• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOHABITASI ANTARA WALABI LINCAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOHABITASI ANTARA WALABI LINCAH"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

KOHABITASI ANTARA WALABI LINCAH (

Macropus agilis

papuanus

Peters and Doria, 1875) DAN RUSA TIMOR (

Cervus

timorensis

de Blainville, 1822) DI SAVANA CAMPURAN

UDI-UDI SPTN III TAMAN NASIONAL WASUR, PAPUA

INES NOVITASARI SARAGIH

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

(2)

KOHABITASI ANTARA WALABI LINCAH (

Macropus agilis

papuanus

Peters and Doria, 1875) DAN RUSA TIMOR (

Cervus

timorensis

de Blainville, 1822) DI SAVANA CAMPURAN

UDI-UDI SPTN III TAMAN NASIONAL WASUR, PAPUA

INES NOVITASARI SARAGIH

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

Gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Kohabitasi antara Walabi Lincah (Macropus agilis papuanus peters and Doria, 1875) dan Rusa Timor (Cervus timorensis de Blainville 1822) di Savana Campuran Udi-Udi SPTN III Wasur Taman Nasional Wasur, Papua

Nama : Ines Novitasari Saragih NRP : E34104008

Program Studi : Konservasi Sumberdaya Hutan

Menyetujui : Komisi Pembimbing

Ketua, Anggota,

Dr. Ir. A. Machmud Thohari, DEA Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA

NIP. 130 891 377 NIP. 131 430 800

Mengetahui :

Dekan Fakultas Kehutanan IPB,

Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr NIP. 131 578 788

(4)

SUMMARY

Cohabitation between Agile Wallaby (Macropus agilis papuanus, Peters and Doria, 1875) and Rusa Deer (Cervus Rusaensis de Blainville, 1822) in Udi-udi Mixture Savanna, The 3rd Management Section National Park (MSNP), Wasur National Park, Papua. By : Ines Novitasari Saragih E34104008, Adviser : Dr. Ir. A. M. Thohari, DEA and Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA

Introduction :

Agile wallaby (Macropus agilis) is one of endemic animal and flagshiev species in Wasur National Park (WNP). Beside that, we can find Rusa deer (Cervus timorensis) from introduction results from Java at 1913 and 1920 (Harjosentono, et al.,1978 in Ishak, 1920). According to Pangkali (2005), merauke deer was brought by missionary at 1928 so called Timor deer. Both of them have the same habitat in savanna area (BTNW,1999). This research is very interesting and important to know cohabitation between agile wallaby and Rusa deer.

Method : This research was held at Udi-udi Invasive Savanna, The 3rd Management Section National Park (MSNP), Wasur National Park. This research using Strip Transect Method. The counting of niche ecological and overlapping of niche ecological in case of food can be observed by ingest behavior and a jerk trace animal. The characteristic habitat knew with vegetation analysis by two methods : quadrate method (singular compartment) and strip compartment method. Beside that, data also knew by literature research.

Results and discussion : Size of research area is 47,31 hectare and vegetation of Udi-udi mixture savanna relatively homogenous. Ground cover vegetation dominated by peya (Sporobolus diander) 87,79% and wang (Rhynchelytrum repens) 54,89%. Whereas seedling, sapling, poles, and trees dominated by besi lapang (Eucalyptus foelscheana) with important value index (IVI) 123,33%; 64,44%; 111,24%; and 164,60%. The assembling between agile wallaby and Rusa deer in every area was tested with chi-square test to show that wallaby and deer using the same area. Wallaby and deer have the same of dispersion pola type i.e group dispersion pola. Niche ecological of wallaby larger than deer. It means that deer more specific than wallaby. Between wallaby and deer had occurred niche overlapping for area and food. The assumption,wallaby and deer have a different niche so they can be alive in the same habitat (cohabitation). Population of wallaby and deer will have been decreased because of the hunt by origin people in Wasur national park.

Conclusions : there is cohabitation between agile wallaby and Rusa deer in Udi-udi mixture savanna The 3rd Management Section National Park (MSNP), Wasur National Park, Papua.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Bapa atas segala berkat dan anugerah serta kekuatan yang tak henti-hentinya diberikan kepada ku.Kasih-Mu selalu mengalir dalam hidupku sehingga skripsi “Kohabitasi antara Walabi Lincah (Macropus agilis papuanus peters and Doria, 1875) dan Rusa Timor (Cervus timorensis de Blainville 1822) di Savana Campuran Udi-Udi SPTN III Wasur Taman Nasional Wasur, Papua” ini berhasil diselesaikan.

Secara khusus penulis persembahkan ucapan terima kasih kepada yang tercinta kedua orang tuaku yang selalu memberikan semangat, nasehat dan tak henti mendoakanku, adik-adikku Hendry, Ade, dan Arini, juga untuk Fredy yang selalu mendampingi, memberi kekuatan dan membantuku saat jatuh. Pada saat ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Ir. A. Machmud Thohari, DEA dan Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA selaku pembimbing yang telah memberikan nasehat dan bimbingan

2. Prof. Dr. Ir. Andry Indrawan, M.Sc dan Dr. Ir. I. Wayan Darmawan, M.Sc selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan perbaikan untuk skripsi ini

3. Ir. Tri Siswo Rahardjo,M.Si (Kepala Balai TN Wasur); David Kalo, S.Hut (Kepala Sub Bagian Tata Usaha TN Wasur), Johanis O. (Bendahara TN Wasur) dan seluruh staft TN wasur atas semua bantuandan nasehat yang diberikan selama berada di Merauke.

4. Ferdinandus Rosumbre, Gani Mahuse dan Marten Kaviar yang telah menjadi pemandu di lapangan sewaktu melaksanakan peneelitian

5. Pimpinan WWF Indonesia Ir. Ian Kosasih, M.Si, Pimpinan WWF Bio-Region Sahul Drs. Benja Mambai, M.Si dan Pimpinan WWF Merauke M. W. Wattimena, S.Si yang telah memberikan bantuan dana.

6. Seluruh staft tata usaha Departemen KSHE

7. Kak septi dan kak oca yang tidak pernah lupa memberikan nasehat dan doa 8. Sahabat-sahabatku di Wisma AA (Rini, Melin, Duma dan Trisna) yang selalu

(6)

9. Keluarga besar KSH’41 terutama buat manda, iing, putra, andri, katy, alek, andi, kun, juga semuanya, terima kasih buat pengalaman dan persahabatan yang sudah kita jalani

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini jauh dari kesempurnaan. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat sebagai acuan dalam penelusuran informasi.

Bogor, September 2008 Penulis

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Mayang, Sumatera Utara pada tanggal 29 November 1986 sebagai anak pertama dari empat bersaudara pasangan Ir. Sariahman Saragih dan Henny R. Purba.

Pada tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Tebing Tinggi, Sumatera Utara dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis memilih program studi Konservasi sumberdaya Hutan departemen Konservasi sumberdaya hutan dan ekowisata Fakultas kehutanan.

Selama menuntut ilmu di IPB, penulis aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan yakni sebagai anggota di Komisi Pelayanan Khusus Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK), Uni Konservasi Fauna (UKF), Himpunan Mahasiswa Konservasi (HIMAKOVA). Penulis juga menjadi asisten dalam mata kuliah metode statistika sejak tahun 2006-2008, asisten agama Kristen Protestan tahun 2006-2007, panitia gebyar KSHE tahun 2006, panitia malam sukacita paskah IPB tahun 2006, panitia retreat angkatan PMK IPB tahun 2007, Panitia natal Fahutan tahun 2006. Selain itu penulis juga melakukan praktek pengenalan hutan di Cagar Alam leuweung Sancang dan Cagar Alam Kamojang, Praktek pengelolaan hutan di Perhutani KPH Purwakarta, Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Wasur, Papua.

Untuk memperoleh gelar sarjana kehutanan IPB penulis menyelesaikan skripsi dengan judul Kohabitasi antara Walabi Lincah (Macropus agilis papuanus peters and Doria, 1875) dan Rusa Timor (Cervus timorensis de Blainville 1822) di Savana Campuran Udi-Udi SPTN III Wasur Taman Nasional Wasur, Papua dibimbing oleh Dr. Ir A. M. Thohari, DEA dan Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

RIWAYAT HIDUP ... iii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

I. ... PEN DAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Perumusan Masalah ... 2 C. Tujuan ... 2 D. Manfaat ... 2 E. Hipotesis ... 2 II. ... TINJ AUAN PUSTAKA ... 3 A. Bio-Ekologi ... 3 A.1 Taksonomi ... 3

A.2 Morfologi dan Anatomi ... 4

A.3 Penyebaran ... 5

A.4 Habitat ... 6

A.5 Pakan ... 7

A.6 Perilaku ... 8

A.7 Wilayah Jelajah ... 8

A.8 Reproduksi ... 9

B. Hubungan Interspesies ... 10

B.1 Relung Ekologi ... 11

B.2 Tumpang Tindih Relung Ekologi ... 11

III. ... MET ODE PENELITIAN ... 13

A. ... Waktu dan Lokasi ... 13

B. ... Alat dan Bahan ... 13

C. ... Jenis Data ... 13

D. ... Teknik Pengumpulan Data ... 13

E. Analisis Data ... 18

IV. ... KON DISI UMUM LOKASI PENELITIAN ... 22

(9)

A. ...

Sejarah dan Status Kawasan ... 22

B. ... Kond isi Fisik Kawasan ... 22

B.1 Letak dan Luas Kawasan ... 22

B.2 Geologi dan Tanah ... 22

B.3 Topografi ... 24

B.4 Iklim ... 24

C. Keanekaragaman Ekosistem ... 24

C.1 Flora ... 25

C.2 Fauna ... 26

D. Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat ... 28

V. ... HAS IL DAN PEMBAHASAN ... 29

A. Karakteristik Habitat ... ... 29

B. Penggunaan Ruang ... 33

C. Pola Sebaran Spasial ... 40

D. Relung Ekologi (Niche Breadth) ... 41

E. Tumpang Tindih Relung Ekologi (Niche Overlap) ... 42

F. Pemanfaatan Kanguru Lapang dan Rusa Timor ... 46

VI. ... KES IMPULAN DAN SARAN ... 50

A. Kesimpulan ... ... 50

B. Pola Sebaran Spasial ... 50

DAFTAR PUSTAKA

(10)

DAFTAR TABEL

No Halaman

1. ... P

erkembangan Tanduk Rusa Jantan (Cervus timorensis) ... 5 2. ... J

enis-jenis tumbuhan pakan Rusa timor dan bagian-bagian yang

dimakan di Taman Nasional Wasur, Irian Jaya ……… .. 7 3. Perbedaan ukuran wilayah jelajah antara M. agilis jantan dan betina pada

musim kemarau dan musim penghujan di East Point Reserve Key Centre

for Tropical Wildlife Management (Stirrat, 2003) ………. 8

4. Pengaruh interaksi populasi kanguru lapang (M.agilis) dan rusa

timor (C. timorensis de Blainville) ……….. 10

5. ... H

asil Analisis Vegetasi Di Savana Campuran Udi-Udi ... 30 6. Hasil Analisis Vegetasi di Daerah Ekoton (Savana Campuran dan

Hutan Campuran) ……….. 31

7. ... A kumulasi Keberadaan Walabi dan Rusa ... 33 8. ... K

(11)

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1. (a) Walabi Lincah (M.agilis) (b) Rusa Timor (C. timorensis) ... 4

2. Bentuk transek pengamatan satwa di ekoton ... 14

3. Bentuk transek pengamatan satwa di savana ... 15

4. Pembagian jalur ke dalam plot ... 16

5. Petak tunggal dalam analisis vegetasi savana ... 17

6. Bentuk Petak Ukur Metode Petak Berjalur ... 18

7. Peta Zonasi dan Pemukiman TN Wasur ... 23

8. Peta Zonasi Kawasan TN Wasur... 29

9. Perbandingan kondisi habitat antara savana murni (savana Maar) dan savana campuran (savana Udi-udi) ... 32

10. Jejak walabi lincah (M.agilis) ... 34

11. Jejak rusa timor (C.timorensis) ... 35

12. Kotoran Walabi Lincah (M.agilis) ... 35

13. Kotoran Rusa Timor (C.timorensis) ... 36

14. Renggutan walabi lincah ... 37

15. Renggutan rusa timor ... 38

16. Grafik Pemanfaatan Ruang Oleh Walabi Lincah Dan Rusa Timor ... 39

17. Tumbuhan tempat tidur walabi lincah... 39

18. Bekas renggutan walabi lincah pada akar peya... 42

19. Diagram Tumpang Tindih Jenis Pakan antara walabi lincah dan rusa timor ... 44

20. Posisi Walabi Lincah dan Rusa Timor ... 45

21. Walabi hasil buruan masyarakat asli ... 48

22. Daging Rusa ... 48

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Pola sebaran walabi lincah dan rusa timor di savana campuran udi-udi... 55

2. Tabel Uji Khi-Kudrat Penggunaan Ruang Walabi Dan Rusa ... 59

3. Analisis Relung Ekologi ... 60

4. Analisis Tumpang Tindih Relung Ekologi ... 62

(13)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Taman Nasional Wasur (TN Wasur) merupakan salah satu taman nasional yang menyimpan berbagai keanekaragaman hayati yang tinggi baik flora maupun fauna. Sebagian besar spesies yang ada di Taman Nasional ini merupakan spesies endemik Propinsi Papua. Tercatat tidak kurang dari 80 jenis mamalia (27 di antaranya endemik), 391 jenis burung (www.papuaweb.org).

Walabi lincah (Macropus agilis) adalah salah satu satwa endemik dan spesies flagship yang hidup di daerah savana TN Wasur, termasuk dalam marsupilia (mamalia berkantung). Saat ini walabi lincah termasuk dalam satwa dilindungi. Di TN Wasur juga terdapat rusa timor (Cervus timorensis timorensis de Blainville) yang merupakan hasil introduksi dari Jawa pada tahun 1913 dan tahun 1920 (Harjosentono, et al.,1978 dalam Ishak, 1920). Namun menurut Pangkali (2005) Rusa Merauke dibawa masuk dari Timor oleh penyebar agama tahun 1928 sehingga disebut rusa timor. Kedua spesies tersebut memiliki habitat yang sama yaitu daerah savana (BTNW,1999). Baik walabi lincah maupun rusa timor menggunakan savana sebagai tempat untuk beraktivitas, mencari makan dan berlindung. Menurut BTNW (1999), keberadaan rusa menjadi pesaing bagi spesies endemik yaitu walabi dalam mendapatkan pakan rumput dan ini mengancam keberadaan spesies endemik tersebut, peryataan ini sesuai dengan Semiadi (2006) bahwa pelepasan rusa timor di TN Wasur (Papua) yang dilakukan tahun 1928-an telah berkembang sangat pesat dan saat ini diyakini telah menjadi hama bagi keselarasan ekologi setempat. Namun belum ada penelitian mengenai hubungan diantara kedua jenis spesies tersebut, karena itu penelitian ini sangat menarik dan diperlukan untuk mengetahui kohabitasi (pemanfaatan habitat bersama) antara satwa endemik yaitu walabi lincah dan satwa introduksi yaitu rusa timor .

Berdasarkan hasil survey pendahuluan dan informasi dari petugas TN Wasur serta masyarakat adat yang berada di dalam kawasan TN Wasur bahwa walabi lincah dan rusa timor umumnya ditemukan bersamaan (menggunakan habitat yang sama/kohabitasi) pada daerah savana, savana berawa dan savanna

(14)

campuran (savana yang terinvasi oleh tumbuhan lain seperti Melaleuca sp dan Eucaliptus sp sehingga berubah menjadi hutan jarang melaleuca misalnya savana campuran udi – udi)

Penelitian hanya dilaksanakan di savana campuran Udi-udi Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) III TN Wasur. Hal ini berkaitan dengan waktu penelitian yang dilaksanakan pada musim hujan sehingga sulit untuk menjangkau lokasi lain dalam kawasan TN Wasur. Wilayah TN Wasur merupakan lahan basah terluas kedua di dunia sehingga saat musim hujan sebagian besar daerahnya akan tergenang air dan menjadi rawa.

B. Perumusan Masalah

Di TN Wasur, terjadi gangguan pada populasi walabi lincah sejak adanya introduksi rusa timor karena kedua jenis spesies tersebut menempati habitat yang sama (kohabitasi).

C. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah:

• Mengetahui kohabitasi antara kedua jenis spesies yaitu walabi lincah dan rusa timor

• Mengetahui pola penggunaan ruang dan pakan dari kedua jenis spesies tersebut

D. Manfaat

Untuk konsep dasar konservasi walabi lincah dan rusa timor sehingga populasi dari kedua jenis spesies tersebut tetap lestari dan terjadi ekosistem yang seimbang.

E. Hipotesis

Hipotesis yang akan dibuktikan dalam penelitian ini adalah

HO : adanya tumpang tindih relung (Niche overlapping) dari walabi lincah dan rusa timor.

H1 : tidak ada tumpang tindih relung (Niche overlapping) dari walabi lincah dan rusa timor.

(15)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Bio-Ekologi

A.1Taksonomi

Walabi lincah (M. agilis) merupakan mamalia berkantung yang memiliki kandungan ganda. Menurut Petocz (1987) taksonomi walabi lincah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata Class : Mamalia Ordo : Diprotodontia Famili : Macropodidae Genus : Macropus

Spesies : Macropus agilis papuanus (Peters and Doria, 1875)

Nama walabi lincah diambil berdasarkan Petocz (1994) merupakan nama umum yang digunakan di Indonesia, menurut Suyanto et al., (2002), spesies ini mempunyai sebutan walabi saham. Ada juga nama lokal yang lain yaitu kanguru lapang dan saham. Diacu dari Dradjat (2000), rusa timor merupakan salah satu dari 4 spesies endemik yang ada di Indonesia selain rusa sambar (Cervus unicolor), rusa bawean (Axis Kuhli), dan kijang (Muntiacus muntjak). Menurut Schroder (1976) klasifikasi ilmiah dari rusa timor adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata Class : Mamalia Ordo : Artiodactyla Famili : Cervidae Genus : Cervus

(16)

(a) (b)

Gambar 1. (a) Walabi lincah(M. agilis) (b) Rusa Timor (C.timorensis)

A.2 Morfologi dan Anatomi

Menurut Merchant (1983) walabi dewasa memiliki bobot 19 Kg pada jantan dan 11 Kg pada betina dan panjang tubuh rata-rata dapat mencapai 650 – 800 mm. Punggung walabi lincahberwarna seperti pasir putih lain yang mencolok dan bebat putih yang melingkari pinggul. Satu garis putih lain yang mencolok menghiasi mukanya dan menjulur dari moncong lewat pipi sampai tepat di bawah mata. Moncongnya berwarna gelap hitam sampai yang menjadi semakin kelabu ke arah mata.

Walabi lincah adalah mamalia yang memiliki kaki belakang yang panjang serta kuat dan memiliki kaki depan yang pendek serta ekor yang panjang dan kuat. Kaki belakang digunakan terutama pada saat berlari, sedangkan pada saat berjalan dibantu oleh kaki depan dan ekor yang diseret ke tanah. Tangan depan selain untuk membantu pada saat berjalan, digunakan juga untuk memasukan makanan ke dalam mulut. Ekornya digunakan sebagai alat keseimbangan dan membantu mendorong pada saat melompat seperti fungsi pegas. Walabi lincah juga menggunakan ekor sebagai penopang saat duduk dan pada saat sedang berkelahi. Terdapat empat jari dimana jari kedua dan ketiga berukuran kecil dan bersambungan satu sama lain dengan kulit kecuali pada bagian ujungnya (Merchant, 1998).

Rusa merupakan salah satu famili yang memiliki senjata di kepalanya (Grzimek, 1968 dalam Sukriyadi, 2006). Senjata tersebut merupakan tanduk bercabang (ceranggah) yang hanya terdapat pada rusa jantan dengan panjang

(17)

kira-kira 2 kali panjang kepala. Tanduk pada rusa jantan mulai tumbuh pada umur 4 bulan yang dibungkus oleh velvet dan pertumbuhan yang paling baik adalah saat umur 15-16 bulan. Pada saat berakhirnya periode perkawinan ditandai dengan rontoknya tanduk tua rusa (Fajri, 2000). Perkembangan ukuran tanduk rusa dapat digunakan untuk menduga umur rusa tersebut (Hoogerwerf, 1970 dalam Alikodra, 1993), lebih rinci dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan Tanduk Rusa Jantan (Cervus timorensis) Umur (bulan) Keadaan Perkembangan Tanduk

4-6 7-9 13-15 24 30 84 108

Mulai nampak ada yang menonjol ke luar Tanduk tumbuh /muncul ke luar

Tanduk tunggal tumbuh sempurna (panjangnya 20-30 m) Tanduk mempunyai dua cabang

Tanduk mempunyai tiga cabang

Perkembangan tanduk telah sempurna, panjangnya mencapai 80-90 cm Jarak di antara cabang tanduk bertambah lebar

Dilihat dari perbandingan ukuran dan kerasnya ranggah maka umumnya rusa timor asal pulau Jawa mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan rusa timor dari daerah lainnya. Berat badan berkisar antara 40-120 kg, tergantung anak jenisnya. Warna bulu rusa timor bervariasi antara coklat kemerah-merahan hingga abu-abu kecoklatan. Tekstur bulu jauh lebih halus dibandingkan rusa sambar (Semiadi dan Nugraha, 2004). Menurut Semiadi (1998) panjang badan berkisar antara 1,95-2,10 meter dan tinggi badan 1,00-1,10 meter.

A.3 Penyebaran

Walabi lincah banyak terdapat di timur laut Western Australia, Northren Territory Australia serta wilayah utara dan timur Queensland (Nowak, 1991). Di papua, walabi lincah menghuni daerah bagian tenggara propinsi ini, termasuk pulau Kimaam. Daerahnya menjulur ke utara tepat lewat belokan Sungai Fly yang merupakan daerah perbatasan dengan Papua nugini (Merchant, 1983 diacu dalam Attenborough, 1995).

Semiadi dan Nugraha (2004) menyatakan bahwa rusa timor adalah rusa tropis kedua terbesar setelah rusa sambar dan memiliki keunikan yaitu kelompok rusa yang mempunyai banyak anak jenis, rusa yang mempunyai nama daerah yang cukup beragam selain itu merupakan rusa yang paling luas tersebar di luar

(18)

negeri. Menurut Van Bemmel (1974) diacu dalam Schroder (1976), rusa timor (Cervus timorensis de Blainville) di Indonesia terdiri dari 8 sub-spesies dengan daerah penyebarannya sebagai berikut : 1) Cervus timorensis russa de Blainville, terdapat di jawa dan Kalimantan; 2) Cervus timorensis laranesiotes de Blainville, terdapat di Pulau Peucang, Pulau Nusa Barung; 3) Cervus timorensis renschi de Blainville, terdapat di Pulau bangai dan Pulau Selayar; 4) Cervus timorensis timorensis de Blainville, terdapat di Pulau Timor, Pulau roti, Pulau Semau, karimun, Jawa dan Pulau Kamujun; 5) Cervus timorensis moluccensis de Blainville, terdapat di Pulau Bangai dan Pulau Selayar; 6) Cervus timorensis jonga de Blainville, terdapat di Pulau Buton dan Pulau Muna; 7) Cervus timorensis maccasarius de Blainville, terdapat di Pulau Ternate, pulau Merah, Pulau halmahera, Pulau Bacan, Pulau Buru, ambon, dan Irian Jaya (sekarang Papua); 8) Cervus timorensis florensiensis de Blainville, terdapat di Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Flores dan Pulau Sohor. Mukhtar (1996) menyatakan bahwa penggolongan rusa timor dalam 8 sub-spesies didasarkan perbedaan warna rambut dan ukuran tubuh.

A.4 Habitat

Menurut BTNW (1999), penyebaran walabi lincah di TN Wasur Merauke berasosiasi pada ekosistem savana yang luas dan berhubungan dengan sumber-sumber air atau daerah tangkapan air hujan berupa rawa-rawa permanen yang merupakan sumber air minum bagi satwa pada musim kemarau. Beberapa tempat yang menjadi konsentrasi populasi walabi lincah antara lain savana Kankania, savana Ukra, savana Mblatar dan savana Maar (membentang sepanjang wilayah Republik Indonesia–Papua Nugini).

Whitten et al. (1996) diacu dalam Semiadi (2006) menyatakan di daerah yang sering terkena kebakaran akan dijumpai banyak rusa timor untuk merumput tanaman muda dan menjilati abu sisa pembakaran sebagai sumber mineral. rusa timor dapat dijumpai dengan mudah di hutan terbuka hingga ketinggian 2600 m dpl. Penyebaran rusa di kawasan TN Wasur terdapat di daerah hutan jarang, hutan riparian, savana, padang rumput dan padang rumput rawa dengan kerapatan populasi terbesar di kawasan padang rumput sebelah tenggara (BTNW, 1999).

(19)

A.5 Pakan

Makanan utama dari walabi lincah adalah rumput (grazer) tetapi ia dapat juga mengkonsumsi akar rumput, daun dan buah (Merchant, 1983 diacu dalam Attenborough, 1995)

Sulisetyawan (1996) diacu dalam Purnomo (2006) melaporkan bahwa jenis dan bagian tumbuhan yang dimakan rusa di TN Wasur Papua seperti terlihat pada Tabel 3. Terdapat 23 jenis tumbuhan yang dimakan rusa, terdiri atas 12 familia. Jenis-jenis tumbuhan dari familia Gramineae terlihat mendominasi daftar tumbuhan yang dimakan rusa. Bagian-bagian tumbuhan yang dimakan antara lain pucuk, daun, kuncup, dan buah. Rusa timor memakan berbagai jenis tumbuhan tersebut pada empat tipe habitat yang ada, antara lain: hutan monsoon, hutan terbuka, padang rumput, serta kali dan rawa

Tabel 2. Jenis-jenis tumbuhan pakan Rusa timor dan bagian-bagian yang dimakan di TN Wasur, Papua

No Nama spesies Familia Bagian yang Dimakan Habitat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Melodorum latifolium Dillenia allata Flagellaria indica Andropogon contortus Chrysopogon aciculatus Eragrositis brownii Hymenachne amplexicaulis Imperata cylindrica Pseudoraphis spinescens Phragmites karka Paspalum conjugatum Acacia auriculiformis Ficus benjamina Nymphaea indica Nymphaea violacea Nauclea orientalis Corypha elata Equisetum sp. Cyperus rotundus Rotthoelia sp. Sporablus sp. Themeda sp. Oldenlandia diffusa Annonaceae Dilleniaceae Flagellariaceae Gramineae Gramineae Gramineae Gramineae Gramineae Gramineae Gramineae Gramineae Leguminosae Moraceae Nymphacaceae Nymphacaceae Rubiaceae Rubiaceae Equisetaceae Cyperaceae Gramineae Gramineae Gramineae Rubiaceae Buah Daun muda Daun muda Daun Daun Daun Daun Daun Daun Kuncup Daun Kuncup Buah Kuncup Kuncup Kuncup Daun muda - - - - - - Hutan monsoon Hutan terbuka Hutan monsoon Padang rumput Padang rumput Padang rumput Padang rumput Padang rumput Padang rumput Padang rumput Padang rumput Hutan terbuka Hutan monsoon Kali dan rawa Kali dan rawa Hutan terbuka Hutan terbuka Padang rumput Padang rumput Padang rumput Padang rumput Padang rumput Hutan terbuka Sumber:Sulisetyawan (1996) dalam Purnomo (2006)

(20)

Kebutuhan pakan rusa tergantung pada berat badan, jenis kelamin, umur dan aktifitas. Sebagai patokan setiap hari satwa ini membutuhkan pakan hijauan sebanyak 10% dari berat badannya. Jadi bila berat badan rata-rata C. timorensis 50 kg, maka kebutuhan pakan tiap hari adalah 5 kg hijauan segar (Syarif, 1974 dalam Mukhtar, 1996).

A.6 Perilaku

Walabi dapat aktif pada waktu siang dan malam hari, namun interval waktunya belum diketahui secara pasti, satwa ini sangat suka berkumpul (Petocz, 1994). Nowak (1991) menyatakan bahwa walabi lincah merupakan spesies yang suka hidup secara berkelompok dimana dalam kelompok tersebut terdiri dari banyak betina dan membagi wilayah untuk makan dan beristirahat.

Semiadi (2006) menyatakan kehidupan sosial diantara rusa tropis cenderung sama, yaitu yang jantan lebih mengarah pada kehidupan soliter sedangkan yang betina membentuk kelompok kecil. Anggota kelompok ini umumnya terdiri dari induk dan anak. Dalam mencari makan rusa tropis dikenal aktif pada malam hari (nocturnal).

A.7 Wilayah Jelajah

Stirrat (2003) diacu dalam Suprajitno (2007) menyatakan bahwa di tempat tersebut terjadi perbedaan ukuran wilayah jelajah (wilayah yang secara rutin) secara perbedaan musim dan jenis kelamin pada walabi.

Tabel 3. Perbedaan ukuran wilayah jelajah antara M. agilis jantan dan betina pada musim kemarau dan musim penghujan di East Point Reserve Key Centre for Tropical Wildlife Management (Stirrat, 2003)

Periode musim kawin (ha)

Jenis kelamin

Preferensi Habitat

Jantan Betina

Penghujan (ha) 16,6 11,3 Wilayah terbuka padang rumput Kemarau (ha) 24,6 15,3

Wilayah berhutan khusunya pada malam ketika mencari sumber pakan alternatif

Hasil pengamatan terhadap rusa sambar yang mendiami Florida menunjukkan bahwa rataan tahunan daerah jelajah mereka sekitar 312,4 ha,

(21)

dimana yang jantan daerah jelajanya sekitar 2 kali lebih luas dibanding betina yaitu 406,6 ha dan betina 201,2 ha (Shea et al., 1990 diacu dalam Semiadi, 2006)

A.8 Reproduksi

Walabi lincah akan mencapai dewasa kelamin setelah berumur 12 bulan untuk betina dan 14 bulan bagi jantan. Reproduksi berlangsung sepanjang tahun. masa bunting berlangsung sekitar 30 hari. Anak pertama kali meninggalkan kantung untuk mencari pakan pada umur sekitar 6-7 bulan. Induk akan terus menyusui anaknya sampai berumur sekitar satu tahun (Petocz, 1994). Menurut Attenborough (1995), anak walabi lincah akan berada di dalam kantung hingga berumur 7-8 bulan dan akan meninggalkan kantung pembesaran induknya memulai hidup secara mandiri setelah berumur 10 sampai 12 bulan. Fecundity tahunan atau jumlah anak yang dilahirkan per induk dari kelas umur tertentu dalam satu tahun adalah 1,53. Peluang hidup individu berumur kurang dari 1 tahun adalah 0,43 sedangkan peluang hidup individu yang berumur diatas 1 tahun adalah 0,87 (Kirkpatrick & Johnson,1969 diacu dalam Suprajitno, 2007). Perbandingan jenis kelamin antara jantan dewasa dan betina dewasa adalah 1:2 (Dressen, 1993 diacu dalam Suprajitno, 2007).

Musim kawin pada rusa tropis sangat tergantung pada kondisi alam setempat, kelahiran pada rusa tropis adalah sepanjang tahun (Semiadi, 2006). Semiadi (2006) menyatakan lama kebuntingan rusa timor rata-rata 252 hari. Hoogerwerf (1970) diacu dalam Schroder (1976) memperkirakan rata-rata masa kebuntingan adalah 9 bulan.

Perbandingan rusa jantan dewasa dan betina yang normal di Indonesia adalah 1:3 (Hoogerwerf, 1970 diacu dalam Schroder, 1976). Rusa jantan memasuki musim birahi setelah velvet pada tanduknya rontok, dan ini berlangsung lebih dari satu bulan. Seekor anak rusa akan tergantung pada induknya sampai umur 3-4 bulan dan dapat juga terjadi sampai 6-8 bulan. Menurut Semiadi (1998), umumnya sistem perkawinan rusa timor adalah poligamus yaitu mengawini lebih dari satu betina dan melahirkan lebih dari setahun dengan jumlah anak yang lahir adalah satu ekor.

(22)

B. Hubungan Interspesies

Satwaliar menempati habitat sesuai dengan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung kehidupannya. Setiap jenis satwaliar membutuhkan habitat yang berbeda-beda sesuai kebutuhannya. Alikodra (1993) menyatakan bahwa habitat mempunyai fungsi dalam penyediaan makanan, air dan pelindung. Sedangkan dari segi komponennya, habitat terdiri dari komponen fisik (air, udara, radiasi surya, temperatur, panjang hari, aliran dan tekanan udara, dan tanah) sedangkan komponen biotik (mempunyai fungsi dalam pengadaan makanan dan energi juga peranan vegetasi sebagai pelindung, suksesi dan perilaku satwaliar).

Spesies-spesies satwaliar dalam menempati suatu wilayah tidak hidup sendiri-sendiri. Mereka hidup membentuk masyarakat yang terdiri dari berbagai spesies. Hal inilah yang mendukung terjadinya interaksi pada satwaliar. Interaksi pada satwaliar dapat dibedakan atas dua yaitu intraspesifik (interaksi antara spesies yang sama) dan interspesifik (interaksi antara dua spesies yang berbeda). Interaksi diantara spesies yang berbeda juga merupakan stratetegi untuk menghindarkan diri dari ancaman pemangsa. Berikut ditampilkan jenis–jenis interaksi interspesifik pada satwaliar (Wirakusumah, 2003). Pada kedua jenis spesies yang akan diteliti kemungkinan interaksi yang terjadi adalah netralisme, kompetisi dan mutualisme karena keduanya mempunyai tingkat tropik yang sama yaitu satwa herbivora (pemakan tumbuhan).

Tabel 4. Pengaruh interaksi populasi walabi lincah (Macropus agilis) dan rusa timor (Cervus timorensis de Blainville)

Tipe Interaksi Tidak berinteraksi Apabila berinteraksi Hasil interaksi Netralisme (A&B independen)

A B A B Tidak ada yang terpengaruh Kompetisi (A&B

kompetitor)

0 0 - - Yang paling terpengaruh punah

Mutualisme (A&B patner simbiosa)

- - + + Obligatori bagi kedua populasi

+ Populasi tumbuh; - populasi menurun; 0 pertumbuhan populasi tak tertepengaruh

Sumber : diadaptasi dari tabel Pengaruh interaksi populasi A vs B terhadap kelangsungan kehidupan (Wirakusumah, 2003).

Pada kohabitasi antara walabi lincah dan rusa timor maka interaksi yang mungkin terjadi adalah :

(23)

• Netralisme; merupakan tipe interaksi intersepesifik dimana populasi yang bekerjasama seolah–olah tidak terjadi saling terpengaruh, walau sesungguhanya semacam kerjasama terselenggara sangat halus.

• Kompetisi; merupakan tipe interaksi interspesifik bahwa dua individu atau spesies berebut sumber daya terbatas seperti pakan, air, ruang untuk bersarang dan lain – lain. Pihak yang lebih efisien memanfaatkan sumber dayanya dapat bertahan dan lainnya tersingkir

• Mutualisme disebut juga simbiosa merupakan interaksi obligatori atau wajib yang diperlukan oleh kedua pihak yang berinteraksi karena keduanya saling memerlukan.

B.1 Relung Ekologi (Ecological Niche)

Menurut Wirakusumah (2003) relung adalah ruang tempat populasi dalam struktur komunitas yang tidak bermakna sama sekali jika komunitas itu tidak ada sedangkan menurut Djamal (2003) relung merupakan cara hidup mahkluk hidup dalam habitatnya. Hutchinson (1957) diacu dalam Odum (1993) juga mengemukakan istilah relung dasar (fundamental niche) yang merupakan relung ekologi maksimal suatu organisme dalam keadaan tak berkompetisi dengan sesamanya serta istilah relung nyata (realized niche) sebagai relung hypervolume organisme dalam keadaan berkompetisi.

B.2 Tumpang Tindih Relung Ekologi (Niche Overlap)

Putman (1984) menyatakan bahwa pemisahan niche merupakan pemisahan atau perbedaan peranan berbagai organisme dalam komunitasnya. Agar terjadi interaksi antar organisme yang meliputi kompetisi, predasi, parasitime, dan simbiosis haruslah ada tumpang tindih dalam niche (Mcnaughton dan Wolf, 1990) Tumpang tindih relung dapat dipandang sebagai masalah pembagian sumberdaya diantara beberapa spesies. Tumpang tindih relung berarti ada beberapa derajat kesamaan kebutuhan hidup di antara spesies. Tumpang tindih yang rendah merupakan indikasi pembagian sumberdaya yang efisien (Shugart et al. diacu dalam Basuni, 1988).

Menurut Hulbert (1978) diacu dalam Krebs (1978), salah satu cara untuk mengetahui struktur komunitas yaitu dengan mengukur tumpang tindih

(24)

penggunaan sumberdaya pada spesies yang berbeda. Umumnya pengukuran sumberdaya dalam penghitungan tumpang tindih dilakukan dengan menggunakan pakan dan ruang (atau mikrohabitat). Nilson (1969) diacu dalam Rahayuni (2007) menyebutkan bahwa tumpang tindih relung organisme dalam memakan makanan dapat terjadi. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa tumpang tindih relung ekologi dapat terjadi apabila sumberdaya (makanan) dalam keadaan melimpah, namun bila sumberdaya mengalami keterbatasan maka spesies tersebut akan keluar dari zona overlap dan pemisahan niche kembali terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa spesies tersebut mempunyai tipe ataupun sifat karakter makanan khusus yang dikenal dengan food refuge.

(25)

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi

Kegiatan penelitian dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan dari bulan April-Mei 2008, dengan lokasi pengamatan di Savana Campuran Udi-Udi Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) III Taman Nasional Wasur.

B. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini meliputi :

a) Karakteristik habitat (kondisi fisik habitat, tipe habitat dan tipe vegetasi) : tali rafia, patok, pita meter, kompas, pisau, kantong plastik, camera digital, tally sheet, komputer yang dilengkapi perangkat lunak Ms.Excell.

b) Pola penggunaan ruang : kompas, teropong binokuler, GPS (Global Position System), pita meter, jam, senter, camera digital, tally sheet, kaliper, timbangan digital, komputer yang dilengkapi perangkat lunak Ms.Excell, Arc View 3.2.

C. Jenis Data

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi :

a. Karakteristik habitat yaitu : kondisi fisik habitat, tipe habitat dan tipe vegetasi.

b. Pola penggunaan ruang dan pakan :penggunaan ruang, pola sebaran spasial, jenis pakan.

Sedangkan data sekunder yang dikumpulkan meliputi : kondisi umum lokasi penelitian dan peta wilayah Taman Nasional Wasur.

D. Teknik Pengumpulan Data D.1 Data Primer

D.1.1 Penetapan Plot Penelitian

Penetapan plot penelitian dilakukan dengan terlebih dahulu mengadakan penjelajahan pada di SPTN III TN Wasur seluas ± 1 km2 yang merupakan lokasi ditemukannya kedua jenis satwa yaitu walabi lincah (M. Agilis) dan rusa timor (C.

(26)

Timorensis) tersebut hidup bersama. Penetapan plot penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode recoqnaissance (pengamatan sepintas). Penentuan jumlah jalur pengamatan didasarkan pada luas savana dan daerah ekoton yang menjadi lokasi penelitian.

D.1.2 Pengamatan Aktivitas Satwa

Pengamatan ini dilakukan untuk melihat berbagai aktivitas yang dilakukan oleh kedua spesies pada suatu lokasi yang telah ditentukan. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan Metode Transek Garis (Strip Transect) dimana pengamatan populasi satwaliar melalui pengambilan contoh dengan bentuk unit contoh berupa garis pengamatan. Tahapannya :

• Penentuan sejumlah transek garis paralel secara sistematis, waktu dimulai dan berakhirnya pengamatan

• arah lintasan pengamatan dengan menggunakan kompas sehingga lintasan antar garis satu dengan garis lainnya tidak saling berpotongan

• Saat pengamatan semua jenis rusa dan walabi yang dijumpai baik langsung maupun tidak langsung dicatat

25 m 25 m

Gambar 2. Bentuk transek Pengamatan Satwa di Ekoton To S1 y1 O O y2 Ta 500 – 1000 m S2

(27)

50 m 50 m

Gambar 3. Bentuk Transek Pengamatan Satwa di Savana Keterangan : To = titik awal,

Ta = titik akhir, O = posisi pengamat, S = posisi satwaliar,

y = Jarak pengamat dengan satwa

Tehnik pengamatanya :

a. Waktu pengamatan pada interval 08.00-21.00 yang dilakukan secara berselang-seling pagi atau malam sesuai dengan pengamatan pendahuluan b. Pengamat berjalan lamban pada jalur pengamatan, sambil mengamati

kiri-kanan jalur.

c. Satwa yang teramati dicatat jumlah, lokasi, dan aktivitas selama kurang dari 10 menit. Pendeskripsian lokasi dengan metode recoqnaissance (pengamatan sepintas), pemotretan, dan catat koordinat dengan GPS (tujuannya untuk memetakan keberadaan satwa).

d. Jejak rusa ataupun walabi (bekas tapak, kotoran, sarang) yang teramati dicatat kondisi jejak dan keterangan-keterangan lainnya dalam tally sheet serta didokumentasikan.

D.1.3 Pola Sebaran Spasial Satwa

Data bentuk sebaran spasial dari walabi lincah dan rusa timor diketahui dari hasil pengamatan di jalur pengamatan. Ada 3 jalur pengamatan yang akan dibagi dalam plot/petak berukuran 50 m x 50 m, sehingga akan didapat 100 plot, dengan ketentuan sebagai berikut : jalur 1 di daerah ekoton berukuran 50m x 1000m dibagi menjadi 20 plot, sedangkan 2 jalur yang ada di savana campuran

To S1 y1 O O S2 y2 Ta 500 – 1000 m

(28)

berukuran 100 x 1000 dibagi masing-masing menjadi 40 plot. Sketsa pembagian jalur pengamatan dalam plot sebaran spasial satwa sebagai berikut :

Jalur 1 di daerah ekoton

5

0

m

1000 m

Jalur 2 di Savana Campuran Udi-udi

1 0 0 m 1000 m 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 2 7 2 8 2 9 3 0 3 1 3 2 3 3 3 4 3 5 3 6 3 7 3 8 3 9 4 0 4 1 4 2 4 3 4 4 4 5 4 6 4 7 4 8 4 9 5 0 5 1 5 2 5 3 5 4 5 5 5 6 5 7 5 8 5 9 6 0

Jalur 3 di Savana Campuran Udi-udi

1 0 0 m 1000 m 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100

Gambar 4. Pembagian jalur ke dalam plot

D.1.4 Pemanfaatan Sumberdaya oleh Satwa

Pemanfaatan sumberdaya oleh satwa diamati bersamaan dengan pengamatan aktivitas satwa yaitu perilaku makan ataupun dari bekas renggutan satwa yaitu jenis dan bagian tumbuhan yang dimakan sekaligus dicatat untuk penghitungan luas relung ekologi masing-masing jenis berdasarkan pemanfaatan sumberdaya pakan. Selanjutnya dibuat tabel resource matrix dimana spesies disimpan dalam baris dan jenis serta bagian sumberdaya yang dimakan ditulis

(29)

dalam kolom. Selain untuk penghitungan luas relung ekologi, data yang diperoleh juga digunakan untuk menghitung tumpang tindih relung ekologi dalam hal pakan.

D.1.5 Karakteristik Habitat

Karakteristik habitat diperoleh melalui analisis vegetasi yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi vegetasi yang menjadi habitat walabi lincah (M. Agilis) dan rusa timor (C. Timorensis). Analisis vegetasi dilakukan menggunakan 2 metode yaitu Metode Kuadrat yaitu petak tunggal yang dianggap mewakili vegetasi padang rumput (savana) dan Metode Petak Berjalur karena plot penelitian berada di savana campuran dan ekoton. Menurut Soerianegara dan Indrawan (2005), pada metode kuadrat hanya digunakan satu petak sampling yang mewakili lokasi. Ukuran minimum dari suatu petak tergantung pada kerapatan tegakan dan banyaknya jenis tumbuhan yang terdapat. Makin banyak jenisnya makin besar ukuran petak tunggal yang digunakan. Ukuran minimum ditetapkan dengan menggunakan kurva spesies area (hingga kenaikan jenis tumbuhan kurang dari 10%).

Pada lokasi penelitian petak sampling ditempatkan pada garis lintasan pengamatan satwaliar dan petak sampling tegak lurus ekoton. Bentuk unit contoh pengamatan vegetasi seperti disajikan pada gambar.

4 m

2 m

1 m

Gambar 5. Petak Tunggal Dalam Analisa Vegetasi Savana

(30)

5 m 5 m 2 m 10 m Arah jalur 100 m 10 m

Gambar 6. Bentuk Petak Ukur Metode Petak Berjalur Keterangan petak: 2 x 2 m2 = Semai (tinggi < 1,5 m) 5 x 5 m2 = Pancang (tinggi ≥ 1,5 m; dbh ≤ 10 cm) 10 x 10 m2 = Tiang (dbh 10 – 20 cm) 20 x 20 m2 = Pohon (dbh > 20 cm) D.2 Data Sekunder

Data sekunder yang meliputi kondisi umum lokasi penelitian diperoleh melalui studi literatur.

E. Analisa Data

E.1 Analisis Penggunaan Ruang

Data penggunaan ruang pada walabi dan rusa diuji dengan menggunakan uji khi-kuadrat untuk menunjukkan hubungan penggunaan ruang antara walabi dan rusa di setiap daerah adalah sama. Dengan menggunakan selang kepercayaan 95 %, ketentuan dalam menarik kesimpulan sebagai berikut;

Jika X2hitung < X2tabel, maka terima H0 Jika X2hitung > X2tabel, maka tolak H0

Dalam hal ini hipotesa yang digunakan adalah :

H0 : walabi dan rusa menggunakan 3 kelompok daerah yang sama H1 : tidak semua daerah digunakan walabi dan rusa

Persamaan uji khi-kuadrat yang digunakan dengan tabel kontigensi r x c adalah:

X2hitung =

i ij ij ij

e

e

o

)

2

(

(31)

℮ij =

( )

( )

Y G Hi j Derajat bebas (v) = (r-1) x (c-1) Keterangan :

Oij : Frekuensi teramati

℮ij : Frekuensi harapan

E.2 Analisis Bentuk Sebaran Spasial

Ludwig dan reynold (1988) menyatakan bahwa pola sebaran spasial suatu komunitas ekologi dapat diketahui dengan menggunakan metode indeks dispersal

N n = Χ

( )

1 2 2 − − =

N n X fi x S X S ID 2 =

Keterangan : ID : indeks penyebaran S2 : ragam contoh X : rata – rata contoh

Untuk mengetahui pola sebaran spasial dilakukan uji chi-square. Kriteria uji yang digunakan ada 2 macam yaitu untuk N<30 dan N≥30. Untuk ukuran yang besar (N ≥ 30) maka persamaan yang digunakan sebagai berikut :

(

1

)

2 = N ID X d = 2X2 − 2

(

N−1

)

−1 2

X = nilai hitung chi-square N = ukuran contoh

Kaidah keputusan menurut Ludwig and Reynolds, 1988 diacu dalam Priyono, 1998untuk menentukan pola sebaran spasial dari komunitas ekologis adalah

Jika d < 1,96 maka pola sebarannya random / acak (poisson distribution) Jika d < -1,96 maka pola sebarannya uniform / merata (positive binomial)

Jika d > 1,96 maka pola sebarannya clumped / mengelompok (negative binomial).

(32)

Smith (1972) diacu dalam Krebs (1978) menawarkan pengukuran relung ekologi dengan memasukkan keberadaan sumberdaya dalam penghitungannya, yaitu :

FT = Σ (√ pj aj)

dimana; pj : proporsi sumberdaya yang digunakan individu yang dijumpai aj : proporsi sumberdaya-j terhadap total sumberdaya.

Untuk sampel yang besar, sekitar 95 % interval kepercayaan untuk FT dapat diperoleh dengan menggunakan arcsine transformation sebagai berikut :

Di bawah selang kepercayaan 95 % = sin [ x – (1.96 / 2√y) ] Di atas selang kepercayaan 95 % = sin [ x + (1.96 / 2√y) dimana; x : Arcsin (FT)

y : jumlah total individu yang dipelajari = Σ Nj dan argumen dari fungsi trigonometrik ini dalam radian

Pengukuran relung berdasarkan metode Smith bervariasi dari 0 sampai 1 dan sudah merupakan pengukuran standarisasi. Metode ini mudah dipelajari karena mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya. Namun, pengukuran dengan metode ini kurang sensitif terhadap pemilihan sumberdaya langka.

E.4 Analisis Tumpang Tindih Relung Ekologi (Niche Overlap)

Penghitungan tumpang tindih relung ekologi pertama kali dikemukakan oleh Mac Arthur dan Levins (1976) diacu dalam Krebs (1978) :

Mmc =

im ic im p p p 2 .

dimana; pim : proporsi sumberdaya i terhadap total sumberdaya yang digunakan oleh spesies m (Macropus agilis)

pic : proporsi sumberdaya i terhadap total sumberdaya yang digunakan oleh spesies c ( Cervus timorensis).

Penghitungan tumpang tindih dengan rumus ini diasumsikan tidak simetris antara spesies m dan spesies c yang mengestimasi luas relung dari spesies c yang tumpang tindih terhadap spesies m. Jika spesies m terspesialisasi pada sub kumpulan pakan yang dimakan oleh sebagian besar spesies c, selanjutnya dari sudut pandang spesies m tumpang tindih terjadi secara total tetapi sudut pandang

(33)

spesies c overlapping hanya sebagian. Namun, sebagian besar ahli ekologi menyetujui bahwa penghitungan tumpang tindih tidak dapat digunakan sebagai koefisien kompetisi.

E.4 Analisis Vegetasi (Habitat)

Kerapatan Jenis (K) = contoh petak total Luas i -ke jenis individu Jumlah Kerapatan Relatif (KR) = 100% jenis seluruh Kerapatan i -ke jenis Kerapatan x Frekuensi Jenis (F) = contoh petak seluruh Jumlah i -ke jenis ditemukan petak Jumlah Frekuensi Relatif (FR) = 100% jenis seluruh frekuensi Jumlah i -ke jenis kerapatan Frekuensi x Dominansi (D) = contoh petak seluruh Jumlah i -ke jenis LBDS

Dominansi Relatif (DR) = 100% jenis seluruh dominansi Jumlah i -ke jenis Dominansi x

INP = KR + FR (untuk tumbuhan bawah, semai dan pancang) INP = KR + FR + DR (untuk tiang dan pohon)

Keterangan : INP : Indeks Nilai Penting LBDS : Luas Bidang Dasar

(34)

IV. KONDISI UMUM LOKASI

Keadaan umum lokasi TN Wasur diacu dari Rencana Pengelolaan Taman Nasional Wasur (RPTN) 1999-2024 yaitu sebagai berikut :

A. Sejarah dan Status Kawasan

Kawasan TN Wasur sebelumnya merupakan kawasan suaka alam berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 252/Kpts/Um/5/1978 tanggal 2 Mei 1978 yang terdiri dari dua kawasan konservasi, yaitu : Suaka Margasatwa Wasur dengan luas 206.000 ha diperuntukkan bagi perlindungan satwa, dan Cagar Alam Rawa Biru seluas 4.000 ha diperuntukkan bagi perlindungan sumber air minum di Danau Rawa Biru bagi penduduk kota Merauke.

TN Wasur merupakan salah satu dari 22 taman nasional model yang ada di Indonesia. Didalamnya terdapat beberapa kampung/pemukiman penduduk baik penduduk asli (masyarakat adat) ataupun masyarakat pendatang dan masyarakat musiman (Petugas perbatasan). Namun demikian, pembagian kawasan kedalam beberapa zonasi baru dilakukan sebatas dalam peta pembagian zonasi kawasan taman nasional. Hal ini dapat menjadi kendala dalam proses pengukuhan kawasan taman nasional yang sampai saat ini belum dilaksanakan pengukuhan kawasan sebagai kekuatan hukum dalam pengelolaan taman nasional.

B. Kondisi Fisik Kawasan B.1 Letak dan Luas Kawasan

TN Wasur terletak di bagian selatan Provinsi Papua dalam wilayah administrasi Pemerintah Daerah kabupaten Merauke, yang secara geografis berada pada koordinat 140o 27’ -141o 2’ Bujur Timur dan 8o 5’ – 9o 7’ Lintang Selatan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.282/Kpts-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997, luas kawasan TN Wasur adalah 413.810 ha dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah barat : Kota Merauke yang berjarak ± 12 km

Sebelah Utara : Sungai Maro sepanjang 182,5 km sampai perbatasan RI – Papua Nugini

(35)

Sebelah Selatan : Laut Arafura

Pada tahun 1981 gubernur Propinsi Irian Jaya (sekarang Papua) melalui surat No. 1125/DJ/I/1981 tanggal 10 Maret 1981, mengusulkan perluasan kawasan yang dilindungi tersebut sebesar 15.000 ha menjadi 225.000 ha. Pada tanggal 4 Januari 1982, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 15/Kpts/Um/5/1982, kawasan suaka alam ini ditambah luasannya 98.000 ha sehingga menjadi 323.000 ha (225.000 + 98.000 ha). Pada tanggal 6 Maret 1990, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.448/Menhut-VI/1990 kawasan tersebut dideklarasikan menjadi TN Wasur seluas 308.000 ha. Pada tahun 1997 dilakukan penunjukkan Kawasan Taman Nasional Wasur di Kabiupaten Merauke Propinsi Irian Jaya (sekarang Papua) seluas 413.810 ha berdasarkan pada Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 282 / Kpts-II/1997 Tanggal 23 Mei 1997.

Gambar 7. Peta Zonasi dan Pemukiman TN Wasur (sumber BTNW 2006)

B.2 Geologi dan Tanah

Secara umum, jenis tanah di kawasan TN Wasur adalah aluvial dan jenis lain yang merupakan hasil proses hidromorfik. Jenis tanah ini bertekstur halus, berlempung kuat dan sering berada dibawah air pada musim hujan.

(36)

Di daerah dekat pasang surut pantai dan sungai, tanah menjadi lebih alkalin, namun semakin ke arah darat cenderung memiliki peningkatan kadar asam. Tanah di Desa Wasur dan Rawa Biru secara umum adalah gleisol yang dibentuk oleh tanah yang sangat muda dan berada di atas deposit aluvium yang masih baru.

B.3 Topografi

Secara umum, kawasan TN Wasur dibagi menjadi dua daerah geografis yaitu dataran pantai dan daerah berbukit yang bergelombang (plato) yang terbentang mulai dari pantai laut Arafura ke daerah Utara melalui dataran pantai yang rata dan agak bergelombang (kemiringan lereng kurang lebih 12°), serta dataran yang rata yang terpotong-potong oleh plato yang bergelombang dibagian Utara kawasan.

B.4 Iklim

Kawasan TN Wasur memiliki iklim musiman (monsoon) yaitu musim kering yang terjadi pada bulan Juni sampai November/Desember dan musim basah yang terjadi pada bulan Desember sampai Mei.

Temperatur bulan kering di Kota Merauke dan sekitarnya berkisar antara 29-33°C yang terjadi pada bulan Juni sampai Desember; sedangkan temperatur bulan basah berkisar antara 22-24°C yang terjadi pada bulan Januari sampai Mei.

C. Keanekaragaman Ekosistem

Tipe ekosistem di kawasan TN Wasur adalah sebagai berikut :

1. Ekosistem Rawa berair payau musiman, terdapat di daerah Rawa Taram, Rawa Kitar-Kitar sampai daerah Waam dan Samleber.

2. Ekosistem rawa berair tawar permanen, terdapat di Rawa Biru, Ukra, Maar dan Kankania.

3. Ekosistem pesisir berair tawar, terdapat didaerah Mbo, Okilum, Rawa Pilmul dan Rawa Badek.

4. Ekosistem daratan berair tawar, terdapat disepanjang jalan Trans Irian

5. Ekosistem pesisir berair payau, terdapat di Desa Wasur, Rawa Ndalir dan Desa Sota

(37)

C.1 Flora

Terdapat 10 formasi vegetasi dalam kawasan TN Wasur yaitu :

a. Hutan Dominan Melaleuca sp; didominasi oleh jenis Melaleuca sp, Lophostemon lactifluus, Xanthostemon sp, Acacia leptocarpa, Salsar, Asteromyrtus symphiocarpa, Eucalyptus sp, Alstonia actinopilla, dan lain-lain b. Hutan Co-Dominan Melaleuca sp-Eucalypthus sp; didominasi oleh jenis Melaleuca sp, Xanthostemon sp, Acacia leptocarpa, Salsar, Asteromyrtus symphiocarpa, Eucalyptus sp, Alstonia actinopilla, Dilenia alata dan lain-lain c. Hutan Jarang; yang di bagian bawahnya tumbuh berbagai jenis semak, didominasi oleh jenis Lophostemon lactifluus, Melaleuca sp, Dilenia alata, Eucalyptus sp, Asteromyrtus symphiocarpa, Acacia leptocarpa, Xanthostemon sp dan lain-lain

d. Hutan Pantai; didominasi oleh jenis Alstonia actinopilla, Baringtonia sp, Lophostemon lactifluus, Cocos nucifera, dan jenis palem-palem lainnya. e. Hutan musim; didominasi oleh jenis Eucalyptus sp, Acacia mangium, Dilenia

alata, Alstonia actinopilla, Salsar dan lain-lain.

f. Hutan pinggir sungai; didominasi oleh jenis Eucalyptus sp, Acacia mangium, Dilenia alata, Alstonia actinopilla, Salsar, Bamboo sp, Graminae sp dan lain-lain.

g. Hutan bakau; didominasi oleh jenis Sonneratia sp, Avicenia sp, Rhizophora sp, Bruguiera sp, Baringtonia sp, Nypah fruticans dan palem

h. Savana; didominasi oleh jenis Lophostemon lactifluus, Banksia dentata, Asteromyrtus symphiocarpa, Eucalyptus sp, Melaleuca sp.

i. Padang rumput didominasi oleh jenis vegetasi Graminae sp dan Pandannus sp

j. Padang rumput rawa didominasi oleh Pandannus sp, Phragmites karka, Hanguana sp, anggrek dan teratai

Di kawasan ini juga dapat dijumpai flora eksotik, seperti:

Eceng gondok (Eichornia crassipes), merupakan tumbuhan pengganggu ekosistem perairan.

(38)

Kelampis air/putri malu raksasa (Mimossa pigra), merupakan tumbuhan pengganggu ekosistem tepi sungai karena pertumbuhannya telah menutupi sebagian besar tepian sungai Maro.

Krinyuh (Cromolaena odorata), perkembangannya telah menganggu ekosistem terbuka terutama areal bekas peladangan.

Semak ekor tikus/jarong (Stachytarpheta urticaefolia), penyebaranya telah mengokupasi habitat padang rumput didaerah Ukra dan Kankania.

Tumbuhan lain yang berpotensi mengancam kelestarian flora fauna endemik, antara lain : tebu rawa (Hanguana sp), selada air (Pitsia sp), salvima (Salvinia sp), sidagori (Sida acuta) dan tahi ayam (Lantana camara), serta akasia berduri (Acaccia nilotica).

C.2 Fauna

TN Wasur memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah. Diperkirakan terdapat sekitar 80 jenis mamalia dan 399 jenis burung, sehingga merupakan wilayah yang paling kaya akan jenis burung di Papua. Telah teridentifikasi 34 spesies dari 80 spesies yang diperkirakan ada dan 32 spesies diantaranya adalah satwa endemik Papua. Mamalia besar asli yang terdapat di kawasan TN Wasur adalah tiga marsupial yaitu walabi lincah (Macropus agilis), walabi hutan/biasa (Darcopsis veterurn) dan walabi bus (Thylogale brunii). Marsupial karnivora di dalam kawasan ini adalah musang hutan (Dasyurus spartocus) yang merupakan satwa endemik untuk kawasan Trans-fly. Mamalia lainnya antara lain kuskus berbintik (Spilocuscus maculatus), Petaurus breviceps (diketahui oleh masyarakat setempat sebagai tupai), Dactylopsa trivirgata semuanya terdapat di sekitar hutan pantai, landak irian bermoncong pendek, tikus berkantung, kucing berkantung, kalong, dan kelelawar

Burung; TN Wasur memiliki keanekaragaman burung yang tinggi. Tercatat 403 spesies dan 74 spesies diantaranya endemik Irian Jaya dan diperkiraan terdapat 114 spesies yang dilindungi. Jenis-jenis burung tersebut antara lain burung garuda irian (Aquita gurnisyei), cenderawasih (Paradiseae apoda novaguinea), kakatua (Cacatua sp), mambruk (Goura sp), kasuari

(39)

(Casuarius sp), elang (Circus sp), alap – alap (Accipiter sp), tetengket (Alcedo sp), belibis (Anas sp), dan cangak (Ardea sp).

TN Wasur merupakan daerah lahan basah dan merupakan tempat yang sangat penting untuk burung burung air di Indonesia, khususnya burung migran dari Australia dan New Zealand yaitu sebagai tempat persinggahan ribuan burung migran asal Australia dan Asia. Daerah-daerah yang sering menjadi habitat burung migran adalah padang rumput, savana, danau Rawa Biru dan pantai Ndalir.

Telah tercatat sebanyak 21 jenis reptil, yaitu 2 jenis buaya (Crocodylus porosus dan Crocodylus novaguineae), 3 jenis biawak (Varanus sp), 4 jenis kura-kura, 5 jenis kadal (Mabuya sp), 8 jenis ular (Candoidae, Liasis, Phyton) dan 1 jenis bunglon (Calotus jutatas). Sedangkan jenis katak yang tercatat hanya 3 jenis yaitu katak pohon (Hylla crureelea), katak pohon irian (Litoria infrafrenata) dan katak hijau (Rana macrodon). Pada kawasan ini terdapat 39 jenis ikan dari 72 jenis yang diperkirakan ada, dan 32 jenis diantaranya terdapat di danau Rawa Biru dan 7 jenis terdapat di sungai Maro. Informasi jenis-jenis serangga dalam kawasan TN Wasur masih belum banyak diperoleh, namun telah tercatat sebanyak 48 jenis, diantaranya rayap (Tumulitermis. sp dan Protocapritermis sp), kupu-kupu (Ornithopera priamus), dan semut (Fomicidae, Nyptalidae, Pieridae). Selain itu, terdapat juga jenis-jenis eksotik, antara lain :

a. Sapi (Bos taurus Linnaeus,1758); keberadaannya di dalam TN Wasur terutama di sekitar Desa Tomerau. Sistem pengembalaan dengan cara melepas di luar zona pemukiman telah memberikan dampak negatif terhadap perlindungan, pengawetan dan pelestarian flora fauna endemik, terutama tingkat persaingan konsumsi pakan dan air serta mempercepat penyebaran biji-biji tumbuhan eksotik yang mengancam ekosistem taman nasional.

b. Rusa timor (Cervus timorensis de Blainville, 1882); merupakan pesaing bagi satwa endemik terutama jenis mamalia berkantung kangguru, serta kesukaannya terhadap jenis rumput buluh/kasim (Phragmites karka) di sepanjang sungai dan badan air mengakibatkan ekosistem sungai menjadi dangkal sehingga mengurangi debit air.

(40)

c. Anjing (Canis lupus familiaris); hidupnya semi liar dan menjadi hewan karnifora pemakan satwa-satwa endemik.

D. Sosial Ekonomi Dan Budaya Masyarakat

Zona pemukiman Balai TN Wasur didiami oleh suku Marind Sendawi Anim dengan sub suku Marori Men-Gey, Kanume, Yeinan, dan Marin. Seiring dengan perkembangan daerah beberapa suku dari luar masuk dan bermukim di dalam kampung – kampung tersebut. Kondisi ini dimulai sejak adanya transmigrasi yang ditempatkan oleh pemerintah di kampung sota sebelum berdirinya TN Wasur. Selain itu, diprediksikan adanya kawin campur/asimilasi antar suku. Suku pendatang yang telah lama tinggal berbaur bersama penduduk asli antara lain : suku jawa, bugis, makasar, buton, kei dan muyu, serta biak.

Suku marind hidup dari berburu dan meramu, mengambil dari alam secukupnya. Mereka akan membangun bevak di hutan dan berburu sampai mereka mendapatkan barang untuk dikonsumsi. Kepala keluarga akan membawa seluruh keluarga untuk berburu. Saat ini, masyarakat mengalami pergeseran paradigma yaitu berburu memiliki tujuan ganda, untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan. Hal ini karena konsumtif telah masuk pada tatanan kehidupan mereka. Transmigrasi telah masuk ke Merauke yaitu sebelum TN Wasur terbentuk. Sumber daya alam yang biasanya diperjual-belikan adalah : walabi (Macropus agilis), Rusa (Cervus timorensis), Cakar ayam (Gleichenia linearis), Sarang semut (Myrmecodia pendans), Buaya (Crocodilus sp.), Kasuari (Casuarius sp.), Babi hutan (Sus sp.), Tuban (Bandicoot sp.), Ular patola (Phyton sp), Ikan Kakap dan Arwana, Nephentes Sp.

(41)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Habitat

Habitat Walabi lincah (M.agilis) dan rusa timor (C. timorensis) umumnya di daerah savana. BTNW (1999) menyebutkan bahwa luas daerah savana di TNW sekitar 79.691 ha atau 26 % dari luas TN Wasur. Aktivitas walabi dan rusa sangat dipengaruhi oleh kondisi vegetasi habitat dimana fungsi dari habitat bukan hanya sebagai penyedia pakan tetapi juga sebagai penyedia air dan cover. Penggunaan habitat sangat tergantung pada kemampuan daya dukung lingkungan untuk menunjang kebutuhan cover, pakan dan air.

Gambar 8. Peta Zonasi Kawasan TN Wasur

(Sumber : Direktorat Jenderal PHKA - Balai Taman Nasional Wasur)

Berdasarkan pembagian zonasi dalam kawasan TN Wasur daerah Savana Campuran Udi-Udi termasuk dalam zona pemanfaatan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) III Wasur. Areal kawasan yang menjadi daerah penelitian seluas 47,31 ha (savana 41,98 ha dan daerah ekoton 5,34 ha). Luasan ini ditentukan berdasarkan pengukuran dengan menggunakan GPS dalam daerah cakupan pengambilan data. Analisis vegetasi dilakukan pada daerah yang merupakan jalur

(42)

pengamatan dan memotong (tegak lurus) ekoton. Savana campuran udi-udi mempunyai vegetasi yang relatif homogen karena itu analisis vegetasi dilakukan pada satu jalur. Hasil analisis vegetasi pada savana dan ekoton yang didapat menunjukkan adanya dominansi yang hampir sama oleh jenis tertentu yaitu Eucalyptus sp, hal ini dapat terlihat dari nilai INP. Hasil dari analisis vegetasi di savana campuran udi-udi dan daerah ekoton dapat dilhat pada tabel 5 dan tabel 6.

Tabel 5. Hasil Analisis Vegetasi di Savana Campuran Udi-udi

Daerah savana campuran udi-udi untuk tingkat tumbuhan bawah didominasi oleh peya (Sporobolus diander) 87,79% dan wang (Rhynchelytrum repens) 54,89%. Tingkat semai tidak ditemukan di sepanjang jalur analisis vegetasi, pada tingkat pancang hanya ditemukan 1 jenis yaitu bush lapang (Eucalyptus alba). Jenis yang mendominasi pada tingkat tiang adalah besi lapang (Eucalyptus foelscheana) sebesar 181,31% dan pada tingkatan pohon juga didominasi oleh besi lapang (Eucalyptus foelscheana) dengan INP 168,43%.

Tingkat Nama lokal Nama ilmiah KR

(%) FR (%) DR (%) INP (%) Tumbuhan bawah

Wang Rhynchelytrum repens 24.74 30.77 - 55.51 Peya Sporobolus diander 58.47 30.77 - 89.24 Kantung semar Nepenthes sp 3.00 15.385 - 18.38 Paku-pakuan Centipeda minima 1.35 7.69 - 9.04 Ngourong mbreng Melastoma polyanthum 0.75 7.69 - 8.44

- Cyperus brevifolius 11.69 7.69 - 19.39

Semai - - - - - -

Pancang Bush lapang Eucalyptus alba 100 100 - 200 Tiang Besi lapang Eucalyptus foelscheana 71.43 41.67 68.21 181.31

Bush merah Melaleuca cajuputi 7.14 16.67 7.10 30.91 Bush lapang Eucalyptus alba 10.71 25.00 12.08 47.80 Akasia/rahai Acacia sp 3.57 8.33 3.21 15.11 Kayu Putih Asteromirtus simpiocarpa 7.14 8.33 9.39 24.87 Pohon Besi lapang Eucalyptus foelscheana 68.18 41.67 58.59 168.43

Bus merah Melaleuca cajuputi 13.64 25.00 24.58 63.22 Bush lapang Eucalyptus alba 9.09 16.67 11.24 36.99 Akasia Acacia sp 9.09 16.67 5.59 31.35

(43)

Tabel 6. Hasil Analisis Vegetasi di Daerah Ekoton (Savana Campuran dan Hutan Campuran)

Tingkat Nama lokal Nama ilmiah

KR (%) FR (%) DR (%) INP (%) Tumbuhan bawah

Peya Sporobolus diander 73.61 26.32 - 99.92 Awoeyiu Eleocharis retroflexa 3.59 10.53 - 14.12 Palala gilgil Hedyotis sp 2.87 21.05 - 23.93 Ngourong mbreng Melastoma polyanthum 1.26 5.26 - 6.52

Cyperus brevifolius 2.33 10.53 - 12.86 Konnggonnem Sida acuta 0.90 5.26 - 6.16 Wang Rhynchelytrum repens 12.57 5.26 - 17.83 Omasa Cassyta filliformisa 0.72 5.26 - 5.98 Kororow Cyperus pygmaeus 0.54 5.26 - 5.80 Paku-paku Centipeda minima 1.62 5.26 - 6.88 Semai

Besi Lapang Eucalyptus foelscheana 73.33 50.00 - 123.33 Rahai Acacia sp 24.44 40.00 - 64.44 Bush merah/Wom Melaleuca cajuputi 2.22 10.00 - 12.22 Pancang

Besi Lapang Eucalyptus foelscheana 44.44 20.00 - 64.44 Gulogul Eucalyptus sp 33.33 20.00 - 53.33 Rahai Acacia sp 11.11 40.00 - 51.11 Kalwasinggo Vitrifolia var 11.11 20.00 - 31.11

Tiang

Besi lapang Eucalyptus foelscheana 40.00 28.57 42.67 111.24 Gulogul Eucalyptus sp 10.00 14.29 8.06 32.35 Pohon Obor Banksia dentata 30.00 28.57 33.45 92.02 Kayu Putih Asteromirtus simpiocarpa 20.00 28.57 15.82 64.39 Pohon

Besi lapang Eucalyptus foelscheana 62.50 41.67 60.44 164.60 Bush merah/Wom Melaleuca cajuputi 4.17 25.00 3.67 32.84 kayu Putih

Asteromirtus

simpiocarpa 25.00 16.67 33.00 74.66 Akasia/Rahai Acacia sp 4.17 8.33 2.89 15.39 Pojor Lophastemon lactifluus 4.17 8.33 4.15 16.65

Hasil analisis vegetasi di daerah ekoton antara savana campuran udi-udi dan hutan campuran, juga didominansi oleh peya pada tingkat tumbuhan bawah yang mempunyai nilai INP 99,92%. Jenis yang mendominasi pada tingkat semai, pancang, tiang dan pohon adalah besi lapang (Eucalyptus foelscheana) dengan nilai INP 123,33%; 64,44%; 111,24%; dan 164,60%.

Jika dibandingkan dengan hasil penelitian Suprayitno (2007) di savana murni Ukra besar dan ukra kecil TN Wasur didominasi famili cyperaceae, sedangkan komunitas vegetasi yang mendominasi savana campuran Udi-udi didominasi famili Poaceae. Komunitas vegetasi dominan di savana campuran Udi-udi sama dengan tumbuhan bawah yang mendominasi di Taman Buru Gunung

(44)

Marsigit –Kareumbi Jawa Barat oleh Priyono (2007) yaitu Poaceae. Taman buru ini merupakan salah satu habitat rusa.

Awalnya savana udi-udi merupakan savana murni seperti halnya savana yang lain yang ada di TN Wasur (misalnya Ukra, Maar dan Kankania) namun telah terjadi perubahan habitat yaitu adanya invasi Eucalyptus sp. Dari hasil analisis vegetasi dapat dilihat bahwa jenis tumbuhan dari tingkat semai sampai ke pohon didominasi oleh besi lapang (Eucalyptus foelscheana) ini merupakan salah satu bukti terjadi invasi jenis lain di daerah savana yaitu Eucalyptus sp. Menurut penelitian Mukhtar (1996) di Taman Buru Pulau Moyo Nusa tenggara timur rusa juga mempunyai habitat di padang rumput terinvasi oleh Eupatorium pallesceens. Dilaporkan oleh Tim PSL Universitas Cendrawasih (1998) dalam Rianto (2000) bahwa pada TN Wasur, walabi lincah dapat dijumpai di daerah-daerah seperti pada hutan campuran, dimana habitat ini merupakan daerah yang relatif bergelombang, tidak tergenang pada musim hujan, sehingga kering sepanjang tahun. Jenis vegetasi yang dominan di daerah ini adalah Eucalyptus spp, Melaleuca, Baringtonia denata dan alang-alang (Imperata cylindrica). Pada musim hujan daerah ini dijadikan tempat berkumpul dan berlindung. Satwa ini juga biasa dijumpai di daerah savana yang merupakan daerah padang rumput tergenang pada musim hujan dan relatif kering pada musim kemarau. Jenis vegetasi dominannya adalah rumput kasim (Phragmites karka), alang-alang (Imperata cylindrica), gegirinting (Cynodon dactylon) dan rumput lapangan. Daerah ini biasanya digunakan sebagai tempat bermain dan makan.

Gambar 9. Perbandingan kondisi habitat antara savana murni (savana Maar) dan savana campuran (savana udi-udi)

Gambar

Gambar 1. (a) Walabi lincah(M. agilis) (b) Rusa Timor (C.timorensis)  A.2 Morfologi dan Anatomi
Tabel 1. Perkembangan Tanduk Rusa Jantan (Cervus timorensis)
Tabel 2. Jenis-jenis tumbuhan pakan Rusa timor dan bagian-bagian yang dimakan  di TN Wasur, Papua
Tabel 3. Perbedaan ukuran wilayah jelajah antara M. agilis jantan dan betina pada  musim  kemarau  dan  musim  penghujan  di  East  Point  Reserve  Key  Centre for Tropical Wildlife Management (Stirrat, 2003)
+7

Referensi

Dokumen terkait

diselesaikan dosen di akhir percakapan (baris 1) mengisyaratkan adanya usaha mahasiswa untuk mengambil alih giliran dengan melakukan interupsi. Selain bentuk meminta

Relaksasi afirmasi merupakan teknik gabungan antara relaksasi dan afirmasi yang dapat menurunkan emosi negatif dengan menanamkan kalimat afirmasi ke dalam pikiran alam bawah sadar

Karakteristik yang di alami ditahap penerimaan, didapatkan hasil yaitu mampu menghadapi kenyataan sebanyak 96,67%, mampu menerima kenyataan sebanyak 96,67%,

Oleh karena itu, didalam pengembangan agribisnis, terutama pada produk segar, haruslah dipertimbangkan beberapa hal sehubungan dengan teknologi penanganan pasca panen, baik

Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan sistem kendali otomatis yang mampu mengatur penjadwalan irigasi tetes dengan menggunakan mikrokontroler yang bekerja

Hasil analisis keragaman (ANOVA) menunjukan bahwa perbedaan persentase pemberian pakan fermentasi, pakan kombinasi dan pakan alami berpengaruh nyata terhadap kepadatan puncak

54 1-DA Universitas Gadjah Mada KRCI Berkaki 3 55 ICON UNISI 09 Universitas Islam Indonesia KRCI Berkaki 3 56 Ra The Det Universitas Islam Sultan Agung KRCI Berkaki 3 57

Pada proses penentuan matriks esensial terdapat tiga solusi untuk metode 6-point yang selanjutnya dilakukan proses konstrain untuk mendapatkan nilai final dari matriks esensial;