• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 1 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

P U T U S A N No. 15 K/Pid/2016

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara pidana dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara Terdakwa :

Nama : RIANTI BORU NADEAK ;

Tempat lahir : Tebing Tinggi ;

Umur / tanggal lahir : 44 tahun/11 Desember 1970 ; Jenis kelamin : Perempuan ;

Kebangsaan : Indonesia ;

Tempat tinggal : Dusun CIII A, Desa Pir ADB Besitang, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat ;

Agama : Kristen ;

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga ; Terdakwa berada di luar tahanan ;

yang diajukan di muka persidangan Pengadilan Negeri Stabat karena didakwa : Bahwa Terdakwa RIANTI BR NADEAK pada hari Rabu tanggal 19 November 2014 sekitar pukul 15.30 WIB atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam bulan November 2014 bertempat di perladangan yang terletak di Dusun CIII A Desa PIR ADB Besitang, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, atau setidak-tidaknya di suatu tempat lain yang masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Stabat, dengan sengaja melakukan penganiayaan, dimana perbuatan tersebut dilakukan Terdakwa dengan cara antara lain sebagai berikut:

Bahwa pada waktu dan tempat tersebut di atas, ketika saksi korban Muhammad Tison Ginting pergi ke ladang di Dusun CIII A Desa PIR ADB Besitang, Kecamatan Besitang, sesampainya di ladang saksi korban Muhammad Tison Ginting melihat Terdakwa RIANTI BR NADEAK sedang memotong tanaman Cempokak milik saksi korban Muhammad Tison Ginting, oleh karena saksi korban Muhammad Tison Ginting menegur RIANTI Br. NADEAK mengapa memotong tanaman cempokak tersebut ? namun tiba-tiba Terdakwa RIANTI BR NADEAK langsung mengatakan kepada saksi korban Muhammad Tison Ginting "babi kau" sambil mengayunkan sebilah parang yang dipegang tangan kanannya ke arah saksi korban Muhammad Tison Ginting dan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 2 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

mengenai lengan kiri atas saksi korban Muhammad Tison Ginting sehingga lengan saksi korban Muhammad Tison Ginting terluka dan mengeluarkan darah, selanjutnya Terdakwa RIANTI BR NADEAK langsung pergi meninggalkan saksi korban Muhammad Tison Ginting. Akibat perbuatan Terdakwa, korban Muhammad Tison Ginting mengalami luka di bagian lengan atas sebelah kiri dengan kesimpulan luka yang dialami saksi korban disebabkan oleh ruda paksa benda padat dan keras. Sesuai visum Et Repertum Nomor : 3430/PKM-BST/XII/2014 tanggal 19 November 2014 dokter pemeriksa dr. Beby Yanti dari Puskesmas Besitang ;

Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (1) KUHP ;

Mahkamah Agung tersebut ;

Membaca tuntutan pidana Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Stabat tanggal 06 Juni 2015 sebagai berikut :

1. Menyatakan Terdakwa RIANTI Br. NADEAK terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana “Penganiayaan” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (1) KUHPidana tentang Penganiayaan sebagaimana dalam dakwaan ;

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa RIANI Br NADEAK dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan sementara dan dengan perintah Terdakwa tetap ditahan;

3. Menetapkan agar Terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp2.000,00 (dua ribu rupiah) ;

Membaca putusan Pengadilan Negeri Stabat No. 217/Pid.B/2015/PN-Stb. tanggal 08 Juli 2015 yang amar lengkapnya sebagai berikut :

1. Menyatakan Terdakwa RIANTI BORU NADEAK tersebut di atas terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “penganiayaan”;

2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 (dua) bulan;

3. Menetapkan masa penahanan rumah yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan;

5. Membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sejumlah Rp2.000,00 (dua ribu rupiah);

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 3 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

Membaca putusan Pengadilan Tinggi Medan No. 490/PID/2015/PT-MDN tanggal 21 September 2015 yang amar lengkapnya sebagai berikut :

- Menerima permintaan Banding dari Jaksa Penuntut Umum dan Penasihat Hukum Terdakwa;

- Memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Stabat tanggal 08 Juli 2015 No. 217/Pid.B/2015/PN-Stb, yang dimintakan banding tersebut sekedar mengenai pidana yang dijatuhkan sehingga berbunyi sebagaimana amar putusan di bawah ini;

- Menyatakan Terdakwa RIANTI BORU NADEAK tersebut di atas terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “penganiayaan”;

- Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 3 (tiga) bulan;

- Menetapkan masa penahanan rumah yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

‐ Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara di kedua tingkat peradilan yang dalam Tingkat Banding sebesar Rp2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah) ;

Mengingat akan akta tentang permohonan kasasi No. 13/AKTA.PID/KS/ 2015/PN.STB. yang dibuat oleh Wakil Panitera pada Pengadilan Negeri Stabat yang menerangkan, bahwa pada tanggal 03 November 2015 Terdakwa mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Tinggi Medan tersebut ;

Memperhatikan pula memori kasasi tanggal 16 November 2015 dari Penasihat Hukum Terdakwa yang diajukan untuk dan atas nama Terdakwa sebagai Pemohon Kasasi tersebut berdasarkan surat kuasa khusus bertanggal 24 Oktober 2015, memori kasasi mana telah diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Stabat pada tanggal 17 November 2015 ;

Membaca surat-surat yang bersangkutan ;

Menimbang, bahwa putusan Pengadilan Tinggi Medan tersebut telah diberitahukan kepada Terdakwa pada tanggal 21 Oktober 2015 dan Terdakwa mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 03 November 2015 serta memori kasasinya telah diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Stabat pada tanggal 17 November 2015 dengan demikian permohonan kasasi beserta dengan alasan-alasannya telah diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara menurut undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi tersebut formal dapat diterima ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 4 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi /Terdakwa pada pokoknya sebagai berikut :

Bahwa Judex Facti dalam perkara a quo ini tidak menerapkan hukum sebagaimana mestinya ;

Bahwa Pengadilan Tinggi Medan dalam putusan hukumnya pada halaman 4 dan 5 telah memberikan pertimbangan hukum, sebagai berikut "Menimbang, bahwa setelah Pengadilan Tinggi membaca dan mempelajari berkas perkara yang terdiri dari salinan resmi putusan Pengadilan Negeri Stabat Nomor : 217/Pid.B/2015/PN.Stb, tanggal 08 Juli 2015, Berita Acara Persidangan dan membaca keterangan saksi-saksi juga keterangan Terdakwa, maka Pengadilan Tinggi pada dasarnya sependapat dengan fakta-fakta yang dinilai Hakim Tingkat Pertama yang berkesimpulan bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana "Penganiayaan" oleh karena pertimbangan hukum Hakim Tingkat Pertama tersebut dinilai telah tepat dan benar maka diambil alih sebagai pertimbangan Pengadilan Tinggi dalam memeriksa dan memutus perkara ini di Tingkat Banding, kecuali penjatuhan pidananya" ;

Bahwa Pengadilan Negeri Stabat dalam putusan hukumnya pada halaman 15 telah memberikan pertimbangan hukum yang selanjutnya telah diambil alih oleh Pengadilan Tinggi dengan amar pertimbangan hukumnya, sebagai berikut ;

"Bahwa benar setelah Terdakwa mengayunkan parang tersebut ke arah saksi korban, menyebabkan saksi korban merasakan sakit dan luka gores pada lengan atas sebelah kiri saksi korban sesuai dengan Visum Et Repertum, Nomor : 3430/PKM-BST/XII/2014 tanggal 18 Desember 2014 yang dibuat dan ditandatangani oleh dr. Deby Yanti dokter pada Puskesmas Besitang dengan kesimpulan luka yang dialami korban disebabkan oleh ruda paksa benda padat dan keras";

"Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, Majelis Hakim berkesimpulan bahwa unsur kedua "Melakukan penganiayaan" telah terpenuhi ada dalam perbuatan Terdakwa" ;

Bahwa apabila diteliti secara seksama amar pertimbangan hukum Judex Factitersebut di atas dan jika dihubungkan dengan fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan bahwa berdasarkan keterangan saksi korban Muhammad Tison Ginting yang diperkuat dengan keterangan saksi Ahmad Umar Yanto dan saksi Nirwan Singarimbun di bawah sumpah pada pokoknya menerangkan bahwa pada hari Rabu, tanggal 19 November 2014,

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 5 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

sekira pukul 15.30 WIB bertempat di Dusun CIII A Desa PIR ADB Besitang, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat Pemohon Kasasi dengan menggunakan sebilah parang dengan sengaja telah membacok saksi Muhammad Tison Ginting yang mengenai dan mengakibatkan luka di bagian lengan atas sebelah kiri dari saksi Muhammad Tison Ginting, akan tetapi ternyata berdasarkan hasil VER, bertanggal 18 Desember 2014 diperoleh kesimpulan bahwa luka yang dialami saksi Muhammad Tison Ginting disebabkan oleh ruda paksa benda padat dan keras dan bukan disebabkan oleh benda tajam dan di samping itu juga VER tentang luka yang dialami saksi Muhammad Tison Ginting tidak menguraikan secara tegas tentang jenis dan sifat luka serta ukuran lukanya dan disamping itu juga VER dilakukan setelah 1 (satu) bulan lamanya dari terjadinya peristiwa pidana, sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa luka yang terdapat di bagian lengan atas sebelah kiri saksi Muhammad Tison Ginting bukanlah diakibatkan oleh benda tajam atau bacokan parang yang dilakukan oleh Pemohon Kasasi ;

Bahwa selain dari pada itu, Jaksa Penuntut Umum dalam Nota Tuntutan Pidananya menyatakan Pemohon Kasasi telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana "Penganiayaan" sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (1) KUHPidana dalam Dakwaan Tunggal, dengan unsur-unsur sebagai berikut ;

1. Barang siapa ;

2. Dengan sengaja melakukan penganiayaan ;

Bahwa KUHPidana tidak menerangkan mengenai arti atau definisi tentang kesengajaan atau dolus intent opzet secara definitif. Akan tetapi Memorie van Toelichting (Memori Penjelasan) mengartikan tentang kesengajaan sebagai menghendaki dan mengetahui. Kesengajaan harus memiliki ketiga unsur dari tindak pidana, yaitu perbuatan yang dilarang, akibat yang menjadi pokok alasan larangan itu dan perbuatan itu harus melanggar hukum. Dalam Crimineel Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Tahun 1809 dijelaskan pengertian, "Kesengajaan adalah kemauan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang atau diperintahkan oleh undang-undang" ;

Bahwa dengan demikian, seseorang yang berbuat dengan sengaja itu, harus menghendaki perbuatan tersebut dan harus mengetahui pula akibat atas apa yang diperbuat dan tidak termasuk perbuatan dengan sengaja adalah suatu gerakan yang ditimbulkan oleh refleks, gerakan tangkisan yang tidak dikendalikan oleh kesadaran ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 6 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

Bahwa Menurut Prof. Sathochid Kartanegara, yang dimaksud dengan opzet willens en weten (dikehendaki dan diketahui) adalah "Seseorang yang melakukan suatu perbuatan dengan sengaja harus menghendaki (willen) perbuatan itu serta harus menginsafi atau mengerti (weten), akan akibat dari perbuatan itu", "Kehendak" dapat ditujukan terhadap:

a. Perbuatan yang dilarang b. Akibat yang dilarang

Bahwa Kesengajaan dalam hukum pidana adalah merupakan bagian dari kesalahan. Kesengajaan pelaku mempunyai hubungan kejiwaan yang lebih erat terhadap suatu perbuatan dibanding dengan kealpaan (culpa). Karenanya ancaman pidana pada suatu delik jauh lebih berat, apabila adanya kesengajaan dari pada dengan kealpaan. Bahkan ada beberapa perbuatan tertentu, jika dilakukan dengan kealpaan, tidak merupakan tindak pidana dan jika dilakukan dengan sengaja, ia merupakan suatu kejahatan seperti misalnya penggelapan (Pasal 372 KUHP) dan pengrusakan (Pasal 406 KUHP) dan lain sebagainya ; Bahwa M.v.T. (Memorie van Toelichting) menguraikan tentang pengertian kesengajaan, yaitu ; "Pidana pada umumnya hendaknya dijatuhkan hanya pada barang siapa melakukan perbuatan yang dilarang, dengan dikehendaki dan diketahui". Dalam pengertian ini disebutkan bahwa kesengajaan diartikan sebagai : "menghendaki dan mengetahui" (willens en wetens). Artinya, seseorang yang melakukan suatu tindakan dengan sengaja, harus menghendaki serta menginsafi tindakan tersebut dan atau akibatnya. Jadi dapatlah dikatakan, bahwa sengaja berarti menghendaki dan mengetahui apa yang dilakukan. Orang yang melakukan perbuatan dengan sengaja menghendaki perbuatan itu dan mengetahui atau menyadari pula tentang apa yang dilakukan itu serta akibat yang akan ditimbulkannya ;

Bahwa dalam perkara a quo, berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan bahwa benar pada hari Rabu, tanggal 19 November 2014 sekira pukul 15.00 WIB di Dusun C III A, Desa PIR ADB Besitang, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat ketika Pemohon Kasasi pergi ke kebun untuk membersihkan rumput dan ketika sampai di kebun Pemohon Kasasi melihat tanaman cempokak (rimbang) orang lain berada di areal tanah milik Pemohon Kasasi, kemudian dengan menggunakan sebilah parang pendek yang tajam lalu Pemohon Kasasi menebangi pohon cempokak (rimbang) tersebut sebanyak lebih dari 2 (dua) batang, namun tiba-tiba datang saksi Muhammad Tison Ginting yang bertubuh jauh lebih besar dari Pemohon Kasasi dengan memegang sebilah parang di tangan kanannya mendatangi Pemohon

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 7 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

Kasasi sambil marah-marah dan berkata "kenapa kau tebangi tanaman cempokakku, kau ganti tu" lalu Pemohon Kasasi menjawab "kenapa ditanam di atas tanahku", kemudian saat itu terjadi pertengkaran dan saksi Muhammad Tison Ginting dengan kedua tangannya mendorong bahu kanan Pemohon Kasasi dan pada saat saksi Muhammad Tison Ginting juga dengan kaki kanannya menendang ke arah tubuh Pemohon Kasasi pada saat itulah Pemohon Kasasi secara spontan dengan kedua tangannya dan dengan tangan kanannya yang memegang sebilah parang berusaha menangkis atau menghalangi tendangan saksi Muhammad Tison Ginting dan Pemohon Kasasi tidak mengetahui apakah pada saat menangkis serangan tersebut parang yang dipegang oleh Pemohon Kasasi mengenai lengan atas sebelah kiri saksi Muhammad Tison Ginting ;

Bahwa dari fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan tersebut di atas, jika ternyata benar saksi Muhammad Tison Ginting mengalami luka pada bagian lengan atas sebelah kiri akibat terkena parang yang dipegang oleh Terdakwa, jelaslah bahwa perbuatan tersebut terjadi secara refleks dan di luar kesengajaan serta kesadaran Terdakwa, sehingga oleh karenanya unsur dengan sengaja tidak terbukti menurut hukum ;

Bahwa selain dari unsur "sengaja" yang terdapat dalam Pasal 351 ayat (1) KUHPidana sebagaimana yang didakwakan dalam Dakwaan Tunggal oleh Jaksa Penuntut Umum, unsur "melakukan penganiayaan" juga harus dibuktikan karena benarkah Pemohon Kasasi telah terbukti bersalah melakukan perbuatan penganiayaan terhadap saksi Muhammad Tison Ginting...?

Bahwa "Penganiayaan" adalah istilah yang digunakan KUHPidana untuk tindak pidana terhadap tubuh. Namun KUHP sendiri tidak memuat secara tegas arti penganiayaan tersebut. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia arti penganiayaan adalah: "perlakuan yang sewenang-wenang". Pengertian yang dimuat dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah pengertian dalam arti luas, yakni yang menyangkut termasuk "perasaan" atau "bathiniah", sedangkan yang dimaksud penganiayaan dalam hukum pidana adalah menyangkut tubuh manusia ;

Bahwa secara prinsip, kesengajaan dalam tindak pidana penganiayaan harus ditafsirkan sebagai kesengajaan sebagai maksud, namun dalam hal-hal tertentu kesengajaan dalam penganiayaan juga dapat ditafsirkan sebagai kesengajaan sebagai kemungkinan, namun demikian penganiayaan itu bisa ditafsirkan sebagai kesengajaan dalam sadar akan kemungkinan, tetapi penafsiran tersebut juga terbatas pada adanya kesengajaan sebagai

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 8 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

kemungkinan terhadap akibat. Artinya dimungkinkan penafsiran secara luas unsur kesengajaan itu yaitu kesengajaan sebagai maksud, kesengajaan sebagai kemungkinan bahkan kesengajaan sebagai kepastian, hanya dimungkinkan terhadap akibatnya dan perbuatan itu juga haruslah sengaja sebagai tujuan pelaku ;

Bahwa dalam KUHPidana tindak pidana penganiayaan dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu sebagai berikut :

- Penganiayaan biasa sebagaimana diatur dalam Pasal 351 KUHP ;

- Penganiayaan ringan sebagaimana diatur dalam Pasal 352 KUHP ;

- Penganiayaan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 353 KUHP ;

- Penganiayaan berat sebagaimana diatur dalam Pasal 354 KUHP ;

- Penganiayaan berat berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 355 KUHP ;

- Penganiayaan terhadap orang yang berkualitas tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 356 KUHP ;

Bahwa "Penganiayaan biasa" diatur dalam ketentuan Pasal 351 KUHPidana. Istilah lain yang sering digunakan untuk menyebut jenis tindak pidana ini adalah tindak pidana penganiayaan dalam bentuk pokok yang secara tegas merumuskan :

1. Penganiayaan dihukum dengan pidana penjara selama lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak banyaknya Rp4.500,00 ;

2. Jika perbuatan itu menjadikan luka berat sitersalah dihukum penjara selama lamanya lima tahun ;

3. Jika perbuatan itu menjadikan mati orangnya, dia dihukum penjara selama lamanya tujuh tahun ;

4. Dengan penganiayaan disamakan merusak kesehatan orang dengan sengaja ;

5. Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dapat dihukum ;

Bahwa berdasarkan rumusan ketentuan Pasal 351 KUHPidana di atas, terlihat bahwa rumusan tersebut tidak memberikan penjelasan secara tegas tentang perbuatan seperti apa yang dimaksud dengan penganiayaan. Ketentuan pasal 351 KUHPidana tersebut hanya merumuskan kualifikasinya saja dan pidana yang diancamkan ;

Bahwa rumusan awal Pasal 351 KUHPidana yang diajukan Menteri Kehakiman di atas sebenarnya telah cukup memberikan pengertian tentang apa yang dimaksud dengan penganiayaan oleh karena dalam rumusan tersebut sudah memuat unsur-unsur perbuatan maupun akibat dari perbuatan tersebut.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 9 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

Namun oleh karena sebagian parlemen menganggap istilah rasa sakit atau penderitaan tubuh memuat pengertian yang sangat bias atau kabur, maka parlemen mengajukan keberatan atas rumusan tersebut, sehingga perumusan Pasal 351 ayat (1) hanya menyebut kualifikasinya saja, yaitu penganiayaan didasarkan atas pertimbangan, bahwa semua orang dianggap sudah mengerti apa yang dimaksud dengan penganiayaan ;

Bahwa adapun unsur-unsur dari penganiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 351 ayat (1) KUHPidana adalah sama dengan unsur-unsur penganiayaan pada umumnya yaitu :

a. Unsur Kesengajaan ; b. Unsur Perbuatan ;

c. Unsur akibat perbuatan berupa rasa sakit, tidak enak pada tubuh, dan luka tubuh, namun dalam Pasal 351 ayat (1) KUHPidana tidak mempersyaratkan adanya perubahan rupa atau tubuh pada akibat yang ditimbulkan oleh tindak pidana penganiayaan tersebut ;

d. Akibat mana yang menjadi tujuan satu-satunya ;

Bahwa rumusan tentang penganiayaan ringan yang terdapat dalam Pasal 352 KUHPidana sebagai berikut :

1. Selain dari pada apa yang tersebut dalam Pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menjadikan sakit atau halangan untuk melakukan jabatan atau pekerjaan sebagai penganiayaan ringan, dihukum penjara selama lamanya tiga bulan atau denda sebanyak banyaknya Rp4.500,00 Hukuman ini boleh ditambah dengan sepertiganya, bila, kejahatan itu dilakukan terhadap orang yang bekerja padanya atau yang ada dibawah perintahnya ;

2. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dapat dihukum ;

Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 352 KUHPidana di atas dapat ditegaskan, bahwa yang dimaksud dengan penganiayaan ringan adalah penganiayaan yang tidak termasuk dalam :

1. Penganiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 354 KUHP

2. Penganiayaan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 355 KUHP ; 3. Penganiayaan terhadap orang yang mempunyai kualifikasi tertentu

sebagaimana diatur dalam Pasal 356 KUHP yaitu penganiayaan terhadap:

- Ibu atau bapaknya yang sah, istri atau anaknya ;

- Pegawai Negeri yang sedang atau karena menjalankan tugasnya yang sah;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 10 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

- Nyawa atau kesehatan, yaitu memasukkan bahan berbahaya bagi nyawa atau kesehatan atau dimakan atau diminum.

4. Penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian ;

Bahwa secara implisit ketentuan dalam Pasal 352 ayat (1) KUHP mengandung pemahaman, bahwa penganiayaan yang tidak menimbulkan halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian yang dilakukan terhadap orang-orang yang tidak mempunyai kualitas tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 356 bukanlah merupakan penganiayaan biasa dalam Pasal 351 ayat (1), tetapi termasuk penganiayaan ringan sebagaimana diatur dalam Pasal 352 ayat (1) KUHPidana ;

Bahwa dalam perkara a quo, berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan, baik dari keterangan saksi Muhammad Tison Ginting, saksi Ahmad Umar Yanto dan saksi Nirwan Singarimbun, bukti surat, keterangan Pemohon Kasasi serta bukti Petunjuk telah diperoleh kesimpulan bahwa benar pada hari Rabu, tanggal 19 November 2014 sekira pukul 15.30 WIB di Dusun C III A, Desa PIR ADB Besitang, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat ketika Pemohon Kasasi sedang berada di kebun untuk membersihkan rumput diketahui bahwa tanpa izin Pemohon Kasasi ternyata saksi Muhammad Tison Ginting telah menanam tanaman cempokak (rimbang) di atas tanah milik Pemohon Kasasi kemudian dengan menggunakan sebilah parang pendek yang tajam Pemohon Kasasi menebang pohon cempokak (rimbang) tersebut sebanyak lebih dari 2 (dua) batang, namun secara tiba-tiba datang saksi Muhammad Tison Ginting dengan memegang sebilah parang di tangan kanannya mendatangi Pemohon Kasasi sambil marah-marah dan berkata "kenapa kau tebangi tanaman cempokakku, kau ganti tu" lalu Pemohon Kasasi menjawab "kenapa di tanam di atas tanahku", kemudian saat itu terjadi pertengkaran dan saksi Muhammad Tison Ginting dengan kedua tangannya mendorong bahu kanan Pemohon Kasasi dan pada saat saksi Muhammad Tison Ginting juga dengan kaki kanannya menendang ke arah tubuh Pemohon Kasasi pada saat itulah Pemohon Kasasi secara spontan dengan kedua tangannya dan dengan tangan kanannya yang memegang sebilah parang menangkis atau menghalangi tendangan saksi Muhammad Tison Ginting dan Pemohon Kasasi tidak mengetahui apakah parang yang di pegangnya untuk menangkis serangan saksi Muhammad Tison Ginting mengenai lengan atas sebelah kiri saksi Muhammad Tison Ginting ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 11 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

Bahwa selain dari pada itu, berdasarkan keterangan saksi Muhammad Tison Ginting, saksi Ahmad Umar Yanto dan saksi Nirwan Singarimbun di persidangan pada pokoknya menerangkan bahwa akibat bacokan parang pendek milik Pemohon Kasasi menyebabkan luka pada lengan atas sebelah kiri saksi Muhammad Tison Ginting dan luka tersebut hanya merupakan luka gores dan darahnya juga tidak menetes dan di depan persidangan ternyata saksi Muhammad Tison Ginting juga tidak dapat memperlihatkan bekas luka gores akibat dari bacokan parang Pemohon Kasasi ;

Bahwa selanjutnya yang lebih penting lagi, baik saksi Muhammad Tison Ginting, saksi Ahmad Umar Yanto dan saksi Nirwan Singarimbun secara tegas di depan persidangan menyatakan bahwa akibat luka yang dialami saksi Muhammad Tison Ginting tidak membuat terhalangnya pekerjaan saksi Muhammad Tison Ginting dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai Satpam Perkebunan ;

Bahwa dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan dan jika ternyata benar terbukti bahwa luka yang diderita saksi korban akibat perbuatan Pemohon Kasasi, maka perbuatan Pemohon Kasasi merupakan perbuatan "Penganiayaan Ringan" sebagaimana dimaksud dalam Pasal 352 ayat (1) KUHPidana, namun ternyata perbuatan yang telah terbukti tersebut tidak didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum dan Jaksa Penuntut Umum hanya mendakwa Pemohon Kasasi dengan dakwaan tunggal sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (1) KUHPidana, sehingga sebagai akibatnya Pemohon Kasasi merasa sangat kesulitan dalam mengajukan pembelaan diri;

Bahwa dengan demikian, menurut hemat kami, Judex Facti dalam putusan hukumnya telah keliru dalam menerapkan hukum, sehingga oleh karenanya putusan hukum Pengadilan Tinggi Medan tidak dapat dipertahankan lagi dan beralasan hukum untuk dibatalkan ;

Menimbang, bahwa atas alasan-alasan kasasi Pemohon Kasasi/ Terdakwa tersebut Mahkamah Agung berpendapat :

1. Alasan-alasan kasasi Terdakwa tidak dapat dibenarkan, Judex Facti tidak salah dalam menerapkan hukum. Putusan Judex Facti yang menyatakan Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “penganiayaan” didasarkan pada pertimbangan yang tepat dan benar atas seluruh fakta-fakta yang relevan secara yuridis sebagai pertimbangan dalam menentukan dasar kesalahan Terdakwa ;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 12 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

2. Bahwa perbuatan Terdakwa mengayunkan sebilah parang yang panjangnya ± 30 (tiga puluh) cm, yang sedang dipegang di tangan kanan Terdakwa ke arah saksi korban Muhammad Tison Ginting, sehingga korban mengalami luka pada lengan kiri korban dan mengeluarkan darah, dengan demikian perbuatan Terdakwa tersebut telah memenuhi unsur delik Pasal 351 KUHPidana ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata, putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Terdakwa tersebut harus ditolak ;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi Pemohon Kasasi/ Terdakwa ditolak dan Pemohon kasasi/Terdakwa tetap dipidana, maka Pemohon Kasasi/Terdakwa harus dibebani untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini ;

Memperhatikan Pasal 351 ayat (1) KUHPidana, Undang-Undang No. 48 Tahun 2009, Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 dan Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan ;

M E N G A D I L I

Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Terdakwa : RIANTI

BORU NADEAK tersebut ;

Membebankan kepada Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara pada tingkat kasasi ini sebesar Rp2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah) ; Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Selasa, tanggal 29 Maret 2016 oleh Dr. Artidjo Alkostar, S.H., LL.M. Ketua Kamar Pidana yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Maruap Dohmatiga Pasaribu, S.H., M.Hum. dan H. Eddy Army, S.H., M.H. Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada Rabu, tanggal 30 Maret 2016, oleh Ketua Majelis beserta Sri Murwahyuni, S.H., M.H. dan H. Eddy Army, S.H., M.H. Hakim - Hakim Anggota tersebut, dan dibantu olehMisnawaty, S.H., M.H.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 13 dari 13 hal. Put. No. 15 K/Pid/2016

Panitera Pengganti dan tidak dihadiri oleh Pemohon Kasasi/Terdakwa dan Jaksa/Penuntut Umum.

Hakim-Hakim Anggota, Ketua Majelis,

ttd./Sri Murwahyuni, S.H., M.H. ttd./Dr. Artidjo Alkostar, S.H., LL.M. ttd./H. Eddy Army, S.H., M.H.

Panitera Pengganti, ttd./Misnawaty, S.H., M.H.

Untuk Salinan Mahkamah Agung RI.

a.n. Panitera Panitera Muda Pidana

Suharto, S.H., M.Hum. Nip 19600613 198503 1 002

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengamati cerita bergambar pada pada media google classroom, siswa dapat membuat contoh gambar cerita sesuai kalimat penggalan cerita secara mandiri

Halaman 35 dari 45 Putusan Nomor 11/Pid.Sus/2021/PN Kpg Menimbang, bahwa berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan dari keterangan saksi-saksi dan keterangan Para

Berdasarkan fakta-fakta hukum yang telah terungkap di persidangan, Adapun pertimbangan hakim yang meyakinkan Majelis Hakim bahwa Terdakwa secara sah dan terbukti

Jika pemanas oven tidak menyala setelah 15 detik, lepaskan tombol putar untuk fungsi oven, putar ke posisi mati, buka pintu oven dan cobalah menyalakan pemanas oven lagi setelah

Dalam upaya melayani dan memenuhi kebutuhan informasi para penggunanya perpustakaan memiliki fungsi layanan depan (front-end) sebagai ujung tombak disamping fungsi lain

Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang upaya yang telah dilakukan Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta dalam melaksanakan Kurikulum Terpadu, meliputi:

Penulisan daftar pustaka jika rujukan diambil dari internet berupa karya individual adalah sebagai berikut : nama penulis ditulis seperti merujuk bahan cetak,

Kulit jeruk pamelo merupakan salah satu limbah yang dapat diolah untuk menghasilkan produk bernilai tinggi, seperti ekstrak yang mengandung minyak atsiri,