan sebagai proses kegiatan yang teratur yang mendorong terjadinya proses perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang suatu kegiatan tersebut secara wajar, sehingga masyarakat melaksanakan kegiatan tersebut dan bertanggung jawab atas keberhasilannya (Depkes RI, 1993).

Agar berjalan dengan efektif sebaiknya topik KIE berdasarkan kebutuhan dan kondisinya. Mengingat ruang lingkup penyampaian KIE adalah perilaku dengan berbagai variabelnya, maka KIE ini juga mempergunakan prinsip dan metoda dari berbagai disiplin ilmu seperti komunikasi, antropologi medis, psikologi sosial dan pemasaran sosial.

Pengelolaan KIE dibagi dalam 3 tahap pokok, yaitu: 1. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini, kegiatan pokoknya yang dilakukan adalah: Mengumpulkan data, Mengembangkan strategi, Mengembangkan, menguji coba dan memproduksi bahan-bahan komunikasi, Membuat rencana pelaksanaan, Menyiapkan pelaksanaan (Triamanah, 2004).

2. Tahap Intervensi (Pelaksanaan)

Tahap intervensi ini dibagi kedalam siklus-siklus pesan yang terpisah. Setiap siklus pesan mencakup informasi yang serupa dengan pendekatan yang sedikit

(8)

berbeda disesuaikan dengan perubahan kebutuhan sasaran. Perubahan-perubahan ini dilakukan secara periodik, dapat mengurangi kejenuhan sasaran dan memungkinkan keterlibatan sasaran secara berkesinambungan. Cara ini memungkinkan perencana program untuk memasukkan hasil-hasil tahap sebelumnya ke dalam perencanaan tahap-tahap berikutnya. Cara ini memungkinkan perencana membuat beberapa kali perubahan-perubahan penting dalam strategi yang ditempuh. Perubahan-perubahan ini harus dilakukan sebagai jawaban terhadap informasi-informasi tentang penerimaan sasaran terhadap program dan efektifitas kegiatan yang dilaksanakan (Triamanah, 2004).

3. Tahap Monitoring dan Evaluasi (Pemantauan dan Penilaian)

Tahap monitoring memberikan informasi kepada perencana mengenai pelaksanaan program, secara teratur dan pada waktu yang tepat, hingga perbaikan yang diperlukan dapat segera dilaksanakan (Triamanah, 2004). Aspek-aspek yang dipantau meliputi input, proses, dan output dari suatu kegiatan KIE. Aspek-aspek tersebut meliputi: sasaran, media, jalur, isi pesan, hasil-hasil kegiatan, permasalahan yang dihadapi, kegiatan pemantauan oleh instansi di atasnya, tindak lanjut kegiatan dan kemandirian (Depkes RI, 1993). Tahap Evaluasi dilakukan terhadap keluaran (output) program, dampak

primer, perubahan perilaku dan perubahan status dari sasaran yang perinciannya antara lain sebagai berikut:

(9)

Tahapan Indikator Keberhasilan

Keluaran (output) Frekuensi kegiatan KIE kelompok Frekuensi kegiatan KIE perorangan Frekuensi kegiatan KIE massa Efek Primer Tingkat pengetahuan

Perubahan Perilaku Tingkat partisipasi dalam program Tingkat kelestarian partisipasi Perubahan Status Tingkat kesadaran

Kegiatan KIE dapat dibagi menjadi 2 (dua) kegiatan pokok yakni: Kegiatan KIE kesepakatan dan Kegiatan KIE Perubahan Perilaku (Depkes RI, 1993)

1. Kegiatan KIE Kesepakatan

Seperti diketahui bahwa program KIE mengandung unsur inti yaitu proses peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku. Sebagai proses perubahan sikap, kita perlu menyiapkan terlebih dahulu lingkungan yang mendukung. Hal ini dapat berarti kesiapan, baik para pengelola program maupun masyarakat sasaran. Dapat dikatakan bahwa KIE-Kesepakatan adalah kegiatan KIE yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan dukungan serta kesepakatan tokoh-tokoh masyarakat, baik politis maupun operasional dalam melaksanakan program tersebut.

2. Kegiatan KIE Perubahan Perilaku

Kegiatan KIE yang ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku dilaksanakan melalui 3 (tiga) bentuk kegiatan KIE yaitu:

(10)

a). KIE massa: Kegiatan KIE yang dilaksanakan melalui media elektronik dan cetak. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menyiapkan kondisi sebelum kegiatan KIE yang lain dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multimedia khususnya pada waktu melaksanakan kampanye program yang sifatnya masih inovatif/baru. Ide penggunaan pendekatan Multi media ini dimaksudkan agar penyampaian pesan dapat secara intensif dan sekaligus menghilangkan terjadinya distorsi informasi yang disampaikan oleh salah satu media.

b). KIE Wawan Muka (Interpersonal): kegiatan KIE yang dilaksanakan secara perorangan melalui kunjungan rumah. Kegiatan ini dilaksanakan secara kontinyu dan berkesinambungan baik oleh para petugas KIE maupun kader. Petugas KIE harus dengan sabar dan tekun mengadakan kunjungan ulang pada setiap sasaran, hingga akhirnya sasaran mau melakukan apa yang disarankan oleh petugas KIE maupun kader.

c). KIE Kelompok: Kegiatan KIE dilaksanakan secara berkelompok, untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan KIE. KIE kelompok dapat dilaksanakan dengan menggunakan forum komunikasi yang sudah melembaga (musyawarah desa), maupun forum komunikasi yang telah terbentuk seperti klompencapir.

Ketiga bentuk kegiatan dapat dilaksanakan sendiri-sendiri, tetapi terkoordinasi, khususnya dalam isi pesan yang mau di sampaikan pada sasaran (Depkes RI, 1993).

(11)

2.2. Pengetahuan Ibu tentang Pemberian Imunisasi Campak

Pengetahuan yang diperlukan seorang ibu tentang pemberian imunisasi campak pada bayi meliputi pengetahuan mengenai penyakit campak dan imunisasinya. Pengetahuan mengenai penyakit campak meliputi pengertian penyakit campak, penyebab penyakit campak, gejala klinis penyakit campak, cara penularan penyakit campak, komplikasi penyakit campak.

Pengetahuan mengenai imunisasi campak meliputi pengertian imunisasi, manfaat imunisasi, usia pemberian imunisasi campak pada bayi, dosis dan cara pemberian imunisasi campak, berapa kali pemberian imunisasi campak pada bayi, kontra indikasi pemberian imunisasi campak pada bayi, efek samping imunisasi campak dan tempat atau fasilitas yang dapat memberikan pelayanan imunisasi campak.

2.2.1. Penyakit Campak

Pengetahuan yang sebaiknya seorang ibu ketahui tentang penyakit campak meliputi definisi penyakit campak, penyebab penyakit campak, gejala klinis penyakit campak, cara penularan penyakit campak, dan komplikasi penyakit campak.

2.2.1.1. Definisi Penyakit Campak

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus measles dengan gejala bercak merah menyeluruh dengan panas dan disertai dengan salah satu gejala atau lebih dari gejala batuk, pilek dan kemerahan pada mata. Pada mukosa mulut ada bercak koplik. Setelah gejala mereda warna kulit menjadi kehitaman (hiperpigmentasi) yang menetap 7-10 hari.

(12)

Menurut Septenia (2010) yang mengutip Maldorado (1996) Campak merupakan suatu penyakit akut menular yang ditandai oleh 3 stadium: (1). Stadium inkubasi sekitar 10-12 hari. Disertai dengan sedikit tanda-tanda atau gejala-gejala: (2). Stadium prodromal ditandai dengan bercak koplik pada mukosa bukal dan faring, demam ringan sampai dengan sedang, konjungtivitis ringan, koryza, dan batuk yang semakin berat: (3). Stadium akhir dengan ruam makuler yang muncul berturut-turut pada leher dan muka, tubuh, lengan dan kaki disertai demam yang tinggi.

2.2.1.2. Penyebab Penyakit Campak

Penyebab penyakit campak adalah virus RNA dari Famili Paramixoviridae, genus Morbili virus. Hanya satu tipe antigen yang diketahui. Selama masa prodromal dan selama masa waktu singkat sesudah ruam campak, Virus ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar ini berdasarkan Septenia (2010) yang mengutip dari Maldorado (1996).

2.2.1.3. Gejala Klinis Penyakit Campak

a) Panas badan biasanya ≥ 38 derajat celcius selama 3 hari atau lebih, disertai salah satu atau lebih gejala batuk, pilek, mata merah atau mata berair.

b) Khas (Patognomonis) ditemukan Koplik’s spot atau bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam (Mucosa Basal).

c) Bercak kemerahan rash yang dimulai dari belakang telinga pada tubuh berbentuk makulo papular selama 3 hari atau lebih, beberapa hari (4-7 hari) ke seluruh tubuh. Ruam ini tidak memucat dengan penekanan karena perdarahan kapiler.

(13)

d) Bercak kemerahan makulo papular setelah 1 minggu sampai 1 bulan berubah menjadi kehitaman (hiperpigmentasi) disertai kulit bersisik. Kasus yang telah menunjukkan hiperpigmentasi (kehitaman) perlu dilakukan anamnesis dengan teliti, dan apabila pada masa akut (permulaan sakit) terdapat gejala-gejala tersebut di atas maka kasus tersebut termasuk kasus campak (Depkes RI. 2008).

2.2.1.4. Cara Penularan Penyakit Campak

a) Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara terutama batuk, bersin atau sekresi hidung.

b) Masa penularan 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah timbul rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3 hari pertama sakit (Depkes RI, 2008).

2.2.1.5. Komplikasi Penyakit Campak

Sebagian besar penderita campak akan sembuh, komplikasi sering terjadi pada anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia > 20 tahun. Penyakit campak dapat menjadi lebih berat atau fatal pada penderita malnutrisi dan defisiensi Vitamin A serta Human Immuno deficiency Virus (HIV). Komplikasi yang sering terjadi yaitu: a). Diare b). Bronchopneumonia, c). Malnutrisi, d). Otitis Media, e). Kebutaan, f). Encephalittis, g). Measles encephalittis, hanya 1/1.000 penderita campak, h).

Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), hanya 1/100.000 penderita campak dan,

(14)

2.2.2. Imunisasi Campak

Imunisasi berasal dari bahasa latin “ Immun” yang berarti kebal. Dalam istilah kedokteran dikenal dengan istilah imunitas yaitu suatu peristiwa mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan benda asing, sehingga terjadi interaksi antara tubuh dengan benda asing tersebut.

Menurut Mansjoer (2000) yang dikutip oleh Lisnawati (2011) imunisasi adalah suatu cara untuk memberikan kekebalan kepada seseorang secara aktif terhadap penyakit menular. Berdasarkan Ranuh (2001) yang dikutip oleh Lisnawati (2011) imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kesehatan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpapar antigen yang serupa tidak pernah terjadi penyakit.

Dalam keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1059/MENKES/SK/IX/2004 imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan menderita penyakit tersebut (Purnamaningrum, 2010).

2.2.2.1. Manfaat Imunisasi

1. Untuk anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian.

2. Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak–kanak yang nyaman.

(15)

3. Untuk negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berpendidikan untuk melanjutkan pembangunan (Proverawati dan Andhini, 2010).

2.2.2.2. Usia Pemberian Imunisasi Campak pada Bayi

Bayi terlindung dari campak karena ada antibodi dari ibunya yang masuk kedalam darah bayi melalui plasenta. Lama perlindungan bayi dari penyakit campak tergantung pada jumlah antibodi yang disalurkan lewat plasenta, faktor genetik, faktor lingkungan, perbedaan cepat lambatnya kehilangan antibodi pasif yaitu infeksi kuman lain, katabolisme Ig G yang meningkat. Kekebalan maternal yang dibawa berangsur-angsur menurun sampai pada usia 9 bulan. Keadaan ini dipakai alasan program imunisasi pemberian imunisasi segera setelah anak berusia 9 bulan (Wisnuwijoyo, 2004).

2.2.2.3. Dosis dan Cara Pemberian Imunisasi Campak

Dosis vaksin campak sebanyak 0,5 ml. Sebelum disuntikan, vaksin campak terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut. Vaksin diberikan secara intramuskular.

Cara pemberian:

a. Atur bayi dengan posisi miring diatas pangkuan ibu dengan bahu lengan telanjang.

b. Orang tua sebaiknya memegang kaki bayi, dan gunakan jari-jari tangan untuk menekan ke atas lengan bayi.

(16)

c. Cepat tekan jarum ke dalam kulit yang menonjol ke atas dengan sudut 45 derajat.

d. Usahakan kestabilan posisi jarum (Proverawati dan Andhini, 2010). 2.2.2.4. Berapa Kali Pemberian Imunisasi Campak pada Bayi

Di Indonesia, sejak tahun 2004 imunisasi campak diberikan dua kali, yang pertama pada umur 9-11 bulan dan yang kedua pada program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada umur 6–7 tahun (Hartati, 2008).

2.2.2.5. Kontra Indikasi Pemberian Imunisasi Campak Kontra indikasi pemberian vaksin campak:

1. Infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38° Celcius 2. Gangguan sistem kekebalan

3. Pemakaian obat imunosupresan 4. Alergi terhadap protein telur

5. Hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin 6. Wanita hamil (Lisnawati, 2011)

2.2.2.6. Efek Samping Imunisasi Campak

Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi (Proverawati dan Andhini, 2010). 2.2.2.7. Tempat untuk Mendapatkan Imunisasi Campak

Untuk memaksimalkan pelayanan imunisasi, dan mengoptimalkan keberhasilan program imunisasi, telah disediakan tempat-tempat khusus yang bisa digunakan untuk pemberian imunisasi. Imunisasi dapat dilakukan di posyandu,

(17)

puskesmas, polindes, rumah sakit, bidan desa, praktek dokter, dan tempat lain yang telah disediakan (Proverawati dan Andhini, 2010).

2.3. Landasan Teori

Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya. Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung. Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk perilaku manusia. Perilaku manusia merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi sikap dan sebagainya.

Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi, dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan.

(18)

2.3.1. Landasan Teori Perubahan Pengetahuan

Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal (dari dalam diri manusia) maupun faktor eksternal (diluar diri manusia). Faktor internal terdiri dari faktor fisik dan faktor psikis. Faktor eksternal terdiri dari berbagai faktor lain sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan baik individu, kelompok, maupun masyarakat, dikelompokkan menjadi 4 menurut Teori Blum yang dikutip dari Notoatmodjo (2003) yaitu 1). Lingkungan, 2). Perilaku, 3). Pelayanan kesehatan, 4). Hereditas (keturunan).

Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat hendaknya juga dialamatkan kepada empat faktor tersebut. Dengan kata lain intervensi atau upaya kesehatan masyarakat juga dikelompokkan menjadi 4 (empat), yakni intervensi terhadap faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan hereditas.

Dalam rangka membina dan meningkatkan kesehatan masyarakat, maka intervensi atau upaya yang ditujukan kepada faktor perilaku ini sangat strategis. Intervensi terhadap faktor perilaku ini secara garis besar dapat dilakukan melalui upaya yaitu dengan tekanan (enforcement), hukum (Regulation), dan edukasi (Education) (Notoatmodjo, 2010).

Upaya agar masyarakat berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara persuasi, bujukan, himbauan, ajakan, memberikan informasi, memberikan kesadaran, dan sebagainya, melalui kegiatan yang disebut pendidikan atau penyuluhan kesehatan. Memang dampak yang timbul dari cara ini terhadap

(19)

perubahan perilaku masyarakat akan memakan waktu yang lama, namun demikian bila perilaku tersebut berhasil diadopsi masyarakat, maka akan langgeng, bahkan selama hidup dilakukan.

Perubahan atau adopsi perilaku merupakan suatu proses yang komplek dan memerlukan waktu yang relatif lama. Secara teori perubahan perilaku atau seseorang menerima atau mengadopsi perilaku baru dalam kehidupannya melalui 3 tahapan yaitu: pengetahuan, sikap dan praktek atau tindakan (practice).

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni: indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Seperti telah diartikan diatas bahwa pengetahuan merupakan hasil tahu. Untuk mendapatkan tahu itu seorang dapat melalui proses belajar. Seorang dapat dikatakan belajar apabila di dalam dirinya terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat mengerjakan sesuatu menjadi dapat mengerjakan sesuatu.

Belajar sebenarnya adalah suatu usaha untuk memperoleh hal-hal baru dalam tingkah laku (pengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan nilai-nilai) dengan aktivitas kejiwaan sendiri. Dari pernyataan tersebut tampak jelas bahwa sifat khas dari proses belajar ialah memperoleh sesuatu yang baru, yang dahulu belum ada, sekarang menjadi ada, yang sebelum diketahui, sekarang diketahui, yang dahulu belum mengerti sekarang dimengerti.

(20)

Kegiatan belajar dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja dan kegiatan belajar mempunyai ciri-ciri: a). Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang sedang belajar, baik aktual maupun potensial. b). Perubahan tersebut pada pokoknya didapatkan karena kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama. c). Perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha. Bukan karena proses kematangan (Notoatmodjo, 2003).

Telah disebutkan diatas salah satu cara untuk merubah perilaku adalah dengan pendidikan. Menurut Craven dan Hirnle 1996 pendidikan kesehatan adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik praktek belajar atau instruksi dengan tujuan untuk mengingat fakta/kondisi nyata, dengan cara memberi dorongan terhadap pengarahan diri (self direction), dan aktif memberikan informasi-informasi. Tujuan umum dari pendidikan kesehatan adalah bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan aktif berperan serta dalam upaya kesehatan (Ali, 2010). Pendidikan sebenarnya adalah suatu proses penyampaian bahan/materi pendidikan oleh pendidik kepada sasaran pendidikan (anak didik) guna mencapai perubahan tingkah laku (Notoatmodjo, 1981).

Penyuluhan kesehatan menurut Azrul Azwar dalam Ali (2010) adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara memberikan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu, dan mengerti tapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.

(21)

Gambar 2.1. Kerangka Teori 2.4. Kerangka Konsep Keterangan: : tidak diteliti : diteliti

Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian Penyuluhan

Proses belajar dan mengajar

Pengetahuan sebelum proses belajar mengajar

Pengetahuan sesudah proses belajar mengajar

Tindakan Tindakan

KIE Imunisasi campak

Pengetahuan ibu tentang pemberian

imunisasi campak pada bayi sesudah

KIE Pengetahuan ibu

tentang pemberian imunisasi campak pada bayi sebelum

KIE

Tindakan Imunisasi campak

Tindakan Imunisasi campak

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Teori  2 . 4. Kerangka Konsep                                     Keterangan:                   : tidak diteliti                   : diteliti

Referensi

Dokumen terkait

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya

Slameto (2010: 2) mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

Slameto (2010: 2) mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,

1. Belajar adalah Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada diri individu yang sedang belajar meliputi pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan yanng didapat

Menurut Slameto (2010: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, pengalaman individu itu sendiri dalam

Menurut Slameto (2010: 2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil