2.1. Bioekologi Python reticulatus Scheider 1801
Python reticulatus dimasukkan dalam kelompok ular pembelit raksasa
oleh Hoesel (1959) dan diklasifikasikan dalam: Kingdom : Animal Filum : Chordata Kelas : Reptilia Ordo : Squamata Famili : Pythonidae Genus : Python
Spesies : Python reticulatus Scheider 1801
Python reticulatus biasa disebut dengan nama reticulated python (Tweedie
1983), sanca batik dan puspo kajang (Indonesia) (Hoesel 1959). Penangkap di Kalimantan Tengah menyebutnya ular sawa. Python reticulatus merupakan saudara satu genus dengan ular raksasa lain yaitu Python morulus yang biasa disebut sebagai ular sawah (Hoesel 1959), sanca bodo (Indonesia), Indian python atau rock python (Tweedie 1983).
Corak pada kulit Python reticulatus menyerupai jala dengan bentuk mata jala agak bulat dan warna utamanya coklat muda dan kuning (Hoesel 1959). Menurut Tweedie (1983), Python reticulatus mempunyai kulit bermotif coklat kekuningan dengan garis hitam membujur dari moncong hingga ke belakang kepala. Python reticulatus mempunyai warna dasar coklat terang yang akan menjadi lebih gelap pada Python reticulatus yang tua dan besar dengan pola garis batik yang berwarna hitam tebal dan rumit, dibatasi oleh warna kuning dibagian dalamnya hingga menjadi sebuah pola yang tersusun secara reguler. Python
reticulatus mempunyai sisa-sisa kaki belakang yang terlihat seperti sepasang
cakar pendek pada kiri dan kanan lubang pelepasan (Hoesel 1959). Anak matanya pipih tegak, ini merupakan ciri-ciri satwa ini berburu makanan pada malam hari.
Menurut Hoesel (1959), cara perkembangbiakkan Python reticulatus adalah dengan bertelur. Tweedie (1983) menyebutkan bahwa Python reticulatus
bertelur antara 10 sampai 100 butir tergantung pada ukuran tubuhnya. Python
reticulatus dapat bereproduksi setiap tahun pada iklim tropis (Stuebing & Inger
1999). Semakin besar ukuran tubuh, semakin banyak telurnya. Betina mengerami telurnya dengan cara melingkarkan tubuhnya disekeliling telur. Masa pengeraman berlangsung selama 94 sampai 101 hari.
2.2. Pengelolaan Satwaliar Secara Lestari
Hilangnya habitat dan penangkapan satwaliar secara besar-besaran akan menyebabkan menurunnya jumlah tangkapan setiap tahunnya, mengurangi keuntungan bagi manusia dan dalam beberapa kasus akan mempercepat terjadinya kepunahan (Webb & Vardon 1998). Menurut Webb dan Vardon (1998), satwaliar seringkali tidak memiliki nilai ekonomi yang melebihi nilai ekonomi habitatnya, sehingga habitatnya diluar hutan yang dilindungi akan diubah untuk penggunaan lain. Sedangkan satwaliar yang diketahui mempunyai nilai ekonomi tinggi, akan semakin banyak dieksploitasi.
Kepunahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kepunahan masal pernah terjadi di dunia pada masa geologi lalu (Indrawan et al. 2007). Bumi telah mengalami lima kali periode kepunahan. Namun hal ini disebabkan oleh perubahan ekstrim yang terjadi pada bumi itu sendiri. Sedangkan kepunahan yang terjadi saat ini lebih banyak disebabkan karena aktivitas manusia. Indrawan et al. (2007) menyebut ini sebagai kepunahan yang terhutang (extinction debt). Kepunahan akibat kegiatan manusia berlangsung 100 kali lebih cepat dibanding kepunahan secara alami (Indrawan et al. 2007).
Salah satu ancaman utama pada keanekaragaman hayati yang menyebabkan kepunahan adalah pemanfaatan spesies yang berlebihan untuk kepentingan manusia (Indrawan et al. 2007). Aktifitas manusia sudah berkontribusi pada 45% penyebab terjadinya penurunan populasi (Wheather 1994). Introduksi dan perusakan habitat menyebabkan kepunahan sebesar 39% dan 36% dari penyebab kepunahan yang diketahui, diikuti dengan perburuan yang menyebabkan kepunahan sebesar 23%. Dalam suatu skenario yang optimistik, spesies yang dieksploitasi biasanya akan menjadi sangat langka, sehingga perburuan akhirnya di stop dan diharapkan populasi akan kembali melimpah (Indrawan et al. 2007).
Kadang ketika populasi tersebut sudah sangat kecil ukurannya, daya lenting untuk kembali menjadi kecil dan akhirnya bisa menjadi punah sama sekali. Laju kepunahan bisa diperlambat dengan pengelolaan yang tepat.
Pengelolaan satwaliar adalah seni untuk membuat lahan memproduksi satwaliar yang bernilai (Bailey 1982). Pengelolaan satwaliar merupakan bagian dari konservasi satwaliar. Bailey (1982) menyatakan bahwa konservasi secara sederhana didefinisikan sebagai penggunaan sumberdaya secara bijaksana. Menurut Bailey (1982) pula, konservasi adalah kebidupan yang harmonis antara manusia dengan alam. Undang-undang No. 5 Tahun 1990 mendefinisikan konservasi sebagai pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya (Sekditjen PHKA 2007a).
Pengelolaan satwaliar harus dilakukan berdasarkan prinsip kelestarian hasil (Alikodra 1997). Ini berarti bahwa satwaliar dapat dipanen secara periodik tanpa mengurangi potensi perkembangbiakannya. Menurut Webb dan Vardon (1998), arti dari penangkapan secara lestari dan hubungannya dengan konservasi masih cukup membingungkan. Penangkapan yang kurang dari batas maksimum perolehan secara lestari adalah lestari secara teoritis, sedangkan penangkapan pada atau dekat dengan batas maksimum perolehan secara lestari akan bersifat lebih riskan (Webb & Vardon 1998). Strategi pengelolaan, baik pada populasi maupun pada habitatnya diperlukan untuk mendapatkan jumlah maksimal individu yang dipanen. Populasi dan habitat menjadi faktor yang sangat utama untuk diperhatikan dalam pengelolaan satwaliar.
2.2.1. Populasi
Odum (1994) mendefinisikan populasi satwaliar sebagai kelompok kolektif organisme-organisme dari kelompok yang sama (atau kelompok-kelompok lain dimana individu-individu dapat bertukar informasi genetiknya) yang menduduki ruang atau tempat tertentu, memiliki berbagai ciri atau sifat yang menjadi milik kelompok dan bukan milik individu dalam kelompok itu. Tarumingkeng (1994) menyatakan bahwa populasi adalah sehimpunan atau sekelompok individu suatu jenis makhluk hidup yang tergolong dalam satu
spesies yang dapat melangsungkan interaksi genetik dengan jenis yang bersangkutan. Menurut Alikodra (2002), populasi diartikan sebagai kelompok organisme yang terdiri dari individu-individu satu spesies yang mampu menghasilkan keturunan yang sama dengan tetuanya. Suatu populasi bisa menempati wilayah yang sempit sampai luas, tergantung spesies dan kondisi daya dukung habitatnya. Populasi satwaliar berfluktuasi dari waktu ke waktu mengikuti fluktuasi lingkungannya
Sifat-sifat khas yang dimiliki populasi menurut Tarumingkeng (1994) adalah kerapatan (kelimpahan/densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), sebaran (distribusi), umur, potensi biotik, sifat genetik, perilaku dan pemencaran (dispersi). Alikodra (2002) menyatakan bahwa kelahiran, kematian, kepadatan populasi, struktur umur dan struktur kelamin merupakan parameter populasi yang mempengaruhi fluktuasi populasi. Ketika kematian sama dengan kelahiran, maka populasi akan stabil. Populasi akan berkembang jika kelahiran lebih banyak dari kematian dan populasi akan menurun jika kematian lebih besar dari kelahiran. Menurut Odum (1994), sifat populasi satwaliar adalah kerapatan, natalitas (laju kelahiran), mortalitas (laju kematian), penyebaran umur, potensi biotik, dispersi dan bentuk pertumbuhan atau perkembangan. Populasi juga mempunyai sifat genetik yang secara langsung berkaitan dengan ekologinya misalnya sifat adaptif, sifat keserasian reproduktif dan ketahanan (peluang meninggalkan keturunannya dalam waktu yang lama). Sifat populasi di alam sangat sulit untuk diukur meskipun sudah ada perbaikan-perbaikan dan perkembangan dalam metodenya. Untungnya, sering kali tidak perlu mengukur semua sifat populasi tersebut karena kadang sifat populasi bisa diukur dari data sifat yang lainnya.
Kerapatan Populasi. Kerapatan populasi adalah besarnya populasi alam
hubungannya dengan satuan ruangan (Odum 1994). Irwan (1992) menyebutkan bahwa kerapatan populasi sama dengan densitas (kelimpahan) populasi atau kepadatan populasi. Kerapatan populasi satwaliar perlu diketahui karena menunjukkan daya dukung lingkungan dan sangat menentukan prospek kelestariannya (Alikodra 2002).
Kerapatan populasi bervariasi menurut waktu dan tempat (Indriyanto 2010). Dalam pengkajian suatu kondisi populasi, kerapatan merupakan parameter utama yang harus diketahui. Kerapatan populasi merupakan salah satu hal yang menentukan pengaruh populasi terhadap komunitas atau ekosistem. Kerapatan populasi juga sering digunakan untuk mengetahui perubahan populasi pada saat tertentu. Perubahan tersebut adalah berkurang atau bertambahnya individu dalam satu unit luas atau volume.
Menurut Odum (1994), dalam pengkajian populasi, kerapatan menjadi ciri yang pertama mendapatkan perhatian. Pengaruh populasi dalam ekosistem tidak hanya tergantung pada jenis, namun juga pada jumlah individunya atau kerapatan populasinya. Sering kali lebih penting untuk mengetahui apakah suatu populasi sedang berubah (bertambah atau berkurang) daripada mengetahui besarnya pada suatu saat.
Kerapatan populasi bisa diukur dengan menghitung jumlah organisme secara aktual dalam daerah atau volume yang diketahui (Indriyanto 2010). Perhitungan secara aktual terhadap densitas sering kali sangat sukar untuk dilakukan, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Indriyanto (2010) menyatakan bahwa perhitungan kerapatan populasi satwaliar bisa dilakukan dengan metode menangkap dan melepas kembali. Odum (1994) mengemukakan bahwa kerapatan populasi bisa dihitung dengan beberapa metode, yaitu: (1) perhitungan total (kadang-kadang mungkin untuk organisme besar, jelas tampak atau berkelompok); (2) pengambilan contoh secara kuadrat (perhitungan dan penimbangan organisme dalam petak contoh atau transek yang cukup besar ukuran dan jumlahnya); (3) menandai dan menangkap kembali (sampel ditangkap, ditandai dan dilepaskan kembali); (4) removal sampling (sejumlah organisme disingkirkan dari daerah itu); dan (5) tanpa petak contoh (untuk organisme yang duduk seperti pohon). Krebs (2001) menyatakan bahwa kerapatan bisa dihitung dengan metode penghitungan total dan sampling.
Stuebing dan Inger (1999) menyatakan bahwa ular terestrial sangat susah untuk diketahui densitasnya. Lebih lanjut disebutkan bahwa saat ini belum ada informasi mengenai populasi Python reticulatus di Kalimantan dan belum ada informasi bahwa populasinya di Kalimantan sudah menurun. Luas habitat, letak
geografis dan sifat herpetofauna (termasuk ular) menjadi faktor yang menyebabkan tidak mungkin dilakukannya sensus yang terstruktur dalam satu satuan waktu yang pendek (Iskandar & Erdelen 2006). Untuk itu perlu dilakukan kajian tidak langsung yang bisa menggambarkan kondisinya di alam (TRAFFIC 2008). Pendekatan yang akan dilakukan untuk mengukur estimasi kerapatan adalah dengan menghitung jumlah yang ditangkap.
Mortalitas (Kematian). Mortalitas akan menentukan populasi, terutama
pada kerapatan populasi. Mortalitas akan menyebabkan berkurangnya kepadatan populasi (Krebs 2001; Odum 1994). Mortalitas (kematian) diartikan sebagai kematian individu-individu dalam populasi pada suatu kurun waktu tertentu (Odum 1994). Mortalitas terbagi menjadi (1) mortalitas minimun yaitu kematian pada kondisi yang ideal atau tidak ada faktor yang membatasi atau individu mati hanya karena faktor umur yang sudah tua dan (2) mortalitas ekologi (mortalitas saja) yaitu hilangnya individu dalam kondisi lingkungan tertentu.
Krebs (2001) menyatakan bahwa ada dua jenis panjang umur individu, yaitu panjang umur fisiologi (physiological longevity) dan panjang umur ekologi (ecological longevity). Panjang umur fisiologi bisa didefinisikan sebagai rata-rata panjang umur individu pada suatu populasi yang hidup dalam kondisi optimum. Sedangkan panjang umur ekologi merupakan rata-rata panjang umur individu dalam populasi secara empiris pada keadaan yang ada. Secara ekologi, kematian dipengaruhi oleh predator, penyakit dan sebab lain sebelum individu tersebut mencapai umur maksimal untuk hidup.
Mortalitas bergantung pada lingkungan yang merugikan, persaingan, pemangsaan dan penyakit (Indriyanto 2010). Mortalitas merupakan karakteristik dari populasi, dan bukan merupakan karakteristik individu. Kematian merupakan keharusan bagi setiap individu dan hanya terjadi satu kali, sedangkan populasi memiliki kematian dalam suatu periode tertentu.
Mortalitas yang terjadi pada Python reticulatus yang tercatat sejauh ini adalah karena pemanenan. Apabila dilihat dari kuota, maka setidaknya selama tahun 2010 dan 2011 di seluruh Indonesia terjadi 180 000 kematian setiap tahun. Namun kemungkinan jumlah kematiannya lebih banyak mengingat jumlah tersebut adalah jumlah resmi untuk kuota dengan kondisi ular terpilih, sedangkan
jumlah yang dipanen kemungkinan lebih besar dari jumlah kuota itu apabila pemanenan tidak dilakukan secara terpilih namun kebutuhan ekspor adalah ular dengan ketentuan tertentu. Jumlah tersebut akan lebih banyak lagi bila kuota untuk kebutuhan dalam negeri tercatat. Selama ini, kebutuhan dalam negeri belum diatur dengan kuota dan jumlahnya belum tercatat dengan pasti. Sedangkan data kematian karena alam sama sekali tidak tercatat karena belum ada penelitian yang lengkap mengenai tingkat kematian Python reticulatus secara alami.
Penghitungan mortalitas bisa dilakukan secara langsung dan tidak langsung (Krebs 2001). Perhitungan langsung dilakukan dengan cara menangkap dan menandai organisme pada suatu waktu (t) dan diobservasi jumlah yang masih hidup pada jangka waktu tertentu berikutnya (t+1). Sedangkan cara tidak langsung bisa dilakukan salah satunya dengan cara mengetahui kelimpahan pada suatu kelas umur dari suatu populasi dan membandingkannya dengan kelas umur sebelumnya, biasanya dilakukan pada suatu unit penangkaran.
Perhitungan mortalitas Python reticulatus di Kalimantan Tengah dilakukan melalui pendekatan jumlah panenan. Asumsinya adalah semua ular yang dipanen berarti mengalami kematian. Pendekatan ini dilakukan karena ular yang sudah dipanen tidak dikembalikan lagi kealam, sehingga mengurangi jumlah populasi di alam. Selain itu, tujuan utama pemanenan adalah untuk diambil kulitnya, sehingga bisa dipastikan ular tersebut akan dibunuh dan untuk pet sehingga tidak mungkin ular yang tertangkap akan dilepaskan kembali.
Struktur Umur. Struktur umur adalah perbandingan jumlah individu di
dalam setiap kelas umur dari suatu populasi (Alikodra 2002). Struktur umur dapat digunakan untuk menilai perkembangbiakkan satwaliar sehingga bisa digunakan untuk menilai prospek kelestariannya. Indriyanto (2010) menyatakan bahwa peyebaran umur merupakan suatu karakteristik populasi yang mempengaruhi natalitas dan mortalitas karena perbandingan dari berbagai golongan umur individu dalam suatu populasi menentukan status reproduktif populasi dan menyatakan kondisi yang diharapkan pada masa mendatang.
Populasi yang mempunyai ukuran konstan dimana natalitas sama dengan mortalitas, diasumsikan memiliki struktur umur yang tetap yang disebut sebagai
distribusi umur statis dan akan tetap menjaga distribusinya (Krebs 2001). Ada dua kondisi dimana struktur umur yang tetap akan terpelihara dalam populasinya. Pada keadaan dibawah tekanan lingkungan disekitarnya, struktur umur akan berubah setiap waktu. Pada kondisi alami tanpa tekanan, struktur umur akan konstan. Namun jarang sekali ditemukan populasi yang mempunyai struktur umur tetap karena populasi tidak akan meningkat lama pada keadaan yang tidak terbatas.
Kajian mengenai dinamika populasi sangat bergantung pada kemampuan untuk mengenali umur individu dalam populasi tersebut (Caughley 1977). Namun, menentukan umur satwaliar di lapangan adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dilakukan sehingga perlu dilakukan suatu pendekatan yang lebih sederhana untuk pendugaan umur (Alikodra 2002). Pendugaan kelas umur bisa dilakukan dengan pendekatan misalnya pengukuran tinggi, berat badan, warna, bentuk, ukuran tanduk (Alikodra 2002), gigi, berat lensa mata, pertumbuhan tahunan pada cakar, tanduk, gigi dan tulang, dan jumlah plasenta atau ovarium pada betina (Caughley 1977).
Caughley (1977) menyatakan bahwa pada reptil, pendekatan pembagian umurnya biasanya didasarkan pada ukuran tubuh. Menurut Hoesel (1959), Python
reticulatus dewasa bisa mencapai panjang maksimal 8 sampai 10 meter, lebih
panjang dari Python morulus. Tweedie (1983) menyatakan bahwa Python
reticulatus bisa mencapai panjang hingga 10 meter dan merupakan ular terbesar
didunia. Shine et al. (1999), berdasarkan pada penelitiannya di Sumatera, betina muda (juvenile) mempunyai SVL (Snout-Vent Length) 1,1 m s.d. 2,35 m dan betina dewasa (adult) berukuran lebih dari 2,35 m, jantan muda (juvenile) mempunyai SVL 1,1 m s.d. 2,1 m dan jantan dewasa (adult) diatas 2,1 m, namun ada sedikit jantan dewasa yang ditemukan berukuran 1,6 s.d. 1,8 m. Menurut Mexico (2000), Python reticulatus mencapai usia dewasa pada umur 2-4 tahun, jantan mencapai usia dewasa pada ukuran 2,1 m s.d. 2,7 m dan betina pada ukuran 3,4 m. namun memperkirakan umur ular di alam sangatlah sulit. Apabila merujuk pada hasil penelitian Shine et a.l (1999), maka untuk kelas umur ular bisa dibagi menjadi anakan, muda dan dewasa sesuai dengan ukuran SVL.
Shine et al. (1998a) menyatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukan di Sumatera menunjukkan bahwa jumlah panenan pada jantan, 18% diantaranya adalah jantan muda, sedangkan pada betina 49%. Pada penelitiannya di Sumatera Utara, Shine et al. (1998a) juga menunjukkan bahwa jumlah panenan pada jantan, sebagian besar adalah jantan dewasa sedangkan pada betina, sebagian besar adalah betina muda. Shine et al. (1999, 1998b) menyatakan bahwa banyak Python
reticulatus betina muda yang tertangkap berukuran sama dengan jantan dewasa
yang tertangkap. Kemungkinan ini bisa terjadi karena pasar menghendaki ukuran minimal dimana pada ukuran tersebut betina masih berusia remaja namun jantan sudah mencapai dewasa.
Mengenali struktur umur Python reticulatus di alam secara teknis sangatlah sulit. Pada ular anakan mungkin bisa dibedakan dari kelas umur lain. Namun ketika sudah bukan anakan lagi, maka akan sulit membedakan kelas umurnya. Apalagi belum ada patokan yang pasti mengenai ukuran SVL untuk mengetahui umur. Shine et al. (1999) mendapatkan ukuran untuk membedakan antara kelas umur remaja dan dewasa dengan pendekatan kematangan organ reproduksi dan selanjutnya diukur panjangnya hingga akhirnya mendapatkan ukuran tersebut.
Struktur Jenis Kelamin. Selain distribusi individu menurut kelas umur,
ukuran populasi juga dipengaruhi oleh perbandingan jenis kelamin, yaitu perbandingan antara jantan dan betina dalam suatu populasi yang biasanya dinyatakan dalam jumlah jantan terhadap 100 ekor betina (Indriyanto 2010). Keseimbangan jumlah jantan dan betina menjadi sangat penting untuk menjamin keberlangsungan populasi tersebut.
Kerapatan populasi akan lebih bernilai jika diketahui proporsi jantan dan betina dalam populasi tersebut. Apabila dalam suatu populasi, kerapatannya besar namun perbandingan jantan dan betina tidak seimbang, maka kemungkinan populasi tersebut untuk menurun akan lebih besar. Terlalu banyak jantan bisa menyebabkan persaingan yang besar dalam memperebutkan betina. Sebaliknya, apabila terlalu banyak betina maka akan ada betina produktif yang mungkin menjadi tidak produktif karena tidak dibuahi. Keseimbangan jumlah jantan dan betina bukan berarti harus sama jumlahnya, namun seimbang jumlahnya. Pada
jenis satwaliar yang bersifat poligami, perbandingan akan dianggap seimbang jika betina lebih banyak dari jantan. Sedangkan pada yang poligini, akan seimbang jika jantan lebih banyak dari betina.
Menurut Duval et al. (1993), system perkawinan ular bisa poligami, poliandri, poligini maupun monogami, namun lebih banyak kecenderungan untuk poligini. Pada kondisi sistem perkawinan poligini, jumlah jantan lebih banyak dari betina untuk mendapatkan perkawinan yang optimal hasilnya. Ular betina akan memilih jantan melalui kompetisi sperma potensial. Shine et al. (1999) menyatakan bahwa Python reticulatus yang dipanen di Sumatera pada saat penelitian dilakukan, sebagian besar adalah jantan (52%), dan 89% dari jantan yang ditangkap adalah jantan dewasa. Menurut Shine et al. (1999), kemungkinan ini bisa terjadi karena memang jantan lebih banyak jumlahnya dibandingkan betina.
Shine et al. (1999) menyatakan bahwa pada Python reticulatus yang pernah diteliti di Sumatera, ukuran betina lebih besar dari jantan. Shine (1998) menyatakan bahwa ukuran jantan dan betina juga tergantung pada sistem perkawinannya. Jantan yang memperebutkan betina untuk kawin, biasanya berkuran lebih besar dari betina. Sering terlihat bahwa pada Python reticulatus, jantan bersama-sama mengawini satu betina (poligini) dan ukuran jantan lebih kecil dari betina.
Membedakan jenis kelamin jika hanya berdasarkan ukuran tubuh sangat sulit dilakukan. Barker DG dan Barker TM (1994) mengatakan bahwa untuk menentukan jenis kelamin ular, bisa dilihat dari kloakanya. Pada ular jantan, apabila kloaka ditekan ke arah luar, maka akan keluar hemipenis. Apabila masih ragu, bisa dilakukan dengan mengecek kedalaman kloaka (probe). Ular jantan mempunyai kloaka lebih dalam dibanding ular betina. Kedalaman dua kloaka jantan biasanya sama, sedangkan pada betina biasanya berbeda antara kanan dan kiri. Namun ini bukan cara yang disarankan secara ginekologi.
2.2.2. Habitat
Odum (1994) mendefinisikan habitat sebagai tempat hidup suatu organisme atau tempat yang harus dituju untuk menemukan organisme tersebut. Alikodra (2002) mendeskripsikan habitat sebagai kawasan yang terdiri dari
beberapa kawasan, baik fisik maupun biotik, yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup dan berkembangbiak bagi satwaliar. Faktor fisik bisa berupa air, udara, iklim, topografi, tanah dan ruang. Faktor biotik terdiri dari komponen vegetasi, mikro dan makro fauna dan manusia. Habitat harus bisa menjamin kebutuhan pokok satwaliar seperti makanan, minuman, tempat berlindung dan berkembangbiak.
Sejumlah faktor lingkungan, mempengaruhi habitat satwaliar (Bailey 1984). Faktor-faktor ini bervariasi menurut waktu dan tempat dan berinteraksi secara komplek untuk membantu atau mengganggu satwaliar. Faktor lingkungan tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu (1) biotik: jumlah dan kualitas makanan, predasi, penyakit dll.; (2) fisik: suhu, curah hujan, karakteristik salju, kelembaban dll.; dan (3) edafik (tanah): kedalaman, kelembaban, tekstur, kimia dll. Alikodra (2002) menyebutkan sejumlah faktor yang berperan dalam pertumbuhan populasi satwaliar, yaitu (1) faktor fisik: air, radiasi surya, temperatur, panjang hari, aliran dan tekanan udara dan tanah; dan (2) faktor biotik: makanan, energi, vegetasi, suksesi dan perilaku satwaliar.
Reinert (1993) menyatakan bahwa faktor habitat atau variabel yang bertanggung jawab pada habitat biasanya berupa faktor fisik dan kimia seperti (tetapi tidak terbatas pada) ketinggian, kepadatan kanopi, komunitas tumbuhan, kelembaban tanah dan pH. Perbedaan habitat sering kali dihubungkan pada prinsip persaingan antar spesies yang sama agar bisa tetap mempertahankan eksistensinya.
Habitat sering kali dikaburkan dengan relung (niche) spesies (Reinert 1993). Meskipun mempunyai persamaan dalam persyaratan multidimensionalnya, namun keduanya merupakan hal yang berbeda. Relung merupakan karakteristik dari suatu spesies, sebaliknya habitat merupakan kondisi aktual fisik suatu tempat yang bisa dilihat. Kadang-kadang, persyaratan mikrohabitat digunakan untuk menunjukkan lokasi spesifik suatu organisme dalam habitatnya atau faktor yang menunjukkan struktur atau pola internal dari variasi habitat dalam sebuah komunitas. Odum (1994) mendefinisikan relung (niche) ekologi diartikan sebagai istilah yang lebih luas lagi, tidak hanya ruang fisik yang diduduki namun juga peranannya dalam masyarakatnya dan posisinya dalam lingkungan fisik. Ketiga
aspek relung ekologi tersebut dapat dikatakan sebagai ruangan atau relung habitat, relung trofik dan relung multidimensi (hypervolume).
Menurut Reinert (1993), suatu tipe habitat umumnya digunakan oleh suatu spesies tertentu. Alikodra (2002) menyatakan bahwa habitat yang cocok bagi suatu spesies belum tentu cocok bagi spesies lain. Berarti dalam hal ini ada pemilihan suatu karakteristik tertentu pada suatu habitat oleh spesies. Habitat berada dalam batas tertentu sesuai dengan persyaratan organisme yang menghuninya (Soemarwoto 2004). Batas bawah disebut titik minimum, batas atas disebut titik maksimum dan diantara keduanya ada titik optimum. Bila sifat habitat berubah diluar titik minimum atau maksimumnya, penghuninya harus pindah atau dia akan mati. Organisme selalu mempunyai insting untuk mencari tempat hidup yang sesuai dengan kebutuhannya.
Python reticulatus di Kalimantan umumnya bisa ditemukan dihampir
seluruh wilayah Kalimantan (Stuebing & Inger 1999). Python reticulatus merupakan jenis ular terrestrial (hidup di daratan). Di Kalimantan, Python
reticulatus bisa ditemukan di dataran rendah pada ketinggian dibawah 1 000 m
diatas permukaan laut (dpl). Meskipun termasuk ular terrestrial, namun di Kalimantan tidak ditemukan Python reticulatus yang tinggal dalam lubang tanah.
Python reticulatus banyak ditemukan di serasah, tanah dan pohon meskipun
sering ditemukan pula sedang berada di perairan tawar (Tweedie 1983; Stuebing & Inger 1999). Sedangkan sarang biasanya berada diantara serasah (Shine 1998; Stuebing & Inger 1999).
Sebagai ular terrestrial daerah tropis, Python reticulatus di Kalimantan selalu menjaga suhu tubuhnya pada 310C (Stuebing & Inger 1999). Suhu lingkungan yang paling disukai Python reticulatus di Kalimantan adalah 290 – 310C. Untuk menjaga suhu badannya tetap stabil, Python reticulatus selalu berjemur dibawah sinar matahari. Suhu lingkungan atau sarang yang paling cocok untuk telur adalah 290C – 310C dengan kelembaban sekitar 70%. Pada suhu diluar itu, telur bisa gagal menetas, pertumbuhan tidak sempurna dan sex rasio yang tidak seimbang. Namun Shine (1998) mengatakan bahwa ular yang hidup di daerah tropis/hangat, telurnya cenderung lebih tahan dan bisa menetas pada area yang dingin.
Python reticulatus selalu mengerami telurnya dengan melingkarkan
tubuhnya disekitar telur untuk menjaga suhu dan meninggalkannya hanya untuk berjemur atau minum (Shine 1998). Selama mengerami, Python reticulatus tahan untuk tidak makan sama sekali. Pada iklim tropis yang hangat, ular betina bisa bereproduksi setiap tahun, sedangkan pada iklim yang dingin biasanya betina akan bereproduksi beberapa tahun sekali (Stuebing & Inger 1999).
Makanan merupakan salah satu faktor penentu bagi ular dalam memilih habitatnya. Ketika pada suatu tempat terdapat banyak makanan, maka biasanya akan ditemukan Python reticulatus di lokasi tersebut. Python reticulatus merupakan satwa karnivora, makanan utamanya adalah jenis-jenis burung dan mamalia (Tweedie 1983). Penangkap Python reticulatus biasanya menangkapnya dengan menggunakan jaring di perairan tawar pada malam hari. Kemungkinan ini terjadi karena Python reticulatus merupakan satwa nokturnal yang mencari makan malam hari (Stuebing & Inger 1999). Ular ini bisa makan makanan yang ukurannya lebih besar dari diameter tubuhnya dan bukan termasuk ular yang berbisa, namun sangat berbahaya karena dapat menyerang mangsanya dengan belitan yang kuat (Hoesel 1959).
Jenis data yang diambil untuk mendapatkan gambaran karakteristik habitat pada habitat terestrial untuk ampibi adalah (1) lokasi penangkapan yang ditulis secara spesifik, (2) tipe habitat, (3) vegetasi yang dominan, (4) koordinat lokasi, (5) ketinggian, (5) deskripsi data klimatologi (suhu, kelembaban, pH), (6) indikasi adanya gangguan dan (7) faktor habitat lain (tipe tanah, kapasitas menahan air, frekuensi banjir) (Kusrini 2009). Sedangkan untuk habitat perairan, data yang perlu dikumpulkan adalah (1) tipe habitat (sungai besar, sungai kecil, anak sungai, danau, rawa), (2) indikasi durasi relative habitat (permanen, mengalir sepanjang tahun, musiman ), (3) lebar dan kedalaman, (4) indikasi laju kecepatan air, (5) kondisi vegetasi dipinggiran, dan (6) substrat dasar (lumpur, batu, pasir). Dengan merujuk pada Bailey (1984), Reinert (1993) dan Alikodra (2002), data yang perlu dikumpulkan untuk menggambarkan karakteristik habitat ular bisa disamakan (mirip) dengan ampibi.
Python reticulatus mempunyai pola sebaran patchy atau mengelompok
melakukan penelitian mengenai habitat. Tidak semua lokasi ditemukan Python
reticulatus, namun hanya pada tempat tertentu. Mengamati tipe habitat
preferensial juga tidak mungkin dilakukan dengan mengikuti ular tersebut sepanjang hari dan mencatat habitat yang paling banyak digunakan oleh Python
reticulatus. Bahkan ketika menangkap Python reticulatus di lokasi tertentu,
mungkin belum bisa menggambarkan habitat yang sesungguhnya. Habitat tersebut mungkin hanya merupakan lokasi jalurnya mencari makan atau beraktifitas lain. Bahkan sebagai ular terestrial, Python reticulatus justru banyak ditangkap di daerah perairan pada malam hari. Python reticulatus merupakan satwa nocturnal sehingga banyak ditemukan pada malam hari.
Pendekatan mengenai habitat yang tepat mungkin bisa dilakukan dengan mengetahui keadaan pada sarang dan pada lokasi terestrial didekat perairan dimana Python reticulatus ditangkap. Asumsinya adalah habitat sarang sudah dipilih oleh Python reticulatus dengan selektif dan sesuai dengan faktor biotik dan abiotik yang dibutuhkan, sedangkan habitat di dekat perairan dimana ular ini ditangkap mungkin merupakan habitat tempat tinggalnya.
2.3. Kebijakan Pemanfaatan Satwaliar di Indonesia
Pemanfaatan satwaliar di Indonesia diatur dalam Undang-undang No 5 Tahun 1990 (UU No. 5/1990) dan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999 (PP No. 8/1999). Menurut UU No. 5/1990, sumberdaya alam hayati Indonesi harus dikelola dan dimanfaatkan secara lestari (Sekditjen PHKA 2007a). Sedangkan PP No. 8/1999 menyatakan bahwa satwaliar dapat dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan pemanfaataannya dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung dan keanekaragamannya (Sekditjen PHKA 2007b). Bahkan pemanfaatan satwaliar ditujukan agar satwaliar tersebut bisa tetap lestari.
Pemanfaatan satwaliar di Indonesia dilakukan untuk kegiatan komersial dan non komersial. Menurut PP No. 8/1999, pemanfaatan satwaliar bisa dilakukan dalam bentuk (1) pengkajian, penelitian dan pengembangan; (2) penangkaran; (2) perburuan; (4) perdagangan/tata niaga; (5) peragaan; (6) pertukaran; dan (7) pemeliharaan untuk kesenangan (Sekditjen PHKA 2007b).
Pemanfaatan TSL untuk kegiatan ekonomi yang komersial, diijinkan sesuai dengan UU No. 5/1990 yang menyebutkan bahwa konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan yang salah satunya adalah pemanfaatan secara lestari dan salah satu bentuk pemanfaatannya adalah untuk perdagangan (tata niaga) (Sekditjen PHKA 2007a). Dalam PP No. 8/1999 juga disebutkan bahwa pemanfaatan jenis TSL dilaksanakan dalam bentuk yang salah satunya adalah perdagangan (tata niaga) (Sekditjen PHKA 2007b). Lebih lanjut dalam SK Menteri Kehutanan No. 447/Kpts-II/2003 disebutkan bahwa TSL yang diperdagangkan bisa diperoleh dari penangkaran dan pengambilan atau penangkapan dari alam (Sekditjen PHKA 2007c).
Pemanfaatan untuk tata niaga dilaksanakan dengan sistem kuota. Dalam SK Menteri Kehutanan No. 447/Kpts-II/2003, kuota didefinisikan sebagai batas maksimum ukuran dan satuan tumbuhan dan satwaliar dari alam untuk setiap jenis yang dapat dimanfaatkan selama satu tahun takwim. Kuota pengambilan di alam ditetapkan oleh Dirjen PHKA dengan memperhatikan rekomendasi dari Otoritas Keilmuan (LIPI) untuk kurun waktu satu tahun takwim dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember (Sekditjen PHKA 2007c). Ketika kuota pengambilan sudah ditetapkan, bisa dilakukan peninjauan kembali kuota tersebut pada tahun berjalan dengan tetap memperhatikan rekomendasi dari Otoritas Keilmuan. Kuota pengambilan dari alam selanjutnya menjadi dasar bagi kuota ekspor dan pemanfaatan lainnya (penangkaran, penelitian, pasar dalam negeri). Kuota ekspor tidak akan melebihi kuota pengambilan dari alam.
Kuota ditetapkan oleh Ditjen PHKA sebagai Otoritas Pengelola dengan berdasarkan pada rekomendasi LIPI sebagai Otoritas Keilmuan CITES di Indonesia. LIPI memberikan rekomendasi berdasakan peta data dan informasi ilmiah hasil monitoring populasi (Sekditjen PHKA 2007c). Namun bila data dimaksud tidak tersedia, kuota dapat diperoleh atas dasar (1) kondisi habitat dan populasi jenis yang ditetapkan; (2) informasi ilmiah dan teknis lainnya tentang populasi dan habitat; (3) realisasi pegambilan tahun sebelumnya; dan (4) kearifan tradisional.
Kuota pengambilan dari alam ditetapkan untuk jenis TSL yang termasuk maupun tidak termasuk dalam Appendix CITES, baik dilindungi maupun tidak
dilindungi undang. Khusus untuk jenis satwaliar yang dilindungi undang-undang, sebelum ditetapkan kuota pengambilannya, satwaliar tersebut harus ditetapkan sebagai satwa buru (Sekditjen PHKA 2007c).
Kuota yang sudah ditetapkan oleh Dirjen PHKA menjadi dasar untuk pemberian ijin pengambilan TSL oleh Kepala Balai KSDA untuk jenis dilindungi dan termasuk dalam Appendix CITES dan oleh Kepala Dinas propinsi setempat untuk jenis tidak diliindungi yang tidak termasuk dalam Appendix CITES. Kepala Balai KSDA dan Kepala Dinas dilarang menerbitkan ijin tanpa didasarkan pada kuota yang ditetapkan oleh Dirjen PHKA (Sekditjen PHKA 2007c).
Seluruh kegiatan pemanfaatan satwaliar, baik untuk komersial maupun non komersial, harus dengan ijin dari Otoritas Pengelola. Ijin pengambilan dari alam harus menjamin kelestarian populasi, maka lokasi pengambilan harus dirotasi. Jangka waktu rotasi didasarkan pada kondisi populasi, habitat dan sifat-sifat biologis serta perilaku jenis yang ditetapkan. Penetapan lokasi pengambilan harus memperhatikan status kawasan, kelimpahan populasi, kondisi habitat, rencana penggunaan lahan dan aspek sosial budaya masyarakat setempat (Sekditjen PHKA 2007c).
2.4. Tata Niaga Satwaliar
Tata niaga satwa liar yang legal maupun ilegal mempunyai andil dalam menurunnya banyak populasi spesies (Indrawan et al. 2007). Pemanfaatan satwaliar secara berlebih biasanya menunjukkan pola yang sama. Ketika suatu satwaliar ditemukan mempunyai nilai komersial, selanjutnya terbentuk pasar dan terjadilah permintaan dari pasar yang menyebabkan eksploitasi untuk memenuhi permintaan tersebut. Peres (2010) menyatakan bahwa eksploitasi satwaliar yang berlebihan menjadi penyebab menurunnya populasi.
Tata niaga satwaliar internasional sudah diatur dalam CITES (Convention
on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang
ditandatangani pada tanggal 3 Maret 1973 di Wasington DC dan mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1975 (Dit. KKH 2010). Indonesia telah menjadi anggota CITES yang ke 48 pada tanggal 28 Desember 1978 (www.cites.org 2012) dan meratifikasi CITES melalui Keputusan Presiden No. 43 tahun 1978 tentang
Pengesahan CITES. Indonesia telah pula menetapkan Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan sebagai Otoritas Pengelola dan LIPI sebagai Otoritas Keilmuan melalui Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 (Dit. KKH 2010).
Tujuan dari CITES adalah menghindarkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa dari kepunahan di alam melalui pengendalian tata niaga serta produk-produknya secara internasional (Dit. KKH 2010). Eksploitasi tumbuhan dan satwaliar untuk kepentingan komersial dianggap sebagai ancaman terhadap kelestarian sehingga tata niaganya perlu diatur agar membantu pelestariannya. Tanpa adanya mekanisme tata niaga internasional, dikhawatirkan akan terjadi ekploitasi yang lebih besar dan semakin mengancam kelestarian tumbuhan dan satwaliar. Adanya CITES sebagai mekanisme tata niaga yang legal, mengakibatkan adanya tata niaga yang ilegal. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (Dit. KKH) Kementerian Kehutanan menduga bahwa tata niaga tumbuhan dan satwa ilegal menduduki posisi kedua dari segi nilai tata niaga setelah narkotika (Dit. KKH 2010).
Tata niaga satwaliar merupakan salah satu bentuk pemanfaatan satwaliar yang diperbolehkan sepanjang mengikuti aturan yang berlaku. Pemanfaatan satwaliar, sebagai salah satu aspek dari konservasi satwaliar, menjadi kegiatan yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya (Indrawan et al. 2007). Pemanfaatan tumbuhan dan satwaliar (TSL) di Indonesia saat ini masih mengutamakan perhitungan ekonomis daripada perhitungan keamanan secara ekologi. Pemanfaatan yang tidak terkendali merupakan ancaman yang paling berbahaya untuk kelestarian TSL di alam. Pada sisi lain, seharusnya pemanfaatan jenis TSL didasarkan pada prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dan dasar-dasar ilmiah untuk mencegah terjadinya kerusakan atau degradasi populasi (non-detriment findings) sebagaimana tertuang dalam Artikel III, IV dan V dari
Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Artikel III, IV dan V CITES mengatur tentang mekanisme tata
niaga untuk TSL yang termasuk dalam Appendix I, II dan III CITES (Dit KKH 2010).
Tata niaga satwaliar yang tidak lestari di Asia Tenggara sudah diidentifikasi sebagai salah satu tantangan dalam pelestarian satwaliar (Nijman 2010). Mardiastuti dan Soehartono (2004) menyebutkan angka 300 juta kulit reptil sudah diekspor dari Indonesia pada periode tahun 1983-1999. Sedangkan Nijman (2010) menyatakan bahwa selama tahun 1998-2007, lebih dari 35 juta satwaliar diperdagangkan di Asia Tenggara dan 30 juta diantaranya merupakan hasil tangkapan dari alam.
Nijman (2010) menyatakan bahwa reptil mempunyai jumlah terbesar yang diperdagangkan, yaitu 17.4 juta ekor dan 13.79 juta diantaranya berasal dari alam. Negara yang menjadi pengekspor terbesar adalah Indonesia dan Malaysia, sedangkan negara pengimpor terbesar adalah Singapura, Uni Eropa dan Jepang. Indonesia menjadi penyuplai 62% reptil pada tata niaga satwaliar di Asia Tenggara yang berasal dari tangkapan alam selama tahun 1998-2007 (Nijman 2010).
Komponen utama dalam tata niaga reptil di Indonesia adalah tata niaga kulit dan pet (Yuwono 1998). Nijman (2010) juga menyatakan bahwa bentuk reptil yang diperdagangkan adalah kulit dan pet. Yuwono (1998) dan Nijman (2010) menyatakan bahwa kulit reptil diperdagangkan dalam jumlah yang lebih besar daripada pet. Dalam penetapan kuota tangkap di Indonesia, spesies yang ditangkap untuk tata niaga kulit lebih sedikit daripada untuk pet, namun jumlah kuota untuk tiap spesies jauh lebih banyak daripada untuk pet (Ditjen PHKA 2010a, 2010b, 2011). Mardiastuti dan Soehartono (2003) mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir ini, kulit reptil mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan membanjiri pasar internasional, termasuk diantaranya dari Indonesia. Mulai tahun 1980-an, tujuh jenis reptil Indonesia mulai dimanfaatkan untuk skala besar tata niaga dunia. Salah satu diantaranya adalah Python reticulatus.
Python reticulatus merupakan salah satu spesies yang menjadi primadona
(Mardiastuti & Soehartono 2003). Python reticulatus menjadi satu jenis ular yang banyak dieksploitasi (Abel 1998; Requier 1998; Shine et al. 1998b; Yuwono 1998; Auliya et al. 2002; Mardiastuti & Soehartono 2003). Antara tahun 1983 – 1999, rata-rata jumlah ekspor kulit Python reticulatus mencapai 230 957 lembar. Nijman (2010) menyebutkan bahwa Python merupakan ular dengan jumlah nomor
dua terbanyak untuk ekpor yaitu 1.2 juta antara tahun 1998-2007. Amerika Serikat dan Singapura menjadi negara pengimpor kulit Python reticulatus terbesar dari Indonesia. Amerika Serikat juga menjadi negara pengimpor Python reticulatus untuk pet dari Indonesia. Tahun 2010-2012, jumlah kuota tangkap menurun menjadi 180 000 ekor dan kuota ekspor 162 000 ekor.
Rute normal untuk tata niaga kulit dan pet di Indonesia terdiri dari empat komponen yaitu pengumpul/penangkap, perantara, supplier (pedagang besar) dan eksportir (Yuwono 1998). Kadang-kadang, terdapat lebih dari satu orang perantara dan kadang-kadang penangkap langsung membawa tangkapannya ke eksportir atau pedagang besar tanpa melalui perantara (biasanya pada penangkap skala kecil atau tangkapan yang tidak disengaja). Sebelum akhir tahun 1980-an, tidak ada penangkap ular yang professonal. Namun sejak PT. Terraria Indonesia beroperasi pada tahun 1988, penangkap ular profesional mulai bermunculan.
Alur tata niaga ular bisa diketahui melalui dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah dengan mengetahui siapa saja eksportir atau pedagang besar. Mulai dari eksportir atau pedagang besar tersebut, bisa dirunut kebawah untuk mengetahui siapa dan berapa jumlah perantara dan selanjutnya bisa dirunut sampai tingkat penangkap (snow ball). Pendekatan kedua bisa dilakukan dengan cara sebaliknya. Namun pada umumnya akan lebih mudah merunut dari tingkat eksportir atau pedagang besar.
Kesulitan yang mungkin dihadapi pada pengumpulan data tata niaga adalah tidak semua pengusaha/pelaku bersedia membuka informasi yang sebenar-benarnya mengenai rantai tata niaganya, jumlah produksi dan harga. Hal ini terjadi karena adanya persaingan antar pelaku tata niaga tersebut dan ingin melindungi informasi yang berharga untuk mereka sendiri.