NEWS HEADLINES
JAKARTA COMPOSITE INDEX CHART
Sinyalemen teknikal terkonfirmasi positif bagi IHSG untuk pekan ini, Sinyal tersebut tercermin dari lagging maupun leading indikator. Dimana MA5 dan MA20 terkonfirmasi positif bagi IHSG, demikian dengan inidikator MACD dan Stochastic mensinyalkan upside bagi IHSG untuk pekan ini..
JAKARTA INDICES STATISTICS
CLOSE CHANGE VOLUME (Mn) VALUE (Rp Bn)
IHSG 4843.186 -2.185 4,431.32 5,689,33
LQ-45 840.296 -0.054 1,560.62 4,108.27
MARKET REVIEW
MARKET VIEW
Pada akhir pekan lalu, IHSG ditutup melemah ke level 4,843.19. Dari domestik, BPS mencatat laju inflasi nasional sebesar 0,19% pada Maret 2016 dengan inflasi tahunan mencapai 4,45%. Selanjutnya, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan ekonomi XI yang meliputi meliputi KUR berorientasi ekspor, dana investasi real estate (DIRE), percepatan bongkar muat barang di pelabuhan atau dwelling time, dan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan. Dengan KUR berorientasi ekspori, para pelaku UMKM yang ingin mengekspor produknya berhak mendapatkan KUR dengan bunga 9%. Selain itu, PPh final dari penjualan properti real estate diturunkan dari 5% menjadi 0,5%. Ketiga, pemerintah meluncurkan sistem Indonesia Single Risk Management (ISRM) untuk mempermudah proses bongkar muat barang di pelabuhan. Terakhir, pemerintah berupaya agar bahan baku obat dan alat kesehatan diproduksi di dalam negeri. Selanjutnya, Pertamina mengeluarkan kebijakan penurunan harga BBM nonsubsidi sebesar Rp200 per liter efektif 30 Maret 2016. Pertalite akan diturunkan menjadi Rp7.100 per liter, sedangkan Pertamax diturunkan menjadi Rp7.500 per liter. Selanjutnya, harga BBM jenis premium juga diturunkan sebesar Rp500/liter dari Rp6.950 menjadi Rp6.450/liter. Harga solar juga turun sebesar Rp500/liter dari Rp5.650/liter menjadi Rp5.150/liter. Selain penurunan harga BBM, penurunan tarif listrik juga diberlakukan per 1 April 2016 yang berlaku bagi 12 golongan pelanggan, mulai dari rumah tangga hingga industri. Pada awal April, tarif listrik akan turun mengikuti harga minyak dunia yang mengalami penurunan. Untuk rumah tangga pelanggan listrik golongan 1.300 VA ke atas penurunannya sekitar Rp12 per KwH, dari Rp1.355 menjadi Rp1.343 per KwH. Sedangkan untuk industri sedang, turun sekitar Rp9 per KwH, dari Rp1.042 per menjadi Rp1.033 per KwH. Industri besar turun sekitar Rp8 per KwH, dari Rp933 menjadi Rp925 per KwH. Dari global, Gubernur the Fed Janet Yellen memberi pernyataan bahwa bank sentral AS akan berhati-hati dalam menaikkan suku bunga acuan dengan memperhatikan kondisi perekonomian global. Selanjutnya, data resmi pemerintah AS melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat secara tahunan mencapai 1,4% pada kuartal IV 2015. Departemen Perdagangan AS merevisi pertumbuhan ekonomi AS pada periode tersebut dari sebelumnya 0,7%. Secara umum, perekonomian AS diestimastikan tumbuh pada kisaran 2,4% sepanjang 2015. Salah satu alasan dilakukannya revisi pertumbuhan ekonomi adalah lantaran belanja masyarakat lebih besar dari yang diperkirakan, didorong membaiknya pasar tenaga kerja. Meskipun demikian, para analis memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS pada 4Q15 tidak akan berubah dari estimasi sebelumnya, yakni 1%.
Kondisi pasar global yang tengah di hadapi perlambatan, namun pejabat the Fed penuh dengan keyakinan mengatakan bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga sebanyak 3 kali tahun ini. Sebelumnya sebagian besar petinggi the Fed juga memperkirakan kenaikan suku bunga sebanyak 2 kali tahun ini, namun komentara Lockhart mensinyalkan bahwa bank sentral dapat mengambil pendekatan yang sedikit lebih agresif untuk menaikkan suku bunga jika data ekonomi terus menunjukkan hasil yang positif. The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada pertengahan April. Namun, para pejabat the Fed ini mensinyalkan bahwa bank sentral dapat mengambil pendekatan yang sedikit lebih agresif untuk menaikkan suku bunga jika data ekonomi terus menunjukkan hasil yang positif. Ditengah optimistis para pejabat The Fed terhadap perekonomian AS, namun diperkirakan akan terkendala oleh perekonomian global, khususnya perekonomian Cina yang berdampak bagi global. Bahkan, Standard & Poor's (S&P) pada pekan lalu menurunkan outlook peringkat kredit Cina dan Hong Kong menjadi “negatif” dari sebelumnya "stabil", dengan alasan risiko ekonomi dan keuangan terhadap utang pemerintah telah meningkat. Langkah ini mengindikasikan peluang bahwa lembaga pemeringkat ini dapat memangkas rating 'AA-' milik Cina dan rating 'AAA' milik Hong Kong dalam jangka waktu 6 bulan sampai 2 tahun ke depan. S&P percaya bahwa dalam 5 tahun ke depan Cina masih akan menunjukkan perkembangan yang moderat dalam menyeimbangkan ekonomi dan perlambatan dalam pertumbuhan kredit. Downgrade yang dilakukan S&P ini berpotensi membebani sentimen di pasar saham Cina dan Hong Kong. Sementara itu, pamor perekonomian Cina terangkat oleh data aktivitas manufaktur Cina yang kembali menunjukan ekspansi, diharapkan dapat memberikan angin segar bagi pelaku pasar yang sebelumnya cemas akan kesehatan ekonomi negara ini. Data dari pemerintah Cina menunjukkan indeks aktivitas manufaktur naik menjadi 50,2 di bulan Maret, dari bulan sebelumnya 49,3. Sentimen lain bagi pasar, tren pergerakan harga minyak dunia tetap dapat memberikan dampak bagi pergerakan indeks global. Sedangkan sentimen dari dalam negeri mulai terbatas, maka faktor eksternal akan berdampak bagi IHSG yang diperkirakan bergerak mixed. Kendati demikian peluang untuk menguat bagi indeks masih cukup terbuka di pekan ini.
WEEKLY REPORT
04 April 2016
• Lini energi belum jadi prioritasi WSKT
• Anak usaha TBIG terbitkan surat utang USD 500 juta • JSMR perbesar porsi pendapatan lain
• MEDC gandeng Ratchaburi incar PLTG USD 350 juta • Laba STAR tahun 2015 turun jadi Rp 83,39 juta
• ABMM beri pinajaman ke anak usaha Rp 70 miliar & USD 16,871 juta • ABBA tahun 2015 cata rugi Rp 49,74 miliar
• INAF menargetkan pertumbuhan ekspor 16% • CINT lanjutkan ekspansi yang tertunda
• Laba GSMF tahun 2015 turun jadi Rp 76,08 miliar • Laba MRAT tahun 2015 urun jadi Rp 1,04 miliar • Laba UNIT tahun 2015 naik jadi Rp 417,11 juta • Pendapatan MLPT naik 4,6% YoY pada 2015 • Laba MTDL naik 27,5% YoY pada 2015 • Laba SOCI didukung galangan kapal • DPUM kaji terbitkan obligasi dan akuisisi • MSKY jajaki pinjaman USD 275 juta
• SMMA jual seluruh saham PT. PAnji Ratu Jakarta senilai Rp 17 miliar • RANC catat rugi Rp 17,16 miliar di 2015 dari laba Rp 15,19 miliar • DILD targetkan marketing sales 2016 capai Rp 2,5 triliun • APLN terganjal kasus hukum salah satu direkturnya • Fame Brigde Investment Ltd. jual saham DMAS • DMAS kaji tambah saham publik sebesar 10%
• EMDE eksekusi proyek properti untuk pertahankan kinerja • Laba MEGA tahun 2015 naik jadi Rp 1,05 triliun
4 April 2016
4 April 2016
Waskita Karya (WSKT) belum berencana mengembangkan lebih jauh lini usaha sektor energi yang dimiliki oleh perusahaan pada 2016. Perusahaan berencana melakukan sejumlah pembangkit listrik tenaga mikrohidro setelah menyelesaikan satu pembangkit listrik di Sangir, Sumatera Barat dengan kapasitas 2x5 mega watt (MW). Realisasi pembangunan Sangir Hulu telah mencapai 95% dan sekarang sedang mempersiapkan pemasangan turbin dan generator di mana tanggal operasi komisioning direncanakan pada Juni 2016. Pada 2016, kontribusi lini jalan tol ditargetkan mencapai 40-50% terhadap total pendapatan, diikuti oleh beton sebesar 20-25% dan terakhir properti. Jasa Marga (JSMR) berencana memperbesar porsi pendapatan lain atau di luar pendapatan tol menjadi 15%-20% pada 2016 atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang masih di bawah 10%. Salah satu contoh pendapatan lain yang dapat dinaikkan adalah pemeliharaan jalan tol yang dikelola oleh anak usaha perusahaan. Menurut perusahaan, anak usaha tersebut dapat menggarap pemeliharaan aset milik JSMR. Selain itu, perusahaan akan menaikkan pendapatan dari lini pendapatan sewa, pendapatan property, pendapatan iklan dan sebagainya.
TBG Global Pte.Ltd, entitas anak Tower Bersama Infrastructure (TBIG), berencana untuk menerbitkan surat utang atau notes dengan nilai sebanyak-banyaknya USD 500 juta. Dana hasil penerbitan notes akan digunakan untuk keperluan investasi dalam bentuk pemberian pinjaman dan penyertaan modal pada Tower Bersama Singapore Pte. Ltd. (TBS), entitas anak TBG Global Pte. Ltd. Selanjutnya, TBS akan memberikan fasilitas pinjaman antar perusahaan kepada perseroan. Jatuh tempo pembayaran utang pokok adalah pada tahun 2025 dengan bunga maksimal 8% per tahun.
Medco Energi Internasional (MEDC) melalui anak usahanya, Medco Power Indonesia, menggandeng perusahaan asal Thailand, Ratchaburi Electricity Generating Holding Pcl untuk mengikuti tender pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) berkapasitas 250 MW di Riau. Nilai PLTG tersebut diperkirakan sekitar USD 350 juta. Perseroan memperkirakan proposal tender akan diserahkan pada Juni 2016. Bila berhasil memenangkan independent power producer (IPP) Riau, Medco berencana menguasai hingga 51% dan 49% sisanya Ratchaburi Electricity.
ABM Investama (ABMM) pada 30 Maret 2016 telah melakukan transaksi afiliasi berupa pemberian pinjaman kepada anak usahanya, yaitu PT Cipta Krida Bahari (CKB) dan PT Cipta Kridatama (CK) masing-masing Rp 70 miliar untuk CKB dan USD 16.871.109 untuk CK. Pinjaman itu akan digunakan untuk modal kerja CKB dan CK dalam menjalankan kegiatan usaha.
Star Petrochem (STAR) mencatat kenaikan pendapatan tahun 2015 sebesar Rp 258,96 miliar dibandingkan sebelumnya Rp 228,62 miliar. Laba bersih tercatat Rp 83,39 juta turun dari sebelumnya Rp 340,03 juta.
Indofarma (INAF) membidik penjualan ekspor mencapai US$3,5 juta pada tahun ini atau tumbuh 16,6% disbanding realisasi 2015 sekitar US$3 juta. Perusahaan juga memacu penjualan produk herbal untuk menggenjot kinerja. Tahun ini, perusahaan membidik beberapa negara seperti Singapura, Vietnam, Kamboja, Filipina, Myanmar, Timor Leste hingga Suriname. Produk yang diekspor teridiri atas produk ethical dan obat bebas. Penjualan dari ekspor pada periode Januari-Maret 2016 yang sudah diraih perusahaan mencapai US$300 ribu. Permintaan ekspor tersebut datang dari Afghanistan.
Millenium Pharmacon International (SDPC) mengklaim kinerja penjualan pada triwulan pertama tahun ini sesuai dengan target, yaitu sejalan dengan pertumbuhan yang ditargetkan di 2016 sebanyak 20%. Salah satu factor pemicu terdorongnya pertumbuhan adalah penurunan suku bunga Bank Indonesia. Pasalnya, untuk menjalankan usaha, perusahaan meminjam dana dengan pembayaran jangka pendek kepada tiga bank, yaitu PT Bank UOB Indonesia, Standard Chartered Bank dan Deutsche Bank AG. Tahun lalu hutang terhadap tiga bank tersebut mencapai Rp258,46 miliar. Selain itu, perusahaan
juga akan mengembangkan obat nonresep dan alat kesehatan. Penjualan bruto Mustika Ratu (MRAT) tahun 2015 turun menjadi Rp 593,54 miliar dari sebelumnya Rp 616,94 miliar. Laba bersih turun menjadi Rp 1,04 miliar dari sebelumnya Rp 7,05 miliar.
MNC Sky Vision (MSKY) menjajak pinjaman hingga USD 275 juta dari dua bank asing. Aksi penggalangan dana tersebut akan digunakan untuk melunasi (refinancing) utang senilai USD 215 juta. Perseroan juga berencana melakukan penambahan modal tanpa HMETD hingga 706,38 juta atu 10% dari jumlah seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor. Tujuan dari non-HMETD ini adalah meningkatkan struktur permodalan dan keuangan perusahaan. Multipolar (MLPT) membukukan pendapatan konsolidasi senilai Rp 17,9 triliun sepanjang 2015, naik 4,6% YoY. Perlambatan ekonomi domestik dan pelemahan mata utang Rupiah ditambah dengan kerugian pencatatan mata uang asing dan biaya one-time konversi, serta pengalihan bisnis Hypermart di China menyebabkan perseroan membukukan kerugian sebesar Rp 1,2 triliun.
Metrodata Electronics (MTDL) membukukan pertumbuhan kinerja pada 2015 baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih. Perseroan membukukan penjualan Rp 9,96 triliun pada tahun lalu, meningkat 17,9% YoY. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh diversifikasi penjualan produk. MTDL aktif memasarkan smartphone dengan membentuk direktorat khusus, sehingga fokus dan mampu meningkatkan porsi penjualan smartphone dari 5% menjadi 15% dari total penjualan. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 226,6 miliar pada 2015, meningkat 27,5% YoY. Pada tahun ini, MTDL menargetkan penjualan sebesar Rp 11,1 triliun atau tumbuh 11% YoY. Mahaka Media (ABBA) mencatatkan penurunan penjualan bersih tahun 2015 menjadi Rp 290,55 miliar dari sebelumnya Rp 318,91 miliar. Rugi sebelum pajak tercatat Rp 49,74 miliar dari sebelumnya membukukan laba sebelum pajak Rp 12,09 miliar.
Supra Boga Lestari (RANC) mencatatkan kerugian Rp 17,16 miliar per Desember 2015 dari sebelumnya membukukan laba Rp 15,19 miliar. Pendapatan bersih naik menjadi Rp 1,91 triliun dari sebelumnya Rp 1,64 triliun.
Champion Pacific Indonesia (IGAR) memutuskan untuk memangkas belanja modal sebesar 83% YoY menjadi Rp 5 miliar tahun ini. Penurunan belanja modal dipicu oleh ekspektasi belum stabilnya kondisi ekonomi tahun ini. Belanja modal tahun ini hanya dimanfaatkan untuk perawatan mesin. Untuk meningkatkan kinerja keuangan tahun ini, perseroan akan memperbesar kontribusi penjualan kemasan makanan dan minuman menjadi 15% tahun ini, dari realisasi tahun lalu sekitar 10% terhadap total penjualan.
Nusantara Inti Corpora (UNIT) meraih laba bersih tahun 2015 sebesar Rp 417,11 juta dibandingkan sebelumnya Rp 179,97 juta. Pendapatan naik menjadi Rp 118,26 miliar dibandingkan sebelumnya Rp 102,44 miliar.
Chitose Internasional (CINT) pada tahun ini menganggarkan belanja modal sama seperti tahun lalu yaitu sekitar Rp33 miliar untuk merealisasikan sejumlah rencana ekspansi yang tertunda pada 2015. Perusahaan akan menjalankan renacna bisnis yang belum terealisasi tahun lalu dan akan dilaksanakan tahun ini.
Sinarmas Multiartha (SMMA) melakukan penjualan seluruh sahamnya di PT Panji Ratu Jakarta pada 31 Maret 2016 kepada pemegang saham lain PT Surya Mitra Sejati. Jumlah saham yang dilepas mencapai 170.000 saham senilai Rp17.000.000.000.
Dua Putra Utama Makmur (DPUM) berencana menerbitkan obligasi dan akuisisi beberapa perusahaan. Hal ini didorong kebijakan pemerintah menggalakkan kemaritiman sehingga berdampak positif bagi perusahaan perikanan terintegrasi. Dampak positif dari kebijakan Menteri Susi memberantas kapal illegal mulai dirasakan perusahaan,
4 April 2016
4 April 2016
Persaingan semakin berkurang dan permintaan terhadap komoditas ikan terus meningkat. Saat ini, perusahaan melakukan due diligence untuk mengakuisisi tiga perusahaan perikanan.
Soechi Lines (SOCI) membukukan perolehan laba bersih senilai USD 41 juta pada 2015, tumbuh 23% YoY. Kenaikan pendapatan dari bisnis galangan kapal menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan laba perseroan di tengah tren menurunnya harga minyak dunia. Total pendapatan sepanjang tahun lalu mencapai USD 142 juta, tumbuh 11,3% YoY. Pendapatan dari segmen pelayaran mencapai USD 113 juta, tumbuh 4,81% YoY, sementara pendapatan dari bisnis galangan kapal meningkat hingga 45,71% YoY menjadi USD 20,08 juta. Tahun ini, armada perseroan juga bertambah dengan kehadiran satu kapal berkapasitas 100.000 DWT.
Adira Dinamika Multifinance (ADMF) membukukan pembiayaan baru (new booking) sekitar Rp 7 triliun pada akhir Maret 2016, relatif stabil dibandingkan dengan pencapaian kuartal I-2015.
Equity Development Investment (GSMF) mencatatkan penurunan laba tahun 2015 menjadi Rp 76,08 miliar dibandingkan sebelumnya Rp 85,78 miliar. Pendapatan turun menjadi Rp 1,19 triliun dari sebelumnya Rp 1,25 triliun.
Asuransi Ramayana (ASRM) membukukan kenaikan pendapatan premi menjadi Rp 656,42 miliar dibandingkan sebelumnya Rp 902,19 miliar. Pendapatan usaha tercatat Rp 311,25 miliar naik dari sebelumnya Rp 232,48 miliar.
Bank Negara Indonesia (BBNI) optimistis mampu mendorong pertumbuhan lini bisnis kredit pemilikan rumah (KPR) double digit pada tahun ini. Salah satu indicator dapat dilihat dari kenaikan kredit hunian pada kuartal I/2016 yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Untuk meningkatkan pertumbuhan KPR pada tahun ini, salah satu strategi yang ditempuh dengan memberikan sejumlah program menarik untuk kembali menggairahkan pasar. Seperti program BNI Griya bunga 8,70% pada tahun pertama dan kemudian 10,70% untuk tahun kedua.
Bank Mega (MEGA) meraih laba bersih tahun 2015 sebesar Rp 1,05 triliun dari sebelumnya Rp 568,06 miliar. Pendapatan bunga naik menjadi Rp 6,45 triliun dari sebelumnya Rp 5,97 triliun.
Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) berupaya memperluas pasar program Laku Pandai ke sejumlah pulau di Indonesia melalui program 'BTPN Wow!' pada tahun 2016, yaitu ke seluruh Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara. Melalui produk tersebut BBTN ingin menyentuh masyarakat terutama nasabah yang "unbanked" atau belum terlalu memahami perbankan.
Kasus hukum yang menjerat salah satu direksi Agung Podomoro Land (APLN) berpotensi untuk menjadi penghambat kinerja perusahaan. Fundamental APLN diperkirakan akan memburuk jika kasus hokum berujung pada pencabutan izin reklamasi di Teluk Jakarta. Kasus hokum yang menjerat direksi APLN juga berpotensi menghambat proyek Pluit City yang tengah digarap perusahaan melalui anak usahanya. Di lain pihak, perusahaan menyatakan berkomitmen untuk mematuhi seluruh proses hukum yang diperlukan.
Intiland Development (DILD) menargetkan marketing sales tahun 2016 mencapai Rp 2,5 triliun. Sebagai upaya untuk merealisasikan target tersebut, DILD akan fokus terhadap penjualan proyek-proyek eksisting. Seiring dengan peluncuran sejumlah proyek baru yang berkualitas dengan konsep pengembangan yang kuat baik di Jakarta maupun Surabaya. Hingga akhir triwulan I 2016, Intiland berhasil
meraih marketing sales sekitar Rp 702 miliar setara 28% dari target.
Megapolitan Developments (EMDE) terus mengeksekusi proyek properti yang direncanakan guna mempertahankan kinerja. Pada 2015, perseroan membukukan kenaikan laba bersih sebesar 35% YoY menjadi Rp 61,2 miliar. Selain itu, EMDE membukukan penjualan sebesar Rp 325,3 miliar, meningkat 4% YoY. Pendapatan perseroan
didapat dari pengembangan yang memberikan kontribusi sebesar Rp 234,3 miliar atau hampir 70% dari pendapatan. Sedangkan 30% sisanya berasal dari pendapatan berkelanjutan.
Greenwood Sejahtera (GWSA) mencetak laba bersih sebanyak Rp1,26 triliun sepanjang 2015 atau tumbuh 124% dibandingkan dengan realisasi pada 2014. Kenaikan valuasi aset property investasi menjadi factor utama peningkatan laba perusahaan. Pada 2015, perusahaan melakukan revaluasi terhadap aset-aset property investasi menyusul pemberian diskon pajak yang diberikan oleh pemerintah. Hasilnya, perusahaan membukukan selisih kenaikan atau gain atas empat aset properti investasi sebanyak Rp1,07 triliun. Kenaikan nilai wajar property melesat 321,81% dibandingkan dengan posisi 2014.
Puradelta Lestari (DMAS) bukukan laba bersih sebesar Rp1,37 triliun pada 2015 atau naik 41,9% dibandingkan 2014. Sementara itu, margin laba bersih perusahaan tergolong tinggi sebesar 59,8% dengan return on equity (ROE) 19,1%. Kenaikan laba bersih didorong oleh peningkatan pendapatan sebesar 48,6% menjadi Rp2,29 triliun pada 2015 dibandingkan 2014 yang sebesar Rp1,54 triliun. Kenaikan pendapatan terutama ditopang dari penjualan lahan industri sebesar Rp2,24 triliun, naik 180,2% dibandingkan 2014. Ke depan, DMAS tidak hanya berfokus kepada penjualan lahan-lahan industri, tetapi juga membangun area komersial dan hunian untuk menghadirkan kenyamanan berupa fasilitas yang lengkap bagi pekerja di kawasan industri.
Fame Bridge Investment Limited menjual seluruh saham tersisa di Puradelta Lestari (DMAS) ke AFP International Capital Pte Ltd. Fame Bridge melepas 3.857.010.000 saham seharga Rp 208 per saham atau setara Rp 802,25 miliar. Penjualan saham itu mengakibatkan porsi pemilikan AFP International, anak usaha Sinarmas Land Ltd., meningkat menjadi 63,87%. Akuisisi tersebut menyebabkan porsi pemilikan saham Sinarmas Land meningkat dari 44,46% menjadi 58,96%. Sejauh ini Sinarmas Land telah mengeluarkan dana hingga Rp 2,262 triliun untuk meningkatkan porsi pemilikan di Puradelta. Puradelta Lestari (DMAS) tengah mengkaji untuk menambah jumlah saham yang beredar di publik sebesar 10%, sehingga total saham beredar akan menjadi 20%. Rencana tersebut merupakan kelanjutan dari rencana awal pemegang saham saat melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) pada Mei 2015. Rencana penambahan jumlah saham beredar akan tergantung dengan kondisi pasar modal. Perseroan belum menentukan waktu dan skema yang akan digunakan untuk menambah jumlah saham beredar di masyarakat.
Bank Indonesia memperkirakan penyaluran kredit perbankan akan meningkat pada triwulan II 2016, sehingga mampu mendorong pertumbuhan fungsi intermediasi perbankan sesuai target tahun 2016 di rentang 12%-14%. Pencapaian pertumbuhan kredit perbankan secara tahunan yang sebesar 8% per Februari 2016 belum sesuai ekspetasi. Hal itu salah satunya karena manfaat ekonomi dari kebijakan pelonggaran moneter oleh bank sentral sejak Desember 2015, belum tertransmisikan dengan baik ke industri perbankan dan sektor riil. Kebijakan penurunan suku bunga acuan (BI rate) secara bertahap dari 7,5% hingga 6,75%, beserta penurunan Giro Wajib Minimum-Primer, tidak secara serta merta langsung mendorong perbankan untuk memacu penyaluran kreditnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan pada April 2016 berpotensi terjadi deflasi, bila pemerintah mampu menjaga harga komoditas, seperti bawang maupun cabai. Selain itu ada kemungkinan April mulai memasuki masa panen dan kebijakan pemerintah yang menurunkan tarif angkutan umum serta tarif dasar listrik bisa menjadi faktor lain yang bisa menyumbang deflasi pada periode ini. Namun ada komponen yang berpotensi mengalami kenaikan harga dan menyumbang inflasi pada April, antara lain penyesuaian iuran BPJS, fluktuasi harga emas yang terus meningkat dan kenaikan harga minyak goreng.
4 April 2016
COMMODITIES
DUAL LISTING
Description Price (USD) Change Description Price (USD) Price (IDR) Change
(IDR)
Crude Oil (US$)/Barrel 36.35 -0.44 TLKM (US) 51 16,801 89
Natural Gas (US$)/mmBtu 1.99 0.03 ANTM (GR) 0.02 315 0
Gold (US$)/Ounce 1219.69 -2.82
Nickel (US$)/MT 8320.00 -170.00
Tin (US$)/MT 16700.00 0.00
Coal (NEWC) (US$)/MT* 50.50 -11.90
Coal (RB) (US$)/MT* 52.60 -10.76
CPO (ROTH) (US$)/MT 732.50 12.50
CPO (MYR)/MT 2676.00 6.00
Rubber (MYR/Kg) 668.00 3.50
Pulp (BHKP) (US$)/per ton 736.79 -0.28
*weekly
GLOBAL INDICES VALUATION
Change PER (X) PBV (X)
Country Indices Price
%Day %YTD 2015E 2016F 2015E 2016F
Market Cap (USD
Bn)
USA DOW JONES INDUS. 17792.75 0.61 2.11 16.36 14.59 3.05 2.92 5,363.4
USA NASDAQ COMPOSITE 4914.54 0.92 -1.85 20.85 17.66 3.37 3.07 7,712.7
ENGLAND FTSE 100 INDEX 6146.05 -0.47 -1.54 16.38 13.83 1.71 1.65 1,513.4
CHINA SHANGHAI SE A SH 3149.47 0.19 -14.98 13.03 11.57 1.41 1.29 3,908.2
CHINA SHENZHEN SE A SH 1988.84 -0.56 -17.66 26.22 21.12 3.17 2.81 3,073.0
HONG KONG HANG SENG INDEX 20498.92 -1.34 -6.46 10.83 9.82 1.03 0.97 1,671.3
INDONESIA JAKARTA COMPOSITE 4843.19 -0.05 5.45 16.80 14.60 2.50 2.27 390.8
JAPAN NIKKEI 225 16164.16 -3.55 -15.08 14.88 13.75 1.32 1.24 2,590.3
MALAYSIA KLCI 1710.55 -0.41 1.07 16.40 15.20 1.73 1.64 260.2
SINGAPORE STRAITS TIMES INDEX 2818.49 -0.79 -2.23 12.74 12.06 1.08 1.03 290.8
FOREIGN EXCHANGE
FOREIGN EXCHANGE
Description Rate (IDR) Change Description Rate (USD) Change
USD/IDR 13,167.00 -72.00 1000 IDR/ USD 0.08 0.0004
EUR/IDR 14,996.29 -15.43 EUR / USD 1.14 -0.0002
JPY/IDR 117.83 0.65 JPY / USD 0.01 0.0000
SGD/IDR 9,761.72 -2.57 SGD / USD 0.74 0.0011
AUD/IDR 10,094.02 -17.34 AUD / USD 0.77 -0.0011
GBP/IDR 18,728.08 -135.59 GBP / USD 1.42 -0.0004
CNY/IDR 2,031.38 2.27 CNY / USD 0.15 -0.0007
MYR/IDR 3,384.40 -10.65 MYR / USD 0.26 0.0006
KRW/IDR 11.41 -0.17 100 KRW / USD 0.09 -0.0008
CENTRAL BANK RATE
INTERBANK LENDING RATE
Description Country Rate (%) Description Country Rate (%)
FED Rate (%) US 0.50 JIBOR (IDR) Indonesia 6.06
BI Rate (%) Indonesia 6.75 LIBOR (GBP) England 0.51
ECB Rate (%) Euro 0.00 SIBOR (USD) Singapore 0.17
BOJ Rate (%) Japan 0.10 D TIBOR (YEN) Japan 0.07
BOE Rate (%) England 0.50 Z TIBOR (YEN) Japan 0.07
PBOC Rate (%) China 4.35 SHIBOR (RENMINBI) China 2.82
INDONESIAN ECONOMIC INDICATORS
SBI
Description March-16 February-16 Description Rate (%)
Inflation YTD % 0.62 0.42 SBI (9M) 7.10
Inflation YOY % 4.45 4.42 SBIS (9M) 7.10
Inflation MOM % 0.19 -0.09 SBI (12M) 7.15
Foreign Reserve (USD) 104.54 Bn 102.13 Bn SBIS (12M) 7.15
4 April 2016
BUSINESS & ECONOMIC CALENDAR
Date Agenda Expectation
04 Apr US Factory Orders Turun menjadi -1.7% dari 1.6%
04 Apr US Durable Goods Orders --
05 Apr Indonesia Consumer Confidence Index Tetap 110.0
05 Apr US Trade Balance Defisit naik menjadi $46.30Bn dari $45.68Bn
07 Apr US Initial Jobless Claims --
07 Apr US Continuing Claims --
08 Apr US Consumer Credit Naik menjadi $15.00 Bn dari $10.53 Bn
08 Apr US Wholesale Inventories MoM Turun menjadi 0.2% dari 0.3%
Ket: (*) US Time (^) Tentative
LEADING MOVERS
LAGGING MOVERS
Stock Price Change (%) Index pt Stock Price Change (%) Index pt
ASII IJ 7325 1.03 2.87 BBRI IJ 11100 -2.84 -7.50 HMSP IJ 99000 0.61 2.64 BMRI IJ 10100 -1.94 -4.36 TLKM IJ 3350 0.75 2.38 BBNI IJ 5100 -1.92 -1.74 UNVR IJ 43175 0.58 1.80 CPIN IJ 3505 -2.37 -1.32 SCMA IJ 3245 3.34 1.45 IIKP IJ 3370 -9.53 -1.13 PGAS IJ 2660 1.72 1.03 TOWR IJ 4295 -2.39 -1.01 PNBN IJ 745 6.43 1.01 BJBR IJ 900 -6.74 -0.59 JSMR IJ 5525 2.31 0.80 BSIM IJ 447 -8.78 -0.57 ICBP IJ 15325 0.82 0.69 SMAR IJ 3100 -6.06 -0.54 MIKA IJ 2475 2.06 0.69 LPPF IJ 18175 -0.95 -0.48
UPCOMING IPO'S
Company Business IPO Price
(IDR)
Issued
Shares (Mn) Offering Date Listing Underwriter
PT Bank Ganesha Banking &
Finance
102-105 6100.00 TBA TBA Indo Premier Securities
PT Buyung Poetra Sembada
4 April 2016
4 April 2016
DIVIDEND
Stock DPS (IDR) Status CUM Date EX Date Recording Payment
LPKR 3.50 Cash Dividend 01 Apr-16 04 Apr-16 06 Apr-16 27 Apr-16
ITMG TBA Cash Dividend 04 Apr-16 05 Apr-16 07 Apr-16 21 Apr-16
WSKT 15.43 Cash Dividend 05 Apr-16 06 Apr-16 08 Apr-16 29 Apr-16
MERK 100.00 Cash Dividend 05 Apr-16 06 Apr-16 08 Apr-16 27 Apr-16
JSMR 43.12 Cash Dividend 06 Apr-16 07 Apr-16 11 Apr-16 29 Apr-16
WTON 6.26 Cash Dividend 06 Apr-16 07 Apr-16 11 Apr-16 29 Apr-16
MFMI 2.20 Cash Dividend 06 Apr-16 07 Apr-16 11 Apr-16 29 Apr-16
ABDA 130.00 Cash Dividend 06 Apr-16 07 Apr-16 11 Apr-16 29 Apr-16
CORPORATE ACTIONS
Stock Action Ratio EXC. Price (IDR) CUM Date EX Date Trading Period
ALKA Stock Split 1:5 -- -- TBA TBA
BEKS Rights Issue 1000:256 200-225 TBA TBA TBA
RIMO Rights Issue 2:167 265.00 04 Apr’16 05 Apr’16 11 Apr – 09 May’16
SIPD Rights Issue 108:46 1000.00 04 Apr’16 05 Apr’16 11 Apr – 15 Apr’16
MCOR Rights Issue 100:154 100.00 07 Apr’16 08 Apr’16 14 Apr – 27 Apr’16
BSIM Rights Issue TBA TBA 04 May’16 09 May’16 13 May – 26 May’16
BNLI Rights Issue TBA TBA 15 May’16
16 May’16
24 May – 30 May’16
ACST Rights Issue TBA TBA TBA TBA 15 May – 21 May’16
BINA Rights Issue TBA TBA 10 July’16 11 July’16 15 Jul – 21 Jul’16
GENERAL MEETING
Emiten AGM/EGM Date Agenda
KRAS RUPST
04-Apr-16
JPFA RUPST/LB
04-Apr-16
SOBI RUPSLB
04-Apr-16
IGAR RUPST
05-Apr-16
KAEF RUPST
06-Apr-16
INAF RUPST
06-Apr-16
BBCA RUPST
07-Apr-16
PLIN RUPST
07-Apr-16
NISP RUPST
07-Apr-16
TINS RUPST
07-Apr-16
PGAS RUPST
08-Apr-16
AALI RUPST/LB 11-Apr-16
BBTN RUPST 12-Apr-16
MPPA RUPST 13-Apr-16
BKSW RUPSLB 13-Apr-16
PTBA RUPST
14-Apr-16
TGKA RUPST
14-Apr-16
4 April 2016
4 April 2016
WIKA
TRADING BUY
S1 2605 R1 2670 Trend Grafik Major Down Minor Up
S2 2540 R2 2735
Closing
Price 2640
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi positif • Stochastics fast line & slow indikasi positif • Candle chart indikasi sinyal positif • RSI berada dalam area oversold • Harga berada dalam area netral
Prediksi • Trading range Rp 2605-Rp 2670
• Entry Rp 2640, take Profit Rp 2670
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 35.55 Positif
MACD 10.07 Positif
True Strength Index (TSI) -7.43 Positif
Bollinger Band (Mid) 2591 Positif
MA5 2604 Positif 2,400 2,500 2,600 2,700 2,800 2,900 3,000 3,100
September October November December 2016 February March April WIKA Downward Sloping Channel
2,620 2,604 2,591 2,580 2,478.08 2,384.59 2,384.59 2,640 2,640 2,640 2,717.73 2,717.73 2,730 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 WIKA - Stochastic %D(6,3,3) = 18.64, Stochastic %K = 36.31, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
20 18.6368 18.6368 36.3072 36.3072 80 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 0.0 WIKA - MACD (5,3) = -3.38, Signal() = 1.42
-3.3778 1.41756 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 WIKA - TSI(3,5,3) = -7.43, Volume() = 8,947,500.00
-7.42596 -18.0334 0.00000
8,947,500 WIKA - William's % R(14) = -47.37, Volume() = 8,947,500.00 -47.3684
8,947,500
Created with AmiBroker advanced charting and technical analysis software http://www amibroker com
SMRA
TRADING BUY
S1 1590 R1 1650 Trend Grafik Major Up Minor Down
S2 1545 R2 1695
Closing
Price 1620
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi negatif • Stochastics fast line & slow indikasi positif • Candle chart indikasi potensi rebound • RSI berada dalam area oversold • Harga berada dalam area lower band
Prediksi • Trading range Rp 1590-Rp 1650
• Entry Rp 1620, take Profit Rp 1650
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 48.97 Positif
MACD -10.19 Negatif
True Strength Index (TSI) -48.69 Positif
Bollinger Band (Mid) 1652 Negatif
MA5 1640 Negatif 1,000 1,100 1,200 1,300 1,400 1,500 1,600 1,700 1,800
September October November December 2016 February March April SMRA Upward Sloping Channel
1,652.25 1,640 1,620 1,620 1,620 1,575 1,530.11 1,674.38 1,760 1,779.57 1,779.57 , 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 SMRA - Stochastic %D(6,3,3) = 20.79, Stochastic %K = 17.13, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
20 17.1258 17.1258 20.7947 20.7947 80 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 0.0 SMRA - MACD (5,3) = 15.53, Signal() = 15.89
15.5252 15.8852 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 SMRA - TSI(3,5,3) = -48.69, Volume() = 23,623,000.00
-36.3146
-48.6895 0.00000
23,623,00
SMRA - William's % R(14) = -70.00, Volume() = 23,623,000.00 -70 23,623,00
4 April 2016
4 April 2016
PWON
TRADING BUY
S1 483 R1 505 Trend Grafik Major Up Minor Up
S2 468 R2 520
Closing
Price 492
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi negatif • Stochastics fast line & slow indikasi positif • Candle chart indikasi potensi rebound • RSI berada dalam area oversold • Harga berada dalam area lower band
Prediksi • Trading range Rp 483-Rp 505
• Entry Rp 492, take Profit Rp 505
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 34.25 Positif
MACD -3.11 Negatif
True Strength Index (TSI) -52.83 Positif
Bollinger Band (Mid) 503 Negatif
MA5 497.2 Negatif 350.0 400.0 450.0 500.0 550.0
September October November December 2016 February March April PWON Upward Sloping Channel
492 492 492 475.682 475.682 461.97 456 497.2 503.2 504.5 540 558.9 558.9 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 PWON - Stochastic %D(6,3,3) = 8.91, Stochastic %K = 13.64, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
13.6364 8.91053 8.91053 13.6364 20 80 -8.0 -4.0 0.0 4.0 8.0 0.0 PWON - MACD (5,3) = 4.05, Signal() = 4.21
4.05429 4.20986 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 PWON - TSI(3,5,3) = -52.83, Volume() = 49,936,900.00
-46.4199
-52.8308 0.00000
49,936,90 PWON - William's % R(14) = -81.36, Volume() = 49,936,900.00 -81.3559
49,936,90
Created with AmiBroker advanced charting and technical analysis software http://www amibroker com
LPKR
TRADING BUY
S1 1020 R1 1070 Trend Grafik Major Up Minor Down
S2 990 R2 1100
Closing
Price 1035
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi negatif • Stochastics fast line & slow indikasi positif • Candle chart indikasi sinyal positif • RSI berada dalam area oversold • Harga berada dalam area lower band
Prediksi • Trading range Rp 1020-Rp 1070
• Entry Rp 1035, take Profit Rp 1070
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 41.02 Positif
MACD -11.43 Negatif
True Strength Index (TSI) -65.97 Positif
Bollinger Band (Mid) 1097 Negatif
MA5 1074 Negatif 900.0 960.0 1,020.0 1,080.0 1,140.0 1,200.0 1,260.0 1,320.0 1,380.0
September October November December 2016 February March April LPKR Upward Sloping Channel
Bearish Breakout 1,041 1,041 1,040 1,035 1,035 1,035 1,012.25 1,074 1,096.5 1,106.25 1,180 1,196 1,196 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 LPKR - Stochastic %D(6,3,3) = 11.36, Stochastic %K = 6.46, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
11.3632 6.45833 6.45833 11.3632 20 80 -20.0 -10.0 0.0 10.0 20.0 30.0 0.0 LPKR - MACD (5,3) = 17.41, Signal() = 15.45 15.4463 17.4103 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 LPKR - TSI(3,5,3) = -65.97, Volume() = 52,597,100.00 -47.3728 -65.969 0.00000 52,597,10 LPKR - William's % R(14) = -90.63, Volume() = 52,597,100.00 -90.625 52,597,10
4 April 2016
4 April 2016
CSAP
TRADING BUY
S1 410 R1 440 Trend Grafik Major Up Minor Up
S2 395 R2 455
Closing
Price 425
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi positif • Stochastics fast line & slow indikasi positif • Candle chart indikasi sinyal positif • RSI berada dalam area netral • Harga berada dalam area netral
Prediksi • Trading range Rp 410-Rp 440
• Entry Rp 425, take Profit Rp 440
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 18.69 Positif
MACD 0.21 Positif
True Strength Index (TSI) 2.31 Positif
Bollinger Band (Mid) 418 Positif
MA5 417 Positif 320.0 340.0 360.0 380.0 400.0 420.0 440.0
September October November December 2016 February March April CSAP Upward Sloping Channel
425 425 417.95 417 417 411 407.484 425 436.44 436.44 443 451.5 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 CSAP - Stochastic %D(6,3,3) = 30.06, Stochastic %K = 50.95, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
30.0568 30.0568 20 50.9524 50.9524 80 -6.0 -4.0 -2.0 0.0 2.0 4.0 0.0 CSAP - MACD (5,3) = -1.11, Signal() = -0.12
-1.11248 -0.115608 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 CSAP - TSI(3,5,3) = 2.31, Volume() = 12,291,400.00
0.00000 -7.82631 2.30547
12,291,40 CSAP - William's % R(14) = -56.25, Volume() = 12,291,400.00 -56.25
12,291,40
Created with AmiBroker advanced charting and technical analysis software http://www amibroker com
KAEF
TRADING BUY
S1 1275 R1 1325 Trend Grafik Major Up Minor Up
S2 1250 R2 1350
Closing
Price 1300
Ulasan
• MACD line dan signal line indikasi positif • Stochastics fast line & slow indikasi positif • Candle chart indikasi sinyal positif • RSI berada dalam area netral • Harga berada dalam area netral
Prediksi • Trading range Rp 1275-Rp 1325
• Entry Rp 1300, take Profit Rp 1325
Indikator Posisi Sinyal
Stochastics 53.51 Positif
MACD 3.60 Positif
True Strength Index (TSI) 6.51 Positif
Bollinger Band (Mid) 1268 Positif
MA5 1278 Positif 320.0 340.0 360.0 380.0 400.0 420.0 440.0
September October November December 2016 February March April CSAP Upward Sloping Channel
425 425 417.95 417 417 411 407.484 425 436.44 436.44 443 451.5 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 CSAP - Stochastic %D(6,3,3) = 30.06, Stochastic %K = 50.95, Overbought Level = 80.00, Oversold Level = 20.00
30.0568 30.0568 20 50.9524 50.9524 80 -6.0 -4.0 -2.0 0.0 2.0 4.0 0.0 CSAP - MACD (5,3) = -1.11, Signal() = -0.12
-1.11248 -0.115608 -80.0 -60.0 -40.0 -20.0 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 CSAP - TSI(3,5,3) = 2.31, Volume() = 12,291,400.00
0.00000 -7.82631 2.30547
12,291,40 CSAP - William's % R(14) = -56.25, Volume() = 12,291,400.00 -56.25
12,291,40
4 April 2016
4 April 2016
THESE RECOMMENDATIONS ARE BASED ON TECHNICAL AND ONLY INTENDED FOR ONE DAY TRADING
Price Support Resistance Indicators 1 Month
Ticker Rec
01-04-16 Entry Exit S2 S1 R1 R2 MACD Stoc* MA5* High Low
Agriculture
AALI Trading Buy 18150 18150 18375 17175 17775 18375 18975 Positif Positif Positif 19550 14000
LSIP Trading Sell 1800 1800 1825 1745 1785 1825 1865 Positif Positif Positif 1830 1335
SGRO Trading Buy 1975 1975 2010 1935 1960 1985 2010 Positif Positif Positif 1980 1715
Mining
PTBA Trading Sell 6200 6200 6150 6000 6150 6300 6450 Negatif Negatif Negatif 7225 4355
ADRO Trading Buy 665 665 690 630 650 670 690 Positif Positif Positif 800 570
MEDC Trading Buy 1435 1435 1510 1250 1380 1510 1640 Positif Negatif Positif 1575 740
INCO Trading Sell 1735 1735 1720 1685 1720 1755 1790 Negatif Negatif Negatif 2045 1420
ANTM Trading Sell 461 461 452 452 458 464 470 Negatif Negatif Negatif 481 356
TINS Trading Sell 730 730 725 710 725 740 755 Negatif Negatif Negatif 810 555
Basic Industry and Chemicals
WTON Trading Buy 1010 1010 1030 985 1000 1015 1030 Positif Positif Positif 1040 930
SMGR Trading Sell 10200 10200 10000 10000 10125 10250 10375 Negatif Positif Negatif 10750 9925
INTP Trading Sell 19750 19750 19625 19325 19625 19925 20225 Positif Negatif Positif 20850 18750
SMCB Trading Buy 1075 1075 1095 1015 1055 1095 1135 Negatif Positif Positif 1145 910
Miscellaneous Industry
ASII Trading Buy 7325 7325 7550 7100 7250 7400 7550 Positif Positif Positif 7525 6225
GJTL Trading Buy 795 795 825 675 750 825 900 Positif Positif Positif 760 480
Consumer Goods Industry
INDF Trading Buy 7225 7225 7400 7025 7150 7275 7400 Positif Positif Positif 7575 6500
GGRM Trading Sell 65200 65200 64550 63350 64550 65750 66950 Positif Positif Positif 67375 58750
UNVR Trading Sell 43175 43175 42875 42400 42875 43350 43825 Positif Positif Positif 47800 40750
KLBF Trading Sell 1450 1450 1475 1365 1420 1475 1530 Positif Negatif Positif 1465 1250
Property, Real Estate and Building Construction
BSDE Trading Sell 1815 1815 1795 1745 1795 1845 1895 Negatif Negatif Negatif 1940 1655
PTPP Trading Buy 3850 3850 3895 3705 3800 3895 3990 Negatif Positif Negatif 3985 3645
WIKA Trading Buy 2640 2640 2670 2540 2605 2670 2735 Positif Positif Positif 2750 2425
ADHI Trading Sell 2680 2680 2655 2595 2655 2715 2775 Negatif Negatif Negatif 2840 2475
WSKT Trading Buy 2035 2035 2060 1940 2000 2060 2120 Positif Positif Positif 2045 1855
Infrastructure, Utilities and Transportation
PGAS Trading Buy 2660 2660 2685 2535 2610 2685 2760 Positif Positif Positif 2760 2475
JSMR Trading Buy 5525 5525 5575 5325 5450 5575 5700 Negatif Positif Negatif 5700 5200
ISAT Trading Sell 6125 6125 6000 6000 6100 6200 6300 Negatif Negatif Negatif 6450 4700
TLKM Trading Buy 3350 3350 3365 3275 3320 3365 3410 Positif Positif Positif 3500 3140
Finance
BMRI Trading Buy 10100 10100 10275 9575 9925 10275 10625 Negatif Negatif Negatif 10375 9175
BBRI Trading Buy 11100 11100 11275 10675 10975 11275 11575 Positif Negatif Negatif 12050 10425
BBNI Trading Sell 5100 5100 4950 4950 5050 5150 5250 Negatif Negatif Negatif 5675 4880
BBCA Trading Sell 13300 13300 13100 13100 13225 13350 13475 Positif Positif Positif 13925 12875
BBTN Trading Sell 1730 1730 1710 1670 1710 1750 1790 Negatif Negatif Negatif 1865 1430
Trade, Services and Investment
UNTR Trading Sell 15300 15300 15100 15100 15225 15350 15475 Positif Negatif Positif 16350 14475