BAB 4 HASIL PENELITIAN. program Salam dari Desa di LPP TVRI. Penelitian dilaksanakan di LPP TVRI

Teks penuh

(1)

76

HASIL PENELITIAN

4.1 Penyajian Data Penelitian

Bardasarkan tujuan utama penelititan, yaitu menganalisis proses produksi program “Salam dari Desa” di LPP TVRI . Penelitian dilaksanakan di LPP TVRI Stasiun Pusat dengan cara observasi, wawancara dan studi kepustakaan, yang akhirnya didapatkan hasil informasi berupa data. Data-data yang diperoleh dari data primer yaitu dengan melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dijabarkan melalui panyajian data penelitian. Penyajian tersebut berupa gambaran umum dari narasumber, yaitu antara lain :

Key informant

1. Hendrajit Aryaputra selaku Produser program “Salam dari Desa” yang bertanggung jawab atas seluruh kegiatan dan hasil dari program “Salam dari Desa” tersebut. Produser program “Salam dari Desa” bertugas sebagai orang yang menyiapkan materi “Salam dari Desa” serta mengawasi berjalannya proses produksi “Salam dari Desa” mulai dari pra produksi, produksi, hingga proses pasca produksi.

Infomant

1. Sus Irianto selaku Koordinator Liputan program “Salam dari Desa” yang bertanggung jawab terhadap pengaturan serta pembagian tugas reporter dan kameramen di lapangan. Koordinator Liputan bertugas sebagai orang yang

(2)

memberikan penugasan kepada para reporter dan kameramen, untuk meliput berbagai kegiatan, sesuai dengan agenda acara.

2. Roni Ganefo selaku Koordinator Daerah program “Salam dari Desa” yang bertanggung jawab atas seluruh kegiatan yang berhubungan dengan Stasiun TVRI Daerah. Korda bertugas sebagai orang yang mengumpulkan berita-berita yang dikirim dari stasiun-stasiun daerah serta berkoordinasi dengan stasiun daerah apabila ada materi dari pusat untuk di liput di daerah tersebut. 3. Muhammad Reza Ardiansyah selaku Editor program “Salam dari Desa”

yang bertanggung jawab atas hasil dari materi berita yang akan ditayangkan. Editor bertugas sebagai orang yang menyunting video baik yang datang dari daerah maupun dari tim liputan yang bertugas. Editor yang mengedit serta menyusun materi-materi sesuai dengan rundown yang diberikan oleh Produser hingga menjadi materi berita yang ditayangkan pada program “Salam dari Desa”.

4.2 Pengolahan Terhadap Data Yang Terkumpul

Pengolahan terhadap data yang diperoleh dari objek penelitian ini merupakan hasil dari wawancara terhadap narasumber, observasi, serta hasil dari tinjauan pustaka yang dipadukan dengan teori-teori yang telah diuraikan sebagai acuan bagi proses analisa program “Salam dari Desa” di LPP TVRI.

Program “Salam dari Desa” merupakan salah satu program berita unggulan yang ada di LPP TVRI. Tidak hanya menjadi program unggulan, tetapi program “Salam dari Desa” juga merupakan suatu program berita yang unik karena disamping penyajian

(3)

beritanya yang santai namun aktual, informasi yang disuguhkan dalam program “Salam dari Desa” pun sangat jarang ditemui di kalangan pemberitaan Indonesia. Dimana yang menjadi isi atau content berita dari program “Salam dari Desa” itu sesuai dengan yang disamapaikan oleh Produser “Salam dari Desa” adalah

HA:

“….materi-materi dari pedesaan itu biasanya masalah pertanian, perkebunan, dan lingkungan desa, ….itu yang kita utamakan.”

Adapun materi atau content dari program “Salam dari Desa” yang merupakan masalah pertanian, perkebunan dan lingkungan desa. Hal tersebut sesuai dengan yang menjadi target audience bagi program “Salam dari Desa” yang dimana mayoritas adalah masyarakat pedesadaan seperti petani, pengrajin dan lain-lain.

HA:

“Target audience-nya adalah petani, masyarakat desa, pengrajin, dan masyarakat-masyarakat desa aja. Lebih kearah sana, bukan kota-kota besar.”

Program “Salam dari Desa” dikategorikan kedalam program informasi sebab, sesuai dengan aspek-aspek informasi yang harus di penuhi oleh sebuah berita menurut Morissan, yaitu antara lain: (Morissan, 2010:8-9)

− Aspek Penting

Informasi dapat dikatakan penting apabila informasi tersebut dapat memberikan pengaruh atau memiiliki dampak kepada pada penonton. Informasi yang memberikan pengaruh atau memiliki dampak kepada penonton adalah informasi yang bernilai berita.

(4)

− Aspek Menarik

Berita yang menarik adalah jika informasi yang disampaikan itu mampu membangkitkan rasa kagum, lucu/humor, atau informasi mengenai pilihan hidup dan mengenai sesuatu atau seseorang yang bersifat unik dan/atau aneh.

Berdasarkan hasil penelitian, program “Salam dari Desa” sudah termasuk ke dalam program berita karena telah memenuhi aspek-aspek informasi tersebut. Aspek penting yang termasuk kedalam aspek-aspek informasi bagi program “Salam dari Desa” antara lain adalah informasi mengenai pertanian dan perkebunan, karena materi tersebut sesuai dengan target audience dalam program “Salam dari Desa” itu sendiri yang dimana mayoritas masyarakat desa seperti petani, pengrajin, dan lain-lain. Informasi mengenai mengenai pertanian dan perkebunan tersebut juga dapat memberikan dampak serta pengaruh yang dapat dirasakan secara langsung bagi para pemirsa “Salam dari Desa”.

Sedangkan yang menjadi aspek menarik bagi program “Salam dari Desa” itu sendiri antara lain adalah informasi mengenai lingkungan desa. Hal tersebut masuk kedalam aspek menarik, karena informasi mengenai lingkungan desa merupakan informasi yang sifatnya sangat dekat dengan kehidupan para pemirsa “Salam dari Desa”. Kedekatan tersebut mampu menimbulkan rasa ketertarikan bagi para pemirsa yang menjadi target audience bagi program “Salam dari Desa” itu sediri.

Program “Salam dari Desa” merupakan program berita hard news dengan bentuk berita feature. Sesuai dengan yang telah dibahas oleh Morissan dalam bukunya yang berjudul “Jurnalistik Televisi Mutakhir”, yaitu Berita keras atau hard news adalah segala

(5)

informasi penting dan menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karenan sifatnya yang harus segera ditayangkan agar dapat diketahui khalayak audien secepatnya. Peran televisi sebagai sumber utama hard news bagi masyarakat cenderung untuk terus meningkat. Dalam hal ini berita keras dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk berita yaitu: straight news, features, dan infotainment.

a.Straight News

Straight News berarti berita “langsung” (straight), maksudnya suatu berita yang singkat (tidak detail) dengan hanya menyajikan informasi terpenting saja yang mencakup 5W+1H (who, what, where, when, what, dan how) terhadap suatu peristiwa yang diberitakan. Berita jenis sangat terikat waktu (deadline) karena informasinya sangat cepat basi jika terlambat disampaikan kepada audien.

b.Feature

Feature adalah berita ringan namun menarik. Pengertian “menarik” di sini adalah informasi yang lucu, unik, aneh, menimbulkan kekaguman, dan sebagainya. Pada dasarnya berita-berita semacam ini dapat dikatakan sebagai soft news karena tidak terlalu terikat dengan waktu penayangan, namun karena durasinya singkat dan menjadi bagian dari program berita, maka feature masuk ke dalam kategori hard news. Namun adakalanya suatu feature terkait dengan suatu peristiwa penting, atau dengan kata lain terikat dengan waktu, dan karena itu harus segera disiarkan dalam suatu program berita. Feature semacam ini disebut news feature, yaitu sisi lain dari suatu berita straight news yang biasanya lebih menekankan pada sisi human interest dari suatu berita.

(6)

c. Infotainment

Kata “infotainment” berasal dari dua kata, yaitu information yang berarti informasi dan entertainment yang berrti hiburan, namun infotainment bukanlah berita hiburan atau berita yang memberikan hiburan. Infotainment adalah berita yang menyajikan informasi mengenai kehidupan orang-orang yang dikenal masyarakat (celebrity), dan karena sebagian besar dari mereka bekerja pada industri hiburan, seperti pemain film/sineteron, penyanyi dan sebagainya, maka berita mengenai mereka disebut juga dengan infotainment. (Morissan, 2010:25)

Berdasarkan hasil olahan data yang telah dilakukan, Program “Salam dari Desa” termasuk kedalam kategori hard news dengan bentuk berita feature karena, program “Salam dari Desa” merupakan program berita yang menyuguhkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di daerah-daerah pedesaan di Indonesia dengan mengangkat sisi human interest yang meliputi aspek sosial dan kesejahteraan masyarakat perdesaan tersebut. Program “Salam dari Desa” di kategorikan kedalam jenis berita feature hard news dan bukan soft news, karena sesuai dengan yang menjadi target audiens yaitu masyarakat daerah atau masyarakat pedesaan di Indonesia, content dari program “Salam dari Desa” memiliki unsur kepentingan dan sangat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat pedesaan tersebut.

Content dari “Salam dari Desa” tidak hanya berasal dari peristiwa yang terjadi di daerah saja, namun ada juga yang mengangkat isu nasional. Isu-isu tersebut dapat berupa pembicaraan Presiden mengenai kebijakan-kebijakan dalam sektor pertanian, keterangan pangan atau informasi-informasi mengenai fluktuasi terhadap harga pangan.

(7)

HA:

“…,seperti waktu itu Presiden membicarakan masalah keterangan pangan, ya kita ambil, berarti kan itu nasional, cuman berhubungan dengan Salam dari Desa.”

Dalam program “Salam dari Desa” terdapat beberapa segment yang diantaranya adalah Warta Desa, dimana merupakan segment utama dalam program “Salam dari Desa”, selajutnya ada Profil Desa, Info Komuditas, Mozaik Desa, Sambung Rasa, Tips, Pernik Desa dan Humant Interest. Segment-segment tersebut ditayangkan secara bergantian sesuai dengan materi yang dikirim dari daerah atau yang telah ada.

HA:

“Ada Mozaik Desa, ada pernak-pernik, terus ada tips, misalnya gimana kita memilih madu yang baik, membedakan madu yang palsu, nah itu tips seperti itu, kalau pernak pernik itu adalah keseharian desa yang sudah turun-menurun biasanya, misalnya ada budaya ngelarung, gitu, ngelarung apa gitu untuk masyarakat petani misalnya, atau pun nelayan, gitu. Terus ada segment utamanya, Warta Desa, itu adalah hardnews-nya dari berita program salam dari Desa, trus Human Interest, trus ada Info Komuditas, itu kita dapat dari departemen perdagangan, mereka menyuplai ke kita, mereka memberikan data-data harga itu, trus mereka juga ada website perdagangan kita juga bisa ambil dari situ.”

Segment “Warta Desa” merupakan segment utama yang menampilkan sisi berita penting dan mengedepankan aktualitas. Segment ini menyuguhkan peristiwa-peristiwa penting di daerah pedesaan seperti, berita tentang gejala serangan hama wereng, tanah longsor, laporan cuaca, pemilihan kepala desa, pembangunan desa dan sebagainya. Sedangkan segment- segment lainnya, mengangkat sisi humant interest sebagai isi berita. Seperti “Profil Desa” dan “Mozaik Desa”, dimana didalam segment tersebut mengangkat berita mengenai profil-profil desa yang berprestasi. Perbedaan antara

(8)

segment “Profil Desa” dan “Mozaik Desa” terletak pada fokus bahasan yang terdapat didalam content atau isi materi segment tersebut. Pada segment “Profil Desa” fokus materinya hanya seputar penyajian profil lengkap suatu daerah berprestasi saja, sedangkan “Mozaik Desa” lebih menitikberatkan pada kelebihan-kelebihan bagi prestasi daerah tersebut.

Untuk segment “Pernik Desa”, isi atau content yang terdapat pada segment tersebut hampir sama dengan “Profil Desa” dan “Mozaik Desa”, namun pada segment “Pernik Desa” lebih membahas kearah keunikan suatu daerah pedesaan bukan pada prestasi daerah. Pada segment “Tips” yang menjadi materi berita segment ini berupa kiat-kiat atau informasi yang bermanfaat dan dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat pedesaan. Sedangkan segment “Sambung Rasa”, isi atau content-nya merupakan lanjutan atau pembahasan secara lebih mendetail dari materi berita pada segment “Tips”. Khusus pada segment “Info Komuditas”, informasi yang disuguhkan dalam segment ini merupakan laporan-laporan atau catatan-catatan yang diperoleh dari departemen perdagangan mengenai fluktuasi perkembangan harga pada sektor pangan.

Segment-segment tersebut menjadikan content program “Salam dari Desa” menjadi lebih variatif dan inovatif. Karena segment itulah program “Salam dari Desa” menjadi lebih di minati oleh kalangan pemirsa “Salam dari Desa” atau yang biasa disapa “MITRA SALAM DARI DESA”. Dalam menentukan content berita yang layak untuk ditayangkan bagi program “Salam dari Desa”, Bapak Hendrajit Aryputra selaku Produser program “Salam dari Desa” mejelaskan mengenai tolak ukur sebuah berita yang layak untuk ditayangkan dalam program “Salam dari Desa”, yaitu mengandung unsur 5W+1H serta harus cover both sides (memiliki keseimbangan).

(9)

HA:

“….tolak ukurnya adalah yang penting 5W 1H masuk unsur itu, unsur penulisan berita dan yang paling utama adalah mengangkat isu-isu kedaerahan tapi memotivasi orang, misalnya seorang pengrajin yang bagus ataupun sebuah desa yang menjadi juara di sebuah kabupaten atau provinsi untuk memotivasi masyarakatnya, bekerja sama, solid, jadi ada hal-hal seperti itu yang harus kita bangkitkan, jadi menjadi contoh bagi orang lain. Kita kan sebagai media publik, harus cover both side kita juga sebagai kontrol sosial pemerintah, misalnya jalan rusak di desa mana gitu, ya kita kritisi dalam hal ini ke Pemerintah atau Pemerintah Daerah agar dibangun. Tidak hanya kita mengambil sisi-sisi positifnya saja, tetapi negatifnya juga untuk pembelajaran.”

Hal yang disampaikan oleh Produser “Salam dari Desa” tersebut sesuai dengan unsur-unsur berita seperti yang telah disamapaikan oleh Usman KS: (Usman KS, 2009:32)

Dalam jurnalistik media cetak, kita mengenal unsur-unsur berita sebagai 5 W (Who, What, When, Where, Why) + 1 H (How). Naskah atau narasi di media cetak harus mengandung keenam unsur berita tersebut. Namun demikian, dalam dunia jurnalistik televisi 5W + 1H tidak harus seluruhnya terkandung dalam narasi atau naskah berita. Unsur berita yang tidak selalu terdapat dalam narasi berita televisi adalah when dan how.

Selain 5W+1H, tolak ukur yang lainnya yaitu “harus cover both sides” juga sesuai dengan prinsip jurnalistik yang dinyatakan oleh P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) bahwa, Stasiun penyiaran harus senantiasa mengindahkan prinsip-prinsip jurnalistik yang terdiri atas tiga prinsip yaitu: 1) prinsip akurasi; 2) prinsip keadilan; dan 3) prinsip ketidakberpihakan (imparsialitas). (Morissan, 2010:249)

(10)

Dalam memproduksi suatu program berita agar menghasilkan program yang layak ditauangkan bagi stasiun televisi, maka dibutuhkan tahap-tahap yang meliputi tahap pra produksi, produksi hingga tahap pasca produksi. Tahap inilah yang akan menjdi langkah kesuksesan dari suatu program berita agar tayangan yang diproduksinya mampu dinikmati oleh pemirsanya.

4.2.1 Tahap Pra Produksi Program “Salam dari Desa”

Dalam program “Salam dari Desa” di LPP TVRI, tahap ini merupakan tahap yang sangat penting, sebab jika tahap ini dilaksanakan dengan rinci dan baik, sebagian pekerjaan dari produksi yang direncanakan sudah selesai. Tahap pra produksi meliputi tiga bagian, sebagai berikut:

a. Penemuan Ide

Tahap ini dimulai dalam suatu rapat redaksi, Produser beserta bagian redaksi melakukan rapat untuk merancang bahan untuk materi program “Salam dari Desa” yang akan di siarkan. Menurut observasi yang dilakukan peneliti bahwa diketahui ada beberapa rapat yang dilakukan oleh redaksi. Namun tidak ada ketentuan jadwal yang ditetapkan oleh tim produksi dan redaksi “Salam dari Desa”. Hal tersebut juga disampaikan oleh Endan Syafardan selaku Produser Eksekutif bagian pemberitaan di LPP TVRI yang didapat dalam forum diskusi saat prakter kerja lapangan di ruang redaksi bagian pemberitaan LPP TVRI.

(11)

ES:

“Ketentuannya, kalau di kita rapat itu kan tujuannya merancang bahan yang mau kita siarkan, iya kan, itu intinya rapat redaksi. Jadi berapa kali rapat redaksi dalam sehari, tergantung bahannya masing-masing. Jadi tidak ada ketentuan baku misalnya, rapat redaksi di TVRI harus dua kali sehari, di metro harus lima kali sehari, itu ngak ada ketentuan, tergantung kebutuhan kita masing-masing, kalau di metro itu tiap hari mereka rapat, tiap saat mereka rapat. Jadi tergantungkebutuhan organisasi masing-masing beda-beda. Karena ini operasional jadi tidak harus pasti, setiap ada materi yang harus dibahas ya kita rapatkan. Jadi kalau yang sudah bersifat daily, jadi kita juga tidak perlu terlalu kaku. Yang penting ada saling koordinasi bagi yang terlibat.”

Dalam merancang sebuah bahan materi bagi program “Salam dari Desa” tim redaktur berikut Produser tidak menentukan jadwal yang pasti dalam melakukan rapat redaksi. Koordinasi bisa saja dilakukan dari Produser ke bagian radaktur, Produser ke koordinator daerah atau bisa saja dilakukan dari Produser ke bagian koordinator liputan saja. Jadi tidak harus dalam bentuk rapat.

Dalam tahap ini Produser lah yang sangat berperan penting. Karena, Produser lah yang menentukan ide bagi materi “Salam dari Desa” tersebut. Seperti yang di jelaskan oleh Produser “Salam dari Desa” mengenai tugas Produser dalam proses pra produksi program “Salam dari Desa”.

EH:

“….Sebelum produksi seorang Produser memberikan masukan dan mengajukan liputan kepada pimpinan dalam hal ini manager bahwa di daerah ini ada sesuatu yang bagus untuk diliput. Kita telfon, kita punya kontak person disana, kita telfon apa aja, harusnya kan kita harus datang dulu, hunting gitu, baru kita setting dan shooting, liputan gitu, tapi karena ada stasiun daerah, kita telfon, yang penting kita lihat disana, kita lihat koran, kita lihat

(12)

internet ada yang bagus, kita telfon atau kita ajukan ke pimpinan untuk dibuatkan liputan disana dengan biaya dari kantor.”

b. Perencanaan

Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule), penyempurnaan naskah, pemilihan crew-crew yang bertugas, lokasi dan peralatan. Dalam program “Salam dari Desa” yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah antara lain:

1. Pengumpulan materi berita yang dikirim dari Daerah. 2. Menyusun rundown program “Salam dari Desa”. 3. Pembuatan Naskah.

4. Pembetukan tim liputan.

Pertama, yang dilakukan pada tahap perencanaan dalam program “Salam dari Desa” adalah pengumpulan materi berita yang biasanya telah dikirim dari stasiun TVRI Daerah. Materi-materi ini biasanya sudah dalam bentuk paket berita. Pengumpulan berita dilakukan oleh Koordinator Daerah sesuai dengan yang disampaikan oleh Bapak Roni Ganefo selaku Koordinator daerah program “Salam dari Desa”.

RG:

“…tugas korda itu berhubungan langsung dengan stasiun-stasiun daerah, jadi kita yang mengumpulkan berita-berita yang dikirim dari daerah,….”

Pengiriman materi berita tersebut dilakukan setiap hari. Proses pengirimannya pun diperoleh melaui FTP Server (File Transfer Protocol),

(13)

yang dimana FTP itu sediri merupakan salah satu protokol Internet yang paling awal dikembangkan, dan masih digunakanhingga saat ini untuk melakukan pengunduhan (download) dan penggugahan (upload) berkas-berkas komputer antara klien FTP dan server FTP.

RG:

“Proses pengiriman itu melalui FTP kemudian masuk ke server, dari server kami yang mengumpulkan materi tersebut. Proses pengiriman dilakukan setiap hari. Selanjutnya hasil dari rapat redaksilah yang menentukan berita tersebut dapat ditayangkan.”

Yang kedua adalah penyusunan rundown program “Salam dari Desa”. Penyusunan rundown dilakukan oleh Redaktur “Salam dari Desa” dan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Produser. Rundown tersebut berguna sebagai pedoman awal dalam melakukan kegiatan produksi. Rundown juga berguna sebagai garis besar penyusunan berita yang dilakukan oleh Editor pada tahap pasca produksi.

Selanjutnya adalah pembuatan naskah, pembuatan naskah juga disusun oleh Redaktur “Salam dari Desa”. Dalam pembuatan naskah biasanya para penulis berita televisi menerapkan suatu formula penulisan berita televisi selain unsur 5W+1H, yaitu easy listening formula. Formula untuk menuju easy listening tersebut bermacam-macam, namun salah satu yang mudah diingat dan diaplikasikan adalah formula yang diketengahkan oleh Soren H. Munhoff dalam “Five Star Approach To News Writing” dengan akronim ABC-SS yaitu singkatan dari Accurasy (tepat), Brevity

(14)

(singkat), Clarity (jelas), Simplicity (sederhana), Sincerity (jujur). (Muda, 2008:48)

Yang terakrir dalam tahap perencanaan adalah pembentukan tim liputan. Pembentukan tim liputan dilakukan oleh Koordinator Liputan. Tugas Koordinator liputan itu sendiri adalah menentukan pembagian tugas kepada reporter dan kameramen di lapangan. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Sus Irianto selaku Koordinator Lapangan dalam program “Salam dari Desa”.

SI:

“Tugas koordinator liputan itu adalah memberikan penugasan kepada para reporter dan kameraman, untuk meliput berbagai kegiatan, sesuai agenda acara. Jadi kita yang ngatur, kalau ada jadwal untuk liputan dari redaksi, kita yang menentukan siapa reporter dan kameramen yang akan dikirim. Tapi korlip disini tugasnya bukan cuma untuk Salam dari Desa, tapi juga untuk semua program berita.”

Tahap ini tidak selalu digunakan dalam kegiatan produksi “Salam dari Desa”, karena mayoritas materi program “Salam dari Desa” diperoleh dari stasiun daerah, maka pembetukan tim liputan hanya dilakukan apabila ada suatu berita yang harus diliput tetapi tidak ada stasiun TVRI daerah yang berada di daerah tersebut atau adanya peliputan di Jakarta.

c. Pesiapan

Dalam bagian persiapan program “Salam dari Desa”, tahap yang meliputi pengerjaan persiapan berupa pembagian rundown kepada

(15)

masing-masing divisi yang bertugas. Setelah rundown selesai dibuat, masing-masing-masing-masing tim produksi harus memiliki acuan dari kegiatan produksi agar di dalam prosesnya berjalan lancar. Dalam tahap ini masing-masing tim produksi harus saling berkoordinasi dengan produser untuk menentukan agenda kerjanya masing-masing.

Pada tahap pra produksi program “Salam dari Desa” di LPP TVRI terdapat kekuatan serta kelemahan yang berasal dari dalam proses produksi program tersebut dan peluang serta ancaman dari luar tahap pra produksi, yaitu antara lain:

Tabel 4.1

Analisis SWOT Tahap Pra Produksi Analisis SWOT Tahap pada Tahap Pra Produksi Kekuatan

(Strenghts)

Rapat redaksi dalam menetukan materi pemberitaan di laksanakan secara fleksibel, sehingga Tim Redaksi dapat menggali ide-ide kreatifnya berdasarkan temuan dilapangan.

Kelemahan (Weakness)

Beberapa stasiun TVRI Daerah tidak menunaikan kewajibannya, yaitu mengirimkan materi berita secara utuh kepada TVRI stasiun Pusat, sehingga materi berita yang ditayangkan tidak komprehensif.

Peluang

(Opportunities)

Dalam mengumpulkan materi, selain yang diperoleh dari daerah, Tim Redaksi TVRI stasiun Pusat dapat memberi

(16)

masukan kepada TVRI stasiun Daerah untuk memperkaya konten materi berita.

Ancaman (Threads)

Riset yang tidak kompeten mengakibatkan kekurangan materi berita, sehingga konten berita tidak memadai.

4.2.2 Tahap Produksi Program “Salam dari Desa”

Setelah perencanaan dan persiapan selesai dengan baik dan benar, langkah selantunya adalah tahap produksi. Kegiatan produksi program “Salam dari Desa” banyak dilakukan di daerah. Untuk mendapatkan materi berita, TVRI stasiun Daerah sangat berperan penting dalam menyukseskan program yang bersifat daily ini. Program ini tidak akan berhasil apabila tidak adanya kontribusi dari TVRI stasiun daerah. Karena dalam pengerjaan produksi, TVRI stasiun Pusat tidak akan memiliki waktu yang cukup dalam menyiapkan materi berita tersebut.

Pada dasarnya TVRI stasiun Pusat sifatnya hanya menyiarkan, sedangkan stasiun TVRI daerahlah yang melakukan eksekusi dalam tahap produksi program “Salam dari Desa” ini. Tetapi karena beberapa faktor, pertama kurangnya sumber daya manusia di daerah. Kedua tidak seluruh daerah berkontribusi secara utuh dalam kegaiatan produksi program “Salam dari Desa”. Oleh sebab itu, yang mengambil andil dalam melengkapi materi program “Salam dari Desa” adalah tim produksi TVRI stasiun Pusat. Hal tersebut juga disampaikan oleh Bapak

(17)

Roni Ganefo selaku Koordinator Daerah mengenai kendala dalam berkoordinasi dengan stasiun daerah TVRI.

RG:

“Kalau dari yang aku koordinasikan, dari 27 stasiun daerah, paling lima sehari yang berpartisi, yang berfluktuasi lah antara lima ke delapan, delapan ke lima, jadi belum semua stasiun secara maksimal berkontribusi ke Salam dari Desa itu.”

Koordinasi yang dilakukan oleh korda dengan stasiun TVRI Daerah dapat berjalan dengan lancar dikarenakan sudah ada nya keputusan awal dari pertemuan antara Direksi-Direksi dari seluruh stasiun TVRI Daerah sebelum dibuatnya program “Salam dari Desa” tersebut. Konsep awal program “Salam dari Desa” itu sendiri telah disejui oleh seluruh Direksi stasiun TVRI Daerah, sehingga kerjasama antara Koordinator Daerah dengan stasiun TVRI Daerah tercipta dengan baik. Seperti yang disampaikan oleh bapak Roni Ganefo latar belakang terciptanya kerjasama yang baik antara Koordinator Daerah dengan stasiun TVRI Daerah.

RG:

“Latar belakangnya, direksi-deriksi itu sudah bertemu, jadi sudah ditentukan “ini loh format kita, begini…begini…begini”, “oke, kerjakan” ya kerjakan, dan sekarang koordinasinya ke kami disini.”

Selain mengumpulkan materi-materi berita yang telah dikirim oleh stasiun daerah TVRI, Korda juga melakukan kontak secara rutin dengan stasiun daerah TVRI. Kontak rutin tersebut juga dilakukan apabila ada ide-ide materi sesuai dengan hasil putusan rapat redaksi mengenai agenda kerja yang harus

(18)

dilakukan di daerah, sehingga Korda lah yang melakukan konfirmasi langsung kepada stasiun TVRI Daerah yang bersangkutan.

RG:

“….kalau ada materi dari Jakarta, kita juga yang konfirmasi

langsung ke TVRI daerah untuk dibuat liputannya….”

Tahapan selantujnya dalam proses produksi program “Salam dari Desa” adalah peliputan. Tahap peliputan hanya akan dilakukan apabila tidak ada stasiun TVRI pada daerah yang akan diliput. Saat ini, stasiun Daerah TVRI tersebar dihampir seluruh provinsi di Indonesia, kecuali di lima provinsi terbaru, antara lain adalah Bangka Belitung, Banten, Maluku Utara, Papua Barat dan Kepulauan Riau. Untuk itu, apabila ada berita menarik yang harus diliput dari kelima daerah tersebut, maka crew atau tim liputan dari TVRI Stasiun Pusat lah yang dikirim langsung ke daerah yang bersangkutan. Seperti yang di sampaikan oleh Bapak Hendrajit, Produser “Salam dari Desa”.

HA:

“….kita kan ada 27 stasiun daerah, yang tidak ada itu hanya

Bangka Belitung, Banten, Maluku Utara, Papua Barat, ada… jadi ada lima yang gak punya. Jadi yang lainnya ada semua. Jadi kalau ada berita menarik dari kelima daerah itu baru tim Jakarta yang kesana untuk menghemat duit. ….”

Pada tahap ini, Produser ikut terlibat langsung dalam proses peliputan ke daerah-daerah yang dituju. Produser biasanya ditemani oleh tiga sampai empat orang tim liputan, yakni diantaranya adalah kameramen, reporter, dan soundman. Produser bertugas sebagai pengawas serta orang yang memberikan

(19)

pengarahan-pengarahan kepada para crew. Dalam setiap penugasan peliputan, tim tersebut biasanya membawa tiga sampai empat paket liputan sesuai dengan keputusan yang telah direncanakan pada saat pra produksi.

HA:

“Kalau produser itu, mengawasi. Kadang-kadang kita datang ke daerah dengan kameramen, produser, sama soundman, ada pembawa acara biasanya berlima, kadang-kadang berempat, sampai kesana kita liput, minimal biasanya tiga sampai empat paket liputan untuk dibawa kesini. …”.

Pada proses peliputan, tidak semua hal dapat dijadikan materi berita bagi program “Salam dari Desa”. Ada batasan-batasan yang harus diperhatikan oleh para tim liputan dalam menentukan peristiwa-peristiwa yang layak untuk diliput. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Bapak Sus Irianto selaku Koordinator Liputan “Salam dari Desa” mengenai faktor-faktor yang membuat suatu berita layak untuk diliput.

SI:

“Nilai berita, suatu peristiwa yang punya nilai berita yang tinggi atau tidak, apakah berita tersebut punya dampak yang tinggi bagi masyarakat atau tidak, kurang lebih seperti itu.”

Nilai berita tersebut dijelaskan oleh Deddy Iskandar Muda dalam bukunya “JURNALISTIK TELEVISI Menjadi Reporter Profesional”, yang menjelaskan bahwa materi berita memiliki batasan yang merupakan pertimbangan bagi seorang wartawan atau reporter untuk tidak sekedar menulis apa yang dilihat, melainkan harus memperhatikan berbagai pertimbangan agar berita tersebut menjadi menarik untuk ditonton. Materi berita memiliki nilai atau

(20)

bobot yang berbeda antara satu dan lainnya. Nilai berita tersebut sangat bergantung pada berbagai pertimbangan seperti berikut: 1) Timeliness (Ketepatan Waktu), 2) Proximity (Kedekatan), 3) Prominence (Orang yang Terkemuka), 4) Consequence (Akibat), 5) Conflict (Pertikaian), 6) Development (Pembangunan), 7) Dissaster & Crimes (Bencana dan Kriminal), 8) Wheater (Cuaca), 9) Sport (Olah Raga), 10) Human Interest (Ketertarikan Manusia). (Muda, 2008:29-39)

Dengan memperhatikan hal-hal diatas, maka content yang disuguhkan dalam program “Salam dari Desa” telah sesuai dengan kaidah suatu program berita televisi. Selanjutnya, materi-materi yang dikumpulkan akan diproses lebih lanjut pada tahap pasca produksi hingga program tersebut dapat ditayangkan di televisi.

Dalam tahap produksi program “Salam dari Desa” di LPP TVRI terdapat kekuatan serta kelemahan yang berasal dari dalam proses produksi program tersebut dan peluang serta ancaman dari luar tahap produksi, yaitu antara lain:

Tabel 4.2

Analisis SWOT Tahap Produksi Analisis SWOT Tahap pada Tahap Produksi Kekuatan

(Strenghts)

Distribusi stasiun TVRI stasiun Daerah hampir meliputi pelosok nusantara. Di samping itu, masing – masing wilayah mempunyai kekhasan tersendiri yang berpotensi untuk dijadikan bahan peliputan. Seiring dengan hal tersebut, program “Salam dari Desa” berpeluang untuk

(21)

ditayangkan secara berkesinambungan. Kelemahan

(Weakness)

Program “Salam dari Desa” tidak memiliki Tim Peliput yang tetap. Dimana kru tersebut terdiri dari personil yang mempunyai tanggungjawab pada program lainnya. sehingga mengakibatkan beban tugas semakin berat. Implikasinya adalah waktu peliputan program “Salam dari Desa” dikalahkan dengan tugas utama dari masing-masing anggota tim.

Peluang

(Opportunities)

Sebagian besar masyarakat pedesaan adalah petani, sejalan dengan hal tersebut program “Salam dari Desa” melakukan peliputan seputar masalah pertanian. Oleh sebab itu, program “Salam dari Desa” sangat berpeluang menjadi program favorit bagi para pemirsa.

Ancaman (Threads)

Akibat kurangnya riset pada saat pra produksi, terjadi berbagai macam permasalahan yakni, stok gambar terlalu sedikit dan narasi menjadi kurang lengkap. Dengan demikian, pesan yang disampaikan tidak tepat sasaran.

4.2.3 Tahap Pasca Produksi Program “Salam dari Desa”

Tahap pasca produksi merupakan tahap penyelesaian atau penyempurnaan dari hasil pengumpulan materi yang dilakukan pada tahapan produksi. Proses yang dilakukan dalam tahap pasca produksi ini merupakan

(22)

proses penyuntingan gambar visual serta audio yang dikirim dari stasiun TVRI Daerah dan dari tim liputan yang bertugas pada saat itu.

Dalam melakukan pengeditan berita pada program “Salam dari Desa”, yang pertama dilakukan sebelum masuk ketahap penyuntingan adalah memastikan terlebih dahulu apakah rundown program “Salam dari Desa” telah disiapkan oleh tim redaksi. Hal tersebut disamapaikan oleh Muhammad Reza Ardiansyah selaku Editor “Salam dari Desa” mengenai persiapan yang dilakukan sebelum mengedit berita.

MRA:

“Yaa.. paling cuma kita nungguiun rundown, …. yaudah kita buat

urutan aja berdasarkan list yang ada. Urutan yang mana, kita cari visualnya,….”

Rundown program dalam hal ini memiliki fungsi sebagai acuan utama bagi seorang editor dalam menentukan struktur penempatan suatu gambar agar sesuai dengan narasi berita tersebut. Setelah mendapatkan rundown tersebut, barulah seorang editor masuk kedalam proses selanjutnya yaitu proses editing atau penyuntingan.

Menurut Fred Wibowo dalam buku yang berjudul “Teknik Produksi Program Televisi”, tahap pasca produksi memiliki tiga langkah utama, yaitu editing offline, editing online, dan mixing. (Fred, 2009:42) Akan tetapi, berdasarkan hasil wawancara dengan Muhammad Reza Ardiansyah selaku Editor “Salam dari Desa”. Tahap yang digunakan dalam program “Salam dari Desa” hanya tahap editing offline dan tahap mixing saja.

(23)

MRA:

“Kita pake offline ama mixing aja, mixing kita pake buat nyatuin

audio dubbing kalo ngak wawancara.”

Editing offline merupakan teknik penyuntingan dengan memadukan suatu gambar dengan gambar lainnya agar menjadi satu kesatuan gambar yang bercerita. Dalam program “Salam dari Desa”, teknik ini digunakan untuk menggabungkan hasil kiriman materi berupa audio-visual yang diperoleh dari daerah-daerah. Materi yang dikirim dari darerah berupa hasil jadi yang telah diedit, namun video tersebut juga masih perlu utuk dirapikan baik dari segi visual maupun audionya. Hal ini dikarenakan, kualitas gambar dan suara yang dikirim dari stasiun TVRI Daerah masih kurang layak untuk ditayangkan. Sesuai dengan yang ditegaskan oleh editor program “Salam dari Desa” mengenai gambar dan suara yang layak untuk ditayangkan.

MRA:

“Sebenernya sih kalo dibilang layak, banyak yang gak layak juga,

soalnya karna dari daerah ya, gambarnya banyak yang tipis banget, kualitasnya tipis gitu, ga terlalu enak dilihat.”

Gambar tipis yang dimaksudkan di atas adalah kualitas resolusi gambar yang dihasilkan oleh suatu perangkat kamera masih tergolong rendah. Kejernihan gambar visual sangat bergantung kepada tingkatan resolusi dari suatu kamera, semakin tinggi resolusi kamera tersebut maka semakin jernih juga gambar yang dihasilkaannya. Sedangkan perangkat produksi yang dimiliki oleh stasiun TVRI Daerah kurang memadai, hal tersebut yang menjadikan kualitas gambar dari video yang dikirim dari daerah-daerah masih perlu untuk disempurnakan lagi.

(24)

MRA:

“Soalnya alat didaerah itu kebanyakan masih lama trus kurang

bagus gitu, makanya tipis.”

Selanjutnya adalah tahap mixing. Tahap mixing dilakukan apabila terdapat suara dari channel 2 yang harus digabungkan dengan suara aslinya, contohnya, audio dubbing dan wawancara. Dalam wawancara biasa terdapat dua atau lebih channel suara tergantung kepada jumlah pembicanya.

Dalam tahap editing terdapat dua macam teknik editing, yaitu: editing linear atau editing dengan teknik analog dan editing non linear atau editing dengan teknik digital. Sedangkan proses penyuntingan program “Salam dari Desa” itu sendiri, teknik editing yang paling sering digunakan adalah editing non linear atau editing dengan teknik digital. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Muhammad Reza Ardiansyah selaku Editor “Salam dari Desa”.

MRA:

“Kalo ngedit linier kan kaya gini (menunjukan kaset betacam)

analog kan, tapi kalo kita buat Salam dari Desa kita ga pernah pake linier, kita pake linier cuma untuk transfer, kita transfer ke mini DV, trus capture, capture ke komputer, karna Salam dari Desa itu kan hasil jadinya itu kita langsung kirim ke studio tanpa fisik, dulu kita pake mini DV, sekarang udah ngak. Jadi kita emang sering pake non-linier. Kalo software Salam dari Desa cuma pake satu, ini (Menunjuk ke arah komputer) pake Pinnacle Studio 12, tools nya ini doang. Tapi ada Edius, Edius 6, tapi itu Cuma supporting aja, kalo ada format yang belum support jadi kita buka di Edius dulu, kalo kayak format m2v, diluar wmv, kan pinnacle kan ga support jadi kita pake Edius, tapi jarang.”

Editing non linear lebih sering digunakan karena, materi yang diperoleh dari stasiun TVRI Daerah tersebut sudah dalam bentuk file. Sedangakan dalam

(25)

editing linear atau editing teknik analog itu sendiri masih menggunakan bentuk fisik seperti kaset VHS atau betacam. Teknik analog digunakan apabila data yang diperoleh dari tim liputan yang dikirim ke daerah berupa kaset betacam, kemudian kaset betacam tersebut di transfer ke dalam bentuk mini DV dengan menggunakan teknik analog.

Software yang digunakan dalam melakukan pengeditan berita “Salam dari Desa” tersebut adalah Pinnacle Studio 12 dan Edius 6. Pinnacle studio 12 itu sendiri digunakan sebagai tools utama selama proses editing dilakukan, sedangkan Edius 6 sifatnya hanya sebatas pelengkap apabila ada format yang tidak didukung pada software Pinnacle Studio 12.

Gambar 4.1

(26)

Gambar 4.2 Tampilan Edius 6

Untuk tahap pasca produksi program “Salam dari Desa” di LPP TVRI terdapat kekuatan serta kelemahan yang berasal dari dalam proses produksi program tersebut dan peluang serta ancaman dari luar tahap pasca produksi, yaitu antara lain:

Tabel 4.3

Analisis SWOT Tahap Pasca Produksi Analisis SWOT Tahap pada Pasca Produksi Kekuatan

(Strenghts)

Dengan adanya rundown yang sudah ditentukan pada saat pra produksi, maka penyusunan gambar dapat dilakukan dengan mudah. Sehingga waktu yang digunakan untuk penyuntingan tidak terlalu lama.

(27)

Kelemahan (Weakness)

Peralatan produksi yang terdapat di stasuin TVRI Daerah sudah tergolongtua atau tidak memadai. Oleh karena itu, kualitas gambar yang dihasilkan tidak layak untuk ditayangkan.

Peluang

(Opportunities)

Dengan adanya fasilitas FTP (File Transfer Protocol), proses yang upload dan download file data jadi mudah untuk dilakukan. Oleh sebab itu, proses produksi program “Salam dari Desa” dapat berjalan dengan lancar dan berpeluang untuk ditayangkan secara berkesinambungan. Ancaman

(Threads)

Akibat cuaca yang tidak menentu, kiriman gambar steraming menjadi patah-patah. Seiring dengan hal tersebut, file kiriman daerah terancam tidak dapat digunakan dan menyebabkan kekurangan bahan materi program “Salam dari Desa”.

4.2.4 Analisis SWOT Program “Salam dari Desa”

Analisis SWOT merupakan sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal strenghts (kekuatan) dan weakness (kelemahan) serta lingkungan eksternal opportunities (peluang) dan threads (ancaman). Dalam hal ini, analisis SWOT digunakan untuk melihat kekuatan dan kelemahan yang terdapat didalam sebuah program televisi serta peluang dan ancaman yang berasal dari luar stasiun televisi secara keseluruhan.

(28)

Pada program “Salam dari Desa”, kekuatan (srengths) yang terdapat dalam program ini teletak pada isi atau content berita yang sangat jarang ditemukan pada program pemberitaan lainnya. Dimana program “Salam dari Desa” merupakan program berita yang mengetengahkan permasalahan-permasalahan serta informasi-informasi dari daerah. Hal tersebut yang menjadikan proram “Salam dari Desa” lain dari pada yang lainnya.

Sedangkan yang menjadi kelemahan (weakness) bagi program “Salam dari Desa” terletak pada peralatan yang dimiliki oleh stasiun TVRI Daerah yang kurang memadai. Hal tersebut mengakibatkan kualitas gambar kiriman streaming dari daerah-daerah patah-patah serta kurang layak untuk ditayangkan. Seperti yang diungkapkan oleh produser “Salam dari Desa”.

HA:

“….dari segi, ya pengambilan gambar, karena daerah-daerah itu

biasanya, kameranya kan udah kurang bagus, jadi kurang kinclong lah, harusnya kan dengan produksi yang bagus, gambar nya bagus. …”

Program “Salam dari Desa” memiliki peluang (opportunities) yang besar karena LPP TVRI memiliki stasiun TVRI Daerah yang tersebar hampir di seluruh Provinsi di Indonesia. Stasiun TVRI Daerah tersebut sangat berperan penting dalam proses produksi program “Salam dari Desa”, sedangkan stasiun televisi lainnya tidak memilki stasiun daerah sebanyak TVRI sehingga stasiun lain tidak dapat melakukan produksi seperti yang telah dilakukan oleh LPP TVRI. Dengan ini LPP TVRI memiliki peluang yang sangat besar dalam memajukan program “Salam dari Desa”.

(29)

HA:

“….mungkin karna kita punya banyak stasiun daerah jadi kita

bisa buat program ini, trus, ya paling itu aja.”

Ancaman (threads) untuk program “Salam dari Desa” adalah jam tayang yang kurang tepat. Program “Salam dari Desa” ditayangkan pada pukul 14.00-15.00 WIB, dimana pada jam tersebut pemirsa “Salam dari Desa” sesuai dengan yang menjadi target audiencenya yaitu petani dan pengrajin sedang melakukan aktivitas nya masing-masing seperti bertani, berkebun, dan lain-lain. Hal tersebut juga diungkapkan oleh produser “Salam dari Desa”, Bapak Hendrakit Atya putra.

HA:

“….jam tayang itu jam dua menurut saya orang masih di… kan

kita target audientnya adalah petani menurut saya apakah tidak jam setengah empat atau jam empat yang mereka sudah kembali dari lahan, gitu.”

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

Program “Salam dari Desa” merupakan program berita unggulan yang disuguhkan oleh LPP TVRI. “Salam dari Desa” menyajikan berita-berita seputar peristiwa yang terjadi diberbagai daerah pedesaan di Indonesia, meliputi berbagai aspek sosial dan kesejahteraan rakyat seperti bidang pemberdayaan masyarakat desa, pertanian, perkebunan, peterenakan, perikanan, pengembangan usaha kecil dan menengah UKM serta pembangunan kesehatan, pendidikan maupun keamanan daerah pedesaan Indonesia.

(30)

Program “Salam dari Desa” tayang pertama kali tanggal 4 Januari 2010 dengan durasi 30 menit mulai pukul 11.00 – 11.30 WIB dan hanya tayang 5 hari dalam sepekan yakni setiap Senin sampai Jum’at. Mulai tanggal 1 Januari 2012, program “Salam dari Desa” pindah jam tayang dan penambahan durasi menjadi 60 menit dan tayang setiap hari mulai pukul 14.00 – 15.00 WIB.

Dalam program “Salam dari Desa” terdapat beberapa segment yang diantaranya adalah Warta Desa, dimana merupakan segment utama dalam program “Salam dari Desa”, selajutnya ada Profil Desa, Info Komuditas, Mozaik Desa, Sambung Rasa, Tips, Pernik Desa dan Humant Interest.

Target audiens dari program “Salam dari Desa” adalah seluruh rakyat Indonesia khususnya bagi masyarakat yang berada di daerah pedesaan yang mayoritas adalah para petani, pengrajin, peternak dan lain-lain. Untuk itu, materi yang disuguhkan dalam program “Salam dari Desa” lebih bersifat santai namun tetap informatif dan aktual.

Program “Salam dari Desa” termasuk kedalam kategori hard news dengan bentuk berita feature. Program “Salam dari Desa” merupakan program berita yang menyuguhkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di daerah-daerah pedesaan di Indonesia dengan mengangkat sisi human interest yang meliputi aspek sosial dan kesejahteraan masyarakat perdesaan tersebut. Program “Salam dari Desa” di kategorikan kedalam jenis berita feature hard news dan bukan soft news, karena sesuai dengan yang menjadi target audiens yaitu masyarakat daerah atau masyarakat pedesaan di Indonesia, content dari program “Salam dari Desa” memiliki unsur kepentingan dan sangat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat pedesaan tersebut.

(31)

Proses produksi program “Salam dari Desa” pada dasarnya dilakukan oleh TVRI stasiun Daerah, namun hanya pada tahap pengeksekusian peliputannya saja. Pada tahap pra-produksi Tim Redaksi dan Produser program “Salam dari Desa” melakukan rapat dalam menetukan materi untuk program “Salam dari Desa”. Selanjutnya pada tahap pra-produksi yang dilakukan adalah pengumpulan materi berita yang dikirim dari daerah, penyusunan rundown program “Salam dari Desa”, pembuatan naskah dan pembentukan tim liputan.

Pada tahap produksi Kordinator Daerah melakukan konfirmasi ulang dengan TVRI stasiun daerah yang terkait, sedangkan tahap peliputan hanya akan dilakukan apabila tidak ada stasiun TVRI pada daerah yang akan diliput. Saat ini, stasiun Daerah TVRI tersebar dihampir seluruh provinsi di Indonesia, kecuali di lima provinsi terbaru, antara lain adalah Bangka Belitung, Banten, Maluku Utara, Papua Barat dan Kepulauan Riau. Untuk itu, apabila ada berita menarik yang harus diliput dari kelima daerah tersebut, maka crew atau tim liputan dari TVRI Stasiun Pusat lah yang dikirim langsung ke daerah yang bersangkutan. Pada tahap ini, Produser ikut terlibat langsung dalam proses peliputan ke daerah-daerah yang dituju. Produser biasanya ditemani oleh tiga sampai empat orang tim liputan, yakni diantaranya adalah kameramen, reporter, dan soundman.

Selanjutnya, materi-materi yang dikumpulkan akan diproses lebih lanjut pada tahap pasca produksi hingga program tersebut dapat ditayangkan di televisi. Dalam melakukan pengeditan berita pada program “Salam dari Desa”, yang pertama dilakukan sebelum masuk ketahap penyuntingan adalah memastikan terlebih dahulu apakah rundown program “Salam dari Desa” telah disiapkan oleh Tim Redaksi, kemudian

(32)

barulah tahap penyuntingan dilakukan. Dalam program “Salam dari Desa” tahap penyuntingan yang digunakan adalah editting offline dan mixing, tahap ini digunakan untuk menggabungkan hasil kiriman materi berupa audio-visual yang diperoleh dari daerah-daerah. Sedangkan Tahap mixing dilakukan apabila terdapat suara dari channel 2 yang harus digabungkan dengan suara aslinya, contohnya, audio dubbing dan wawancara. Dalam wawancara biasa terdapat dua atau lebih channel suara tergantung kepada jumlah pembicanya. Software yang digunakan dalam melakukan pengeditan berita “Salam dari Desa” tersebut adalah Pinnacle Studio 12 dan Edius 6.

Dengan melakukan tahapan-tahapan produksi secara baik dan matang, barulah sebuah materi berita pada program “Salam dari Desa” tersebut masuk kedalam proses shooting di dalam studio untuk penayangan program “Salam dari Desa”.

Figur

Gambar 4.2  Tampilan Edius 6

Gambar 4.2

Tampilan Edius 6 p.26

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :