TINJAUAN PUSTAKA TENTANG KEADILAN
(Disusun Sebagai Suplement Bahan Ajar Mata Kuliah
PendidikanPancasila)
Oleh:
Handy Sobandi
Fakultas Teknologi Informasi
Universitas Kristen Maranatha
Bandung
2006
TINJAUAN PUSTAKA TENTANG KEADILAN
Oleh: Handy Sobandi
Konsep-konsep tentang keadilan dalam lintasan sejarah selama ini ternyata cukup banyak macamnya. Pada umumnya dalam jaman Yunani Kuno dan Romawi, keadilan dianggap sebagai salah satu dari kebajikan utama yang bersifat alamiah (cardinal virtue, seperti yang diungkapkan oleh Plato). Dalam konsep ini keadilan merupakan kewajiban moral yang mengikat para anggota dari sesuatu masyarakat dalam hubungannya antara yang satu terhadap yang lainnya secara alamiah.1 Kemudian pada jaman berikutnya, keadilan merupakan suatu keutamaan moral artifisial, dan bukan merupakan keutamaan alamiah lagi.2
Keadilan dianggap sebagai keutamaan istimewa dalam kehidupan sehari-hari, sebab keutamaan ini mengurus tindakan-tindakan yang dengannya kehidupan manusia diatur dengan benar. Tindakan-tindakan ini mencakup perlakuan terhadap diri sendiri dan sesama dalam kebersamaan. Keadilan merupakan tingkah laku manusia yang terkait dengan dimensi individual dan dimensi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Landasan keadilan adalah pribadi manusia dalam korelasi sosial. Sebagai keutamaan, keadilan merupakan tuntutan pertama dan jaminan tak tersangkalkan demi terwujudnya tatanan dalam kemajuan sosial.
Keadilan merupakan salah satu tujuan hukum yang banyak dibicarakan sepanjang perjalanan sejarah filsafat hukum. Telah diuraikan sebelumnya dalam uraian mengenai “Tujuan Hukum”, bahwa tujuan hukum memang tidak hanya keadilan, tetapi juga kepastian hukum, dan kemanfaatan. Idealnya, hukum memang harus mengakomodasikan ketiganya. Sekalipun demikian, tetap ada yang berpendapat, di antara ketiga tujuan hukum itu, keadilan merupakan tujuan yang paling penting, bahkan ada yang berpendapat merupakan tujuan hukum satu-satunya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan antara lain oleh seorang hakim Indonesia, Bismar 1 The Liang Gie, Teori-teori Keadilan, Supersukses, Yogyakarta, 1982, hlm. 7.
2 Lihat... David Hume, A Treatise of Human Nature, Dover Philosophical Classic, Mineola, 2003, hlm. 339-406;
Siregar dengan mengatakan, "Bila untuk menegakkan keadilan saya korbankan kepastian hukum, akan saya korbankan hukum itu. Hukum hanya sarana, sedangkan tujuannya adalah keadilan”.3
a. Pengertian Keadilan
Keadilan, menurut Georges Gurvitch ialah konsepsi tentang keadilan sebagai unsur ideal atau suatu cita (sebuah ide), yang terdapat di dalam semua hukum.4 Jika demikian, lalu apa arti dari keadilan itu? Pertanyaan ini antara lain telah terjawab (sebelum diungkapkan Georges Gurvitch), oleh Ulpianus (200 M), yang kemudian diambil alih oleh Kitab Hukum Justinianus, dengan mengatakan bahwa keadilan ialah kehendak yang ajeg dan tetap untuk memberikan kepada masing-masing bagiannya (lustitia est constants et perpetua voluntas ius suum cuique
tribuendi).5
Keadilan merupakan tingkah laku manusia yang terkait dengan hak seseorang. Karena itu keadilan dapat dilihat sebagai keutamaan yang berusaha memenuhi hak orang lain. Landasan keadilan adalah pribadi manusia dalam korelasi sosial. Sebagai keutamaan, keadilan merupakan tuntutan pertama dan jaminan yang tak tersangkalkan demi terwujudnya tatanan dalam kemajuan sosial. Obyek keutamaan ini adalah hak manusia, baik hak orang lain maupun hak pribadi. Keadilan terkait dengan pemenuhan hak dan kewajiban, keuntungan-keuntungan sosial, dan orang-orang yang terlibat dalam masyarakat politis. Keadilan mengandung gagasan persamaan derajat manusia dalam hak dan kewajiban.6
3 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum (Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia),
Gramedia, Jakarta, 2002, hlm. 155-156.
4 Lihat... The Liang Gie, Teori-teori Keadilan, Supersukses, Yogyakarta, 1982, hlm. 7.
5 Darji Darmodiharjo & Shidarta, Pokok-pokok Filsafat Hukum (Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia),
Gramedia, Jakarta, 2002, hlm. 156.
b. Penggolongan Keadilan
Menurut Aristoteles, keadilan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu "keadilan universal" (umum), dan yang kedua disebut "keadilan partikular". Keadilan universal adalah keadilan yang terbentuk bersamaan dengan perumusan hukum, sedangkan keadilan partikular adalah jenis keadilan yang oleh Aristoteles diidentikkan dengan kepatutan (fairness atau equalitas7). Keadilan partikular terdiri dari dua jenis, yaitu keadilan distributif dan keadilan rektifikatoris. Keadilan distributif adalah "keadilan proposional", dan keadilan rektifikatoris atau keadilan komutatif adalah "keadilan hubungan antar persona" atau keadilan dalam perhubungan hukum.8
Aristoteles tidak menjelaskan secara rinci dan detail (sistematis) apa yang yang menjadi dasar dari penggolongan atau pembagian tersebut. Namun demikian, secara tersamar Aristoteles telah mencoba menjelaskannya pada saat ia mengemukakan bahwa “Keadilan merupakan gagasan yang ambigu (mendua), sebab dari satu sisi, konsep ini mengacu pada keseluruhan kebajikan sosial (termasuk di dalamnya kebajikan dalam hubungan dengan sesamanya) dan dari sisi yang lain, juga mengacu pada salah satu jenis kebajikan sosial khusus”9.
Karena itu, seperti yang akan diuraikan di bawah ini, maka
berdasarkan penggolongan Aristoteles tersebut, keadilan dapat digolongkan menjadi beberapa penggolongan berdasarkan faktor-faktor penggolongnya, yaitu berdasarkan sifat dari penerapan7 Aequitas atau Equalitas (billijkheid, kepatutan) tidak bermaksud untuk mengurangi keadilan. Aequitas hanya
memberikan koreksi apakah subyek dalam situasi dan keadaan (omstandingheden) tertentu patut memperoleh haknya atau kewajibannya. Menurut Duynstee, dalam bukunya yang berjudul “Over Recht en Rechtwaardigheid”, yang dimaksud dengan aequitas ialah "Menkan de aequitas, de billijkheid definieren, als de deugd, die de mens beweegt,
om in het gebruik van wat rechtens toekomt, redelijk te handelen." (Kita dapat mendefinisikan aequitas sebagai kebajikan yang mendorong manusia untuk mempergunakan apa yang menjadi haknya menurut hukum, sesuai dengan akal budinya). Aequitas itu kebajikan yang menyangkut berbagai jenis keadilan, misalnya: Aequitas
berhubungan dengan justitia commutativa, misalnya, ternyata dari Arrest H.R. 1919 tentang perbuatan melawan
hukum. Aequitas berhubungan dengan justitia distributiva, yang pelaksanaannya perlu memperhitungkan situasi dan keadaan dari yang melakukan tugasnya. Aequitas berhubungan dengan justitia vindicativa yang pelaksanaannya perlu mempertimbangkan situasi dan keadaan dari yang melanggar undang-undang. (Lihat... O. Notohamidjojo,
Demi Keadilan dan Kemanusiaan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1975, hlm. 38-39.)
8 Lihat... Aristoteles, Nicomachean Ethics (Sebuah “Kitab Suci” Etika) diterjemahkan oleh: Embun Kenyowati,
Teraju, Jakarta, 2004, hlm. 111-130;
Lihat pula... E. Sumaryono, Etika & Hukum (Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas), Kanisius, Yogyakarta, 2002, hlm. 256.
9 Lihat... E. Sumaryono, Etika & Hukum (Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas), Kanisius, Yogyakarta,
keadilan dan berdasarkan subyek keadilan. Berdasarkan sifat dari penerapan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat, maka keadilan dapat dibedakan menjadi keadilan umum atau keadilan legal dan keadilan khusus atau partikular. Sifat dari penerapan keadilan ini maksudnya adalah bahwa pada saat keadilan diterapkan pada peristiwa tertentu, didalamnya keadilan dapat bersifat sebagai gagasan dan dapat bersifat sebagai suatu sikap dan tindakan. Demikian pula berdasarkan subyek dari keadilan, maka keadilan dapat dibedakan menjadi keadilan individual dan keadilan sosial. Hal ini mengandaikan bahwa keadilan adalah sebagai suatu tindakan yang dilakukan oleh suatu subyek (dalam hal ini adalah manusia), yang secara kodrati manusia tersebut sebagai mahkluk individual dan sosial. Kemudian si subyek ini melakukan tindakan atau perbuatan “yang adil” kepada manusia lainnya dalam pergaulan hidupnya, baik dalam lingkupnya yang kecil seperti keluarga maupun dalam lingkupnya yang lebih besar seperti masyarakat (masyarakat negara atau dunia, bahkan jagat raya). Sehingga dengan demikian keadilan individual adalah kondisi adil yang tercipta bergantung pada kehendak baik manusia sebagai mahkluk individual. Sedangkan keadilan sosial adalah kondisi adil yang tercipta tidak bergantung pada kehendak baik manusia sebagai mahkluk individual, tetapi berdasarkan struktur sosial masyarakatnya. Untuk lebih jelasnya, maka hal-hal tersebut akan diuraikan lebih lanjut di bawah ini.
1)
Berdasarkan Sifat dari Penerapan Keadilan10a) Keadilan Legal (Universal / Umum)
Keadilan legal menyangkut hubungan antara individu atau kelompok masyarakat dengan negara. Intinya adalah semua orang atau kelompok masyarakat diperlakukan secara sama oleh negara di hadapan dan berdasarkan hukum yang berlaku. Semua pihak dijamin untuk mendapat perlakuan yang sama sesuai dengan hukum yang berlaku. Tentu saja hal ini hanya merupakan
sutau prinsip atau pikiran dasar yang melandasi suatu perbuatan yang akan menciptakan suatu kondisi “yang adil”. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa manusia adalah mahkluk sosial, yang artinya manusia tersebut memiliki kecenderungan untuk hidup bersama dengan sesamanya, melalui sutau interaksi yang dilakukan dengan perilakunya, yang agar interaksinya ini berjalan dengan tertib diperlukan suatu “hukum”, dan yang berdasarkan keinsyafan batinya hukum itu ditaati karena ia (hukum) itu “adil”.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Thomas Aquinas (penganjur teori hukum kodrat), bahwa hubungan antara individu dengan masyarakat secara keseluruhan (ordo partium ad
totum) ini menciptakan "keadilan legal" (iustitia legalis) atau "keadilan umum" (iustitia generalis). Jika sasaran pemberlakuan hukum positif adalah kebaikan umum (dalam arti
kesejahteraan umum), maka keberlakuan hukum positif tersebut harus dapat menjamin dan menyebarluaskan kebaikan umum. Dalam hal ini, cara yang dapat ditempuh antara lain:
Pertama, menunjukkan dengan jelas dan tegas batasan pengertian hak dan kewajiban yang
melekat pada diri setiap anggota masyarakat, serta dapat menjamin terselenggaranya kebebasan, dengan maksud supaya manusia bertanggung jawab atas tujuan keberadaannya;
Kedua, melindungi kedamaian batin individu dan ketertiban sosial, serta menetapkan jaminan
keamanan atas hidup manusia; Ketiga, menciptakan kondisi-kondisi yang dapat mengembangkan kemajuan segala bidang yang menjadi kebutuhan manusia dalam hidupnya. Jika sebuah hukum tidak dapat mencapai sasaran keadilan seperti tersebut di atas, maka hukum semacam ini tidak dapat dinilai sebagai hukum yang adil. Ini berarti bahwa kehendak pembentuk hukum atau legislator bukan merupakan dasar eksklusif dan primer untuk sebuah tertib hukum. Sesuatu hukum hanya akan berlaku sah (valid) jika hukum itu sesuai dengan pola-pola keinginan dan cita-cita manusia yang terkandung di dalam realitas kodrat manusia.11
11 Lihat... E. Sumaryono, Etika & Hukum (Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas), Kanisius, Yogyakarta,
Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa keadilan legal intinya adalah semua pihak dijamin untuk mendapat perlakuan yang sama oleh negara di hadapan dan berdasarkan hukum yang berlaku. Hal ini dilandasi oleh pemikiran, yaitu: Pertama, semua orang adalah manusia yang mempunyai harkat dan martabat yang sama dan karena itu harus diperlakukan secara sama. Perlakuan yang berbeda atau diskriminatif berarti merendahkan harkat dan martabat manusia, tidak hanya pada orang partikular konkret tertentu, melainkan juga harkat dan martabat manusia pada umumnya. Kedua, semua orang adalah warga negara yang sama status dan kedudukannya, serta kewajiban sipilnya. Karena itu, semua orang harus diperlakukan secara sama sesuai dengan hukum yang berlaku. Perlakuan yang tidak sama hanya mungkin dibenarkan jika didasarkan pada alasan-alasan yang masuk akal, misalnya ia tidak memenuhi kewajibannya sebagai warga yang baik. Demikian pula, perlakuan yang tidak sama hanya bisa dibenarkan melalui pertanggungjawaban yang terbuka berdasarkan prosedur legal yang berlaku.
Prinsip dasar moral tersebut di atas mempunyai beberapa konsekuensi legal dan moral yang mendasar, yaitu: Pertama, itu berarti semua orang harus secara sama dilindungi oleh hukum, dalam hal ini oleh negara. Hukum wajib melindungi semua warga, terlepas dari status sosial, latar belakang etnis, agama, sosial ekonomi, ataupun aliran politiknya. Jadi, semua orang harus diperlakukan secara sama sebagai manusia dan warga negara. Kedua, ini juga berarti bahwa tidak ada orang yang akan diperlakukan secara istimewa oleh hukum atau negara. Dalam kasus yang persis sama, tidak boleh ada yang mendapat perlakuan istimewa sementara yang lain tidak. Secara konkret, itu berarti siapa saja yang bersalah harus dihukum dan siapa saja yang dirugikan atau dilanggar hak dan kepentingannya harus dibela dan dilindungi oleh negara.
Ketiga, negara, dalam hal ini pemerintah, tidak boleh mengeluarkan hukum atau produk hukum
apa pun yang secara khusus dimaksudkan demi kepentingan kelompok atau orang tertentu, dengan atau tanpa merugikan kepentingan pihak lain. Kalaupun aturan itu secara material tidak
merugikan hak dan kepentingan pihak tertentu, aturan itu sendiri sudah menunjukkan perlakuan istimewa, yang berarti pada akhirnya merugikan dan melanggar rasa keadilan dalam masyarakat. Keempat, prinsip di atas juga berarti semua warga tanpa perbedaan apa pun harus tunduk dan taat kepada hukum yang berlaku karena hukum tersebut melindungi hak dan kepentingan semua warga. Dengan kata lain, ketaatan yang sama dari warga atas hukum pada akhirnya akan menjamin perlindungan dan perlakuan hukum yang sama bagi semua, dengan pengandaian bahwa hukum itu sendiri adil (yaitu bahwa hukum itu berlaku untuk semua tanpa terkecuali atau tanpa diskriminasi) dan etis (memuat hal yang secara moral baik).
b) Keadilan Partikular / Khusus
Keadilan partikular atau keadilan khusus ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu keadilan komutatif dan keadilan distributif. Keadilan komutatif ini mengatur hubungan yang adil atau fair antara orang yang satu dan yang lain atau antara warga negara yang satu dan warga negara lainnya. Dengan kata lain, jika keadilan legal lebih menyangkut hubungan vertikal antara negara dan warga negara, maka keadilan komutatif menyangkut hubungan horisontal antara warga yang satu dan warga yang lain. Keadilan komutatif menuntut agar dalam interaksi sosial antara warga yang satu dan warga yang lain, tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya. Ini berarti prinsip keadilan komutatif menuntut agar semua orang memberikan, menghargai, dan menjamin apa yang menjadi hak orang lain. Maka, dasar moralnya sama dengan keadilan legal tersebut di atas, yaitu bahwa semua orang mempunyai harkat dan martabat serta hak yang sama, yang harus dijamin dan dihargai oleh semua orang lain. Dengan kata lain, dasarnya adalah keseimbangan atau kesetaraan antara semua pihak dalam interaksi sosial apa pun. Oleh karena itu, jika dalam interaksi sosial apa pun terjadi bahwa pihak tertentu dirugikan hak dan kepentingannya, maka negara dituntut untuk turun tangan menindak pihak yang merugikan dan dengan demikian memulihkan kembali keseimbangan atau
kesetaraan kedua pihak yang terganggu oleh adanya pelanggaran tadi. Negara dituntut untuk memulihkan kembali hubungan yang rusak oleh pelanggaran hak pihak tertentu. Dalam kaitan dengan itu, prinsip keadilan komutatif juga menyangkut pemulihan kembali hubungan yang rusak, yang menjadi tidak harmonis dan tidak seimbang (tidak adil), karena terlanggarnya hak pihak tertentu oleh pihak lain.12
Sedangkan keadilan distributif adalah pembagian atau penyebaran hak dan kewajiban dalam bidang hukum, sosial, budaya, ekonomi dan lainnya yang merata atau yang dianggap “adil” bagi semua warga negara. Dengan kata lain, keadilan distributif menyangkut pembagian beban-beban dan hasil-hasil pembangunan. Atas dasar ini, Aristoteles menerima ketidakadilan sosial ekonomi sebagai hal yang adil, asalkan sesuai dengan peran dan sumbangan masing-masing orang. Maksudnya, yaitu bahwa orang yang mempunyai sumbangan dan prestasi terbesar akan mendapat imbalan terbesar, sedangkan orang yang sumbangannya kecil akan mendapat imbalan yang kecil. Ini adil. Demikian pula, perbedaan kaya miskin yang sejalan dengan perbedaan sumbangan dan prestasi masing-masing orang harus dianggap sebagai hal yang adil. Dengan kata lain, keadilan distributif tidak membenarkan prinsip sama rata dalam hal pembagian beban-beban dan hasil-hasil pembangunan.13
2) Berdasarkan Subjek Keadilan
12 Jika diterapkan dalam bidang ekonomi atau bisnis, itu berarti relasi dagang atau bisnis harus terjalin dalam
hubungan yang setara dan seimbang antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Ini berarti dalam relasi dan kegiatan bisnis tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya. Jika hal itu terjadi, maka negara dituntut untuk turun tangan memulihkan ketidakseimbangan, ketidakadilan itu, dengan mengenakan sanksi atau hukuman yang setimpal dengan kerugian yang diderita korban. Dengan sanksi dan hukuman yang setimpal, hubungan yang pincang, yang tidak simetris, dikembalikan menjadi simetris sebagaimana terungkap dalam lambang keadilan berupa dacing yang seimbang. Dalam bisnis, keadaan, relasi, dan transaksi yang dianggap adil adalah yang pada akhirnya melahirkan win-win situation. Dalam bisnis, keadilan komutatif juga disebut atau berlaku sebagai keadilan tukar. Dengan kata lain, keadilan komutatif menyangkut pertukaran yang fair antara pihak-pihak yang terlibat. Dengan demikian, prinsip keadilan komutatif menuntut agar semua orang menepati apa yang telah dijanjikannya, mengembalikan pinjaman, memberi ganti rugi yang seimbang, memberi imbalan atau gaji yang pantas, menjual barang dengan mutu dan harga yang seimbang dan sebagainya.
13 Hal ini sangat berbeda dengan prinsip keadilan distributif yang dianut dalam ekonomi sosialis, di mana semua orang
dijamin kebutuhan ekonominya secara relatif sama terlepas dari sumbangan dan prestasinya bagi kehidupan bersama atau perusahaan. Setiap warga akan diberi jatah sesuai dengan kebutuhan keluarganya, terlepas dari prestasi kerja, kedudukan, dan jabatannya.
a) Keadilan Individual
Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa keadilan individual adalah kondisi adil yang tercipta bergantung pada kehendak baik atau buruk manusia sebagai mahkluk individual. Pelaksanaan keadilan individual ini tergantung pada kemauan atau keputusan satu orang (atau bisa juga beberapa orang) saja. Dalam kehidupan sehari-hari banyak masalah tergolong keadilan individual. Keadilan individual dapat terlaksana, jika hak-hak individual terpenuhi. Keadilan individual jauh lebih mudah untuk dilaksanakan ketimbang keadilan sosial. Keadilan individual sering kali dapat dilaksanakan dengan sempurna, karena hanya menyangkut manusia sebagai individu dan tergantung dari manusia sebagai individu. Hal ini sebagaimana disimbolkan oleh timbangan sebagai lambang keadilan, yang hanya cocok untuk keadilan individual.14
b) Keadilan Sosial
Dalam rangka teori keadilan, pengertian "keadilan sosial" sering dipersoalkan dan diliputi ketidakjelasan cukup besar. Ada yang menganggap keadilan sosial sebagai nama lain untuk keadilan distributif. Ada pemikir lain yang justru berpendapat bahwa keadilan sosial harus dibedakan dari keadilan distributif. Yang pasti ialah dibandingkan dengan jenis-jenis keadilan yang sudah disebut sebelumnya, paham "keadilan sosial" masih berumur muda. Dapat dipastikan juga bahwa secara historis pengertian ini berkaitan erat dengan pemikiran sosialistis.15
Selain itu, Ahli ekonomi Jerman, H. Pesch (1854—1926) berpendapat bahwa, “Keadilan sosial tak lain ialah istilah umum untuk keadilan umum dan keadilan distributif”. Tetapi kemudian sementara orang berpendapat bahwa, keadilan sosial merupakan bentuk keempat
14 Lihat... K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, Kanisius, Yoyakarta, 2000, hlm. 92-94;
Lihat pula... Frans Magnis Suseno, Kuasa dan Moral, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001, hlm. 50-51.
15 Lihat... K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, Kanisius, Yoyakarta, 2000, hlm. 92;
Lihat pula... Bur Rasuanto, Keadilan Sosial (Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas: Dua Teori Filsafat
dan berlainan dari keadilan, yang sejauh itu belum lengkap. Menurut pendapat ini keadilan mempunyai empat bentuk yaitu umum, komutatif, distributif, dan sosial.16
Dalam pelaksanaan keadilan sosial, satu orang atau beberapa orang saja tidak berdaya. Pelaksanaan keadilan sosial tergantung dari struktur-struktur masyarakat di bidang sosial-ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya. Keadilan sosial tidak akan terlaksana, jika struktur-struktur masyarakat tidak memungkinkan. Pada kenyataannya masalah keadilan sosial terutama tampak dalam bentuk negatifnya, yakni sebagai ketidakadilan sosial. Jadi di sini keadilan tidak tergantung dari kehendak baik individu-individu yang langsung terlibat dalam suatu hubungan tertentu, melainkan dari struktur-struktur ekonomis, sosial, dan politik seluruh masyarakat.
Dengan demikian keadilan sosial dapat didefinisikan sebagai keadilan yang pelaksanaannya tergantung dari struktur proses-proses ekonomis, politis, sosial, budaya, dan ideologis dalam masyarakat. Struktur-struktur itu merupakan struktur-struktur kekuasaan dalam dimensi-dimensi utama kehidupan masyarakat. Susunan struktur-struktur itu menentukan kedudukan masing-masing golongan sosial, apa yang mereka masukkan dan apa yang mereka peroleh dari proses-proses itu. Masyarakat merupakan proses yang mengalir terus menurut struktur-struktur kekuasaan itu. Mengusahakan keadilan sosial dengan demikian berarti mengubah atau seperlunya membongkar struktur-struktur ekonomis, politis, sosial, budaya, dan ideologis yang menyebabkan segolongan orang tidak dapat memperoleh apa yang menjadi hak mereka atau tidak mendapat bagian yang wajar dari harta kekayaan dan hasil pekerjaan masyarakat sebagai keseluruhan. Struktur-struktur itu bersifat sedemikian rupa sehingga kelas-kelas itu, betapapun anggota-anggota mereka berusaha, tetap tidak memperoleh apa yang menjadi hak mereka.17
16 Lihat... Kirdi Dipoyudo, Keadilan Sosial, Rajawali Pers, Jakarta, 1985, hlm. 27.
Keadilan sosial ini terkait erat dengan masalah-masalah sosial, seperti kepincangan hubungan sosial, kesejahteraan umum dan pelaksanaan wibawa pihak pengatur negara. Keadilan sosial tersebut akan terwujud jika keluhuran martabat manusia sungguh dihargai dan dijunjung tinggi. Penghormatan terhadap keluhuran martabat manusia merupakan unsur hakiki dalam mencapai keadilan sosial. Setiap manusia diciptakan oleh Tuhan yang satu dan sama, yakni mereka memiliki kodrat yang sama. Keadilan sosial ini menekankan kesamaan dalam perbedaan di antara umat manusia. Sasaran utama keadilan sosial adalah kesejahteraan umum yang dapat dinikmati oleh khalayak ramai dan bukan hanya golongan terbatas. Kesejahteraan ini memberikan gambaran tentang sikap dasar manusia yang menyadari tanggungjawab atas orang-orang lain yang tergabung dalam suatu masyarakat dan negara. Persahabatan antar manusia saling dihargai dan dipupuk. Keadilan sosial setidak-tidaknya memiliki tiga sasaran penting: (1) Keadilan sosial menyangkut kesejahteraan ekonomi kelompok-kelompok sosial. Pembagian yang adil dan merata bagi warga masyarakat merupakan wujud keadilan sosial dalam masyarakat; (2) Keadilan sosial menuntut pembagian yang adil dan berkeseimbangan atas kekayaan suatu bangsa di antara kelas-kelas sosial yang berbeda. Adanya kemiskinan, kemelaratan dan ketidakseimbangan merupakan "dosa" terhadap keadaan sosial masyarakat; (3) Keadilan sosial merupakan bagian dari kewajiban bangsa-bangsa dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa lain. Keadilan sosial mengikat dan melibatkan negeri-negeri yang dari segi ekonomi sudah maju untuk membantu negeri-negeri miskin dan belum berkembang agar bangsa-bangsa ini dapat hidup secara layak sebagai umat manusia.18
c. Sifat/Karakteristik dari Keadilan
Menurut Georges Gurvitch, keadilan sering diartikan terlampau luas sehingga tampak berbaur dengan seluruh isi dari moralitas.19 Hal ini juga dikemukakan oleh Aristoteles. 18 Lihat... William Chang, Menggali Butir-butir Keutamaan, Kanisius, Yogyakarta, 2002, hlm. 35-36.
Menurutnya keadilan merupakan gagasan yang ambigu (mendua), sebab dari satu sisi, konsep ini mengacu pada keseluruhan kebajikan sosial (termasuk di dalamnya kebajikan dalam hubungan dengan sesamanya) dan dari sisi yang lain, juga mengacu pada salah satu jenis kebajikan sosial khusus.20 Menurut Aristoteles, keadilan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu "keadilan universal" (umum), dan yang kedua disebut "keadilan partikular". Keadilan partikular terdiri dari dua jenis, yaitu keadilan distributif dan keadilan rektifikatoris.21 Selanjutnya Dalam
"Nicomachea Ethics", Buku V, Aristoteles memperbandingkan antara "kepatutan" dan "yang
patut" dengan "keadilan" dan "yang adil", bahkan di satu aspek membedakannya, dan di lain aspek kedua term tersebut dianggapnya "tidak ada bedanya". Padahal, jika mengikuti konsekuensi-konsekuensi logis, sering terjadi "yang patut" berbeda pengertiannya dari "yang adil", dan jika demikian, menurut Aristoteles, "yang adil" belum tentu memiliki nilai moral serta "yang layak" itu belum tentu adil.22
Atas dasar ini, Aristoteles menerima ketidakadilan sosial ekonomi sebagai hal yang adil, asalkan sesuai dengan peran dan sumbangan masing-masing orang. Maksudnya, yaitu bahwa orang yang mempunyai sumbangan dan prestasi terbesar akan mendapat imbalan terbesar, sedangkan orang yang sumbangannya kecil akan mendapat imbalan yang kecil. Ini adalah adil. Demikian pula, perbedaan kaya dan miskin yang sejalan dengan perbedaan sumbangan dan prestasi masing-masing orang harus dianggap sebagai hal yang adil. Dengan kata lain, keadilan distributif tidak membenarkan prinsip sama rata dalam hal pembagian kekayaan ekonomi.
20 Lihat... E. Sumaryono, Etika & Hukum (Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas), Kanisius, Yogyakarta,
2002, hlm. 256.
21 Lihat... E. Sumaryono, Etika & Hukum (Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas), Kanisius, Yogyakarta,
2002, hlm. 256;
Lihat pula... Aristoteles, Nicomachean Ethics (Sebuah “Kitab Suci” Etika) diterjemahkan oleh: Embun Kenyowati, Teraju, Jakarta, 2004, hlm. 111-130.
Prinsip sama rata hanya akan menimbulkan ketidakadilan karena mereka yang menyumbang paling besar tidak dihargai semestinya, yang berarti diperlakukan secara tidak adil.23
Paling tidak ada tiga ciri khas yang selalu menandai keadilan. Pertama, keadilan selalu tertuju pada orang lain atau keadilan selalu ditandai other directedness. Masalah keadilan atau ketidakadilan hanya bisa timbul dalam konteks antar manusia. Untuk itu, diperlukan sekurang-kurangnya dua orang manusia. Kedua, keadilan harus ditegakkan atau dilaksanakan. Jadi, keadilan tidak diharapkan saja atau dianjurkan saja. Ciri kedua ini disebabkan karena keadilan selalu berkaitan dengan hak yang harus dipenuhi. Karena itu dalam konteks keadilan bisa dipakai "bahasa hak" atau "bahasa kewajiban", Dalam mitologi Romawi, Dewi lustitia (keadilan) digambarkan dengan memegang timbangan dalam tangan. Timbangan ini menunjuk kepada ciri kedua tersebut, yakni keadilan harus dilaksanakan persis sesuai dengan bobot hak seseorang.
Ketiga, keadilan menuntut persamaan (equality). Dalam mitologi Romawi digambarkan bahwa
Dewi lustitia yang memegang timbangan dalam tangannya, dengan matanya tertutup dengan kain. Sifat terakhir ini menunjukan bahwa keadilan harus dilaksanakan terhadap semua orang, tanpa melihat orangnya siapa.24
d. Beberapa Teori Tentang Keadilan
Dalam lintasan perkembangan tentang arti dan makna keadilan, para ahli pikir
telah banyak mengembangkan tentang arti dan makna keadilan melalui berbagai
teori-teori. Namun dalam tulisan ini, tidak akan semua diuraikan mengenai teori-teori
keadilan yang pernah dikemukakan oleh para ahli pikir tersebut. Hal ini lebih disebabkan
oleh keterbatasan kemampuan penulis dalam memahami teori-teori keadilan tersebut.
Dengan demikian, hanya beberapa teori keadilan saja dari sekian banyak teoari keadilan
yang ada, yang akan diuraikan dalam tulisan ini, yaitu Teori Keadilan Adam Smith, Teori
23 Hal ini sangat berbeda dengan prinsip keadilan distributif yang dianut dalam ekonomi sosialis, di mana semua orang
dijamin kebutuhan ekonominya secara relatif sama terlepas dari sumbangan dan prestasinya bagi kehidupan bersama atau perusahaan. Setiap warga akan diberi jatah sesuai dengan kebutuhan keluarganya, terlepas dari prestasi kerja, kedudukan, dan jabatannya.
Keadilan David David Hume, dan Teori Keadilan John Rawls, seperti yang akan diuraikan
di bawah ini.
1)
Teori Keadilan Adam Smith
25Makna utama keadilan menurut Adam Smith adalah keadilan komutatif. Sampai
pada tingkat tertentu, keadilan komutatif Adam Smith mirip dengan keadilan komutatif
dari Aristoteles. Baik keadilan komutatif dari Aristoteles maupun Adam Smith dibangun
di atas dasar pengandaian akan kesamaan hakiki di antara umat manusia. Keadilan
komutatif tersebut berhubungan dengan konsep kesetaraan nilai. Keadilan komutatif
yang dikemukakan oleh Adam Smith mengandung prinsip utama yaitu no harm atau
prinsip tidak melukai dan merugikan orang lain. Secara lebih khusus prinsip ini mengacu
pada sikap menahan diri untuk tidak merugikan orang lain. Sepert Cicero, Adam Smith
menegaskan bahwa “kita dianggap bertindak adil terhadap sesama kita jika kita
menahan diri untuk tidak merugikannya, dan tidak secara langsung melukainya, baik
menyangkut pribadinya, miliknya atau reputasinya”.
Menurutnya, bertindak adil terhadap orang lain adalah jika tidak melukai atau
tidak merugikannya, baik sebagai manusia, sebagai anggota keluarga, ataupun sebagai
warga sebuah masyarakat. Sebaliknya, keadilan dilanggar jika seseorang dilucuti dari
apa yang dimilikinya sebagai hak dan dapat secara sah menuntutnya dari orang lain atau
jika merugikannya atau melukainya tanpa alasan. Dengan ini terlihat jelas bahwa
keadilan komutatif Adam Smith menyangkut jaminan dan penghargaan atas hak-hak
individu dan hak-hak asasi. Hak-hak individu tersebut, dianggap sebagai hak-hak
sempurna (perfect right), yaitu hak-hak yang wajib dituntut dari orang lain untuk
dihargai.
Dengan prinsip tersebut di atas, keadilan komutatif Adam Smith lebih luas dari
pada yang dikemukakan oleh Aristoteles. Hal ini dikarenakan oleh: Pertama, keadilan
komutatif tersebut tidak hanya menyangkut pemulihan kembali kerusakan yang telah
25 Lihat... A. Sonny Keraf, Pasar Bebas Keadilan & Peran Pemerintah (Telaah Atas Etika Politik Ekonomi Adam
Smith), Kanisius, Yogyakarta, 1996, hlm. 111-120;
Lihat pula... A. Sonny Keraf, Etika Bisnis (Tuntutan dan Relevansinya), Kanisius, Yogyakarta, 1998, hlm. 146-152; Lihat pula... Tom Campbell, Tujuh Teori Sosiologi (Sketsa, Penilaian, Perbandingan) diterjemahkan oleh: F. Budi Hardiman, Kanisius, Yogyakarta, 1994, hlm. 118-120.
terjadi, melainkan juga menyangkut pencegahan terhadap dilanggarnya hak dan
kepentingan pihak lain. Keadilan komutatif tersebut dituangkan dalam hukum yang
tidak hanya menetapkan pemulihan kerugian, melainkan juga hukum yang mengatur
agar tidak terjadi pelanggaran atas hak dan kepentingan pihak tertentu. Tujuan yang
hendak dicapai oleh keadilan adalah menjamin manusia dalam apa yang disebut sebagai
hak-hak sempurnanya. Keadilan terletak pada kemampuan menahan diri agar tidak
merongrong apa yang menjadi milik orang lain dan melakukan secara sukarela apa yang
pantas untuk dilakukan. Dengan demikian, aturan keadilan terutama terdiri dari
serangkaian larangan tentang apa yang tidak boleh dilakukan manusia dalam interaksi
sosialnya. Kedua, keadilan komutatif Adam Smith berkaitan dengan jaminan atas
hak-hak sempurna individu. Keadilan ini tidak hanya berlaku bagi hubungan antara manusia
yang satu dengan yang lainnya tetapi juga berlaku bagi segala macam hubungan timbal
balik antara individu dengan individu, hubungan dalam keluarga, hubungan sipil dan
hubungan ekonomis serta hubungan pemerintah dengan rakyat. Ketiga, keadilan
komutatif Adam Smith berhubungan dengan apa yang secara tradisional dikenal melalui
Aristoteles sebagai keadilan legal atau perlakuan yang sama bagi semua orang sesuai
dengan hukum yang berlaku. Keadilan ini berkaitan dengan prinsip ketidakberpihakan
(impartiality).
Lebih lanjut menurut Adam Smith, aturan-aturan keadilan harus sedapat mungkin
memberikan kejelasan bagi tindakan manusia. Aturan-aturan ini mengatur setepat
mungkin setiap tindakan yang dituntut oleh keadilan. Keadilan adalah keutamaan moral
yang dapat dipaksakan, karena: Pertama, aturan-aturan itu menyangkut hak-hak
manusia yang berharga dan harus dijunjung tinggi oleh siapa saja. Aturan-aturan ini
menetapkan apa yang harus dilakukan dalam kaitanya dengan hak-hak orang lain dan
bagaimana hal tersebut dilakukan yang di dalamnya ditetapkan apa yang boleh dan apa
yang tidak boleh dilakukan. Kedua, bahwa pada kenyataannya pelanggaran atas
keadilan akan menimbulkan kerugian dan kejahatan dalam masyarakat, yang pada
gilirannya akan mengganggu keteraturan masyarakat.
Selain prinsip No Harm tersebut di atas, Teori Keadilan Adam Smith terdiri pula
dari prinsip Non Intervention dan prinsip Keadilan Tukar atau Pertukaran yang Fair.
Prinsip tidak ikut campur pada dasarnya mau mengatakan bahwa tidak seorang pun
diperbolehkan untuk mencampuri kehidupan dan hak-hak seseorang dalam interaksi
mereka satu dengan yang lainnya. Prinsip ini juga berlaku bagi hubungan antara
penguasa dan rakyat, dan karena itu penguasa tidak diperkenankan untuk mencampuri
secara tidak sah urusan warganya. Ini berarti, pada prinsipnya campur tangan
pemerintah tanpa alasan yang sah dan jelas akan dianggap sebagai tidak adil.
Prinsip perdagangan yang fair terutama mengacu pada hubungan ekonomi di
antara individu dalam pasar bebas. Ini menyangkut prinsip resiprositas atau kesetaraan
nilai dalam pertukaran ekonomi yang dipertahankan oleh mekanisme pasar bebas dan
terwujud dalam bentuk harga alamiah dari berbagai barang dan jasa yang
diperdagangkan. Di samping keadilan komutatif, Smith mengakui pula bahwa secara
tradisional ada dua makna keadilan lainnya, yaitu keadilan distributif dan keadilan
umum.
Uraian di atas telah memperlihatkan bahwa Adam Smith terutama menganggap
keadilan sebagai suatu keutamaan negatif (negative virtue). Artinya, keadilan komutatif
tidak terutama terletak dalam melakukan suatu tindakan positif untuk orang lain,
melainkan terletak dalam tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Menurut Smith "tujuan keadilan adalah melindungi orang dari kerugian" yang diderita
akibat tindakan orang lain. Prinsip keadilan komutatif terutama menyangkut menahan
atau mengekang diri sedemikian rupa sehingga tidak sampai melakukan tindakan yang
merugikan orang lain, baik sebagai manusia, anggota suatu keluarga atau warga negara.
Makna negatif dari keadilan komutatif ini terletak dalam dua hal. Pertama,
keadilan tidak menghimbau orang untuk melakukan sesuatu yang bersifat positif
terhadap orang lain. Karena itu, manusia sering bertindak sesuai dengan aturan keadilan
hanya dengan berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa (diungapkan dengan kata-kata
“Diam berarti emas”). Kedua, seseorang yang adil sedikit sekali, dan bahkan tidak akan
mendapatkan penghargaan. Jika ia melakukan apa yang dituntut oleh prinsip keadilan,
maka tidak ada yang akan menghargainya karena sesungguhnya ia tidak melakukan
apa-apa. Sebaliknya, jika ia melanggar aturan keadilan, maka ia akan mendapat hukuman.
Dalam arti ini, keadilan komutatif merupakan keutamaan moral yang minimal
saja. Tetapi justru karena sifatnya yang minimal dan negatif itulah keadilan ini menjadi
sangat penting bagi kehidupan manusia dan masyarakat. Dalam hal ini, ia tidak hanya
berkaitan dengan kegiatan ekonomi, melainkan juga seluruh bidang kegiatan dan
kehidupan manusia. Prinsip ini menjadi dasar semua hubungan sosial dan moral antar
manusia. Ciri negatif menyebabkan prinsip ini begitu ketat sehingga secara spontan
dirumuskan dalam aturan-aturan yang jelas dan universal. Demikian pula penekanan
atas sifat negatif menyebabkan prinsip ini menjadi sangat mendesak sehingga
mendorong manusia untuk memaksakan keberlakuan aturan-aturannya.
Atas dasar itu dapat dikatakan bahwa keadilan adalah aturan main minimal bagi
kehidupan sosial manusia. Suatu masyarakat atau interaksi sosial apa pun tidak akan
ada dan bertahan tanpa ada keadilan. Hidup bersama mengandaikan adanya tingkah
laku minimal tertentu yang harus dipatuhi dalam relasi antarmanusia. Maka, prinsip
keadilan adalah aturan main yang sangat hakiki bagi hidup manusia dan karena itu
berlaku bagi bidang kehidupan mana pun.
Secara positif, keadilan menurut Smith dapat dianggap sebagai sikap hormat
terhadap hak dan kepentingan masing-masing orang, bukan demi keutuhan masyarakat,
melainkan terutama demi hak dan kepentingan itu sendiri. Artinya, penghargaan atas
hak dan kepentingan orang lain, sebagai perwujudan prinsip keadilan, dilakukan atas
dasar pertimbangan bahwa memang hak dan kepentingan orang lain bernilai pada
dirinya sendiri sehingga pantas dihargai. Hanya saja, perlu diingat bahwa Smith memang
sengaja menekankan aspek negatif keadilan untuk menunjukkan pentingnya prinsip
keadilan bagi kehidupan manusia dan bagi kelestarian masyarakat.
2)
Teori Keadilan David Hume
26David Hume mempunyai dua sasaran utama ketika dia melontarkan teorinya
mengenai keadilan, yaitu untuk menentang teori hukum kodrat yang menganggap
26 Lihat... David Hume, A Treatise of Human Nature, Dover Philosophical Classic, Mineola, 2003, hlm. 339-406;
keadilan sebagai sebuah keutamaan moral alamiah dan menolak teori hukum kodrat
bahwa hukum kodrat atau aturan-aturan keadilan ditarik dari akal budi manusia.
Sasaran yang pertama, ia ingin menentang teori hukum kodrat yang menganggap
keadilan sebagai sebuah keutamaan moral alamiah. la menentang paham hukum kodrat
bahwa ada aturan-aturan keadilan yang bersifat abadi dan tak terubahkan yang telah
ada sejak awal mula. David Hume justru sebaliknya mengemukakan bahwa "keadilan
merupakan suatu keutamaan moral artifisial, dan bukan merupakan keutamaan
alamiah".
Argumen utama yang mendasari teorinya ini, yaitu ia mengacu kepada pandangan
tradisional yang berbunyi, "Keadilan adalah... kemauan tetap dan abadi untuk
memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya".
Menurut David Hume
definisi keadilan yang sudah tua ini mengandaikan bahwa sudah ada hak jauh sebelum
dan terlepas dari keadilan. Artinya, dengan aturan keadilan seseorang lalu berhak atas
tertentu. Jadi, keadilan menetapkan apa yang menjadi hak seseorang dan bukannya
memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya.
Dalam pandangan David Hume, manusia adalah makhluk sosial. Hakikat sosial
manusia ini dimungkinkan dan dipertahankan oleh afeksi sosial, seperti cinta dan afeksi
lainnya sebagaimana ditemukan dalam keluarga yang memungkinkan manusia bersatu
dengan yang lainnya. Akan tetapi, David Hume mengakui bahwa manusia juga
mempunyai perasaan lainnya yang bersifat destruktif (menghancurkan) terhadap ikatan,
keutuhan, dan kesatuan sosial. Yang paling menonjol dari perasaan semacam ini adalah
sikap ingat diri atau egois. Hasrat ingat diri ini terutama mengancam hak tertentu dari
setiap orang, dan dengan demikian pada akhirnya mengancam keutuhan sosial. Karena
hasrat ingat diri tersebut terbuka terhadap pelanggaran bagi hak orang lain dan karena
itu hak seseorang menjadi tidak aman.
Dalam arti tertentu, David Hume menerima pemikiran Thomas Hobbes bahwa
manusia bersifat egois, yaitu manusia mempunyai kecenderungan untuk memangsa
sesamanya dan menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus, belum omnium
karena itu tidak tertutup kemungkinan bahwa ia merampas hak orang lain demi
memuaskan kepentingannya sendiri. Hak milik pribadi orang lain mudah dilanggar demi
memenuhi kepentingan pribadinya. Bahkan menurutnya, janji yang diucapkan oleh
setiap orang bahwa dia akan menghargai hak orang lain tidak lagi efektif
mempertahankan keutuhan sosial.
Karena itu, satu-satunya jalan keluar yang diakui oleh David Hume adalah
kesepakatan resmi di antara semua orang untuk menjamin hak dari setiap orang. Demi
menjamin perasaan aman setiap orang atas haknya, manusia membuat kesepakatan di
antara mereka. Jadi jalan keluar terhadap pelanggaran hak orang lain yang
menyebabkan hak seseorang menjadi tidak aman, tidak diperoleh secara alamiah,
melainkan secara artifisial yakni kesepakatan resmi di antara semua orang.
Menurutnya, semua anggota masyarakat ikut dalam kesepakatan tersebut untuk
menjamin keamanan atas hak-hak yang dimilikinya dan membiarkan setiap orang
menikmati dengan tenang apa yang mungkin diperolehnya berdasarkan keberuntungan
dan kerajinannya. Dengan jalan ini setiap orang akan tahu apa yang dapat dimilikinya
secara aman bagi hak-haknya tersebut. Kesepakatan ini menetapkan aturan-aturan
menyangkut keadilan yang menemukan apa yang menjadi hak setiap orang. Dengan
kata lain, "keadilan muncul dari kesepakatan manusia".
David Hume lalu menarik kesimpulan bahwa "hanya dari sikap ingat diri dan
kemurahan hati yang terbatas dari manusia, bersama dengan terbatasnya persediaan
alam bagi kebutuhan manusia, muncullah keadilan". Karena itu, aturan kedilan bukan
merupakan proposisi rasional yang abstrak. Hukum alam pun bukan merupakan
perintah akal budi yang menetapkan berbagai hak makhluk rasional dalam masyarakat,
melainkan merupakan produk persetujuan manusia sebagai suatu upaya memecahkan
ketidakamanan yang timbul karena pertentangan hasrat, dan pertentangan tindakan
yang sejalan dengan itu. Jadi, sebelum adanya kesepakatan, keadilan dan ketidakadilan
sama-sama tidak dikenal di antara manusia.
Atas dasar ini, David Hume berpendapat bahwa keadilan merupakan suatu
keutamaan artifisial yang lahir dari kesepakatan di antara manusia. Akan tetapi,
kesepakatan ini bukanlah kesepakatan yang dilakukan manusia untuk membentuk
masyarakat ataupun negara sebagaimana halnya dalam teori kontrak sosial melainkan
hanya menyangkut jaminan keamanan bagi hak-haknya. David Hume bahkan menolak
teori kontrak sosial karena baginya sejak awal mula manusia hidup dalam ikatan sosial
satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, karena kecenderungan untuk hidup sebagai
makhluk sosial tidak menjamin keamanan bagi hak-haknya, maka perlu ada kesepakatan
lain yang mengatur dan menjamin keamanan bagi hak-haknya. David Hume
beranggapan bahwa sejak mula manusia hidup dalam masyarakat dan kekuasaan sipil
lahir secara alamiah melalui proses alamiah tanpa kesepakatan. Yang dibutuhkan
hanyalah kesepakatan di antara manusia untuk memberi, mengakui, dan menjamin hak
setiap orang. Hal ini dikarenakan menurut David Hume, hasrat yang bersifat egois tidak
hanya membuat hak menjadi tidak aman, melainkan juga menghancurkan masyarakat,
dan keadilan dianggap sebagai sangat penting artinya bagi kelangsungan masyarakat.
Sebagaimana diungkapkan olenhnya bahwa, "Tanpa keadilan, masyarakat pasti segera
hancur, dan setiap orang pasti jatuh ke dalam situasi yang kejam dan menyendiri, yang
sama sekali jauh lebih buruk daripada situasi paling buruk yang dapat dibayangkan
dalam masyarakat". Dengan demikian, manusia secara kodrati cenderung menempatkan
dirinya di bawah pembatasan aturan-aturan keadilan itu.
Sasaran kedua dari teori keadilan David Hume adalah untuk menolak teori hukum
kodrat bahwa hukum kodrat atau aturan-aturan keadilan ditarik dari akal budi manusia.
Yang ingin diperlihatkan David Hume adalah bahwa walaupun aturan-aturan keadilan
dimaksudkan untuk menolong manusia untuk memperoleh kendali eksklusif atas
haknya, motif yang ada di balik itu tidak ada sangkut pautnya dengan akal budi.
Sebagaimana diungkapkan oleh David Hume bahwa:
"Kepedulian terhadap kepentingan kita sendiri, dan kepentingan bersama, itulah yang membuat kita menetapkan hukum-hukum keadilan. Tidak ada yang lebih pasti daripada bahwa bukan relasi dengan ide-ide yang menyebabkan kita peduli akan hal ini, melainkan kesan dan perasaan kita, yang tanpa itu kita akan acuh tak acuh sama sekali terhadap segala hal di alam ini, dan tidak akan pernah sedikit pun mempengaruhi kita. Karena itu, perasaan keadilan tidak didasarkan pada ide-ide, melainkan pada kesan-kesan kita !"
Dengan demikian, dalam teori keadilan David Hume tidak ada perasaan keadilan
alamiah. Bagi David Hume, kepedulian terhadap keadilan tidak berkaitan dengan
perasaan spontan, melainkan merupakan hasil pendidikan atau hasil kesepakatan.
Dari uraian tersebut di atas, jika disarikan, maka uraiannya adalah sebagai berikut:
David David Hume berpendapat bahwa keadilan merupakan suatu keutamaan artifisial
yang lahir dari kesepakatan di antara manusia. Karena itu, perasaan keadilan dan
ketidakadilan tidak diperoleh dari kodrat, melainkan muncul secara artifisial dari
kesepakatan manusia. Jadi, keadilan adalah menetapkan apa yang menjadi hak
seseorang dan bukannya memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya.
Hal ini dikarenakan dalam pandangan David David Hume, manusia adalah makhluk
sosial yang hakikat sosial manusia ini dimungkinkan dan dipertahankan oleh afeksi
sosial. Kecenderungan manusia untuk hidup sebagai makhluk sosial ini, tidak menjamin
keamanan bagi dirinya. Karena itu, demi menjamin perasaan aman bagi setiap orang
atas haknya, manusia membuat kesepakatan di antara mereka, yaitu kesepakatan resmi
di antara semua orang untuk menjamin hak dari setiap orang. Kesepakatan ini
menetapkan aturan-aturan yang menyangkut keadilan untuk menemukan apa yang
menjadi hak dari setiap orang tersebut. Oleh karena itu, setelah kesepakatan ini, setiap
orang memperoleh jaminan atas hak-haknya, maka timbulah gagasan mengenai
keadilan dan ketidakadilan.
Terdapat keberatan yang bisa diajukan terhadap teori keadilan David Hume ini,
yakni masalah yang dihadapi dengan teori keadilan David Hume adalah bahwa David
Hume membatasi keadilan pada soal hak tertentu, yang dianggapnya sebagai hak
artifisial. Sejauh hak dilihat sebagai hak artifisial, maka benar bahwa tidak ada keadilan
atau ketidakadilan kalau tidak ada hak. Keadilan hanya mungkin ada kalau ada hak. Dan
karena itu hak adalah ciptaan manusia, keadilan pun merupakan ciptaan manusia untuk
menjamin hak ini.
Akan tetapi, masalahnya adalah bahwa manusia tidak hanya mempunyai satu
macam hak, melainkan juga jenis hak lainnya yang benar-benar bersifat kodrati atau
alamiah. Hak-hak yang disebut terakhir ini telah ada sebelum adanya kesepakatan di
antara manusia. Hak-hak ini ada begitu saja. Karena itu, hak-hak seperti itu, misalnya
hak atas hidup dan kebebasan, adalah hak alamiah karena hak-hak ini dimiliki oleh
manusia hanya karena manusia adalah manusia. Dengan demikian, hak-hak ini muncul
dan ada secara kodrati jauh sebelum dan terlepas dari aturan keadilan yang lahir dan
kesepakatan manusia. Dan terhadap hak-hak inilah setiap orang harus menunjukkan
sikap hormatnya. Dalam arti ini, keadilan adalah keutamaan alamiah. Apakah ada hak
atau tidak, kenyataan bahwa manusia adalah manusia sudah mengimplikasikan adanya
hukum keadilan kodrati untuk menjamin hak-hak asasi manusia, yang keberadaannya
terlepas dari kesepakatan manusia.
Lebih dari itu, karena keadilan tidak hanya menyangkut satu macam hak saja
(artifisial), melainkan juga hak asasi manusia. Manusia dalam arti tertentu telah memiliki
dalam hatinya perasaan keadilan untuk menghormati hak orang lain, khususnya hak-hak
asasi itu. Ini suatu perasaan moral alamiah yang membuat manusia taat terhadap
aturan-aturan keadilan, yang membuatnya peduli akan hak orang lain hanya karena
mereka sama-sama manusia. Sejak awal mula, ada suatu perasaan keadilan alamiah
yang mengendalikan manusia agar tidak sampai melanggar hak orang lain.
3)
Teori Keadilan John Rawls
2727 Lihat... John Rawls, A Theory of Justice, Oxford University Press, Oxford Melbourne Cape Town, 1973, hlm.
22-dst..
Lihat pula... Wila Chandrawila Supriadi, Hukum Perkawinan dan Keadilan Hukum, Lembaga Penelitian Unpar, Bandung, 2002, hlm. 10-34;
Lihat pula... Ian Shapiro, Asas Moral Dalam Politik diterjemahkan oleh: Theresia Wuryantari & Trisno Sutanto, Yayasan Obor Indonesia & Freedom Institute, Jakarta, 2006, hlm. 116-159;
Lihat pula... Ian Shapiro, Evolusi Hak Dalam Teori Liberal diterjemahkan oleh: Masri Maris, Yayasan Obor Indonesia & Freedom Institute, Jakarta, 2006, hlm. 219-290;
Teori keadilan John Rawls dibangun dengan keyakinan besar untuk mengusahakan
suatu teori keadilan yang dapat menjadi alternatif sekaligus mengungguli paham
utilitarianisme pada umumnya, dan juga semua versi yang beraneka ragam dari paham
tersebut. Rawls menolak utilitarianisme yang dipandangnya mereduksi keadilan hanya
ke semacam utilitas sosial. Sebagai suatu teori normatif yang sudah punya sejarah
panjang dan dominan dalam tradisi, banyak upaya membangun teori yang hendak
melawan atau mematahkan utilitarianisme. Namun hasilnya, menurut Rawls, paling jauh
hanya dipaksa memilih antara utilitarianisme atau intuisionisme. Padahal intuisionisme
dianggap mustahil dapat menjadi alternatif utilitarianisme. Intuisionisme bagi Rawls
hanya setengah teori. Teori-teori intuisionisme memperlihatkan dua ciri pokok, yakni
terdiri atas pluralitas prinsip utama, yang mungkin saling konflik dan tidak memiliki
metode eksplisit dan tidak mempunyai aturan prioritas yang dapat digunakan untuk
menimbang-nimbang prinsip satu terhadap yang lain sehingga keputusan diserahkan
kepada intuisi manusia. Ada berbagai jenis intuisionisme, dan kriteria keadilan
tergantung pada prinsip utama yang dipilih masing-masing. Permilihan itu akan
dipengaruhi dan diwarnai oleh situasi dan sudut pandang, kepentingan dan harapan,
bahkan adat kebiasaan. Pluralitas prinsip utama dan tiadanya sistem prioritas prinsip
utama itu, memberi kesan bahwa intuisionisme itu merupakan paham yang intrinsik
irrasional.
John Rawls mengemas teorinya dalam konsep justice as fairness, bukan karena ia
mengartikan keadilan sama dengan fairness, melainkan karena dalam konsepsi itu
terkandung gagasan bahwa prinsip-prinsip keadilan bagi struktur dasar masyarakat
merupakan objek persetujuan asal dalam posisi simetris dan fair. Dalam kesamaan
posisi asal wakil-wakil mereka menetapkan syarat-syarat fundamental ikatan mereka,
menetapkan bentuk kerja sama sosial yang akan mereka masuki dan bentuk
Lihat pula... Bur Rasuanto, Keadilan Sosial (Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas: Dua Teori Filsafat
Politik Modern), Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005, hlm. 28-96;
Lihat pula... Will Kymlicka, Pengantar Filsafat Politik Kontemporer diterjemahkan oleh: Agus Wahyudi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004, hlm. 67-102;
Lihat pula... Andre Ata Ujan, Keadilan dan Demokrasi (Telaah Filsafat Politik John Rawls), Kanisius, Yogyakarta, 2001, hlm. 29-94;
Lihat pula... Eddie Riyadi Terre, Keluar dari Dilema Transisi (Sebuah Pendekatan Paradigmatik Menuju Keadilan
pemerintahan yang akan didirikan. Cara memandang prinsip-prinsip keadilan seperti itu
yang disebut Rawls justice as fairness.
Watak fairness dalam keadilan Rawls ini berangkat dari asumsi dasarnya bahwa
subjek keadilan merupakan person moral yang rasional, bebas dan memiliki kesamaan
hak dengan yang lain. Ketiga hal itulah yang disebut oleh Rawls sebagai posisi asali atau
kondisi awal. Namun, ketiga hal itu hanyalah merupakan kondisi hipotetis, dan karena
itu tidak akan manifest atau terwujud jika tidak ada unsur lain yaitu "situasi tanpa
pengetahuan". Hal inilah yang disebut dengan keadilan prosedural murni.
28Berdasarkan asumsi tersebut itulah Rawls meluncurkan dua prinsip Keadilan yaitu
sebagai berikut:
(1) prinsip kebebasan yang paling luas dan sama bagi semua orang (the greatest equal
liberty principle); dan
(2) prinsip diferen (the difference principle), yaitu ketidaksamaan sosial dan ekonomi
harus diatur sedemikian rupa sehingga:
(a)
diharapkan memberikan keuntungan bagi setiap orang yang paling tidak
beruntung;
(b)
semua posisi dan jabatan terbuka bagi semua orang.
Di atas asumsi dan kedua prinsip tersebutlah Rawls memproklamirkan bahwa
justice is fairness. Menurut Rawls, prinsip pertama "kebebasan yang sedapat mungkin
sama" harus diberi prioritas mutlak. Prinsip ini tidak pernah boleh dikalahkan atau
dikesampingkan oleh prinsip-prinsip lain. Sedangkan prinsip "persamaan peluang atau
kesempatan yang sama bagi semua orang" (2,b) harus ditempatkan di atas "prinsip
perbedaan" (2,a). Pada skala nilai dalam masyarakat adil yang dicita-citakan oleh Rawls,
paling atas harus ditempatkan hak-hak kebebasan yang klasik, yang pada kenyataannya
sama dengan yang kita sebut Hak Asasi Manusia. Kemudian harus dijamin peluang yang
sama bagi semua warga negara untuk memangku jabatan yang penting. Akhirnya dapat
diterima perbedaan sosial-ekonomis-politik tertentu demi peningkatan kesejahteraan
bagi orang-orang yang kurang beruntung.
28 Ilustrasinya sebagai berikut: Andai kata kita harus membagi kue untuk 20 orang. Bagaimana caranya untuk
membagi kue itu dengan adil? Cara yang adil ialah kita tunjuk satu orang dan kita bilang kepadanya: "Coba membagi kue ini ke dalam 20 potongan yang sama. Kamu sendiri mendapat bagian terakhir; peserta lain boleh pilih menurut giliran yang ditentukan melalui undian". Tentu saja, orang itu akan berusaha agar kue itu dipotong ke dalam 20 bagian yang persis sama. Seandainya ada satu bagian lebih kecil, pasti bagian itulah akan tertinggal sebagai yang terakhir untuk orang yang memotong. Mengapa cara membagi ini bisa dianggap adil (fair)? Karena sebelumnya peserta tidak tahu siapa mendapat bagian mana. Ketidaktahuan itu menjamin dilaksanakannya pembagian yang adil.
Dalam praktiknya, kedua prinsip itu digunakan secara serial dalam arti prinsip
kedua hanya dapat diberlakukan jika prinsip yang pertama telah terpenuhi. Dalam
pandangan Rawls, kebebasan menempati posisi yang sangat fundamental dan tak
tertukarkan dengan alasan apa pun. Kendati demikian, kebebasan harus dibatasi dengan
alasan "demi menjamin kebebasan yang lebih tinggi"
berarti kebebasan membatasi
dirinya sendiri dan juga dengan alasan "demi kebaikan bersama atau umum".
Kendati
prinsip diferen Rawls ini lebih menekankan dimensi hubungan ekonomi antara subjek
keadilan, namun pembatasannya di sini bukan sekadar dalam dimensi ekonomis itu,
melainkan juga dalam hal distribusi kebebasan itu sendiri. Dikatakan Rawls: "Semua nilai
sosial, yakni kebebasan dan kesempatan, pendapatan dan kekayaan, dan dasar-dasar
harga diri, harus didistribusikan secara sama; distribusi yang tidak sama dapat
dibenarkan jika hal itu menguntungkan semua orang”. Selain itu, prinsip diferen yang
dimaksudkan Rawls menuntut bahwa prospek hidup yang lebih baik dari kaum yang
lebih beruntung (the better off) hanya dapat dibenarkan apabila kelebihan mereka itu
mendatangkan manfaat juga, berupa peningkatan dan perbaikan prospek hidup, bagi
kaum yang kurang beruntung (the worse off).
e. Keadilan Dalam Hukum
Keadilan adalah suatu keadaan conditio sine qua non dalam hukum. Dapat dikemukakan bahwa di dalam setiap tatanan hukum yang ada, hukum itu di dalam dirinya selalu menginginkan terciptanya suatu keadaan yang disebut dengan “adil”. Dalam artinya yang luas, kata “adil” berarti keseimbangan dari berbagai ide atau gagasan mengenai makna hukum yang intinya terdiri dari kepastian hukum, kedayagunaan dan keadilan dalam arti sempit.
Walaupun arti atau makna keadilan itu bisa berbeda-beda dari suatu sistem nilai ke sistem nilai yang lain, namun suatu sistem hukum tak dapat bertahan lama apabila tidak dirasakan adil oleh masyarakat yang diatur oleh hukum itu. Dengan perkataan lain, ketidakadilan akan mengganggu ketertiban yang justru menjadi tujuan tatanan hukum itu. Ketertiban yang terganggu berarti bahwa keteraturan dan karenanya kepastian tidak lagi terjamin. Jadi suatu
tatanan hukum tidak bisa dilepaskan dari keadilan. Hukum dapat diartikan sebagai kaidah-kaidah (undang-undang, leges, wetten, dan sebagainya), yang mengatur hidup bersama, yang dibuat oleh instansi yang berwenang, dan yang berlaku serta mempunyai daya mengikat. Seperti yang telah diuraikan tersebut di atas, bahwa keadilan merupakan salah satu tujuan hukum. Karenanya timbullah pertanyaan “Apakah keadilan termasuk pengertian hukum atau tidak?”, “Sejauh mana keadilan berpautan dengan hukum?”, dan “Apakah hukum harus dipandang sebagai unsur konstitutif hukum, atau hanya sebagai unsur regulatif?”. Jika adil merupakan unsur konstitutif hukum, suatu peraturan yang tidak adil bukan hanya hukum yang buruk, akan tetapi semata-mata bukan hukum. Sebaliknya, bila adil merupakan unsur regulatif bagi hukum, suatu peraturan yang tidak adil tetap hukum walaupun buruk, dan tetap berlaku dan mewajibkan.
Dalam dunia jaman kini, secara global terdapat dua jenis sistem hukum yang dianut, yakni sistem hukum kontinental yang dianut di adratan Eropa dan sistem hukum anglo-saxon yang dianut di Inggris dan Amerika. Perbedaan antara kedua sistem hukum itu tidak hanya terletak dalam praktek hukum, melainkan juga dalam arti atau makna tentang hukum. Menurut pengertian tradisional, yang cukup kuat di daratan Eropa, hukum pertama-tama menuju suatu aturan yang dicita-citakan yang memang telah dirancangkan dalam undang-undang, akan tetapi belum terwujud dan tidak pernah akan terwujud sepenuhnya. Sesuai dengan dikhotomi (pemisahan) ini terdapat dua istilah untuk menandakan hukum, yaitu pertama, hukum dalam arti keadilan (keadilan = iustitia) atau ius/Recht. Maka di sini hukum menandakan peraturan yang adil tentang kehidupan masyarakat, sebagaimana dicita-citakan. Kedua, hukum dalam arti undang-undang atau lex/wet. Kaidah-kaidah yang mewajibkan itu dipandang sebagai sarana untuk mewujudkan aturan yang adil tersebut. Perbedaan antara kedua istilah tersebut, yaitru istilah "hukum" mengandung suatu tuntutan keadilan, dan istilah "undang-undang"
menandakan norma-norma yang de facto digunakan untuk memenuhi tuntutan tersebut, baik tertulis maupun tak tertulis. Kata "hukum" sebagai "ius" lebih fundamental daripada kata "undang-undang"/lex, sebab kata "hukum" sebagai "ius" menunjukkan hukum dengan mengikutsertakan prinsip-prinsip atau asas-asas yang termasuk suatu aturan yang dikehendaki orang. Sedangkan "Lex" itu merupakan bentuk khusus dari "ius". Menurut pengertian yang dianut oleh teori positivisme hukum, hukum harus ditanggapi secara empiris, yakni semata-mata sebagai tata hukum yang telah ditentukan (hukum adalah undang-undang dan peraturan-peraturan yang berlaku). Berarti, di mana ada undang-undang, di sana ada hukum, yang mendekati gejala hidup secara ilmiah belaka, yakni sebagai fakta, dan tidak mau tahu tentang nilainya. Akibatnya tuntutan keadilan disingkirkan dari pengertian hukum. Undang-undang yang adil dan tidak adil dianggap sama kuat sebagai hukum. Dalam bahasa Inggris terdapat istilah untuk menandakan hukum, yakni: "law". Dalam kata "law" itu undang-undang tidak digabungkan dengan cita-cita keadilan, melainkan dengan kebijaksanaan pemerintah. Maka dalam sistem tersebut adil merupakan unsur regulatif bagi hukum; bukan unsur konstitutif. Perlu diperhatikan, bahwa untuk hukum subjektif dalam negara-negara yang berbahasa Inggris, digunakan kata yang mempunyai persamaan dengan kata "ius", yakni "right". Kata "right" itu menandakan suatu klaim seseorang akan keadilan. Akan tetapi apa yang dapat diharapkan ialah suatu hukum yang sesuai dengan kebijaksanaan dan keyakinan orang, entah itu cocok dengan prinsip-prinsip abstrak keadilan atau tidak.29
Salah satu sasaran yang hendak dicapai dalam penyelenggaraan hukum (pembentukan, pelaksanaan atau penerapan dan penegakan hukum) ialah mewujudkan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, keadilan merupakan hal yang esensial dalam pembicaraan mengenai hukum. Keadilan tersebut, baik isi maupun bentuknya sangat sulit untuk
dijelaskan, hal ini dikarenakan keadilan tersebut, tidak hanya berhubungan dengan satu individu saja atau ditentukan oleh seseorang, tetapi banyak faktor yang menentukan. Keadilan adalah sesuatu yang didambakan oleh atau merupakan ciri kehidupan manusia. Keadilan tersebut mempunyai isi yang berbeda-beda dan berubah-ubah menurut tempat dan waktunya (berdasarkan situasi dan kondisi masyarakatnya).30
Dalam bidang hukum, pada umumnya keadilan dipandang sebagai tujuan (end) yang harus dicapai dalam hubungan-hubungan hukum antara perseorangan-perseorangan, perseorangan dengan pemerintah dan di antara negara-negara yang berdaulat. Tujuan mencapai keadilan itu melahirkan konsep keadilan sebagai hasil (result) atau keputusan (decision) yang diperoleh dari penerapan atau pelaksanaan sepatutnya asas-asas dan perlengkapan hukum dan konsep keadilan sebagai suatu nilai (value). Konsep keadilan sebagai hasil (result) atau keputusan
(decision) ini, dapat disebut juga sebagai keadilan prosedural (procedural justice). Konsep
keadilan inilah yang dilambangkan dengan dewi keadilan, pedang, timbangan, dan penutup mata untuk menjamin pertimbangan yang tak memihak dan tak memandang orang. Sejalan dengan ini ialah pengertian keadilan sebagai suatu asas (principle). Asas adalah suatu dalil umum yang dinyatakan dalam istilah umum tanpa menyarankan cara-cara khusus mengenai pelaksanaannya yang diterapkan pada serangkaian perbuatan untuk menjadi petunjuk yang tepat bagi perbuatan itu. 31
Selain konsep keadilan sebagai hasil (result) atau keputusan (decision), keadilan juga dapat dikonsepkan sebagai suatu nilai (value). Keadilan merupakan nilai penting dalam hukum.32 30 Lihat... Teuku Mohammad Radhie, Politik Hukum dan Konsep Keadilan, Pusat Studi Hukum Universitas
Parahyangan, Bandung, 1988, hlm. 39-40.
31 The Liang Gie, Teori-teori Keadilan, Supersukses, Yogyakarta, 1982, hlm. 8.
32 Hukum memang seharusnya mengandung nilai keadilan, namun hukum sendiri tidak identik dengan keadilan. Ada
norma-norma hukum yang tidak mengandung nilai keadilan. Contohnya adalah peraturan lalu lintas. Keharusan mengendarai kendaraan di sebelah kiri jalan tidak berarti adil, dan sebaliknya, mengendarai kendaraan di sebelah kanan jalan tidaklah berarti tidak adil. Itu tidak lain agar lalu lintas berjalan teratur, lancar, sehingga tidak terjadi tabrakan dan dengan demikian kepentingan manusia terlindungi. (Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum
Hanya saja, berbeda dengan nilai kepastian hukum yang bersifat umum, nilai keadilan ini lebih bersifat personal atau individual dan kasuistik. Keadilan bukanlah penyamarataan dan bukan pula berarti tiap-tiap orang memperoleh bagian yang sama. Keadilan adalah memberikan sesuai dengan haknya secara sukarela dan agar tercipta kondisi tersebut, maka harus dilandasi oleh prinsip/sikap non deskriminasi atau tidak membeda-bedakan (persamaan derajat) dan tidak memihak.
Menurut Aristoteles, pada dasarnya tiap-tiap manusia adalah zoon politikon, makhluk yang hidup dalam polis, yaitu makhluk yang menegara. Setiap orang hanya dapat mengembangkan diri dan mencapai kesempurnaan dalam kehidupan politik (menegara). Sifat termulia seseorang terletak pada ketaatannya yang setia pada hukum negara. Kebajikan moral ini oleh Aristoteles disebut keadilan. Hukum yang harus dipatuhi untuk melakukan keadilan dibagi dalam hukum alam dan hukum positif. Dalam filsafat Aristoteles, hukum alam dianggap sebagai tatanan semesta alam dan sekaligus sebagai tatanan yang mengatur kehidupan bersama manusia. Untuk pertama kali di sini, diadakan perbedaan antara hukum alam dan hukum positif. Hukum alam didasarkan pada kodrat manusia. Kodrat manusia terletak dalam aktualisasi atau pengembangan lengkap manusia itu. Tatanan hukum yang memungkinkan manusia paling baik dapat mengembangkan diri harus sesuai dengan kodrat manusia. Oleh Aristoteles, hukum alam itu dipandang sebagai hukum yang selalu di mana-mana tetap berlaku karena relasinya dengan tatanan alam semesta. Hukum alam ini tetap dan tidak berubah serta sah dari dirinya sendiri. Hukum alam secara tegas dibedakan dari hukum positif, yang tergantung pada peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang disusun oleh manusia. Hukum alam menuntut supaya para warga negara memberikan sumbangan untuk kepentingan umum yang ditentukan dan diatur oleh hukum positif dan dirumuskan dalam undang-undang negara. Hukum negara ini baru sah dan berlaku apabila sudah ditetapkan dan secara resmi sudah diumumkan oleh pemerintah.
Di samping keadilan sebagai kebajikan umum (kepatuhan kepada hukum alam dan hukum positif), masih terdapat pula sebuah kebajikan khusus, yaitu keadilan yang mengatur kehidupan manusia dalam segi-segi tertentu. Kebajikan ini mempunyai ciri-ciri, yaitu: Pertama, keadilan menentukan bagaimana seharusnya hubungan yang baik di antara manusia. Kedua, keadilan itu terletak di antara dua kutub yang ekstrim, yaitu orang harus menemukan keseimbangan dalam memperjuangkan kepentingannya sendiri dan orang tidak boleh hanya memikirkan kepentingannya sendiri dan melupakan kepentingan orang lain.33 Pandangan Aristoteles terhadap hukum disandarkan kepada sifat dualisme manusia, baik sebagai mahluk bebas (karena akalnya) maupun sebagai bagian dari alam semesta. Dari sinilah muncul konsepsinya akan adanya hukum kodrat yang mendasarkan kekuatannya pada pembawaan manusia dan hukum positif yang mendapat kekuatannya karena ditentukan sebagai hukum.34
33 Lihat... A. Gunawan Setiardja, Dialektika Hukum dan Moral Dalam Pembangunan Masyarakat Indonesia, Kanisius,
Yogyakarta, 1990, hlm. 20-22.
34 Mas Soebagio & Slamet Supriatna, Dasar-dasar Fisafat (Suatu Pengantar ke Filsafat Hukum), Akademika